Showing posts with label Prabu Siliwangi. Show all posts
Showing posts with label Prabu Siliwangi. Show all posts

Wednesday, 22 January 2020

Mengaku Keturunan Raja


oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Sebetulnya, dari dulu hingga hari ini banyak orang yang mengaku keturunan raja, ratu, atau sultan  dari sebuah kerajaan tertentu. Mereka biasanya menunjukkan barang, sertifikat, atau pusaka untuk memperkuat pengakuan mereka. Di samping itu, tentu saja memiliki ribuan kisah tentang leluhurnya yang diklaim sebagai sejarah dan kebenaran. Kita memang sering salah bersikap terhadap mereka karena tidak memiliki pengetahuan yang lengkap tentang mereka. Mau percaya, takut bohong. Kalau tidak percaya, ternyata memang benar.

            Untuk membuktikan kebenarannya, dari dulu hingga sekarang susahnya bukan main. Ketika masih zaman kolonial Belanda saja, untuk menjelaskan Prabu Siliwangi dan keturunannya, sangat sulit. Tak kurang dari Pangeran Wangsakerta yang berasal dari Kesultanan Cirebon pernah menelusurinya.  Hasilnya, tetap tidak jelas. Hingga kini masyarakat tetap terbagi tiga golongan dalam memandang Prabu Siliwangi. Pertama, golongan yang menganggap bahwa Prabu Siliwangi adalah tokoh nyata dan memang pernah hidup dalam mengayomi manusia. Kedua, golongan yang menganggap bahwa Prabu Siliwangi adalah tokoh sastra hasil karya para juru pantun atau juru dongeng. Ketiga, golongan yang memandang Prabu Siliwangi adalah tokoh mitos, dianggap ada, padahal tidak pernah ada. Saya sendiri berpendapat bahwa Prabu Siliwangi adalah tokoh nyata dan pernah hidup memberikan banyak ajaran serta mengelola kerajaan dengan sangat baik, nyaris tanpa cela.

            Dari penelurusan Pangeran Wangsakerta, ada kenyataan yang sangat menarik bahwa banyak orang yang mengaku dirinya keturunan Prabu Siliwangi hanyalah untuk mendapatkan keuntungan duniawi. Mereka hanya ingin dihormati dan dipatuhi rakyat serta diberi berbagai fasilitas oleh Belanda yang saat itu berkuasa.

            Saat ini pun untuk menelusuri kebenaran mereka yang mengaku-aku keturunan para raja, cukup sulit. Bahkan, banyak yang ternyata dusta, bohong. Hal ini pernah ditelusuri oleh Prof. Dr. Nina Lubis, Guru Besar Universitas Padjadjaran, perempuan pertama Indonesia yang mendapat gelar profesor untuk bidang ilmu sejarah. Nina Lubis pula yang bersedia menolong saya untuk menjadi pembicara dalam launching buku yang saya susun, “Gubernur Jawa Barat dari Masa ke Masa” di Hotel Horizon, Bandung.


Bersama Prof. Dr. Nina Lubis saat acara silaturahmi raja-raja se-Nusantara di Gedung Merdeka, Bandung

            Menurut Nina Lubis, ketika melakukan penelusuran, ternyata banyak yang hanya mengaku-aku. Dalam kenyataannya, mereka bukan keturunan raja, melainkan anak-anak dari pegawai demang, pegawai kelurahan, pembantu istana, dan lain sebagainya. Mereka hanya membawa satu atau dua pusaka yang diklaim sebagai peninggalan kerajaan. Motivasi mereka mengaku-aku sebagai keturunan kerajaan tertentu itu beragam, bisa ingn dihormati, ingin mendapatkan kekuasaan, atau ingin fasilitas lebih dibandingkan orang lain.


            Pada masa sekarang ini ketika para raja sudah tidak lagi memiliki kekuatan politik—kecuali di Yogyakarta—sebaiknya bersama masyarakat untuk sering berdiskusi dan memberikan masukan, baik pada masyarakat maupun pada pemerintah agar tetap menjaga jati diri sebagai bangsa Indonesia sesuai dengan nilai-nilai Indonesia serta bersama-sama berbuat agar negara berjalan pada jalurnya yang benar. Soal kedudukan politik, baik keturunan raja maupun rakyat biasa, memiliki kesempatan yang sama untuk mendapatkannya. Dalam sistem demokrasi ini, baik keturunan raja maupun rakyat biasa, bisa memiliki kedudukan dan kekuasaan politik, asal mendapatkan kepercayaan dari masyarakat melalui proses pemilihan umum (Pemilu).

            Sampurasun.

Thursday, 19 September 2019

Menjaga Anak-Anak Papua

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Papua adalah bagian dari Indonesia. Itu sejarahnya. Negara yang disebut Indonesia adalah seluruh wilayah bekas jajahan Belanda. Papua adalah wilayah bekas jajahan Belanda. Berbeda dengan Timor Timur yang bekas jajahan Portugis. Wilayah ini diperjuangkan untuk tetap bersama Indonesia dalam keadaan setengah hati. Oleh sebab itu, Timor Timur dengan mudah melepaskan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) menjadi Timor Leste. Adapun Papua dipertahankan mati-matian karena memang salah satunya adalah memiliki sejarah yang sama dengan wilayah lain di Indonesia, bekas jajahan Belanda.

            Hal itu menandakan bahwa apa pun kondisinya rakyat Papua dengan rakyat wilayah Indonesia lainnya harus hidup bersama dalam suka dan duka, jatuh dan bangun, maju sejahtera bersama. Di sinilah letaknya kewajiban melaksanakan ajaran Prabu Siliwangi, yaitu silih asih, silih asah, silih asuh, ‘saling mengasihi, saling mencerdaskan, saling melindungi’.

            Terkait kejadian rasis dan memanasnya Papua beberapa waktu lalu, harus menjadi perhatian serius seluruh bangsa ini tanpa kecuali. Baik aparat, pendidik, dan masyarakat harus sama-sama menjaga persatuan dan kesatuan NKRI. Upaya itu tidak selalu harus dengan hard power, ‘kekerasan’, tetapi juga dengan soft power, ‘ajakan lembut dan pemahaman’. Salah satu upaya soft power yang dilakukan polisi dari Polsek Arcamanik, Bandung adalah contoh yang baik. Tadi siang mereka datang bersama TNI bersilaturahmi ke kampus Universitas Al Ghifari (Unfari), Jln. A.H. Nasution No. 247, Bandung. Mereka dengan ramah menyapa para mahasiswa, lalu menemui pejabat kampus, termasuk dosen. Kebetulan saya sedang ada jadwal mengajar di sana.





