Showing posts with label Aceh. Show all posts
Showing posts with label Aceh. Show all posts

Saturday, 19 February 2022

Korupsi Beasiswa, 400 Mahasiswa Terancam Hukum

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Inilah yang selalu saya takutkan dua tahun belakangan ini. Saya selalu mewanti-wanti mahasiswa agar menggunakan uang beasiswa yang telah dikuasakan kepada mereka untuk benar-benar digunakan kuliah, terutama “uang saku” sebagai penunjang hidup mereka selama kuliah. Apalagi sekarang, jumlahnya bertambah besar. Untuk mereka yang hidup dalam keluarga sangat miskin, dengan adanya beasiswa, bisa terasa kaya raya mendadak karena ada uang yang dapat digunakan sebagai uang saku yang lumayan besar.

            Mungkin seluruh murid saya sudah sangat bosan mendengar saya membicarakan hal ini. Mungkin mereka sudah hapal kata-kata saya tentang hal ini. Bisa jadi pula ketika saya membicarakan hal ini, masuk dari kuping kanan dan keluar dari kuping kiri karena saking hapalnya. Akan tetapi, saya terus mengingatkan karena khawatir terhadap keselamatan diri mereka dan keberhasilan pendidikan mereka. Jika tidak menggunakan uangnya dengan bijak dan benar, pendidikan mereka tidak akan selesai dan jatuh dalam perilaku korupsi karena itu adalah uang rakyat yang dikelola negara untuk membiayai diri mereka dalam menempuh pendidikan. Akhirnya, baik diri mereka dan keluarga mereka harus menanggung penderitaan akibat perilaku yang salah dalam menggunakan uang rakyat yang dititipkan kepada mereka untuk digunakan menunjang perkuliahan mereka hingga menjadi orang yang bermanfaat, baik untuk diri mereka sendiri, keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara.

Dalam acara resmi baru-baru ini saya pun mengingatkan hal yang sama di Haris Fox Hotel kepada para penerima baru beasiswa KIP Kuliah Universitas Al Ghifari, Bandung. Jumlah mereka mencapai 291 orang. Pada saat itu saya selaku Ketua Program Studi (Kaprodi) Hubungan Internasional  (HI), Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip), Universitas Al Ghifari (Unfari) diminta untuk memberikan pembinaan kepada para mahasiswa baru yang beruntung mendapatkan beasiswa. Acara itu bernama “Pembinaan, Monitoring, dan Evaluasi Mahasiswa Penerima KIP Kuliah Universitas Al Ghifari Tahun Akademik 2021-2022”.

Seperti ini kira-kira yang saya sampaikan saat itu, “Kalian harus ingat bahwa uang itu bukan hasil kerja keras orangtua kalian, bukan pula uang hasil usaha kalian. Uang itu adalah uang rakyat yang dikelola negara, kemudian disalurkan pemerintah ke Universitas Al Ghifari untuk membiayai kuliah kalian. Jadi, upayakan sebaik mungkin untuk perjalanan kuliah kalian, bukan untuk membetulkan rumah orangtua, bukan untuk bayar hutang saudara-saudara, bukan untuk bisnis, bukan untuk berfoya-foya. Itu adalah uang rakyat. Rakyat berharap kalian selesai kuliah dan menjadi orang yang bermanfaat. Kalau kalian tidak kuliah dengan baik, bahkan tidak selesai, tetapi terus menerus menggunakan uang itu hingga habis, kalian adalah koruptor! Kalian mengambil uang rakyat, tetapi digunakan tidak untuk yang diinginkan oleh rakyat. Jangan ikut-ikutan demonstrasi antikorupsi kalau begitu karena kalian sendiri adalah koruptor! Bla … bla … bla ….”




Kepanjangan kalau semua kata-kata saya ditulis di sini karena saya berbicara saat itu sekitar tiga puluh menit. Saya berbicara seperti itu karena tanggung jawab dan berharap para mahasiswa penerima beasiswa dapat lebih baik lagi menggunakan uang rakyat sehingga kuliahnya selesai dan hidup lebih baik pada masa depan. Di samping itu, cepat atau lambat jika menggunakan uang itu tidak dengan benar, hukum akan menguntit mereka dan menghukum mereka.





