Showing posts with label Idul Fitri. Show all posts
Showing posts with label Idul Fitri. Show all posts

Saturday, 19 April 2025

Preman Jakarta Hampir Saya Tonjok

 


 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Sebetulnya, agak males juga ngomongin soal premanisme itu karena mereka itu hanya manusia berperilaku sampah yang mengganggu dan harus diusir dari pandangan kita. Mereka itu hanya gangguan dalam hidup dan tidak perlu jadi hitungan atau topik pembicaraan. Akan tetapi, dengan adanya kebijakan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi yang disingkat KDM (Kang Dedi Mulyadi) membentuk Satgas antipremanisme, masyarakat menjadi punya perlindungan atau harapan untuk terbebas dari perilaku premanisme yang meresahkan dan merugikan. Banyak masyarakat yang melaporkan aksi premanisme melalui media sosial mereka. Sayangnya, masih banyak perilaku premanisme yang terjadi. Mungkin karena sudah terlalu lama hidup mengandalkan aksi premanisme, para preman itu kebingungan mau mengerjakan apa untuk menopang hidupnya. Hal-hal seperti itu mendorong saya menuliskan pengalaman saya soal aksi premanisme ini. Mereka memang tidak terpelajar, bodoh, dan mengesalkan.

            Kejadiannya, hari ketiga Idul Fitri atau lebaran 2025 saya mengunjungi bibi saya di Tangerang untuk bersilaturahmi. Pulangnya, tentu saja lewat Jakarta. Sebelum pulang ke Bandung, mau main dulu ke beberapa tempat wisata di Jakarta. Jadi, jelas keluar dari tol dalam kota untuk menuju ke tempat-tempat itu. Sayangnya, di jalanan Jembatan II, Jakarta, yang kalau belok ke kanan menuju Kota Tua tiba-tiba kabel kopling mobil saya putus. Mobil saya tidak bisa lagi bergerak. Saya ke pinggirkan mobil saya agar tidak mengganggu lalu lintas. Saya dan anak-anak saya coba cari-cari bengkel mobil yang buka. Akan tetapi, masih libur, tak satupun toko alat-alat mobil di Jakarta ada yang buka, bengkel yang ada pun tidak sanggup memperbaiki karena ada barang yang harus dibeli dulu. Kami semua sempat kebingungan, apalagi hari mulai menuju sore, situasi menjadi tambah sulit.

            Situasi itu mulai memaksa saya dan anak-anak untuk memperbaiki sendiri.

Ketika kami sedang memperbaiki sendiri, tiba-tiba ada preman penuh tato yang datang sambil bertanya, “Mogok, Bang?”

            Saya jawab, “Iya.”

            Kirain dia mau bantuin, tetapi tiba-tiba dia meminta uang untuk dirinya dan teman-temannya untuk minum kopi. Saya mulai kesal sekaligus kasihan juga sih. Kesal karena saya lagi bingung dan berusaha memperbaiki mobil, dia malah bikin tambah susah dengan memalak saya. Meskipun begitu, saya juga merasa kasihan karena mungkin saja memang dia tidak punya uang.

            Anak laki-laki saya yang bungsu, masih kelas 3 SMA, langsung emosi bicara lantang sama preman itu, “Jangan minta uang! Nih, saya kasih rokok saja!”

            Si Preman itu bilang, “Pengen beli kopi sama teman-teman!”

            Melihat situasi itu, saya bilang sama Si Preman, “Udah, nih saya kasih sepuluh ribu.”

            “Dua puluh ribu, Bang,” dia nawar.

            Mulai saya pengen nonjok dia. Kalau saya tonjok, dia pasti langsung jatuh karena badannya juga kelihatan tidak sehat, tidak stabil. Akan tetapi, daripada ribut, terus mengganggu lalu lintas, saya kasih lima belas ribu.

            Udah dikasih lima belas ribu, dia minta lagi rokok ke anak saya. Saya kasih kode agar anak saya memberikan rokok buat preman itu, jangan berkelahi. Akhirnya, preman itu pergi.

            Setelah Si Preman pergi, anak saya yang bungsu itu segera bilang ke kakak laki-lakinya yang baru lulus kuliah, “A, kalau dia datang lagi sama teman-temannya, kita hajar mereka. Masa kita bertiga nggak bisa ngalahin mereka?”