            Mereka datang menanyakan kondisi anak-anak Papua yang kuliah di Unfari. Mereka merasa kehilangan karena beberapa mahasiswa asal Papua yang biasanya akrab dengan mereka dan aktif di masyarakat hilang tiba-tiba sejak kejadian rasisme di Surabaya itu. Kami pun merasa kehilangan karena kejadian di Surabaya itu bertepatan dengan masa libur kuliah. Sejak saat itu banyak yang belum kembali ke kampus meskipun ada juga yang terus menyelesaikan tugas-tugas kuliahnya. Dalam diskusi itu, dicapai kata sepakat bahwa kewajiban kita adalah memberikan kesadaran dan dorongan kepada mereka agar membaur dengan masyarakat. Bahkan, kepolisian bersedia memberikan berbagai fasilitas jika mereka hobi futsal atau bermain musik. Adapun saya bersama dengan teman-teman dosen lainnya berkewajiban memberikan pemahaman dari sisi ilmu politik, ilmu pemerintahan, dan ilmu kebijakan publik karena kebetulan dosen yang hadir saat itu berasal dari Fakultas Ilmu sosial dan Ilmu Politik (Fisip) Unfari.

            Pihak kepolisian sudah mendeteksi keberadaan mereka. Upaya pendeteksian itu bukan untuk menakut-nakuti atau melakukan penangkapan, melainkan untuk pembinaan dan pembauran agar meminimalisasi sikap rasis dan  membangkitkan rasa persaudaraan dan persatuan.




            Selain hal itu, ada kesamaan pandangan lain antara saya dengan kepolisian, yaitu adanya dugaan pihak-pihak lain yang berupaya menebarkan provokasi kepada saudara-saudara Papua kita untuk memisahkan diri dari saudara-saudara Indonesia lainnya. Hal itu disebabkan saya tahu benar bahwa murid-murid saya itu tidak mungkin memiliki gagasan sendiri semacam itu jika tidak diprovokasi oleh aktor intelektual yang menginginkan adanya kericuhan. Murid-murid saya sebenarnya orang-orang baik dan memiliki kesempatan yang luas di Papua jika mau belajar dengan baik dan tidak mendapatkan provokasi negatif dari pihak lain yang bergerak secara sembunyi-sembunyi.

            Berkaitan dengan hal itu, saya sesungguhnya agak kurang puas jika harus hanya memberikan pemahaman kepada murid-murid saya karena hal itu sudah menjadi kewajiban saya tanpa harus ada diskusi dengan kepolisian pun. Saya akan senang jika berdiskusi bahkan berdebat hingga lelah dengan mereka yang suka memprovokasi situasi secara negatif. Biarkan terbuka berdebat soal politik di Papua terkait hal apa pun tentang keinginan merdeka dan pentingnya bergotong royong untuk maju bersama dalam NKRI. Biarkan orang lain yang menilai baik, buruk, logis, ataupun tidak logis. Biarkan ilmu, data, dan kaidah akademis yang bicara.

            Papua adalah kita. Kita adalah bersaudara.

            Sampurasun.

Friday, 28 July 2017

Al Quran Selalu Benar

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Islam bukanlah agama yang dipenuhi dogma atau doktrin. Islam adalah agama yang segalanya harus masuk akal, bisa dipahami dengan logika, dan diuji kebenarannya. Salah besar jika ada orang yang mengatakan dalam ajaran Islam ada dogma dan doktrin. Hal itu disebabkan yang namanya dogma dan doktrin itu selalu melahirkan pendapat dan pemahaman yang tidak boleh dipertanyakan kebenarannya, tidak boleh diuji benar atau salahnya, dan harus diterima sebagai kebenaran mutlak. Salah atau buruk pun harus diyakini sebagai kebenaran. Itulah sifat dari dogma dan doktrin. Akan tetapi, tidak dengan Islam. Islam adalah ilmu pengetahuan yang dipenuhi oleh kebenaran yang menantang untuk diuji. Semua orang boleh tidak percaya Islam maupun Al Quran asal mampu menerangkan dengan benar dan ilmiah kesalahan-kesalahan Al Quran.

            Sungguh, sampai hari ini tidak ada yang memiliki kemampuan menjelaskan kelemahan dan kesalahan Al Quran. Tantangan Allah swt kepada seluruh manusia cerdas tetap berlaku sampai hari ini dan sampai hari ini pula tidak pernah ada yang mampu menjawab tantangan-Nya.

            Kata Allah swt, “Tidakkah mereka menghayati (mendalami) Al Quran? Sekiranya Al Quran itu bukan dari Allah, pastilah mereka menemukan banyak hal yang bertentangan di dalamnya.” (QS An Nisa 4 : 82)

            Dalam ayat di atas Allah swt menandaskan bahwa Al Quran adalah berasal dari Allah swt, bukan dari manusia, termasuk bukan dari Muhammad. Hal itu disebabkan manusia sering melakukan kesalahan dan kerap bertentangan pendapatnya antara hari ini dengan hari kemarin, bahkan hari besok. Al Quran tidak demikian. Al Quran tetap lurus dan benar tanpa ada pertentangan di dalamnya, baik sejak masa lalu, masa kini, maupun masa depan. Apabila ada yang meragukan isinya yang selalu benar dan lurus tanpa ada pertentangan, cari saja sampai ketemu ayat mana yang bertentangan dengan ayat lainnya di dalam Al Quran yang sama itu. Kalau ada yang menemukan pertentangan itu, beri tahu saya. Saya akan beritahu bahwa yang bertentangan itu bukan Al Quran, tetapi pikiran pendek manusialah yang selalu bertentangan di dalam dirinya sendiri akibat dari hawa nafsu untuk membuktikan bahwa Al Quran salah meskipun pendapatnya lemah, bodoh, dan sering tampak lucu.

            Silakan beritahu saya ayat-ayat yang bertentangan itu. Hasilnya, saya sering menertawakan pendapat yang dipaksa-paksakan itu.

            Al Quran selalu benar dan pasti benar adalah disebabkan berasal dari Zat Yang Lurus, Zat Yang Jujur, dan Zat Yang Pasti Benar. Zat itu adalah Allah swt.

            Hal ini sebagaimana yang dikatakan Allah swt kepada Nabi Prabu Siliwangi Alaihissalam. Saat itu Allah swt memperkenalkan diri-Nya kepada Prabu Siliwangi dengan nama Sang Hyang Jatiniskala yang berarti Tuhan Yang Tidak Dapat Dibayangkan. Dalam naskah Jatiraga dituliskan bahwa Sang Hyang Jatiniskala benar-benar bersifat niskala, tidak dapat terbayangkan, tidak dapat dikonkritkan.

            “Sebab Aku adalah asli dan dari keaslian. Tidak perlu diubah dalam bentuk benda alam yang tidak asli dan tidak jujur sebab Aku adalah jujurnya dari kejujuran.”

            Pernyataan diri “Aku” tersebut jelas menegaskan bahwa Allah swt adalah sumber dari “keaslian”, berbeda dari makhluk-Nya yang sering tidak jujur, Allah swt adalah sumber utama dari seluruh “kejujuran”.

            Al Quran berasal dari Zat Yang Tidak Terbayangkan, Zat Sumber Keaslian, dan Zat Utama Sumber Kejujuran. Oleh sebab itu, tak ada pertentangan dalam ayat-ayat Al Quran karena seluruh isinya “asli, lurus, dan jujur”.


