Showing posts with label Teror. Show all posts
Showing posts with label Teror. Show all posts

Thursday, 3 February 2022

Cekcok Munarman Mirip Cekcok Syetan

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Semua ustadz, kiyai, ulama, atau penceramah Islam pasti tahu bahwa ada peristiwa cekcok antara syetan dengan manusia di akhirat kelak. Manusia-manusia calon penghuni neraka menggugat dan menyalahkan syetan yang telah menggoda mereka sehingga harus masuk neraka. Akan tetapi, syetan balik menyalahkan manusia karena syetan tidak pernah memaksa, hanya menggoda. Artinya, salah manusia sendiri mengikuti godaan syetan. Pertengkaran ini terus berlanjut saling salahkan karena hukuman mengerikan sudah diambang mata.

            Kisah ini bukan rekaan, melainkan nyata karena Allah swt memberitakannya di dalam Al Quran. Ini bukan karangan atau khayalan penceramah dan bukan pula karya Nabi Muhammad saw. Ini adalah peringatan nyata dari Allah swt tentang peristiwa nanti.

            Kisah mirip itu terjadi di dunia ini. Di pengadilan sidang terorisme yang mendakwa Munarman mantan Sekjen Front Pembela Islam (FPI) terjadi cekcok luar biasa antara saksi dengan Munarman. Saksi Z menyalahkan Munarman karena dua kakak kandungnya telah mati gara-gara ceramah Munarman. Dua kakaknya mati karena berbaiat pada Isis dan melakukan bom bunuh diri di Filpina. Si Z sendiri adalah tersangka kasus terorisme yang lainnya. Dalam kasus terorisme Munarman, dia menjadi saksi. Munarman membantah telah menyuruh keluarga Z untuk berbaiat pada Isis, tetapi Z ngotot bahwa ceramah Munarman di Makasar telah membuat dirinya dan kedua kakaknya untuk mengikuti Isis, lalu melakukan bom bunuh diri. Kalau saja mereka bertengkar di luar pengadilan, pasti sudah saling lempar kursi, meja, gelas, teko, air, baku hantam, malah bisa saling bunuh. Karena ributnya di pengadilan, jaksa, hakim, dan pengamanan mencegah mereka untuk saling adu jotos.

            Begitulah, baik Munarman ataupun Z adalah sama-sama didakwa atas keterlibatan mereka dalam kasus teror. Sama-sama mendukung Isis. Akan tetapi, mereka kini menghadapi hukuman yang sama-sama mengerikannya. Awalnya, mereka sama-sama seperti saudara memperjuangkan tegaknya keyakinan versi mereka dengan bertakbir, tetapi ketika digusur di hadapan hukum, saling salahkan, tidak mau untuk dihukum karena kekerasan dan kekejian yang mereka lakukan.

            Mereka tersadar bahwa kelakuan mereka adalah kesalahan. Akan tetapi, semuanya sudah terjadi dan harus bertanggung jawab atas kontribusi mereka dalam tindakan teror dengan caranya masing-masing dan kapasitasnya masing-masing. Begitulah, saling salahkan mirip syetan dengan manusia di akhirat kelak karena harus menghadapi hukuman neraka.

            Bagi para pembaca tulisan saya yang sudah terlibat dan belum tersesat terlalu jauh dalam gerakan radikal teror, segera kembali pada kebenaran Islam yang hakiki, yaitu menebarkan cinta, kasih sayang, dan menciptakan kehidupan yang harmonis sehingga tidak akan saling menyalahkan. Bahkan, saling mendukung dan saling menyelamatkan, baik di dunia ini maupun hingga akhirat kelak, saling memberitakan kebaikan saudaranya di hadapan pengadilan illahi nanti agar saudaranya sesama muslim dapat selamat bersama-sama dari siksa api neraka dan bersama-sama pula memasuki surga Allah swt.

            Sampurasun.

Friday, 3 September 2021

Jangan Jadi Korban Hoax tentang Taliban

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Kemenangan Taliban menguasai Afghanistan secara penuh telah menimbulkan kegembiraan luar biasa bagi para pendukungnya di tanah air, bahkan tidak sedikit para pengamat terorisme dan intelijen di Indonesia menggambarkan kegembiraan mereka. Banyak di antara para pendukungnya yang mengatakan bahwa kalau Taliban mampu berkuasa di Afghanistan, mereka pun seharusnya bisa berkuasa di Indonesia.

            Hal ini diperparah dengan hoax dan provokasi yang menjerumuskan. Kemenangan Taliban seolah-olah akibat perang habis-habisan dengan Amerika Serikat (AS). Hasilnya, AS kalah perang. Kemudian, dihubung-hubungkan dengan kisah-kisah zaman akhir yang menggambarkan bahwa Taliban adalah pasukan Allah swt. Banyak hoax dan provokasi yang beredar.

            Hal ini harus diwaspadai karena berpotensi menipu anak-anak muda yang berghirah Islam tinggi untuk kemudian melakukan aksi-aksi konyol yang akibatnya kalau tidak ditangkap Densus 88, mati karena melakukan pemboman bunuh diri. Anak-anak muda itu tertipu karena kisah hoax tentang Taliban yang bisa berperang mengalahkan AS.

            Peristiwa yang sesungguhnya terjadi di Afghanistan bisa kita ikuti bersama dari berbagai berita yang ada, termasuk penjelasan dari Jusuf Kalla yang sempat menjadi juru damai antara Taliban dan pemerintah Afghanistan. Kemenangan Taliban di Afghanistan itu bukan karena perang yang membuat AS kalah, melainkan disebabkan AS sudah merasa rugi berada di Afghanistan. AS tidak mendapatkan keuntungan apa-apa lagi dari keberadaan mereka di Afghanistan. Oleh sebab itu, AS pergi meninggalkan Afghanistan. Di samping itu, pemerintahan Presiden Afghanistan Ashraf Gani sangat lemah dan tidak bisa mengomandoi tentara resmi Afghanistan. Oleh sebab itu, Ashraf Gani kabur ke UEA, para jenderal tentara resmi pun mayoritas pada kabur beserta para tentaranya ke negara-negara terdekat atau ke negara mana saja yang mereka anggap aman. Tentara resmi Afghanistan tidak mau melakukan pertumpahan darah. Jadi, bukan karena perang habis-habisan Taliban bisa menang, melainkan AS bosan di Afghanistan, lalu pergi yang diikuti dengan kaburnya pemerintahan dan militer Ashraf Gani yang hidupnya selalu ketergantungan kepada AS. Pasukan AS pergi, pemerintah dan militer Afghanistan pun pergi. Taliban leluasa untuk menguasai Afghanistan. Itu yang terjadi.

