Showing posts with label Sunda Wiwitan. Show all posts
Showing posts with label Sunda Wiwitan. Show all posts

Wednesday, 12 February 2025

Kabah Mekah = Sasaka Domas

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Ada fungsi yang sama pada Kabah di Mekah dengan Sasaka Domas di Gunung Halimun Salak, Bogor, Jawa Barat. Keduanya memiliki fungsi sebagai kiblat atau arah, bahkan pusat peribadatan.

Bagi orang Islam, Kabah adalah bangunan yang menjadi titik fokus konsentrasi ketika beribadat dan puncak peribadatannya ada pada bulan Dzulhijah yang disebut juga bulan Haji. Di mana pun orang Islam beribadat, arah dan fokusnya harus ke Kabah.

Foto Kabah saya dapatkan dari SMP Akhlak Cendekia Muslim


Kabah di Mekah (Foto: SMP Akhlak Cendekia Muslim)


Bagi orang Sunda Wiwitan, arah peribadatannya ke Sasaka Domas. Di sana ada situs megalitikum yang menjadi titik fokus konsentrasi peribadatan. Ada batu-batu menhir dan arca yang menjadi pusat konsentrasi. Puncak peribadatannya ada pada bulan Kalima.

Foto Sasaka Domas saya dapatkan dari Kompasiana com.


Sasaka Domas (Foto: Kompasiana com)


Kabah dan Sasaka Domas adalah arah atau kiblat peribadatan, bukan barang yang disembah. Muslim mengarah ke Kabah, Sunda Wiwitan mengarah ke Sasaka Domas. Kabah adalah bukan Allah swt, melainkan titik fokus konsentrasi peribadatan. Oleh sebab itu, sebagai penghormatan dan tempat yang diridhoi Allah swt untuk titik fokus, disebut “Rumah Allah swt”. Ingat, itu bukan berarti Allah swt berdiam di situ. Kalau masuk ke dalamnya juga, kosong atau ada permadani, sajadah, bantal atau hal lain yang juga digunakan untuk ritual. Itu hanyalah bangunan yang diridhoi Allah swt sebagai pusat ibadat.

Demikian pula Sasaka Domas bukan Tuhan, bukan Sang Hyang Tunggal, melainkan pusat titik konsentrasi ritual. Hal itu sudah ditegaskan bahwa Sang Hyang Tunggal tidak boleh diwakilkan ke dalam bentuk apa pun yang ada di dunia ini, bahkan dilarang untuk dibayangkan wujudnya. Hal itu disebabkan manusia adalah ciptaan yang terbatas, sedangkan Sang Hyang Tunggal adalah Pencipta yang tidak terbatas.

Baik Kabah maupun Sasaka Domas, adalah alat bantu untuk konsentrasi atau khusyuk beribadat ritual. Ketika seorang muslim biasa-biasa seperti saya ini melakukan shalat, akan terbayang bentuk Allah swt sebagaimana melayangnya imajinasi dan pikiran. Bentuk-bentuk yang tercipta dalam bayangan kita itu pasti salah dan berbeda-beda dengan orang lain. Itu bukanlah Allah swt dan bisa mengakibatkan shalat tidak khusyuk. Oleh sebab itu, agar lebih khusyuk, kita bisa membayangkan diri kita berada di depan Kabah sambil memahami apa yang kita baca. Dengan demikian, pikiran kita tidak akan terseret kesana-kemari. Insyaallah, Allah swt ridho.

Demikian pula ketika Sunda Wiwitan beribadat, mereka fokus melihat atau membayangkan Sasaka Domas agar terikat pada tempat itu sebagai tempat yang disucikan dan diberkati Sang Hyang Tunggal. Dengan demikian peribadatannya bisa lebih khusyuk, tidak membayangkan hal-hal yang tidak diperlukan.

So, Sang Hyang Tunggal dan Allah swt adalah merujuk pada “Zat Yang Sama”, zat yang tidak memperbolehkan diri-Nya dibayangkan. Zat yang hanya mengizinkan tempat-tempat tertentu sebagai alat bantu konsentrasi untuk beribadat ritual kepada diri-Nya.

Sampurasun

 

Sunday, 8 December 2024

Sesembahan Orang Sunda

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera sang Surya

Karena banyak orang yang sok tahu tentang Islam dan Sunda Wiwitan, lalu menyesatkan banyak orang dengan kata-kata mereka dan tulisan mereka, saya jadi memaksakan diri untuk memeriksa catatan saya sekitar tujuh atau sepuluh tahun lalu. Saya pernah membaca dan merekam beberapa naskah tentang Sunda Wiwitan. Saya pastikan orang yang mengatakan bahwa orang Sunda pada zaman dahulu adalah penyembah pohon, batu, gunung, jin, atau patung, orang itu sudah pasti bodoh, sok tahu, dan berbicara, berpendapat, atau menulis hanya berdasarkan dugaan atau sangkaan belaka, tanpa ilmu. Celakanya, dugaan atau sangkaan itu dianggap sebagai kebenaran yang menghasilkan pemahaman dan perilaku yang salah. Orang Sunda sesungguhnya dari dulu sampai hari ini menyembah hanya satu hal, tidak berubah. Dulu menyembah “itu”, sekarang pun tetap menyembah “itu”. Perhatikan kalimat dari Sunda Wiwitan berikut ini.

            “Hyang tunggal anu Maha Luhung; satemenna tujuan utama manusa sembah Hyang; henteu boga anak henteu boga dulur; boga baraya jeung batur ogé henteu di jagat jeung ieu alam; anu pangunggulna dina sagala rupa hal; hung, tah éta téh nu ngagem bebeneran sajati, ahung.”

            Artinya.

            “Tuhan Tunggal Yang Mahaagung. Sesungguhnya, Dia-lah yang sebenarnya tujuan penyembahan manusia, tidak punya anak dan tidak punya saudara, punya kerabat dan teman juga tidak di seluruh jagat dan seluruh alam ini. Dia yang paling unggul dalam segala rupa hal. Hung! Itulah agama pegangan kebenaran yang sejati. Ahung!”

            Nah, Zat itulah yang disembah orang Sunda dari dulu sampai hari ini, tidak berubah. Sesuatu dengan kriteria itulah yang disembah orang Sunda hingga detik ini.

            Sekarang paham?

            Jadi, berhenti mendengarkan orang-orang bodoh dan sok tahu yang tidak punya pengetahuan. Berhati-hati dalam berpendapat, beropini, atau berfatwa jika belum memahami dengan benar apa yang sedang dibicarakan.

            Sampurasun.

Sunday, 1 December 2024

Siapa Bilang Islam Dikalahkan Sunda Wiwitan?

