Showing posts with label Papua. Show all posts
Showing posts with label Papua. Show all posts

Saturday, 15 January 2022

Para Perempuan Muda Cantik Pelindung Indonesia

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Pada tulisan yang lalu saya pernah menulis bahwa kedaulatan dan keamanan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dijaga oleh anak-anak muda Indonesia yang sebagian besar perempuan di forum-forum internasional semacam Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB). Mereka mempertahankan NKRI dari fitnah, serangan, dan serbuan negara-negara asing yang ingin membuat Indonesia terjatuh dengan menggunakan berbagai isu, terutama isu-isu hak azasi manusia (Ham) di Papua. Merekalah yang sesungguhnya melindungi para ulama, para kiyai, para ustadz, para pendeta, para biksu, para pedanda, para pemimpin agama dan keyakinan, para pemeluk agama, serta seluruh rakyat Indonesia di forum-forum dunia. Jika mereka gagal berdiplomasi dalam melindungi kedaulatan negara, pasukan dan kekuatan asing bisa masuk ke Indonesia, kemudian merusakkan tanah, tatanan, dan sistem sosial di Indonesia seperti yang terjadi di Timur Tengah. Besar sekali jasa mereka dan sungguh berat tugas mereka. Karya mereka mendunia karena berulang-ulang melakukan serangan mematikan terhadap para presiden, perdana menteri, dan pemimpin negara asing yang ingin mencoba meruntuhkan Indonesia.

            Dalam tulisan kali ini, saya tulis tiga perempuan muda cantik yang dengan cerdas mempertahankan kehormatan NKRI di dunia. Saya sertakan foto dan sumbernya dengan beberapa kalimat serangan mereka pada negara-negara lain yang kerap menganggu Indonesia. Sengaja saya potong dan sedikit ubah kalimat mereka karena terlalu panjang serta agar lebih jelas suara mereka ditujukan bukan hanya untuk satu negara, melainkan ke negara mana pun yang mencoba menyerang Indonesia.

            Sesuai urutan foto, pertama, diplomat muda ini bernama “Silvany Austin Pasaribu” (sumber foto: Kpop Squad Media). Dia mendapat serangan dari Presiden Vanuatu yang mencoba menceramahi Indonesia tentang Ham. Kemudian, Silvany balas menyerang. Seperti saya bilang, saya potong dan saya ubah kalimatnya bukan hanya untuk Vanuatu, melainkan untuk negara mana pun yang mencoba menyerang Indonesia.


Silvany Austin Pasaribu (Foto: KPOP SQUAD MEDIA)


Silvany berbicara seperti ini, “Simpan ceramah kalian untuk kalian sendiri! Presiden Indonesia Jokowi menyerukan untuk mencari solusi yang menguntungkan antarnegara, tetapi negara bodoh seperti kalian justru menentangnya. Di tengah krisis kesehatan dan ekonomi yang harus dihadapi, negara bodoh kalian justru menyerukan memecah belah dengan mendukung separatisme dengan dalih Ham. Indonesia sudah setuju dan menandatangani untuk penghapusan diskriminasi, penyiksaan, dan kekejaman, tetapi negara kalian belum menyetujuinya. Bagaimana mungkin kalian mengajari kami tentang Ham sementara kalian sendiri belum menandatangani penghapusan perilaku yang merendahkan martabat manusia? Kalian harus urus rakyat kalian sendiri! Kalian bukan wakil rakyat Papua dan berhentilah bersikap seperti itu! Papua adalah Indonesia!”

Luar biasa bukan serangan Silvany terhadap pemimpin negara asing?

Kedua, “Nara Masista Rakhmatia” (sumber foto: Okezone News), lagi-lagi dia menyerang banyak negara lain dari kawasan Asia Pasifik yang menuduh Indonesia melanggar Ham.


Nara Masista Rakhmatia (Foto: Okezone News)


 Kalimat Nara Masista seperti ini, “Indonesia berkomitmen untuk menghormati Ham. Pada zaman ini semuanya harus terbuka dan sulit menyembunyikan pelanggaran Ham. Ketika kalian menunjuk-nunjuk kami dengan jari telunjuk, sesungguhnya ada empat jari kalian yang menunjuk pada wajah kalian sendiri!”

Kalimat Nara Masista Rakhmatia sangat lugas dan menohok pada negara lain yang mengusik Indonesia.

Ketiga, “Sindy Nur Fitri” (sumber foto: Kuyou id). Dia dengan keras menyerang negara-negara bodoh itu.


Sindy Nur Fitri (Foto: KUYOU.id)

Kalimat Sindy semacam ini, “Kalian terus-terusan menyerang dan melanggar kedaulatan Indonesia. Kami melawan informasi palsu yang kalian sebarkan! Kalian hanya menyebarkan harapan palsu yang menyulut konflik dan mengorbankan banyak nyawa orang tak berdosa. Kalian hanya berdiam diri ketika KKB membunuh guru, perawat, pekerja kesehatan, pekerja konstruksi, menghancurkan fasilitas kesehatan, dan aparat penegak hukum. Mengapa kalian berdiam diri ketika orang-orang yang mengabdi untuk rakyat Papua dibunuh secara brutal? Kenyataannya, kalian hanya menganjurkan separatisme agar Papua berpisah dari Indonesia. Indonesia adalah negara demokrasi yang menghormati Ham dan hukum!”  

Silvany, Nara, dan Sindy adalah para perempuan cerdas yang melindungi NKRI dari serangan negara lain. Padahal, mereka adalah perempuan yang sering dianggap warga negara kelas dua dan harus selalu dianggap lebih rendah dibandingkan laki-laki. Kenyataannya, merekalah yang melindungi para lelaki dan perempuan di seluruh Indonesia ini dari kemungkinan adanya invasi atau campur tangan asing terhadap kehidupan di Indonesia. Insyaallah, upaya mereka mendapatkan pahala yang sangat besar dari sisi Allah swt.

Mereka adalah para lulusan program studi Hubungan Internasional universitas terkemuka di Indonesia ini, semoga pada masa depan murid-murid dan atau mahasiswa-mahasiswa saya di Program Studi Hubungan Internasional, Fisip, Unviersitas Al Ghifari, banyak yang sehebat atau bahkan lebih hebat dibandingkan mereka untuk membela Indonesia.

Sampurasun.

Wednesday, 12 January 2022

Jangan Lawan TNI, Amerika Serikat Saja Takut

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Jangan bikin perkara dengan Tentara Nasional Indonesia (TNI), bisa habis dalam sekejap. TNI itu sangat ditakuti dunia. Tentara Amerika Serikat (AS) saja takut jika harus berhadapan dengan TNI. Jenderal-jenderal AS sangat paham terhadap kekuatan TNI.

