Showing posts with label Sejarah. Show all posts
Showing posts with label Sejarah. Show all posts

Tuesday, 10 November 2020

Hubungan Antarkelompok dalam Dimensi Sejarah

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Hubungan antarkelompok dilihat dalam dimensi sejarah terkait dengan timbulnya stratifikasi di dalam masyarakat. Stratifikasi tersebut meliputi stratifikasi etnik, jenis kelamin, dan usia.

            Menurut Noel dalam Kun Maryati dan Juju Suryawati (2014), stratifikasi etnik terbentuk jika memenuhi tiga syarat, yaitu etnosentrisme, persaingan, dan perbedaan kekuasaan. Contohnya, hal ini terjadi di Afrika Selatan semasa kuatnya politik apartheid. Hubungan yang terjadi adalah perbudakan disebabkan adanya rasa etnosentrisme atau perasaan lebih tinggi dari bangsa kulit putih terhadap kulit hitam. Perbudakan ini pun terjadi karena adanya persaingan ekonomi di antara mereka. Selain itu, kekuasaan kulit putih lebih besar dibandingkan kulit hitam.

            Stratifikasi usia terjadi ketika seseorang memiliki usia yang mulai tumbuh hingga dewasa dengan kematangan yang tinggi, bahkan mampu mengatur hidup orang lain. Semakin bertambah angka usia, kemampuan pun menurun. Hal ini mengakibatkan para orang yang sudah berusia lanjut bergantung hidup pada orang-orang yang lebih muda.

            Stratifikasi jenis kelamin masih tampak jelas dalam dunia industri. Pembagian kerja antara laki-laki dan perempuan belum jelas pada awalnya. Laki-laki lebih diistimewakan dibandingkan perempuan. Akan tetapi, seiring perkembangan zaman, pembagian kerja antara laki-laki dan perempuan semakin jelas. Dengan demikian, pekerjaan dapat disesuaikan dan diperinci sesuai dengan yang diharapkan perusahaan.

            Demikian hubungan antarkelompok jika dilihat dalam dimensi sejarah.

            Sampurasun.

 

Sumber Pustaka:

Wijayanti, Fitria; Rahmawati, Farida; Irawan, Hanif; Sosiologi: untuk SMA/MA Kelas XI Semester 1: Peminatan Ilmu-Ilmu Sosial

Maryati, Kun; Suryawati, Juju; 2014, Sosiologi: untuk SMA dan MA Kelas XI Kurikulum 2013: Kelompok Peminatan Ilmu-Ilmu Sosial, Penerbit Erlangga: Jakarta

Tuesday, 3 December 2019

Masalah Ilmu Jangan Jadi Kasus Hukum


oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Adalah berbahaya sekali jika masalah ilmu dibawa-bawa menjadi kasus hukum. Ini bisa menjadi kebiasaan buruk di tengah masyarakat. Kalau masalah perbedaan pengetahuan, ilmu, atau perbedaan pemahaman, diselesaikannya harus dengan penelitian atau perdebatan dan diskusi. Jika masalah ilmu pengetahuan dibawa menjadi kasus hukum, bahayanya adalah ilmu pengetahuan menjadi mandek atau mati tidak berkembang dan akan terjadi pemaksaan pemahaman keyakinan oleh satu kelompok sementara yang lain dianggap salah sebelum adanya penelitian atau diskursus (saling tukar pengetahuan).

            Kasus yang sekarang sedang ramai diperbincangkan adalah soal isi ceramah Gus Muwafiq yang dianggap menghina Nabi Muhammad saw karena mengisahkan bahwa Nabi Muhammad saw lahir biasa-biasa saja seperti anak lainnya, diurus oleh kakeknya, dan sempat “rembes” atau “umbelan” (ingusan). Potongan isi ceramahnya ini dilaporkan pada pihak kepolisian sebagai penghinaan. Padahal, pendukungnya dari kalangan NU menyatakan bahwa apa yang disampaikan Gus Muwafiq ada dasarnya, memiliki sumbernya, dan ada bukunya. Sementara itu, mereka yang melaporkannya sebagai penghinaan mengakui bahwa tidak menemukan sumber yang menjadi dasar isi ceramah Gus Muwafiq, sebagaimana yang disampaikan perwakilan FPI dalam acara talk show di tvOne. Bahkan, mereka yang tidak menyukai Gus Muwafiq memiliki sumber kisah kelahiran Nabi Muhammad yang penuh sinar yang cahayanya sampai ke kekuasaan Romawi di Syam. Jadi, masa kecil Nabi Muhammad saw dianggap tidak mungkin seperti yang diceramahkan Gus Muwafiq. Oleh sebab itu, mereka menganggapnya sebagai penghinaan.

            Jika diperhatikan, masalahnya kan hanya ada di perbedaan informasi atau pengetahuan tentang kelahiran dan masa kecil Nabi Muhammad saw. Dalam pandangan Gus Muwafiq kelahiran dan masa kecil Nabi saw biasa-biasa saja seperti anak lainnya berdasarkan sumber yang dimilikinya. Sementara itu, pihak lain tidak memiliki sumber itu atau memiliki sumber kisah lain yang penuh keajaiban. Penyelesaian masalah seperti itu kan tidak pas jika dibawa ke pengadilan sebagai kasus penistaan agama. Penyelesaiannya harus dibuktikan dengan matan, sanad, perawi, tarikh, dan atau Al Quran tentang kebenaran peristiwa tersebut.

            Kalau ada perbedaan yang bertolak belakang, adu saja, uji saja kebenarannya dengan menggunakan berbagai metode sejarah yang ada secara ilmiah. Cari sumber sekunder hingga sumber primernya.

            Sumber mana yang paling benar?

            Mana yang benar-benar nyata sejarah dan  mana yang hanya dongeng akan lebih jelas setelah ada penelitian.

            Berani?

            Harus berani atuh demi ilmu pengetahuan. Demi kebenaran tentang Nabi Muhammad saw.

