Showing posts with label ISIS. Show all posts
Showing posts with label ISIS. Show all posts

Saturday, 8 April 2017

Meminimalisasi Teror di Eropa

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Saya tidak akan Jaim, ‘jaga imej’, soal teror-teror yang terjadi di Eropa. Reaksi saya pertama kali ketika terjadi teror di Eropa adalah tertawa terkekeh-kekeh, lalu terbahak-bahak bahagia. Setelah itu, agak sedih sedikit, sedikit sekali, sangat sedikit, kebanyakan saya gembira bukan main.

            Saya senang karena apa yang saya “ancamkan” kepada mereka benar-benar terjadi. Hal itu menunjukkan bahwa saya telah memberikan peringatan kepada mereka dan peringatan itu benar-benar terwujud secara nyata. Berkali-kali peringatan saya ini terjadi secara nyata.

            Sebelum terjadi teror bom di Paris, Perancis, saya sudah berdebat dengan para anti-Islam Perancis dua bulan sebelumnya lewat youtube. Saya peringatkan bahwa mereka harus segera menghentikan penghinaan-penghinaan kepada Allah swt, Islam, Muhammad saw, dan kaum muslimin. Saya ingatkan bahwa penghinaan kepada Islam hukumannya adalah “mati” dibunuh. Orang Islam yang memiliki semangat tinggi akan mengorbankan dirinya untuk kemuliaan Islam dan kaum muslimin. Itu artinya penghinaan kepada Islam yang mereka lakukan akan memicu teror. Akan tetapi, sayangnya, orang-orang Eropa dan Amerika Serikat itu kebanyakan belagu, sombong, angkuh, dan tidak mau kalah meskipun sudah jelas-jelas salah. Bahkan, mereka terus-terusan makin keras menghina Islam, baik di dunia maya maupun di dunia nyata dengan aksi-aksi jalanan yang memuakkan.

            Secara fakta dan pengetahuan, saya tidak pernah kalah berdebat karena mereka hanya memiliki pemahaman sedikit dan salah tentang Islam. Akan tetapi, brengseknya, mereka melakukan penghinaan itu just for fun, ‘hanya untuk bersenang-senang’ dan tidak peduli apakah mereka itu menyakiti orang lain atau tidak. Memang ini tampaknya penyakit yang mereka derita. Mereka gemar sekali membuli orang lain yang lemah dan minoritas, bukan hanya muslim, nonmuslim pun mereka buli.

            Akibatnya, bum …! Meledaklah teror di Paris, Perancis yang segera diklaim oleh Isis bahwa itu merupakan konser milik Isis. Pemimpin tertinggi Isis Al Baghdadi menyatakan bahwa teror itu sebagai balasan atas kebijakan pemerintah Perancis yang ikut-ikutan memerangi Isis di Suriah dan balasan atas penghinaan orang-orang Perancis kepada Muhammad saw.

            Saya segera saja bilang, “Gue bilang juga apa. Disuruh berhenti menghina Islam, malah menjadi-jadi, bukannya sadar.”

TEROR DI PARIS, PERANCIS. Foto:global.liputan6.com

            Begitu juga dengan orang-orang Inggris, saya sering sekali chit chat sama mereka agar menghentikan penghinaan kepada Islam. Akan tetapi, orang-orang Inggris ini jauh lebih sombong daripada orang-orang Eropa lainnya. Bahkan, saya bilang orang-orang ini paling sombong dan angkuh di seluruh daratan Eropa. Mereka malah menantang saya kapan hukuman dari Allah swt datang. Mereka melecehkan peringatan saya meskipun komentar-komentar tantangan mereka banyak yang mereka hapus sendiri. Mungkin mereka takut juga sebenarnya, tetapi karena sombongnya bukan main, mereka tidak mau kalah. Mereka minta saya menuliskan tanggal, hari, bulan, dan tahun hukuman Allah swt itu datang.

            Saya jawab saja, “Wait!”

            Disuruh menunggu, mereka malah balik mengejek saya karena tidak tahu kapan hukuman itu datang. Jelas saja saya tidak pernah tahu kapan hukuman itu datang. Akan tetapi, pasti datang karena itu adalah sunatullah. Memang beberapa waktu kemudian, terjadi pula teror menakutkan di Eropa sekaligus kekalahan mereka dalam pemilihan walikota London. Walikota London sekarang kan seorang muslim, namanya Sadiq Khan. Saya pikir itu hukuman bagi mereka dan peristiwa memalukan bagi mereka, ternyata warga London banyak yang sadar untuk tetap saling menghormati di antara umat yang berbeda agama. Tentu saja itu merupakan pukulan keras bagi para anti-Islam di Inggris. Hal itu berada dalam monitoring Allah swt karena Allah swt yang menguasai hati setiap manusia.

            Hal yang lebih mengejutkan adalah peristiwa teror di Stockholm, Swedia. Soalnya, dua hari sebelumnya ada salah seorang dari mereka yang juga mengganggu saya. Sebelum-sebelumnya mereka menuduh saya sebagai penghina Yesus Kristus.

            Saya tantang mereka, “Kapan aku menghina Yesus? Kata dan kalimat mana yang menjadi bukti aku menghina Yesus? Aku paling anti menghina agama orang lain.”

            Mereka tidak bisa menjawab karena memang tidak ada kata penghinaan itu.

            Meskipun demikian, mereka tetap mengganggu dengan menjawab, “This one.”

            This one, ‘yang ini’. Mereka menjawab itu tanpa menunjukkan kata yang mana dan kalimat mana, kecuali ‘yang ini’.  

            Yang ini teh yang mana atuh?

