Showing posts with label Taliban. Show all posts
Showing posts with label Taliban. Show all posts

Wednesday, 8 September 2021

Taliban Belajar dari Kenyataan

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Taliban mulai harus memahami kenyataan bahwa sudah terjadi perbedaan antara idealisme dan kenyataan. Selama ini mereka menginginkan pendidikan diselenggarakan dengan cara Islam. Maksud mereka cara Islam itu adalah dipisahkan antara laki-laki dan perempuan. Laki-laki diajari oleh guru laki-laki. Perempuan diajari oleh guru perempuan. Tempatnya juga harus terpisah. Ini sudah lumayan bagus sebetulnya karena dulu mereka tidak membolehkan perempuan untuk bersekolah. Kini perempuan boleh bersekolah meskipun harus terpisah dari laki-laki.

            Hal yang menarik adalah ternyata idealisme mereka tidak bisa dilaksanakan karena kenyataannya Afghanistan kekurangan tenaga pengajar, kurang guru. Entah karena memang sumber daya manusia mereka terbatas sejak dulu atau karena banyak guru yang kabur ke luar negeri ketika Afghanistan mulai jatuh ke tangan Taliban. Akhirnya, mereka tetap mencampurkan laki-laki dan perempuan dalam satu kelas. Bedanya, meskipun dalam kelas yang sama, murid-murid dibatasi dengan menggunakan tirai sehingga terpisah antara murid laki-laki dan perempuan. Mereka tidak bisa saling pandang.

            Bagaimana dengan gurunya?

            Kalau gurunya, bisa memandang mahasiswa laki-laki dan perempuan sekaligus. Begitu juga murid-muridnya, tetap bisa memandang dosen/guru, baik laki-laki maupun perempuan. Jadi, tetap saja bisa saling pandang antara laki-laki dan perempuan, khusus untuk dosen atau gurunya. Yang tidak bisa saling pandang itu antara murid/mahasiswa dengan teman-temannya sendiri di dalam kelas.

            Begitulah kenyataannya. Mereka harus banyak belajar bahwa antara idealisme dengan kenyataan kerap berbeda.

Mereka mungkin berpandangan bahwa laki-laki harus selalu menjadi pemimpin bagi perempuan. Oleh sebab itu, tak ada seorang perempuan pun yang ada dalam jajaran kabinet yang mereka bentuk untuk memimpin Afghanistan.

Bagaimana kalau guru atau dosen di kelas?

Mereka pun harus belajar dari kenyataan bahwa jika ada perempuan yang cerdas dan pantas menjadi dosen atau guru, para perempuan itu adalah pemimpin laki-laki dan perempuan di kelasnya. Itulah kenyataan yang harus dihadapi.

Ada keinginan lain yang belum jelas dalam pendidikan yang mereka inginkan, yaitu akan menghapus pelajaran yang anti-Islam.

Pelajaran anti-Islam itu apa? Pelajaran yang mana?

Matematika? Fisika, kimia, sosiologi, ekonomi, politik?

Mungkin biologi yang nggak boleh diajarkan karena mengajarkan anatomi tubuh manusia yang harus ditampakkan jelas semua auratnya berikut isi dalemannya?

Kalau begitu, mereka nggak akan punya dokter karena dokter kan harus tahu semua tubuh manusia, termasuk yang dianggap aurat itu.

Mungkin pelajaran komunis yang harus dihapuskan karena cenderung ateis?

Kalau begitu, mereka tidak akan paham tentang perkembangan pemikiran manusia di dunia. Saya sendiri mengajarkan komunisme karena itu termasuk dalam bagian mata kuliah “Dinamika Ekonomi Politik Global”. Di dalam mata kuliah itu ada ajaran merkantilisme, liberalisme, kapitalisme, komunisme, Pancasila, dan Islam.

Jujur saja saya ingin belajar apa sih pelajaran yang anti-Islam itu. Kalau ada penggemar Taliban baca tulisan saya ini, tolong kasih tahu saya tentang pelajaran anti-Islam, saya berterima kasih untuk itu.

Sampurasun.

Friday, 3 September 2021

Jangan Jadi Korban Hoax tentang Taliban

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Kemenangan Taliban menguasai Afghanistan secara penuh telah menimbulkan kegembiraan luar biasa bagi para pendukungnya di tanah air, bahkan tidak sedikit para pengamat terorisme dan intelijen di Indonesia menggambarkan kegembiraan mereka. Banyak di antara para pendukungnya yang mengatakan bahwa kalau Taliban mampu berkuasa di Afghanistan, mereka pun seharusnya bisa berkuasa di Indonesia.

            Hal ini diperparah dengan hoax dan provokasi yang menjerumuskan. Kemenangan Taliban seolah-olah akibat perang habis-habisan dengan Amerika Serikat (AS). Hasilnya, AS kalah perang. Kemudian, dihubung-hubungkan dengan kisah-kisah zaman akhir yang menggambarkan bahwa Taliban adalah pasukan Allah swt. Banyak hoax dan provokasi yang beredar.

            Hal ini harus diwaspadai karena berpotensi menipu anak-anak muda yang berghirah Islam tinggi untuk kemudian melakukan aksi-aksi konyol yang akibatnya kalau tidak ditangkap Densus 88, mati karena melakukan pemboman bunuh diri. Anak-anak muda itu tertipu karena kisah hoax tentang Taliban yang bisa berperang mengalahkan AS.

