Showing posts with label Kiamat. Show all posts
Showing posts with label Kiamat. Show all posts

Saturday, 22 April 2017

Nabi Adam Diciptakan Belakangan

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Banyak orang menduga bahwa Adam as adalah manusia pertama. Padahal, bukan. Beberapa tulisan saya yang lalu menjelaskan hal ini. Berdasarkan keterangan QS Al Hujurat 49 : 13, Allah swt menciptakan banyak suku dengan bahasa tertentu, kemampuan tertentu, kecerdasan tertentu, kondisi fisik tertentu, dan tantangan hidup tertentu. Untuk asal mula setiap suku, Allah swt menciptakan sepasang suami-istri khusus sebagai cikal bakal suku tersebut. Jadi, banyak sekali manusia yang diciptakan langsung oleh Allah swt tanpa ayah dan tanpa ibu. Pasangan Adam-Hawa hanyalah salah satu pasangan yang diciptakan Allah swt tanpa ayah dan tanpa ibu. Pasangan Adam-Hawa merupakan cikal bakal untuk sukunya sendiri dan bukan menjadi leluhur seluruh manusia.

            Hal ini dijelaskan pula oleh Allah swt bahwa sebelum Nabi Adam diciptakan, sudah sangat banyak manusia hidup di muka Bumi ini.

            Perhatikan firman Allah swt dalam QS Al Baqarah 2 : 213 berikut ini.

            “Manusia itu (dahulunya) satu umat. Lalu, Allah mengutus para nabi (untuk) menyampaikan kabar gembira dan peringatan. Lalu, diturunkan-Nya bersama mereka kitab yang mengandung kebenaran untuk memberikan keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. Kemudian, yang berselisih hanyalah orang-orang yang telah diberi (Kitab) setelah bukti-bukti yang nyata sampai kepada mereka karena kedengkian di antara mereka sendiri. Oleh sebab itu, dengan kehendak-Nya, Allah memberikan petunjuk kepada mereka yang beriman tentang kebenaran yang mereka perselisihkan. Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki ke jalan yang lurus.”

            Perhatikan dua kalimat pertama.

            Manusia itu (dahulunya) satu umat. Lalu, Allah mengutus para nabi (untuk) menyampaikan kabar gembira dan peringatan.

            Kedua kalimat itu mengandung arti bahwa dulu manusia ini satu umat. Yang dimaksud satu umat adalah satu keyakinan, satu Tuhan. Dr. Ahmad Hatta, M.A.  mengartikannya sebagai satu ketauhidan. Oleh sebab itu, tak ada perselisihan di antara manusia meskipun terdiri dari ribuan suku bangsa. Tak ada pertengkaran dan perebutan kekuasaan, ekonomi, maupun sumber daya alam karena semua memiliki keyakinan yang sama bahwa hidup adalah hanya untuk mengabdikan diri kepada Tuhan Yang Satu, dalam bahasa Arab disebut Allah swt dan dalam bahasa lain ada sebutan lain pula.

            Ketika manusia sudah semakin banyak, semakin berkembang kecerdasannya, semakin berkembang kebutuhannya, terjadilah banyak masalah dan perselisihan. Konflik-konflik itu membuat kerusakan tatanan hubungan di antara manusia. Kemudian, lambat atau cepat manusia terlalu sibuk memikirkan duniawi sehingga melupakan kewajibannya yang pasti, yaitu mengabdikan diri kepada Tuhan Yang Satu. Ketika manusia sudah sangat kafir dan kekafirannya tidak bisa ditolerir lagi, Allah swt menghukumnya dan menghancurkannya hingga tak bersisa atau hanya disisakan sedikit saja. Ketika suatu zaman dihancurkan, dimusnahkan, dan ditenggelamkan hingga hilang dari kehidupan dunia, Allah swt memunculkan kembali umat-umat yang baru. Dalam perjalanannya, umat-umat yang baru ini pun melakukan kesalahan yang sama dengan umat-umat yang telah dihancurkan. Akibatnya, Allah swt melumatkannya lagi, kemudian menciptakan lagi umat yang baru. Begitu berulang-ulang Allah swt menciptakan dan menghancurkan manusia.

