Showing posts with label Ukraina. Show all posts
Showing posts with label Ukraina. Show all posts

Wednesday, 10 August 2022

Harga Mie Instant Naik

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Sebetulnya bukan hanya mie instant yang naik, melainkan pula segala bahan makanan yang berbahan baku gandum, seperti, roti, kue, sereal, bubur bayi, dan bubur bagi lanjut usia. Kenaikan harga ini disebabkan pasokan terbesar gandum dunia sebesar 40% berasal dari Rusia dan Ukraina. Kedua negara ini sekarang sedang sibuk berperang saling bunuh. Dengan demikian, gandum tidak bisa keluar dari pelabuhan dan yang sudah keluar dari pelabuhan pun terkatung-katung di laut.

            Hal yang lebih mengerikan adalah pernyataan Menteri Pertanian RI Syahrul Yasin Limpo bahwa harga mie instant bisa naik tiga kali lipat. Bayangkan, jika sekarang harganya Rp3.000,-, bakal naik menjadi Rp9.000,-. Mahal sekali.

            Kalau kenaikan harga itu benar-benar terjadi, maka seluruh mahasiswa kost-kostan di Indonesia harus serius mengutuk perang Rusia Vs Ukraina yang dibantu Nato itu. Kita tahu banyak mahasiswa lebih memilih mie karena instant, cepat, dan harganya murah. Gara-gara perang, makanan favorit itu jadi sulit dibeli karena mahal. Di samping itu, rakyat Indonesia penggemar mie instant pun harus mengutuk benar-benar perang yang terjadi karena mie instant sudah merupakan bagian dari kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia.

            Terkutuklah perang!

            Hidup mie instant!

            Memang tidak menyehatkan sih kebanyakan makan mie instant, tetapi dalam keadaan tertentu makanan ini tetap menjadi favorit.

            Meskipun demikian, perang tidak perlu menjadi alasan utama. Rakyat sudah menggaji pemerintah, sudah selayaknya Menteri Pertanian bekerja sama dengan Menteri Perdagangan dan Menteri Luar Negeri mencari alternatif dari negara lain di luar Rusia dan Ukraina untuk memenuhi kebutuhan gandum dalam negeri agar rakyat masih bisa menikmati mie instant dengan harga terjangkau. Para pengusaha atau produsen makanan Indonesia berbahan baku gandum pun harus menjadi mitra aktif dalam mengatasi kelangkaan gandum ini agar produksinya masih bisa dibeli oleh rakyat dengan murah. Di samping itu, rakyat pun harus mulai belajar mengganti makanan mie dengan makanan berbiaya murah lainnya, misalnya, singkong. Tanamlah singkong banyak-banyak di setiap jengkal tanah yang dimiliki untuk bisa menjadi bahan konsumsi kita. Para petani singkong dan pengusaha kuliner harus bisa lebih aktif merekayasa singkong agat lebih menarik dan menjadi makanan pengganti sekaligus makanan tambahan berbiaya murah.

            Mudah-mudahan tidak terjadi kenaikan harga. Kalaupun terjadi, mudah-mudahan naik sedikit, dan tidak sampai tiga kali lipat. Kasihan para penggemar mie instant.

            Hidup mie instant!

            Hidup singkong Indonesia!

            Sampurasun.

Tuesday, 5 July 2022

Pasukan Muslim Kuasai Lisichansk, Akhmat Sila Allahu Akbar!

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Setelah kunjungan Jokowi ke Ukraina dan Rusia, pasukan Putin mundur dari Pulau Ular. Menurut Rusia, mundurnya dari Pulau Ular itu untuk membuka jalan bagi pasokan makanan, pupuk, dan lain sebagainya dari pelabuhan Odessa ke seluruh dunia. Akan tetapi, Ukraina mengklaim mundurnya pasukan Rusia itu adalah karena dikalahkan oleh Ukraina.

            Tampaknya, klaim Ukraina itu membuat marah Rusia dan pasukan muslim Chechnya. Kemudian, mereka seolah-olah membuktikan bahwa Rusia tidak kalah dan ngamuk sejadi-jadinya. Hanya dalam waktu satu setengah hari, pasukan muslim Chechnya yang membantu Rusia merebut Lisichansk, kota terakhir di wilayah Luhansk.

            Seperti biasa, mereka menaklukan Lisichansk dengan teriakan, “Akhmat Sila, Allahu Akbar!”

            Pasukan muslim Chechnya memang selalu seperti itu. Mereka meneriakkan kalimat itu ketika akan berperang, sedang berperang, dan setelah memenangkan perang.

            Saya tidak tahu arti kalimat “Akhmat Sila”. Dicari-cari juga sulit ketemu artinya, tetapi yang bisa saya pahami adalah Akhmat itu nama dari ayah Presiden Chechnya Ramzan Kadyrov. Akhmat adalah pejuang Chechnya dan kalimat Akhmat Sila adalah kalimat penghormatan kepada Akhmat.  Kemudian, setelah kalimat itu, mereka meneriakkan kalimat Allahu Akbar yang setiap muslim harus tahu artinya.


Ramzan Kadyrov di tengah pasukan muslim Chechnya (Foro: Wahana News) 

            Foto Ramzan Kadyrov di tengah pasukan muslim Chechnya saya dapatkan dari Wahana News.

            Saya heran mereka bisa sengamuk dan semarah itu karena biasanya Rusia dan Chechnya selalu berhati-hati dan memilih waktu yang lama untuk memenangkan perang. Hal itu disebabkan sebagaimana yang dijelaskan oleh Duta Besar Rusia untuk Indonesia Lyudmila Vorobieva bahwa mereka harus selalu berhati-hati karena tentara Ukraina kerap menggunakan permukiman penduduk, mall, pusat perbelanjaan, dan fasilitas publik lainnya untuk markas tentara. Rusia tidak mau mengorbankan rakyat sipil karena rakyat Rusia dan rakyat Ukraina sesungguhnya bersaudara, bahkan memiliki garis keluarga yang sama. Nama presidennya saja mirip. Presiden Ukraina nama depannya Volodimyr, sedangkan nama depan Presiden Rusia adalah Vladimir.

            Satu setengah hari adalah waktu yang sangat kilat untuk menguasai sebuah kota dan itu cukup membahayakan penduduk sipil.

            Sebetulnya sih, kalau mau, Rusia bisa menghancurkan Ukraina dalam seminggu, rata dengan tanah. Hal itu disebabkan menurut “Global Fire Power”, militer Rusia adalah rangking dua terkuat di dunia, sedangkan militer Ukraina adalah berada di rangking 22 dunia, jauh bedanya. Dengan militer Indonesia saja, Ukraina masih kalah karena Indonesia berada di rangking 15 dunia. Ini mirip dengan yang terjadi di Papua ketika TNI ingin menghancurkan teroris KKB. Kalau TNI mau, KKB bisa habis dalam beberapa hari. Akan tetapi, tidak semudah itu karena angggota KKB pun sering berbaur dan menyamar sebagai rakyat biasa yang bisa membahayakan rakyat sipil yang cinta NKRI. Semuanya harus dilakukan dengan berhati-hati agar tidak jatuh korban yang tidak diperlukan. Risikonya, waktu penanganannya menjadi lebih lama.

