Showing posts with label Bom. Show all posts
Showing posts with label Bom. Show all posts

Saturday, 8 April 2017

Meminimalisasi Teror di Eropa

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Saya tidak akan Jaim, ‘jaga imej’, soal teror-teror yang terjadi di Eropa. Reaksi saya pertama kali ketika terjadi teror di Eropa adalah tertawa terkekeh-kekeh, lalu terbahak-bahak bahagia. Setelah itu, agak sedih sedikit, sedikit sekali, sangat sedikit, kebanyakan saya gembira bukan main.

            Saya senang karena apa yang saya “ancamkan” kepada mereka benar-benar terjadi. Hal itu menunjukkan bahwa saya telah memberikan peringatan kepada mereka dan peringatan itu benar-benar terwujud secara nyata. Berkali-kali peringatan saya ini terjadi secara nyata.

            Sebelum terjadi teror bom di Paris, Perancis, saya sudah berdebat dengan para anti-Islam Perancis dua bulan sebelumnya lewat youtube. Saya peringatkan bahwa mereka harus segera menghentikan penghinaan-penghinaan kepada Allah swt, Islam, Muhammad saw, dan kaum muslimin. Saya ingatkan bahwa penghinaan kepada Islam hukumannya adalah “mati” dibunuh. Orang Islam yang memiliki semangat tinggi akan mengorbankan dirinya untuk kemuliaan Islam dan kaum muslimin. Itu artinya penghinaan kepada Islam yang mereka lakukan akan memicu teror. Akan tetapi, sayangnya, orang-orang Eropa dan Amerika Serikat itu kebanyakan belagu, sombong, angkuh, dan tidak mau kalah meskipun sudah jelas-jelas salah. Bahkan, mereka terus-terusan makin keras menghina Islam, baik di dunia maya maupun di dunia nyata dengan aksi-aksi jalanan yang memuakkan.

            Secara fakta dan pengetahuan, saya tidak pernah kalah berdebat karena mereka hanya memiliki pemahaman sedikit dan salah tentang Islam. Akan tetapi, brengseknya, mereka melakukan penghinaan itu just for fun, ‘hanya untuk bersenang-senang’ dan tidak peduli apakah mereka itu menyakiti orang lain atau tidak. Memang ini tampaknya penyakit yang mereka derita. Mereka gemar sekali membuli orang lain yang lemah dan minoritas, bukan hanya muslim, nonmuslim pun mereka buli.

            Akibatnya, bum …! Meledaklah teror di Paris, Perancis yang segera diklaim oleh Isis bahwa itu merupakan konser milik Isis. Pemimpin tertinggi Isis Al Baghdadi menyatakan bahwa teror itu sebagai balasan atas kebijakan pemerintah Perancis yang ikut-ikutan memerangi Isis di Suriah dan balasan atas penghinaan orang-orang Perancis kepada Muhammad saw.

            Saya segera saja bilang, “Gue bilang juga apa. Disuruh berhenti menghina Islam, malah menjadi-jadi, bukannya sadar.”

TEROR DI PARIS, PERANCIS. Foto:global.liputan6.com

            Begitu juga dengan orang-orang Inggris, saya sering sekali chit chat sama mereka agar menghentikan penghinaan kepada Islam. Akan tetapi, orang-orang Inggris ini jauh lebih sombong daripada orang-orang Eropa lainnya. Bahkan, saya bilang orang-orang ini paling sombong dan angkuh di seluruh daratan Eropa. Mereka malah menantang saya kapan hukuman dari Allah swt datang. Mereka melecehkan peringatan saya meskipun komentar-komentar tantangan mereka banyak yang mereka hapus sendiri. Mungkin mereka takut juga sebenarnya, tetapi karena sombongnya bukan main, mereka tidak mau kalah. Mereka minta saya menuliskan tanggal, hari, bulan, dan tahun hukuman Allah swt itu datang.

