Showing posts with label Mekah. Show all posts
Showing posts with label Mekah. Show all posts

Sunday, 5 December 2021

Tuhan Bukan Orang Arab

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Judul itu adalah pernyataan Kasad Jenderal Dudung Abdurachman ketika diwawancara di podcast Deddy Corbuzier. Tayangan video itu sekitar satu jam sembilan menit. Saya mendengarnya biasa saja dari awal hingga akhir, tidak ada yang aneh.

            Tuhan memang bukan orang Arab kan?

            Tuhan memang bukan orang, bukan manusia, dan bukan Arab.

            Apanya yang aneh?

            Hal yang aneh justru banyak yang meributkan pernyataan itu dengan memutarbalikkan fakta dan membahasnya hingga menjadi kacau tidak karuan. Mereka yang meributkan pernyataan itu justru telah membuat “misleading information”, ‘informasi menyesatkan’. Banyak orang yang katanya ustadz, ulama menambah kekacauan informasi sehingga timbul tuduhan bahwa Dudung telah menyamakan Tuhan dengan orang. Dudung dianggap penista agama. Padahal, di dalam kalimat Dudung itu ada kata “bukan” yang artinya Tuhan tidak sama dengan orang. Tidak ada dasar yang bisa membuat suatu kesimpulan bahwa Dudung telah menyamakan Tuhan dengan orang.

            Orang-orang itu cuma bikin ribut saja. Mereka gemar sekali menyesatkan pikiran orang lain dan membiarkan orang lain dalam kebodohan.

            Begini yang saya perhatikan dalam podcast itu. Dudung menjelaskan bahwa dirinya setiap selesai shalat selalu berdoa dengan menggunakan bahasa Indonesia.

            Dia bilang, “Tuhan kan bukan orang Arab.”

            Maksudnya, berdoa dengan bahasa apa pun Tuhan pasti tahu, pasti mengerti, pasti paham. Tidak harus selalu menggunakan bahasa Arab. Tuhan kan memahami seluruh bahasa karena Dia sendiri yang menciptakan bahasa itu. Pernyataan Dudung justru menunjukkan bahwa Tuhan adalah Sang Penguasa terhadap segala sesuatu, termasuk bahasa. Sesederhana itu untuk memahami kalimat Dudung.

            Kalimat-kalimat ini bukan hanya dari Dudung yang saya dengar, melainkan dari banyak orang. Banyak ustadz, kyai, ulama, profesor yang mengaku bahwa lebih suka menggunakan bahasa Sunda atau bahasa Indonesia ketika berdoa karena lebih terasa di hati. Saya yakin di antara para pembaca pun sering dan banyak yang berdoa dengan menggunakan bahasanya sendiri dibandingkan menggunakan bahasa Arab. Itu biasa, normal, wajar karena itu persoalan hati dan pemahaman terhadap bahasa untuk menyampaikan keinginan kita kepada Tuhan dengan lebih baik.

            Memang banyak doa yang diajarkan Allah swt dan Nabi Muhammad saw dengan menggunakan bahasa Arab, banyak yang hapal, banyak yang paham, banyak yang sering mengucapkannya. Akan tetapi, keinginan manusia itu banyak dan sangat banyak yang tidak diajarkan dalam bahasa Arab.

            Contohnya, seorang sais atau kusir delman berdoa, “Ya Allah, Ya Tuhanku, sehatkanlah kudaku, kuatkanlah aku, bahagiankanlah para penumpangku agar aku tetap mendapatkan rezeki untuk keluargaku.”

            Bagi orang Arab atau orang yang fasih berbahasa Arab, tidak akan kesulitan berdoa seperti itu dalam bahasa Arab. Akan tetapi, bagi orang yang tidak ahli berbahasa Arab, pasti sangat kesulitan.

            Bahasa apa yang akan digunakan untuk doa-doa seperti itu?

            Pastinya adalah bahasa yang dia mengerti. Tuhan pun akan mengerti bahasa dia karena memahami seluruh bahasa.

            Saya sendiri berdoa di depan Kabah di Mekah sambil memegang tembok Kabah memakai baju batik dan ikat kepala Sunda dengan mengunakan tiga bahasa, yaitu bahasa Sunda, Indonesia, dan Arab. Allah swt pasti mengerti doa-doa yang saya sampaikan karena Allah swt Mahatahu Segala Bahasa.







            
Jadi, Tuhan itu bukan orang dan bukan Arab karena orang dan Arab itu adalah makhluk, ‘ciptaan’. Adapun Tuhan adalah khalik, ‘pencipta’.

            Jangan bikin sesuatu yang biasa dan nggak penting menjadi heboh nggak karuan, apalagi menyesatkan dan menumbuhkan kebencian.

            Begitu, ya.

            Sampurasun.