Dalam tulisan ini saya upload foto ketika saya memberikan pembinaan pada acara di Bandung, “Pembinaan, Monitoring, dan Evaluasi Mahasiswa Penerima KIP Kuliah Universitas Al Ghifari Tahun Akademik 2021-2022”.

 Kini kita dikejutkan oleh adanya lebih dari 400 mahasiswa yang terancam hukum tersangka korupsi beasiswa. Kejadiannya di Aceh dan mereka adalah mahasiswa Aceh yang berada di kampus-kampus Aceh, luar Aceh, bahkan di luar negeri. Mereka tahu bahwa mereka tidak berhak mendapatkan beasiswa, tetapi kongkalikong dengan para pengelola atau Korlap beasiswa yang berasal dari Dana Otonomi Khusus melalui aspirasi Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) tahun 2017. Kerugian negara mencapai sekitar 10 miliar rupiah. Kasus ini sudah diselidiki oleh kepolisian.

Polisi sudah memiliki daftar nama mahasiswa itu yang juga pasti menyasar para koordinator, pengelola, atau mereka yang punya akses terhadap penyaluran dana itu, baik dari pihak DPRA, kampus, mahasiswa, atau yang lainnya. Akan tetapi, untuk para pelaku yang masih berstatus mahasiswa, kepolisian menyerukan agar segera mengembalikan uang itu ke kas daerah untuk mengurangi jumlah tersangka. Jika tidak mengembalikan, kemungkinan besar menjadi tersangka. Jika mengembalikan uang, kepolisian kemungkinan akan lebih fokus kepada pihak-pihak yang bukan mahasiswa dan menentukan dalam penyalahgunaan penyaluran beasiswa ini. Begitu kira-kira yang disampaikan Kombes Pol Winardy.

Kejadian ini saya dapatkan dari Kompas dan dari Tribun.

Bayangkan, dana itu berasal dari tahun 2017, sekarang tahun 2022. Uang itu mungkin sudah habis digunakan, tetapi harus dikembalikan. Luar biasa menyusahkannya. Oleh sebab itu, jangan main-main dengan uang yang bukan haknya.

Semoga kejadian ini menjadi pelajaran bagi negara, pemerintah, para wakil rakyat, pihak kampus dan lembaga pendidikan, para koordinator, serta para mahasiswa di mana saja. Jika ada yang sudah merasa diri menggunakan uang itu tidak dengan baik, segera perbaiki diri, hentikan, dan kembali gunakan itu sesuai dengan keharusannya. Kalau tidak, hukum akan menguntit di dunia ini dan di akhirat pun akan mendapatkan pembalasannya.

Hati-hati.

Sampurasun.

 

#KampusSangPemenang

#UnfariFisipHI

Saturday, 21 November 2020

Belajar dari Snouck Hurgronje

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Nama Snouck Hurgronje tidak lepas dari sejarah Aceh. Tokoh ini selalu menarik untuk dikaji sehingga setiap membaca tentang dirinya dari berbagai buku, artikel, dan bahkan mendengar dari diskusi-diskusi terbatas selalu ada informasi baru berkaitan dengan sepak terjangnya dalam menaklukan Aceh.

            Aceh dapat dikatakan sebagai wilayah terkuat di Indonesia ini dalam melawan penjajah Belanda. Ketika raja-raja dan sultan-sultan di seluruh wilayah Indonesia ini sudah tunduk pada keinginan Belanda, Aceh masih tegak berdiri melakukan perlawanan.

            Snouck Hurgronje adalah tokoh pemikir yang selalu mendapat perhatian Belanda. Hasil pemikirannya kadang digunakan, kadang tidak oleh Belanda dalam menyusun strategi mengatur wilayah jajahan di Indonesia.

            Dalam menundukkan Aceh, Belanda selalu melakukan dua cara, yaitu negosiasi dan kekerasan terhadap kesultanan Aceh. Akan tetapi, Belanda tidak pernah berhasil. Snouck Hurgronje berpendapat bahwa untuk mengalahkan Aceh, tidak bisa dilakukan dengan negosiasi, tetapi dengan kekerasan penuh. Kekerasan itu jangan dilakukan terhadap kesultanan, tetapi harus diarahkan terhadap para ulama. Hal itu disebabkan perlawanan rakyat Aceh adalah di bawah kendali para ulama. Jadi, ulama yang harus dibasmi.