            Agak beda memang anak saya yang bungsu ini. Dia mudah berkelahi kalau soal kehormatan. Lagian, dia suka berlatih MMA.

            Begitulah kejadian saya hampir menonjok preman Jakarta. Saya dari Bandung mau silaturahmi dan sebentar berwisata di Jakarta, malah mendapatkan ketidakamanan. Ini akan membuat citra DKI Jakarta menjadi buruk. Gubernur dan aparat kepolisian harus paham ini. Kan tidak bagus kalau Jakarta dibiarkan dipenuhi para preman dan tidak nyaman, males ke DKI Jakarta.

            Sebetulnya, Si Preman itu bisa mendapatkan uang lebih banyak dari saya. Jika dia datang membantu memperbaiki mobil, apa saja dia bisa bantu, mencarikan montir, mencari koran atau dus untuk tempat duduk saya, atau hal positif lainnya, dia akan lebih banyak dapat uang, beneran. Nggak perlu meminta pun, pasti saya kasih.

            Ketika anak-anak saya bisa menyambungkan kembali kabel kopling yang putus itu, mobil saya bisa kembali bergerak, tetapi saya ragu untuk bisa pulang ke Bandung lewat tol, takut putus di tengah tol. Akhirnya, saya minta tolong ke kantor Pemadam Kebakaran di Penjaringan, Jakarta, untuk sebentar ikut parkir.

Kebetulan di dekat situ ada tambal ban dan cuci motor yang buka. Saya pinjam beberapa alat untuk lebih baik memperbaiki kabel kopling. Tanpa disangka, orang-orang di sana segera memberikan bantuan, ikut mencari barang-barang yang saya butuhkan. Kantor Damkar pun membolehkan saya dan anak-anak untuk menggunakan fasilitas di sana, seperti, kamar mandi, mushala, kursi, dan charger Hp. Malah, ibu-ibu di sana ikut menemani ngobrol. Menyenangkan sekali.

Karena saya merasa senang, saya berterima kasih kepada mereka dan memberikan sejumlah uang, jauh lebih besar jumlahnya dibandingkan dengan yang saya berikan kepada Si Preman.

“Terima kasih, Pak De!” kata mereka setelah semuanya selesai.

Setelah itu, kami bisa sebentar jalan-jalan di Jakarta, lalu pulang ke Bandung.

Tuh, kan jadi tambah saudara kalau begitu. Saya orang Bandung. Mereka orang Jakarta, baru ketemu saat itu, tetapi mereka memanggil saya “Pak De”. Itu artinya terjalin persaudaraan. Begitu seharusnya, tumbuh silaturahmi dan mengalirkan rezeki, bukan dengan cara premanisme, memalak orang.

Apakah aparat DKI Jakarta tidak malu kalau ada orang Bandung yang memukuli preman Jakarta di tempatnya sendiri?

Cobalah kita semua harus mengadaptasi situasi yang baru, baik aparat, pejabat, maupun masyarakat untuk terbiasa hidup tanpa ada premanisme agar hidup menjadi lebih aman, lebih baik, dan harmonis.

Sampurasun.

Monday, 24 April 2023

Takbir Menyenangkan Mendunia

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Kalimat takbir itu adalah “Allahu Akbar”, ‘Allah Mahabesar’. Ada takbir mengesalkan, membuat marah, ada juga takbir yang menyenangkan dan menarik hati.

            Kalimat takbir ini sudah mendunia sejak lama. Banyak orang yang tahu dan hapal, baik orang Islam maupun nonmuslim, baik pendukung Islam maupun anti-Islam.

            Pada puluhan tahun lalu, pasca-keruntuhan Ottoman, takbir ini terkesan mengesalkan, membuat marah, dan mengerikan. Hal ini disebabkan kalimat takbir ini selalu digunakan untuk berperang dan semangat membunuh manusia, padahal dunia sudah berubah. Kekuasaan menjadi lebih tersebar, tidak lagi di tangan satu atau dua penguasa, seperti, kekhalifahan, kekaisaran Romawi, atau Mongolia. Hal ini terus berlanjut hingga tahun-tahun belakangan ini, terutama takbir digunakan oleh para teroris, semacam Isis, Al Qaeda, FSA, Boko Haram, dan lain sebagainya, serta gerakan-gerakan pengacau masyarakat, baik di luar negeri maupun di dalam negeri Indonesia. Penggunaan takbir semacam ini membuat Islam dan kaum muslimin dibuli oleh para anti-Islam sebagai agama pengacau dan terbelakang. Bahkan, beberapa pengamat, habib, gus, dan kiyai mensinyalir bahwa orang-orang yang kerap bertakbir keras-keras tanpa tujuan yang benar, perilakunya kasar dan menyebabkan banyak kaum muslimin murtad karena merasa terintimidasi dan terkekang dalam menjalankan agamanya.

