Showing posts with label Adam-Hawa. Show all posts
Showing posts with label Adam-Hawa. Show all posts

Saturday, 22 April 2017

Nabi Adam Diciptakan Belakangan

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Banyak orang menduga bahwa Adam as adalah manusia pertama. Padahal, bukan. Beberapa tulisan saya yang lalu menjelaskan hal ini. Berdasarkan keterangan QS Al Hujurat 49 : 13, Allah swt menciptakan banyak suku dengan bahasa tertentu, kemampuan tertentu, kecerdasan tertentu, kondisi fisik tertentu, dan tantangan hidup tertentu. Untuk asal mula setiap suku, Allah swt menciptakan sepasang suami-istri khusus sebagai cikal bakal suku tersebut. Jadi, banyak sekali manusia yang diciptakan langsung oleh Allah swt tanpa ayah dan tanpa ibu. Pasangan Adam-Hawa hanyalah salah satu pasangan yang diciptakan Allah swt tanpa ayah dan tanpa ibu. Pasangan Adam-Hawa merupakan cikal bakal untuk sukunya sendiri dan bukan menjadi leluhur seluruh manusia.

            Hal ini dijelaskan pula oleh Allah swt bahwa sebelum Nabi Adam diciptakan, sudah sangat banyak manusia hidup di muka Bumi ini.

            Perhatikan firman Allah swt dalam QS Al Baqarah 2 : 213 berikut ini.

            “Manusia itu (dahulunya) satu umat. Lalu, Allah mengutus para nabi (untuk) menyampaikan kabar gembira dan peringatan. Lalu, diturunkan-Nya bersama mereka kitab yang mengandung kebenaran untuk memberikan keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. Kemudian, yang berselisih hanyalah orang-orang yang telah diberi (Kitab) setelah bukti-bukti yang nyata sampai kepada mereka karena kedengkian di antara mereka sendiri. Oleh sebab itu, dengan kehendak-Nya, Allah memberikan petunjuk kepada mereka yang beriman tentang kebenaran yang mereka perselisihkan. Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki ke jalan yang lurus.”

            Perhatikan dua kalimat pertama.

            Manusia itu (dahulunya) satu umat. Lalu, Allah mengutus para nabi (untuk) menyampaikan kabar gembira dan peringatan.

            Kedua kalimat itu mengandung arti bahwa dulu manusia ini satu umat. Yang dimaksud satu umat adalah satu keyakinan, satu Tuhan. Dr. Ahmad Hatta, M.A.  mengartikannya sebagai satu ketauhidan. Oleh sebab itu, tak ada perselisihan di antara manusia meskipun terdiri dari ribuan suku bangsa. Tak ada pertengkaran dan perebutan kekuasaan, ekonomi, maupun sumber daya alam karena semua memiliki keyakinan yang sama bahwa hidup adalah hanya untuk mengabdikan diri kepada Tuhan Yang Satu, dalam bahasa Arab disebut Allah swt dan dalam bahasa lain ada sebutan lain pula.

            Ketika manusia sudah semakin banyak, semakin berkembang kecerdasannya, semakin berkembang kebutuhannya, terjadilah banyak masalah dan perselisihan. Konflik-konflik itu membuat kerusakan tatanan hubungan di antara manusia. Kemudian, lambat atau cepat manusia terlalu sibuk memikirkan duniawi sehingga melupakan kewajibannya yang pasti, yaitu mengabdikan diri kepada Tuhan Yang Satu. Ketika manusia sudah sangat kafir dan kekafirannya tidak bisa ditolerir lagi, Allah swt menghukumnya dan menghancurkannya hingga tak bersisa atau hanya disisakan sedikit saja. Ketika suatu zaman dihancurkan, dimusnahkan, dan ditenggelamkan hingga hilang dari kehidupan dunia, Allah swt memunculkan kembali umat-umat yang baru. Dalam perjalanannya, umat-umat yang baru ini pun melakukan kesalahan yang sama dengan umat-umat yang telah dihancurkan. Akibatnya, Allah swt melumatkannya lagi, kemudian menciptakan lagi umat yang baru. Begitu berulang-ulang Allah swt menciptakan dan menghancurkan manusia.