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Kemenangan mutlak Dedi Mulyadi dalam Pilkada 2024 Provinsi Jawa Barat lumayan meributkan media sosial. Ada yang bersuara menggunakan ilmu pengetahuan, ada juga yang bersuara menggunakan kebodohan.

            Dedi Mulyadi yang dipandang sebagai pemegang teguh ajaran Sunda Wiwitan dianggap telah mengalahkan Islam di Jawa Barat. Sungguh, saya pastikan orang yang berpendapat seperti adalah orang yang tidak memahami Islam dan sangat tidak memahami Sunda Wiwitan.

            Panjang sebenarnya kalau menulis hal ini, bisa berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun. Akan tetapi, sedikit saja saya jelaskan bahwa Sunda Wiwitan itu adalah sistem sosial yang digunakan leluhur Sunda dalam mengatur masyarakat, termasuk di dalamnya ada keyakinan yang monoteisme atau “bertuhan tunggal”. Oleh sebab itu, orang Sunda mudah sekali menerima Islam sebagai agama karena memiliki getaran yang sama dengan Sunda Wiwitan.

            Beberapa raja Sunda mencoba mengabadikan ajaran-ajaran Sunda Wiwitan dalam berbagai bentuk tulisan. Misalnya, sebagaimana yang direkam oleh “Prabu Munding Laya bin Gajah Agung bin Cakrabuana bin Aji Putih, Raja Sumedang Larang”.

            “Dina Agama Sunda Wiwitan, aya anu unina kieu, ‘Nya inyana anu muhung di ayana, aya tanpa rupa, aya tanpa waruga, hanteu ka ambeu-ambeu acan, tapi wasa maha kawasa di sagala karep inyana’.”

            Artinya.

           “Dalam Agama Sunda Wiwitan, ada ajaran seperti ini, ‘Dia-lah Yang Mahaagung dalam keberadaan-Nya, ada tanpa kelihatan rupa-Nya, ada tanpa kelihatan wujud-Nya, tidak tercium keberadaan-Nya, tetapi berkuasa yang kemahakuasaan-Nya adalah sesuai dengan kehendak-Nya’.”

            Itu satu kalimat dari Sunda Wiwitan yang pernah saya baca naskahnya. Kalau penasaran, nanti saya tambah lagi. Sayangnya, saya lupa menulis sumber naskahnya karena dulu saya kurang menganggap penting sumber tulisan, hanya mementingkan redaksinya. Insyaalah, kalau saya temukan sumbernya, saya share lagi.

            Pertanyaannya, adakah dari satu kalimat Sunda Wiwitan tadi yang bertentangan dengan ajaran Islam?

            Kalau ada, kasih tahu saya. Sangat senang saya mendiskusikannya. Kalau tidak ada, kalimat itu tidak bertentangan dengan Islam. Jadi, tidak benar Sunda Wiwitan mengalahkan Islam.

            Sampurasun.

Thursday, 30 December 2021

Kapan Orang Sunda Menyembah Pohon?


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Banyak yang marah kepada Bahar bin Smith. Banyak yang tersinggung dan menganggap rasis, merendahkan bangsa Indonesia dan meninggikan Arab. Perilaku memuja suatu bangsa dan merendahkan suatu bangsa atas dasar kesukuan dan kelahirannya memang tindakan rasis. Banyak sekali yang ingin melaporkan Bahar atas dugaan menghina bangsa Indonesia itu. Akan tetapi, sampai sekarang belum ada yang melaporkannya atas dugaan penghinaan rasis yang jelas berbau Sara itu. Baru Habib Husein Shihab yang melaporkannya ke polisi, tetapi bukan tentang rasisme, melainkan dugaan provokasi yang bisa membahayakan masyarakat dan stabilitas kehidupan. Di samping itu, ada pula relawan Jokowi yang melaporkannya atas dugaan penghinaan Bahar kepada Presiden.

Kalimat ini yang diucapkan Bahar dan menyinggung perasaan banyak orang, “Kalau tidak ada para ulama, para habaib yang datang dari Arab ke Indonesia, Si Dudung masih nyembah pohon.”

            Dari kalimat itu, banyak orang menyimpulkan bahwa Bahar mengagungkan Arab dan merendahkan bangsa Indonesia. Yang Bahar maksud Si Dudung itu adalah Kasad TNI Jenderal Dudung Abdurachman.

            Kalau orang lain mau melaporkan karena merasa tersinggung, terserahlah. Itu akan diurus kepolisian. Kalau memang ada tindakan pelanggaran hukumnya, harus diteruskan ke pengadilan. Kalau tidak ada, ya tidak akan diproses. Akan tetapi, bagi saya, lebih suka didiskusikan saja atau diperdebatkan dengan cara yang baik agar didapat pengetahuan baru dan tidak lagi salah berpikir.

            Sejarah mencatat bahwa bangsa Arab adalah bangsa yang bejat dan jahiliyah. Oleh sebab itu, Nabi Muhammad saw diturunkan untuk menghentikan kerusakan Arab. Nabi saw tidak diturunkan di Indonesia karena bangsa Indonesia itu bangsa yang sudah baik dan islami. Begitu kira-kira yang dikatakan oleh Habib Kribo Zen Assegaf.

            Dudung adalah orang Sunda, saya juga orang Sunda. Jadi, wajar jika ada anggapan bahwa berdasarkan kata-kata Bahar, orang Sunda dulu menyembah pohon. Wajar pula jika orang Sunda banyak yang marah.

            Pertanyaan saya, kapan orang Sunda menyembah pohon seperti yang dikatakan Bahar?

            Ada yang punya bukti bahwa orang Sunda pernah menyembah pohon?

            Ada yang punya data berupa foto, lukisan, atau ajaran dalam pemujaan terhadap pohon?

            Kalau tidak punya, kenapa atuh sok tahu mengatakan bahwa orang Sunda pernah menyembah pohon?

            Makanya, sebelum berbicara dan bertindak itu harus “iqra” dulu. Itu kan perintah Allah swt, ayat yang paling pertama. Kalau tidak iqra dulu, ya bodohlah jadinya.

            Dari dulu juga orang Sunda tidak pernah menyembah pohon. Orang Sunda itu sudah “monotheisme”, ‘bertuhan satu’. Oleh sebab itu, sangat mudah menerima Islam karena konsep ketuhanannya sama. Orang banyak yang mengatakan bahwa orang Sunda dulu itu agamanya adalah “Sunda Wiwitan”.