            Sekarang, situasinya mulai berubah, terbalik. Banyak orang yang menyukai takbir, baik muslim maupun nonmuslim. Ramadhan tahun ini telah menggerakkan para santri, aktivis muslim yang menjadi youtuber atau influencer Indonesia membuat konten-konten kreatif dalam menyambut Ramadhan dan Idul Fitri di Indonesia. Mereka mengupload kegiatan dan kreativitas mereka dalam media sosial dengan lagu-lagu rohani yang menghentak dan menyenangkan; kehidupan keluarga yang saling menghormati; budaya sahur, ngabuburit, takjil, buka bersama (iftar), tarawih, hingga hal-hal lucu selama Ramadhan; kebersatuan para pejabat dan masyarakat. Hal ini membuat penduduk dunia ingin tahu Indonesia dengan lebih baik, termasuk pelaksanaan ajaran Islam di Indonesia. Perhatian mereka mulai teralihkan yang biasanya Islam itu identik dengan Arab dan Timur Tengah, kini perhatian mereka mulai terfokus pada Indonesia. Bahkan, orang-orang Timur Tengah pun terheran-heran dan tertarik dengan kehidupan kaum muslimin di Indonesia.

            Selama Ramadhan ini, banyak orang dari berbagai negara yang datang ke Indonesia hanya untuk merasakan atmosfir, getaran, resonansi, atau sensasi menjalankan ibadat shaum dan idul fitri di Indonesia. Ini terjadi bukan hanya pada orang-orang Islam, melainkan pula nonmuslim. Bagi orang Indonesia, aktivitas Ramadhan seperti ini sudah biasa dan memang biasanya begitu. Akan tetapi, bagi orang-orang dari Timur Tengah, Eropa, dan Asia lainnya merupakan hal yang baru. Banyak dari mereka yang mengatakan bahwa di negara mereka “kehilangan” momen-momen menyenangkan seperti di Indonesia.

            Hal ini membuat saya bertanya-tanya, memangnya Ramadhan di negara mereka suasananya bagaimana?

            Sepanjang yang dapat saya ingat, orang-orang asing yang berdatangan ke Indonesia sepanjang Ramadhan ini berasal dari Malaysia, Pakistan, Kanada, Italia, Amerika Serikat, Belanda, Rusia, Inggris, Perancis, Cekoslowakia, Iran, Palestina, Australia, Korea Selatan, Cina, Jepang, dan beberapa negara lainnya. Mereka bukan hanya muslim, melainkan pula nonmuslim. Mereka ikutan membangunkan sahur sambil bernyanyi, mencoba berpuasa, ikutan shalat, berburu takjil, ikut shalawatan, takbiran keliling, ngabuburit, dan lain sebagainya. Orang-orang Islam Indonesia pun tidak mempermasalahkan agama mereka apa, sama-sama saja bergembira. Hal ini bisa dilihat dari chanel-chanel youtube dan instagram mereka. Coba saja cek sendiri.

            Orang-orang nonmuslim dari berbagai negara pun ikut mengucapkan takbir karena mereka merasa senang. Hal ini membuat saya semakin mengerti bahwa para wali di Indonesia itu orang-orang cerdas menggunakan seni dan syair-syair yang menyenangkan untuk mendakwahkan Islam. Orang-orang asing tak lagi memandang bahwa takbir adalah teriakan untuk perang dan membunuh, tetapi untuk mengagungkan Tuhan dan mempererat hubungan di antara manusia.

            Takbir memang bisa digunakan untuk berperang agar mengukuhkan tauhid, menambah semangat, dan menggetarkan musuh. Akan tetapi, itu jika kita sedang terlibat perang.

            Kalau tidak sedang berperang, tidak perlu bertakbir untuk menakuti orang, iya kan?

