Showing posts with label Afghanistan. Show all posts
Showing posts with label Afghanistan. Show all posts

Sunday, 15 January 2023

Jawa Barat Bakal Jadi Somalia atau Afghanistan

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Awalnya, saya kesal jika membaca tulisan mereka atau tayangan video yang mereka buat. Akan tetapi, sekarang mah jadi pengen tertawa terus setiap melihat hasil karya mereka yang berantakan nggak jelas itu. Akibat iri dan ketakutan, mereka jadi semakin stress, tidak karu-karuan, dan jadi bodoh. Saya tidak tahu apakah mereka itu mendadak bodoh atau sudah sejak awal dari dulu juga bodoh.

            Ayah saya dulu sering berkata kepada saya, “Kalau bodoh itu, wajar, tidak apa-apa, tetapi harus diobati dengan belajar.”

            Bodoh itu nggak apa-apa karena bisa diperbaiki dengan belajar. Oleh sebab itu, saya pun sekarang selalu berbicara kepada murid-murid saya, baik yang di tingkat aliyah ataupun di perguruan tinggi, mirip seperti yang dulu diajarkan ayah saya.

            “Salah itu tidak apa-apa, wajar karena dengan melakukan kesalahan, kalian akan memahami kebenaran,” begitu yang saya bilang.

            Kata orang-orang bodoh akibat iri dan ketakutan terhadap Masjid Raya Al Jabbar, Provinsi Jawa Barat akan menjadi seperti Somalia atau Afghanistan. Dalam pandangan mereka, Somalia dan Afghanistan miskin karena mementingkan agama Islam yang sangat kuat. Kedua negara itu rusak karena mementingkan simbol-simbol agama. Hal itu pun sama dengan Provinsi Jawa Barat yang mementingkan simbol agama berupa Masjid Al Jabbar. Begitu kata mereka.


Rakyat Somalia kelaparan antri makanan (Foto: BBC)



Anak-anak perempuan Afghanistan yang menderita. Di antara mereka ada yang dijual orangtuanya karena tidak punya uang (Foto: Dunia Tempo.co)


            Kebodohan pandangan mereka itu bisa dilihat ada dalam beberapa dimensi. Dari segi politik, mereka salah parah. Cara menganalisisnya parah berantakan. Mereka membandingkan dengan cara tidak “aple to aple”, ‘buah apel dengan buah apel’. Kalau mau membandingkan buah apel, ya harus dengan buah apel lagi, jangan dengan buah nanas. Itu salah dan tidak nyambung. Kalau mau membandingkan celana dalam, ya harus dengan celana dalam lagi, jangan dengan bra. Kan tidak bisa pas jika membandingkan bentuk segitiga celana dalam dengan bra yang punya tali ke pundak dan punggung. Tempat penggunaannya beda, fungsinya juga berbeda. Tidak juga pas jika membandingkan komputer dengan mall.


Keramaian Masjid Raya Al Jabbar Provinsi Jawa Barat (Foto: Merdeka)


            Mereka membandingkan antara Jawa Barat dengan Somalia dan Afghanistan. Itu salah besar, bodoh parah. Somalia itu adalah negara, Afghanistan juga adalah negara. Kedua negara itu memiliki kedaulatan penuh untuk mengatur dirinya dan berhubungan penuh dengan negara-negara di luar dirinya. Adapun Jawa Barat adalah provinsi yang berada di bawah kendali Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Jawa Barat itu tidak memegang kendali penuh karena berada dalam kekuasaan NKRI. Jawa Barat tidak memiliki kewenangan penuh untuk berhubungan dengan pihak luar negeri karena berada di bawah pengawasan Menteri Luar Negeri RI. Mereka salah jika membandingkan sebuah provinsi dengan negara, ibarat membandingkan komputer dengan pasar. Di pasar memang ada komputer, tetapi pasar tidak sama dengan komputer. Kalau mau membandingkan sebuah provinsi, ya harus dengan provinsi lagi; negara dengan negara. Begitu caranya.

            Mereka yang membandingkan itu tidak paham politik. Mereka hanya tim hore, juru keprok pihak Bapejabacapres (baru pengen dijadikan bakal calon presiden).


Skywalk Teras Cihampelas dibangun untuk mengatasi kemacetan (Foto: Waktu Indonesia Berlibur)


            Kata mereka, Somalia dan Afghanistan rusak karena mementingkan simbol-simbol Islam seperti Jawa Barat dengan Masjid Raya Al Jabbar-nya. Mereka hanya melihat kulit luarnya. Perasaan beberapa waktu lalu saya sudah menulis bahwa kerusakan di wilayah Timur Tengah yang mayoritas Islam itu bukan karena agama, melainkan ada perebutan sumber daya alam, khususnya minyak dari para pengusaha kapitalis serta perlombaan memperluas kekuasaan antara kekuatan barat dan timur, antara Amerika Serikat dengan Uni Soviet atau Rusia. Mereka menggunakan orang-orang yang hanya punya semangat keagamaan, tetapi ilmu agamanya lemah. Orang-orang yang lemah pemahaman agamanya inilah yang digunakan para pengusaha dan penguasa kapitalis untuk membuat kerusakan di Timur Tengah dan sekitarnya. Saya tidak meneliti Timur Tengah, saya hanya membaca hasil penelitian mahasiswa saya dan seperti itulah yang mereka tulis. Kemudian, saya gabungkan dengan beberapa literatur yang saya baca. Kalau saya sendiri, hanya sempat meneliti tentang kejatuhan Muamar Khadafi di Libya akibat invasi Nato.

            Masjid Raya Al Jabbar Provinsi Jawa Barat justru dibangun untuk memperkuat harmonisasi rakyat dengan simbol batik dari seluruh kota dan kabupaten di Jawa Barat; ada museum Rasulullah saw, sejarah Islam Nusantara, dan sejarah Islam di Jawa Barat; ada danau retensi yang digunakan untuk mengendalikan banjir; ada spot-spot untuk wisata; di sekitarnya diproyeksikan untuk menjadi pusat pertumbuhan bisnis baru bagi rakyat, baik muslim maupun nonmuslim.

