Showing posts with label Terorisme. Show all posts
Showing posts with label Terorisme. Show all posts

Saturday, 27 May 2023

Memerangi dan Melawan Terorisme Versi Mahasiswa Fisip Universitas Al Ghifari

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Ada dua hal yang sangat membanggakan saya dari mahasiswa Universitas Al Ghifari, Fakultasi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip), baik Program Studi (Prodi) Ilmu Hubungan Internasional (HI) maupun Ilmu Administrasi Negara (AN) dalam Praktikum Simulasi Sidang: “Al Ghifari Model Organization Islamic Cooperation (OIC) Summit di Hotel Savoy Homann, Bandung pada Sabtu, 27 Mei 2023. Praktikum sidang itu mengambil tema “Strengthening Organization of Islamic Cooperation to Combat and Counter Terrorism” yang kalau diterjemahkan bebas dalam bahasa Indonesia adalah “Memperkuat Kerja Sama Organisasi Islam untuk Memerangi dan Melawan Terorisme”. Kedua hal yang sangat membanggakan itu adalah pertama, semua peserta sidang yang terdiri atas mahasiswa HI dan AN, Fisip, Unfari pada semester VI sangat anti terhadap tindakan terorisme, tak ada seorang pun yang mendukung gerakan teroris. Itu sangat bagus dan membanggakan. Kedua, mereka yang sehari-harinya menggunakan bahasa Indonesia memaksakan diri untuk menggunakan bahasa Inggris meskipun kadang masih tercampur antara bahasa Indonesia dengan bahasa Inggris. Itu juga sudah menunjukkan keberanian dan kemajuan yang sangat bagus.

            Jika anti terhadap terorisme, mereka harus pula anti terhadap radikalisme. Jika anti terhadap radikalisme, mereka wajib anti terhadap intoleransi. Hal itu disebabkan intoleran adalah benih dari radikalisme. Jika sudah menjadi pohon radikalisme, buahnya adalah terorisme. Artinya, dalam sikap dan pandangan awal sehari-hari, untuk mencegah terorisme, kita harus toleran dengan berbagai perbedaan yang ada sepanjang tidak melanggar hukum yang disepakati untuk diberlakukan di Indonesia.



            Saya ini Ketua Program Studi Hubungan Internasional, Fisip, Unfari, tetapi tidak ikut mengarahkan mahasiswa untuk melakukan sidang dan berdebat dalam isu yang mereka bawakan dalam kegiatan tersebut. Saya malah hanya diminta mereka untuk menjadi juri, hanya menilai mereka, baik dari segi membuat tulisan, berbicara, berdebat, dan melakukan lobi. Saya juga tidak ingin menilai isi materi yang mereka kemukakan karena bisa terjadi banyak perbedaan pandangan antara mahasiswa dengan dosen. Saya hanya menilai apa yang mereka lakukan dalam simulasi tersebut.

            Ada hal menarik lain yang saya perhatikan dari perdebatan mereka. Dalam sidang tersebut, setelah terjadi perdebatan, mereka terpisah dan terbagi ke dalam dua kelompok pemikiran, ada dua koalisi besar dari 31 negara itu, yaitu Koalisi Indonesia dan Koalisi Arab. Dari dua koalisi besar tersebut, pandangan dan pendapatnya keras berbeda. Terjadi perdebatan yang lumayan seru. Dalam pandangan Koalisi Arab, untuk memerangi dan melawan terorisme, diperlukan upaya militer yang kuat. Artinya, teroris harus dilawan dengan kekuatan militer. Adapun Koalisi Indonesia berpandangan bahwa untuk memerangi dan melawan terorisme, harus melalui pendekatan kemanusiaan yang berupa mengubah ide atau gagasan terorisme dengan gagasan kemanusiaan serta melakukan banyak pembangunan untuk kesejahteraan rakyat. Dua koalisi besar itu saling berdebat dengan seru dan menggunakan pemahaman serta ilmu yang mereka dapat selama ini. Hal itu sangat menarik dan mencerdaskan.



            Saya tidak memutuskan mana yang paling benar dari kedua koalisi tersebut. Akan tetapi, saya mendapatkan pemahaman bahwa mahasiswa Fisip, Unfari, baik HI maupun AN sama-sama ingin memberantas terorisme. Saya memandang pendapat dua koalisi itu sama-sama benarnya, bahkan pendapat mereka harus dilaksanakan dengan baik oleh para penguasa negara dan berbagai organisasi Islam untuk memerangi dan melawan terorisme. Artinya, tindakan yang perlu dilakukan berdasarkan pendapat mahasiswa Fisip, Universitas Al Ghifari adalah adanya penyebarluasan ide atau gagasan toleransi yang membangun martabat kemanusiaan, pembangunan fisik dan manusia dalam segala bidang untuk kesejahteraan rakyat, serta penggunaan kekuatan militer yang kuat jika memang terorisme sudah menunjukkan ancaman yang sangat membahayakan bagi manusia dan eksistensi negara.



            Pendapat dua koalisi besar para mahasiswa itu akan menjadi dasar pemikiran yang baik untuk dikembangkan menjadi pemikiran besar lainnya dalam memerangi dan melawan terorisme. Baguslah, meskipun mereka masih statusnya pelajar, sudah bisa dan berani berpikir seoalah-olah para profesor. Semoga pada masa depan Allah swt memberikan kemudahan bagi mereka untuk mencapai cita-citanya. Aamiin.

            Sampurasun.

Sunday, 30 January 2022

Pecah Belah Bangsa

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Indonesia ini seksi, selalu menggiurkan banyak orang. Oleh sebab itu, berbagai bangsa rebutan untuk mendapatkan sumber daya alam Indonesia sekaligus sumber daya manusia Indonesia. Sumber daya alam jelas melimpah, sumber daya manusia jelas bersedia untuk diberi upah murah meskipun melakukan pekerjaan kasar yang berat-berat. Dengan demikian, banyak kekuatan asing dari luar Indonesia, baik berupa negara ataupun swasta/perusahaan/perorangan yang berupaya membuat Indonesia tidak maju atau tidak berdaya. Ketika bangsa Indonesia berusaha memperbaiki dirinya, selalu saja diganggu dan diupayakan untuk terpecah belah, baik melalui jalan kesukuan ataupun keagamaan. Kekuatan asing ini selalu menggunakan orang-orang bodoh, orang-orang yang kalah dalam politik, mereka yang tidak sabaran mendapatkan keuntungan ekonomi, pihak-pihak yang ingin berkuasa secara instan, dan para pengkhayal yang ingin mengubah sistem negara sesuai dengan lamunan mereka sendiri yang tidak jelas itu. Selalu begitu.

Hal yang tidak boleh dilupakan adalah tidak ada sebuah negara pun yang menginginkan Indonesia maju, kaya raya, dan berkuasa di dunia. Mereka yang ingin Indonesia maju adalah rakyatnya sendiri yang tentunya waras dan bersedia untuk belajar keras dan bekerja keras. Adapun rakyat yang tidak waras adalah mereka yang tertipu oleh kekuatan asing dan merasa dirinya yang paling benar.

            Kalau mau dipelajari atau diteliti lebih dalam, silakan saja. Sejarah sudah mencatat kok. Sejak Indonesia berdiri saja, kesatuan Indonesia diganggu sehingga pada 1949 bentuknya menjadi Republik Indonesia Serikat (RIS).