            Kalaupun dipaksakan untuk masuk ke pengadilan, bisa dipastikan bahwa Gus Muwafiq dan pendukungnya akan membawa sumber-sumber bacaan kisah tersebut. Demikian pula pihak penggugat akan diminta alasan dan atau sumber bacaan lain yang menjadi dasar bahwa Gus Muwafiq telah melakukan penghinaan dalam arti masa kecil Nabi saw tidak seperti yang dikisahkan Gus Muwafiq. Tetap saja ilmu pengetahuan yang diperdebatkan nantinya. Sayangnya, hakim yang memutuskannya, bukan ahli agama.

            Akan menjadi sesuatu yang aneh jika permasalahan perbedaan pengetahuan diserahkan keputusannya kepada majelis hakim yang sama sekali bukan dikategorikan sebagai ahli agama. Jika hakim memutuskan Gus Muwafiq bersalah, isi ceramah dan sumber-sumber bacaannya pun secara tidak langsung dianggap salah. Jika hakim memutuskan Gus Muwafiq tidak bersalah, pihak penggugat beserta sumber ilmu pengetahuannya salah dan harus mengakui kebenaran Gus Muwafiq.

            Mau seperti itu?

            Berbeda jika benar dan salah itu melalui proses penelitian dan pengkajian ilmiah yang dipandu oleh para ahli ilmu. Benar dan salah pun berdasarkan ilmu terkait agama, bukan berdasarkan ilmu hukum positif. Hasilnya lebih bisa dipahami secara keilmuan bukan berdasarkan hukum.

            Sampurasun.

Tuesday, 9 May 2017

Ulama Harus Belajar Banyak Ilmu

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Para ulama harus mengembangkan dirinya mempelajari banyak ilmu pengetahuan, misalnya, sosiologi, politik, kemanusiaan, pemerintahan, dan terutama sejarah. Ilmu-ilmu itu harus didapat dari buku-buku yang ditulis berdasarkan metode-metode ilmiah dan bukan dari pemahaman-pemahaman lama yang kerap bercampur dengan khayalan dan imajinasi para penulisnya, sebagaimana yang dikatakan Mohammad Haekal. Dengan memiliki banyak ilmu, ulama dapat mengejar ketertinggalan zaman dan berlari cepat meninggalkan zaman sehingga memiliki banyak alternatif, wawasan, dan solusi untuk berbagai bidang hidup manusia.

            Jika hanya memiliki ilmu-ilmu lama yang kadang-kadang sudah out of date alias kedaluwarsa, umat Islam tidak akan pernah berkembang dengan cepat karena murid-murid para ulama itu akan berputar di situ-situ saja. Para generasi muda akan mengikuti gurunya dengan ilmu yang dimiliki gurunya tanpa mendapatkan pemahaman baru yang lebih berkembang. Lebih parah lagi jika para murid itu tidak memiliki keberanian untuk mempertanyakan berbagai hal yang seharusnya ditanyakan. Mereka hanya akan menjadi generasi taklid yang selalu mematuhi gurunya meskipun ilmu-ilmu gurunya itu sudah banyak yang harus diperbaiki. Lebih jauh lagi, jika ada pihak lain yang memiliki ilmu yang sudah berkembang dan berani berpikir lebih ke depan, kemungkinan akan menuduhnya sebagai sesat dan dianggap menghina para ulama. Padahal, para ulama itu yang sesungguhnya ilmunya di situ-situ saja.

            Tidak adanya perkembangan ilmu yang dimiliki ulama dan kebiasaan taklid dari para muridnya inilah yang sangat dicela oleh Pemimpin Besar Revolusi Indonesia Soekarno.

            “Bagaimana kita punya kiyai-kiyai dan ulama-ulama?

            Tajwidnya bagus, tetapi pengetahuan tentang sejarah umumnya nihil. Paling mujur, mereka hanya mengetahui tarikh Islam.

            Hal ini pun terambil dari buku-buku Islam kuno yang tak dapat tahan ujiannya modern science, yakni tak dapat tahan ujiannya pengetahuan modern!

            Padahal, justru sejarah yang mereka abaikan itu, persaksian sejarah yang mereka remehkan itu, adalah membuktikan dengan nyata dan dahsyat bahwa dunia Islam sangatlah mundur semenjak muncul aturan taklid. Dunia Islam adalah laksana bangkai yang hidup semenjak ada anggapan bahwa pintu ijtihad sekarang termasuk tanah yang sangar.

            Dunia Islam mati geniusnya semenjak ada anggapan bahwa mustahil ada mujtahid yang bisa melebihi ‘imam yang empat’, jadi harus mentaklid saja kepada tiap-tiap kiyai dan ulama dari sesuatu mazhab yang empat itu!

            Alangkah baiknya kalau kita punya pemuka-pemuka agama yang mampu mempelajari sejarah dan tidak hanya mati-hidup, bangun-tidur dengan kitab fiqih dan kitab parukunan saja!”

            Soekarno sangat tidak menyukai berhentinya ilmu pengetahuan dan membenci tidak adanya kemauan untuk mempelajari ilmu pengetahuan. Saya tidak tahu pasti apakah kiyai dan ulama sekarang masih sebagaimana yang dikatakan Soekarno pada masanya dulu, yaitu tetap saja menggunakan buku-buku yang tidak tahan ujian ilmu modern atau sudah melangkah jauh mempelajari banyak hal. Akan tetapi, saya memiliki dugaan keras hampir tidak ada bedanya ulama dulu dengan sekarang, yaitu tidak ada yang mendorong dirinya dan muridnya untuk maju melangkah lebih cerdas daripada “imam yang empat itu”. Seolah-olah ilmu-ilmu Islam mati dan terbatas pada imam yang empat itu. Demikian pula tentang ilmu-ilmu hadits, tak pernah saya mendengar ada kiyai atau ulama yang mendorong muridnya untuk lebih cerdas dibandingkan Bukhari dan Muslim. Seolah-olah, hanya Bukhari dan Muslim-lah yang layak dijadikan panutan sampai Hari Kiamat. Padahal, jika didorong lebih kuat yang dimulai dengan tidak mewajibkan untuk selalu patuh dan mengikuti ilmu-ilmu lama, generasi muda Islam sangat mungkin memiliki daya jelajah ilmu pengetahuan yang lebih kuat dan lebih besar sehingga memunculkan sosok-sosok pemikir Islam modern yang ilmu pengetahuannya mampu tahan uji ketika diuji dengan metode-metode ilmiah.