Jenderal Peter Pace mengatakan bahwa AS sama sekali tidak pernah berniat untuk menyerang Indonesia. Bahkan, sekedar bermimpi untuk melawan Indonesia saja tidak berani.

Amerika Serikat sama sekali tidak bisa mengalahkan Vietnam ketika perang vietnam dan tidak bisa menundukkan Korea Utara ketika terjadi perang korea. AS yang membantu Korea Selatan harus menelan pil pahit kekalahan dalam kedua perang itu. Ketika AS menyerang, Vietnam dan Korea Utara dibantu oleh TNI dalam perang. TNI adalah guru bagi tentara Vietnam dan tentara Korea Utara.

Para jenderal AS dan Inggris sangat mengagumi dua jenderal dari Indonesia, yaitu: Jenderal Sudirman dan Jenderal A.H. Nasution. Bahkan, hingga hari ini, akademi-akademi militer AS di Westpoint dan Fort Bragg menggunakan buku-buku karya Jenderal A.H. Nasution tentang perang gerilya.

Jenderal Tommy Franks dari AS menjelaskan bahwa ada tiga hal yang ditakuti dari tentara Indonesia, yaitu TNI jagoan perang gerilya; memiliki pendidikan menundukkan makhlus halus (debus, kanuragan, dsb.); rakyat Indonesia otomatis akan dengan sukarela bergabung dengan tentara jika terjadi perang. Ketiga hal itu tidak dimiliki negara lain di dunia ini. Hanya ada di Indonesia.

Melihat hal seperti itu, menurut Tommy Franks, pihak Eropa dan barat harus mampu bekerja sama dalam hal ekonomi dengan Indonesia. Kalau tidak mampu bekerja sama ekonomi dengan Indonesia, sangat berbahaya bagi barat karena Indonesia memiliki sikap nonblok, tidak bisa diseret-seret untuk mendukung kekuatan tertentu di dunia ini. Indonesia tetap pada dirinya sendiri. Indonesia tidak ke barat dan tidak ke timur dengan menggunakan politik luar negeri bebas dan aktif.

Di samping itu, menurut Jenderal Jackson, dalam waktu dekat ini militer Indonesia akan menjadi sangat besar dan sulit ditandingi. Pendapat Jackson sangat mudah dipahami karena hampir setiap hari Menhan Prabowo dan Menlu Retno Marsudi berupaya menambah Alutsista, terutama untuk menghadapi situasi yang “panas dingin” dan bisa timbul perang kapan saja di kawasan Laut Natuna Utara yang bersinggungan dengan Laut Cina Selatan. Upaya ini pun mendapatkan dukungan dari Jokowi dan DPR RI karena memang Indonesia sangat membutuhkan militer yang kuat.

Bagaimana dengan penanganan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) Papua yang sebagian orang berpendapat bahwa itu sulit di atasi? Bahkan, Kasad Jenderal Dudung terkesan lunak?

Sebetulnya, dalam hitungan hari kalau mau, TNI bisa menghabisi KKB. Akan tetapi, tidak semudah itu cara berpikirnya. Anggota KKB itu masih rakyat Indonesia, bukan orang asing. Mereka harus didekati, disadarkan untuk sama-sama kembali hidup normal dengan masyarakat, kecuali terhadap orang-orang yang memang sudah langsung berhadapan dengan senjata. Oleh sebab itu, kita banyak mendapatkan informasi mengenai puluhan, bahkan ratusan anggota KKB yang menyerahkan senjata dan kembali hidup normal bersama rakyat Indonesia lainnya. Akan tetapi, ada juga insiden bersenjata yang menimbulkan korban pada kedua belah pihak. Itu memang risiko yang harus diambil.

Di samping itu, urusan Papua ini sudah menjadi isu internasional sehingga jika salah bertindak, dunia internasional bisa ikut campur. Jika KKB dihabisi seperti perang-perang besar, Indonesia bisa dicap sebagai pelanggar hak azasi manusia (Ham). Hal itu akan mendorong kekuatan militer asing untuk masuk ke Papua, situasi akan menjadi lebih rumit. Kita bisa lihat Muamar Khadafi dan Libya yang diserang pasukan gabungan Nato yang dipimpin AS hingga hancur berantakan sampai hari ini dan sulit bangkit. Hal itu gara-gara Khadafi dituding melakukan kekejaman atau pelanggaran Ham terhadap rakyatnya sendiri, rakyat Libya.

Tidak heran jika Jenderal Dudung mengatakan bahwa KKB adalah saudara kita juga. Hal itu merupakan cara pendekatan untuk dapat menghentikan pertempuran dan mengajak saudara-saudara Papua yang masih ada di KKB untuk kembali hidup dengan masyarakat membangun dan menikmati pembangunan.

Tertahannya pasukan asing masuk ke Indonesia, salah satunya karena tentara Indonesia tetap dapat melakukan penanganan bertahap dalam menghentikan KKB. Di samping itu, Menlu RI Retno Marsudi mengirimkan anak-anak muda Indonesia sekitar lima s.d. sepuluh orang menjadi delegasi di Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk melawan para pemimpin negara lain yang selalu berupaya menjatuhkan Indonesia dengan isu-isu pelanggaran Ham di Papua. Hingga saat ini anak-anak muda yang sebagian besar perempuan itu mampu mempertahankan NKRI di dunia internasional, bahkan cerdas menyerang balik negara-negara lain yang mencoba menganggu kedaulatan Indonesia melalui meja perundingan.

Begitu, Bro kejadiannya. Jadi, sebagai rakyat kita harus bantu TNI untuk menjadi lebih kuat menjaga kedaulatan NKRI dan jangan cari perkara terhadap TNI karena itu adalah tindakan konyol dan bodoh untuk saat ini.

Sampurasun.

Sunday, 7 November 2021

Mahasiswa Tidak Tahu Berterima Kasih

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Salah satu tugas Negara Indonesia adalah mencerdaskan bangsa Indonesia dari keterbelakangan pendidikan. Oleh sebab itu, negara mengucurkan banyak dana beasiswa bagi ribuan siswa dan mahasiswa agar rakyat terlepas dari kebodohan. Negara dan bangsa ini berharap bahwa generasi muda pada masa depan dapat memiliki pengetahuan dan perilaku yang baik untuk memajukan dan menyejahterakan bangsa Indonesia serta bermanfaat bagi banyak orang. Perilaku yang baik itu bisa dimulai dari hal yang paling dekat, misalnya, lebih menghormati orangtua, keluarga, masyarakat sekitar, guru-gurunya, dosen-dosennya, lembaga tempatnya mengenyam pendidikan, serta mengikuti proses pembelajaran dengan baik sehingga ilmunya dapat dimanfaatkan untuk kepentingan banyak orang, khususnya di dalam negaranya sendiri yang telah membiayainya kuliah.

