Showing posts with label Dudung Abdurachman. Show all posts
Showing posts with label Dudung Abdurachman. Show all posts

Monday, 3 January 2022

Bahar Kacaukan Pikiran Umat

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Bahar bin Smith telah mengacaukan pikiran umat karena mengubah-ubah kalimat yang disampaikan oleh Jenderal Dudung Abdurachman menjadi sangat jauh artinya. Tulisan saya ini didasarkan pada laporan Habib Husin Alwi kepada pihak kepolisian yang melaporkan bahwa Bahar sudah memprovokasi umat dengan memelintir kalimat Dudung.

            Sudah saya tulis dalam tulisan yang lalu berjudul “Tuhan Bukan Orang Arab” bahwa saya menonton video Dudung dalam podcast Deddy Corbuzier itu selama satu jam sembilan menit. Saya ulangi lagi sedikit tulisan saya itu. Dudung menjelaskan bahwa dirinya setiap selesai shalat selalu berdoa dengan menggunakan bahasa Indonesia.

            Dia bilang, “Tuhan kan bukan orang Arab.”

            Maksudnya, berdoa dengan bahasa apa pun Tuhan pasti tahu, pasti mengerti, pasti paham. Tidak harus selalu menggunakan bahasa Arab. Tuhan kan memahami seluruh bahasa karena Dia sendiri yang menciptakan bahasa itu. Pernyataan Dudung justru menunjukkan bahwa Tuhan adalah Sang Penguasa terhadap segala sesuatu, termasuk bahasa. Sesederhana itu untuk memahami kalimat Dudung.

            Masih ingat kan tulisan saya yang itu?

            Mengapa sekarang jadi ribut, padahal saya mendengarnya biasa-biasa saja?

            Dalam laporan Husin Alwi dijelaskan bahwa Bahar mengubah atau memelintir kalimat Dudung menjadi, Saya tidak mau berdoa dengan bahasa Arab karena Tuhan bukan orang Arab. Ya, berarti kan menyamakan dengan makhluk.”

            Itulah yang menjadi masalahnya. Bahar mengubah-ubah kalimat Dudung menjadi berbeda jauh artinya. Kalau memang benar demikian terungkap di pengadilan, Bahar telah menyesatkan umat, mengacaukan pikiran umat, dan membuat umat menjadi terpecah belah.

            Semua orang boleh menonton, bisa memperhatikan, dan bisa menilai dari kalimat-kalimat itu. Tidak ada yang perlu ditutupi karena memang sudah dan terus beredar hingga hari ini video-videonya.

            Mudah kan membedakan arti dari kedua kalimat tersebut?

            “Tuhan kita kan bukan orang Arab.” Ini kalimat Dudung yang saya dengar.

            Bedakan dengan kalimat berikut.

Saya tidak mau berdoa dengan bahasa Arab karena Tuhan bukan orang Arab. Ya, berarti kan menyamakan dengan makhluk.” Ini kalimat Bahar yang dilaporkan Husin Alwi ke polisi.

Kalau memang Dudung berkata seperti yang dikatakan Bahar, jelas Dudung salah. Akan tetapi, saya menonton sendiri dan mendengar sendiri, Dudung tidak bicara seperti itu.

Kalaulah terungkap dan terbukti di pengadilan, berarti Bahar adalah penipu dan pengacau.

Sungguh, Allah swt tidak bersama penipu, pengacau, orang angkuh, arogan, dan pembuat gaduh. Sesungguhnya, Allah swt ada bersama orang-orang yang hancur hatinya.

Nabi Musa as bertanya kepada Allah swt, “Wahai Tuhan, di mana aku mencari-Mu?”

Allah swt menjawab, “Carilah Aku di sisi orang-orang yang hancur hatinya. Sesungguhnya, Aku dekat dengan mereka setiap hari (sejarak) satu ba (sekitar dua lengan). Jikalau tidak demikian, mereka pasti roboh (binasa).”

Kisah ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hambal.

Bantulah mereka yang sedang kesusahan hidup, kesulitan menjalani hidup karena Allah swt bersama mereka. Allah swt bersama orang-orang itu dan tidak bersama para penipu angkuh yang teriak-teriak di jalanan sambil menyesatkan orang lain.

Sampurasun.

Thursday, 30 December 2021

Kapan Orang Sunda Menyembah Pohon?


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Banyak yang marah kepada Bahar bin Smith. Banyak yang tersinggung dan menganggap rasis, merendahkan bangsa Indonesia dan meninggikan Arab. Perilaku memuja suatu bangsa dan merendahkan suatu bangsa atas dasar kesukuan dan kelahirannya memang tindakan rasis. Banyak sekali yang ingin melaporkan Bahar atas dugaan menghina bangsa Indonesia itu. Akan tetapi, sampai sekarang belum ada yang melaporkannya atas dugaan penghinaan rasis yang jelas berbau Sara itu. Baru Habib Husein Shihab yang melaporkannya ke polisi, tetapi bukan tentang rasisme, melainkan dugaan provokasi yang bisa membahayakan masyarakat dan stabilitas kehidupan. Di samping itu, ada pula relawan Jokowi yang melaporkannya atas dugaan penghinaan Bahar kepada Presiden.

