Showing posts with label Sundaland. Show all posts
Showing posts with label Sundaland. Show all posts

Saturday, 22 April 2017

Bahasa Sansakerta Tidak Dipahami Masyarakat India

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Pada tulisan yang lalu saya menduga keras bahwa bahasa Sansakerta adalah bahasa yang berasal dari Indonesia. Bahasa ini mati atau hampir mati disebabkan para penggunanya dihancurkan oleh Allah swt dalam bencana mahadahsyat yang menghancurkan Benua Sundaland yang megah hingga menjadi 17.000 serpihan-serpihan berbentuk kepulauan seperti sekarang ini yang bernama Indonesia.

            Dugaan keras saya itu sekarang semakin mengeras berlipat-lipat kali dan hampir menuju keyakinan yang pasti bahwa memang bahasa Sansakerta itu berasal dari Indonesia dan  bukan dari India. Saya tidak bermaksud merendahkan, menghina, atau mengecilkan para ahli, para doktor, para profesor, dan para peneliti yang dulu sampai sekarang masih berpendapat bahwa bahasa Sansakerta berasal dari India. Kita harus memahami bahwa ilmu pengetahuan itu berkembang dan terus berubah menjadi lebih baik apabila ditemukan bukti-bukti baru yang lebih akurat, tajam, dan terpercaya. Akan tetapi, akan menjadi sebuah kebodohan jika tetap mempertahankan pendapat lama, padahal pendapat lama itu sudah usang karena ditemukan bukti-bukti baru yang membantahnya. Hal ini berlaku bagi pengetahuan apa pun tanpa kecuali. Para ahli mengatakan bahwa bahasa Sansakerta berasal dari India disebabkan data-data dan fakta-fakta yang mereka temukan saat itu masih terbatas, sekarang kita menemukan kenyataan lain bahwa ternyata Indonesia dulunya adalah Benua Sundaland yang sangat megah, besar, maju, dan berteknologi tinggi. Sudah merupakan keharusan bagi para ahli mengikutsertakan eksistensi Benua Sundalad beserta kehidupannya dan kehancurannya sebagai bagian dari kronologis hidup bangsa Indonesia, kemudian merekonstruksi pemahaman-pemahaman sejarah ke arah yang lebih baik dan lebih benar.

            Keyakinan saya mengenai bahasa Sansakerta berasal dari Indonesia pun karena ada kenyataan lain yang berbeda, yaitu bahwa masyarakat India pun sejak dulu tidak menggunakan bahasa Sansakerta sebagai alat untuk berkomunikasi. Dr. Partini Sardjono dalam artikelnya Peranan Sastra Nusantara Kuna dalam Alam Pembangunan Nasional (1991) menjelaskan bahwa bahasa Sansakerta di India dulu pun hanya digunakan di kalangan terbatas, yaitu digunakan untuk ilmu pengetahuan, sastra, agama, dan di istana. Akan tetapi, tidak jelas digunakan dalam agama apa. Partini Sardjono tidak menyebutkan agama apa yang menggunakan bahasa Sansakerta di India. Adapun agama Budha sendiri di India menggunakan bahasa Pali. Orang-orang India sendiri untuk berkomunikasi menggunakan bahasanya daerahnya masing-masing. Bahasa Sansakerta sendiri disebut-sebut sebagai bahasa Dewa, yaitu Devanagari. bahasa kalangan tinggi yang memiliki kekuasaan tinggi, baik lahir maupun batin. Bahasa para Dewa di negara para Dewa. Adapun wilayah yang mendapat sebutan negara para Dewa adalah berada di Indonesia, Jawa Barat, yaitu Parahyangan, Para Hyang. Parahyangan artinya adalah tempat para Dewa bersemayam. Adapun Bali meskipun disebut Pulau Dewata bukanlah tempat yang dimaksud negara para dewa itu karena istilah itu baru muncul belakangan dan menggunakan bahasa Indonesia. 

            Adalah suatu hal yang tidak bisa dimengerti jika dikatakan bahwa bahasa Sansakerta berasal dari India, kemudian masuk ke Indonesia, tetapi di India sendiri tidak dipahami masyarakatnya secara umum. Di samping itu, tidak pernah ada kisah atau catatan sejarah bahwa antara kerajaan-kerajaan Indonesia dengan kerajaan-kerajaan India terjadi saling mempengaruhi secara akrab atau melalui konflik. Berbeda dengan Arab yang memiliki banyak kisah dan catatan sejarah yang akrab dengan Indonesia.

            Hal yang paling masuk akal adalah berdasarkan peta yang dibuat oleh Prof. Dr. Edi S. Ekadjati bahwa pada masa lalu India itu hanyalah sebuah kadipaten dari Kerajaan Sunda yang jelas berada di Sundaland. Sebagai sebuah wilayah kaadipatian dari kekuasaan Kerajaan Sunda, India jelas mendapatkan pengaruh yang sangat besar dari Sundaland dalam hal bahasa, agama, politik, ekonomi, dan sosial. Agama dan bahasa dari Sundaland berpengaruh besar dan masuk menyebar ke India. Oleh sebab itulah, bahasa Sansakerta masuk dari Indonesia ke kalangan istana, rohaniwan, dan intelektual India. Akan tetapi, karena Sundaland dihukum Allah swt melalui bencana besar yang membuatnya menjadi kepulauan, para pengguna bahasa Sansakerta di Indonesia pun ikut musnah, kecuali sedikit yang diingat oleh orang-orang lemah, tetapi masih beriman. Baca tulisan saya yang lalu berjudul Indonesia dalam Pandangan Allah swt. Adapun India meskipun mendapatkan juga bencana besar, menurut para ahli, kerusakannya tidak separah Benua Sundaland. Itulah yang menyebabkan bahwa bahasa Sansakerta di Indonesia hanya tinggal beberapa kata yang digunakan untuk nama gedung dan atau spirit lembaga-lembaga yang terkait dengan pemerintahan. Adapun di India para pengguna bahasa Sansakerta tidak semusnah seperti yang terjadi kepada para pengguna bahasa Sansakerta di Indonesia.


            Sampurasun.

Thursday, 20 April 2017

Semua Rusak Akibat Ingkar Janji

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Kerusakan di dunia ini hampir seluruhnya diakibatkan oleh perilaku ingkar janji. Sebuah bangsa, negara, sekelompok orang, sekeluarga, pertemanan, persahabatan, bahkan sejarah kehidupan daratan dan lautan di seluruh muka Bumi ini rusak karena perilaku ingkar janji.

            Janji yang telah diucapkan akan menjadi kesepakatan. Kesepakatan itu berubah menjadi peraturan yang harus ditaati. Apabila peraturan tidak ditaati, terjadilah pelanggaran yang akan mengakibatkan jatuhnya sanksi.

            Pelanggaran janji yang pertama kali kita kenal adalah pelanggaran janji yang dilakukan Adam-Hawa. Mereka sudah berjanji untuk tidak akan memakan “buah terlarang”. Akan tetapi, janji itu mereka langgar. Akibatnya, mereka harus turun dari surga dan harus berjuang memenuhi kebutuhan hidupnya jauh lebih sulit dibandingkan ketika dilayani para malaikat di surga.