            Tak perlu mengucapkan terima kasih, berperilaku baik dan tidak merusakkan situasi pembangunan negara adalah sudah sangat baik. Apalagi jika berkontribusi besar secara nyata dalam membangun bangsanya untuk menghadapi tantangan masa depan yang semakin rumit dan berat.

            Sayangnya, banyak mahasiswa yang tidak menyadari hal ini. Jangankan untuk menjadi bermanfaat bagi banyak orang, untuk mengikuti kuliah saja sudah tidak disiplin. Bahkan, yang lebih parah lagi adalah merugikan negara yang telah membiayainya kuliah. Bagi saya, mereka yang berperilaku seperti ini adalah mirip koruptor karena telah menggunakan uang rakyat, tetapi tidak menggunakan uang itu seperti yang diharapkan rakyat.

            Satu contoh nyata adalah Veronica Koman. Dia dulunya adalah mahasiswa yang mendapatkan beasiswa dari Negara Indonesia, kuliahnya dibiayai oleh uang rakyat yang disalurkan negara untuk dirinya hingga bisa ke luar negeri. Akan tetapi, dia memprovokasi rakyat, khususnya Papua hingga terjadi kerancuan berita dan informasi yang menyesatkan. Oleh sebab itu, dia ditetapkan menjadi tersangka oleh kepolisian. Kemudian, dia kabur ke luar negeri. Belakangan ini, beberapa tayangan berita menyebutkan dia malah ikut mendukung gerakan separatisme Papua yang ingin memisahkan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Hingga kini dia terus terkesan membela pemisahan Papua dari Indonesia dan terus menjelek-jelekkan Indonesia di mata dunia.

            “Tidak ada maling yang ngaku”, begitu kalimat yang sering kita dengar di Indonesia. Dia juga tidak mengakui kesalahannya di depan media-media, baik media nasional maupun internasional.

            Kalau memang tidak bersalah, mengapa harus kabur?

            Hadapi saja dengan berani sidang pengadilan yang akan menentukan dia salah atau benar. Dia sendiri kan berprofesi sebagai pengacara.

Untuk apa takut kalau memang benar?

Berdebatlah di pengadilan. Semua orang akan menyaksikannya.

            Dia itu pengecut dan tidak tahu berterima kasih. Orang lain malah mengatakannya dia adalah pengkhianat bangsa. Orang Papua sendiri sebagian besar marah terhadap Veronica Koman karena dia sendiri bukan asli Papua dan tidak dianggap sebagai suara rakyat Papua. Salah satunya adalah pernyataan dari Putri Intelegensia 2015 asal Papua Olvah Alhamid bahwa dirinya adalah orang Papua asli yang tidak akan pernah setuju terhadap Veronica dan menentang 100% Veronica.

            Veronica Koman adalah contoh dari mahasiswa yang tidak tahu berterima kasih. Dia sudah dibiayai rakyat melalui negara, tetapi merusakkan nama baik dan situasi Negara Indonesia. Mahasiswa lain harus menjadikannya sebagai contoh buruk, jangankan berterima kasih, bermanfaat untuk bangsanya sendiri, tidak. Bahkan, orangtuanya sendiri sempat menangis agar dia menghentikannya kegiatannya, tetapi dia tidak menggubrisnya hingga kini menjadi buronan Interpol. Dia bukanlah pahlawan Papua. Dia adalah pengacau yang tidak tahu cara berterima kasih.

            Sampurasun.

Tuesday, 19 October 2021

Bersiap Perang Sekali Lagi

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Kita sudah tahu bahwa para penjajah datang berduyun-duyun ke Indonesia adalah untuk mendapatkan sumber daya alam Indonesia. Kekayaan Indonesia berikut sumber daya manusia Indonesia dieksploitasi untuk kemakmuran negeri para penjajah. Seiring dengan perjalanan waktu para pahlawan tersadar untuk melakukan perlawanan yang akhirnya Indonesia bisa merdeka pada 9 Ramadhan 1364 H yang kita kenal 17 Agustus 1945.

            Kita sekarang sudah merdeka. Secara fisik para penjajah sudah kalah dan pulang ke negerinya masing-masing. Kita bisa membangun sendiri. Akan tetapi, para penjajah tidak pernah berhenti untuk menjajah. Mereka memanfaatkan kebodohan Indonesia dalam hal teknologi dan diplomasi politik. Mereka masih mengeruk kekayaan alam Indonesia dengan menggunakan teknologi yang tinggi dan para pejabat korup. Sumber daya alam kita dikeruk sementara kita hanya mendapatkan uang recehan dan tidak membuat rakyat kenyang perutnya.

            Melihat kenyataan seperti itu, Indonesia terus membangun SDM melalui pendidikan dan mematangkan sikap politik sehingga secara bertahap bisa melepaskan diri dari keterbelakangan dan menguasai sendiri kekayaan alamnya. Orang-orang yang rajin belajar dan bekerja keras mulai menunjukkan dirinya untuk memanfaatkan sumber daya alam Indonesia untuk Indonesia sendiri dan bukan untuk negeri asing. Para pemalas, tetap berada di pinggir dan tersisihkan.

            Beberapa tahun belakangan ini Indonesia sudah menunjukkan nyalinya untuk mengambil bagian lebih besar dari perusahaan-perusahaan asing yang sejak dulu beroperasi di Indonesia. Tidak mudah memang untuk mengambilnya, tetapi perlu keberanian dan perjuangan yang melelahkan. Kini hasilnya mulai terlihat. Indonesia sudah meletakkan dasar yang kuat untuk mengambil hak yang jauh lebih besar dibandingkan sebelumnya.

            Sebut saja PT Freeport yang dimiliki Amerika Serikat (AS) yang menambang emas di Papua, telah diambil sahamnya oleh Indonesia dalam jumlah yang sangat besar, 51%. Dulu, sebelum era Jokowi hanya 9,36% Indonesia mendapatkan bagian dari Freeport, kini 51%. Artinya, pendapatan Negara Indonesia bertambah untuk kepentingan rakyatnya. Di samping itu, Indonesia melarang perusahaan AS itu untuk membawa hasil tambang emas itu langsung ke AS, tetapi harus diolah dulu menjadi bahan setengah jadi di Indonesia. Dulu memang bahan mentahnya langsung dibawa ke AS, sekarang tidak boleh lagi.