            Sampurasun.

Saturday, 22 April 2017

Semrawutnya Kisah Sang Prabu

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Kisah Prabu Siliwangi as dari dulu kerap semrawut. Akan tetapi, kesemrawutan itu bisa diurai dengan baik jika kita mengikutsertakan eksistensi Benua Sundaland ke dalam kronologis kehidupan Indonesia. Ada sinar terang dalam kegelapan untuk lebih memahami Prabu Siliwangi as.

            Menurut para ahli, baik sejarah maupun sastra, berdasarkan data-data masa lalu, Prabu Siliwangi disebut-sebut beragama Hindu atau Budha Tantra. Prabu Siliwangi pun disebut-sebut sebagai sumber primer sebagai awal atau leluhur seluruh raja Sunda. Prabu Siliwangi pun disebutkan sebagai leluhur raja-raja Islam, baik Sunda maupun Jawa, yang memerintah sampai akhir abad ke-15—ke-19 (Hasan Muarif Ambary, 1985 : 6 dalam Partini Sardjono, 1991).

            Semrawut sekali jika Prabu Siliwangi disebut Hindu atau Budha Tantra. Apalagi jika Prabu Siliwangi dikatakan telah sukses mencapai tingkat tertinggi dalam agama Hindu menjadi Dewa mirip Dewa Wisnu, kemudian belajar lagi “ilmu kelepasan” menuju wairocana dalam agama Budha. Sudah sukses menjadi Hindu, lalu meneruskan menjadi Budha.

            Mirip kuliah. Beres S1, lalu S2.

            Memangnya Prabu Siiwangi mengejar tunjangan sertifikasi?

            Hal yang lebih membingungkan adalah para ahli mengatakan bahwa Prabu Siliwangi beragama Hindu dan Budha Tantra, tetapi konsep ketuhanannya disebutkan “berada di atas konsep ketuhanan Hindu dan Budha”.

            Bagaimana mungkin Prabu Siliwangi beragama Hindu atau Budha, tetapi konsep ketuhanannya berbeda dengan Hindu dan Budha, bahkan berada di atas kedua agama itu?

            Di samping itu, indah sekali jika memang benar Prabu Siliwangi beragama Hindu atau Budha, tetapi anak-cucunya menjadi raja-raja Islam dan penyebar-penyebar Islam yang sangat masyhur di Indonesia. Dalam kenyataannya, di India sendiri hingga hari ini sering sekali terjadi konflik atas dasar agama antara Hindu, Budha, dan Islam. Bahkan, di Myanmar pemimpin Budha yang sangat berpengaruh melakukan provokasi terhadap umat Islam sehingga penguasa militer Myanmar melakukan banyak kekejian, penganiayaan, pembunuhan, dan pengusiran terhadap kaum muslimin Rohingya. India, Kashmir, Pakistan, Myanmar tampaknya harus ke Indonesia dan mempelajari kronologis Kerajaan Sunda agar bisa tenang dalam perbedaan agama seperti Prabu Siliwangi yang tenang-tenang saja memiliki anak-cucu menjadi raja-raja Islam dan para penyebar Islam berpengaruh. Itu juga kalau benar kisah Prabu Siliwangi seperti itu. Akan tetapi, pasti tidak benar.

            Hal yang paling mudah dipahami adalah Prabu Siliwangi itu adalah nabi kepercayaan Allah swt untuk mengajarkan ajaran Islam pra-Muhammad saw. Ajarannya itu adalah Sunda Wiwitan. Kemudian disempurnakan oleh ajaran Islam. Hal itu bisa dilihat dari berbagai konsep ketuhanan dan budi pekerti yang diajarkan dalam Sunda Wiwitan. Seluruhnya merupakan dasar-dasar ajaran Islam pra-Muhammad saw yang kemudian disempurnakan oleh Islam Muhammad saw.


            Sampurasun.

Wednesday, 19 April 2017

Emas Negeri Saba Ditemukan

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Negeri Saba itu dulunya negeri yang indah, nyaman, makmur, dan kaya raya. Pada masa Indonesia masih berbentuk Benua Sundaland, negeri Saba kekayaannya luar biasa. Di dalam Al Quran banyak dikemukakan kemegahan negeri Saba, baik itu diceriterakan kondisi negerinya secara langsung maupun disiratkan dari sikap-sikap Ratu Balqis/Ratu Boko kepada Nabi Sulaeman as.

            Bagi mereka yang masih percaya bahwa negeri Saba ada di Timur Tengah, boleh saja. Cari saja tempat bernama Saba yang ciri-cirinya sesuai yang diterangkan Allah swt dalam Al Quran. Kalian tidak akan menemukannya. Mereka yang masih bertahan dengan pendapat lama bahwa Saba ada di Timur Tengah adalah mereka yang pikirannya masih Arab Centris, yaitu menganggap bahwa Islam berasal dari Arab yang akibatnya mendorong anggapan bahwa isi Al Quran selalu memaparkan segala hal yang berbau Arab dan Timur Tengah. Padahal, Islam itu ada di seluruh pelosok dunia, termasuk di tempat-tempat terpencil dan terisolasi sekalipun. Di sana ada bahasa, di sana ada Islam. Di sana ada kaum, di sana ada Islam. Hal itu disebabkan Allah swt selalu mengirimkan para rasul-Nya ke setiap umat dengan menggunakan bahasa umat itu masing-masing. Tidak ada satu umat pun yang tidak dihadirkan Rasul di antara mereka.

            Hal ini sama dengan pohon Tin. Dicari-cari di seluruh penjuru Arab dan Timur Tengah pun tidak pernah ditemukan yang namanya pohon Tin. Akibatnya, ada seorang ahli tafsir Timur Tengah yang berpendapat bahwa pohon Tin itu adalah pohon Bodi tempat Budha Sidharta Gautama bersemedi. Sesungguhnya, pohon Tin itu secara tak sengaja saya temukan di Majalengka, Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Masyarakat di sana seluruhnya mengatakan pohon itu adalah pohon Tin dan meyakinkan saya bahwa pohon itulah yang digunakan bersumpah oleh Allah swt. Pohonnya rindang dan tidak tinggi sehingga kita tidak perlu memanjat pohon itu untuk memetik buahnya maupun daunnya.

            Stop berpikir Arab sentris, Islam itu ada di mana-mana dan dari mana-mana.

            Kembali ke soal negeri Saba. Negeri Saba itu ada di Indonesia. Ciri-ciri lokasinya tepat seperti yang diinformasikan Allah swt di dalam Al Quran. K.H. Fahmi Basya sudah menerangkannya dengan baik, pelajari saja tentang negeri Saba dari tulisan hasil penelitiannya.

