Showing posts with label Palestina. Show all posts
Showing posts with label Palestina. Show all posts

Saturday, 14 February 2026

PBB Lemot Disalip BoP

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Konflik di tanah Palestina sudah terjadi puluhan tahun dan menimbulkan kerusakan harta dan nyawa yang sangat besar. Selama puluhan tahun juga Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) berupaya menanganinya. Akan tetapi, sampai tulisan ini dibuat masalah itu tidak pernah selesai. Itulah yang saya bilang PBB itu mesinnya lemot, tenaganya hanya 16% atau maksimal hanya 24%.

            Dalam kelemotan PBB, muncul “Board of Peace” (BoP) atau yang kita kenal dengan “Dewan Perdamaian”. BoP adalah mesin baru yang punya tenaga dorong 60%.

            BoP sebetulnya amanat PBB, tetapi kemudian berubah menjadi lembaga yang mulai terpisah dari PBB serta punya keinginan dan cara sendiri dalam menyelesaikan masalah antara Israel dan Palestina. Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump tampaknya tidak sabar dengan konflik di Palestina, lalu mendapat kekuatan dari Presiden RI Prabowo Subianto yang siap mengirimkan prajurit TNI sejumlah 20 ribu atau bahkan lebih untuk menjaga perdamaian di Gaza, Palestina. Ibarat “kata  berjawab, gayung pun bersambut”, terciptalah BoP yang mengguncangkan dunia akhir-akhir ini.


Prabowo Subianto dan Donald Trump (Foto: ANTARA News)


            Anehnya, Trump menjelaskan bahwa dirinya sangat kesal dengan PBB yang di dalamnya ada “hak veto”. Hak veto adalah hak untuk melarang keputusan, resolusi, peraturan, atau kesepakatan-kesepakatan yang sudah dibuat di PBB. Hak itulah yang membuat persoalan di Palestina sulit selesai. Oleh sebab itu, dia merancang sendiri dan menggerakkan sendiri dunia untuk segera menyelesaikan masalah Gaza.

            Aneh memang karena selama ini yang kita kenal sering mengobral hak veto adalah Amerika Serikat. Kita yang justru sering kesal dan marah karena AS kerap menggunakan hak veto yang merugikan bangsa-bangsa di dunia, terutama untuk di wilayah Timur Tengah dan tentu saja merugikan Palestina.

            Jadi, sebetulnya siapa yang menggunakan hak veto sehingga merugikan kesepakatan dunia itu?

            Cukup membingungkan.

            Sudahlah, yang jelas saat ini AS di bawah Trump bergerak sendiri seolah-olah meninggalkan PBB dengan dukungan Indonesia di bawah Prabowo untuk menyesaikan konflik di Palestina. Hal ini justru diberitakan pertama kali oleh media-media Israel bahwa Indonesia menjadi negara yang pertama di dunia mengirimkan pasukannya di Gaza untuk menjaga perdamaian. Bahkan, Israel sendiri telah mulai memberikan tempat dan menyediakan wilayah untuk TNI di selatan jalur Gaza, antara Rafah dan Khan Younis.

            Kalaulah PBB mulai merasa ditinggalkan dalam urusan Palestina ini, seharusnya bergerak lebih cepat lagi. Jangan terlalu banyak seminar, rapat, atau diskusi yang dianggap Trump terlalu lambat. Sebaiknya PBB mengambil langkah yang mengarah pada langkah nyata untuk kembali menyalip BoP. Sementara itu, Indonesia akan lebih lebih senang jika pasukannya berada di bawah mandat PBB dibandingkan BoP. Prabowo dengan tegas akan mengirimkan “putera-puteri terbaik Indonesia” ke jalur Gaza, Palestina.

            Foto Prabowo dan Trump saya dapatkan dari ANTARA News.

            Sampurasun.

Monday, 17 June 2024

Menanti Para “Cucu Nabi” ke Palestina

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Setelah pemerintahan Presiden RI Jokowi memerintahkan Presiden Terpilih RI Prabowo Subianto untuk ikut cawe cawe di Timur Tengah, khususnya di Palestina, Panglima Tentara Nasional Indonesia (TNI) segera menyiapkan pasukan dan memfasilitasi prajuritnya untuk berangkat ke Palestina sebagai pasukan perdamaian. Untuk melengkapi dalam melaksanakan tugasnya, Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto mempersilakan rakyat Indonesia untuk berpartisipasi dalam membantu Palestina. Masyarakat Indonesia tentunya atas nama Negara Indonesia bersama TNI setelah mendapatkan restu atau mandat dari Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) bisa segara berangkat dan memulihkan keamanan di Palestina, terkhusus di jalur Gaza.


(Foto: Vidio)


            Inilah kesempatan yang sangat tepat bagi orang-orang yang suka mengaku-aku “cucu nabi” untuk membuktikan dirinya bahwa mereka adalah benar-benar orang Islam yang mulia dan mampu berpartisipasi aktif dalam membantu rakyat Palestina. Warga Palestina mayoritas adalah umat “kakeknya” yang artinya cucu kakeknya ini harus sayang kepada umat kakeknya. Sekarang orang-orang bersenjata dari Indonesia di bawah payung TNI memberikan kesempatan kepada rakyat sipil untuk bersama membantu umat kakek mereka itu di Palestina. Ini adalah kesempatan yang baik untuk membuktikan bahwa para pengaku cucu nabi itu benar-benar orang yang berguna dan menguntungkan umat Islam, bukan mengambil keuntungan dari umat Islam.

            Daripada terus-terusan bertengkar dengan para penggugatnya yang tidak mempercayai mereka sebagai cucu nabi, mendingan buktikan diri sebagai orang berani dan hebat bernyali membantu rakyat Palestina di tanah konflik perang. Umat Islam sudah mulai runtuh kepercayaannya kepada mereka yang suka mengaku-aku sebagai cucu nabi karena di samping tidak ada bukti, juga banyak di antara mereka yang perilakunya jauh dari keteladanan Nabi Muhammad saw. Bukti jelas sebagai keturunan Nabi saw itu ada tiga, yaitu susunan nasab yang jelas tersambung dan tidak terputus; sertifikat internasional dari negara asal; hasil tes DNA. Di samping itu, harus terbukti dalam perilakunya sehari-hari mencerminkan kesucian Muhammad saw. Nah, sebagai pengaku “keturunan rasul”, buktikan dalam akhlak dalam membantu Palestina bersama TNI.

            Jika orang-orang yang gemar mengaku cucu nabi ini daftar dan berangkat bersama TNI ke Palestina, meskipun tidak punya ketiga bukti yang tadi disebutkan, umat akan menghormatinya sebagai orang berani dan punya kepedulian terhadap umat Islam di Palestina. Kalau tidak, umat punya penilaian sendiri terhadap kalian.

            Ilustrasi saya dapatkan dari Vidio.

            Begitu ya.

            Sampurasun.

