Showing posts with label Benua Sundaland. Show all posts
Showing posts with label Benua Sundaland. Show all posts

Saturday, 15 April 2017

Matinya Bahasa Sansakerta

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Dalam hal bahasa, yang disebut sebuah bahasa mati itu bukan berarti musnah dan hilang tanpa bekas, melainkan bahasa itu sudah tidak efektif lagi digunakan untuk berkomunikasi. Demikian pula dengan bahasa Sansakerta yang pernah ada di Indonesia, mati. Bahasa ini sekarang hanya digunakan untuk nama-nama gedung, organisasi yang berkaitan dengan pemerintah, atau semangat-semangat keprajuritan seperti Jales Veva Jaya Mahe, ‘Di Laut Kita Jaya’ yang merupakan spirit Angkatan Laut Indonesia.

            Para ahli banyak yang mengatakan bahwa bahasa Sansakerta berasal dari India karena huruf dan penggunaannya masih banyak di India. Akan tetapi, para ahli tidak mengetahui kapan bahasa ini masuk ke Indonesia, apakah melalui perkawinan, hubungan ekonomi, sosial, atau hubungan militer. Tidak jelas. Kalaupun benar bahasa Sansakerta berasal dari India, harus ada kisah dongeng ataupun catatan sejarah tentang keakraban maupun konflik antara kerajaan-kerajaan di Indonesia dengan kerajaan-kerajaan di India. Kenyataannya, tidak ada. Kalaupun ada, tidak diketahui masyarakat dan hanya terdiri atas satu atau dua paragraf pengantar dari folklore yang berisi kisah tentang kerajaan di Indonesia. Demikian pula kematian bahasa Sansakerta di Indonesia, tidak diketahui dengan baik. Seolah-olah ada sejarah yang putus dan hilang terkubur.

            Tampaknya, memang bahasa itu terkubur karena para penggunanya terkubur akibat bencana mahadahsyat yang menghancurkan Benua Sundaland menjadi 17.000 pulau bernama Indonesia. Eksistensi bahasa Sansakerta di Indonesia tampak pada peninggalan prasasti batu tulis dan naskah-naskah kuno. Isinya biasanya tentang hal-hal terhormat dan mulia. Artinya, bahasa itu digunakan di kalangan terhormat, kaum bangsawan, dan orang-orang berkedudukan tinggi.

            Apabila kita melihat peta kekuasaan Kerajaan Sunda yang dibuat oleh Prof. Dr. Edi S. Ekadjati, ternyata India itu dulunya hanya sebuah kadipaten dari Kerajaan Sunda. Artinya, India adalah bawahan dari Kerajaan Sunda. Hal itu menunjukkan bahwa Kerajaan Sunda pada masa Sundaland memberikan pengaruh yang besar pada India, termasuk dalam hal bahasa. Dengan demikian, saya memiliki dugaan bahwa bahasa Sansakerta bukanlah berasal dari India, melainkan sebaliknya, berasal dari Indonesia yang menyebar ke India.

            Dengan melihat berbagai peninggalan, bahasa Sansakerta dapatlah dikatakan sebagai bahasa tinggi di kalangan orang-orang tinggi. Artinya, tidak semua penduduk Sundaland menggunakan bahasa Sansakerta. Kalangan masyarakat pinggiran, miskin, dan lemah menggunakan bahasa yang lain. Fenomena ini bisa kita lihat pada masa kini juga, yaitu bahasa Indonesia yang digunakan di kalangan orang terhormat, mulia, dan terpelajar. Adapun masyarakat yang masih jauh di pedalaman, apalagi terisolasi dan kuat memegang adat istiadat, sama sekali tidak mampu berbahasa Indonesia. Jangankan berbahasa Indonesia, mendengar saja pun mungkin belum pernah. Mereka hanya menggunakan bahasa mereka sendiri.

            Jika kita memperhatikan Al Quran surat Saba, bencana mahadahsyat yang datang bebarengan antara banjir laut pasang melahap gunung, gempa tektonik, dan gempa vulkanik pada 8.000 tahun sebelum Masehi adalah ditujukan untuk orang-orang kaya yang sombong, para penguasa yang angkuh, dan orang-orang mulia yang sudah menjadi kafir melupakan ajaran para nabi terdahulu. Orang-orang inilah yang terkubur dan tenggelam dengan segala kekuasaan dan kekayaannya. Orang-orang tinggi dan terhormat inilah sebagai pengguna bahasa Sansakerta yang musnah dari muka Bumi. Jadi, kematian bahasa Sansakerta disebabkan oleh kematian para penggunanya. Pengguna bahasa Sansakerta di Indonesia sebagian besar musnah dan hanya diingat oleh beberapa orang saja yang diselamatkan Allah swt dari bencana itu. Adapun orang-orang pinggiran, lemah, dan miskin, tetapi masih tetap memegang ajaran nabi terdahulu selamat dari bencana itu dan memulai hidup baru dalam kondisi wilayahnya yang telah berubah menjadi kepulauan.

            Daratan India sebenarnya mengalami goncangan teramat hebat ketika terjadi bencana itu. Akan tetapi, menurut catatan para peneliti, wilayah yang paling parah mengalami kehancuran adalah Benua Sundaland. Memang hasilnya bisa kita lihat saat ini bahwa benua yang satu berubah drastis menjadi 17.000 pulau bernama Indonesia. Karena kerusakan daratan India tidak separah kehancuran Benua Sundaland, masih sangat banyak pengguna bahasa Sansakerta beserta berbagai tulisan dan ajarannya yang tidak musnah dan tetap hidup di India. Tampaknya, inilah yang menyebabkan orang-orang berpendapat bahwa bahasa Sansakerta berasal dari India. Akan tetapi, saya melihat hal lain. Hal itu adalah wilayah asal bahasa Sansakerta, yaitu Benua Sundaland yang kini bernama Indonesia hancur lebur berkeping-keping dan mengubur serta menenggelamkan para pengguna bahasa Sansakerta sampai hampir habis dan masih diingat oleh hanya beberapa gelintir orang yang diselamatkan Allah swt. Dari beberapa gelintir orang inilah bahasa Sansakerta bisa bertahan beberapa kata dan beberapa kalimat di Indonesia. Adapun di India, bahasa Sansakerta yang asalnya dari Indonesia tetap masih hidup dan digunakan karena wilayahnya tidak hancur parah seperti Sundaland.

            Wallahu alam

            Begitu Saudara.