            Kekayaan negeri Saba itu luar biasa, apalagi setelah Ratu Balqis berkenalan semakin dekat dengan Nabi Sulaeman as yang berasal dari Sleman itu, negeri Saba menjadi semakin kaya raya luar biasa. Kita tahu bahwa Sulaeman as itu adalah nabi yang paling kaya dan pemimpin dunia yang paling luas wilayah kekuasaannya.Tidak akan lagi ada orang yang memiliki kekuasaan seluas Nabi Sulaeman as. Hal itu disebabkan Nabi Sulaeman as pernah berdoa kepada Allah swt untuk diberikan kekuasaan yang tidak ada satu orang pun lagi yang seberkuasa dia di muka Bumi ini. Oleh sebab itu, Nabi Muhammad saw pun sampai harus membatasi dirinya untuk menghormati Nabi Sulaeman as yang membangun Candi Borobudur itu. Ketika Nabi Muhammad saw diajak berkelahi oleh Iblis Laknatullah, terjadilah pergumulan sengit sampai-sampai lidah Iblis yang sempat menjilat Nabi Muhammad saw masih terasa terus di tangan Nabi Muhammad saw dalam waktu yang sangat lama. Ketika Iblis kalah berkelahi, Nabi Muhammad saw tadinya akan mengikat Iblis itu di pohon korma untuk dijadikan mainan anak-anak sehingga anak-anak kecil bisa melempari Iblis itu dengan batu. Akan tetapi, Nabi Muhammad saw teringat saudaranya, Sulaeman as, dan dia tidak ingin menyaingi Sulaeman as yang mampu menguasai jin-jin sakti.

            Kata Muhammad saw, “Seandainya aku tidak ingat saudaraku, Sulaeman, aku ikat Iblis di pohon korma agar dijadikan mainan anak-anak.”

            Akhirnya, Iblis dilepaskan lagi oleh Nabi Muhammad saw.

            Kekayaan dan kekuasaan Sulaeman as yang luar biasa itu tentu saja menambah kekayaan negeri Saba milik Ratu Balqis. Padahal, sebelum kenal dengan Nabi Sulaeman as pun sesungguhnya negeri Saba sudah sangat kaya raya. Ketika Sulaeman as meminta Balqis beriman kepada Allah swt, Balqis menguji Sulaeman as dengan memberikan upeti berupa perhiasan emas, permata, mutiara yang dibawa dengan menggunakan tempayan yang sangat banyak. Akan tetapi, Sulaeman as menolaknya, yakinlah Balqis bahwa Sulaeman as adalah nabi dan bukan raja yang suka menaklukan atau menguasai orang lain dengan semena-mena.

            Sayang sekali Saudara-saudara, pada generasi-generasi berikutnya penduduk Saba dan mayoritas penduduk Benua Sundaland sepeninggal para nabi yang diutus ke sana melakukan banyak dosa, lupa kepada Allah swt, terlalu banyak memikirkan duniawi, terlalu banyak kecewa akibat materi, akhirnya kafir dan mengikuti Iblis sampai-sampai menyembah berhala, matahari, gunung, bulan, dan lain sebagainya.

            Akibatnya, Benua Sundaland yang negeri Saba ada di dalamnya itu hancur lebur dikubur dalam tanah akibat banjir besar, gempa tektonik, dan gempa vulkanik yang terjadi bersamaan. Hancurlah kemegahan Benua Sundaland, hilang, dan berubah menjadi kepulauan bernama Indonesia seperti sekarang ini. Meskipun demikian, jejak-jejak kemegahan itu masih ada sampai hari ini. Terlalu banyak bangunan megah dan luar biasa yang masih terkubur di Indonesia. Bangunan-bangunan itu terkadang muncul sendiri secara tiba-tiba dan atau ditemukan oleh penduduk secara tak sengaja, bahkan terkadang berada di halaman rumah penduduk. Hal semacam ini biasa terjadi di Indonesia sehari-hari.

            Di mana perhiasan dan harta negeri Saba yang megah itu?

            Sebagian masih berada terkubur dalam tanah; sebagian hilang dijarah penduduk, dicuri oleh peneliti, atau dirampas para penjajah, lalu dijual di pasar gelap; hanya satu dua yang masih terselamatkan dan bisa dibeli oleh pemerintah, lalu disimpan di museum.

            Hal ini sebagaimana yang diakui oleh Edi Sedyawati dalam artikelnya berjudul Catatan Kecil: Arca “Prabu Silihwangi” dari Talaga (1991). Edi menjelaskan bahwa di daerah Gemuruh, Wanasaba (Wana = hutan, Saba = negeri Saba) yang kita kenal sekarang dengan sebutan Wonosobo, ditemukan banyak arca dalam bentuk lempengan emas. Arca lempengan emas ini satu dua yang terselamatkan masih bisa dilihat di Museum Nasional, Jakarta, Nomor Inventaris 486b dan 517d.

            Adapun arca-arca dan benda pusaka lainnya yang berada di tanah Sunda, tepatnya dari Talaga, dekat Majalengka, daerah Cirebon, sesungguhnya masih aman tersimpan di tempatnya semula sampai 1915. Sesudah itu, “hilang” tak tertelusuri lagi dalam arena jual-beli, kecuali dua arca yang berhasil dibeli untuk museum (Van Naerssen, 1940 : 159) yang sekarang bernama Museum Nasional, Jakarta.

            Masih banyak harta karun peninggalan kemegahan Benua Sundaland, Ratu Balqis, negeri Saba, Istana Sulaeman as, dan seluruh kerajaan megah di Indonesia ini yang terpendam dalam tanah, terkubur akibat kemurkaan Allah swt. Cari hingga ketemu. Siapa cepat, dia dapat. Pemerintah harus lebih cepat karena kekayaannya luar biasa besar. Orang-orang di seluruh dunia selalu membicarakannya dengan kisah The Lost World Atlantis.

            Jadi, bagaimana nasibnya dengan orang-orang Israel yang selalu mengorek-ngorek tanah mencari-cari The Solomon Temple, ‘Istana Sulaeman’, di lokasi Masjid Al Aqsha di Palestina itu?

            Hahaha … mereka tertipu … hahaha …. Kasiman … eh kasihan.

            Istana Sulaeman ada di sini, di Indonesia, dan aman. Setiap jiwa rakyat Indonesia yang jumlahnya 250 juta, apa pun agamanya, akan menjaganya hingga titik darah penghabisan.

            Sebaiknya, beri tahu itu orang-orang Yahudi supaya berhenti mengorek-ngorek tanah, menggali-gali tanah kayak anak kecil main tanah, kasihan mereka.

            Kalau ingin mendapatkan Istana Sulaeman, saya kasih tahu caranya. Berhentilah menjajah Palestina. Kalau berhenti menjajah Palestina, kemungkinan besar Israel bisa membuka hubungan diplomatik dengan Indonesia. Kalau hubungan diplomatik sudah terjadi dengan Indonesia, bisa dilakukan kerja sama penelitian penggalian secara sah, legal, tanpa pertikaian, tanpa perang, dan tanpa pertumpahan darah. Kerja sama ini bisa menguntungkan Indonesia, Islam, Israel, dan Yahudi.