            Bertakbirlah untuk hal-hal yang menyenangkan sehingga orang lain pun ikut senang.

            Sampurasun.

Sunday, 1 May 2022

Ramadhan Tidak Mau Berhenti Perang, Tetapi Cobalah Berhenti Dulu Saat Idul Fitri

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Pasukan tempur Rusia dalam melakukan “demilitarisasi” dan “denazifikasi” di Ukraina dibantu penuh oleh Presiden Republik Chechnya Ramzan Akhmadovich Kadyrov. Tentara muslim Chechnya mengerahkan pasukan tempur daratnya untuk membantu Rusia.

            Pasukan muslim Chechnya ini sangat disiplin, ramah, murah senyum menghiasi tubuh kekar dan jenggot lebatnya. Tak heran mereka selalu meraih keberhasilan dalam setiap operasinya. Dari beberapa video operasi pasukan Chechnya, tampaknya mereka bertugas menyisir kota-kota untuk menyelamatkan warga sipil yang terjebak perang dan membersihkan para neo nazi yang dikabarkan menggunakan rakyat sipil sebagai tameng hidup dalam perang.


Pasukan Chechnya Merebut Mariupol (Foto: CNN Indonesia)


Keberhasilan mereka merebut Kota Mariupol, Ukraina, mengejutkan semua orang. Pasukan Chechnya mengumumkan bahwa Kota Mariupol telah jatuh ke tangan mereka dan tidak bisa dikembalikan. Mereka menguasai penuh di sana.

Ketika memasuki Bulan Suci Ramadhan, Presiden Rusia Vladimir Putin meminta Ramzan Kadyrov untuk menghentikan perang agar para tentara Chechnya dapat lebih berkonsentrasi menjalankan ibadat Ramadhan. Akan tetapi, Ramzan menolaknya karena dalam keyakinannya justru berperang pada Bulan Suci Ramadhan akan memperoleh pahala yang lebih besar. Putin pun tak bisa menolak keinginan Ramzan.


Valadimir Putin dan Ramzan Kadyrov (Foto: CNN Indonesia)


Foto dialog antara Putin dan Ramzan serta pasukan Chechnya yang telah merebut Kota Mariupol saya dapatkan dari CNN Indonesia.

Kini Bulan Suci Ramadhan telah selesai dan memasuki Syawal. Pada 1 Syawal adalah Hari Raya umat Islam, Idul Fitri. Ada baiknya untuk menghentikan perang dulu, hormati hari raya ini dan berbagi kebahagiaan bersama dengan siapa pun. Berbuat baiklah dengan musuh jika musuh cenderung untuk berdamai dan bersedia menghentikan perang sementara, lebih baik lagi jika didapat kata sepakat untuk menghentikan perang selamanya. Ini mungkin sulit terjadi, tetapi tidaklah salah untuk dicoba dan mengurangi ketegangan. Banyak berdoa supaya Allah swt memberikan jalan ke luar yang terbaik. Ajaklah musuh untuk menyelesaikan perselisihan dengan dialog dan rasa saling percaya. Jika musuh dapat dipercaya, hormati sikap mereka. Akan tetapi, jika musuh tidak dapat dipercaya dan terus menunjukkan ancaman bahaya. Kalian lebih tahu apa yang harus kalian lakukan.

Sampurasun.

Sunday, 16 May 2021

Lebaran Pertama tanpa Ayah

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Mungkin banyak yang berlebaran tanpa ayahnya, saya salah satunya. Memang ada satu perasaan yang hilang ketika merayakan hari Idul Fitri tanpa Ayah. Biasanya, sekeluarga full team sungkeman, memohon maaf atas segala kesalahan dan mendapatkan doa dari kedua orangtua. Jika salah satu orangtua kita tidak ada atau kedua-duanya tidak ada, acara sungkeman kepada orangtua pun tak ada lagi.

Karena tak ada lagi acara seperti orangtua masih ada, perasaan kehilangan itu pun menimbulkan rasa rindu. Kerinduan itu pun diupayakan untuk dipenuhi. Oleh sebab itu, tak heran jika pada masa-masa lebaran, banyak orang yang mengunjungi makam orangtuanya. Itu karena rindu dan sangat manusiawi. Tindakan mengunjungi makam karena rindu bukanlah perilaku sesat.