            Bagaimana tidak berkembang pengetahuan sejarah umat Islam?

            Kisah Isra Miraj saja babak belur dari segi kronologis kejadian, tetapi tetap saja diceramahkan di mana-mana bahwa Nabi Muhammad saw diperjalankan dari Mekah ke Palestina. Itu artinya, umat Islam masih bertahan pada ilmu-ilmu kuno yang sudah kedaluwarsa.

            Isra Miraj itu terjadi pada 620 Masehi. Masjid Umar dibangun pada 638 Masehi. Lalu, perkembangan berikutnya diperluas dan namanya diganti menjadi Masjid Al Aqsha.

            Mana mungkin Allah swt memperjalankan Nabi Muhammad saw ke masjid yang belum ada, bahkan tanah itu masih dikuasai pasukan Romawi yang gemar pesta dan bermabuk-mabukan?

            Anehnya, masih saja ada yang berceritera di mimbar-mimbar bahwa itu tidak bisa dipahami dengan akal dan harus dipercayai melalui iman. Itu semua adalah kekuasaan Allah swt. Sudah tahu tidak tahan uji karena tahun kejadiannya juga berbeda-beda, masih juga diomong-omongin. Aneh.

            Hal itu menandakan bahwa perkembangan ilmu pengetahuan di kalangan umat Islam mengalami hambatan serius. Tak heran jika Soekarno mengatakan bahwa jika umat Islam tidak mau berubah, niscaya tetap hina, mesum, dan tertinggal zaman seribu tahun lamanya.


            Sampurasun.

Friday, 14 April 2017

Kapan Islam Mulai Ada?

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Ini mah pengalaman pribadi. Beberapa waktu lalu ada perguruan tinggi Islam yang meminta saya mengajar para mahasiswanya.

            “Harus mengajar apa saya?” tanya saya.

            “Sejarah Peradaban Islam,” katanya.

            Awalnya, saya bingung juga diminta mengajar mata kuliah Sejarah Peradaban Islam. Hal itu disebabkan saya adalah lulusan Fakultas Sastra yang kemudian melanjutkan ke Fakultas Ilmu-Ilmu Sosial dan Politik. Mungkin karena ada ilmu sosialnya, saya diminta mengajar soal peradaban. Kabarnya, saya diminta mengajar untuk menggantikan dosen aslinya yang sedang sakit stroke. Sakit semacam itu kan tidak bisa diperkirakan waktu sembuhnya.

            Saya senang menerima tawaran itu karena pada dasarnya saya senang ketemu orang, diskusi, dan menambah teman-teman baru. Saya ini orang Sunda yang yakin pada pepatah “boga balad sarebu, kurang keneh, boga musuh saurang, loba teuing”, ‘punya teman seribu orang, masih kurang, punya musuh satu orang, sudah kebanyakan’. Maksudnya, seberapa pun banyaknya kita memiliki teman, masih lebih baik untuk menambah banyak teman meskipun jumlahnya mencapai ribuan bahkan jutaan, tetapi jika memiliki satu orang musuh saja, sudah terlalu banyak. Artinya, jangan punya musuh meskipun hanya satu orang, kecuali syetan yang terkutuk, baik dalam bentuk jenis jin maupun manusia. Syetan itu kalaupun bentuk fisiknya manusia, dia tetap syetan. Jadi, kegiatan belajar-mengajar bagi saya adalah dalam rangka menambah teman, menambah kenalan, banyak silaturahmi, dan menambah rezeki.

            Hari pertama mengajar saya langsung berdiskusi dengan para mahasiswa tentang kapan sebenarnya Islam mulai ada karena dari awal keberadaannya itulah peradaban Islam dimulai. Saya mengajak para mahasiswa berdiskusi karena agak bingung juga sebenarnya. Hal itu disebabkan buku-buku tentang Sejarah Peradaban Islam yang digunakan hampir di semua perguruan tinggi di Indonesia dan mungkin juga di seluruh dunia selalu diawali dengan pembahasan situasi dan kondisi Arab sebelum kelahiran Muhammad saw atau Arab pra-Islam.

            Istilah Arab pra-Muhammad atau Arab pra-Islam sangatlah membingungkan. Istilah itu seolah-olah menyatakan bahwa Islam adalah hanya ajaran Muhammad saw dan berasal dari Arab. Padahal, nabi-nabi lainnya sebelum Muhammad saw pun sama-sama mengajarkan Islam. Jadi, istilah-istilah itu justru mengecilkan peranan Islam di muka Bumi dan membatasi Islam hanya milik Muhammad saw dan umatnya.

            Bagaimana dengan Nabi Adam as?

            Nuh as?

            Daud as?

            Musa as?

            Isa as?

            Bagaimana pula dengan nabi-nabi lain, baik yang tercatat maupun tidak tercatat dalam Al Quran?

            Bukankah mereka semua juga mengajarkan Islam?

            Jadi, sejak kapan Islam sebenarnya mulai ada?

            Itulah yang saya diskusikan dengan para mahasiswa. Lumayan menarik diskusi itu. Ada yang mengatakan mulai Adam as, ada pula yang mengatakan sejak penciptaan malaikat, juga ada yang mengatakan sejak dimulainya penciptaan langit dan Bumi.

            Saya sendiri berpendapat bahwa Islam itu tidak memiliki awal dan tidak memiliki akhir sebagaimana diri Allah swt. Pendapat saya itu berdasarkan pada arti kata Islam itu sendiri. Islam diartikan berasal dari kata salam, yaitu “selamat dan bahagia”. Ada juga yang mengatakan berawal dari kata taslim, yaitu “patuh”. Jika kita gunakan kedua kata itu, yaitu “patuh” serta “selamat dan bahagia”, langsung merujuk pada diri Allah swt.

            Allah swt adalah Zat Yang Patuh.

            Patuh kepada siapa?

