Showing posts with label Joe Biden. Show all posts
Showing posts with label Joe Biden. Show all posts

Sunday, 19 November 2023

Jokowi-Joe Biden Sepakat Soal Palestina-Israel

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Setelah Presiden Indonesia Jokowi bicara blak-blakan di depan Presiden Amerika Serikat Joe Biden soal konflik Palestina dan Israel, Joe Biden dengan nyata setuju bahwa jalan satu-satunya untuk menyelesaikan masalah itu adalah dengan menggunakan konsep “two state solution”, ‘solusi dua negara merdeka”. Artinya, Palestina harus merdeka dan Israel pun harus merdeka. Kedua pihak dan dunia harus mengakui kemerdekaan kedua negara tersebut. Foto Jokowi bersama Joe Biden saya dapatkan dari Pos-kupang com.


Presiden Indonesia Jokowi dan Presiden Amerika Serikat Joe Biden (Foto: Pos-kupang.com)


            Indonesia sudah sejak lama menyuarakan dan mendukung “solusi dua negara merdeka” tersebut, terutama sejak zaman Presiden Aburahman Wahid atau yang akrab dipanggil Gus Dur. Meskipun Juklak atau Juknis atau teknis pelaksanaan perwujudan dua negara merdeka itu belum jelas, keyakinan bahwa cara itu harus ditempuh untuk menghentikan pertikaian adalah sudah sangat bagus.  Indonesia menolak terjadinya “one state solution”, ‘satu negara merdeka’, artinya Palestina dan Israel bergabung menjadi satu negara. Hal itu disebabkan Palestina akan selalu dirugikan.

            Meskipun solusi itu adalah cara yang paling bagus saat ini, tidak cukup hanya pidato, ceramah, seminar, ataupun imbauan. Solusi ini harus benar-benar dilakukan dan tidak hanya pada upaya “soft diplomacy”,  tetapi juga harus menggunakan upaya  “hard diplomacy”, ‘diplomasi keras’, dengan menggunakan ancaman senjata yang lebih kuat daripada senjata Palestina dan Israel. Mengingat Israel kerap ngeyel dan tidak mematuhi aturan PBB tanpa mendapatkan sanksi dari Amerika Serikat, perlu negara lain yang lebih kuat untuk membelah dan membatasi tanah atau wilayah yang sekarang menjadi tempat konflik. Di tengah perbatasan kedua negara harus dijaga oleh kekuatan yang mampu memisahkan keduanya sekaligus mengancam keduanya agar tidak saling bunuh lagi.

            Kekuatan besar itu bisa jadi Negara Cina dan Negara Rusia yang harus berada di antara atau di tengah-tengah Palestina dan Israel. Adapun komplek Al Quds yang dianggap tempat suci bagi tiga agama harus diserahkan pengelolaan dan pengamanannya kepada Indonesia. Dengan demikian, untuk awal terciptanya solusi dua negara merdeka itu, bisa dilakukan dengan cara itu. Apabila sudah sangat sangat kondusif dan kedua pihak saling menerima. Perbatasan itu bisa diserahkan kembali kepada Palestina dan Israel, sedangkan Al Quds bisa diserahkan pada PBB.

            Sekarang ini masih sulit terjadi solusi dua negara itu. Hal itu disebabkan, baik di Palestina maupun Israel, ada kelompok-kelompok radikal yang sangat sulit dijinakkan. Bagi radikalis Israel, Palestina itu tidak pernah ada di muka Bumi. Demikian pula, bagi Palestina radikal, Israel itu tidak pernah ada. Kelompok-kelompok ini harus diajak bicara dan disadarkan bahwa faktanya, kenyataannya, Palestina itu ada dan Israel itu juga tetap ada. Upaya saling memusnahkan sampai hari ini tidak pernah berhasil. Mereka tetap ada di muka Bumi, tidak ada yang musnah.

            Jokowi dan Joe Biden sudah ada kemajuan dalam hal ini, tinggal praktik pelaksanaannya saja. Jika kesepakatan atau pidato yang bagus itu tanpa ada tindak lanjutnya, itu hanya omong doang, cuma bacot. Hal ini mirip dengan lirik lagu yang diciptakan gadis-gadis Garut yang tergabung dalam “Voice of Baceprot”, ‘VOB’.

            Mereka bilang, “We hate speech,…. Then killed another as a satan. Sataaan …!”

            ‘Kami benci ceramah, …. Kemudian, membunuh orang lain seperti syetan. Syetaaan …!’

            Begitu lirik lagu mereka yang berjudul “The Other Side of Metalism”. Foto VOB saya dapatkan dari YouTube.


Voice of Baceprot (VOB) (Foto: YouTube)

            Sampurasun.