Monday, 15 April 2024

Sulitnya Menyatukan Pemimpin Muslim Dunia

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Dunia muslim sudah jelas memiliki masalah yang sama, yaitu kemerdekaan Palestina dan penghentian penjajahan Israel atas warga Palestina. Semua pemimpin muslim, dalam hal ini pemimpin negara, tahu itu dan mereka juga paham harus membantu Palestina. Akan tetapi, para pemimpin negara mayoritas muslim ini tidak juga dapat bersatu sebagaimana yang diharapkan.

            Banyak orang Islam kebingungan tentang hal ini. Mereka berpendapat seandainya para pemimpin muslim ini bersatu sedunia, sangat mudah mengalahkan Israel sekaligus menghancurkan Amerika Serikat dan negara-negara lainnya yang selalu membantu Israel dalam melakukan kejahatannya atas Palestina. Karena kebingungan tentang hal ini, banyak orang yang dengan mudah menuduh bahwa para pemimpin muslim sudah menjadi antek-antek kapitalis, bahkan dihujat sebagai fasik, munafik, kafir, zalim, murtad, dan lain sebagainya yang sama sekali tidak menolong memperbaiki situasi, malah membuat masalah di antara warga muslim sendiri.

            Sebetulnya, hal yang sesungguhnya terjadi adalah para pemimpin muslim itu memiliki kewajiban utama yang tidak boleh ditinggalkan, yaitu melindungi, mengamankan, dan menyejahterakan rakyatnya sendiri. Bantuan untuk Palestina itu adalah kewajiban nomor sekian, entah nomor berapa. Para pemimpin muslim ini akan selalu memperhatikan rakyatnya sendiri, baik beragama Islam maupun nonislam. Rakyat merekalah yang paling utama, sedangkan Palestina adalah rakyat wilayah negara lain yang akan dibantu jika rakyatnya sendiri memiliki sedikit kelebihan dana, makanan, obat-obatan. Para pemimpin ini tidak akan pernah membela Palestina secara mati-matian jika rakyatnya sendiri masih membutuhkan perhatiannya. Oleh sebab itu, besar-kecilnya bantuan dan kuat-lemahnya dukungan terhadap Palestina sangat bergantung pada sehebat apa negara itu menyejahterakan rakyatnya. Jika rakyatnya sejahtera, bantuan dan dukungannya akan semakin besar. Jika rakyatnya masih miskin atau perlu mendapatkan banyak perhatian, dukungan dan bantuan pada Palestina pun akan semakin kecil.

            Itu yang terjadi sebenarnya. Jadi, kalau para pemimpin muslim ini mau bersatu, negara dan rakyatnya harus membantu pemerintahnya dengan dukungan dan kritikan agar negaranya bisa lebih sejahtera, maju, dan makmur. Dengan demikian, akan memiliki energi lebih kuat untuk membela  Palestina dan negara mana pun yang sedang membutuhkan bantuan. Jika di dalam negerinya sendiri banyak masalah dan semrawut, kesejahteraan, kemajuan, kecerdasan, dan kemakmuran itu tidak akan pernah terwujud. Akibatnya, jangankan membantu bangsa lain, mengurus dirinya sendiri tidak bisa.

            Sampurasun.

Sunday, 19 November 2023

Jokowi-Joe Biden Sepakat Soal Palestina-Israel

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Setelah Presiden Indonesia Jokowi bicara blak-blakan di depan Presiden Amerika Serikat Joe Biden soal konflik Palestina dan Israel, Joe Biden dengan nyata setuju bahwa jalan satu-satunya untuk menyelesaikan masalah itu adalah dengan menggunakan konsep “two state solution”, ‘solusi dua negara merdeka”. Artinya, Palestina harus merdeka dan Israel pun harus merdeka. Kedua pihak dan dunia harus mengakui kemerdekaan kedua negara tersebut. Foto Jokowi bersama Joe Biden saya dapatkan dari Pos-kupang com.


Presiden Indonesia Jokowi dan Presiden Amerika Serikat Joe Biden (Foto: Pos-kupang.com)


            Indonesia sudah sejak lama menyuarakan dan mendukung “solusi dua negara merdeka” tersebut, terutama sejak zaman Presiden Aburahman Wahid atau yang akrab dipanggil Gus Dur. Meskipun Juklak atau Juknis atau teknis pelaksanaan perwujudan dua negara merdeka itu belum jelas, keyakinan bahwa cara itu harus ditempuh untuk menghentikan pertikaian adalah sudah sangat bagus.  Indonesia menolak terjadinya “one state solution”, ‘satu negara merdeka’, artinya Palestina dan Israel bergabung menjadi satu negara. Hal itu disebabkan Palestina akan selalu dirugikan.

            Meskipun solusi itu adalah cara yang paling bagus saat ini, tidak cukup hanya pidato, ceramah, seminar, ataupun imbauan. Solusi ini harus benar-benar dilakukan dan tidak hanya pada upaya “soft diplomacy”,  tetapi juga harus menggunakan upaya  “hard diplomacy”, ‘diplomasi keras’, dengan menggunakan ancaman senjata yang lebih kuat daripada senjata Palestina dan Israel. Mengingat Israel kerap ngeyel dan tidak mematuhi aturan PBB tanpa mendapatkan sanksi dari Amerika Serikat, perlu negara lain yang lebih kuat untuk membelah dan membatasi tanah atau wilayah yang sekarang menjadi tempat konflik. Di tengah perbatasan kedua negara harus dijaga oleh kekuatan yang mampu memisahkan keduanya sekaligus mengancam keduanya agar tidak saling bunuh lagi.

            Kekuatan besar itu bisa jadi Negara Cina dan Negara Rusia yang harus berada di antara atau di tengah-tengah Palestina dan Israel. Adapun komplek Al Quds yang dianggap tempat suci bagi tiga agama harus diserahkan pengelolaan dan pengamanannya kepada Indonesia. Dengan demikian, untuk awal terciptanya solusi dua negara merdeka itu, bisa dilakukan dengan cara itu. Apabila sudah sangat sangat kondusif dan kedua pihak saling menerima. Perbatasan itu bisa diserahkan kembali kepada Palestina dan Israel, sedangkan Al Quds bisa diserahkan pada PBB.

            Sekarang ini masih sulit terjadi solusi dua negara itu. Hal itu disebabkan, baik di Palestina maupun Israel, ada kelompok-kelompok radikal yang sangat sulit dijinakkan. Bagi radikalis Israel, Palestina itu tidak pernah ada di muka Bumi. Demikian pula, bagi Palestina radikal, Israel itu tidak pernah ada. Kelompok-kelompok ini harus diajak bicara dan disadarkan bahwa faktanya, kenyataannya, Palestina itu ada dan Israel itu juga tetap ada. Upaya saling memusnahkan sampai hari ini tidak pernah berhasil. Mereka tetap ada di muka Bumi, tidak ada yang musnah.

