Showing posts with label Ateis. Show all posts
Showing posts with label Ateis. Show all posts

Thursday, 5 September 2019

Perbandingan Rasis di Indonesia dan Afrika Selatan


oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Soal rasisme memang hingga hari ini terus terjadi pada berbagai belahan dunia ini. Saya sendiri pernah jadi korban sikap rasis, beruntung Allah swt memberikan saya pengetahuan yang bisa membalikkan keadaan. Sedikit ceritera soal diri saya. Beberapa tahun lalu ketika ramai sekali ribut soal gerakan Isis yang bebarengan dengan pemilihan walikota London, Inggris, ditambah huru-hara Brexit, seorang ateis London bertanya kepada saya soal pakaian hijab bagi perempuan muslim Indonesia. Ngobrolnya sih pake bahasa Inggris, tetapi saya terjemahkan saja di sini.

            Saya menjawab pertanyaan dia dengan jawaban sangat sederhana, “Pakaian hijab itu untuk melindungi perempuan dari pandangan syahwat pria-pria yang berlebihan.”

            Si Ateis membantah, “Kalau begitu, kalian curang. Kalian menyiksa wanita seperti itu gara-gara para lelaki kalian sangat lemah, tidak bisa menahan hawa nafsunya.”

            Agak emosi juga sedikit saya atas bantahan Si Ateis, saya tantang saja sekalian dia, “Mau bukti? Kita berbicara data saja. Kamu bawa data kasus perkosaan dan pelecehan seksual di Kota London. Aku bawa data kasus perkosaan dan pelecehan seksual dari Poltabes Bandung. Kita lihat mana kota yang lebih banyak kasus perkosaan dan pelecehan seksual itu. Kalau kasusnya lebih banyak di Bandung, kamu benar. Kalau kasusnya lebih banyak di London, aku yang benar.”

            Si Ateis tidak berani berbicara data. Malahan, dia menjawab dengan kalimat yang rasis dan merendahkan saya.

            Dia bilang, “Kamu tidak pantas berbicara denganku. Kamu hanya manusia yang berasal dari dunia ketiga. Kamu tidak selevel denganku.”

            Saya jawab saja, “Kalian memang rasis! Kalau aku tidak pantas berbicara dengan kamu, kenapa kamu bertanya kepadaku? Kamu yang memulai perdebatan, tetapi kamu tidak berani berbicara data. Kamu hanya bersembunyi dalam kalimat rasis kampungan.”

            Perdebatan pun berhenti sampai di situ. Dia tidak berbicara apa-apa lagi. Tampaknya, dia takut berbicara data yang bisa diukur dengan angka yang jelas.

            Sengaja saya ceriterakan hal itu untuk menunjukkan bahwa sikap rasis masih ada di dunia ini. Kita harus melawannya.

            Di Indonesia sikap rasis yang terjadi baru-baru ini yang membawa demonstrasi di Papua dan Papua Barat bisa dikategorikan ringan, yaitu hanya berupa kata-kata kotor, tidak terdidik, tidak sopan, dan tidak beretika. Meskipun ringan, tetap saja itu rasisme yang tidak perlu terjadi.

            Berbeda dengan yang terjadi di Afrika Selatan. Rasisme di Afrika Selatan sangat mengerikan dengan adanya “politik apartheid”, yaitu pemisahan ras antara kulit putih dengan kulit hitam. Dengan politik seperti itu, orang kulit hitam dilarang memiliki tanah atau rumah di luar wilayah yang telah ditentukan, kepemilikan mereka dibatasi; tempat tinggal warga kulit putih dan kulit hitam dipisahkan, tidak boleh berbaur; orang kulit hitam harus didaftar dengan ketat sesuai sukunya masing-masing. Di samping itu, masih ada perbedaan perlakuan berdasarkan klasifikasi bangsa, misalnya, Eropa, Afrika, Melayu, dan Asia. Hal itu jelas membuat ketidakadilan dalam hal sosial dan ekonomi. Warga kulit hitam benar-benar termarjinalisasi dan tersubordinasi.

            Meskipun demikian, warga kulit hitam tidak menyerah. Mereka melawan di dalam negeri maupun di luar negeri. Pemimpin mereka, Nelson Mandela, ditangkap dan dipenjara selama 31 tahun. Akan tetapi, karena perjuangan mereka tidak berhenti, mereka pun berhasil mengubah situasi dan kondisi. Segala peraturan yang diskrimanatif dihapuskan. Hal itu membuat keadaan jauh lebih baik dan menekan seminimal mungkin sikap rasis. Nelson Mandela pun berhasil menjadi presiden.