Masa rindu orangtua dibilang sesat?


Begitu juga saya. Lebaran kali ini hanya ada Mamah, tetapi Bapak tidak ada. Untuk mengobati kerinduan itu, saya mengajak anak bungsu saya yang sudah menginjak remaja untuk mengunjungi makam ayah saya, kakeknya anak-anak. Hal itu saya lakukan sekaligus mengajarkan anak saya untuk tetap menjaga ikatan rasa dengan ahli kubur dengan cara memeriksa keadaan makamnya, mengecek tugas penjaga makam karena kan keluarga sudah membayar agar makamnya terawat, membersihkan makamnya dengan tangan sendiri, memberinya bunga agar terlihat lebih indah, menyiraminya air agar lebih segar, dan tentu saja mendoakan ayah saya. 

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Muslim dijelaskan bahwa jika seorang manusia meninggal, terputuslah amalnya. Dia sudah tidak bisa lagi beramal, berkarya, atau melakukan berbagai hal seperti ketika masih hidup, kecuali tiga hal. Ketiga hal itu ialah “sedekah jariyah” yang dilakukan ketika hidup karena pahalanya terus mengalir meskipun sudah wafat; “Ilmu yang bermanfaat” yang diajarkan dan diimplementasikan ketika masih hidup; “Doa anak soleh”, doa Sang Anak pahalanya akan terus mengalir kepada orangtua yang sudah wafat. Oleh sebab itu, saya berusaha sejauh yang saya bisa selalu berdoa untuk ayah saya dengan harapan pahalanya mengalir terus kepada ayah saya dan saya pun mendapatkan pahala dari kebaikan yang saya lakukan.


“De,” kata saya kepada anak saya yang bungsu itu, saya memanggilnya Dede, namanya sih Radifta Badar Natabuana, “Semua orang pasti meninggal. Dede bakal meninggal, Mamah, Papah, Aa, Teteh, Enin, Bibi, semua bakal meninggal. Kita semua hanya menunggu giliran. Orang yang sudah meninggal tidak bisa ngapa-ngapain lagi, mereka menunggu doa dari kita yang masih hidup. Dengan doalah mereka masih mendapatkan pahala di alam kuburnya.


Yuk, kita berdoa buat Aki semoga diampuni seluruh dosanya, diterima iman dan islamnya, diberikan tempat yang nyaman, terang, dan menyenangkan di alam kubur, serta dipersatukan dengan orang-orang yang telah diberikan kenikmatan, kemudian dimasukkan ke dalam surga. Jangan lupa pula doakan seluruh kaum muslimin dan muslimat, baik yang masih hidup maupun yang sudah wafat supaya terus diberikan kemudahan dan perlindungan oleh Allah swt.

Al Fatihah.”

Selepas berdoa, saya ajak anak saya berbicara kepada kakeknya sebagaimana ketika masih hidup, “Aki, kami pulang dulu ya, semoga Aki tenang dan bahagia di alam sana.”

Kami pun pulang. Alhamdulillaah, kerinduan sedikit terobati.

Sampurasun.

Tuesday, 5 July 2016

Ssst ... Jangan Ngomongin Soal Bom ... Berisik!

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya

Pada penghujung Ramadhan 1437 H, 2016 M, telah meledak beberapa bom pada beberapa tempat di seluruh dunia. Bom-bom itu meledak di Turki, Bangladesh, Irak, Arab Saudi, Indonesia, dan lain sebagainya. Peristiwa itu menyedot perhatian media massa di seluruh dunia.

                 Sebaiknya, berita-berita semacam itu jangan terlalu dibesar-besarkan. Itu memang berita, tetapi buat saja menjadi berita kecil. Soalnya, mereka yang melakukan peledakan itu cuma narsis. Mereka hanya mencari perhatian dengan mendompleng pada bulan Ramadhan dan kegembiraan Idul Fitri. Apabila berita itu terlalu dibesar-besarkan, kita jadi tertarik pada agenda mereka. Orang-orang itu memang inginnya mendapatkan berita spektakuler dan dianggap eksis berat di muka Bumi ini.