            Jokowi dan Joe Biden sudah ada kemajuan dalam hal ini, tinggal praktik pelaksanaannya saja. Jika kesepakatan atau pidato yang bagus itu tanpa ada tindak lanjutnya, itu hanya omong doang, cuma bacot. Hal ini mirip dengan lirik lagu yang diciptakan gadis-gadis Garut yang tergabung dalam “Voice of Baceprot”, ‘VOB’.

            Mereka bilang, “We hate speech,…. Then killed another as a satan. Sataaan …!”

            ‘Kami benci ceramah, …. Kemudian, membunuh orang lain seperti syetan. Syetaaan …!’

            Begitu lirik lagu mereka yang berjudul “The Other Side of Metalism”. Foto VOB saya dapatkan dari YouTube.


Voice of Baceprot (VOB) (Foto: YouTube)

            Sampurasun.

Tuesday, 14 November 2023

Erdogan Menggelayut Terus ke Jokowi

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Presiden pujaaan umat ini, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mepet terus dan menggelayut terus ke Presiden Indonesia Jokowi. Ini terjadi di sela-sela Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Luar Biasa Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) di King Abdulaziz International Convention Center (KAICC), Riyadh, Arab Saudi pada Sabtu (11/11/2023). Foto mereka saya dapatkan dari riauone com.


Erdogan dan Jokowi (Foto: riauone.com)


            Hal ini mudah dipahami sebenarnya. Negara-negara Arab dan anggota OKI tampaknya sudah mulai kebingungan karena sampai hari ini upaya mereka tidak juga membuahkan hasil dalam menyelesaikan sengkarut antara Israel dan Palestina. Kalau dilihat-lihat, memang kejadiannya selalu begitu: perang, penghancuran, dan pembunuhan demi pembunuhan. Erdogan yang selalu lantang dan keras dalam membela kepentingan dunia Islam pun, hasilnya belum kelihatan dalam urusan Palestina dan Israel ini. Dunia Islam perlu format baru, cara baru dalam mengatasi masalah ini.

Jokowi dan nenek bertubuh pendek pemberani yang dipercaya Jokowi untuk menjadi menjadi Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi telah menggetarkan PBB dan sidang-sidang OKI. Jokowi dan Retno adalah yang paling logis dan keras bersuara dalam menyelesaikan kekacauan di Timur Tengah ini. Mereka ingin perang dihentikan dan upaya pendudukan oleh Israel ke Palestina pun dihentikan. Pendudukan adalah masalah utamanya dan perang tidak akan pernah berhenti jika pendudukan masih dilakukan.


Jokowi dan Erdogan (Foto: riauone.com)


Kalau diperhatikan, Jokowi lebih keras dibandingkan Erdogan dalam bersikap terhadap Israel. Erdogan itu masih mau berhubungan dengan Israel, sedangkan Jokowi tidak pernah mau untuk berbicara dengan Israel dan Indonesia tetap konsisten tidak mau berhubungan dengan Israel selama mereka masih menduduki Palestina. Jadi, wajar jika Erdogan terus mendekat ke Jokowi untuk menitipkan keinginan dan pesannya dalam menyelesaikan konflik Palestina Vs Israel. Akhirnya, memang 57 pemimpin negara Islam menunjuk Jokowi untuk menjadi juru damai dan juru bicara mereka dalam bernegosiasi dengan Amerika Serikat untuk mengatasi krisis kemanusiaan di Palestina.

Kita memang butuh solusi yang bukan hanya perang untuk menyelesaikan hal tersebut. Toh, perang tidak pernah berhenti dan selalu merugikan semuanya.

Sampurasun.

Friday, 21 May 2021

Pentingnya Pasukan Perdamaian di Al Quds

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Dalam menyikapi konflik yang terjadi antara Israel dan Palestina yang menimbulkan perang dan menimbulkan kerusakan terhadap kemanusiaan, Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Retno Marsudi hadir dalam Sidang Majelis Umum (SMU) Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Kamis, 20 Mei 2021. Sengaja dia datang untuk mendesak PBB mengambil tiga aksi penting untuk menghentikan perang dan kekerasan yang terjadi. Setelah Menlu RI Retno menyampaikan desakannya, kita tahu bahwa besoknya, pukul 02.00 dini hari disepakati gencatan senjata antara Israel dan Hamas untuk menghentikan “sementara” penggunaan senjata dan aksi-aksi militer di kedua belah pihak.

            Dari tiga aksi penting yang diusulkan Retno Marsudi dalam SMU PBB tersebut, dalam tulisan kali ini saya ingin beropini tentang satu usulan aksi tersebut. Hal itu adalah desakan Retno agar hadirnya “kekuatan internasional” di “Al Quds” untuk mengawasi dan memastikan keselamatan rakyat Palestina serta menjamin perlindungan status “Kompleks Al-Haram Al-Sharif” yang dianggap sebagai tempat suci bagi tiga agama, yaitu Islam, Kristen, dan Yahudi.

            Selama ini, kompleks tersebut diklaim, dikelola, dan dikuasai Israel. Pasukan Israel adalah yang berkuasa di tempat tersebut. Hal itu menimbulkan kerawanan konflik yang bisa kapan saja terjadi mengingat masih besarnya kebencian di antara mayoritas warga Palestina dan Israel. Perang yang terjadi di antara mereka baru-baru ini pun diklaim Israel dan pendukungnya gara-gara warga Palestina yang melempari pasukan Israel dengan batu-batu di kawasan Al Quds. Padahal, pelemparan itu pun sebenarnya diakibatkan oleh perilaku Israel sebelumnya terhadap warga Palestina yang kerap melakukan penggusuran, pengusiran, dan penindasan lainnya. Dengan demikian, di tempat itu bisa dikatakan mudah sekali terjadi bentrokan.

            Usulan Menlu RI Retno Marsudi adalah sangat masuk akal untuk menjaga rakyat dan keamanan di kawasan tersebut. Pasukan perdamaian internasional diharapkan dapat lebih netral bersikap dan lebih bijak mengambil tindakan. Kalaulah masih timbul kecurigaan atau kekhawatiran, baik dari pihak Palestina atau Israel terhadap kenetralan pasukan perdamaian di luar kalangan mereka, Indonesia bisa menawarkan diri menjadi pasukan perdamaian pertama di kawasan itu sebagai pihak yang bertanggung jawab atas usulan tersebut. Artinya, kekhawatiran bisa timbul dari pihak Palestina jika pasukan perdamaian berasal dari negara-negara barat karena dianggap pro-Israel atau Israel bisa khawatir jika pasukan perdamaian berasal dari negara-negara Arab yang dianggap membenci mereka. Indonesia bisa menjembatani berbagai kekhawatiran itu mengingat “politik luar negeri bebas dan aktif” yang mengharuskan dirinya bebas dari tekanan negara mana pun dan mewajibkan dirinya untuk selalu aktif menciptakan perdamaian dunia. Di samping itu, Indonesia pun sedang dalam keadaan terus berupaya adil untuk mengelola bangsanya yang majemuk, beragam agama, suku, dan ras. Tambahan pula bahwa Indonesia itu dalam hal militer cenderung bersikap “defensive”, ‘pertahanan diri’, setiap orang Indonesia tidak pernah ingin untuk menyerang negara lain dan tidak ingin menjajah negara lain.