            Saat ini kan tidak bisa bekerja sama dengan Indonesia karena Israel masih menjajah Palestina. Kalau pemerintah Indonesia membuka hubungan diplomatik dengan Israel pada saat Israel masih menjajah Palestina, artinya pemerintah Indonesia sudah mengkhianati Pembukaan UUD 1945 yang menyatakan bahwa penjajahan di atas muka Bumi harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan. Hal itu akan membuat kehancuran bagi pemerintah Indonesia. Haram hukumnya bagi Indonesia bersahabat dengan penjajah. Selama Israel masih menjajah Palestina, selama itu pula tidak akan terjadi hubungan diplomatik dengan Indonesia. Hal yang sangat penting bagi Israel dan Yahudi adalah selama itu pula tidak akan menemukan Istana Sulaeman.

            Hahahaha ….


            Sampurasun.

Tuesday, 18 April 2017

Kejujuran Nabi Prabu Siliwangi

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Prabu Siliwangi adalah sosok yang tak pernah dilupakan masyarakat Sunda, bahkan rakyat Indonesia hingga membuat penasaran peneliti di seluruh dunia. Pribadi ini begitu agung dan selalu terintegrasi pada diri setiap urang Sunda. Ajarannya digunakan sebagai spirit moral seluruh bangsa Indonesia, yaitu silih asih, silih asuh, silih asah, ‘saling mengasihi, saling menjaga, saling mencerdaskan’.

            Beberapa keunggulan Prabu Siliwangi dicatat dalam naskah Cariosan Prabu Silihwangi. Beberapa keunggulan itu dikutip oleh Dr. Partini Sardjono Pr., S.S. saat pengukuhan penerimaan jabatan Guru Besar dalam Ilmu Sastra pada Fakultas Sastra, Universitas Padjadjaran, Bandung dalam pidatonya yang berjudul Peranan Sastra Nusantara Kuna dalam Alam Pembangunan Nasional (5 Juli 1986).

            Secara fisik wajah Prabu Siliwangi sangat tampan.

            Sungguh sangat tampan, pahlawan dunia yang memesona. Siliwangi bagaikan emas permata yang memenuhi bangsal.

            Siliwangi adalah pribadi yang patuh pada perintah dan mudah memohon maaf jika melakukan kesalahan.

            Patuh pada kata-kata petunjuk yang mengarahkan pada kebenaran.

            Tak ayal hamba menerima besarnya kemarahan apabila khilaf. Kami sangat Kanda, mohon maaf, tidak akan berbuat lagi.

            Siliwangi adalah orang yang manis kata sehingga enak didengar orang lain.

            Bersikap dan bertutur menarik. Manusia yang berbudi luhur. Yang mendengar kebijaksanaan Siliwangi, semua bersedia, tidak segan.

            Jika bertanding dalam pertarungan, Siliwangi tidak pernah mundur atau lari dari pertarungan. Ia lebih baik kalah daripada harus kabur.

            Terlanjur sanggup bersedia mengikuti keinginan. Apabila mengingkari, kami sangat malu. Lebih baik seandainya kalah.

            Siliwangi selalu teguh memegang kode etik dan janji. Ia tidak pernah melakukan “penyalahgunaan kekuasaan”. Ketika dipercaya menjadi Ketua Panitia Sayembara Mendapatkan Puteri Cantik, Siliwangi teguh berbuat adil dan tidak menyalahgunakan wewenangnya. Ia memperlakukan sama setiap peserta sayembara. Sesungguhnya, ia mendapatkan kesempatan emas untuk menyalahgunakan kewenangannya karena Sang Puteri ternyata justru jatuh cinta kepada Siliwangi, bukan kepada para peserta sayembara. Akan tetapi, karena Siliwangi adalah Ketua Panitia Sayembara, Siliwangi berpura-pura tidak mengetahui isyarat cinta yang disampaikan Sang Puteri.

            Siliwangi berkata tenang, tidak menerima.

            Dalam menyelenggarakan kompetisi itu Siliwangi berbuat sangat adil, tidak menguntungkan maupun merugikan setiap kontestan peminat Sang Puteri Cantik. Siliwangi selalu menghentikan pertarungan jika ada kontestan yang jatuh, terluka, atau lemah. Siliwangi selalu memberikan kesempatan kepada peserta sayembara yang lemah untuk memulihkan dirinya hingga pertarungan kembali berlangsung seimbang dan adil.

            Karena tidak sadar … merasa ditolong oleh Sang Rupawan.

           Dari kutipan tersebut, dapatlah disimpulkan bahwa nilai-nilai hidup yang dianut Prabu Siliwangi adalah:

1. Kepatuhan

2. Rendah hati

3. Lemah lembut, penuh tatasusila

4. Bijaksana dengan tekad yang teguh


5. Memegang teguh kode etik ksatria

            Demikianlah sepotong kejujuran Siliwangi yang merupakan nilai-nilai etik sangat luhur. Sesungguhnya jika kejujuran Siliwangi dapat dijadikan contoh dan dihidupkan dalam menyelenggarakan pemerintahan dan dalam pergaulan bermasyarakat sehari-hari, Indonesia dan dunia akan memiliki banyak pemimpin jujur dan masyarakat yang bahagia.


            Sampurasun.

Tuesday, 11 April 2017

Agama Sang Prabu

oleh Tom Finaldin

Bandung, Putera Sang Surya
Hasil dari penelusuran saya pribadi yang menyandingkan antara Al Quran dengan sosok Prabu Siliwangi menghasilkan simpulan bahwa Prabu Siliwangi adalah nabi kepercayaan Allah swt yang ditugaskan untuk menyebarkan Islam pada masa Sundaland. Nama agamanya belum disebut Islam saat itu, melainkan Sunda Wiwitan. Inti ajarannya adalah tauhid, praktiknya adalah budi pekerti dan kehalusan hati untuk mencapai kebahagiaan dunia akhirat. Jadi, ajaran Sunda Wiwitan merupakan dasar-dasar akhlak Islam pra-Muhammad saw yang kemudian disempurnakan oleh ajaran Islam Muhammad saw.

            Hasil penelusuran saya tersebut ternyata mendapatkan penguatan dari “pernyataan tulus” seorang peneliti yang bernama Dr. Nurhadi Magetsari. Ketika pemerintah Provinsi Jawa Barat bekerja sama dengan Ecole Francaise D’Extreme-Orient-Pusat Penelitian Arkeologi Nasional mengadakan seminar Sejarah dan Tradisi tentang Prabu Silihwangi, Dr. Nurhadi Magetsari diberi tugas untuk mengungkapkan agama yang ada di tanah Sunda sebelum Islam.

            Dengan jujur dan bahasa yang tulus ia mengatakan, “Panitia pengarah telah menugaskan kepada saya untuk mengungkapkan agama yang berkembang sebelum Islam, khususnya yang didasarkan atas naskah-naskah Cariosan Prabu Silihwangi, Carita Pakuan, serta Bujangga Manik. Setelah mempelajari ketiganya secara sekilas, ternyata bahwa data yang berkenaan dengan Agama Buddha maupun Hindu yang dimuat dalam ketiga naskah itu hampir-hampir tidak ada.”