            Jika dilihat dari hasil penelitian para peneliti terkait dengan geografi, geologi, oceanografi, atau ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan daratan dan lautan, disepakati bahwa seluruh daratan di muka Bumi ini dulunya adalah satu daratan yang sama dan tidak terpisah-pisah. Akan tetapi, bentuk daratan yang satu itu mengalami perubahan oleh banyak bencana besar yang berulang-ulang hingga memisahkan daratan itu menjadi beberapa benua dan beberapa pulau.

            Apabila kita membaca Al Quran, sering sekali Allah swt menyuruh kita berjalan-jalan di muka Bumi untuk mellihat bagaimana Allah menghancurkan manusia-manusia durhaka dan akibat-akibat yang ditimbulkannya. Bentuk daratan seperti saat ini sesungguhnya telah mengalami ribuan kali bencana teramat dahsyat.

            Suatu saat Allah swt memiliki kebijakan lain, yaitu ingin menciptakan manusia yang menjadi wakil dirinya di muka Bumi. Tak heran rencana itu sempat membuat bingung para malaikat.

            Para malaikat bertanya, “Untuk apa menciptakan manusia yang akan menumpahkan darah di muka Bumi? Bukankah kami yang selalu memuji dan mengagungkan Engkau, ya Allah?”

            Begitu kira-kira malaikat merasa heran. Malaikat bertanya-tanya soalnya mereka sangat tahu bahwa sudah ribuan umat yang diciptakan, lalu dihancurkan. Diciptakan lagi yang lain, lalu dihancurkan lagi.

            Mereka tidak percaya bagaimana mungkin Allah swt akan menjadikan manusia yang suka melakukan kekafiran, membuat kekacauan di muka Bumi, dan saling bunuh itu menjadi wakil Allah swt di Bumi?

            Kalaupun mau mengangkat wakil, seharusnya dari kalangan malaikat karena malaikat adalah yang selalu memuji dan mengagungkan Allah swt, tidak pernah bikin kekacauan, apalagi saling bunuh. Adapun manusia, berulang-ulang bikin kekacauan, saling bunuh, dan berubah kafir. Begitu kira-kira yang ada di pikiran malaikat.

            Akan tetapi, Allah swt menegaskan, “Aku lebih tahu.”

            Kemudian, Allah swt memerintah Adam untuk memamerkan kecerdasannya di hadapan malaikat. Akhirnya, para malaikat pun mengakui bahwa Adam as adalah lebih hebat, lebih cerdas, dan lebih unggul dibandingkan para malaikat. Allah swt pun memerintah para malaikat untuk segera bersujud kepada Adam sebagai penghormatan dan pengakuan bahwa Adam lebih cerdas dan lebih mulia.

            Allah swt memang menciptakan Adam as dengan kecerdasan di atas malaikat dan di atas rata-rata manusia biasa yang sudah diciptakan sebelumnya.

            Manusia itu (dahulunya) satu umat. Lalu, Allah mengutus para nabi (untuk) menyampaikan kabar gembira dan peringatan.

            Pada masa belum ada nabi seluruh manusia selalu dihancurkan, kemudian diganti oleh umat manusia yang lain dan berbeda. Kemudian, dihancurkan lagi. Selalu begitu. Oleh sebab itu, Allah swt menurunkan nabi agar manusia mendapatkan petunjuk, tidak lagi berselisih, tidak lagi saling berebut, tidak saling bunuh, dan tetap mengabdi dengan benar kepada Tuhan Yang Satu. Dengan demikian, manusia tidak perlu dihancurkan lagi dan lagi dalam sejarah kehidupan dunia ini.