            Saya kasih tahu ya, saya pernah baca suatu naskah tentang ajaran Sunda Wiwitan yang didasarkan pada catatan “Prabu Munding Laya bin Gajah Agung bin Cakrabuana bin Aji Putih, Raja Sumedang Larang”. Orang Sumedang harus bantu saya kalau saya salah menerjemahkan. Kalau data ini salah, kasih tahu saya data yang benarnya dari keturunan Raja Sumedang Larang. Saya berterima kasih untuk itu kalau memang ada. Jauh sebelum para habib dan orang Arab datang, orang Sunda sudah menyembah Tuhan Yang Satu.

            Perhatikan.

            “Dina Agama Sunda Wiwitan, aya anu unina kieu, ‘Nya inyana anu muhung di ayana, aya tanpa rupa, aya tanpa waruga, hanteu ka ambeu-ambeu acan, tapi wasa maha kawasa di sagala karep inyana’.”

            Artinya.

            “Dalam Agama Sunda Wiwitan (Mula-Mula), ada ajaran seperti ini, ‘Dia-lah Yang Mahaagung dalam keberadaan-Nya, ada tanpa kelihatan rupa-Nya, ada tanpa kelihatan wujud-Nya, tidak tercium keberadaan-Nya, tetapi berkuasa yang kemahakuasaan-Nya adalah sesuai dengan kehendak-Nya’.”

            Ada lagi.

            “Hyang tunggal anu Maha Luhung; satemenna tujuan utama manusa sembah Hyang; henteu boga anak henteu boga dulur; boga baraya jeung batur ogé henteu di jagat jeung ieu alam; anu pangunggulna dina sagala rupa hal; hung, tah éta téh nu ngagem bebeneran sajati, ahung.”

            Artinya.

            “Tuhan Tunggal Yang Mahaagung. Sesungguhnya, Dia-lah yang sebenarnya tujuan penyembahan manusia, tidak punya anak dan tidak punya saudara, punya kerabat dan teman juga tidak di seluruh jagat dan seluruh alam ini. Dia yang paling unggul dalam segala rupa hal. Hung! Itulah agama pegangan kebenaran yang sejati. Ahung!”

            Ada lagi.

            "Utek, tongo, walang, taga, manusa, buta, detia, lukut, jukut, rungkun, kayu, keusik, karihkil, cadas, batu, cinyusu, talaga, sagara, Bumi, langit, jagat mahpar, angin leutik, angin puih, bentang rapang, bulan ngempray, sang herang ngenge nongtoreng, eta kabeh ciptaan Sang Hyang Tunggal, keur Inyanamah sarua kabeh oge taya bedana."

            Artinya.

            “Cacing-cacing, tungau, belalang, taga, manusia, raksasa, jin, lumut, rumput, semak-semak, kayu, kerikil, cadas, batu, mata air, danau, lautan, Bumi, langit, seluruh dunia, angin kecil, angin topan, bintang bertaburan, Bulan bercahaya, Matahari bersinar terik. Itu semua ciptaan Sang Hyang Tunggal (Tuhan Yang Maha Esa). Bagi-Nya semua itu tidak ada bedanya.”

            Itu ajaran orang Sunda sebelum orang-orang Arab datang. Sudah islami dari dulu, tetapi tidak menggunakan bahasa Arab, melainkan bahasa Sunda. Jadi, menyebut Tuhan Yang Maha Esa itu bukan dengan istilah “Allah swt”, melainkan istilah lain, istilah Sunda.

            Dalam naskah “Jatiraga” dituliskan bahwa “Sang Hyang Jatiniskala” benar-benar bersifat “niskala”, tidak dapat terbayangkan, tidak dapat dikonkritkan.

            “Sebab Aku adalah asli dan dari keaslian. Tidak perlu diubah dalam bentuk benda alam yang tidak asli dan tidak jujur sebab Aku adalah jujurnya dari kejujuran.”

            Dalam naskah itu Allah swt disebut Sang Hyang Jatiniskala, ‘Tuhan Yang Tidak Dapat Dibayangkan’.

Pernyataan “diri” yang juga sama tegasnya ada dalam naskah “Sang Hyang Raga Dewata”.

            “Hanteu nu ngayuga Aing. Hanteu manggawe Aing. Aing ngaranan maneh, Sanghiyang Raga Dewata.”

            Artinya.

            “Tidak ada yang menjadikan Aku. Tidak ada yang menciptakan Aku. Aku menamai diri sendiri, Sang Hyang Raga Dewata.”

            Dalam naskah itu, Allah swt disebut Sang Hyang Raga Dewata, ‘Tuhan dengan Raga Tuhan’. Jadi, beda dengan raga ciptaan-Nya.

Sifat-sifat Sang Hyang Raga Dewata pun dijelaskan sebagai berikut.

            “Datang tanpa rupa, tanpa raga, tak terlihat, perkataan (senantiasa) benar. Rupa direka karena ada. Aku-lah yang menciptakan, tetapi tak terciptakan, Aku-lah yang bekerja, tetapi tidak dikerjakan, Aku-lah yang menggunakan, tetapi tidak digunakan.”

            Begitulah sifat-sifat Sang Hyang Tunggal, tak ada bedanya dengan konsep ketuhanan dalam Islam yang saya yakini sekarang.

            Balik lagi ke pertanyaan awal, sejak kapan orang Sunda menyembah pohon?

            Jawabannya, tidak pernah!

            Sebelum orang-orang Arab itu datang, orang Sunda sudah bertauhid karena ada nabi bersuku bangsa Sunda yang diutus Allah swt. Perhatikan QS Ibrahim 14 : 4.

“Kami tidak mengutus seorang rasul pun melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. Maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Dialah Tuhan Yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.”

Ada berapa bahasa dan kaum di dunia ini?

Sejumlah itulah rasul yang diutus Allah swt. Untuk orang Sunda, ya rasul yang berbahasa Sunda.

Perhatikan lagi QS Yunus 10 : 47.

“Tiap-tiap umat mempunyai rasul, maka apabila telah datang rasul mereka, diberikanlah keputusan antara mereka dengan adil dan mereka (sedikit pun) tidak dianiaya.”

Ada berapa umat di seluruh dunia?

Sejumlah itulah rasul diutus Allah swt. Untuk umat Sunda, ya orang Sunda-lah.

Banyak sekali naskah dan ayat yang menguatkan hal itu. Saking banyaknya, saya bisa bikin sebuah buku untuk menerangkannya. Akan tetapi, sebagian kecil ini pun rasanya cukup kalau memang ingin mengerti.

Jadi, orang Sunda tidak pernah menyembah pohon. Bahar bin Smith dan orang-orang sejenisnya itu salah besar. Mereka sok tahu, bodoh, karena tidak iqra dulu sebelum ngomong.

Eh, kalau ada data yang lain kasih tahu saya ya, mau nambahin yang menguatkan atau data yang berbeda. Jadi, diskusinya jadi enak. Kalau mau itu juga.

Sampurasun.