            Saya jawab saja, “Wait!”

            Disuruh menunggu, mereka malah balik mengejek saya karena tidak tahu kapan hukuman itu datang. Jelas saja saya tidak pernah tahu kapan hukuman itu datang. Akan tetapi, pasti datang karena itu adalah sunatullah. Memang beberapa waktu kemudian, terjadi pula teror menakutkan di Eropa sekaligus kekalahan mereka dalam pemilihan walikota London. Walikota London sekarang kan seorang muslim, namanya Sadiq Khan. Saya pikir itu hukuman bagi mereka dan peristiwa memalukan bagi mereka, ternyata warga London banyak yang sadar untuk tetap saling menghormati di antara umat yang berbeda agama. Tentu saja itu merupakan pukulan keras bagi para anti-Islam di Inggris. Hal itu berada dalam monitoring Allah swt karena Allah swt yang menguasai hati setiap manusia.

            Hal yang lebih mengejutkan adalah peristiwa teror di Stockholm, Swedia. Soalnya, dua hari sebelumnya ada salah seorang dari mereka yang juga mengganggu saya. Sebelum-sebelumnya mereka menuduh saya sebagai penghina Yesus Kristus.

            Saya tantang mereka, “Kapan aku menghina Yesus? Kata dan kalimat mana yang menjadi bukti aku menghina Yesus? Aku paling anti menghina agama orang lain.”

            Mereka tidak bisa menjawab karena memang tidak ada kata penghinaan itu.

            Meskipun demikian, mereka tetap mengganggu dengan menjawab, “This one.”

            This one, ‘yang ini’. Mereka menjawab itu tanpa menunjukkan kata yang mana dan kalimat mana, kecuali ‘yang ini’.  

            Yang ini teh yang mana atuh?

            Da euweuh.

            Mereka hanya mengganggu karena tak mau kalah.

            Dua hari kemudian, bum …! Terjadilah teror di Swedia.

            Saya segera bilang aja dalam hati, “Gue bilang juga apa. Pada belagu sih.”

TRUK ALAT TEROR SWEDIA. Foto:news.karirsumut.com

            Orang boleh saja menyalahkan pelaku teror, tetapi teror itu dipicu salah satunya oleh penghinaan-penghinaan terhadap Islam.


Menciptakan Suasana Saling Menghormati
Untuk meminimalisasi perilaku teror di Eropa, harus ada upaya bersama antara pemerintah Eropa dan masyarakat Eropa untuk menghentikan penghinaan-penghinaan kepada Islam dan kaum muslimin. Berdebat boleh. Sampai urat leher tegang pun boleh berdebat. Akan tetapi, tidak boleh saling menghina. Berdebat itu soal ilmu pengetahuan, sedangkan saling hina itu terjadi karena sama-sama bloon dan tolol.

            Saya sangat menyukai pemerintah dan masyarakat Kanada yang melindungi muslim dan menghormati setiap manusia. Ketika ada teror pada masjid dan terhadap kaum muslimin yang sedang shalat, Perdana Menteri Kanada menangis. Ketika kaum muslimin shalat Jumat, orang-orang nonmuslim Kanada membuat pagar manusia mengelilingi masjid untuk melindungi umat Islam dari kejahatan teror. Demikian pula, pemerintah Jerman yang menyatakan dengan tegas bahwa Islam adalah bagian dari Jerman. Tak heran jika di Kanada dan Jerman dapat dikatakan jumlah teror yang terjadi adalah sangat minimal dibandingkan dengan negara besar Eropa lainnya.

            Di Swedia itu penghinaan kepada Islam sangat brutal, bukan hanya di dunia maya, melainkan di dunia nyata. Mereka yang anti-Islam pernah melakukan sabotase pada acara-acara diskusi, seminar, dakwah kaum muslimin dengan mengganti tayangan-tayangan video Islami dengan tayangan-tayangan penghinaan pada Islam.