            Menurut saya, jika ingin cepat berdamai, Ukraina tidak perlu memprovokasi Rusia karena itu akan membuat pasukan Putin marah. Sebaiknya, Ukraina dan Rusia mengikuti nasihat Presiden Indonesia Jokowi untuk berdialog, “back to talk”, kembali berbicara. Permasalahan hendaknya diselesaikan dengan komunikasi terbuka dan lapang dada. Sama-sama mengoreksi dan memperbaiki kesalahan masing-masing. Di samping itu, Amerika Serikat dan pihak barat lainnya harus menghentikan pasokan senjatanya untuk Ukraina agar perang cepat berhenti dan tidak perlu lagi mengajak Ukraina menjadi anggota Nato yang dirasakan Rusia sebagai ancaman bagi dirinya.

            Sampurasun.

Friday, 1 July 2022

Jokowi Datang, Rusia Mundur, Ukraina Klaim Kemenangan

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Beginilah indahnya memiliki politik luar negeri bebas dan aktif. Ketika para sahabat bertengkar, berkelahi, berperang, kita tidak memihak salah satu dari mereka, tetapi, berupaya mendamaikan mereka. Dengan demikian, kita tetap dihormati oleh semua pihak. Jika memihak salah satu, kita akan menjadi musuh bagi yang lainnya. Itu bukanlah Indonesia. Indonesia itu harus “thousands friends and zero enemy”, ‘ribuan teman dan nol musuh’.

            Sebelum Jokowi ke Kyiv menemui Presiden Ukraina Zelensky, Rusia membombardir Kyiv. Akan tetapi, ketika Jokowi datang, Rusia berhenti membombardir Kota Kyiv dan Kota Irpin karena kedua kota itu didatangi Jokowi. Di Kyiv Jokowi memberikan bantuan medis dan bertemu Zelensky, sedangkan di Irpin meninjau kehancuran puing-puing akibat bombardir Rusia. Setelah Jokowi pergi dari Ukraina pun Kyiv dan Irpin tidak lagi menjadi sasaran tembak Rusia, entah untuk berapa lama.

            Ketika Jokowi meninggalkan Ukraina menuju Rusia untuk menemui Presiden Putin, Rusia melakukan pertukaran tahanan perang dengan Ukraina sebagai tindakan kemanusiaan. Di samping itu juru bicara Rusia menjelaskan bahwa perang bisa berakhir dalam sehari dan selamanya jika Ukraina menyetujui syarat-syarat yang diinginkan Rusia.

Tambahan pula, Rusia segera menarik mundur pasukannya dari Pulau Ular karena paham bahwa Jokowi akan meminta itu agar Pelabuhan Kapal Laut di wilayah Laut Hitam itu bisa lagi berlayar untuk memasok makanan, terutama gandum, biji-bijian lainnya, dan pupuk ke seluruh dunia. Jika tidak,  ratusan juta, bahkan miliaran manusia bisa kelaparan dan itu sangat berbahaya bagi seluruh dunia.

Rusia menjelaskan bahwa penarikan mundur pasukannya dari Pulau Ular itu tujuannya adalah untuk kemanusiaan dan agar PBB bisa mengatur lagi pasokan makanan ke seluruh dunia sebagaimana yang diinginkan Jokowi. Presiden Putin pun menjelaskan bahwa bukan dirinya yang membuat pasokan makanan itu terhenti, melainkan Ukraina dan pihak barat yang memasang ranjau-ranjau di Laut Hitam. Setelah kedatangan Jokowi, Rusia mundur. Akan tetapi, mundurnya Rusia ini diklaim oleh Ukraina sebagai kemenangan Ukraina mengalahkan Rusia di Pulau Ular dan meningkatkan semangat prajurit Ukraina untuk mengambil alih wilayah-wilayah Ukraina yang telah dikuasai oleh Rusia.

Begitulah mereka, tidak mau kehilangan muka dan harga diri. Rusia menjelaskan bahwa mereka mundur adalah untuk membuka jalan bagi kemanusiaan, bukan kalah perang, sedangkan Ukraina mengklaim Rusia mundur karena kalah perang di Pulau Ular itu dan bukan untuk kemanusiaan seperti yang diminta Jokowi.

Ya, sudahlah, hal yang penting adalah satu hari setelah Jokowi datang mengunjungi Ukraina dan Rusia, ranjau-ranjau laut sudah dibersihkan dan kapal-kapal dagang bisa lagi beroperasi untuk memasok makanan serta berbagai bahan pangan lain untuk berbisnis ke seluruh dunia dan mencegah kelaparan. Itu yang penting bagi kita karena jika tidak begitu, Indonesia pun akan mengalami kelaparan yang sama.

Indonesia tidak punya kepentingan politik terhadap perang itu. Hal yang dilakukan Indonesia adalah berupaya secara perlahan menciptakan perdamaian dan hal yang harus dilakukan cepat adalah memberikan makanan ke seluruh dunia karena makanan adalah kebutuhan dasar manusia di mana pun berada.

Perang masih berlanjut, tetapi satu langkah kecil telah menyelamatkan miliaran nyawa manusia. Allah swt melihat itu.

Sampurasun.

Thursday, 30 June 2022

Kulit Berwarna Peluk Kulit Putih

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Sejak SMP, SMA, kuliah, hingga akhir-akhir ini, ketika membaca majalah, koran, ataupun menonton berita di televisi selalu saja orang-orang berkulit putih yang datang ke orang-orang kulit berwarna di Afrika, Timur Tengah, India, dan negara lainnya untuk memberikan perhatian, kepedulian, kasih sayang, dan bantuan atas berbagai penderitaan dan keterbelakangan yang diderita. Orang-orang berkulit putih itu memang memiliki banyak kelebihan dalam hal akses, pendidikan, harta benda, dan kekuasaan. Mereka pun punya banyak yayasan yang menggalang dana untuk membantu rakyat di negara-negara miskin dan tertinggal yang rata-rata kulitnya berwarna. Lady Di dari Inggris dan Angelina Jolie dari Amerika Serikat adalah tokoh yang kerap melakukan kunjungan dan bantuan-bantuan itu. Tokoh yang sangat legendaris adalah Mother Teresa atau Bunda Teresa, biarawati Katolik Roma yang mengabdikan diri dan seluruh hartanya untuk kemanusiaan di India dengan membantu dan melayani orang-orang berpenyakit, miskin, terpinggirkan, dan sekarat.

            Kini dunia sedang terbalik, dunia menyaksikan bahwa orang kulit berwarna sedang menolong, membantu, dan berupaya mencari jalan keluar bagi orang-orang kulit putih yang sedang menderita. Dunia sedang menyaksikan orang kulit berwarna dari Asia, tepatnya Indonesia, Iriana Jokowi, memeluk pasien korban perang Rusia Vs Ukraina yang menderita bukan hanya fisik, melainkan pula mengalami kerusakan otak karena stres. Tangisan mereka jatuh di pangkuan Iriana. Ini pemandangan yang tidak biasa. Hal itu disebabkan di dunia barat masih banyak yang rasis dan menganggap orang berkulit putih adalah lebih mulia dibandingkan orang kulit berwarna. Saya saja sering mereka sebut sebagai “teman setengah binatang” hanya karena saya berasal dari Asia, Indonesia. Tentu tidak semuanya, tetapi mereka masih banyak yang rasis.


Iriana Jokowi Hibur dan Peluk Pasien Korban Perang Rusia Vs Ukraina (Foto: Kompas TV) 


            Foto Iriana Jokowi sedang menghibur pasien korban perang di rumah sakit di Kyiv, Ukraina saya dapatkan dari Kompas TV. Bukan hanya memeluk dan menghibur, Iriana pun menyampaikan rasa empati, simpati, dan bantuan medis atas nama rakyat Indonesia yang peduli terhadap kemanusiaan dan perdamaian.