Friday, 30 July 2021

Penutupan dan Pembatasan di Tempat Ibadat

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Penutupan dan pembatasan di tempat ibadat sebetulnya bisa dipahami dengan mudah jika mau jernih memahaminya. Akan tetapi, hal ini akan menjadi rumit dan memusingkan jika dicampurbaurkan dengan kebencian politik, kedengkian murahan, dan keinginan untuk tetap membuat orang lain bodoh. Hal ini diperparah dengan masyarakat iliterat yang dengan mudah dibodohi karena kurangnya informasi, ilmu pengetahuan, dan pemahaman terhadap agamanya sendiri. Akibatnya, banyak pendapat yang ngaco, lucu, sekaligus mengesalkan. Saya sering tertawa-tawa karena banyak pendapat yang tidak memiliki dasar yang jelas, hanya dugaan, atau dalam bahasa Sunda disebut “sasangkaan wungkul”, tetapi gayanya seperti orang yang sudah mendapatkan kebenaran mutlak. Saya pun sekaligus kesal karena masyarakat yang kurang wawasannya bisa mudah percaya, kemudian jadi sesat pikir dan sesat bertindak.

            Mari kita lihat India baru-baru ini. Setelah jutaan orang mengadakan ritual suci berdesakan di Sungai Gangga, tak lama kemudian ratusan ribu orang meninggal karena Covid-19. Seluruh dunia menyalahkan kegiatan ritual itu sebagai biang kerok dari penyebaran corona di India. Berita terakhir menyebutkan bahwa sudah sekitar 500.000 (lima ratus ribu) orang India meninggal karena virus Corona.

            Sebetulnya, pemerintah India sudah berupaya memberikan penjelasan dan imbauan agar tidak melakukan ritual suci itu karena masa sekarang adalah masanya wabah, pandemi Corona. Akan tetapi, masyarakat tetap melakukannya dan tidak mematuhi pemerintahnya. Memang dalam keyakinan mereka ritual suci di Sungai Gangga itu bisa mendapatkan keberuntungan, pembebasan dosa, dan terlepas dari siklus hidup-mati (moksa). Itu keyakinan mereka yang sangat kuat. Sayangnya, kegiatan itu menyebabkan meningkatnya penyebaran virus Corona yang sulit diatasi hingga menimbulkan banyak kematian. Pemerintah India menyebutkan sebagai “second wave”, ‘gelombang kedua’, penyerangan virus Corona.

            Dunia melihat itu dan belajar dari kasus di India untuk melindungi warganya dari kesakitan dan kematian akibat Corona. Indonesia pun ikut belajar dari hal itu. Oleh sebab itu, pada beberapa tempat ibadat diberlakukan pembatasan atau mungkin penutupan, agama apa pun itu.

            Sekarang kita lihat Kabah di Mekah yang jadi tempat suci ibadat utama umat Islam sedunia. Dalam sejarahnya, Kabah pernah ditutup 40 kali. Penyebabnya macam-macam ada urusan pencurian Hajar Aswad, konflik politik, konflik antarsuku, termasuk wabah penyakit.

            Supaya tidak terlalu banyak, saya list penutupan Kabah yang diakibatkan oleh wabah penyakit. Kabah pernah ditutup karena wabah Thaun pada tahun 1814; wabah Hindi pada 1831; epidemi tahun 1837, lalu terjadi lagi pada 1858, kemudian terjadi lagi pada 1864, tiga kali karena epidemi ini Kabah ditutup; wabah kolera pada 1846, lalu kolera mewabah lagi pada 1892, dua kali Kabah ditutup karena kolera; wabah typus pada 1895; wabah meningitis pada 1987.

            Pada tahun-tahun itu Kabah ditutup untuk peribadatan. Oleh sebab itu, tak heran jika kita pergi berhaji atau umrah, suka disuntik vaksin dulu di Indonesia sebagai syarat yang diwajibkan pemerintah.

            Sekarang masanya Covid-19, Kabah mengalami penutupan beberapa kali, pada jam-jam tertentu, pada hari-hari tertentu, diberlakukan jam tutup-buka. Bahkan pembatasan jumlah jamaah dan pengaturan jarak thawaf dan shalat ketika dibuka untuk beribadat. Di samping itu, diberlakukan pula pembatasan negara-negara mana saja yang boleh ke Kabah dan yang ditunda keberangkatannya.

            Penutupan dan pembatasan yang diberlakukan di Kabah bukanlah untuk menghancurkan umat Islam atau memusnahkan agama Islam. Semua itu hanyalah untuk mengatasi wabah penyakit yang sedang merajalela. Hal itu pun sebagaimana yang terjadi di India, pelarangan untuk ritual suci di Sungai Gangga bukan untuk menghancurkan umat Hindu atau agama Hindu, tetapi melindungi masyarakat dari Covid-19.

            Aneh jika orang Indonesia dibatasi untuk beribadat di masjid, disebut bahwa pemerintah atau rezim Jokowi ingin menghancurkan umat Islam. Pemerintah ingin menghalangi perkembangan agama Islam.

            Logika dari mana itu?

            Kenapa sekalian tidak teriak ketika Kabah ditutup adalah pernyataan perang Kerajaan Arab Saudi terhadap umat Islam sedunia?

            Lebih aneh lagi ketika ada profesor yang mengatakan bahwa virus Corona digunakan pemerintah sebagai senjata pemusnah masal untuk memusnahkan anak-anak muda Islam.

            Memangnya cuma umat Islam yang mati karena Corona?

            Memangnya ratusan ribu orang India yang mati gara-gara ritual suci itu orang Islam?