            Jika dilihat dari hasil penelitian para peneliti terkait dengan geografi, geologi, oceanografi, atau ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan daratan dan lautan, disepakati bahwa seluruh daratan di muka Bumi ini dulunya adalah satu daratan yang sama dan tidak terpisah-pisah. Akan tetapi, bentuk daratan yang satu itu mengalami perubahan oleh banyak bencana besar yang berulang-ulang hingga memisahkan daratan itu menjadi beberapa benua dan beberapa pulau.

            Apabila kita membaca Al Quran, sering sekali Allah swt menyuruh kita berjalan-jalan di muka Bumi untuk mellihat bagaimana Allah menghancurkan manusia-manusia durhaka dan akibat-akibat yang ditimbulkannya. Bentuk daratan seperti saat ini sesungguhnya telah mengalami ribuan kali bencana teramat dahsyat.

            Suatu saat Allah swt memiliki kebijakan lain, yaitu ingin menciptakan manusia yang menjadi wakil dirinya di muka Bumi. Tak heran rencana itu sempat membuat bingung para malaikat.

            Para malaikat bertanya, “Untuk apa menciptakan manusia yang akan menumpahkan darah di muka Bumi? Bukankah kami yang selalu memuji dan mengagungkan Engkau, ya Allah?”

            Begitu kira-kira malaikat merasa heran. Malaikat bertanya-tanya soalnya mereka sangat tahu bahwa sudah ribuan umat yang diciptakan, lalu dihancurkan. Diciptakan lagi yang lain, lalu dihancurkan lagi.

            Mereka tidak percaya bagaimana mungkin Allah swt akan menjadikan manusia yang suka melakukan kekafiran, membuat kekacauan di muka Bumi, dan saling bunuh itu menjadi wakil Allah swt di Bumi?

            Kalaupun mau mengangkat wakil, seharusnya dari kalangan malaikat karena malaikat adalah yang selalu memuji dan mengagungkan Allah swt, tidak pernah bikin kekacauan, apalagi saling bunuh. Adapun manusia, berulang-ulang bikin kekacauan, saling bunuh, dan berubah kafir. Begitu kira-kira yang ada di pikiran malaikat.

            Akan tetapi, Allah swt menegaskan, “Aku lebih tahu.”

            Kemudian, Allah swt memerintah Adam untuk memamerkan kecerdasannya di hadapan malaikat. Akhirnya, para malaikat pun mengakui bahwa Adam as adalah lebih hebat, lebih cerdas, dan lebih unggul dibandingkan para malaikat. Allah swt pun memerintah para malaikat untuk segera bersujud kepada Adam sebagai penghormatan dan pengakuan bahwa Adam lebih cerdas dan lebih mulia.

            Allah swt memang menciptakan Adam as dengan kecerdasan di atas malaikat dan di atas rata-rata manusia biasa yang sudah diciptakan sebelumnya.

            Manusia itu (dahulunya) satu umat. Lalu, Allah mengutus para nabi (untuk) menyampaikan kabar gembira dan peringatan.

            Pada masa belum ada nabi seluruh manusia selalu dihancurkan, kemudian diganti oleh umat manusia yang lain dan berbeda. Kemudian, dihancurkan lagi. Selalu begitu. Oleh sebab itu, Allah swt menurunkan nabi agar manusia mendapatkan petunjuk, tidak lagi berselisih, tidak lagi saling berebut, tidak saling bunuh, dan tetap mengabdi dengan benar kepada Tuhan Yang Satu. Dengan demikian, manusia tidak perlu dihancurkan lagi dan lagi dalam sejarah kehidupan dunia ini.

            Nabi yang pertama diciptakan namanya adalah Adam. Istrinya bernama Hawa di Amerika Serikat dan Eropa disebut Eva. Adam-Hawa sama dengan Adam-Eva.