            Da euweuh.

            Mereka hanya mengganggu karena tak mau kalah.

            Dua hari kemudian, bum …! Terjadilah teror di Swedia.

            Saya segera bilang aja dalam hati, “Gue bilang juga apa. Pada belagu sih.”

TRUK ALAT TEROR SWEDIA. Foto:news.karirsumut.com

            Orang boleh saja menyalahkan pelaku teror, tetapi teror itu dipicu salah satunya oleh penghinaan-penghinaan terhadap Islam.


Menciptakan Suasana Saling Menghormati
Untuk meminimalisasi perilaku teror di Eropa, harus ada upaya bersama antara pemerintah Eropa dan masyarakat Eropa untuk menghentikan penghinaan-penghinaan kepada Islam dan kaum muslimin. Berdebat boleh. Sampai urat leher tegang pun boleh berdebat. Akan tetapi, tidak boleh saling menghina. Berdebat itu soal ilmu pengetahuan, sedangkan saling hina itu terjadi karena sama-sama bloon dan tolol.

            Saya sangat menyukai pemerintah dan masyarakat Kanada yang melindungi muslim dan menghormati setiap manusia. Ketika ada teror pada masjid dan terhadap kaum muslimin yang sedang shalat, Perdana Menteri Kanada menangis. Ketika kaum muslimin shalat Jumat, orang-orang nonmuslim Kanada membuat pagar manusia mengelilingi masjid untuk melindungi umat Islam dari kejahatan teror. Demikian pula, pemerintah Jerman yang menyatakan dengan tegas bahwa Islam adalah bagian dari Jerman. Tak heran jika di Kanada dan Jerman dapat dikatakan jumlah teror yang terjadi adalah sangat minimal dibandingkan dengan negara besar Eropa lainnya.

            Di Swedia itu penghinaan kepada Islam sangat brutal, bukan hanya di dunia maya, melainkan di dunia nyata. Mereka yang anti-Islam pernah melakukan sabotase pada acara-acara diskusi, seminar, dakwah kaum muslimin dengan mengganti tayangan-tayangan video Islami dengan tayangan-tayangan penghinaan pada Islam.

            Tak heran jika umat Islam yang sudah menyiapkan dirinya untuk syahid melakukan bum …!

            Korbannya pun acak dan tidak terarah, siapa saja. Hal itu disebabkan banyak sekali yang melakukan penghinaan Islam di sana.

            Dalam hal ini saya harus memberikan penilaian bahwa pelaku teror di Indonesia lebih baik dibandingkan dengan di Eropa. Bukan berarti saya setuju teror. Saya pasti tidak setuju teror. Akan tetapi, paling tidak, teror yang terjadi di Indonesia sasarannya lebih terarah, yaitu polisi, terutama Densus Antiteror. Pelaku teror di Indonesia tidak menyasar korban secara acak karena masih banyak muslim yang baik yang mencoba melakukan perlawanan terhadap penghinaan pada Islam di dunia maya dan banyak nonmuslim baik yang juga tidak setuju terhadap penghinaan pada Islam. Banyak sekali nonmuslim yang ingin hidup damai di lingkungan mayoritas muslim, apalagi yang memiliki ikatan darah. Banyak pula orang Islam yang melindungi nonmuslim.

            Berbeda dengan di Swedia. Karena jumlah anti-Islam sangat banyak dan melakukan penghinaan serta provokasi tanpa dikendalikan oleh pemerintah, jawabannya adalah kaum muslimin yang siap syahid melakukan perlawanan dengan keras bertaruh nyawa.

            Indonesia harus bersyukur memiliki undang-undang yang bisa mengendalikan kebebasan berbicara agar tidak jatuh menjadi kebebasan memfitnah dan menghina pihak lain, baik suku, agama, ras, ataupun adat istiadat. Persoalannya adalah kurangnya partisipasi masyarakat dalam melaporkan berbagai penghinaan yang terjadi di dunia maya dan kurangnya kemauan polisi untuk menyelesaikan kasus-kasus itu. Di dunia nyata penghinaan-penghinaan itu tidaklah banyak. Kalaupun terjadi di dunia nyata, rata-rata karena “keseleo lidah”, tidak sengaja, lupa, atau kebablasan. Sangat jarang terjadi penghinaan di dunia nyata yang dilakukan dengan sengaja, apalagi untuk bersenang-senang.

            Berbeda dengan di dunia barat dan Eropa, penghinaan itu dibiarkan terjadi karena masih termasuk dalam kebebasan berbicara dan kebebasan berekspresi. Padahal, kebebasan berbicara itu tujuannya adalah untuk memperbaiki kehidupan manusia agar tidak terjadi pelanggaran hak azasi manusia dan agar tercipta dorongan lebih positif untuk kemajuan manusia. Penghinaan bukanlah bertujuan untuk hal-hal positif, melainkan hanya untuk meluapkan emosi tanpa kendali secara bodoh, tolol, dan penuh kebloonan.

SALING HINA ADALAH KEBODOHOAN. Foto: www.netralitas.com

            Apabila Eropa mampu mengendalikan penghinaan kepada Islam dan kaum muslimin, insyaallah, aksi-aksi teror pun akan terminimalisasi. Masalah yang tersisa hanya akan seperti yang terjadi di Indonesia, yaitu dukungan berlebihan terhadap Isis, keyakinan kekhalifahan selalu baik,  dan hoax tentang kisah-kisah zaman akhir. Oleh sebab itu, Indonesia lebih mengedepankan pendidikan, pemahaman, dan penyadaran terhadap ajaran Islam sebenarnya yang rahmatan lil alamin dalam mengatasi setiap aksi-aksi terorisme.