            Tak heran jika umat Islam yang sudah menyiapkan dirinya untuk syahid melakukan bum …!

            Korbannya pun acak dan tidak terarah, siapa saja. Hal itu disebabkan banyak sekali yang melakukan penghinaan Islam di sana.

            Dalam hal ini saya harus memberikan penilaian bahwa pelaku teror di Indonesia lebih baik dibandingkan dengan di Eropa. Bukan berarti saya setuju teror. Saya pasti tidak setuju teror. Akan tetapi, paling tidak, teror yang terjadi di Indonesia sasarannya lebih terarah, yaitu polisi, terutama Densus Antiteror. Pelaku teror di Indonesia tidak menyasar korban secara acak karena masih banyak muslim yang baik yang mencoba melakukan perlawanan terhadap penghinaan pada Islam di dunia maya dan banyak nonmuslim baik yang juga tidak setuju terhadap penghinaan pada Islam. Banyak sekali nonmuslim yang ingin hidup damai di lingkungan mayoritas muslim, apalagi yang memiliki ikatan darah. Banyak pula orang Islam yang melindungi nonmuslim.

            Berbeda dengan di Swedia. Karena jumlah anti-Islam sangat banyak dan melakukan penghinaan serta provokasi tanpa dikendalikan oleh pemerintah, jawabannya adalah kaum muslimin yang siap syahid melakukan perlawanan dengan keras bertaruh nyawa.

            Indonesia harus bersyukur memiliki undang-undang yang bisa mengendalikan kebebasan berbicara agar tidak jatuh menjadi kebebasan memfitnah dan menghina pihak lain, baik suku, agama, ras, ataupun adat istiadat. Persoalannya adalah kurangnya partisipasi masyarakat dalam melaporkan berbagai penghinaan yang terjadi di dunia maya dan kurangnya kemauan polisi untuk menyelesaikan kasus-kasus itu. Di dunia nyata penghinaan-penghinaan itu tidaklah banyak. Kalaupun terjadi di dunia nyata, rata-rata karena “keseleo lidah”, tidak sengaja, lupa, atau kebablasan. Sangat jarang terjadi penghinaan di dunia nyata yang dilakukan dengan sengaja, apalagi untuk bersenang-senang.

            Berbeda dengan di dunia barat dan Eropa, penghinaan itu dibiarkan terjadi karena masih termasuk dalam kebebasan berbicara dan kebebasan berekspresi. Padahal, kebebasan berbicara itu tujuannya adalah untuk memperbaiki kehidupan manusia agar tidak terjadi pelanggaran hak azasi manusia dan agar tercipta dorongan lebih positif untuk kemajuan manusia. Penghinaan bukanlah bertujuan untuk hal-hal positif, melainkan hanya untuk meluapkan emosi tanpa kendali secara bodoh, tolol, dan penuh kebloonan.

SALING HINA ADALAH KEBODOHOAN. Foto: www.netralitas.com

            Apabila Eropa mampu mengendalikan penghinaan kepada Islam dan kaum muslimin, insyaallah, aksi-aksi teror pun akan terminimalisasi. Masalah yang tersisa hanya akan seperti yang terjadi di Indonesia, yaitu dukungan berlebihan terhadap Isis, keyakinan kekhalifahan selalu baik,  dan hoax tentang kisah-kisah zaman akhir. Oleh sebab itu, Indonesia lebih mengedepankan pendidikan, pemahaman, dan penyadaran terhadap ajaran Islam sebenarnya yang rahmatan lil alamin dalam mengatasi setiap aksi-aksi terorisme.

            Apabila Eropa masih membiarkan penghinaan terhadap Islam hidup di dunia maya dan di dunia nyata, teror-teror pun akan terus terjadi karena akan ada orang Islam yang merasa tersakiti dan terhina, kemudian melakukan pembalasan dengan nyawanya sendiri. Itu adalah teror bagi korban, tetapi bernilai jihad dan syahid bagi pelakunya. Tak ada gunanya hanya menyalahkan kaum muslimin atau menyebarkan hoax bahwa Islam adalah agama teror karena pada kenyataannya dunia butuh Islam dan kaum muslimin. Dunia harus bekerja sama untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, baik sumber daya alam maupun sumber daya manusia.