            Ada yang berbeda pendapat?

            Boleh. Bahkan, harus.

            Saya bisa salah. Bisa pula benar.

            Kita harus saling meluruskan agar didapat kebenaran yang lebih nyata dan tepat. Tak perlu malu jika salah dan jangan belagu jika benar.


            Salam damai. Sampurasun.

Saturday, 1 April 2017

Atlantis = Masa Prabu Siliwangi

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Eksistensi Atlantis selalu debatable dan selalu menarik perhatian. Atlantis adalah tempat masa kehidupan sekelompok manusia yang penuh kemakmuran, teknologi tinggi, kejayaan, dan kemegahan. Banyak orang bertahan dengan pendapatnya masing-masing tentang Atlantis, termasuk saya. Penelitian terbaru menyatakan bahwa yang disebut Atlantis adalah berada di Benua Sundaland. Indonesia, yang dibuktikan dengan cuaca alamnya yang ramah, keindahan, rupa-rupa tumbuhan indah dan bermanfaat, penyebaran budaya yang lebih masuk akal, serta peninggalan bangunan-bangunan berteknologi tinggi yang kemudian hancur lebur terpendam dalam lumpur tanah. Hal ini pun diperkuat oleh Al Quran Surat Saba. Salah satu bangunan megah yang ikut hancur oleh bencana alam yang dahsyat melanda seluruh Benua Sundaland hingga berkeping-keping menjadi kepulauan ini adalah Istana Prabu Siliwangi yang kini hanya tersisa reruntuhannya dan berubah menjadi hutan dipenuhi harimau di wilayah Bogor, Jawa Barat, Indonesia.

            Pemahaman Atlantis sezaman dengan Prabu Siliwangi pun dapat kita lihat pada pernyataan Kolonel B. Sudjadi G.R. dari Dinas Sejarah TNI Angkatan Darat dalam artikelnya yang berjudul Tradisi Siliwangi dalam Tubuh Kodam Siliwangi (1991). Pernyataan Sudjadi sangat pendek, tetapi meliputi banyak hal. Ia menjelaskan bahwa masa pemerintahan Prabu Siliwangi sangat luar biasa dan tak terbayangkan saking megahnya.

            “Bila kita telaah pada masa pemerintahan Prabu Siliwangi, hampir tidak dapat dibayangkan karena demikian teraturnya mulai sistem pertahanan, pemerintahan, sistem agama, ilmu falak, topografi ilmu perang, ilmu pengetahuan bahasa asing, dan kerajinan tangan seperti membatik,” tegas Sudjadi.

            Ia pun menjelaskan dengan sangat baik bahwa para prajurit TNI di Jawa Barat mendapatkan pengaruh yang sangat besar dari Prabu Siliwangi as dan masa-masa kegemilangannya.

            “Persepsinya itu dimanifestasikan dalam lambang dan badge Kodam Siliwangi yang mengabadikan nama Siliwangi sebagai perkembangan dari nama Siliwangi dalam bentuk “Maung Siliwangi”.

            Maung Siliwangi itu diartikan lambang kebesaran Prabu Siliwangi dipakai sebagai kiasan “kekerasan hati, kebulatan tekad, dan daya capai dalam mengejar cita-cita yang telah diacarakan”. Adapun nama Siliwangi melestarikan nilai-nilai yang dipujikan karena patuh dan setia terhadap cita-cita sucinya dalam membela kepentingan dan mengutamakan kemajuan rakyat dan negaranya, pantang ingkar terhadap tujuan, lebih suka terhadap kehancuran mutlaknya daripada hidup hilang tanpa pegangan.

            Adalah bukan tanpa maksud bahwa Sempana Resimen Induk (Komandan Pendidikan dan Latihan) Siliwangi sebagai pusat pembentukan keprajuritan dalam Kodam-nya mencantumkan mottonya “prajurit pejuang-karyawan” yang mengandung arti bahwa puncak pikir setiap prajurit Corps Siliwangi harus berisi cita-cita dengan penuh keyakinan dalam pelaksanaan dharma baktinya perjuangan kemerdekaan bangsa, yaitu sebagai prajurit, sebagai pejuang, sebagai karyawan.

            Penjelasan Kolonel Sudjadi menerangkan dengan jelas bahwa diri pribadi Prabu Siliwangi dan masa pemerintahannya yang gilang gemilang telah terintegrasi pada diri setiap prajurit Siliwangi dari mana pun dia berasal. Setiap prajurit Siliwangi meskipun bukan berdarah Sunda, mengenal dengan baik keunggulan Prabu Siliwangi dan menjadikannya semangat hidup serta semangat berbangsa dan bernegara.

            Tak berlebihan bukan jika kejayaan masa Sundaland saat Prabu Siliwangi memimpin adalah teramat mirip dengan kisah-kisah Atlantis yang selama ini beredar luas?

            Iya toh?

            Kalau tidak iya toh, harus ada penjelasan lain yang berbeda dengan yang pernah saya tulis dan harus masuk akal serta punya alasan dan bukti yang lebih kuat.

            Iya toh?

            Iya toh pisan eta mah.

            Sampurasun

            Eh, … kalau mau membantah dan berbeda pendapat, jangan pakai emosi, tetapi pakai pengetahuan dan penjelasan yang logis.


            Sampurasun deui.

Wednesday, 29 March 2017

Sistem Pemerintahan Prabu Siliwangi

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Prabu Siliwangi dikenal menjalankan pemerintahan dengan adil dan bijaksana sehingga mengantarkan negaranya mencapai kegemilangan, keemasan, dan kemakmuran tiada tara yang diimpi-impikan banyak orang untuk terulang kembali. Kemegahan dan kejayaan negara dan rakyatnya benar-benar terwujud sepanjang Nabi Prabu Siliwangi hidup dan terus berlangsung beberapa periode berikutnya sepanjang dipimpin oleh orang-orang yang memegang teguh ajaran Prabu Siliwangi. Akan tetapi, kemudian terjadi penurunan karena mulai tidak mematuhi lagi ajaran Prabu Siliwangi hingga berakhir penuh kedurhakaan yang menimbulkan kemurkaan Allah swt. Kemurkaan Allah swt mengakibatkan Benua Sundaland hancur berkeping-keping menjadi kepulauan seperti sekarang ini. Akibatnya, seluruh kejayaan masa lalu hancur dan terkubur di dalam tanah. Hanya ajaran Prabu Siliwangi yang sebagian masih dikenang orang-orang baik dengan nama Sunda Wiwitan yang tersisa agar kita dapat menelusuri keberadaan kejayaan Prabu SIliwangi as.