Tuesday, 11 April 2017

Agama Sang Prabu

oleh Tom Finaldin

Bandung, Putera Sang Surya
Hasil dari penelusuran saya pribadi yang menyandingkan antara Al Quran dengan sosok Prabu Siliwangi menghasilkan simpulan bahwa Prabu Siliwangi adalah nabi kepercayaan Allah swt yang ditugaskan untuk menyebarkan Islam pada masa Sundaland. Nama agamanya belum disebut Islam saat itu, melainkan Sunda Wiwitan. Inti ajarannya adalah tauhid, praktiknya adalah budi pekerti dan kehalusan hati untuk mencapai kebahagiaan dunia akhirat. Jadi, ajaran Sunda Wiwitan merupakan dasar-dasar akhlak Islam pra-Muhammad saw yang kemudian disempurnakan oleh ajaran Islam Muhammad saw.

            Hasil penelusuran saya tersebut ternyata mendapatkan penguatan dari “pernyataan tulus” seorang peneliti yang bernama Dr. Nurhadi Magetsari. Ketika pemerintah Provinsi Jawa Barat bekerja sama dengan Ecole Francaise D’Extreme-Orient-Pusat Penelitian Arkeologi Nasional mengadakan seminar Sejarah dan Tradisi tentang Prabu Silihwangi, Dr. Nurhadi Magetsari diberi tugas untuk mengungkapkan agama yang ada di tanah Sunda sebelum Islam.

            Dengan jujur dan bahasa yang tulus ia mengatakan, “Panitia pengarah telah menugaskan kepada saya untuk mengungkapkan agama yang berkembang sebelum Islam, khususnya yang didasarkan atas naskah-naskah Cariosan Prabu Silihwangi, Carita Pakuan, serta Bujangga Manik. Setelah mempelajari ketiganya secara sekilas, ternyata bahwa data yang berkenaan dengan Agama Buddha maupun Hindu yang dimuat dalam ketiga naskah itu hampir-hampir tidak ada.”

            Pernyataan Dr. Nurhadi Magetsari dalam makalahnya Kultus Dewa Raja Yang Didapat dari Cariosan Prabu Silihwangi (1991) tersebut menandakan bahwa dirinya kesulitan untuk mengambil simpulan apakah Prabu Siliwangi itu beragama Hindu atau Buddha karena sebelumnya banyak sarjana dari Belanda dan Inggris yang menduga bahwa Prabu Siliwangi beragama Hindu atau Buddha Tantra. Ia lebih jujur dibandingkan para sarjana Belanda dan Inggris itu. Ia tidak memaksakan kehendak jika memang tidak ada datanya. Ia tidak mau menyebarkan hoax tentang Prabu Siliwangi untuk alasan apa pun.

            Dua jempol untuk Nurhadi!

            Meskipun kesulitan, Nurhadi tetap mencoba menelusurinya dan hasilnya, cukup kalang kabut. Ia sendiri tampak bingung karena banyaknya masalah dalam naskah.

            Karena sebelumnya para sarjana Belanda dan Inggris berpendapat bahwa Prabu Siliwangi beragama Hindu dan atau Budha Tantra serta ada kalimat-kalimat dalam Carita Pakuan yang diperkirakan agak mirip kata-kata dalam Hindu, Nurhadi mencoba menelusurinya melalui agama Hindu. Padahal, kata-kata yang dipakai agak mirip saja  sangat tidak cukup untuk menyatakan seseorang beragama tertentu. Seperti kita saat ini, kata-kata wafat, shodaqoh, almarhum, almarhumah, insyaallah, dan masih banyak lagi digunakan oleh semua orang, baik muslim, Kristen, Hindu, Budha, Konghucu, ataupun penganut agama lokal. Seseorang yang mengucapkan kata almarhum untuk menyatakan kematian seseorang, sangat tidak tepat jika dipastikan seseorang itu beragama Islam hanya karena kata-kata itu berasal dari kaum muslimin. Kata-kata itu bukan menentukan agama seseorang, melainkan kebiasaan berbahasa di lingkungan tertentu.

            Hal itulah yang membuat Nurhadi merasa kebingungan dalam isi makalahnya. Ketika ia menelusuri agama Prabu Siliwangi lewat jalur Hindu, tampaknya seperti benar, misalnya, Prabu Siliwangi berguru pada beberapa ahli agama, lalu mempraktikan agama dengan ketat dan menghayati dharma. Sampai akhirnya ia mencapai puncaknya dengan gelar Dewa Raja yang tampan mirip Dewa Wisnu.

            Istilah Dewa Raja itu kalau dalam Islam mirip dengan Ulama-Umaro. Dewa berarti dia Tuhan atau kepercayaan Tuhan. Raja berarti dia pemimpin manusia. Dewa Raja bisa diartikan Tuhan yang menjelma menjadi manusia untuk memimpin manusia atau manusia yang diangkat Tuhan untuk menjadi pemimpin manusia.

            Keanehan dan kekusutan muncul ketika Prabu Siliwangi menuntut ilmu “kelepasan” pada Wairocana. Wairocana sendiri merupakan salah satu Tathgata yang tertinggi dari aliran Buddha Mahayana, khususnya ajaran Mantrayana.

            Nurhadi mengatakan bahwa ini sebuah masalah. Oleh sebab itu, ia tidak berani menyimpulkan apakah Prabu Siliwangi beragama Hindu atau Buddha Tantra.

            Sangatlah tidak mungkin jika Prabu Siliwangi beragama Hindu sehingga mencapai puncaknya menjadi mirip Dewa Wisnu dengan segala keagungannya, kemudian mempraktikkan ajaran Budha.

            Dr. Nurhadi sendiri mempertanyakan hal itu, “Mengapa manusia yang sudah mencapai tingkat kedewaan juga diterangkan masih menempuh dan kemudian mencapai kebudhaan?”

            Bagi kita yang hidup pada zaman ini. Hal itu jelas merupakan kekacauan.

            Bagaimana mungkin orang bisa mempraktikan dua agama sekaligus, yaitu Hindu dan Budha?

            Kalau mengikuti hukum positif saat ini, perilaku mengamalkan dua ajaran agama sekaligus, bisa dihukum penjara karena akan ada orang yang tersinggung, lalu melaporkannya sebagai tindakan penghinaan, penodaan, penistaan, ataupun pelecehan terhadap agama tertentu. Orang ini bisa dituding kafir, sesat, dan bidah.

            Hal itu sangat bertentangan dengan sosok Prabu Siliwangi yang penuh keagungan dan keluhuran. Artinya, tidak mungkin Prabu Siliwangi memeluk dua agama sekaligus. Tidak mungkin pula Prabu Siliwangi pindah agama setelah sukses menjadi Dewa Raja dalam agama Hindu, lalu meneruskan belajar menjadi Budha supaya karirnya meningkat.