            Jauh berbeda dengan Indonesia. Presiden RI Jokowi sangat kuat menjadi panglima tertinggi militer; polisi dan tentara Indonesia sangat cinta terhadap negaranya dan bersedia berkorban untuk Indonesia. Indonesia tidak memiliki ketergantungan terhadap negara lain. Indonesia tidak tergantung pada AS, Cina, Jepang, atau negara mana pun. Ada atau tidak ada negara-negara itu, tidak ada pengaruhnya bagi Indonesia. Biasa saja. Kerja sama bisa dilakukan dengan negara mana pun. Jadi, kalau ada yang tertipu hoax tentang kemenangan Taliban, lalu melakukan tindakan-tindakan memerangi pemerintah Indonesia yang sah, itu konyol namanya.

            Sebagai anak-anak muda Indonesia, untuk mengabdikan diri kepada Allah swt bisa dengan melakukan berbagai prestasi, misalnya, sekolah dan kuliah yang baik. Kalau mendapatkan beasiswa, jangan khianati pemberi beasiswa itu. Jadilah manusia yang bermanfaat bagi diri, keluarga, dan masyarakat sekitar. Aktif dalam berbagai kegiatan yang bisa menghasilkan banyak penemuan baru. Kalau sudah bekerja, berkarir dan berbisnis yang baik, kemudian membantu orang-orang lain yang sedang membutuhkan, baik dengan pikiran, tenaga, ataupun materi.

            Jangan percaya omong kosong yang memprovokasi untuk melakukan kekerasan dengan janji surga.  Islam itu “rahmatan  lil alamin”, memberikan banyak manfaat dan kenyamanan bagi alam semesta.

            Sampurasun.




Saturday, 30 May 2020

Diskusi Pemecatan Presiden


oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Cukup mengagetkan peristiwa yang telah terjadi di Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta. Diskusi tentang pemecatan presiden yang kemudian diperhalus dengan bahasa “dialog kekuasaan” batal digelar. Pembatalan itu ternyata diakibatkan adanya teror terhadap mahasiswa, teror terhadap pembicara/pemateri, bahkan terornya berupa ancaman pembunuhan. Hal itu tentu saja membuat mahasiswa yang diteror menjadi merasa tidak aman dan tidak kondusif untuk melakukan kegiatan di kampus. Peristiwa ini membuat para akademisi, khususnya di lingkungan UGM sendiri bersuara, seperti, Dekan Fakultas Hukum dan Rektor. Bahkan, petinggi negara setingkat Mahfud M.D. dan Ali Mochtar Ngabalin pun ikut berpendapat.

            Sebelum terjadi teror-teror terhadap acara tersebut, sudah ada pihak-pihak di lingkungan kampus UGM sendiri yang tidak setuju dengan acara diskusi pemecatan presiden tersebut. Itu bagus, setuju dan tidak setuju itu sehat asalkan dengan alasan yang rasional bukan emosional.

            Semua sepakat bahwa kampus adalah lembaga yang harus dilindungi dalam mengembangkan ilmu pengetahuan, memberikan kritik, atau memberikan dukungan kepada pemerintahan sesuai dengan kaidah ilmiah. Kampus adalah tempat membiasakan berpikir, menyatakan tidak setuju, atau setuju. Tidak boleh ada yang mengganggu perkembangan ilmu pengetahuan di dalam kampus, termasuk penguasa harus membebaskan kampus dari segala tekanan. Jika kampus ditekan, hal itu akan mematikan ilmu pengetahuan dan pada akhirnya mematikan jiwa masyarakat.

             Dari berita yang saya baca dan perhatikan melalui televisi, tak disebutkan berapa pembicara yang bakal memberikan materi dalam acara diskusi tersebut. Hal ini sangat penting untuk dianalisis. Kalau pembicara dalam diskusi tersebut hanya satu orang atau satu pihak, dalam arti pembicara yang hanya setuju dan cenderung terhadap pemecatan presiden, diskusi bisa terjatuh menjadi ajang penggiringan opini sepihak. Diskusi hanya menjadi tempat pendiskreditan presiden, bahkan caci maki, fitnah, dan penghinaan. Ajang itu bisa berubah menjadi obrolan tidak berguna dan kampungan meskipun di dalamnya ada profesor. Demikian pula sebaliknya, jika pembicara hanya berasal dari satu pihak yang memiliki kecenderungan untuk mendukung presiden dan tidak setuju terhadap pemecatan, diskusi bisa berubah menjadi ajang puja-puji terhadap presiden dan menutup pintu kritik. Presiden bisa digambarkan bak malaikat yang tak ada salahnya. Itu sama sekali tidak bisa dibenarkan dalam ilmu pengetahuan.

            Hal ini mungkin yang memicu teror-teror terhadap acara tersebut. Artinya, ada lapisan akademisi lain yang suara dan pendapatnya tidak diikutsertakan dalam diskusi. Padahal, acara tersebut mengambil tema sensitif, yaitu pemecatan presiden.

            Sebaiknya, diskusi, dialog, seminar, atau talk show yang mengambil tema-tema sensitif jangan menggunakan pembicara tunggal atau pembicara sepihak. Meskipun jumlahnya banyak, tetapi hanya satu pihak, misalnya, pendukung atau oposisi saja, acara tersebut bisa jatuh menjadi acara tidak berguna dan hanya pelampiasan emosi yang menyesatkan para audien atau peserta atau pendengar. Seharusnya, pembicara berasal dari dua pihak yang berbeda pandangan karena menyangkut politik. Dengan ada pembicara yang berbeda pandangan, misalnya, pendukung dan penolak pemecatan presiden, audien dan masyarakat akan mendapatkan pengetahuan yang lebih luas dan memiliki pilihan yang tidak tunggal, beragam. Hal itu mencerdaskan. Dalam diri audien otomatis akan terjadi proses peleburan pemahaman yang berasal dari latar belakang pendidikan dan pengetahuannya, bacaan-bacaan sebelumnya, dan pemahaman dari diskusi yang terjadi, kemudian akan mengambil kesimpulan sesuai dengan intuisinya sendiri.

            Diskusi dengan pembicara sepihak hanya akan berlangsung searah dan bisa emosional, tetapi jika dua pihak, akan terjadi dinamika yang mencerdaskan dan rasional.