            Siapa yang membuat Indonesia menjadi RIS?

            Tentu saja Belanda yang tidak ingin Indonesia benar-benar merdeka seutuhnya. Dengan RIS mereka berharap masih bisa mengontrol Indonesia. Untungnya, rakyat Indonesia cerdas dan kembali berjuang untuk kembali ke negara kesatuan dengan cara membubarkan RIS. Dari peristiwa inilah dimulainya istilah “NKRI Harga Mati”. Kini RIS bubar, hanya bertahan satu tahun, dan kembali menjadi NKRI pada 1950.

            Pemberontakan-pemberontakan di daerah pada masa kepresidenan Ir. Soekarno pun ada kekuatan asing di situ. Salah satu buktinya adalah pesawat pembom AS yang dipiloti CIA Alan Pope ditembak jatuh oleh Mayor Udara Dewanto. Amerika Serikat jelas bermain di situ.

Demikian pula, huru-hara G-30-S PKI, ada Inggris dan Amerika Serikat bikin kisruh suasana. Setelah Soekarno jatuh, banyak modal kapitalis masuk dan menguasai berbagai sumber daya Indonesia, termasuk Freeport yang hanya menyisakan sedikit keuntungan untuk Indonesia, hanya 9%. Adapun pihak asing mendapatkan 91%. Baru pada era Jokowi ini Indonesia mengambi alih saham terbesar PT Freeport menjadi 51% dan pihak asing diwajibkan membuat smelter bahan setengah jadi di Indonesia untuk mendapatkan nilai tambah bagi Indonesia dan membuka lapangan kerja bagi rakyat.

Kasus Gerakan Aceh Merdeka (GAM) ada banyak senjata buatan AS yang digunakan pihak GAM. Itu asing. Demikian juga dalam kasus Ambon Poso yang diawali dengan keinginan membuat Republik Maluku Selatan (RMS), ada Belanda dan Amerika Serikat yang ikut bikin runyam. Timor Timur lepas dari Indonesia menjadi Timor Leste, ada Australia yang ngotot untuk pemisahan itu.

Hal yang sama pun terjadi di Papua yang masih bergejolak. Di sana ada banyak senjata dari AS dan ada gerakan-gerakan aneh yang muncul oleh orang-orang Inggris dan Australia. Dalam diplomasi luar negeri, ada negara konyol tidak beken bernama Vanuatu yang masih merongrong Indonesia.

Pendeknya, Indonesia selalu diganggu karena tidak boleh maju, tidak boleh berpendidikan, dan tidak boleh makmur. Indonesia harus selalu berada dalam kekuasaan mereka.

Saat ini mereka menggunakan agama untuk membuat kusut Indonesia. Mereka menggunakan orang-orang bodoh yang bisa bicara ngawur seolah-olah dakwah untuk dijadikan ulama agar dapat membodohi orang-orang bodoh juga. Oleh sebab itu, tidak perlu heran jika ada orang yang disebut ulama, tetapi perilakunya jauh dari perilaku Nabi Muhammad saw. Mereka selalu berbicara kepada orang-orang bodoh karena orang pintar selalu tahu kebohongan dan kebodohan mereka.

Kekuatan asing itu menggunakan isu-isu agama di Indonesia karena melihat keberhasilan mereka yang telah memporak-porandakan Libya, Irak, Afghanistan, dan Suriah. Mungkin juga Yaman karena Houthi terus-menerus memerangi pemerintahnya yang dibantu Arab Saudi. Di negara-negara itu isu agama telah membelah mereka dan membuat mereka semakin terbelakang. Ketika negaranya terbelah, kekuatan asing semakin kuat dan rusaklah negara itu.

Jika negaranya kuat seperti Iran atau Arab Saudi, kekuatan asing tidak bisa masuk karena rakyat dan negaranya solid dan kuat. Adapun negara lainnya rusak karena selalu berkhayal tentang kekhalifahan yang sudah runtuh itu sehingga terjadi pembunuhan di antara mereka sendiri.

Mereka berusaha mati-matian membuat Indonesia rusak melalui isu agama sehingga melahirkan intoleransi, radikalisme, dan terorisme. Hal itu terjadi karena mereka berhasil menipu sebagian orang-orang Indonesia. Mereka punya banyak uang, senjata, dan organisasi untuk melakukannya. Beruntunglah Allah swt selalu menjaga Indonesia sehingga tetap utuh hingga hari ini, bahkan semakin kuat dan semakin mampu mengatur negara lain karena kita memiliki banyak sumber daya yang diperlukan orang lain. Hasilnya, insyaallah dalam beberapa tahun lagi, apalagi 2045 akan lebih terasa karena ada bonus demografi dengan syarat kita sama-sama bergotong royong untuk mencapainya. Kalau kitanya selalu tertipu dan bertengkar di antara kita sendiri, kita tetap sengsara dan orang asing yang untung.

Cek perasaan kalian. Kalau di dalam diri kalian ada istilah atau keyakinan “ulama kami, ulama kalian; ulamaku, ulamamu; kaum sini, kaum sana; aku masuk surga, kamu masuk neraka; kalian adalah musuhku”, berarti kalian sudah tertipu. Kalian sibuk memikirkan saudara kalian sendiri untuk jatuh, bukannya bekerja bersama sebagai saudara untuk mencapai kemajuan bersama. Kalian sudah jauh tersesat dan itu diperhatikan oleh pihak-pihak asing yang ingin segera menerkam Indonesia dan menikmati kelezatan Indonesia. Mereka punya banyak uang, banyak teknologi, banyak senjata, mudah sekali menguasai Indonesia yang masih miskin, bodoh, dan kurang senjata.

Kuncinya ada di kebersamaan. Semua orang Indonesia matanya harus mengarah ke satu tujuan yang sama, tujuan nasional Indonesia. Tujuan Indonesia itu hanya satu kalimat kok, yaitu “Mewujudkan Manusia Indonesia Seutuhnya yang Makmur Lahir dan Makmur Batin Berdasarkan Pancasila”.

Pengen maju?

Bareng dalam kebersamaan dan tolak perpecahan walaupun itu menggunakan isu-isu murahan yang katanya ajaran agama, padahal ngarang sendiri tidak jelas sumbernya.

Hayu ah.

Sampurasun

Saturday, 1 January 2022

Makin Diserang, NU Makin Kuat

 


oleh Tom Finaldin

Bandung, Putera Sang Surya

Nahdlatul Ulama (NU) mendapatkan serangan yang begitu sering dan begitu besar. Akan tetapi, semua serangannya sama sekali tidak masuk akal dan lemah. Nilainya hanya sama dengan berisik di telinga. Serangannya hanya dipercaya  oleh orang-orang bodoh yang memang sudah memiliki kebencian sejak lama. Saking banyaknya serangan, kebanyakan kalau saya tulis semuanya. Akan tetapi, paling tidak yang mencuat akhir-akhir ini bisa diingat banyak orang. Disebutnya NU seperti bis yang diisi oleh orang-orang mabok; diotak-atik sejarahnya antara Hasyim Asyari dan Hasan Dipo; Terpilihnya Gus Yahya sebagai Ketua Umum PBNU 2021-2026 yang dituding akan menjadi sumber kegaduhan Indonesia.