                 Tampaknya mereka itu iri dengan kebahagiaan kaum muslimin pada bulan Ramadhan dan Idul Fitri. Pada bulan Ramadhan tahun ini bukan hanya umat Islam yang merayakannya, melainkan pula umat-umat lain mulai menunjukkan penghormatan yang tulus dan persaudaraannya terhadap kaum muslimin sebagai sesama manusia. Rasa hormat dan kedamaian yang harmonis memang semakin menguat. Khusus di Indonesia, banyak sekali nonmuslim yang merasakan getaran menyenangkan dari suasana Ramadhan dan kebahagiaan Idul Fitri. Hal itu menunjukkan peningkatan yang sangat luar biasa dalam mewujudkan kehidupan yang lebih baik.

                 Sementara itu, orang-orang yang penuh kebencian semakin terpuruk dengan agenda-agenda kusut mereka. Orang-orang ini sudah tercerabut dari lingkungannya karena memang memisahkan diri dari orang lain dan memastikan dirinya sebagai “kumpulan manusia terbaik” yang tidak memerlukan orang lain lagi. Kasihan mereka. Ketika orang-orang mudik dalam suasana bahagia dan ingin lebih bahagia berkumpul bersama keluarganya di kampung tempatnya lahir, orang-orang kusut pikiran cemburu karena terpisah secara emosi dari keluarga dan sanak saudaranya.

                 Orang-orang yang selama ini menggerakkan dan membiayai mereka pun cemburu berat dengan hal itu. Ketika melihat kaum muslimin bergembira dengan Ramadhan dan Idul Fitri yang juga mendapatkan penghormatan dari umat-umat lain, mereka merasa tersisihkan. Ketika manusia-manusia yang waras otak berusaha menjaga jalinan hubungan perdamaian dan kasih sayang, orang-orang yang penuh agenda kebencian itu sangat iri, gelisah, dan marah. Oleh sebab itu, mereka membuat banyak huru-hara di tempat-tempat yang dianggap menjadi perhatian manusia.

                 Bagaimana tidak akan iri dengan kebahagiaan kaum muslimin?

                 Kaum muslimin itu memiliki minimal dua kebahagiaan dalam Ramadhan. Kata Nabi Muhammad saw orang yang berpuasa itu memiliki dua kebahagiaan, yaitu ketika berbuka dan ketika Idul Fitri.

                 Orang-orang yang kusut pikiran tidak memiliki dua kebahagiaan itu. Jelas sekali jika mereka iri. Rasa iri mereka diwujudkan dengan melakukan pemboman di tempat-tempat yang mereka benci. Masjid Nabawi adalah tempat yang mereka benci. Pemboman di tempat itu menunjukkan bahwa mereka membenci kebahagiaan kaum muslimin, mempertahankan suasana tidak aman di negeri-negeri muslim, menciptakan berita dan ceritera bahwa kaum muslimin selalu berada dalam huru-hara, dan menunjukkan betapa narsisnya mereka.


                 Dengan demikian, tak perlu dibesar-besarkan berita tentang perilaku murahan seperti itu. Terlalu rendah bagi kita untuk selalu memperhatikan mereka. Waspada memang harus terus dijaga dan yang lebih penting adalah sekarang saatnya untuk terus mengagungkan Allah swt dan memuliakan kaum muslimin serta menjaga kasih sayang di antara sesama manusia dan menciptakan keseimbangan kehidupan di seluruh alam semesta.

Sunday, 5 June 2016

Menyeragamkan Awal Ramadhan dan Idul Fitri

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya

Waktu awal puasa dan penentuan hari lebaran selalu menjadi hal yang menarik diperhatikan sekaligus “mengesalkan”. Hal itu disebabkan selalu saja ada perbedaan dalam menentukan waktu-waktu tersebut, padahal sebetulnya bisa sama.

            Sesungguhnya, menjadi sesuatu hal yang tidak bisa dimengerti mengapa selalu berbeda, padahal dengan mudah bisa sama.

            Apakah orang-orang bangga dengan perbedaan, beda dari yang lain?

            Mengapa tidak merasa bangga dengan kebersamaan?

            Mengapa tidak merasa nyaman dan indah dengan kebersamaan?

