Showing posts with label Jerman. Show all posts
Showing posts with label Jerman. Show all posts

Saturday, 28 August 2021

Taliban Wajib Menertibkan Dirinya Sendiri

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Pada awal menguasai Afghanistan, 15 Agustus 2021, banyak janji manis dan lembut disampaikan Taliban. Mereka berjanji akan membuat situasi lebih aman, perempuan bisa bersekolah, para pejabat dan pegawai yang mendukung pemerintahan lama akan diampuni, semua elemen akan diajak membangun Afghanistan bersama-sama, rakyat tidak perlu kabur ke luar negeri karena semuanya akan dilindungi. Akan tetapi, berita yang berkembang selanjutnya adalah Taliban banyak melakukan kekerasan dan pelecehan terhadap perempuan. Janji manis mereka ternyata tidak sesuai di lapangan. Berbeda antara kata dan perbuatan.

            Seorang walikota perempuan pertama di Kota Maidan Shahr, Provinsi Wardak, Afghanistan, Zarifa Ghafari, awalnya diajak para elit Taliban untuk tetap bekerja membangun Afghanistan. Akan tetapi, dalam kenyataannya di lapangan, Taliban mengepung rumah Zarifa dan memukuli penjaga rumahnya. Zarifa hendak ditangkap dan mungkin dibunuh karena Taliban tidak menyukai perempuan menjadi pemimpin.

            Beruntung Zarifa Ghafari berhasil kabur ke Jerman dan diterima dengan baik oleh Perdana Menteri Rhine-Westphalia Utara (NRW) dan kandidat Kanselir Serikat Armin Laschet (CDU) di Düsseldorf. Meskipun pemerintah dan rakyat Jerman sangat menerimanya dengan baik, tetapi Zarifa tetap merindukan kebisingan, hiruk pikuk, celotehan, dan keriangan rakyat Afghanistan. Kini semuanya menjadi tidak menentu.

            Kejadian ini hanya salah satu contoh tidak nyambungnya antara kata, janji, dan praktik yang dilakukan Taliban. Peristiwa tragis lainnya masih banyak.

            Ada dua hal yang bisa saya duga tentang hal ini, yaitu pertama, Taliban memang pendusta, pembohong. Mereka bermulut manis, tetapi sebetulnya di dalam hatinya kotor dan penuh kebohongan.

            Kedua, sistem informasi, komunikasi, dan komando di dalam tubuh Taliban sendiri memang berantakan. Sangat mungkin memang para elit Taliban berniat tulus untuk berubah dan membangun Afghanistan dengan lebih baik dan bekerja sama dengan seluruh elemen Afghanistan, termasuk memberikan kebebasan pada perempuan untuk mengembangkan potensi dirinya. Akan tetapi, di level menengah dan di level komando lapangan, niat baik para pemimpin puncak Taliban tidak dilaksanakan dengan baik. Mereka masih betah dan yakin dengan perilakunya kejinya seperti 25 tahun yang lalu.

            Melihat hal seperti itu, agar Afghanistan dipercaya oleh negara-negara lain untuk bekerja sama dalam berbagai bidang demi kemakmuran, Taliban harus mampu menertibkan dirinya sendiri dari level atas hingga level bawah. Kalau perilaku mereka tetap berantakan dan tetap bergaya teroris, tak akan ada negara yang mau bekerja sama dengan mereka. Itu artinya kekacauan menjadi kehidupan mereka, kebodohan adalah ciri mereka, dan kemiskinan adalah gaya hidup mereka.

            Cina mungkin tidak akan peduli dengan itu semua. Bagi mereka yang penting adalah untung dalam berbisnis dengan Taliban. Akan tetapi, Cina juga akan berhitung ulang jika Taliban  tidak mampu membentuk pemerintahan Islam yang terbuka karena akan mempersulit bisnis ke masa depannya dan akan mendapatkan tekanan luar biasa dalam pergaulan internasional yang akan membuat Cina kehilangan banyak kepercayaan dari masyarakat internasional.

            Perbaikan diri sangat diperlukan oleh Taliban. Jika tidak mampu memperbaiki dirinya, Taliban harus sadar dan menggandeng beberapa negara untuk menjadi mentor mereka dalam mengubah situasi menjadi lebih modern dan terbuka demi kemajuan Afghanistan.

            Sampurasun.