            Intinya, untuk membuat situasi lebih terkendali, diperlukan pasukan perdamaian internasional yang lebih netral, lebih adil, dan lebih biijak. Syaratnya, pasukan ini harus mendapat mandat dari PBB, Israel bersedia mundur dari Kompleks Al-Haram Al-Sharif, dan Palestina harus menghormati kehadiran pasukan perdamaian tersebut.

            Sampurasun.

Wednesday, 19 May 2021

Antara Pahlawan dan Penjahat

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Konflik Israel dan Palestina memunculkan dua kubu pemikiran di tanah air Indonesia. Ada yang pro-Palestina dan ada yang pro-Israel. Mayoritas adalah yang pro-Palestina, sedangkan yang pro-Israel jumlahnya hanya beberapa gelintir orang, sebagaimana jumlah orang Israel yang juga sangat sedikit, dengan jumlah penduduk DKI Jakarta saja beda-beda tipis, sekitar sembilan juta orang. Dilihat dari opini yang beredar, para pendukung Israel ini miskin data, berpendapat hanya parsial, tidak utuh, dan menyandarkan pendapatnya dari sumber-sumber Israel. Mereka membenci Hamas yang dianggapnya penjahat dan teroris karena melawan Israel. Padahal, Hamas eksis itu disebabkan perilaku Israel yang banyak melakukan kejahatan kepada bangsa Palestina.

Jika Israel dari dulu mau secara beradab mengikuti program “two state solution”, ‘solusi dua negara merdeka’, yaitu di wilayah itu tercipta Negara Israel Merdeka dan Palestina Merdeka dengan hidup berdampingan, situasinya akan jauh berbeda, persoalan bisa diselesaikan dengan cara berdialog dan diskusi-diskusi yang jauh lebih elegan. Akan tetapi, zionis lebih memilih jalan premanisme, terorisme, dan kriminalisme yang mengakibatkan situasi semrawut hingga saat ini. Mereka memang kurang belajar dari sejarah mereka sendiri yang penuh masalah dan penuh kekacauan dari zaman ke zaman.

            Bagi zionis dan para pendukungnya, termasuk yang berada di Indonesia, Israel memiliki hak untuk melakukan kekerasan dan kekejaman terhadap bangsa Palestina dengan dalih bahwa Israel pun berhak hidup dan membela dirinya. Oleh sebab itu, bagi mereka, Hamas adalah penjahat yang harus dimusnahkan karena melawan Israel. Bagi Palestina dan para pendukungnya di seluruh dunia, Zionis Israel adalah penjahat karena menjajah Palestina. Hamas adalah pahlawan yang mengimbangi berbagai kejahatan yang dilakukan Israel terhadap rakyat Palestina.

            Sesungguhnya, perbedaan pendapat dan pemikiran ini selalu ada dalam setiap konflik yang terjadi antara para penjajah dengan bangsa yang dijajah. Tidak terlalu aneh.

            Di Indonesia, bagi Belanda, selaku penjajah, dan para pendukung penjajahan, Pangeran Diponegoro adalah perampok, penjahat, dan provokator yang menghasut para petani untuk memberontak terhadap Belanda. Akan tetapi, bagi Indonesia, Pangeran Diponegoro adalah pahlawan yang sangat dihormati hingga saat ini karena membela rakyat kecil, termasuk para petani.

            Haji Hasan  Arif dari Cimareme, Garut, adalah provokator, ekstrimis, dan penghasut karena memprovokasi para petani untuk tidak menyerahkan beras sebagai pajak kepada Belanda. Dia mengumpulkan para santri dari Garut, Ciamis, Tasikmalaya, Sumedang, Bandung, dan beberapa daerah lainnya di Jawa Barat untuk berperang  melawan Belanda. Bagi Belanda, selaku penjajah, dan para pendukungnya, Haji Hasan Arif adalah penjahat yang harus dibunuh karena melawan penjajahan. Akan tetapi, bagi Indonesia, khususnya rakyat Garut, Hasan Arif adalah pejuang, pahlawan karena melakukan perlawanan kepada Belanda.

            Omar Mochtar, bagi Italia adalah perampok, pembunuh, dan penjahat karena melakukan serangkaian serangan kepada pasukan Italia yang melakukan penjajahan pada Libya. Bagi rakyat Libya dan para pendukungnya, Omar Mochtar adalah pejuang, pahlawan, dan mujahid yang sangat dihormati. Ia sampai hari ini dikenal dengan gelarnya sebagai “Lion of The Desert”, ‘Singa Padang Pasir’.

            Hamas bagi Zionis Israel dan pendukungnya adalah penjahat karena melakukan perlawanan terhadap Israel yang menjajah Palestina. Bagi bangsa Palestina dan pendukungnya, saat  ini Hamas adalah pejuang dan pahlawan karena melakukan pembalasan atas kejahatan yang dilakukan Israel kepada bangsa Palestina.

            Berdasarkan fakta-fakta tersebut, sebutan pahlawan atau penjahat bergantung posisi kita. Jika kita mendukung penjajahan, mereka yang melawan penjajahan adalah penjahat. Sebaliknya, jika kita mendukung rakyat terjajah, mereka yang melawan penjajahan adalah pejuang dan pahlawan. Posisi kita menentukan pendapat kita.

            Secara konstitusi, rakyat Indonesia wajib mendukung rakyat terjajah dan harus anti terhadap penjajahan. Secara kemanusiaan yang berlaku universal, kita wajib mengakui bahwa semua manusia itu memiliki hak dasar yang sama untuk merdeka. Secara ketuhanan, kita harus memahami bahwa semua manusia itu memiliki kewajiban untuk hidup harmonis dan saling menyayangi.

Ingat bahwa  pendapat dan perilaku kita akan dimintai pertanggungjawaban di alam akhirat nanti.

Sampurasun.

Saturday, 15 May 2021

Palestina Jangan Bergantung pada Negara Lain

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya




Hidup itu jangan selalu bergantung pada orang lain. Boleh sekali-sekali, tetapi tidak untuk selamanya. Kita harus mampu mengandalkan potensi, kekuatan, dan kreativitas diri agar lebih punya harga diri dan sanggup untuk memutuskan segala hal untuk kebaikan diri kita sendiri. Jika kita selalu hidup bergantung kepada orang lain, selalu berharap belas kasihan orang lain, kekuasaan kita untuk berkuasa terhadap diri sendiri pun akan sangat rendah. Wibawa kita akan sangat minim.