Kalimat ini yang diucapkan Bahar dan menyinggung perasaan banyak orang, “Kalau tidak ada para ulama, para habaib yang datang dari Arab ke Indonesia, Si Dudung masih nyembah pohon.”

            Dari kalimat itu, banyak orang menyimpulkan bahwa Bahar mengagungkan Arab dan merendahkan bangsa Indonesia. Yang Bahar maksud Si Dudung itu adalah Kasad TNI Jenderal Dudung Abdurachman.

            Kalau orang lain mau melaporkan karena merasa tersinggung, terserahlah. Itu akan diurus kepolisian. Kalau memang ada tindakan pelanggaran hukumnya, harus diteruskan ke pengadilan. Kalau tidak ada, ya tidak akan diproses. Akan tetapi, bagi saya, lebih suka didiskusikan saja atau diperdebatkan dengan cara yang baik agar didapat pengetahuan baru dan tidak lagi salah berpikir.

            Sejarah mencatat bahwa bangsa Arab adalah bangsa yang bejat dan jahiliyah. Oleh sebab itu, Nabi Muhammad saw diturunkan untuk menghentikan kerusakan Arab. Nabi saw tidak diturunkan di Indonesia karena bangsa Indonesia itu bangsa yang sudah baik dan islami. Begitu kira-kira yang dikatakan oleh Habib Kribo Zen Assegaf.

            Dudung adalah orang Sunda, saya juga orang Sunda. Jadi, wajar jika ada anggapan bahwa berdasarkan kata-kata Bahar, orang Sunda dulu menyembah pohon. Wajar pula jika orang Sunda banyak yang marah.

            Pertanyaan saya, kapan orang Sunda menyembah pohon seperti yang dikatakan Bahar?

            Ada yang punya bukti bahwa orang Sunda pernah menyembah pohon?

            Ada yang punya data berupa foto, lukisan, atau ajaran dalam pemujaan terhadap pohon?

            Kalau tidak punya, kenapa atuh sok tahu mengatakan bahwa orang Sunda pernah menyembah pohon?

            Makanya, sebelum berbicara dan bertindak itu harus “iqra” dulu. Itu kan perintah Allah swt, ayat yang paling pertama. Kalau tidak iqra dulu, ya bodohlah jadinya.

            Dari dulu juga orang Sunda tidak pernah menyembah pohon. Orang Sunda itu sudah “monotheisme”, ‘bertuhan satu’. Oleh sebab itu, sangat mudah menerima Islam karena konsep ketuhanannya sama. Orang banyak yang mengatakan bahwa orang Sunda dulu itu agamanya adalah “Sunda Wiwitan”.

            Saya kasih tahu ya, saya pernah baca suatu naskah tentang ajaran Sunda Wiwitan yang didasarkan pada catatan “Prabu Munding Laya bin Gajah Agung bin Cakrabuana bin Aji Putih, Raja Sumedang Larang”. Orang Sumedang harus bantu saya kalau saya salah menerjemahkan. Kalau data ini salah, kasih tahu saya data yang benarnya dari keturunan Raja Sumedang Larang. Saya berterima kasih untuk itu kalau memang ada. Jauh sebelum para habib dan orang Arab datang, orang Sunda sudah menyembah Tuhan Yang Satu.

            Perhatikan.

            “Dina Agama Sunda Wiwitan, aya anu unina kieu, ‘Nya inyana anu muhung di ayana, aya tanpa rupa, aya tanpa waruga, hanteu ka ambeu-ambeu acan, tapi wasa maha kawasa di sagala karep inyana’.”

            Artinya.

            “Dalam Agama Sunda Wiwitan (Mula-Mula), ada ajaran seperti ini, ‘Dia-lah Yang Mahaagung dalam keberadaan-Nya, ada tanpa kelihatan rupa-Nya, ada tanpa kelihatan wujud-Nya, tidak tercium keberadaan-Nya, tetapi berkuasa yang kemahakuasaan-Nya adalah sesuai dengan kehendak-Nya’.”

            Ada lagi.

            “Hyang tunggal anu Maha Luhung; satemenna tujuan utama manusa sembah Hyang; henteu boga anak henteu boga dulur; boga baraya jeung batur ogé henteu di jagat jeung ieu alam; anu pangunggulna dina sagala rupa hal; hung, tah éta téh nu ngagem bebeneran sajati, ahung.”

            Artinya.

