Showing posts with label Hindu. Show all posts
Showing posts with label Hindu. Show all posts

Friday, 30 July 2021

Penutupan dan Pembatasan di Tempat Ibadat

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Penutupan dan pembatasan di tempat ibadat sebetulnya bisa dipahami dengan mudah jika mau jernih memahaminya. Akan tetapi, hal ini akan menjadi rumit dan memusingkan jika dicampurbaurkan dengan kebencian politik, kedengkian murahan, dan keinginan untuk tetap membuat orang lain bodoh. Hal ini diperparah dengan masyarakat iliterat yang dengan mudah dibodohi karena kurangnya informasi, ilmu pengetahuan, dan pemahaman terhadap agamanya sendiri. Akibatnya, banyak pendapat yang ngaco, lucu, sekaligus mengesalkan. Saya sering tertawa-tawa karena banyak pendapat yang tidak memiliki dasar yang jelas, hanya dugaan, atau dalam bahasa Sunda disebut “sasangkaan wungkul”, tetapi gayanya seperti orang yang sudah mendapatkan kebenaran mutlak. Saya pun sekaligus kesal karena masyarakat yang kurang wawasannya bisa mudah percaya, kemudian jadi sesat pikir dan sesat bertindak.

            Mari kita lihat India baru-baru ini. Setelah jutaan orang mengadakan ritual suci berdesakan di Sungai Gangga, tak lama kemudian ratusan ribu orang meninggal karena Covid-19. Seluruh dunia menyalahkan kegiatan ritual itu sebagai biang kerok dari penyebaran corona di India. Berita terakhir menyebutkan bahwa sudah sekitar 500.000 (lima ratus ribu) orang India meninggal karena virus Corona.

            Sebetulnya, pemerintah India sudah berupaya memberikan penjelasan dan imbauan agar tidak melakukan ritual suci itu karena masa sekarang adalah masanya wabah, pandemi Corona. Akan tetapi, masyarakat tetap melakukannya dan tidak mematuhi pemerintahnya. Memang dalam keyakinan mereka ritual suci di Sungai Gangga itu bisa mendapatkan keberuntungan, pembebasan dosa, dan terlepas dari siklus hidup-mati (moksa). Itu keyakinan mereka yang sangat kuat. Sayangnya, kegiatan itu menyebabkan meningkatnya penyebaran virus Corona yang sulit diatasi hingga menimbulkan banyak kematian. Pemerintah India menyebutkan sebagai “second wave”, ‘gelombang kedua’, penyerangan virus Corona.

            Dunia melihat itu dan belajar dari kasus di India untuk melindungi warganya dari kesakitan dan kematian akibat Corona. Indonesia pun ikut belajar dari hal itu. Oleh sebab itu, pada beberapa tempat ibadat diberlakukan pembatasan atau mungkin penutupan, agama apa pun itu.

            Sekarang kita lihat Kabah di Mekah yang jadi tempat suci ibadat utama umat Islam sedunia. Dalam sejarahnya, Kabah pernah ditutup 40 kali. Penyebabnya macam-macam ada urusan pencurian Hajar Aswad, konflik politik, konflik antarsuku, termasuk wabah penyakit.

            Supaya tidak terlalu banyak, saya list penutupan Kabah yang diakibatkan oleh wabah penyakit. Kabah pernah ditutup karena wabah Thaun pada tahun 1814; wabah Hindi pada 1831; epidemi tahun 1837, lalu terjadi lagi pada 1858, kemudian terjadi lagi pada 1864, tiga kali karena epidemi ini Kabah ditutup; wabah kolera pada 1846, lalu kolera mewabah lagi pada 1892, dua kali Kabah ditutup karena kolera; wabah typus pada 1895; wabah meningitis pada 1987.

            Pada tahun-tahun itu Kabah ditutup untuk peribadatan. Oleh sebab itu, tak heran jika kita pergi berhaji atau umrah, suka disuntik vaksin dulu di Indonesia sebagai syarat yang diwajibkan pemerintah.

            Sekarang masanya Covid-19, Kabah mengalami penutupan beberapa kali, pada jam-jam tertentu, pada hari-hari tertentu, diberlakukan jam tutup-buka. Bahkan pembatasan jumlah jamaah dan pengaturan jarak thawaf dan shalat ketika dibuka untuk beribadat. Di samping itu, diberlakukan pula pembatasan negara-negara mana saja yang boleh ke Kabah dan yang ditunda keberangkatannya.

            Penutupan dan pembatasan yang diberlakukan di Kabah bukanlah untuk menghancurkan umat Islam atau memusnahkan agama Islam. Semua itu hanyalah untuk mengatasi wabah penyakit yang sedang merajalela. Hal itu pun sebagaimana yang terjadi di India, pelarangan untuk ritual suci di Sungai Gangga bukan untuk menghancurkan umat Hindu atau agama Hindu, tetapi melindungi masyarakat dari Covid-19.

            Aneh jika orang Indonesia dibatasi untuk beribadat di masjid, disebut bahwa pemerintah atau rezim Jokowi ingin menghancurkan umat Islam. Pemerintah ingin menghalangi perkembangan agama Islam.

            Logika dari mana itu?

            Kenapa sekalian tidak teriak ketika Kabah ditutup adalah pernyataan perang Kerajaan Arab Saudi terhadap umat Islam sedunia?

            Lebih aneh lagi ketika ada profesor yang mengatakan bahwa virus Corona digunakan pemerintah sebagai senjata pemusnah masal untuk memusnahkan anak-anak muda Islam.

            Memangnya cuma umat Islam yang mati karena Corona?

            Memangnya ratusan ribu orang India yang mati gara-gara ritual suci itu orang Islam?

            Kan orang Hindu.

            Hayu ah berakal sehat dan berpikir waras.

            Jangan ikut-ikut omongan orang yang nggak jelas.

            Sampurasun.