Sunday, 15 May 2022

Jokowi Tidak Disambut Biden? Nih, Saya Ajarin Kamu Gratis, Drun!

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Ketika Presiden Republik Indonesia Joko Widodo datang ke Amerika Serikat dalam rangka Asean-US Special Summit atau dalam bahasa Indonesia-nya Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Khusus Asean-AS pada Selasa, 10 Mei 2022, tidak disambut Presiden Amerika Serikat Joe Biden di bandara, Washington DC. Kejadian ini tentu saja menjadi bahan bulian kaum nyinyirun tanpa ilmu. Mereka bilang bahwa kejadian ini menunjukkan bahwa Indonesia tidak dihargai dan Indonesia salah jalan dalam menjalankan negara.

            Saya kasih tahu kamu, Drun. Indonesia itu memiliki posisi yang sangat tinggi karena menempati jabatan sebagai koordinator kemitraan Asean-AS. Anggota Asean itu ada sepuluh negara. Sudah pasti Indonesia harus dihargai karena posisinya sangat tinggi.

            Kemudian, kalau Indonesia disebut salah jalan karena tidak disambut Presiden AS, sejak kapan keberhasilan atau kemunduran Indonesia ditentukan oleh sambutan Presiden AS di bandara?

            Bodoh sekali jika keberhasilan suatu negara ditentukan oleh sambutan di bandara.

            Berhasil-tidaknya Negara Indonesia itu ukurannya bukan sambutan negara lain, melainkan sejauh mana Indonesia dapat mencapai tujuan nasionalnya yang ada pada alinea keempat Pembukaan UUD 1945. Itu ukurannya.

            Ngerti kamu, Drun?

            Kaum nyinyirun itu pikirannya mirip atau bahkan sama kayak Rocky Gerung atau Rizal Ramli yang dasarnya banyak pada lamunan, kira-kira, tanpa cek kelengkapan data dan fakta, tetapi tiba-tiba memberikan kesimpulan yang salah dan menyesatkan. Begini contohnya, kalau tidak salah, koreksi saya kalau salah, Rocky Gerung pernah bilang bahwa rakyat Indonesia tidak bisa berhaji dan umroh ke Mekah gara-gara Rizieq Shihab ditangkap polisi.

            Pernah dengar kan?

            Apa hubungannya antara penangkapan Rizieq dengan penundaan haji atau umroh?

            Penundaan itu diberlakukan Arab Saudi kepada semua negara, bukan hanya Indonesia, gara-gara pandemi Covid-19. Ketika situasi mulai terkendali, Arab Saudi membuka kembali perjalanan ibadat ke Mekah. Sekarang, secara bertahap orang-orang sudah bisa ke Mekah lagi, umroh. Padahal, Rizieq sudah sah menurut hakim masuk penjara dan memang sedang di penjara. Itu bukti bahwa tak ada hubungan antara penundaan ibadat ke Mekah dengan penangkapan Rizieq seperti yang dikatakan kaum nyinyirun bego itu.

            Orang-orang itu memang bego, pokoknya benci Jokowi. Siapa pun yang melawan Jokowi akan mereka dukung. Dulu dukung Prabowo, tetapi karena Prabowo gabung Jokowi, sekarang dukung Anies. Nanti, kalau Anies Baswedan gabung Jokowi, terus ada sandal bakiak melawan Jokowi, mereka pasti mendukung sandal bakiak.

            Anehnya, meskipun bego, tetap saja banyak orang yang percaya. Yah, seperti yang saya bilang, kalau ada bakiak melawan Jokowi, bakiak itu akan dianggap cerdas. Bakiak aja dianggap cerdas apalagi orang, meskipun bego, akan disebut cerdas.

            Balik ke soal sambutan Biden terhadap Jokowi. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Teuku Faizasyah menjelaskan bahwa setiap negara memiliki protokoler dalam menyambut tamu dari luar negeri. Di samping itu, pertemuan itu adalah bukan pertemuan bilateral, melainkan semi multilateral.

            Saya kasih tahu kamu, Drun. Pertemuan bilateral itu adalah pertemuan antara dua negara, misalnya, Indonesia-Turki, Jokowi-Erdogan, foto Jokowi Erdogan saya dapatkan dari Merdeka; Jokowi-Putin, foto mereka saya dapatkan dari Tribun Medan; Jokowi-Barack Obama, foto mereka saya dapatkan dari Okezone News.