            Eropa, barat, dan anti-Islam boleh sesumbar berteriak seperti yang biasanya, “Kami baik-baik saja tanpa Islam!”

            Berteriak emosi sih boleh-boleh saja, tetapi dalam kenyataannya kan setiap pemimpin barat dan Eropa selalu berusaha mendatangi negeri-negeri muslim, termasuk ke Indonesia untuk bekerja sama dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Kalau merasa diri hidup “lebih baik tanpa Islam”, jangan datangi negeri-negeri muslim dan kunci mati negara-negara Eropa dari Islam serta tak perlu ada kerja sama antara barat, Eropa, dan kaum muslimin. Begitu seharusnya bersikap kalau benar-benar bisa hidup tanpa Islam. Kenyataannya tidak bisa hidup tanpa Islam karena setiap manusia saling membutuhkan.

            Bisakah barat dan Eropa hidup tanpa berbisnis sumber daya alam dengan negeri-negeri muslim?

            Jawabanya pasti telak, “TIDAK BISA!”

            Bisa sih, tetapi bisanya hanya teriak emosi karena kenyataannya pasti tidak bisa. Akan selalu ada orang barat dan Eropa yang mendatangi negeri-negeri muslim untuk bekerja sama dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Oleh sebab itu, jangan pada belagu. Setiap manusia, baik muslim maupun nonmuslim pada dasarnya saling membutuhkan dalam sepanjang hidupnya. Soal benar dan tidaknya suatu agama atau keyakinan akan dibuktikan dengan jelas di hadapan pengadilan Illahi kelak.


            Sampurasun.

Tuesday, 5 July 2016

Ssst ... Jangan Ngomongin Soal Bom ... Berisik!

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya

Pada penghujung Ramadhan 1437 H, 2016 M, telah meledak beberapa bom pada beberapa tempat di seluruh dunia. Bom-bom itu meledak di Turki, Bangladesh, Irak, Arab Saudi, Indonesia, dan lain sebagainya. Peristiwa itu menyedot perhatian media massa di seluruh dunia.

                 Sebaiknya, berita-berita semacam itu jangan terlalu dibesar-besarkan. Itu memang berita, tetapi buat saja menjadi berita kecil. Soalnya, mereka yang melakukan peledakan itu cuma narsis. Mereka hanya mencari perhatian dengan mendompleng pada bulan Ramadhan dan kegembiraan Idul Fitri. Apabila berita itu terlalu dibesar-besarkan, kita jadi tertarik pada agenda mereka. Orang-orang itu memang inginnya mendapatkan berita spektakuler dan dianggap eksis berat di muka Bumi ini.

                 Tampaknya mereka itu iri dengan kebahagiaan kaum muslimin pada bulan Ramadhan dan Idul Fitri. Pada bulan Ramadhan tahun ini bukan hanya umat Islam yang merayakannya, melainkan pula umat-umat lain mulai menunjukkan penghormatan yang tulus dan persaudaraannya terhadap kaum muslimin sebagai sesama manusia. Rasa hormat dan kedamaian yang harmonis memang semakin menguat. Khusus di Indonesia, banyak sekali nonmuslim yang merasakan getaran menyenangkan dari suasana Ramadhan dan kebahagiaan Idul Fitri. Hal itu menunjukkan peningkatan yang sangat luar biasa dalam mewujudkan kehidupan yang lebih baik.