            Lalu, diturunkan-Nya bersama mereka kitab yang mengandung kebenaran untuk memberikan keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan.

            Para nabi itu diutus Allah swt dengan membawa kita-kitab suci sebagai panduan bagi manusia untuk menyelesaikan berbagai permasalah manusia, baik persoalan ekonomi, sumber daya alam, politik, maupun ritual keagamaan. Akan tetapi, sayangnya setelah para nabi dan kitab itu turun, manusia tetap berselisih, bertengkar, malah berperang saling bunuh. Hal itu disebabkan manusia terbagi dua, yaitu ada yang bersikap benar dan sesuai dengan petunjuk para nabi serta ada yang mengingkari kebenaran para nabi beserta kitab-kitabnya. Mereka yang ingkar itu disebabkan iri dan dengki kepada orang-orang yang bersikap benar dan hidup sesuai dengan petunjuk para nabi dan kitab-kitabnya. Akibatnya, orang-orang yang ingkar ini bukan saja memusuhi orang-orang yang benar, melainkan pula memusuhi para nabi, kitab-kitab suci, bahkan memusuhi Tuhan Yang Satu.

            Karena manusia tetap berselisih, bertengkar, saling bunuh, bahkan mengingkari Tuhan Yang Satu, Allah swt membagi dua kelompok manusia, yaitu kelompok beriman dan kelompok tidak beriman.

            Oleh sebab itu, dengan kehendak-Nya, Allah memberi petunjuk kepada mereka yang beriman tentang kebenaran yang mereka perselisihkan. Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki ke jalan yang lurus.”

            Orang-orang yang beriman terus-menerus diberi pemahaman yang benar oleh Allah swt agar tetap menjadi orang-orang yang benar. Adapun orang-orang yang penuh rasa iri, dengki, dan bersikap ingkar, dibiarkan tersesat hingga menemui kehidupan yang sesat dan penuh dengan kekalutan. Jika Allah swt tidak menyayangi mereka, mereka akan tetap durhaka hingga hari kiamat dan berada di dalam neraka yang sejak lama tidak mereka percayai. Setelah mereka berada di dalam neraka, barulah mereka percaya. Sayangnya, saat itu sudah terlambat dan tak ada jalan kembali pulang ke dunia ini. Kekal selamanya di dalamnya.

            Adam bukanlah manusia pertama, melainkan nabi pertama yang diutus Allah swt untuk memberikan petunjuk agar manusia tidak selalu berselisih dan bertengkar hanya karena rebutan ekonomi, politik, sumber daya alam, atau cara-cara ritual keagamaan. Para nabi selalu lurus dari awal hingga akhir, dari Adam hingga Muhammad selalu mengajarkan kebaikan dan memberikan penjelasan mengenai penyelesaian masalah manusia. Sayangnya, manusia selalu menganggap diri terlalu pintar dan tidak memerlukan ajaran para nabi. Akhirnya, manusia selalu hidup kusut, menderita, mudah bertengkar, mudah stres, mudah berkelahi, bangga terhadap dirinya, dan gemar melakukan pembunuhan.

            Kembalilah kepada ajaran para nabi sejak Adam hingga Muhammad agar persoalan-persoalan manusia dapat diselesaikan dengan cepat dan baik. Jika tidak, manusia tetap akan terbagi dua, yaitu manusia baik dan manusia buruk. Kita memiliki kebebasan untuk menjadi baik atau menjadi buruk. Menjadi baik atau menjadi buruk sama-sama memiliki konsekwensi dan harus selalu diperjuangkan. Orang baik akan berakhir baik dan orang buruk akan selalu berakhir buruk jika tidak berubah menjadi baik.

            Sampurasun.

Thursday, 20 April 2017

Semua Rusak Akibat Ingkar Janji

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Kerusakan di dunia ini hampir seluruhnya diakibatkan oleh perilaku ingkar janji. Sebuah bangsa, negara, sekelompok orang, sekeluarga, pertemanan, persahabatan, bahkan sejarah kehidupan daratan dan lautan di seluruh muka Bumi ini rusak karena perilaku ingkar janji.