            Allah swt patuh kepada diri-Nya sendiri. Oleh sebab itu, Allah swt tidak pernah melanggar janji-Nya sendiri. Tidak pernah mengingkari dan tidak pernah melanggar hal-hal yang ditentukan-Nya sendiri. Jika Dia akan menghukum seseorang atau sekelompok orang, waktu-Nya sudah pasti. Allah swt tidak akan membuat waktu penghukuman-Nya dipercepat ataupun diperlambat. Semua sudah ditetapkan waktunya masing-masing. Tak heran jika para penghina Allah swt, Muhammad saw, Islam, dan kaum muslimin sering bergaya petantang-petenteng menantang dan mengangap bahwa hukuman itu adalah bohong belaka. Sesungguhnya, hukuman itu bukan tidak akan pernah datang, melainkan waktu kedatangannya tidak akan dipercepat dan juga tidak akan diperlambat oleh Allah swt. Ketika waktunya datang, hal yang harus terjadi, terjadilah tanpa ada yang bisa menghalanginya.

            Allah swt adalah Zat Yang Selamat dan Bahagia. Allah swt tidak pernah kekurangan apa pun. Dia Mahakaya, memiliki segala sesuatu. Tak ada sesuatu pun yang menyerupai diri-Nya. Banyaknya orang memuji-Nya dan menghina-Nya, tak berarti apa pun bagi Allah swt. Seluruh dunia ini menjadi muslim ataupun menjadi kafir, Allah swt tak dirugikan dan tak diuntungkan sedikit pun. Allah swt adalah Zat Berwujud Tetap yang tidak terpengaruh oleh apa pun. Dia selalu dalam keadaan berkuasa, selamat, dan bahagia.

            Begitulah yang ada dalam pikiran dan perasaan saya.

            Ada yang berpendapat berbeda daripada saya?

            Saya sungguh sangat senang jika ada yang mengoreksi saya dengan baik. Jika ada yang berbeda pendapat dengan saya, saya bersyukur asal disampaikan dengan sangat baik dan terhormat.

            Dengan demikian, sebaiknya mata kuliah Sejarah Peradaban Islam adalah dimulai pemahaman tentang zat Allah swt, kemudian proses penciptaan malaikat, Bumi, langit, jin, manusia, dan penyampaian wahyu. Tidak perlu panjang-panjang, cukup hanya menjadi pengantar. Yang harus lebih panjang adalah peradaban sejak Adam as sampai dengan Isa as. Hal itu kemudian berlanjut ke Arab pra-Muhammad, lalu ke perkembangan budaya, sosial, teknologi, sastra, dan sebagainya hingga hari ini.

            Jangan lupa, saya berterima kasih jika ada pembaca blog ini yang mengoreksi saya dan atau memberikan saran kepada saya agar saya bisa memahami dan berbuat dengan lebih baik lagi.


            Sampurasun.

Tuesday, 11 April 2017

Harta Karun Zaman Yang Hilang

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Seringnya, dalam membaca sejarah berdasarkan penggalian-penggalian situs purbakala, banyak sekali tulisan yang menyatakan penemuan-penemuan barang berharga dari kejayaan masa lampau di dunia ini, khususnya di Indonesia. Akan tetapi, selalu saja ada harta atau peninggalan yang hilang dari hasil penemuan para peneliti itu. Harta yang hilang itu seiring dengan zaman yang hilang, yaitu emas, permata, berlian, mutiara, dan barang berharga lainnya yang masih memiliki nilai tinggi pada masa ini. Kita terlalu sering mendapatkan tulisan sejarah hasil penggalian yang menemukan peninggalan barang-barang berbahan batu, kuningan, perunggu, dan logam murah lainnya. Akan tetapi, teramat jarang, bahkan mungkin hampir tidak pernah kita mendapatkan hasil penggalian peninggalan masa lalu yang berupa perhiasan terbuat dari emas, permata, berlian, mutiara, dan barang lain yang masih memiliki nilai tinggi. Kita hanya disuguhi berbagai penemuan barang-barang yang kurang berharga atau sulit sekali dijual pada masyarakat umum, sedangkan emas, permata, berlian, dan mutiara hilang, raib sama sekali.

            Apabila kita melihat kejayaan kekayaan masa lalu di seluruh dunia ini, keadaannya begitu memesonakan, gilang gemilang, berlimpah ruah. Demikian pula di Indonesia ini. Dengan kenyataan bahwa banyak istana, candi, keraton, bangunan megah yang masih terkubur dan baru terbuka sedikit akibat bencana mahadahsyat masa lalu, tentunya banyak pula terdapat barang-barang berharga seperti emas, permata, berlian, dan mutiara yang juga ikut terkubur. Akan tetapi, anehnya, barang-barang itu tidak pernah diberitakan ada dan selalu tidak pernah tertulis, hilang begitu saja.

            Apabila kita pelajari Al Quran Surat Saba, kekayaan Indonesia itu sangat luar biasa. Allah swt mengatakan bahwa Kota Mekah saja kekayaannya tidak sampai 10% dari kekayaan yang dianugerahkan Allah swt kepada Indonesia. Kota Mekah yang kita anggap kaya itu sesungguhnya sangat sedikit, sedangkan Indonesia berlimpah ruah. Baca tulisan saya yang berjudul Indonesia dalam Pandangan Allah swt.

            Di dalam QS Saba pun diterangkan bahwa Allah swt menghancurkan Benua Sundaland berkeping-keping hingga menjadi kepulauan bernama Indonesia ini ketika penduduknya sedang melakukan kezaliman dan bencana hukuman itu datang tiba-tiba tanpa disadari manusia. Artinya, bencana itu datang ketika penduduk Indonesia ini bisa jadi sedang berpesta pora, bersenang-senang dalam maksiat, duduk-duduk dalam kemegahan istana, hilir mudik di pasar-pasar, berbangga-bangga dalam kemewahan, bergembira dalam pemujaan-pemujaan penuh kemusyrikan, dan lain sebagainya. Itu artinya, orang-orang saat itu sedang menggunakan berbagai perhiasan dunia dengan membawa sejumlah materi, belum lagi kekayaan yang tersimpan dalam gudang-gudang dan lemari-lemari harta di rumah mereka. Ketika bencana itu datang dalam satu hari yang mengerikan, langsung mengubur manusia, gedung megah, tempat pemujaan syetan, berikut harta kekayaan luar biasa yang terdiri atas emas, permata, mutiara, berlian, dan sebagainya.