                 Sementara itu, orang-orang yang penuh kebencian semakin terpuruk dengan agenda-agenda kusut mereka. Orang-orang ini sudah tercerabut dari lingkungannya karena memang memisahkan diri dari orang lain dan memastikan dirinya sebagai “kumpulan manusia terbaik” yang tidak memerlukan orang lain lagi. Kasihan mereka. Ketika orang-orang mudik dalam suasana bahagia dan ingin lebih bahagia berkumpul bersama keluarganya di kampung tempatnya lahir, orang-orang kusut pikiran cemburu karena terpisah secara emosi dari keluarga dan sanak saudaranya.

                 Orang-orang yang selama ini menggerakkan dan membiayai mereka pun cemburu berat dengan hal itu. Ketika melihat kaum muslimin bergembira dengan Ramadhan dan Idul Fitri yang juga mendapatkan penghormatan dari umat-umat lain, mereka merasa tersisihkan. Ketika manusia-manusia yang waras otak berusaha menjaga jalinan hubungan perdamaian dan kasih sayang, orang-orang yang penuh agenda kebencian itu sangat iri, gelisah, dan marah. Oleh sebab itu, mereka membuat banyak huru-hara di tempat-tempat yang dianggap menjadi perhatian manusia.

                 Bagaimana tidak akan iri dengan kebahagiaan kaum muslimin?

                 Kaum muslimin itu memiliki minimal dua kebahagiaan dalam Ramadhan. Kata Nabi Muhammad saw orang yang berpuasa itu memiliki dua kebahagiaan, yaitu ketika berbuka dan ketika Idul Fitri.

                 Orang-orang yang kusut pikiran tidak memiliki dua kebahagiaan itu. Jelas sekali jika mereka iri. Rasa iri mereka diwujudkan dengan melakukan pemboman di tempat-tempat yang mereka benci. Masjid Nabawi adalah tempat yang mereka benci. Pemboman di tempat itu menunjukkan bahwa mereka membenci kebahagiaan kaum muslimin, mempertahankan suasana tidak aman di negeri-negeri muslim, menciptakan berita dan ceritera bahwa kaum muslimin selalu berada dalam huru-hara, dan menunjukkan betapa narsisnya mereka.


                 Dengan demikian, tak perlu dibesar-besarkan berita tentang perilaku murahan seperti itu. Terlalu rendah bagi kita untuk selalu memperhatikan mereka. Waspada memang harus terus dijaga dan yang lebih penting adalah sekarang saatnya untuk terus mengagungkan Allah swt dan memuliakan kaum muslimin serta menjaga kasih sayang di antara sesama manusia dan menciptakan keseimbangan kehidupan di seluruh alam semesta.

Sunday, 15 November 2015

Bom Paris itu Karma, Salah Sendiri, Bego


oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya

Dunia boleh terkejut dengan adanya teror bom dan penembakan di Paris, Perancis. Akan tetapi, saya tidak kaget. Biasa saja. Bahkan, kadang pengen ketawa terbahak-bahak. Demi Allah swt, saya pengen ketawa. Boro-boro pengen mengutuk, yang jelas mah pengen tertawa liar.

Mau tidak mau ketawa bagaimana, saya kan sudah wanti-wanti mereka beberapa bulan lalu. Akan tetapi, mereka itu terlalu sombong dan angkuh sehingga melecehkan peringatan dari saya. Ternyata, yang saya khawatirkan benar-benar terjadi. Saya bukan ingin menertawakan aksi teror dan korban-korban yang berjatuhan, tetapi pengen menertawakan keangkuhan mereka yang ternyata menimbulkan peristiwa tragis luar biasa.