            Janji yang telah diucapkan akan menjadi kesepakatan. Kesepakatan itu berubah menjadi peraturan yang harus ditaati. Apabila peraturan tidak ditaati, terjadilah pelanggaran yang akan mengakibatkan jatuhnya sanksi.

            Pelanggaran janji yang pertama kali kita kenal adalah pelanggaran janji yang dilakukan Adam-Hawa. Mereka sudah berjanji untuk tidak akan memakan “buah terlarang”. Akan tetapi, janji itu mereka langgar. Akibatnya, mereka harus turun dari surga dan harus berjuang memenuhi kebutuhan hidupnya jauh lebih sulit dibandingkan ketika dilayani para malaikat di surga.

            Penurunan kejayaan Kerajaan Sunda yang mengalami masa kegemilangannya pada masa Sundaland pun akibat dari pelanggaran terhadap janji. Prabu Siliwangi as dan masyarakat Sundaland sudah berjanji tidak akan memperjualbelikan “padi” atau “beras”. Makanan itu hanya digunakan sebagai bakti kepada manusia dan kemanusiaan. Gratis. Ketika janji itu dipenuhi, rakyat pun hidup dalam kemakmuran luar biasa. Segala bidang kehidupan berkembang pesat dengan sangat cepat. Kemegahan dan ketinggian teknologi begitu mengagumkan dan tidak bisa dipahami manusia hingga hari ini. Bangunan-bangunan megah masa lalu yang kemudian muncul secara “ajaib” di Indonesia pada masa ini masih dipelajari peneliti karena rumitnya konstruksi dan sulitnya memperkirakan cara pembuatannya. Dalam hal makanan, tidak pernah kekurangan. Sebanyak apa pun beras diambil dari gudang, seolah-olah tumpukannya tidak pernah turun, tidak pernah berkurang.  Itulah yang disebut-sebut dengan leuit Pajajaran pinuh, ‘lumbung padi Pajajaran selalu penuh’. Sebelum manusia “melanggar janji”, segala sesuatunya serba sempurna, terutama tentang buah padi yang dijadikan makanan yang dapat diambil dengan sangat enteng tanpa susah payah (cf. Archaimbault, 1973 : 80-81, 113, 124, dan 229-231 dalam V. Sukanda-Tessier, 1991).

            Sayangnya, pada generasi-generasi berikutnya, janji itu dilanggar. Seorang permasuri Sunda terbujuk rayu oleh pebisnis asal Cina yang terus-terusan ingin membeli padi/beras. Awalnya, ditolak dan selalu ditolak. Akan tetapi, bujukan pebisnis itu benar-benar kuat. Akhirnya, terjadilah transaksi jual-beli beras/padi. Akibatnya, jatuhlah hukuman dari Allah swt. Hukuman itu adalah jelas sekali bahwa persediaan padi/beras semakin menyusut drastis dan terus berkurang, laki-laki harus bekerja dua kali lipat untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, dan perempuan harus berletih-letih membantu laki-laki untuk bekerja mencari nafkah. Padahal, sebelumnya segalanya serba mudah, enteng, dan menyenangkan, makanan banyak, dan perempuan tidak perlu bekerja, perempuan hanya perlu mempercantik diri untuk menyenangkan para laki-lakinya dan menunggu para pria di kaputren atau di taman-taman indah.

            Akibat dari kondisi kehidupan yang menurun, terjadi banyak pelanggaran-pelanggaran janji berikutnya. Janji untuk tetap rajin beribadat dan mengagungkan Allah swt, dilupakan dan diingkari. Janji untuk saling menjaga dan saling mengisi, berubah menjadi saling bersaing. Janji untuk saling menyayangi dan saling melindungi berubah menjadi saling menguasai. Janji untuk melindungi perempuan berubah menjadi memperalat perempuan. Janji untuk tidak musyrik berubah menjadi kafir, bahkan menyembah berhala dan mengikuti Iblis.

