Showing posts with label Amerika Serikat. Show all posts
Showing posts with label Amerika Serikat. Show all posts

Tuesday, 24 March 2026

Israel Takut pada Indonesia


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Perang antara Amerika Serikat (AS)-Israel melawan Iran sudah diketahui dimulai oleh Israel yang kemudian dibalas oleh Iran, lalu AS ikut-ikutan menyerang Iran untuk membantu Israel. Sesungguhnya, keinginan Israel untuk menyerang Iran sudah dimulai sejak AS dipimpin Presiden Barack Obama, tetapi saat itu Obama menolaknya dan lebih percaya pada penyelesaian secara diplomatis. Penyerangan Israel terhadap Iran mendapatkan momen yang tepat karena mendesak adalah saat Presiden AS Donald Trump berkuasa untuk yang kedua kali.

            Dalam suasana kebatinan Israel, penyerangan terhadap Iran adalah situasi yang sangat mendesak dan tepat terjadi saat Indonesia dipercaya dunia untuk menjadi pasukan perdamaian di Gaza versi Board of Peace (BoP), Dewan Perdamaian. Israel sesungguhnya takut kepada Indonesia. Mereka takut sekali jika Indonesia benar-benar menurunkan pasukannya di Gaza, Palestina.

            Indonesia adalah satu-satunya pasukan yang sulit ditolak Israel untuk menjaga perdamaian di Gaza. Israel tidak menemukan alasan yang tepat untuk menolak Indonesia. Berbeda terhadap Turki dan negara lainnya yang mudah sekali ditolak oleh Israel karena memiliki kedekatan spesial dengan Hamas yang dianggap teroris oleh Israel. Indonesia malahan dijadikan alat kampanye oleh Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu dalam menguatkan posisi politiknya di dalam negeri Israel. Foto Presiden Indonesia Prabowo Subianto terpampang di Tel Aviv sebagai pendukung Israel.


Billboard bergambar Prabowo di Tel Aviv (Foto: Tagar.co)


            Foto Prabowo bersama pemimpin lainnya di billboard Tel Aviv saya dapatkan dari Tagar co.

            Prabowo dianggap pelindung Israel karena pidatonya di depan para pemimpin dunia yang menjelaskan tentang keyakinannya terhadap konsep dan semangat “two state solution”, solusi dua negara. Dengan berapi-api Prabowo menjelaskan bahwa perdamaian bisa terjadi jika “Palestina diakui sebagai negara merdeka dan Israel dihormati serta dilindungi keamanannya sebagai sebuah negara berdaulat”. Sayangnya, Israel hanya membesarkan pendapat Prabowo soal perlindungannya terhadap Israel, sama dengan para penyebar hoaks di Indonesia yang memotong-motong kalimat Prabowo tanpa mengikutsertakan kalimat keharusan Palestina merdeka dengan tujuan menyesatkan masyarakat Indonesia.

            Sebelum menurunkan pasukannya, Prabowo meminta kejelasan dan ketegasan Donald Trump untuk keselamatan prajuritnya dan jaminan terlaksananya tugas-tugas perdamaian dan pembangunan di Gaza. Prabowo sempat berdebat dengan Donald Trump soal Israel yang dianggap akan mengganggu upaya perdamaian di Gaza. Bagi Prabowo, Israel adalah masalah utama yang membuat kekacauan di Palestina. Setelah berdebat, Donald Trump memberikan jaminan bahwa Israel akan menjadi urusannya dan memastikan tidak akan membuat gangguan setelah pasukan Indonesia bertugas di Gaza.

            Prabowo menyatakan bahwa Donald Trump menepuk-nepuk dadanya sendiri saat menegaskan bertanggung jawab untuk mengendalikan Israel. Dengan demikian, Prabowo mendapatkan jaminan dari AS untuk menjalankan perdamaian di Gaza tanpa gangguan Israel.

            Tak heran jika Presiden AS Donald Trump memuji-muji Prabowo sebagai orang yang tegas dan cerdas, “Prabowo adalah orang yang tegas dan cerdas, tetapi cerdas adalah lebih baik. Aku tak ingin melawannya, tak ingin berkelahi dengannya.”

            Seperti itu kira-kira Trump memuji Prabowo.

            Situasi yang semakin hari semakin membuka jalan bagi pasukan Indonesia untuk berada di Gaza membuat Israel ketar-ketir karena tidak bisa lagi seenaknya membuat kerusakan di Palestina seperti yang sudah-sudah. Paling tidak, ada dua faktor yang membuat Israel ciut, yaitu pertama, Presiden AS Donald Trump akan menolak Israel untuk mengganggu perdamaian dan pembangunan di Gaza. Kedua, kesulitan untuk berhadapan dengan pasukan Indonesia.

            Pasukan perdamaian Indonesia tidak dimaksudkan untuk bertempur dan berkelahi dengan Israel, apalagi dengan Hamas atau kelompok-kelompok perlawanan lainnya. Indonesia hanya akan melindungi rakyat sipil, menjaga perdamaian, memastikan pembangunan, dan membangun situasi kondusif. Artinya, Indonesia hanya akan membawa suasana positif dan mengembangkan cinta di antara manusia. Itulah yang membuat Israel kebingungan dan ketar-ketir. Mereka tak punya alasan untuk menyerang, berkelahi, bahkan membunuh pasukan Indonesia. Mereka tak akan pernah bisa baku hantam dengan pasukan yang membawa perdamaian dan cinta. Mereka hanya mampu bertempur dengan pasukan-pasukan yang memang berniat untuk bertempur, sedangkan Indonesia tidak.

            Bagaimana caranya menyerang orang yang datang membawa cinta?

            Cinta untuk mereka juga agar dapat hidup damai?

            Itulah yang membuat Israel takut pada Indonesia. Karena kebingungan menghadapi situasi yang akan terjadi jika pasukan Indonesia benar-benar datang di Gaza, Israel mencoba mengalihkan isu pada ancaman nuklir oleh Iran. Ternyata, Israel berhasil mengelabui AS untuk memerangi Iran, kemudian situasi kembali kusut dan terjebak pada kondisi yang mereka gemari, yaitu berperang dan saling bunuh. Dengan demikian, pasukan Indonesia yang sudah siap dikirimkan ke Gaza untuk membangun perdamaian dan cinta menjadi tertahan entah sampai kapan. Sementara itu, Israel kembali pada hobinya sendiri, yaitu ribut dan saling bunuh. Situasi konflik itulah yang membuat mereka merasa aman dan terbebas dari rasa takut.