Begini Saudara Pembaca yang budiman. Kurang lebih empat atau lima bulan lalu saya sering sekali berdebat dengan orang-orang Barat. Saya menjelaskan dengan sebenar-benarnya, tetapi mereka tidak juga mau mengerti. Saya memperingatkan mereka bahwa perilaku mereka menghina Allah swt, Islam, dan Muhammad saw itu akan membawa petaka terhadap diri mereka sendiri. Saya ingin mereka berhenti dan mulai sadar. Kalaupun tidak mau masuk Islam, ya jangan menghina, jangan membuat ceritera bohong tentang Islam, dan jangan memfitnah. Bahayanya sudah dijelaskan sendiri oleh Allah swt dalam Al Quran bahwa siapa pun yang memusuhi Allah swt, Islam, dan Nabi Muhammad saw adalah hanya menunggu waktu datangnya azab. Azab itu berupa hukuman yang bisa datang dari sisi Allah swt secara langsung atau melalui tangan-tangan orang-orang beriman. Sesungguhnya, hukuman yang harus diterapkan di dunia ini pun sama mengerikannya, yaitu “hukuman mati”.

Saya sudah memperingatkan mereka dengan cara yang paling lembut sampai dengan yang paling kasar. Akan tetapi, mereka benar-benar congkak dan bloon. Saya peringatkan mereka ketika tahu saat itu sudah ada sekitar dua ribu orang Eropa yang bergabung dengan Isis dan orang-orang Isis dari Eropa itu selalu menggunakan penutup kepala dan wajah untuk menyembunyikan diri jika di hadapan kamera. Artinya, mereka tidak ingin diketahui tempat tinggalnya, pekerjaannya, dan aktivitas di negara mereka berdomisili. Dengan demikian, mereka bisa pulang dengan aman tanpa diketahui sebagai anggota Isis ke rumah-rumah mereka di Eropa. Saya khawatir orang-orang ini akan memburu dan membunuh orang-orang goblok Eropa yang gemar menghina, memfitnah, dan membuat kebohongan tentang Allah swt, Islam, dan Muhammad saw di tanah airnya sendiri. Apalagi sekarang orang-orang Eropa yang bergabung dengan Isis meningkat sangat cepat sudah mencapai 6.000 s.d. 8.000 orang.  Bahayanya semakin besar.

Seperti yang saya katakan tadi, orang-orang Eropa tolol itu malah berbicara dengan sangat bodoh. Baca aja percakapan panas saya dengan mereka di Youtube, mudah kok tinggal klik saja akun google+ saya. Mereka bilang orang-orang Isis menggunakan tutup kepala itu karena pengecut. Mereka juga bilang saya sok tahu karena tidak mungkin Isis dari Eropa datang pulang ke rumahnya seperti liburan atau giliran perang. Lalu, kalaupun Isis dari Eropa itu pulang, akan diketahui dengan mudah karena Eropa punya teknologi untuk mengenali orang dengan baik.

Bodoh kan mereka?

Mereka cuma menipu diri sendiri karena tidak mau kalah berdebat dengan saya dan ingin terus menghina Allah swt, Islam, dan Muhammad saw!

Banyak pula di antara mereka yang mengejek saya dengan menyuruh saya untuk berhenti membuat komentar terhadap perilaku mereka. Alasannya karena saya berasal dari Indonesia yang jelas dunia ketiga. Intinya, mereka menganggap saya tidak selevel dengan mereka. Mereka merasa lebih tinggi dibandingkan saya. Sebetulnya, saya juga pengen berhenti berbicara dengan mereka karena mulai bosen dan jengkel. Saya mulai jenuh karena mereka bicara selalu bolak-balik ke itu-itu lagi, nggak ada kemajuan. Saya sudah tidak lagi mendapatkan pengetahuan baru, kecuali ya itu tadi yang bulak-balik-bekok. Nggak ada gunanya. Akan tetapi, anehnya ketika saya berhenti, mereka mengajak berdebat lagi dan lagi, terus dan terus lagi. Aneh mereka itu. Memang bego dan tolol mereka.

Sebetulnya, saya tahu kenapa mereka terus mengajak saya berdebat. Mereka ingin mengalahkan saya karena setiap akhir pembicaraan, saya selalu menang. Jadi, ketika ada informasi baru, mereka segera mengajak berdebat lagi, tetapi pasti kalah lagi.