            Belajar dari hal itu warga Papua harus mampu menunjukkan prestasi, kreasi, dan potensi diri bahwa dirinya bukan kelas rendahan, melainkan memiliki hak dan kesempatan yang sama dengan warga Negara Indonesia lainnya. Bahkan, harus memiliki semangat untuk dapat berprestasi melebihi warga lainnya sehingga terjadi persaingan yang sehat di antara sesama warga bangsa untuk kemajuan Indonesia bersama. Di samping itu, seluruh warga Negara Indonesia dari ribuan pulau, ribuan suku, ribuan bahasa, dan ratusan agama ini harus tetap berpegang pada “Bhineka Tunggal Ika”, ‘berbeda-beda, tetapi satu jua’. Kita memang berbeda, tetapi satu dalam satu tujuan, yaitu “mewujudkan manusia Indonesia seutuhnya yang makmur lahir dan makmur batin berdasarkan Pancasila”.

            Sampurasun.

Monday, 13 March 2017

Teori Darwin Vs Teori Ledakan Penciptaan

oleh Tom Finaldin

Bandung, Putera Sang Surya
Saya sebetulnya tidak suka dengan istilah Teori Darwin karena kata “teori” itu seolah-olah merupakan hasil dari pengamatan fenomena dengan banyak kumpulan data yang kemudian memunculkan hipotesa. Kemudian, hipotesa itu diuji, dianalisis, entah dengan metode kuantitatif maupun kualitatif dengan berbagai alat analisis yang kemudian menghasilkan simpulan dan saran. Dengan demikian, hasil penelitian itu bisa melahirkan sebuah teori. Dalam kenyataannya, dari pendapat para pemapar buku Darwin yang berjudul The Origin Species, dalam isi buku itu hanya ada fenomena, kemudian memunculkan dugaan atau hipotesa tanpa ada data-data yang dapat dianalisis dengan alat-alat analisis yang tepat. Jadi, penelitian, analisis, dan eksperimennya belum pernah dilakukan. Semuanya hanya dugaan. Dengan demikian, tidak tepat jika menggunakan istilah “Teori Darwin”. Istilah yang tepat seharusnya Hipotesa Darwin atau Dugaan Darwin  karena memang hanya baru tahap dugaan dan belum ada penelitian yang mendalam.

            Sebetulnya, kalau hanya dugaan, sah-sah saja dalam ilmu pengetahuan. Akan tetapi, apabila dugaan itu disebut sebuah kebenaran, namanya berubah menjadi hoax. Apa pun itu, baik ilmu pengetahuan maupun berita, jika baru sebatas fenomena kemudian memunculkan dugaan, tetapi menganggap bahwa dugaan itu adalah sebuah kebenaran, namanya hoax.

            Dugaan itu hanya kira-kira. Orang tua Sunda menyebutnya meureun. Adapun meureun teh jauh ka enya, ‘dugaan/kira-kira itu jauh dari kenyataan’. Oleh sebab itu, untuk memastikan sebuah dugaan, harus dilakukan pengujian dan penelitian sehingga didapat hasil apakah dugaan itu benar atau tidak. Tanpa ada pengujian, dugaan hanyalah dugaan dan bukan kenyataan. Jika dugaan disebut kenyataan, itulah namanya hoax.

            Darwin hanya sampai pada tahap dugaan dan tidak pernah menguji dugaannya itu sehingga mendapatkan simpulan. Saya senang sekali jika ada pendukung Darwin dari negara mana pun yang mampu menerangkan bagaimana cara Darwin dalam mengumpulkan data, menguji data-data itu, memaparkan alat-alat analisisnya sampai memunculkan sebuah simpulan dan saran bagi pengembangan ilmu pengetahuan berikutnya. Kalau tidak ada yang bisa, Darwin memang kenyataannya hanya sampai pada tahap menduga. Apabila dugaan Darwin disebut kebenaran atau kenyataan,  istilahnya harus diubah menjadi Darwin Hoax atau The Hoax of Darwin.

            Para pendukung dugaan Darwin masih tetap ada disebabkan paling tidak tiga hal, yaitu enggan mengakui keberadaan Allah swt, tidak mendapatkan kepuasan dalam beragama, dan tidak mendapatkan jawaban yang pasti untuk menjatuhkan dugaan Darwin. Setidak-tidaknya, itulah yang saya dapatkan setelah sering sekali berdebat dengan lebih dari dua ratus para ateis luar negeri. Mereka rata-rata orang yang gemar berpikir, tetapi tidak memiliki rel untuk berpikir yang benar sehingga pikirannya menjadi sangat liar. Orang-orang beragama di luar negeri, terutama Kristen mengajari mereka dengan dogma-dogma yang membingungkan disertai tuduhan-tuduhan sesat, kafir, dan calon penghuni neraka. Demikian pula orang-orang Islam di sana banyak yang terlalu sibuk ingin mendirikan kekhalifahan sehingga mempolarisasi masyarakat dalam dua golongan besar, yaitu muslim dan kafir. Memang benar bahwa di dunia ini hanya ada muslim dan kafir, tetapi yang lebih parah adalah dua golongan besar ini semakin diperbesar benteng pemisahnya sehingga muncul fenomena sikap “ikut aku atau ikut mereka”. Dengan demikian, para pendukung dugaan Darwin yang sebagian besar ateis tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan atas keresahannya. Oleh sebab itu, mereka mati-matian mendukung dugaan Darwin sebagai sebuah teori yang dianggap sebuah kebenaran meskipun tak bisa dipertanggungjawabkan dan tak bisa diterangkan secara ilmiah.