            Penurunan kejayaan Kerajaan Sunda yang mengalami masa kegemilangannya pada masa Sundaland pun akibat dari pelanggaran terhadap janji. Prabu Siliwangi as dan masyarakat Sundaland sudah berjanji tidak akan memperjualbelikan “padi” atau “beras”. Makanan itu hanya digunakan sebagai bakti kepada manusia dan kemanusiaan. Gratis. Ketika janji itu dipenuhi, rakyat pun hidup dalam kemakmuran luar biasa. Segala bidang kehidupan berkembang pesat dengan sangat cepat. Kemegahan dan ketinggian teknologi begitu mengagumkan dan tidak bisa dipahami manusia hingga hari ini. Bangunan-bangunan megah masa lalu yang kemudian muncul secara “ajaib” di Indonesia pada masa ini masih dipelajari peneliti karena rumitnya konstruksi dan sulitnya memperkirakan cara pembuatannya. Dalam hal makanan, tidak pernah kekurangan. Sebanyak apa pun beras diambil dari gudang, seolah-olah tumpukannya tidak pernah turun, tidak pernah berkurang.  Itulah yang disebut-sebut dengan leuit Pajajaran pinuh, ‘lumbung padi Pajajaran selalu penuh’. Sebelum manusia “melanggar janji”, segala sesuatunya serba sempurna, terutama tentang buah padi yang dijadikan makanan yang dapat diambil dengan sangat enteng tanpa susah payah (cf. Archaimbault, 1973 : 80-81, 113, 124, dan 229-231 dalam V. Sukanda-Tessier, 1991).

            Sayangnya, pada generasi-generasi berikutnya, janji itu dilanggar. Seorang permasuri Sunda terbujuk rayu oleh pebisnis asal Cina yang terus-terusan ingin membeli padi/beras. Awalnya, ditolak dan selalu ditolak. Akan tetapi, bujukan pebisnis itu benar-benar kuat. Akhirnya, terjadilah transaksi jual-beli beras/padi. Akibatnya, jatuhlah hukuman dari Allah swt. Hukuman itu adalah jelas sekali bahwa persediaan padi/beras semakin menyusut drastis dan terus berkurang, laki-laki harus bekerja dua kali lipat untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, dan perempuan harus berletih-letih membantu laki-laki untuk bekerja mencari nafkah. Padahal, sebelumnya segalanya serba mudah, enteng, dan menyenangkan, makanan banyak, dan perempuan tidak perlu bekerja, perempuan hanya perlu mempercantik diri untuk menyenangkan para laki-lakinya dan menunggu para pria di kaputren atau di taman-taman indah.

            Akibat dari kondisi kehidupan yang menurun, terjadi banyak pelanggaran-pelanggaran janji berikutnya. Janji untuk tetap rajin beribadat dan mengagungkan Allah swt, dilupakan dan diingkari. Janji untuk saling menjaga dan saling mengisi, berubah menjadi saling bersaing. Janji untuk saling menyayangi dan saling melindungi berubah menjadi saling menguasai. Janji untuk melindungi perempuan berubah menjadi memperalat perempuan. Janji untuk tidak musyrik berubah menjadi kafir, bahkan menyembah berhala dan mengikuti Iblis.

            Pelanggaran-pelanggaran yang terus terjadi itu membuat murka Allah swt terwujud. Hancurlah Benua Sundaland yang megah dan gagah perkasa itu menjadi berkeping-keping berbentuk kepulauan yang bernama Indonesia.

            Pelanggaran-pelanggaran terhadap janji ini terjadi di seluruh dunia, baik di Arab, Eropa, Afrika, maupun Asia. Di seluruh pelosok dunia ada nabi. Janji-janji manusia lewat para nabi inilah yang dilanggar dan diingkari akibat hawa nafsu yang berlebihan dan kurangnya kesabaran manusia dalam menghadapi kehidupan.

            Seandainya kita semua dapat memegang janji kita, baik janji kecil maupun janji besar, baik kepada seseorang, sekelompok orang, maupun kepada Allah swt, niscaya hidup kita akan baik-baik saja. Kekusutan hidup kita sebenarnya akibat banyaknya janji dan kesepakatan yang kita langgar sendiri.

            Bahkan, kita semua, seluruh manusia sudah berjanji untuk hanya menyembah satu Tuhan, yaitu Allah swt, tetapi banyak yang melanggarnya. Oleh sebab itu, Allah swt menurunkan para nabi untuk mengingatkan kita atas janji kita yang hanya menyembah Tuhan Yang Satu. Jika janji itu kita tepati, kita akan baik-baik saja. Jika janji itu diingkari, wajar jika hidup kita kusut.

            Janji kita kepada Allah swt diabadikan dalam Al Quran.

            “Ingatlah ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman), ‘Bukankah Aku ini Tuhanmu?’

            Mereka menjawab, ‘Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.’

            (Kami lakukan yang demikian itu) agar kamu di hari kiamat tidak mengatakan, ‘Sesungguhnya, kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lupa terhadap ini (keesaan Tuhan).’” (QS Al Araaf 7 : 172)

            Karena kejadian ini sudah sangat lama, manusia lupa sama sekali. Saking lupanya, banyak manusia yang tidak percaya terhadap kejadian dirinya pernah bersumpah di hadapan Allah swt. Banyak manusia yang mengatakan bahwa itu hanya dongeng dan bohong belaka. Hanya karena lupa, mereka mengingkari janjinya.

            Allah swt tahu bahwa manusia pasti akan lupa. Oleh sebab itu, Allah swt mengingatkan kembali peristiwa itu melalui para nabi. Ayat ini pun merupakan pengingat bagi manusia agar kembali pada janjinya yang dulu.

            Lupa, kan?

            Pasti lupa.

            Manusia memang mudah lupa karena saking panjangnya peristiwa yang harus dialami.

            Bagi mereka yang mengingkari atau tidak percaya bahwa dirinya pernah bersumpah di hadapan Allah swt, saya punya pertanyaan, “Ketika kalian berusia lima tahun, pada hari Rabu, celana kalian berwarna apa?”

            Masih ingat warna celana kalian saat itu?

            Lupa, kan?

            Iya, kan?

            Warna celana ketika kita berusia lima tahun saja lupa, apalagi peristiwa yang terjadi ketika fisik kita masih berupa sperma ayah kita dan belum menyentuh sel telur ibu kita. Saat sperma ayah kita keluar, ruh kita yang akan dimasukkan ke dalam sperma yang bergabung dengan sel telur ibu kita, bersumpah kepada Allah swt bahwa hanya akan menyembah Tuhan Yang Satu, Tuhan yang menciptakan kita, yaitu Allah swt dalam bahasa Arab dan bisa sebutan lain dalam bahasa lain, tetapi semuanya berujung kepada Tuhan Yang Maha Esa.

            Supaya hidup kita baik-baik saja di dunia dan di akhirat, penuhi janji kita untuk tetap ber-Tuhan Yang Satu. Laksanakan segala perintah-Nya, jauhi segalah hal yang dilarang-Nya.


            Sampurasun.

Friday, 14 April 2017

Kejayaan Sunda Masa Sundaland

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Ada lagi bukti penemuan prasejarah yang menunjukkan bahwa orang Sunda sudah melakukan berbagai hubungan internasional dengan negeri-negeri yang sangat jauh. Hal itu menandakan bahwa pada masa Benua Sundaland sebelum hancur menjadi negeri kepulauan bernama Indonesia ini masyarakat Sunda hidup dalam kemakmuran luar biasa dengan keramaian penduduknya.