            Israel sudah merasakan bagaimana sulitnya bertengkar dengan Indonesia. Pasukan Indonesia sudah menjadi penjaga perdamaian antara Israel dan Libanon di Blue Line. Israel tahu benar pasukan Indonesia tak takut mati ketika hendak terjadi di pertempuran antara Israel dan Libanon. Prajurit Indonesia berdiri di tengah-tengah mereka dan menahan mereka agar tidak saling bunuh. Pasukan TNI menghalau keduanya untuk kembali ke wilayahnya masing-masing agar hari itu tidak terjadi perang. Itu berhasil.

            Pasukan Indonesia berhasil bernegosiasi dengan Israel agar mengembalikan anak usia 15 tahun ke keluarganya yang ditangkap Israel. Remaja itu ditangkap karena melempari pembatas wilayah Israel. Pasukan TNI berupaya meyakinkan Israel karena dia masih anak-anak dan akan mengembalikan pada keluarganya. Meskipun dibawah todongan senjata ke arah kepala pasukan TNI, negosiasi itu berhasil dan remaja itu pun dibebaskan.

            Kalaupun sempat terjadi perang dan tanpa sengaja pasukan Indonesia terluka karena senjata IDF, Israel menyerukan agar TNI segera berlindung karena mereka tak ingin bermasalah dengan TNI dan hanya ingin menyelesaikan urusannya dengan musuhnya di Libanon. Memang jika situasi sudah sangat memanas dan sulit dikendalikan, TNI hanya mencatat, lalu melaporkan ke atasannya sambil melindungi diri dari situasi yang sudah sangat kusut.

            Dengan pengalaman-pengalaman seperti itu, Israel akan sangat kesulitan mendapat alasan untuk berperang dengan TNI karena Indonesia tidak memiliki masalah langsung dengan Israel. Bahkan, Israel selalu berupaya keras dari waktu ke waktu untuk dapat berhubungan secara diplomatik dengan Indonesia. Akan tetapi, Indonesia tetap pada pendiriannya, tak ada hubungan dengan Israel jika Israel tidak mengakui kemerdekaan dan menghormati Palestina.

            Israel takut pada Indonesia karena Indonesia akan datang membawa perdamaian dan cinta. Di dunia ini cinta adalah power terkuat dan tidak bisa dikalahkan dengan cara apa pun.

            Sampurasun.

Monday, 23 March 2026

Iran Berdangdut: Taaarik Maang!

 

oleh Tom Finadin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Ketika ditanya tentang Negara Iran yang sedang berperang melawan Amerika Serikat-Israel, Presiden Rusia Vladimir Putin menjawab, “Sesungguhnya Iran sedang bermain catur.”

            Putin menjawab seperti itu karena Rusia dipenuhi para pemain catur tingkat dunia. Ada Garry Kasparov, Anatoly Karpov, dan yang lainnya mendominasi permainan catur dunia di samping pemain-pemain nasional dan internasional lainnya.

            Saya melihat Iran itu sedang berdangdut karena Indonesia dipenuhi musisi dangdut. Ada Raja Dangdut Rhoma Irama, Ratu Dangdut Elvi Sukaesih, dan musisi lainnya di tingkat nasional dan internasional.

            Intinya, pendapat seseorang itu dipengaruhi oleh lingkungannya. Dia memisalkan sesuatu sesuai dengan hal-hal yang diperhatikannya sehari-hari.


Netanyahu (Foto: AA)


Donald Trump (Foto: Classic FM)


Tarian tradisional Iran (Foto: Orienttrips) 


            Iran bisa diibaratkan penari dangdut, sedangkan Amerika Serikat (AS) dan Israel adalah pemain instrumennya dan penyanyinya. Iran menari, berjoget karena AS-Israel memainkan lagu dangdut yang tak bisa ditolak untuk dijogetin. Tadinya, AS-Israel hanya memainkan sebuah lagu dengan harapan Iran akan letih berjoget hanya dengan satu lagu. Akan tetapi, kenyataannya Iran memiliki tubuh dan gerakan yang sangat prima. Iran tak berhenti berjoget dangdut dan disemangati penonton. Hal tersebut membuat AS-Israel tak bisa berhenti memainkan musik dangdut karena akan dibuli penonton sebagai musisi lemah.

            Lagu dangdut terus dimainkan dan membuat AS-Israel mulai lemah serta kebingungan memainkannya. Mereka meminta Iran untuk berhenti berjoget, tetapi Iran menolaknya, ingin terus berdangdut.

            Iran bahkan meminta lagu yang ada liriknya, “Kau yang memulai, kau yang mengakhiri ….”

            Akibatnya, AS-Israel marah dan akan memainkan lagu hingga lebih dari sepuluh lagu yang akan membuat Iran lelah, pingsan, bahkan mati dipermalukan di depan penonton. Akan tetapi, Iran menunjukkan ketahanannya dalam berjoget dan mendapatkan pujian dari penonton.

            Iran bahkan menantang AS-Israel dengan teriakan, “Taaarik Maaang!”

            Hal itu memaksa AS-Israel terus memainkan musik meskipun telah sangat lelah, tetapi tidak tahu bagaimana caranya berhenti tanpa harus menanggung malu di depan penonton. Mereka terpaksa bertahan sambil kebingungan untuk menghentikan Iran yang tetap semangat berjoget. Panggung itu menjadi pusat perhatian dunia dan penonton mulai melihat siapa yang sebenarnya letih, lelah, berdarah, limbung, hampir pingsan, dan akan mendapat malu dengan teriakan, “Huuu …!”

            “Kau yang memulai, aku yang menentukan syarat untuk mengakhirinya,” kata Iran.

            Kartun Netanyahu saya dapatkan dari AA hasil karya Hanitzsch kartunis Jerman, Donald Trump milik Classic FM. Ilustrasi tarian Iran dari Orienttrips, bukan tarian dangdut, melainkan tarian tradisional Iran.

            Sampurasun.

Tuesday, 10 February 2026

Indonesia Lebih Sabar Dibandingkan Iran

 


 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Konflik Iran dengan Amerika Serikat (AS) bisa dikatakan dimulai sejak 1901. Saat itu mereka masih lumayan baik-baik saja hingga terjadi hubungan bisnis yang menyebabkan situasi perlahan menjadi aneh. Raja Iran Mozaffar Ad Din Shah memberikan hak kepada William Knox D’Arcy dari Inggris untuk mengeksplorasi minyak, gas alam, aspal, dll. selama  enam puluh tahun. Sebagai kompensasi untuk Iran, William memberikan uang tunai sejumlah 20.000 poundsterling, saham sebesar 20.000 poundsterling, dan 16% keuntungan setiap tahun. Lalu, perusahaan ini berkembang pesat menjadi “British Petroleum” yang kemudian dibeli oleh pemerintah Inggris.