            Nabi yang pertama diciptakan namanya adalah Adam. Istrinya bernama Hawa di Amerika Serikat dan Eropa disebut Eva. Adam-Hawa sama dengan Adam-Eva.

            Lalu, diturunkan-Nya bersama mereka kitab yang mengandung kebenaran untuk memberikan keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan.

            Para nabi itu diutus Allah swt dengan membawa kita-kitab suci sebagai panduan bagi manusia untuk menyelesaikan berbagai permasalah manusia, baik persoalan ekonomi, sumber daya alam, politik, maupun ritual keagamaan. Akan tetapi, sayangnya setelah para nabi dan kitab itu turun, manusia tetap berselisih, bertengkar, malah berperang saling bunuh. Hal itu disebabkan manusia terbagi dua, yaitu ada yang bersikap benar dan sesuai dengan petunjuk para nabi serta ada yang mengingkari kebenaran para nabi beserta kitab-kitabnya. Mereka yang ingkar itu disebabkan iri dan dengki kepada orang-orang yang bersikap benar dan hidup sesuai dengan petunjuk para nabi dan kitab-kitabnya. Akibatnya, orang-orang yang ingkar ini bukan saja memusuhi orang-orang yang benar, melainkan pula memusuhi para nabi, kitab-kitab suci, bahkan memusuhi Tuhan Yang Satu.

            Karena manusia tetap berselisih, bertengkar, saling bunuh, bahkan mengingkari Tuhan Yang Satu, Allah swt membagi dua kelompok manusia, yaitu kelompok beriman dan kelompok tidak beriman.

            Oleh sebab itu, dengan kehendak-Nya, Allah memberi petunjuk kepada mereka yang beriman tentang kebenaran yang mereka perselisihkan. Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki ke jalan yang lurus.”

            Orang-orang yang beriman terus-menerus diberi pemahaman yang benar oleh Allah swt agar tetap menjadi orang-orang yang benar. Adapun orang-orang yang penuh rasa iri, dengki, dan bersikap ingkar, dibiarkan tersesat hingga menemui kehidupan yang sesat dan penuh dengan kekalutan. Jika Allah swt tidak menyayangi mereka, mereka akan tetap durhaka hingga hari kiamat dan berada di dalam neraka yang sejak lama tidak mereka percayai. Setelah mereka berada di dalam neraka, barulah mereka percaya. Sayangnya, saat itu sudah terlambat dan tak ada jalan kembali pulang ke dunia ini. Kekal selamanya di dalamnya.

            Adam bukanlah manusia pertama, melainkan nabi pertama yang diutus Allah swt untuk memberikan petunjuk agar manusia tidak selalu berselisih dan bertengkar hanya karena rebutan ekonomi, politik, sumber daya alam, atau cara-cara ritual keagamaan. Para nabi selalu lurus dari awal hingga akhir, dari Adam hingga Muhammad selalu mengajarkan kebaikan dan memberikan penjelasan mengenai penyelesaian masalah manusia. Sayangnya, manusia selalu menganggap diri terlalu pintar dan tidak memerlukan ajaran para nabi. Akhirnya, manusia selalu hidup kusut, menderita, mudah bertengkar, mudah stres, mudah berkelahi, bangga terhadap dirinya, dan gemar melakukan pembunuhan.

            Kembalilah kepada ajaran para nabi sejak Adam hingga Muhammad agar persoalan-persoalan manusia dapat diselesaikan dengan cepat dan baik. Jika tidak, manusia tetap akan terbagi dua, yaitu manusia baik dan manusia buruk. Kita memiliki kebebasan untuk menjadi baik atau menjadi buruk. Menjadi baik atau menjadi buruk sama-sama memiliki konsekwensi dan harus selalu diperjuangkan. Orang baik akan berakhir baik dan orang buruk akan selalu berakhir buruk jika tidak berubah menjadi baik.

            Sampurasun.