 

Sumber:

 

https://www.tribunnews.com/internasional/2021/08/25/sempat-pasrah-akan-dibunuh-taliban-wali-kota-pertama-di-afghanistan-berhasil-kabur-ke-jerman

 

https://www.youtube.com/watch?v=yJG1uq7hfVA&t=10s




Tuesday, 11 May 2021

Ich Hatte Einen Kamerad

 


 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

“Saya Pernah Punya Seorang Sahabat”. Begitu arti judul tulisan ini. Itu adalah judul lagu dalam bahasa Jerman. Lagu ini dilantunkan dengan syahdu nan merdu menggunakan terompet oleh angkatan laut Jerman untuk menghormati 53 awak KRI Nanggala 402 yang gugur di perairan Bali beberapa waktu lalu. Angkatan laut Jerman merasa kehilangan sahabat-sahabatnya dari Indonesia, terutama sesama awak kapal selam. Mereka memang bersahabat karena di samping banyak prajurit Indonesia yang belajar di Jerman, juga karena KRI Nanggala 402 adalah kapal selam buatan Jerman.

            Ada hal yang menarik bagi saya tentang simpati dan empati yang ditunjukkan oleh para prajurit Jerman untuk para prajurit Indonesia itu. Hal itu adalah sudah semakin lunturnya dan menghilangnya kepercayaan kuno bangsa Jerman yang menganggap dirinya ras manusia paling unggul di muka Bumi. Dulu mereka menganggap dirinya adalah keturunan Dewa Aria, ras terunggul dan berhak menguasai Bumi. Kepercayaan inilah yang membuat Hitler memicu perang dunia. Mereka menganggap bahwa ras di luar mereka adalah ras rendah, bahkan menurut kalangan para ateis, bangsa di luar Eropa adalah kera yang masih berproses menjadi manusia. Indonesia pun bukan manusia, melainkan kera yang belum menjadi manusia utuh. Begitu menurut mereka karena bersandarkan pada teori Darwin. Akan tetapi, dengan adanya ritual atau upacara penghormatan kepada para awak KRI Nanggala 402 yang gugur itu, tampak bahwa keangkuhan keyakinan kuno sudah mulai hancur meskipun masih ada di kalangan fanatik kuno. Lantunan menyayat hati “Ich Hatte Einen Kamerad” membuktikan bahwa mereka pun merasa bahwa kita semua adalah manusia yang bisa bersahabat dan kehilangan. Artinya, tak tampak ada keangkuhan purba yang mengaku-aku sebagai  manusia paling tinggi di dunia itu.

            Upacara penghormatan Jerman untuk Indonesia itu menunjukkan bahwa manusia sudah jauh lebih maju dalam hal kemanusiaan. Manusia sudah sangat menginginkan persahabatan, perdamaian, dan kerja sama yang positif. Manusia berusaha sejauh mungkin menghindari hal-hal yang menjurus ke arah konflik, apalagi konflik fisik. Dengan demikian, mereka yang selalu cari gara-gara untuk menimbulkan konflik, merekayasa huru-hara, dan memancing kerusakan hidup adalah manusia yang menarik-narik manusia lainnya untuk hidup di zaman kuno, zaman pembunuhan, zaman penguasaan manusia atas manusia lainnya dengan menggunakan kekerasan.

Jerman saja yang pernah mengklaim diri sebagai manusia terhebat hingga memicu perang dunia serta membantai bangsa Israel, bisa melunak, ingin bersahabat dengan manusia ras lainnya, dan menghormati Indonesia. Masa orang-orang yang pas-pasan ilmunya, pas-pasan ekonominya, pas-pasan informasinya, pas-pasan pengalamannya, pas-pasan kekuatannya, petantang-petenteng ingin menguasai dunia hingga menimbulkaan tindakan teror di antara manusia?

Persahabatan dengan bangsa mana pun harus dijalin jika bangsa tersebut menghormati manusia dan kemanusiaan.

Sampurasun.

Saturday, 8 April 2017

Meminimalisasi Teror di Eropa

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Saya tidak akan Jaim, ‘jaga imej’, soal teror-teror yang terjadi di Eropa. Reaksi saya pertama kali ketika terjadi teror di Eropa adalah tertawa terkekeh-kekeh, lalu terbahak-bahak bahagia. Setelah itu, agak sedih sedikit, sedikit sekali, sangat sedikit, kebanyakan saya gembira bukan main.

            Saya senang karena apa yang saya “ancamkan” kepada mereka benar-benar terjadi. Hal itu menunjukkan bahwa saya telah memberikan peringatan kepada mereka dan peringatan itu benar-benar terwujud secara nyata. Berkali-kali peringatan saya ini terjadi secara nyata.

            Sebelum terjadi teror bom di Paris, Perancis, saya sudah berdebat dengan para anti-Islam Perancis dua bulan sebelumnya lewat youtube. Saya peringatkan bahwa mereka harus segera menghentikan penghinaan-penghinaan kepada Allah swt, Islam, Muhammad saw, dan kaum muslimin. Saya ingatkan bahwa penghinaan kepada Islam hukumannya adalah “mati” dibunuh. Orang Islam yang memiliki semangat tinggi akan mengorbankan dirinya untuk kemuliaan Islam dan kaum muslimin. Itu artinya penghinaan kepada Islam yang mereka lakukan akan memicu teror. Akan tetapi, sayangnya, orang-orang Eropa dan Amerika Serikat itu kebanyakan belagu, sombong, angkuh, dan tidak mau kalah meskipun sudah jelas-jelas salah. Bahkan, mereka terus-terusan makin keras menghina Islam, baik di dunia maya maupun di dunia nyata dengan aksi-aksi jalanan yang memuakkan.