            Apabila Eropa masih membiarkan penghinaan terhadap Islam hidup di dunia maya dan di dunia nyata, teror-teror pun akan terus terjadi karena akan ada orang Islam yang merasa tersakiti dan terhina, kemudian melakukan pembalasan dengan nyawanya sendiri. Itu adalah teror bagi korban, tetapi bernilai jihad dan syahid bagi pelakunya. Tak ada gunanya hanya menyalahkan kaum muslimin atau menyebarkan hoax bahwa Islam adalah agama teror karena pada kenyataannya dunia butuh Islam dan kaum muslimin. Dunia harus bekerja sama untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, baik sumber daya alam maupun sumber daya manusia.

            Eropa, barat, dan anti-Islam boleh sesumbar berteriak seperti yang biasanya, “Kami baik-baik saja tanpa Islam!”

            Berteriak emosi sih boleh-boleh saja, tetapi dalam kenyataannya kan setiap pemimpin barat dan Eropa selalu berusaha mendatangi negeri-negeri muslim, termasuk ke Indonesia untuk bekerja sama dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Kalau merasa diri hidup “lebih baik tanpa Islam”, jangan datangi negeri-negeri muslim dan kunci mati negara-negara Eropa dari Islam serta tak perlu ada kerja sama antara barat, Eropa, dan kaum muslimin. Begitu seharusnya bersikap kalau benar-benar bisa hidup tanpa Islam. Kenyataannya tidak bisa hidup tanpa Islam karena setiap manusia saling membutuhkan.

            Bisakah barat dan Eropa hidup tanpa berbisnis sumber daya alam dengan negeri-negeri muslim?

            Jawabanya pasti telak, “TIDAK BISA!”

            Bisa sih, tetapi bisanya hanya teriak emosi karena kenyataannya pasti tidak bisa. Akan selalu ada orang barat dan Eropa yang mendatangi negeri-negeri muslim untuk bekerja sama dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Oleh sebab itu, jangan pada belagu. Setiap manusia, baik muslim maupun nonmuslim pada dasarnya saling membutuhkan dalam sepanjang hidupnya. Soal benar dan tidaknya suatu agama atau keyakinan akan dibuktikan dengan jelas di hadapan pengadilan Illahi kelak.


            Sampurasun.

Saturday, 16 January 2016

Isis Tertipu

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya

Isis ini organisasi aneh yang makin hari makin tidak jelas tujuannya. Saya menduga sangat keras memang Isis ini dikendalikan oleh orang-orang yang tidak berpengetahuan atau memang dikendalikan untuk tujuan membuat huru-hara. Jujur saja awalnya banyak yang simpatik kepada Isis di Indonesia ini, termasuk saya. Selain itu, beberapa pengajian yang diikuti ibu saya, banyak ustadz yang simpatik pada Isis dan malahan menyarankan kepada seluruh peserta majelis talim untuk tidak membenci Isis. Hal itu disebabkan adanya keinginan Isis untuk membentuk Daulah Islamiyah dan menerapkan hukum Islam di wilayah yang penuh dengan kekacauan, yaitu Irak dan Suriah. Akan tetapi, Isis tidak tampak berjuang untuk terjadinya Negara Islam sebagaimana yang mereka kampanyekan. Mereka malahan mencitrakan dirinya sebagai organisasi besar, memiliki banyak uang dan senjata, serta dipenuhi pasukan bermilitansi tinggi yang akan melibas siapa pun yang menghalangi.

            Bisakah citra yang ditampilkannya itu mendorong terciptanya suatu negara?

            Di dalam sistem pergaulan internasional yang berlaku saat ini, tentu saja tidak akan bisa.

            Di dalam berbagai kajian ilmu-ilmu sosial dan politik, untuk terciptanya suatu negara, diperlukan beberapa syarat yang sangat mendasar, yaitu: memiliki wilayah tertentu, memiliki pemerintahan, memiliki rakyat, memiliki tujuan yang sama dari rakyatnya, dan mendapatkan pengakuan internasional.

            Wilayah tertentu sangat diperlukan dan jelas lokasi serta batas-batasnya. Mustahil sebuah negara ada tanpa memiliki wilayah yang jelas. Oleh sebab itu, Indonesia sama sekali tidak mengakui Israel sebagai sebuah negara karena tidak memiliki wilayah yang jelas menjadi hak mereka. Wilayah yang sekarang diklaim Israel sebagai negaranya hanyalah merupakan caplokan atau perampasan dari pemiliknya yang sah, yaitu rakyat Palestina. Bagi Indonesia, Israel hanyalah suatu bangsa yang melakukan penjajahan terhadap Palestina.

            Isis asalnya mengklaim memiliki wilayah yang jelas. Sebagaimana namanya Islamic State of Iraq and Syiria, wilayah yang diklaimnya adalah wilayah Irak dan Suriah. Di sanalah seharusnya Isis mengonsentrasikan dirinya untuk berjuang menegakkan negara yang mereka cita-citakan.

            Kalaulah informasi yang disampaikan aparat keamanan Indonesia benar-benar valid dalam arti teror yang terjadi di Jl. Thamrin, Jakarta, pada 14 Januari 2016, adalah dilakukan oleh Isis, berarti Isis sudah menunjukkan sendiri kebodohannya. Artinya, tidak jelas mereka ingin mendirikan negara di wilayah yang mana. Mereka tidak memiliki batasan yang jelas mengenai wilayahnya. Hal itu pun menunjukkan keanehan yang begitu bloon karena namanya kan Isis dalam arti Irak dan Suriah, tetapi berjuang atau mengajak berperang terhadap pemerintah Indonesia.