            Memangnya kuliah?

            Habis S1 terus S2?

            Supaya gelar, kedudukan, dan honornya naik?

            Ada dua penjelasan untuk kekusutan tersebut. Pertama, naskah-naskah kunonya sendiri sudah kalang kabut dalam arti tidak murni karena ditulis oleh para juru pantun yang mendapatkan pengaruh dari penguasa. Kedua, para peneliti tidak memahami ajaran Islam dan Sunda Wiwitan dengan baik.

            Praktik-praktik keagamaan yang dilakukan Prabu Siliwangi sebetulnya sudah ada dalam ajaran Islam, misalnya, uzlah (memisahkan diri dari keramaian), menuntut ilmu, khalwat, shaum, dzikir, riyadhoh, bangun malam, dan lain sebagainya. Sesungguhnya, tapa laku yang dilakukan Prabu Siliwangi tak lain dan tak bukan adalah dalam rangka mengamalkan ajaran Islam pra-Muhammad saw, yaitu ajaran Sunda Wiwitan. Memang dalam praktik lahiriahnya banyak hal yang sama dengan Hindu dan Budha yang juga mengenal pengekangan diri untuk mencapai kesempurnaan.

            Hal yang sangat menyesatkan adalah anggapan yang sangat keliru bahwa Islam adalah agama yang berasal dari Arab. Oleh sebab itu, karena bahasa dan kalimat yang digunakan bukan berbahasa Arab, disebutlah bukan Islam. Padahal, Allah swt tidak pernah mengatakan bahwa Islam berasal dari Arab dan nabi harus selalu berasal dari Arab atau Timur Tengah. Nabi itu ada di seluruh penjuru dunia dengan bahasa sukunya masing-masing di kalangan umatnya masing-masing. Di situ ada sebuah bahasa tertentu, di situlah ada nabi. Di situ ada umat, di situlah ada nabi. Untuk lebih jelasnya, baca tulisan saya yang berjudul Nabi Prabu Siliwangi Alaihissalam.

            Jadi, Prabu Siliwangi itu adalah nabi yang mengajarkan Islam pra-Muhammad saw dengan nama agama Sunda Wiwitan. Ia hidup pada masa Sundaland. Karena sepeninggal Nabi Prabu Siliwangi, Daud as, Sulaeman as, dan nabi-nabi lain orang-orang Indonesia ini melakukan dosa-dosa besar, dihancurkanlah dunianya oleh Allah swt.

            Itulah salah satu kesulitan kita dalam memahami Prabu Siliwangi, termasuk sejarah Indonesia secara keseluruhan. Peninggalan kebesaran masa lalu kita banyak yang tenggelam dan terkubur akibat kemurkaan Allah swt melalui bencana mahadahsyat yang menghancurkan Benua Sundaland menjadi kepulauan bernama Indonesia.                 

            Sampurasun.

Sunday, 9 April 2017

Agama Budha Tertolak di Tanah Sunda

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Pada beberapa tulisan yang lalu saya sempat menyatakan bahwa tak ada jejak Hindu dan Budha di tanah Sunda. Secara tak sengaja saya menemukan tulisan Dra. Setyawati Sulaeman yang berjudul Arca-Arca Tipe Pajajaran di Jawa Barat (1991). Dalam tulisannya ada kalimat yang membuat saya tertarik dan semakin yakin bahwa Budha tidak pernah memiliki pengaruh yang besar terhadap rakyat Sunda, bahkan agama ini tertolak sebelum masuk ke tanah Sunda.

            Setyawati mengatakan, “Dalam Negarakertagama dikatakan bahwa para biarawan Buddhis yang diutus dari Majapahit ke seluruh Nusantara, tak boleh pergi ke Sunda karena tak pernah ada agama Budha di negeri itu katanya.”

            Pernyataan itu cukup aneh karena jika ingin menyebarkan agama Budha, para biarawan Budhis seharusnya justru datang di tempat yang belum ada agama Budha. Kalau menyebarkan di tempat yang sudah ada agama Budha, kan tidak perlu lagi disebarkan karena sudah ada. Paling-paling, ditingkatkan pengetahuan masyarakatnya tentang agama itu. Jadi, cukup aneh jika dilarang ke tanah Sunda hanya karena di Sunda tidak ada agama Budha. Kan mestinya justru diajarkan agama Budha supaya di Sunda ada agama Budha.

            Iya toh?

            Hal yang paling mungkin terjadi adalah para biarawan tahu bahwa tidak mungkin rakyat Sunda menerima agama Budha karena di Sunda sudah tertanam kuat agama Sunda Wiwitan yang diajarkan oleh Nabi Prabu Siliwangi as. Agama Sunda Wiwitan ini pasti menolak agama baru yang berbeda jauh soal pandangan keyakinan ketuhanan. Agama Sunda Wiwitan hanya memiliki dan meyakini satu Tuhan tanpa ada kekuatan lain di luar Tuhan Yang Maha Esa. Dalam agama Budha, banyak hal yang tidak nyambung dengan Sunda Wiwitan dan perasaan urang Sunda. Hal itulah yang tampaknya lebih masuk akal jika para biarawan Budhis dilarang masuk Sunda.

            Berbeda dengan ketika ajaran Islam masuk ke Sunda. Ajaran Muhammad saw ini begitu cair diterima dengan oleh masyarakat Sunda dan tidak ada penolakan yang berarti. Hal itu disebabkan adanya kesamaan keyakinan tentang Zat Tunggal dan penyempurnaan budi pekerti atau akhlakul karimah yang dasar-dasarnya sudah diajarkan Nabi Prabu Siliwangi as. Dalam kata lain, ajaran Sunda Wiwitan merupakan ajaran Islam pra-Muhammad saw. Sunda Wiwitan merupakan dasar-dasar Islam bagi orang Sunda yang kemudian disempurnakan oleh ajaran Islam Muhammad saw. Oleh sebab itu, susah sekali kita akan mendapatkan orang Sunda yang beragama Hindu, Budha, Kristen, atau agama lainnya. Orang Sunda itu mesti Islam. Kalau tidak Islam, seolah-olah dia sudah keluar dari lingkungan darah Sunda,

            Pelarangan biarawan Budhis masuk ke Sunda sebagaimana yang ditulis Setyawati (1991) menegaskan dengan jelas bahwa Prabu Siliwangi adalah bukan beragama Budha Tantra sebagaimana yang dikira-kira oleh sebagian ahli sejarah. Prabu Siliwangi adalah nabi yang diberi ajaran tauhid oleh Allah swt untuk disebarkan di Benua Sundaland dengan nama agama Sunda Wiwitan, yaitu Islam pra-Muhammad saw di tanah Sunda. Agar lebih jelas, baca tulisan saya yang dulu berjudul Nabi Prabu Siliwangi Alaihissalam.

