Showing posts with label Somalia. Show all posts
Showing posts with label Somalia. Show all posts

Sunday, 18 January 2026

Amerika Serikat Ikut Campur Jika Suatu Negara Sedang Konflik

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Pengennya Amerika Serikat (AS) itu disebut “polisi dunia”, menertibkan dan mengamankan seluruh negara. Padahal, mereka kalah perang di Vietnam dan diusir memalukan oleh negara miskin Somalia.

Saya masih ingat foto-foto lama ketika pasukan AS pergi terusir dari Somalia “dibujuran” oleh anak-anak kecil. Dibujuran itu adalah bahasa Sunda yang kalau diilustrasikan seperti anak-anak kecil membuka celananya dan memperlihatkan pant*tnya kepada tentara AS sebagai penghinaan. Tentara AS “ditongenggan” ku barudak leutik. Amerika Serikat kalah dalam “Pertempuran Mogadishu” yang dikenal dengan “Black Hawk Down”.

Foto orang-orang yang mengusir pasukan AS di Somalia saya dapatkan dari Wikipedia.


Orang-orang Somalia mengusir tentara AS (Foto: Wikipedia)


Di Vietnam pun AS kalah telak. Tentara Vietnam itu belajar perang dari tentara Indonesia. Buku-buku perang yang digunakan mereka untuk belajar perang adalah tulisan Jenderal A.H. Nasution tentang perang gerilya. Indonesia itu tidak pernah kalah perang.

Sekarang mulai paham kan kenapa tidak ada satu negara pun yang berani menantang perang terbuka pada Indonesia?

Kembali ke soal AS yang selalu ikut campur konflik dalam negeri orang lain. Seluruh negara yang dicampuri AS itu selalu sedang terjadi konflik di dalam negaranya. Negara-negara seperti Irak, Libya, termasuk Venezuela memang sedang berada dalam konflik berat di dalam negaranya antara pemerintah melawan oposisi. AS hampir selalu membela oposisi untuk menggulingkan pemerintah yang sah. Kemudian, pergi meninggalkan negara itu setelah mengambil sumber dayanya dalam keadaan kacau balau dan rusak.

Indonesia harus belajar dari hal itu, apalagi pernah mengalaminya saat lalu. AS berupaya menggulingkan pemerintah RI yang dipimpin Soekarno dengan alasan komunisme karena memang PKI adalah partai besar saat itu dan dekat dengan pemerintah. Hasilnya, setelah Soekarno jatuh, untuk sepuluh tahun pertama sejak Soekarno diganti Soeharto, Indonesia memang mengalami pembangunan, tetapi setelah 1981 terjadi banyak kerusakan yang akhirnya Soeharto dijatuhkan rakyatnya sendiri. Itu kenyataan.

Banyak sekali contohnya. Oleh sebab itu, agar negara tidak jatuh dalam kerusakan, jaga persatuan dan jangan biarkan tangan-tangan pengaruh asing masuk ke Indonesia. Perbedaan paham dan pemikiran antara pemerintah dan oposisi harus diniatkan untuk perbaikan kehidupan negara, bukan untuk menjatuhkan dan menimbulkan kerusakan, baik fisik maupun nonfisik. Jangan pecahkan negara karena perbedaan-perbedaan kecil.

Di samping itu, tentara kita harus kuat, baik fisiknya, mentalnya, maupun Alutsista-nya. Kita harus punya pasukan kuat yang tidak mudah tergoda oleh duniawi seperti yang terjadi di Venezuela yang tentaranya sangat lemah, baik fisiknya, mentalnya, maupun orientasinya. Tentara Venezuela banyak yang disuap AS sehingga presidennya sendiri dibiarkan dengan mudah ditangkap pasukan AS tanpa perlawanan berarti. Pasukan AS menangkap Presiden Maduro dengan sangat enteng seperti menjemput pemabuk yang baru pulang main judi di tukang sate.

Rakyat Indonesia harus belajar dari itu semua. Kalau tidak, kalian memang harus dihukum karena akan menghancurkan kehidupan banyak orang di negeri ini.