Sunday, 10 September 2017

Salut untuk Kaum Budha Indonesia

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Kaum Budha Indonesia memberikan contoh yang sangat baik bagi para penganut Budha di seluruh dunia sekaligus contoh hebat bagi penganut agama-agama lain. Kaum Budha Indonesia memberikan kecaman yang sangat keras terhadap militer dan pemerintah Myanmar yang melakukan kekerasan keji terhadap kaum muslim Rohingya. Mereka sadar bahwa kejahatan terhadap manusia adalah bukan ajaran Budha. Mereka insyaf bahwa kaum Budha radikal dapat merusakkan nama baik kesucian ajaran Budha. Mereka paham benar bahwa kaum Budha di Indonesia adalah minoritas sehingga merasa perlu untuk terus hidup rukun dengan mayoritas kaum muslimin jika ingin bertahan hidup dalam damai di Indonesia. Mereka memaki perbuatan keji. Mereka pun mengumpulkan donasi untuk kaum muslimin di Myanmar.

            Perilaku kaum Budha Indonesia itu patut mendapatkan acungan jempol, penghargaan yang sangat tinggi. Mereka tak segan dan tak malu untuk memaki siapa pun yang menggunakan ajaran Budha untuk kekerasan.

            Memang begitulah seharusnya, setiap agama mengendalikan penganut agamanya sendiri untuk tidak melakukan kekerasan atas nama agamanya. Kaum muslimin sudah sejak lama melakukan hal itu. Setiap ada kelompok muslim yang lemah pengetahuan agama Islam, lalu menggunakan Islam sebagai alasan untuk melakukan kejahatan, kaum muslimin yang waras otak dan berpengetahuan agama luas akan melakukan kritik, makian, penentangan, bahkan bersiap untuk memerangi kaum muslimin yang dengan ceroboh menggunakan agama sebagai alat kekerasan. Dari zaman ke zaman perilaku itu sudah ada di lingkungan kaum muslimin. Hal itu memang sudah diajarkan oleh Nabi Muhammad saw sendiri bahwa suatu saat akan ada masa datangnya orang-orang berpikiran pendek untuk melakukan kekerasan dan orang yang paling mulia adalah orang yang memerangi orang-orang berpikiran pendek itu.

            Agama-agama lain pun seharusnya melakukan hal yang sama. Tidak perlu membela  orang-orang yang melakukan kerusakan, kejahatan, kekejian, dan kekerasan meskipun orang itu satu agama dengan kita. Katolik waras harus memerangi Katolik jahat, Protestan baik harus memerangi Protestan buruk, Hindu baik harus memerangi Hindu buruk, Yahudi waras harus memerangi Yahudi brengsek, Konghucu cerdas harus memerangi Konghucu bloon. Begitu seterusnya dengan agama-agama lain. Dengan demikian, tidak perlu terjadi saling hujat di antara penganut agama yang berbeda karena setiap penganut agama akan mengendalikan penganut agama sendiri. Orang Kristen tidak perlu menghujat orang Islam yang melakukan teror. Demikian pula orang Islam tidak perlu memaki dan menelanjangi orang Kristen yang melakukan kejahatan kemanusiaan atas dasar agama. Orang Islam wajib mengendalikan kaum muslimin sendiri. Kaum Kristen wajib mengontrol kaum Kristen sendiri. Dengan demikian, perdamaian di antara manusia bisa terus menguat dan semakin tercipta dengan nyata karena salah satu faktor pemicu kekusutan sudah bisa diatasi, yaitu perbedaan agama.

            Saat ini terjadi saling bela yang buruk berdasarkan agama. Hal itu disebabkan kejahatan pemeluk agama tertentu dibela oleh penganutnya walaupun jelas-jelas salah. Akibatnya, kejahatan itu ditimpakan dan dituduhkan pada kejahatan ajaran agamanya. Hal itu mengakibatkan persengketaan yang keras dan menyita banyak energi.

            Kaum muslimin sudah sangat lama mengontrol dan berupaya keras mengendalikan umatnya yang salah jalan, bahkan memeranginya, hingga membunuhnya. Kini kaum Budha dengan sangat nyata mengecam keras umatnya sendiri yang melakukan kekerasan terhadap kaum muslim Rohingya di Myanmar. Itulah kaum Budha yang cerdas dan patut dihormati oleh semuanya. Saya yakin kaum muslimin yang sehat jiwanya akan mendukung para penganut Budha yang seperti itu sehingga keharmonisan hidup di antara pemeluk umat beragama di Indonesia dapat dijaga. Itulah Pancasila sila ketiga, Persatuan Indonesia.


            Sampurasun

Saturday, 22 April 2017

Semrawutnya Kisah Sang Prabu

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Kisah Prabu Siliwangi as dari dulu kerap semrawut. Akan tetapi, kesemrawutan itu bisa diurai dengan baik jika kita mengikutsertakan eksistensi Benua Sundaland ke dalam kronologis kehidupan Indonesia. Ada sinar terang dalam kegelapan untuk lebih memahami Prabu Siliwangi as.

            Menurut para ahli, baik sejarah maupun sastra, berdasarkan data-data masa lalu, Prabu Siliwangi disebut-sebut beragama Hindu atau Budha Tantra. Prabu Siliwangi pun disebut-sebut sebagai sumber primer sebagai awal atau leluhur seluruh raja Sunda. Prabu Siliwangi pun disebutkan sebagai leluhur raja-raja Islam, baik Sunda maupun Jawa, yang memerintah sampai akhir abad ke-15—ke-19 (Hasan Muarif Ambary, 1985 : 6 dalam Partini Sardjono, 1991).

            Semrawut sekali jika Prabu Siliwangi disebut Hindu atau Budha Tantra. Apalagi jika Prabu Siliwangi dikatakan telah sukses mencapai tingkat tertinggi dalam agama Hindu menjadi Dewa mirip Dewa Wisnu, kemudian belajar lagi “ilmu kelepasan” menuju wairocana dalam agama Budha. Sudah sukses menjadi Hindu, lalu meneruskan menjadi Budha.

            Mirip kuliah. Beres S1, lalu S2.

            Memangnya Prabu Siiwangi mengejar tunjangan sertifikasi?

            Hal yang lebih membingungkan adalah para ahli mengatakan bahwa Prabu Siliwangi beragama Hindu dan Budha Tantra, tetapi konsep ketuhanannya disebutkan “berada di atas konsep ketuhanan Hindu dan Budha”.

            Bagaimana mungkin Prabu Siliwangi beragama Hindu atau Budha, tetapi konsep ketuhanannya berbeda dengan Hindu dan Budha, bahkan berada di atas kedua agama itu?