            Di samping itu, pelarangan terhadap para biarawan Budhis itu menerangkan pula dengan terang bahwa agama Budha sama sekali tidak memiliki pengaruh di tanah Sunda. Keyakinan urang Sunda adalah bermula dari Sunda Wiwitan, kemudian langsung mendapat penyempurnaan dari agama Islam Muhammad saw. Hal itu dibuktikan bahwa setiap orang Sunda tidak pernah memiliki memori sebagai orang yang pernah dipengaruhi Budha, tetapi justru budi pekerti Sunda Wiwitan sampai sekarang masih digunakan karena melengkapi perasaannya dalam menyempurnakan perilakunya sebagai orang Islam.


            Sampurasun.

Wednesday, 29 March 2017

Sistem Pemerintahan Prabu Siliwangi

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Prabu Siliwangi dikenal menjalankan pemerintahan dengan adil dan bijaksana sehingga mengantarkan negaranya mencapai kegemilangan, keemasan, dan kemakmuran tiada tara yang diimpi-impikan banyak orang untuk terulang kembali. Kemegahan dan kejayaan negara dan rakyatnya benar-benar terwujud sepanjang Nabi Prabu Siliwangi hidup dan terus berlangsung beberapa periode berikutnya sepanjang dipimpin oleh orang-orang yang memegang teguh ajaran Prabu Siliwangi. Akan tetapi, kemudian terjadi penurunan karena mulai tidak mematuhi lagi ajaran Prabu Siliwangi hingga berakhir penuh kedurhakaan yang menimbulkan kemurkaan Allah swt. Kemurkaan Allah swt mengakibatkan Benua Sundaland hancur berkeping-keping menjadi kepulauan seperti sekarang ini. Akibatnya, seluruh kejayaan masa lalu hancur dan terkubur di dalam tanah. Hanya ajaran Prabu Siliwangi yang sebagian masih dikenang orang-orang baik dengan nama Sunda Wiwitan yang tersisa agar kita dapat menelusuri keberadaan kejayaan Prabu SIliwangi as.

            Sistem pemerintahan Prabu Siliwangi dapat dijelaskan dengan menggunakan Teori Kedaulatan Tuhan. Teori Kedaulatan Tuhan merupakan teori kedaulatan yang pertama dalam sejarah. Teori ini mengajarkan bahwa negara dan pemerintah mendapat kekuasaan tertinggi dari Tuhan sebagai asal segala sesuatu (causa prima). Menurut Teori Kedaulatan Tuhan, kekuasaan yang berasal dari Tuhan itu diberikan kepada tokoh-tokoh negara terpilih yang secara kodrati diterapkan-Nya menjadi pemimpin negara dan berperan selaku wakil Tuhan di dunia.

            Hal tersebut dapat dilihat dari pokok-pokok dasar ajaran keagamaan yang diuraikan dalam Sang Hiang Siksa Kanda ng Karesian (TBG.L.IV: 438) yang terangkum lengkap dalam sepuluh dasar/sila kebaktian (dasa pabekti) yang dikutip dalam makalah Antara Senjata Kudyang dengan Senjata-Senjata Tajam Berpamor Lainnya susunan Haris Sukanda Natasasmita (1991).

            Dasa pabekti itu adalah:
1. Anak bakti di bapa
2. Ewe bakti di laki
3. Hulun bakti di pantjadaan
4. Sisa bakti di guru
5. Orang tani bakti di dewata
6. Wadon bakti di mantri
7. Mantri bakti di mangkubumi
8. Mangkubumi bakti di ratu
9. Ratu bakti di dewata
10. Dewata bakti di Hiyang

            Kesepuluh dasar kebaktian ajaran keagamaan itu menunjukkan bahwa agama Sunda Wiwitan menjadi jiwa sekaligus dasar dalam berbangsa dan bernegara. Untuk berbakti kepada Tuhan, setiap orang haruslah berbakti kepada orang yang berada di atas dirinya karena orang yang berada di atasnya akan berbakti kepada orang yang lebih tinggi hingga berujung berbakti pada pemimpin negara yang berbakti kepada Tuhan.

            Apabila kita pahami sesuai dengan kondisi hierarki eksekutif di Indonesia saat ini dasar-dasar kebaktian keagamaan itu adalah anak berbakti pada orangtua, istri berbakti pada suami, suami berbakti pada RT, RT berbakti pada RW, RW berbakti pada lurah/Kades, Kades/lurah berbakti pada camat, camat berbakti pada walikota/bupati, walikota/bupati berbakti pada gubernur, gubernur berbakti pada menteri, menteri berbakti pada presiden, presiden berbakti pada malaikat (Jibril), Jibril berbakti pada Allah swt. Dengan demikian, kebaktian anak kepada orangtua sama bernilai sama dengan berbakti kepada Allah swt karena orangtuanya berbakti kepada orang yang di atasnya yang berujung pada berbakti pada presiden yang berbakti pada Jibril yang berbakti pula kepada Allah swt. Demikian pula bakti seorang bupati kepada gubernur bernilai sama dengan berbakti pada Allah swt karena gubernur berbakti pada menteri yang berbakti pada presiden yang berbakti pada Jibril yang pasti berbakti pada Allah swt.

            Meskipun demikian, ada profesi yang diistimewakan dalam ajaran ini, yaitu petani. Para petani itu disamakan dengan ratu/presiden/raja karena tidak perlu berbakti kepada orang yang di atasnya, melainkan langsung berbakti pada Jibril yang berbakti pada Allah swt. Hal itu sebagaimana yang disebut dalam dasa pabekti poin lima, yaitu orang tani bakti di dewata. Petani adalah orang dan profesi yang dimuliakan negara, tidak seperti sekarang ini, kadang-kadang petani adalah orang dan profesi yang dikorbankan oleh para tengkulak dan para mafia beras. Benar-benar durhaka orang-orang saat ini. Pantas saja jika hidup ditemani rupa-rupa bencana alam.

            Kesepuluh dasar pengabdian itu benar-benar bisa dilaksanakan dengan baik dan sempurna dalam memakmurkan bangsa dan negara apabila memang pemimpin tertingginya adalah benar-benar orang pilihan Tuhan secara langsung. Dia harus seorang nabi yang langsung mendapatkan bimbingan dari Allah swt dengan berbagai kelebihan yang dimilikinya sebagai bukti kenabian dirinya. Artinya, Teori Kedaulatan Tuhan akan berjalan sangat efektif apabila pemimpinnya adalah nabi.