            Hal ini sudah seharusnya menjadi tontonan yang bisa menjadi pelajaran bahwa warna kulit adalah bukan ukuran kemuliaan. Situasi bisa berubah-ubah dan terbalik. Orang yang tadinya di atas bisa jadi ke bawah atau sebaliknya.

            Orang yang mulia itu bukan atas dasar warna kulit dan tempat kelahiran, melainkan orang yang paling banyak memberikan manfaat dan kenyamanan bagi manusia lainnya.

            Sampurasun.

Tuesday, 28 June 2022

Cemas Keselamatan Jokowi

 


oleh: Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Beberapa hari ini semakin banyak orang yang cemas atas keselamatan Presiden RI Jokowi dan istrinya, Iriana dalam misinya untuk mendamaikan perang antara Rusia dan Ukraina. Perjalanan Jokowi dari Indonesia ke Jerman memenuhi undangan G7, lalu transit di Polandia untuk menggunakan kereta api menuju Ibu Kota Ukraina, Kiev, menemui Presiden Ukraina Zelensky, kemudian ke Moskow menemui Presiden Rusia Putin, mendapatkan sorotan rakyat Indonesia, termasuk perhatian dunia internasional. Banyak sekali doa yang dipanjatkan rakyat Indonesia dalam berbagai agama. Menurut survey, 76,7% rakyat Indonesia puas terhadap kinerja Jokowi. Wajar jika mendapatkan banyak doa dari seluruh agama di Indonesia.

            Sudah sesuatu yang normal jika rakyat Indonesia mencemaskan pemimpinnya yang mengunjungi medan perang yang dikabarkan lebih dahsyat dibandingkan perang dunia masa lalu. Bahkan, kata pengamat AS, tiga hari serangan Rusia ke Ukraina menimbulkan kerusakan yang sama dengan 73 tahun serangan Israel ke Palestina. Soal suka atau tidak suka terhadap Jokowi, semestinya dikesampingkan dahulu karena dia bagaimana pun adalah Presiden Indonesia. Saya tidak menyukai Presiden RI Soeharto, tetapi ketika dia keluar negeri dan mendapatkan perlakuan tidak baik dari negara lain, saya pasti tersinggung dan membela Soeharto. Saya tidak memilih Presiden SBY, tetapi ketika dia mendapatkan perlakuan buruk dari negara lain, saya pasti membelanya. Soal saya tidak suka, itu adalah urusan di dalam negeri.

            Indonesia adalah ibarat sebuah keluarga. Jika ada perselisihan di dalam keluarga, itu adalah urusan dalam keluarga, bukan urusan orang lain. Jika kita mengajak orang lain untuk ikut campur urusan keluarga kita,  itu artinya parah dan keluarga itu berantakan. Sudah tidak pantas lagi seorang anggota keluarga yang mengajak pihak luar untuk merusakkan keluarganya sendiri masih disebut anggota keluarga. Dia harusnya keluar dari keluarga itu. Tidak pantas seseorang meminta orang lain memukuli ayahnya, kakaknya, adiknya, atau bahkan ibunya sendiri karena ada persengketaaan keluarga. Apa pun yang terjadi dalam keluarga kita, jika anggota keluarga kita mendapatkan perlakuan buruk dari orang lain, kita harus membelanya. Soal perselisihan keluarga, kita selesaikan di dalam keluarga sendiri.

            Hal yang banyak dicemaskan rakyat adalah ketika Jokowi berada di Kiev menemui Presiden Zelensky karena Ukraina adalah medan pertempuran. Sebetulnya, dalam etika hubungan internasional, Jokowi adalah tamu kehormatan negara. Ukraina harus menjamin keselamatan Jokowi. Demikian pula, Rusia harus menjaga keselamatan Jokowi. Wajib hukumnya. Jaminan itu pasti diberikan oleh Zelensky dan Putin. Jadi, selama Jokowi berada di Ukraina dan Rusia, sudah seharusnya perang berhenti untuk tercipta kondusivitas upaya perdamaian.

            Keamanan yang diberikan Ukraina dan Rusia sudah cukup bisa dipercaya oleh dunia untuk keselamatan Jokowi karena keduanya adalah negara sahabat Indonesia. Jadi, sudah pasti menjaga persahabatan itu. Hal yang tidak bisa diduga adalah adanya kemungkinan teroris “lone wolf” yang bergerak atas dasar keinginan kelompoknya sendiri dan tidak mengatasnamakan negara tertentu.  Dia atau mereka akan melakukan tindakan-tindakan brutal karena tidak menginginkan perdamaian terjadi dan sangat diuntungkan oleh perang tersebut. Dunia sudah mengalami kejahatan mereka itu, seperti, pembunuhan terhadap Presiden AS Abraham Lincoln dan Kennedy. Presiden Kuba Fidel Castro sempat mengalami ancaman yang sama berupa upaya pembunuhan menggunakan peluru, racun yang ditaburkan di gelas susunya, atau dioleskan di cerutunya, tetapi upaya para penjahat ini tidak berhasil terhadap Castro.

            Karena ancaman yang serius, Jokowi dilengkapi dengan Paspampres terbaik berjumlah 39 orang yang dilengkapi senjata laras panjang, helm, dan rompi antipeluru. Itu jumlah yang diberitakan, jumlah yang sebenarnya, saya yakin jauh lebih banyak dari itu.

            Semua persiapan yang dilakukan Indonesia-Ukraina-Rusia sudah sangat baik. Akan tetapi, hal apa pun bisa terjadi di medan tempur. Oleh sebab itu, diperlukan doa bersama agar perdamaian bisa tercipta. Minimal, upaya dialog awal mulai diciptakan Indonesia karena dialog pertama perdamaian yang dilakukan oleh Turki dan dialog kedua oleh Israel telah gagal mendamaikan mereka. Kalau perang tidak berhenti juga, dalam beberapa bulan akan terjadi kelaparan di dunia serta prediksi IMF bahwa akan ada 60 negara yang bangkrut dan 42 di antaranya dipastikan bangkrut, benar-benar terjadi.

Memang Indonesia tidak ada dalam daftar negara bangkrut itu. Akan tetapi, kalau banyak negara yang bangkrut, Indonesia akan kehilangan banyak rekan bisnis dan akan pula menanggung banyak kerugian.

            Semoga Presiden Jokowi dan rombongan tetap selamat dan perdamaian mulai tercipta. Aamiin.

            Sampurasun.

Saturday, 25 June 2022

Hebatnya Ulama Pendiri Bangsa

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Indonesia ini didirikan oleh ulama, para santri, dan para pejuang nasionalis lainnya. Orang-orang nonmuslim dan muslim yang tidak tergabung dalam organisasi keagamaan biasanya termasuk dalam golongan nasionalis. Merekalah yang disebut “founding fathers” atau “para pendiri bangsa”.  Jadi, bukan hanya Soekarno dan Mohammad Hatta, melainkan pula banyak elemen yang membidani kelahiran bangsa Indonesia.