            Di samping itu, indah sekali jika memang benar Prabu Siliwangi beragama Hindu atau Budha, tetapi anak-cucunya menjadi raja-raja Islam dan penyebar-penyebar Islam yang sangat masyhur di Indonesia. Dalam kenyataannya, di India sendiri hingga hari ini sering sekali terjadi konflik atas dasar agama antara Hindu, Budha, dan Islam. Bahkan, di Myanmar pemimpin Budha yang sangat berpengaruh melakukan provokasi terhadap umat Islam sehingga penguasa militer Myanmar melakukan banyak kekejian, penganiayaan, pembunuhan, dan pengusiran terhadap kaum muslimin Rohingya. India, Kashmir, Pakistan, Myanmar tampaknya harus ke Indonesia dan mempelajari kronologis Kerajaan Sunda agar bisa tenang dalam perbedaan agama seperti Prabu Siliwangi yang tenang-tenang saja memiliki anak-cucu menjadi raja-raja Islam dan para penyebar Islam berpengaruh. Itu juga kalau benar kisah Prabu Siliwangi seperti itu. Akan tetapi, pasti tidak benar.

            Hal yang paling mudah dipahami adalah Prabu Siliwangi itu adalah nabi kepercayaan Allah swt untuk mengajarkan ajaran Islam pra-Muhammad saw. Ajarannya itu adalah Sunda Wiwitan. Kemudian disempurnakan oleh ajaran Islam. Hal itu bisa dilihat dari berbagai konsep ketuhanan dan budi pekerti yang diajarkan dalam Sunda Wiwitan. Seluruhnya merupakan dasar-dasar ajaran Islam pra-Muhammad saw yang kemudian disempurnakan oleh Islam Muhammad saw.


            Sampurasun.

Wednesday, 19 April 2017

Lahirnya Gajah Mada

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Cukup terkejut saya membaca kisah lahirnya Gajah Mada yang ditulis seorang bangsawan Bali bernama Ida Cokorda Ngurah pada 1880 Saka atau 1958 Masehi. Keterkejutan saya itu karena saya tidak mengerti apa maksud penulisnya membuat kisah Gajah Mada seperti itu. Dalam setiap kisah, selalu ada pesan sponsor atau maksud dari penulisnya.

            Saya bertanya-tanya dalam hati apakah kisah Gajah Mada yang ditulisnya itu adalah dimaksudkan sebagai luapan pemberontakan dirinya terhadap penguasa?

            Apakah menyindir para pemimpin agama atau penguasa?

            Apakah justru memuliakan sosok Gajah Mada itu sendiri?

            Saya benar-benar tidak mengerti dan tidak bisa menduga.

            Kisah kelahiran Gajah Mada karya Ida Cokorda Ngurah itu dikutip dalam karangan berjudul Tokoh Sejarah sebagai Protagonis: Dua Buah Karya Sastra Jawa (Kuna), Partini Sardjono Pr., A Man of Indonesian Letters, essay honour of Prof. Teeuw, Edited by C.N.S. Hellwig and S.O. Robson, VKI 121 Derdrecht, 1986 : VII + 349 p.

            Dikisahkan bahwa Gajah Mada itu adalah anak yang lahir dari rahim seorang wanita brahmana bernama Nari Ratih. Sebelum Gajah Mada lahir, Nari Ratih dengan suaminya, Sura Dharma, diwisuda menjadi sewalabrahmacari. Sebagai konsekwensi wisuda itu, Nari Ratih tidak boleh bersenggama lagi dengan suaminya.

            Pada suatu saat Dewa Brahma sedang menjalankan tugas melestarikan kehidupan di dunia. Ia mencari “wadah” yang tepat untuk mewujudkan kehendaknya. Ketika melihat Nari Ratih yang cantik sedang berjalan menuju ladang tempat suaminya bekerja, Dewa Brahma menetapkan pilihan padanya. Dewa Brahma pun berusaha memaksakan kehendaknya untuk memenuhi “hasratnya” pada Nari Ratih. Setelah berupaya, Dewa Brahma berhasil memaksakan keinginannya kepada Nari Ratih.

            Mulai pada bagian ini saya bingung.

            Mengapa Dewa Brahma memilih Nari Ratih yang sudah punya suami?

            Bukankah banyak perawan-perawan cantik dan janda-janda yang tidak bersuami?

            Nari Ratih itu kan milik suaminya?

            Lagian, bukankah Nari Ratih itu sudah terlarang bersenggama dengan suaminya?

            Dengan suaminya saja, tidak boleh, mengapa dengan dewa boleh?

            Mengapa harus berupaya keras memaksakan “hasratnya” pada Nari Ratih?

            Mengapa tidak merayu, membujuk, menggunakan kata-kata manis yang menarik hati Nari Ratih?

            Bukankah dengan menggunakan rayuan maut lebih manis dibandingkan dengan melakukan paksaan?

            Kita teruskan lagi kisahnya. Pasca-pemaksaan hasrat Dewa Brahma, Nari Ratih pun mengandung seorang anak laki-laki. Bayi laki-laki hasil paksaan hasrat Dewa Brahma itu ditinggalkan Nari Ratih di tangga pemujaan Desa Mada.

            Saya bingung lagi.

            Mengapa Nari Ratih meninggalkan bayinya?

            Malu?

            Apa penjelasannya sehingga tidak mau mengurus bayinya?

            Kita teruskan lagi kisahnya. Pada malam harinya Kepala Desa Mada terbangun dari tidurnya karena seakan-akan ada yang membangunkannya. Ia seakan-akan ditarik keluar untuk melihat sinar cemerlang yang keluar dari rumah pemujaan Desa Mada. Ketika dihampirinya, ternyata yang mengeluarkan sinar ialah bayi laki-laki yang menangis di anak tangga rumah pemujaan. Kepala Desa Mada tercengang melihat anak itu. Bayi itu pun diberi nama Pipil Mada.

            Ceriteranya masih panjang sebenarnya. Akan tetapi, saya menduga-duga bahwa ketika Nari Ratih tidak mau mengurus bayi itu dan meninggalkannya, Dewa Brahma mengambil alih untuk mengurusnya. Akan tetapi, Dewa Brahma tidak mau mengurusnya sebagai single parent. Ia justru membangunkan Kepala Desa Mada dari tidurnya agar mau mengurus anaknya itu.