            Beda, Bro antara Jawa Barat dengan Somalia dan Afghanistan. Meskipun demikian, meskipun Jawa Barat hanya sebuah provinsi, tingkat kemakmurannya melebihi Negara Somalia dan Negara Afghanistan. Sok belajar membandingkan yang benar. Hitung APBD Jawa Barat dibagi penduduk Jawa Barat dengan APBN Somalia dan APBN Afghanistan dibagi penduduknya masing-masing. Kalau mau, hitung pula hutang kedua negara itu. Jadi, bisa kita lihat tingkat kemakmurannya secara sederhana.


Jln. Braga, Bandung yang menyenangkan, beda jauh dengan Somalia dan Afghanistan (Foto: bandung24jam - Republika) 


            Sudah dulu ya. Sebetulnya, masih banyak yang ingin saya tulis tentang kebodohan orang-orang itu. Akan tetapi, nanti saja pada tulisan yang lain. Soalnya, kalau terlalu panjang, bosan membacanya.


Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil (Foto: Suara Jogja)


            Foto Ridwan Kamil saya dapatkan dari Suara Jogja. Foto rakyat Somalia yang kelaparan sedang antri makanan saya dapatkan dari BBC. Foto rakyat Afghanistan yang menderita dari Dunia Tempo co. Kasihan anak-anak perempuan dijual orangtua mereka Rp40 s.d. 50 juta per orang karena tidak punya uang. Foto keramaian di Masjid Raya Al Jabbar dari Merdeka. Foto skywalk Teras Cihampelas dari Waktu Indonesia Berlibur. Itu dibangun untuk mengatasi kemacetan. Foto suasana menyenangkan di Jln. Braga, Bandung dari bandung24jam – Republika. Beda jauh dengan Somalia dan Afghanistan. Rakyat Jawa Barat tidak mungkin ingin seperti di Somalia dan Afghanistan. Orang sudah melangkah jauh, kok pengen mundur. Kacau kalian mah.

            Sampurasun.

Wednesday, 22 June 2022

Kalau Mau Makmur, Jangan Ribut

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Jika mengajak diskusi siapa pun tentang hal ini, jawabannya selalu sama karena berasal dari otak dan hati yang jujur.

            Kalau kita punya uang lima puluh juta dan ingin membuka toko kecil-kecilan, tempat mana yang akan dipilih untuk usaha?

            Tempat yang penduduknya tidak berpendidikan, gemar ribut, sering tawuran, banyak pertengkaran, dan miskin atau tempat yang penduduknya berpendidikan, damai, saling menghormati, tidak gemar tawuran, dan punya uang banyak?

            Jawabannya selalu sama dan para pembaca tulisan saya pun pasti menjawab hal yang sama.

            Iya, kan?

            Begitu juga dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Jika ingin maju dan makmur bersama, kita harus menjaga situasi yang aman dan damai tanpa huru hara atau tanpa keributan yang mengarah pada perpecahan secara fisik. Kalau perdebatan ilmu pengetahuan, perbedaan pendapat, atau perbedaan pilihan politik sih, tidak mengapa, tidak masalah. Bahkan, itu bagus untuk pencerdasan.

            Dengan situasi yang aman, harmonis, damai, dan terkendali akan menarik para investor dan pemilik uang atau harta yang banyak dari seluruh dunia untuk menanamkan uangnya di Indonesia. Mereka bisa membuat perusahaan-perusahaan besar pada segala bidang sehingga terbuka banyak lapangan pekerjaan untuk kita dan kita pun bisa mendapatkan nilai tambah lainnya dari pajak, perputaran bisnis, serta alih teknologi. Kita bisa belajar dari mereka sehingga pada masa depan kita semakin mandiri karena memiliki banyak pengetahuan dan investasi yang banyak.

            Kalau selalu gemar ribut dan perpecahan, siapa yang tertarik menanamkan uangnya untuk bisnis di Indonesia?

             Itulah sebabnya Presiden Soeharto pada masa Orba melakukan tindakan yang sangat keras untuk membuat negara stabil dan tertib sehingga pada zamannya disebut sebagai “ekonomi adalah panglima”, berbeda daripada era Presiden Soekarno yang disebut “politik adalah panglima”. Sayangnya, Soeharto terlalu ekstrim sehingga membungkam aspirasi rakyat dan sangat kejam terhadap mereka yang berbeda pandangan, orang bisa tiba-tiba gila atau hilang tak diketahui di mana kuburannya. Dia dijatuhkan karena hal itu salah satunya.

            Pada masa ini diharapkan panglimanya adalah kesadaran diri dan penegakkan hukum yang tegas dan adil sehingga situasi tetap bisa terkendali untuk membuat suasana bisnis berjalan dengan baik dan menguntungkan.

            Baru-baru ini ada contoh menarik, yaitu Elon Musk yang awalnya diharapkan untuk membuat pabrik Tesla di Indonesia, ternyata memilih untuk membangun pabrik di Thailand. Dia memang membuat pabrik juga di Indonesia, tetapi hanya pabrik baterai yang bisa menyimpan listrik ratusan watt atau mungkin lebih dari seribu watt. Nilainya jelas jauh antara pabrik mobil dan pabrik baterai. Kalau pabrik Tesla ada di Indonesia, terbayang puluhan ribu orang bisa bekerja mengikuti perputaran bisnis Tesla. Keputusan Elon Musk untuk mendirikan pabrik di Thailand menggugurkan banyak kesempatan dan harapan untuk kita.

Beberapa pengamat menganalisa bahwa salah satu alasan Elon Musk tidak jadi membangun pabrik Tesla di Indonesia adalah adanya konflik-konflik dan potensi perpecahan yang ada di kalangan rakyat Indonesia meskipun itu bukan satu-satunya alasan. Elon Musk memang dikenal sangat pemilih dalam menanamkan uangnya. Dia menilai juga sejauh mana sebuah negara menghormati lingkungan, sikap para pengusaha terhadap karyawan, kemudahan birokrasi terhadap rakyat dan para pengusaha, serta yang lainnya.

Pendapat para analis ini bisa debatable, bisa didebat kebenarannya. Akan tetapi, cukuplah menjadi pelajaran bahwa untuk menjadi maju dan makmur, situasi harus diciptakan damai, aman, dan harmonis agar ada banyak uang yang masuk untuk diputarkan dalam bisnis serta menguntungkan banyak pihak. Kalau gemar tawuran dan huru hara, sangat sulit akan terjadi perputaran usaha secara positif.

Ekstrimnya, siapa yang akan menanamkan uangnya untuk buka usaha di Ukraina sekarang?

Tidak ada.