            Kan orang Hindu.

            Hayu ah berakal sehat dan berpikir waras.

            Jangan ikut-ikut omongan orang yang nggak jelas.

            Sampurasun.

Saturday, 21 November 2020

Belajar dari Snouck Hurgronje

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Nama Snouck Hurgronje tidak lepas dari sejarah Aceh. Tokoh ini selalu menarik untuk dikaji sehingga setiap membaca tentang dirinya dari berbagai buku, artikel, dan bahkan mendengar dari diskusi-diskusi terbatas selalu ada informasi baru berkaitan dengan sepak terjangnya dalam menaklukan Aceh.

            Aceh dapat dikatakan sebagai wilayah terkuat di Indonesia ini dalam melawan penjajah Belanda. Ketika raja-raja dan sultan-sultan di seluruh wilayah Indonesia ini sudah tunduk pada keinginan Belanda, Aceh masih tegak berdiri melakukan perlawanan.

            Snouck Hurgronje adalah tokoh pemikir yang selalu mendapat perhatian Belanda. Hasil pemikirannya kadang digunakan, kadang tidak oleh Belanda dalam menyusun strategi mengatur wilayah jajahan di Indonesia.

            Dalam menundukkan Aceh, Belanda selalu melakukan dua cara, yaitu negosiasi dan kekerasan terhadap kesultanan Aceh. Akan tetapi, Belanda tidak pernah berhasil. Snouck Hurgronje berpendapat bahwa untuk mengalahkan Aceh, tidak bisa dilakukan dengan negosiasi, tetapi dengan kekerasan penuh. Kekerasan itu jangan dilakukan terhadap kesultanan, tetapi harus diarahkan terhadap para ulama. Hal itu disebabkan perlawanan rakyat Aceh adalah di bawah kendali para ulama. Jadi, ulama yang harus dibasmi.

            Pendapat Snouck Hurgronje tidak dipercayai oleh Belanda. Penjajah Belanda tetap melakukan negosiasi dan kekerasan terbatas terhadap kesultanan. Sementara itu, perlawanan tetap keras dari para ulama dan pengikutnya.

            Sebagai seorang pemikir, Snouck Hurgronje selalu memiliki rasa penasaran terhadap Islam. Oleh sebab itu, ia berpura-pura menjadi orang Islam, mengucapkan syahadat, melakukan ritual islami, dan tinggal di Jedah, Arab Saudi, hingga berhasil menginjakkan kakinya di Masjidil Haram, Mekah. Ia pun dihormati dan diberi gelar, seperti, mufti dan syekh.

            Hubungan dengan kaum muslimin pun semakin dekat. Bahkan, kata-katanya dianggap sebagai ajaran Islam.

            Kalimat yang diucapkan Snouck Hurgronje dan sangat berpengaruh bagi rakyat muslim Aceh adalah, “Dunia ini ibarat anjing. Anjing itu najis. Oleh sebab itu, umat Islam tidak boleh mendekati dunia karena dunia itu najis!”

            Seperti itulah yang diajarkan Snouck Hurgronje. Entah dari mana kalimat itu berasal. Akan tetapi, kalimat itu mempengaruhi kaum muslimin Aceh. Akibatnya, rakyat Aceh terlalu banyak tinggal di masjid-masijd, terfokus pada ibadat-ibadat ritual, seperti, berbagai macam shalat, dzikir, doa-doa, dan kegiatan-kegiatan keagamaan lainnya. Sementara itu, ibadat yang sifatnya umum, seperti, bekerja, belajar, berlatih, bersosialisasi, dan berpolitik, jauh menurun, sangat berkurang.

            Hal ini terjadi bertahun-tahun dan terus-menerus. Ini pula yang membuat Aceh menjadi lemah. Pengetahuan, pengalaman, keterampilan, dan fisik orang-orang Aceh melemah. Hal ini mudah dipahami karena orang-orang Aceh perhatiannya terpusat pada kegiatan ritual, sedangkan sosial-politik-teknologi jauh berkurang.

            Pada saat itulah Belanda mendapatkan kesempatan emas untuk menaklukan Aceh. Belanda melakukan serangan. Rakyat Aceh pun melawan, tetapi situasinya sudah jauh lebih lemah dibandingkan dulu. Perlawanan heroik Cut Nyak Dien dan Cut Meutia pun harus menemui kekalahan. Akhirnya, Belanda mendeklarasikan kemenangannya pada 1903. Cut Nyak Dien meninggal di Sumedang, Jawa Barat, pada 1908.

            Pelajaran apa yang bisa kita ambil dari persitiwa bersejaran itu?

            Pelajarannya adalah jangan menghinakan dunia. Kehidupan dunia adalah ladang bagi kehidupan akhirat. Pencarian kehidupan dunia adalah modal untuk akhirat. Ibadat umum dan ilmu dunia harus seimbang dengan ibadat khusus dan ilmu akhirat, tidak boleh berat sebelah karena begitulah seharusnya. Pengetahuan dan keterampilan duniawi harus pula berimbang dengan pemahaman akhirat. Begitulah yang diajarkan Allah swt.