            Kisah-kisah selanjutnya Gajah Mada tumbuh sebagai “manusia setengah dewa” mirip-mirip dengan kisah Hercules dari Yunani.

            Hal yang membuat saya bertanya-tanya adalah ya itu tadi soal Dewa Brahma memilih Nari Ratih yang sudah punya suami dan menikungnya dengan paksaan hasrat di tengah jalan ke ladang, padahal Nari Ratih saat itu sedang berjalan menuju ladang tempat suaminya bekerja. Di samping itu, Nari Ratih kan sedang terlarang melakukan senggama, bahkan dengan suaminya sendiri.

            Padahal, kan masih banyak perawan atau janda cantik dan sebagai dewa, Brahma tidak perlu menikung di tengah jalan ke ladang. Dewa kan bisa menggunakan kata-kata manis yang menyentuh hati.

            Saya benar-benar tidak memahami maksud dari penulis ceritera menyuguhkan kisah seperti itu.

            Kalau ada di antara para pembaca yang dapat memberikan pencerahan tentang kisah itu agar saya tidak bingung lagi, saya sangat berterima kasih.


            Sampurasun.

Monday, 17 April 2017

Kisah Wayang Asli Indonesia, Bukan India

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Kisah-kisah wayang selama ini dikenal dunia berasal dari India. Mereka yang pertama kali mengatakan bahwa kisah-kisah wayang ini berasal dari India adalah orang-orang Belanda. Mereka mengatakan berasal dari India karena kisah-kisah itu banyak dipengaruhi bahasa Sansakerta. Mereka menduga bahasa Sansakerta berasal dari India, padahal kuat dugaan bahwa bahasa Sansakerta itu adalah berasal dari Indonesia dan merupakan bahasa tinggi yang berlaku di lingkungan orang-orang tinggi, para pejabat tinggi, dan terpelajar saat itu. Akan tetapi, bahasa Sansakerta musnah di Indonesia karena para penggunanya dihukum Allah swt pada bencana mahadahsyat yang menghancurkan Benua Sundaland menjadi kepulauan seperti sekarang ini. Untuk lebih jelasnya, baca tulisan saya yang lalu berjudul Matinya Bahasa Sansakerta.

            Berdasarkan konstruksi yang saya buat pada tulisan Matinya Bahasa Sansakerta, berarti pula kisah-kisah pewayangan ini berasal dari Indonesia yang kemudian menyebar ke India.

            Kalaulah kisah-kisah Ramayana, Mahabharata, atau yang lainnya benar dari India, siapa yang membawanya ke Indonesia?

            Orangnya harus terkenal karena kisah ini sangat populer di Indonesia dalam bentuk pewayangan. Akan tetapi, ternyata tidak diketahui.

            Kalaulah kisah-kisah itu berasal dari orang Indonesia yang pernah ke India, dia harus lama berada di India, kemudian sangat populer di Indonesia karena kisah-kisah ini sangat populer di Indonesia.

            Siapa orangnya?

            Tidak jelas. Gelap.

            Sebagaimana yang telah saya tulis bahwa berdasarkan peta yang dibuat Prof. Dr. Edi S. Ekadjati, dulu pada masa Indonesia masih berbentuk Sundaland, India itu hanyalah sebuah kadipaten dari kekuasaan Kerajaan Sunda, Indonesia. Pengaruh politik Kerajaan Sunda sangat besar pada wilayah-wilayah yang dikuasainya, termasuk India. Pengaruh itu di antaranya bahasa Sansakerta dan kisah-kisah pewayangan.

            Akan tetapi, ketika terjadi bencana besar yang menghancurkan Benua Sundaland berkeping-keping menjadi kepulauan seperti sekarang ini, para pengguna bahasa Sansakerta dan para penggemar kisah pewayangan itu pun ikut musnah, kecuali masih diingat oleh sedikit orang yang diselamatkan Allah swt dalam jumlah sedikit dan termasuk golongan lemah, terhina, tetapi masih beriman kepada Allah swt. Adapun daratan India meskipun ikut bergetar dan tertimpa bencana juga, kerusakannya tidak separah kehancuran Sundaland. Oleh sebab itu, bahasa Sansakerta dan kisah pewayangan itu masih bertahan di India.

            Orang-orang lemah dan beriman yang selamat inilah yang kemudian tetap melestarikan kisah-kisah itu karena isinya sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia. Isinya biasanya tentang sastra, pernikahan, agama, dan pengaturan negara. Mereka pun membangun kembali dunia yang telah hilang itu dari awal dalam bentuk kepulauan sambil tetap melestarikan kisah-kisah itu.

            Pada perkembangan berikutnya kisah-kisah ini disebut kakawin. Kawi adalah bahasa Sansakerta yang artinya “ia yang diberkati dengan kearifan”, “Yang Mahatahu”, “Yang Suci”. Akan tetapi, kemudian diartikan sebagai “penyair” (Partini Sardjono, 1986).

            Penulisan kakawin ini terus terjadi berabad-abad kemudian, berkembang, dan semakin populer. Hasil karya sastra kakawin yang paling populer dan paling tua adalah berasal dari Jawa Tengah, Indonesia yang berjudul Ramayana.

            Dr. Partini Sardjono Pr., S.S. saat pengukuhan penerimaan jabatan Guru Besar dalam Ilmu Sastra pada Fakultas Sastra, Universitas Padjadjaran, Bandung dalam pidatonya yang berjudul Peranan Sastra Nusantara Kuna dalam Alam Pembangunan Nasional (5 Juli 1986) mengatakan bahwa penulisan sastra kakawin berpindah dari Jawa Tengah ke Jawa Timur. Dari sinilah mulai lebih terang diketahui beberapa penulis kakawin berikut karya-karyanya. Arjunawiwaha ditulis oleh Mpu Kanwa (abad 11), Bharatayudha ditulis oleh Mpu Sedah yang kemudian diteruskan Mpu Panuluh (abad 12), Hari Wangca dan Ghatotkacasraya ditulis Mpu Panuluh (abad 12), Kresnayana ditulis Mpu Triguna (abad 13), Smaradahana ditulis Mpu Dharmaraja (abad 12), Sumasantaka ditulis Mpu Monaguna (abad 13), Bhomantaka (abad 13), Negarakrtagama ditulis Mpu Prapanca (abad 14), Sutasoma ditulis Mpu Tantular, dan Lubdhaka atau Siwaratrikalpa ditulis Mpu Tanakung (abad 15).