            Dr. Hasan Muarif Ambary dalam Karangan Penunjang ke-10 berjudul Refleksi Budaya Sunda Dillihat dari Pengamatan Temuan Arkeologi (1986) menuturkan bahwa sebuah situs kuno dari tradisi prasejarah salah satunya adalah situs Buni dan situs Cipari. Situs Buni telah diketahui melalui penelitian arkeologi merupakan sebuah pemukiman masyarakat kuno di Pantai Utara Jawa Barat membentang dari Karawang hingga Tanggerang. Bentangan tersebut dilihat dari gerabahnya merupakan satu kontek budaya yang sama (Sutayasa, 1972 : 182). Di situs itu ditemukan benda sangat penting yang disebut Romano Indian Rouletted, sebuah fragmen gerabah yang merupakan bahan komoditi perdagangan kuno berasal dari Romawi.

            Ditemukannya pemukiman padat penduduk yang membentang dari Karawang hingga Tanggerang serta adanya komoditi perdagangan dari Romawi menunjukkan adanya kehidupan yang ramai dalam frekwensi mobilitas tinggi dan kemakmuran penduduknya, baik dari hasil alam berupa laut, kebun, hutan, dan gunung, maupun dari perdagangan internasional. Hal ini pun menguatkan pandangan bahwa memang di Indonesia-lah sebenarnya Atlantis itu berada.

            Ketika kejayaan dan kemakmuran demikian tingginya, orang-orang lupa dengan ajaran para nabi, seperti, Nabi Prabu Siliwangi as, Nabi Sulaeman as, dan Nabi Daud as. Bahkan, bukan hanya lupa, melainkan menjauh dari Allah swt, kemudian mengikuti ajaran Iblis. Oleh sebab itu, Allah swt murka dan menghancurkan Benua Sundaland yang megah itu menjadi 17.000 pulau lebih yang kini bernama Indonesia. Untuk lebih jelasnya, baca tulisan saya yang lalu berjudul Indonesia dalam Pandangan Allah swt.

            Penemuan pemukiman ramai dan barang dagangan dari Romawi itu pun menunjukkan kesalahan dari dugaan Darwin. Para pengikut Darwin selalu berpandangan bahwa manusia itu berasal dari makhluk bersel satu dan berkembang hingga menjadi sekarang ini. Penemuan adanya budaya yang sama dalam keadaan ramai dan padat seperti yang ditemukan peneliti tanpa adanya penemuan manusia purba dan atau bentuk fisik manusia yang sedang berubah dari monyet menjadi manusia di tanah Sunda sudah menegaskan kesalahan Darwin. Hal yang benar adalah sesungguhnya sebagaimana yang diinformasikan oleh Allah swt dalam QS Al Hujurat 49 : 13.

            “Wahai Manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh Allah Maha Mengetahui dan Maha Teliti.”

            Dari ayat tersebut, kita dapat memahami bahwa Allah swt menciptakan manusia itu bersuku-suku dan berbangsa-bangsa dengan karakteristik masing-masing serta kecerdasan intelektual, spiritual, dan emosional juga yang masing-masing. Manusia diciptakan berbeda secara fisik, mental, intelektual, emosional, dan spiritual. Hal  itu dimaksudkan Allah swt untuk saling mengenal sehingga dapat saling belajar, saling mengisi, dan saling membantu dalam menyempurnakan hidup dan kehidupan yang diciptakan Allah swt.

            Orang Sunda, Jawa, Minang, Batak, Papua, dan seluruh suku bangsa di dunia ini memiliki leluhur masing-masing, memiliki sepasang suami istri masing-masing yang merupakan awal dari suku bangsa itu. Di wilayah setiap suku ada tempat yang merupakan lokasi bagi Allah swt dalam menciptakan pasangan awal suami istri yang melahirkan suku bangsa mereka. Dari pasangan awal itulah lahir suku bangsanya yang khas dengan segala karakteristiknya sesuai dengan kehendak Allah swt.

            Allah swt memberikan contoh penciptaan sepasang suami-istri ini sebagaimana penciptaan Adam-Hawa. Adam-Hawa adalah leluhur pertama bagi sukunya sendiri dan bukan leluhur seluruh manusia.

            Penemuan pemukiman manusia dalam satu kontek budaya yang sama pun menegaskan “kesalahan” berbagai dugaan yang selama ini berkembang dan dikembangkan bahwa orang Indonesia merupakan para pendatang dari negeri-negeri lain. Banyak sekali buku sejarah yang menulis bahwa orang Indonesia ini merupakan pendatang dari bangsa Yunan, Cina tanpa memberikan bukti yang benar.

            Coba terangkan kepada saya ahli sejarah mana saja di dunia ini yang dapat menjelaskan bahwa jika bangsa Indonesia berasal dari Yunan, Cina, mengapa perilaku dan tradisi Yunan tidak pernah ada pada bangsa Indonesia?

            Mengapa tak ada jejak keyakinan suku Yunan, Cina pada penduduk pribumi Indonesia?

            Mengapa pula bangsa Indonesia tidak pernah menggunakan bahasa Yunan?

            Ada masalah apa antara antara bangsa Indonesia dengan leluhurnya dari Yunan sehingga tidak sudi lagi menggunakan bahasa Yunan?

            Tak ada jejak signifikan penggunaan bahasa Yunan di Indonesia. Orang Indonesia menggunakan bahasa ibunya masing-masing dan kini sepakat menjadikan bahasa Indonesia menjadi bahasa nasional, bahasa persatuan.

            Ke mana bahasa Yunan?

            Saya menunggu penjelasan atas itu.

            Kalau tidak ada yang bisa menjelaskan dan memang tidak akan pernah ada yang bisa menjelaskan, penjelasan dari Allah swt adalah yang paling benar. Mahabenar Allah swt dengan segala firman-Nya.

            Saya memahami penjelasan dari Allah swt adalah bahwa setiap suku di dunia ini memiliki sepasang suami-istri khusus yang diciptakan Allah swt sebagai leluhur mereka dengan fisik berbeda, bahasa berbeda, tantangan hidup berbeda, watak berbeda, serta dibekali modal pengetahuan minimal yang berlainan sesuai dengan tantangan hidup masing-masing. Untuk kebutuhan keberlangsungan hidup, Allah swt menciptakan alam sekitarnya agar modal minimal pengetahuan manusia itu dapat memanfaatkannya. Perbedaan suku-suku sengaja diciptakan agar manusia dapat saling belajar antara satu dengan yang lainnya agar tercipta kehidupan saling membantu dan saling mengisi dalam menyempurnakan kehidupan sebagaimana yang direncanakan Allah swt.

            Sepasang suami-istri Sunda melahirkan anggota-anggota sukunya, lalu berkembang dan belajar sepanjang hidupnya sehingga makmur dan kaya raya atas izin Allah swt. Semua suku di Indonesia pun seperti itu diciptakan Allah swt. Akan tetapi, sayang sekali orang-orang Indonesia yang sudah kaya raya, cerdas, kuat itu harus dihancurkan Allah swt karena terlalu banyak dosanya kepada Allah swt. Mereka yang lemah dan selamat dari hukuman Allah swt adalah orang-orang miskin dan terhina, tetapi tetap beriman dalam kehidupan masa Sundaland dengan jumlah sedikit yang kembali mencoba hidup baru dan berkembang sampai saat ini dalam kondisi wilayahnya sudah menjadi kepulauan berjumlah lebih dari 17.000 pulau bernama Indonesia. Kita adalah keturunan mereka.

            Sampurasun.