            Peristiwa yang sesungguhnya terjadi di Afghanistan bisa kita ikuti bersama dari berbagai berita yang ada, termasuk penjelasan dari Jusuf Kalla yang sempat menjadi juru damai antara Taliban dan pemerintah Afghanistan. Kemenangan Taliban di Afghanistan itu bukan karena perang yang membuat AS kalah, melainkan disebabkan AS sudah merasa rugi berada di Afghanistan. AS tidak mendapatkan keuntungan apa-apa lagi dari keberadaan mereka di Afghanistan. Oleh sebab itu, AS pergi meninggalkan Afghanistan. Di samping itu, pemerintahan Presiden Afghanistan Ashraf Gani sangat lemah dan tidak bisa mengomandoi tentara resmi Afghanistan. Oleh sebab itu, Ashraf Gani kabur ke UEA, para jenderal tentara resmi pun mayoritas pada kabur beserta para tentaranya ke negara-negara terdekat atau ke negara mana saja yang mereka anggap aman. Tentara resmi Afghanistan tidak mau melakukan pertumpahan darah. Jadi, bukan karena perang habis-habisan Taliban bisa menang, melainkan AS bosan di Afghanistan, lalu pergi yang diikuti dengan kaburnya pemerintahan dan militer Ashraf Gani yang hidupnya selalu ketergantungan kepada AS. Pasukan AS pergi, pemerintah dan militer Afghanistan pun pergi. Taliban leluasa untuk menguasai Afghanistan. Itu yang terjadi.

            Jauh berbeda dengan Indonesia. Presiden RI Jokowi sangat kuat menjadi panglima tertinggi militer; polisi dan tentara Indonesia sangat cinta terhadap negaranya dan bersedia berkorban untuk Indonesia. Indonesia tidak memiliki ketergantungan terhadap negara lain. Indonesia tidak tergantung pada AS, Cina, Jepang, atau negara mana pun. Ada atau tidak ada negara-negara itu, tidak ada pengaruhnya bagi Indonesia. Biasa saja. Kerja sama bisa dilakukan dengan negara mana pun. Jadi, kalau ada yang tertipu hoax tentang kemenangan Taliban, lalu melakukan tindakan-tindakan memerangi pemerintah Indonesia yang sah, itu konyol namanya.

            Sebagai anak-anak muda Indonesia, untuk mengabdikan diri kepada Allah swt bisa dengan melakukan berbagai prestasi, misalnya, sekolah dan kuliah yang baik. Kalau mendapatkan beasiswa, jangan khianati pemberi beasiswa itu. Jadilah manusia yang bermanfaat bagi diri, keluarga, dan masyarakat sekitar. Aktif dalam berbagai kegiatan yang bisa menghasilkan banyak penemuan baru. Kalau sudah bekerja, berkarir dan berbisnis yang baik, kemudian membantu orang-orang lain yang sedang membutuhkan, baik dengan pikiran, tenaga, ataupun materi.

            Jangan percaya omong kosong yang memprovokasi untuk melakukan kekerasan dengan janji surga.  Islam itu “rahmatan  lil alamin”, memberikan banyak manfaat dan kenyamanan bagi alam semesta.

            Sampurasun.




Monday, 30 August 2021

Indonesia Saudara Seiman Taliban

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Ketika berbicara mengenai Indonesia, Juru Bicara Taliban Dr. Suhail Shaheen mengatakan bahwa Indonesia adalah negara seiman Taliban. Dia paham Indonesia adalah negara berpenduduk mayoritas muslim terbesar di dunia. Di samping itu, Taliban pun banyak belajar dari Indonesia.

            Dia sangat berharap bahwa Indonesia dapat berperan serta dalam membangun kembali Afghanistan yang telah porak poranda. Suhail pun menginginkan agar Indonesia bisa memajukan pendidikan warga Afghanistan. Dia mungkin paham benar bahwa Indonesia sudah mengeluarkan banyak uang untuk membantu para pemuda Afghanistan yang sedang belajar dan kuliah di Indonesia.

            Taliban mengundang Indonesia untuk membangun berbagai infrastruktur di Afghanistan. Mereka tampaknya sangat memahami bahwa Presiden RI Jokowi telah memiliki banyak keberhasilan dalam membangun infrastruktur di Indonesia. Meskipun Jokowi telah berulang-ulang menolak untuk bertemu, Taliban tetap sangat menghormati Jokowi dan berharap dapat ikut membangun Afghanistan. Perlu diketahui bahwa ketika Taliban datang ke Indonesia untuk bertemu Jokowi, mereka ditolak. Taliban hanya dierima oleh Jusuf Kalla yang saat itu masih menjadi wakil presiden RI. Tak heran jika Taliban memiliki kedekatan dengan Jusuf Kalla.

Suhail Shaheen (Foto: Albalad,co)


            Agar Indonesia dan negara lainnya dapat berperan serta dalam pembangunan Afghanistan, Taliban berjanji untuk tidak mengizinkan setiap kelompok ataupun individu yang berniat melawan negara lain berada di tanah Afghanistan. Artinya, Taliban tidak akan membiarkan ada kelompok teroris dan radikalis untuk berkembang biak di Afghanistan. Mereka akan fokus membangun Afghanistan melalui kerja sama dengan negara-negara sahabatnya.

            Meskipun demikian, kita, Indonesia harus tetap waspada dan berhati-hati karena kata-kata Suhail Shaheen itu baru sebatas kata-kata, belum ada bukti nyata. Sangat mungkin terjadi perbedaan antara kata dengan kenyataan. Hal yang harus kita jadikan pegangan adalah pernyataan, instruksi, dan hasil kerja dari Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi. Selama Retno mengatakan Afghanistan tidak layak untuk diajak kerja sama dan tidak aman untuk berhubungan, berarti memang Indonesia belum bisa membuka diri terhadap Taliban. Sebaliknya, jika Menlu RI Retno Marsudi sudah mengembalikan operasional kedutaan besar RI dari Islamabad, Pakistan ke Kabul, Afghanistan, itu pertanda Indonesia mulai percaya pada Taliban untuk membangun Afghanistan dan mendapatkan keuntungan dari Afghanistan. Indonesia bisa mulai berbisnis dengan Afghanistan.