PT Freeport diwajibkan untuk membangun smelter di Indonesia. Smelter itu pabrik pembuat barang setengah jadi. Kalau bingung tentang barang setengah jadi, begini contohnya, kapas adalah bahan mentah, bahan setengah jadinya adalah benang atau kain, bahan jadinya adalah pakaian jadi. Hasil tambang mentah dari Papua itu kini bahan mentahnya harus diproduksi di Indonesia, tidak boleh di AS. Setelah itu, baru boleh dibawa ke luar negeri untuk diproduksi di sana. Indonesia mungkin sadar diri baru mampu bikin barang setengah jadi. Kita harus semakin rajin belajar dan bekerja keras untuk mampu membuat barang jadinya. Harapannya, tentu saja disandarkan kepada para generasi muda yang sadar dan rajin, bukan kepada generasi muda pemalas yang hobinya meneriakan hoax dan ujaran kebencian.

Keberanian Indonesia itu tentu saja menunjukkan bahwa kemampuan diplomasi kita sudah semakin menguat, posisi politik Indonesia di dunia sudah semakin diperhitungkan, serta kekuatan TNI mulai bisa diandalkan untuk mengamankan kebijakan dan kemauan dari pemerintah Indonesia untuk semakin mampu mengambil haknya lebih besar lagi. Pengambilalihan ini tentu saja merugikan AS karena membuat smelter mereka berkurang produksinya yang artinya mengurangi pendapatan mereka. Oleh sebab itu, tidak aneh jika mereka marah dan menggugat Indonesia ke sidang internasional, pemerintah Indonesia ternyata tidak takut dan menghadapinya dengan tegar. Terjadi banyak debat dan persengketaan.

Hasilnya, kini AS mengalah dan harus tunduk pada keinginan Indonesia. Mereka kini mematuhi keinginan Jokowi untuk membangun smelter di Indonesia.  Pada Selasa, 12 Oktober 2021, Jokowi meresmikan pembangunan smelter terbesar di dunia, di Kabupaten Gresik, Jawa Timur. Dalam proses membangunnya saja membutuhkan tenaga kerja 40 ribu orang. Artinya, terbuka lapangan pekerjaan. Honor mereka akan dibelikan beras, makanan, pakaian, alat rumah tangga, bayar sekolah anak, membantu orang tua, jajan goreng pisang, kupat tahu, dsb. yang akan membuat transaksi ekonomi semakin bergerak meningkat. Belum lagi jika smelter itu sudah beroperasi, bisa ratusan ribu tenaga ahli yang bekerja, peningkatan ekonomi pun sudah pasti terjadi. Mereka yang bisa bekerja tentu saja yang memiliki kecerdasan dan keahlian dalam bidang itu. Makanya, sekolah dan tingkatkan keterampilan dengan benar.

Amerika Serikat sudah bisa diajak bekerja sama, Indonesia mulai percaya diri dengan sudah banyaknya anak-anak muda lulusan pertambangan yang siap berpartisipasi. Kini Indonesia kembali dihadapkan pada arogansi Unieropa yang ingin tetap mengeruk bahan mentah nikel dari Indonesia sebagai materi dasar untuk pembuatan baja dan baterai listrik. Sementara itu, pemerintah Indonesia sudah tidak ingin lagi mengekspor bahan mentah karena hasilnya sedikit. Indonesia ingin meningkatkan hasil pertambangan dari barang setengah jadi. Oleh sebab itu, Jokowi menegaskan siapa pun yang menginginkan nikel dari Indonesia harus membangun smelter di Indonesia. Tentu saja, keinginan Indonesia ini mendapatkan reaksi keras dari Unieropa karena mereka akan mengalami pengurangan pendapatan. Ini soal uang yang artinya soal perut. Unieropa akan menggugat Indonesia dalam sidang WTO di tingkat internasional, tetapi Jokowi tidak gentar dan akan mengerahkan pengacara mahal tingkat dunia untuk melawan Unieropa.

Secara akal manusia biasa saja keinginan Unieropa itu tidak masuk akal dan memang harus dilawan. Toh nikelnya milik kita, mau diapain juga terserah kita, mau dibuat hingga sampai barang jadi pun bagaimana kita saja, kan punya kita.

Mengapa Unieropa harus ribut, padahal itu kan bukan barang milik mereka?

Mereka memang arogan dan berupaya agar Indonesia tidak makin kaya. Negara yang harus kaya, ya mereka saja. Mereka masih bermental penjajah. Hal itu seperti yang dikatakan Luhut Binsar Pandjaitan bahwa tidak ada satu negara pun di dunia ini yang menginginkan Indonesia bangkit menjadi negara maju. Mereka ingin tetap menjadikan Indonesia sebagai tukang kuli gali tambang dan yang mendapatkan untung besar adalah mereka.

Mereka akan menggunakan berbagai cara untuk melemahkan Indonesia, salah satu cara yang tampak adalah menggugat Indonesia dalam sidang WTO secara internasional. Indonesia akan menghadapinya. Hal yang tidak tampak adalah sangat mungkin mereka akan membiayai para buzzerRp, partaiRp, OrmasRp, dan oknum aktivis BemRp untuk membuat nyinyiran, keraguan, dan huru-hara di Indonesia. Hal ini pun terjadi pada saat pengambilalihan saham PT Freeport. Orang-orang Indonesia bayaran mereka menyebarkan penipuan dan kebodohan bahwa Indonesia tidak memiliki kemampuan untuk mengelola tambang emas.

Tidak mampu apanya?

Anak-anak muda lulusan pertambangan sudah banyak yang pintar kok. Mereka siap berpartisipasi. Kalau kata mereka Indonesia bodoh, ya mereka saja yang bodoh, jangan ngajak-ngajak orang lain ikut bodoh.

Seperti saya bilang, ini soal uang yang juga soal perut. Unieropa akan kehilangan penghasilan karena smelter-smelter mereka akan kekurangan bahan mentah dari Indonesia. Sementara itu, Indonesia ingin mengalihkan pendapatan itu untuk Indonesia sendiri. Bukan tidak mungkin mereka akan mengerahkan militernya untuk mengancam Indonesia seperti masa penjajahan dulu. Meskipun skenario perang itu sangat jauh dari terjadinya karena zaman sekarang adalah zaman pertarungan diplomasi, politik, ekonomi, dan cyber, Indonesia harus tetap waspada dan bersiap untuk menghadapi kemungkinan terburuk soal ini. Kita harus bersiap-siap dan melakukan apa pun untuk mendapatkan hak kita. Jangan takut karena kita adalah keturunan pemenang perang.

Mudah-mudahan perang tidak terjadi, bahkan perang dalam sidang hukum internasional pun tidak perlu terjadi. Kita berharap bahwa Unieropa dapat bersikap seperti Amerika Serikat yang bersedia dan mampu bekerja sama dengan keinginan pemerintah Negara Indonesia.

Sampurasun.