            Demikian kira-kira jika ingin mengadakan diskusi yang lebih ilmiah dan mencerahkan. Tidak perlu membungkus emosi dengan acara diskusi atau bahkan ceramah keagamaan. Semuanya harus berlandaskan fakta, data, dan berani diuji untuk mendapatkan kebenaran.

            Jangan lupa, yang mau kuliah di Universitas Al-Ghifari, klik http://pmb.unfari.ac.id





            Sampurasun

Friday, 29 November 2019

Tentang Sukmawati Soekarnoputri


oleh Tom Finaldin


Bandung Putera Sang Surya
Puteri Presiden Pertama RI Ir. Soekarno ini kalimat-kalimatnya kerap membikin heboh rakyat Indonesia. Dulu soal puisinya yang menyabit-sabit soal adzan, kidung, cadar, konde.

            Baru-baru ini pun bikin heboh lagi dengan pertanyaannya di depan mahasiswa, “Sekarang saya mau tanya semua, yang berjuang di abad 20 itu Yang Mulia Nabi Muhammad apa Ir. Soekarno untuk kemerdekaan?”

            Sebetulnya, penyelesaiannya tinggal dijawab saja.

            Bisa kan menjawabnya?

            Kalau mau diperdebatkan, ya berdebat saja.

            Persoalannya, Sukmawati mengeluarkan ucapan dengan hal-hal yang dianggap sensitif di tengah masyarakat Indonesia. Tidak semua orang memiliki sensitivitas yang sama. Ada yang biasa-biasa saja, ada yang langsung berpikir, ada yang langsung marah, ada juga yang seperti saya. Saya ini suka kasihan sama Sukmawati, lalu merasa lucu.

            Saya kasihan sama Sukmawati karena tidak memahami Islam dengan baik, tetapi mencoba berbicara dengan menggunakan simbol-simbol Islam. Dengan demikian, kalimatnya bisa terdengar sangat asing dan aneh di telinga masyarakat Indonesia.

            Tampak sekali keterbatasan pemahamannya tentang Islam. Sebaiknya, Sukmawati jangan dulu berbicara dengan simbol-simbol Islam jika tidak mengerti dengan benar. Ngaji dulu deh. Kalaupun mau, sebaiknya Sukmawati memiliki staf yang memahami Islam dengan lebih baik sehingga dapat memberikan masukan kepada dirinya sebelum mengucapkan hal-hal yang terkait Islam.

            Saya juga merasa pengen ketawa, lucu soalnya. Sukmawati memang geram dengan adanya kelompok-kelompok radikal, intoleran, dan mengarah teror dengan maksud mengubah Negara Indonesia menyimpang dari tujuan sebenarnya yang telah diletakkan sebagai fondasi oleh para founding fathers, termasuk ayahnya, Ir. Soekarno. Akan tetapi, lucunya, kegeramannya itu ditunjukkan dengan menyitir simbol-simbol Islam, padahal simbol-simbol itu tidak salah apa pun. Seharusnya, yang “diserang” itu adalah orang-orang atau pihak-pihak yang menggunakan simbol-simbol Islam secara tidak benar untuk melakukan kekacauan berpikir dan kesemrawutan dalam kehidupan bermasyarakat di NKRI.

            Sebaiknya, Sukmawati memang tidak perlu lagi berbicara dengan menggunakan simbol-simbol Islam jika tidak mengerti dengan benar. Hal itu disebabkan banyak masyarakat muslim yang baik, taat, dan tidak bermasalah ikut merasa aneh dan menyayangkan ucapan-ucapan Sukmawati karena mereka pun sangat menghormati simbol-simbol Islam yang diucapkan Sukmawati Soekarnoputri. Di samping itu, tidak semua orang punya pikiran dan kesiapan mental untuk berbicara dalam satu gelombang yang sama dengan Sukmawati.

            Sampurasun.

Monday, 3 July 2017

Waspadai Para Penyesat Manusia

oleh Tom Finaldin


Bandung, Tom Finaldin
Dari zaman ke zaman dunia diwarnai oleh aksi-aksi teror dan kekerasan yang menggunakan agama. Seluruh agama di dunia ini pernah digunakan untuk alasan melakukan kekejian manusia terhadap manusia lainnya. Sesungguhnya, Allah swt, Tuhan seluruh manusia dan seluruh alam semesta, selalu memberikan pengajaran yang lurus tidak pernah salah kepada setiap suku bangsa di dunia ini. Setahap demi setahap, sebagian demi sebagian, sedikit demi sedikit, Allah swt menurunkan pedoman bagi manusia untuk hidup bahagia di dunia dan di akhirat. Ajaran Allah swt itu disempurnakan pada masa nabi paling akhir, yaitu Muhammad saw.

            Allah swt tidak pernah menginginkan kerusakan terhadap manusia dan seluruh ciptaan-Nya. Allah swt selalu menginginkan kebaikan. Kalaupun Allah swt menghancurkan seluruh kehidupan dunia ini melalui kiamat, Allah swt akan menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik lagi, yaitu kehidupan akhirat.

            Segala kerusakan dan kejahatan yang mengatasnamakan agama pada dasarnya adalah penyimpangan yang dilakukan oleh manusia. Ajaran-ajaran, pedoman-pedoman, dan kitab-kitab yang telah diturunkan Allah swt kepada manusia dibelokkan pemahamannya oleh manusia-manusia jahat yang menginginkan kekuasaan ekonomi, politik, dan kesenangan pribadi. Manusia-manusia semacam inilah yang patut diwaspadai karena mereka memiliki penyakit dalam jiwanya untuk menyesatkan manusia sehingga manusia diupayakan hanya mendengarkan dirinya dan selalu percaya bahwa merekalah yang paling benar, orang lain selalu salah jika berbeda pendapat dengan dirinya.

            Allah swt mengingatkan kita terhadap orang-orang semacam ini.

            “Tidakkah kamu memperhatikan orang yang telah diberi bagian Kitab? Mereka membeli kesesatan dan mereka menghendaki agar kamu tersesat (menyimpang) dari jalan (yang benar).” (QS An-Nisa 4 : 44)

            Allah swt menerangkan bahwa ada banyak orang yang telah diberi kitab suci atau mempelajari kitab suci atau membaca kitab suci. Akan tetapi, mereka enggan menerima kebenaran kitab suci itu karena bertentangan dengan pendapat pribadinya. Mereka berpandangan bahwa pendapat pribadi mereka adalah benar, sedangkan Allah swt salah. Mereka tidak mau menerima kebenaran karena mereka sudah tenggelam dalam kesesatan. Di samping itu, mereka mengganti ayat-ayat dari kitab suci agar sesuai dengan keinginan mereka sendiri. Kalaupun ayat-ayat itu tidak bisa diganti atau sulit diubah, mereka memutarbalikkan pemahaman-pemahaman yang benar sehingga sesuai dengan kepentingan dan hawa nafsu mereka. Orang-orang inilah yang sesungguhnya musuh dunia. Merekalah sesungguhnya para penjahat kemanusiaan karena menggiring manusia pada kesesatan dan kekusutan.