Siapa yang akan menanamkan uangnya di Afghanistan?

Cina mulai berani bisnis di Afghanistan, tetapi masih memperhatikan situasi hingga benar-benar aman untuk berbisnis di sana.

Mari ciptakan Indonesia yang harmonis dan untung bersama. Insyaallah.

Sampurasun.

Wednesday, 8 September 2021

Taliban Belajar dari Kenyataan

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Taliban mulai harus memahami kenyataan bahwa sudah terjadi perbedaan antara idealisme dan kenyataan. Selama ini mereka menginginkan pendidikan diselenggarakan dengan cara Islam. Maksud mereka cara Islam itu adalah dipisahkan antara laki-laki dan perempuan. Laki-laki diajari oleh guru laki-laki. Perempuan diajari oleh guru perempuan. Tempatnya juga harus terpisah. Ini sudah lumayan bagus sebetulnya karena dulu mereka tidak membolehkan perempuan untuk bersekolah. Kini perempuan boleh bersekolah meskipun harus terpisah dari laki-laki.

            Hal yang menarik adalah ternyata idealisme mereka tidak bisa dilaksanakan karena kenyataannya Afghanistan kekurangan tenaga pengajar, kurang guru. Entah karena memang sumber daya manusia mereka terbatas sejak dulu atau karena banyak guru yang kabur ke luar negeri ketika Afghanistan mulai jatuh ke tangan Taliban. Akhirnya, mereka tetap mencampurkan laki-laki dan perempuan dalam satu kelas. Bedanya, meskipun dalam kelas yang sama, murid-murid dibatasi dengan menggunakan tirai sehingga terpisah antara murid laki-laki dan perempuan. Mereka tidak bisa saling pandang.

            Bagaimana dengan gurunya?

            Kalau gurunya, bisa memandang mahasiswa laki-laki dan perempuan sekaligus. Begitu juga murid-muridnya, tetap bisa memandang dosen/guru, baik laki-laki maupun perempuan. Jadi, tetap saja bisa saling pandang antara laki-laki dan perempuan, khusus untuk dosen atau gurunya. Yang tidak bisa saling pandang itu antara murid/mahasiswa dengan teman-temannya sendiri di dalam kelas.

            Begitulah kenyataannya. Mereka harus banyak belajar bahwa antara idealisme dengan kenyataan kerap berbeda.

Mereka mungkin berpandangan bahwa laki-laki harus selalu menjadi pemimpin bagi perempuan. Oleh sebab itu, tak ada seorang perempuan pun yang ada dalam jajaran kabinet yang mereka bentuk untuk memimpin Afghanistan.

Bagaimana kalau guru atau dosen di kelas?

Mereka pun harus belajar dari kenyataan bahwa jika ada perempuan yang cerdas dan pantas menjadi dosen atau guru, para perempuan itu adalah pemimpin laki-laki dan perempuan di kelasnya. Itulah kenyataan yang harus dihadapi.

Ada keinginan lain yang belum jelas dalam pendidikan yang mereka inginkan, yaitu akan menghapus pelajaran yang anti-Islam.

Pelajaran anti-Islam itu apa? Pelajaran yang mana?

Matematika? Fisika, kimia, sosiologi, ekonomi, politik?

Mungkin biologi yang nggak boleh diajarkan karena mengajarkan anatomi tubuh manusia yang harus ditampakkan jelas semua auratnya berikut isi dalemannya?

Kalau begitu, mereka nggak akan punya dokter karena dokter kan harus tahu semua tubuh manusia, termasuk yang dianggap aurat itu.

Mungkin pelajaran komunis yang harus dihapuskan karena cenderung ateis?

Kalau begitu, mereka tidak akan paham tentang perkembangan pemikiran manusia di dunia. Saya sendiri mengajarkan komunisme karena itu termasuk dalam bagian mata kuliah “Dinamika Ekonomi Politik Global”. Di dalam mata kuliah itu ada ajaran merkantilisme, liberalisme, kapitalisme, komunisme, Pancasila, dan Islam.

Jujur saja saya ingin belajar apa sih pelajaran yang anti-Islam itu. Kalau ada penggemar Taliban baca tulisan saya ini, tolong kasih tahu saya tentang pelajaran anti-Islam, saya berterima kasih untuk itu.

Sampurasun.

Friday, 3 September 2021

Jangan Jadi Korban Hoax tentang Taliban

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Kemenangan Taliban menguasai Afghanistan secara penuh telah menimbulkan kegembiraan luar biasa bagi para pendukungnya di tanah air, bahkan tidak sedikit para pengamat terorisme dan intelijen di Indonesia menggambarkan kegembiraan mereka. Banyak di antara para pendukungnya yang mengatakan bahwa kalau Taliban mampu berkuasa di Afghanistan, mereka pun seharusnya bisa berkuasa di Indonesia.

            Hal ini diperparah dengan hoax dan provokasi yang menjerumuskan. Kemenangan Taliban seolah-olah akibat perang habis-habisan dengan Amerika Serikat (AS). Hasilnya, AS kalah perang. Kemudian, dihubung-hubungkan dengan kisah-kisah zaman akhir yang menggambarkan bahwa Taliban adalah pasukan Allah swt. Banyak hoax dan provokasi yang beredar.

            Hal ini harus diwaspadai karena berpotensi menipu anak-anak muda yang berghirah Islam tinggi untuk kemudian melakukan aksi-aksi konyol yang akibatnya kalau tidak ditangkap Densus 88, mati karena melakukan pemboman bunuh diri. Anak-anak muda itu tertipu karena kisah hoax tentang Taliban yang bisa berperang mengalahkan AS.

            Peristiwa yang sesungguhnya terjadi di Afghanistan bisa kita ikuti bersama dari berbagai berita yang ada, termasuk penjelasan dari Jusuf Kalla yang sempat menjadi juru damai antara Taliban dan pemerintah Afghanistan. Kemenangan Taliban di Afghanistan itu bukan karena perang yang membuat AS kalah, melainkan disebabkan AS sudah merasa rugi berada di Afghanistan. AS tidak mendapatkan keuntungan apa-apa lagi dari keberadaan mereka di Afghanistan. Oleh sebab itu, AS pergi meninggalkan Afghanistan. Di samping itu, pemerintahan Presiden Afghanistan Ashraf Gani sangat lemah dan tidak bisa mengomandoi tentara resmi Afghanistan. Oleh sebab itu, Ashraf Gani kabur ke UEA, para jenderal tentara resmi pun mayoritas pada kabur beserta para tentaranya ke negara-negara terdekat atau ke negara mana saja yang mereka anggap aman. Tentara resmi Afghanistan tidak mau melakukan pertumpahan darah. Jadi, bukan karena perang habis-habisan Taliban bisa menang, melainkan AS bosan di Afghanistan, lalu pergi yang diikuti dengan kaburnya pemerintahan dan militer Ashraf Gani yang hidupnya selalu ketergantungan kepada AS. Pasukan AS pergi, pemerintah dan militer Afghanistan pun pergi. Taliban leluasa untuk menguasai Afghanistan. Itu yang terjadi.