            Pendapat Snouck Hurgronje tidak dipercayai oleh Belanda. Penjajah Belanda tetap melakukan negosiasi dan kekerasan terbatas terhadap kesultanan. Sementara itu, perlawanan tetap keras dari para ulama dan pengikutnya.

            Sebagai seorang pemikir, Snouck Hurgronje selalu memiliki rasa penasaran terhadap Islam. Oleh sebab itu, ia berpura-pura menjadi orang Islam, mengucapkan syahadat, melakukan ritual islami, dan tinggal di Jedah, Arab Saudi, hingga berhasil menginjakkan kakinya di Masjidil Haram, Mekah. Ia pun dihormati dan diberi gelar, seperti, mufti dan syekh.

            Hubungan dengan kaum muslimin pun semakin dekat. Bahkan, kata-katanya dianggap sebagai ajaran Islam.

            Kalimat yang diucapkan Snouck Hurgronje dan sangat berpengaruh bagi rakyat muslim Aceh adalah, “Dunia ini ibarat anjing. Anjing itu najis. Oleh sebab itu, umat Islam tidak boleh mendekati dunia karena dunia itu najis!”

            Seperti itulah yang diajarkan Snouck Hurgronje. Entah dari mana kalimat itu berasal. Akan tetapi, kalimat itu mempengaruhi kaum muslimin Aceh. Akibatnya, rakyat Aceh terlalu banyak tinggal di masjid-masijd, terfokus pada ibadat-ibadat ritual, seperti, berbagai macam shalat, dzikir, doa-doa, dan kegiatan-kegiatan keagamaan lainnya. Sementara itu, ibadat yang sifatnya umum, seperti, bekerja, belajar, berlatih, bersosialisasi, dan berpolitik, jauh menurun, sangat berkurang.

            Hal ini terjadi bertahun-tahun dan terus-menerus. Ini pula yang membuat Aceh menjadi lemah. Pengetahuan, pengalaman, keterampilan, dan fisik orang-orang Aceh melemah. Hal ini mudah dipahami karena orang-orang Aceh perhatiannya terpusat pada kegiatan ritual, sedangkan sosial-politik-teknologi jauh berkurang.

            Pada saat itulah Belanda mendapatkan kesempatan emas untuk menaklukan Aceh. Belanda melakukan serangan. Rakyat Aceh pun melawan, tetapi situasinya sudah jauh lebih lemah dibandingkan dulu. Perlawanan heroik Cut Nyak Dien dan Cut Meutia pun harus menemui kekalahan. Akhirnya, Belanda mendeklarasikan kemenangannya pada 1903. Cut Nyak Dien meninggal di Sumedang, Jawa Barat, pada 1908.

            Pelajaran apa yang bisa kita ambil dari persitiwa bersejaran itu?

            Pelajarannya adalah jangan menghinakan dunia. Kehidupan dunia adalah ladang bagi kehidupan akhirat. Pencarian kehidupan dunia adalah modal untuk akhirat. Ibadat umum dan ilmu dunia harus seimbang dengan ibadat khusus dan ilmu akhirat, tidak boleh berat sebelah karena begitulah seharusnya. Pengetahuan dan keterampilan duniawi harus pula berimbang dengan pemahaman akhirat. Begitulah yang diajarkan Allah swt.

            Perhatikan firman Allah swt dalam QS Al Jumuah, 62 : 10:

 

            “Apabila shalat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di Bumi, carilah karunia Allah, dan ingatlah Allah banyak-banyak agar kamu beruntung.”

            Perhatikan dengan baik ayat itu. Jika ibadat ritual telah dilaksanakan, bertebaranlah di muka Bumi, beraktivitaslah dengan manusia lainnya. Kita harus mencari karunia Allah swt sebanyak-banyaknya. Karunia itu bisa berupa uang, harta-benda, ilmu pengetahuan, dan lain sebagainya. Kita harus punya uang agar bisa membangun masjid, pesantren, lembaga pendidikan, berangkat haji dan umroh, berkurban, dsb.. Kita harus punya uang agar bisa bayar pajak sehingga bisa membangun jalan, jembatan, Puskesmas, rumah sakit, membiayai TNI, Polri, ASN, gedung-gedung megah, lembaga-lembaga positif untuk masyarakat, dan lain sebagainya.