Tuesday, 11 April 2017

Agama Sang Prabu

oleh Tom Finaldin

Bandung, Putera Sang Surya
Hasil dari penelusuran saya pribadi yang menyandingkan antara Al Quran dengan sosok Prabu Siliwangi menghasilkan simpulan bahwa Prabu Siliwangi adalah nabi kepercayaan Allah swt yang ditugaskan untuk menyebarkan Islam pada masa Sundaland. Nama agamanya belum disebut Islam saat itu, melainkan Sunda Wiwitan. Inti ajarannya adalah tauhid, praktiknya adalah budi pekerti dan kehalusan hati untuk mencapai kebahagiaan dunia akhirat. Jadi, ajaran Sunda Wiwitan merupakan dasar-dasar akhlak Islam pra-Muhammad saw yang kemudian disempurnakan oleh ajaran Islam Muhammad saw.

            Hasil penelusuran saya tersebut ternyata mendapatkan penguatan dari “pernyataan tulus” seorang peneliti yang bernama Dr. Nurhadi Magetsari. Ketika pemerintah Provinsi Jawa Barat bekerja sama dengan Ecole Francaise D’Extreme-Orient-Pusat Penelitian Arkeologi Nasional mengadakan seminar Sejarah dan Tradisi tentang Prabu Silihwangi, Dr. Nurhadi Magetsari diberi tugas untuk mengungkapkan agama yang ada di tanah Sunda sebelum Islam.

            Dengan jujur dan bahasa yang tulus ia mengatakan, “Panitia pengarah telah menugaskan kepada saya untuk mengungkapkan agama yang berkembang sebelum Islam, khususnya yang didasarkan atas naskah-naskah Cariosan Prabu Silihwangi, Carita Pakuan, serta Bujangga Manik. Setelah mempelajari ketiganya secara sekilas, ternyata bahwa data yang berkenaan dengan Agama Buddha maupun Hindu yang dimuat dalam ketiga naskah itu hampir-hampir tidak ada.”

            Pernyataan Dr. Nurhadi Magetsari dalam makalahnya Kultus Dewa Raja Yang Didapat dari Cariosan Prabu Silihwangi (1991) tersebut menandakan bahwa dirinya kesulitan untuk mengambil simpulan apakah Prabu Siliwangi itu beragama Hindu atau Buddha karena sebelumnya banyak sarjana dari Belanda dan Inggris yang menduga bahwa Prabu Siliwangi beragama Hindu atau Buddha Tantra. Ia lebih jujur dibandingkan para sarjana Belanda dan Inggris itu. Ia tidak memaksakan kehendak jika memang tidak ada datanya. Ia tidak mau menyebarkan hoax tentang Prabu Siliwangi untuk alasan apa pun.

            Dua jempol untuk Nurhadi!

            Meskipun kesulitan, Nurhadi tetap mencoba menelusurinya dan hasilnya, cukup kalang kabut. Ia sendiri tampak bingung karena banyaknya masalah dalam naskah.

            Karena sebelumnya para sarjana Belanda dan Inggris berpendapat bahwa Prabu Siliwangi beragama Hindu dan atau Budha Tantra serta ada kalimat-kalimat dalam Carita Pakuan yang diperkirakan agak mirip kata-kata dalam Hindu, Nurhadi mencoba menelusurinya melalui agama Hindu. Padahal, kata-kata yang dipakai agak mirip saja  sangat tidak cukup untuk menyatakan seseorang beragama tertentu. Seperti kita saat ini, kata-kata wafat, shodaqoh, almarhum, almarhumah, insyaallah, dan masih banyak lagi digunakan oleh semua orang, baik muslim, Kristen, Hindu, Budha, Konghucu, ataupun penganut agama lokal. Seseorang yang mengucapkan kata almarhum untuk menyatakan kematian seseorang, sangat tidak tepat jika dipastikan seseorang itu beragama Islam hanya karena kata-kata itu berasal dari kaum muslimin. Kata-kata itu bukan menentukan agama seseorang, melainkan kebiasaan berbahasa di lingkungan tertentu.

            Hal itulah yang membuat Nurhadi merasa kebingungan dalam isi makalahnya. Ketika ia menelusuri agama Prabu Siliwangi lewat jalur Hindu, tampaknya seperti benar, misalnya, Prabu Siliwangi berguru pada beberapa ahli agama, lalu mempraktikan agama dengan ketat dan menghayati dharma. Sampai akhirnya ia mencapai puncaknya dengan gelar Dewa Raja yang tampan mirip Dewa Wisnu.

            Istilah Dewa Raja itu kalau dalam Islam mirip dengan Ulama-Umaro. Dewa berarti dia Tuhan atau kepercayaan Tuhan. Raja berarti dia pemimpin manusia. Dewa Raja bisa diartikan Tuhan yang menjelma menjadi manusia untuk memimpin manusia atau manusia yang diangkat Tuhan untuk menjadi pemimpin manusia.

            Keanehan dan kekusutan muncul ketika Prabu Siliwangi menuntut ilmu “kelepasan” pada Wairocana. Wairocana sendiri merupakan salah satu Tathgata yang tertinggi dari aliran Buddha Mahayana, khususnya ajaran Mantrayana.

            Nurhadi mengatakan bahwa ini sebuah masalah. Oleh sebab itu, ia tidak berani menyimpulkan apakah Prabu Siliwangi beragama Hindu atau Buddha Tantra.

            Sangatlah tidak mungkin jika Prabu Siliwangi beragama Hindu sehingga mencapai puncaknya menjadi mirip Dewa Wisnu dengan segala keagungannya, kemudian mempraktikkan ajaran Budha.

            Dr. Nurhadi sendiri mempertanyakan hal itu, “Mengapa manusia yang sudah mencapai tingkat kedewaan juga diterangkan masih menempuh dan kemudian mencapai kebudhaan?”

            Bagi kita yang hidup pada zaman ini. Hal itu jelas merupakan kekacauan.

            Bagaimana mungkin orang bisa mempraktikan dua agama sekaligus, yaitu Hindu dan Budha?

            Kalau mengikuti hukum positif saat ini, perilaku mengamalkan dua ajaran agama sekaligus, bisa dihukum penjara karena akan ada orang yang tersinggung, lalu melaporkannya sebagai tindakan penghinaan, penodaan, penistaan, ataupun pelecehan terhadap agama tertentu. Orang ini bisa dituding kafir, sesat, dan bidah.

            Hal itu sangat bertentangan dengan sosok Prabu Siliwangi yang penuh keagungan dan keluhuran. Artinya, tidak mungkin Prabu Siliwangi memeluk dua agama sekaligus. Tidak mungkin pula Prabu Siliwangi pindah agama setelah sukses menjadi Dewa Raja dalam agama Hindu, lalu meneruskan belajar menjadi Budha supaya karirnya meningkat.

            Memangnya kuliah?

            Habis S1 terus S2?

            Supaya gelar, kedudukan, dan honornya naik?

            Ada dua penjelasan untuk kekusutan tersebut. Pertama, naskah-naskah kunonya sendiri sudah kalang kabut dalam arti tidak murni karena ditulis oleh para juru pantun yang mendapatkan pengaruh dari penguasa. Kedua, para peneliti tidak memahami ajaran Islam dan Sunda Wiwitan dengan baik.