            Secara fakta dan pengetahuan, saya tidak pernah kalah berdebat karena mereka hanya memiliki pemahaman sedikit dan salah tentang Islam. Akan tetapi, brengseknya, mereka melakukan penghinaan itu just for fun, ‘hanya untuk bersenang-senang’ dan tidak peduli apakah mereka itu menyakiti orang lain atau tidak. Memang ini tampaknya penyakit yang mereka derita. Mereka gemar sekali membuli orang lain yang lemah dan minoritas, bukan hanya muslim, nonmuslim pun mereka buli.

            Akibatnya, bum …! Meledaklah teror di Paris, Perancis yang segera diklaim oleh Isis bahwa itu merupakan konser milik Isis. Pemimpin tertinggi Isis Al Baghdadi menyatakan bahwa teror itu sebagai balasan atas kebijakan pemerintah Perancis yang ikut-ikutan memerangi Isis di Suriah dan balasan atas penghinaan orang-orang Perancis kepada Muhammad saw.

            Saya segera saja bilang, “Gue bilang juga apa. Disuruh berhenti menghina Islam, malah menjadi-jadi, bukannya sadar.”

TEROR DI PARIS, PERANCIS. Foto:global.liputan6.com

            Begitu juga dengan orang-orang Inggris, saya sering sekali chit chat sama mereka agar menghentikan penghinaan kepada Islam. Akan tetapi, orang-orang Inggris ini jauh lebih sombong daripada orang-orang Eropa lainnya. Bahkan, saya bilang orang-orang ini paling sombong dan angkuh di seluruh daratan Eropa. Mereka malah menantang saya kapan hukuman dari Allah swt datang. Mereka melecehkan peringatan saya meskipun komentar-komentar tantangan mereka banyak yang mereka hapus sendiri. Mungkin mereka takut juga sebenarnya, tetapi karena sombongnya bukan main, mereka tidak mau kalah. Mereka minta saya menuliskan tanggal, hari, bulan, dan tahun hukuman Allah swt itu datang.

            Saya jawab saja, “Wait!”

            Disuruh menunggu, mereka malah balik mengejek saya karena tidak tahu kapan hukuman itu datang. Jelas saja saya tidak pernah tahu kapan hukuman itu datang. Akan tetapi, pasti datang karena itu adalah sunatullah. Memang beberapa waktu kemudian, terjadi pula teror menakutkan di Eropa sekaligus kekalahan mereka dalam pemilihan walikota London. Walikota London sekarang kan seorang muslim, namanya Sadiq Khan. Saya pikir itu hukuman bagi mereka dan peristiwa memalukan bagi mereka, ternyata warga London banyak yang sadar untuk tetap saling menghormati di antara umat yang berbeda agama. Tentu saja itu merupakan pukulan keras bagi para anti-Islam di Inggris. Hal itu berada dalam monitoring Allah swt karena Allah swt yang menguasai hati setiap manusia.

            Hal yang lebih mengejutkan adalah peristiwa teror di Stockholm, Swedia. Soalnya, dua hari sebelumnya ada salah seorang dari mereka yang juga mengganggu saya. Sebelum-sebelumnya mereka menuduh saya sebagai penghina Yesus Kristus.

            Saya tantang mereka, “Kapan aku menghina Yesus? Kata dan kalimat mana yang menjadi bukti aku menghina Yesus? Aku paling anti menghina agama orang lain.”

            Mereka tidak bisa menjawab karena memang tidak ada kata penghinaan itu.

            Meskipun demikian, mereka tetap mengganggu dengan menjawab, “This one.”

            This one, ‘yang ini’. Mereka menjawab itu tanpa menunjukkan kata yang mana dan kalimat mana, kecuali ‘yang ini’.  

            Yang ini teh yang mana atuh?

            Da euweuh.

            Mereka hanya mengganggu karena tak mau kalah.

            Dua hari kemudian, bum …! Terjadilah teror di Swedia.

            Saya segera bilang aja dalam hati, “Gue bilang juga apa. Pada belagu sih.”

TRUK ALAT TEROR SWEDIA. Foto:news.karirsumut.com

            Orang boleh saja menyalahkan pelaku teror, tetapi teror itu dipicu salah satunya oleh penghinaan-penghinaan terhadap Islam.