            Kalau tidak punya uang, kita akan selalu menjadi pengemis dan berharap bantuan dari orang lain atau pemerintah.

            Kita harus belajar banyak ilmu pengetahuan sehingga di antara kita ada yang bisa menjadi dokter, tentara, polisi, ahli ekonomi, ahli masyarakat, ahli ilmu jiwa, arsitektur, pembuat mobil, motor, pesawat terbang, ahli sejarah, arkeologi, ahli bahasa, ahli ilmu politik, ahli kelautan, dan lain sebagainya. Dengan berbagai pengetahuan itulah kita bisa berkembang dan maju sebagai umat-umat yang bermanfaat bagi manusia dan dipertimbangkan kekuatannya oleh pihak-pihak lain. Dengan manfaat yang kita berikan kepada sesama manusia itulah, kita bisa mempersembahkan hasil karya kita kepada Allah swt untuk dihitung sebagai amal kebaikan dan bukti syukur kita yang telah diberikan otak dan fisik yang baik oleh Allah swt.

            Jangan tinggalkan dunia. Jadikan dunia sebagai ladang untuk hasil di akhirat.

            Hal yang dilarang itu adalah kita diperbudak oleh dunia sehingga kita selalu dipusingkan duniawi dan melupakan akhirat. Kehidupan dunia tidak boleh digunakan untuk berbangga-bangga dan melecehkan orang lain, apalagi sampai bermaksiat kepada Allah swt. Pandangan kita harus selalu untuk kehidupan akhirat, tetapi jangan melupakan dunia.

            Seimbangkan dunia dan akhirat dalam kehidupan kita. Contohlah Aceh yang sangat perkasa dan tidak bisa ditaklukan Belanda karena kecerdasan para ulamanya yang mampu menyeimbangkan ibadat ritual dengan ibadat umum. Akan tetapi, ketika terlalu fokus pada ibadat ritual, dunianya pun lemah dan sejarah menunjukkan Aceh pun dapat dikuasai Belanda.

            Kalau ada yang mau diskusi soal ini, boleh. Kalau ada yang memberikan masukan dan koreksi pun boleh, bahkan membantah pun bagus, asal dengan niat yang baik dan bahasa yang baik.

            Sampurasun.

Friday, 31 January 2020

Diplomasi Pertahanan Gus Dur-Prabowo


oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Ketika kita mendengar kata “pertahanan”, biasanya otak kita langsung terhubung dengan militer, prajurit, senjata, peluru, dan perang. Memang dari zaman dulu yang namanya pertahanan selalu berkaitan dengan dunia militer. Bahkan, di Eropa dan Amerika Serikat atau biasanya kita mengistilahkan dengan “barat”, dikenal pemeo bahwa “pertahanan yang terbaik adalah melakukan penyerangan”. Jadi, sebelum dirinya atau negaranya diserang, mereka melakukan penyerangan lebih dulu pada pihak-pihak yang dianggapnya mengancam eksistensi mereka, baik mengancam secara militer, politik, maupun ekonomi. Akan tetapi, sesungguhnya tidak begitu juga. Seiring perkembangan zaman, ada upaya-upaya pertahanan yang tidak selalu harus berkaitan dengan senjata, perang, dan pembunuhan. Upaya diplomasi adalah salah satu cara yang bisa dilakukan untuk mempertahankan diri.

            Presiden Abdurahman Wahid atau yang kerap dipanggil Gus Dur pernah melakukannya. Pada masa awal menjadi presiden, Gus Dur segera pergi ke berbagai negara untuk bersilaturahmi membangun persahabatan. Perilakunya ini mendapatkan reaksi negatif dari sebagian politisi dan sebagian besar rakyat Indonesia. Mereka menganggap bahwa Gus Dur terlalu sering ke luar negeri dan jarang berada di dalam negeri, padahal kondisi dalam negeri sedang dalam kondisi carut marut karena masa peralihan dari Orde Baru ke Orde Reformasi. Saking seringnya pergi ke luar negeri, nama Gus Dur diplesetkan menjadi “Gus Tour”, Gus yang sering tour ke sana ke mari.