            Serangan akhir-akhir ini yang semakin keras tidak lepas dari urusan politik Negara Indonesia. NU telah dan sedang menjadi benteng penguat NKRI yang sangat besar peranannya dalam mempertahankan keutuhan NKRI. Banyak yang menyerang pemerintah dengan memanipulasi agama; jualan sorga dan neraka; tuduhan kafir, murtad, zalim, munafik; pengkultusan terhadap individu; pemecahbelahan umat. Akan tetapi, itu semua mendapatkan batu sandungan yang sangat besar dan kuat, batu penghalangnya itu adalah NU. Mereka yang menyerang pemerintah itu sangat tahu bahwa upaya mereka akan selalu sia-sia karena ada NU yang berdiri untuk mempertahankan negara. Oleh sebab itu, mereka menyerang NU dengan harapan NU terpecah dan lemah dengan berbagai narasi dan informasi yang menyesatkan tak berdalil.

            Meskipun banyak mendapatkan serangan, tampaknya NU menjadi semakin kuat. Itu bagus. Hal ini malah semakin terlihat dengan dikukuhkannya Dr. Muhammad Luthfi bin Yahya atau yang lebih akrab disapa Habib Luthfi menjadi Ketua Kelompok Ahli Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). Hal ini tidak lepas dari keinginan Ketua BNPT Boy Rafli Amar bahwa tokoh agama seperti Habib Luthfi dapat meredam ideologi terorisme yang bisa dimunculkan melalui paham-paham keagamaan yang sempit yang berujung pada tindakan kekerasan. Di samping itu, semua orang tahu bahwa warga NU sangat menghormati dan berguru kepada Habib Luthfi. Artinya, secara politik NU akan menjadi peredam pula dari segala aktivitas yang mengarah pada tindakan radikalisme dan terorisme dalam menjaga integrasi bangsa.

            Dengan melihat hal ini NU menjadi semakin kuat karena mendapatkan kepercayaan yang sangat besar, tetapi menjadi bertambah besar pula tugas dan kewajiban NU dalam menstabilkan kehidupan bernegara. Akan menjadi hal yang tidak aneh jika semakin keras pula serangan-serangan yang akan didapatkan NU dari pihak-pihak lain. Itu adalah risiko yang harus ditanggung NU. Akan tetapi, negara akan berada membekingi NU karena NU pun sudah menjadi beking negara.

            Ini adalah perjalanan hidup. Mau tidak mau harus dijalani.

            Bukankah salah satu bukti iman itu harus diwujudkan dalam  kecintaan kepada negara?

            Sampurasun.

Monday, 15 November 2021

Kotak Amal Merusakkan Kotak Amal

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Densus 88 antiteror telah menyita 400 hingga 1.000 kotak amal yang beredar di mini-mini market, toko-toko, apotik, dan berbagai tempat lainnya karena ternyata kotak-kotak amal itu telah digunakan untuk membiayai gerakan terorisme di Indonesia. Para pengurus kotak amal itu sebagian telah ditangkap. Dari 400 s.d. 1.000 kotak amal itu ternyata dapat menghasilkan 70 hingga 100 juta rupiah per bulan. Celakanya, kotak amal para teroris itu diperkirakan berjumlah 20.000 yang tersebar di seluruh Indonesia. Artinya, pendanaan terorisme sangat luar biasa membahayakan di Indonesia. Mereka tertawa dan menari di atas kerusakan, derita, dan darah manusia.

            Para teroris itu menggunakan kebaikan dan kedermawanan rakyat Indonesia yang mudah menolong dan bersedekah. Memang Indonesia itu pada 2018 dan 2021 adalah negara paling dermawan, No. 1, sedunia. Hal itu disampaikan oleh “Charities Aid Foundation (CAF)” dengan menggunakan standar “World Giving Index (WGI)”.  Amerika Serikat saja berada   pada peringkat ke-19, Inggris ke-26, dan Singapura ke-22. Luar biasanya, pada 2021 Indonesia mengalami peningkatan hebat dalam hal berzakat dan bersedekah. Hal itu terjadi karena didorong oleh Pandemi Covid-19. Orang-orang baik tergerak hatinya untuk membantu sesama. Berbeda dengan orang-orang yang busuk hatinya, bukannya membantu, melainkan terus bikin fitnah, kebohongan, caci maki, dan membodohi rakyat, teriak-teriak nggak karuan.

            Lebih parah lagi, mereka yang kotor hati dan perilakunya justru memanfaatkan kebaikan hati orang-orang shaleh dengan cara menebarkan puluhan ribu kotak amal dan menyalahgunakan uang orang-orang baik itu untuk kegiatan terorisme. Mereka menuliskan di kotak amalnya berupa penipuan, seperti, membangun masjid, menolong anak-anak yatim piatu, membantu fakir miskin, dan penipuan lainnya.

            Kotak amal-kotak amal para teoris ini membuat kotak-kotak amal lain yang benar-benar tulus niatnya untuk mengajak ibadat dengan berbuat baik menjadi ikut tercoreng dan kemungkinan akan membuat para penyumbang menjadi enggan menyumbang dan bersedekah lagi melalui kotak amal. Inilah kerusakan yang ditimbulkan para teroris itu, kotak amal yang tulus menjadi terkotori oleh kotak amal teroris. Hal ini disebabkan semakin banyak orang yang mengingatkan untuk tidak lagi bersedekah melalui kotak amal. Saya juga menyarankan seperti itu. Saya sarankan kalau ingin bersedekah atau menyumbang, sebaiknya disalurkan melalui orang-orang atau lembaga yang sudah sangat dikenal dengan baik, paham dengan niatnya, tahu pula uang kita digunakan untuk apa. Jangan menyumbang melalui kotak amal atau lembaga atau orang yang tidak kita kenal. Berbahaya. Bisa juga kita menyalurkan uang secara langsung kepada orang yang memang benar-benar sangat membutuhkan. Lebih baik menyumbang dan bersedekah kepada orang-orang yang kita kenal daripada ke kotak amal yang kita sendiri tidak tahu siapa pengelolanya dan untuk apa sebenarnya uang yang terkumpul itu.

            Semoga Densus 88 berhasil memberantas terorisme, tetaplah menjadi dermawan, jangan berhenti bersedekah, kukuhkan Indonesia agar tetap menjadi negara No. 1 paling dermawan sedunia hingga kiamat tiba. Semoga Allah swt membalas segala kebaikan dan kedermawanan kita dengan  berlipat-lipat ganda. Aamiin.

            Sampurasun.

Saturday, 28 August 2021

Syarat Mudah dari Indonesia yang Berat buat Taliban

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Kalau Taliban ingin berhubungan dengan Negara Indonesia, mudah saja dalam pandangan orang Indonesia. Akan tetapi, akan dirasakan sangat berat buat Taliban yang punya tradisi keras, pemikiran tunggal, dan telah hidup lama dalam penyingkiran selama Afghanistan dikuasai pemerintahan yang didukung Amerika Serikat (AS).

            Dalam pertemuan dengan Taliban di Doha, Qatar, Menteri Luar Negeri Indonesia Retno Marsudi menegaskan bahwa Indonesia meminta Taliban untuk melakukan tiga hal. Pertama, membentuk pemerintahan yang terbuka, inklusif; kedua, menghormati dan menjaga hak-hak perempuan; ketiga, memastikan agar Afghanistan tidak menjadi tanah tempat berkembang biaknya kegiatan dan aktivitas terorisme.