            “Tuhan Tunggal Yang Mahaagung. Sesungguhnya, Dia-lah yang sebenarnya tujuan penyembahan manusia, tidak punya anak dan tidak punya saudara, punya kerabat dan teman juga tidak di seluruh jagat dan seluruh alam ini. Dia yang paling unggul dalam segala rupa hal. Hung! Itulah agama pegangan kebenaran yang sejati. Ahung!”

            Ada lagi.

            "Utek, tongo, walang, taga, manusa, buta, detia, lukut, jukut, rungkun, kayu, keusik, karihkil, cadas, batu, cinyusu, talaga, sagara, Bumi, langit, jagat mahpar, angin leutik, angin puih, bentang rapang, bulan ngempray, sang herang ngenge nongtoreng, eta kabeh ciptaan Sang Hyang Tunggal, keur Inyanamah sarua kabeh oge taya bedana."

            Artinya.

            “Cacing-cacing, tungau, belalang, taga, manusia, raksasa, jin, lumut, rumput, semak-semak, kayu, kerikil, cadas, batu, mata air, danau, lautan, Bumi, langit, seluruh dunia, angin kecil, angin topan, bintang bertaburan, Bulan bercahaya, Matahari bersinar terik. Itu semua ciptaan Sang Hyang Tunggal (Tuhan Yang Maha Esa). Bagi-Nya semua itu tidak ada bedanya.”

            Itu ajaran orang Sunda sebelum orang-orang Arab datang. Sudah islami dari dulu, tetapi tidak menggunakan bahasa Arab, melainkan bahasa Sunda. Jadi, menyebut Tuhan Yang Maha Esa itu bukan dengan istilah “Allah swt”, melainkan istilah lain, istilah Sunda.

            Dalam naskah “Jatiraga” dituliskan bahwa “Sang Hyang Jatiniskala” benar-benar bersifat “niskala”, tidak dapat terbayangkan, tidak dapat dikonkritkan.

            “Sebab Aku adalah asli dan dari keaslian. Tidak perlu diubah dalam bentuk benda alam yang tidak asli dan tidak jujur sebab Aku adalah jujurnya dari kejujuran.”

            Dalam naskah itu Allah swt disebut Sang Hyang Jatiniskala, ‘Tuhan Yang Tidak Dapat Dibayangkan’.

Pernyataan “diri” yang juga sama tegasnya ada dalam naskah “Sang Hyang Raga Dewata”.

            “Hanteu nu ngayuga Aing. Hanteu manggawe Aing. Aing ngaranan maneh, Sanghiyang Raga Dewata.”

            Artinya.

            “Tidak ada yang menjadikan Aku. Tidak ada yang menciptakan Aku. Aku menamai diri sendiri, Sang Hyang Raga Dewata.”

            Dalam naskah itu, Allah swt disebut Sang Hyang Raga Dewata, ‘Tuhan dengan Raga Tuhan’. Jadi, beda dengan raga ciptaan-Nya.

Sifat-sifat Sang Hyang Raga Dewata pun dijelaskan sebagai berikut.

            “Datang tanpa rupa, tanpa raga, tak terlihat, perkataan (senantiasa) benar. Rupa direka karena ada. Aku-lah yang menciptakan, tetapi tak terciptakan, Aku-lah yang bekerja, tetapi tidak dikerjakan, Aku-lah yang menggunakan, tetapi tidak digunakan.”

            Begitulah sifat-sifat Sang Hyang Tunggal, tak ada bedanya dengan konsep ketuhanan dalam Islam yang saya yakini sekarang.

            Balik lagi ke pertanyaan awal, sejak kapan orang Sunda menyembah pohon?

            Jawabannya, tidak pernah!

            Sebelum orang-orang Arab itu datang, orang Sunda sudah bertauhid karena ada nabi bersuku bangsa Sunda yang diutus Allah swt. Perhatikan QS Ibrahim 14 : 4.

“Kami tidak mengutus seorang rasul pun melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. Maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Dialah Tuhan Yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.”

Ada berapa bahasa dan kaum di dunia ini?

Sejumlah itulah rasul yang diutus Allah swt. Untuk orang Sunda, ya rasul yang berbahasa Sunda.

Perhatikan lagi QS Yunus 10 : 47.

“Tiap-tiap umat mempunyai rasul, maka apabila telah datang rasul mereka, diberikanlah keputusan antara mereka dengan adil dan mereka (sedikit pun) tidak dianiaya.”

Ada berapa umat di seluruh dunia?

Sejumlah itulah rasul diutus Allah swt. Untuk umat Sunda, ya orang Sunda-lah.

Banyak sekali naskah dan ayat yang menguatkan hal itu. Saking banyaknya, saya bisa bikin sebuah buku untuk menerangkannya. Akan tetapi, sebagian kecil ini pun rasanya cukup kalau memang ingin mengerti.

Jadi, orang Sunda tidak pernah menyembah pohon. Bahar bin Smith dan orang-orang sejenisnya itu salah besar. Mereka sok tahu, bodoh, karena tidak iqra dulu sebelum ngomong.