Retno Marsudi (Foto: Dunia Tempo.co)

            Taliban harus menertibkan dan membuktikan dirinya untuk bekerja sama dan Indonesia memperhatikannya dengan serius.

            Sampurasun.

 

Sumber:

https://www.youtube.com/watch?v=ncEZSjKse98

Sunday, 29 August 2021

Afghanistan Surga Pendukung Kekhalifahan

 


 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Ketika Taliban mulai berkuasa di Afghanistan, muncul banyak narasi bahwa kekhalifahan pintunya mulai terbuka untuk menguasai dunia. Banyak sekali orang Indonesia para pemimpi kekhalifahan yang gembira. Kemenangan Taliban adalah kemenangan mereka pula.

            Ini adalah kesempatan baik bagi orang-orang Indonesia penggemar kekhalifahan untuk segera pindah ke Afghanistan. Cita-cita mereka lebih mudah dan lebih ringan dijalani dibandingkan harus bergabung dengan Isis. Bergabung dengan Isis menyusahkan karena harus berperang dan kehilangan nyawa. Bahkan, kini Isis kalah. Kalau tidak berkumpul di penjara, mereka berada di kamp-kamp tahanan. Banyak orang Indonesia yang ingin pulang, banyak anak-anak yang dibawa orangtuanya dari Indonesia ke Suriah menangis kehilangan harapan karena cita-cita mereka menjadi dokter, guru, dan yang lainnya menjadi gelap. Hal itu disebabkan Indonesia menolak untuk memulangkan mereka ke kampung halamannya. Mereka bergerombol tak tentu arah di negeri orang.

Berbeda dengan di Afghanistan. Taliban yang dianggap sebagai pasukan surga telah menang. Jadi, tidak perlu perang dan tidak akan ditangkap di sana karena bergabung dengan para pemenang. Pergilah secepat mungkin ke sana untuk hidup dalam sistem pemerintahan yang terbaik dan sudah dicita-citakan sejak lama. Pindahlah ke sana dan berganti kewarganegaraan menjadi warga Negara Afghanistan. Akan tetapi, jangan balik ke Indonesia lagi karena Indonesia dipenuhi thagut. Selain itu, kalian sudah bukan lagi warga Negara Indonesia.

Jalan untuk menjadi warga Afghanistan semakin terbuka lebar karena orang-orang banyak yang kabur dari kekuasaan Taliban. Minggu kemarin saja sudah tercatat lebih dari 300 ribu orang berlarian ke luar dari Afghanistan melalui jalan darat dan udara. Sampai hari ini pun masih ribuan orang berkumpul di Bandara Internasional Hamid Karzai untuk kabur ke Amerika Serikat, Eropa, dan lain-lain karena tidak mau dikuasai Taliban. Orang-orang yang kabur itu rata-rata orang-orang pintar, para birokrat, aktivis, akademisi, dan mereka yang membenci Taliban. Di samping itu, sudah banyak pula orang yang mati dibunuh Taliban sejak berkuasa.  

Dengan banyaknya orang yang kabur dan mati dibunuh Taliban, berarti penduduk Afghanistan berkurang. Itu artinya, semakin banyak tempat yang bisa diisi oleh orang Indonesia yang memimpikan hidup dalam sistem kekhalifahan di Afghanistan. Pergilah secepat mungkin dan berbahagialah di sana. Tak perlu lagi ngoceh soal mendirikan kekhalifahan di Indonesia karena sulitnya luar biasa. Kalian harus berhadapan dengan para pecinta NKRI, terancam masuk penjara, dan  organisasinya bisa dibubarkan pemerintah Indonesia.

Jika pindah ke Afghanistan sekarang, kalian mungkin akan bahagia hidup dalam kekhalifahan di bawah Taliban. Orang Indonesia tetap bahagia dengan keindonesiaannya. Surga kekhalifahan menunggu kalian di Afghanistan. Surga Indonesia adalah tetap menjadi bangsa Indonesia yang dicintainya.

Kalau kalian ke Afghanistan, tak perlu berdebat lagi dengan para pecinta NKRI soal kekhalifahan karena semuanya telah mendapat tempat sesuai keinginannya masing-masing. Pecinta kekhalifahan berada bersama Taliban di Afghanistan, pecinta NKRI tetap hidup berada di negerinya sendiri.

Sampurasun.

Saturday, 28 August 2021

Syarat Mudah dari Indonesia yang Berat buat Taliban

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Kalau Taliban ingin berhubungan dengan Negara Indonesia, mudah saja dalam pandangan orang Indonesia. Akan tetapi, akan dirasakan sangat berat buat Taliban yang punya tradisi keras, pemikiran tunggal, dan telah hidup lama dalam penyingkiran selama Afghanistan dikuasai pemerintahan yang didukung Amerika Serikat (AS).

            Dalam pertemuan dengan Taliban di Doha, Qatar, Menteri Luar Negeri Indonesia Retno Marsudi menegaskan bahwa Indonesia meminta Taliban untuk melakukan tiga hal. Pertama, membentuk pemerintahan yang terbuka, inklusif; kedua, menghormati dan menjaga hak-hak perempuan; ketiga, memastikan agar Afghanistan tidak menjadi tanah tempat berkembang biaknya kegiatan dan aktivitas terorisme.

            Pemerintahan yang terbuka, inklusif, artinya penyelenggaraan pemerintahan yang bisa diawasi, diuji, dikritik, dan bertanggung jawab kepada rakyat. Jika pemerintahan tidak bisa diawasi oleh rakyat dan tidak bertanggung jawab kepada rakyat, misalnya, mengklaim diri hanya bertanggung jawab kepada Tuhan, itu artinya pemerintahan yang tertutup. Semua orang sulit menilai pertanggungjawaban kepada Tuhan dan tidak bisa memastikan dengan benar bagaimana penilaian Tuhan terhadap sebuah proses pemerintahan. Manusia hanya bisa menilai apa yang dilihat dan dirasakan manusia.