            Pemerintahan yang terbuka, inklusif, artinya penyelenggaraan pemerintahan yang bisa diawasi, diuji, dikritik, dan bertanggung jawab kepada rakyat. Jika pemerintahan tidak bisa diawasi oleh rakyat dan tidak bertanggung jawab kepada rakyat, misalnya, mengklaim diri hanya bertanggung jawab kepada Tuhan, itu artinya pemerintahan yang tertutup. Semua orang sulit menilai pertanggungjawaban kepada Tuhan dan tidak bisa memastikan dengan benar bagaimana penilaian Tuhan terhadap sebuah proses pemerintahan. Manusia hanya bisa menilai apa yang dilihat dan dirasakan manusia.

            Perempuan adalah manusia juga yang memiliki hak untuk hidup, berkembang, dan menentukan mana yang baik dan benar untuk dirinya sendiri. Perempuan tidak boleh dipandang sebagai manusia rendahan yang hidupnya selalu di bawah kekuasaan kaum pria.

            Terorisme adalah kegiatan yang merupakan ancaman menakutkan bagi perdamaian dan keharmonisan hidup manusia. Tak ada keamanan dan kenyamanan, baik secara lahir maupun batin jika hidup diganggu oleh tindakan-tindakan terorisme.

            Ketiga syarat itu mudah bagi orang Indonesia karena memang sudah kesehariannya melakukan hal seperti itu. Akan tetapi, akan dirasakan berat oleh Taliban yang berpikran tunggal dan menganggap kelompoknya yang paling benar. Mereka akan kesulitan jika harus diawasi oleh rakyat dalam menjalankan pemerintahan. Mereka lebih suka membunuh para aktivis, akademisi, dan para pengkritik. Taliban akan kesulitan jika harus mengangkat derajat perempuan sama dengan kaum pria karena kebiasaan mereka yang kerap merendahkan dan membatasi kehidupan perempuan. Taliban pun harus bersusah payah untuk membersihkan Afghanistan dari kelompok-kelompok teroris. Buktinya, baru beberapa hari saja mereka berkuasa, sudah ada serangan teror yang diduga menimbulkan korban lebih dari seratus jiwa, termasuk tentara AS di bandar udara internasional Afghanistan. Serangan teror itu dilakukan kelompok “Isis-K (Isis Khorasan)”. Khorasan itu nama wilayah yang mencakup Pakistan, Iran, Afghanistan, dan Asia Tengah.

            Indonesia memang sudah sebaiknya tetap waspada dan berhati-hati terhadap Taliban. Selama Taliban tidak dapat memenuhi permintaan Menlu RI Retno Marsudi, tidak perlu percaya penuh kepada mereka. Langkah pemerintah Indonesia sudah tepat memindahkan operasional Kedutaan Besar Indonesia dari Kabul, Afghanistan ke Islamabad, Pakistan. Hal itu disebabkan sudah menjadi kewajiban pemerintah Indonesia untuk melindungi rakyat dan petugasnya yang berada di Afghanistan yang kini dalam situasi tidak menentu.

            Sampurasun.

 

Sumber:

 

https://www.republika.co.id/berita/qyh1ve382/menlu-retno-bertemu-perwakilan-taliban-di-qatar

 

https://www.tribunnews.com/internasional/2021/08/26/apa-itu-isis-k-kelompok-militan-yang-ancam-keselamatan-warga-afghanistan-di-bandara-kabul?page=2

Friday, 30 October 2020

Blunder Politik Macron

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Emmanuel Macron adalah Presiden Perancis, sudah pasti dia adalah politisi. Sebagai politisi, dia harus menghadapi Pemilu yang akan datang serta ingin dirinya dan partainya menang. Hal itu lumrah terjadi pada diri seorang politisi.

            Kita tidak tahu apakah pidato Macron yang mengaitkan terorisme, radikalisme, dan Islam itu adalah dalam rangka pembenahan keamanan di Perancis atau memang sedang mengangkat isu yang dianggapnya seksi untuk mendorongnya kembali dalam kepemimpinan di Perancis. Pemenggalan kepala seorang guru sejarah di Perancis oleh seorang pemuda muslim dianggapnya sebagai perlawanan terhadap demokrasi dan kebebasan berekspresi. Isi pidatonya jelas sekali mengatakan hal tersebut. Dia pun menjelaskan bahwa rakyat Perancis memiliki hak untuk menistakan (agama). Itulah yang membuat banyak orang marah, terutama muslim. Padahal, pembiaran terhadap penistaan (agama) ini telah mengakibatkan saling bunuh di Perancis.

            Sekitar seminggu yang lalu dua wanita berjilbab ditusuk di bawah Menara Eifel sambil dimaki-maki, “Orang Arab Kotor! Tempat kalian bukan di sini!”

            Beruntung kedua wanita itu tidak tewas. Mereka dilarikan polisi ke rumah sakit.

            Kemudian, guru sejarah dipenggal kepalanya gara-gara mempertontonkan karikatur Muhammad saw. Pelakunya ditangkap polisi. Hal itu berlanjut dengan penusukan dan penggorokan leher di gereja di Nice, Perancis.

            Kalaulah hal-hal itu diangkat sebagai isu untuk mendongkrak popularitas dirinya menjelang Pemilu di Perancis dengan mendiskreditkan Islam sebagai “agama yang sedang mengalami krisis”, sungguh itu merupakan langkah politik blunder. Sebetulnya, dari isi pidatonya awalnya bagus bahwa dia memusuhi gerakan terorisme dan radikal Islam yang mengganggu ketenangan warga. Semua negara pun sedang memusuhi itu. Akan tetapi, ketika hal itu dikaitkan dengan ajaran Islam, itu adalah sebuah kesalahan fatal. Apalagi penghinaan kepada Nabi saw itu dianggap kebebasan berekspresi dan perlu dilindungi sebagai cara hidup warga Perancis.

            Warga dunia dan warga Perancis sebetulnya sudah tidak mempedulikan perbedaan agama itu, mayoritas semua ingin hidup damai dan kerja sama yang saling menguntungkan, kecuali segelintir orang yang hidupnya memang dari provokasi dan menebar konflik. Hal itu bisa dilihat di konten-konten youtube yang dibuat para pemuda Amerika Serikat (AS) dan di Perancis sendiri. Seorang pemuda Amerika Serikat keturunan Arab bikin banyak video tentang pandangan kehidupan beragama di AS. Semua yang dia wawancarai menghendaki adanya perdamaian, saling menghormati, menghilangkan permusuhan karena perbedaan agama, adanya kerja sama yang baik, bisnis yang lancar tanpa harus dihalangi perbedaan agama. Di Perancis sendiri saya lihat banyak pemuda yang membuat video “prank” dengan cara mem-bully perempuan muslim berjilbab di taman, di jalan, di kampus, dan di keramaian lainnya. Ketika perempuan berjilbab itu di-bully dan dihina agamanya yang Islam itu, banyak sekali pemuda nonmuslim yang membelanya, bahkan hampir berkelahi dengan para pem-bully itu. Ketika diberi tahu bahwa tindakan itu hanya “prank” dan bermaksud untuk mengetahui sejauh mana sikap nonmuslim terhadap muslim yang sedang teraniaya, mereka semua tertawa-tawa. Hal itu menunjukkan bahwa perbedaan agama sudah tidak lagi menjadi kendala untuk hidup bersama dan para pemuda itu tidak saling melakukan penghinaan dan permusuhan atas dasar perbedaan keyakinan. Jumlah generasi muda yang sudah sangat toleran ini semakin banyak dan kita bisa mencobanya sendiri berhubungan dengan orang-orang asing dalam kerja sama tertentu, misalnya, budaya atau teknologi. Perbedaan agama itu tidak menjadi masalah yang berarti.