            Sistem pemerintahan Prabu Siliwangi dapat dijelaskan dengan menggunakan Teori Kedaulatan Tuhan. Teori Kedaulatan Tuhan merupakan teori kedaulatan yang pertama dalam sejarah. Teori ini mengajarkan bahwa negara dan pemerintah mendapat kekuasaan tertinggi dari Tuhan sebagai asal segala sesuatu (causa prima). Menurut Teori Kedaulatan Tuhan, kekuasaan yang berasal dari Tuhan itu diberikan kepada tokoh-tokoh negara terpilih yang secara kodrati diterapkan-Nya menjadi pemimpin negara dan berperan selaku wakil Tuhan di dunia.

            Hal tersebut dapat dilihat dari pokok-pokok dasar ajaran keagamaan yang diuraikan dalam Sang Hiang Siksa Kanda ng Karesian (TBG.L.IV: 438) yang terangkum lengkap dalam sepuluh dasar/sila kebaktian (dasa pabekti) yang dikutip dalam makalah Antara Senjata Kudyang dengan Senjata-Senjata Tajam Berpamor Lainnya susunan Haris Sukanda Natasasmita (1991).

            Dasa pabekti itu adalah:
1. Anak bakti di bapa
2. Ewe bakti di laki
3. Hulun bakti di pantjadaan
4. Sisa bakti di guru
5. Orang tani bakti di dewata
6. Wadon bakti di mantri
7. Mantri bakti di mangkubumi
8. Mangkubumi bakti di ratu
9. Ratu bakti di dewata
10. Dewata bakti di Hiyang

            Kesepuluh dasar kebaktian ajaran keagamaan itu menunjukkan bahwa agama Sunda Wiwitan menjadi jiwa sekaligus dasar dalam berbangsa dan bernegara. Untuk berbakti kepada Tuhan, setiap orang haruslah berbakti kepada orang yang berada di atas dirinya karena orang yang berada di atasnya akan berbakti kepada orang yang lebih tinggi hingga berujung berbakti pada pemimpin negara yang berbakti kepada Tuhan.

            Apabila kita pahami sesuai dengan kondisi hierarki eksekutif di Indonesia saat ini dasar-dasar kebaktian keagamaan itu adalah anak berbakti pada orangtua, istri berbakti pada suami, suami berbakti pada RT, RT berbakti pada RW, RW berbakti pada lurah/Kades, Kades/lurah berbakti pada camat, camat berbakti pada walikota/bupati, walikota/bupati berbakti pada gubernur, gubernur berbakti pada menteri, menteri berbakti pada presiden, presiden berbakti pada malaikat (Jibril), Jibril berbakti pada Allah swt. Dengan demikian, kebaktian anak kepada orangtua sama bernilai sama dengan berbakti kepada Allah swt karena orangtuanya berbakti kepada orang yang di atasnya yang berujung pada berbakti pada presiden yang berbakti pada Jibril yang berbakti pula kepada Allah swt. Demikian pula bakti seorang bupati kepada gubernur bernilai sama dengan berbakti pada Allah swt karena gubernur berbakti pada menteri yang berbakti pada presiden yang berbakti pada Jibril yang pasti berbakti pada Allah swt.

            Meskipun demikian, ada profesi yang diistimewakan dalam ajaran ini, yaitu petani. Para petani itu disamakan dengan ratu/presiden/raja karena tidak perlu berbakti kepada orang yang di atasnya, melainkan langsung berbakti pada Jibril yang berbakti pada Allah swt. Hal itu sebagaimana yang disebut dalam dasa pabekti poin lima, yaitu orang tani bakti di dewata. Petani adalah orang dan profesi yang dimuliakan negara, tidak seperti sekarang ini, kadang-kadang petani adalah orang dan profesi yang dikorbankan oleh para tengkulak dan para mafia beras. Benar-benar durhaka orang-orang saat ini. Pantas saja jika hidup ditemani rupa-rupa bencana alam.

            Kesepuluh dasar pengabdian itu benar-benar bisa dilaksanakan dengan baik dan sempurna dalam memakmurkan bangsa dan negara apabila memang pemimpin tertingginya adalah benar-benar orang pilihan Tuhan secara langsung. Dia harus seorang nabi yang langsung mendapatkan bimbingan dari Allah swt dengan berbagai kelebihan yang dimilikinya sebagai bukti kenabian dirinya. Artinya, Teori Kedaulatan Tuhan akan berjalan sangat efektif apabila pemimpinnya adalah nabi.

            Para nabi ini telah bekerja dan berperan dalam kehidupan dunia dengan sangat baik di timur, barat, utara, dan selatan. Karya-karya kenegarawanan mereka menjadi catatan tersendiri dalam sejarah manusia. Kepemimpinan model para nabi dalam teori ini masih akan berjalan efektif sepanjang diteruskan oleh generasi berikutnya dengan kepatuhan yang tinggi pada ajaran para nabi itu. Ketika kepatuhan itu berkurang, berkurang pulalah kejayaan dan kemakmuran negeri itu. Kenyataannya pun memang demikian, tak pernah ada ajaran para nabi yang dipatuhi sekuat ketika para nabi itu hidup. Seluruhnya berkurang dan semakin rusak. Bahkan, para penguasa berikutnya kerap bertingkah dan mengklaim diri lebih dipercaya Tuhan sehingga mengakibatkan pemerintahan yang bersifat arogan dan tiran. Ketika sudah sangat rusak, orang-orang mencari jalan untuk memperbaiki kerusakan itu dengan rupa-rupa teori dan macam-macam pendapat yang tak pernah mencapai kata sepakat karena jauh dari ajaran para nabi itu. Satu-satunya jalan adalah menunggu Allah swt mengirimkan orang kuat-Nya untuk menegakkan ajaran para nabi dalam menyelamatkan kehidupan seluruh manusia dan alam semesta sambil tetap berbuat baik setiap hari agar tidak ditimpa bencana, baik bencana pribadi, bencana sosial, maupun bencana alam.