            Para nabi ini telah bekerja dan berperan dalam kehidupan dunia dengan sangat baik di timur, barat, utara, dan selatan. Karya-karya kenegarawanan mereka menjadi catatan tersendiri dalam sejarah manusia. Kepemimpinan model para nabi dalam teori ini masih akan berjalan efektif sepanjang diteruskan oleh generasi berikutnya dengan kepatuhan yang tinggi pada ajaran para nabi itu. Ketika kepatuhan itu berkurang, berkurang pulalah kejayaan dan kemakmuran negeri itu. Kenyataannya pun memang demikian, tak pernah ada ajaran para nabi yang dipatuhi sekuat ketika para nabi itu hidup. Seluruhnya berkurang dan semakin rusak. Bahkan, para penguasa berikutnya kerap bertingkah dan mengklaim diri lebih dipercaya Tuhan sehingga mengakibatkan pemerintahan yang bersifat arogan dan tiran. Ketika sudah sangat rusak, orang-orang mencari jalan untuk memperbaiki kerusakan itu dengan rupa-rupa teori dan macam-macam pendapat yang tak pernah mencapai kata sepakat karena jauh dari ajaran para nabi itu. Satu-satunya jalan adalah menunggu Allah swt mengirimkan orang kuat-Nya untuk menegakkan ajaran para nabi dalam menyelamatkan kehidupan seluruh manusia dan alam semesta sambil tetap berbuat baik setiap hari agar tidak ditimpa bencana, baik bencana pribadi, bencana sosial, maupun bencana alam.


Islam Menyempurnakan Sunda Wiwitan
Dasa pabekti atau sepuluh dasar pengabdian itu disempurnakan oleh Islam yang dibawa Muhammad saw. Kalau dalam dasar pengabdian yang dibawa Prabu Siliwangi bersifat “mutlak” dalam arti setiap orang harus berbakti kepada orang yang berada di atasnya secara “mutlak” agar  bernilai sama dengan mengabdi kepada Allah swt, Muhammad saw menyempurnakan dasar pengabdian itu menjadi “tidak mutlak”. Kepatuhan dan kebaktian kepada orang yang berada di atasnya tetap ada dan dipertahankan, tetapi menjadi “tidak mutlak”. Hal itu disebabkan Allah swt tidak akan lagi menurunkan para nabi. Artinya, ajaran Allah swt sudah selesai sempurna. Semua orang diperintahkan untuk patuh dan setia pada orang yang di atasnya sepanjang orang yang di atasnya itu patuh kepada Allah swt. Semua orang bisa langsung patuh secara pribadi kepada Allah swt tanpa harus melalui pengabdian kepada orang lain terlebih dahulu. Bahkan, setiap orang boleh tidak patuh, boleh membantah, dan “wajib tidak setia” jika orang yang berada di atasnya tidak patuh kepada Allah swt dalam arti menyimpang dari ajaran Allah swt. Untuk hal ini, Allah swt menurunkan QS Al Ashr, yaitu surat yang mewajibkan setiap orang beriman untuk saling mengkritik, saling menasihati, saling mengingatkan agar hidup dan kehidupan menjadi kuat, sabar, utuh, dan mencapai kebaikan di dunia dan akhirat.

            Islam menyempurnakan seluruh ajaran para nabi dengan adanya Al Quran, hadits, dan orang-orang berilmu yang hatinya selalu terikat kepada Allah swt untuk menjadi rujukan segala dinamika kehidupan ini. Setiap orang boleh langsung mengabdi kepada Allah swt dan setiap orang wajib saling mengingatkan siapa pun, baik yang berada di atasnya, di bawahnya, maupun satu level agar selalu berada dalam jalan Allah swt. Kepatuhan dan kebaktian kepada orang yang berkuasa bersifat mutlak jika para penguasa itu patuh kepada Allah swt. Sebaliknya, kepatuhan dan kebaktian itu menjadi “tidak mutlak”, bahkan wajib “dihilangkan” jika para penguasa atau pemimpin tidak mematuhi Allah swt.


            Sampurasun

Wednesday, 1 March 2017

Kristen dan Cina Dilarang Masuk!

oleh Tom Finaldin

Bandung, Putera Sang Surya
Warga Kanekes yang biasa disebut Suku Baduy, Banten, Indonesia, memang dikenal sebagai suku yang ekslusif dan tidak mudah tergoda oleh rayuan pembaharuan dan pembangunan. Mereka memiliki wilayah-wilayah yang dilarang dimasuki oleh orang lain, bahkan oleh warga mereka sendiri.

            Mereka bilang, “Pamali”

            Mereka memiliki wilayah atau tempat yang tidak boleh dimasuki oleh orang beragama Kristen dan ras Cina. Sebagaimana yang dikatakan Prof. Garna (1991), wilayah itu dilarang dimasuki oleh Karesten jeung Cina.

            Dalam artikelnya, Garna tidak menjelaskan mengapa Kristen dan Cina dilarang begitu keras untuk memasuki wilayah tertentu. Tak ada keterangan apa pun yang dapat membuat kita mengerti tentang larangan itu.

            Hal itu membuat saya menduga-duga bahwa larangan itu diakibatkan oleh dua hal besar, yaitu keyakinan dan perilaku/habit dari orang Kristen dan Cina dalam pengalaman hidup orang Baduy.

            Keyakinan Kristen yang berupa trinitas atau “Tuhan satu dalam tiga dan tiga dalam satu” sangat bertentangan dengan ajaran Sunda Wiwitan. Demikian pula, keyakinan bangsa Cina yang tidak sedikit mengisahkan banyak dewa juga sangat bertentangan dengan ajaran Sunda Wiwitan. Kedua keyakinan itu jika masuk ke dalam wilayah Baduy dikhawatirkan akan mengganggu keharmonisan Suku Baduy. Keyakinan Suku Baduy sendiri sangat dekat dengan ajaran Islam yang dibawa Muhammad saw. Bahkan, Sunda Wiwitan adalah agama Islam yang diajarkan oleh Nabi Prabu Siliwangi as. Oleh sebab  itu, orang-orang Islam, terutama yang bersuku Sunda, lebih bisa masuk secara akrab dan mesra dengan warga Baduy, Kanekes. Sunda Wiwitan hanya mengakui Tuhan Yang Tunggal, yaitu Sanghyang Tunggal (Tuhan Yang Maha Esa), Sanghyang Wujud (Tuhan Yang Memiliki Wujud), Sanghyang Kersa (Tuhan Yang Maha Berkehendak), Sanghyang Jatiniskala (Tuhan Yang Tidak Bisa Dibayangkan Bentuk-Nya), Sanghyang Cipta Rasa (Tuhan Yang Menciptakan Rasa), Sanghyang Jatiraga (Tuhan Yang Memiliki Keaslian dan Kekekalan Raga), dan lain sebagainya yang semuanya itu menuju pada Zat Allah swt dalam bahasa Arab.