            Sudah pasti emas, permata, mutiara, berlian, dan perhiasan berharga lainnya itu ada pada masa kemegahan Sundaland. Hal itu bisa dilihat dari pengalaman Columbus ketika wara-wiri mencari dana ekspedisi ke Indonesia. Columbus berusaha keras mengumpulkan dana ekspedisi itu dari berbagai bangsawan, raja, dan pengusaha di negerinya. Awalnya, ia dilecehkan, ditertawakan, dan sama sekali tidak dipercaya. Banyak bangsawan dan orang kaya yang menganggap sinting Columbus. Akan tetapi, ketika Columbus memperlihatkan emas, permata, berlian, dan mutiara sisa peninggalan Benua Sundaland dari orang-orang Sundaland/Indonesia yang leluhurnya berlarian menyelamatkan diri ke Eropa, raja, bangsawan, dan para pengusaha itu pun tertarik, kemudian membiayai perjalanan Columbus ke Indonesia. Artinya, emas, permata, berlian, dan mutiara itu sudah ada dan sangat banyak digunakan orang-orang Indonesia saat itu.

            Niatnya Columbus memang ke Indonesia yang saat itu masih dikenal dengan nama Indische atau Hindia, tetapi tersesat ke Benua Amerika. Di benua itu ia melihat orang-orang yang cirinya sama dengan yang diberitakan dari orang-orang Sundaland masa lalu. Kemudian, ia menyebut orang-orang yang ditemuinya itu dengan sebutan Indians (orang-orang Indonesia) karena menyangka sudah sampai di Indonesia, padahal tidak. Ia hanya menemukan orang-orang Indonesia atau Asia Tenggara yang melarikan diri dari bencana ke Benua Amerika. Orang-orang itu dikenal sekarang dengan nama Indian.

            Perburuan harta karun pun semakin banyak dilakukan orang-orang Eropa untuk mencari harta terpendam di peradaban yang hilang itu. Penjajahan di Asia salah satunya didorong oleh perburuan harta karun itu. Oleh sebab itu, pihak kolonial sangat rajin melakukan ekspedisi berbiaya mahal untuk mencari harta karun itu. Tak heran jika para penjajah menemukan berbagai situs bersejarah di Asia, khususnya di Indonesia. Berbagai candi dan istana yang terkubur pun dimunculkan kembali ke permukaan Bumi setelah ribuan tahun menghilang.

            Pernahkah terpikirkan oleh kita untuk apa para penjajah memunculkan situs-situs itu?

            Untuk penelitian dan pendidikan?

            Untuk mencerdaskan rakyat Indonesia?

            Untuk memberikan kesadaran pada rakyat jajahan?

            Tidak mungkin!

            Hal yang paling mungkin adalah untuk mencari harta karun dan mendapatkan manfaat ekonomi ketika situs-situs terbuka ke hadapan publik.

CANDI BOROBUDUR. Foto: www.slideshare.net
CANDI CANGKUANG. Foto: www.nasionalisme.co

CANDI PRAMBANAN. Foto: wisatapriangan.co.id
            Pernahkah terpikirkan oleh kita dari mana uang para penjajah ketika membangun gedung-gedung pemerintahan yang kokoh dan kuat bertahan ribuan tahun?

            Bukan hanya gedung pemerintahan yang sangat kuat dan kokoh, rumah-rumah pribadi pun teramat kokoh.

            Dari mana mereka mendapatkan uang?

            Tanam paksa, upah buruh rendah, dan sewa tanah murah memang salah satunya. Akan tetapi, kemungkinan besar ada banyak harta karun yang telah ditemukan dan masih memiliki nilai jual tinggi pada masa sekarang ini, seperti, emas, permata, berlian, dan mutiara.

            Ada harta dan zaman yang hilang serta tidak pernah diketahui publik. Kita sering sekali disuguhi dengan pemahaman adanya zaman batu dan zaman besi. Akan tetapi, zaman batu-batu mulia dan perhiasan berharga yang masih bernilai tinggi saat ini hilang sama sekali dan tidak pernah masuk dalam catatan.


Beberapa Kemungkinan
Terdapat beberapa kemungkinan tentang hilangnya harta karun dan zaman batu mulia ini. Pertama, masyarakat sendiri yang melakukan penggalian dan pengambilan harta-harta itu sedikit demi sedikit dan menganggapnya sebagai rezeki karena memang rezeki. Hal ini sering sekali terjadi sejak dulu sampai sekarang, bahkan jika harta-harta bernilai tinggi sulit ditemukan, masyarakat mengambil bahan-bahan bangunan dari situs-situs itu untuk rumah mereka sendiri. Kedua, harta karun itu ditutupi keberadaannya oleh para peneliti. Ketika mereka melakukan penggalian dan penelitian, batu, perunggu, dan keramik mungkin segera diumumkan sebagai penemuan sejarah. Akan tetapi, jika menemukan emas, permata, berlian, mutiara, dan barang berharga yang nilainya masih tinggi saat ini, segera masuk ke saku pribadi dan ditutupi dari publik. Godaan emas, permata, berlian, dan mutiara itu sangat tinggi. Bayangkan saja jika kita sedang melakukan penggalian, lalu menemukan sebuah kendi yang penuh perhiasan emas. Ada koin emas, kalung emas, gelang emas, manik-manik emas, dan lain sebagainya yang terbuat dari emas hingga puluhan kilo.

            Mau diapain itu emas?

            Diserahkan pada pemerintah?

            Tidak mungkin.

            Pasti dijual ke penadah atau di pasar gelap.

            Iya toh?

            Kalau sudah begitu, ada zaman yang hilang, yaitu zaman emas dan ada harta yang hilang, yaitu batu mulia, serta ada nilai pendidikan yang hilang, yaitu sejarah.

            Ketiga, diklaim kepemilikannya oleh penguasa, terutama penjajah.