Islam Menyempurnakan Sunda Wiwitan
Dasa pabekti atau sepuluh dasar pengabdian itu disempurnakan oleh Islam yang dibawa Muhammad saw. Kalau dalam dasar pengabdian yang dibawa Prabu Siliwangi bersifat “mutlak” dalam arti setiap orang harus berbakti kepada orang yang berada di atasnya secara “mutlak” agar  bernilai sama dengan mengabdi kepada Allah swt, Muhammad saw menyempurnakan dasar pengabdian itu menjadi “tidak mutlak”. Kepatuhan dan kebaktian kepada orang yang berada di atasnya tetap ada dan dipertahankan, tetapi menjadi “tidak mutlak”. Hal itu disebabkan Allah swt tidak akan lagi menurunkan para nabi. Artinya, ajaran Allah swt sudah selesai sempurna. Semua orang diperintahkan untuk patuh dan setia pada orang yang di atasnya sepanjang orang yang di atasnya itu patuh kepada Allah swt. Semua orang bisa langsung patuh secara pribadi kepada Allah swt tanpa harus melalui pengabdian kepada orang lain terlebih dahulu. Bahkan, setiap orang boleh tidak patuh, boleh membantah, dan “wajib tidak setia” jika orang yang berada di atasnya tidak patuh kepada Allah swt dalam arti menyimpang dari ajaran Allah swt. Untuk hal ini, Allah swt menurunkan QS Al Ashr, yaitu surat yang mewajibkan setiap orang beriman untuk saling mengkritik, saling menasihati, saling mengingatkan agar hidup dan kehidupan menjadi kuat, sabar, utuh, dan mencapai kebaikan di dunia dan akhirat.

            Islam menyempurnakan seluruh ajaran para nabi dengan adanya Al Quran, hadits, dan orang-orang berilmu yang hatinya selalu terikat kepada Allah swt untuk menjadi rujukan segala dinamika kehidupan ini. Setiap orang boleh langsung mengabdi kepada Allah swt dan setiap orang wajib saling mengingatkan siapa pun, baik yang berada di atasnya, di bawahnya, maupun satu level agar selalu berada dalam jalan Allah swt. Kepatuhan dan kebaktian kepada orang yang berkuasa bersifat mutlak jika para penguasa itu patuh kepada Allah swt. Sebaliknya, kepatuhan dan kebaktian itu menjadi “tidak mutlak”, bahkan wajib “dihilangkan” jika para penguasa atau pemimpin tidak mematuhi Allah swt.


            Sampurasun

Tuesday, 21 March 2017

Tanda Nabi Prabu Siliwangi as Hidup pada Zaman Sundaland

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Prabu Siliwangi adalah nabi yang hidup pada masa Indonesia masih berupa Benua Sundaland, bukan kepulauan seperti sekarang ini. Penjelasannya baca pada tulisan saya yang lalu berjudul Nabi Prabu Siliwangi Alaihissalam. Indonesia memang dulunya sebuah benua besar yang sangat hebat dan makmur tiada tara serta menjadi pusat awal seluruh peradaban dunia ini. Penjelasannya baca pada tulisan saya yang lalu berjudul Indonesia dalam Pandangan Allah swt.

            Sekarang pada tulisan ini saya ingin berbagi bahwa ada tanda atau bukti bahwa memang Nabi Prabu Siliwangi as adalah tokoh yang pernah hidup di dunia ini dan berada pada masa Sundaland. Tulisan ini sengaja saya buat untuk mengajak berdiskusi mereka yang menganggap bahwa Prabu Siliwangi hanyalah tokoh sastra dan tidak pernah benar-benar hidup dan mereka yang percaya Prabu Siliwangi adalah memang tokoh sejarah, tetapi sering kalang kabut menyangka bahwa Prabu Siliwangi adalah Raja Sunda pada masa-masa lebih ke sini yang tak jelas raja yang mana, kadang Sri Baduga Maharaja, kadang Lingga Buana Wisesa, kadang Niskala Wastukancana, kadang raja yang lain. Berdiskusi itu baik untuk kesehatan dan bermanfaat untuk mendapatkan kebenaran. Jangan membiasakan diri angkuh merasa paling benar sendiri, padahal hanya sok tahu tanpa ada landasan bukti dan pemikiran yang jelas. Yang penting “gue paling bener”, yang lain “salah”. Perilaku angkuh seperti itu sudah seharusnya dibuang agar semua orang bisa memberikan masukan bermanfaat sehingga mendapatkan kebenaran yang benar-benar benar.

            Sebagaimana hasil penelitian paling mutakhir, Indonesia dulunya adalah benua yang besar, Benua Sundaland, tetapi hancur berkeping-keping oleh bencana alam yang sangat dahsyat dalam waktu teramat singkat. Air laut meluap hingga menenggelamkan gunung-gunung yang tinggi. Tekanan air laut itu menyebabkan tanah dan batu bergerak sehingga menimbulkan gempa tektonik sekaligus memicu gempa vulkanik yang mengakibatkan gunung-gunung berapi meletus secara bersamaan. Bencana maha mengerikan yang belum pernah terjadi lagi sepanjang sejarah manusia itu mengubur seluruh kekayaan, kemakmuran, kemajuan teknologi, kepesatan spiritualisme, dan peradaban yang teramat tinggi. Kebesaran Benua Sundaland yang mengagumkan itu pun harus hancur dan hilang sama sekali dari muka Bumi.

            Allah swt mengabadikan kehancuran itu dalam Al Quran sebagai akibat dari kemurkaan-Nya kepada manusia-manusia Indonesia yang teramat zalim.

“… Kami jadikan mereka bahan pembicaraan dan Kami hancurkan mereka sehancur-hancurnya. Sungguh pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi setiap orang yang sabar dan bersyukur.” (QS 34 : 19)

Meskipun demikian, Allah swt masih memberikan kesempatan kepada manusia untuk mempelajari kehebatan penduduk Benua Sundaland masa lalu dengan berbagai karya luar biasanya. Allah swt sengaja membukakan sedikit demi sedikit bangunan-bangunan megah yang berteknologi tinggi dan bernilai spiritual luar biasa yang berupa candi, barang-barang, pusaka, dan istana-istana mewah yang telah terkubur ratusan ribu tahun. Sangat banyak candi dan istana yang belum tergali di perut Bumi Indonesia ini. Bahkan, banyak yang hanya baru muncul ujung istananya. Jika digali, akan tampak istana megah luar biasa karya menakjubkan.