            Hal itu pun menunjukkan bahwa Prabu Siliwangi as adalah bukan beragama Hindu atau Budha Tantra. Prabu Siliwangi adalah Nabi as, kepercayaan Allah swt untuk mengajarkan Islam dengan syariat yang disesuaikan situasi dan kondisi saat itu. Di samping itu, menegaskan pula bahwa “tidak ada jejak Hindu dan Budha” di dalam sejarah Tanah Sunda.
            Perilaku dan habit orang Kristen dan Cina pun kemungkinan menjadi dasar dari pelarangan masuk bagi Karesten jeung Cina ke wilayah tertentu di lingkungan warga Kanekes, Suku Baduy. Sebagaimana kita ketahui bahwa masuknya Kristen ke Indonesia hampir bisa dikatakan berbarengan dengan dimulainya awal kolonialisme yang dibawa oleh pasukan Barat. Apabila kita berbicara tentang kolonialisme atau penjajahan, tak ada habisnya diisi oleh perilaku angkuh, sok berkuasa, suka melecehkan, dan melakukan berbagai kekejian terhadap warga pribumi. Orang Baduy jelas tidak menyukai hal itu.

            Hal yang menarik adalah justru pengalaman orang Sunda dengan Cina. Pelarangan masuknya ras Cina kemungkinan besar diakibatkan oleh masa lalu ketika bangsa Indonesia hidup dengan sangat makmur dan kaya raya. Setelah Nabi Prabu Siliwangi as dipercaya Allah swt untuk menanam bibit padi yang pertama di muka Bumi, rakyat Sundaland sangat kaya raya berlimpah ruah pangan dan harta benda. Di dalam naskah tentang penanaman bibit padi yang pertama itu ada larangan dari Allah swt bahwa padi atau beras tidak boleh diperjualbelikan karena padi adalah makanan terlezat dan penuh berkah bagi semua manusia dan hanya boleh dimanfaatkan untuk darma bakti pada kemanusiaan. Sayangnya, setelah masa kenabian Prabu Siliwangi as berakhir dan berlanjut ke beberapa generasi berikutnya, ada saudagar Cina yang ingin membeli beras. Bertahun-tahun keinginan bangsa Cina itu tidak pernah menjadi kenyataan karena selalu ditolak. Padi dan beras hanya untuk dimakan tanpa boleh diperjualbelikan. Akan tetapi, ras Cina memang tidak pernah menyerah. Dengan segala rayuannya, entah dengan cara apa mereka memelas, ada Permaisuri Kerajaan Sunda yang terbujuk rayu, lalu terjadilah transaksi jual beli padi atau beras pertama di dunia.

            Jual beli yang dilarang Allah swt itu jelas menimbulkan turunnya hukuman Allah swt. Hukuman itu berupa laki-laki harus bekerja keras dua kali lipat untuk mendapatkan penghasilan yang sama dibandingkan masa lalu serta perempuan harus ikut pula bekerja keras untuk membantu kaum laki-laki. Tampaknya, hukuman itu berlanjut hingga hari ini. Semua orang harus kerja, kerja, kerja, kerja, kerja, kerja untuk dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Padahal, pada masa lalu kaum laki-laki hanya cukup kerja ringan untuk memenuhi kebutuhan hidup dan kaum perempuan tidak perlu ikut bekerja membantu para lelaki, tetapi cukup bersolek dan menerima hasil kerja lelaki di rumah dan di tempat-tempat yang menyenangkan, seperti, di taman, air terjun, sungai, pendopo, atau kaputren.

            Kisah itu saya dapatkan dari Proceedings: Seminar Sejarah dan Tradisi Tentang Prabu Silihwangi yang disusun oleh V. Sukanda Tesier dan  Hasan Muarif Ambary yang diterbitkan oleh Pemerintah Jawa Barat bekerja sama dengan Ecole Francaise D’Extreme-Orient-Pusat Penelitian Arkeologi Nasional pada 1991.

            Kemungkinan itulah yang menjadikan Suku Baduy melarang ras Cina untuk memasuki wilayah-wilayah tertentu yang dikuasai mereka. Saudagar Cina telah berhasil merayu Permaisuri untuk membeli beras yang berakibat turunnya hukuman.

            Apabila kita hubungkan dengan hadits-hadits yang mengisahkan keadaan akhir zaman ketika Imam Mahdi memegang tampuk kekuasaan dunia, sangat mungkin bahwa larangan jual beli padi dan beras ini diberlakukan kembali hingga kaum laki-laki tidak perlu bekerja terlalu keras dan perempuan selalu mempercantik dirinya tanpa perlu ikut membantu kaum lelaki. Hal itu disebabkan ketika Imam Mahdi berkuasa diberitakan bahwa keadilan tercipta di seluruh dunia dan kemakmuran menjadi milik semua manusia, bahkan jika ada seseorang yang meminta sesuatu kepada orang lain, orang lain itu dengan segera memberikannya dengan rela hati. Tak ada yang pelit karena semuanya tercukupi.

            Hanya Allah swt yang tahu keadaan semua ciptaan-Nya dari awal hingga akhir.


Menciptakan Hubungan Baik Baru
Larangan untuk Kristen dan Cina memasuki wilayah-wilayah tertentu di Baduy bukan berarti sama sekali tidak bisa diubah. Apabila dugaan saya benar bahwa larangan itu berasal dari “keyakinan yang berbeda dan perilaku yang tidak disukai”, larangan itu bisa menjadi longgar dengan cara menunjukkan diri bahwa orang Kristen yang sekarang bukanlah penjajah yang merusakkan kehidupan, melainkan sama-sama warga Indonesia yang berkewajiban untuk sama-sama menjalin persaudaraan di antara sesama warga bangsa serta bersenang hati untuk saling membantu. Demikian pula dengan ras Cina atau keturunan Tionghoa harus menunjukkan diri bahwa kita semua adalah saudara sesama warga bangsa dan sesama manusia yang tidak ingin saling berupaya menguasai, bahkan bersedia bersama-sama untuk menjalankan ajaran Nabi Prabu Siliwangi as, yaitu silih asih, silih asuh, silih asah, ‘saling mengasihi, saling melindungi, saling mencerdaskan’.

            Berhubungan baik dengan warga Baduy akan memiliki manfaat yang banyak, baik untuk penelitian maupun untuk kehidupan sosial. Warga di luar Baduy-lah yang harus terlebih dahulu menunjukkan sikap yang positif karena warga Baduy tidak akan berubah sebelum mereka percaya kepada orang-orang di luar mereka.

            Wallaahualam


            Sampurasun