Thursday, 20 April 2017

Semua Rusak Akibat Ingkar Janji

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Kerusakan di dunia ini hampir seluruhnya diakibatkan oleh perilaku ingkar janji. Sebuah bangsa, negara, sekelompok orang, sekeluarga, pertemanan, persahabatan, bahkan sejarah kehidupan daratan dan lautan di seluruh muka Bumi ini rusak karena perilaku ingkar janji.

            Janji yang telah diucapkan akan menjadi kesepakatan. Kesepakatan itu berubah menjadi peraturan yang harus ditaati. Apabila peraturan tidak ditaati, terjadilah pelanggaran yang akan mengakibatkan jatuhnya sanksi.

            Pelanggaran janji yang pertama kali kita kenal adalah pelanggaran janji yang dilakukan Adam-Hawa. Mereka sudah berjanji untuk tidak akan memakan “buah terlarang”. Akan tetapi, janji itu mereka langgar. Akibatnya, mereka harus turun dari surga dan harus berjuang memenuhi kebutuhan hidupnya jauh lebih sulit dibandingkan ketika dilayani para malaikat di surga.

            Penurunan kejayaan Kerajaan Sunda yang mengalami masa kegemilangannya pada masa Sundaland pun akibat dari pelanggaran terhadap janji. Prabu Siliwangi as dan masyarakat Sundaland sudah berjanji tidak akan memperjualbelikan “padi” atau “beras”. Makanan itu hanya digunakan sebagai bakti kepada manusia dan kemanusiaan. Gratis. Ketika janji itu dipenuhi, rakyat pun hidup dalam kemakmuran luar biasa. Segala bidang kehidupan berkembang pesat dengan sangat cepat. Kemegahan dan ketinggian teknologi begitu mengagumkan dan tidak bisa dipahami manusia hingga hari ini. Bangunan-bangunan megah masa lalu yang kemudian muncul secara “ajaib” di Indonesia pada masa ini masih dipelajari peneliti karena rumitnya konstruksi dan sulitnya memperkirakan cara pembuatannya. Dalam hal makanan, tidak pernah kekurangan. Sebanyak apa pun beras diambil dari gudang, seolah-olah tumpukannya tidak pernah turun, tidak pernah berkurang.  Itulah yang disebut-sebut dengan leuit Pajajaran pinuh, ‘lumbung padi Pajajaran selalu penuh’. Sebelum manusia “melanggar janji”, segala sesuatunya serba sempurna, terutama tentang buah padi yang dijadikan makanan yang dapat diambil dengan sangat enteng tanpa susah payah (cf. Archaimbault, 1973 : 80-81, 113, 124, dan 229-231 dalam V. Sukanda-Tessier, 1991).

            Sayangnya, pada generasi-generasi berikutnya, janji itu dilanggar. Seorang permasuri Sunda terbujuk rayu oleh pebisnis asal Cina yang terus-terusan ingin membeli padi/beras. Awalnya, ditolak dan selalu ditolak. Akan tetapi, bujukan pebisnis itu benar-benar kuat. Akhirnya, terjadilah transaksi jual-beli beras/padi. Akibatnya, jatuhlah hukuman dari Allah swt. Hukuman itu adalah jelas sekali bahwa persediaan padi/beras semakin menyusut drastis dan terus berkurang, laki-laki harus bekerja dua kali lipat untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, dan perempuan harus berletih-letih membantu laki-laki untuk bekerja mencari nafkah. Padahal, sebelumnya segalanya serba mudah, enteng, dan menyenangkan, makanan banyak, dan perempuan tidak perlu bekerja, perempuan hanya perlu mempercantik diri untuk menyenangkan para laki-lakinya dan menunggu para pria di kaputren atau di taman-taman indah.