            Bagi kitab agama lain, saya tidak begitu paham pemalsuan, penggantian, atau pemutarbalikkan fakta oleh orang-orang yang gemar menyesatkan orang lain. Bagi Islam sendiri, saya agak sedikit tahu bahwa banyak orang-orang yang inginnya disebut ahli agama, tetapi menggunakan dongeng-dongeng sebagai alat untuk menyesatkan orang lain, mengatakan bahwa dongeng itu adalah hadits, membuat hadits-hadits palsu dan mengatakannya sebagai shahih, serta memutarbalikkan pemahaman-pemahaman ayat Al Quran menjadi kabur dan menyimpang dari pemahaman yang sebenarnya. Di samping itu, mereka menganggap kafir dan bidah orang yang berbeda pemahaman dengan dirinya. Mereka tidak berupaya mencari dan mendapatkan kebenaran melalui diskusi atau debat ilmiah, tetapi mereka bersembunyi dan berlindung dibalik gerombolannya sendiri dan mimbar-mimbarnya sendiri serta menutupi kebenaran dengan menuding kebenaran itu sebagai sesat.

            Merekalah sesungguhnya musuh-musuh Allah swt dan musuh-musuh orang-orang beriman. Merekalah sesungguhnya yang membuat manusia membenci kebenaran illahi karena dengan kampanye dan propaganda mereka Tuhan terkesan kejam, sadis, dan pendukung huru-hara. Padahal, Allah swt adalah Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Allah swt mencintai setiap hal yang diciptakan-Nya. Allah swt menginginkan kehidupan penuh cinta, harmonis, damai, tertib, dan bahagia.

            Allah swt menyatakan mereka para penyesat manusia itu sebagai musuh dan musuh para penganut ajaran Allah swt yang sejati.

            “Allah lebih mengetahui tentang musuh-musuhmu. Cukuplah Allah menjadi pelindung dan Allah menjadi penolong (bagimu).” (QS An-Nisa 4 : 45)

            Allah swt tahu kesesatan yang mereka kampanyekan. Allah swt tahu kedalaman hati mereka. Allah swt tahu hawa nafsu mereka. Allah swt tahu rencana jahat mereka, baik yang menyerang pikiran, jiwa, maupun fisik. Oleh sebab itu, sebelum berbicara, bertindak, melangkah, membaca Al Quran, mendengarkan ceramah, belajar, bekerja, dan melakukan apa pun, ucapkanlah taudz agar terlindung dari godaan syetan yang berbentuk manusia dan jin. Ucapkan pula basmallah agar kita selalu dalam gelombang kasih sayang Allah swt.

            Hati-hati dengan orang yang terlalu banyak mengoceh tentang agama yang ujungnya adalah menipu manusia untuk mendapatkan keuntungan pribadi, baik itu kehormatan, kedudukan, uang, maupun kepatuhan.

            Berlindunglah kepada Allah swt dan selalu memulai segalanya bersama bersama Allah swt.


            Sampurasun

Saturday, 8 April 2017

Meminimalisasi Teror di Eropa

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Saya tidak akan Jaim, ‘jaga imej’, soal teror-teror yang terjadi di Eropa. Reaksi saya pertama kali ketika terjadi teror di Eropa adalah tertawa terkekeh-kekeh, lalu terbahak-bahak bahagia. Setelah itu, agak sedih sedikit, sedikit sekali, sangat sedikit, kebanyakan saya gembira bukan main.

            Saya senang karena apa yang saya “ancamkan” kepada mereka benar-benar terjadi. Hal itu menunjukkan bahwa saya telah memberikan peringatan kepada mereka dan peringatan itu benar-benar terwujud secara nyata. Berkali-kali peringatan saya ini terjadi secara nyata.

            Sebelum terjadi teror bom di Paris, Perancis, saya sudah berdebat dengan para anti-Islam Perancis dua bulan sebelumnya lewat youtube. Saya peringatkan bahwa mereka harus segera menghentikan penghinaan-penghinaan kepada Allah swt, Islam, Muhammad saw, dan kaum muslimin. Saya ingatkan bahwa penghinaan kepada Islam hukumannya adalah “mati” dibunuh. Orang Islam yang memiliki semangat tinggi akan mengorbankan dirinya untuk kemuliaan Islam dan kaum muslimin. Itu artinya penghinaan kepada Islam yang mereka lakukan akan memicu teror. Akan tetapi, sayangnya, orang-orang Eropa dan Amerika Serikat itu kebanyakan belagu, sombong, angkuh, dan tidak mau kalah meskipun sudah jelas-jelas salah. Bahkan, mereka terus-terusan makin keras menghina Islam, baik di dunia maya maupun di dunia nyata dengan aksi-aksi jalanan yang memuakkan.

            Secara fakta dan pengetahuan, saya tidak pernah kalah berdebat karena mereka hanya memiliki pemahaman sedikit dan salah tentang Islam. Akan tetapi, brengseknya, mereka melakukan penghinaan itu just for fun, ‘hanya untuk bersenang-senang’ dan tidak peduli apakah mereka itu menyakiti orang lain atau tidak. Memang ini tampaknya penyakit yang mereka derita. Mereka gemar sekali membuli orang lain yang lemah dan minoritas, bukan hanya muslim, nonmuslim pun mereka buli.

            Akibatnya, bum …! Meledaklah teror di Paris, Perancis yang segera diklaim oleh Isis bahwa itu merupakan konser milik Isis. Pemimpin tertinggi Isis Al Baghdadi menyatakan bahwa teror itu sebagai balasan atas kebijakan pemerintah Perancis yang ikut-ikutan memerangi Isis di Suriah dan balasan atas penghinaan orang-orang Perancis kepada Muhammad saw.

            Saya segera saja bilang, “Gue bilang juga apa. Disuruh berhenti menghina Islam, malah menjadi-jadi, bukannya sadar.”