            Dengan melihat perkembangan toleransi yang makin menguat di dunia, kecuali beberapa gelintir para provokator, isu yang digunakan Macron dengan mengaitkan Islam dan radikalisme untuk mendapatkan keuntungan politik adalah blunder. Orang sudah semakin paham bahwa terorisme dan Islam adalah dua hal yang berbeda, sama sekali tidak ada kaitannya. Meskipun jumlah umat Islam di Perancis bisa dikatakan minoritas, mayoritas warga Perancis sudah tidak mau lagi percaya dengan isu-isu menyesatkan tentang Islam dan terorisme, terutama kaum mudanya. Mereka toh sudah menjalani hidup bersama dan mayoritas baik-baik saja, kecuali sedikit orang-orang bebal. Isu yang diangkat Macron bukannya akan meningkatkan popularitasnya, melainkan sebaliknya, berpotensi menurunkan elektabilitasnya. Hal itu diperparah dengan adanya kasus-kasus kekerasan dan kematian atas dasar keagamaan serta adanya seruan untuk memboikot produk-produk Perancis. Jika upaya boikot ini berhasil dan konsisten dilakukan dunia, terutama negeri-negeri berpenduduk mayoritas muslim, ekonomi Perancis akan terganggu, para pengusaha akan menderita kerugian. Hal itu akan mendorong turunnya popularitas Macron di Perancis. Hal-hal ini pun akan digunakan sebagai amunisi bagi saingan Macron dan partainya untuk menghantam pemerintah sehingga Macron dan para pendukungnya jatuh dari kursi pemerintahan.

            Begitu kira-kira analisis saya. Kalau mau berkomentar, berkomentarlah yang baik dan nyambung dengan isi artikel. Komentar yang buruk dan tidak nyambung akan saya hapus.

            Sampurasun.

Tuesday, 29 October 2019

Rakyat Harus Menjadi Penyeimbang


oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Pemerintahan Indonesia yang sekarang dipimpin Jokowi-Maruf Amin (2019-2024) sangat kuat, bahkan terlalu kuat. Ini sangat mengkhawatirkan. Pemerintahan yang terlalu kuat dengan oposisi yang terlalu lemah akan membuat pemerintah terlalu nyaman dalam menggunakan kekuasaannya. Hal ini dikhawatirkan akan mudah tergelincir ke dalam kesalahan karena lemahnya pengawasan.

            Bergabungnya Prabowo menjadi Menteri Pertahanan RI membuat pemerintahan Jokowi menjadi super kuat. Kekuatan kritik menjadi sangat lemah. Hal itu disebabkan Prabowo menjadi bagian dari Jokowi.

            Pada satu sisi ini bisa dipahami karena pemerintah dan masyarakat merasa terganggu dengan adanya kelompok-kelompok masyarakat yang dianggap radikal, intoleran, dan berujung pada tindakan terorisme. Penyesatan-penyesatan pikiran dengan menggunakan agama dipandang mengganggu eksistensi nilai-nilai, norma-norma, dan wawasan kebangsaan yang selama ini dibangun dan diperkokoh. Bergabungnya Prabowo menjadi bagian Jokowi membuat kekuatan kelompok-kelompok yang dianggap pengganggu ini menjadi lemah dan mereka yang pro-kebangsaan menjadi sangat kuat. Pilar-pilar bangsa menjadi teramat kuat karena pendukungnya menjadi bertambah kuat. Prabowo tidak lagi bisa dibebani menjadi kendaraan bagi kelompok-kelompok yang dianggap mengganggu sistem kebangsaan Indonesia.

            Di sisi lain besarnya kekuatan ini dikhawatirkan melemahkan upaya perbaikan dan menganggap semuanya selalu baik-baik saja. Padahal, yang namanya manusia, siapa pun dia, tidak bisa terlepas dari kekurangan, kelemahan, dan kesalahan. Pada bagian inilah diperlukan upaya penyeimbangan dari kelompok lain di luar pemerintahan. Karena lemahnya kekuatan penyeimbang di dalam parlemen, masyarakat harus ambil bagian aktif memberikan banyak kritikan dan masukan untuk menambal dan mengingatkan perbaikan terhadap bolong-bolong ataupun berbagai kelemahan yang ada dalam proses penyelenggaraan negara.

            Masyarakat harus belajar membuat kritikan yang tujuannya membantu dan mendorong pemerintahan agar lebih baik lagi. Kritikan itu bisa lembut, tegas, bahkan keras. Akan tetapi, semuanya harus berisi kritikan konstruktif, bukan hoax, nyinyiran, ataupun pembunuhan karakter yang dimaksudkan untuk menghancurkan pemerintahan, apalagi merusakkan eksistensi bangsa dan negara.

            Masyarakat wajib membedakan antara kritik dengan dusta atau ujaran kebencian. Kritikan itu harus berdasarkan data dan fakta yang jelas. Kalau bisa, sertakan pula solusi-solusinya. Kalaupun tidak bisa memberikan solusi, tetap saja kritikan dan protes itu harus mencerdaskan, konstruktif, dan bernilai informasi yang ilmiah. Berbeda dengan ujaran kebencian atau hoax yang dasarnya adalah emosi dan penyesatan pikiran.

            Apabila masyarakat banyak membuat hoax, ujaran kebencian, provokasi murahan yang bertujuan menciptakan konflik, pemerintah akan banyak memiliki alasan untuk melakukan tindakan represif dengan tindakan memaksa yang sangat keras. Hal tersebut sangat tidak produktif dan hanya menyedot energi dengan sia-sia, tak ada hasilnya, kecuali kesemrawutan. Masyarakat harus rajin membuat kritikan dengan fakta-fakta akurat sehingga tidak terjerat hukum, tidak dianggap mengganggu, bahkan akan menjadi penyambung lidah rakyat dalam menyuarakan keluh kesah masyarakat terhadap pemerintah. Dengan demikian, pemerintah mendapatkan dorongan dan kesadaran untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas dirinya dalam menyelenggarakan negara.

            Sampurasun.

Sunday, 10 April 2016

Salah Sejarah, Salah Langkah, Salah Arah

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya

Kaburnya sejarah dan gelapnya riwayat kita mengakibatkan kita salah langkah dan salah arah. Akibatnya, kita tidak pernah selalu benar menyelesaikan berbagai permasalahan di negeri ini. Kalau kata Ir. Soekarno, Pemimpin Besar Revolusi Indonesia, kita berpikiran selalu lemah, merasa diri kecil, memandang diri paling terbelakang adalah buntutnya tekanan selama berabad-abad. Tekanan itu berasal dari penjajahan yang benar-benar merusakkan tatanan kehidupan, budaya, ekonomi, sosial, politik, dan sejarah bangsa.