Menciptakan Suasana Saling Menghormati
Untuk meminimalisasi perilaku teror di Eropa, harus ada upaya bersama antara pemerintah Eropa dan masyarakat Eropa untuk menghentikan penghinaan-penghinaan kepada Islam dan kaum muslimin. Berdebat boleh. Sampai urat leher tegang pun boleh berdebat. Akan tetapi, tidak boleh saling menghina. Berdebat itu soal ilmu pengetahuan, sedangkan saling hina itu terjadi karena sama-sama bloon dan tolol.

            Saya sangat menyukai pemerintah dan masyarakat Kanada yang melindungi muslim dan menghormati setiap manusia. Ketika ada teror pada masjid dan terhadap kaum muslimin yang sedang shalat, Perdana Menteri Kanada menangis. Ketika kaum muslimin shalat Jumat, orang-orang nonmuslim Kanada membuat pagar manusia mengelilingi masjid untuk melindungi umat Islam dari kejahatan teror. Demikian pula, pemerintah Jerman yang menyatakan dengan tegas bahwa Islam adalah bagian dari Jerman. Tak heran jika di Kanada dan Jerman dapat dikatakan jumlah teror yang terjadi adalah sangat minimal dibandingkan dengan negara besar Eropa lainnya.

            Di Swedia itu penghinaan kepada Islam sangat brutal, bukan hanya di dunia maya, melainkan di dunia nyata. Mereka yang anti-Islam pernah melakukan sabotase pada acara-acara diskusi, seminar, dakwah kaum muslimin dengan mengganti tayangan-tayangan video Islami dengan tayangan-tayangan penghinaan pada Islam.

            Tak heran jika umat Islam yang sudah menyiapkan dirinya untuk syahid melakukan bum …!

            Korbannya pun acak dan tidak terarah, siapa saja. Hal itu disebabkan banyak sekali yang melakukan penghinaan Islam di sana.

            Dalam hal ini saya harus memberikan penilaian bahwa pelaku teror di Indonesia lebih baik dibandingkan dengan di Eropa. Bukan berarti saya setuju teror. Saya pasti tidak setuju teror. Akan tetapi, paling tidak, teror yang terjadi di Indonesia sasarannya lebih terarah, yaitu polisi, terutama Densus Antiteror. Pelaku teror di Indonesia tidak menyasar korban secara acak karena masih banyak muslim yang baik yang mencoba melakukan perlawanan terhadap penghinaan pada Islam di dunia maya dan banyak nonmuslim baik yang juga tidak setuju terhadap penghinaan pada Islam. Banyak sekali nonmuslim yang ingin hidup damai di lingkungan mayoritas muslim, apalagi yang memiliki ikatan darah. Banyak pula orang Islam yang melindungi nonmuslim.

            Berbeda dengan di Swedia. Karena jumlah anti-Islam sangat banyak dan melakukan penghinaan serta provokasi tanpa dikendalikan oleh pemerintah, jawabannya adalah kaum muslimin yang siap syahid melakukan perlawanan dengan keras bertaruh nyawa.

            Indonesia harus bersyukur memiliki undang-undang yang bisa mengendalikan kebebasan berbicara agar tidak jatuh menjadi kebebasan memfitnah dan menghina pihak lain, baik suku, agama, ras, ataupun adat istiadat. Persoalannya adalah kurangnya partisipasi masyarakat dalam melaporkan berbagai penghinaan yang terjadi di dunia maya dan kurangnya kemauan polisi untuk menyelesaikan kasus-kasus itu. Di dunia nyata penghinaan-penghinaan itu tidaklah banyak. Kalaupun terjadi di dunia nyata, rata-rata karena “keseleo lidah”, tidak sengaja, lupa, atau kebablasan. Sangat jarang terjadi penghinaan di dunia nyata yang dilakukan dengan sengaja, apalagi untuk bersenang-senang.

            Berbeda dengan di dunia barat dan Eropa, penghinaan itu dibiarkan terjadi karena masih termasuk dalam kebebasan berbicara dan kebebasan berekspresi. Padahal, kebebasan berbicara itu tujuannya adalah untuk memperbaiki kehidupan manusia agar tidak terjadi pelanggaran hak azasi manusia dan agar tercipta dorongan lebih positif untuk kemajuan manusia. Penghinaan bukanlah bertujuan untuk hal-hal positif, melainkan hanya untuk meluapkan emosi tanpa kendali secara bodoh, tolol, dan penuh kebloonan.

SALING HINA ADALAH KEBODOHOAN. Foto: www.netralitas.com

            Apabila Eropa mampu mengendalikan penghinaan kepada Islam dan kaum muslimin, insyaallah, aksi-aksi teror pun akan terminimalisasi. Masalah yang tersisa hanya akan seperti yang terjadi di Indonesia, yaitu dukungan berlebihan terhadap Isis, keyakinan kekhalifahan selalu baik,  dan hoax tentang kisah-kisah zaman akhir. Oleh sebab itu, Indonesia lebih mengedepankan pendidikan, pemahaman, dan penyadaran terhadap ajaran Islam sebenarnya yang rahmatan lil alamin dalam mengatasi setiap aksi-aksi terorisme.