TEROR DI PARIS, PERANCIS. Foto:global.liputan6.com

            Begitu juga dengan orang-orang Inggris, saya sering sekali chit chat sama mereka agar menghentikan penghinaan kepada Islam. Akan tetapi, orang-orang Inggris ini jauh lebih sombong daripada orang-orang Eropa lainnya. Bahkan, saya bilang orang-orang ini paling sombong dan angkuh di seluruh daratan Eropa. Mereka malah menantang saya kapan hukuman dari Allah swt datang. Mereka melecehkan peringatan saya meskipun komentar-komentar tantangan mereka banyak yang mereka hapus sendiri. Mungkin mereka takut juga sebenarnya, tetapi karena sombongnya bukan main, mereka tidak mau kalah. Mereka minta saya menuliskan tanggal, hari, bulan, dan tahun hukuman Allah swt itu datang.

            Saya jawab saja, “Wait!”

            Disuruh menunggu, mereka malah balik mengejek saya karena tidak tahu kapan hukuman itu datang. Jelas saja saya tidak pernah tahu kapan hukuman itu datang. Akan tetapi, pasti datang karena itu adalah sunatullah. Memang beberapa waktu kemudian, terjadi pula teror menakutkan di Eropa sekaligus kekalahan mereka dalam pemilihan walikota London. Walikota London sekarang kan seorang muslim, namanya Sadiq Khan. Saya pikir itu hukuman bagi mereka dan peristiwa memalukan bagi mereka, ternyata warga London banyak yang sadar untuk tetap saling menghormati di antara umat yang berbeda agama. Tentu saja itu merupakan pukulan keras bagi para anti-Islam di Inggris. Hal itu berada dalam monitoring Allah swt karena Allah swt yang menguasai hati setiap manusia.

            Hal yang lebih mengejutkan adalah peristiwa teror di Stockholm, Swedia. Soalnya, dua hari sebelumnya ada salah seorang dari mereka yang juga mengganggu saya. Sebelum-sebelumnya mereka menuduh saya sebagai penghina Yesus Kristus.

            Saya tantang mereka, “Kapan aku menghina Yesus? Kata dan kalimat mana yang menjadi bukti aku menghina Yesus? Aku paling anti menghina agama orang lain.”

            Mereka tidak bisa menjawab karena memang tidak ada kata penghinaan itu.

            Meskipun demikian, mereka tetap mengganggu dengan menjawab, “This one.”

            This one, ‘yang ini’. Mereka menjawab itu tanpa menunjukkan kata yang mana dan kalimat mana, kecuali ‘yang ini’.  

            Yang ini teh yang mana atuh?

            Da euweuh.

            Mereka hanya mengganggu karena tak mau kalah.

            Dua hari kemudian, bum …! Terjadilah teror di Swedia.

            Saya segera bilang aja dalam hati, “Gue bilang juga apa. Pada belagu sih.”

TRUK ALAT TEROR SWEDIA. Foto:news.karirsumut.com

            Orang boleh saja menyalahkan pelaku teror, tetapi teror itu dipicu salah satunya oleh penghinaan-penghinaan terhadap Islam.


Menciptakan Suasana Saling Menghormati
Untuk meminimalisasi perilaku teror di Eropa, harus ada upaya bersama antara pemerintah Eropa dan masyarakat Eropa untuk menghentikan penghinaan-penghinaan kepada Islam dan kaum muslimin. Berdebat boleh. Sampai urat leher tegang pun boleh berdebat. Akan tetapi, tidak boleh saling menghina. Berdebat itu soal ilmu pengetahuan, sedangkan saling hina itu terjadi karena sama-sama bloon dan tolol.

            Saya sangat menyukai pemerintah dan masyarakat Kanada yang melindungi muslim dan menghormati setiap manusia. Ketika ada teror pada masjid dan terhadap kaum muslimin yang sedang shalat, Perdana Menteri Kanada menangis. Ketika kaum muslimin shalat Jumat, orang-orang nonmuslim Kanada membuat pagar manusia mengelilingi masjid untuk melindungi umat Islam dari kejahatan teror. Demikian pula, pemerintah Jerman yang menyatakan dengan tegas bahwa Islam adalah bagian dari Jerman. Tak heran jika di Kanada dan Jerman dapat dikatakan jumlah teror yang terjadi adalah sangat minimal dibandingkan dengan negara besar Eropa lainnya.

            Di Swedia itu penghinaan kepada Islam sangat brutal, bukan hanya di dunia maya, melainkan di dunia nyata. Mereka yang anti-Islam pernah melakukan sabotase pada acara-acara diskusi, seminar, dakwah kaum muslimin dengan mengganti tayangan-tayangan video Islami dengan tayangan-tayangan penghinaan pada Islam.

            Tak heran jika umat Islam yang sudah menyiapkan dirinya untuk syahid melakukan bum …!

            Korbannya pun acak dan tidak terarah, siapa saja. Hal itu disebabkan banyak sekali yang melakukan penghinaan Islam di sana.

            Dalam hal ini saya harus memberikan penilaian bahwa pelaku teror di Indonesia lebih baik dibandingkan dengan di Eropa. Bukan berarti saya setuju teror. Saya pasti tidak setuju teror. Akan tetapi, paling tidak, teror yang terjadi di Indonesia sasarannya lebih terarah, yaitu polisi, terutama Densus Antiteror. Pelaku teror di Indonesia tidak menyasar korban secara acak karena masih banyak muslim yang baik yang mencoba melakukan perlawanan terhadap penghinaan pada Islam di dunia maya dan banyak nonmuslim baik yang juga tidak setuju terhadap penghinaan pada Islam. Banyak sekali nonmuslim yang ingin hidup damai di lingkungan mayoritas muslim, apalagi yang memiliki ikatan darah. Banyak pula orang Islam yang melindungi nonmuslim.

            Berbeda dengan di Swedia. Karena jumlah anti-Islam sangat banyak dan melakukan penghinaan serta provokasi tanpa dikendalikan oleh pemerintah, jawabannya adalah kaum muslimin yang siap syahid melakukan perlawanan dengan keras bertaruh nyawa.

            Indonesia harus bersyukur memiliki undang-undang yang bisa mengendalikan kebebasan berbicara agar tidak jatuh menjadi kebebasan memfitnah dan menghina pihak lain, baik suku, agama, ras, ataupun adat istiadat. Persoalannya adalah kurangnya partisipasi masyarakat dalam melaporkan berbagai penghinaan yang terjadi di dunia maya dan kurangnya kemauan polisi untuk menyelesaikan kasus-kasus itu. Di dunia nyata penghinaan-penghinaan itu tidaklah banyak. Kalaupun terjadi di dunia nyata, rata-rata karena “keseleo lidah”, tidak sengaja, lupa, atau kebablasan. Sangat jarang terjadi penghinaan di dunia nyata yang dilakukan dengan sengaja, apalagi untuk bersenang-senang.