            Kita terlalu sering melihat dengan terpesona kehidupan orang-orang barat dengan segala kehidupannya. Hal itu mengakibatkan kita mulai percaya bahwa kita harus mencontoh mereka dalam menyelesaikan permasalahan kita. Hasilnya, kita menjadi hidup sama semrawutnya dengan mereka, sama gundahnya, sama kacaunya, dan sama-sama kehilangan pegangan. Hal tersebut diakibatkan kita lupa atau memang dilupakan terhadap kebesaran diri sendiri yang penuh keagungan dan kemuliaan. Sejarah hidup kita menjadi kacau-balau atau sengaja dikacau-balaukan.

            Dalam mengatasi korupsi, misalnya, banyak orang yang dengan bangga terhadap penanganan yang dilakukan orang-orang barat, padahal korupsi itu sendiri berasal dari barat. Selesai dari membangga-banggakan barat, diteruskan dengan membangga-banggakan Negara Cina dengan mengulang-ulang pernyataan para pemimpinnya yang dikampanyekan tegas telah menyiapkan peti mati bagi dirinya sendiri jika terlibat korupsi. Akan tetapi, kenyataan menunjukkan sebaliknya. Ketika terjadi kebocoran data dari Panama Papers, Cina yang dibangga-banggakan orang itu malah menutup akses ke situs Panama Papers. Bahkan, memblokir berita-berita dari Amerika Serikat.

            Kenapa mereka menutup akses ke situs-situs itu?

            Hal itu menunjukkan bahwa mereka ingin menutupi kebusukan mereka. Mereka takut banyak ketahuan perilaku curangnya.

            Kalau tidak merasa bersalah, mengapa harus ditutup?

            Seharusnya, biasa saja. Kalau data itu salah dan tidak benar, sebaiknya tertawakan saja, jangan kebakaran jenggot lalu menutup akses.

            Mengapa sih kita selalu membangga-banggakan orang lain?

            Mengapa sih kita tidak berusaha keras mempelajari sejarah kebaikan diri kita sendiri dan membuatnya sebagai dasar untuk memperbaiki diri setelah banyak kerusakan yang ditimbulkan akibat penjajahan?

            Kita dirusakkan oleh penjajahan, tetapi memperbaiki diri dengan berkaca pada negeri-negeri penjajah. Aneh.

            Seharusnya, untuk mengatasi korupsi, kita belajar dari leluhur kita sendiri yang bersih dari korupsi. Jangan percaya bahwa leluhur kita juga korup karena tidak ada data, fakta, dan bukti bahwa leluhur kita korup. Mau dipaksa-paksain juga data dan fakta itu sampai hari ini tidak pernah ada yang meyakinkan, semuanya cuma dugaan yang diakibatkan mental-mental terjajah yang menganggap diri kita selalu salah dan terbelakang. Kan sudah saya bilangin bahwa korupsi itu timbul setelah terjadi interaksi negatif dengan bangsa penjajah.

            Belajar dan gali dari kearifan lokal bangsa sendiri. Itu lebih baik. Kalau masih becermin pada orang lain, kita tidak akan pernah selesai karena bangsa lain yang kita tiru pun memiliki masalah yang lebih berat dibandingkan kita. Kita menjadi salah langkah dan salah arah.

            Dalam banyak hal sebenarnya kita sudah tampak lebih baik dibandingkan negara lain dalam memecahkan masalah. Akan tetapi, aneh sekali kita tidak pernah melakukan pujian atau respek terhadap diri sendiri, kita masih berpenyakit dengan menganggap bahwa orang lain selalu lebih bagus. Aneh sekali.

            Kita ambil contoh mengenai persoalan lesbian, gay, biseks, dan transgender (LGBT) serta terorisme.  Mari kita bandingkan antara pandangan kita dengan pandangan orang lain. Di Barat LGBT itu diterima dengan baik, bahkan disahkan dalam undang-undang mereka atas dasar Ham. Di Timur Tengah LGBT dianggap mirip kejahatan serius, bahkan Isis menghukum mereka dengan cara yang sangat sadis. Di Indonesia LGBT dianggap penyakit yang harus disembuhkan sehingga harus direhabilitasi agar dapat hidup secara normal, lalu penyebarannya dicegah agar tidak menular.

            Pandangan mana yang lebih baik antara Barat, Timur Tengah, dan Indonesia?

            Soal terorisme. Di Barat terorisme adalah kejahatan yang harus dihancurkan dan dipropagandakan sebagai perwujudan dari ajaran Islam yang harus disingkirkan dan dibasmi. Di Timur Tengah terorisme adalah pemberontakan yang menjadi lawan pemerintah yang sah sehingga dianggap sebuah gerakan besar yang akan menghancurkan kemapanan. Di Indonesia terorisme dianggap sebagai penyimpangan dari keyakinan yang benar sehingga harus disadarkan agar kembali pada masyarakat secara normal dan hidup dengan lebih baik. Di samping itu, pemerintah pun berupaya memperbaikinya dengan peningkatan kesejahteraan agar tidak melakukan lagi aktivitas-aktivitas menyimpang. Oleh sebab itu, di Indonesia dikenal istilah “kembali pada pangkuan Ibu Pertiwi”. Maksudnya, mereka yang telah salah arah kembali pada arah yang benar dalam kebersamaan dengan rakyat Indonesia lainnya.

            Pandangan mana yang lebih baik antara Barat, Timur Tengah, dan Indonesia?

            Sadari bahwa pandangan kita itu berasal dari nilai-nilai yang telah dilekatkan Allah swt sejak lama, sejak nenek moyang kita, dan itu adalah kebaikan, keluhuran, kemuliaan, serta anugerah yang sangat besar.

            Berhenti mengagungkan bangsa lain. Belajar dari diri sendiri agar tak salah langkah dan tak salah arah. Gali kemuliaan kebenaran sejarah kita sendiri, berangkatlah dari sana untuk menyelesaikan berbagai permasalahan yang ada.

            Insyaallah, Allah swt akan memberikan petunjuk yang benar jika kita berupaya melangkah dengan benar sesuai dengan nilai-nilai yang telah dianugerahkan-Nya kepada kita.

Thursday, 21 January 2016

Jangan Lebay Menghadapi Terorisme

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya

Sejak kejadian Bom Thamrin, Jakarta Pusat, 14 Januari 2016, banyak suara dan pihak yang memberikan pandangan dan masukan untuk melakukan pencegahan dan penanganan terorisme di Indonesia. Baik, pemerintah, legislatif, maupun masyarakat memberikan banyak komentar untuk langkah-langkah selanjutnya. Akan tetapi, komentar, pendapat, pandangan itu sudah mengarah ke lebay, ‘berlebihan’.

            Saya sangat berharap pemerintah dan petinggi negeri lainnya di Indonesia ini tidak berlebihan yang akan mengacaukan ajaran Islam dalam menangani terorisme ini. Saya melihat sekarang segala hal yang mengarah pada “kekerasan’ dianggap sebagai sesuatu yang berbahaya. Padahal, tidak selalu.