            Sayangnya, penulisan-penulisan karya sastra jenis ini mengalami kemunduran seiring dengan mundurnya kekuasaan Majapahit akibat konflik-konflik politik yang terjadi pada abad 16. Memang pada abad 16 ini di samping konflik politik yang sangat keras terjadi di Majapahit, juga mulai datangnya penjajahan Belanda pada 1602. Para ahli dan peneliti Belanda mengatakan bahwa kakawin itu merupakan kisah-kisah Hindu atau Budha dan berasal dari India. Dari sinilah tampaknya mulai kekeliruan itu. Hal itu menyebabkan orang-orang yang sudah mengikuti Islam Muhammad saw setelah sebelumnya menganut Islam berdasarkan nabi-nabi terdahulu menganggap bahwa kisah-kisah kakawin itu tidak penting karena menurut Belanda berasal dari Hindu, Budha, dan India. Adapun para wali dan penyebar ajaran Muhammad saw lebih banyak berceritera tentang Nabi Muhammad saw, keluarganya, para sahabat, serta para pejuang Islam.

            Tampaknya, konflik politik di Majapahit yang sangat keras, kehadiran penjajah Belanda, dan kisah-kisah Nabi Muhammad saw membuat karya sastra kakawin tidak lagi disukai, bahkan cenderung akan dimusnahkan karena ya itu tadi anggapan keliru mengenai kakawin berasal dari India dan merupakan alat untuk menyebarkan Hindu dan Budha. Hampir saja kisah-kisah ini benar-benar musnah jika para bangsawan dan rohaniwan Majapahit tidak menyingkir ke Pulau Bali.

            Di Bali para bangsawan Majapahit dan para rohaniwannya mendapat kehidupan yang lebih layak sehingga kisah-kisah kakawin ini masih lestari. Kemudian, penulisan karya sastra ini dilanjutkan oleh orang-orang Bali. Akibatnya, latar belakang hidup, pengalaman hidup, dan agama orang-orang Bali yang Hindu pun mempengaruhi isi kakawin. Jadi, kakawin ini sekarang benar-benar terpengaruhi agama Hindu. Dari sini tampaknya hubungan dengan India menjadi erat. Hal ini bisa dilihat dari ceritera asal India yang mengisahkan Dewa Krisna sedang berada di Bali.

            Berbeda dengan di Pajajaran, Sunda. Karena di Pajajaran tidak terjadi konflik-konflik keras seperti yang terjadi di Majapahit, para bangsawan dan rohaniwan Pajajaran tidak lari kabur ke pulau lain. Dengan demikian, karya-karya sastra kakawin tidak lari ke mana-mana, malahan masuk ke dalam berbagai kawih (tembang, lagu). Karena tidak lari ke mana-mana dan menerima dengan baik ajaran Muhammad saw setelah sebelumnya menganut Sunda Wiwitan, hasil karya sastra jenis ini mendapatkan pengaruh ajaran Islam sangat kuat sehingga justru digunakan menjadi alat untuk menyebarkan agama Islam. Hal ini bisa kita lihat dari setiap pagelaran wayang golek. Siapa pun dalangnya, dari ke generasi ke generasi, wayang golek selalu sarat dipenuhi oleh nasihat-nasihat Islami dan keluhuran budi pekerti Sunda yang memperkuat akhlakul karimah sebagaimana diajarkan Muhammad saw.

WAYANG GOLEK. Foto: manuskripkesunyian.wordpress.com 

            Begitulah kira-kira konstruksinya jika kita melibatkan eksistensi Benua Sundaland dalam sejarah hidup Indonesia. Memang sudah seharusnya eksistensi Benua Sundaland berikut kehancurannya dimasukkan menjadi bagian dari kronologis sejarah Indonesia dari masa ke masa.

            Sesungguhnya, Allah swt yang lebih mengetahui segalanya.


            Sampurasun.

Para Pemimpin Agama Jangan Munafik

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Berbagai konflik di dunia ini sangat sering dipenuhi konflik yang mengatasnamakan agama. Rebutan tanah, sumber daya alam, kekuasaan, uang, dan pasar kerap menggunakan agama sebagai alasan. Agama dijadikan daya tarik dan justifikasi terhadap perang-perang yang dilakukan. Sejarah mencatat itu semua.

            Hampir seluruh agama tercatat para pemimpinnya pernah menggunakan agamanya untuk kepentingan politik dan ekonomi. Mereka pun sering menghina dan menjelek-jelekan agama lain di hadapan publik hanya untuk membuat pembenaran atas perilaku kekerasan yang dilakukan kelompoknya atau mereka yang telah memberikan janji politik dan ekonomi pada para pemimpin agama itu. Para pemimpin Islam, Kristen, Hindu, Budha, Konghucu, Yahudi, dan beberapa agama kecil memiliki catatan kekerasan dan teror, baik pada masa lalu yang waktunya jauh dari kita maupun pada masa sekarang ini.

            Para pemimpin agama seharusnya menggunakan agamanya untuk menciptakan perdamaian dan kasih sayang di muka Bumi, bukan melegitimasi kekerasan dan perang. Para pemimpin agama harus memiliki jiwa dan hati yang lebih besar dan lapang dibandingkan umatnya. Mereka harus lebih tenang dan jernih dalam berpikir serta mempertimbangkan sesuatu. Para pemimpin agama sudah seharusnya menjadi agen-agen pemberi solusi, pemecah masalah, dan penghenti konflik. Bukan sebaliknya, para pemimpin agama justru merupakan bagian dan provokator konflik.

            Para pemimpin agama. Agama apa pun itu sangat tidak pantas berperilaku munafik. Di hadapan publik dan masyarakat dunia mereka tampil sebagai orang-orang saleh dengan berbagai atribut keagamaannya menyatakan sebagai pecinta perdamaian, tetapi pada saat yang sama mereka berkolaborasi dengan penguasa ataupun pengusaha melakukan kerja-kerja rahasia yang membuat kusut kehidupan manusia. Pemimpin agama seperti ini adalah pemimpin yang munafik. Sangat tidak pantas pemimpin agama berperilaku kotor seperti itu.