            Akan tetapi, meskipun mereka sudah kalah berdebat dan mengakui dengan jujur bahwa pendapat saya adalah benar dalam menjatuhkan dugaan Darwin, masih tetap bertahan dalam pendapatnya yang salah itu. Hal itu disebabkan ada penyakit dalam diri mereka yang sudah menahun, yaitu keengganan untuk melakukan ritual-ritual agama apa pun. Bahkan, ada yang menyarankan saya untuk beralih menjadi Kristen karena dalam Kristen tidak ada shalat, puasa, dan ritual-ritual Islam yang bagi mereka terasa memberatkan. Saya sih cuma tertawa saja karena shalat, puasa, dan ritual-ritual lainnya bagi saya sama sekali tidak memberatkan, bahkan meringankan hidup saya karena ritual-ritual itu merupakan pegangan bagi saya dalam menyeimbangkan hidup saya.

            Adapula seorang ateis Inggris yang sudah kalah berdebat beralih menggunakan kata-kata ejekan bahwa menurutnya setiap orang yang beragama itu bodoh, “Kalian orang-orang bodoh yang percaya bahwa Nabi Adam adalah hidup bersama para dinosaurus.”

            Saya sih tertawa saja. Dia sesat berpikir karena banyak orang yang beragama menerangkan bahwa Adam as adalah manusia pertama. Kalau disebut manusia pertama, berarti Adam as harus hidup pada zaman purba barengan dengan dinosaurus.

            Saya jawab saja, “Hahaha … siapa orang bodoh yang mengajari kamu hal bodoh seperti itu?”

            Dia tidak menjawab lagi sampai sekarang.

            Intinya, Darwin menduga bahwa makhluk hidup itu berasal dari makhluk bersel satu yang kemudian berkembang, baik secara fisik maupun intelektual. Secara fisik berubah menyesuaikan kebutuhan hidup dan alam. Secara intelektual berkembang dari tidak tahu menjadi tahu. Semuanya itu terjadi secara alamiah, berasal dari alam menjadi alam. Alam menciptakan alam. Alam menciptakan dirinya sendiri.

            Sayangnya, tak ada bukti tentang hal itu. Tak pernah ditemukan fosil beruang yang sedang memendek keempat kakinya, lalu tumbuh sirip di perut dan punggungnya untuk kemudian menjadi hiu.  Tak pernah ditemukan fosil kadal dan cicak yang kaki depannya dalam proses berubah menjadi sayap dan kaki depannya menjadi tumpuan untuk berdiri sehingga menjadi burung. Fosil-fosil yang ditemukan sebagai penunjang dugaan Darwin semuanya bohong dan terbukti palsu. Misalnya, pernah diklaim ada fosil tulang belulang babi hutan yang sedang berubah menjadi anjing. Ternyata, setelah diteliti itu hanyalah penggabungan antara kepala anjing biasa dengan babi hutan biasa. Sempat pula beredar luas penemuan ada manusia berbadan tegap dengan kerangka kepala monyet, tetapi ternyata sama saja hanya penipuan dengan cara menggabungkan tengkorak monyet dengan kerangka tubuh manusia. Adapula yang melakukan penipuan dengan cara menggunakan gips dengan bentuk seolah-olah monyet yang sedang berkembang menjadi manusia, tetapi akhirnya ketahuan juga bohongnya.

            Kalaulah para ateis itu berpendapat bahwa ada monyet yang telah berbentuk menjadi manusia sempurna, lalu berkembang biak menjadi banyak dan menjadi leluhur pertama manusia, hal itu sama saja dengan keyakinan bahwa Adam as adalah manusia pertama.

            Akibatnya, mereka tetap bingung bagaimana bisa bahwa manusia pertama yang jelas menggunakan bahasa, tetapi generasi berikutnya menggunakan bahasa yang berbeda dengan manusia berikutnya?

            Manusia pertama tentunya berkomunikasi dengan menggunakan bahasa.

            Bahasa apa?

            Kapan dimulainya terjadi ribuan bahasa yang berbeda di dunia ini, padahal berasal dari satu manusia yang sama?

            Mengapa bahasa manusia yang pertama itu ditinggalkan sampai tidak dikenali lagi?

            Mengapa bahasanya jadi sangat jauh berbeda dan bentuk hurufnya pun berbeda pula, seperti, Arab, Jepang, Cina, Sunda, Jawa, dan lain sebagainya?