            Apabila Eropa masih membiarkan penghinaan terhadap Islam hidup di dunia maya dan di dunia nyata, teror-teror pun akan terus terjadi karena akan ada orang Islam yang merasa tersakiti dan terhina, kemudian melakukan pembalasan dengan nyawanya sendiri. Itu adalah teror bagi korban, tetapi bernilai jihad dan syahid bagi pelakunya. Tak ada gunanya hanya menyalahkan kaum muslimin atau menyebarkan hoax bahwa Islam adalah agama teror karena pada kenyataannya dunia butuh Islam dan kaum muslimin. Dunia harus bekerja sama untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, baik sumber daya alam maupun sumber daya manusia.

            Eropa, barat, dan anti-Islam boleh sesumbar berteriak seperti yang biasanya, “Kami baik-baik saja tanpa Islam!”

            Berteriak emosi sih boleh-boleh saja, tetapi dalam kenyataannya kan setiap pemimpin barat dan Eropa selalu berusaha mendatangi negeri-negeri muslim, termasuk ke Indonesia untuk bekerja sama dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Kalau merasa diri hidup “lebih baik tanpa Islam”, jangan datangi negeri-negeri muslim dan kunci mati negara-negara Eropa dari Islam serta tak perlu ada kerja sama antara barat, Eropa, dan kaum muslimin. Begitu seharusnya bersikap kalau benar-benar bisa hidup tanpa Islam. Kenyataannya tidak bisa hidup tanpa Islam karena setiap manusia saling membutuhkan.

            Bisakah barat dan Eropa hidup tanpa berbisnis sumber daya alam dengan negeri-negeri muslim?

            Jawabanya pasti telak, “TIDAK BISA!”

            Bisa sih, tetapi bisanya hanya teriak emosi karena kenyataannya pasti tidak bisa. Akan selalu ada orang barat dan Eropa yang mendatangi negeri-negeri muslim untuk bekerja sama dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Oleh sebab itu, jangan pada belagu. Setiap manusia, baik muslim maupun nonmuslim pada dasarnya saling membutuhkan dalam sepanjang hidupnya. Soal benar dan tidaknya suatu agama atau keyakinan akan dibuktikan dengan jelas di hadapan pengadilan Illahi kelak.


            Sampurasun.

Monday, 2 November 2015

Ateis Keturunan Monyet Sirkus

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya

Sebenarnya, saya tidak ingin-ingin amat menulis tulisan ini. Masih banyak hal lain yang lebih penting yang bisa ditulis. Akan tetapi, saya merasa harus menulis ini karena takut lupa atau hilang bahannya. Tulisan ini merupakan perdebatan saya dengan orang Jerman yang menggunakan nama G. Ten Brink. Dia jelas kalah telak dan sadar kekalahannya. Oleh sebab itu, dia berusaha lari dari kekalahannya dengan cara menghapus postingannya ketika berdebat dengan saya. Dia mungkin malu karena kalah debat. Jadi, tulisan ini dibuat agar dokumentasi perdebatan itu tidak hilang. Saya segera menulisnya sebelum benar-benar lupa isi postingan orang Jerman itu.

            Perdebatan itu terjadi dalam sebuah video di Youtube yang berjudul Muhammad & His 6 Year Old Bride: Stupid Muslim Comments 1, ‘Muhammad & Pengantinnya Yang Berusia 6 Tahun: Komentar-Komentar Orang Islam Bodoh 1’. Video ini dibuat kemungkinan oleh orang Inggris yang menggunakan nama Veganatheis. Video ini merupakan video pertama dari lima puluh video yang isinya diakui oleh pembuat video sebagai komentar-komentar bodoh orang-orang Islam tentang Islam.

            Bagi saya, video ini sungguh lucu dan saya menontonnya sambil tertawa terbahak-bahak. Ia dengan jelas menyalahkan dan menghina Nabi Muhammad saw yang menikah dengan Siti Aisyah ra yang masih berusia enam tahun. Ia menuduh Nabi Muhammad saw sebagai pedofil yang melakukan perkosaan terhadap gadis enam tahun. Padahal, kita tahu bahwa pernikahan itu atas dasar suka sama suka dan mendapat restu dari ayah Aisyah ra, Abu Bakar as Shidiq. Artinya, tak ada perkosaan. Di samping itu, pernikahan itu jauh berbeda dengan kasus pedofilia. Korban pedofilia adalah korban perkosaan. Biasanya, korban merasa sangat dirugikan, depresi, kehilangan masa depan, terhina, murung, sedih, teraniaya, mengucilkan diri, tak punya harapan lagi, dan sebagainya. Akan tetapi, itu semua tidak terjadi terhadap diri Aisyah ra. Dia adalah perempuan periang, cantik, cerdas, penghapal Al Quran yang sangat diandalkan, dan sangat memuja suaminya, Muhammad saw. Kita bisa melihatnya dari 2.600 hadits-hadits yang bersumber dari Aisyah ra. Semuanya berisi puja dan puji kepada Muhammad saw. Termasuk hadits-hadits yang bersumber dari dirinya adalah hadits-hadits tentang bagaimana cara membina rumah tangga yang baik. Bahkan, Siti Aisyah ra memiliki posisi yang terhormat sampai hari ini. Ia adalah Ummul Muminin, ‘Ibu bagi Orang-orang Beriman’.