            Dalam perjalanannya perusahaan ini dirasakan warga Iran banyak masalah, tidak adil, merendahkan, menghina, dan melecehkan warga Iran. Terasa seperti penjajahan yang mengambil untung di tanah Iran, tetapi orang Iran sendiri kesusahan.

            Pada 1951 muncul seorang anggota DPR Iran yang menentang perusahaan minyak Inggris itu karena menganggap tidak adil. Namanya Mohammad Mosadegh. Menurutnya, keuntungan yang diberikan kepada Iran itu sangat kecil, hanya 16%. Keuntungan yang diterima Iran selama lima puluh tahun masih jauh lebih kecil dibandingkan keuntungan yang diambil Inggris hanya dalam satu tahun.


Perdana Menteri Iran Mohammad Mosadegh (Foto: Short History)


            Mosadegh kemudian menasionalisasi perusahaan Inggris itu dalam arti merebutnya dari Inggris dan menjadi milik Iran. Mosadegh pun kemudian menjadi Perdana Menteri (PM) Iran yang sangat dicintai rakyat.

            Tentu saja Inggris marah besar karena berpendapat bahwa perusahaan itu masih berada dalam hak Inggris berdasarkan perjanjian lama. Dalam kesepakatan lama antara William dan Mozzafar, Inggris boleh mengeksplorasi kekayaan Iran selama enam puluh  tahun. Akan tetapi, belum juga genap enam puluh tahun atau hanya baru lima puluh tahun, Iran tiba-tiba mengambilnya dari Inggris. Masih ada sepuluh tahun lagi hak Inggris berada di sana. Itulah awal sengketa antara Iran dengan barat yang kemudian mengikutsertakan CIA Amerika Serikat. Sejak saat itu, Iran mengalami berbagai sanksi, embargo, dan permusuhan dengan pihak barat hingga hari ini dengan menggunakan kekuatan senjata dan banyak pembunuhan.

            Tampaknya Iran tidak bersabar untuk menunggu sepuluh tahun lagi hingga masa kontrak perjanjian dengan Inggris selesai. Iran sudah merasakan penderitaan yang luar biasa, lalu meluapkan kemarahannya dengan merebut British Petroleum dari Inggris.

            Berbeda dengan Indonesia. Sesungguhnya, Indonesia memiliki masalah mirip Iran, yaitu bermasalah dengan PT Freeport milik Amerika Serikat (AS).

            Pada 1936 Jacques Dozy menemukan cadangan “Ertsberg”.  Kemudian, pada 1966 pemerintahan Orde Baru yang dipimpin Presiden RI Soeharto membuka pintu agar PT Freeport Indonesia (PTFI) dapat menambang tembaga yang kemudian menjadi emas di Timika, Papua.

            Perjanjian ini bernama Kontrak Karya I yang berlaku hingga tiga puluh tahun. Dalam kontrak ini disepakati PTFI memiliki saham 90,64% dan Indonesia sebanyak 9,36%. Sejak perjanjian itu, penambangan pun dimulai. Dalam perjalanannya penambangan ini dirasa tidak adil, mirip perampokan kekayaan alam Indonesia.

            Puluhan tahun berlalu, dinamika politik dan ekonomi mewarnai penambangan ini. Akan tetapi, hal itu tidak mengubah kenyataan bahwa perjanjian diperpanjang tiga puluh  tahun lagi pada 1991, disebut dengan Kontrak Karya II. Dengan demikian, perjanjian menjadi enam puluh tahun jika dihitung sejak awal. Indonesia tetap mendapatkan keuntungan dari sahamnya yang kecil sejumlah 9,36%.

            Selama berlakunya perjanjian itu, Indonesia mengalami banyak goncangan. Isu ketidakadilan dan keserakahan Freeport dengan kolusi dan korupsi di kalangan pejabat Indonesia menjadi gunjingan setiap hari. Kasus ini pun menjadi salah satu penyebab jatuhnya Presiden RI Soeharto.

            Penderitaan dan kemarahan rakyat Indonesia karena adanya isu Freeport semakin menjadi-jadi. Kita bisa melihat dengan jelas ketidakadilan dan kemarahan itu. Rakyat Papua yang sesungguhnya pemilik tambang emas terbesar itu hidup dalam kesengsaraan, kesedihan, ketertinggalan, kemiskinan, keterbelakangan, dan kebodohan. Seharusnya, para pemilik tanah emas itu kaya raya, tetapi kenyataannya tidak seperti itu.

            Meskipun demikian, Indonesia tetap bersabar hingga perjanjian itu berakhir. Ketika kontrak karya selesai pada masa pemerintahan Presiden RI Joko Widodo, dimulailah perjanjian baru yang membuat Indonesia lebih beruntung. Mulai 2017 Indonesia menegaskan untuk mengubah perjanjian hingga sahamnya menjadi 51%, sisanya Freeport AS.


Presiden Republik Indonesia Jokowi (Foto: Website Banggai Kepulauan)


            Keputusan Indonesia sangat tegas. Jika Freeport menolak, tambang emas di Papua akan diberikan pada perusahaan lain. Awalnya terjadi penolakan dan perlawanan dari PT Freeport hingga menjadi berita yang besar dan viral di AS. Akan tetapi, Indonesia berada pada jalan yang benar, yaitu kontrak karya berakhir dan tanah itu milik Papua, Indonesia. Akhirnya, mau tidak mau PT Freeport menerima keputusan Indonesia dan tetap menambang emas di Indonesia dengan perjanjian baru.

            Pada 2024 Presiden Jokowi memperpanjang kontrak hingga 2061 dengan syarat Indonesia menjadi pemilik saham terbesar dengan jumlah 61%. Di samping itu, perusahaan AS wajib membangun smelter di Indonesia agar emas bisa diolah di dalam negeri untuk membuka lapangan kerja dan menambah keuntungan bagi negara.

            Demikianlah perbedaan Indonesia dengan Iran. Indonesia menahan diri bersabar dalam keadaan penuh derita hingga perjanjian berakhir. Dengan demikian, Indonesia bisa merebut Freeport melalui jalur bisnis secara bertahap tanpa harus berperang. Adapun Iran karena sudah merasa sangat menderita, memilih merebut British Petroleum dengan jalan keras meskipun harus menanggung konsekwensi bertikai dan berperang dengan menggunakan senjata-senjata mematikan di samping mendapatkan sanksi ekonomi dari barat.

            Foto Perdana Menteri Iran Mohammad Mosadegh saya dapatkan dari Short History dan Jokowi dari Website Banggai Kepulauan.