            Tak ada jawaban untuk itu semua karena mereka salah berpikir dan tak punya landasan yang jelas. Hal itu sudah menunjukkan bukti bahwa Darwin itu hanya sebatas menduga dan tak pernah melakukan penelitian mendalam atas dugaannya itu.

            Kalaulah para pendukung Darwin yang ateis itu menganggap bahwa orang Afrika, Papua masih setengah manusia dan setengah binatang karena masih dalam proses menuju kesempurnaan untuk menjadi orang Melayu, Cina, atau Jepang sehingga menjadi manusia paling sempurna yang berkulit putih seperti di Barat, mengapa banyak orang yang berkulit hitam lebih cerdas, lebih pandai, dan lebih sukes dibandingkan orang kulit putih?

            Tak ada jawaban pula untuk hal seperti itu.


Teori Ledakan Penciptaan
Teori yang paling masuk akal adalah Teori Ledakan Penciptaan. Teori ini diperkenalkan oleh Harun Yahya. Bukan Teori Big Bang. Teori Big Bang artinya Teori Ledakan Besar yang menerangkan bagaimana Bumi dan langit ini tercipta. Adapun Teori Ledakan Penciptaan adalah teori yang menjelaskan bagaimana Allah swt menciptakan makhluk hidup.

            Dalam penelitiannya, Harun Yahya menemukan bahwa para ahli fosil hanya menemukan tulang belulang binatang purba dalam jumlah yang banyak dalam waktu tertentu dengan bentuk tertentu yang sama. Tak ada fosil binatang purba yang sedang berubah bentuk, tetapi yang ada hanyalah fosil yang sama bentuknya dalam jumlah yang teramat banyak pada periode tertentu. Dari berbagai jenis fosil yang ditemukannya, Harun Yahya menyimpulkan bahwa Allah swt menciptakan makhluk tertentu pada periode tertentu dan berkembang menjadi sangat banyak dengan bentuk yang tetap dari awal penciptaan sampai dengan akhir kepunahannya. Tak ada yang berevolusi. Itulah yang disebut Teori Ledakan Penciptaan.

            Hal yang sama pun terjadi pada manusia. Allah swt menciptakan manusia dari sepasang manusia, laki-laki dan perempuan, untuk satu suku tertentu. Allah swt menciptakan sepasang suami isteri itu secara fisik terlebih dahulu yang disesuaikan dengan keadaan alam tempat mereka diciptakan. Setelah itu, Allah swt menanamkan berbagai pengetahuan kepada mereka sebagai modal kerja mereka hidup dan sesuai dengan tantangan mereka hidup. Demikian pula, Allah swt menciptakan bahasa tertentu untuk mereka agar dapat berkomunikasi, baik di antara mereka sendiri maupun untuk berkomunikasi dengan alam dan terutama berkomunikasi dengan Allah swt. Untuk setiap suku, Allah swt menciptakan sepasang suami istri tertentu dengan cara yang sama. Dari sanalah manusia mulai berkembang, belajar, dan terus mengembangkan dirinya, baik kuantitas maupun kualitas. Setiap suku diciptakan sepasang suami isteri tertentu sebagai leluhur awal suku itu dengan bahasa dan ilmu pengetahuan tertentu.

            Dalam menerangkan hal penciptaan serupa itu, Allah swt memberikan contoh dengan memberitakan bagaimana Adam as diciptakan. Adam as diciptakan secara fisik hingga sempurna, kemudian diberi berbagai pengetahuan secara langsung tanpa proses belajar sebagai modal awal untuk menjalani hidupnya. Oleh sebab itu, Allah swt memerintahkan para malaikat untuk sujud sebagai tanda penghormatan kepada Adam as yang telah diberi pengetahuan yang lebih banyak dibandingkan para malaikat. Kemudian, Allah swt memberikan pula pasangannya Siti Hawa agar dapat berkembang, baik kuantitas maupun kualitas.

            Bukan hanya masuk akal proses penciptaan serupa itu, melainkan pula mendapatkan landasan yang jelas berupa firman Allah swt di dalam Al Quran.

            Hal ini bisa dilihat dari QS Al Hujurat 49 : 13.

            “Wahai Manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh Allah Maha Mengetahui dan Maha Teliti.”

            Penciptaan dengan membedakan suku, fisik, bahasa yang berbeda dimaksudkan agar manusia dapat saling mengenal dan saling berbagi sehingga dapat survive dalam menjalani hidup dan kehidupan sesuai dengan yang direncanakan Allah swt.