            Jauh berbeda dengan Indonesia. Presiden RI Jokowi sangat kuat menjadi panglima tertinggi militer; polisi dan tentara Indonesia sangat cinta terhadap negaranya dan bersedia berkorban untuk Indonesia. Indonesia tidak memiliki ketergantungan terhadap negara lain. Indonesia tidak tergantung pada AS, Cina, Jepang, atau negara mana pun. Ada atau tidak ada negara-negara itu, tidak ada pengaruhnya bagi Indonesia. Biasa saja. Kerja sama bisa dilakukan dengan negara mana pun. Jadi, kalau ada yang tertipu hoax tentang kemenangan Taliban, lalu melakukan tindakan-tindakan memerangi pemerintah Indonesia yang sah, itu konyol namanya.

            Sebagai anak-anak muda Indonesia, untuk mengabdikan diri kepada Allah swt bisa dengan melakukan berbagai prestasi, misalnya, sekolah dan kuliah yang baik. Kalau mendapatkan beasiswa, jangan khianati pemberi beasiswa itu. Jadilah manusia yang bermanfaat bagi diri, keluarga, dan masyarakat sekitar. Aktif dalam berbagai kegiatan yang bisa menghasilkan banyak penemuan baru. Kalau sudah bekerja, berkarir dan berbisnis yang baik, kemudian membantu orang-orang lain yang sedang membutuhkan, baik dengan pikiran, tenaga, ataupun materi.

            Jangan percaya omong kosong yang memprovokasi untuk melakukan kekerasan dengan janji surga.  Islam itu “rahmatan  lil alamin”, memberikan banyak manfaat dan kenyamanan bagi alam semesta.

            Sampurasun.




Thursday, 2 September 2021

Penghancuran Pesawat Bandara di Afghanistan Mirip Bandung Lautan Api

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Masih ingat kan peristiwa Bandung Lautan Api?

            Rakyat Bandung membakar rumah-rumah, gedung-gedung, dan bangunan-bangunan lain sebelum meninggalkan Kota Bandung menuju Bandung Selatan. Hal itu dilakukan agar bangunan-bangunan itu tidak digunakan oleh pasukan Belanda ketika Belanda memasuki Kota Bandung. Dengan demikian, ketika rakyat mengungsi meninggalkan Kota Bandung, pasukan Belanda hanya menemukan bangunan-bangunan dan gedung-gedung yang gosong tak lagi bisa digunakan dengan baik, kecuali diperbaiki dulu.

            Hal yang mirip Bandung Lautan Api terjadi di Bandara Hamid Karzai, Kabul, Afghanistan. Ketika pasukan Amerika Serikat (AS) hendak meninggalkan Afghanistan, 31 Agustus 2021, mereka merusakkan pesawat-pesawat, heli-heli, dan peralatan lainnya milik AS yang harganya bisa mencapai triliunan agar tidak bisa dipergunakan oleh Taliban. Dengan demikian, ketika pasukan AS terbang meninggalkan Afghanistan, Taliban tidak dapat menggunakan pesawat, heli, dan peralatan lainnya.


Foto: SUARAISLAM.ID


            Pejabat militer AS memastikan bahwa pesawat-pesawat itu sudah menjadi barang rongsokan dan tidak bisa lagi diperbaiki. Sebetulnya sih, menurut saya, masih bisa diperbaiki kalau memiliki banyak uang dan teknologi yang cukup untuk memperbaikinya. Akan tetapi, kalau melihat kemampuan Taliban, memang tidak bisa memperbaikinya untuk saat ini.

Berbeda dengan orang Indonesia, jangankan para ilmuwan yang ahli dalam bidang teknik, montir bengkel sederhana apa saja gemar mencoba, “ngulik”, hingga kendaraan mogok rongsokan pun bisa hidup lagi. Motor atau mobil Jadul yang sudah tidak ada di muka Bumi ini, masih bisa hidup di Indonesia ini. Mungkin, pesawat hancur pun bisa “diulik” hingga hidup lagi.  Itulah bedanya orang Indonesia dengan Taliban.

Kembali ke soal penghancuran pesawat di Kabul, memang begitulah yang namanya berselisih atau bertengkar. Tak ada keuntungan dari perselisihan dan pertengkaran, kalaupun tidak menghancurkan musuh, ya menghancurkan milik sendiri agar tidak bisa dimanfaatkan orang lain, musuhnya. Berbeda dengan perdamaian dan kerja sama yang harus saling menguntungkan dan memberikan manfaat. Setiap orang saling memberi.

Sampurasun.

Tuesday, 31 August 2021

Tak Ada Lagi Pasukan Asing di Afghanistan

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Mulai hari ini, 1 September 2021, sudah tak ada lagi pasukan asing di Afghanistan. Hal itu disebabkan memang sudah menjadi perjanjian antara Amerika Serikat (AS) dengan Taliban bahwa waktu untuk mengevakuasi warga asing dan warga Afghanistan yang ingin keluar dari Afghanistan batas akhirnya adalah 31 Agustus 2021.

Waktu tersebut sebenarnya terlalu singkat sehingga Presiden AS Joe Biden meminta perpanjangan waktu, tetapi Taliban menolaknya. Mau tidak mau pasukan asing harus segera pergi. Akibatnya, masih ada warga AS dan warga Afghanistan yang ingin pergi ke AS tidak sempat terangkut pesawat terbang. Mudah-mudahan mereka baik-baik saja.