Sampurasun

Thursday, 5 February 2026

Dewa Mabuk Amerika Serikat Bikin Iran-Cina Genit dan Rusia Berdehem, Ehem

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Sesungguhnya Amerika Serikat (AS) bergaya mabuk disebabkan pemimpinnya sendiri Presiden Donald Trump yang berperilaku dan berbicara seperti Dewa Mabuk. Sekarang dengan kemarin omongannya bisa beda, sikapnya kadang pakai akal kadang pakai emosi, kadang seperti jagoan, tetapi buktinya nggak ada.

            Beberapa waktu lalu AS melecehkan dan sesumbar akan menghancurkan Iran pada 1 Februari 2026, mengirimkan kapal induk Abraham Lincoln yang membawa puluhan pesawat tempur dan dikawal kapal-kapal perang mendekati laut Iran. Akan tetapi, sampai tulisan ini dibuat, AS tidak juga menyerang Iran. Kelihatannya hanya menggertak.

            Sikap AS yang seperti itu membuat Iran dan Cina berperilaku genit. Dengan melihat dan merasakan AS yang ketakutan dan mulai mundur dari perairan internasional, Iran mulai genit. Iran menggoda AS dengan mengirimkan drone shaheed yang kalau di Indonesia dibacanya drone syahid. Drone itu terbang menuju kapal induk AS dengan agresif, lalu ditembak jatuh oleh jet tempur F55 AS. Iran tidak rugi karena drone itu harganya murah, sekitar Rp30 jutaan, tetapi sudah mampu memberikan data aktivitas dan peralatan tempur laut AS pada militer Iran. Cina juga tampaknya melihat AS ketakutan, lalu mendekatinya dengan menggunakan kapal laut penelitian Da Yang Yi Hao. Semakin dekat kapal Cina mendekati kapal tempur AS. Sementara itu, Rusia ikut meramaikan dengan berlatih tempur bersama Iran dan Cina di dekat kapal milik AS.

            Tampaknya Iran dan Cina yang berteman itu mulai genit menggoda AS. Kalau dalam istilah Sunda, mereka itu sedang “ngalonyeng” pada AS. Mereka meniru gaya AS yang mengancam, tetapi dengan cara meledek dan bertindak rese mengesalkan. Rusia memanfaatkan situasi itu dengan bergabung ke Iran dan Cina.


Kapal AS diusir kapal Iran (Foto: Disway)


            Kalau diilustrasikan dalam kisah sehari-hari di Indonesia, AS itu ibarat preman yang sedang mabuk berat, ngomongnya ngaco, tetapi punya fisik yang besar dan menyeramkan. Preman itu mengancam ke siapa saja, termasuk ke Iran. Ketika ditantang balik oleh Iran, AS mundur teratur menjauh. Ketika situasi itu terjadi, Iran tiba-tiba mencolek preman AS itu.

            Seolah-olah Iran berkata sambal mencolek AS, “Mau ke mana lu? Katanya ngajak berantem, sekarang kok pergi?”

            Cina yang paham hal itu, mulai menggoda mendekati preman AS sambil berkata, “Tenang, kalem, gua cuma cari cacing di sini buat umpan mancing.”

            Rusia yang paham situasi hanya berdehem, “Ehem, … ehem.”

            Kehadiran Rusia membuat AS kaget, lalu pergi makin menjauh mengambil jarak aman. Preman AS mulai mencium bahaya lebih besar ketika Iran, Cina, dan Rusia mulai berlatih perang dekat armada laut AS. Situasi mulai berbalik, AS yang kini tampak terusir dari wilayah perairan Iran.

            Ini tampak lucu, tetapi juga menakutkan. Jika salah satu pihak tidak mampu menahan diri, mereka akan habis-habisan membela keberlangsungan hidup dan martabat mereka. Seperti itulah.

            Ilustrasi kapal tempur AS yang diusir Iran saya dapatkan dari Disway.

            Sampurasun.

Sunday, 25 January 2026

Utang Banyak, Uang Lemah, Ketakutan, dan Sakit Hati Kombinasi Penyebab Perang Dunia Ketiga

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Kegaduhan dunia saat ini, 2026, yang bisa menyebabkan perang dunia ketiga bisa dikatakan karena kondisi Negara Amerika Serikat (AS) yang dipimpin oleh Presiden Donald Trump. Masalah-masalah di dalam negeri AS ini mendorong Trump untuk mempengaruhi negara lainnya yang akibatnya menyebabkan kegoncangan geopolitik dan ekonomi. Masalah-masalah itu, di antaranya, utang yang banyak, lemahnya uang dollar AS, ketakutan terhadap kekuatan asing, dan sakit hati karena tidak menerima penghargaan Nobel Perdamaian.

            Pertama, Negara AS itu memiliki utang yang sangat banyak. Utang nasionalnya pada Januari 2026 telah mencapai angka lebih dari US$38 triliun yang kalau dirupiahkan sekitar Rp641.820 triliun. Besar sekali.

            Jika kita bandingkan dengan utang Indonesia, berbeda jauh. Utang Indonesia itu bisa dikatakan sangat sedikit, yaitu hanya menembus Rp9.400 triliun lebih hingga akhir kuartal III tahun 2025.

            Utang AS itu berapa kali lipat utang Indonesia?

            Hitung saja sendiri.

            Tentunya, AS harus memiliki kemampuan dan kekuatan untuk membayar semua utang-utangnya. Hal itu mendorong Trump untuk menguasai negeri-negeri lain agar mendapatkan lagi sumber daya alam seperti minyak di Venezuela; hasil Bumi di Green Land, Denmark; minyak di Iran. Upaya menguasai negara lain itu tentunya mendapatkan perlawanan dari negara yang berada dalam ancamannya.

            Kedua, uang dollar AS yang semakin lemah dalam bisnis internasional. Banyak negara yang mulai gerah dengan terlalu berkuasanya dollar AS sehingga hanya menguntungkan AS dan merugikan negaranya sendiri. Oleh sebab itu, mulai banyak negara yang tidak ingin menggunakan dollar AS. Presiden Venezuela Maduro ditangkap AS salah satunya karena akan menggunakan negaranya untuk uji coba penggunaan mata uang Cina Yuan dalam bisnis internasional. Rusia semakin memperkuat Rubel. Cina tentu saja mendorong Yuan. Dalam kelompok Brics sendiri mulai menguat untuk membuat mata uang baru di kalangan mereka. Di Indonesia sendiri mulai banyak orang yang mengalihkan uangnya menjadi logam mulia (LM) atau emas. Bahkan, generasi muda mulai menabung untuk membeli emas karena daya tahan nilai tukarnya lebih kuat dibandingkan uang.