            Kalau kita jadikan Soekarno sebagai tokoh sentral kependirian bangsa, banyak sekali ulama yang memberikan masukan dan partner debat Soekarno. Dia sendiri adalah murid dari Haji Oemar Said Tjokroaminoto. Soekarno ditemani berjuang oleh Mohammad Natsir dan Mohammad Hatta. Dia sering berdebat dengan Buya Hamka dan Haji Agus Salim. Dalam catatan sejarah, dia pun kerap berdiskusi dengan Hassan Bandung. Di samping itu, dalam mempertahankan kemerdekaan sering sekali meminta nasihat Hasyim Asyaari dan Ahmad Dahlan. Dalam sidang-sidang konstituante dipenuhi pula oleh ulama.

            Diskusi, perdebatan, dan berbagai nasihat ulama itu telah membentuk dasar-dasar kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia. Salah satu dasar yang menarik perhatian saya adalah politik luar negeri Indonesia yang “bebas dan aktif” dan sikap nonblok atau non alignment yang harus dijalankan Indonesia dalam bergaul di kancah pergaulan internasional.

            Politik luar negeri yang bebas dan aktif itu ternyata terbukti hari ini telah menyelamatkan Indonesia untuk tidak terseret-seret kepentingan asing, baik kepentingan Barat maupun Timur. Indonesia tidak boleh berpihak pada salah satu blok, tetapi harus bebas dari tekanan negara mana pun, tetapi tetap aktif mewujudkan perdamaian dunia. Indonesia harus tetap berada di tengah.

            Ulama dan para pendiri bangsa lainnya sudah punya penglihatan atau prediksi terhadap masa depan. Para ulama itu memahami kejadian-kejadian masa depan. Oleh sebab itu, mereka meletakkan dasar-dasar kehidupan bernegara, termasuk politik luar negeri bebas dan aktif agar bangsa Indonesia tetap berada dalam keadaan baik menghadapi situasi kehidupan masa depan. Makin kagum saya terhadap para ulama itu.

            Pada zaman ini semakin jelas dengan adanya perang Rusia Vs Ukraina yang didukung Amerika Serikat dan sekutunya. Indonesia dibujuk rayu sekaligus diancam jika tidak memihak Barat oleh AS dan sekutunya. Indonesia pun didekati dan dipuji-puji oleh Rusia, Cina, dan sekutunya. Akan tetapi, karena diamanati oleh para sepuhnya yang terdiri atas para ulama dan pejuang nasionalis itu, Indonesia tetap kukuh pada prinsipnya, yaitu tidak memihak Barat maupun Timur. Dengan demikian, Indonesia memiliki kesempatan yang sangat besar untuk aktif dalam mendamaikan Timur dan Barat agar kehidupan dunia berjalan lebih baik dan harmonis sesuai perkembangan zaman secara natural.

            Saat ini tampak jelas ketika dunia terbagi dua blok barat dan blok timur serta saling menguatkan kelompoknya masing-masing dan menjatuhkan lawannya, Presiden RI Jokowi malah memilih untuk berangkat menemui kedua presiden yang sedang berperang itu. Jokowi menemui Presiden Ukraina Volodymir Zelensky dan Presiden Rusia Vladimir Putin dengan pesan perdamaian. Memang tidak mungkin hanya satu atau dua kali kunjungan akan terjadi perdamaian karena perdamaian itu memerlukan upaya besar dan berbiaya mahal, tetapi dengan kehadiran Jokowi ke kedua negara yang sedang perang itu minimal berhenti perang ketika Jokowi sedang berada di kedua negara itu. Mereka harus bertangung jawab atas keselamatan Presiden Indonesia sebagai tamu kehormatan mereka.

            Meskipun demikian, Paspampres Jokowi pun sudah bersiap bertugas dengan berupa gabungan pasukan Kopassus, Den Jaka, dan Paskhas dengan senjata laras panjang yang dilengkapi helm, rompi antipeluru, dan jumlah peluru tak terbatas. Kehadiran Jokowi dengan pasukannya yang berjumlah 39 orang itu disebut publik AS, Malaysia, dan Singapura, sebagai tindakan gila.

            Indonesia memang harus berperan aktif dalam mendamaikan dunia karena itu adalah pesan para pendiri bangsa sebagai wujud dari politik luar negeri bebas aktif. Politik luar negeri ini kalau dipandang dari ajaran Islam adalah sesuai dengan keinginan Allah swt dalam “QS Al Baqarah : 143” bahwa umat Islam adalah harus menjadi “ummatan wasathan”, ‘umat pertengahan’, yang bisa juga diartikan sebagai umat penengah yang menjadi saksi atas kehidupan manusia dan memberikan solusi bagi kekisruhan manusia, tidak berat sebelah, tidak ke kanan dan tidak ke kiri, tidak ke timur dan tidak ke barat, melainkan berada di pertengahan dengan sikap seimbang dan adil.

            Sekali lagi, sungguh saya mengagumi kecerdasan dan kemampuan prediksi para ulama pendiri bangsa agar Indonesia tetap berada di jalur yang benar.

Kalaulah ada yang sok tahu dan mengecilkan, bahkan menganggap karya besar para ulama Indonesia terdahulu dalam mendirikan bangsa ini adalah sebuah kesalahan dan menganggap diri mereka sendiri adalah lebih hebat dan lebih cerdas sehingga ingin mengubah Indonesia sesuai keinginan mereka, saya hanya ingn bertanya, apa yang telah kalian lakukan untuk negeri ini dan apa yang telah kalian korbankan untuk kepentingan rakyat Indonesia?

            Sampurasun.

Wednesday, 22 June 2022

Kalau Mau Makmur, Jangan Ribut

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Jika mengajak diskusi siapa pun tentang hal ini, jawabannya selalu sama karena berasal dari otak dan hati yang jujur.

            Kalau kita punya uang lima puluh juta dan ingin membuka toko kecil-kecilan, tempat mana yang akan dipilih untuk usaha?

            Tempat yang penduduknya tidak berpendidikan, gemar ribut, sering tawuran, banyak pertengkaran, dan miskin atau tempat yang penduduknya berpendidikan, damai, saling menghormati, tidak gemar tawuran, dan punya uang banyak?

            Jawabannya selalu sama dan para pembaca tulisan saya pun pasti menjawab hal yang sama.

            Iya, kan?

            Begitu juga dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Jika ingin maju dan makmur bersama, kita harus menjaga situasi yang aman dan damai tanpa huru hara atau tanpa keributan yang mengarah pada perpecahan secara fisik. Kalau perdebatan ilmu pengetahuan, perbedaan pendapat, atau perbedaan pilihan politik sih, tidak mengapa, tidak masalah. Bahkan, itu bagus untuk pencerdasan.

            Dengan situasi yang aman, harmonis, damai, dan terkendali akan menarik para investor dan pemilik uang atau harta yang banyak dari seluruh dunia untuk menanamkan uangnya di Indonesia. Mereka bisa membuat perusahaan-perusahaan besar pada segala bidang sehingga terbuka banyak lapangan pekerjaan untuk kita dan kita pun bisa mendapatkan nilai tambah lainnya dari pajak, perputaran bisnis, serta alih teknologi. Kita bisa belajar dari mereka sehingga pada masa depan kita semakin mandiri karena memiliki banyak pengetahuan dan investasi yang banyak.

            Kalau selalu gemar ribut dan perpecahan, siapa yang tertarik menanamkan uangnya untuk bisnis di Indonesia?

             Itulah sebabnya Presiden Soeharto pada masa Orba melakukan tindakan yang sangat keras untuk membuat negara stabil dan tertib sehingga pada zamannya disebut sebagai “ekonomi adalah panglima”, berbeda daripada era Presiden Soekarno yang disebut “politik adalah panglima”. Sayangnya, Soeharto terlalu ekstrim sehingga membungkam aspirasi rakyat dan sangat kejam terhadap mereka yang berbeda pandangan, orang bisa tiba-tiba gila atau hilang tak diketahui di mana kuburannya. Dia dijatuhkan karena hal itu salah satunya.