            Praktik-praktik keagamaan yang dilakukan Prabu Siliwangi sebetulnya sudah ada dalam ajaran Islam, misalnya, uzlah (memisahkan diri dari keramaian), menuntut ilmu, khalwat, shaum, dzikir, riyadhoh, bangun malam, dan lain sebagainya. Sesungguhnya, tapa laku yang dilakukan Prabu Siliwangi tak lain dan tak bukan adalah dalam rangka mengamalkan ajaran Islam pra-Muhammad saw, yaitu ajaran Sunda Wiwitan. Memang dalam praktik lahiriahnya banyak hal yang sama dengan Hindu dan Budha yang juga mengenal pengekangan diri untuk mencapai kesempurnaan.

            Hal yang sangat menyesatkan adalah anggapan yang sangat keliru bahwa Islam adalah agama yang berasal dari Arab. Oleh sebab itu, karena bahasa dan kalimat yang digunakan bukan berbahasa Arab, disebutlah bukan Islam. Padahal, Allah swt tidak pernah mengatakan bahwa Islam berasal dari Arab dan nabi harus selalu berasal dari Arab atau Timur Tengah. Nabi itu ada di seluruh penjuru dunia dengan bahasa sukunya masing-masing di kalangan umatnya masing-masing. Di situ ada sebuah bahasa tertentu, di situlah ada nabi. Di situ ada umat, di situlah ada nabi. Untuk lebih jelasnya, baca tulisan saya yang berjudul Nabi Prabu Siliwangi Alaihissalam.

            Jadi, Prabu Siliwangi itu adalah nabi yang mengajarkan Islam pra-Muhammad saw dengan nama agama Sunda Wiwitan. Ia hidup pada masa Sundaland. Karena sepeninggal Nabi Prabu Siliwangi, Daud as, Sulaeman as, dan nabi-nabi lain orang-orang Indonesia ini melakukan dosa-dosa besar, dihancurkanlah dunianya oleh Allah swt.

            Itulah salah satu kesulitan kita dalam memahami Prabu Siliwangi, termasuk sejarah Indonesia secara keseluruhan. Peninggalan kebesaran masa lalu kita banyak yang tenggelam dan terkubur akibat kemurkaan Allah swt melalui bencana mahadahsyat yang menghancurkan Benua Sundaland menjadi kepulauan bernama Indonesia.                 

            Sampurasun.

Harta Karun Zaman Yang Hilang

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Seringnya, dalam membaca sejarah berdasarkan penggalian-penggalian situs purbakala, banyak sekali tulisan yang menyatakan penemuan-penemuan barang berharga dari kejayaan masa lampau di dunia ini, khususnya di Indonesia. Akan tetapi, selalu saja ada harta atau peninggalan yang hilang dari hasil penemuan para peneliti itu. Harta yang hilang itu seiring dengan zaman yang hilang, yaitu emas, permata, berlian, mutiara, dan barang berharga lainnya yang masih memiliki nilai tinggi pada masa ini. Kita terlalu sering mendapatkan tulisan sejarah hasil penggalian yang menemukan peninggalan barang-barang berbahan batu, kuningan, perunggu, dan logam murah lainnya. Akan tetapi, teramat jarang, bahkan mungkin hampir tidak pernah kita mendapatkan hasil penggalian peninggalan masa lalu yang berupa perhiasan terbuat dari emas, permata, berlian, mutiara, dan barang lain yang masih memiliki nilai tinggi. Kita hanya disuguhi berbagai penemuan barang-barang yang kurang berharga atau sulit sekali dijual pada masyarakat umum, sedangkan emas, permata, berlian, dan mutiara hilang, raib sama sekali.

            Apabila kita melihat kejayaan kekayaan masa lalu di seluruh dunia ini, keadaannya begitu memesonakan, gilang gemilang, berlimpah ruah. Demikian pula di Indonesia ini. Dengan kenyataan bahwa banyak istana, candi, keraton, bangunan megah yang masih terkubur dan baru terbuka sedikit akibat bencana mahadahsyat masa lalu, tentunya banyak pula terdapat barang-barang berharga seperti emas, permata, berlian, dan mutiara yang juga ikut terkubur. Akan tetapi, anehnya, barang-barang itu tidak pernah diberitakan ada dan selalu tidak pernah tertulis, hilang begitu saja.

            Apabila kita pelajari Al Quran Surat Saba, kekayaan Indonesia itu sangat luar biasa. Allah swt mengatakan bahwa Kota Mekah saja kekayaannya tidak sampai 10% dari kekayaan yang dianugerahkan Allah swt kepada Indonesia. Kota Mekah yang kita anggap kaya itu sesungguhnya sangat sedikit, sedangkan Indonesia berlimpah ruah. Baca tulisan saya yang berjudul Indonesia dalam Pandangan Allah swt.

            Di dalam QS Saba pun diterangkan bahwa Allah swt menghancurkan Benua Sundaland berkeping-keping hingga menjadi kepulauan bernama Indonesia ini ketika penduduknya sedang melakukan kezaliman dan bencana hukuman itu datang tiba-tiba tanpa disadari manusia. Artinya, bencana itu datang ketika penduduk Indonesia ini bisa jadi sedang berpesta pora, bersenang-senang dalam maksiat, duduk-duduk dalam kemegahan istana, hilir mudik di pasar-pasar, berbangga-bangga dalam kemewahan, bergembira dalam pemujaan-pemujaan penuh kemusyrikan, dan lain sebagainya. Itu artinya, orang-orang saat itu sedang menggunakan berbagai perhiasan dunia dengan membawa sejumlah materi, belum lagi kekayaan yang tersimpan dalam gudang-gudang dan lemari-lemari harta di rumah mereka. Ketika bencana itu datang dalam satu hari yang mengerikan, langsung mengubur manusia, gedung megah, tempat pemujaan syetan, berikut harta kekayaan luar biasa yang terdiri atas emas, permata, mutiara, berlian, dan sebagainya.

            Sudah pasti emas, permata, mutiara, berlian, dan perhiasan berharga lainnya itu ada pada masa kemegahan Sundaland. Hal itu bisa dilihat dari pengalaman Columbus ketika wara-wiri mencari dana ekspedisi ke Indonesia. Columbus berusaha keras mengumpulkan dana ekspedisi itu dari berbagai bangsawan, raja, dan pengusaha di negerinya. Awalnya, ia dilecehkan, ditertawakan, dan sama sekali tidak dipercaya. Banyak bangsawan dan orang kaya yang menganggap sinting Columbus. Akan tetapi, ketika Columbus memperlihatkan emas, permata, berlian, dan mutiara sisa peninggalan Benua Sundaland dari orang-orang Sundaland/Indonesia yang leluhurnya berlarian menyelamatkan diri ke Eropa, raja, bangsawan, dan para pengusaha itu pun tertarik, kemudian membiayai perjalanan Columbus ke Indonesia. Artinya, emas, permata, berlian, dan mutiara itu sudah ada dan sangat banyak digunakan orang-orang Indonesia saat itu.

            Niatnya Columbus memang ke Indonesia yang saat itu masih dikenal dengan nama Indische atau Hindia, tetapi tersesat ke Benua Amerika. Di benua itu ia melihat orang-orang yang cirinya sama dengan yang diberitakan dari orang-orang Sundaland masa lalu. Kemudian, ia menyebut orang-orang yang ditemuinya itu dengan sebutan Indians (orang-orang Indonesia) karena menyangka sudah sampai di Indonesia, padahal tidak. Ia hanya menemukan orang-orang Indonesia atau Asia Tenggara yang melarikan diri dari bencana ke Benua Amerika. Orang-orang itu dikenal sekarang dengan nama Indian.