Eh, kalau ada data yang lain kasih tahu saya ya, mau nambahin yang menguatkan atau data yang berbeda. Jadi, diskusinya jadi enak. Kalau mau itu juga.

Sampurasun.

Sunday, 5 December 2021

Tuhan Bukan Orang Arab

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Judul itu adalah pernyataan Kasad Jenderal Dudung Abdurachman ketika diwawancara di podcast Deddy Corbuzier. Tayangan video itu sekitar satu jam sembilan menit. Saya mendengarnya biasa saja dari awal hingga akhir, tidak ada yang aneh.

            Tuhan memang bukan orang Arab kan?

            Tuhan memang bukan orang, bukan manusia, dan bukan Arab.

            Apanya yang aneh?

            Hal yang aneh justru banyak yang meributkan pernyataan itu dengan memutarbalikkan fakta dan membahasnya hingga menjadi kacau tidak karuan. Mereka yang meributkan pernyataan itu justru telah membuat “misleading information”, ‘informasi menyesatkan’. Banyak orang yang katanya ustadz, ulama menambah kekacauan informasi sehingga timbul tuduhan bahwa Dudung telah menyamakan Tuhan dengan orang. Dudung dianggap penista agama. Padahal, di dalam kalimat Dudung itu ada kata “bukan” yang artinya Tuhan tidak sama dengan orang. Tidak ada dasar yang bisa membuat suatu kesimpulan bahwa Dudung telah menyamakan Tuhan dengan orang.

            Orang-orang itu cuma bikin ribut saja. Mereka gemar sekali menyesatkan pikiran orang lain dan membiarkan orang lain dalam kebodohan.

            Begini yang saya perhatikan dalam podcast itu. Dudung menjelaskan bahwa dirinya setiap selesai shalat selalu berdoa dengan menggunakan bahasa Indonesia.

            Dia bilang, “Tuhan kan bukan orang Arab.”

            Maksudnya, berdoa dengan bahasa apa pun Tuhan pasti tahu, pasti mengerti, pasti paham. Tidak harus selalu menggunakan bahasa Arab. Tuhan kan memahami seluruh bahasa karena Dia sendiri yang menciptakan bahasa itu. Pernyataan Dudung justru menunjukkan bahwa Tuhan adalah Sang Penguasa terhadap segala sesuatu, termasuk bahasa. Sesederhana itu untuk memahami kalimat Dudung.

            Kalimat-kalimat ini bukan hanya dari Dudung yang saya dengar, melainkan dari banyak orang. Banyak ustadz, kyai, ulama, profesor yang mengaku bahwa lebih suka menggunakan bahasa Sunda atau bahasa Indonesia ketika berdoa karena lebih terasa di hati. Saya yakin di antara para pembaca pun sering dan banyak yang berdoa dengan menggunakan bahasanya sendiri dibandingkan menggunakan bahasa Arab. Itu biasa, normal, wajar karena itu persoalan hati dan pemahaman terhadap bahasa untuk menyampaikan keinginan kita kepada Tuhan dengan lebih baik.

            Memang banyak doa yang diajarkan Allah swt dan Nabi Muhammad saw dengan menggunakan bahasa Arab, banyak yang hapal, banyak yang paham, banyak yang sering mengucapkannya. Akan tetapi, keinginan manusia itu banyak dan sangat banyak yang tidak diajarkan dalam bahasa Arab.

            Contohnya, seorang sais atau kusir delman berdoa, “Ya Allah, Ya Tuhanku, sehatkanlah kudaku, kuatkanlah aku, bahagiankanlah para penumpangku agar aku tetap mendapatkan rezeki untuk keluargaku.”

            Bagi orang Arab atau orang yang fasih berbahasa Arab, tidak akan kesulitan berdoa seperti itu dalam bahasa Arab. Akan tetapi, bagi orang yang tidak ahli berbahasa Arab, pasti sangat kesulitan.

            Bahasa apa yang akan digunakan untuk doa-doa seperti itu?

            Pastinya adalah bahasa yang dia mengerti. Tuhan pun akan mengerti bahasa dia karena memahami seluruh bahasa.

            Saya sendiri berdoa di depan Kabah di Mekah sambil memegang tembok Kabah memakai baju batik dan ikat kepala Sunda dengan mengunakan tiga bahasa, yaitu bahasa Sunda, Indonesia, dan Arab. Allah swt pasti mengerti doa-doa yang saya sampaikan karena Allah swt Mahatahu Segala Bahasa.







            
Jadi, Tuhan itu bukan orang dan bukan Arab karena orang dan Arab itu adalah makhluk, ‘ciptaan’. Adapun Tuhan adalah khalik, ‘pencipta’.

            Jangan bikin sesuatu yang biasa dan nggak penting menjadi heboh nggak karuan, apalagi menyesatkan dan menumbuhkan kebencian.