            Ketiga, AS ketakutan terhadap menguatnya pengaruh Cina dan Rusia di dunia. Kedua negara saingan AS ini memang semakin menunjukkan kekuatannya, baik secara ekonomi maupun militer. Meskipun AS menghambat kemajuan kedua negara tersebut dengan beragam sanksi dan ancaman, Cina dan Rusia semakin kuat mempengaruhi dunia sehingga membuat AS tampak semakin lemah.

            Keempat, Presiden Trump merasa sakit hati tidak mendapatkan hadiah Nobel Perdamaian. Dia merasa sudah melakukan banyak hal untuk perdamaian dunia, tetapi orang yang meraih Nobel Perdamaian pada 2025 adalah bukan dirinya, melainkan María Corina Machado, pemimpin oposisi Venezuela, atas perjuangannya dalam mempromosikan hak-hak demokrasi, transisi damai, dan melawan kediktatoran di negaranya.


Presiden AS Donald Trump (Foto: ANTARA News)


            Rasa sakit hatinya ini dapat terlihat dari pengakuannya sendiri. Karena tidak mengapatkan Nobel Perdamaian, Trump sudah tidak ingin lagi memikirkan perdamaian dunia. Dia akan lebih memikirkan negaranya sendiri. Perdamaian dunia bukan prioritasnya.

            Foto Presiden AS Donald Trump saya dapatkan dari ANTARA News.

            Bisa dibayangkan bukan, negara sekuat dan sekaya AS tak lagi memikirkan perdamaian dunia?

            Dia akan lebih banyak menggunakan kekuasaannya untuk kepentingan negaranya.

            Bagaimana dengan sikap kita, Indonesia?

            Indonesia harus berpegang teguh pada persatuan dan politik luar negeri bebas aktif. Berteman dengan siapa saja sepanjang tidak merugikan kita.

            Sampurasun.

Tuesday, 20 January 2026

Iran Terkuat Melawan Amerika Serikat

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Iran adalah negara terkuat Timur Tengah yang menentang Amerika Serikat (AS). Saya  tidak sedang membicarakan negara teman AS seperti Arab Saudi. Negara-negara yang saya maksud adalah negara Timur Tengah yang bermusuhan dengan AS.

            Dari seluruh negara itu, Iran adalah negara yang paling kuat dan paling siap melawan AS serta tidak harus kalah. Kalau soal keberanian, Irak, Suriah, atau Libya sangat berani, tetapi tidak sekuat Iran dan buktinya mereka memang dikalahkan AS. Berbeda dengan Iran yang sangat kuat meskipun dikucilkan, diembargo, dan dirusakkan ekonominya, termasuk diserang secara militer menggunakan senjata mutakhir. Iran tetap berdiri tegak dan teguh dengan deklarasinya, yaitu “Anti-Amerika Serikat dan Anti-Israel”.

            Ada beberapa penyebab yang membuat Iran menjadi negara terkuat dalam melawan AS. Akan tetapi, saya sangat tertarik pada satu hal saja, yaitu “persatuan”. Hal itu yang justru menjadi kelemahan dan ketakutan AS.

            AS memang sangat takut dengan persatuan sebuah negara. Dia tidak akan pernah berani menyerang negara yang rakyatnya bersatu.  AS selalu masuk ke dalam sebuah negara jika di negara itu sedang terjadi konflik berat antara pemerintah dengan rakyatnya. Biasanya, AS selalu berpihak pada oposisi yang melawan pemerintah, kemudian mengeruk sumber daya negara itu, lalu pergi meninggalkan negara itu dalam keadaan berantakan.

            Iran adalah negara yang sangat kuat persatuannya. Bukan berarti mereka tidak punya masalah, tetapi masalahnya selalu bisa diselesaikan oleh pemerintahnya. Soal penyelesaiannya menggunakan cara halus, lembut, tegas, kasar, atau mengerikan, itu soal lain yang bisa ditulis dalam wacana lain. Hal yang jelas, Iran tetap kukuh dalam persatuannya.

            Meskipun dicoba oleh AS dan Israel menciptakan demonstrasi rakyat Iran untuk menggulingkan pemerintahan yang sah, Iran tetap tangguh dan menyelesaikan demonstrasi itu dengan menangkap para perusuh serta mengadilinya, bahkan awalnya akan menghukum mati para penjahat itu yang telah membakar mobil di jalanan, gedung-gedung, membunuh tantara, dan warga lain yang berbeda paham dengan mereka. Hanya dalam hitungan jam Iran mampu menghentikan mereka.


Pemimpin Agung Iran Ayatollah Ali Khameini (Foto: CNBC Indonesia)


            Kerusuhan yang katanya demonstrasi itu jelas diprovokasi Presiden AS Donald Trump dan PM Israel Netanyahu. Kedua penguasa itu dengan sangat telanjang memprovokasi perusuh untuk merebut pemerintahan dan menggulingkan pemerintah yang sah. Perilaku mereka tersebar pada berbagai berita resmi di seluruh dunia. Tak perlu profesor untuk menganalisa hal itu. Anak baru lulus SMA pun bisa.

            Beberapa jam setelah pemerintahan Iran mengendalikan kembali negaranya, PM Israel segera menghubungi Presiden AS untuk tidak melakukan serangan ke Iran. Hal itu disebabkan Israel bakal hancur dalam sekejap oleh Iran berdasarkan pengalaman “perang 12 hari” yang membuat Israel meminta gencatan senjata karena porak poranda diserang Rudal Iran yang tidak bisa diantisipasi oleh “iron dome” Israel. Demikian pula AS yang sudah bisa menghitung biaya dan kerugian yang akan diderita jika menyerang Iran.

            Ancaman penyerangan terhadap Iran yang beberapa hari sebelumnya sangat keras dan meyakinkan oleh AS dan Israel, berubah menjad omon-omon doang. Mereka takut dengan persatuan Iran.

            Dari hal itu, kita, Indonesia, bisa belajar bahwa jika ingin negara ini hancur berantakan, teruslah berkonflik serta mintalah kepada AS, Israel, dan negara lain yang tidak ingin Negara Indonesia maju untuk mendukung huru-hara di Indonesia. Akan tetapi, jika ingin Indonesia maju sejahtera sesuai dengan Pancasila, tetaplah bersatu dan selesaikan masalah di antara kita sendiri dengan jujur, jernih, dan bertujuan untuk membangun bangsa, jauh dari sikap saling menjatuhkan.

            Ingat kata pepatah lama, “bersatu kita teguh, bercerai kita kawin lagi”.

            Iya, toh?