            Perempuan adalah manusia juga yang memiliki hak untuk hidup, berkembang, dan menentukan mana yang baik dan benar untuk dirinya sendiri. Perempuan tidak boleh dipandang sebagai manusia rendahan yang hidupnya selalu di bawah kekuasaan kaum pria.

            Terorisme adalah kegiatan yang merupakan ancaman menakutkan bagi perdamaian dan keharmonisan hidup manusia. Tak ada keamanan dan kenyamanan, baik secara lahir maupun batin jika hidup diganggu oleh tindakan-tindakan terorisme.

            Ketiga syarat itu mudah bagi orang Indonesia karena memang sudah kesehariannya melakukan hal seperti itu. Akan tetapi, akan dirasakan berat oleh Taliban yang berpikran tunggal dan menganggap kelompoknya yang paling benar. Mereka akan kesulitan jika harus diawasi oleh rakyat dalam menjalankan pemerintahan. Mereka lebih suka membunuh para aktivis, akademisi, dan para pengkritik. Taliban akan kesulitan jika harus mengangkat derajat perempuan sama dengan kaum pria karena kebiasaan mereka yang kerap merendahkan dan membatasi kehidupan perempuan. Taliban pun harus bersusah payah untuk membersihkan Afghanistan dari kelompok-kelompok teroris. Buktinya, baru beberapa hari saja mereka berkuasa, sudah ada serangan teror yang diduga menimbulkan korban lebih dari seratus jiwa, termasuk tentara AS di bandar udara internasional Afghanistan. Serangan teror itu dilakukan kelompok “Isis-K (Isis Khorasan)”. Khorasan itu nama wilayah yang mencakup Pakistan, Iran, Afghanistan, dan Asia Tengah.

            Indonesia memang sudah sebaiknya tetap waspada dan berhati-hati terhadap Taliban. Selama Taliban tidak dapat memenuhi permintaan Menlu RI Retno Marsudi, tidak perlu percaya penuh kepada mereka. Langkah pemerintah Indonesia sudah tepat memindahkan operasional Kedutaan Besar Indonesia dari Kabul, Afghanistan ke Islamabad, Pakistan. Hal itu disebabkan sudah menjadi kewajiban pemerintah Indonesia untuk melindungi rakyat dan petugasnya yang berada di Afghanistan yang kini dalam situasi tidak menentu.

            Sampurasun.

 

Sumber:

 

https://www.republika.co.id/berita/qyh1ve382/menlu-retno-bertemu-perwakilan-taliban-di-qatar

 

https://www.tribunnews.com/internasional/2021/08/26/apa-itu-isis-k-kelompok-militan-yang-ancam-keselamatan-warga-afghanistan-di-bandara-kabul?page=2

Taliban Wajib Menertibkan Dirinya Sendiri

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Pada awal menguasai Afghanistan, 15 Agustus 2021, banyak janji manis dan lembut disampaikan Taliban. Mereka berjanji akan membuat situasi lebih aman, perempuan bisa bersekolah, para pejabat dan pegawai yang mendukung pemerintahan lama akan diampuni, semua elemen akan diajak membangun Afghanistan bersama-sama, rakyat tidak perlu kabur ke luar negeri karena semuanya akan dilindungi. Akan tetapi, berita yang berkembang selanjutnya adalah Taliban banyak melakukan kekerasan dan pelecehan terhadap perempuan. Janji manis mereka ternyata tidak sesuai di lapangan. Berbeda antara kata dan perbuatan.

            Seorang walikota perempuan pertama di Kota Maidan Shahr, Provinsi Wardak, Afghanistan, Zarifa Ghafari, awalnya diajak para elit Taliban untuk tetap bekerja membangun Afghanistan. Akan tetapi, dalam kenyataannya di lapangan, Taliban mengepung rumah Zarifa dan memukuli penjaga rumahnya. Zarifa hendak ditangkap dan mungkin dibunuh karena Taliban tidak menyukai perempuan menjadi pemimpin.

            Beruntung Zarifa Ghafari berhasil kabur ke Jerman dan diterima dengan baik oleh Perdana Menteri Rhine-Westphalia Utara (NRW) dan kandidat Kanselir Serikat Armin Laschet (CDU) di Düsseldorf. Meskipun pemerintah dan rakyat Jerman sangat menerimanya dengan baik, tetapi Zarifa tetap merindukan kebisingan, hiruk pikuk, celotehan, dan keriangan rakyat Afghanistan. Kini semuanya menjadi tidak menentu.

            Kejadian ini hanya salah satu contoh tidak nyambungnya antara kata, janji, dan praktik yang dilakukan Taliban. Peristiwa tragis lainnya masih banyak.

            Ada dua hal yang bisa saya duga tentang hal ini, yaitu pertama, Taliban memang pendusta, pembohong. Mereka bermulut manis, tetapi sebetulnya di dalam hatinya kotor dan penuh kebohongan.

            Kedua, sistem informasi, komunikasi, dan komando di dalam tubuh Taliban sendiri memang berantakan. Sangat mungkin memang para elit Taliban berniat tulus untuk berubah dan membangun Afghanistan dengan lebih baik dan bekerja sama dengan seluruh elemen Afghanistan, termasuk memberikan kebebasan pada perempuan untuk mengembangkan potensi dirinya. Akan tetapi, di level menengah dan di level komando lapangan, niat baik para pemimpin puncak Taliban tidak dilaksanakan dengan baik. Mereka masih betah dan yakin dengan perilakunya kejinya seperti 25 tahun yang lalu.