Demikian pula dengan Inggris, masih banyak yang ingin pergi ke Inggris, tetapi tidak sempat terangkut karena persoalan waktu  yang sangat mepet. Akibatnya, pemerintah Inggris mendapatkan kritikan tajam dari para elit politik dan warga Inggris karena tidak sempat mengangkut semuanya. Banyak warga Inggris yang khawatir atas keselamatan warga Afghanistan yang ingin pergi ke Inggris berada di bawah kekuasaan Taliban. Mudah-mudahan mereka baik-baik saja.


Foto: Kompas.com


Sementara itu, Taliban merayakan kemenangannya karena kini Afghanistan berada di bawah kekuasaan mereka sepenuhnya. Mereka menembakkan senjata ke udara dan menyalakan kembang api kegembiraan di pusat kota dan Bandara Internasional Hamid Karzai.

Melihat hal itu, baik AS, Inggris, ataupun negara asing lainnya, tetap harus berupaya melalui berbagai cara untuk mengeluarkan warganya sendiri dan warga Afghanistan yang ingin pergi untuk keluar dari Afghanistan. Di samping itu, Taliban pun harus tetap menghormati mereka sebagai manusia dan mengizinkan hak mereka untuk hidup di negara mana saja yang mereka mau. Semua manusia memiliki hak untuk hidup di tempat mana saja mereka inginkan.

Semoga krisis politik dan kemanusiaan segera berakhir sehingga semua orang bisa hidup lebih baik lagi.

Sampurasun.

Monday, 30 August 2021

Indonesia Saudara Seiman Taliban

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Ketika berbicara mengenai Indonesia, Juru Bicara Taliban Dr. Suhail Shaheen mengatakan bahwa Indonesia adalah negara seiman Taliban. Dia paham Indonesia adalah negara berpenduduk mayoritas muslim terbesar di dunia. Di samping itu, Taliban pun banyak belajar dari Indonesia.

            Dia sangat berharap bahwa Indonesia dapat berperan serta dalam membangun kembali Afghanistan yang telah porak poranda. Suhail pun menginginkan agar Indonesia bisa memajukan pendidikan warga Afghanistan. Dia mungkin paham benar bahwa Indonesia sudah mengeluarkan banyak uang untuk membantu para pemuda Afghanistan yang sedang belajar dan kuliah di Indonesia.

            Taliban mengundang Indonesia untuk membangun berbagai infrastruktur di Afghanistan. Mereka tampaknya sangat memahami bahwa Presiden RI Jokowi telah memiliki banyak keberhasilan dalam membangun infrastruktur di Indonesia. Meskipun Jokowi telah berulang-ulang menolak untuk bertemu, Taliban tetap sangat menghormati Jokowi dan berharap dapat ikut membangun Afghanistan. Perlu diketahui bahwa ketika Taliban datang ke Indonesia untuk bertemu Jokowi, mereka ditolak. Taliban hanya dierima oleh Jusuf Kalla yang saat itu masih menjadi wakil presiden RI. Tak heran jika Taliban memiliki kedekatan dengan Jusuf Kalla.

Suhail Shaheen (Foto: Albalad,co)


            Agar Indonesia dan negara lainnya dapat berperan serta dalam pembangunan Afghanistan, Taliban berjanji untuk tidak mengizinkan setiap kelompok ataupun individu yang berniat melawan negara lain berada di tanah Afghanistan. Artinya, Taliban tidak akan membiarkan ada kelompok teroris dan radikalis untuk berkembang biak di Afghanistan. Mereka akan fokus membangun Afghanistan melalui kerja sama dengan negara-negara sahabatnya.

            Meskipun demikian, kita, Indonesia harus tetap waspada dan berhati-hati karena kata-kata Suhail Shaheen itu baru sebatas kata-kata, belum ada bukti nyata. Sangat mungkin terjadi perbedaan antara kata dengan kenyataan. Hal yang harus kita jadikan pegangan adalah pernyataan, instruksi, dan hasil kerja dari Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi. Selama Retno mengatakan Afghanistan tidak layak untuk diajak kerja sama dan tidak aman untuk berhubungan, berarti memang Indonesia belum bisa membuka diri terhadap Taliban. Sebaliknya, jika Menlu RI Retno Marsudi sudah mengembalikan operasional kedutaan besar RI dari Islamabad, Pakistan ke Kabul, Afghanistan, itu pertanda Indonesia mulai percaya pada Taliban untuk membangun Afghanistan dan mendapatkan keuntungan dari Afghanistan. Indonesia bisa mulai berbisnis dengan Afghanistan.


Retno Marsudi (Foto: Dunia Tempo.co)

            Taliban harus menertibkan dan membuktikan dirinya untuk bekerja sama dan Indonesia memperhatikannya dengan serius.

            Sampurasun.

 

Sumber:

https://www.youtube.com/watch?v=ncEZSjKse98

Sunday, 29 August 2021

Afghanistan Surga Pendukung Kekhalifahan

 


 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Ketika Taliban mulai berkuasa di Afghanistan, muncul banyak narasi bahwa kekhalifahan pintunya mulai terbuka untuk menguasai dunia. Banyak sekali orang Indonesia para pemimpi kekhalifahan yang gembira. Kemenangan Taliban adalah kemenangan mereka pula.

            Ini adalah kesempatan baik bagi orang-orang Indonesia penggemar kekhalifahan untuk segera pindah ke Afghanistan. Cita-cita mereka lebih mudah dan lebih ringan dijalani dibandingkan harus bergabung dengan Isis. Bergabung dengan Isis menyusahkan karena harus berperang dan kehilangan nyawa. Bahkan, kini Isis kalah. Kalau tidak berkumpul di penjara, mereka berada di kamp-kamp tahanan. Banyak orang Indonesia yang ingin pulang, banyak anak-anak yang dibawa orangtuanya dari Indonesia ke Suriah menangis kehilangan harapan karena cita-cita mereka menjadi dokter, guru, dan yang lainnya menjadi gelap. Hal itu disebabkan Indonesia menolak untuk memulangkan mereka ke kampung halamannya. Mereka bergerombol tak tentu arah di negeri orang.

Berbeda dengan di Afghanistan. Taliban yang dianggap sebagai pasukan surga telah menang. Jadi, tidak perlu perang dan tidak akan ditangkap di sana karena bergabung dengan para pemenang. Pergilah secepat mungkin ke sana untuk hidup dalam sistem pemerintahan yang terbaik dan sudah dicita-citakan sejak lama. Pindahlah ke sana dan berganti kewarganegaraan menjadi warga Negara Afghanistan. Akan tetapi, jangan balik ke Indonesia lagi karena Indonesia dipenuhi thagut. Selain itu, kalian sudah bukan lagi warga Negara Indonesia.