Sampurasun.

Sunday, 15 January 2023

Jawa Barat Bakal Jadi Somalia atau Afghanistan

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Awalnya, saya kesal jika membaca tulisan mereka atau tayangan video yang mereka buat. Akan tetapi, sekarang mah jadi pengen tertawa terus setiap melihat hasil karya mereka yang berantakan nggak jelas itu. Akibat iri dan ketakutan, mereka jadi semakin stress, tidak karu-karuan, dan jadi bodoh. Saya tidak tahu apakah mereka itu mendadak bodoh atau sudah sejak awal dari dulu juga bodoh.

            Ayah saya dulu sering berkata kepada saya, “Kalau bodoh itu, wajar, tidak apa-apa, tetapi harus diobati dengan belajar.”

            Bodoh itu nggak apa-apa karena bisa diperbaiki dengan belajar. Oleh sebab itu, saya pun sekarang selalu berbicara kepada murid-murid saya, baik yang di tingkat aliyah ataupun di perguruan tinggi, mirip seperti yang dulu diajarkan ayah saya.

            “Salah itu tidak apa-apa, wajar karena dengan melakukan kesalahan, kalian akan memahami kebenaran,” begitu yang saya bilang.

            Kata orang-orang bodoh akibat iri dan ketakutan terhadap Masjid Raya Al Jabbar, Provinsi Jawa Barat akan menjadi seperti Somalia atau Afghanistan. Dalam pandangan mereka, Somalia dan Afghanistan miskin karena mementingkan agama Islam yang sangat kuat. Kedua negara itu rusak karena mementingkan simbol-simbol agama. Hal itu pun sama dengan Provinsi Jawa Barat yang mementingkan simbol agama berupa Masjid Al Jabbar. Begitu kata mereka.


Rakyat Somalia kelaparan antri makanan (Foto: BBC)



Anak-anak perempuan Afghanistan yang menderita. Di antara mereka ada yang dijual orangtuanya karena tidak punya uang (Foto: Dunia Tempo.co)


            Kebodohan pandangan mereka itu bisa dilihat ada dalam beberapa dimensi. Dari segi politik, mereka salah parah. Cara menganalisisnya parah berantakan. Mereka membandingkan dengan cara tidak “aple to aple”, ‘buah apel dengan buah apel’. Kalau mau membandingkan buah apel, ya harus dengan buah apel lagi, jangan dengan buah nanas. Itu salah dan tidak nyambung. Kalau mau membandingkan celana dalam, ya harus dengan celana dalam lagi, jangan dengan bra. Kan tidak bisa pas jika membandingkan bentuk segitiga celana dalam dengan bra yang punya tali ke pundak dan punggung. Tempat penggunaannya beda, fungsinya juga berbeda. Tidak juga pas jika membandingkan komputer dengan mall.


Keramaian Masjid Raya Al Jabbar Provinsi Jawa Barat (Foto: Merdeka)


            Mereka membandingkan antara Jawa Barat dengan Somalia dan Afghanistan. Itu salah besar, bodoh parah. Somalia itu adalah negara, Afghanistan juga adalah negara. Kedua negara itu memiliki kedaulatan penuh untuk mengatur dirinya dan berhubungan penuh dengan negara-negara di luar dirinya. Adapun Jawa Barat adalah provinsi yang berada di bawah kendali Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Jawa Barat itu tidak memegang kendali penuh karena berada dalam kekuasaan NKRI. Jawa Barat tidak memiliki kewenangan penuh untuk berhubungan dengan pihak luar negeri karena berada di bawah pengawasan Menteri Luar Negeri RI. Mereka salah jika membandingkan sebuah provinsi dengan negara, ibarat membandingkan komputer dengan pasar. Di pasar memang ada komputer, tetapi pasar tidak sama dengan komputer. Kalau mau membandingkan sebuah provinsi, ya harus dengan provinsi lagi; negara dengan negara. Begitu caranya.

            Mereka yang membandingkan itu tidak paham politik. Mereka hanya tim hore, juru keprok pihak Bapejabacapres (baru pengen dijadikan bakal calon presiden).