            Melihat hal seperti itu, agar Afghanistan dipercaya oleh negara-negara lain untuk bekerja sama dalam berbagai bidang demi kemakmuran, Taliban harus mampu menertibkan dirinya sendiri dari level atas hingga level bawah. Kalau perilaku mereka tetap berantakan dan tetap bergaya teroris, tak akan ada negara yang mau bekerja sama dengan mereka. Itu artinya kekacauan menjadi kehidupan mereka, kebodohan adalah ciri mereka, dan kemiskinan adalah gaya hidup mereka.

            Cina mungkin tidak akan peduli dengan itu semua. Bagi mereka yang penting adalah untung dalam berbisnis dengan Taliban. Akan tetapi, Cina juga akan berhitung ulang jika Taliban  tidak mampu membentuk pemerintahan Islam yang terbuka karena akan mempersulit bisnis ke masa depannya dan akan mendapatkan tekanan luar biasa dalam pergaulan internasional yang akan membuat Cina kehilangan banyak kepercayaan dari masyarakat internasional.

            Perbaikan diri sangat diperlukan oleh Taliban. Jika tidak mampu memperbaiki dirinya, Taliban harus sadar dan menggandeng beberapa negara untuk menjadi mentor mereka dalam mengubah situasi menjadi lebih modern dan terbuka demi kemajuan Afghanistan.

            Sampurasun.

 

Sumber:

 

https://www.tribunnews.com/internasional/2021/08/25/sempat-pasrah-akan-dibunuh-taliban-wali-kota-pertama-di-afghanistan-berhasil-kabur-ke-jerman

 

https://www.youtube.com/watch?v=yJG1uq7hfVA&t=10s




Wednesday, 25 August 2021

Taliban dan Cina

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Taliban sekarang sedang berada di atas angin Afghanistan. Mereka berkuasa penuh atas Afghanistan.

            Kemenangan Taliban atas pemerintahan lama yang didukung Amerika Serikat (AS) membuat dunia memperhatikan mereka. Sebagian besar negara bersikap “wait and see”, ‘menunggu dan melihat” apa yang dilakukan Taliban di Afghanistan, Indonesia pun  termasuk negara yang bersikap hati-hati terhadap situasi politik di Afghanistan. Hal yang jelas dilakukan pemerintah RI adalah telah mengevakuasi WNI yang ada di Afghanistan. Itu menunjukkan arti bahwa ada kekhawatiran dan kehati-hatian terhadap situasi yang terjadi. Langkah yang bagus dilakukan pemerintah Indonesia untuk menyelamatkan rakyatnya di tengah situasi yang masih belum menentu.

            Meskipun demikian, ada negara yang “nyosor” langsung mendekat ke Taliban, yaitu Cina. Negara ini menyatakan siap bekerja sama dengan Taliban dengan syarat Taliban dapat membentuk pemerintahan Islam yang terbuka. Taliban pun ternyata memang berharap sangat besar bahwa Cina dapat berinvestasi di Afghanistan. Kekuatan Cina dapat menjadi daya tawar yang tinggi bagi Taliban terhadap negara-negara lainnya. Bahkan, kini Cina semakin dekat dan menjadi pembela Taliban.

            Ketika tersiar kabar yang dibawa AS bahwa Taliban ketika menduduki Afghanistan dalam waktu cepat telah menimbulkan korban, Cina pasang badan membela Taliban. Menurut AS, Taliban menyatroni rumah-rumah di Afghanistan dan melakukan pembunuhan, eksekusi, dan pemaksaan terhadap perempuan dan anak-anak perempuan untuk dinikahi. Cina dengan segera menyerang AS dengan menuntut bahwa AS pun harus bertanggung jawab atas korban-korban yang berjatuhan selama AS berkuasa 20 tahun di Afghanistan. Makin mesra tampaknya hubungan antara Cina dan Taliban.

            Hal yang lucu adalah justru terjadi di Indonesia. Para provokator politik yang memprovokasi rakyat Indonesia untuk membenci Cina, terus terjadi sampai hari ini meskipun banyak bohongnya, banyak hoax-nya. Disebutnya Cina menguasai Indonesia. Pemerintah Indonesia adalah antek-antek Cina. Akan tetapi, pada saat yang sama memuji-muji Taliban yang justru sedang mesra dengan Cina. Selain itu, Cina sekarang menjadi negara besar yang bersikap melindungi Taliban karena ada kepentingan bisnis di Afghanistan.

            Bagi saya ini hal yang lucu. Indonesia dikata-katai sebagai antek-antek Cina, sementara Taliban dipuji, padahal di belakangnya ada Cina juga. Mereka yang mengatai-ngatai Indonesia dan memuji Taliban, orang-orangnya masih yang itu-itu juga, kelompoknya masih sama. Para provokator ini memang tidak memiliki tujuan yang jelas. Mereka hanya ingin rakyat Indonesia tetap bodoh, tersesat, dan gampang ditipu sesuai kepentingan mereka sendiri.

            Orang normal kalau membenci Indonesia karena berbisnis dengan Cina, seharusnya membenci juga Taliban karena berbisnis juga dengan Cina. Kalau membenci yang satu dan memuji yang satu lagi, jelas itu menunjukkan bahwa mereka tidak memiliki tujuan yang jelas.

            Sampurasun.

Tuesday, 13 August 2019

Saat Peluru Telah Letih, Indonesia Jadi Pilihan Perdamaian


oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Kita tahu bahwa Afghanistan, Pakistan, dan Taliban terlibat persengketaan bersenjata berebut kekuasaan yang tak berakhir hingga kini. Kawasan itu tak sepi dari pertarungan yang membuat banyak korban jiwa tak terhitung. Upaya mereka hingga kini tak juga berhasil. Tak kurang dari Amerika Serikat dan Eropa beserta Nato-nya berupaya keras meminimalisasi kekerasan bersenjata di kawasan ini, namun hasilnya masih tidak menggembirakan.