            Berbeda dengan di dunia barat dan Eropa, penghinaan itu dibiarkan terjadi karena masih termasuk dalam kebebasan berbicara dan kebebasan berekspresi. Padahal, kebebasan berbicara itu tujuannya adalah untuk memperbaiki kehidupan manusia agar tidak terjadi pelanggaran hak azasi manusia dan agar tercipta dorongan lebih positif untuk kemajuan manusia. Penghinaan bukanlah bertujuan untuk hal-hal positif, melainkan hanya untuk meluapkan emosi tanpa kendali secara bodoh, tolol, dan penuh kebloonan.

SALING HINA ADALAH KEBODOHOAN. Foto: www.netralitas.com

            Apabila Eropa mampu mengendalikan penghinaan kepada Islam dan kaum muslimin, insyaallah, aksi-aksi teror pun akan terminimalisasi. Masalah yang tersisa hanya akan seperti yang terjadi di Indonesia, yaitu dukungan berlebihan terhadap Isis, keyakinan kekhalifahan selalu baik,  dan hoax tentang kisah-kisah zaman akhir. Oleh sebab itu, Indonesia lebih mengedepankan pendidikan, pemahaman, dan penyadaran terhadap ajaran Islam sebenarnya yang rahmatan lil alamin dalam mengatasi setiap aksi-aksi terorisme.

            Apabila Eropa masih membiarkan penghinaan terhadap Islam hidup di dunia maya dan di dunia nyata, teror-teror pun akan terus terjadi karena akan ada orang Islam yang merasa tersakiti dan terhina, kemudian melakukan pembalasan dengan nyawanya sendiri. Itu adalah teror bagi korban, tetapi bernilai jihad dan syahid bagi pelakunya. Tak ada gunanya hanya menyalahkan kaum muslimin atau menyebarkan hoax bahwa Islam adalah agama teror karena pada kenyataannya dunia butuh Islam dan kaum muslimin. Dunia harus bekerja sama untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, baik sumber daya alam maupun sumber daya manusia.

            Eropa, barat, dan anti-Islam boleh sesumbar berteriak seperti yang biasanya, “Kami baik-baik saja tanpa Islam!”

            Berteriak emosi sih boleh-boleh saja, tetapi dalam kenyataannya kan setiap pemimpin barat dan Eropa selalu berusaha mendatangi negeri-negeri muslim, termasuk ke Indonesia untuk bekerja sama dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Kalau merasa diri hidup “lebih baik tanpa Islam”, jangan datangi negeri-negeri muslim dan kunci mati negara-negara Eropa dari Islam serta tak perlu ada kerja sama antara barat, Eropa, dan kaum muslimin. Begitu seharusnya bersikap kalau benar-benar bisa hidup tanpa Islam. Kenyataannya tidak bisa hidup tanpa Islam karena setiap manusia saling membutuhkan.

            Bisakah barat dan Eropa hidup tanpa berbisnis sumber daya alam dengan negeri-negeri muslim?

            Jawabanya pasti telak, “TIDAK BISA!”

            Bisa sih, tetapi bisanya hanya teriak emosi karena kenyataannya pasti tidak bisa. Akan selalu ada orang barat dan Eropa yang mendatangi negeri-negeri muslim untuk bekerja sama dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Oleh sebab itu, jangan pada belagu. Setiap manusia, baik muslim maupun nonmuslim pada dasarnya saling membutuhkan dalam sepanjang hidupnya. Soal benar dan tidaknya suatu agama atau keyakinan akan dibuktikan dengan jelas di hadapan pengadilan Illahi kelak.


            Sampurasun.

Saturday, 16 January 2016

Isis Tertipu

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya

Isis ini organisasi aneh yang makin hari makin tidak jelas tujuannya. Saya menduga sangat keras memang Isis ini dikendalikan oleh orang-orang yang tidak berpengetahuan atau memang dikendalikan untuk tujuan membuat huru-hara. Jujur saja awalnya banyak yang simpatik kepada Isis di Indonesia ini, termasuk saya. Selain itu, beberapa pengajian yang diikuti ibu saya, banyak ustadz yang simpatik pada Isis dan malahan menyarankan kepada seluruh peserta majelis talim untuk tidak membenci Isis. Hal itu disebabkan adanya keinginan Isis untuk membentuk Daulah Islamiyah dan menerapkan hukum Islam di wilayah yang penuh dengan kekacauan, yaitu Irak dan Suriah. Akan tetapi, Isis tidak tampak berjuang untuk terjadinya Negara Islam sebagaimana yang mereka kampanyekan. Mereka malahan mencitrakan dirinya sebagai organisasi besar, memiliki banyak uang dan senjata, serta dipenuhi pasukan bermilitansi tinggi yang akan melibas siapa pun yang menghalangi.

            Bisakah citra yang ditampilkannya itu mendorong terciptanya suatu negara?

            Di dalam sistem pergaulan internasional yang berlaku saat ini, tentu saja tidak akan bisa.

            Di dalam berbagai kajian ilmu-ilmu sosial dan politik, untuk terciptanya suatu negara, diperlukan beberapa syarat yang sangat mendasar, yaitu: memiliki wilayah tertentu, memiliki pemerintahan, memiliki rakyat, memiliki tujuan yang sama dari rakyatnya, dan mendapatkan pengakuan internasional.

            Wilayah tertentu sangat diperlukan dan jelas lokasi serta batas-batasnya. Mustahil sebuah negara ada tanpa memiliki wilayah yang jelas. Oleh sebab itu, Indonesia sama sekali tidak mengakui Israel sebagai sebuah negara karena tidak memiliki wilayah yang jelas menjadi hak mereka. Wilayah yang sekarang diklaim Israel sebagai negaranya hanyalah merupakan caplokan atau perampasan dari pemiliknya yang sah, yaitu rakyat Palestina. Bagi Indonesia, Israel hanyalah suatu bangsa yang melakukan penjajahan terhadap Palestina.

            Isis asalnya mengklaim memiliki wilayah yang jelas. Sebagaimana namanya Islamic State of Iraq and Syiria, wilayah yang diklaimnya adalah wilayah Irak dan Suriah. Di sanalah seharusnya Isis mengonsentrasikan dirinya untuk berjuang menegakkan negara yang mereka cita-citakan.