            Pernyataan Dr. Nurhadi Magetsari dalam makalahnya Kultus Dewa Raja Yang Didapat dari Cariosan Prabu Silihwangi (1991) tersebut menandakan bahwa dirinya kesulitan untuk mengambil simpulan apakah Prabu Siliwangi itu beragama Hindu atau Buddha karena sebelumnya banyak sarjana dari Belanda dan Inggris yang menduga bahwa Prabu Siliwangi beragama Hindu atau Buddha Tantra. Ia lebih jujur dibandingkan para sarjana Belanda dan Inggris itu. Ia tidak memaksakan kehendak jika memang tidak ada datanya. Ia tidak mau menyebarkan hoax tentang Prabu Siliwangi untuk alasan apa pun.

            Dua jempol untuk Nurhadi!

            Meskipun kesulitan, Nurhadi tetap mencoba menelusurinya dan hasilnya, cukup kalang kabut. Ia sendiri tampak bingung karena banyaknya masalah dalam naskah.

            Karena sebelumnya para sarjana Belanda dan Inggris berpendapat bahwa Prabu Siliwangi beragama Hindu dan atau Budha Tantra serta ada kalimat-kalimat dalam Carita Pakuan yang diperkirakan agak mirip kata-kata dalam Hindu, Nurhadi mencoba menelusurinya melalui agama Hindu. Padahal, kata-kata yang dipakai agak mirip saja  sangat tidak cukup untuk menyatakan seseorang beragama tertentu. Seperti kita saat ini, kata-kata wafat, shodaqoh, almarhum, almarhumah, insyaallah, dan masih banyak lagi digunakan oleh semua orang, baik muslim, Kristen, Hindu, Budha, Konghucu, ataupun penganut agama lokal. Seseorang yang mengucapkan kata almarhum untuk menyatakan kematian seseorang, sangat tidak tepat jika dipastikan seseorang itu beragama Islam hanya karena kata-kata itu berasal dari kaum muslimin. Kata-kata itu bukan menentukan agama seseorang, melainkan kebiasaan berbahasa di lingkungan tertentu.

            Hal itulah yang membuat Nurhadi merasa kebingungan dalam isi makalahnya. Ketika ia menelusuri agama Prabu Siliwangi lewat jalur Hindu, tampaknya seperti benar, misalnya, Prabu Siliwangi berguru pada beberapa ahli agama, lalu mempraktikan agama dengan ketat dan menghayati dharma. Sampai akhirnya ia mencapai puncaknya dengan gelar Dewa Raja yang tampan mirip Dewa Wisnu.

            Istilah Dewa Raja itu kalau dalam Islam mirip dengan Ulama-Umaro. Dewa berarti dia Tuhan atau kepercayaan Tuhan. Raja berarti dia pemimpin manusia. Dewa Raja bisa diartikan Tuhan yang menjelma menjadi manusia untuk memimpin manusia atau manusia yang diangkat Tuhan untuk menjadi pemimpin manusia.

            Keanehan dan kekusutan muncul ketika Prabu Siliwangi menuntut ilmu “kelepasan” pada Wairocana. Wairocana sendiri merupakan salah satu Tathgata yang tertinggi dari aliran Buddha Mahayana, khususnya ajaran Mantrayana.

            Nurhadi mengatakan bahwa ini sebuah masalah. Oleh sebab itu, ia tidak berani menyimpulkan apakah Prabu Siliwangi beragama Hindu atau Buddha Tantra.

            Sangatlah tidak mungkin jika Prabu Siliwangi beragama Hindu sehingga mencapai puncaknya menjadi mirip Dewa Wisnu dengan segala keagungannya, kemudian mempraktikkan ajaran Budha.

            Dr. Nurhadi sendiri mempertanyakan hal itu, “Mengapa manusia yang sudah mencapai tingkat kedewaan juga diterangkan masih menempuh dan kemudian mencapai kebudhaan?”

            Bagi kita yang hidup pada zaman ini. Hal itu jelas merupakan kekacauan.

            Bagaimana mungkin orang bisa mempraktikan dua agama sekaligus, yaitu Hindu dan Budha?

            Kalau mengikuti hukum positif saat ini, perilaku mengamalkan dua ajaran agama sekaligus, bisa dihukum penjara karena akan ada orang yang tersinggung, lalu melaporkannya sebagai tindakan penghinaan, penodaan, penistaan, ataupun pelecehan terhadap agama tertentu. Orang ini bisa dituding kafir, sesat, dan bidah.

            Hal itu sangat bertentangan dengan sosok Prabu Siliwangi yang penuh keagungan dan keluhuran. Artinya, tidak mungkin Prabu Siliwangi memeluk dua agama sekaligus. Tidak mungkin pula Prabu Siliwangi pindah agama setelah sukses menjadi Dewa Raja dalam agama Hindu, lalu meneruskan belajar menjadi Budha supaya karirnya meningkat.

            Memangnya kuliah?

            Habis S1 terus S2?

            Supaya gelar, kedudukan, dan honornya naik?

            Ada dua penjelasan untuk kekusutan tersebut. Pertama, naskah-naskah kunonya sendiri sudah kalang kabut dalam arti tidak murni karena ditulis oleh para juru pantun yang mendapatkan pengaruh dari penguasa. Kedua, para peneliti tidak memahami ajaran Islam dan Sunda Wiwitan dengan baik.

            Praktik-praktik keagamaan yang dilakukan Prabu Siliwangi sebetulnya sudah ada dalam ajaran Islam, misalnya, uzlah (memisahkan diri dari keramaian), menuntut ilmu, khalwat, shaum, dzikir, riyadhoh, bangun malam, dan lain sebagainya. Sesungguhnya, tapa laku yang dilakukan Prabu Siliwangi tak lain dan tak bukan adalah dalam rangka mengamalkan ajaran Islam pra-Muhammad saw, yaitu ajaran Sunda Wiwitan. Memang dalam praktik lahiriahnya banyak hal yang sama dengan Hindu dan Budha yang juga mengenal pengekangan diri untuk mencapai kesempurnaan.

            Hal yang sangat menyesatkan adalah anggapan yang sangat keliru bahwa Islam adalah agama yang berasal dari Arab. Oleh sebab itu, karena bahasa dan kalimat yang digunakan bukan berbahasa Arab, disebutlah bukan Islam. Padahal, Allah swt tidak pernah mengatakan bahwa Islam berasal dari Arab dan nabi harus selalu berasal dari Arab atau Timur Tengah. Nabi itu ada di seluruh penjuru dunia dengan bahasa sukunya masing-masing di kalangan umatnya masing-masing. Di situ ada sebuah bahasa tertentu, di situlah ada nabi. Di situ ada umat, di situlah ada nabi. Untuk lebih jelasnya, baca tulisan saya yang berjudul Nabi Prabu Siliwangi Alaihissalam.