            Setiap pemimpin agama sudah seharusnya mengendalikan umatnya masing-masing agar tidak menjadi bagian dari konflik. Seluruh pemimpin agama wajib menenangkan setiap umatnya masing-masing dan jangan ikut-ikutan membuat provokasi bahkan menyebarkan hoax. Apabila setiap pemimpin agama mampu menyadarkan umatnya untuk tidak memicu konflik, tidak terlibat dalam konflik, dan menghindari kekusutan, dunia ini akan damai dan tenteram.

            Jika ada umatnya yang melecehkan agama lain, seharusnya pemimpinnya memberikan kesadaran bahwa perilaku umatnya itu sesungguhnya merugikan agamanya sendiri. Tak pernah ada kejadian suatu agama menjadi mulia disebabkan umatnya menghina agama lain. Sesungguhnya, kemuliaan suatu agama atau suatu umat beragama terwujud dari perilakunya dalam menghormati orang lain dan membiarkan orang lain melakukan keyakinannya masing-masing. Di samping itu, suatu agama akan tampak lebih mulia jika mampu pula menghormati mereka yang belum beragama atau tidak beragama. Mereka belum meyakini agama karena mereka belum mendapatkan pengetahuan tentang agama dengan benar. Apabila kita mudah menuduh orang lain sebagai calon penghuni neraka, kemuliaan kita pun akan merosot dan jatuh dalam kehinaan.

            Mulai saat ini tak boleh ada lagi pemimpin agama yang memberikan pembenaran untuk konflik-konflik atau perang-perang yang terjadi. Semua agama sudah seharusnya menghormati hidup dan kehidupan manusia dan kemanusiaan. Jangan ada lagi pemimpin agama yang mau disuap dengan janji politik ataupun ekonomi hanya untuk mempertahankan kekisruhan yang terjadi.

            Pemimpin agama apa pun yang melegalkan pembunuhan dan perang tanpa alasan yang jelas adalah para pendusta. Kita diperbolehkan perang hanya untuk membela diri, membela harga diri, membela harta benda yang kita miliki, dan menciptakan keadilan. Jika kita diperangi, diusir, diburu, dikejar, dianiaya, dan diancam dibunuh, kita harus membela diri, kehormatan, dan keadilan. Kalaupun harus berperang, berperanglah untuk membela diri dan bukan untuk merampok orang lain.

            Akan tetapi, kita tidak boleh memulai perang, memulai konflik, atau mencari gara-gara agar terjadi huru-hara. Saya orang Islam yang meneladani Muhammad saw. Sang Nabi saw tidak pernah memicu perang atau mengobarkan kebencian. Muhammad saw melakukan perang hanyalah untuk membela diri, menjaga kehormatan, dan mewujudkan keadilan. Tidak pernah Nabi Muhammad saw menjadi penyebab suatu perang.

            Sebutkan satu perang saja yang dilakukan Nabi Muhammad saw yang pemicunya adalah Nabi Muhammad saw sendiri.

            Pasti tidak ada!

            Saya jamin itu.

            Kalau ada, itu berarti kalian mendapatkan hoax. Saya dengan senang hati membongkar kebusukan kisah hoax itu.


            Sampurasun.

Thursday, 13 April 2017

Tes Mental Masuk Surga

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Lumayan sering saya mendengar, baik muslim maupun kristian yang sering “tenang-tenang” hidupnya karena menganggap bahwa dirinya pasti masuk surga. Kalaupun harus masuk neraka, paling hanya sebentar disiksa. Akhirnya, pasti masuk surga dan kekal bahagia di dalamnya. Saya belum pernah mendengar hal itu dari umat Hindu, Budha, Konghucu, ataupun penganut agama lokal. Mungkin mereka juga berpandangan sama, tetapi yang jelas saya belum pernah mendengarnya. Kalau yahudian, memang sudah tercatat mengaku seperti itu. Kaum Yahudi berpandangan bahwa mereka pasti masuk surga setelah disiksa terlebih dahulu di dalam neraka.

            Allah swt sudah menerangkannya.

            “Dan mereka berkata, ‘Neraka tidak akan menyentuh kami, kecuali beberapa hari saja.’
            Katakanlah, ‘Sudahkah kamu menerima janji dari Allah sehingga Allah tidak akan mengingkari janji-Nya ataukah kamu mengatakan tentang Allah sesuatu yang tidak kamu ketahui?’” (QS Al Baqarah 2 : 80)

            Yahudi yakin bahwa mereka hanya akan disiksa selama empat puluh hari akibat dari dosa mereka menyembah patung emas sapi betina selama empat puluh hari ketika ditinggalkan Musa as untuk bertemu Allah swt di Gunung Sinai.

            Akan tetapi, Allah swt membantahnya dengan menyuruh kaum muslimin untuk balik bertanya kepada Yahudi sebagaimana yang ditulis dalam ayat di atas.

            Jika menggunakan bahasa kita saat ini, kita dapat bertanya kepada Yahudi, “Kalian pasti masuk Surga? Mana ayat yang berisi janji Allah swt yang akan menyiksa kalian hanya sebentar untuk kemudian masuk Surga? Kalian hanya bikin hoax.

            Orang-orang Islam tidak perlu seperti umat Yahudi yang tenang-tenang saja akibat hoax. Meskipun umat Islam dijanjikan surga oleh Allah swt, tetapi tidak boleh tenang-tenang saja karena siksaan neraka itu sangat mengerikan. Meskipun pada akhirnya masuk surga, tetap jangan anggap enteng siksaan neraka.

            Mari kita tes mental kita untuk masuk surga setelah sebelumnya masuk neraka terlebih dahulu. Artinya, ada penyiksaan dulu di neraka untuk membersihkan seluruh dosa agar benar-benar suci ketika masuk surga.

            Saya ada rumah tiga, sumpah. Satu di Kota Bandung, satu di Kabupaten Sumedang, dan satu lagi di Kabupaten Bandung. Satu rumah yang di Kota Bandung akan saya berikan kepada siapa saja yang mau.

            Ada yang mau?

            Mahal lho beli rumah. Susah punya rumah sendiri.

            Beri tahu saya kalau ada yang mau. Saya sumpah tidak akan bohong.

            Saya akan berikan rumah itu dengan segala surat-suratnya dan saya akan menandatangani di atas materai bahwa rumah itu sudah saya berikan kepada Saudara. Akan tetapi, saya minta satu saja syarat dari Saudara. Syarat itu ialah saya akan menyiksa Saudara selama satu jam. Hanya satu jam. Satu jam saja. Sumpah, tidak akan lebih dari satu jam.