            Isis harus banyak belajar dari bangsa Indonesia yang memperjuangkannya di wilayah yang diklaimnya sendiri, yaitu di seluruh “wilayah bekas koloni Belanda”. Rakyat Indonesia tidak melakukan perang atau teror di negara lain meskipun saat itu banyak sekali negeri propenjajahan yang berupaya menghalangi kemerdekaan Indonesia dan tidak mengakui kemerdekaan Indonesia. Indonesia tetap berkonsentrasi di wilayah yang ingin dikuasainya sendiri.

Upaya itu berhasil bukan?

Masih berdasarkan informasi keamanan Indonesia, Isis kabarnya memiliki perwakilan atau cabang di Asia Tenggara yang diistilahkan sebagai Isis Asia Tenggara. Itu lebih aneh lagi.

Masa ada Negara Islam Irak dan Suriah di Asia Tenggara?

Suriah ya Suriah. Irak ya Irak. Asia Tenggara beda lagi. Kalau ingin mendirikan negara di Asia Tenggara, namanya harus diubah agar masuk akal, yaitu Islamic State of Southeast Asia, ‘Negara Islam Asia Tenggara’.

Masa ada Irak dan Suriah Asia Tenggara?

Yang bener aja.

Oww, mungkin mereka berniat membentuk daulah Islam di seluruh dunia. Saya sarankan jangan ngimpi kebangetan. Uang boleh banyak, pengikut setia boleh bejibun, senjata modern boleh ada, keberanian boleh dibanggakan, tetapi jangankan membentuk kekuasaan di seluruh dunia, berkuasa di Irak dan Suriah aja masih kerepotan.

Masih belum berhasil kan di Irak dan Suriah?

Isis seharusnya konsentrasi saja di Irak dan Suriah.

Untuk terwujudnya sebuah negara, mutlak dimiliki pemerintahan yang berkuasa di wilayah yang diklaimnya. Tanpa ada pemerintahan, tak akan pernah ada negara.

Isis memang memiliki organisasi yang mungkin menjadi cikal bakal pemerintahan yang sah kalau menang. Itu sudah dimiliki Isis. Akan tetapi, sampai hari ini pemerintahan itu belum berkuasa penuh di wilayah Irak dan Suriah. Isis masih harus maju-mundur, maju-mundur, maju-mundur cantik, cantik di wilayah yang diklaimnya. Artinya, Isis hanya baru mampu berkuasa di wilayah sebagian Irak dan Suriah yang telah ditaklukannya dan itu masih tetap dalam kondisi maju-mundur, maju-mundur, cantik, cantik.

Isis harus belajar banyak dari Indonesia. Indonesia pernah dalam kondisi maju-mundur, maju-mundur cantik, cantik. Indonesia pernah memiliki pemerintahan yang sah, tetapi ditangkap dan ditahan oleh Belanda. Kemudian, wilayah yang diklaim Indonesia diserbu pula oleh pasukan multinasional. Indonesia dikeroyok oleh banyak negara yang tidak mengakui kedaulatan dan kemerdekaan Negara Indonesia. Hal itu menyebabkan Jenderal Sudirman harus mundur-mundur-mundur ke dalam hutan, tetapi perjuangan tetap maju-maju-maju. Kondisi maju-mundur, maju-mundur cantik, cantik itu berubah menjadi ayo maju, maju, ayo maju, maju! Hasilnya berakhir dengan cantik, cantik, cantik sekali tiada tara. Indonesia bisa membuktikan bahwa kitalah penguasa sesungguhnya di tanah air Indonesia. TNI masih ada dan pemerintahan pun pulih.

Syarat lainnya untuk terwujudnya sebuah negara adalah adanya rakyat yang tentu saja harus memiliki kesamaan keinginan dengan pemerintahnya dalam arti kesamaan tujuan dengan mereka yang berjuang mendirikan negara tersebut. Rakyat ini harus berada mendorong terciptanya negara yang ingin didirikannya. Kalaulah rakyat di wilayah yang diklaimnya berbeda keinginan dan tujuan dengan pemerintahnya, itu hanyalah sebentuk penjajahan yang dilakukan pihak yang berkuasa terhadap yang dikuasainya. Negeri itu tidak akan pernah menunjukkan diri sebagai negara yang mapan, tetapi hanya menjadi arena atau wilayah perseteruan di antara elemen-elemen negerinya sendiri. Perseteruan itu terjadi akan sangat keras dan selalu berdarah karena perbedaan keinginan yang tajam dan benar-benar berbeda secara ideologi. Itu bukanlah suatu negara karena yang namanya negara harus memilliki kesamaan ideologi.

Isis harus belajar banyak dari Indonesia. Indonesia itu memiliki rakyat yang jelas dengan keinginan yang sama dan ideologi yang sama. Rakyat dan pemerintahnya sepakat menjadikan Pancasila sebagai ideologi yang merupakan dasar sekaligus tujuan hidup. Kalaulah sempat ada penolakan terhadap Pancasila, itu disebabkan bukan oleh keinginan, tujuan, atau ideologinya, tetapi oleh pihak penguasa yang sempat menjadikan Pancasila sebagai kedok untuk melakukan kesewenang-wenangan dan berbagai kejahatan lainnya terhadap rakyat. Sesungguhnya, rakyat Indonesia ingin mencapai Pancasila itu sendiri dan berharap pemerintah konsisten untuk mewujudkan Pancasila itu dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Kalaupun ada pertentangan di antara elemen bangsa Indonesia pada saat ini, bukanlah oleh karena adanya perbedaan tujuan, melainkan oleh adanya kecurangan, kejahatan, dan kebusukan yang sangat menghambat hidup bangsa Indonesia yang terkandung dalam Pancasila.