            Demikian pula dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Suatu bangsa atau negara akan berwibawa jika mampu menggali potensi dirinya, kemudian mewujudkannya dalam kehidupan internasional. Kita bisa lihat Singapura, negara kecil segede pelok buah mangga itu mampu berwibawa karena dapat mengeksplorasi potensi dirinya, baik para elit maupun rakyatnya, kemudian menggunakannya dalam pergaulan internasional.

            Jika kita melihat kasus-kasus di Palestina terkait konfliknya dengan Israel, tampak sekali ketergantungannya kepada negara lain. Setiap terjadi konflik, Palestina, dunia Arab, negara berpenduduk mayoritas muslim, maupun para aktivis kemanusiaan kerap berteriak meminta bantuan dan pertanggungjawaban negara lain.

            Kok Arab Saudi diam saja?

            Bagaimana negara-negara muslim lainnya? Kok tenang-tenang saja?

            Turki seharusnya kirim pasukan perang melawan Israel ke Palestina!

            Indonesia sebagai negara berpenduduk muslim terbesar di dunia seharusnya lebih keras bersikap kepada Israel!

            Bagaimana pertanggungjawaban PBB?

            Kalimat-kalimat semacam itu sering terdengar. Hal itu menjadikan Palestina sebagai “anak teraniaya” yang harus selalu dilindungi orang lain. Padahal, di tanah itulah muncul kisah manusia paling perkasa sedunia “Syamun Al Ghazi” yang dikenal dunia lewat film dan  ceritera sebagai “Samson”.

            Sesungguhnya, kemerdekaan, kedaulatan, dan kekuasaan mengatur dirinya sendiri adalah bergantung pada dirinya sendiri. Kita bisa berkaca pada kemerdekaan Negara Indonesia yang mengalami penjajahan paling mengerikan di muka Bumi dalam waktu yang sangat panjang (C. Santin dalam Soekarno : 1963), lebih lama dibandingkan Palestina. Dalam hitungan saya dari beberapa literatur yang saya baca, bantuan dari luar negeri atau pihak asing untuk mencapai kemerdekaan Indonesia, paling hanya 10%; kemudian 10% dari momen dunia saat itu; persentase terbesarnya adalah 80% perjuangan bangsa Indonesia sendiri.

            Bantuan pihak asing yang diterima Indonesia bisa berupa dukungan kepada perjuangan dan kemerdekaan Indonesia di organisasi internasional, pendidikan para pemuda Indonesia, bantuan materi bagi orang-orang Indonesia yang menjalin hubungan dengan orang-orang di luar negeri, dan lain sebagainya. Momen dunia yang menguntungkan Indonesia adalah kekalahan Jepang setelah perang melawan pasukan multinasional (sekutu). Perjuangan rakyat Indonesia adalah penyumbang terbesar terhadap keberhasilan mendapatkan kemerdekaan Indonesia.

            Hal yang paling menguatkan perjuangan Indonesia adalah adanya rasa persatuan, senasib dan sepenanggungan, serta kesetiaan kepada komando revolusi. Saya teringat ajaran guru saya ketika SD soal “sapu lidi”. Sapu lidi itu kuat dan bermanfaat jika lidi-lidi yang terpisah itu diikat dan disatukan menjadi sapu lidi. Akan tetapi, jika diceraiberaikan menjadi lidi yang terpisah-pisah, akan lemah dan mudah dipatahkan. Begitulah perumpaan “persatuan Indonesia”. Oleh sebab itu, sampai saat ini pemerintah Indonesia dan rakyat Indonesia yang “waras otak” selalu memerangi setiap upaya beberapa gelintir orang yang dianggap mengancam persatuan dan kesatuan Republik Indonesia. Kalau Indonesia sampai tercerai-berai, lemahlah kemerdekaan negaranya.

            Begitu pula dengan Palestina saat ini. Saya kurang yakin jika kemerdekaan Palestina bisa dicapai jika hitungan persentasenya dibalik: 80% bantuan asing, 10% momen dunia, dan 10% perjuangannya sendiri. Sulit sekali menjadi berdaulat jika hitungannya seperti itu.

            Situasi dan kondisi di Palestina saat ini masih belum menunjukkan rasa persatuan yang utuh. Kelompok-kelompok perlawanan atau kalau diibaratkan sebagai lidi-lidi yang ada, masih tercerai berai, belum kuat seperti sapu lidi yang terikat kuat. Tak jarang di antara kelompok-kelompok itu terlibat perselisihan yang sebetulnya merugikan mereka sendiri. Israel dan para pendukung Israel memanfaatkan kelemahan Palestina itu untuk terus memperlemah Palestina dan memiliki celah untuk bersikap arogan terhadap Palestina.

            Bersatulah dulu dalam satu komando, insyaallah sekuat Syamun Al Ghazi atau Samson.

            Soal senjata?

            Penjajah Indonesia menggunakan senjata modern dan canggih, kita awalnya cuma pakai bambu runcing. Bisa menang kok.

            Sampurasun.

Friday, 14 May 2021

Jangan Bela Palestina dengan Hoax

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Palestina telah berulang-ulang mendapatkan perlakuan buruk dan keji oleh pasukan Israel. Tentunya, penderitaan warga Palestina menumbuhkan rasa simpati dan empati manusia. Banyak kecaman kepada Israel dan dukungan kepada Palestina. Bentuk dukungannya bermacam-macam dan itu bagus. Banyak pemerintah dari berbagai negara dan warga dunia yang ingin menghentikan kekejaman Israel kepada Palestina, baik mendesak PBB atau menggalang solidaritas sesama manusia untuk menyelesaikan situasi.

            Berbagai dukungan itu sangat bagus dan bermanfaat. Akan tetapi, dukungan itu akan rusak jika ditambah-tambahi dengan hoax, ‘berita bohong’ atau ‘berita palsu’ yang jelas menyesatkan. Contohnya, banyak beredar video atau foto yang menggambarkan bahwa pasukan Turki telah datang ke Palestina untuk melawan Israel. Penayangan video atau postingan foto-foto tersebut jelas merupakan dukungan untuk Palestina dan menguatkan harapan para pendukung Palestina di seluruh dunia. Sayangnya, penayangan atau postingan tersebut adalah palsu, hoax, misleading, yang akhirnya menyesatkan.

Ketika saya melihat postingan-postingan itu, segera saja timbul banyak pertanyaan.

Semudah itukah Turki memasukkan angkatan perang ke Palestina?

Mengapa baru sekarang mengirimkan pasukan, bukankah kekejaman Israel sudah terjadi sejak dulu?

Bagaimana reaksi PBB?

Seberapa besar penolakan dan kecaman negara-negara pendukung Israel terhadap Turki?

Bagaimana pula reaksi Israel terhadap kedatangan pasukan Turki untuk melawan dirinya?

Masih banyak pertanyaan tentang hal itu dan tidak ada jawabannya karena itu adalah berita palsu.