Jalan untuk menjadi warga Afghanistan semakin terbuka lebar karena orang-orang banyak yang kabur dari kekuasaan Taliban. Minggu kemarin saja sudah tercatat lebih dari 300 ribu orang berlarian ke luar dari Afghanistan melalui jalan darat dan udara. Sampai hari ini pun masih ribuan orang berkumpul di Bandara Internasional Hamid Karzai untuk kabur ke Amerika Serikat, Eropa, dan lain-lain karena tidak mau dikuasai Taliban. Orang-orang yang kabur itu rata-rata orang-orang pintar, para birokrat, aktivis, akademisi, dan mereka yang membenci Taliban. Di samping itu, sudah banyak pula orang yang mati dibunuh Taliban sejak berkuasa.  

Dengan banyaknya orang yang kabur dan mati dibunuh Taliban, berarti penduduk Afghanistan berkurang. Itu artinya, semakin banyak tempat yang bisa diisi oleh orang Indonesia yang memimpikan hidup dalam sistem kekhalifahan di Afghanistan. Pergilah secepat mungkin dan berbahagialah di sana. Tak perlu lagi ngoceh soal mendirikan kekhalifahan di Indonesia karena sulitnya luar biasa. Kalian harus berhadapan dengan para pecinta NKRI, terancam masuk penjara, dan  organisasinya bisa dibubarkan pemerintah Indonesia.

Jika pindah ke Afghanistan sekarang, kalian mungkin akan bahagia hidup dalam kekhalifahan di bawah Taliban. Orang Indonesia tetap bahagia dengan keindonesiaannya. Surga kekhalifahan menunggu kalian di Afghanistan. Surga Indonesia adalah tetap menjadi bangsa Indonesia yang dicintainya.

Kalau kalian ke Afghanistan, tak perlu berdebat lagi dengan para pecinta NKRI soal kekhalifahan karena semuanya telah mendapat tempat sesuai keinginannya masing-masing. Pecinta kekhalifahan berada bersama Taliban di Afghanistan, pecinta NKRI tetap hidup berada di negerinya sendiri.

Sampurasun.

Saturday, 28 August 2021

Taliban Wajib Menertibkan Dirinya Sendiri

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Pada awal menguasai Afghanistan, 15 Agustus 2021, banyak janji manis dan lembut disampaikan Taliban. Mereka berjanji akan membuat situasi lebih aman, perempuan bisa bersekolah, para pejabat dan pegawai yang mendukung pemerintahan lama akan diampuni, semua elemen akan diajak membangun Afghanistan bersama-sama, rakyat tidak perlu kabur ke luar negeri karena semuanya akan dilindungi. Akan tetapi, berita yang berkembang selanjutnya adalah Taliban banyak melakukan kekerasan dan pelecehan terhadap perempuan. Janji manis mereka ternyata tidak sesuai di lapangan. Berbeda antara kata dan perbuatan.

            Seorang walikota perempuan pertama di Kota Maidan Shahr, Provinsi Wardak, Afghanistan, Zarifa Ghafari, awalnya diajak para elit Taliban untuk tetap bekerja membangun Afghanistan. Akan tetapi, dalam kenyataannya di lapangan, Taliban mengepung rumah Zarifa dan memukuli penjaga rumahnya. Zarifa hendak ditangkap dan mungkin dibunuh karena Taliban tidak menyukai perempuan menjadi pemimpin.

            Beruntung Zarifa Ghafari berhasil kabur ke Jerman dan diterima dengan baik oleh Perdana Menteri Rhine-Westphalia Utara (NRW) dan kandidat Kanselir Serikat Armin Laschet (CDU) di Düsseldorf. Meskipun pemerintah dan rakyat Jerman sangat menerimanya dengan baik, tetapi Zarifa tetap merindukan kebisingan, hiruk pikuk, celotehan, dan keriangan rakyat Afghanistan. Kini semuanya menjadi tidak menentu.

            Kejadian ini hanya salah satu contoh tidak nyambungnya antara kata, janji, dan praktik yang dilakukan Taliban. Peristiwa tragis lainnya masih banyak.

            Ada dua hal yang bisa saya duga tentang hal ini, yaitu pertama, Taliban memang pendusta, pembohong. Mereka bermulut manis, tetapi sebetulnya di dalam hatinya kotor dan penuh kebohongan.

            Kedua, sistem informasi, komunikasi, dan komando di dalam tubuh Taliban sendiri memang berantakan. Sangat mungkin memang para elit Taliban berniat tulus untuk berubah dan membangun Afghanistan dengan lebih baik dan bekerja sama dengan seluruh elemen Afghanistan, termasuk memberikan kebebasan pada perempuan untuk mengembangkan potensi dirinya. Akan tetapi, di level menengah dan di level komando lapangan, niat baik para pemimpin puncak Taliban tidak dilaksanakan dengan baik. Mereka masih betah dan yakin dengan perilakunya kejinya seperti 25 tahun yang lalu.

            Melihat hal seperti itu, agar Afghanistan dipercaya oleh negara-negara lain untuk bekerja sama dalam berbagai bidang demi kemakmuran, Taliban harus mampu menertibkan dirinya sendiri dari level atas hingga level bawah. Kalau perilaku mereka tetap berantakan dan tetap bergaya teroris, tak akan ada negara yang mau bekerja sama dengan mereka. Itu artinya kekacauan menjadi kehidupan mereka, kebodohan adalah ciri mereka, dan kemiskinan adalah gaya hidup mereka.

            Cina mungkin tidak akan peduli dengan itu semua. Bagi mereka yang penting adalah untung dalam berbisnis dengan Taliban. Akan tetapi, Cina juga akan berhitung ulang jika Taliban  tidak mampu membentuk pemerintahan Islam yang terbuka karena akan mempersulit bisnis ke masa depannya dan akan mendapatkan tekanan luar biasa dalam pergaulan internasional yang akan membuat Cina kehilangan banyak kepercayaan dari masyarakat internasional.

            Perbaikan diri sangat diperlukan oleh Taliban. Jika tidak mampu memperbaiki dirinya, Taliban harus sadar dan menggandeng beberapa negara untuk menjadi mentor mereka dalam mengubah situasi menjadi lebih modern dan terbuka demi kemajuan Afghanistan.