            Ketika permusuhan bersenjata dan upaya barat tak juga menghasilkan perdamaian yang maksimal, mereka pun melirik Indonesia.

            Salah seorang delegai utama ulama Afghanistan Ataullah Lodin pernah berkata di Bogor, “Telah banyak saudara-saudari kami yang mengalami penderitaan berkepanjangan."

            Hal yang senada pun dilaporkan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) bahwa pada 2018 ada sekitar 3.804 penduduk sipil termasuk lebih dari 900 anak tewas dan tujuh ribu lainnya mengalami luka-luka dalam konflik di Afghanistan. Selain itu, wilayah kekuasaan dan pengaruh Taliban di Afghanistan juga dilaporkan semakin luas meski AS menggulingkan mereka pada 2001 silam.

            Perdamaian semakin sulit terwujud ketika Taliban tidak mau berdialog dengan Afghanistan karena menganggap bahwa Afghanistan adalah boneka barat. Sementara itu, pemerintah Afghanistan tidak mau ditinggalkan pasukan barat karena khawatir serangan dari Taliban. Di samping itu, Pakistan yang dituduh sebagai sekutu Taliban membantah ikut mengacaukan situasi karena keamanan di Afghanistan merupakan kunci pula bagi perdamaian di dalam negeri Pakistan.

            Beruntung, mereka mempercayai Indonesia yang tidak memiliki kepentingan apa pun terhadap mereka di kawasan itu. Indonesia hanya peduli terhadap perdamaian dunia.

            Menurut Basri Sidehabi, orang yang ditugaskan Jusuf Kalla untuk membawa delegasi Taliban dari Qatar ke Indonesia, Taliban sangat mempercayai Indonesia karena hubungan dekat kedua negara. Selain itu, Taliban menilai Indonesia tidak mempunyai agenda selain ingin melihat perdamaian terwujud di Afghanistan.

            Di samping itu, pengalaman Indonesia dalam menyelesaikan konflik di dalam negeri bisa bermanfaat untuk memfasilitasi proses perdamaian di Afghanistan. Keterlibatan Indonesia dalam upaya perdamaian tersebut atas permintaan Presiden Afghanistan Ashraf Ghani yang disampaikan kepada Joko Widodo saat melawat ke Indonesia pada 2017.

            Indonesia memang memiliki pengalaman yang luar biasa dalam menyelesaikan konflik di dalam negeri melalui proses dialog, misalnya, konflik di Aceh; Ambon, Poso; Papua. Soal Papua memang masih ada kericuhan kecil-kecil, tetapi pada dasarnya mayoritas rakyat Papua sudah bersedia berdamai dan membangun bersama-sama dalam kerangka NKRI.

            Berbagai konflik tersebut bisa diselesaikan tidak lepas dari peranan Wapres RI Jusuf Kalla di dalamnya. Jusuf Kalla memang berpengalaman dalam hal itu. Tak heran jika Taliban merasa lebih dekat dengan Jusuf Kalla.

            Baik Pakistan, Afghanistan, maupun Indonesia sepakat untuk mengadakan dialog dan pertemuan para akademisi secara tripartit untuk mencari jalan bagi perdamaian. Lebih istimewa lagi Taliban pun bersedia untuk ikut serta dalam berbagai dialog yang dipimpin Indonesia sebagai tuan rumah tersebut. Semoga Indonesia dapat menularkan berbagai pengalamannya dalam menyelesaikan berbagai konflik yang ada di dunia.

            Hal yang patut diperhatikan adalah ketika dunia memandang Indonesia sebagai negara yang diharapkan untuk berperan serta dalam upaya perdamaian, sangatlah aneh jika kita justru meneladani ingin hidup seperti negara-negara yang sedang berkonflik yang sesungguhnya sedang meminta bantuan Indonesia untuk menyelesaikan kemelut yang dihadapinya.

            Indonesia memang sudah selayaknya berperan banyak dalam perdamaian dunia sebagaimana politik luar negerinya yang Bebas dan Aktif, bebas dari tekanan negara mana pun dan aktif dalam menciptakan perdamaian dunia.

            Sampurasun.

Sunday, 15 November 2015

Bom Paris itu Karma, Salah Sendiri, Bego


oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya

Dunia boleh terkejut dengan adanya teror bom dan penembakan di Paris, Perancis. Akan tetapi, saya tidak kaget. Biasa saja. Bahkan, kadang pengen ketawa terbahak-bahak. Demi Allah swt, saya pengen ketawa. Boro-boro pengen mengutuk, yang jelas mah pengen tertawa liar.

Mau tidak mau ketawa bagaimana, saya kan sudah wanti-wanti mereka beberapa bulan lalu. Akan tetapi, mereka itu terlalu sombong dan angkuh sehingga melecehkan peringatan dari saya. Ternyata, yang saya khawatirkan benar-benar terjadi. Saya bukan ingin menertawakan aksi teror dan korban-korban yang berjatuhan, tetapi pengen menertawakan keangkuhan mereka yang ternyata menimbulkan peristiwa tragis luar biasa.