Begini contohnya. Ketika saya sudah bête ngobrol sama mereka, lalu ada informasi baru tentang penembakan yang dilakukan dua muslim Amerika Serikat terhadap panitia dan peserta acara menggambar Nabi Muhammad saw di Amerika Serikat.  Mereka bilang orang Islam itu jahat, buas, dan menyukai kekerasan sehingga menembak dan membubarkan acara menggambar itu. Saya mudah saja menjawabnya bahwa menggambar Nabi Muhammad saw itu penghinaan dan wajar jika ada orang yang mencintai Nabi, membela nabi yang dicintainya sekaligus menegakkan kehormatan Islam dan kaum muslimin. Mereka tidak mau terima penjelasan saya dan tetap berpendapat bahwa menggambar Nabi itu adalah bagian dari freedom of speech.  Kata saya itu bukan kebebasan berbicara, tetapi itu adalah kebebasan menghina. Mereka tetap bertahan bahwa orang Islam menjadikan Amerika Serikat menjadi tidak aman untuk bebas berekspresi.

Saya contohkan bagaimana jika ada orang yang menggambar ibu mereka sedang bertelanjang di kandang babi dan melakukan hubungan seks dengan babi-babi di sana.

Saya tahu bahwa mereka pasti marah jika itu terjadi, tetapi karena pengen selalu menang berdebat, mereka bilang dengan fake, “I don’t care!”

Mereka tetap ingin bebas menghina dan membiarkan Ibu mereka dihina orang lain. Padahal, kalau kejadian benar, mereka pasti emosi, tetapi karena ingin mengalahkan saya, mereka berpura-pura tidak marah jika ibunya digambar sambil ngeseks di kandang babi dengan babi buduk.

Bodoh kan mereka?

Mereka tetap menyalahkan orang Islam.

Saya bilang, “Don’t do something stupid if you do not want to wretch.”

’Jangan melakukan hal bodoh jika kamu tidak ingin celaka’.

Maksud saya jangan menyerang agama dan perasaan orang lain, jika tidak ingin dibalas lebih keji oleh orang yang merasa terhina.

Akan tetapi, mereka memang bandel dan bilang, “You wrong, wrong!”

Wrong apa? Nyai Wrong Gank?

Kacau mereka.

Saya mengatakan don’t do something stupid if you do not want to wretch  itu ke banyak orang. Artinya, dengan jumlah umat Islam yang semakin banyak dan selalu bertambah sekitar 68.000 orang per hari di seluruh dunia, para penghina Islam harus selalu berhati-hati karena memang bisa celaka. Apalagi Isis yang memiliki dana dan senjata yang sangat hebat dan bisa berada di mana-mana, para penghina Islam semakin terancam. Hal itu disebabkan memang Islam mengajarkan bahwa siapa pun yang menghina dan memusuhi Allah swt, Islam, dan Muhammad saw, hukumannya adalah mati. Bagi orang Islam yang ghirah-nya tinggi dan tidak mempercayai hukum negara mana pun serta memiliki kesiapan untuk syahid, pasti akan melakukan penghukuman dengan caranya sendiri.

Orang Indonesia jangan bodoh dan angkuh seperti mereka. Jangan bandel kalau dikasih tahu karena memang bisa celaka.

Bom Paris itu terjadi karena mereka melakukan something stupid, ‘hal yang bloon’.

Mau tidak bloon bagaimana?

Kata Salim Said, pengamat militer Indonesia dan dunia, Perancis itu sangat bersemangat memerangi Isis di Suriah.

Itu tindakan bodoh.

Ngapain coba mereka memerangi Isis?

Pengen jadi pahlawan?

Pengen minyak?

Pengen korupsi dana perang?

Pengen dapet bagian keuntungan pascaperang jika Isis kalah?

Emang yakin gitu Isis bakal kalah?