Monday, 4 October 2021

Orang Jawa Jangan Terprovokasi Natalius Pigai

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Natalius Pigai eks komisioner Komnas Ham ini menjadi bahan perhatian banyak orang karena cuitannya di twitter yang dianggap rasis dalam @NataliusPigai2. Banyak sekali yang marah, menyayangkan, kesal, menyalahkan, bahkan melaporkannya kepada polisi karena dianggap rasis.

            Begini cuitan Si Pigai yang saya dapatkan dari detikcom tanpa saya kurangi atau tambahi, termasuk titik komanya, "Jgn percaya org Jawa Tengah Jokowi & Ganjar. Mrk merampok kekayaan kita, mereka bunuh rakyat papua, injak2 harga diri bangsa Papua dgn kata2 rendahan Rasis, monyet & sampah. Kami bukan rendahan. kita lawan ketidakadilan sampai titik darah penghabisan. Sy Penentang Ketidakadilan)."

            Coba pembaca baca sendiri dan renungkan kalimat itu, kemudian beri kesimpulan sendiri.

            Setelah diserang sana-sini, bahkan dilaporkan ke polisi, Pigai berkilah bahwa dia tidak rasis, tidak menghina suku Jawa, hanya mengatakan Provinsi Jawa Tengah. Dia hanya mengkritik Jokowi dan Ganjar.


Natalius Pigai (Foto: Suara.com)


            Lalu, buat apa dia mengatakan Jawa Tengah? Apa maksudnya?

            Padahal, kan bisa dia tulis “Jgn percaya Jokowi & Ganjar”. Selesai tidak akan ada tuduhan rasis.

            Lalu, kritikan apa yang dia buat? Dia sedang mengkritik apa dalam tulisan itu?

            Tidak ada kritikan di sana, kecuali kebencian dan provokasi.

            Dia bilang Jawa Tengah dan Jokowi dalam tulisannya adalah frasa, tidak ada koma, artinya tidak menghina suku Jawa. Gayanya seperti ahli bahasa, padahal tulisan dia sendiri berantakan: banyak kata yang dia singkat tidak sesuai aturan yang benar, huruf kapital yang sembarangan, dan tanda baca yang juga ngaco. Lihat saja sendiri.

            Belum lagi dia juga harus membuktikan bahwa Jokowi dan Ganjar telah merampok kekayaan Papua, membunuh rakyat Papua, dan menginjak-injak harga diri bangsa Papua. Dia harus membuktikan dengan jelas. Kalau tidak, dia sedang membuat fitnah, hoax, dan ujaran kebencian. Kalau tidak bisa membuktikan, dia telah memproduksi kedustaan.

            Dia membela diri bahwa dia sedang mengingatkan Ganjar agar jangan seperti Jokowi.

            Masa mengingatkan Ganjar Pranowo kalimatnya seperti itu?

            Yang benar aja. Yang jelas dalam kalimat itu, dia sedang memprovokasi orang untuk tidak percaya terhadap Ganjar.

            Memang lucu jika melihat kalimat itu. Ganjar Pranowo adalah Gubernur Jawa Tengah dan mengurus Provinsi Jawa Tengah.

            Kapan dia menyakiti rakyat Papua?

            Terus, siapa yang mengatakan rakyat Papua adalah monyet dan sampah?

            Dalam cuitan Pigai hanya ada tiga pihak, yaitu Jawa Tengah, Jokowi, Ganjar.

            Siapa dari ketiganya yang rasis itu? Apakah mereka semuanya? Harus Jelas.

            Perhatikan potongan cuitan dia.

“Mrk merampok kekayaan kita, mereka bunuh rakyat papua, injak2 harga diri bangsa Papua dgn kata2 rendahan Rasis, monyet & sampah”.

            Makin lucu ketika Pigai mengalihkan masalah dengan menyalahkan ada perempuan Papua yang memprovokasi tuduhan rasis kepada dirinya. Ah, pokoknya mah ngaco.

            Orang lain banyak yang marah, tetapi saya mah pengen tertawa, lucu soalnya. Saya melihatnya seperti ini. Pigai membuat cuitan itu  pada Sabtu, 2 Oktober 2021. Sebelum hari itu, Ganjar Pranowo datang ke Papua. Niatnya untuk memberikan semangat kepada para atlet Jawa Tengah yang bertanding di Papua dalam PON ke-20. Akan tetapi, baru sampai di Bandara Sentani saja, rakyat Papua sudah memburunya, mereka menyambutnya dengan tarian dan berlomba untuk berfoto bersama. Ganjar diajak menari tarian Papua, senang sekali mereka.

            Dalam videonya, terdengar ada orang Papua yang berteriak, “Itu calon presiden Indonesia!”

            Di samping itu, Ganjar disuguhi hidangan masakan Papua.

            Ganjar bilang, “Makanan Papua enak.”

            Nah, itulah yang saya kira membuat Natalius Pigai besoknya bikin cuitan seperti itu. Sepertinya dia iri, cembokur, cemburu terhadap Ganjar yang diperlakukan rakyat Papua dengan istimewa. Sementara itu, kita belum pernah melihat Pigai disambut seperti Ganjar, padahal dia orang Papua. Ganjar adalah orang Jawa Tengah. Soal Jokowi, sudah tidak perlu dibicarakan karena setiap Jokowi ke Papua, meriahnya luar biasa. Orang bisa histeris dan berdesakkan menghampiri Jokowi.

            Di Papua memang Ganjar Pranowo sudah dikenal sebagai calon presiden. Jadi, wajar dong kalau mereka berbaik-baik kepada Ganjar karena berharap mereka benar-benar bisa setara dengan saudara-saudaranya di seluruh Indonesia, bahkan mampu lebih baik jika Ganjar terpilih menjadi presiden pasca-Jokowi.

            Bagi saya, cuitan Natalius Pigai nilainya sama dengan “sampah” karena berbahaya, berpotensi memecah belah bangsa dan membangkitkan kebencian, terutama terhadap rakyat Papua. Negeri ini selalu bersusah payah untuk mewujudkan persatuan dan kesatuan, berupaya keluar dari beragam kesulitan, berharap semua sadar untuk bergotong royong, saling bahu untuk kebaikan bersama. Provokasi untuk menimbulkan kebencian sungguh berbahaya dan merugikan kita semua. Saya sendiri punya banyak murid asal Papua. Saya tidak pernah membedakan mereka dengan murid yang lain. Saya tidak peduli asal murid saya bersuku apa dan beragama apa. Saya hanya punya kewajiban untuk membuat mereka lebih baik pada masa depan dari mana pun mereka berasal.