            Islam itu mengajarkan ‘kekerasan” itu jelas dan jangan direduksi atau dikacaukan oleh pandangan-pandangan kontemporer yang berlebihan tanpa pengetahuan. Kekerasan memang diajarkan dalam Islam untuk hal-hal positif. Kekerasan itu bukan harus dihilangkan, melainkan harus diarahkan pada hal-hal yang positif. Paling tidak, saya melihat bahwa Islam mengajarkan kekerasan itu untuk membela diri, menegakkan keadilan, serta menegakkan hak dan kehormatan. Islam tidak mengajarkan kekerasan untuk tujuan di luar ketiga hal itu.

            Jangan sampai telinga kita dipengaruhi oleh orang-orang lebay yang menginginkan ajaran Islam “direduksi”.

            Bahaya sekali jika ada buku atau guru atau ustadz atau dosen yang mengajarkan jihad dianggap sebagai suatu kekerasan. Padahal, Indonesia bisa merdeka pun pada intinya sangat didorong oleh kekerasan yang diajarkan Islam. Para kiyai menyuarakan semangat untuk melawan, bahkan membunuh para penjajah yang telah melakukan banyak keburukan di Indonesia.

            Bukankah itu kekerasan?

            Ya, itu adalah kekerasan, tetapi diarahkan pada hal yang positif.

            Jihad itu “wajib” diajarkan, baik itu dalam arti sempit maupun arti luas. Jihad itu adalah point ketiga yang harus dicintai oleh umat Islam setelah Allah swt dan Rasululullah saw. Bahkan, rasa cinta pada jihad ini harus lebih besar dibandingkan rasa cinta kita kepada orangtua. Urutan rasa cinta orang Islam itu adalah Allah swt, Muhammad saw, dan jihad. Setelah urutan itu, ada rasa cinta kepada orangtua, masyarakat, pekerjaan, dan lain sebagainya.

            Saran dari Menkumham RI yang saya baca dari news sticker salah satu stasiun televisi swasta pun saya pandang sebagai “berlebihan”. Ia mengatakan seolah-olah bahwa orang Indonesia harus dilarang berperang di luar negeri.

            Apa itu?

            Itu bisa mereduksi dan mengacaukan ajaran Islam.

            Saya ingatkan bahwa umat Islam itu bersaudara di mana saja negaranya. Jika saudaranya disakiti, sudah kewajiban sesama muslim untuk memberikan pertolongan. Kita tahu di Bosnia pernah terjadi pembunuhan massal terhadap kaum muslim. Kita tahu bahwa tanah milik rakyat Palestina dirampas oleh Israel. Masih banyak contoh lainnya.

            Apakah untuk membela manusia dan kemanusiaan, terutama sesama muslim yang dianiaya merupakan sebuah pelanggaran?

            Banyak yang pergi ke Bosnia dan pulang baik-baik saja sebagai orang baik. Untuk Palestina, kebetulan saja orang-orang Palestina tidak membutuhkan bantuan manusia untuk berperang.

            Mereka bilang, “Jangan kirim orang, kami punya banyak.”

            Hal yang sangat mereka butuhkan adalah obat-obatan dan makanan.

Kita memang mengirimnya kan?

            Saya khawatir jika ada aturan yang mereduksi ajaran Islam, malahan akan membuat aksi-aksi terorisme menjadi-jadi di Indonesia. Ingat ketika terjadi kerusuhan di Ambon, Poso. Orang-orang dari Pulau Jawa banyak yang berangkat ke sana. Ketika ada aparat atau bagian dari pemerintah melarang mereka dan menghalangi mereka, kemarahan pun terjadi.

            Mereka bilang, “Kita mulai jihad di sini!”

            Artinya, mereka akan memulai jihad di kota-kota Pulau Jawa. Ancaman Ini benar-benar ada dan banyak media yang memberitakannya. Saya juga baca dari media.

            Jika kaum muslim Indonesia dilarang oleh aturan untuk membela saudaranya di seluruh dunia ini, Indonesia benar-benar akan menjadi medan jihad. Hal itu disebabkan pemerintah mengekang hak untuk melaksanakan ajaran Islam. Dengan demikian, jihad akan dimulai di Indonesia oleh kaum muslim Indonesia.

            Itukah yang pemerintah inginkan?

            Larangan untuk berperang di luar negeri adalah salah besar. Seharusnya, larangan itu adalah untuk melarang siapa pun orang Indonesia, agama apa pun, untuk bergabung dengan kelompok-kelompok teroris. Ada banyak kelompok teror di dunia ini dari berbagai agama. Ada IRA, FARC, Macan Tamil Elam, dan sebagainya. Jangan melarang umat Islam Indonesia untuk membela saudaranya.

            Pemerintah harus tegas dengan larangan untuk bergabung dengan kelompok-kelompok teroris. Oleh sebab itu, pemerintah pun harus secara jelas, terang, utuh, dan masuk akal menerangkan organisasi-organisasi yang dianggap pemerintah sebagai teroris. Jangan sampai masyarakat kebingungan dengan informasi yang beredar. Maksudnya, ketika pemerintah mengatakan suatu kelompok adalah teroris, tetapi masyarakat mendapatkan informasi lain bahwa kelompok yang dituding pemerintah itu adalah para penegak kebenaran.

            Kalau aturan untuk tidak boleh berperang di luar negeri itu diberlakukan, berarti pemerintah sudah mengacaukan dan mereduksi ajaran Islam sekaligus berkhianat terhadap Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Preambul UUD 1945 itu menyatakan dengan jelas bahwa penjajahan di muka Bumi harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.

            Jika di belahan Bumi yang lain ada manusia yang melakukan penjajahan atas manusia lainnya, apakah patut orang Indonesia dilarang untuk berperan serta menghentikan penjajahan?

            Kalau pemerintah belum mampu menghapuskan penjajahan di muka Bumi ini dengan militer resminya, jangan halangi siapa pun yang ingin berperang untuk menghapuskan penjajahan di mana pun berada, agama apa pun.


            Jangan lebay. Jangan berlebihan!

Tuesday, 24 November 2015

Peringatan Hari tanpa Terorisme


oleh Tom FInaldin


Bandung, Putera Sang Surya

Segala hal yang terkait terorisme ini selalu bikin banyak perdebatan, kecurigaan, ketidakpercayaan, kemarahan, sindiran, dan pikiran-pikiran buruk lainnya.

Mengapa?

Hal itu disebabkan semua orang marah, kesal, sekaligus takut. Marah karena aparat keamanan kita tidak memberikan rasa aman. Kesal karena terkesan penanganan terorisme tidak bersandarkan pada kepentingan nasional, melainkan kepentingan asing yang justru pihak-pihak asing yang kerap memicu tumbuhnya perilaku-perilaku teror. Takut karena memang ngeri dan menakutkan.

Kemarahan, kekesalan, dan ketakutan itu dilampiaskan pada pihak pemerintah yang seharusnya memiliki kewajiban untuk menjamin keamanan, baik itu pemerintah pusat maupun aparat keamanan, seperti, intelijen dan kepolisian. Perdebatan, kecurigaan, ketidakpercayaan, kemarahan, sindiran, dan pikiran-pikiran buruk tentang terorisme menuding langsung kepada mereka.