            Pelanggaran-pelanggaran yang terus terjadi itu membuat murka Allah swt terwujud. Hancurlah Benua Sundaland yang megah dan gagah perkasa itu menjadi berkeping-keping berbentuk kepulauan yang bernama Indonesia.

            Pelanggaran-pelanggaran terhadap janji ini terjadi di seluruh dunia, baik di Arab, Eropa, Afrika, maupun Asia. Di seluruh pelosok dunia ada nabi. Janji-janji manusia lewat para nabi inilah yang dilanggar dan diingkari akibat hawa nafsu yang berlebihan dan kurangnya kesabaran manusia dalam menghadapi kehidupan.

            Seandainya kita semua dapat memegang janji kita, baik janji kecil maupun janji besar, baik kepada seseorang, sekelompok orang, maupun kepada Allah swt, niscaya hidup kita akan baik-baik saja. Kekusutan hidup kita sebenarnya akibat banyaknya janji dan kesepakatan yang kita langgar sendiri.

            Bahkan, kita semua, seluruh manusia sudah berjanji untuk hanya menyembah satu Tuhan, yaitu Allah swt, tetapi banyak yang melanggarnya. Oleh sebab itu, Allah swt menurunkan para nabi untuk mengingatkan kita atas janji kita yang hanya menyembah Tuhan Yang Satu. Jika janji itu kita tepati, kita akan baik-baik saja. Jika janji itu diingkari, wajar jika hidup kita kusut.

            Janji kita kepada Allah swt diabadikan dalam Al Quran.

            “Ingatlah ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman), ‘Bukankah Aku ini Tuhanmu?’

            Mereka menjawab, ‘Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.’

            (Kami lakukan yang demikian itu) agar kamu di hari kiamat tidak mengatakan, ‘Sesungguhnya, kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lupa terhadap ini (keesaan Tuhan).’” (QS Al Araaf 7 : 172)

            Karena kejadian ini sudah sangat lama, manusia lupa sama sekali. Saking lupanya, banyak manusia yang tidak percaya terhadap kejadian dirinya pernah bersumpah di hadapan Allah swt. Banyak manusia yang mengatakan bahwa itu hanya dongeng dan bohong belaka. Hanya karena lupa, mereka mengingkari janjinya.

            Allah swt tahu bahwa manusia pasti akan lupa. Oleh sebab itu, Allah swt mengingatkan kembali peristiwa itu melalui para nabi. Ayat ini pun merupakan pengingat bagi manusia agar kembali pada janjinya yang dulu.

            Lupa, kan?

            Pasti lupa.

            Manusia memang mudah lupa karena saking panjangnya peristiwa yang harus dialami.

            Bagi mereka yang mengingkari atau tidak percaya bahwa dirinya pernah bersumpah di hadapan Allah swt, saya punya pertanyaan, “Ketika kalian berusia lima tahun, pada hari Rabu, celana kalian berwarna apa?”

            Masih ingat warna celana kalian saat itu?

            Lupa, kan?

            Iya, kan?

            Warna celana ketika kita berusia lima tahun saja lupa, apalagi peristiwa yang terjadi ketika fisik kita masih berupa sperma ayah kita dan belum menyentuh sel telur ibu kita. Saat sperma ayah kita keluar, ruh kita yang akan dimasukkan ke dalam sperma yang bergabung dengan sel telur ibu kita, bersumpah kepada Allah swt bahwa hanya akan menyembah Tuhan Yang Satu, Tuhan yang menciptakan kita, yaitu Allah swt dalam bahasa Arab dan bisa sebutan lain dalam bahasa lain, tetapi semuanya berujung kepada Tuhan Yang Maha Esa.

            Supaya hidup kita baik-baik saja di dunia dan di akhirat, penuhi janji kita untuk tetap ber-Tuhan Yang Satu. Laksanakan segala perintah-Nya, jauhi segalah hal yang dilarang-Nya.


            Sampurasun.