            Ada peribahasa bahwa “berkah orang bodoh adalah bisa berbicara dan berperilaku seenaknya”, tetapi “kutukan orang cerdas dan bijak adalah sulit berbicara dan berperilaku”. Orang bodoh bisa seenaknya berbicara dan berperilaku karena mereka tidak tahu apa-apa atau pemahamannya dangkal. Adapun orang cerdas dan bijak tidak bisa seenaknya, mereka selalu terbatas bicara dan bertindak, tidak bisa bicara dan berperilaku, kecuali memiliki dasar ilmu dan keyakinan yang benar.

            Kita pikir saja diri kita apakah termasuk penerima berkah sebagai orang bodoh atau terkutuk seperti orang bijak dan cerdas.

            Gus Dur dibuli habis-habisan karena orang tidak mengerti yang dilakukannya. Gus Dur berkunjung ke berbagai negara adalah untuk mempererat persahabatan dan menguatkan posisi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Saat itu kondisi negara sedang lumayan terancam, misalnya, Aceh ingin merdeka dengan dorongan Gerakan Aceh Merdeka (GAM), Maluku juga ingin mendirikan negara sendiri dengan aktifnya Republik Maluku Selatan (RMS), demikian pula Papua dengan gerakan-gerakan separatismenya.

            Salah satu syarat berdirinya sebuah negara adalah adanya pengakuan internasional. Artinya, sebuah wilayah dapat dikatakan merdeka dan memiliki negara sendiri jika negara lain yang berdaulat mengakuinya sebagai sebuah negara. Hal itulah yang dicegah Gus Dur. Dengan kunjungannya ke berbagai negara, diharapkan negara lain tidak akan mengakui sepotong wilayah pun dari bagian NKRI sebagai sebuah negara. Dengan persahabatan dan hubungan yang erat, negara lain akan menghormati Gus Dur dan Negara Indonesia. Upayanya ini berhasil, NKRI utuh, tak ada perpecahan. Sayangnya, banyak orang yang tidak mengerti sehingga membulinya habis-habisan.

            Sekarang terjadi juga hal yang mirip terhadap Menteri Pertahanan RI Prabowo Subianto. Dia dibuli karena sering keluar negeri dan jarang terlihat di Indonesia. Prabowo itu sesungguhnya sedang melakukan diplomasi pertahanan. Di samping memang diberi tugas untuk memperkuat Alutsista Indonesia, juga membina hubungan baik dengan negara lain agar Indonesia tetap utuh dan negara lain tidak melakukan aksi-aksi yang tidak perlu terhadap Indonesia. Prabowo melakukannya sebagaimana yang Gus Dur lakukan. Sayangnya, banyak orang yang tidak paham sehingga mengejek dan membuli Prabowo.

            Prabowo itu memiliki anggaran paling besar dari APBN dibandingkan kementerian lain. Sekitar 131,7 triliun yang harus dia kelola dan itu tanggung jawab yang besar untuk pertahanan dan keamanan negara. Oleh sebab itu, tak heran Presiden RI Jokowi segera pasang badan untuk membela Prabowo Subianto karena yakin bahwa Prabowo sedang melakukan tugas-tugas kenegaraannya.

            Jangan mudah ngoceh jika belum paham. Jangan bersuara jika hanya mengandalkan pemahaman yang dangkal apalagi berdasarkan hoax.

            Sampurasun.