            Begitu, ya.

            Sampurasun.

Thursday, 11 November 2021

Boikot Dudung Abdurachman dan Fadil Imran!

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Setelah Jenderal Andika Perkasa diusulkan Presiden RI Jokowi untuk menjadi Panglima Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) menyetujuinya, semakin jelaslah posisi yang akan diduduki Andika Perkasa. Dengan posisi barunya itu, Andika Perkasa jelas meninggalkan jabatan lamanya, yaitu Kepala Staf TNI Angkatan Darat (Kasad).

            Karena meninggalkan posisi Kasad, jelas pula harus ada prajurit lain untuk mengisinya. Prajurit yang santer diberitakan akan mengganti Andika, sebagai Kasad, adalah Jenderal Dudung Abdurachman yang masih menjadi Pangdam Jaya. Berita ini membuat naik pitam HRS. Wajar HRS marah karena Dudung adalah orang yang memerintahkan pembongkaran baligo bergambar dirinya yang dipasang oleh Front Pembela Islam (FPI) yang telah dibubarkan itu. Oleh sebab itu, HRS marah dan dari dalam penjara mengeluarkan seruan kepada para pendukungnya untuk memboikot Dudung. Di samping itu, HRS pun sekalian menyerukan memboikot Kapolda Metro Jaya Muhammad Fadil Imran. Fadil memang sangat berperan dalam pembubaran FPI demi penegakan aturan yang ditetapkan oleh pemerintah Indonesia.

            Awalnya saya bingung, bagaimana bisa HRS memboikot Dudung dan Fadil?

            Siapa sih dia?

            Sehebat apa sih dia?

            Setelah saya cari-cari informasi, ternyata ada dua cara memboikot Dudung dan Fadil. Saya memahaminya dan menganggapnya bagus.

            Cara boikot pertama, para pengikutnya dilarang mengundang Dudung dan Fadil jika mengadakan acara-acara. Itu normal, bagus juga sih karena kalau diundang pun mereka belum tentu mau datang karena kesibukan. Saya sendiri sering mengadakan acara dengan mengundang gubernur atau walikota, terkadang mereka tidak bisa hadir karena kesibukan atau karena dipanggil atasannya, dipanggil presiden, misalnya. Kalau tidak bisa hadir, mereka biasanya mengutus wakilnya untuk menghadiri undangan kita. Itu masih beruntung jika wakilnya yang hadir, tetapi wakil pun kadang tidak bisa hadir, lalu mengutus bawahannya yang setingkat kepala biro. Kita harus puas dengan hal itu. Demikian pula dengan Dudung dan Fadil yang pejabat tinggi di kesatuannya, mereka orang sibuk. Kalau diundang, bisa hadir ataupun tidak. Jadi, cara boikot seperti itu biasa-biasa saja, nggak ada masalah apa pun.

            Cara boikot kedua, kalau ada acara yang diadakan pihak lain,tetapi dihadiri pula oleh pengikut HRS, kemudian hadir Dudung atau Fadil dalam acara itu, pengikut HRS harus bubar. Itu juga tidak mengapa, biasa saja. Wajar marah kalau organisasinya dibubarkan, asal jangan disalurkan kemarahannya dengan cara melanggar hukum karena akan menjadi masalah baru.

Ada bagusnya juga sih. Kalau dalam suatu acara ada hal-hal yang dianggap Dudung atau Fadil cenderung mengarah pada ketidaktertiban atau pelanggaran pada aturan, tinggal datang saja Dudung atau Fadil atau keduanya bersamaan, otomatis acara itu akan bubar dengan sendirinya. Jadi, tidak perlu banyak menurunkan pasukan dan mengeluarkan dana banyak untuk membubarkan mereka. Cukup hadir Dudung atau Fadil, bubar semua.

Ini sesuatu yang wajar, negeri ini perlu terus menyesuaikan diri untuk mendapatkan adjustment yang diperlukan untuk memperkuat integrasi bangsa. Kalau tidak mampu menyesuaikan diri di dalam tubuh negara sendiri, yang terjadi adalah maladjustment dan mengarah pada disorganisasi, disintegrasi, perpecahan, dan kehancuran. Kita bisa menyaksikan bagaimana negara-negara yang telah mengalami perpecahan dan kerusakan, penuh dengan penderitaan.

Growing pain, kata orang barat, “tumbuh dewasa itu menyakitkan”, kita memang harus mengalami rasa sakit untuk menjadi manusia-manusia yang lebih baik lagi. Dalam proses penyesuaian ini, semua orang harus paham dan mengerti bahwa semuanya harus memproses diri ke arah perbaikan. Kalau gagal, menyesuaikan diri, yang terjadi adalah saling mengalahkan serta ada pihak yang menang dan ada pihak yang kalah. Jika mampu menyesuaikan diri, kita akan mendapatkan suasana yang win win solution, semuanya menang dan mendapatkan manfaat yang sama.