Saya jadi teringat ketika Israel melarang helikopter Angkatan Udara Yordania yang mengangkut Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Retno Marsudi memasuki wilayah Palestina untuk melantik Konsul Kehormatan di Ramallah. Begitulah Israel, seorang menteri dari Indonesia saja mereka tahu dan melarangnya untuk masuk ke Palestina. Akibatnya, Yordania, Palestina, dan Indonesia pun mengubah rencana. Para pejabat Palestina, Menlu RI Retno Marsudi, Yordania, dan negara-negara lain yang diundang hadir pun akhirnya melangsungkan upacara pelantikan di Amman, Kedubes RI, di Yordania.

Coba perhatikan upacara pelantikan saja diketahui dan dicegah Israel untuk terlaksana di Palestina. Apalagi menggelar pasukan di Palestina, pasti jadi insiden internasional.

Sebetulnya sih, Israel welcome, mempersilahkan Retno Marsudi untuk masuk wilayah Palestina. Syaratnya adalah Retno Marsudi mau berkunjung ke Tel Aviv, Israel untuk bertemu dengan para pemimpin Israel. Akan tetapi, Menlu RI Retno  Marsudi menolak untuk bertemu dan berdialog langsung dengan Israel. Akibatnya, Israel marah dan melarang Retno Marsudi untuk masuk wilayah Palestina.

Soal video hoax pasukan Turki itu pun sudah diklarifikasi medcom.id bahwa video yang diklaim pasukan Turki tiba di Palestina itu adalah video pada 2018 ketika Turki memerangi pemberontak Kurdi bukan buat menyerang Israel.

Hoax itu, baik video, foto, maupun narasi sangat merugikan. Di Indonesia sudah banyak yang merasakannya. Pelaku dan pendukung hoax sudah banyak yang ditangkap. Harapannya juga palsu semua karena tidak nyata yang akhirnya rugi karena memang  PHP. Disangkanya untung, nyatanya rugi. Disangkanya menang, nyatanya kalah. Berharap Turki melawan pasukan Israel karena hoax, nyatanya cuma PHP karena memang tidak ada kenyataannya.

Sampai tulisan ini dibuat, nggak pertempuran antara Turki dengan Israel terkait konflik Israel dan Palestina baru-baru ini, iya kan?

Itu karena kebohongan.

Membela Palestina itu sebaiknya berdasarkan kenyataan, fakta, dan tidak perlu PHP atau tertipu hoax. Hal yang jelas itu adalah Presiden Turki Erdogan menggertak atau mengancam untuk menggelar pasukan dan mendesak dunia internasional untuk menghentikan kekerasan Israel kepada Palestina. Itu benar sebagaimana pemerintah Indonesia mendesak Dewan Keamanan PBB untuk bersikap tegas kepada Israel dan usulan DPR RI agar negara-negara yang tergabung dalam Oki untuk menggelar KTT dalam menyikapi kekerasan Israel.

Jangan membela palestina dengan hoax karena hanya harapan palsu, PHP, dan memang tidak ada kenyataannya. Rugi sendiri.

Sampurasun.

Wednesday, 12 May 2021

Persatuan Palestina

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya


Setiap memperhatikan konflik antara Palestina berhadapan dengan Israel, saya selalu lebih memperhatikan dari sisi Palestina. Kalau Israel itu, tidak perlu terlalu diperhatikan karena mereka penjajah, memiliki  banyak sumber daya, baik di dalam negerinya maupun dari negara-negara pendukungnya.

            Sejak dulu pun masalah dalam diri Palestina selalu sama, yaitu belum adanya persatuan di antara kelompok-kelompok perlawanan di Palestina sendiri. Tak jarang di antara kelompok-kelompok itu terlibat ketegangan dan ketidaksepahaman yang jelas semakin melemahkan kekuatan Palestina sendiri.

Di Indonesia hal ini menjadi kesadaran utama untuk menjadi bangsa yang merdeka. Presiden ke-1 RI Ir. Soekarno berjuang berkeliling untuk menyadarkan rakyat Indonesia tentang pentingnya persatuan dan kesatuan. Orang-orang Indonesia sebetulnya sudah sejak lama melawan penjajahan, tetapi tidak berhasil, selalu kalah karena dilakukan oleh sekelompok-sekelompok perlawanan atau raja-raja, sultan-sultan di daerahnya masing-masing. Perlawanan-perlawanan lokal itu tidak membuat Indonesia merdeka. Baru setelah rakyat beserta para raja dan para sultan menyadari pentingnya persatuan Indonesia, gerakan perlawanan pun semakin besar hingga mencapai kemerdekaannya sekaligus mampu mempertahankan kemerdekaan itu hingga hari ini.

            Tampaknya Palestina harus belajar banyak dari pengalaman Indonesia dalam memerdekakan dirinya, terutama adanya rasa persatuan, mengesampingkan ego kelompok, dan memiliki pemimpin utama yang diterima oleh semua kelompok. Di Indonesia pemimpin yang diterima seluruh kelompok dalam masa revolusi adalah Ir. Soekarno yang kemudian menjadi presiden pertama Republik Indonesia.

            Sampai hari ini, di Palestina kelompok-kelompok perlawanan ini belum terekat secara utuh dan belum memiliki pemimpin utama yang dapat merekatkan seluruh para pejuang Palestina. Benar memang Palestina memiliki negara dan pemimpin, Indonesia mengakuinya sebagai negara yang sah, tetapi pemerintah Palestina tampaknya masih lemah dan belum memiliki kemampuan menyatukan seluruh elemen perjuangan Palestina.

            Jika saja Palestina dapat mempersatukan para pejuangnya dalam komando yang sama meskipun terdiri atas berbagai kelompok, insyaallah kekuatannya akan berlipat-lipat ganda dan harapan untuk merdeka secara utuh, baik dari segi hukum maupun dari segi fakta, akan dapat dicapai. Jika persatuan ini belum bisa dicapai, Palestina pun masih harus perlu waktu lama untuk menjadi negara merdeka yang berrdaulat penuh sebagaimana bangsa-bangsa lainnya.

            Meskipun persatuan bukanlah satu-satunya syarat untuk merdeka, paling tidak, daya tekan dan unjuk kekuatan Palestina di hadapan Israel dan dunia pun akan semakin kuat dan semakin tangguh.

            Sampurasun





Wednesday, 30 September 2020

Efektivitas Politik Luar Negeri Indonesia terhadap Israel dalam Mendukung Kemerdekaan Palestina

  

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Itu judul penelitian yang saya usulkan agar pemerintah tertarik dan bersedia untuk membiayainya mengingat manfaat dari hasil penelitian tersebut dapat menjadi masukan yang berharga bagi Indonesia agar mampu lebih kuat dalam mendukung kemerdekaan Palestina.

            Penelitian ini bermula dari saya melihat adanya masalah yang sudah lama tidak diperhatikan. Secara de jure Palestina telah merdeka dengan adanya proklamasi dan pengakuan dari beberapa negara lainnya sebagai negara merdeka. Akan tetapi, secara de facto Palestina masih berada dalam kekuasaan Israel dan diatur oleh kehendak Israel.