            Sampurasun.

 

Sumber:

 

https://www.tribunnews.com/internasional/2021/08/25/sempat-pasrah-akan-dibunuh-taliban-wali-kota-pertama-di-afghanistan-berhasil-kabur-ke-jerman

 

https://www.youtube.com/watch?v=yJG1uq7hfVA&t=10s




Wednesday, 25 August 2021

Taliban dan Cina

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Taliban sekarang sedang berada di atas angin Afghanistan. Mereka berkuasa penuh atas Afghanistan.

            Kemenangan Taliban atas pemerintahan lama yang didukung Amerika Serikat (AS) membuat dunia memperhatikan mereka. Sebagian besar negara bersikap “wait and see”, ‘menunggu dan melihat” apa yang dilakukan Taliban di Afghanistan, Indonesia pun  termasuk negara yang bersikap hati-hati terhadap situasi politik di Afghanistan. Hal yang jelas dilakukan pemerintah RI adalah telah mengevakuasi WNI yang ada di Afghanistan. Itu menunjukkan arti bahwa ada kekhawatiran dan kehati-hatian terhadap situasi yang terjadi. Langkah yang bagus dilakukan pemerintah Indonesia untuk menyelamatkan rakyatnya di tengah situasi yang masih belum menentu.

            Meskipun demikian, ada negara yang “nyosor” langsung mendekat ke Taliban, yaitu Cina. Negara ini menyatakan siap bekerja sama dengan Taliban dengan syarat Taliban dapat membentuk pemerintahan Islam yang terbuka. Taliban pun ternyata memang berharap sangat besar bahwa Cina dapat berinvestasi di Afghanistan. Kekuatan Cina dapat menjadi daya tawar yang tinggi bagi Taliban terhadap negara-negara lainnya. Bahkan, kini Cina semakin dekat dan menjadi pembela Taliban.

            Ketika tersiar kabar yang dibawa AS bahwa Taliban ketika menduduki Afghanistan dalam waktu cepat telah menimbulkan korban, Cina pasang badan membela Taliban. Menurut AS, Taliban menyatroni rumah-rumah di Afghanistan dan melakukan pembunuhan, eksekusi, dan pemaksaan terhadap perempuan dan anak-anak perempuan untuk dinikahi. Cina dengan segera menyerang AS dengan menuntut bahwa AS pun harus bertanggung jawab atas korban-korban yang berjatuhan selama AS berkuasa 20 tahun di Afghanistan. Makin mesra tampaknya hubungan antara Cina dan Taliban.

            Hal yang lucu adalah justru terjadi di Indonesia. Para provokator politik yang memprovokasi rakyat Indonesia untuk membenci Cina, terus terjadi sampai hari ini meskipun banyak bohongnya, banyak hoax-nya. Disebutnya Cina menguasai Indonesia. Pemerintah Indonesia adalah antek-antek Cina. Akan tetapi, pada saat yang sama memuji-muji Taliban yang justru sedang mesra dengan Cina. Selain itu, Cina sekarang menjadi negara besar yang bersikap melindungi Taliban karena ada kepentingan bisnis di Afghanistan.

            Bagi saya ini hal yang lucu. Indonesia dikata-katai sebagai antek-antek Cina, sementara Taliban dipuji, padahal di belakangnya ada Cina juga. Mereka yang mengatai-ngatai Indonesia dan memuji Taliban, orang-orangnya masih yang itu-itu juga, kelompoknya masih sama. Para provokator ini memang tidak memiliki tujuan yang jelas. Mereka hanya ingin rakyat Indonesia tetap bodoh, tersesat, dan gampang ditipu sesuai kepentingan mereka sendiri.

            Orang normal kalau membenci Indonesia karena berbisnis dengan Cina, seharusnya membenci juga Taliban karena berbisnis juga dengan Cina. Kalau membenci yang satu dan memuji yang satu lagi, jelas itu menunjukkan bahwa mereka tidak memiliki tujuan yang jelas.

            Sampurasun.

Friday, 20 December 2019

Buka Dikit, … Bray


oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Biasanya, kalau mendapatkan informasi, berita, ataupun kisah, sikap kita biasa-biasa saja jika informasi itu tidak bermasalah. Kita hanya menyimak dan mendapatkan informasi baru yang tersimpan dalam memori di otak kita. Lain halnya jika informasi yang kita dapatkan itu sensitif, lalu bermasalah. Misalnya, soal para nabi, para pemimpin, atau peristiwa yang menguras emosi banyak orang. Banyak timbul pertanyaan terkait kebenaran informasi yang beredar.

            Wah, masa iya? Betulkah itu? Mengapa terjadi seperti itu? Kata siapa? Masa sih?

            Orang yang kritis pasti memiliki banyak pertanyaan. Berbeda dengan orang yang iya-iya saja, biasanya langsung percaya dan mengamini. Setiap orang berbeda-beda. Itu kenyataannya.

            Terkait isu etnis Uighur, Xinjiang, Cina, jelas banyak pertanyaan. Saya sendiri bertanya, sumber berita itu dari siapa. Ternyata, berita yang beredar, baik di media-media nasional maupun internasional, termasuk di media sosial, seluruhnya berawal dari media “Wall Street Journal” (WSJ).

            Jika kita potret rekam jejak dari WSJ, memang banyak mempengaruhi opini dunia dan mengarahkan pada perubahan politik suatu negara atau beberapa negara. Misalnya, dulu WSJ getol sekali memberitakan bahwa Irak di bawah kepemimpinan Sadam Husein memiliki, bahkan memproduksi senjata pemusnah massal, senjata biologi, kimia. Akibatnya, opini dunia tergiring yang membuat negara-negara Barat menyerang Irak. Jatuhlah Sadam Husein, Irak pun hancur. Hingga kini Irak masih sangat babak belur dan termasuk negara yang tidak aman untuk ditinggali. Padahal, sampai sekarang, tidak ditemukan bukti bahwa Irak memiliki senjata biologi, kimia yang bisa memusnahkan manusia itu. Isu yang digoreng WSJ tidak ada buktinya, tetapi Irak sudah hancur.

            Demikian pula di Afghanistan, WSJ pun ikut banyak memberitakan tentang ketimpangan-ketimpangan dan konflik-konflik antarkelompok perlawanan dengan isu-isu muslim serta krisis kemanusiaan. Hingga saat ini Afghanistan dalam keadaan tertinggal, miskin, bodoh, dan tidak aman.