            Perbedaan awal puasa dan hari lebaran itu saya melihatnya, pertama, sebagai wujud dari berbangga-bangga diri atas nama kelompoknya. Prinsip mereka adalah pokoknya kita harus beda dari yang lain atau orang lain yang harus sama dengan kita.  Model muslim seperti ini adalah muslim primitif yang pasti masuk neraka. Nabi Muhammad saw sendiri mengajarkan bahwa jika seseorang mati dalam keadaan berbangga-bangga diri dengan kelompoknya, neraka adalah tempat yang pasti baginya. Hal itu disebabkan dia menyombongkan diri di hadapan saudaranya sendiri sesama muslim serta bukan mengagungkan Islam dan kaum muslimin, tetapi mengagungkan kelompoknya sendiri.

            Kedua, takut dosa dan salah. Waktu penetapan awal puasa menjadi patokan pula dalam menetapkan Hari Raya Idul Fitri. Mungkin ada orang-orang yang takut salah dan takut berdosa karena jika salah menetapkan awal puasa, bisa jadi salah pula menetapkan 1 Syawal. Sementara itu, 1 Syawal diharamkan untuk berpuasa. Artinya, jika sudah masuk 1 Syawal masih juga berpuasa, haram hukumnya, dosa jadinya.

            Kedua hal itu, yaitu berbangga diri dengan kelompoknya dan ketakutan atas dosa dan kesalahan sangat bisa diatasi. Bagi para muslim primitif yang masih gemar berbangga diri dengan kelompoknya sambil melecehkan kelompok lainnya, bisa disadarkan dengan pendekatan keagamaan dan nilai-nilai kebangsaan. Dalam segi agama, jelas salah berbangga diri atas dasar kelompok dan pasti masuk neraka jika kebanggaan itu terbawa mati. Dari segi kebangsaan pun jelas cukup mengganggu rasa persatuan, kesatuan, persaudaraan, dan kebersamaan Indonesia. Dengan pendekatan keilmuan dan kesejarahan kebangsaan, diharapkan mereka sadar untuk bersama-sama melaksanakan shaum dan Idul Fitri secara bersama.

            Bagi mereka yang takut salah dan dosa, bisa disadarkan dengan pengambilalihan tanggung jawab untuk menanggung salah dan dosa oleh pemerintah.

            Jika mereka berdalih, “Siapa yang bertanggung jawab kalau kami nanti disalahkan di akhirat?”, Pemerintah harus menjawab, “Kami yang akan menanggung beban dosa itu jika kami salah. Timpakan saja tanggung jawab itu kepada kami. Katakan kepada Allah swt bahwa kalian diharuskan untuk patuh kepada kami. Dengan demikian, tanggung jawab ada pada kami.”

            Memang iya toh selama ini juga pemerintah harus bertanggung jawab di akhirat nanti, bukan hanya soal puasa dan lebaran, hal-hal lain pun harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah swt, kelak. Biasa saja. Akan tetapi, bagi mereka yang takut dosa dan salah yang berakibat pada perbedaan awal puasa dan lebaran, sangat perlu kepastian tentang pengambilalihan tanggung jawab tersebut di akhirat.

            Apabila penyadaran melalui ilmu dan kebangsaan tidak berhasil bagi muslim primitif dan gagal juga pada mereka yang takut dosa padahal tanggung jawab atas dosa sudah diambil alih, sebaiknya ada upaya lain yang lebih tegas untuk menyeragamkan awal puasa dan idul fitri tersebut. Upaya itu merupakan penetapan hukum bahwa tindakan berbeda dari pemerintah pusat dalam hal itu “dinyatakan illegal”. Hal itu hendaknya mulai diwacanakan sesegera mungkin dan segencar mungkin.

            Perbedaan-perbedaan ini sesungguhnya sangat mengganggu persaudaraan sesama muslim, persatuan dan kesatuan bangsa, serta merusakkan nama baik dan martabat Islam itu sendiri. Kalian tidak tahu sih bahwa di luar sana para anti-Islam menjadikan perbedaan-perbedaan di antara kelompok-kelompok Islam itu sebagai bahan ejekan. Sebisa mungkin harus dicari persamaan-persamaan yang ada. Hal yang berbeda dan mudah dijadikan sama, segera disamakan. Jangan berbangga-bangga diri dengan perbedaan sehingga hal yang seharusnya mudah untuk sama, dibeda-bedain. Ngaco. Di samping itu pun, di kalangan masyarakat karena terjadi perbedaan awal puasa dan lebaran, menganggap sesat orang lain yang berbeda dengan dirinya. Terjadilah saling tuding sesat-menyesatkan.