            Akibat dari kondisi kehidupan yang menurun, terjadi banyak pelanggaran-pelanggaran janji berikutnya. Janji untuk tetap rajin beribadat dan mengagungkan Allah swt, dilupakan dan diingkari. Janji untuk saling menjaga dan saling mengisi, berubah menjadi saling bersaing. Janji untuk saling menyayangi dan saling melindungi berubah menjadi saling menguasai. Janji untuk melindungi perempuan berubah menjadi memperalat perempuan. Janji untuk tidak musyrik berubah menjadi kafir, bahkan menyembah berhala dan mengikuti Iblis.

            Pelanggaran-pelanggaran yang terus terjadi itu membuat murka Allah swt terwujud. Hancurlah Benua Sundaland yang megah dan gagah perkasa itu menjadi berkeping-keping berbentuk kepulauan yang bernama Indonesia.

            Pelanggaran-pelanggaran terhadap janji ini terjadi di seluruh dunia, baik di Arab, Eropa, Afrika, maupun Asia. Di seluruh pelosok dunia ada nabi. Janji-janji manusia lewat para nabi inilah yang dilanggar dan diingkari akibat hawa nafsu yang berlebihan dan kurangnya kesabaran manusia dalam menghadapi kehidupan.

            Seandainya kita semua dapat memegang janji kita, baik janji kecil maupun janji besar, baik kepada seseorang, sekelompok orang, maupun kepada Allah swt, niscaya hidup kita akan baik-baik saja. Kekusutan hidup kita sebenarnya akibat banyaknya janji dan kesepakatan yang kita langgar sendiri.

            Bahkan, kita semua, seluruh manusia sudah berjanji untuk hanya menyembah satu Tuhan, yaitu Allah swt, tetapi banyak yang melanggarnya. Oleh sebab itu, Allah swt menurunkan para nabi untuk mengingatkan kita atas janji kita yang hanya menyembah Tuhan Yang Satu. Jika janji itu kita tepati, kita akan baik-baik saja. Jika janji itu diingkari, wajar jika hidup kita kusut.

            Janji kita kepada Allah swt diabadikan dalam Al Quran.

            “Ingatlah ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman), ‘Bukankah Aku ini Tuhanmu?’

            Mereka menjawab, ‘Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.’

            (Kami lakukan yang demikian itu) agar kamu di hari kiamat tidak mengatakan, ‘Sesungguhnya, kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lupa terhadap ini (keesaan Tuhan).’” (QS Al Araaf 7 : 172)

            Karena kejadian ini sudah sangat lama, manusia lupa sama sekali. Saking lupanya, banyak manusia yang tidak percaya terhadap kejadian dirinya pernah bersumpah di hadapan Allah swt. Banyak manusia yang mengatakan bahwa itu hanya dongeng dan bohong belaka. Hanya karena lupa, mereka mengingkari janjinya.

            Allah swt tahu bahwa manusia pasti akan lupa. Oleh sebab itu, Allah swt mengingatkan kembali peristiwa itu melalui para nabi. Ayat ini pun merupakan pengingat bagi manusia agar kembali pada janjinya yang dulu.

            Lupa, kan?

            Pasti lupa.

            Manusia memang mudah lupa karena saking panjangnya peristiwa yang harus dialami.

            Bagi mereka yang mengingkari atau tidak percaya bahwa dirinya pernah bersumpah di hadapan Allah swt, saya punya pertanyaan, “Ketika kalian berusia lima tahun, pada hari Rabu, celana kalian berwarna apa?”

            Masih ingat warna celana kalian saat itu?

            Lupa, kan?

            Iya, kan?

            Warna celana ketika kita berusia lima tahun saja lupa, apalagi peristiwa yang terjadi ketika fisik kita masih berupa sperma ayah kita dan belum menyentuh sel telur ibu kita. Saat sperma ayah kita keluar, ruh kita yang akan dimasukkan ke dalam sperma yang bergabung dengan sel telur ibu kita, bersumpah kepada Allah swt bahwa hanya akan menyembah Tuhan Yang Satu, Tuhan yang menciptakan kita, yaitu Allah swt dalam bahasa Arab dan bisa sebutan lain dalam bahasa lain, tetapi semuanya berujung kepada Tuhan Yang Maha Esa.