Mungkinkah korban pedofilia hidup seperti Aisyah ra yang riang, cerdas, memuji suami, mengajarkan membina rumah tangga, dan bergelar sangat terhormat di kalangan umat Islam dari zaman dulu sampai dengan hari ini?

Tidak mungkin, bukan?

Di dalam video itu pun dijelaskan kampanye para ateis, yaitu Belief Is Not Same with Knowledge, ‘Keimanan Tidak Sama dengan Pengetahuan’. Padahal, Islam sangat menjunjung tinggi ilmu pengetahuan. Bahkan, Allah swt menegaskan bahwa orang yang berilmu lebih tinggi derajatnya dibandingkan dengan orang yang tidak berilmu. Isi utama dari video itu adalah komentar-komentar bodoh yang diakuinya berasal dari orang-orang Islam. Memang benar, komentar-komentar yang katanya berasal dari orang Islam itu sangat lemah dan mudah dipatahkan. Akan tetapi, sayang sekali pembuat video itu banyak bohongnya karena saya bisa dengan mudah melihat bahwa banyak sekali komentar yang pasti dari bukan orang Islam, dalam kata lain dia membuat sendiri komentar-komentar bodoh itu, lalu disebutkan berasal dari orang Islam untuk menunjukkan bahwa kaum muslim itu bodoh. Meskipun demikian, ada juga komentar-komentar lemah yang mirip dari orang-orang Islam, tetapi komentar-komentar itu berasal seperti dari orang-orang Islam yang lemah pemahaman Islam-nya.

Setelah melihat tayangan video yang “membodohkan” banyak manusia itu, saya iseng saja menantang pembuat video itu untuk berdebat. Begini saya menantang dia, tentu saja dalam bahasa Inggris. Saya di sini menerjemahkannya untuk pembaca Indonesia semua.

Hahahahaha … terima kasih … hahahahaha … video ini sangat menghibur. Pembuat video ini telah menunjukkan betapa bodohnya dirinya. Video ini berisi penuh dengan omong kosong, dibuat tidak dengan menggunakan ilmu pengetahuan … hahahahahaha.

Kamu ingin berdebat?

Coba berdebat denganku!

Aku akan tunjukkan betapa tololnya kamu. Hal ini sangat sangat mudah, semudah menjentikkan jari tanganku. Maaf jika kamu tidak memahami kalimat-kalimatku. Aku orang Indonesia.

Kalian harus mempelajari orang-orang ateis dan agnostik di Indonesia pada masa lalu. Mereka hampir menguasai negara, tetapi mereka terlalu tolol. Akibatnya, mereka dimusnahkan atau bersembunyi. Mereka penuh dengan omong kosong. Kami menganggapnya orang-orang bodoh yang terbuang …. Hahahahahaha …. Mereka selalu membuat kesemrawutan di masyarakat… hahahahaha …..

Komentar saya itu tidak mendapat tanggapan dari Sang Pembuat Video, tetapi mendapat jawaban dari orang-orang lain. Ada sekitar enam orang yang menanggapi komentar saya. Dari keenam itu, dua orang mendukung saya namanya Alex Marxson dan MegaDodsi. Keduanya menyatakan bahwa pembuat video dan para pendukungnya terlalu pengecut berdebat dengan saya. Bahkan, mereka memancing orang-orang untuk segera berdebat dengan saya.

Memang muncul yang berani berdebat dengan saya. Akan tetapi, semuanya kalah. Ada satu orang yang perdebatannya dengan saya sengaja ditulis di sini karena dia menghapus “jejak” perdebatan itu, sedangkan saya menginginkan perdebatan itu tetap ada di sana tanpa dihapus agar menjadi pelajaran bagi banyak orang.

Begini Si G. Ten Brink menimpali saya. Dia orang Jerman yang terkenal dengan ajaran Hitler yang menganggap diri sebagai ras terhebat di kolong langit. Saya mencoba mengingat-ingat kembali kata-katanya karena dia sudah menghapusnya, tinggal komentar saya yang masih tetap ada di video itu.


G. Ten Brink

Kamu banyak tertawa. Tertawa kamu itu menunjukkan kamu kalah berdebat. Apakah kamu berdebat dengan menggunakan Taqiya?

Komentar kamu sangat membuatku bingung.