            Di Suriah pun WSJ berperan dalam memanas-manasi situasi dengan memberitakan kekejaman pemerintah Bashar al Assad, gerakan politik Isis, serta timbulnya kelompok-kelompok pemberontak dengan segala gerakannya. Akibatnya, Suriah hancur. Allepo yang dulunya seperti Jakarta, berantakan, tidak jelas bentuknya.

            Buka dikit saja rekam jejak sumber berita itu, lalu … bray …, kita dapat menemukan pertimbangan lain terhadap mereka.

            Saya tidak mengatakan bahwa berita dari WSJ selalu bohong, ada informasi bermanfaat dari mereka. Meskipun demikan, kebohongan yang dibuat WSJ banyak merusakkan negara lain dengan sangat hebat.

            Sekarang WSJ “berkisah” soal Uighur dengan menyeret-nyeret NU, Muhammadiyah, dan MUI. Pengaruhnya di dalam negeri digoreng hingga mendiskreditkan Jokowi. Mungkin harapannya Negara Indonesia menjadi goncang.

            Maukah kita menjadi seperti Irak, Afghanistan, dan Suriah?

            Sebagian besar masyakarat Indonesia tidak menginginkannya. Hanya sebagian kecil, keciiil pisan, yang mungkin berharap Indonesia babak belur. Bagi yang sangat ingin seperti Irak, Afghanistan, dan Suriah, bahkan tidak bisa tidur karena ingin seperti itu, ganti kewarnanegaraan saja, kemudian nikmatilah, hidup bahagia di sana.

            Sampurasun.

Tuesday, 13 August 2019

Saat Peluru Telah Letih, Indonesia Jadi Pilihan Perdamaian


oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Kita tahu bahwa Afghanistan, Pakistan, dan Taliban terlibat persengketaan bersenjata berebut kekuasaan yang tak berakhir hingga kini. Kawasan itu tak sepi dari pertarungan yang membuat banyak korban jiwa tak terhitung. Upaya mereka hingga kini tak juga berhasil. Tak kurang dari Amerika Serikat dan Eropa beserta Nato-nya berupaya keras meminimalisasi kekerasan bersenjata di kawasan ini, namun hasilnya masih tidak menggembirakan.

            Ketika permusuhan bersenjata dan upaya barat tak juga menghasilkan perdamaian yang maksimal, mereka pun melirik Indonesia.

            Salah seorang delegai utama ulama Afghanistan Ataullah Lodin pernah berkata di Bogor, “Telah banyak saudara-saudari kami yang mengalami penderitaan berkepanjangan."

            Hal yang senada pun dilaporkan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) bahwa pada 2018 ada sekitar 3.804 penduduk sipil termasuk lebih dari 900 anak tewas dan tujuh ribu lainnya mengalami luka-luka dalam konflik di Afghanistan. Selain itu, wilayah kekuasaan dan pengaruh Taliban di Afghanistan juga dilaporkan semakin luas meski AS menggulingkan mereka pada 2001 silam.

            Perdamaian semakin sulit terwujud ketika Taliban tidak mau berdialog dengan Afghanistan karena menganggap bahwa Afghanistan adalah boneka barat. Sementara itu, pemerintah Afghanistan tidak mau ditinggalkan pasukan barat karena khawatir serangan dari Taliban. Di samping itu, Pakistan yang dituduh sebagai sekutu Taliban membantah ikut mengacaukan situasi karena keamanan di Afghanistan merupakan kunci pula bagi perdamaian di dalam negeri Pakistan.

            Beruntung, mereka mempercayai Indonesia yang tidak memiliki kepentingan apa pun terhadap mereka di kawasan itu. Indonesia hanya peduli terhadap perdamaian dunia.

            Menurut Basri Sidehabi, orang yang ditugaskan Jusuf Kalla untuk membawa delegasi Taliban dari Qatar ke Indonesia, Taliban sangat mempercayai Indonesia karena hubungan dekat kedua negara. Selain itu, Taliban menilai Indonesia tidak mempunyai agenda selain ingin melihat perdamaian terwujud di Afghanistan.

            Di samping itu, pengalaman Indonesia dalam menyelesaikan konflik di dalam negeri bisa bermanfaat untuk memfasilitasi proses perdamaian di Afghanistan. Keterlibatan Indonesia dalam upaya perdamaian tersebut atas permintaan Presiden Afghanistan Ashraf Ghani yang disampaikan kepada Joko Widodo saat melawat ke Indonesia pada 2017.

            Indonesia memang memiliki pengalaman yang luar biasa dalam menyelesaikan konflik di dalam negeri melalui proses dialog, misalnya, konflik di Aceh; Ambon, Poso; Papua. Soal Papua memang masih ada kericuhan kecil-kecil, tetapi pada dasarnya mayoritas rakyat Papua sudah bersedia berdamai dan membangun bersama-sama dalam kerangka NKRI.

            Berbagai konflik tersebut bisa diselesaikan tidak lepas dari peranan Wapres RI Jusuf Kalla di dalamnya. Jusuf Kalla memang berpengalaman dalam hal itu. Tak heran jika Taliban merasa lebih dekat dengan Jusuf Kalla.

            Baik Pakistan, Afghanistan, maupun Indonesia sepakat untuk mengadakan dialog dan pertemuan para akademisi secara tripartit untuk mencari jalan bagi perdamaian. Lebih istimewa lagi Taliban pun bersedia untuk ikut serta dalam berbagai dialog yang dipimpin Indonesia sebagai tuan rumah tersebut. Semoga Indonesia dapat menularkan berbagai pengalamannya dalam menyelesaikan berbagai konflik yang ada di dunia.

            Hal yang patut diperhatikan adalah ketika dunia memandang Indonesia sebagai negara yang diharapkan untuk berperan serta dalam upaya perdamaian, sangatlah aneh jika kita justru meneladani ingin hidup seperti negara-negara yang sedang berkonflik yang sesungguhnya sedang meminta bantuan Indonesia untuk menyelesaikan kemelut yang dihadapinya.

            Indonesia memang sudah selayaknya berperan banyak dalam perdamaian dunia sebagaimana politik luar negerinya yang Bebas dan Aktif, bebas dari tekanan negara mana pun dan aktif dalam menciptakan perdamaian dunia.

            Sampurasun.