Salah satu istana yang dihancurkan Allah swt dan kemudian ditampakkan lagi itu adalah milik Nabi Prabu Siliwangi as. Tampaknya, orang Indonesia ini selepas masa kenabian Prabu Siliwangi as, Nabi Sulaeman as, Nabi Daud as, dan nabi-nabi lainnya yang tidak semua dicatat Al Quran, telah melakukan penyelewengan perilaku serta penyalahgunaan tempat ibadat dan istana-istana suci menjadi tempat pemujaan Iblis dan syetan laknatullah.

“Dan sungguh, Iblis telah dapat meyakinkan terhadap mereka kebenaran sangkaannya, lalu mereka mengikutinya, kecuali sebagian dari orang-orang Mukmin.” (QS 34 : 20)

Oleh sebab itu, Allah swt menghancurkannya sekalipun itu tempat suci. Tempat suci akan tidak suci lagi jika digunakan untuk kemaksiatan dan kekotoran perilaku serta keyakinan yang salah. Masjidil Aqsha, yaitu “Candi Borobudur” dikubur Allah swt dalam lumpur gara-gara dijadikan tempat pemujaan syetan dan baru ditemukan pada masa kolonial Belanda. Penjelasan tentang ini baca pada tulisan saya yang lalu berjudul Bukan Al Aqsha Yang Itu, Melainkan The Real Al Aqsha.

“….. Maka (lihatlah) bagaimana dahsyatnya akibat kemurkaan-Ku.” (QS 34 : 45)

Demikian pula, istana Nabi Prabu Siliwangi as baru ditemukan kembali di Bogor  oleh anak buah Letnan Tanuwijaya, orang Sumedang, yang menjadi prajurit Belanda. Sersan Scipio, tentara Belanda, mencatatnya ketika dalam ekspedisinya bersama pasukannya mengunjungi daerah Batu Tulis di Bogor pada 1 September 1687. Dalam catatannya, Scipio menulis bahwa istana itu sudah berupa puing-puing dan dikelilingi hutan tua. Puing-puing itu dicatatnya sebagai peninggalan Kerajaan Pakuan atau Pajajaran. Ia pun menjelaskan bahwa dua hari sebelumnya di tempat tersebut seorang anggota ekspedisinya menderita patah leher karena diterkam harimau.

Pada 23 September 1687 G.J. Joanes Camphuijs menulis laporan kepada atasannya di Amsterdam yang di antaranya berbunyi, “Dat hetseve paleijsen specialijek de veherven zitplaets van den javaense. Coning Padzia Dziarum nu gog gedulzig door een groot getal tijgers bewaakt en bewaart wort.”

Artinya, istana tersebut dan terutama tempat duduk yang ditinggalkan kepunyaan Raja “Jawa” Pajajaran sekarang masih dikerumuni dan dijaga serta dirawat oleh sejumlah besar harimau.

Laporan tentang harimau ini berasal dari penduduk Kedung Halang dan Parung Angsana yang mengiringi Scipio dalam ekspedisinya. Mungkin mereka itulah sumber isu bahwa prajurit Pajajaran “berubah wujud menjadi harimau”.

Tiga tahun kemudian Kapiten Adolf Winkler diperintahkan memimpin ekspedisi khusus untuk membuat peta lokasi bekas Pakuan. Pada Kamis, 25 Juni 1690 Winkler beserta rombongannya tiba di lokasi bekas keraton. Ia menemukan een accurate steene vloering off weg (sebuah lantai atau jalan berbatu yang sangat rapi). Jalan itu menuju ke bekas paseban tua dan di situ ia melihat ada tujuh batang pohon beringin. Dari penduduk Parung Angsana yang mengiringinya, Winkler mendapat penjelasan bahwa yang dilihat mereka itu adalah peninggalan Prabu Siliwangi. Hal-hal itu tertulis dalam makalah Siliwangi sebagai Pangkal Silsilah Kebangsaan (Tradisi Naskah Abad XVIII dan XIX) yang disusun oleh Saleh Danasasmita pada 1991.

Jalan masuk ke wilayah itu di samping sempit, juga mendaki. Jalan masuk itu pun diapit oleh parit yang sangat dalam dan mengerikan. Allah swt memang tampaknya benar-benar murka sehingga jalan menuju ke sana pun benar-benar sulit dan mengerikan.

Reruntuhan puing Istana Prabu Siliwangi as menguatkan tanda bahwa memang Prabu Siliwangi as adalah seorang nabi yang mengajarkan Islam dengan nama agama Sunda Wiwitan pada masa Benua Sundaland. Akan tetapi, sepeninggalnya, banyak orang yang meninggalkan agama Sunda Wiwitan sampai-sampai memuja Iblis dan syetan sehingga Allah swt murka dan menghancurkannya sekaligus menenggelamkannya ke dalam perut Bumi untuk menghancurkan kesombongan dan keangkuhan manusia.

Hari itu kejahatan dan pengingkaran manusia dibalas oleh Allah swt dengan sangat dahsyat. Allah swt berbuat sekehendak diri-Nya sendiri.

Raja pada Hari Pembalasan (QS Al Fatihah : 3).
          
          Sampurasun.

Wednesday, 1 March 2017

Kristen dan Cina Dilarang Masuk!

oleh Tom Finaldin

Bandung, Putera Sang Surya
Warga Kanekes yang biasa disebut Suku Baduy, Banten, Indonesia, memang dikenal sebagai suku yang ekslusif dan tidak mudah tergoda oleh rayuan pembaharuan dan pembangunan. Mereka memiliki wilayah-wilayah yang dilarang dimasuki oleh orang lain, bahkan oleh warga mereka sendiri.

            Mereka bilang, “Pamali”

            Mereka memiliki wilayah atau tempat yang tidak boleh dimasuki oleh orang beragama Kristen dan ras Cina. Sebagaimana yang dikatakan Prof. Garna (1991), wilayah itu dilarang dimasuki oleh Karesten jeung Cina.

            Dalam artikelnya, Garna tidak menjelaskan mengapa Kristen dan Cina dilarang begitu keras untuk memasuki wilayah tertentu. Tak ada keterangan apa pun yang dapat membuat kita mengerti tentang larangan itu.

            Hal itu membuat saya menduga-duga bahwa larangan itu diakibatkan oleh dua hal besar, yaitu keyakinan dan perilaku/habit dari orang Kristen dan Cina dalam pengalaman hidup orang Baduy.