            Supaya hidup kita baik-baik saja di dunia dan di akhirat, penuhi janji kita untuk tetap ber-Tuhan Yang Satu. Laksanakan segala perintah-Nya, jauhi segalah hal yang dilarang-Nya.


            Sampurasun.

Saturday, 11 February 2017

Para Saksi Kehancuran Indonesia

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya

Bukan kehancuran Indonesia yang sekarang yang saya maksudkan, melainkan Indonesia yang dulu sebelum namanya bukan Indonesia ketika masih merupakan daratan Sundaland. Masa depan Indonesia yang sekarang masih belum diketahui apakah akan hancur atau bertambah mulia. Meskipun menjadi mulia dan besar, pada akhirnya akan hancur juga oleh kiamat karena semuanya ada waktu berakhirnya. Segala sesuatu yang memiliki awal, pasti memiliki akhir. Satu-satunya zat yang tidak berawal dan tidak berakhir hanyalah Allah swt. Oleh sebab itu, Allah swt tidak akan pernah hancur. Tugas kita sekarang adalah menjadikan Indonesia mulia dan besar sehingga rakyatnya pun menjadi mulia dan besar.

            Dulu, ketika Indonesia masih berupa Benua Sundaland, rakyat dan kerajaan-kerajaannya teramat makmur, mudah sandang, murah pangan, dan ketinggian teknologinya tak ada bandingannya di dunia ini. Bangunan-bangunan megah seperti di Gunung Padang dan ratusan, bahkan ribuan candi dibangun dengan sangat teliti dan rumit sehingga orang-orang sekarang pun tak memiliki kemampuan untuk menjelaskan bagaimana bangunan-bangunan megah itu bisa berdiri kokoh dan indah tiada tara. Di samping itu, makanan tidak pernah kekurangan, semua orang hidup dalam keadaan kaya raya dengan segala perhiasan-perhiasan dunianya. Akan tetapi, sayangnya, manusia memang kerap lupa dan menjadi serakah, tak pernah puas dengan apa yang telah didapatnya. Banyak manusia yang selalu ingin lebih dan lebih lagi. Ketika keinginannya untuk menjadi lebih kaya raya tidak terpenuhi dan doanya tidak dikabulkan Allah swt, mereka pun kecewa. Kekecewaan mereka pun mengubah sikap dan keyakinan hidup mereka kepada Allah swt. Mereka mencari sesembahan lain yang dianggap mampu memuaskan keinginan mereka. Akibatnya, mereka menjadi kafir dan bersahabat erat dengan Iblis Laknatulllah. Ketika kekafiran mereka menjadi-jadi dan meninggalkan ajaran para nabi, seperti, Nabi Prabu Siliwangi as, Nabi Sulaeman as, Nabi Daud as, dan nabi-nabi lainnya, Allah swt pun murka dan menghancurkan mereka sehancur-hancurnya sehingga menjadi serpihan-serpihan kecil. Benua Sundaland pun hancur berkeping-keping menjadi kepulauan seperti yang sekarang ini bernama Indonesia.

“… Kami hancurkan mereka sehancur-hancurnya. Sungguh pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi setiap orang yang sabar dan bersyukur.” (QS 34 : 19)

“Demikianlah Kami memberi balasan kepada mereka karena kekafiran mereka. Dan kami tidak menjatuhkan azab (yang demikian itu), melainkan hanya kepada orang-orang yang sangat kafir.” (QS 34 : 17)


Mereka yang Selamat Menjadi Saksi Kehancuran
Ketika Allah swt menghancurkan Benua Sundaland dengan sangat dahsyat yang menurut Plato, filsuf Barat, terjadi dalam satu hari, orang-orang Indonesia pun berlarian ketakutan kesana-kemari tak tentu arah, bingung dan cemas, para ibu meninggalkan bayi yang sedang disusuinya, terjadi kerusakan dalam organ-organ tubuh akibat getaran dan kepanikan luar biasa, serta sebagian kabur ke berbagai penjuru dunia. Bencana dahsyat itu benar-benar mengerikan dan sampai hari ini belum ada lagi bencana sesadis itu. Saking dahsyatnya, orang-orang sombong dan angkuh pun hancur lebur, baik fisik maupun jiwanya.