Friday, 14 April 2017

Kejayaan Sunda Masa Sundaland

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Ada lagi bukti penemuan prasejarah yang menunjukkan bahwa orang Sunda sudah melakukan berbagai hubungan internasional dengan negeri-negeri yang sangat jauh. Hal itu menandakan bahwa pada masa Benua Sundaland sebelum hancur menjadi negeri kepulauan bernama Indonesia ini masyarakat Sunda hidup dalam kemakmuran luar biasa dengan keramaian penduduknya.

            Dr. Hasan Muarif Ambary dalam Karangan Penunjang ke-10 berjudul Refleksi Budaya Sunda Dillihat dari Pengamatan Temuan Arkeologi (1986) menuturkan bahwa sebuah situs kuno dari tradisi prasejarah salah satunya adalah situs Buni dan situs Cipari. Situs Buni telah diketahui melalui penelitian arkeologi merupakan sebuah pemukiman masyarakat kuno di Pantai Utara Jawa Barat membentang dari Karawang hingga Tanggerang. Bentangan tersebut dilihat dari gerabahnya merupakan satu kontek budaya yang sama (Sutayasa, 1972 : 182). Di situs itu ditemukan benda sangat penting yang disebut Romano Indian Rouletted, sebuah fragmen gerabah yang merupakan bahan komoditi perdagangan kuno berasal dari Romawi.

            Ditemukannya pemukiman padat penduduk yang membentang dari Karawang hingga Tanggerang serta adanya komoditi perdagangan dari Romawi menunjukkan adanya kehidupan yang ramai dalam frekwensi mobilitas tinggi dan kemakmuran penduduknya, baik dari hasil alam berupa laut, kebun, hutan, dan gunung, maupun dari perdagangan internasional. Hal ini pun menguatkan pandangan bahwa memang di Indonesia-lah sebenarnya Atlantis itu berada.

            Ketika kejayaan dan kemakmuran demikian tingginya, orang-orang lupa dengan ajaran para nabi, seperti, Nabi Prabu Siliwangi as, Nabi Sulaeman as, dan Nabi Daud as. Bahkan, bukan hanya lupa, melainkan menjauh dari Allah swt, kemudian mengikuti ajaran Iblis. Oleh sebab itu, Allah swt murka dan menghancurkan Benua Sundaland yang megah itu menjadi 17.000 pulau lebih yang kini bernama Indonesia. Untuk lebih jelasnya, baca tulisan saya yang lalu berjudul Indonesia dalam Pandangan Allah swt.

            Penemuan pemukiman ramai dan barang dagangan dari Romawi itu pun menunjukkan kesalahan dari dugaan Darwin. Para pengikut Darwin selalu berpandangan bahwa manusia itu berasal dari makhluk bersel satu dan berkembang hingga menjadi sekarang ini. Penemuan adanya budaya yang sama dalam keadaan ramai dan padat seperti yang ditemukan peneliti tanpa adanya penemuan manusia purba dan atau bentuk fisik manusia yang sedang berubah dari monyet menjadi manusia di tanah Sunda sudah menegaskan kesalahan Darwin. Hal yang benar adalah sesungguhnya sebagaimana yang diinformasikan oleh Allah swt dalam QS Al Hujurat 49 : 13.

            “Wahai Manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh Allah Maha Mengetahui dan Maha Teliti.”

            Dari ayat tersebut, kita dapat memahami bahwa Allah swt menciptakan manusia itu bersuku-suku dan berbangsa-bangsa dengan karakteristik masing-masing serta kecerdasan intelektual, spiritual, dan emosional juga yang masing-masing. Manusia diciptakan berbeda secara fisik, mental, intelektual, emosional, dan spiritual. Hal  itu dimaksudkan Allah swt untuk saling mengenal sehingga dapat saling belajar, saling mengisi, dan saling membantu dalam menyempurnakan hidup dan kehidupan yang diciptakan Allah swt.