            Perhatikan firman Allah swt dalam QS Al Jumuah, 62 : 10:

 

            “Apabila shalat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di Bumi, carilah karunia Allah, dan ingatlah Allah banyak-banyak agar kamu beruntung.”

            Perhatikan dengan baik ayat itu. Jika ibadat ritual telah dilaksanakan, bertebaranlah di muka Bumi, beraktivitaslah dengan manusia lainnya. Kita harus mencari karunia Allah swt sebanyak-banyaknya. Karunia itu bisa berupa uang, harta-benda, ilmu pengetahuan, dan lain sebagainya. Kita harus punya uang agar bisa membangun masjid, pesantren, lembaga pendidikan, berangkat haji dan umroh, berkurban, dsb.. Kita harus punya uang agar bisa bayar pajak sehingga bisa membangun jalan, jembatan, Puskesmas, rumah sakit, membiayai TNI, Polri, ASN, gedung-gedung megah, lembaga-lembaga positif untuk masyarakat, dan lain sebagainya.

            Kalau tidak punya uang, kita akan selalu menjadi pengemis dan berharap bantuan dari orang lain atau pemerintah.

            Kita harus belajar banyak ilmu pengetahuan sehingga di antara kita ada yang bisa menjadi dokter, tentara, polisi, ahli ekonomi, ahli masyarakat, ahli ilmu jiwa, arsitektur, pembuat mobil, motor, pesawat terbang, ahli sejarah, arkeologi, ahli bahasa, ahli ilmu politik, ahli kelautan, dan lain sebagainya. Dengan berbagai pengetahuan itulah kita bisa berkembang dan maju sebagai umat-umat yang bermanfaat bagi manusia dan dipertimbangkan kekuatannya oleh pihak-pihak lain. Dengan manfaat yang kita berikan kepada sesama manusia itulah, kita bisa mempersembahkan hasil karya kita kepada Allah swt untuk dihitung sebagai amal kebaikan dan bukti syukur kita yang telah diberikan otak dan fisik yang baik oleh Allah swt.

            Jangan tinggalkan dunia. Jadikan dunia sebagai ladang untuk hasil di akhirat.

            Hal yang dilarang itu adalah kita diperbudak oleh dunia sehingga kita selalu dipusingkan duniawi dan melupakan akhirat. Kehidupan dunia tidak boleh digunakan untuk berbangga-bangga dan melecehkan orang lain, apalagi sampai bermaksiat kepada Allah swt. Pandangan kita harus selalu untuk kehidupan akhirat, tetapi jangan melupakan dunia.

            Seimbangkan dunia dan akhirat dalam kehidupan kita. Contohlah Aceh yang sangat perkasa dan tidak bisa ditaklukan Belanda karena kecerdasan para ulamanya yang mampu menyeimbangkan ibadat ritual dengan ibadat umum. Akan tetapi, ketika terlalu fokus pada ibadat ritual, dunianya pun lemah dan sejarah menunjukkan Aceh pun dapat dikuasai Belanda.

            Kalau ada yang mau diskusi soal ini, boleh. Kalau ada yang memberikan masukan dan koreksi pun boleh, bahkan membantah pun bagus, asal dengan niat yang baik dan bahasa yang baik.

            Sampurasun.

Friday, 27 December 2019

Berkaca dari Hudaibiyyah

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Perjanjian Hudaibiyyah dapat dikategorikan sebagai perjanjian internasional, perjanjian antara dua kekuasaan yang berbeda, yaitu antara Madinah yang dikuasai kaum muslimin dengan Mekah yang dikuasai kaum kafir.  Perjanjian itu mirip gencatan senjata untuk tidak saling membunuh, berperang. Kisah Perjanjian Hudaibiyyah sangat panjang, bisa dipelajari dari berbagai buku.

            Saya hanya menyoroti salah satu isi perjanjian tersebut yang menyebutkan bahwa “jika penduduk Mekah ke Madinah tanpa seizin walinya, harus dikembalikan ke Mekah, tetapi jika penduduk Madinah ke Mekah, tidak boleh dikembalikan ke Madinah.”

            Sedari awal, perjanjian ini tampak merugikan kaum muslim, bahkan para sahabat Nabi saw pun banyak yang protes dan kecewa kepada Muhammad saw. Dilihat dari penambahan jumlah orang, jelas kaum muslim mendapatkan kerugian karena jika datang ke Mekah, tidak boleh pulang ke Madinah. Sebaliknya, orang Mekah jika ke Madinah, harus dikembalikan ke Mekah. Kekecewaan kaum muslim terus berlanjut pada tahun-tahun awal pelaksanaan perjanjian itu.

            Beberapa sahabat Nabi saw dengan lugas protes kepada Nabi saw, “Apakah engkau akan membiarkan aku hidup bersama orang-orang kafir itu dengan perilaku mereka yang seperti itu?”