            Jika tidak ada perhatian yang serius, kehilangan harta karun, sejarah, dan jati diri bangsa akan terus terjadi.


Menyelamatkan Harta Karun
Untuk menyelamatkan harta karun, hal pertama yang harus dilakukan adalah kesadaran bahwa bangsa Indonesia ini adalah bangsa terkaya di dunia ketika masih dalam masa Benua Sundaland. Buktinya, mudah kok. Di seluruh tanah air Indonesia ini masih terkubur selama ribuan tahun kemegahan dan kekayaan masa lalu. Kita masih melihat ada candi-candi yang tiba-tiba muncul dari dalam tanah. Ada bangunan istana yang tiba-tiba hadir disebabkan hujan besar dan erosi. Ada barang-barang mewah rumah tangga yang tiba-tiba tercangkul masyarakat. Hal-hal seperti ini sangat sering terjadi di Indonesia. Sayangnya, kita kurang menghargainya karena terlalu sibuk dengan hal-hal lain, padahal jika digali secara serius dengan pengawasan ketat, hasilnya bisa luar biasa sekaligus menambah aset bangsa dalam bidang pariwisata dan pendidikan.

ISTANA RATU BOKO. Foto: indoturs.com
            Kita tidak perlu lagi mengulang-ulang kebiasaan kampungan yang khawatir tentang derajat kesukuan. Pada masa Orde Baru terasa sekali bahwa ada semacam pertahanan diri dari “suku Jawa” agar tetap menjadi suku yang paling tinggi dan paling hebat di Indonesia. Oleh sebab itu, jika ditemukan situs-situs baru, baik di Sunda, Sumatera, Sulawesi, atau lainnya, sering tidak diakui dan sering dilecehkan, bahkan dianggap tidak perlu ditindaklanjuti. Hal itu disebabkan jika situs-situs itu terbuka, lalu memunculkan sejarah baru di luar Jawa, dikhawatirkan akan memunculkan penilaian bahwa suku lain yang bukan suku Jawa memiliki peninggalan kecerdasan dan kehebatan melebihi suku Jawa. Perasaan-perasaan kampungan seperti itu sudah tidak boleh ada lagi sekarang. Kita adalah Indonesia. Sesungguhnya, jika kita menemukan apa pun di suku mana pun di Indonesia ini adalah milik kita bersama, Indonesia, bukan milik suku tertentu. Sikap kesukuan yang menghalangi penemuan-penemuan sejarah adalah sikap kampungan yang sesungguhnya menghalangi kemajuan bangsa Indonesia. Kehebatan dan kecerdasan suatu suku di Indonesia sesungguhnya mendorong kebanggaan kita sebagai bangsa Indonesia, bukan meruntuhkan wibawa suku tertentu.

            Hal yang teramat penting dilakukan adalah pemerintah sudah seharusnya menghargai setiap penemuan dengan nilai yang berlaku saat ini. Agar nilai sejarah tidak hilang, harta tidak hilang, jati diri bangsa tidak hilang, setiap penemuan sejarah harus dihargai dengan uang sesuai dengan nilainya saat ini. Jika ada masyarakat atau peneliti yang menemukan emas, permata, berlian, mutiara, atau barang lainnya, hendaknya dibeli oleh pemerintah dengan harga saat ini. Pemerintah wajib membelinya karena barang itu adalah seharusnya milik penemunya. Pemerintah tidak boleh merampas barang dari orang yang telah menemukannya. Apabila tidak ada keinginan pemerintah untuk membeli barang-barang mulia itu, pencurian dan penjualan di pasar gelap akan terus terjadi. Kita, sebagai bangsa, akan hanya mati dan buntu pada pemahaman zaman batu, zaman perunggu, atau paling tinggi zaman kuningan. Padahal, kehebatan kita jauh di atas itu sebenarnya.

            Selama ini, kita tidak menghargai penemuan-penemuan itu dengan seharusnya. Kita memandang rendah terhadap hal itu. Padahal, jika digali secara serius, kita akan menemukan harta karun yang banyak dan memunculkan situs-situs baru yang megah luar biasa bernilai sejarah dan pendidikan. Contohnya, situs Gunung Padang, Cianjur, Jawa Barat yang megah dan luas itu jika serius dikelola dengan baik, akan ditemukan peninggalan sejarah luar biasa, harta karun yang banyak, dan hadirnya lokasi pariwisata baru yang mendunia. Situs Gunung Padang ini bukan hanya terkenal di Indonesia, melainkan pula di Eropa. Bahkan, banyak orang Eropa yang datang ke Gunung Padang karena meyakini bahwa leluhur mereka berasal dari tempat itu.

GUNUNG PADANG. Foto: terungkaplagi.blogspot.co.id
            Ada harta karun yang banyak di Indonesia. Kita hanya harus serius. Indonesia kaya bukan hanya disebabkan sumber daya alam, melainkan pula ada banyak harta terpendam yang belum bisa kita hitung jumlahnya. Persoalannya kita harus serius. Kerja kerja kerja.


            Sampurasun.

Monday, 10 April 2017

Orang Sunda Diciptakan Langsung Modern

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Yang saya maksud langsung modern itu adalah modern pada masa itu dibandingkan dengan pendapat para penganut The Hoax of Darwin. Kata pengikut Darwin, manusia dan makhluk hidup itu berasal dari makhluk bersel satu yang kemudian berkembang, berubah bentuk, terus beradaptasi dengan alam, belajar dari sama sekali tidak tahu menjadi tolol, dari tolol menjadi bego, dari bego menjadi bloon, dari bloon menjadi bodoh, dari bodoh menjadi celingukan, dari celingukan menjadi ragu-ragu, dari ragu-ragu menjadi kebiasaan, dari kebiasaan berkembang lagi mendapatkan hal-hal baru, akhirnya menjadi cerdas seperti sekarang ini. Demikian pula dengan warna kulit. Dari hitam legam kotor, menjadi hitam bersih, terus agak kecoklat-coklatan, lalu sedikit menjadi merah, kemudian berubah lagi menjadi kuning, akhirnya menjadi kulit putih yang paling sempurna dan cerdas.