            Perburuan harta karun pun semakin banyak dilakukan orang-orang Eropa untuk mencari harta terpendam di peradaban yang hilang itu. Penjajahan di Asia salah satunya didorong oleh perburuan harta karun itu. Oleh sebab itu, pihak kolonial sangat rajin melakukan ekspedisi berbiaya mahal untuk mencari harta karun itu. Tak heran jika para penjajah menemukan berbagai situs bersejarah di Asia, khususnya di Indonesia. Berbagai candi dan istana yang terkubur pun dimunculkan kembali ke permukaan Bumi setelah ribuan tahun menghilang.

            Pernahkah terpikirkan oleh kita untuk apa para penjajah memunculkan situs-situs itu?

            Untuk penelitian dan pendidikan?

            Untuk mencerdaskan rakyat Indonesia?

            Untuk memberikan kesadaran pada rakyat jajahan?

            Tidak mungkin!

            Hal yang paling mungkin adalah untuk mencari harta karun dan mendapatkan manfaat ekonomi ketika situs-situs terbuka ke hadapan publik.

CANDI BOROBUDUR. Foto: www.slideshare.net
CANDI CANGKUANG. Foto: www.nasionalisme.co

CANDI PRAMBANAN. Foto: wisatapriangan.co.id
            Pernahkah terpikirkan oleh kita dari mana uang para penjajah ketika membangun gedung-gedung pemerintahan yang kokoh dan kuat bertahan ribuan tahun?

            Bukan hanya gedung pemerintahan yang sangat kuat dan kokoh, rumah-rumah pribadi pun teramat kokoh.

            Dari mana mereka mendapatkan uang?

            Tanam paksa, upah buruh rendah, dan sewa tanah murah memang salah satunya. Akan tetapi, kemungkinan besar ada banyak harta karun yang telah ditemukan dan masih memiliki nilai jual tinggi pada masa sekarang ini, seperti, emas, permata, berlian, dan mutiara.

            Ada harta dan zaman yang hilang serta tidak pernah diketahui publik. Kita sering sekali disuguhi dengan pemahaman adanya zaman batu dan zaman besi. Akan tetapi, zaman batu-batu mulia dan perhiasan berharga yang masih bernilai tinggi saat ini hilang sama sekali dan tidak pernah masuk dalam catatan.


Beberapa Kemungkinan
Terdapat beberapa kemungkinan tentang hilangnya harta karun dan zaman batu mulia ini. Pertama, masyarakat sendiri yang melakukan penggalian dan pengambilan harta-harta itu sedikit demi sedikit dan menganggapnya sebagai rezeki karena memang rezeki. Hal ini sering sekali terjadi sejak dulu sampai sekarang, bahkan jika harta-harta bernilai tinggi sulit ditemukan, masyarakat mengambil bahan-bahan bangunan dari situs-situs itu untuk rumah mereka sendiri. Kedua, harta karun itu ditutupi keberadaannya oleh para peneliti. Ketika mereka melakukan penggalian dan penelitian, batu, perunggu, dan keramik mungkin segera diumumkan sebagai penemuan sejarah. Akan tetapi, jika menemukan emas, permata, berlian, mutiara, dan barang berharga yang nilainya masih tinggi saat ini, segera masuk ke saku pribadi dan ditutupi dari publik. Godaan emas, permata, berlian, dan mutiara itu sangat tinggi. Bayangkan saja jika kita sedang melakukan penggalian, lalu menemukan sebuah kendi yang penuh perhiasan emas. Ada koin emas, kalung emas, gelang emas, manik-manik emas, dan lain sebagainya yang terbuat dari emas hingga puluhan kilo.

            Mau diapain itu emas?

            Diserahkan pada pemerintah?

            Tidak mungkin.

            Pasti dijual ke penadah atau di pasar gelap.

            Iya toh?

            Kalau sudah begitu, ada zaman yang hilang, yaitu zaman emas dan ada harta yang hilang, yaitu batu mulia, serta ada nilai pendidikan yang hilang, yaitu sejarah.

            Ketiga, diklaim kepemilikannya oleh penguasa, terutama penjajah.

            Jika tidak ada perhatian yang serius, kehilangan harta karun, sejarah, dan jati diri bangsa akan terus terjadi.


Menyelamatkan Harta Karun
Untuk menyelamatkan harta karun, hal pertama yang harus dilakukan adalah kesadaran bahwa bangsa Indonesia ini adalah bangsa terkaya di dunia ketika masih dalam masa Benua Sundaland. Buktinya, mudah kok. Di seluruh tanah air Indonesia ini masih terkubur selama ribuan tahun kemegahan dan kekayaan masa lalu. Kita masih melihat ada candi-candi yang tiba-tiba muncul dari dalam tanah. Ada bangunan istana yang tiba-tiba hadir disebabkan hujan besar dan erosi. Ada barang-barang mewah rumah tangga yang tiba-tiba tercangkul masyarakat. Hal-hal seperti ini sangat sering terjadi di Indonesia. Sayangnya, kita kurang menghargainya karena terlalu sibuk dengan hal-hal lain, padahal jika digali secara serius dengan pengawasan ketat, hasilnya bisa luar biasa sekaligus menambah aset bangsa dalam bidang pariwisata dan pendidikan.

ISTANA RATU BOKO. Foto: indoturs.com
            Kita tidak perlu lagi mengulang-ulang kebiasaan kampungan yang khawatir tentang derajat kesukuan. Pada masa Orde Baru terasa sekali bahwa ada semacam pertahanan diri dari “suku Jawa” agar tetap menjadi suku yang paling tinggi dan paling hebat di Indonesia. Oleh sebab itu, jika ditemukan situs-situs baru, baik di Sunda, Sumatera, Sulawesi, atau lainnya, sering tidak diakui dan sering dilecehkan, bahkan dianggap tidak perlu ditindaklanjuti. Hal itu disebabkan jika situs-situs itu terbuka, lalu memunculkan sejarah baru di luar Jawa, dikhawatirkan akan memunculkan penilaian bahwa suku lain yang bukan suku Jawa memiliki peninggalan kecerdasan dan kehebatan melebihi suku Jawa. Perasaan-perasaan kampungan seperti itu sudah tidak boleh ada lagi sekarang. Kita adalah Indonesia. Sesungguhnya, jika kita menemukan apa pun di suku mana pun di Indonesia ini adalah milik kita bersama, Indonesia, bukan milik suku tertentu. Sikap kesukuan yang menghalangi penemuan-penemuan sejarah adalah sikap kampungan yang sesungguhnya menghalangi kemajuan bangsa Indonesia. Kehebatan dan kecerdasan suatu suku di Indonesia sesungguhnya mendorong kebanggaan kita sebagai bangsa Indonesia, bukan meruntuhkan wibawa suku tertentu.

            Hal yang teramat penting dilakukan adalah pemerintah sudah seharusnya menghargai setiap penemuan dengan nilai yang berlaku saat ini. Agar nilai sejarah tidak hilang, harta tidak hilang, jati diri bangsa tidak hilang, setiap penemuan sejarah harus dihargai dengan uang sesuai dengan nilainya saat ini. Jika ada masyarakat atau peneliti yang menemukan emas, permata, berlian, mutiara, atau barang lainnya, hendaknya dibeli oleh pemerintah dengan harga saat ini. Pemerintah wajib membelinya karena barang itu adalah seharusnya milik penemunya. Pemerintah tidak boleh merampas barang dari orang yang telah menemukannya. Apabila tidak ada keinginan pemerintah untuk membeli barang-barang mulia itu, pencurian dan penjualan di pasar gelap akan terus terjadi. Kita, sebagai bangsa, akan hanya mati dan buntu pada pemahaman zaman batu, zaman perunggu, atau paling tinggi zaman kuningan. Padahal, kehebatan kita jauh di atas itu sebenarnya.