            Untuk lebih memahaminya, penciptaan seperti ini mirip-mirip dengan permainan video games.  Setiap pembuat game, baik game adventure ataupun tidak, selalu memberikan modal dasar bagi setiap karakter yang dimainkan dalam game tersebut. Tokoh karakter yang dimainkan game tersebut akan berkembang menjadi kuat, besar, dan kaya jika mampu menemukan aset-aset yang disediakan Sang Pencipta Game untuk menghadapi setiap tantangan yang ada dalam game tersebut sampai permainan itu berakhir. Bagi pemain game yang pandai dan tekun, akan mendapatkan banyak materi dan aset untuk melengkapi dirinya hingga menjadi pemenang dalam game tersebut dan berakhir menyenangkan. Akan tetapi, pemain game yang tidak tekun, tidak sabaran, tidak teliti, dan emosian kerap jatuh gagal dan … game over. Dia tidak berhasil menjalankan karakternya sebagaimana yang diharapkan Sang Pencipta Game.

            Hal yang sedikit agak lebih jelas adalah mirip dengan permainan Sim City. Setiap keluarga atau setiap orang diberi modal dasar minimal oleh Sang Perancang Game agar dapat melanjutkan permainan dari awal sampai dengan akhir. Kepandaian dan ketekunan pemain game Sim City akan sangat menentukan keberhasilan dan atau kegagalan setiap karakter yang dimainkan. Setiap karakter yang dimainkan akan bisa menjadi sangat kaya raya dan berhasil hidupnya jika mampu mengikuti petunjuk Sang Pembuat Game. Sebaliknya, pemain game yang seenaknya dan malas mudah menyerah, tidak akan pernah berhasil hidup dan menghidupkan karakter dalam game tersebut sehingga berakhir naas, bahkan mati total dan … game over.

            Seperti itulah kira-kira Allah swt menciptakan kita semua, memberikan modal dasar, memberikan tantangan, memberikan alat, menyediakan fasilitas, sekaligus menyiapkan kegagalan dan keberhasilan. Semua itu diserahkan kepada diri kita sendiri untuk menjalaninya. Agar permainan hidup ini lebih baik, diturunkanlah para nabi dengan petunjuk agar setiap peserta kehidupan dunia  dapat memainkan peran yang tepat dan benar. Bagi mereka yang mengikuti buku petunjuk dengan benar, berhasillah hidupnya. Bagi mereka yang seenaknya tanpa buku panduan, gagallah hidupnya.

            Jadi, dugaan Darwin sama sekali tidak masuk akal dan tidak memiliki landasan berpikir yang jelas. Adapun Teori Ledakan Penciptaan sangat masuk akal, bisa dipertanggungjawabkan secara ilmu pengetahuan, dan memiliki landasan pikir yang jelas berupa firman Allah swt.


            Sampurasun.

Monday, 2 November 2015

Ateis Keturunan Monyet Sirkus

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya

Sebenarnya, saya tidak ingin-ingin amat menulis tulisan ini. Masih banyak hal lain yang lebih penting yang bisa ditulis. Akan tetapi, saya merasa harus menulis ini karena takut lupa atau hilang bahannya. Tulisan ini merupakan perdebatan saya dengan orang Jerman yang menggunakan nama G. Ten Brink. Dia jelas kalah telak dan sadar kekalahannya. Oleh sebab itu, dia berusaha lari dari kekalahannya dengan cara menghapus postingannya ketika berdebat dengan saya. Dia mungkin malu karena kalah debat. Jadi, tulisan ini dibuat agar dokumentasi perdebatan itu tidak hilang. Saya segera menulisnya sebelum benar-benar lupa isi postingan orang Jerman itu.

            Perdebatan itu terjadi dalam sebuah video di Youtube yang berjudul Muhammad & His 6 Year Old Bride: Stupid Muslim Comments 1, ‘Muhammad & Pengantinnya Yang Berusia 6 Tahun: Komentar-Komentar Orang Islam Bodoh 1’. Video ini dibuat kemungkinan oleh orang Inggris yang menggunakan nama Veganatheis. Video ini merupakan video pertama dari lima puluh video yang isinya diakui oleh pembuat video sebagai komentar-komentar bodoh orang-orang Islam tentang Islam.

            Bagi saya, video ini sungguh lucu dan saya menontonnya sambil tertawa terbahak-bahak. Ia dengan jelas menyalahkan dan menghina Nabi Muhammad saw yang menikah dengan Siti Aisyah ra yang masih berusia enam tahun. Ia menuduh Nabi Muhammad saw sebagai pedofil yang melakukan perkosaan terhadap gadis enam tahun. Padahal, kita tahu bahwa pernikahan itu atas dasar suka sama suka dan mendapat restu dari ayah Aisyah ra, Abu Bakar as Shidiq. Artinya, tak ada perkosaan. Di samping itu, pernikahan itu jauh berbeda dengan kasus pedofilia. Korban pedofilia adalah korban perkosaan. Biasanya, korban merasa sangat dirugikan, depresi, kehilangan masa depan, terhina, murung, sedih, teraniaya, mengucilkan diri, tak punya harapan lagi, dan sebagainya. Akan tetapi, itu semua tidak terjadi terhadap diri Aisyah ra. Dia adalah perempuan periang, cantik, cerdas, penghapal Al Quran yang sangat diandalkan, dan sangat memuja suaminya, Muhammad saw. Kita bisa melihatnya dari 2.600 hadits-hadits yang bersumber dari Aisyah ra. Semuanya berisi puja dan puji kepada Muhammad saw. Termasuk hadits-hadits yang bersumber dari dirinya adalah hadits-hadits tentang bagaimana cara membina rumah tangga yang baik. Bahkan, Siti Aisyah ra memiliki posisi yang terhormat sampai hari ini. Ia adalah Ummul Muminin, ‘Ibu bagi Orang-orang Beriman’.