Ngerti kan?

Hal yang patut ada dalam membentuk suatu negara adalah adanya tujuan yang kemudian menjadi dasar hukum dari negara itu sendiri. Isis tampaknya punya tujuan dan dasar hukum ini.

Persoalannya adalah apakah tujuan dan dasar hukum ini dijadikan konsitusi yang disetujui bersama rakyat dan mengikat seluruh rakyat dan pemerintahnya?

Indonesia jelas punya itu semua dan disepakati oleh semuanya dan mengikat semuanya.

Hal terakhir yang menjadi syarat mutlak adanya suatu negara adalah adanya pengakuan internasional. Tanpa ada pengakuan dari negara lain, negara itu dipandang sama sekali bukan negara dan tidak patut untuk bekerja sama dalam posisi yang sejajar. Indonesia sama sekali tidak mengakui Israel sebagai sebuah negara. Oleh sebab itu, tidak patut Indonesia bekerja sama dengan Israel dalam posisi yang sejajar. Israel hanyalah sebuah bangsa tanpa negara dalam pandangan Indonesia.

Negara mana hari ini yang mengakui Isis sebagai sebuah negara?

Tidak ada!

Oww, kan mereka sedang berjuang.

Apakah mereka berjuang secara normal untuk terciptanya sebuah negara?

Saya pikir tidak!

Mereka itu tertipu!

Begini ya. Di dalam sejarah dunia ini, untuk terciptanya suatu negara, setiap pejuangnya berjuang dalam posisinya masing-masing. Ada yang berjuang secara militer dan ada yang berjuang dengan menggunakan diplomasi. Keduanya harus selalu ada. Diplomasi itu ada yang dilakukan di dalam negeri, tetapi ada pula yang dilakukan di luar negeri. Diplomasi yang dilakukan di luar negeri itulah yang dimaksudkan untuk mendapatkan pengakuan dan dukungan internasional.

Isis harus belajar banyak dari Indonesia. Presiden Pertama RI, Ir. Soekarno bersama yang lainnya berjuang melalui jalur diplomasi di dalam negeri. Perjuangan militer dilakukan oleh Jenderal Besar Sudirman dan seluruh TNI. Diplomasi di luar negeri dilakukan oleh Mohamad Hatta, Mohamad Natsir, Sutan Syahrir, dan yang lainnya. Mereka yang berjuang di luar negeri bukan untuk menciptakan teror dan memaksa orang lain takut agar menyetujui kemerdekaan Indonesia. Mereka berupaya menjelaskan kepada dunia agar memahami pentingnya kemerdekaan bagi rakyat Indonesia dan keburukan-keburukan yang akan diderita Indonesia jika masih terus berada di bawah kendali penjajahan. Berbagai petinggi negara dan orang-orang berpengaruh pada berbagai negara mereka temui untuk mendapatkan dukungan sekaligus pengakuan terhadap kedaulatan Negara Indonesia.

Mereka jelas berhasil!

Kita lihat Isis sekarang.

Apa yang mereka lakukan di luar Irak dan Suriah untuk mendapatkan dukungan dari pihak internasional?

Mereka sama sekali tidak memberikan penjelasan yang cukup mengapa di Irak dan Suriah harus ada negara yang baru, padahal sudah ada pemerintah yang sedang berkuasa?

Jangankan untuk menjelaskan maksud dan tujuannya, untuk menjelaskan dirinya sendiri secara utuh pun tidak. Sampai saat ini orang-orang masih kebingungan dengan apa Isis ini sebenarnya.

Isis malahan mengekspor orang-orangnya untuk melakukan aksi-aksi kekerasan di luar negeri, termasuk di Indonesia. Setidaknya, itu yang saya pahami berdasarkan penuturan aparat keamanan Indonesia.

Bagaimana mungkin Isis akan menjadi sebuah negara berdaulat jika melakukan keburukan di negara lain, termasuk di Indonesia?

Negara mana yang akan bersimpatik kepada Isis?

Siapa yang akan melakukan hubungan positif dengan penguasa wilayah yang gemar melakukan kekerasan kemanusiaan?

Tak akan ada perdagangan positif, kecuali pasar gelap.

Tak akan ada hubungan budaya, pendidikan, teknologi, kesehatan, dan lainnya kecuali dilakukan dalam pasar gelap.

Jika hanya melakukan ekspor kekerasan pada berbagai negara, Isis hanya akan menjadi segerombolan manusia yang menciptakan teror bagi kehidupan ini. Jauh sekali dari keinginan Allah swt yang mendorong umat Islam menjadi rahmatan lil alamin, ‘rahmat bagi semesta alam’.

Isis harus belajar banyak dari Indonesia. Jangan bermimpi menguasai dunia jika di Irak dan Suriah saja masih belum bisa berkuasa. Berkonsentrasi saja di sana. Kemudian, jelaskan pada dunia mengapa pemerintahan Suriah Bashar al Assad harus dihancurkan dan mengapa pemerintahan Irak sekarang harus diganti oleh namanya Isis. Terangkan dengan utuh siapa dan apa Isis itu sesungguhnya agar dunia mengerti. Beritakan penderitaan dan kesemrawutan yang terjadi di Suriah dan Irak sehingga jawabannya pemerintahan pada kedua negara itu harus dilebur ke dalam negara yang bernama Isis. Ambil simpati dunia, terutama dunia Islam agar memberikan dukungan demi terciptanya Negara Baru Isis. Minta maaf kepada negara-negara yang sebetulnya berpotensi mendukung Isis, tetapi justru Isis malah menghadiahi mereka teror. Berikan ganti rugi kepada korban yang sebetulnya tidak tahu-menahu soal Isis.