            Selama ini, kita tidak menghargai penemuan-penemuan itu dengan seharusnya. Kita memandang rendah terhadap hal itu. Padahal, jika digali secara serius, kita akan menemukan harta karun yang banyak dan memunculkan situs-situs baru yang megah luar biasa bernilai sejarah dan pendidikan. Contohnya, situs Gunung Padang, Cianjur, Jawa Barat yang megah dan luas itu jika serius dikelola dengan baik, akan ditemukan peninggalan sejarah luar biasa, harta karun yang banyak, dan hadirnya lokasi pariwisata baru yang mendunia. Situs Gunung Padang ini bukan hanya terkenal di Indonesia, melainkan pula di Eropa. Bahkan, banyak orang Eropa yang datang ke Gunung Padang karena meyakini bahwa leluhur mereka berasal dari tempat itu.

GUNUNG PADANG. Foto: terungkaplagi.blogspot.co.id
            Ada harta karun yang banyak di Indonesia. Kita hanya harus serius. Indonesia kaya bukan hanya disebabkan sumber daya alam, melainkan pula ada banyak harta terpendam yang belum bisa kita hitung jumlahnya. Persoalannya kita harus serius. Kerja kerja kerja.


            Sampurasun.

Monday, 10 April 2017

Orang Sunda Diciptakan Langsung Modern

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Yang saya maksud langsung modern itu adalah modern pada masa itu dibandingkan dengan pendapat para penganut The Hoax of Darwin. Kata pengikut Darwin, manusia dan makhluk hidup itu berasal dari makhluk bersel satu yang kemudian berkembang, berubah bentuk, terus beradaptasi dengan alam, belajar dari sama sekali tidak tahu menjadi tolol, dari tolol menjadi bego, dari bego menjadi bloon, dari bloon menjadi bodoh, dari bodoh menjadi celingukan, dari celingukan menjadi ragu-ragu, dari ragu-ragu menjadi kebiasaan, dari kebiasaan berkembang lagi mendapatkan hal-hal baru, akhirnya menjadi cerdas seperti sekarang ini. Demikian pula dengan warna kulit. Dari hitam legam kotor, menjadi hitam bersih, terus agak kecoklat-coklatan, lalu sedikit menjadi merah, kemudian berubah lagi menjadi kuning, akhirnya menjadi kulit putih yang paling sempurna dan cerdas.

            Lucunya, mereka tidak akan pernah bisa menerangkan bahwa mengapa manusia yang belum sempurna seperti orang Indonesia ini bisa berkali-kali menjadi juara pembuat robot terbaik di Amerika Serikat mengalahkan orang-orang yang sudah sempurna berkulit putih itu?

            Seharusnya kan secara logika kalau Darwin benar, harus selalu orang kulit putih yang paling kaya raya, paling cerdas, dan paling pandai memimpin. Kenyataannya, Obama yang kulitnya hitam menjadi presiden AS. Raja Thailand adalah raja terkaya di dunia. Para pemimpin berkulit putih justru saat ini sedang kalang kabut bertengkar satu sama lain.

            Pendek kata, Darwin dan pengikutnya salah besar.

            Sesungguhnya, tidak ada itu yang namanya evolusi dalam arti perubahan bentuk manusia atau makhluk hidup lainnya. Manusia itu diciptakan sudah seperti ini sejak dulu sampai punahnya nanti. Demikian pula makhluk hidup lain selalu diciptakan dengan bentuk tertentu sampai punah tanpa mengalami perubahan bentuk tubuh dan kecerdasan.

            Penciptaan manusia seperti kita ini bahkan ditegaskan oleh Allah swt di dalam Al Quran. Hal ini bisa dilihat dari QS Al Hujurat 49 : 13.

            “Wahai Manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh Allah Maha Mengetahui dan Maha Teliti.”

            Ayat tersebut menerangkan bahwa Allah swt menciptakan sepasang suami-istri untuk setiap suku tertentu yang akan melahirkan suku tertentu dengan bahasa tertentu, kecerdasan tertentu, dan tantangan hidup tertentu. Allah swt memberikan contoh dengan penciptaan Nabi Adam as. Allah swt menciptakan Adam as dalam bentuk fisik yang sempurna dan menciptakan istrinya, Siti Hawa, yang berasal dari tubuh Adam as sendiri secara sempurna pula. Ahsanul Kholiqin, ‘ciptaan yang paling baik’. Adam as diberi pengetahuan dan keterampilan khusus secara langsung tanpa melalui proses belajar untuk menghadapi tantangan hidupnya. Allah swt memerintahkan para malaikat menguji kemampuan Adam as dan Adam as berhasil. Pasangan Adam-Hawa melahirkan anak-anak khusus untuk sukunya sendiri, bukan seluruh manusia.

            Kalau mau disebut kecerdasan manusia berkembang, sesungguhnya sejak saat itulah mulai perkembangannya, bukan dari makhluk bersel satu, lalu jadi monyet, terus jadi manusia. Berkembang itu mulai dari modal awal yang diberikan Allah swt untuk memulai hidup baru.

            Demikian pula suku Sunda, diciptakan dari pasangan suami-istri tertentu dengan kemampuan tertentu, bahasa tertentu, fisik tertentu, dan tantangan hidup tertentu pula.

            Siapa orang Sunda yang diciptakan pertama kali oleh Allah swt?

            Dengar-dengar, Allah swt secara langsung memberikan pengetahuan kepadanya dalam hal mengolah logam. Dia dikenal sebagai pandai besi.

            Siapa dia?

            Penasaran?

            Entar dulu lah, soalnya hasil penelitiannya masih dalam bahasa Inggris. Saya harus menerjemahkannya dulu. Kalem aja kalem. Santai, kata Bang Haji juga.

            Sekarang mah kita ngobrol soal hasil penelitian para peneliti yang ditulis dalam artikel berjudul Arca-Arca Tipe Pajajaran di Jawa Barat yang disusun oleh Dra. Setyawati Suleiman (1991). Saya merekontruksinya sesuai dengan penelitian terbaru yang mengatakan bahwa Indonesia ini dulunya Benua Sundaland yang besar, megah, dan makmur.

            Dulu sekali hidup berbagai binatang jenis lama di Benua Sundaland, Indonesia. Ketika bencana mahadahsyat yang berupa hukuman dari Allah swt akibat kesombongan manusia datang, Benua Sundaland pun hancur berkeping-keping. Bentuknya pun berubah menjadi kepulauan seperti sekarang ini. Bencana mengerikan itu bukan hanya menghancurkan manusia, gedung, teknologi, dan peradabannya, melainkan pula mengubur binatang-binatang jenis lama. Gempa besar, baik tektonik maupun vulkanik memisahkan daratan-daratan yang asalnya satu. Pulau Jawa adalah yang paling parah diterjang pasang air laut hingga gunung-gunung pun ikut tenggelam. Pulau Jawa saat itu mirip-mirip Kepulauan Seribu, Jakarta, sebagian besarnya tenggelam karena banjir dari laut dan hanya ada beberapa munculan daratan di sana-sini. Ketika air laut surut, muncullah Pulau Jawa yang kita kenal sekarang ini dengan bentuk seperti saat ini. Hati-hati, jangan bikin banyak dosa, Pulau Jawa bisa dbanjiri air laut lagi.