            Jadi, Prabu Siliwangi itu adalah nabi yang mengajarkan Islam pra-Muhammad saw dengan nama agama Sunda Wiwitan. Ia hidup pada masa Sundaland. Karena sepeninggal Nabi Prabu Siliwangi, Daud as, Sulaeman as, dan nabi-nabi lain orang-orang Indonesia ini melakukan dosa-dosa besar, dihancurkanlah dunianya oleh Allah swt.

            Itulah salah satu kesulitan kita dalam memahami Prabu Siliwangi, termasuk sejarah Indonesia secara keseluruhan. Peninggalan kebesaran masa lalu kita banyak yang tenggelam dan terkubur akibat kemurkaan Allah swt melalui bencana mahadahsyat yang menghancurkan Benua Sundaland menjadi kepulauan bernama Indonesia.                 

            Sampurasun.

Monday, 10 April 2017

Orang Sunda Diciptakan Langsung Modern

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Yang saya maksud langsung modern itu adalah modern pada masa itu dibandingkan dengan pendapat para penganut The Hoax of Darwin. Kata pengikut Darwin, manusia dan makhluk hidup itu berasal dari makhluk bersel satu yang kemudian berkembang, berubah bentuk, terus beradaptasi dengan alam, belajar dari sama sekali tidak tahu menjadi tolol, dari tolol menjadi bego, dari bego menjadi bloon, dari bloon menjadi bodoh, dari bodoh menjadi celingukan, dari celingukan menjadi ragu-ragu, dari ragu-ragu menjadi kebiasaan, dari kebiasaan berkembang lagi mendapatkan hal-hal baru, akhirnya menjadi cerdas seperti sekarang ini. Demikian pula dengan warna kulit. Dari hitam legam kotor, menjadi hitam bersih, terus agak kecoklat-coklatan, lalu sedikit menjadi merah, kemudian berubah lagi menjadi kuning, akhirnya menjadi kulit putih yang paling sempurna dan cerdas.

            Lucunya, mereka tidak akan pernah bisa menerangkan bahwa mengapa manusia yang belum sempurna seperti orang Indonesia ini bisa berkali-kali menjadi juara pembuat robot terbaik di Amerika Serikat mengalahkan orang-orang yang sudah sempurna berkulit putih itu?

            Seharusnya kan secara logika kalau Darwin benar, harus selalu orang kulit putih yang paling kaya raya, paling cerdas, dan paling pandai memimpin. Kenyataannya, Obama yang kulitnya hitam menjadi presiden AS. Raja Thailand adalah raja terkaya di dunia. Para pemimpin berkulit putih justru saat ini sedang kalang kabut bertengkar satu sama lain.

            Pendek kata, Darwin dan pengikutnya salah besar.

            Sesungguhnya, tidak ada itu yang namanya evolusi dalam arti perubahan bentuk manusia atau makhluk hidup lainnya. Manusia itu diciptakan sudah seperti ini sejak dulu sampai punahnya nanti. Demikian pula makhluk hidup lain selalu diciptakan dengan bentuk tertentu sampai punah tanpa mengalami perubahan bentuk tubuh dan kecerdasan.

            Penciptaan manusia seperti kita ini bahkan ditegaskan oleh Allah swt di dalam Al Quran. Hal ini bisa dilihat dari QS Al Hujurat 49 : 13.

            “Wahai Manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh Allah Maha Mengetahui dan Maha Teliti.”

            Ayat tersebut menerangkan bahwa Allah swt menciptakan sepasang suami-istri untuk setiap suku tertentu yang akan melahirkan suku tertentu dengan bahasa tertentu, kecerdasan tertentu, dan tantangan hidup tertentu. Allah swt memberikan contoh dengan penciptaan Nabi Adam as. Allah swt menciptakan Adam as dalam bentuk fisik yang sempurna dan menciptakan istrinya, Siti Hawa, yang berasal dari tubuh Adam as sendiri secara sempurna pula. Ahsanul Kholiqin, ‘ciptaan yang paling baik’. Adam as diberi pengetahuan dan keterampilan khusus secara langsung tanpa melalui proses belajar untuk menghadapi tantangan hidupnya. Allah swt memerintahkan para malaikat menguji kemampuan Adam as dan Adam as berhasil. Pasangan Adam-Hawa melahirkan anak-anak khusus untuk sukunya sendiri, bukan seluruh manusia.

            Kalau mau disebut kecerdasan manusia berkembang, sesungguhnya sejak saat itulah mulai perkembangannya, bukan dari makhluk bersel satu, lalu jadi monyet, terus jadi manusia. Berkembang itu mulai dari modal awal yang diberikan Allah swt untuk memulai hidup baru.

            Demikian pula suku Sunda, diciptakan dari pasangan suami-istri tertentu dengan kemampuan tertentu, bahasa tertentu, fisik tertentu, dan tantangan hidup tertentu pula.

            Siapa orang Sunda yang diciptakan pertama kali oleh Allah swt?

            Dengar-dengar, Allah swt secara langsung memberikan pengetahuan kepadanya dalam hal mengolah logam. Dia dikenal sebagai pandai besi.

            Siapa dia?

            Penasaran?

            Entar dulu lah, soalnya hasil penelitiannya masih dalam bahasa Inggris. Saya harus menerjemahkannya dulu. Kalem aja kalem. Santai, kata Bang Haji juga.

            Sekarang mah kita ngobrol soal hasil penelitian para peneliti yang ditulis dalam artikel berjudul Arca-Arca Tipe Pajajaran di Jawa Barat yang disusun oleh Dra. Setyawati Suleiman (1991). Saya merekontruksinya sesuai dengan penelitian terbaru yang mengatakan bahwa Indonesia ini dulunya Benua Sundaland yang besar, megah, dan makmur.

            Dulu sekali hidup berbagai binatang jenis lama di Benua Sundaland, Indonesia. Ketika bencana mahadahsyat yang berupa hukuman dari Allah swt akibat kesombongan manusia datang, Benua Sundaland pun hancur berkeping-keping. Bentuknya pun berubah menjadi kepulauan seperti sekarang ini. Bencana mengerikan itu bukan hanya menghancurkan manusia, gedung, teknologi, dan peradabannya, melainkan pula mengubur binatang-binatang jenis lama. Gempa besar, baik tektonik maupun vulkanik memisahkan daratan-daratan yang asalnya satu. Pulau Jawa adalah yang paling parah diterjang pasang air laut hingga gunung-gunung pun ikut tenggelam. Pulau Jawa saat itu mirip-mirip Kepulauan Seribu, Jakarta, sebagian besarnya tenggelam karena banjir dari laut dan hanya ada beberapa munculan daratan di sana-sini. Ketika air laut surut, muncullah Pulau Jawa yang kita kenal sekarang ini dengan bentuk seperti saat ini. Hati-hati, jangan bikin banyak dosa, Pulau Jawa bisa dbanjiri air laut lagi.