            Pada masa ini diharapkan panglimanya adalah kesadaran diri dan penegakkan hukum yang tegas dan adil sehingga situasi tetap bisa terkendali untuk membuat suasana bisnis berjalan dengan baik dan menguntungkan.

            Baru-baru ini ada contoh menarik, yaitu Elon Musk yang awalnya diharapkan untuk membuat pabrik Tesla di Indonesia, ternyata memilih untuk membangun pabrik di Thailand. Dia memang membuat pabrik juga di Indonesia, tetapi hanya pabrik baterai yang bisa menyimpan listrik ratusan watt atau mungkin lebih dari seribu watt. Nilainya jelas jauh antara pabrik mobil dan pabrik baterai. Kalau pabrik Tesla ada di Indonesia, terbayang puluhan ribu orang bisa bekerja mengikuti perputaran bisnis Tesla. Keputusan Elon Musk untuk mendirikan pabrik di Thailand menggugurkan banyak kesempatan dan harapan untuk kita.

Beberapa pengamat menganalisa bahwa salah satu alasan Elon Musk tidak jadi membangun pabrik Tesla di Indonesia adalah adanya konflik-konflik dan potensi perpecahan yang ada di kalangan rakyat Indonesia meskipun itu bukan satu-satunya alasan. Elon Musk memang dikenal sangat pemilih dalam menanamkan uangnya. Dia menilai juga sejauh mana sebuah negara menghormati lingkungan, sikap para pengusaha terhadap karyawan, kemudahan birokrasi terhadap rakyat dan para pengusaha, serta yang lainnya.

Pendapat para analis ini bisa debatable, bisa didebat kebenarannya. Akan tetapi, cukuplah menjadi pelajaran bahwa untuk menjadi maju dan makmur, situasi harus diciptakan damai, aman, dan harmonis agar ada banyak uang yang masuk untuk diputarkan dalam bisnis serta menguntungkan banyak pihak. Kalau gemar tawuran dan huru hara, sangat sulit akan terjadi perputaran usaha secara positif.

Ekstrimnya, siapa yang akan menanamkan uangnya untuk buka usaha di Ukraina sekarang?

Tidak ada.

Siapa yang akan menanamkan uangnya di Afghanistan?

Cina mulai berani bisnis di Afghanistan, tetapi masih memperhatikan situasi hingga benar-benar aman untuk berbisnis di sana.

Mari ciptakan Indonesia yang harmonis dan untung bersama. Insyaallah.

Sampurasun.

Sunday, 8 May 2022

Kalau Indonesia yang Harus Mendamaikan Perang, Bubarkan Saja PBB

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Manusia bisa bilang, ini kebetulan. Akan tetapi, dalam pandangan spiritual Islam, ini sudah menjadi takdir Allah swt bahwa Indonesia menjadi Presidensi G20 yang diikuti 19 negara maju dan akan maju ditambah 1 Unieropa di tengah-tengah kecamuk perang Rusia Vs Ukraina yang dibantu oleh Nato.

            Hal aneh yang terjadi adalah tiba-tiba Indonesia ditekan pihak Barat untuk menendang Rusia dari keanggotaan G20 dan pertemuan-pertemuan G20. Jika tidak, pihak Barat mengancam akan memboikot G20. Tentu saja, pihak Barat ini dikendalikan oleh Amerika Serikat (AS), padahal negara-negara Barat lain tampaknya setengah hati mengikuti keinginan AS dalam melawan Rusia. Hal ini tampak sekali dari negara-negara barat yang kikuk karena mereka masih bergantung pada Rusia, misalnya, soal kebutuhan gas dan minyak.

            Hal ini diperparah dengan semua mata dunia menuju pada panggung Jokowi, Indonesia, dan G20. Pihak Barat mendesak Indonesia bahwa G20 dijadikan ajang untuk menyelesaikan masalah perang Rusia Vs Ukraina, terutama untuk menghukum Rusia. Banyak ancaman Barat yang ditujukan pada Indonesia yang akan menyelenggarakan G20 di Bali. Ini aneh karena sesungguhnya G20 adalah organisasi dan pertemuan tingkat tinggi dunia yang sudah dibatasi Jokowi hanya untuk menyelesaikan masalah ekonomi dunia pascapandemi Covid-19. Temanya “Recovery Together, Stronger Together” artinya “pulih bersama dan lebih kuat bersama”. Pertemuan ini tidak untuk membicarakan masalah politik, militer, apalagi perang. Akan tetapi, keangkuhan Barat menekan Indonesia agar memasukan pula soal Rusia dan Ukraina ke pembicaraan di G20.

            Karena Indonesia adalah negara dengan politik luar negeri bebas dan aktif, bebas dari tekanan negara mana pun dan aktif mewujudkan perdamaian dunia, Jokowi tetap mengundang Presiden Rusia Vladimir Putin sekaligus Presiden Ukraina Volodimyr Zelensky untuk hadir di G20 di Bali. Indonesia tidak mengikuti kehendak AS dan Barat, tetapi tetap berupaya memberikan jalan keluar agar terjadi pertemuan positif antara Rusia dan Ukraina di Bali.

Meskipun demikian, hal ini masih membingungkan karena mau apa Ukraina di G20?

Mau ngomong apa dia?

Ukraina itu bukan anggota G20 yang pasti tidak memiliki hak bicara dalam berbagai sidang di Bali, kecuali diputuskan anggota G20 lain untuk bisa memiliki hak bicara dengan mengubah atau menyepakati terlebih dahulu tatatertib yang ada. Dengan demikian, Ukraina bisa memiliki hak bicara.

Kalau Jokowi, Indonesia, memfasilitasi upaya perdamaian antara Rusia dan Ukraina di G20, itu artinya agenda G20 meluas, bukan hanya bicara soal ekonomi, melainkan pula perdamaian. Dengan demikian, Bali, Indonesia menjadi tempat pertemuan untuk menyelesaikan perang dan mewujudkan perdamaian.

Hal itu bagus. Akan tetapi, sesungguhnya, tempat untuk membicarakan perang dan perdamaian adalah bukan di perhelatan G20, Bali, Indonesia, melainkan dalam sidang-sidang Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB). Hal itu disebabkan memang tempat untuk menyelesaikan perkara seperti itu adalah di PBB, bukan di G20, bukan di Indonesia, bukan di Bali, dan bukan pula oleh Jokowi.

Melihat kenyataan seperti itu, publik dunia wajar bertanya, selama ini PBB melakukan apa untuk menyelesaikan masalah konflik di Ukraina?

Kalau PBB tidak memiliki kemampuan menyelesaikan masalah itu, mengaku sajalah dengan terus terang bahwa PBB adalah organisasi yang lemah dalam mengorganisasikan dunia. Oleh sebab itu, PBB layak untuk dibubarkan.

Saya jadi teringat pidato “Pemimpin Besar Revolusi Presiden Pertama Indonesia Ir. Soekarno” di hadapan dunia yang menyatakan bahwa Indonesia keluar dari PBB. Soekarno menyerukan perlunya kesadaran dan kebersamaan untuk melakukan upaya “to build a world anew”, ‘membangun tatanan dunia baru’ yang lebih masuk akal dan menjamin perdamaian kehidupan dunia.