Begini Saudara Pembaca yang budiman. Kurang lebih empat atau lima bulan lalu saya sering sekali berdebat dengan orang-orang Barat. Saya menjelaskan dengan sebenar-benarnya, tetapi mereka tidak juga mau mengerti. Saya memperingatkan mereka bahwa perilaku mereka menghina Allah swt, Islam, dan Muhammad saw itu akan membawa petaka terhadap diri mereka sendiri. Saya ingin mereka berhenti dan mulai sadar. Kalaupun tidak mau masuk Islam, ya jangan menghina, jangan membuat ceritera bohong tentang Islam, dan jangan memfitnah. Bahayanya sudah dijelaskan sendiri oleh Allah swt dalam Al Quran bahwa siapa pun yang memusuhi Allah swt, Islam, dan Nabi Muhammad saw adalah hanya menunggu waktu datangnya azab. Azab itu berupa hukuman yang bisa datang dari sisi Allah swt secara langsung atau melalui tangan-tangan orang-orang beriman. Sesungguhnya, hukuman yang harus diterapkan di dunia ini pun sama mengerikannya, yaitu “hukuman mati”.

Saya sudah memperingatkan mereka dengan cara yang paling lembut sampai dengan yang paling kasar. Akan tetapi, mereka benar-benar congkak dan bloon. Saya peringatkan mereka ketika tahu saat itu sudah ada sekitar dua ribu orang Eropa yang bergabung dengan Isis dan orang-orang Isis dari Eropa itu selalu menggunakan penutup kepala dan wajah untuk menyembunyikan diri jika di hadapan kamera. Artinya, mereka tidak ingin diketahui tempat tinggalnya, pekerjaannya, dan aktivitas di negara mereka berdomisili. Dengan demikian, mereka bisa pulang dengan aman tanpa diketahui sebagai anggota Isis ke rumah-rumah mereka di Eropa. Saya khawatir orang-orang ini akan memburu dan membunuh orang-orang goblok Eropa yang gemar menghina, memfitnah, dan membuat kebohongan tentang Allah swt, Islam, dan Muhammad saw di tanah airnya sendiri. Apalagi sekarang orang-orang Eropa yang bergabung dengan Isis meningkat sangat cepat sudah mencapai 6.000 s.d. 8.000 orang.  Bahayanya semakin besar.

Seperti yang saya katakan tadi, orang-orang Eropa tolol itu malah berbicara dengan sangat bodoh. Baca aja percakapan panas saya dengan mereka di Youtube, mudah kok tinggal klik saja akun google+ saya. Mereka bilang orang-orang Isis menggunakan tutup kepala itu karena pengecut. Mereka juga bilang saya sok tahu karena tidak mungkin Isis dari Eropa datang pulang ke rumahnya seperti liburan atau giliran perang. Lalu, kalaupun Isis dari Eropa itu pulang, akan diketahui dengan mudah karena Eropa punya teknologi untuk mengenali orang dengan baik.

Bodoh kan mereka?

Mereka cuma menipu diri sendiri karena tidak mau kalah berdebat dengan saya dan ingin terus menghina Allah swt, Islam, dan Muhammad saw!

Banyak pula di antara mereka yang mengejek saya dengan menyuruh saya untuk berhenti membuat komentar terhadap perilaku mereka. Alasannya karena saya berasal dari Indonesia yang jelas dunia ketiga. Intinya, mereka menganggap saya tidak selevel dengan mereka. Mereka merasa lebih tinggi dibandingkan saya. Sebetulnya, saya juga pengen berhenti berbicara dengan mereka karena mulai bosen dan jengkel. Saya mulai jenuh karena mereka bicara selalu bolak-balik ke itu-itu lagi, nggak ada kemajuan. Saya sudah tidak lagi mendapatkan pengetahuan baru, kecuali ya itu tadi yang bulak-balik-bekok. Nggak ada gunanya. Akan tetapi, anehnya ketika saya berhenti, mereka mengajak berdebat lagi dan lagi, terus dan terus lagi. Aneh mereka itu. Memang bego dan tolol mereka.

Sebetulnya, saya tahu kenapa mereka terus mengajak saya berdebat. Mereka ingin mengalahkan saya karena setiap akhir pembicaraan, saya selalu menang. Jadi, ketika ada informasi baru, mereka segera mengajak berdebat lagi, tetapi pasti kalah lagi.

Begini contohnya. Ketika saya sudah bête ngobrol sama mereka, lalu ada informasi baru tentang penembakan yang dilakukan dua muslim Amerika Serikat terhadap panitia dan peserta acara menggambar Nabi Muhammad saw di Amerika Serikat.  Mereka bilang orang Islam itu jahat, buas, dan menyukai kekerasan sehingga menembak dan membubarkan acara menggambar itu. Saya mudah saja menjawabnya bahwa menggambar Nabi Muhammad saw itu penghinaan dan wajar jika ada orang yang mencintai Nabi, membela nabi yang dicintainya sekaligus menegakkan kehormatan Islam dan kaum muslimin. Mereka tidak mau terima penjelasan saya dan tetap berpendapat bahwa menggambar Nabi itu adalah bagian dari freedom of speech.  Kata saya itu bukan kebebasan berbicara, tetapi itu adalah kebebasan menghina. Mereka tetap bertahan bahwa orang Islam menjadikan Amerika Serikat menjadi tidak aman untuk bebas berekspresi.

Saya contohkan bagaimana jika ada orang yang menggambar ibu mereka sedang bertelanjang di kandang babi dan melakukan hubungan seks dengan babi-babi di sana.

Saya tahu bahwa mereka pasti marah jika itu terjadi, tetapi karena pengen selalu menang berdebat, mereka bilang dengan fake, “I don’t care!”

Mereka tetap ingin bebas menghina dan membiarkan Ibu mereka dihina orang lain. Padahal, kalau kejadian benar, mereka pasti emosi, tetapi karena ingin mengalahkan saya, mereka berpura-pura tidak marah jika ibunya digambar sambil ngeseks di kandang babi dengan babi buduk.

Bodoh kan mereka?

Mereka tetap menyalahkan orang Islam.

Saya bilang, “Don’t do something stupid if you do not want to wretch.”

’Jangan melakukan hal bodoh jika kamu tidak ingin celaka’.