            Indonesia sebagai negara sahabat Palestina telah bersikap keras terhadap Israel, yaitu tidak membuka hubungan diplomatik dengan Israel. Seluruh presiden Indonesia, sejak Soekarno sampai dengan Jokowi, sikapnya tetap sama, yaitu tidak membuka hubungan diplomatik dengan Israel. Artinya, selama 75 tahun Indonesia tidak mau berhubungan secara resmi dengan Israel. Hal itu disebabkan pandangan dan keyakinan bangsa Indonesia bahwa penjajajahan itu harus dihapuskan di muka Bumi. Sementara itu, Israel dianggap sebagai penjajah Palestina.




           Dalam kenyataannya, sikap Indonesia tersebut tidak membuat Israel lebih lunak terhadap Palestina. Bahkan, Israel meneruskan programnya untuk menganeksasi/mencaplok wilayah-wilayah di Tepi Barat Palestina dan tetap melakukan penjajahan terhadap Palestina. Oleh sebab itulah, saya merasa tertarik untuk melakukan penelitian sejauh mana efektivitas politik luar negeri Indonesia terhadap Israel dalam mendukung kemerdekaan Palestina yang telah dijalankan Indonesia selama 75 tahun kemerdekaan Indonesia.

            Apakah Indonesia akan tetap melakukan sikap politik luar negeri yang sama pada masa-masa mendatang?

            Apakah Indonesia akan melakukan hal yang lebih keras dan tegas kepada Israel?

            Apakah Indonesia memiliki kemungkinan untuk mengubah sikap politiknya kepada Israel untuk menguatkan dukungannya kepada Palestina?

            Semuanya masih misteri dan diperlukan adanya penelitian.


Saat mempresentasikan proposal penelitian di LPPM Unfari, Bandung


            Tulisan ini sengaja dibuat untuk mendapatkan tanggapan, masukan, saran, dan pendapat dari para pembaca sekalian agar penelitian ini dapat lebih tajam dan bermanfaat bagi semua.

            Proposal penelitian ini sudah diperdebatkan di Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Al Ghifari (LPPM Unfari). Perdebatan yang mengasyikkan itu memberikan banyak masukan dan saran yang sangat berharga sebagai koreksi, perbaikan, dan kritikan yang membangun bagi diri saya.

            Semoga siapa pun yang membaca tulisan ini dapat memberikan banyak masukan dan saran bagi saya untuk memperkaya wawasan dan kemampuan analisis saya. Saya yakin bahwa bukan hanya di lingkungan perguruan tinggi yang memiliki banyak pikiran cemerlang mengenai banyak hal terkait Indonesia-Palestina-Israel, melainkan pula di luar kampus banyak para pemikir cemerlang yang dapat memberikan masukan dan saran berharga bagi dunia akademis. Saya tunggu masukan berharganya.

            Sampurasun.

Wednesday, 19 April 2017

Emas Negeri Saba Ditemukan

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Negeri Saba itu dulunya negeri yang indah, nyaman, makmur, dan kaya raya. Pada masa Indonesia masih berbentuk Benua Sundaland, negeri Saba kekayaannya luar biasa. Di dalam Al Quran banyak dikemukakan kemegahan negeri Saba, baik itu diceriterakan kondisi negerinya secara langsung maupun disiratkan dari sikap-sikap Ratu Balqis/Ratu Boko kepada Nabi Sulaeman as.

            Bagi mereka yang masih percaya bahwa negeri Saba ada di Timur Tengah, boleh saja. Cari saja tempat bernama Saba yang ciri-cirinya sesuai yang diterangkan Allah swt dalam Al Quran. Kalian tidak akan menemukannya. Mereka yang masih bertahan dengan pendapat lama bahwa Saba ada di Timur Tengah adalah mereka yang pikirannya masih Arab Centris, yaitu menganggap bahwa Islam berasal dari Arab yang akibatnya mendorong anggapan bahwa isi Al Quran selalu memaparkan segala hal yang berbau Arab dan Timur Tengah. Padahal, Islam itu ada di seluruh pelosok dunia, termasuk di tempat-tempat terpencil dan terisolasi sekalipun. Di sana ada bahasa, di sana ada Islam. Di sana ada kaum, di sana ada Islam. Hal itu disebabkan Allah swt selalu mengirimkan para rasul-Nya ke setiap umat dengan menggunakan bahasa umat itu masing-masing. Tidak ada satu umat pun yang tidak dihadirkan Rasul di antara mereka.

            Hal ini sama dengan pohon Tin. Dicari-cari di seluruh penjuru Arab dan Timur Tengah pun tidak pernah ditemukan yang namanya pohon Tin. Akibatnya, ada seorang ahli tafsir Timur Tengah yang berpendapat bahwa pohon Tin itu adalah pohon Bodi tempat Budha Sidharta Gautama bersemedi. Sesungguhnya, pohon Tin itu secara tak sengaja saya temukan di Majalengka, Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Masyarakat di sana seluruhnya mengatakan pohon itu adalah pohon Tin dan meyakinkan saya bahwa pohon itulah yang digunakan bersumpah oleh Allah swt. Pohonnya rindang dan tidak tinggi sehingga kita tidak perlu memanjat pohon itu untuk memetik buahnya maupun daunnya.

            Stop berpikir Arab sentris, Islam itu ada di mana-mana dan dari mana-mana.

            Kembali ke soal negeri Saba. Negeri Saba itu ada di Indonesia. Ciri-ciri lokasinya tepat seperti yang diinformasikan Allah swt di dalam Al Quran. K.H. Fahmi Basya sudah menerangkannya dengan baik, pelajari saja tentang negeri Saba dari tulisan hasil penelitiannya.

            Kekayaan negeri Saba itu luar biasa, apalagi setelah Ratu Balqis berkenalan semakin dekat dengan Nabi Sulaeman as yang berasal dari Sleman itu, negeri Saba menjadi semakin kaya raya luar biasa. Kita tahu bahwa Sulaeman as itu adalah nabi yang paling kaya dan pemimpin dunia yang paling luas wilayah kekuasaannya.Tidak akan lagi ada orang yang memiliki kekuasaan seluas Nabi Sulaeman as. Hal itu disebabkan Nabi Sulaeman as pernah berdoa kepada Allah swt untuk diberikan kekuasaan yang tidak ada satu orang pun lagi yang seberkuasa dia di muka Bumi ini. Oleh sebab itu, Nabi Muhammad saw pun sampai harus membatasi dirinya untuk menghormati Nabi Sulaeman as yang membangun Candi Borobudur itu. Ketika Nabi Muhammad saw diajak berkelahi oleh Iblis Laknatullah, terjadilah pergumulan sengit sampai-sampai lidah Iblis yang sempat menjilat Nabi Muhammad saw masih terasa terus di tangan Nabi Muhammad saw dalam waktu yang sangat lama. Ketika Iblis kalah berkelahi, Nabi Muhammad saw tadinya akan mengikat Iblis itu di pohon korma untuk dijadikan mainan anak-anak sehingga anak-anak kecil bisa melempari Iblis itu dengan batu. Akan tetapi, Nabi Muhammad saw teringat saudaranya, Sulaeman as, dan dia tidak ingin menyaingi Sulaeman as yang mampu menguasai jin-jin sakti.