Kalau memang G20 Indonesia yang harus mendamaikan perang, bubarkan saja PBB. Organisasi itu sudah kelihatan sangat lemah dan tunduk pada kepentingan barat.

Sampurasun.

Saturday, 7 May 2022

Amerika Serikat Tidak Akan Berhasil Menentang Sunatullah

 


oleh Tom Finaldin

Bandung, Putera Sang Surya

Setelah kejatuhan Unisoviet dan terdesaknya komunisme, Amerika Serikat (AS) seakan-akan menjadi penguasa tunggal di dunia dan merasa dirinya adalah yang paling berkuasa. Tampaknya, AS memang ingin memastikan bahwa dirinya benar-benar sebagai penguasa di muka Bumi dan selalu berupaya mengalahkan orang lain, negara lain, atau mengatur hidup orang lain sesuai dengan pandangannya. Mereka ingin sistem pergaulan dan politik dunia berada dalam kondisi unipolar, hanya satu penguasa, yaitu dirinya.

            Sayangnya, keinginan mereka itu sia-sia karena dunia tidak diciptakan untuk itu, tidak akan pernah dalam situasi yang benar-benar unipolar, kecuali semu atau hanya perasaan dirinya. Dalam kenyataannya unipolar itu tidak akan pernah terjadi karena itu menentang sunatullah, hukum Allah swt, kebiasaan Allah swt, sistem dan mekanisme Allah swt.

            Kita lihat sejarah manusia, minimal yang saya ingat. Kalau ada yang mau menambahkan, boleh saja silakan. Dulu, sebelum masa kerasulan Muhammad saw, dunia terbagi pada dua kekuatan besar, yaitu Romawi dan Persia. Ada dua kekuatan besar di muka Bumi, bipolar. Setelah memasuki masa kekhalifahan, terdapat beberapa kekuatan besar di Bumi, yaitu Kekhalifahan, Romawi, dan Mongolia, multipolar. Kemudian, pada masa berikutnya, muncul kekuatan barat Amerika Serikat dan kekuatan timur Unisoviet, kembali bipolar. Setelah Unisoviet jatuh dan Rusia seolah tersingkirkan, muncul kekuatan ekonomi dan teknologi Cina yang berseberangan dengan AS. Selalu begitu. Sekarang, Rusia muncul lagi dengan lebih mengejutkan dengan memamerkan kekuatan militer dan teknologi perangnya dalam perang di Ukraina. Sementara itu, kekuatan AS dan Eropa Barat tampak kaku, rikuh, dan tidak siap menghadapi kekuatan besar Rusia. Apalagi setelah ada keluhan dari prajurit Ukraina bahwa banyak senjata bantuan dari AS untuk Ukraina dalam melawan Rusia, tidak berfungsi dengan baik. Rusia tampak sekali menguasai pertempuran dengan keakuratan militernya.

            Dunia itu memang seperti itu, tidak pernah unipolar, tetapi selalu bipolar atau mulitipolar. Bahkan, akibat dari perang Rusia Vs Ukraina ini kemungkinan dunia akan terbagi ke dalam pakta-pakta baru, multipolar. Gabungan Indonesia-India-Cina bisa menjadi kekuatan baru yang bisa mengalahkan barat dengan kemampuan yang dimilikinya. Indonesia punya sumber daya alam, Cina punya teknologi, dan India punya militernya. Di samping itu, jumlah penduduk ketiga negara itu sangat banyak, Indonesia sekitar 270 juta jiwa, India sekitar 1,4 miliar, dan Cina hampir 2 miliar dapat menjadi pasar ekonomi raksasa mengalahkan AS dan Eropa Barat. 

            Sekali lagi, dunia tidak akan pernah bisa unipolar secara nyata, kecuali semu. Hal itu sebagaimana yang ditegaskan Allah swt sendiri dalam QS Al Baqarah 2 : 251.

            “… Dan kalau Allah tidak melindungi sebagian manusia dengan sebagian manusia yang lain, niscaya rusaklah Bumi ini. Akan tetapi, Allah mempunyai karunia (yang dilimpahkan-Nya) atas seluruh alam.”

            Di dalam kehidupan ini selalu ada kejahatan, kerakusan, dan keterlaluan. Ketika terjadi sikap-sikap negatif yang membahayakan kehidupan umat manusia dan segenap alam raya, Allah swt menggerakkan sekelompok manusia lainnya untuk melawan atau menahan kejahatan manusia lainnya agar Bumi, manusia, dan keseluruhan kehidupan ini tidak rusak. Allah swt adalah Sang Maha Pemberi Karunia dan menginginkan agar kehidupan dunia ini seimbang.

            AS dan siapa pun tidak perlu bermimpi untuk menjadi penguasa tunggal dunia karena itu tidaklah mungkin alias mustahil. Sang Pencipta Alam ini pun tidak pernah akan mengizinkan ada satu penguasa tunggal di muka Bumi ini. Oleh sebab itu, saling mengenal, saling belajar, saling mengisi, dan saling bekerja sama adalah lebih baik dalam mengarungi hidup ini daripada bercita-cita menjadi penguasa tunggal di muka Bumi, apalagi dengan menggunakan kekerasan dan pembunuhan atas manusia lainnya.

            Sampurasun.

Sunday, 1 May 2022

Ramadhan Tidak Mau Berhenti Perang, Tetapi Cobalah Berhenti Dulu Saat Idul Fitri

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Pasukan tempur Rusia dalam melakukan “demilitarisasi” dan “denazifikasi” di Ukraina dibantu penuh oleh Presiden Republik Chechnya Ramzan Akhmadovich Kadyrov. Tentara muslim Chechnya mengerahkan pasukan tempur daratnya untuk membantu Rusia.

            Pasukan muslim Chechnya ini sangat disiplin, ramah, murah senyum menghiasi tubuh kekar dan jenggot lebatnya. Tak heran mereka selalu meraih keberhasilan dalam setiap operasinya. Dari beberapa video operasi pasukan Chechnya, tampaknya mereka bertugas menyisir kota-kota untuk menyelamatkan warga sipil yang terjebak perang dan membersihkan para neo nazi yang dikabarkan menggunakan rakyat sipil sebagai tameng hidup dalam perang.


Pasukan Chechnya Merebut Mariupol (Foto: CNN Indonesia)


Keberhasilan mereka merebut Kota Mariupol, Ukraina, mengejutkan semua orang. Pasukan Chechnya mengumumkan bahwa Kota Mariupol telah jatuh ke tangan mereka dan tidak bisa dikembalikan. Mereka menguasai penuh di sana.

Ketika memasuki Bulan Suci Ramadhan, Presiden Rusia Vladimir Putin meminta Ramzan Kadyrov untuk menghentikan perang agar para tentara Chechnya dapat lebih berkonsentrasi menjalankan ibadat Ramadhan. Akan tetapi, Ramzan menolaknya karena dalam keyakinannya justru berperang pada Bulan Suci Ramadhan akan memperoleh pahala yang lebih besar. Putin pun tak bisa menolak keinginan Ramzan.


Valadimir Putin dan Ramzan Kadyrov (Foto: CNN Indonesia)


Foto dialog antara Putin dan Ramzan serta pasukan Chechnya yang telah merebut Kota Mariupol saya dapatkan dari CNN Indonesia.