            Kalau bercerai, tidak perlu larut dalam kesedihan, kawin lagi adalah hal yang membahagiakan asal ketemu pasangan yang tepat.

            Foto Pemimpin Agung Iran Ayatollah Ali Khamaeni saya dapatkan dari CNBC Indonesia.

            Sampurasun.

Sunday, 18 January 2026

Amerika Serikat Ikut Campur Jika Suatu Negara Sedang Konflik

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Pengennya Amerika Serikat (AS) itu disebut “polisi dunia”, menertibkan dan mengamankan seluruh negara. Padahal, mereka kalah perang di Vietnam dan diusir memalukan oleh negara miskin Somalia.

Saya masih ingat foto-foto lama ketika pasukan AS pergi terusir dari Somalia “dibujuran” oleh anak-anak kecil. Dibujuran itu adalah bahasa Sunda yang kalau diilustrasikan seperti anak-anak kecil membuka celananya dan memperlihatkan pant*tnya kepada tentara AS sebagai penghinaan. Tentara AS “ditongenggan” ku barudak leutik. Amerika Serikat kalah dalam “Pertempuran Mogadishu” yang dikenal dengan “Black Hawk Down”.

Foto orang-orang yang mengusir pasukan AS di Somalia saya dapatkan dari Wikipedia.


Orang-orang Somalia mengusir tentara AS (Foto: Wikipedia)


Di Vietnam pun AS kalah telak. Tentara Vietnam itu belajar perang dari tentara Indonesia. Buku-buku perang yang digunakan mereka untuk belajar perang adalah tulisan Jenderal A.H. Nasution tentang perang gerilya. Indonesia itu tidak pernah kalah perang.

Sekarang mulai paham kan kenapa tidak ada satu negara pun yang berani menantang perang terbuka pada Indonesia?

Kembali ke soal AS yang selalu ikut campur konflik dalam negeri orang lain. Seluruh negara yang dicampuri AS itu selalu sedang terjadi konflik di dalam negaranya. Negara-negara seperti Irak, Libya, termasuk Venezuela memang sedang berada dalam konflik berat di dalam negaranya antara pemerintah melawan oposisi. AS hampir selalu membela oposisi untuk menggulingkan pemerintah yang sah. Kemudian, pergi meninggalkan negara itu setelah mengambil sumber dayanya dalam keadaan kacau balau dan rusak.

Indonesia harus belajar dari hal itu, apalagi pernah mengalaminya saat lalu. AS berupaya menggulingkan pemerintah RI yang dipimpin Soekarno dengan alasan komunisme karena memang PKI adalah partai besar saat itu dan dekat dengan pemerintah. Hasilnya, setelah Soekarno jatuh, untuk sepuluh tahun pertama sejak Soekarno diganti Soeharto, Indonesia memang mengalami pembangunan, tetapi setelah 1981 terjadi banyak kerusakan yang akhirnya Soeharto dijatuhkan rakyatnya sendiri. Itu kenyataan.

Banyak sekali contohnya. Oleh sebab itu, agar negara tidak jatuh dalam kerusakan, jaga persatuan dan jangan biarkan tangan-tangan pengaruh asing masuk ke Indonesia. Perbedaan paham dan pemikiran antara pemerintah dan oposisi harus diniatkan untuk perbaikan kehidupan negara, bukan untuk menjatuhkan dan menimbulkan kerusakan, baik fisik maupun nonfisik. Jangan pecahkan negara karena perbedaan-perbedaan kecil.

Di samping itu, tentara kita harus kuat, baik fisiknya, mentalnya, maupun Alutsista-nya. Kita harus punya pasukan kuat yang tidak mudah tergoda oleh duniawi seperti yang terjadi di Venezuela yang tentaranya sangat lemah, baik fisiknya, mentalnya, maupun orientasinya. Tentara Venezuela banyak yang disuap AS sehingga presidennya sendiri dibiarkan dengan mudah ditangkap pasukan AS tanpa perlawanan berarti. Pasukan AS menangkap Presiden Maduro dengan sangat enteng seperti menjemput pemabuk yang baru pulang main judi di tukang sate.

Rakyat Indonesia harus belajar dari itu semua. Kalau tidak, kalian memang harus dihukum karena akan menghancurkan kehidupan banyak orang di negeri ini.

Sampurasun.

Friday, 16 January 2026

Amerika Serikat Memundurkan Kemanusiaan

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Memundurkan kemanusiaan berarti membuat mundur upaya-upaya untuk membangun dan menghormati manusia agar tercipta kehidupan yang lebih baik. Contoh kecil adalah dulu orang menganggap bahwa kulit berwarna lebih rendah dibandingkan kulit putih, tetapi sekarang anggapan itu sudah dijadikan kesalahan yang artinya kulit putih dan kulit berwarna tidak ada perbedaan sama sekali. Setiap manusia memiliki hak yang sama untuk berkembang sesuai dengan potensinya masing-masing. Derajat kemuliaan manusia tidak ditentukan oleh warna kulit, tetapi oleh upaya dan manfaat yang diciptakannya dalam kehidupan.

            Kini Amerika Serikat (AS) tampak sekali membuat mundur nilai-nilai kemanusiaan, bukan soal warna kulit, melainkan tentang bertahan hidup. Soal warna kulit, mereka selalu berupaya keras setiap hari menghilangkan perbedaan itu dan itu bagus. Akan tetapi, soal “mendapatkan penghidupan dan bertahan hidup”, AS membuat rusak upaya-upaya manusia yang sedang membangun kehidupan lebih baik.

            Sejak berabad-abad lalu, manusia mencoba memahami kehidupan manusia. Mereka yang memikirkan kehidupan itu biasa disebut para ilmuwan. Orang-orang cerdas ini selalu bertanya-tanya tentang aktivitas manusia dan mencari jawaban untuk menyelesaikan masalahnya. Dari hasil penelitian mereka, timbul kajian-kajian atau teori-teori tentang hubungan manusia yang digunakan untuk memahami masalah manusia. Dari pemahaman-pemahaman itu, manusia mendapatkan pengertian untuk tidak terjerumus ke dalam berbagai keburukan. Hasil penelitan para ilmuwan itu ada yang disebut “merkantilisme” yang kemudian dikoreksi oleh “realisme”, dikoreksi lagi oleh “liberalisme”, dan ke depannya mungkin ada penelitian lain yang mengoreksi pemahaman-pemahaman tersebut agar kehidupan manusia semakin baik dan tertata.