            Ucapan-ucapan semacam itu kerap sampai langsung kepada Nabi saw. Akan tetapi, Muhammad saw tetap mengharuskan mereka untuk kembali ke Mekah. Nabi Muhammad saw adalah orang yang selalu menepati janji dan tidak akan melanggar ucapannya sendiri. Oleh sebab itu, banyak kaum muslim yang pulang ke Mekah dengan tulus ikhlas, tetapi banyak pula yang pulang disertai rasa kesal dan kecewa. Bahkan, tidak sedikit yang pulang, tetapi tidak sampai ke Mekah. Mereka memilih hidup berada di tengah-tengah antara Mekah dan Madinah. Mereka tidak mau hidup bersama orang kafir di Mekah, tetapi mereka pun tidak bisa hidup di Madinah karena Nabi saw pasti mengusirnya.

            Kejadian-kejadian selanjutnya Islam semakin berkembang dan bertahap mencapai kemenangannya. Itulah buah dari konsistennya Nabi saw dalam mematuhi perjanjian internasional. Nabi saw kuat memegang janji hingga orang kafir sendiri yang melanggarnya yang membuat perjanjian itu sendiri batal dan kaum muslim akhirnya bisa menguasai Mekah, Kabah.

            Berkaca dari hal itu, umat Islam Indonesia pun harus mematuhi berbagai perjanjian yang dibuat, baik yang tertulis maupun yang terucap dalam pergaulan internasional. Salah satunya, memegang kuat janji untuk tidak ikut campur atau intervensi urusan negara lain. Itu prinsip yang diajarkan Muhammad saw. Dengan demikian, kita bisa tetap terhormat dan aman dari gangguan negara lain karena kita terlebih dahulu menghormat negara lain, insyaallah.

            Terkait etnis Uighur, Indonesia harus kukuh untuk tidak merecoki Cina. Hal itu disebabkan pertama, etnis Uighur hidup di Xinjiang yang merupakan wilayah Cina. Kedua, tidak ada pembantaian dan penyiksaan, tetapi pengaturan dan pendisiplinan warga Negara Cina, khususnya sebagian kecil dari etnis Uighur. Ketiga, kalaupun terjadi masalah, Indonesia dapat menggunakan diplomasi lunak (nasihat/masukan) sebagai negara sahabat agar situasi lebih kondusif karena masalah yang terjadi di negara-negara sahabat sedikit banyak akan merugikan dirinya sendiri dan mungkin mengganggu kerja sama yang sedang berlangsung untuk kepentingan bangsa Indonesia.

            Sampurasun.

Friday, 14 April 2017

Uang Mengalahkan Ukhuwah Islamiyah

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Cukup menyedihkan juga jika kita memperhatikan ulang kunjungan Raja Arab Saudi Salman ke Indonesia. Presiden Indonesia Jokowi dan jajarannya menyambutnya dengan sangat baik meskipun sempat hujan. Acara penyambutan dan salam hangat datang dari para petinggi Indonesia, baik eksekutif maupun legislatif. Demikian pula keramahan ditunjukkan dengan tulus oleh seluruh pemimpin agama apa pun di Indonesia. Islam, Hindu, Kristen, Budha, Konghucu, dan pemeluk agama lokal pun ramah dan gembira menyambutnya.

            Hal itu mudah dipahami karena rakyat Indonesia ini menghormati Kerajaan Arab Saudi yang berperan sebagai “Penjaga Dua Kota Suci Umat Islam”, yaitu Mekah dan Madinah. Di samping itu, dunia memandang bahwa Kerajaan Arab Saudi merupakan simbol Islam terbesar karena dua kota suci itu. Adapun Indonesia adalah negara dengan jumlah pemeluk Islam terbesar di dunia. Bertemunya negara simbol Islam terbesar dengan negara berpenduduk Islam terbesar adalah sejarah besar. Bukan hanya rakyat muslim Indonesia yang menghormati Raja Arab Saudi, melainkan pula seluruh umat beragama nonmuslim pun ikut gembira dan senang. Rasa senang itu pun didorong oleh adanya berita yang mengatakan bahwa Raja Salman datang dengan membawa investasi sekitar Rp 331 triliun untuk ditanamkan di Indonesia. Jumlah yang sangat besar. Rakyat berharap ikut “kebagian” dari investasi itu dalam arti ada peningkatan pada berbagai sektor ekonomi.

JOKOWI DAN SALMAN. Foto: nasional.kompas.com
            Sayangnya, kenyataan menunjukkan hal lain. Rakyat Indonesia yang berharap besar, baik muslim maupun nonmuslim, terhadap realisasi investasi itu harus sedikit kecewa karena ternyata investasi yang ditanamkan Raja Salman hanya sejumlah Rp 89 triliun. Itu juga memang investasi yang sangat besar, tetapi tidak sebesar harapan pertama saat Raja Salman hadir di Indonesia. Presiden Indonesia Jokowi pun ikut merasa kecewa.

            Hal yang cukup menjadi perhatian adalah ternyata jumlah investasi yang ditanamkan di Cina jauh lebih besar dibandingkan dengan di Indonesia. Dalam kata lain, Raja Salman berinvestasi di Indonesia jauh lebih kecil dibandingkan dengan di Cina. Padahal, Indonesia dan Arab Saudi adalah sama-sama muslim dan rakyat berharap rasa persaudaraan sesama muslim itu merupakan nilai lebih dalam melakukan hubungan internasional. Adapun dengan Cina, Arab Saudi memiliki perbedaan agama dan keyakinan. Cina itu adalah negara komunis, sedangkan Arab Saudi negara simbol Islam terbesar. Tak ada nilai lebih dari Cina selain ekonomi.