Monday, 17 April 2017

Keluarga Keraton Tak Pantas Berkonflik

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Bangsa Indonesia ini sedang merindukan kembali jati dirinya yang telah lama hilang. Hilangnya jati diri bangsa Indonesia ini dimulai saat datangnya penjajahan dan semasa Orde Baru. Penjajahan Belanda memang paling mengerikan di dunia ini karena bukan hanya sumber daya alam yang mereka keruk, melainkan pula sampai pada kehidupan tatakrama keraton. Keluarga-keluarga bangsawan yang mana saja di Indonesia ini mendapatkan pengaruh penjajahan dari segi politik sampai dengan hal-hal terkecil semisal cara berpakaian dan penggunaan atribut kebangsawanan. Pemberontakan Pangeran Diponegoro salah satunya disebabkan ikut campurnya Belanda terhadap cara berpakaian di lingkungan keraton. Banyak hal yang hilang dan berubah drastis sejak dimulainya penjajahan. Demikian pula semasa Orde Baru, kehidupan keraton, kebangsawanan, ataupun semangat kesukuan dan kedaerahan mendapatkan kecurigaan yang berlebihan karena dianggap dapat mengancam persatuan dan kesatuan Indonesia. Suku yang mendapatkan “jatah” lebih besar untuk menampilkan dirinya adalah Suku Jawa. Ada situasi yang kurang adil saat itu.

            Jiwa-jiwa bangsa Indonesia yang mulai kering karena terlalu banyak pengaruh asing, kini mulai merindukan kembali dirinya. Bertahap, perlahan, namun pasti perasaan kesukuan dan kedaerahan itu kembali tumbuh bersamaan dengan rasa nasionalisme sebagai bangsa yang satu, Indonesia. Rasanya senang sekali jika melihat suatu masyarakat hidup dengan menggunakan kearifan lokalnya masing-masing. Ada rasa haru dan bangga jika menyaksikan pentas-pentas seni yang mempertunjukkan seni kedaerahan, daerah yang mana saja. Seni-seni itu terasa memberikan sebuah pemahaman dan kesejukan tersendiri dalam mengisi jiwa-jiwa yang telah lama kering.

            Indonesia ini memiliki ribuan suku, ribuan bahasa, ribuan adat istiadat, dan ribuan kearifan lokal. Dari ribuan warna perbedaan menarik itu selalu memiliki jiwa yang sama, yaitu pengabdian kepada Sang Pencipta, penghormatan pada sesama manusia, penjagaan terhadap alam semesta, dan dorongan keharmonisan hidup. Perhatikan saja setiap seni dan kebiasaan hidup ribuan suku di Indonesia itu. Meskipun berbeda-beda cara dan warna, jiwanya tetap sama. Itulah yang dirindukan kembali bangsa ini.

            Pada zaman ini, zaman kebebasan berekspresi, sesungguhnya merupakan waktu yang sangat tepat bagi ribuan suku, ribuan keluarga keraton, ratusan ribu keturunan bangsawan di seluruh Indonesia dari Merauke hingga Sabang, dari Papua hingga Aceh yang telah menjaga Indonesia sejak dulu hingga saat ini untuk menampilkan kebijaksanaan, keunikan, kearifan lokal, kelembutan, dan kemanusiaannya masing-masing. Para pedagang Arab masa lalu menyebut Indonesia ini sebagai Jaziratul Mulk, ‘tanah yang banyak rajanya’. Memang ada ribuan raja di Indonesia ini dan kita tidak mengenal seluruhnya. Seluruh daerah di Indonesia ini dulunya dipimpin oleh para raja sesuai dengan sukunya masing-masing. Keturunan para raja ini sebaiknya kembali menghidupkan nilai-nilai luhurnya masing-masing sehingga menjadi rujukan masyarakatnya dalam menyelesaikan berbagai masalah. Para keturunan bangsawan ini sebaiknya menampilkan dirinya sebagai bangsawan yang penuh keluhuran budi pekerti, nilai-nilai mulia yang hidup nyata di tengah masyarakat, dan bukan mempertontonkan diri sebagai keturunan bangsawan hanya untuk memperoleh kekuasaan atau merasa berhak diagungkan atau dihormati. Saya memiliki keyakinan bahwa keagungan para raja zaman dulu itu akan kembali mulia dan dihormati oleh orang banyak jika nilai-nilai hidup dan kearifan lokal kembali dihidupkan dalam keseharian. Saya juga memiliki keyakinan bahwa jika para keturunan bangsawan ini hanya meletih-letihkan dirinya agar diakui sebagai keturunan raja dan berharap dihormati orang lain, keagungan dan kemuliaan mereka tidak akan pernah kembali, bahkan merosot ke tingkat yang lebih rendah lagi. Rakyat tidak membutuhkan itu. Rakyat justru mengharapkan adanya contoh luhur dari pendahulunya untuk menjadi teladan yang dapat dipraktikkan dalam hidup sehari-hari.