Jokowi-Erdogan (Foto: Merdeka)


Jokowi-Putin (Foto: Tribun Medan)


Jokowi-Barack Obama (Foto: Okezone News)

            Dalam pertemuan bilateral, terdapat kemungkinan presiden suatu negara akan menyambut langsung presiden negara lain yang berkunjung ke negaranya karena itu memang pertemuan dua negara secara khusus untuk membicarakan kepentingan yang khusus pula. Bahkan, bisa disambut langsung pula di bandara bergantung situasi, misalnya kesehatan. Presiden AS Joe Biden itu sudah berusia di atas tujuh puluh tahun, jadi normal jika tidak ada sambutan di bandara karena alasan kesehatan. Di samping itu, tidak semua urusan bilateral harus selalu diurus kepala negara, bergantung keperluan dan kedekatan mereka. Misalnya, hubungan dengan PM Suriname, hanya diurus oleh Wapres RI; hubungan dengan Presiden Timor Leste, cukup oleh Gubernur NTT Viktor Laiskodat.

            Contoh sambutan langsung yang terjadi baru-baru ini, 15 Mei 2022, adalah ketika Jokowi sepulang dari AS dan transit di Abu Dhabi, disambut oleh Mohammed bin Zayed (MBZ) yang sekarang menggantikan ayahnya, Sheikh Khalifa, menjadi presiden UEA. Itu hubungan bilateral yang terjadi karena kedekatan dan perasaan kekeluargaan yang tinggi. Jokowi menyampaikan rasa duka cita atas wafatnya Sheikh Khalifa. Di samping itu, Jokowi sudah dianggap saudara oleh MBZ. Selain itu, memang MBZ punya peranan yang sangat penting dalam pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) di Kalimantan. Foto pertemuan Jokowi-MBZ saya dapatkan dari SINDONews.


Jokowi_MBZ (Foto: SINDONews)


            Hal ini sebagaimana yang diakui oleh Luhut Binsar Pandjaitan ketika diajak bicara oleh MBZ, “Jenderal Luhut, tanya apa yang diinginkan Jokowi, presidenmu. Aku akan berikan apa yang dia mau. Dia saudaraku.”

            Nah, Drun, selain pertemuan bilateral, ada juga yang disebut pertemuan multilateral, yaitu pertemuan atau hubungan dengan banyak negara, tidak hanya dua negara. Kalau banyak negara, yang datang ke sebuah negara, kemungkinannya kecil akan disambut kepala negara karena sangat banyak. Apalagi jika kepala negaranya sudah sangat sepuh seperti Joe Biden, nggak akan di bandara, melainkan di tempat lain, misalnya di Gedung Putih, White House.

            Teuku Faizasyah menjelaskan bahwa semua kepala negara angota Asean yang hadir dalam KTT Khusus Asean-AS itu diperlakukan sama karena sifatnya multilateral atau semi multilateral. Itu bagian dari protokoler yang tidak begitu penting. Hal yang penting itu adalah isi atau substansi dari yang dibicarakan dan hasil yang dapat dibawa untuk kepentingan negara masing-masing. Semi multilateral itu karena pertemuan antara AS dan Asean adalah pertemuan dua entitas yang dalam satu entitas Asean terdapat sepuluh negara.

            Mudah-mudahan kalian mengerti, Drun.

            Kalau ada yang bilang PM Singapura disambut Presiden AS Joe Biden di bandara, itu medianya abal-abal dan beritanya hoaks. Saya cari-cari di media mainstream, tidak ada. Saya cari foto dan videonya, juga tidak ada. Malah dalam akun @yusuf_dumdum disebutkan bahwa berita itu adalah hoaks. Ya sudah, memang saya juga tidak menemukan buktinya. Itu hoaks yang hanya menyalurkan hasrat kebencian saja.

            Rocky Gerung bilang karena Jokowi tidak disambut pejabat AS di bandara, Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi harus dipecat. Ah, Rocky Gerung itu cuma manusia bego yang sok tahu, dia itu kan bukan ahli hubungan internasional. Mana ngerti dia soal itu. Anehnya, banyak orang yang percaya orang bego kayak begitu. Kalau percaya sama manusia bego, ya bakalan jadi bego juga.

            Kalau mau belajar tentang hubungan internasional, harus ke ahllinya, misalnya, Menlu Retno Marsudi, Marty Natalegawa, Conie Rahakundini Bakrie, Hikmahanto Juwana, Dina Sulaeman, Jemadu Jemat, Farhan, atau bisa juga ke saya. Saya kan Ketua Program Studi Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Al Ghifari.