Skywalk Teras Cihampelas dibangun untuk mengatasi kemacetan (Foto: Waktu Indonesia Berlibur)


            Kata mereka, Somalia dan Afghanistan rusak karena mementingkan simbol-simbol Islam seperti Jawa Barat dengan Masjid Raya Al Jabbar-nya. Mereka hanya melihat kulit luarnya. Perasaan beberapa waktu lalu saya sudah menulis bahwa kerusakan di wilayah Timur Tengah yang mayoritas Islam itu bukan karena agama, melainkan ada perebutan sumber daya alam, khususnya minyak dari para pengusaha kapitalis serta perlombaan memperluas kekuasaan antara kekuatan barat dan timur, antara Amerika Serikat dengan Uni Soviet atau Rusia. Mereka menggunakan orang-orang yang hanya punya semangat keagamaan, tetapi ilmu agamanya lemah. Orang-orang yang lemah pemahaman agamanya inilah yang digunakan para pengusaha dan penguasa kapitalis untuk membuat kerusakan di Timur Tengah dan sekitarnya. Saya tidak meneliti Timur Tengah, saya hanya membaca hasil penelitian mahasiswa saya dan seperti itulah yang mereka tulis. Kemudian, saya gabungkan dengan beberapa literatur yang saya baca. Kalau saya sendiri, hanya sempat meneliti tentang kejatuhan Muamar Khadafi di Libya akibat invasi Nato.

            Masjid Raya Al Jabbar Provinsi Jawa Barat justru dibangun untuk memperkuat harmonisasi rakyat dengan simbol batik dari seluruh kota dan kabupaten di Jawa Barat; ada museum Rasulullah saw, sejarah Islam Nusantara, dan sejarah Islam di Jawa Barat; ada danau retensi yang digunakan untuk mengendalikan banjir; ada spot-spot untuk wisata; di sekitarnya diproyeksikan untuk menjadi pusat pertumbuhan bisnis baru bagi rakyat, baik muslim maupun nonmuslim.

            Beda, Bro antara Jawa Barat dengan Somalia dan Afghanistan. Meskipun demikian, meskipun Jawa Barat hanya sebuah provinsi, tingkat kemakmurannya melebihi Negara Somalia dan Negara Afghanistan. Sok belajar membandingkan yang benar. Hitung APBD Jawa Barat dibagi penduduk Jawa Barat dengan APBN Somalia dan APBN Afghanistan dibagi penduduknya masing-masing. Kalau mau, hitung pula hutang kedua negara itu. Jadi, bisa kita lihat tingkat kemakmurannya secara sederhana.


Jln. Braga, Bandung yang menyenangkan, beda jauh dengan Somalia dan Afghanistan (Foto: bandung24jam - Republika) 


            Sudah dulu ya. Sebetulnya, masih banyak yang ingin saya tulis tentang kebodohan orang-orang itu. Akan tetapi, nanti saja pada tulisan yang lain. Soalnya, kalau terlalu panjang, bosan membacanya.


Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil (Foto: Suara Jogja)


            Foto Ridwan Kamil saya dapatkan dari Suara Jogja. Foto rakyat Somalia yang kelaparan sedang antri makanan saya dapatkan dari BBC. Foto rakyat Afghanistan yang menderita dari Dunia Tempo co. Kasihan anak-anak perempuan dijual orangtua mereka Rp40 s.d. 50 juta per orang karena tidak punya uang. Foto keramaian di Masjid Raya Al Jabbar dari Merdeka. Foto skywalk Teras Cihampelas dari Waktu Indonesia Berlibur. Itu dibangun untuk mengatasi kemacetan. Foto suasana menyenangkan di Jln. Braga, Bandung dari bandung24jam – Republika. Beda jauh dengan Somalia dan Afghanistan. Rakyat Jawa Barat tidak mungkin ingin seperti di Somalia dan Afghanistan. Orang sudah melangkah jauh, kok pengen mundur. Kacau kalian mah.

            Sampurasun.