Akan tetapi, ada sesuatu hal penting yang kita lupakan atau kita abaikan. Rakyat dan saya juga melupakan hal yang teramat penting bahwa ada banyak hari, minggu, dan bulan yang aman dan terlindungi dari peristiwa-peristiwa teror. Ada banyak hari tanpa teror. Situasi tersebut sudah selayaknya kita hargai, kita apresiasi, kita syukuri. Hari-hari aman dan terlindungi itulah yang juga kita harus ingat. Hari-hari itu juga merupakan prestasi kerja dari pemerintah pusat, intelijen, kepolisian, TNI, dan aparat lainnya yang berkewajiban untuk menciptakan dan menumbuhkan rasa aman.

Kita boleh mengkritik keras bahkan memaki-maki pemerintah dan aparat keamanan jika terjadi ketidakamanan. Akan tetapi, kita pun harus memberikan apresiasi terhadap pemerintah dan aparat keamanan atas keamanan yang kita rasakan. Itu namanya adil, fair.
Berkaitan dengan hal tersebut, saya melamunkan sesuatu yang romantis. Pada saat ini yang kita tahu sendiri banyak terjadi teror dan ancaman yang jelas meneror rasa aman kita, mari kita dorong pemerintah dan aparat keamanan untuk bekerja lebih baik dan lebih menyenangkan. Sebagai rakyat, kita berhak mengkritik, tetapi berhak pula memberikan penghargaan.

Untuk menghargai hari-hari aman kita dari terorisme, mengapa tidak kita rayakan bersama?
Misalnya, kita peringati “Enam Bulan tanpa Terorisme”. Dalam setiap enam bulan yang aman, kita berikan bunga pada polisi, TNI, dan anggota Bin sebagai ucapan terima kasih atas keamanan yang kita rasakan. Bunga itu bisa kita berikan di mana saja. Bisa di jalan, di kantor, di tempat-tempat umum, atau di rumah-rumah mereka. Demi Allah swt, cara itu akan sangat mendorong mereka untuk berbuat lebih baik lagi karena kita sebagai rakyat benar-benar menghargai mereka. Mereka memang sudah mendapatkan gaji atas kerja mereka, tetapi bunga adalah lambang keramahan dan cinta yang sangat ampuh untuk menjalin dan menumbuhkan rasa saling mencintai, menghormati, dan menghargai. Mereka pun akan lebih bersemangat dan lebih bertanggung jawab untuk menjaga kita dari segala sesuatu yang berpotensi mengganggu kita. Mereka akan ingat bahwa mereka memang benar-benar harus melindungi kita bukan sekedar kewajiban, tetapi juga atas dasar cinta. Mereka akan ingat bahwa mereka sebenarnya sedang melindungi orang-orang yang mencintai mereka. Di samping itu, mereka akan sangat merasa bersalah jika tidak mampu melindung orang-orang yang mencintai mereka.

Bunga itu lambang cinta  yang tak terbantahkan. Siapa pun yang memberikan bunga, pasti akan memberikannya sambil tersenyum. Tak pernah ada orang yang memberikan bunga dengan wajah penuh kebencian dan kemarahan. Sebaliknya, orang yang menerima bunga akan menerimanya sambil tersenyum pula.

Pernah mendapatkan hadiah berupa bunga?

Saya pernah.

Ada tiga momen yang tak pernah terlupakan ketika saya mendapatkan pemberian berupa bunga. Ketiga momen itu terjadi ketika saya masih mahasiswa Universitas Padjadjaran, Bandung. Dua kali saya mendapatkan bunga di tempat kuliah dari seorang perempuan dan seorang pria. Dari yang pria sebagai lambang persahabatan antarfakultas. Dari yang perempuan sebagai ajakan untuk mengenang salah seorang guru besar Unpad yang telah almarhum. Satu momen lagi dari seorang perempuan di tempat saya bekerja. Saya memang kuliah sambil bekerja menjadi Satpam pada sebuah lembaga pendidikan.

Perempuan itu memberikan bunga sambil berkata, “Ini buat kamu.”

Dalam ketiga momen itu, saya selalu merasakan sesuatu getaran yang menggoncangkan hati dan tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Benar-benar pengalaman yang luar biasa.

Sekeras apa pun seseorang, sebengis apa pun dia, semengerikan apa pun dia, saat menerima bunga hatinya tiba-tiba layu, lunak, dan lemah. Hati yang berada dalam kondisi tersebut membuat seluruh tubuhnya menjadi jinak.

So, mengapa kita tidak memberikan bunga pada polisi, TNI, dan Bin?

Iya, itu juga yang saya tanyakan pada diri sendiri, mengapa saya tidak melakukannya?

Saya memang pemalu.

Di samping itu, bunga akan lebih menguatkan lagi ikatan kita sebagai saudara sesama bangsa. Kita akan lebih mampu untuk merasa sebagai satu keluarga besar yang harus saling melindungi, menghormati, dan menghargai.

Kalau tidak mampu beli bunga karena memang harganya juga mahal, kita bisa berikan hal lain. Misalnya, bunga yang dibuat dari origami warna-warni atau gambar-gambar bunga yang kita buat sendiri pada selembar kertas.

Saya membayangkan bagaimana senang dan riuh rendahnya anak-anak TK dan SD yang dibimbing gurunya untuk membuat kerajinan dari origami berbentuk bunga dan atau gambar bunga. Bagaimana lucunya tangan-tangan mungil mereka memainkan kertas, lem, dan pensil warna untuk membuat bunga. Bagaimana riangnya mereka karena mereka akan memberikannya untuk Bapak-bapak polisi dan TNI di sekitar sekolah mereka.

Lalu, dengan bimbingan gurunya mereka memberikannya pada polisi dan TNI dengan ucapan, “Terima kasih atas enam bulan yang aman dari terorisme.”

Dalam momen itu semua akan tersenyum dan terharu, bahkan akan ada yang menangis bahagia.

Saya membayangkan bagaimana para mahasiswa yang biasanya berhadapan dengan polisi dan TNI akan merasa lebih dekat dan bersaudara dengan ucapan yang sama, “Terima kasih atas enam bulan yang aman dari terorisme.”

Bunga itu pun akan membuat malu para pemberi dan penerimanya dari melakukan berbagai keburukan yang akan mencederai hubungan cinta dan silaturahmi yang sudah tercipta.

Mari kita lawan terorisme dengan bunga dan senyum. Biarkan para teroris itu cemburu karena cinta dan persaudaraan kita. Biarkan para teroris itu marah dan kesal karena benar-benar terpinggirkan dari cinta dan persaudaraan. Biarkan mereka tersudut di tempat-tempat gelap dan kotor karena membiarkan dirinya diliputi kemarahan dan kebencian. Biarkan para pencipta teror kelimpungan karena kita menutupi jalan-jalan kejahatan mereka dengan bunga, senyum, cinta, dan persaudaraan.

Meskipun demikian, kita tetap harus membuka pintu bagi para teroris jika mereka pun mau dan bersedia berbagi bunga, senyum, cinta, dan persaudaraan.

Mari kita rayakan “Enam Bulan tanpa Terorisme”. Akan tetapi, perayaan itu tak perlu diadakan jika dalam enam bulan itu, terdapat aksi teror walaupun teramat kecil.

Begitulah saya melamun.

Bisakah lamunan ini menjadi kenyataan?

Kalau bisa, let’s do it!


Kalau tidak bisa, apa penyebabnya?