            Mengapa hal ini bisa terjadi?

            Kok sepertinya tidak saling percaya antarsesama umat Islam sendiri?

            Kok Arab Saudi lebih percaya pada komunis daripada pada saudaranya sendiri sesama muslim?

            Bahkan, ketika salah seorang pangeran Arab Saudi bertemu dengan Donald Trump, mengatakan dengan tegas bahwa Trump adalah sahabat umat Islam. Padahal, saat itu dunia tahu bahwa Presiden AS Donald Trump sedang mengambil kebijakan yang dirasakan cukup menekan beberapa negara muslim, bahkan umat Islam. Akan tetapi, Arab Saudi berinvestasi sangat besar di Cina dibandingkan dengan di Indonesia.

            Mengapa ini bisa terjadi?

            Hal ini terjadi karena bisa dipandang dari dua sisi, yaitu dari sisi negatif dan sisi positif. Dari sisi negatif kita bisa melihat betapa lemahnya ukhuwah Islamiyah di kalangan kaum muslimin. Rasa saling percaya dan saling mendukung di antara sesama muslim tidak terjalin dengan baik. Negara-negara muslim hanya mementingkan negaranya sendiri dan kurang mementingkan kehidupan kaum muslimin secara keseluruhan. Hal itu menunjukkan betapa lemahnya iman kaum muslimin terhadap ajarannya sendiri, yaitu Islam dan Al Quran.

            Islam selalu menganjurkan, bahkan memerintahkan untuk saling menjaga di antara sesama muslim. Jika seorang muslim sakit atau menderita, seluruh muslim harus merasakan sakit pula. Jika terjadi rasa persaudaraan yang kuat dan saling merasakan penderitaan di antara sesama muslim, Allah swt pun akan melimpahkan rezeki dan harta yang lebih berlimpah penuh berkah di dunia dan akhirat.

            Secara negatif, hal itu bisa dipandang sebagai kelemahan iman di antara kaum muslimin sendiri. Untuk hal ini, kita masih harus memegang teori-teori hubungan internasional yang sesungguhnya agak bertentangan dengan Islam, yaitu hubungan internasional yang terjadi selalu didasarkan pada kepentingan negara masing-masing yang melakukan hubungan internasional itu. Artinya, Arab Saudi datang ke Indonesia adalah bukan untuk kesejahteraan rakyat Indonesia, melainkan untuk mendapatkan keuntungan pribadi bagi Negara Arab Saudi sendiri. Demikian pula dengan Indonesia. Kerja sama yang terjadi dengan Arab Saudi bukanlah untuk kepentingan Penjaga Dua Kota Suci Umat Islam, melainkan untuk kepentingan rakyat Indonesia. Teori ini ternyata masih tetap berlaku hingga hari ini. Oleh sebab itu, kita pun harus memegang teguh teori ini untuk sementara waktu hingga timbul fenomena lain yang menggugurkan teori tersebut. Soal kesamaan agama, dalam kerja sama ini tidaklah begitu penting. Tak ada unsur agama dalam kerja sama tersebut karena setiap negara melakukan interaksi internasional hanyalah untuk kepentingan negaranya sendiri-sendiri. Setiap negara berjuang untuk mendapatkan uang untuk dirinya sendiri dan bukan untuk ukhuwah Islamiyah, apalagi untuk kesejahteraan seluruh kaum muslimin.

            Secara positif, kita, sebagai bangsa Indonesia, harus memandang bahwa lebih banyaknya Arab Saudi berinvestasi di Cina yang komunis dibandingkan dengan di Indonesia yang mayoritas muslim adalah disebabkan sumber daya manusia Cina lebih baik dan lebih bisa dipercaya untuk mengembangkan investasi Arab Saudi. Raja Salman masih lebih percaya pada Cina dibandingkan pada Indonesia. Oleh sebab itu, kita, Indonesia, harus introspeksi diri bahwa kita masih memiliki kelemahan pada beberapa bidang dan itu harus diperbaiki sehingga orang lain lebih percaya pada diri kita. Kelemahan itu bisa dari sumber daya manusia, dari birokrasi, atau dari sistem. Artinya, Indonesia harus meningkatkan kemampuan sumber daya manusia, memperbaiki birokrasi, serta menyederhanakan sistem untuk investasi dengan tetap mengedepankan nasionalisme dan kepentingan rakyat Indonesia.

            Sekarang bergantung kita bagaimana menyikapinya. Adalah suatu hal yang wajar jika Presiden Jokowi kembali melakukan sambungan telepon pada Raja Salman untuk meminta investasi lebih besar lagi agar seimbang dengan investasi di Cina, bahkan lebih besar lagi.

            Sampurasun.