            Bukan upacara-upacara ritual yang harus selalu dibesar-besarkan karena hal itu hanya sebuah upacara. Di samping itu, kita kini mayoritas sudah menjadi muslim, harus pilih-pilih dalam melaksanakan ritual agar tidak bertabrakan dengan nilai-nilai Islam.

            Sangatlah disayangkan jika terjadi konflik di dalam keluarga keraton saat ini. Apalagi jika konflik itu terjadi pada keluarga-keluarga para bangsawan yang besar dan diakui masih memiliki pengaruh hingga saat ini. Seharusnya, para bangsawan itu memberikan kesejukan pada rakyat, menjadi penjaga ruh bangsa agar selalu dalam kebaikan, serta menjadi pemberi solusi mencerahkan di tengah masyarakat. Rakyat Indonesia membutuhkan keteladanan yang menenangkan jiwanya dan bukan dorongan untuk berkonflik yang teramat meletihkan hati, menggelisahkan jiwa, dan merusakkan pikiran.

            Jika ribuan keturunan bangsawan di seluruh pulau di Indonesia ini dapat menyerap nilai-nilai mulia leluhurnya dan mempraktikannya dalam kehidupan sehari-hari, rasa hormat masyarakat akan tumbuh pada mereka. Mereka akan menjadi tujuan banyak orang. Hal yang lebih penting lagi adalah jati diri rakyat sebagai bangsa Indonesia akan semakin kuat dan rakyat akan lebih bangga dan nyaman sebagai bagian dari keluarga besar Indonesia.


            Sampurasun.

Thursday, 6 April 2017

Ganja Tidak Salah

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Pada dasarnya semua yang telah diciptakan Allah swt tidak ada yang sia-sia. Semuanya memiliki fungsi dan kegunaan masing-masing, baik makhluk hidup maupun benda mati. Tak ada satu pun yang diciptakan tanpa ada manfaatnya, termasuk hal yang diharamkan dan dinajiskan-Nya sendiri. Babi, anjing, cecunguk, rayap, nyamuk, rumput, semak belukar, termasuk opium dan ganja memiliki fungsi masing-masing dalam ekosistem dan rantai makanan kehidupan. Tak boleh ada satu pun ciptaan Allah swt yang dimusnahkan, kecuali oleh Allah swt sendiri. Misalnya, Allah swt memusnahkan zaman dinosaurus agar menjadi minyak yang dapat diambil manfaatnya pada zaman ini. Manusia tidak memiliki kemampuan “berencana” seperti Allah swt. Jadi, tidak memiliki hak memusnahkan karena sama sekali tidak memiliki kecerdasan untuk memandang sangat jauh ke depan mengenai masa depan kehidupan. Apabila manusia memaksakan diri memusnahkan sesuatu, akan terjadi ketidakseimbangan alam. Contohnya, dulu di Afrika pernah ada pembasmian nyamuk besar-besaran. Akibatnya, terjadi kematian kucing secara massal. Hal itu disebabkan nyamuk adalah makanan cicak, sedangkan cicak adalah makanan kucing. Ketika nyamuk habis, cicak pun ikut mati. Akhirnya, kehidupan kucing pun menjadi terganggu. Kalau jumlah kucing berkurang, tikus bertambah jumlah dengan pesat. Akibatnya, ladang, sawah, dan tempat tinggal manusia harus ikut rusak pula oleh tikus. Manusia harus menanggung sendiri akibat yang telah dilakukannya sendiri.