            Kata Muhammad saw, “Seandainya aku tidak ingat saudaraku, Sulaeman, aku ikat Iblis di pohon korma agar dijadikan mainan anak-anak.”

            Akhirnya, Iblis dilepaskan lagi oleh Nabi Muhammad saw.

            Kekayaan dan kekuasaan Sulaeman as yang luar biasa itu tentu saja menambah kekayaan negeri Saba milik Ratu Balqis. Padahal, sebelum kenal dengan Nabi Sulaeman as pun sesungguhnya negeri Saba sudah sangat kaya raya. Ketika Sulaeman as meminta Balqis beriman kepada Allah swt, Balqis menguji Sulaeman as dengan memberikan upeti berupa perhiasan emas, permata, mutiara yang dibawa dengan menggunakan tempayan yang sangat banyak. Akan tetapi, Sulaeman as menolaknya, yakinlah Balqis bahwa Sulaeman as adalah nabi dan bukan raja yang suka menaklukan atau menguasai orang lain dengan semena-mena.

            Sayang sekali Saudara-saudara, pada generasi-generasi berikutnya penduduk Saba dan mayoritas penduduk Benua Sundaland sepeninggal para nabi yang diutus ke sana melakukan banyak dosa, lupa kepada Allah swt, terlalu banyak memikirkan duniawi, terlalu banyak kecewa akibat materi, akhirnya kafir dan mengikuti Iblis sampai-sampai menyembah berhala, matahari, gunung, bulan, dan lain sebagainya.

            Akibatnya, Benua Sundaland yang negeri Saba ada di dalamnya itu hancur lebur dikubur dalam tanah akibat banjir besar, gempa tektonik, dan gempa vulkanik yang terjadi bersamaan. Hancurlah kemegahan Benua Sundaland, hilang, dan berubah menjadi kepulauan bernama Indonesia seperti sekarang ini. Meskipun demikian, jejak-jejak kemegahan itu masih ada sampai hari ini. Terlalu banyak bangunan megah dan luar biasa yang masih terkubur di Indonesia. Bangunan-bangunan itu terkadang muncul sendiri secara tiba-tiba dan atau ditemukan oleh penduduk secara tak sengaja, bahkan terkadang berada di halaman rumah penduduk. Hal semacam ini biasa terjadi di Indonesia sehari-hari.

            Di mana perhiasan dan harta negeri Saba yang megah itu?

            Sebagian masih berada terkubur dalam tanah; sebagian hilang dijarah penduduk, dicuri oleh peneliti, atau dirampas para penjajah, lalu dijual di pasar gelap; hanya satu dua yang masih terselamatkan dan bisa dibeli oleh pemerintah, lalu disimpan di museum.

            Hal ini sebagaimana yang diakui oleh Edi Sedyawati dalam artikelnya berjudul Catatan Kecil: Arca “Prabu Silihwangi” dari Talaga (1991). Edi menjelaskan bahwa di daerah Gemuruh, Wanasaba (Wana = hutan, Saba = negeri Saba) yang kita kenal sekarang dengan sebutan Wonosobo, ditemukan banyak arca dalam bentuk lempengan emas. Arca lempengan emas ini satu dua yang terselamatkan masih bisa dilihat di Museum Nasional, Jakarta, Nomor Inventaris 486b dan 517d.

            Adapun arca-arca dan benda pusaka lainnya yang berada di tanah Sunda, tepatnya dari Talaga, dekat Majalengka, daerah Cirebon, sesungguhnya masih aman tersimpan di tempatnya semula sampai 1915. Sesudah itu, “hilang” tak tertelusuri lagi dalam arena jual-beli, kecuali dua arca yang berhasil dibeli untuk museum (Van Naerssen, 1940 : 159) yang sekarang bernama Museum Nasional, Jakarta.

            Masih banyak harta karun peninggalan kemegahan Benua Sundaland, Ratu Balqis, negeri Saba, Istana Sulaeman as, dan seluruh kerajaan megah di Indonesia ini yang terpendam dalam tanah, terkubur akibat kemurkaan Allah swt. Cari hingga ketemu. Siapa cepat, dia dapat. Pemerintah harus lebih cepat karena kekayaannya luar biasa besar. Orang-orang di seluruh dunia selalu membicarakannya dengan kisah The Lost World Atlantis.

            Jadi, bagaimana nasibnya dengan orang-orang Israel yang selalu mengorek-ngorek tanah mencari-cari The Solomon Temple, ‘Istana Sulaeman’, di lokasi Masjid Al Aqsha di Palestina itu?

            Hahaha … mereka tertipu … hahaha …. Kasiman … eh kasihan.

            Istana Sulaeman ada di sini, di Indonesia, dan aman. Setiap jiwa rakyat Indonesia yang jumlahnya 250 juta, apa pun agamanya, akan menjaganya hingga titik darah penghabisan.

            Sebaiknya, beri tahu itu orang-orang Yahudi supaya berhenti mengorek-ngorek tanah, menggali-gali tanah kayak anak kecil main tanah, kasihan mereka.

            Kalau ingin mendapatkan Istana Sulaeman, saya kasih tahu caranya. Berhentilah menjajah Palestina. Kalau berhenti menjajah Palestina, kemungkinan besar Israel bisa membuka hubungan diplomatik dengan Indonesia. Kalau hubungan diplomatik sudah terjadi dengan Indonesia, bisa dilakukan kerja sama penelitian penggalian secara sah, legal, tanpa pertikaian, tanpa perang, dan tanpa pertumpahan darah. Kerja sama ini bisa menguntungkan Indonesia, Islam, Israel, dan Yahudi.

            Saat ini kan tidak bisa bekerja sama dengan Indonesia karena Israel masih menjajah Palestina. Kalau pemerintah Indonesia membuka hubungan diplomatik dengan Israel pada saat Israel masih menjajah Palestina, artinya pemerintah Indonesia sudah mengkhianati Pembukaan UUD 1945 yang menyatakan bahwa penjajahan di atas muka Bumi harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan. Hal itu akan membuat kehancuran bagi pemerintah Indonesia. Haram hukumnya bagi Indonesia bersahabat dengan penjajah. Selama Israel masih menjajah Palestina, selama itu pula tidak akan terjadi hubungan diplomatik dengan Indonesia. Hal yang sangat penting bagi Israel dan Yahudi adalah selama itu pula tidak akan menemukan Istana Sulaeman.

            Hahahaha ….


            Sampurasun.