Perang sama Taliban aja ngos-ngosan. Malahan, dana untuk membunuh satu orang Taliban saja sangat besar, yaitu lima miliar per satu nyawa. Apalagi ngalahin Isis yang militansinya teramat menakutkan.

Alasan Isis melakukan aksi teror di Paris, Perancis adalah karena Perancis memerangi Isis di Suriah dan banyak orang di Perancis yang gemar melakukan penghinaan terhadap Nabi Muhammad saw. Penghinaan terhadap Nabi Muhammad saw yang dibiarkan itu adalah kebodohan Perancis sendiri.

Kan saya udah bilang, “Don’t do something stupid if you do not want to wretch.”

‘Jangan melakukan hal bodoh jika kamu tidak ingin celaka’.

Kan saya sekarang bisa ngakak sambil berkata, “See I’m right.”

Indonesia harus lihat Paris, Perancis. Kejadian itu harus menjadi contoh. Perancis begitu sibuk dan ketakutan setengah mati sehingga menutup seluruh perbatasan, menghentikan jadwal permainan sepakbola, orang-orang dianjurkan untuk tidak ke tempat-tempat keramaian, dan yang jelas orang-orang jadi merasa tidak aman karena mereka tidak tahu siapa orang-orang yang ada di sekitar mereka sebenarnya.

Indonesia juga jangan kecentilan ikut-ikutan memusuhi dengan penuh kebencian kepada kelompok-kelompok yang sebetulnya tidak pernah merugikan dan tidak memusuhi Indonesia. Kita jangan ikut-ikutan terseret ke dalam perang mereka. Kita  nggak perlu  genit menuduh orang lain teroris, padahal tidak meneror kita. Bahayanya adalah orang yang asalnya tidak memusuhi kita dan tidak pernah merugikan kita, jadi benar-benar marah kepada kita karena kita kayak Neli, ‘Nenek Lincah’ yang nggak diperhatikan, tetapi karena kegenitan, jadi juga pusat perhatian. Ruginya adalah mereka marah bukan karena menjadikan Indonesia sebagai sasaran teror, tetapi marah karena kita ikut-ikutan nimbrung nggak puguh. Ngaririweuh sorangan.

Kalau kejadian di Indonesia, kita semua yang rugi. Biaya yang harus dikeluarkan sangat tinggi dan keamanan benar-benar robek. Itu terjadi karena kita centil ikut-ikutan. Lain halnya kalau mereka bikin kekacauan di sini. Nah, itu memang harus diperangi dan masyarakat pasti cepat marah. Mereka bisa mati dibakar massa.

Memang Undang-undang tentang teroris kita juga rada aneh karena di sana disebutkan bahwa teroris itu adalah orang yang melakukan aksi teror “di dalam dan di luar negeri”. Kalau teroris itu adalah orang yang melakukan aksi teror di dalam negeri, itu bisa sangat dipahami dan disetujui semua orang. Akan tetapi, jika teroris itu juga adalah orang yang melakukan teror di luar negeri sehingga kita harus ikut sibuk, memang aneh. Akibatnya, kita akan dengan mudah menuduh siapa pun sebagai teroris jika negara lain menuduhnya duluan sebagai teroris, padahal belum tentu. Bisa jadi juga seseorang atau sekelompok orang bermasalah dengan pemerintahan di luar negeri, lalu melakukan aksi yang dituduhkan sebagai teror. Akan tetapi, ketika di Indonesia mereka adalah orang baik karena tidak punya masalah dengan pemerintah Indonesia, malahan mereka banyak berbuat kebaikan seperti membangun masjid, panti asuhan, bersedekah kepada tetangga, membuka lapangan kerja baru, dan memberikan sumbangan untuk kemajuan Indonesia.

Apakah orang seperti ini harus ditangkap juga karena orang lain mengatakannya teroris, tetapi bermanfaat banyak di tempat kita?


“Don’t do something stupid if you do not want to wretch!"

"Do you understand this?"