Sampurasun

Friday, 1 October 2021

Patung Haram, tetapi Harus Ada

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Bingung tidak dengan judul itu?

            Kalau saya sih, bingung. Kalau haram, berarti harus tidak ada.

            Iya, kan?

            Kalau haram, tetapi harus ada, membingungkan.

            Iya, kan?

            Kalau kita mengharamkan minuman keras, daging babi, daging anjing, dsb., berarti kita akan menghilangkannya atau menjauhkannya dari lingkungan kita, iya kan?

            Banyak orang yang mengharamkan adanya patung.

Kalau mengharamkan patung, seharusnya mendukung orang yang menghilangkan patung, iya kan?

Kalau mengharamkan patung, tetapi memaki-maki atau menyalahkan orang yang menghilangkannya, membingungkan.

Soal isu PKI ini seperti agenda tahunan yang selalu diramaikan. Ketika patung Soeharto, Sarwo Edhi, dan A.H. Nasution tidak ada di Museum Dharma Bhakti, Kostrad, mantan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo menuding bahwa TNI telah disusupi PKI karena ketiga patung itu menggambarkan sejarah dalam masa-masa masih ada PKI di Indonesia.


Patung Soeharto, Sarwo Edhie, dan A.H. Nasution yang Tidak Tampak di Museum Dharma Bhakti, Kostrad. (Foto: INDOZONE)


Pernyataan itu segera mendapatkan sambutan luar biasa dari mereka yang selalu menghembuskan adanya PKI hingga hari ini. Mereka pun mendukung bahwa hilangnya patung itu merupakan tanda-tanda kehadiran PKI. Artinya, mereka marah bahwa patung itu harus tetap ada di tempatnya.

Anehnya, banyak di antara mereka yang mengecam hilangnya patung itu adalah orang-orang yang selalu berceramah, berteriak, mengajarkan, dan berpendapat bahwa patung adalah haram dalam Islam. Patung adalah tempatnya syetan menurut mereka. Akan tetapi, ketika patung Soeharto hilang, mereka marah dan menuding adanya PKI di TNI.

Seharusnya kan kalau memang mengharamkan patung, semua patung harus diharamkan dan mendukung penghilangan atau penghancuran patung, patung apa pun. Mau patung siapa pun harus didukung untuk dihilangkan. Aneh jadinya kalau mengharamkan patung, tetapi patung Soeharto, Sarwo Edhie, dan Nasution tetap harus ada.

Kan lucu jadinya jika ada pernyataan semua patung haram, kecuali Soeharto, Sarwo Edhie, dan Nasution.

Ajaran apa itu?

Kalau yakin bahwa patung haram, seluruh patung harus hilang. Kalau tidak mengharamkan patung, ya biasa-biasa saja.

Bagi yang tidak mengharamkan patung, kan tinggal dicek hilangnya patung itu kenapa. Faktanya, ketiga patung itu dipindahkan atas permintaan mantan Pangkostrad Azmyn Yusri Nasution yang dulu berinisiatif membuat patung itu. Karena dirinya yakin bahwa patung itu haram, ia meminta Pangkostrad sekarang, Dudung Abdurachman, untuk memindahkan patung itu supaya dirinya tenang menghadapi hari tuanya, kini dia sudah berusia 67 tahun.

Jelas ya, patung itu bukan dihilangkan karena TNI terpengaruh PKI. Itu disebabkan Kostrad menghormati keinginan hidup tenang dari mantan Pangkostrad Azmyn Yusri Nasution.

Sampurasun.

Tuesday, 21 September 2021

Hentikan Polemik Soal Jenderal Dudung

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Ternyata, polemik pernyataan Panglima Kostrad Letnan Jenderal Dudung Abdurachman tidak berhenti, terus digoreng dan di-blow up yang justru makin tidak karuan, kacau balau, sama sekali tidak mendidik, bahkan menyesatkan. Mereka yang terus adu bacot nggak jelas itu terdiri atas dua pihak, yaitu: para Kadrun dan para buzzer. Maaf saya menggunakan dua istilah itu karena memang kenyataannya merekalah yang seolah-olah merasa diri paling pintar tentang segala hal.

            Jenderal Dudung memang pernah mengatakan bahwa “semua agama benar di mata Tuhan”. Kalimatnya ini menjadi perdebatan. Perdebatan itu sebenarnya akan mengasyikkan jika menggunakan standar-standar pengetahuan yang jelas, baik pengetahuan keagamaan, maupun standar ilmiah. Sayangnya, para Kadrun dan buzzer itu tidak menggunakannya meskipun mereka sama-sama mengatakan dirinya menggunakan akal sehat.