Begitulah caranya jika ingin membentuk sebuah negara. Akan tetapi, lain halnya kalau memang bermaksud membuat kekacauan di muka Bumi.

Pada pihak siapa Allah swt akan berada?

Pada pihak pencipta perdamaian dan penebar kebaikan atau pencipta pertengkaran, permusuhan, dan kekacauan?

Mana yang Allah swt lebih sukai kedamaian atau perang?

Jangan tertipu dan dikendalikan orang-orang yang sesungguhnya mencari dan mendapatkan keuntungan dari keributan dan kesemrawutan manusia.

Berpijaklah pada kebenaran Allah swt, jangan menggantungkan diri pada bisikan-bisikan jahat syetan yang memenuhi dada manusia.

Ketahuilah syetan itu minal jinnati wannas. Syetan itu terdiri atas jin dan manusia.


Thursday, 17 December 2015

Kalau Berbohong itu Agak Pintaran Dikit, Coy!


oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya

Setelah Presiden Rusia Vladimir Putin menuduh Nato dan Turki adalah yang menikmati minyak Isis dan berbisnis dengan Isis, Grup Nato yang dimotori Amerika Serikat tampaknya kelimpungan dan kaget, lalu mencari-cari alasan lain atau membuat kisah lain untuk menghindarkan tudingan bahwa merekalah sebenarnya yang bekerja sama dengan Isis di belakang layar panggung dunia yang penuh dengan desingan peluru dan penderitaan.

Berita terakhir yang saya ikuti jelas sekali menampakkan kebohongan yang luar biasa. Kebohongan itu mudah sekali dideteksi karena mereka menggunakan kalimat-kalimat yang semrawut dan logika yang bertabrakan. Saya yakin mereka menggunakan media massa dengan mengeluarkan banyak dana untuk menciptakan kebohongan itu. Sayangnya, kebohongan itu teramat telanjang. Mereka mencari kambing hitam untuk dipersalahkan, tetapi kesulitan untuk menentukannya karena percaturan politik internasional membuat posisi mereka semakin terjepit dan tersudut sehingga kehilangan banyak bahan untuk menciptakan kebohongan.

Begitulah Allah swt jika berkehendak membuka aib dan kedustaan manusia. Allah swt berkuasa membuat para pendusta itu kehilangan arah dan kehabisan bahan ceritera. Di samping itu, Allah swt pun berkuasa membuat pintar orang-orang yang memperhatikan berita yang penuh kebohongan itu sehingga kebohongan itu tampak jelas secara nyata.

Berita terakhir yang saya ikuti mengungkapkan bahwa Isis melakukan jual beli minyak dengan pemerintah Suriah. Rezim Bashar al Assad adalah yang menikmati minyak Isis.

Berita itu diperkuat dengan tayangan-tayangan pendapat para ahli dan pengamat dari Amerika Serikat bahwa satu-satunya cara untuk menghentikan bisnis minyak Isis adalah menghancurkan kilang-kilang minyak Isis dan membombardir tanki-tanki minyak Isis. Berita itu pun dipaksakan untuk diyakini orang banyak dengan adanya tayangan pengeboman truk-truk minyak Isis di wilayah terbuka yang dengan mudah dibom hingga hancur oleh pesawat-pesawat tempur.

Sungguh saya tidak bisa mengerti bagaimana mungkin Isis bisa jual beli minyak dengan Bashar al Assad?

Apa maksud dari Bashar al Assad membeli minyak dari Isis?

Apa pula maksud Isis menjual minyak ke Bashar al Assad yang Presiden Suriah itu?

Untuk apa mereka saling bermusuhan jika masih ingin berbisnis yang saling menguntungkan?

Isis itu kan bercita-cita mendirikan Negara Islam Irak dan Suriah. Jadi, Isis memimpikan terwujudnya Negara Islam versi mereka sendiri di sepanjang Irak dan Suriah. Kalau ingin mendirikan Negara Islam sepanjang Irak dan Suriah, artinya sama dengan ingin menghancurkan rezim-rezim penguasa di Irak dan Suriah. Penguasa Suriah adalah Bashar al Assad. Artinya, Isis berkehendak menghancurkan rezim Bashar al Assad. Mereka memang bermusuhan dan itu terjadi. Isis dan pendukung Bashar al Assad saling bunuh.

Lantas di mana logikanya jika Bashar al Assad membeli minyak Isis, sementara dia tahu bahwa uang yang digunakannya untuk membayar minyak Isis digunakan Isis untuk membeli senjata yang senjata itu pasti digunakan untuk menghancurkan dirinya?

Mungkinkah seorang pembeli dan penjual yang bermusuhan bersedia melakukan bisnis yang saling menguntungkan?

Bagaimana mungkin seorang pembeli yang sadar bahwa Sang Penjual adalah musuh yang akan membunuhnya membeli barang dari musuhnya itu agar musuhnya itu mendapatkan uang membeli senjata untuk membunuhnya?

Mungkinkah Bashar al Assad yang sadar akan dibunuh Isis membeli minyak dari Isis agar Isis bisa membeli banyak senjata untuk membunuhnya?

Bagaimana akal sehat bisa menerima hal itu sebagai sebuah kenyataan?

Oleh sebab itu, saya mengatakannya sebagai berita bohong yang sangat telanjang bohongnya. Saya sarankan kalau mau berbohong itu yang canggih sedikit agar tidak mudah dideteksi sebagai kebohongan. Kalau mau berbohong, pikir yang matang agar tidak ketahuan.