Mungkinkah korban pedofilia hidup seperti Aisyah ra yang riang, cerdas, memuji suami, mengajarkan membina rumah tangga, dan bergelar sangat terhormat di kalangan umat Islam dari zaman dulu sampai dengan hari ini?

Tidak mungkin, bukan?

Di dalam video itu pun dijelaskan kampanye para ateis, yaitu Belief Is Not Same with Knowledge, ‘Keimanan Tidak Sama dengan Pengetahuan’. Padahal, Islam sangat menjunjung tinggi ilmu pengetahuan. Bahkan, Allah swt menegaskan bahwa orang yang berilmu lebih tinggi derajatnya dibandingkan dengan orang yang tidak berilmu. Isi utama dari video itu adalah komentar-komentar bodoh yang diakuinya berasal dari orang-orang Islam. Memang benar, komentar-komentar yang katanya berasal dari orang Islam itu sangat lemah dan mudah dipatahkan. Akan tetapi, sayang sekali pembuat video itu banyak bohongnya karena saya bisa dengan mudah melihat bahwa banyak sekali komentar yang pasti dari bukan orang Islam, dalam kata lain dia membuat sendiri komentar-komentar bodoh itu, lalu disebutkan berasal dari orang Islam untuk menunjukkan bahwa kaum muslim itu bodoh. Meskipun demikian, ada juga komentar-komentar lemah yang mirip dari orang-orang Islam, tetapi komentar-komentar itu berasal seperti dari orang-orang Islam yang lemah pemahaman Islam-nya.

Setelah melihat tayangan video yang “membodohkan” banyak manusia itu, saya iseng saja menantang pembuat video itu untuk berdebat. Begini saya menantang dia, tentu saja dalam bahasa Inggris. Saya di sini menerjemahkannya untuk pembaca Indonesia semua.

Hahahahaha … terima kasih … hahahahaha … video ini sangat menghibur. Pembuat video ini telah menunjukkan betapa bodohnya dirinya. Video ini berisi penuh dengan omong kosong, dibuat tidak dengan menggunakan ilmu pengetahuan … hahahahahaha.

Kamu ingin berdebat?

Coba berdebat denganku!

Aku akan tunjukkan betapa tololnya kamu. Hal ini sangat sangat mudah, semudah menjentikkan jari tanganku. Maaf jika kamu tidak memahami kalimat-kalimatku. Aku orang Indonesia.

Kalian harus mempelajari orang-orang ateis dan agnostik di Indonesia pada masa lalu. Mereka hampir menguasai negara, tetapi mereka terlalu tolol. Akibatnya, mereka dimusnahkan atau bersembunyi. Mereka penuh dengan omong kosong. Kami menganggapnya orang-orang bodoh yang terbuang …. Hahahahahaha …. Mereka selalu membuat kesemrawutan di masyarakat… hahahahaha …..

Komentar saya itu tidak mendapat tanggapan dari Sang Pembuat Video, tetapi mendapat jawaban dari orang-orang lain. Ada sekitar enam orang yang menanggapi komentar saya. Dari keenam itu, dua orang mendukung saya namanya Alex Marxson dan MegaDodsi. Keduanya menyatakan bahwa pembuat video dan para pendukungnya terlalu pengecut berdebat dengan saya. Bahkan, mereka memancing orang-orang untuk segera berdebat dengan saya.

Memang muncul yang berani berdebat dengan saya. Akan tetapi, semuanya kalah. Ada satu orang yang perdebatannya dengan saya sengaja ditulis di sini karena dia menghapus “jejak” perdebatan itu, sedangkan saya menginginkan perdebatan itu tetap ada di sana tanpa dihapus agar menjadi pelajaran bagi banyak orang.

Begini Si G. Ten Brink menimpali saya. Dia orang Jerman yang terkenal dengan ajaran Hitler yang menganggap diri sebagai ras terhebat di kolong langit. Saya mencoba mengingat-ingat kembali kata-katanya karena dia sudah menghapusnya, tinggal komentar saya yang masih tetap ada di video itu.


G. Ten Brink

Kamu banyak tertawa. Tertawa kamu itu menunjukkan kamu kalah berdebat. Apakah kamu berdebat dengan menggunakan Taqiya?

Komentar kamu sangat membuatku bingung.