            Kalaulah informasi yang disampaikan aparat keamanan Indonesia benar-benar valid dalam arti teror yang terjadi di Jl. Thamrin, Jakarta, pada 14 Januari 2016, adalah dilakukan oleh Isis, berarti Isis sudah menunjukkan sendiri kebodohannya. Artinya, tidak jelas mereka ingin mendirikan negara di wilayah yang mana. Mereka tidak memiliki batasan yang jelas mengenai wilayahnya. Hal itu pun menunjukkan keanehan yang begitu bloon karena namanya kan Isis dalam arti Irak dan Suriah, tetapi berjuang atau mengajak berperang terhadap pemerintah Indonesia.

            Isis harus banyak belajar dari bangsa Indonesia yang memperjuangkannya di wilayah yang diklaimnya sendiri, yaitu di seluruh “wilayah bekas koloni Belanda”. Rakyat Indonesia tidak melakukan perang atau teror di negara lain meskipun saat itu banyak sekali negeri propenjajahan yang berupaya menghalangi kemerdekaan Indonesia dan tidak mengakui kemerdekaan Indonesia. Indonesia tetap berkonsentrasi di wilayah yang ingin dikuasainya sendiri.

Upaya itu berhasil bukan?

Masih berdasarkan informasi keamanan Indonesia, Isis kabarnya memiliki perwakilan atau cabang di Asia Tenggara yang diistilahkan sebagai Isis Asia Tenggara. Itu lebih aneh lagi.

Masa ada Negara Islam Irak dan Suriah di Asia Tenggara?

Suriah ya Suriah. Irak ya Irak. Asia Tenggara beda lagi. Kalau ingin mendirikan negara di Asia Tenggara, namanya harus diubah agar masuk akal, yaitu Islamic State of Southeast Asia, ‘Negara Islam Asia Tenggara’.

Masa ada Irak dan Suriah Asia Tenggara?

Yang bener aja.

Oww, mungkin mereka berniat membentuk daulah Islam di seluruh dunia. Saya sarankan jangan ngimpi kebangetan. Uang boleh banyak, pengikut setia boleh bejibun, senjata modern boleh ada, keberanian boleh dibanggakan, tetapi jangankan membentuk kekuasaan di seluruh dunia, berkuasa di Irak dan Suriah aja masih kerepotan.

Masih belum berhasil kan di Irak dan Suriah?

Isis seharusnya konsentrasi saja di Irak dan Suriah.

Untuk terwujudnya sebuah negara, mutlak dimiliki pemerintahan yang berkuasa di wilayah yang diklaimnya. Tanpa ada pemerintahan, tak akan pernah ada negara.

Isis memang memiliki organisasi yang mungkin menjadi cikal bakal pemerintahan yang sah kalau menang. Itu sudah dimiliki Isis. Akan tetapi, sampai hari ini pemerintahan itu belum berkuasa penuh di wilayah Irak dan Suriah. Isis masih harus maju-mundur, maju-mundur, maju-mundur cantik, cantik di wilayah yang diklaimnya. Artinya, Isis hanya baru mampu berkuasa di wilayah sebagian Irak dan Suriah yang telah ditaklukannya dan itu masih tetap dalam kondisi maju-mundur, maju-mundur, cantik, cantik.

Isis harus belajar banyak dari Indonesia. Indonesia pernah dalam kondisi maju-mundur, maju-mundur cantik, cantik. Indonesia pernah memiliki pemerintahan yang sah, tetapi ditangkap dan ditahan oleh Belanda. Kemudian, wilayah yang diklaim Indonesia diserbu pula oleh pasukan multinasional. Indonesia dikeroyok oleh banyak negara yang tidak mengakui kedaulatan dan kemerdekaan Negara Indonesia. Hal itu menyebabkan Jenderal Sudirman harus mundur-mundur-mundur ke dalam hutan, tetapi perjuangan tetap maju-maju-maju. Kondisi maju-mundur, maju-mundur cantik, cantik itu berubah menjadi ayo maju, maju, ayo maju, maju! Hasilnya berakhir dengan cantik, cantik, cantik sekali tiada tara. Indonesia bisa membuktikan bahwa kitalah penguasa sesungguhnya di tanah air Indonesia. TNI masih ada dan pemerintahan pun pulih.

Syarat lainnya untuk terwujudnya sebuah negara adalah adanya rakyat yang tentu saja harus memiliki kesamaan keinginan dengan pemerintahnya dalam arti kesamaan tujuan dengan mereka yang berjuang mendirikan negara tersebut. Rakyat ini harus berada mendorong terciptanya negara yang ingin didirikannya. Kalaulah rakyat di wilayah yang diklaimnya berbeda keinginan dan tujuan dengan pemerintahnya, itu hanyalah sebentuk penjajahan yang dilakukan pihak yang berkuasa terhadap yang dikuasainya. Negeri itu tidak akan pernah menunjukkan diri sebagai negara yang mapan, tetapi hanya menjadi arena atau wilayah perseteruan di antara elemen-elemen negerinya sendiri. Perseteruan itu terjadi akan sangat keras dan selalu berdarah karena perbedaan keinginan yang tajam dan benar-benar berbeda secara ideologi. Itu bukanlah suatu negara karena yang namanya negara harus memilliki kesamaan ideologi.

Isis harus belajar banyak dari Indonesia. Indonesia itu memiliki rakyat yang jelas dengan keinginan yang sama dan ideologi yang sama. Rakyat dan pemerintahnya sepakat menjadikan Pancasila sebagai ideologi yang merupakan dasar sekaligus tujuan hidup. Kalaulah sempat ada penolakan terhadap Pancasila, itu disebabkan bukan oleh keinginan, tujuan, atau ideologinya, tetapi oleh pihak penguasa yang sempat menjadikan Pancasila sebagai kedok untuk melakukan kesewenang-wenangan dan berbagai kejahatan lainnya terhadap rakyat. Sesungguhnya, rakyat Indonesia ingin mencapai Pancasila itu sendiri dan berharap pemerintah konsisten untuk mewujudkan Pancasila itu dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Kalaupun ada pertentangan di antara elemen bangsa Indonesia pada saat ini, bukanlah oleh karena adanya perbedaan tujuan, melainkan oleh adanya kecurangan, kejahatan, dan kebusukan yang sangat menghambat hidup bangsa Indonesia yang terkandung dalam Pancasila.