Kini Bulan Suci Ramadhan telah selesai dan memasuki Syawal. Pada 1 Syawal adalah Hari Raya umat Islam, Idul Fitri. Ada baiknya untuk menghentikan perang dulu, hormati hari raya ini dan berbagi kebahagiaan bersama dengan siapa pun. Berbuat baiklah dengan musuh jika musuh cenderung untuk berdamai dan bersedia menghentikan perang sementara, lebih baik lagi jika didapat kata sepakat untuk menghentikan perang selamanya. Ini mungkin sulit terjadi, tetapi tidaklah salah untuk dicoba dan mengurangi ketegangan. Banyak berdoa supaya Allah swt memberikan jalan ke luar yang terbaik. Ajaklah musuh untuk menyelesaikan perselisihan dengan dialog dan rasa saling percaya. Jika musuh dapat dipercaya, hormati sikap mereka. Akan tetapi, jika musuh tidak dapat dipercaya dan terus menunjukkan ancaman bahaya. Kalian lebih tahu apa yang harus kalian lakukan.

Sampurasun.

Saturday, 30 April 2022

Amerika Serikat Jangan Munafik


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Munafik itu cirinya ada tiga, yaitu: kalau berbicara, berbohong; kalau diberi kepercayaan, berkhianat; kalau berjanji, diingkarinya. Begitu ya, semua orang Islam seharusnya tahu hal ini.

Hoaks itu bohong. Jadi, pembuat dan penggemarnya adalah orang-orang munafik. Meskipun teriak-teriak takbir dan katanya bakal masuk surga, mereka aslinya munafiqun.

Terkait perang Rusia Vs Ukraina, Amerika Serikat (AS) menekan Indonesia untuk tidak mengundang Rusia ikut dalam perhelatan G20 yang dipimpin Indonesia di Bali. Beberapa waktu lalu Presiden AS Joe Biden mengatakan bahwa jika Presiden Rusia Putin diundang di KTT G20, Presiden Republik Indonesia Jokowi pun harus mengundang Presiden Ukraina Zelensky untuk hadir di Bali.

Sebagai manusia normal, orang akan berpikir bahwa AS dan sekutu Nato-nya akan ikut hadir menyukseskan agenda G20 jika Zelensky diundang ke Bali untuk bertemu dengan Putin membahas perang yang melibatkan keduanya. Jika hanya Putin yang diundang, sedangkan Zelensky tidak, wajar jika AS dan sekutunya kecewa terhadap Jokowi, Indonesia, kemudian memboikot G20.

Sebetulnya, tekanan AS terhadap Indonesia untuk mengundang Zelensky adalah sebuah bentuk arogansi keangkuhan AS terhadap negara lain, khususnya terhadap Indonesia. Hal itu disebabkan Indonesia tidak harus mengundang Ukraina dalam KTT G20 karena Ukraina bukanlah anggota dari G20. Jokowi bisa saja tidak mengundang Ukraina, tetapi tetap mengundang Rusia untuk hadir di Bali. Akan tetapi, karena perang ini sangat mengganggu hubungan antarnegara dan mengganggu pula ekonomi dunia, Jokowi berinisiatif untuk mengundang pula Presiden Ukraina Zelensky untuk hadir di Bali dan diharapkan dapat bertemu dengan Presiden Rusia Putin untuk menyelesaikan beragam masalah dan mendapatkan saling pengertian.


Presiden Republik Indonesia Jokowi dan Presiden Amerika Serikat Joe Biden


Foto Jokowi dan Joe Biden saya dapatkan dari CNBC Indonesia.

Jokowi sudah mengundang Zelensky meskipun bukan anggota G20. Artinya, AS dan sekutunya seharusnya tidak punya alasan untuk tidak menyukseskan G20. Mereka harus ikut karena Indonesia, selaku Presidensi G20, menjembatani pula perdamaian dunia, khususnya antara Rusia dan Ukraina. Akan tetapi, jika AS dan konco-konconya tidak juga hadir menyukseskan G20, padahal Zelensky sudah diundang, hal itu menunjukkan dengan lebih jelas bahwa AS dan sekutunya adalah negeri munafik, hipokrit, dan arogan.

Saya ingatkan masa kemunafikan dan kearoganan barat, sudah hampir berakhir dan itu akan membuat barat carut-marut. Mau tidak mau, kekuatan timur Rusia menunjukkan eksistensinya dengan dibantu belasan negara yang siap bertempur bersama Rusia.

AS dan sekutu Nato-nya jangan munafik. Tetaplah sadar bersama negara lain menyelesaikan masalah yang sama, yaitu mengatasi masalah kesulitan ekonomi pascapandemi Covid-19. Kalau kalian “walk out” dan dengan arogan meninggalkan agenda G20, kalian berarti tidak memberikan kontribusi yang positif bagi dunia. Kalian hanya akan dicatat sejarah sebagai negeri munafik dan arogan.

Sampurasun.

Friday, 29 April 2022

Jokowi Damaikan Rusia & Ukraina

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Sebagai ketua dari Presidensi G20, Presiden Republik Indonesia Jokowi berupaya mempertemukan Presiden Rusia Vladimir Putin dengan Presiden Ukraina Volodimyr Zelensky dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) di Bali, Indonesia. Hal itu dilakukan Jokowi di samping sebagai presidensi G20, juga melaksanakan amanat politik luar negeri Indonesia yang bebas dan aktif dalam mewujudkan perdamaian dunia. Foto Jokowi saya dapatkan dari media Fajar.


Presiden Republik Indonesia Joko Widodo (Foto: Fajar)

            Pada 27 April 2022 Jokowi menelepon Presiden Ukraina Volodimyr Zelensky dengan maksud mengundangnya untuk hadir pada KTT G20 di Bali, Indonesia. Di samping itu, Jokowi menanyakan situasi dan kondisi Ukraina dalam masa perang tersebut. Zelensky pun berterima kasih kepada Jokowi yang masih menghormati kedaulatan Ukraina sebagai sebuah negara merdeka dan menjelaskan kondisi Ukraina terkini. Ada hal unik yang disampaikan Zelensky, yaitu meminta Jokowi untuk mengirimkan persenjataan agar Ukraina dapat melawan Rusia. Foto Zelensky saya dapatkan dari Ekbis Sindonews. Permintaan Zelensky tentu saja ditolak oleh Jokowi karena konstitusi Indonesia tidak mengizinkan Indonesia untuk mengirimkan hadiah persenjataan tempur untuk berperang. Jokowi mengingatkan agar segala permasalahan bisa diselesaikan di meja perundingan, tidak dengan bertempur, Indonesia tampaknya siap untuk memfasilitasi perundingan ini. Meskipun demikian, Jokowi siap untuk membantu Ukraina dalam hal bantuan kemanusiaan, seperti, makanan, obat-obatan, pakaian, dll.. Bantuan kemanusiaan adalah untuk membuat manusia hidup, sedangkan senjata adalah untuk membuat manusia mati. Indonesia mendukung kehidupan dan bukan kematian.


Presiden Ukraina Volodimyr Zelensky (Foto: Ekbis Sindonews)


            Pada 28 April 2022 Jokowi menelepon Presiden Rusia Vladimir Putin. Sama seperti kepada Ukraina, Jokowi mengundang Putin untuk hadir dalam KTT G20 di Bali, Indonesia. Di samping itu, ditanyakan pula kondisi perang antara Rusia Vs Ukraina. Jokowi pun menegaskan agar perang segera dihentikan dan semua harus dikembalikan ke negosiasi di meja perundingan dengan dialog-dialog positif. Putin pun menjelaskan perkembangan kondisi perang yang terjadi. Di samping itu, Putin pun dengan tegas menyatakan akan hadir di Bali, Indonesia, pada KTT G20. Foto Putin saya dapatkan dari SINDOnews.