            Mau?

            Mau rumah?

            Apakah saya harus bersumpah demi Allah swt agar Saudara percaya?

            Satu jam saja saya menyiksa Saudara. Setelah itu, rumah akan menjadi mililk Saudara.

            Mau?

            Kalau mau, saya akan ceriterakan dulu bagaimana saya akan menyiksa Saudara. Tidak akan pakai senjata. Saya hanya akan menggunakan tangan kosong. Hal pertama yang saya akan lakukan adalah memukul sekeras mungkin kedua telinga Saudara dengan kedua telapak tangan saya secara bersamaan sehingga gendang telinga Saudara pecah berdarah dan tidak bisa mendengar lagi. Kedua, saya akan menggunakan kedua jempol tangan saya untuk mencongkel kedua mata Anda sehingga Anda tidak bisa melihat lagi dan buta selama hidup. Ketiga, saya akan memukul hidung Anda hingga patah. Keempat, saya akan memukul ulu hati dan tulang iga Saudara hingga patah-patah. Kelima, saya akan mematahkan kedua tangan Saudara beserta seluruh jari-jari tangan hingga seluruhnya patah-patah dan tidak bisa digerakkan lagi. Keenam, saya akan membenturkan bibir Saudara sekeras mungkin pada tembok hingga pecah dan gigi Saudara pada rontok. Ketujuh, saya akan mematahkan kaki Saudara dengan menginjak lutut Saudara dalam posisi kaki telentang bersandar pada kursi hingga tempurung Anda pecah dan tidak bisa nyambung lagi antara betis dan paha.

            Ketujuh penyiksaan itu paling-paling hanya berjalan 30 menit. Saya masih punya hak menyiksa Saudara 30 menit lagi. Masih banyak cara untuk membuat penyiksaan.

            Mau?

            Kalau mau, Saudara mungkin dapat rumah dari saya, tetapi saudara cacat seumur hidup dan menderita sakit luar biasa bertahun-tahun. Mungkin Saudara mengharapkan agar cepat mati, tetapi tidak mati-mati juga. Bahkan, Saudara menjadi beban hidup orang lain sambil terus-terusan merasakan sakit.

            Mau?

            Jangan mau atuh.

            Oleh sebab itu, jangan anggap enteng neraka. Benar kita bakal masuk surga karena ada kesempurnaan iman, tetapi kalau disiksa dulu … duh.

            Gambaran penyiksaan yang saya lakukan tadi sangat sadis dan mengerikan. Apalagi jika disiksa di neraka oleh para malaikat yang memang ahli menyiksa.

            Hi… ngeri.

            Jangan tenang-tenang saja. Kuatkan iman dan terus berbuat baik di muka Bumi ini sehingga tidak perlu disiksa dulu sebelum masuk surga.

            Sampurasun.

Tuesday, 11 April 2017

Agama Sang Prabu

oleh Tom Finaldin

Bandung, Putera Sang Surya
Hasil dari penelusuran saya pribadi yang menyandingkan antara Al Quran dengan sosok Prabu Siliwangi menghasilkan simpulan bahwa Prabu Siliwangi adalah nabi kepercayaan Allah swt yang ditugaskan untuk menyebarkan Islam pada masa Sundaland. Nama agamanya belum disebut Islam saat itu, melainkan Sunda Wiwitan. Inti ajarannya adalah tauhid, praktiknya adalah budi pekerti dan kehalusan hati untuk mencapai kebahagiaan dunia akhirat. Jadi, ajaran Sunda Wiwitan merupakan dasar-dasar akhlak Islam pra-Muhammad saw yang kemudian disempurnakan oleh ajaran Islam Muhammad saw.

            Hasil penelusuran saya tersebut ternyata mendapatkan penguatan dari “pernyataan tulus” seorang peneliti yang bernama Dr. Nurhadi Magetsari. Ketika pemerintah Provinsi Jawa Barat bekerja sama dengan Ecole Francaise D’Extreme-Orient-Pusat Penelitian Arkeologi Nasional mengadakan seminar Sejarah dan Tradisi tentang Prabu Silihwangi, Dr. Nurhadi Magetsari diberi tugas untuk mengungkapkan agama yang ada di tanah Sunda sebelum Islam.

            Dengan jujur dan bahasa yang tulus ia mengatakan, “Panitia pengarah telah menugaskan kepada saya untuk mengungkapkan agama yang berkembang sebelum Islam, khususnya yang didasarkan atas naskah-naskah Cariosan Prabu Silihwangi, Carita Pakuan, serta Bujangga Manik. Setelah mempelajari ketiganya secara sekilas, ternyata bahwa data yang berkenaan dengan Agama Buddha maupun Hindu yang dimuat dalam ketiga naskah itu hampir-hampir tidak ada.”

            Pernyataan Dr. Nurhadi Magetsari dalam makalahnya Kultus Dewa Raja Yang Didapat dari Cariosan Prabu Silihwangi (1991) tersebut menandakan bahwa dirinya kesulitan untuk mengambil simpulan apakah Prabu Siliwangi itu beragama Hindu atau Buddha karena sebelumnya banyak sarjana dari Belanda dan Inggris yang menduga bahwa Prabu Siliwangi beragama Hindu atau Buddha Tantra. Ia lebih jujur dibandingkan para sarjana Belanda dan Inggris itu. Ia tidak memaksakan kehendak jika memang tidak ada datanya. Ia tidak mau menyebarkan hoax tentang Prabu Siliwangi untuk alasan apa pun.

            Dua jempol untuk Nurhadi!

            Meskipun kesulitan, Nurhadi tetap mencoba menelusurinya dan hasilnya, cukup kalang kabut. Ia sendiri tampak bingung karena banyaknya masalah dalam naskah.