Tertawa kamu itu adalah tertawa penuh kepalsuan untuk menutupi kelemahan kamu.


Tom Finaldin

Hahahahaha ….

Taqiya?

Hahahahahaha ….

Taqiya adalah berbohong. Jadi, buktikan jika aku telah berbohong. Jika tidak, kamu yang kalah berdebat denganku.

Haahahahaha ….

Kalah dan menang dalam berdebat ditentukan oleh bukti. Kamu sama sekali tidak memiliki bukti kecuali kebohongan, tuduhan, penghinaan, dan omong kosong.

Ajak orang terpintar kalian. Suruh dia berdebat denganku dengan menggunakan cara-cara akademis melalui langkah-langkah ilmiah untuk mendapatkan kebenaran.

Hahahaha …. Tentu saja kamu bingung karena kamu hanya punya kebohongan, tuduhan, penghinaan, dan banyak omong kosong.

Hahahaha … beginilah tertawa penuh kepalsuan itu … hahahahaha ….


G. Ten Brink

Teruslah Taqiya. Kalian orang Islam selalu menggunakan Taqiya, Dasar Homo.


Tom Finaldin

Hahahahaha ….

Kamu menuduhku taqiya, benar kan?

Buktikan jika aku telah berbohong. Jika tidak, kamulah yang kalah berdebat.

Sangat jelas, bukan?

Ngomong-ngomong, orang-orang seperti kalian selalu sama, sangat suka menggunakan kata-kata kotor untuk menutupi kelemahan kalian.


G. Ten Brink

Aku tidak perlu membuktikan apa pun, terutama kepada kamu. Semuanya sudah jelas, orang-orang Islam adalah orang-orang buas.

Dasar buas!

Kamu hanyalah setengah manusia.


==================================================================
Sebenarnya, dia mengatakan “subhuman” kepada saya. Saya tidak mengerti artinya. Saya hanya menebak bahwa dia mengatakan subhuman berarti mengejek saya sebagai manusia yang belum sempurna. Kita semua tahu bahwa orang-orang ateis selalu yakin teori Darwin dan kita orang Indonesia, Asia, atau Negro adalah manusia yang belum sempurna dalam perjalanan evolusi manusia. Yang sudah sempurna adalah manusia yang berkulit putih seperti mereka.

Bodoh kan mereka berpendapat seperti itu?
==================================================================


Tom Finaldin

Kalimat yang benar adalah “kamu tidak punya bukti apa pun”. Pengetahuan kamu hanya omong kosong.

Iya memang benar, aku adalah makhluk setengah manusia yang lebih pintar daripada kamu.

Puas, Anak Kera?


G. Ten Brink

Kereeeen! Nikmatilah!


Tom Finaldin

Ya, aku memang menikmatinya!

Apa ruginya disebut setengah manusia oleh keturunan monyet seperti kamu?


G. Ten Brink

Dahsyat! Kamu juga sama!


Tom Finaldin

Hahahahaha …..

Kamu orang yang lucu…. Hahahahaha …. Kamu rela menjadi makhluk di bawah aku …. Hahahahaha ….

Kamu tidak mengingkari bahwa aku adalah setengah manusia yang lebih pintar daripada kamu. Jika aku setengah manusia, lalu kamu apa?

Kamu monyet gila, iya kan?

Kamu mungkin keturunan monyet gila yang penuh dengan penyakit karena siapa yang bisa menjamin kalau kamu keturunan monyet sehat?


G. Ten Brink

Terlalu banyak waktu untuk menjelaskannya kepadamu.


Tom Finaldin

Hahahahaha ….

Ketika aku mengatakan, “Aku adalah setengah manusia yang lebih pintar daripada kamu,” kamu bilang, “Kereeeen! Nikmatilah!”

Salahkah aku?

Hahahahahaha ….

Lihat sendiri, betapa bodohnya kamu tidak mengerti apa yang kamu sendiri katakan.


G. Ten Brink

Aku menulis komentar bukan untuk berdebat dengan kamu. Aku hanya berusaha agar orang-orang waspada terhadap orang seperti kamu.

Aku adalah manusia penting. Aku sangat penting untuk kamu. Tetapi kamu tidak penting untukku.


Tom Finaldin

Apa?

Bwuahahahahahaha ….

Kamu sangat penting untukku?

Apa manfaatnya dirimu untukku?

Kamu melamun ya?

Wahahahahaha …..

Kapan aku pernah meminta pertolongan kamu?

Wahahahahahaha …. Kamu benar-benar orang yang lucu. Aku pikir kamu adalah keturunan monyet sirkus.

Tapi, aku ceriterakan kepadamu fakta-fakta. Pilih dari negara mana kamu berasal. Kami telah menyembelih, membunuh, mengubur, dan mengusir ratusan ribu orang sombong seperti kamu di sini. Mereka berasal dari Belanda, Inggris, Amerika, Jerman, Portugis, dan Jepang.