            Lucunya, mereka tidak akan pernah bisa menerangkan bahwa mengapa manusia yang belum sempurna seperti orang Indonesia ini bisa berkali-kali menjadi juara pembuat robot terbaik di Amerika Serikat mengalahkan orang-orang yang sudah sempurna berkulit putih itu?

            Seharusnya kan secara logika kalau Darwin benar, harus selalu orang kulit putih yang paling kaya raya, paling cerdas, dan paling pandai memimpin. Kenyataannya, Obama yang kulitnya hitam menjadi presiden AS. Raja Thailand adalah raja terkaya di dunia. Para pemimpin berkulit putih justru saat ini sedang kalang kabut bertengkar satu sama lain.

            Pendek kata, Darwin dan pengikutnya salah besar.

            Sesungguhnya, tidak ada itu yang namanya evolusi dalam arti perubahan bentuk manusia atau makhluk hidup lainnya. Manusia itu diciptakan sudah seperti ini sejak dulu sampai punahnya nanti. Demikian pula makhluk hidup lain selalu diciptakan dengan bentuk tertentu sampai punah tanpa mengalami perubahan bentuk tubuh dan kecerdasan.

            Penciptaan manusia seperti kita ini bahkan ditegaskan oleh Allah swt di dalam Al Quran. Hal ini bisa dilihat dari QS Al Hujurat 49 : 13.

            “Wahai Manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh Allah Maha Mengetahui dan Maha Teliti.”

            Ayat tersebut menerangkan bahwa Allah swt menciptakan sepasang suami-istri untuk setiap suku tertentu yang akan melahirkan suku tertentu dengan bahasa tertentu, kecerdasan tertentu, dan tantangan hidup tertentu. Allah swt memberikan contoh dengan penciptaan Nabi Adam as. Allah swt menciptakan Adam as dalam bentuk fisik yang sempurna dan menciptakan istrinya, Siti Hawa, yang berasal dari tubuh Adam as sendiri secara sempurna pula. Ahsanul Kholiqin, ‘ciptaan yang paling baik’. Adam as diberi pengetahuan dan keterampilan khusus secara langsung tanpa melalui proses belajar untuk menghadapi tantangan hidupnya. Allah swt memerintahkan para malaikat menguji kemampuan Adam as dan Adam as berhasil. Pasangan Adam-Hawa melahirkan anak-anak khusus untuk sukunya sendiri, bukan seluruh manusia.

            Kalau mau disebut kecerdasan manusia berkembang, sesungguhnya sejak saat itulah mulai perkembangannya, bukan dari makhluk bersel satu, lalu jadi monyet, terus jadi manusia. Berkembang itu mulai dari modal awal yang diberikan Allah swt untuk memulai hidup baru.

            Demikian pula suku Sunda, diciptakan dari pasangan suami-istri tertentu dengan kemampuan tertentu, bahasa tertentu, fisik tertentu, dan tantangan hidup tertentu pula.

            Siapa orang Sunda yang diciptakan pertama kali oleh Allah swt?

            Dengar-dengar, Allah swt secara langsung memberikan pengetahuan kepadanya dalam hal mengolah logam. Dia dikenal sebagai pandai besi.

            Siapa dia?

            Penasaran?

            Entar dulu lah, soalnya hasil penelitiannya masih dalam bahasa Inggris. Saya harus menerjemahkannya dulu. Kalem aja kalem. Santai, kata Bang Haji juga.

            Sekarang mah kita ngobrol soal hasil penelitian para peneliti yang ditulis dalam artikel berjudul Arca-Arca Tipe Pajajaran di Jawa Barat yang disusun oleh Dra. Setyawati Suleiman (1991). Saya merekontruksinya sesuai dengan penelitian terbaru yang mengatakan bahwa Indonesia ini dulunya Benua Sundaland yang besar, megah, dan makmur.

            Dulu sekali hidup berbagai binatang jenis lama di Benua Sundaland, Indonesia. Ketika bencana mahadahsyat yang berupa hukuman dari Allah swt akibat kesombongan manusia datang, Benua Sundaland pun hancur berkeping-keping. Bentuknya pun berubah menjadi kepulauan seperti sekarang ini. Bencana mengerikan itu bukan hanya menghancurkan manusia, gedung, teknologi, dan peradabannya, melainkan pula mengubur binatang-binatang jenis lama. Gempa besar, baik tektonik maupun vulkanik memisahkan daratan-daratan yang asalnya satu. Pulau Jawa adalah yang paling parah diterjang pasang air laut hingga gunung-gunung pun ikut tenggelam. Pulau Jawa saat itu mirip-mirip Kepulauan Seribu, Jakarta, sebagian besarnya tenggelam karena banjir dari laut dan hanya ada beberapa munculan daratan di sana-sini. Ketika air laut surut, muncullah Pulau Jawa yang kita kenal sekarang ini dengan bentuk seperti saat ini. Hati-hati, jangan bikin banyak dosa, Pulau Jawa bisa dbanjiri air laut lagi.

            Para ahli telah menemukan fosil-fosil binatang masa lalu yang pernah terkubur dan tenggelam dalam laut. Fosil-fosil ini ditemukan di daerah Cijulang, Jawa Barat. Akan tetapi, anehnya sampai hari ini tidak pernah ditemukan fosil-fosil manusia purba di daerah Sunda. Hal itu membuat bingung para peneliti. Pasti bingung para peneliti itu. Hal itu disebabkan mereka terpenjara oleh pikirannya Darwin, yaitu harus ada perkembangan dari bentuk fisik manusia lama dari monyet ke bentuk manusia saat ini.

            Saya sekarang sulit percaya bahwa manusia purba itu ada. Banyak sekali yang ternyata ketahuan bohong dan palsu. Banyak sekali struktur kerangka yang dibuat-buat menyerupai manusia, malah dibuat secara sengaja menggunakan gips hanya untuk memperkuat kebohongan dugaan Darwin. Paling mungkin, kalau benar ada, hanyalah eksistensi makhluk tertentu yang bentuknya mirip manusia, tetapi bukan manusia. Mereka hanyalah makhluk yang bisa dikatakan mirip fisik manusia yang masa hidupnya sudah selesai dan dimusnahkan oleh Allah swt untuk kemudian diganti oleh kehidupan masa sekarang ini. Mereka bukanlah nenek moyang manusia. Mereka hanyalah segerombolan makhluk yang hidup pada periode tertentu dan musnah pada waktu yang sudah ditetapkan Allah swt. Seperti kita juga segerombolan manusia dalam jumlah miliaran yang akan dimusnahkan pada waktunya nanti.