Dasar Pembohong Murahan!

Kalau berbohong itu, agak pintaran dikit, Coy!

Saya benar-benar tersinggung dengan berita bohong yang remeh itu. Yang susah ditebak dong bikin kebohongan itu, jangan ecek-ecek kayak begitu.

Lagian, itu bagaimana mudahnya pesawat-pesawat pembom membombardir truk-truk minyak Isis yang lagi parkir berjejer di lapang terbuka. Isis kan pasti tahu bahwa dari atas mereka dikepung sejumlah pesawat tempur yang bersiap menghabisi mereka. Akan tetapi, mereka kok membiarkan asetnya yang berupa truk-truk penuh minyak itu mudah dijangkau oleh pesawat musuh mereka. Sepertinya truk-truk itu dihadiahkan untuk dibom sampai hancur. Mestinya kan disembunyikan di tempat yang tidak mudah diketahui musuh. Aneh.

Kalau berbohong lebih pintar dan lebih canggih kan, saya mikirnya juga jadi agak rumit, jadi tantangan tersendiri, dan saya pasti menikmati tantangan itu untuk dipecahkan.

Kalau bikin kebohongan murahan kayak gitu, ya nggak ada tantangan buat mikir. Malahan saya sedikit tersinggung karena dianggap orang yang mudah dibohongi.


Ayo Coy! Bikin kebohongan yang agak rumit!

Monday, 30 November 2015

Nu Gelo jeung Nu Burung Pasea


oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya

Nu gelo jeung nu burung pasea itu bahasa Sunda. Artinya, orang gila dan orang sinting berantem.

Kalimat itu untuk menggambarkan situasi yang semakin kusut samut di Timur Tengah, tepatnya kekacauan dan perang yang terjadi di Suriah. Semakin hari semakin nggak karuan situasi dan informasinya.

Biarlah urusan Setya Novanto vs Sudirman Said berjalan sebagaimana seharusnya. Sudah banyak orang-orang pintar yang mengawal, mengawasi, dan mendorong perseteruan yang bisa membuat Indonesia diperas Freeport itu untuk lebih terbuka dan terselesaikan sehingga yang benar harus disebut benar dan yang salah harus dipermalukan.

Sekarang mari kita lihat kegilaan yang melibatkan Isis itu. Ketika jet tempur rusia membela Presiden Suriah Bashar al Assad dan menembaki musuh-musuhnya. Pesawat tempur Turki menembak jet tempur Rusia itu. Karuan saja Presiden Rusia Vladimir Putin berang. Ia menyatakan bahwa jet tempur miliknya masih berada satu kilometer di luar wilayah Turki dalam arti masih berada di wilayah udara Suriah. Akan tetapi, Turki ngotot bahwa jet tempur Rusia memasuki wilayah udaranya dan sudah diperingatkan, tetapi bandel sehingga ditembak jatuh. Copilot Rusia membantah pernah mendapat peringatan itu. Situasi pun menjadi tidak jelas dan memanas.

Putin segera menuding bahwa Turki dan Nato adalah pihak-pihak yang mendapat keuntungan dari Isis. Minyak milik Isis dibeli oleh Turki dan Nato. Bahkan, rakyat Rusia menuding pula Qatar dan Arab Saudi mendukung Isis. Lebih jauh lagi, rakyat Rusia berteriak bahwa siapa pun yang memusuhi Presiden Suriah Bashar al Assad adalah pendukung terorisme.

Indonesia memusuhi Bashar al Assad?

Kalau ya, berarti Indonesia adalah pendukung teroris menurut rakyat Rusia.

Kalau saya pribadi memang memusuhi keyakinan Bashar al Assad. Bukan orangnya, tetapi keyakinannya.

Kabarnya dia punya agama yang aneh, nyeleneh dari Islam. Dengar-dengar dia punya keyakinan bahwa Allah swt itu satu, tetapi mewujud dalam tiga citra, yaitu satu, berada dalam diri Nabi Muhammad saw; kedua, berada dalam wujud Malaikat Jibril; ketiga, berwujud dalam diri Bashar al Assad. Dulu mewujud dalam diri ayah Bashar al Assad. Setelah ayahnya meninggal, mewujud dalam dirinya hari ini.

Ibnu Taimiyah mengatakan bahwa keyakinan seperti itu adalah lebih najis daripada anjing.

Setujuuuuu!

Kalau memang benar begitu keyakinan Bashar al Assad, saya malah mengatakannya sebagai lebih najis daripada tahi anjing buduk!

Kalau saya disebut sebagai teroris karena memusuhi keyakinan anjing buduk itu, biarin aja.

Kalau kata orang Rusia saya disebut memuja teroris, emangnya gue pikirin?

Kembali pada soal jet tempur. Setelah Putin menuding keras bahwa Turki dan Nato menikmati minyak Isis, Mendagri Turki balik menuding bahwa jet tempur Rusia bukannya menembakki Isis, melainkan menembaki pemberontak Suriah yang merasa diperlakukan kejam oleh Bashar al Assad. Di samping itu, gank Nato pun segera menyatakan diri berada bersama Turki.

Anehnya, Presiden Amerika Serikat Barack Obama justru mengeluarkan pernyataan yang mendukung Turki, tetapi dengan kalimat yang bertolak belakang dengan yang disampaikan Turki. Barack Obama mengatakan bahwa Turki berhak melindungi wilayah udaranya sendiri dari pesawat asing. Selain itu,  jet tempur Rusia seharusnya bukan menembaki Isis, tetapi mestinya menembaki pemberontak Rusia.