            Keyakinan Kristen yang berupa trinitas atau “Tuhan satu dalam tiga dan tiga dalam satu” sangat bertentangan dengan ajaran Sunda Wiwitan. Demikian pula, keyakinan bangsa Cina yang tidak sedikit mengisahkan banyak dewa juga sangat bertentangan dengan ajaran Sunda Wiwitan. Kedua keyakinan itu jika masuk ke dalam wilayah Baduy dikhawatirkan akan mengganggu keharmonisan Suku Baduy. Keyakinan Suku Baduy sendiri sangat dekat dengan ajaran Islam yang dibawa Muhammad saw. Bahkan, Sunda Wiwitan adalah agama Islam yang diajarkan oleh Nabi Prabu Siliwangi as. Oleh sebab  itu, orang-orang Islam, terutama yang bersuku Sunda, lebih bisa masuk secara akrab dan mesra dengan warga Baduy, Kanekes. Sunda Wiwitan hanya mengakui Tuhan Yang Tunggal, yaitu Sanghyang Tunggal (Tuhan Yang Maha Esa), Sanghyang Wujud (Tuhan Yang Memiliki Wujud), Sanghyang Kersa (Tuhan Yang Maha Berkehendak), Sanghyang Jatiniskala (Tuhan Yang Tidak Bisa Dibayangkan Bentuk-Nya), Sanghyang Cipta Rasa (Tuhan Yang Menciptakan Rasa), Sanghyang Jatiraga (Tuhan Yang Memiliki Keaslian dan Kekekalan Raga), dan lain sebagainya yang semuanya itu menuju pada Zat Allah swt dalam bahasa Arab.

            Hal itu pun menunjukkan bahwa Prabu Siliwangi as adalah bukan beragama Hindu atau Budha Tantra. Prabu Siliwangi adalah Nabi as, kepercayaan Allah swt untuk mengajarkan Islam dengan syariat yang disesuaikan situasi dan kondisi saat itu. Di samping itu, menegaskan pula bahwa “tidak ada jejak Hindu dan Budha” di dalam sejarah Tanah Sunda.
            Perilaku dan habit orang Kristen dan Cina pun kemungkinan menjadi dasar dari pelarangan masuk bagi Karesten jeung Cina ke wilayah tertentu di lingkungan warga Kanekes, Suku Baduy. Sebagaimana kita ketahui bahwa masuknya Kristen ke Indonesia hampir bisa dikatakan berbarengan dengan dimulainya awal kolonialisme yang dibawa oleh pasukan Barat. Apabila kita berbicara tentang kolonialisme atau penjajahan, tak ada habisnya diisi oleh perilaku angkuh, sok berkuasa, suka melecehkan, dan melakukan berbagai kekejian terhadap warga pribumi. Orang Baduy jelas tidak menyukai hal itu.

            Hal yang menarik adalah justru pengalaman orang Sunda dengan Cina. Pelarangan masuknya ras Cina kemungkinan besar diakibatkan oleh masa lalu ketika bangsa Indonesia hidup dengan sangat makmur dan kaya raya. Setelah Nabi Prabu Siliwangi as dipercaya Allah swt untuk menanam bibit padi yang pertama di muka Bumi, rakyat Sundaland sangat kaya raya berlimpah ruah pangan dan harta benda. Di dalam naskah tentang penanaman bibit padi yang pertama itu ada larangan dari Allah swt bahwa padi atau beras tidak boleh diperjualbelikan karena padi adalah makanan terlezat dan penuh berkah bagi semua manusia dan hanya boleh dimanfaatkan untuk darma bakti pada kemanusiaan. Sayangnya, setelah masa kenabian Prabu Siliwangi as berakhir dan berlanjut ke beberapa generasi berikutnya, ada saudagar Cina yang ingin membeli beras. Bertahun-tahun keinginan bangsa Cina itu tidak pernah menjadi kenyataan karena selalu ditolak. Padi dan beras hanya untuk dimakan tanpa boleh diperjualbelikan. Akan tetapi, ras Cina memang tidak pernah menyerah. Dengan segala rayuannya, entah dengan cara apa mereka memelas, ada Permaisuri Kerajaan Sunda yang terbujuk rayu, lalu terjadilah transaksi jual beli padi atau beras pertama di dunia.

            Jual beli yang dilarang Allah swt itu jelas menimbulkan turunnya hukuman Allah swt. Hukuman itu berupa laki-laki harus bekerja keras dua kali lipat untuk mendapatkan penghasilan yang sama dibandingkan masa lalu serta perempuan harus ikut pula bekerja keras untuk membantu kaum laki-laki. Tampaknya, hukuman itu berlanjut hingga hari ini. Semua orang harus kerja, kerja, kerja, kerja, kerja, kerja untuk dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Padahal, pada masa lalu kaum laki-laki hanya cukup kerja ringan untuk memenuhi kebutuhan hidup dan kaum perempuan tidak perlu ikut bekerja membantu para lelaki, tetapi cukup bersolek dan menerima hasil kerja lelaki di rumah dan di tempat-tempat yang menyenangkan, seperti, di taman, air terjun, sungai, pendopo, atau kaputren.

            Kisah itu saya dapatkan dari Proceedings: Seminar Sejarah dan Tradisi Tentang Prabu Silihwangi yang disusun oleh V. Sukanda Tesier dan  Hasan Muarif Ambary yang diterbitkan oleh Pemerintah Jawa Barat bekerja sama dengan Ecole Francaise D’Extreme-Orient-Pusat Penelitian Arkeologi Nasional pada 1991.

            Kemungkinan itulah yang menjadikan Suku Baduy melarang ras Cina untuk memasuki wilayah-wilayah tertentu yang dikuasai mereka. Saudagar Cina telah berhasil merayu Permaisuri untuk membeli beras yang berakibat turunnya hukuman.

            Apabila kita hubungkan dengan hadits-hadits yang mengisahkan keadaan akhir zaman ketika Imam Mahdi memegang tampuk kekuasaan dunia, sangat mungkin bahwa larangan jual beli padi dan beras ini diberlakukan kembali hingga kaum laki-laki tidak perlu bekerja terlalu keras dan perempuan selalu mempercantik dirinya tanpa perlu ikut membantu kaum lelaki. Hal itu disebabkan ketika Imam Mahdi berkuasa diberitakan bahwa keadilan tercipta di seluruh dunia dan kemakmuran menjadi milik semua manusia, bahkan jika ada seseorang yang meminta sesuatu kepada orang lain, orang lain itu dengan segera memberikannya dengan rela hati. Tak ada yang pelit karena semuanya tercukupi.

            Hanya Allah swt yang tahu keadaan semua ciptaan-Nya dari awal hingga akhir.