Ngerti kan?

Hal yang patut ada dalam membentuk suatu negara adalah adanya tujuan yang kemudian menjadi dasar hukum dari negara itu sendiri. Isis tampaknya punya tujuan dan dasar hukum ini.

Persoalannya adalah apakah tujuan dan dasar hukum ini dijadikan konsitusi yang disetujui bersama rakyat dan mengikat seluruh rakyat dan pemerintahnya?

Indonesia jelas punya itu semua dan disepakati oleh semuanya dan mengikat semuanya.

Hal terakhir yang menjadi syarat mutlak adanya suatu negara adalah adanya pengakuan internasional. Tanpa ada pengakuan dari negara lain, negara itu dipandang sama sekali bukan negara dan tidak patut untuk bekerja sama dalam posisi yang sejajar. Indonesia sama sekali tidak mengakui Israel sebagai sebuah negara. Oleh sebab itu, tidak patut Indonesia bekerja sama dengan Israel dalam posisi yang sejajar. Israel hanyalah sebuah bangsa tanpa negara dalam pandangan Indonesia.

Negara mana hari ini yang mengakui Isis sebagai sebuah negara?

Tidak ada!

Oww, kan mereka sedang berjuang.

Apakah mereka berjuang secara normal untuk terciptanya sebuah negara?

Saya pikir tidak!

Mereka itu tertipu!

Begini ya. Di dalam sejarah dunia ini, untuk terciptanya suatu negara, setiap pejuangnya berjuang dalam posisinya masing-masing. Ada yang berjuang secara militer dan ada yang berjuang dengan menggunakan diplomasi. Keduanya harus selalu ada. Diplomasi itu ada yang dilakukan di dalam negeri, tetapi ada pula yang dilakukan di luar negeri. Diplomasi yang dilakukan di luar negeri itulah yang dimaksudkan untuk mendapatkan pengakuan dan dukungan internasional.

Isis harus belajar banyak dari Indonesia. Presiden Pertama RI, Ir. Soekarno bersama yang lainnya berjuang melalui jalur diplomasi di dalam negeri. Perjuangan militer dilakukan oleh Jenderal Besar Sudirman dan seluruh TNI. Diplomasi di luar negeri dilakukan oleh Mohamad Hatta, Mohamad Natsir, Sutan Syahrir, dan yang lainnya. Mereka yang berjuang di luar negeri bukan untuk menciptakan teror dan memaksa orang lain takut agar menyetujui kemerdekaan Indonesia. Mereka berupaya menjelaskan kepada dunia agar memahami pentingnya kemerdekaan bagi rakyat Indonesia dan keburukan-keburukan yang akan diderita Indonesia jika masih terus berada di bawah kendali penjajahan. Berbagai petinggi negara dan orang-orang berpengaruh pada berbagai negara mereka temui untuk mendapatkan dukungan sekaligus pengakuan terhadap kedaulatan Negara Indonesia.

Mereka jelas berhasil!

Kita lihat Isis sekarang.

Apa yang mereka lakukan di luar Irak dan Suriah untuk mendapatkan dukungan dari pihak internasional?

Mereka sama sekali tidak memberikan penjelasan yang cukup mengapa di Irak dan Suriah harus ada negara yang baru, padahal sudah ada pemerintah yang sedang berkuasa?

Jangankan untuk menjelaskan maksud dan tujuannya, untuk menjelaskan dirinya sendiri secara utuh pun tidak. Sampai saat ini orang-orang masih kebingungan dengan apa Isis ini sebenarnya.

Isis malahan mengekspor orang-orangnya untuk melakukan aksi-aksi kekerasan di luar negeri, termasuk di Indonesia. Setidaknya, itu yang saya pahami berdasarkan penuturan aparat keamanan Indonesia.

Bagaimana mungkin Isis akan menjadi sebuah negara berdaulat jika melakukan keburukan di negara lain, termasuk di Indonesia?

Negara mana yang akan bersimpatik kepada Isis?

Siapa yang akan melakukan hubungan positif dengan penguasa wilayah yang gemar melakukan kekerasan kemanusiaan?

Tak akan ada perdagangan positif, kecuali pasar gelap.

Tak akan ada hubungan budaya, pendidikan, teknologi, kesehatan, dan lainnya kecuali dilakukan dalam pasar gelap.

Jika hanya melakukan ekspor kekerasan pada berbagai negara, Isis hanya akan menjadi segerombolan manusia yang menciptakan teror bagi kehidupan ini. Jauh sekali dari keinginan Allah swt yang mendorong umat Islam menjadi rahmatan lil alamin, ‘rahmat bagi semesta alam’.

Isis harus belajar banyak dari Indonesia. Jangan bermimpi menguasai dunia jika di Irak dan Suriah saja masih belum bisa berkuasa. Berkonsentrasi saja di sana. Kemudian, jelaskan pada dunia mengapa pemerintahan Suriah Bashar al Assad harus dihancurkan dan mengapa pemerintahan Irak sekarang harus diganti oleh namanya Isis. Terangkan dengan utuh siapa dan apa Isis itu sesungguhnya agar dunia mengerti. Beritakan penderitaan dan kesemrawutan yang terjadi di Suriah dan Irak sehingga jawabannya pemerintahan pada kedua negara itu harus dilebur ke dalam negara yang bernama Isis. Ambil simpati dunia, terutama dunia Islam agar memberikan dukungan demi terciptanya Negara Baru Isis. Minta maaf kepada negara-negara yang sebetulnya berpotensi mendukung Isis, tetapi justru Isis malah menghadiahi mereka teror. Berikan ganti rugi kepada korban yang sebetulnya tidak tahu-menahu soal Isis.

Begitulah caranya jika ingin membentuk sebuah negara. Akan tetapi, lain halnya kalau memang bermaksud membuat kekacauan di muka Bumi.

Pada pihak siapa Allah swt akan berada?

Pada pihak pencipta perdamaian dan penebar kebaikan atau pencipta pertengkaran, permusuhan, dan kekacauan?

Mana yang Allah swt lebih sukai kedamaian atau perang?

Jangan tertipu dan dikendalikan orang-orang yang sesungguhnya mencari dan mendapatkan keuntungan dari keributan dan kesemrawutan manusia.

Berpijaklah pada kebenaran Allah swt, jangan menggantungkan diri pada bisikan-bisikan jahat syetan yang memenuhi dada manusia.

Ketahuilah syetan itu minal jinnati wannas. Syetan itu terdiri atas jin dan manusia.