Tertawa kamu itu adalah tertawa penuh kepalsuan untuk menutupi kelemahan kamu.


Tom Finaldin

Hahahahaha ….

Taqiya?

Hahahahahaha ….

Taqiya adalah berbohong. Jadi, buktikan jika aku telah berbohong. Jika tidak, kamu yang kalah berdebat denganku.

Haahahahaha ….

Kalah dan menang dalam berdebat ditentukan oleh bukti. Kamu sama sekali tidak memiliki bukti kecuali kebohongan, tuduhan, penghinaan, dan omong kosong.

Ajak orang terpintar kalian. Suruh dia berdebat denganku dengan menggunakan cara-cara akademis melalui langkah-langkah ilmiah untuk mendapatkan kebenaran.

Hahahaha …. Tentu saja kamu bingung karena kamu hanya punya kebohongan, tuduhan, penghinaan, dan banyak omong kosong.

Hahahaha … beginilah tertawa penuh kepalsuan itu … hahahahaha ….


G. Ten Brink

Teruslah Taqiya. Kalian orang Islam selalu menggunakan Taqiya, Dasar Homo.


Tom Finaldin

Hahahahaha ….

Kamu menuduhku taqiya, benar kan?

Buktikan jika aku telah berbohong. Jika tidak, kamulah yang kalah berdebat.

Sangat jelas, bukan?

Ngomong-ngomong, orang-orang seperti kalian selalu sama, sangat suka menggunakan kata-kata kotor untuk menutupi kelemahan kalian.


G. Ten Brink

Aku tidak perlu membuktikan apa pun, terutama kepada kamu. Semuanya sudah jelas, orang-orang Islam adalah orang-orang buas.

Dasar buas!

Kamu hanyalah setengah manusia.


==================================================================
Sebenarnya, dia mengatakan “subhuman” kepada saya. Saya tidak mengerti artinya. Saya hanya menebak bahwa dia mengatakan subhuman berarti mengejek saya sebagai manusia yang belum sempurna. Kita semua tahu bahwa orang-orang ateis selalu yakin teori Darwin dan kita orang Indonesia, Asia, atau Negro adalah manusia yang belum sempurna dalam perjalanan evolusi manusia. Yang sudah sempurna adalah manusia yang berkulit putih seperti mereka.

Bodoh kan mereka berpendapat seperti itu?
==================================================================


Tom Finaldin

Kalimat yang benar adalah “kamu tidak punya bukti apa pun”. Pengetahuan kamu hanya omong kosong.

Iya memang benar, aku adalah makhluk setengah manusia yang lebih pintar daripada kamu.

Puas, Anak Kera?


G. Ten Brink

Kereeeen! Nikmatilah!


Tom Finaldin

Ya, aku memang menikmatinya!

Apa ruginya disebut setengah manusia oleh keturunan monyet seperti kamu?


G. Ten Brink

Dahsyat! Kamu juga sama!


Tom Finaldin

Hahahahaha …..

Kamu orang yang lucu…. Hahahahaha …. Kamu rela menjadi makhluk di bawah aku …. Hahahahaha ….

Kamu tidak mengingkari bahwa aku adalah setengah manusia yang lebih pintar daripada kamu. Jika aku setengah manusia, lalu kamu apa?

Kamu monyet gila, iya kan?

Kamu mungkin keturunan monyet gila yang penuh dengan penyakit karena siapa yang bisa menjamin kalau kamu keturunan monyet sehat?


G. Ten Brink

Terlalu banyak waktu untuk menjelaskannya kepadamu.


Tom Finaldin

Hahahahaha ….

Ketika aku mengatakan, “Aku adalah setengah manusia yang lebih pintar daripada kamu,” kamu bilang, “Kereeeen! Nikmatilah!”

Salahkah aku?

Hahahahahaha ….

Lihat sendiri, betapa bodohnya kamu tidak mengerti apa yang kamu sendiri katakan.


G. Ten Brink

Aku menulis komentar bukan untuk berdebat dengan kamu. Aku hanya berusaha agar orang-orang waspada terhadap orang seperti kamu.

Aku adalah manusia penting. Aku sangat penting untuk kamu. Tetapi kamu tidak penting untukku.


Tom Finaldin

Apa?

Bwuahahahahahaha ….

Kamu sangat penting untukku?

Apa manfaatnya dirimu untukku?

Kamu melamun ya?

Wahahahahaha …..

Kapan aku pernah meminta pertolongan kamu?

Wahahahahahaha …. Kamu benar-benar orang yang lucu. Aku pikir kamu adalah keturunan monyet sirkus.

Tapi, aku ceriterakan kepadamu fakta-fakta. Pilih dari negara mana kamu berasal. Kami telah menyembelih, membunuh, mengubur, dan mengusir ratusan ribu orang sombong seperti kamu di sini. Mereka berasal dari Belanda, Inggris, Amerika, Jerman, Portugis, dan Jepang.