            Begitukah yang kalian inginkan?

            Apa lagi yang membuat kalian pengen selalu berbeda dan paling depan dalam hal menetapkan awal puasa dan lebaran?

            Pengen berbangga-bangga diri supaya dianggap kelompoknya paling hebat?

            Neraka adalah tempat terakhir kalian. Itu kata Nabi Muhammad saw.

            Takut dosa, salah, sehingga di akhirat akan dituntut pertanggungjawaban?

            Tanggung jawab untuk hal itu sudah bisa diambilalih oleh pemerintah pusat.

            Lalu, apa lagi?


            Sebaiknya, memang pemerintah pusat harus membuat aturan yang jelas berikut sanksi yang dapat menjadikan mereka yang selalu gembira untuk berbeda dari saudaranya mendapatkan peringatan sebagai pelaku tindakan illegal. Tidak ada salahnya membuat aturan seperti itu. Toh, niatnya juga baik untuk kemuliaan Islam dan kaum muslimin plus persatuan dan kesatuan bangsa.

Thursday, 9 September 2010

Ulama pun Ikut Bersalah

oleh Tom Finaldin

Bandung, Putera Sang Surya

Ramadhan adalah bulan penuh berkah. Bulan emas untuk mengembalikan diri ke arah kesucian. Kita, muslim, diberi kesempatan untuk beribadat di bulan mulia agar kembali menjadi baru dan istimewa. Hal itu tidak menjadi perdebatan sama sekali.

Para ulama berkali-kali menyuarakan di mimbar-mimbar dan majelis-majelis bahwa pada saat idul fitri bukanlah baju yang harus baru, bukan makanan yang harus segala ada, dan bukan pula piknik atau tamasya yang menjadi kesenangan, melainkan kembali ke kesucian diri sebagaimana bayi yang baru dilahirkan. Akan tetapi, dalam kenyataannya, masyarakat kita ini masih juga terjebak dalam budaya pakaian baru dan pesta raya yang memerlukan uang lebih dibandingkan hari-hari biasa. Kebiasaan itu mengakibatkan bahwa pada saat idul fitri atau lebaran, harus memiliki dana lebih dari biasanya.

Untuk mendapatkan uang guna merayakan lebaran budaya itu, beragam cara dilakukan masyarakat. Ada yang normal, wajar, halal, dan ada pula yang haram. Saat ini sungguh tercipta kondisi yang memprihatinkan bahwa banyak masyarakat yang berupaya mendapatkan uang untuk lebaran dengan jalan tak halal, misalnya, mencuri, merampok, jual beli Narkoba, menipu, mengemis, memeras, dan lain sebagainya.

Perilaku-perilaku itu jelas menunjukkan kesalahan luar biasa yang berasal dari pemahaman dan kebiasaan yang salah luar biasa pula. Kesalahan-kesalahan itu pun berasal pula dari perilaku para ulama sendiri. Banyak mereka yang bergelar ahli agama yang memahami bahwa berlebaran itu bukan harus memakai pakaian baru dan bukan harus memiliki uang banyak, tetapi pada saat idul fitri mereka melakukan budaya yang salah itu pula. Mereka berbaju baru, jalan-jalan, makan makanan enak-enak, senang-senang mengikuti kebiasaan salah yang mereka salahkan sendiri ketika berceramah. Tampaknya, terjadi perbedaan antara hal yang diceramahkan dengan perilaku yang terjadi dalam dunia nyata. Oleh sebab itu, tidak terjadi perubahan sikap dari masyarakat dengan budaya lebaran ini. Mereka tidak melihat contoh dari orang-orang yang seharusnya menjadi contoh.

Memang tidak semua ahli agama melakukan budaya salah itu, tetapi kita melihat banyak sekali yang melakukannya. Artinya, upaya-upaya masyarakat yang memperbanyak uang untuk berlebaran sampai melakukan hal-hal yang haram disebabkan pula oleh tidak konsistennya para ahli agama itu dengan materi yang diajarkannya. Oleh sebab itu, para ulama pun memikul kesalahan atas perilaku masyarakat itu. Dengan kata lain, mereka tidak memberikan contoh yang baik dalam melaksanakan idul fitri sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah saw.