Sejak purba manusia berebut, berperang untuk hidup (Foto: KBRIS PDR Website Gambar)


            Untuk memahami “isme-isme” tadi, diperlukan satu atau dua semester perkuliahan, bahkan lebih. Akan tetapi, saya coba persempit saja dalam beberapa kalimat. Secara sederhana, pemahaman realisme menjelaskan bahwa manusia itu “selalu berupaya menguasai manusia lainnya dengan cara menaklukannya”. Hal ini bisa dilihat dari sejarah masa lalu yang dipenuhi oleh perang-perang, penaklukan, penguasaan, pembunuhan, pemerkosaan, penganiayaan, dan kesadisan lainnya. Berbagai “game online” maupun “offline” yang bertemakan perang banyak yang terinspirasi dari perang-perang masa lalu itu. Hal ini berarti bahwa manusia untuk mendapatkan penghidupan dan bertahan hidup itu harus menyerang, mengalahkan, atau menaklukan manusia lainnya. Suatu negara jika ingin hidup, harus mengalahkan negara lainnya.

            Pemahaman ini mendapatkan koreksi atau tantangan dari pemahaman baru, yaitu “liberalisme”. Dalam kajian liberalisme, agar manusia bisa mendapatkan penghidupan dan bertahan hidup adalah bukan dengan menaklukan negara lain, melainkan dengan menghormati bangsa atau negara lain dengan cara melakukan “kerja sama” yang disepakati. Manusia bisa mendapatkan kebutuhan yang dimiliki negara lain dengan cara bekerja sama yang saling menguntungkan. Dengan demikian, manusia bisa terhindar dari saling membunuh untuk bertahan hidup.

            Manusia sekarang sedang lebih menyukai liberalisme yang memberikan banyak kebebasan dan kecenderungan untuk bekerja sama. Manusia bisa saling mengenal, berinteraksi lebih positif, dan mendapatkan keuntungan bersama sesuai dengan kesepakatan. Akan tetapi, tiba-tiba AS yang dipimpin Presiden Donald Trump membuat rusak hubungan manusia yang sedang terus belajar untuk saling menghormati dengan melakukan banyak permusuhan dan penaklukan. Dunia dikejutkan dengan penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro, ancaman militer untuk menguasai Greenland dan merebutnya dari Denmark, bernafsu untuk merebut Bolivia, Kolombia, Meksiko, serta menggertak Iran. Itu semua memundurkan upaya-upaya terhormat manusia untuk bekerja sama dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. AS mengembalikan situasi ke masa lalu agar manusia saling membunuh untuk mendapatkan sumber daya alam. Itu yang terjadi.

            Sekarang manusia tinggal memilih, apakah akan mengembalikan situasi ke masa lalu yang dipenuhi kedustaan, kematian, dan kerusakan atau bertahan untuk melangkah maju agar manusia bisa lebih hidup bermartabat?

            Terserah kita sendiri sebenarnya.

            Ilustrasi manusia purba Eropa saya dapatkan dari KIBRIS PDR Website Gambar.

            Saya sebenarnya menginginkan ada pemahaman baru untuk membuat kehidupan manusia lebih baik, yaitu menggunakan “Islamisme” atau “Pancasilaisme”. Sayangnya, sampai hari ini belum ada yang menulisnya dan menyebarkannya di panggung dunia untuk memberikan sumbangan pemikiran agar hidup manusia lebih baik lagi. Mudah-mudahan pada masa depan ada anak-anak muda yang cerdas dan menuliskan penelitian-penelitian baru untuk kemaslahatan seluruh manusia. Itu namanya “rahmatan lil alamin”.

            Sampurasun.

Saturday, 10 January 2026

Amerika Serikat Selalu Bikin Negara yang Dicampurinya Rusak

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Kita harus membiasakan diri mengatakan Amerika Serikat (AS), bukan Amerika karena Amerika Serikat (AS) adalah sebuah negara, sedangkan Amerika adalah suatu benua, kawasan, atau region yang di dalamnya termasuk juga Amerika Latin. Sudah berulang-ulang AS mencampuri hidup negara lain, bahkan melakukan penyerangan dan menaklukannya dengan alasan melindungi hak asasi manusia, menegakkan demokrasi, dan membela rakyat negara yang dicampurinya. Akan tetapi, setiap negara yang dicampurinya selalu rusak, berantakan. Alasan Ham dan demokrasi sama sekali tidak terwujud, hanya kekalutan yang terjadi. Jika negara itu tidak cerdas, negara itu akan terus rusak dan kelimpungan hingga hari ini.

            Kita ambil contoh Irak yang dulu dipimpin Saddam Husein diserang AS dengan alasan demokrasi dan melindungi rakyat Irak dari kekejaman Saddam Husein. Irak berhasil dikalahkan AS dan Saddam Husein dihukum mati setelah sebelumnya patungnya digulingkan.

Akan tetapi, terciptakah kemakmuran, ketertiban, dan  kehidupan rakyat yang lebih baik?

Tidak, sama sekali tidak!

Bahkan, seorang tukang service motor yang menggulingkan patung Sadam Husein merasa menyesal dan ingin kembali menegakkan patung itu. Sayangnya, itu tidak mungkin dilakukan. Dia merasakan penderitaan luar biasa setelah dikuasai AS. Irak yang dikenal dengan negeri dongeng “1001 malam” itu berantakan.


Penggulingan patung Saddam Husein di Irak (Foto: ABC News)


Contoh lain adalah Libya yang ditaklukan AS Bersama Nato dengan alasan demokrasi dan hak asasi manusia yang dikabarkan menderita di bawah kepemimpinan Moamar Khadafi. Libya yang sangat makmur itu harus runtuh di tangan AS. Padahal, dulunya, hidup rakyatnya tercukupi. Bahkan, ada pengakuan dari mahasiswa asal Indonesia yang mengagumkan. Ketika itu mobilnya rusak dan hendak diperbaiki, tetapi tidak jadi diperbaiki karena pemerintah Libya Khadafi menggantinya dengan mobil baru.

Sekarang bagaimana nasib Libya?

Berantakan!

Demikian juga dengan negara-negara lainnya, seperti, Iran, Chile, Kongo, Guatemala, Afghanistan, Suriah, dan Mesir, berantakan dan jika pemimpinnya tidak cerdas, akan tetap berantakan. Kalaupun punya pemimpin cerdas, mereka harus bersusah payah berdiri dan membangun. Adapun AS pergi begitu saja setelah mendapatkan keuntungan dari negeri-negeri itu.

Ketika AS datang ke negeri-negeri itu awalnya rakyatnya bersuka cita karena dianggap akan menyelamatkan mereka dari pemerintahnya sendiri. Akan tetapi, kehidupan rakyat justru semakin menderita dan tidak jelas mau ke mana.