            Beberapa dari mereka yang kafir, tetapi tidak terlalu kafir diselamatkan Allah swt dari bencana spektakuler itu. Namun, mereka mulai gila dan kehilangan akal, tak jelas lagi pandangan dan arah hidup mereka. Allah swt tahu itu semua, kemudian menyelamatkan jiwa dan pikiran mereka serta kembali menenangkan mereka agar pikiran mereka dapat kembali lurus dan menyadari berbagai kesalahan dan kebodohan yang telah diperbuat mereka.

            “Dan syafaat (pertolongan) di sisi-Nya hanya berguna bagi orang yang telah diizinkan-Nya (memperoleh syafaat itu). Sehingga apabila telah dihilangkan ketakutan dari hati mereka, mereka berkata, ‘Apa yang telah difirmankan oleh Tuhanmu?’ Mereka menjawab, ‘(Perkataan) yang benar,’ dan Dialah Yang Mahatinggi, Mahabesar.” (QS 34 : 23)

            Orang-orang ini sadar atas kesalahan dirinya yang telah melupakan ajaran para nabi terdahulu. Mereka menyadari bahwa peringatan-peringatan dan ancaman-ancaman dari para nabi terdahulu adalah kebenaran dan bukan kebohongan karena mereka telah mengalaminya sendiri. Merekalah para saksi atas hancurnya Benua Sundaland sehingga menjadi kepulauan seperti sekarang ini.

            Beberapa dari mereka memulai kembali membangun perkampungan dengan menjaga setiap nasihat-nasihat leluhur mereka yang berasal dari para nabi terdahulu. Mereka bertahap membangun kerajaan-kerajaan kecil pada berbagai pulau dan tetap menjadikan ajaran para nabi mereka sebagi panduan. Begitulah kearifan lokal mulai terjadi. Sebagian lagi memilih untuk menjauhi kehidupan dunia karena saking takutnya kepada Allah swt yang bisa kapan saja menjatuhkan bencana dahsyat atas kekafiran mereka. Merekalah orang-orang yang anti pembaharuan, anti pembangunan, dan anti perubahan. Mereka tetap kuat dalam adat mereka dan tidak ingin berubah, bahkan menolak siapa pun dan apa pun yang dapat mengubah keyakinan dan cara hidup mereka. Mereka tidak peduli dengan perkembangan dan modernisasi. Mereka hanya peduli pada kehidupan spiritual dan menjaga diri agar Allah swt tidak lagi menjatuhkan bencana yang sangat dahsyat.

            Salah satu yang tidak menginginkan perubahan drastis dan menolak apa pun yang menurut anggapan mereka bisa membawa kerusakan adalah warga Kanekes yang biasa disebut Suku Baduy. Mereka benar-benar selektif atas hal-hal yang datang dari luar diri mereka. Mereka tak ingin diganggu dan tidak ingin berubah. Leluhur mereka secara turun-temurun mengingatkan bahaya apabila meninggalkan berbagai peribadatan kepada Allah swt. Leluhur mereka benar-benar mengalami bagaimana perubahan keyakinan dan kemunkaran mengakibatkan kehancuran luar biasa. Oleh sebab itu, mereka memilih untuk tidak meninggalkan peribadatan dan pengabdian kepada Allah swt dengan cara mereka sendiri sesuai syariat yang kemungkinan besar berasal dari Nabi Prabu Siliwangi as. Hal itu disebabkan mereka meyakini adanya Buana Larang, Buana Tengah, dan Buana Nyungcung.