Menciptakan Hubungan Baik Baru
Larangan untuk Kristen dan Cina memasuki wilayah-wilayah tertentu di Baduy bukan berarti sama sekali tidak bisa diubah. Apabila dugaan saya benar bahwa larangan itu berasal dari “keyakinan yang berbeda dan perilaku yang tidak disukai”, larangan itu bisa menjadi longgar dengan cara menunjukkan diri bahwa orang Kristen yang sekarang bukanlah penjajah yang merusakkan kehidupan, melainkan sama-sama warga Indonesia yang berkewajiban untuk sama-sama menjalin persaudaraan di antara sesama warga bangsa serta bersenang hati untuk saling membantu. Demikian pula dengan ras Cina atau keturunan Tionghoa harus menunjukkan diri bahwa kita semua adalah saudara sesama warga bangsa dan sesama manusia yang tidak ingin saling berupaya menguasai, bahkan bersedia bersama-sama untuk menjalankan ajaran Nabi Prabu Siliwangi as, yaitu silih asih, silih asuh, silih asah, ‘saling mengasihi, saling melindungi, saling mencerdaskan’.

            Berhubungan baik dengan warga Baduy akan memiliki manfaat yang banyak, baik untuk penelitian maupun untuk kehidupan sosial. Warga di luar Baduy-lah yang harus terlebih dahulu menunjukkan sikap yang positif karena warga Baduy tidak akan berubah sebelum mereka percaya kepada orang-orang di luar mereka.

            Wallaahualam


            Sampurasun

Saturday, 11 February 2017

Para Saksi Kehancuran Indonesia

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya

Bukan kehancuran Indonesia yang sekarang yang saya maksudkan, melainkan Indonesia yang dulu sebelum namanya bukan Indonesia ketika masih merupakan daratan Sundaland. Masa depan Indonesia yang sekarang masih belum diketahui apakah akan hancur atau bertambah mulia. Meskipun menjadi mulia dan besar, pada akhirnya akan hancur juga oleh kiamat karena semuanya ada waktu berakhirnya. Segala sesuatu yang memiliki awal, pasti memiliki akhir. Satu-satunya zat yang tidak berawal dan tidak berakhir hanyalah Allah swt. Oleh sebab itu, Allah swt tidak akan pernah hancur. Tugas kita sekarang adalah menjadikan Indonesia mulia dan besar sehingga rakyatnya pun menjadi mulia dan besar.

            Dulu, ketika Indonesia masih berupa Benua Sundaland, rakyat dan kerajaan-kerajaannya teramat makmur, mudah sandang, murah pangan, dan ketinggian teknologinya tak ada bandingannya di dunia ini. Bangunan-bangunan megah seperti di Gunung Padang dan ratusan, bahkan ribuan candi dibangun dengan sangat teliti dan rumit sehingga orang-orang sekarang pun tak memiliki kemampuan untuk menjelaskan bagaimana bangunan-bangunan megah itu bisa berdiri kokoh dan indah tiada tara. Di samping itu, makanan tidak pernah kekurangan, semua orang hidup dalam keadaan kaya raya dengan segala perhiasan-perhiasan dunianya. Akan tetapi, sayangnya, manusia memang kerap lupa dan menjadi serakah, tak pernah puas dengan apa yang telah didapatnya. Banyak manusia yang selalu ingin lebih dan lebih lagi. Ketika keinginannya untuk menjadi lebih kaya raya tidak terpenuhi dan doanya tidak dikabulkan Allah swt, mereka pun kecewa. Kekecewaan mereka pun mengubah sikap dan keyakinan hidup mereka kepada Allah swt. Mereka mencari sesembahan lain yang dianggap mampu memuaskan keinginan mereka. Akibatnya, mereka menjadi kafir dan bersahabat erat dengan Iblis Laknatulllah. Ketika kekafiran mereka menjadi-jadi dan meninggalkan ajaran para nabi, seperti, Nabi Prabu Siliwangi as, Nabi Sulaeman as, Nabi Daud as, dan nabi-nabi lainnya, Allah swt pun murka dan menghancurkan mereka sehancur-hancurnya sehingga menjadi serpihan-serpihan kecil. Benua Sundaland pun hancur berkeping-keping menjadi kepulauan seperti yang sekarang ini bernama Indonesia.

“… Kami hancurkan mereka sehancur-hancurnya. Sungguh pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi setiap orang yang sabar dan bersyukur.” (QS 34 : 19)

“Demikianlah Kami memberi balasan kepada mereka karena kekafiran mereka. Dan kami tidak menjatuhkan azab (yang demikian itu), melainkan hanya kepada orang-orang yang sangat kafir.” (QS 34 : 17)


Mereka yang Selamat Menjadi Saksi Kehancuran
Ketika Allah swt menghancurkan Benua Sundaland dengan sangat dahsyat yang menurut Plato, filsuf Barat, terjadi dalam satu hari, orang-orang Indonesia pun berlarian ketakutan kesana-kemari tak tentu arah, bingung dan cemas, para ibu meninggalkan bayi yang sedang disusuinya, terjadi kerusakan dalam organ-organ tubuh akibat getaran dan kepanikan luar biasa, serta sebagian kabur ke berbagai penjuru dunia. Bencana dahsyat itu benar-benar mengerikan dan sampai hari ini belum ada lagi bencana sesadis itu. Saking dahsyatnya, orang-orang sombong dan angkuh pun hancur lebur, baik fisik maupun jiwanya.

            Beberapa dari mereka yang kafir, tetapi tidak terlalu kafir diselamatkan Allah swt dari bencana spektakuler itu. Namun, mereka mulai gila dan kehilangan akal, tak jelas lagi pandangan dan arah hidup mereka. Allah swt tahu itu semua, kemudian menyelamatkan jiwa dan pikiran mereka serta kembali menenangkan mereka agar pikiran mereka dapat kembali lurus dan menyadari berbagai kesalahan dan kebodohan yang telah diperbuat mereka.

            “Dan syafaat (pertolongan) di sisi-Nya hanya berguna bagi orang yang telah diizinkan-Nya (memperoleh syafaat itu). Sehingga apabila telah dihilangkan ketakutan dari hati mereka, mereka berkata, ‘Apa yang telah difirmankan oleh Tuhanmu?’ Mereka menjawab, ‘(Perkataan) yang benar,’ dan Dialah Yang Mahatinggi, Mahabesar.” (QS 34 : 23)

            Orang-orang ini sadar atas kesalahan dirinya yang telah melupakan ajaran para nabi terdahulu. Mereka menyadari bahwa peringatan-peringatan dan ancaman-ancaman dari para nabi terdahulu adalah kebenaran dan bukan kebohongan karena mereka telah mengalaminya sendiri. Merekalah para saksi atas hancurnya Benua Sundaland sehingga menjadi kepulauan seperti sekarang ini.