            Para ahli telah menemukan fosil-fosil binatang masa lalu yang pernah terkubur dan tenggelam dalam laut. Fosil-fosil ini ditemukan di daerah Cijulang, Jawa Barat. Akan tetapi, anehnya sampai hari ini tidak pernah ditemukan fosil-fosil manusia purba di daerah Sunda. Hal itu membuat bingung para peneliti. Pasti bingung para peneliti itu. Hal itu disebabkan mereka terpenjara oleh pikirannya Darwin, yaitu harus ada perkembangan dari bentuk fisik manusia lama dari monyet ke bentuk manusia saat ini.

            Saya sekarang sulit percaya bahwa manusia purba itu ada. Banyak sekali yang ternyata ketahuan bohong dan palsu. Banyak sekali struktur kerangka yang dibuat-buat menyerupai manusia, malah dibuat secara sengaja menggunakan gips hanya untuk memperkuat kebohongan dugaan Darwin. Paling mungkin, kalau benar ada, hanyalah eksistensi makhluk tertentu yang bentuknya mirip manusia, tetapi bukan manusia. Mereka hanyalah makhluk yang bisa dikatakan mirip fisik manusia yang masa hidupnya sudah selesai dan dimusnahkan oleh Allah swt untuk kemudian diganti oleh kehidupan masa sekarang ini. Mereka bukanlah nenek moyang manusia. Mereka hanyalah segerombolan makhluk yang hidup pada periode tertentu dan musnah pada waktu yang sudah ditetapkan Allah swt. Seperti kita juga segerombolan manusia dalam jumlah miliaran yang akan dimusnahkan pada waktunya nanti.

            Berdasarkan penemuan benda-benda bersejarah di tanah Sunda, para peneliti melihat keanehan luar biasa. Tiba-tiba saja para peneliti dihadapkan pada kemunculan kehidupan yang sudah padat penduduk, ramai, hiruk pikuk, perdagangan, perbengkelan, dan adanya hubungan internasional. Para peneliti tidak melihat adanya kehidupan kuno dengan keterbelakangan kecerdasan. Mereka justru melihat adanya kehidupan yang sudah mengenal lapisan sosial dengan adanya penguasa dan rakyat yang dikuasai.

            Dalam tulisan Setyawati (1991), disebutkan bahwa di Anyer, Banten, ditemukan banyak besi dan perunggu. Bahkan, ada kuburan orang-orang dengan jabatan tinggi yang dikubur dalam tempayan-tempayan besar berbahan logam.

            Di seputar Danau Bandung ditemukan pula alat cetak kapak perunggu. Oleh sebab itu, tak heran di tanah Sunda ini banyak ditemukan genderang dan kapak yang terbuat dari perunggu.

            Adanya penemuan perunggu ini menguatkan dugaan keras bahwa memang leluhur orang Sunda atau manusia Sunda awal yang diciptakan Allah swt adalah memang benar manusia yang diberi pengetahuan langsung oleh Allah swt tanpa proses belajar  mengenai pengolahan logam. Oleh sebab itu, orang ini dikenal masyarakat sebagai seorang pandai besi. Soal ini, insyaallah, kita akan terjemahkan dulu dari tulisan lain yang berbahasa Inggris. Santai.

            Di samping perunggu-besi, di Danau Bandung dan di Danau Cangkuang, Kabupaten Garut pun ditemukan banyak batu kecil yang terbuat dari batu obsidian yang diperkirakan berasal dari Nagrek, Kabupaten Bandung. Batu-batu itu merupakan pisau kecil untuk mengerok (scraper).

            Banyaknya penemuan di sekitar danau-danau menunjukkan bahwa sudah adanya pemukiman yang ramai penduduk. Para penduduknya hidup dari memancing, berburu, menggali umbi-umbian, memetik sayuran, dan buah-buahan. Tinggal di seputar danau adalah kemewahan tersendiri karena selalu ada air dan bahan makanan. Ketika penduduk makin padat di seputar danau, kehidupan pun berkembang ke tempat-tempat lainnya, dimulailah adanya bercocok tanam serta beternak kambing, ayam, kerbau, dan memelihara anjing.

            Penemuan adanya bengkel-bengkel kapak batu dan perunggu pun menunjukkan bahwa penduduk saat itu sudah padat dengan interaksi dalam frekwensi yang sangat tinggi. Di Leuwiliang ditemukan banyak bengkel kapak batu. Di bengkel itu konsumen dibuatkan kapak kasar yang belum dipoles. Kapak itu lalu dipikul ke perkampungan dan ke rumah masing-masing untuk kemudian dipoles, diperhalus, dan diasah oleh konsumen masing-masing.

            Adanya peralatan kapak batu, perunggu, berikut bengkel-bengkelnya menunjukkan terjadinya pula perdagangan dan interaksi internasional. Orang-orang Sunda melakukan hubungan internasional itu dengan Yunani, India, Vietnam, dan Cina.

            Dalam hal makanan, orang Sunda sudah lebih dulu lebih maju dibandingkan daratan lainnya. Ketika makanan di tempat lain masih berupa tales (taro), orang Sunda sudah memiliki makanan utama (staple food) beras. Hal itu bisa dilihat dari kesuburan tanahnya dan berada di jalur perdagangan antara Cina dan India. Hal ini pun menguatkan keyakinan bahwa memang benarlah Nabi Prabu Siliwangi as adalah orang pertama yang dipercaya Allah swt untuk menanam bibit padi pertama di muka Bumi ini. Baca tulisan saya yang berjudul Nabi Prabu Siliwangi Alaihissalam.


Mengubah Cara Pandang
Ilmu pengetahuan itu berkembang. Apabila ditemukan bukti baru, pemikiran baru, dan pemahaman baru yang lebih kuat dan akurat, sudah seharusnya meninggalkan pemikiran yang lama. Jika pemikiran lama tidak juga ditinggalkan, jatuhlah kita pada doktrin yang akan membuat diri kita terpenjara dan tidak pernah berkembang.

            Sudah seharusnya kita meninggalkan pemahaman yang terkait dengan Darwinisme bahwa manusia dan makhluk hidup itu berkembang dari tidak tahu menjadi tahu, dari satu sel menjadi banyak sel; Nabi Adam as adalah manusia pertama; orang Indonesia selalu terbelakang serta harus selalu meniru bangsa lain, dan lain sebagainya. Allah swt sudah banyak memberikan penjelasan. Oleh sebab itu, jangan banyak menduga-duga dengan hawa nafsu jika Allah swt sudah memberikan keterangan.

            Orang Sunda sudah langsung diciptakan modern. Demikian pula orang Jawa, Bugis, Batak, Makasar, dan suku-suku bangsa di dunia ini. Setiap pasang suami istri yang diciptakan pertama kali sebagai leluhur sukunya masing-masing sudah dilengkapi pengetahuan tertentu, bahasa tertentu, fisik tertentu, dan tantangan hidup tertentu.

            Hal ini bisa dilihat dari QS Al Hujurat 49 : 13.

            “Wahai Manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh Allah Maha Mengetahui dan Maha Teliti.”

            Tak ada perkembangan dari manusia purba ke manusia masa kini. Setiap jenis makhluk sudah ditetapkan awal kejadiannya dan akhir kemusnahannya.


            Sampurasun.