            Orang Sunda, Jawa, Minang, Batak, Papua, dan seluruh suku bangsa di dunia ini memiliki leluhur masing-masing, memiliki sepasang suami istri masing-masing yang merupakan awal dari suku bangsa itu. Di wilayah setiap suku ada tempat yang merupakan lokasi bagi Allah swt dalam menciptakan pasangan awal suami istri yang melahirkan suku bangsa mereka. Dari pasangan awal itulah lahir suku bangsanya yang khas dengan segala karakteristiknya sesuai dengan kehendak Allah swt.

            Allah swt memberikan contoh penciptaan sepasang suami-istri ini sebagaimana penciptaan Adam-Hawa. Adam-Hawa adalah leluhur pertama bagi sukunya sendiri dan bukan leluhur seluruh manusia.

            Penemuan pemukiman manusia dalam satu kontek budaya yang sama pun menegaskan “kesalahan” berbagai dugaan yang selama ini berkembang dan dikembangkan bahwa orang Indonesia merupakan para pendatang dari negeri-negeri lain. Banyak sekali buku sejarah yang menulis bahwa orang Indonesia ini merupakan pendatang dari bangsa Yunan, Cina tanpa memberikan bukti yang benar.

            Coba terangkan kepada saya ahli sejarah mana saja di dunia ini yang dapat menjelaskan bahwa jika bangsa Indonesia berasal dari Yunan, Cina, mengapa perilaku dan tradisi Yunan tidak pernah ada pada bangsa Indonesia?

            Mengapa tak ada jejak keyakinan suku Yunan, Cina pada penduduk pribumi Indonesia?

            Mengapa pula bangsa Indonesia tidak pernah menggunakan bahasa Yunan?

            Ada masalah apa antara antara bangsa Indonesia dengan leluhurnya dari Yunan sehingga tidak sudi lagi menggunakan bahasa Yunan?

            Tak ada jejak signifikan penggunaan bahasa Yunan di Indonesia. Orang Indonesia menggunakan bahasa ibunya masing-masing dan kini sepakat menjadikan bahasa Indonesia menjadi bahasa nasional, bahasa persatuan.

            Ke mana bahasa Yunan?

            Saya menunggu penjelasan atas itu.

            Kalau tidak ada yang bisa menjelaskan dan memang tidak akan pernah ada yang bisa menjelaskan, penjelasan dari Allah swt adalah yang paling benar. Mahabenar Allah swt dengan segala firman-Nya.

            Saya memahami penjelasan dari Allah swt adalah bahwa setiap suku di dunia ini memiliki sepasang suami-istri khusus yang diciptakan Allah swt sebagai leluhur mereka dengan fisik berbeda, bahasa berbeda, tantangan hidup berbeda, watak berbeda, serta dibekali modal pengetahuan minimal yang berlainan sesuai dengan tantangan hidup masing-masing. Untuk kebutuhan keberlangsungan hidup, Allah swt menciptakan alam sekitarnya agar modal minimal pengetahuan manusia itu dapat memanfaatkannya. Perbedaan suku-suku sengaja diciptakan agar manusia dapat saling belajar antara satu dengan yang lainnya agar tercipta kehidupan saling membantu dan saling mengisi dalam menyempurnakan kehidupan sebagaimana yang direncanakan Allah swt.

            Sepasang suami-istri Sunda melahirkan anggota-anggota sukunya, lalu berkembang dan belajar sepanjang hidupnya sehingga makmur dan kaya raya atas izin Allah swt. Semua suku di Indonesia pun seperti itu diciptakan Allah swt. Akan tetapi, sayang sekali orang-orang Indonesia yang sudah kaya raya, cerdas, kuat itu harus dihancurkan Allah swt karena terlalu banyak dosanya kepada Allah swt. Mereka yang lemah dan selamat dari hukuman Allah swt adalah orang-orang miskin dan terhina, tetapi tetap beriman dalam kehidupan masa Sundaland dengan jumlah sedikit yang kembali mencoba hidup baru dan berkembang sampai saat ini dalam kondisi wilayahnya sudah menjadi kepulauan berjumlah lebih dari 17.000 pulau bernama Indonesia. Kita adalah keturunan mereka.

            Sampurasun.