Jadi bingung saya. Kata Turki harusnya Rusia menembaki Isis, bukan pemberontak Suriah, tetapi kata Obama seharusnya menembaki pemberontak Suriah, bukan Isis.

Mana yang benar?

Obama atau Mendagri Turki?

Padahal dua-duanya dalam satu pihak yang sama.

Mungkin wartawan pembawa beritanya yang menerjemahkannya secara salah.

Akan tetapi, kalaupun salah menerjemahkan, pertanyaannya tetap sama, “Mana yang benar?”

Mungkin saya yang salah mendengar, tetapi pertanyaannya sama saja, “Mana yang benar?”

Di sinilah saya mulai mengatakan bahwa yang terlibat perang di sana itu ibarat nu gelo jeung nu burung pasea, ‘orang gila sama orang sinting berantem’.

Presiden Turki Recep Tayip Erdogan  malah balik menuding sekutu Rusia dengan pernyataan aneh. Dia dengan keras mengatakan bahwa Bashar al Assad adalah pendukung utama Isis.

Wow makin kacrut nih situasi. Nggak ada yang bisa dipercaya.

Mau tidak kacrut gimana?

Amerika Serikat menurunkan beberapa tentaranya di Suriah untuk melatih pemberontak Suriah. Beritanya banyak diunggah di Youtube. Akan tetapi, kata Obama seharusnya pemberontak itulah yang ditembaki oleh jet tempur Rusia, bukan Isis.

Aneh, ya?

Kata Erdogan, Bashar al Assad adalah pendukung Isis, padahal Isis ingin menjatuhkan Bashar al Assad.

Aneh, ya?

Putin semakin berani menuding bahwa pesawat tempur Turki menembak jatuh jet tempur Rusia karena Turki melindungi minyak Isis dari gempuran Rusia. Sementara itu, Nato selalu berada bersiap membela Turki. Berarti kan Nato melindungi Turki yang menikmati Isis. Artinya, Nato melindungi Isis.

Lieur!

Biarlah nu gelo jeung nu burung pasea karena sudah begitu keadaannya, pada nggak bisa dipercaya!

Yang saya khawatir adalah akan menjadi nu gelo jeung nu burung ditambah nu koplok pasea. Koplok itu bahasa Sunda yang maknanya adalah seseorang yang bodoh, over acting, pengen dipuji, ikut sibuk, tetapi kerap merugikan dirinya sendiri.

Nah, kalau Indonesia ikut-ikutan dalam perseteruan mereka, Indonesia telah menempatkan dirinya dalam situasi koplok. Jadilah Indonesia sebagai Nagara Koplok.

Dalam situasi semrawut yang tidak ada yang bisa dipercaya, Indonesia haruslah tetap berpegang pada politik luar negeri “Bebas dan Aktif. Bebas dari tekanan pihak mana pun, bebas untuk tidak berpihak, dan bebas untuk melindungi diri sendiri. Aktif berperan menciptakan perdamaian dunia dengan cara Indonesia, bukan cara bangsa asing. Bukan ikut-ikutan menciptakan perdamaian dengan cara asing mengirimkan pasukan untuk ikut berkelahi dan menangkapi siapa saja di dalam negeri atas dasar informasi asing yang sumir.

Jangan jadi bangsa yang koplok!

Memangnya Indonesia mau percaya sama siapa?

Barack Obama?

Recep Tayip Erdogan?

Vladimir Putin?

Bashar al Assad?

Dalam situasi yang nggak puguh seperti ini, hal yang paling baik dilakukan adalah waspada dan siaga melindungi diri. Mau tidak mau Indonesia harus selalu curiga kepada siapa pun orang asing yang masuk ke dalam Negara Indonesia untuk urusan apa pun. Hal itu disebabkan siapa tahu memang benar tuduhan Presiden Rusia Vladimir Putin bahwa Isis itu dibiayai oleh Turki dan Nato melalui pembelian-pembelian minyak Isis. Dengan demikian, sangat mungkin setiap warga Turki dan warga negara yang tergabung dalam Nato bikin ulah macam-macam menimbulkan aksi teror dengan mengatasnamakan Isis di Indonesia sehingga Indonesia terseret dalam pertarungan nu gelo jeung nu burung.

Kita tidak pernah tahu, bukan?

Kalau toh Putin salah, apa dasar Indonesia untuk tidak percaya terhadap tudingan Putin?

Apa pula dasar Indonesia jika mempercayai kata-kata Presiden Rusia Vladimir Putin?

Mau percaya atau tidak, harus punya alasan yang jelas dan harus berdasarkan pada kepentingan nasional Indonesia!

Yang jelas adalah Dajjal sedang bekerja bersama pasukan syetannya untuk mengacaukan hidup manusia. Mereka tidak senang melihat manusia hidup harmonis. Siapa pun yang tidak menginginkan hidup harmonis adalah syetan. Pasukan Dajjal itu syetan. Syetan itu minal jinnati wannas, ‘terdiri atas jenis jin dan manusia’.

Ciri-ciri syetan itu kata Allah swt adalah suka menakut-nakuti manusia dengan kemiskinan, membuat manusia sibuk mencari kekayaan, gemar berbohong, suka mengadudomba, pengecut, gemar bersembunyi, tetapi lemah mudah digertak serta mudah dikalahkan, dan lain sebagainya, cari sendiri di dalam Al Quran, masih banyak cirinya.

Sepanjang tetap berpegang pada Pancasila dan Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, insyaallah kita akan tetap selamat di dunia dan di akhirat. Amin.

Yang paling penting: Jangan Koplok!