            Para Kadrun menggunakan emosinya, rasa sakit hati, atau kebenciannya sampai-sampai pernyataan Jenderal Dudung dianggap sebagai kebangkitan “neokomunis” atau tanda bangkitnya PKI. Ada juga yang mengatakan bahwa Dudung adalah penjilat istana Jokowi. Sementara itu, para buzzer menggunakan pikirannya saja dengan menganggap bahwa akal pikirannya adalah yang paling benar sehingga menganggap pernyataan Dudung adalah benar untuk konteks kebangsaan dalam rangka menguatkan NKRI. Padahal, kemampuan akal dan pikiran manusia itu terbatas. Oleh sebab itu, Allah swt menurunkan para nabi berikut ajarannya untuk memandu akal agar tetap berada dalam koridor wahyu Illahi.

            Pernyataan Dudung tentang semua agama benar di mata Tuhan memang menjadi persoalan akidah. Untuk menilainya, dalam Islam harus bersandar pada dalil naqli yang berupa panduan tertulis dalam Al Quran dan hadits. Kemudian, ada dalil aqli dengan menggunakan akal secara baik dan seimbang. Jika mau berdiskusi ataupun berdebat dengan menggunakan dalil-dalil itu, akan sangat mudah dipahami dan diselesaikan. Tinggal kitanya mau mengikuti dalil atau mengikuti hawa nafsu. Setelah kebenaran tampak jelas, biarkan Allah swt yang memutuskan tindakan-Nya terhadap persoalan itu. Allah swt bisa memutuskannya dan mempertegas tindakannya di dunia atau di akhirat, terserah Dia sendiri.

            Perdebatan menjadi sangat semrawut karena meluas menjadi isu kebangkitan komunis dan penguatan NKRI. Padahal, sama sekali enggak ada hubungannya dengan pernyataan Jenderal Dudung. Para Kadrun dan para buzzer itu adu pintar hingga menyesatkan dirinya sendiri dan orang lain.

            Hentikan segera perdebatan yang tidak ada artinya itu hingga meluas ke isu-isu lain yang tidak ada hubungannya. Kalau mau didiskusikan atau diperdebatkan, fokuslah ke kalimat Dudung, lalu analisislah dengan menggunakan kaidah-kaidah ilmiah dengan dasar yang jelas. Jangan ngecapruk hingga menyesatkan orang lain, kasihan orang lain jadi ikut salah berpikir dan bertindak.

            Bagaimana dengan pendapat saya sendiri?

            Baca saja tulisan saya yang lalu tentang pernyataan itu.

            Sampurasun.

Saturday, 18 September 2021

Maaf Jenderal, Anda Salah

 


 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Masih ingat dengan nama Letnan Jenderal Dudung Abdurachman yang menjadi benteng negara dalam membubarkan Front Pembela Islam (FPI)?

            Para mantan FPI seharusnya kenal dengan wajah Jenderal Dudung. Orang-orang di luar FPI pun banyak yang hapal benar dengan wajah Dudung karena menurut Mahfud M.D., 92% rakyat Indonesia setuju FPI dibubarkan.


Letnan Jenderal Dudung Abdurachman (Foto: CNN Indonesia)


               Akhir-akhir ini Dudung menjadi sorotan publik karena ucapannya yang dinilai salah. 

            Pada 14 September 2021 dia sempat mengatakan, “… semua agama benar di mata Tuhan ….”

            Kalimatnya itu tentu saja mendapatkan kecaman dan kritik keras dari para pemuka Agama Islam, seperti, dari Muhammadiyah, MUI, kiyai NU, dan Ormas lainnya, termasuk mantan FPI. Ada yang mengkritiknya sangat keras, ada yang berusaha memperbaikinya, ada juga yang menuntut Dudung untuk membuat permohonan maaf kepada umat Islam.

            Buat saya, ada tiga hal yang menyebabkan Dudung berkata seperti itu. Pertama, dia kurang wawasan dalam memahami agamanya. Kedua, kurang penjelasan terhadap maksud yang dikatakannya. Ketiga, Dudung terlalu nasionalis.

            Pertama, tidak enak sebetulnya kalau mengatakan Dudung kurang memahami Islam. Dia itu keturunan Sunan Gunung Djati (SGD). Dalam beberapa literatur, SGD juga terhubung kepada Nabi Muhammad saw. Artinya, Dudung pantas kalau disebut habib, tetapi tidak menggunakan gelar itu. Di samping itu, Dudung adalah jebolan pesantren dan mewakafkan tanah miliknya untuk pesantren.

Akan tetapi, mau bagaimana lagi menilai seseorang yang mengatakan bahwa semua agama itu benar di mata Tuhan kalau bukan karena kurang paham terhadap Islam?