            Saat ini rakyat Papua sedang bergembira, bersenang-senang dengan saudara-saudaranya dari suku-suku lain di seluruh Indonesia. Papua sedang menjadi pusat perayaan olah raga nasional, PON XX. Soal menang atau kalah dalam berolah raga bukan tujuan utama. Rakyat Papua sedang menikmati kegembiraan mereka dengan berbagai kemeriahan dan persaudaraan. Jangan ganggu dan jangan rusakkan persaudaraan sebangsa dan setanah air dengan provokasi yang didasarkan kebencian, kedustaan, ataupun ketakutan terhadap kekalahan dalam pemilihan politik, baik pemilihan presiden, gubernur, bupati, ataupun walikota.

            Begitu ya, Pigai!

            Orang Jawa Tengah jangan terprovokasi oleh cuitan Pigai, tenang saja. Sebagai wilayah yang melahirkan banyak pemimpin, harus lebih sabar dan bijaksana. Saya sendiri orang Sunda dan berusaha untuk belajar sabar dalam setiap keadaan. Rakyat Papua adalah saudara kita.

Biarkan Si Pigai yang dituding rasis itu mempertanggungjawabkan perilakunya di  depan hukum jika polisi memprosesnya. Kalaupun polisi tidak memprosesnya, dia akan jatuh sendiri karena kelakuannya seperti orang lain yang sudah pada jatuh itu.

            Sampurasun.

Friday, 8 May 2020

Terdampak Terdampar


oleh Tom Finaldin

Bandung, Putera Sang Surya
Terdampak akibat Covid-19 berarti terkena pengaruh negatif Covid-19. Biasanya, mereka yang disebut terdampak itu mengalami serangan kesehatan dan atau ekonomi. Kesehatannya memburuk, ekonominya melemah. Kalau terdampar, berarti terjebak di sebuah pulau, kehilangan arah, tidak maju dan tidak juga kembali. Terkait Covid-19, mereka yang terdampar adalah tidak bisa ke mana-mana di sebuah wilayah dan tidak juga bisa pulang.

            Begitu kira-kira.

            Mau diributin kata terdampak dan terdampar seperti ngeributin mudik dan pulang kampung?

            Terserah.

            Beberapa hari yang lalu, saya dengar ada mahasiswa saya di Fisip, Unfari, terdampar di Bandung. Mereka tidak bisa mudik ke kampungnya di Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Papua. Lumayan kaget juga mendengarnya. Kalau terdampar, jelas terdampak juga secara ekonomi. Langsung saja dalam pikiran saya saat itu pengen tahu jumlahnya ada berapa orang, kost di mana saja mereka, dari pulau mana saja mereka.

            Memang yang terdengar itu baru dari NTT dan Papua. Saya juga pengen tahu apakah yang dari Nias, Lampung, Bali, bahkan Thailand dan Timor Leste juga sama-sama terdampak dan terdampar?

            Mudah-mudahan tidak banyak yang terdampak dan terdampar itu. Mudah-mudahan yang lain baik-baik saja dan dapat mengatasi kesulitannya dengan baik.

            Untuk merespon berita tersebut, segera saja saya, selaku Ketua Program Studi Hubungan Internasional; Henike, selaku Sekretaris Prodi HI; Caesar selaku Ketua Program Studi Administrasi Negara; Iin, selaku Sekprodi AN; Dina, selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Al Ghifari, membentuk “Posko Fisip Peduli Covid-19”. Posko itu terutama diperuntukkan untuk membantu para mahasiswa Fisip Unfari yang terdampar itu. Jika mendapatkan respon yang baik dan dapat menangani berbagai kesulitan yang menimpa mahasiswa, posko ini akan diperluas untuk juga membantu mahasiswa dari fakultas lain, bahkan bekerja sama dengan universitas lain.

            Saya sendiri segera menghubungi salah seorang dosen yang juga dipercaya sebagai anggota gugus tugas penanganan Covid-19 di Jawa Barat ini. Setahu saya, mereka yang bukan warga Jabar pun mendapatkan jatah untuk dibantu dalam masa PSBB ini. Setelah dicek memang ada dana untuk itu, tetapi data yang masuk dengan menggunakan formulir data non-DTKS numpuknya bukan main di Pikobar. Perlu proses yang cukup memakan waktu. Meskipun demikian, teman saya itu akan berupaya untuk mendapatkan celah untuk membantu para mahasiswa yang juga anak-anak didiknya.

            Posko Fisip Peduli Covid-19, malah lebih efektif dan cepat karena menggunakan azas kemanusiaan, kekeluargaan, dan gotong royong, tidak memerlukan data yang terlalu rumit dan kadang bikin ribut itu. Posko itu mendapatkan dana dari para dosen Universitas Al-Ghifari, para alumni, dan siapa saja yang tertarik untuk memberikan bantuan. Siapa pun boleh membantu, tidak terbatas dan tidak terhalang oleh perbedaan ras, suku bangsa, adat, dan agama. Meskipun nama universitas menggunakan nama salah seorang Sahabat Nabi Muhammad saw, “Abudzar Al-Ghifari”, banyak mahasiswa nonmuslim yang belajar di Al-Ghifari dan tidak berbeda dengan mahasiswa muslim lainnya. Mereka semua “anak-anak kami”, keluarga kami.         

            Mari kita sama-sama bergandeng tangan, saling bantu, saling mengasihi, kita sama-sama manusia yang sedang dilanda kesulitan. Gotong royong dan saling mencintai adalah kekuatan besar yang dapat mempersatukan energi kita dalam menghadapi masa-masa sulit pandemi Covid-19 ini.





            Bagi yang mau menjadi mahasiswa Universitas Al-Ghifari, klik http://pmb.unfari.ac.id

            Sampurasun

Wednesday, 25 December 2019

Jangan Ikut Campur!


oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Ingat ketika Menteri Luar Negeri RI menghardik, “Jangan ikut campur!”

            Menlu RI Retno Marsudi menghardik beberapa negara di Kawasan Asia Pasifik yang mengampanyekan bahwa Indonesia melakukan pelanggaran hak azasi manusia di Wamena, Papua. Wamena adalah bagian dari Indonesia dan dikuasai penuh oleh Indonesia. Masalah Wamena adalah masalah Indonesia. Hak dan kewajiban Indonesia untuk mendisiplinkan warganya sendiri, memadamkan huru-hara, dan meningkatkan taraf hidup warganya. Negara lain tak boleh ikut campur. Meskipun di luar negeri beredar isu-isu pelanggaran Ham oleh Indonesia terhadap Wamena, pasukan TNI dan Polri pasti menghantam negara mana pun yang datang ke Wamena jika datang tanpa rasa hormat dengan tujuan merecoki di Wamena.