            Para ahli telah menemukan fosil-fosil binatang masa lalu yang pernah terkubur dan tenggelam dalam laut. Fosil-fosil ini ditemukan di daerah Cijulang, Jawa Barat. Akan tetapi, anehnya sampai hari ini tidak pernah ditemukan fosil-fosil manusia purba di daerah Sunda. Hal itu membuat bingung para peneliti. Pasti bingung para peneliti itu. Hal itu disebabkan mereka terpenjara oleh pikirannya Darwin, yaitu harus ada perkembangan dari bentuk fisik manusia lama dari monyet ke bentuk manusia saat ini.

            Saya sekarang sulit percaya bahwa manusia purba itu ada. Banyak sekali yang ternyata ketahuan bohong dan palsu. Banyak sekali struktur kerangka yang dibuat-buat menyerupai manusia, malah dibuat secara sengaja menggunakan gips hanya untuk memperkuat kebohongan dugaan Darwin. Paling mungkin, kalau benar ada, hanyalah eksistensi makhluk tertentu yang bentuknya mirip manusia, tetapi bukan manusia. Mereka hanyalah makhluk yang bisa dikatakan mirip fisik manusia yang masa hidupnya sudah selesai dan dimusnahkan oleh Allah swt untuk kemudian diganti oleh kehidupan masa sekarang ini. Mereka bukanlah nenek moyang manusia. Mereka hanyalah segerombolan makhluk yang hidup pada periode tertentu dan musnah pada waktu yang sudah ditetapkan Allah swt. Seperti kita juga segerombolan manusia dalam jumlah miliaran yang akan dimusnahkan pada waktunya nanti.

            Berdasarkan penemuan benda-benda bersejarah di tanah Sunda, para peneliti melihat keanehan luar biasa. Tiba-tiba saja para peneliti dihadapkan pada kemunculan kehidupan yang sudah padat penduduk, ramai, hiruk pikuk, perdagangan, perbengkelan, dan adanya hubungan internasional. Para peneliti tidak melihat adanya kehidupan kuno dengan keterbelakangan kecerdasan. Mereka justru melihat adanya kehidupan yang sudah mengenal lapisan sosial dengan adanya penguasa dan rakyat yang dikuasai.

            Dalam tulisan Setyawati (1991), disebutkan bahwa di Anyer, Banten, ditemukan banyak besi dan perunggu. Bahkan, ada kuburan orang-orang dengan jabatan tinggi yang dikubur dalam tempayan-tempayan besar berbahan logam.

            Di seputar Danau Bandung ditemukan pula alat cetak kapak perunggu. Oleh sebab itu, tak heran di tanah Sunda ini banyak ditemukan genderang dan kapak yang terbuat dari perunggu.

            Adanya penemuan perunggu ini menguatkan dugaan keras bahwa memang leluhur orang Sunda atau manusia Sunda awal yang diciptakan Allah swt adalah memang benar manusia yang diberi pengetahuan langsung oleh Allah swt tanpa proses belajar  mengenai pengolahan logam. Oleh sebab itu, orang ini dikenal masyarakat sebagai seorang pandai besi. Soal ini, insyaallah, kita akan terjemahkan dulu dari tulisan lain yang berbahasa Inggris. Santai.

            Di samping perunggu-besi, di Danau Bandung dan di Danau Cangkuang, Kabupaten Garut pun ditemukan banyak batu kecil yang terbuat dari batu obsidian yang diperkirakan berasal dari Nagrek, Kabupaten Bandung. Batu-batu itu merupakan pisau kecil untuk mengerok (scraper).

            Banyaknya penemuan di sekitar danau-danau menunjukkan bahwa sudah adanya pemukiman yang ramai penduduk. Para penduduknya hidup dari memancing, berburu, menggali umbi-umbian, memetik sayuran, dan buah-buahan. Tinggal di seputar danau adalah kemewahan tersendiri karena selalu ada air dan bahan makanan. Ketika penduduk makin padat di seputar danau, kehidupan pun berkembang ke tempat-tempat lainnya, dimulailah adanya bercocok tanam serta beternak kambing, ayam, kerbau, dan memelihara anjing.

            Penemuan adanya bengkel-bengkel kapak batu dan perunggu pun menunjukkan bahwa penduduk saat itu sudah padat dengan interaksi dalam frekwensi yang sangat tinggi. Di Leuwiliang ditemukan banyak bengkel kapak batu. Di bengkel itu konsumen dibuatkan kapak kasar yang belum dipoles. Kapak itu lalu dipikul ke perkampungan dan ke rumah masing-masing untuk kemudian dipoles, diperhalus, dan diasah oleh konsumen masing-masing.

            Adanya peralatan kapak batu, perunggu, berikut bengkel-bengkelnya menunjukkan terjadinya pula perdagangan dan interaksi internasional. Orang-orang Sunda melakukan hubungan internasional itu dengan Yunani, India, Vietnam, dan Cina.

            Dalam hal makanan, orang Sunda sudah lebih dulu lebih maju dibandingkan daratan lainnya. Ketika makanan di tempat lain masih berupa tales (taro), orang Sunda sudah memiliki makanan utama (staple food) beras. Hal itu bisa dilihat dari kesuburan tanahnya dan berada di jalur perdagangan antara Cina dan India. Hal ini pun menguatkan keyakinan bahwa memang benarlah Nabi Prabu Siliwangi as adalah orang pertama yang dipercaya Allah swt untuk menanam bibit padi pertama di muka Bumi ini. Baca tulisan saya yang berjudul Nabi Prabu Siliwangi Alaihissalam.


Mengubah Cara Pandang
Ilmu pengetahuan itu berkembang. Apabila ditemukan bukti baru, pemikiran baru, dan pemahaman baru yang lebih kuat dan akurat, sudah seharusnya meninggalkan pemikiran yang lama. Jika pemikiran lama tidak juga ditinggalkan, jatuhlah kita pada doktrin yang akan membuat diri kita terpenjara dan tidak pernah berkembang.

            Sudah seharusnya kita meninggalkan pemahaman yang terkait dengan Darwinisme bahwa manusia dan makhluk hidup itu berkembang dari tidak tahu menjadi tahu, dari satu sel menjadi banyak sel; Nabi Adam as adalah manusia pertama; orang Indonesia selalu terbelakang serta harus selalu meniru bangsa lain, dan lain sebagainya. Allah swt sudah banyak memberikan penjelasan. Oleh sebab itu, jangan banyak menduga-duga dengan hawa nafsu jika Allah swt sudah memberikan keterangan.

            Orang Sunda sudah langsung diciptakan modern. Demikian pula orang Jawa, Bugis, Batak, Makasar, dan suku-suku bangsa di dunia ini. Setiap pasang suami istri yang diciptakan pertama kali sebagai leluhur sukunya masing-masing sudah dilengkapi pengetahuan tertentu, bahasa tertentu, fisik tertentu, dan tantangan hidup tertentu.

            Hal ini bisa dilihat dari QS Al Hujurat 49 : 13.

            “Wahai Manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh Allah Maha Mengetahui dan Maha Teliti.”

            Tak ada perkembangan dari manusia purba ke manusia masa kini. Setiap jenis makhluk sudah ditetapkan awal kejadiannya dan akhir kemusnahannya.


            Sampurasun.