Saturday, 11 February 2017

Tak Ada Jejak Hindu dan Budha di Tanah Sunda

oleh Tom Finaldin

Bandung, Putera Sang Surya
Banyak peneliti, baik dari dalam maupun luar negeri yang masih mengatakan bahwa Hindu dan Budha pernah mempengaruhi hidup orang Sunda. Bahkan, Prabu Siliwangi as pun disebutnya kalau tidak beragama Hindu, ya beragama Budha. Sesungguhnya, Prabu Siliwangi adalah nabi kepercayaan Allah swt untuk mengajarkan tauhid di Benua Sundaland. Agamanya disebut Sunda Wiwitan. Agama itu adalah Agama Islam pra-Muhammad saw.

            Saya sebagai orang Sunda sama sekali tidak pernah menemukan satu orang pun atau sekeluarga pun yang menyimpan kitab Hindu atau Budha sebagai kitab yang pernah dijadikan pegangan hidup. Demikian pula, orang Sunda tidak pernah berperilaku atau berkata-kata sebagaimana orang yang pernah dipengaruhi Hindu atau Budha. Kedua agama itu tidak ada jejak sama sekali di Tanah Sunda. Agama Sunda Wiwitan jauh sekali perbedaannya dibandingkan Agama Hindu atau Budha. Agama Sunda Wiwitan malahan lebih dekat pada ajaran Islam Muhammad saw dalam hampir semua hal.

            Agama Sunda Wiwitan langsung dengan mudah melebur ke dalam Agama Islam. Hal itu disebabkan Agama Sunda Wiwitan adalah Agama Islam yang dibawa oleh Nabi Prabu Siliwangi as, kemudian disempurnakan oleh Islam yang dibawa Muhammad saw.

            Hal ini bisa dilihat dari dongeng-dongeng lisan masyarakat Sunda yang sangat akrab dengan masyarakat Arab. Para raja Sunda kerap datang ke tanah Arab dan menikah dengan puteri raja-raja di sana. Para Pangeran Sunda pun menikahi puteri-puteri Arab dan Mesir. Terkadang pula raja-raja dan pangeran Arab atau Mesir mendatangi tanah Sunda, lalu menikahi puteri-puteri kerajaan Sunda. Hasil pernikahan mereka melahirkan para wali dan syekh yang kemudian membangun kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia.

            Tak pernah ada kisah yang sangat akrab dengan raja-raja atau keluarga istana India. Tak ada dongeng yang mengisahkan adanya pernikahan ataupun persekutuan antara kerajaan Sunda dengan kerajaan-kerajaan di India. Hal itu menunjukkan bahwa sama sekali tidak pernah ada pengaruh Hindu dan Budha di tanah Sunda. Kalau Hindu atau Budha memiliki pengaruh di tanah Sunda, harus ada kisah ataupun sejarah mengenai keakraban atau konflik antara Kerajaan Sunda dan Kerajaan India.

            Bagaimana dengan pewayangan?

            Bukankah itu pengaruh dari India?

            Bukan!

            Kisah-kisah pewayangan bukanlah berasal dari India. Kisah pewayangan itu lahir di Indonesia dan merupakan kisah kerajaan-kerajaan di Nusantara. Kisah ini tersebar di seluruh tanah kekuasaan Kerajaan Sunda. Dalam peta yang dibuat Prof. Dr. Edi S. Ekadjati, Kerajaan Sunda itu meliputi wilayah yang teramat luas dan India saat itu berada dalam kekuasaan Kerajaan Sunda. India hanyalah sebuah kadipaten dari Kerajaan Sunda. Kisah pewayangan ini mengalir ke India dan menarik masyarakat India. Bukan hanya kisah pewayangan yang diadopsi, melainkan sistem penanggalan India pun mengikuti sistem penanggalan Sunda. Dalam Konferensi Internasional Budaya Sunda II di Gedung Merdeka, Bandung, yang saya diundang menjadi pesertanya, sebagai wakil dari Yayasan Al Ghifari, dijelaskan bahwa kalender India sama persis dengan kalender Sunda karena India mengikuti sistem Sunda.

            Tak ada pengaruh Hindu dan Budha di tanah Sunda. Pengaruh sangat besar justru berasal dari Arab karena kesamaan keyakinan. Misalnya, dongeng Kian Santang dan Walangsungsang yang datang ke Mekah, lalu dibalas oleh kunjungan Nabi Muhammad saw ke Garut di daerah Kadungora dan Leuwigoong. Pesan dongeng itu jelas sekali bahwa ajaran Islam dari tanah Arab itu sangat direstui untuk menyempurnakan agama Sunda Wiwitan yang merupakan ajaran Islam yang dibawa oleh Nabi Prabu Siliwangi as.

            Dongeng-dongeng lisan di tanah Sunda yang akrab dengan Arab memiliki campuran antara kenyataan, khayalan, dan uga (prediksi atau ramalan masa depan). Oleh sebab itu, cukup rumit memisahkan mana yang kenyataan sejarah, mana yang khayalan, dan mana yang merupakan prediksi masa depan.

            Kerajaan-kerajaan di Indonesia ini pada masa lalu merupakan kerajaan-kerajaan kuat dan besar, misalnya, Pajajaran, Majapahit, Singosari, Perlak, Samudera Pasai, dan lain sebagainya. Mereka dikenal sebagai para pelaut ulung yang mampu berlayar ke seluruh dunia sehingga terjalin bisnis yang kuat dan sangat menguntungkan dengan berbagai negara di dunia, termasuk dengan Eropa, Cina, dan Arab. Kehebatan orang Indonesia dalam mengarungi samudera ini diabadikan dalam lagu yang kita kenal dengan judul Nenek Moyangku Seorang Pelaut.