Indonesia pun pernah mengalami hal serupa. Kejatuhan Presiden RI ke-1 Soekarno adalah operasi dari CIA AS. Akibatnya, rakyat harus hidup di bawah kendali Presiden Soeharto dalam pengekangan serta kungkungan korupsi, kolusi, dan nepotisme. Rakyat muak dengan Soeharto yang kemudian dijatuhkan sehingga membuka lembaran awal reformasi.

Soeharto memang tampak ditekan AS. Ketika Timor Timur berada dalam anarkisme karena ditinggal Portugis, AS membujuk Soeharto agar mengurus Timor Timur. Jadilah Timor Timur salah satu provinsi di Indonesia. Soeharto mengurusnya dengan dana yang sangat besar. Akan tetapi, AS pula yang bikin keributan dengan tuntutan memisahkan diri dari Indonesia. Akibatnya, Soeharto disalahkan atas keadaan Timor Timur. Akhirnya, Timor Timur berpisah dari Indonesia dan berubah menjadi Timor Leste serta dilndungi Australia.

Belakangan diketahui upaya pemisahan diri itu karena soal minyak yang kemudian dikuasai Australia.

Sekarang bagaimana nasib Timor Leste?

Sudah menjadi negara yang makmur dan bahagia?

Tidak, sama sekali tidak!

Negara itu sekarang hanya menjadi negara termiskin di dunia setelah Negara Burundi. Minyak yang ada di sana tidak membuat rakyatnya makmur dan sebentar lagi habis dikeruk Australia. Negara itu hanya menunggu masa bangkrutnya karena jika minyaknya habis, Australia akan meninggalkannya dan tak lagi memberikan bagian dari perusahaan minyaknya yang hanya sedikit itu.

Sekarang Venezuela yang presidennya ditangkap AS dengan alasan Narkoba, ekonomi, dan Ham akan bernasib sama karena seperti negara-negara lainnya juga yang dicampuri AS hanya diambil minyaknya atau sumber daya alamnya, sedangkan rakyatnya dicuekin. Kalaupun diberi, bagiannya hanya kecil saja.

Bagi kita, rakyat Indonesia, harus berhati-hati bersikap dan bekerja sama dengan negara yang mana saja karena mereka bukan kita dan selalu menginginkan keuntungan dari kita. Berhubungan boleh saja, tetapi kita harus cerdas dalam berinteraksi agar kita yang lebih untung, bukan negara lain. Tetap dalam politik luar negeri yang bebas dan aktif, berteman dengan siapa saja, tetapi waspada agar tidak dikendalikan siapa pun.

Ilustrasi Patung Saddam Husein yang digulingkan di Irak saya dapatkan dari ABC News.

Sampurasun.

Monday, 5 January 2026

Perbedaan Arab Saudi dan Amerika Serikat

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Saya menulis hal yang pada pokoknya saja bahwa banyak pengamat energi di dunia ini memperkirakan bahwa bahan bakar minyak (BBM) yang berasal dari fosil dan digunakan oleh mayoritas manusia untuk kendaraan bermesin akan habis tiga puluh tahun ke depan. Oleh sebab itu, negara-negara penghasil minyak berupaya keras untuk tetap mendapatkan penghasilan besar bagi hidup rakyatnya tanpa harus menggantungkan diri pada minyak di negaranya.

            Raja Arab Saudi Salman berusaha mengatasi masa-masa sulit nanti ketika minyak fosil habis dengan cara berkeliling ke seluruh dunia untuk menanamkan uangnya pada berbagai fasilitas industri pada berbagai negara. Indonesia adalah salah satu negara yang didatanginya. Dia menyebarkan dan menanamkan uangnya agar rakyat Arab Saudi tetap bisa hidup meskipun nanti minyak habis di negaranya. Artinya, hidup rakyatnya akan banyak ditopang oleh industri-industri yang dibangun pada berbagai negara, termasuk di Indonesia.


Raja Arab Saudi Salman (Foto: BBC)


            Presiden Amerika Serikat Donald Trump juga berupaya keras agar rakyatnya bisa tetap hidup dan industrinya tetap berjalan. Salah satu usahanya adalah dengan melakukan penangkapan terhadap Presiden Venezuela Nicolas Maduro. Negara Venezuela adalah pemilik cadangan minyak yang terbesar di dunia. Minyak di Venezuela jumlahnya sama dengan cadangan minyak tiga negara jika digabungkan, yaitu Arab Saudi, Iran, dan Kanada. Dengan demikian, Amerika Serikat (AS) memiliki lebih banyak lagi minyak untuk negaranya dan berbagai industri AS tetap bisa berjalan tenang dengan lebih lama lagi.

            Hal ini jelas terucap dari mulut Trump sendiri bahwa setelah menangkap Maduro, AS akan mengelola minyak Venezuela. Dia segera berbicara tentang minyak dan bukan soal hak asasi manusia, kesehatan rakyat, ataupun stabilitas politik Venezuela seperti yang sering dipidatokannya. Dia langsung bicara soal bisnis minyak.


Presiden Amerika Serikat Donald Trump (Foto: BBC)


            Meskipun dia membantah bahwa menangkap Maduro adalah untuk menguasai minyak karena minyak di AS sudah cukup, fakta menunjukkan bahwa yang dia ucapkan pertama kali adalah soal penguasaan minyak. Itu sudah menjelaskan bahwa dia menginginkan minyak untuk dirinya dan negaranya.

            Dari sini, kita bisa melihat adanya perbedaan sikap antara Arab Saudi dengan Amerika Serikat soal minyak. Arab Saudi mengatasi kelangkaan minya pada masa depan dengan membangun bisnis nonminyak pada berbagai negara agar rakyatnya tetap bisa hidup. Adapun AS melakukan penyerangan terhadap Venezuela dan menangkap presidennya agar dia bisa lebih banyak lagi menguasai ladang-ladang minyak untuk diri dan negaranya.

            Baik Arab Saudi maupun AS sama-sama melakukan kewajiban untuk hidup rakyatnya masing-masing. Perbedaannya adalah pada caranya dan pada nilai-nilai moralitas manusia.

            Mana yang lebih bermoral?

            Arab Saudi atau Amerika Serikat?

            Pembaca bisa menilainya sendiri dengan menggunakan nurani sebagai manusia. Mari kita menilai sesuai dengan informasi lebih luas dan kejujuran hati. Untuk mampu menilai dan merasakan sesuatu dengan lebih jernih, pikiran dan perasaan kita harus berada dalam posisi positif. Oleh sebab itu, berhenti bergaul dan bergabung dalam kelompok-kelompok yang dipenuhi suasana negatif.

            Foto Raja Salman dan Presiden Trump saya dapatkan dari BBC.

            Sampurasun.