            Berdasarkan penemuan benda-benda bersejarah di tanah Sunda, para peneliti melihat keanehan luar biasa. Tiba-tiba saja para peneliti dihadapkan pada kemunculan kehidupan yang sudah padat penduduk, ramai, hiruk pikuk, perdagangan, perbengkelan, dan adanya hubungan internasional. Para peneliti tidak melihat adanya kehidupan kuno dengan keterbelakangan kecerdasan. Mereka justru melihat adanya kehidupan yang sudah mengenal lapisan sosial dengan adanya penguasa dan rakyat yang dikuasai.

            Dalam tulisan Setyawati (1991), disebutkan bahwa di Anyer, Banten, ditemukan banyak besi dan perunggu. Bahkan, ada kuburan orang-orang dengan jabatan tinggi yang dikubur dalam tempayan-tempayan besar berbahan logam.

            Di seputar Danau Bandung ditemukan pula alat cetak kapak perunggu. Oleh sebab itu, tak heran di tanah Sunda ini banyak ditemukan genderang dan kapak yang terbuat dari perunggu.

            Adanya penemuan perunggu ini menguatkan dugaan keras bahwa memang leluhur orang Sunda atau manusia Sunda awal yang diciptakan Allah swt adalah memang benar manusia yang diberi pengetahuan langsung oleh Allah swt tanpa proses belajar  mengenai pengolahan logam. Oleh sebab itu, orang ini dikenal masyarakat sebagai seorang pandai besi. Soal ini, insyaallah, kita akan terjemahkan dulu dari tulisan lain yang berbahasa Inggris. Santai.

            Di samping perunggu-besi, di Danau Bandung dan di Danau Cangkuang, Kabupaten Garut pun ditemukan banyak batu kecil yang terbuat dari batu obsidian yang diperkirakan berasal dari Nagrek, Kabupaten Bandung. Batu-batu itu merupakan pisau kecil untuk mengerok (scraper).

            Banyaknya penemuan di sekitar danau-danau menunjukkan bahwa sudah adanya pemukiman yang ramai penduduk. Para penduduknya hidup dari memancing, berburu, menggali umbi-umbian, memetik sayuran, dan buah-buahan. Tinggal di seputar danau adalah kemewahan tersendiri karena selalu ada air dan bahan makanan. Ketika penduduk makin padat di seputar danau, kehidupan pun berkembang ke tempat-tempat lainnya, dimulailah adanya bercocok tanam serta beternak kambing, ayam, kerbau, dan memelihara anjing.

            Penemuan adanya bengkel-bengkel kapak batu dan perunggu pun menunjukkan bahwa penduduk saat itu sudah padat dengan interaksi dalam frekwensi yang sangat tinggi. Di Leuwiliang ditemukan banyak bengkel kapak batu. Di bengkel itu konsumen dibuatkan kapak kasar yang belum dipoles. Kapak itu lalu dipikul ke perkampungan dan ke rumah masing-masing untuk kemudian dipoles, diperhalus, dan diasah oleh konsumen masing-masing.

            Adanya peralatan kapak batu, perunggu, berikut bengkel-bengkelnya menunjukkan terjadinya pula perdagangan dan interaksi internasional. Orang-orang Sunda melakukan hubungan internasional itu dengan Yunani, India, Vietnam, dan Cina.

            Dalam hal makanan, orang Sunda sudah lebih dulu lebih maju dibandingkan daratan lainnya. Ketika makanan di tempat lain masih berupa tales (taro), orang Sunda sudah memiliki makanan utama (staple food) beras. Hal itu bisa dilihat dari kesuburan tanahnya dan berada di jalur perdagangan antara Cina dan India. Hal ini pun menguatkan keyakinan bahwa memang benarlah Nabi Prabu Siliwangi as adalah orang pertama yang dipercaya Allah swt untuk menanam bibit padi pertama di muka Bumi ini. Baca tulisan saya yang berjudul Nabi Prabu Siliwangi Alaihissalam.


Mengubah Cara Pandang
Ilmu pengetahuan itu berkembang. Apabila ditemukan bukti baru, pemikiran baru, dan pemahaman baru yang lebih kuat dan akurat, sudah seharusnya meninggalkan pemikiran yang lama. Jika pemikiran lama tidak juga ditinggalkan, jatuhlah kita pada doktrin yang akan membuat diri kita terpenjara dan tidak pernah berkembang.

            Sudah seharusnya kita meninggalkan pemahaman yang terkait dengan Darwinisme bahwa manusia dan makhluk hidup itu berkembang dari tidak tahu menjadi tahu, dari satu sel menjadi banyak sel; Nabi Adam as adalah manusia pertama; orang Indonesia selalu terbelakang serta harus selalu meniru bangsa lain, dan lain sebagainya. Allah swt sudah banyak memberikan penjelasan. Oleh sebab itu, jangan banyak menduga-duga dengan hawa nafsu jika Allah swt sudah memberikan keterangan.

            Orang Sunda sudah langsung diciptakan modern. Demikian pula orang Jawa, Bugis, Batak, Makasar, dan suku-suku bangsa di dunia ini. Setiap pasang suami istri yang diciptakan pertama kali sebagai leluhur sukunya masing-masing sudah dilengkapi pengetahuan tertentu, bahasa tertentu, fisik tertentu, dan tantangan hidup tertentu.

            Hal ini bisa dilihat dari QS Al Hujurat 49 : 13.

            “Wahai Manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh Allah Maha Mengetahui dan Maha Teliti.”

            Tak ada perkembangan dari manusia purba ke manusia masa kini. Setiap jenis makhluk sudah ditetapkan awal kejadiannya dan akhir kemusnahannya.


            Sampurasun.