Maksud saya jangan menyerang agama dan perasaan orang lain, jika tidak ingin dibalas lebih keji oleh orang yang merasa terhina.

Akan tetapi, mereka memang bandel dan bilang, “You wrong, wrong!”

Wrong apa? Nyai Wrong Gank?

Kacau mereka.

Saya mengatakan don’t do something stupid if you do not want to wretch  itu ke banyak orang. Artinya, dengan jumlah umat Islam yang semakin banyak dan selalu bertambah sekitar 68.000 orang per hari di seluruh dunia, para penghina Islam harus selalu berhati-hati karena memang bisa celaka. Apalagi Isis yang memiliki dana dan senjata yang sangat hebat dan bisa berada di mana-mana, para penghina Islam semakin terancam. Hal itu disebabkan memang Islam mengajarkan bahwa siapa pun yang menghina dan memusuhi Allah swt, Islam, dan Muhammad saw, hukumannya adalah mati. Bagi orang Islam yang ghirah-nya tinggi dan tidak mempercayai hukum negara mana pun serta memiliki kesiapan untuk syahid, pasti akan melakukan penghukuman dengan caranya sendiri.

Orang Indonesia jangan bodoh dan angkuh seperti mereka. Jangan bandel kalau dikasih tahu karena memang bisa celaka.

Bom Paris itu terjadi karena mereka melakukan something stupid, ‘hal yang bloon’.

Mau tidak bloon bagaimana?

Kata Salim Said, pengamat militer Indonesia dan dunia, Perancis itu sangat bersemangat memerangi Isis di Suriah.

Itu tindakan bodoh.

Ngapain coba mereka memerangi Isis?

Pengen jadi pahlawan?

Pengen minyak?

Pengen korupsi dana perang?

Pengen dapet bagian keuntungan pascaperang jika Isis kalah?

Emang yakin gitu Isis bakal kalah?

Perang sama Taliban aja ngos-ngosan. Malahan, dana untuk membunuh satu orang Taliban saja sangat besar, yaitu lima miliar per satu nyawa. Apalagi ngalahin Isis yang militansinya teramat menakutkan.

Alasan Isis melakukan aksi teror di Paris, Perancis adalah karena Perancis memerangi Isis di Suriah dan banyak orang di Perancis yang gemar melakukan penghinaan terhadap Nabi Muhammad saw. Penghinaan terhadap Nabi Muhammad saw yang dibiarkan itu adalah kebodohan Perancis sendiri.

Kan saya udah bilang, “Don’t do something stupid if you do not want to wretch.”

‘Jangan melakukan hal bodoh jika kamu tidak ingin celaka’.

Kan saya sekarang bisa ngakak sambil berkata, “See I’m right.”

Indonesia harus lihat Paris, Perancis. Kejadian itu harus menjadi contoh. Perancis begitu sibuk dan ketakutan setengah mati sehingga menutup seluruh perbatasan, menghentikan jadwal permainan sepakbola, orang-orang dianjurkan untuk tidak ke tempat-tempat keramaian, dan yang jelas orang-orang jadi merasa tidak aman karena mereka tidak tahu siapa orang-orang yang ada di sekitar mereka sebenarnya.

Indonesia juga jangan kecentilan ikut-ikutan memusuhi dengan penuh kebencian kepada kelompok-kelompok yang sebetulnya tidak pernah merugikan dan tidak memusuhi Indonesia. Kita jangan ikut-ikutan terseret ke dalam perang mereka. Kita  nggak perlu  genit menuduh orang lain teroris, padahal tidak meneror kita. Bahayanya adalah orang yang asalnya tidak memusuhi kita dan tidak pernah merugikan kita, jadi benar-benar marah kepada kita karena kita kayak Neli, ‘Nenek Lincah’ yang nggak diperhatikan, tetapi karena kegenitan, jadi juga pusat perhatian. Ruginya adalah mereka marah bukan karena menjadikan Indonesia sebagai sasaran teror, tetapi marah karena kita ikut-ikutan nimbrung nggak puguh. Ngaririweuh sorangan.

Kalau kejadian di Indonesia, kita semua yang rugi. Biaya yang harus dikeluarkan sangat tinggi dan keamanan benar-benar robek. Itu terjadi karena kita centil ikut-ikutan. Lain halnya kalau mereka bikin kekacauan di sini. Nah, itu memang harus diperangi dan masyarakat pasti cepat marah. Mereka bisa mati dibakar massa.

Memang Undang-undang tentang teroris kita juga rada aneh karena di sana disebutkan bahwa teroris itu adalah orang yang melakukan aksi teror “di dalam dan di luar negeri”. Kalau teroris itu adalah orang yang melakukan aksi teror di dalam negeri, itu bisa sangat dipahami dan disetujui semua orang. Akan tetapi, jika teroris itu juga adalah orang yang melakukan teror di luar negeri sehingga kita harus ikut sibuk, memang aneh. Akibatnya, kita akan dengan mudah menuduh siapa pun sebagai teroris jika negara lain menuduhnya duluan sebagai teroris, padahal belum tentu. Bisa jadi juga seseorang atau sekelompok orang bermasalah dengan pemerintahan di luar negeri, lalu melakukan aksi yang dituduhkan sebagai teror. Akan tetapi, ketika di Indonesia mereka adalah orang baik karena tidak punya masalah dengan pemerintah Indonesia, malahan mereka banyak berbuat kebaikan seperti membangun masjid, panti asuhan, bersedekah kepada tetangga, membuka lapangan kerja baru, dan memberikan sumbangan untuk kemajuan Indonesia.

Apakah orang seperti ini harus ditangkap juga karena orang lain mengatakannya teroris, tetapi bermanfaat banyak di tempat kita?


“Don’t do something stupid if you do not want to wretch!"

"Do you understand this?"