            Ketegasan Indonesia tentang wilayahnya itu membuat tak ada satu pun negara lain yang berani datang menantang secara militer. Hal itu disebabkan di samping harus menghormati kedaulatan Negara Indonesia, juga cost untuk bertikai dengan Indonesia sangatlah mahal.

            Akan tetapi, Indonesia pun membuka diri untuk siapa pun agar datang ke Wamena dan melihat secara langsung kondisi yang terjadi. Tak ada pelanggaran Ham yang dilakukan negara, tetapi hanya tindakan-tindakan kriminal yang dilakukan  para teroris untuk membuat ketakutan dan huru-hara di tengah masyarakat.

            Hal yang mirip pun terjadi di Xinjiang, Cina. Dalam etika internasional saat ini, tidak boleh ada satu negara pun yang ikut campur urusan dalam negeri suatu negara berdaulat. Setiap negara berhak dan wajib mengatur dan mengurus warganya sendiri. Kalau ikut campur, ketegangan meningkat, berbagai kerja sama bisa putus dan merugikan, bahkan bisa terjadi perang. Cina berkali-kali bersuara keras pada negara-negara Barat yang dianggap mendistorsi kenyataan yang terjadi dan sudah pasti siap mengamankan wilayahnya dari ikut campurnya negara lain. Hasilnya, hingga hari ini tak ada satu negara pun yang berani datang untuk bikin keributan, kecuali bikin isu-isu di luar Negara Cina.

            Meskipun demikian, Cina pun berkali-kali mempersilakan untuk siapa pun datang ke Xinjiang dan melihat sendiri kenyataan yang ada. Bagi Cina, tak ada penyiksaan dan pembantaian, tetapi pusat pendidikan vokasi untuk meredam aksi-aksi Uighur yang dianggap menganggu keamanan Negara Cina.

            Indonesia, baik pemerintah, masyarakat, maupun Ormas-Ormas yang melihat situasi lebih komprehensif, sudah bagus bersikap. Diplomasi lunak dijalankan dengan menegaskan bahwa soal mengatur warga Uighur adalah hak dan kewajiban Cina, Indonesia tidak akan ikut campur. Akan tetapi, untuk urusan ibadat, Cina didorong agar memberikan kebebasan seluas-luasnya kepada warga Uighur.

            Hanya itu yang bisa dan mungkin dilakukan Indonesia dalam menyikapi permasalahan Uighur saat ini. Tidak bisa melakukan intervensi apalagi mengerahkan kekuatan militer berhadapan dengan Cina. Negara-negara Barat saja tidak ada yang berani, masa Indonesia mau sok jago.

            Apa untungnya bagi rakyat Indonesia jika mengerahkan militer atau mengintervensi Cina soal Uighur?

            Tidak perlu ikut campur urusan negara lain saat ini. Kalaupun mau, gunakan “moral force” untuk mengingatkan jika memang terjadi pembatasan-pembatasan atas hak individu, terutama  dalam melaksanakan ibadat.

            Sampurasun.

Thursday, 19 September 2019

Menjaga Anak-Anak Papua

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Papua adalah bagian dari Indonesia. Itu sejarahnya. Negara yang disebut Indonesia adalah seluruh wilayah bekas jajahan Belanda. Papua adalah wilayah bekas jajahan Belanda. Berbeda dengan Timor Timur yang bekas jajahan Portugis. Wilayah ini diperjuangkan untuk tetap bersama Indonesia dalam keadaan setengah hati. Oleh sebab itu, Timor Timur dengan mudah melepaskan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) menjadi Timor Leste. Adapun Papua dipertahankan mati-matian karena memang salah satunya adalah memiliki sejarah yang sama dengan wilayah lain di Indonesia, bekas jajahan Belanda.

            Hal itu menandakan bahwa apa pun kondisinya rakyat Papua dengan rakyat wilayah Indonesia lainnya harus hidup bersama dalam suka dan duka, jatuh dan bangun, maju sejahtera bersama. Di sinilah letaknya kewajiban melaksanakan ajaran Prabu Siliwangi, yaitu silih asih, silih asah, silih asuh, ‘saling mengasihi, saling mencerdaskan, saling melindungi’.

            Terkait kejadian rasis dan memanasnya Papua beberapa waktu lalu, harus menjadi perhatian serius seluruh bangsa ini tanpa kecuali. Baik aparat, pendidik, dan masyarakat harus sama-sama menjaga persatuan dan kesatuan NKRI. Upaya itu tidak selalu harus dengan hard power, ‘kekerasan’, tetapi juga dengan soft power, ‘ajakan lembut dan pemahaman’. Salah satu upaya soft power yang dilakukan polisi dari Polsek Arcamanik, Bandung adalah contoh yang baik. Tadi siang mereka datang bersama TNI bersilaturahmi ke kampus Universitas Al Ghifari (Unfari), Jln. A.H. Nasution No. 247, Bandung. Mereka dengan ramah menyapa para mahasiswa, lalu menemui pejabat kampus, termasuk dosen. Kebetulan saya sedang ada jadwal mengajar di sana.





            Mereka datang menanyakan kondisi anak-anak Papua yang kuliah di Unfari. Mereka merasa kehilangan karena beberapa mahasiswa asal Papua yang biasanya akrab dengan mereka dan aktif di masyarakat hilang tiba-tiba sejak kejadian rasisme di Surabaya itu. Kami pun merasa kehilangan karena kejadian di Surabaya itu bertepatan dengan masa libur kuliah. Sejak saat itu banyak yang belum kembali ke kampus meskipun ada juga yang terus menyelesaikan tugas-tugas kuliahnya. Dalam diskusi itu, dicapai kata sepakat bahwa kewajiban kita adalah memberikan kesadaran dan dorongan kepada mereka agar membaur dengan masyarakat. Bahkan, kepolisian bersedia memberikan berbagai fasilitas jika mereka hobi futsal atau bermain musik. Adapun saya bersama dengan teman-teman dosen lainnya berkewajiban memberikan pemahaman dari sisi ilmu politik, ilmu pemerintahan, dan ilmu kebijakan publik karena kebetulan dosen yang hadir saat itu berasal dari Fakultas Ilmu sosial dan Ilmu Politik (Fisip) Unfari.

            Pihak kepolisian sudah mendeteksi keberadaan mereka. Upaya pendeteksian itu bukan untuk menakut-nakuti atau melakukan penangkapan, melainkan untuk pembinaan dan pembauran agar meminimalisasi sikap rasis dan  membangkitkan rasa persaudaraan dan persatuan.