            Dalam petualangan dan pelayarannya ke berbagai negeri, tentunya mengalami berbagai interaksi dan komunikasi dengan wilayah-wilayah yang pernah dikunjunginya dalam berbisnis. Pengalaman para petualang dan tokoh Sunda ke daerah Arab ini memunculkan pula kisah yang sangat mungkin merupakan kenyataan sejarah. Kisah ini lagi-lagi memperlihatkan bagaimana akrabnya Sunda dengan Arab.

            Wahyu Wibisana dalam Pengislaman Prabu Siliwangi sebagai Pelengkap Kehadiran Tokoh Ceritera Siliwangi dalam Ceritera-Ceritera Rakyat Jawa Barat (1991) mengisyaratkan bahwa sudah terjadi hubungan yang sangat akrab antara orang Sunda dengan Arab jauh sebelum Nabi Muhammad saw lahir. Ia menuturkan bahwa ketika Nabi Muhammad saw baru berusia tujuh hari, menangis terus-menerus dan tidak mau berhenti meskipun telah dibujuk oleh siapa pun. Muhammad saw kecil baru berhenti menangis ketika orang Sunda yang bernama Syekh Batara Galunggung menghiburnya dengan cara memberikan kolecer kepada Nabi Muhammad saw. Kolecer itu kincir yang terbuat dari kertas yang jika ditiup akan berputar-putar lucu. Kolecer saat ini merupakan kerajinan tangan ringan yang diajarkan oleh guru-guru TK di Indonesia.

            Hal ini jika ditelusuri lebih teliti, sangat mungkin menjadi sejarah bernilai ilmiah mengingat kehebatan para pelaut Indonesia pada masa kejayaan berbagai kerajaannya mampu berdagang ke berbagai penjuru dunia. Ketika berada di negeri orang, tentu saja mereka berinteraksi dalam waktu yang cukup panjang hingga satu atau dua bulan menunggu urusan bisnis rampung. Ketika sampai di tanah Arab, mereka pun sampai ke Mekah dan mengenal keluarga Nabi Muhammad saw.

            Ketika Nabi Muhammad saw sudah dewasa, sejak sebelum menjadi nabi maupun sesudah menjadi nabi, beberapa kali datang ke Indonesia dengan tujuan yang sama, yaitu berdagang sejak menjadi pesuruh Siti Khadijah ra. Bahkan, ada naskah Sunda kuno yang mengisahkan bahwa rombongan dari tanah Arab datang ke tanah Sunda dipimpin oleh Abu Jahal untuk berbisnis. Di dalam rombongan itu, terdapat Muhammad saw dan Abu Bakar ra. Ketika berada di tanah Sunda, rombongan itu keluar masuk hutan dan mengalami beberapa kali kesulitan karena tersesat dan kerap diganggu harimau. Oleh sebab itu, Abu Bakar mengusulkan agar Muhammad saw diberi kesempatan untuk memimpin rombongan. Setelah pemimpin rombongan diganti oleh Muhammad saw, perjalanan pun menjadi lancar dan harimau tak mau mengganggu lagi. Ketika Muhammad saw telah menjadi nabi pun, tetap datang ke tanah Sunda untuk mengajarkan agama dan mendirikan beberapa masjid.

            Lagi-lagi informasi dari naskah-naskah ini jika diteliti lagi lebih mendalam, dapat menjadi bernilai kenyataan sejarah. Hal itu disebabkan sangat mungkin terjadi interaksi yang akrab antara tanah Sunda dan tanah Arab sebelum dan sesudah Muhammad saw menjadi nabi. Hal ini bisa dilihat dari hadits-hadits yang mengharuskan penggunaan kapur barus untuk pengurusan jenazah. Kapur barus itu didapatkan dari Pulau Jawa, Indonesia karena di Mekah, Medinah, maupun Jeddah tidak memiliki wilayah yang bisa menghasilkan kapur barus. Di samping itu, di dalam Al Quran pun banyak ayat yang menerangkan tentang keadaan laut, pelayaran, para pelaut, dan hutan dengan segala keistimewaannya. Hal itu mengisyaratkan bahwa Nabi Muhammad saw pernah berulang kali melakukan pelayaran dan keluar masuk hutan. Sangat mungkin pelayaran itu ke tanah Sunda dan hutannya pun hutan yang berada di wilayah Sunda.

            Memangnya di Mekah sebelah mana yang ada hutannya?

            Di Medinah atau Jeddah yang mana yang wilayahnya ada hutan?

            Dengan melihat dan mendengar berbagai kisah yang akrab antara tanah Arab dan tanah Sunda, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa Agama Sunda Wiwitan sangat terbuka untuk disempurnakan oleh Agama Islam. Dengan tidak adanya keakraban antara tanah Sunda dengan tanah India, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa Agama Hindu dan Agama Budha tidak pernah memberikan pengaruh apa pun bagi masyarakat Sunda.

         
           Sampurasun.