            Apabila sampai meninggalkan adat dan keyakinan leluhur, mereka sangat takut Allah swt akan menimpakan azab seperti yang sudah-sudah, bahkan lebih besar. Hal ini sebagaimana yang dikatakan mereka sendiri.

            Ti meletuk datang ka meletek, ti segir datang ka segir deui. Lamun dirobah buyut kami lamun hujan liwat ti langkung lamun halodo liwat ti langkung. Tengsetna lamun buyut kami dipaksa dirobah cadas malela jadi tiis, buana larang buana tengah buana nyungcung pinuh ku sagara (Judistira Garna, 1991, Masyarakat Baduy dan Siliwangi [Menurut Anggapan Orang-Orang Baduy Masa Kini]).

            Apabila kita terjemahkan secara bebas, perkataan orang Baduy itu kira-kira akan seperti berikut.

            Dari subuh sampai subuh lagi, dari musim hujan sampai musim hujan lagi, dari musim kemarau sampai kemarau lagi, kami tidak akan berubah. Pendek kata, kalau keyakinan dan kebiasaan kami diubah, batu cadas dan hutan tidak akan lagi bermanfaat, seluruh dunia nyata dan dunia gaib akan dibanjiri lautan.

            Hal yang membuat saya sangat tertarik adalah kata-kata terakhir dalam kalimat mereka, yaitu “… pinuh ku sagara”, artinya “… dibanjiri lautan.”

            Mengapa mereka mengatakan bahwa azabnya itu adalah dibanjiri lautan?

            Mengapa bukan azab berupa angin puyuh puting beliung topan tornado?

            Mengapa bukan kehancuran akibat kebakaran hutan yang sangat masif atau bencana lainnya?

            Hal itu menunjukkan bahwa leluhur mereka memiliki pengalaman yang sangat buruk dengan bencana banjir yang meluap dari lautan lepas hingga menenggelamkan gunung-gunung tinggi di Indonesia. Hal itu pun mengisyaratkan bahwa memang Benua Sundaland itu adalah tempat yang sangat makmur dan hebat yang disebut-sebut orang sebagai Atlantis sebagaimana yang dikisahkan oleh Plato. Sayangnya, Benua Sundaland yang kini bernama Indonesia dan sekitarnya itu harus hancur berkeping-keping, bagai bubuk roti yang disebarkan hingga berupa kepulauan seperti sekarang ini. Hal itu disebabkan oleh kemarahan Allah swt akibat kedurhakaan dan keserakahan penduduknya yang keterlaluan hingga meninggalkan segala peribadatan dan mengalihkan keimanan mereka kepada Iblis Laknatullah, padahal Allah swt telah menjadikan penduduk Benua Sundaland adalah manusia paling unggul di muka Bumi.

            “Dan sungguh, Iblis telah dapat meyakinkan terhadap mereka kebenaran sangkaannya, lalu mereka mengikutinya, kecuali sebagian dari orang-orang Mukmin.” (QS 34 : 20)

            “… mereka mendustakan para rasul-Ku. Maka (lihatlah) bagaimana dahsyatnya akibat kemurkaan-Ku.” (QS 34 : 45)

            Hal itu harus menjadi pelajaran bagi kita semua bahwa jika kita mengingkari Allah swt dan tak ada lagi orang yang mampu menjaga syariat Allah swt untuk tetap dalam kebenaran sehingga menganggap bahwa dosa-dosa mereka sebagai hal yang benar, Allah swt akan benar-benar menjatuhkan hukuman yang teramat berat dan mengerikan.

            “… Kami jadikan mereka bahan pembicaraan dan Kami hancurkan mereka sehancur-hancurnya. Sungguh pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi setiap orang yang sabar dan bersyukur.” (QS 34 : 19)

            Jaga diri dan perbuatan kita untuk tidak membuat murka Allah swt agar tak lagi mendapatkan azab sebagaimana yang telah disaksikan oleh leluhur Suku Baduy, warga Kanekes, Banten, Indonesia.