            Beberapa dari mereka memulai kembali membangun perkampungan dengan menjaga setiap nasihat-nasihat leluhur mereka yang berasal dari para nabi terdahulu. Mereka bertahap membangun kerajaan-kerajaan kecil pada berbagai pulau dan tetap menjadikan ajaran para nabi mereka sebagi panduan. Begitulah kearifan lokal mulai terjadi. Sebagian lagi memilih untuk menjauhi kehidupan dunia karena saking takutnya kepada Allah swt yang bisa kapan saja menjatuhkan bencana dahsyat atas kekafiran mereka. Merekalah orang-orang yang anti pembaharuan, anti pembangunan, dan anti perubahan. Mereka tetap kuat dalam adat mereka dan tidak ingin berubah, bahkan menolak siapa pun dan apa pun yang dapat mengubah keyakinan dan cara hidup mereka. Mereka tidak peduli dengan perkembangan dan modernisasi. Mereka hanya peduli pada kehidupan spiritual dan menjaga diri agar Allah swt tidak lagi menjatuhkan bencana yang sangat dahsyat.

            Salah satu yang tidak menginginkan perubahan drastis dan menolak apa pun yang menurut anggapan mereka bisa membawa kerusakan adalah warga Kanekes yang biasa disebut Suku Baduy. Mereka benar-benar selektif atas hal-hal yang datang dari luar diri mereka. Mereka tak ingin diganggu dan tidak ingin berubah. Leluhur mereka secara turun-temurun mengingatkan bahaya apabila meninggalkan berbagai peribadatan kepada Allah swt. Leluhur mereka benar-benar mengalami bagaimana perubahan keyakinan dan kemunkaran mengakibatkan kehancuran luar biasa. Oleh sebab itu, mereka memilih untuk tidak meninggalkan peribadatan dan pengabdian kepada Allah swt dengan cara mereka sendiri sesuai syariat yang kemungkinan besar berasal dari Nabi Prabu Siliwangi as. Hal itu disebabkan mereka meyakini adanya Buana Larang, Buana Tengah, dan Buana Nyungcung.

            Apabila sampai meninggalkan adat dan keyakinan leluhur, mereka sangat takut Allah swt akan menimpakan azab seperti yang sudah-sudah, bahkan lebih besar. Hal ini sebagaimana yang dikatakan mereka sendiri.

            Ti meletuk datang ka meletek, ti segir datang ka segir deui. Lamun dirobah buyut kami lamun hujan liwat ti langkung lamun halodo liwat ti langkung. Tengsetna lamun buyut kami dipaksa dirobah cadas malela jadi tiis, buana larang buana tengah buana nyungcung pinuh ku sagara (Judistira Garna, 1991, Masyarakat Baduy dan Siliwangi [Menurut Anggapan Orang-Orang Baduy Masa Kini]).

            Apabila kita terjemahkan secara bebas, perkataan orang Baduy itu kira-kira akan seperti berikut.

            Dari subuh sampai subuh lagi, dari musim hujan sampai musim hujan lagi, dari musim kemarau sampai kemarau lagi, kami tidak akan berubah. Pendek kata, kalau keyakinan dan kebiasaan kami diubah, batu cadas dan hutan tidak akan lagi bermanfaat, seluruh dunia nyata dan dunia gaib akan dibanjiri lautan.

            Hal yang membuat saya sangat tertarik adalah kata-kata terakhir dalam kalimat mereka, yaitu “… pinuh ku sagara”, artinya “… dibanjiri lautan.”

            Mengapa mereka mengatakan bahwa azabnya itu adalah dibanjiri lautan?

            Mengapa bukan azab berupa angin puyuh puting beliung topan tornado?

            Mengapa bukan kehancuran akibat kebakaran hutan yang sangat masif atau bencana lainnya?

            Hal itu menunjukkan bahwa leluhur mereka memiliki pengalaman yang sangat buruk dengan bencana banjir yang meluap dari lautan lepas hingga menenggelamkan gunung-gunung tinggi di Indonesia. Hal itu pun mengisyaratkan bahwa memang Benua Sundaland itu adalah tempat yang sangat makmur dan hebat yang disebut-sebut orang sebagai Atlantis sebagaimana yang dikisahkan oleh Plato. Sayangnya, Benua Sundaland yang kini bernama Indonesia dan sekitarnya itu harus hancur berkeping-keping, bagai bubuk roti yang disebarkan hingga berupa kepulauan seperti sekarang ini. Hal itu disebabkan oleh kemarahan Allah swt akibat kedurhakaan dan keserakahan penduduknya yang keterlaluan hingga meninggalkan segala peribadatan dan mengalihkan keimanan mereka kepada Iblis Laknatullah, padahal Allah swt telah menjadikan penduduk Benua Sundaland adalah manusia paling unggul di muka Bumi.

            “Dan sungguh, Iblis telah dapat meyakinkan terhadap mereka kebenaran sangkaannya, lalu mereka mengikutinya, kecuali sebagian dari orang-orang Mukmin.” (QS 34 : 20)

            “… mereka mendustakan para rasul-Ku. Maka (lihatlah) bagaimana dahsyatnya akibat kemurkaan-Ku.” (QS 34 : 45)

            Hal itu harus menjadi pelajaran bagi kita semua bahwa jika kita mengingkari Allah swt dan tak ada lagi orang yang mampu menjaga syariat Allah swt untuk tetap dalam kebenaran sehingga menganggap bahwa dosa-dosa mereka sebagai hal yang benar, Allah swt akan benar-benar menjatuhkan hukuman yang teramat berat dan mengerikan.

            “… Kami jadikan mereka bahan pembicaraan dan Kami hancurkan mereka sehancur-hancurnya. Sungguh pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi setiap orang yang sabar dan bersyukur.” (QS 34 : 19)

            Jaga diri dan perbuatan kita untuk tidak membuat murka Allah swt agar tak lagi mendapatkan azab sebagaimana yang telah disaksikan oleh leluhur Suku Baduy, warga Kanekes, Banten, Indonesia.