            Selain hal itu, ada kesamaan pandangan lain antara saya dengan kepolisian, yaitu adanya dugaan pihak-pihak lain yang berupaya menebarkan provokasi kepada saudara-saudara Papua kita untuk memisahkan diri dari saudara-saudara Indonesia lainnya. Hal itu disebabkan saya tahu benar bahwa murid-murid saya itu tidak mungkin memiliki gagasan sendiri semacam itu jika tidak diprovokasi oleh aktor intelektual yang menginginkan adanya kericuhan. Murid-murid saya sebenarnya orang-orang baik dan memiliki kesempatan yang luas di Papua jika mau belajar dengan baik dan tidak mendapatkan provokasi negatif dari pihak lain yang bergerak secara sembunyi-sembunyi.

            Berkaitan dengan hal itu, saya sesungguhnya agak kurang puas jika harus hanya memberikan pemahaman kepada murid-murid saya karena hal itu sudah menjadi kewajiban saya tanpa harus ada diskusi dengan kepolisian pun. Saya akan senang jika berdiskusi bahkan berdebat hingga lelah dengan mereka yang suka memprovokasi situasi secara negatif. Biarkan terbuka berdebat soal politik di Papua terkait hal apa pun tentang keinginan merdeka dan pentingnya bergotong royong untuk maju bersama dalam NKRI. Biarkan orang lain yang menilai baik, buruk, logis, ataupun tidak logis. Biarkan ilmu, data, dan kaidah akademis yang bicara.

            Papua adalah kita. Kita adalah bersaudara.

            Sampurasun.

Thursday, 5 September 2019

Perbandingan Rasis di Indonesia dan Afrika Selatan


oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Soal rasisme memang hingga hari ini terus terjadi pada berbagai belahan dunia ini. Saya sendiri pernah jadi korban sikap rasis, beruntung Allah swt memberikan saya pengetahuan yang bisa membalikkan keadaan. Sedikit ceritera soal diri saya. Beberapa tahun lalu ketika ramai sekali ribut soal gerakan Isis yang bebarengan dengan pemilihan walikota London, Inggris, ditambah huru-hara Brexit, seorang ateis London bertanya kepada saya soal pakaian hijab bagi perempuan muslim Indonesia. Ngobrolnya sih pake bahasa Inggris, tetapi saya terjemahkan saja di sini.

            Saya menjawab pertanyaan dia dengan jawaban sangat sederhana, “Pakaian hijab itu untuk melindungi perempuan dari pandangan syahwat pria-pria yang berlebihan.”

            Si Ateis membantah, “Kalau begitu, kalian curang. Kalian menyiksa wanita seperti itu gara-gara para lelaki kalian sangat lemah, tidak bisa menahan hawa nafsunya.”

            Agak emosi juga sedikit saya atas bantahan Si Ateis, saya tantang saja sekalian dia, “Mau bukti? Kita berbicara data saja. Kamu bawa data kasus perkosaan dan pelecehan seksual di Kota London. Aku bawa data kasus perkosaan dan pelecehan seksual dari Poltabes Bandung. Kita lihat mana kota yang lebih banyak kasus perkosaan dan pelecehan seksual itu. Kalau kasusnya lebih banyak di Bandung, kamu benar. Kalau kasusnya lebih banyak di London, aku yang benar.”

            Si Ateis tidak berani berbicara data. Malahan, dia menjawab dengan kalimat yang rasis dan merendahkan saya.

            Dia bilang, “Kamu tidak pantas berbicara denganku. Kamu hanya manusia yang berasal dari dunia ketiga. Kamu tidak selevel denganku.”

            Saya jawab saja, “Kalian memang rasis! Kalau aku tidak pantas berbicara dengan kamu, kenapa kamu bertanya kepadaku? Kamu yang memulai perdebatan, tetapi kamu tidak berani berbicara data. Kamu hanya bersembunyi dalam kalimat rasis kampungan.”

            Perdebatan pun berhenti sampai di situ. Dia tidak berbicara apa-apa lagi. Tampaknya, dia takut berbicara data yang bisa diukur dengan angka yang jelas.

            Sengaja saya ceriterakan hal itu untuk menunjukkan bahwa sikap rasis masih ada di dunia ini. Kita harus melawannya.

            Di Indonesia sikap rasis yang terjadi baru-baru ini yang membawa demonstrasi di Papua dan Papua Barat bisa dikategorikan ringan, yaitu hanya berupa kata-kata kotor, tidak terdidik, tidak sopan, dan tidak beretika. Meskipun ringan, tetap saja itu rasisme yang tidak perlu terjadi.

            Berbeda dengan yang terjadi di Afrika Selatan. Rasisme di Afrika Selatan sangat mengerikan dengan adanya “politik apartheid”, yaitu pemisahan ras antara kulit putih dengan kulit hitam. Dengan politik seperti itu, orang kulit hitam dilarang memiliki tanah atau rumah di luar wilayah yang telah ditentukan, kepemilikan mereka dibatasi; tempat tinggal warga kulit putih dan kulit hitam dipisahkan, tidak boleh berbaur; orang kulit hitam harus didaftar dengan ketat sesuai sukunya masing-masing. Di samping itu, masih ada perbedaan perlakuan berdasarkan klasifikasi bangsa, misalnya, Eropa, Afrika, Melayu, dan Asia. Hal itu jelas membuat ketidakadilan dalam hal sosial dan ekonomi. Warga kulit hitam benar-benar termarjinalisasi dan tersubordinasi.

            Meskipun demikian, warga kulit hitam tidak menyerah. Mereka melawan di dalam negeri maupun di luar negeri. Pemimpin mereka, Nelson Mandela, ditangkap dan dipenjara selama 31 tahun. Akan tetapi, karena perjuangan mereka tidak berhenti, mereka pun berhasil mengubah situasi dan kondisi. Segala peraturan yang diskrimanatif dihapuskan. Hal itu membuat keadaan jauh lebih baik dan menekan seminimal mungkin sikap rasis. Nelson Mandela pun berhasil menjadi presiden.

            Belajar dari hal itu warga Papua harus mampu menunjukkan prestasi, kreasi, dan potensi diri bahwa dirinya bukan kelas rendahan, melainkan memiliki hak dan kesempatan yang sama dengan warga Negara Indonesia lainnya. Bahkan, harus memiliki semangat untuk dapat berprestasi melebihi warga lainnya sehingga terjadi persaingan yang sehat di antara sesama warga bangsa untuk kemajuan Indonesia bersama. Di samping itu, seluruh warga Negara Indonesia dari ribuan pulau, ribuan suku, ribuan bahasa, dan ratusan agama ini harus tetap berpegang pada “Bhineka Tunggal Ika”, ‘berbeda-beda, tetapi satu jua’. Kita memang berbeda, tetapi satu dalam satu tujuan, yaitu “mewujudkan manusia Indonesia seutuhnya yang makmur lahir dan makmur batin berdasarkan Pancasila”.

            Sampurasun.