Presiden Rusia Vladimir Putin (Foto: SINDOnews)

            Semoga Putin dan Zelensky dapat hadir di Indonesia mengikuti KTT G20 dan membicarakan berbagai hal untuk mendapatkan kesepakatan sehingga perang dapat segera diakhiri. Kita layak berharap kehadiran mereka di Indonesia dapat menjadi gerbang untuk terciptanya perdamaian dan mengatasi berbagai kesulitan ekonomi dunia pascapandemi Covid-19 bersama dengan negara-negara berpengaruh lainnya.

            Jika itu terjadi, dunia akan mencatat bahwa Indonesia adalah tempat aman dan menyenangkan untuk menyelesaikan sengketa dunia. Rakyat Indonesia harus mendukung upaya ini karena rakyat Indonesia adalah rakyat yang dikenal ramah, beradab, dan berjiwa luhur. Jangan melakukan hal-hal sebaliknya yang justru membuat kerusakan di muka Bumi dan mencoreng nama baik Indonesia.

            Sampurasun.

Sunday, 24 April 2022

Dunia Beruntung Allah swt Jadikan Indonesia Presidensi G20

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Ketika Indonesia dipercaya untuk menjadi pemimpin presidensi G20, dalam periode ini terjadi bencana kerusakan karena perang luar biasa antara Rusia Vs Ukraina yang dibantu oleh Amerika Serikat (AS) dan “North Atlantic Treaty Organization” (Nato) atau Pakta Pertahanan Atlantik Utara. Perang ini terjadi sangat besar karena melibatkan dua kekuatan besar dunia secara militer dan ekonomi, yaitu AS dan Rusia. Kerusakan akibat perang ini sudah langsung berpengaruh pada dunia, baik secara politik maupun secara ekonomi, pengaruhnya bisa dirasakan dunia saat ini. Kegoncangan ekonomi dan kegalauan politik sudah bisa terasa. Ini jauh berbeda dengan perang-perang semisal Israel Vs Palestina atau di Timur Tengah yang kerusakannya hanya berpengaruh besar di wilayah konflik dan tidak begitu terasa di luar wilayah itu. Kalaupun ada pengaruhnya, tidak terlalu besar, bahkan banyak orang tidak tahu terjadi konflik di wilayah itu karena tidak merasakannya.

            G20 itu adalah kumpulan dari 19 negara maju dan menuju maju ditambah 1 Unieropa. Kumpulan negara ini mirip kumpulan orang-orang borju di dalam lingkungan hidup manusia sehari-hari. Saat ini Indonesia dipercaya mereka untuk memimpin kelompok ini. Kalau saya sih melihatnya, Indonesia bukan hanya dipercaya manusia untuk memimpin G20 ini, melainkan juga sudah menjadi rencana Allah swt dalam menyeimbangkan kekuatan-kekuatan dunia yang sekarang sedang bertempur. Indonesia sedang diuji untuk naik kelas menenangkan dunia dengan adil setelah berhasil mengendalikan dirinya sendiri dan mengatasi politik yang sedikit gaduh oleh para bajingan bodoh cacing cau.

            Perang Rusia Vs Ukraina membuat dunia menjadi tegang dan terpolarisasi semakin tajam antara pro-Barat AS dan pro-Timur Rusia. Tak kurang dari AS dan sekutunya mengancam memboikot G20 apabila Presiden Rusia Vladimir Putin hadir di Bali, Indonesia, dalam pertemuan G20. Bahkan, jangankan Presiden Putin, sekedar untuk bertemu dengan delegasi dari Rusia saja, mereka tidak mau. Mereka memilih “walk out”, meninggalkan pertemuan karena Rusia ada di sana. Lebih jauh lagi, AS dan sekutunya menekan Indonesia untuk memberikan sanksi kepada Rusia dan mencoret Rusia dari keanggotaan G20.

            Inilah ujian dan kepercayaan yang diberikan kepada Indonesia oleh Allah swt. Indonesia adalah negara nonblok yang memiliki politik luar negeri “bebas dan aktif”. Indonesia bebas tidak bergantung, tidak ditekan, dan tidak memihak pihak mana pun, baik barat maupun timur, baik AS maupun Rusia. Di samping itu, Indonesia aktif mewujudkan perdamaian dunia. Inilah yang saya sebut dunia beruntung ketika Perang Rusia Vs Ukraina terjadi, Indonesia sedang memimpin G20. Hal itu disebabkan Indonesia tidak memihak AS dan tidak memihak Rusia. Indonesia hanya memihak dirinya sendiri dan menolak menjadi anak buah atau kepanjangan negara lain. Dengan demikian, kelompok G20 dapat tetap dipaksa untuk fokus pada pemulihan ekonomi dunia pascapandemi dan tidak berbelok  menjadi ajang perdebatan dan perseteruan militer dan politik akibat perang Rusia Vs Ukraina.

            Saya tidak bisa membayangkan jika saat ini bukan Indonesia yang memimpin G20, melainkan negara lain yang pro-AS, misalnya Inggris. G20 bisa menjadi ajang atau kelompok negara yang berisi makian, hinaan dan rencana mengalahkan Rusia dengan beragam sanksi ekonomi, politik, militer, budaya, lingkungan, dan lain sebagainya yang bisa menyengsarakan rakyat Rusia dan mengganggu kehidupan dunia pada umumnya. Sebaliknya, jika saat ini yang menjadi pemimpin presidensi G20 adalah negara yang pro-Rusia, misalnya Cina, G20 bisa menjadi pertemuan yang isinya konflik dan pamer kekuatan militer dan politik untuk menunjukkan perlawanan terhadap pihak barat, AS dan sekutunya.

            Baik negara yang pro-AS maupun pro-Rusia jika memimpin presidensi G20 akan membuat dunia berat sebelah, timpang, dan polarisasi semakin tajam. Beginilah Allah swt menjalankan skenarionya dalam kehidupan ini, menempatkan Indonesia sebagai pemimpin sehingga polarisasi di dunia masih bisa dikendalikan dan tidak semakin tajam. Indonesia menghormati keduanya, baik barat maupun timur. Indonesia hanya berpegang pada dirinya sendiri dan mengharapkan perang segera berhenti untuk kemudian tercipta perdamaian sehingga G20 dapat lebih fokus untuk memulihkan ekonomi dunia.

            Bagi rakyat Indonesia. Kalian jangan selalu ribut, jangan selalu mudah ditipu, dibodoh-bodohin orang, jangan percaya sama bajingan bodoh. Jika ingin mendapatkan surga di dunia dan di akhirat, tetaplah berbuat baik, tetap belajar, tetap berpikir, dan tetap berperilaku untuk bermanfaat bagi orang lain dan dunia. Alllah swt sedang menempatkan Indonesia pada posisi terhormat sebagai penyeimbang dunia, maka jadilah manusia-manusia terhormat yang memberikan jalan keluar bagi dunia, bukan menjadi makhluk-makhluk dengan kerusakan cara berpikir dan cacat moral.

            Indonesia sedang diuji untuk menyeimbangkan dunia.

            Bukankah manusia yang termulia itu adalah “ummatan wasathan”, umat pertengahan yang menjadi saksi atas perilaku manusia lainnya di dunia ini?

            Pikir dengan akal dan raih pemahamannya dengan iman.

            Piraku teu ngarti.

            Sampurasun.