            Karena sebelumnya para sarjana Belanda dan Inggris berpendapat bahwa Prabu Siliwangi beragama Hindu dan atau Budha Tantra serta ada kalimat-kalimat dalam Carita Pakuan yang diperkirakan agak mirip kata-kata dalam Hindu, Nurhadi mencoba menelusurinya melalui agama Hindu. Padahal, kata-kata yang dipakai agak mirip saja  sangat tidak cukup untuk menyatakan seseorang beragama tertentu. Seperti kita saat ini, kata-kata wafat, shodaqoh, almarhum, almarhumah, insyaallah, dan masih banyak lagi digunakan oleh semua orang, baik muslim, Kristen, Hindu, Budha, Konghucu, ataupun penganut agama lokal. Seseorang yang mengucapkan kata almarhum untuk menyatakan kematian seseorang, sangat tidak tepat jika dipastikan seseorang itu beragama Islam hanya karena kata-kata itu berasal dari kaum muslimin. Kata-kata itu bukan menentukan agama seseorang, melainkan kebiasaan berbahasa di lingkungan tertentu.

            Hal itulah yang membuat Nurhadi merasa kebingungan dalam isi makalahnya. Ketika ia menelusuri agama Prabu Siliwangi lewat jalur Hindu, tampaknya seperti benar, misalnya, Prabu Siliwangi berguru pada beberapa ahli agama, lalu mempraktikan agama dengan ketat dan menghayati dharma. Sampai akhirnya ia mencapai puncaknya dengan gelar Dewa Raja yang tampan mirip Dewa Wisnu.

            Istilah Dewa Raja itu kalau dalam Islam mirip dengan Ulama-Umaro. Dewa berarti dia Tuhan atau kepercayaan Tuhan. Raja berarti dia pemimpin manusia. Dewa Raja bisa diartikan Tuhan yang menjelma menjadi manusia untuk memimpin manusia atau manusia yang diangkat Tuhan untuk menjadi pemimpin manusia.

            Keanehan dan kekusutan muncul ketika Prabu Siliwangi menuntut ilmu “kelepasan” pada Wairocana. Wairocana sendiri merupakan salah satu Tathgata yang tertinggi dari aliran Buddha Mahayana, khususnya ajaran Mantrayana.

            Nurhadi mengatakan bahwa ini sebuah masalah. Oleh sebab itu, ia tidak berani menyimpulkan apakah Prabu Siliwangi beragama Hindu atau Buddha Tantra.

            Sangatlah tidak mungkin jika Prabu Siliwangi beragama Hindu sehingga mencapai puncaknya menjadi mirip Dewa Wisnu dengan segala keagungannya, kemudian mempraktikkan ajaran Budha.

            Dr. Nurhadi sendiri mempertanyakan hal itu, “Mengapa manusia yang sudah mencapai tingkat kedewaan juga diterangkan masih menempuh dan kemudian mencapai kebudhaan?”

            Bagi kita yang hidup pada zaman ini. Hal itu jelas merupakan kekacauan.

            Bagaimana mungkin orang bisa mempraktikan dua agama sekaligus, yaitu Hindu dan Budha?

            Kalau mengikuti hukum positif saat ini, perilaku mengamalkan dua ajaran agama sekaligus, bisa dihukum penjara karena akan ada orang yang tersinggung, lalu melaporkannya sebagai tindakan penghinaan, penodaan, penistaan, ataupun pelecehan terhadap agama tertentu. Orang ini bisa dituding kafir, sesat, dan bidah.

            Hal itu sangat bertentangan dengan sosok Prabu Siliwangi yang penuh keagungan dan keluhuran. Artinya, tidak mungkin Prabu Siliwangi memeluk dua agama sekaligus. Tidak mungkin pula Prabu Siliwangi pindah agama setelah sukses menjadi Dewa Raja dalam agama Hindu, lalu meneruskan belajar menjadi Budha supaya karirnya meningkat.

            Memangnya kuliah?

            Habis S1 terus S2?

            Supaya gelar, kedudukan, dan honornya naik?

            Ada dua penjelasan untuk kekusutan tersebut. Pertama, naskah-naskah kunonya sendiri sudah kalang kabut dalam arti tidak murni karena ditulis oleh para juru pantun yang mendapatkan pengaruh dari penguasa. Kedua, para peneliti tidak memahami ajaran Islam dan Sunda Wiwitan dengan baik.

            Praktik-praktik keagamaan yang dilakukan Prabu Siliwangi sebetulnya sudah ada dalam ajaran Islam, misalnya, uzlah (memisahkan diri dari keramaian), menuntut ilmu, khalwat, shaum, dzikir, riyadhoh, bangun malam, dan lain sebagainya. Sesungguhnya, tapa laku yang dilakukan Prabu Siliwangi tak lain dan tak bukan adalah dalam rangka mengamalkan ajaran Islam pra-Muhammad saw, yaitu ajaran Sunda Wiwitan. Memang dalam praktik lahiriahnya banyak hal yang sama dengan Hindu dan Budha yang juga mengenal pengekangan diri untuk mencapai kesempurnaan.

            Hal yang sangat menyesatkan adalah anggapan yang sangat keliru bahwa Islam adalah agama yang berasal dari Arab. Oleh sebab itu, karena bahasa dan kalimat yang digunakan bukan berbahasa Arab, disebutlah bukan Islam. Padahal, Allah swt tidak pernah mengatakan bahwa Islam berasal dari Arab dan nabi harus selalu berasal dari Arab atau Timur Tengah. Nabi itu ada di seluruh penjuru dunia dengan bahasa sukunya masing-masing di kalangan umatnya masing-masing. Di situ ada sebuah bahasa tertentu, di situlah ada nabi. Di situ ada umat, di situlah ada nabi. Untuk lebih jelasnya, baca tulisan saya yang berjudul Nabi Prabu Siliwangi Alaihissalam.

            Jadi, Prabu Siliwangi itu adalah nabi yang mengajarkan Islam pra-Muhammad saw dengan nama agama Sunda Wiwitan. Ia hidup pada masa Sundaland. Karena sepeninggal Nabi Prabu Siliwangi, Daud as, Sulaeman as, dan nabi-nabi lain orang-orang Indonesia ini melakukan dosa-dosa besar, dihancurkanlah dunianya oleh Allah swt.

            Itulah salah satu kesulitan kita dalam memahami Prabu Siliwangi, termasuk sejarah Indonesia secara keseluruhan. Peninggalan kebesaran masa lalu kita banyak yang tenggelam dan terkubur akibat kemurkaan Allah swt melalui bencana mahadahsyat yang menghancurkan Benua Sundaland menjadi kepulauan bernama Indonesia.                 

            Sampurasun.