Jika kalian penting untuk kami, mengapa kami harus membantai ras kalian di sini?

Kamu sama sekali tidak penting untukku!

Jangan berhalusinasi. Itu tidak baik untuk kesehatan kamu …. Hahahahahaha ….


G. Ten Brink

Jangan membalas komentarku lagi. Homoseksual!


Tom Finaldin

Mengapa?

Kamu ingin aku tidak membalas komentar kamu?

Kalau begitu, jangan membuat kami merasa terganggu karena aku akan mempermalukan kamu. Kalian semua!

Kamu mengerti ini?


G. Ten Brink

Maaf, aku bukanlah homoseksual. Aku tahu kenapa kamu ingin berbicara dengan sangat kasar kepadaku. Kamu ingin berbicara kepadaku karena kamu sedang mencari suami.

Dasar homoseksual!


Tom Finaldin

Apa?

Apakah otak kamu sehat?

Kamu adalah orang yang memulai berbicara kepadaku dengan buruk. Baca ulang!

Kamu yang memulai percakapan ini. Bukan aku!

Tapi, kamu katakan aku yang ingin berbicara kepada kamu. Aneh.

Aku hanya membalas komentarmu.

Aku makin yakin kamu hanyalah keturunan monyet gila yang penuh penyakit.


G. Ten Brink

Kamu benar-benar homoseksual. Orang Islam Taqiya. Manusia tidak sempurna.

Tom Finaldin

Jika kamu tidak ingin berdebat, jangan membuat komentar yang buruk dan jangan membuat kami kesal. Seperti yang aku katakan, aku akan mempermalukan kalian.

Kamu bisa menghinaku apa saja, tetapi kenyataannya kamu hanya menipu dirimu sendiri.

Kamu ingin tahu fakta-fakta yang lainnya?

Aku ceriterakan kepadamu. Kamu bisa baca surat kabar kamu. Hampir seluruh pemimpin Eropa mendatangi negaraku dalam dua bulan terakhir ini. Karena terlalu banyak, presidenku tidak dapat menemui mereka semua. Beberapa di antara mereka hanya ditemui oleh Sultan setingkat dengan gubernur.

Untuk apa?

Untuk menyelamatkan ras kalian. Untuk memberi makan ras kalian. Mereka menginginkan pekerjaan dari kami. Mereka ingin mengerjakan kereta api, jalan, listrik, minyak kelapa, bendungan, batubara, emas, dan lain sebagainya. Akan tetapi, kami masih harus berpikir.

Sampai sekarang, baru Amerika Serikat, Cina, dan Jepang yang telah mengerjakan beberapa proyek di negara kami. Cina adalah negara yang paling banyak mendapatkan proyek di negara kami.

Negara-negara lain harus bersabar.

Jadi, sebagai sesama manusia yang memiliki keunggulan dan kelemahan masing-masing, kita harus saling menghormati satu sama lain.

Begitulah seharusnya cara hidup manusia yang beradab.

Kamu mengerti ini?


G. Ten Brink

Hahahahaha!


Tom Finaldin

Lihat sendiri kan? Kamu sudah tidak lagi memiliki kata-kata untuk menjawabku. Kamu orang yang angkuh. Tidak heran jika kami membantai ras kalian di sini sampai kalian kabur.

Aku masih menyimpan golok kakekku yang pernah digunakan untuk memenggal kepala ras kalian di sini. Aku akan menggunakannya lagi jika ras kalian kembali melakukan kejahatan yang sama.


G. Ten Brink

Hahahahahaha!


Tom Finaldin

Apa yang kamu tertawakan?

Kamu mulai gila.

Hahahahaha ….

Kamu mempermalukan ras kalian…. Hahahahaha ….

Lihat! Orang yang selalu mengklaim diri sebagai ras terunggul di dunia hanya mampu membalasku  dengan “hahahahahaha”.

Memalukan sekali kamu!

Ayo katakan sesuatu yang berguna dan bernilai …..

Tapi, aku yakin kamu tidak memiliki kata-kata yang berguna …. Hahahahaha …. Dasar Otak Kerdil …. Hahahahahaha ….


==================================================================

Sehari, dua hari, tiga hari, sampai dengan tulisan ini disusun, dia tidak pernah menjawab lagi. Bahkan, parahnya, dia menghapus seluruh komentarnya sendiri. Entah apa yang dipikirkannya.

Saya cuma berharap dia sadar dan mulai memperbaiki kesalahannya sehingga menjadi manusia yang lebih baik dan mampu menghormati sesamanya. Kalau kemudian dia mendapat hidayah dari Allah swt, itu adalah lebih baik. Ia akan menjadi anggota komunitas yang sangat dihormati di Jerman.

Bukankah pemerintah Jerman sendiri sudah menyatakan bahwa Islam adalah bagian dari Jerman?