            Meskipun tidak disambut di bandara, Presiden AS Joe Biden tetap menyambutnya di Gedung Putih. Biden tahu bahwa Jokowi keras kepala, punya posisi penting di Asean, dan tidak bisa diatur AS karena punya politik luar negeri bebas dan aktif, bebas dari tekanan negara mana pun dan aktif mewujudkan perdamaian dunia. Jokowi tidak akan bisa ditundukkan agar sumber daya alam Indonesia dikuasai AS serta tidak bisa ditekan untuk ikut memberikan sanksi agar melemahkan Rusia. Indonesia itu harus berteman dengan siapa saja, berdamai dengan siapa saja, kecuali dengan teroris, pengedar Narkoba, dan perusak keharmonisan hidup di dunia.


Jokowi-Joe Biden (Foto: About Malang)


            Foto Jokowi dengan Biden saya dapatkan dari About Malang.

            Banyak belajar, Drun!

            Kalau banyak belajar, kalian tidak akan jadi orang yang mudah ditipu dan berupaya juga tidak menjadi penipu.

            Paham, Drun?

            Hayu ah.

            Sampurasun.

Saturday, 30 April 2022

Amerika Serikat Jangan Munafik


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Munafik itu cirinya ada tiga, yaitu: kalau berbicara, berbohong; kalau diberi kepercayaan, berkhianat; kalau berjanji, diingkarinya. Begitu ya, semua orang Islam seharusnya tahu hal ini.

Hoaks itu bohong. Jadi, pembuat dan penggemarnya adalah orang-orang munafik. Meskipun teriak-teriak takbir dan katanya bakal masuk surga, mereka aslinya munafiqun.

Terkait perang Rusia Vs Ukraina, Amerika Serikat (AS) menekan Indonesia untuk tidak mengundang Rusia ikut dalam perhelatan G20 yang dipimpin Indonesia di Bali. Beberapa waktu lalu Presiden AS Joe Biden mengatakan bahwa jika Presiden Rusia Putin diundang di KTT G20, Presiden Republik Indonesia Jokowi pun harus mengundang Presiden Ukraina Zelensky untuk hadir di Bali.

Sebagai manusia normal, orang akan berpikir bahwa AS dan sekutu Nato-nya akan ikut hadir menyukseskan agenda G20 jika Zelensky diundang ke Bali untuk bertemu dengan Putin membahas perang yang melibatkan keduanya. Jika hanya Putin yang diundang, sedangkan Zelensky tidak, wajar jika AS dan sekutunya kecewa terhadap Jokowi, Indonesia, kemudian memboikot G20.

Sebetulnya, tekanan AS terhadap Indonesia untuk mengundang Zelensky adalah sebuah bentuk arogansi keangkuhan AS terhadap negara lain, khususnya terhadap Indonesia. Hal itu disebabkan Indonesia tidak harus mengundang Ukraina dalam KTT G20 karena Ukraina bukanlah anggota dari G20. Jokowi bisa saja tidak mengundang Ukraina, tetapi tetap mengundang Rusia untuk hadir di Bali. Akan tetapi, karena perang ini sangat mengganggu hubungan antarnegara dan mengganggu pula ekonomi dunia, Jokowi berinisiatif untuk mengundang pula Presiden Ukraina Zelensky untuk hadir di Bali dan diharapkan dapat bertemu dengan Presiden Rusia Putin untuk menyelesaikan beragam masalah dan mendapatkan saling pengertian.


Presiden Republik Indonesia Jokowi dan Presiden Amerika Serikat Joe Biden


Foto Jokowi dan Joe Biden saya dapatkan dari CNBC Indonesia.

Jokowi sudah mengundang Zelensky meskipun bukan anggota G20. Artinya, AS dan sekutunya seharusnya tidak punya alasan untuk tidak menyukseskan G20. Mereka harus ikut karena Indonesia, selaku Presidensi G20, menjembatani pula perdamaian dunia, khususnya antara Rusia dan Ukraina. Akan tetapi, jika AS dan konco-konconya tidak juga hadir menyukseskan G20, padahal Zelensky sudah diundang, hal itu menunjukkan dengan lebih jelas bahwa AS dan sekutunya adalah negeri munafik, hipokrit, dan arogan.

Saya ingatkan masa kemunafikan dan kearoganan barat, sudah hampir berakhir dan itu akan membuat barat carut-marut. Mau tidak mau, kekuatan timur Rusia menunjukkan eksistensinya dengan dibantu belasan negara yang siap bertempur bersama Rusia.

AS dan sekutu Nato-nya jangan munafik. Tetaplah sadar bersama negara lain menyelesaikan masalah yang sama, yaitu mengatasi masalah kesulitan ekonomi pascapandemi Covid-19. Kalau kalian “walk out” dan dengan arogan meninggalkan agenda G20, kalian berarti tidak memberikan kontribusi yang positif bagi dunia. Kalian hanya akan dicatat sejarah sebagai negeri munafik dan arogan.

Sampurasun.