Ini persoalan akidah. Dalam Islam kalau berbicara itu harus jelas dalilnya, baik yang berupa ayat Al Quran, hadits, ataupun dalil akal. Secara naqli, tidak ada yang dapat menjadi dasar pemikiran untuk mengatakan bahwa semua agama itu benar di mata Tuhan. Bahkan, di dalam kitab-kitab suci agama lain pun, seperti, Injil, Taurat, Weda, Tripitaka, atau yang lainnya, tidak akan ada kalimat seperti itu. Secara aqli pun, tidak masuk akal.

Bagaimana mungkin semua agama benar di mata Tuhan, kalau Tuhan-nya sama?

Misalnya, agama yang satu tidak membolehkan berzina, tetapi agama yang lainnya membolehkan berzina. Kalau Tuhan-nya sama, tidak mungkin ada agama berbeda dengan ajaran yang berbeda. Kalau Tuhan-nya berbeda, ya nggak apa-apa, baru masuk akal. Kan Tuhan-nya juga beda.

Kalau yang dimaksud Dudung Tuhan-nya sama, tidak perlu marah, tidak perlu maki-maki, tidak perlu menuntut ke pengadilan karena penghinaan agama. Sebagai sesama muslim, harus saling mengingatkan, bukan saling menghardik. Dudung perlu diingatkan dengan menggunakan QS Ali Imran ayat 19 yang pada awal ayatnya berbunyi “Innaddiina indallaahil Islaam”. Cari terjemahannya sendiri. Mudah-mudahan Dudung lebih paham, menyadari kesalahannya, kemudian bertaubat. Tidak perlu diperpanjang, toh pada akhirnya urusan itu kembali kepada Allah swt.

Kedua, Dudung kurang menjelaskan kalimatnya. Kalau Tuhan yang dimaksud Dudung itu adalah Allah swt, jelas salah. Hal itu disebabkan tidak mungkin Allah swt menurunkan dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, atau banyak agama berbeda dengan perbedaan ajaran, kewajiban, dan larangan. Akan tetapi, kalau Tuhan-nya beda, tidak ada masalah. Tuhannya kan masing-masing, ajarannya juga pasti masing-masing. Ya sudah, masing-masing saja. Sayangnya, Dudung tidak menjelaskan kalimat itu dengan benar, jadi wajar jika ada banyak kritikan dan protes kepadanya.

Ketiga, Dudung terlalu nasionalis. Sikap patriotik dan nasionalis itu hebat. Akan tetapi, kalau berlebihan juga bisa jadi salah. Maksud Dudung mengatakan bahwa semua agama benar di mata Tuhan adalah supaya tidak ada perpecahan di antara para prajuritnya. Dia ingin para prajurit tetap bersatu meskipun berbeda agama. Dia tidak ingin ada fanatisme berlebihan di kalangan prajurit yang membuat ketegangan di antara sesama prajurit. Itu bagus, sangat bagus malahan, sayangnya karena keinginan dan semangatnya terlalu tinggi, dia keseleo lidah.  

Adalah hal yang sangat baik dapat memenej anak buah yang berbeda agama untuk bersatu dalam persaudaraan. Akan tetapi, tidak perlu juga jika harus mengatakan bahwa semua agama benar di mata Tuhan. Itu akan menjadi polemik (sudah terjadi) dan harus dipertanggungjawabkan pula di hadapan Allah swt.

Saya juga punya banyak murid yang berbeda agamanya. Saya pun berusaha agar di antara mereka tidak berkonflik soal agama. Akan tetapi, saya tidak pernah mengatakan bahwa semua agama adalah sama di mata Tuhan. Saya memilih untuk berusaha bersikap adil kepada mereka sehingga mereka paham bahwa perbedaan agama itu bukanlah masalah di antara kami.

Ada seorang murid Kristen datang dan bertanya kepada saya, “Pak, boleh saya tahan atau saya jabel laptop punya teman saya?”

“Memang kenapa?”

“Dia punya hutang sama saya dan sudah lama nggak dibayar-bayar.”

Kebetulan, yang punya hutang beragama Islam.

“Itu mah terserah kalian. Bukan urusan saya. Kalian bersepakat saja baik-baik. Kalian kan sudah pada gede, masa urusan begitu saya harus ikutan.”

Meskipun yang berhutang itu agamanya sama dengan saya, kan saya tidak mungkin membelanya mati-matian karena kesamaan agama. Urusan hutang piutang itu ya jadi urusan mereka, nggak ada kaitannya dengan kesamaan agama.

Nah, kan perilaku semacam itu pun bisa mempersatukan di antara anak buah atau orang-orang yang di bawah kita. Artinya, semua diperlakukan sama, tidak perlu mengatakan bahwa semua agama adalah benar di mata Tuhan.

Maaf Jenderal, sebagai sesama muslim, sebagai sesama orang Sunda, dan sebagai sesama orang Indonesia, saya mengingatkan bahwa kita semua harus saling mengingatkan supaya tetap berada di jalan yang benar, sebagaimana yang Allah swt ajarkan di dalam QS Al Ashr.

Sampurasun.