Jika kalian penting untuk kami, mengapa kami harus membantai ras kalian di sini?

Kamu sama sekali tidak penting untukku!

Jangan berhalusinasi. Itu tidak baik untuk kesehatan kamu …. Hahahahahaha ….


G. Ten Brink

Jangan membalas komentarku lagi. Homoseksual!


Tom Finaldin

Mengapa?

Kamu ingin aku tidak membalas komentar kamu?

Kalau begitu, jangan membuat kami merasa terganggu karena aku akan mempermalukan kamu. Kalian semua!

Kamu mengerti ini?


G. Ten Brink

Maaf, aku bukanlah homoseksual. Aku tahu kenapa kamu ingin berbicara dengan sangat kasar kepadaku. Kamu ingin berbicara kepadaku karena kamu sedang mencari suami.

Dasar homoseksual!


Tom Finaldin

Apa?

Apakah otak kamu sehat?

Kamu adalah orang yang memulai berbicara kepadaku dengan buruk. Baca ulang!

Kamu yang memulai percakapan ini. Bukan aku!

Tapi, kamu katakan aku yang ingin berbicara kepada kamu. Aneh.

Aku hanya membalas komentarmu.

Aku makin yakin kamu hanyalah keturunan monyet gila yang penuh penyakit.


G. Ten Brink

Kamu benar-benar homoseksual. Orang Islam Taqiya. Manusia tidak sempurna.

Tom Finaldin

Jika kamu tidak ingin berdebat, jangan membuat komentar yang buruk dan jangan membuat kami kesal. Seperti yang aku katakan, aku akan mempermalukan kalian.

Kamu bisa menghinaku apa saja, tetapi kenyataannya kamu hanya menipu dirimu sendiri.

Kamu ingin tahu fakta-fakta yang lainnya?

Aku ceriterakan kepadamu. Kamu bisa baca surat kabar kamu. Hampir seluruh pemimpin Eropa mendatangi negaraku dalam dua bulan terakhir ini. Karena terlalu banyak, presidenku tidak dapat menemui mereka semua. Beberapa di antara mereka hanya ditemui oleh Sultan setingkat dengan gubernur.

Untuk apa?

Untuk menyelamatkan ras kalian. Untuk memberi makan ras kalian. Mereka menginginkan pekerjaan dari kami. Mereka ingin mengerjakan kereta api, jalan, listrik, minyak kelapa, bendungan, batubara, emas, dan lain sebagainya. Akan tetapi, kami masih harus berpikir.

Sampai sekarang, baru Amerika Serikat, Cina, dan Jepang yang telah mengerjakan beberapa proyek di negara kami. Cina adalah negara yang paling banyak mendapatkan proyek di negara kami.

Negara-negara lain harus bersabar.

Jadi, sebagai sesama manusia yang memiliki keunggulan dan kelemahan masing-masing, kita harus saling menghormati satu sama lain.

Begitulah seharusnya cara hidup manusia yang beradab.

Kamu mengerti ini?


G. Ten Brink

Hahahahaha!


Tom Finaldin

Lihat sendiri kan? Kamu sudah tidak lagi memiliki kata-kata untuk menjawabku. Kamu orang yang angkuh. Tidak heran jika kami membantai ras kalian di sini sampai kalian kabur.

Aku masih menyimpan golok kakekku yang pernah digunakan untuk memenggal kepala ras kalian di sini. Aku akan menggunakannya lagi jika ras kalian kembali melakukan kejahatan yang sama.


G. Ten Brink

Hahahahahaha!


Tom Finaldin

Apa yang kamu tertawakan?

Kamu mulai gila.

Hahahahaha ….

Kamu mempermalukan ras kalian…. Hahahahaha ….

Lihat! Orang yang selalu mengklaim diri sebagai ras terunggul di dunia hanya mampu membalasku  dengan “hahahahahaha”.

Memalukan sekali kamu!

Ayo katakan sesuatu yang berguna dan bernilai …..

Tapi, aku yakin kamu tidak memiliki kata-kata yang berguna …. Hahahahaha …. Dasar Otak Kerdil …. Hahahahahaha ….


==================================================================

Sehari, dua hari, tiga hari, sampai dengan tulisan ini disusun, dia tidak pernah menjawab lagi. Bahkan, parahnya, dia menghapus seluruh komentarnya sendiri. Entah apa yang dipikirkannya.

Saya cuma berharap dia sadar dan mulai memperbaiki kesalahannya sehingga menjadi manusia yang lebih baik dan mampu menghormati sesamanya. Kalau kemudian dia mendapat hidayah dari Allah swt, itu adalah lebih baik. Ia akan menjadi anggota komunitas yang sangat dihormati di Jerman.

Bukankah pemerintah Jerman sendiri sudah menyatakan bahwa Islam adalah bagian dari Jerman?