POHON GANJA. Foto: www.cahayapapua.com

            Ganja adalah tumbuhan yang jelas diciptakan Allah swt. Ganja memiliki peran tersendiri dalam menyeimbangkan sistem kehidupan ini. Dengan demikian, jika ganja musnah, terjadi ketidakseimbangan alam yang pada akhirnya berpengaruh pada kehidupan manusia. Contoh kecil adalah seperti terhadap rumput. Banyak orang kesal terhadap rumput karena harus selalu memotong dan membersihkannya berulang-ulang. Akhirnya, tidak sedikit orang yang menghalangi tumbuhnya rumput dengan menembok tanah tempat tumbuh rumput. Memang tempat itu menjadi bersih dari rumput, tetapi ada efek lain, yaitu berkurangnya tanah sebagai media penyerap air. Akibatnya, air bersih menjadi kurang dan ketika hujan besar, terjadi banjir.

            Ganja tidak boleh dimusnahkan karena memiliki peran dan fungsi sendiri. Tidak mungkin Allah swt menciptakan sesuatu yang sia-sia. Ganja tidak bersalah. Yang salah adalah manusia yang telah “menyalahgunakan ganja”. Sepanjang tidak disalahgunakan, ganja akan tetap pada fungsi dan perannya sendiri.

            Dulu ketika saya menyusun buku yang berjudul Bahaya Napza bagi Pelajar, dalam suatu wawancara saya mendapatkan jawaban bahwa di Aceh itu memang banyak tumbuh ganja dan ibu-ibu rumah tangga menjadikannya sebagai “penyedap masakan” sebagaimana daun salam, pandan, atau serawung. Sepanjang ganja dimakan dan dijadikan sayur, tampaknya tidak apa-apa, bahkan mungkin bermanfaat bagi kesehatan. Akan tetapi, ganja yang sesungguhnya enak dimakan dan bermanfaat itu menjadi rusak dan menimbulkan kerusakan terhadap kesehatan manusia ketika terjadi “penyalahgunaan”. Ganja yang seharusnya dimakan “disalahgunakan” dengan cara dihisap menjadi rokok sebagaimana tembakau.








            Di Indonesia baru-baru ini pun sempat ada peristiwa bahwa ganja digunakan untuk obat penyembuhan pasien yang sudah tidak dapat disembuhkan oleh dokter di rumah sakit. Keluarga pasien menanam ganja itu sebagai bahan obat bagi pasien. Akan tetapi, karena di Indonesia menanam ganja itu dilarang dan ilegal, Sang Penanam Ganja ditangkap Badan Narkotika Nasional (BNN). Akibatnya, pasien tidak lagi mendapatkan obat berbahan ganja. Akhirnya, pasien meninggal.

            Siapa yang salah?

            Perang terhadap Narkoba, termasuk ganja adalah bertujuan untuk menyelamatkan hidup manusia. Akan tetapi, ketika diperangi, ada korban mati akibat kekurangan obat berbahan ganja.

            Siapa yang salah?

            Tak ada yang salah.

            Mereka yang bersalah adalah yang tidak mau belajar dari kejadian ini. Peristiwa ini seharusnya memberikan pelajaran berharga bagi perubahan undang-undang, penelitian di bidang medis, penelitian dalam bidang tumbuh-tumbuhan, penggunaan kearifan dan kebijaksanaan, dan lain sebagainya. Paling tidak, hal yang harus kita perangi adalah perilaku “penyalahgunaan” ganja dan bukan memerangi pohon ganja.

            Hal yang sama pun terjadi pada alkohol, morfin, dan lem. Sepanjang alkohol dan morfin digunakan untuk keperluan medis, tidak perlu diperangi karena itu memang dipergunakan sesuai peruntukannya. Akan tetapi, ketika alkohol dan morfin “disalahgunakan”, wajib diperangi. Begitu pula dengan lem kayu, kertas, atau kulit. Sepanjang lem itu digunakan untuk merekatkan sesuatu, tidak perlu diperangi. Akan tetapi, ketika dihisap menjadi bahan inhalant, wajib diperangi. Sama pula seharusnya dengan ganja. Ketika ganja dipergunakan sebagai penyedap masakan dan bahan pengobatan bagi pasien, tidak perlu diperangi. Akan tetapi, kalau sudah dipotong-potong, diiris, dikeringkan, dan dijadikan bahan rokok, lalu dihisap, wajib diperangi karena itu adalah “penyalahgunaan”.

            Ganja tidak salah. Mungkin kita yang belum memahami dengan benar manfaat dari ganja untuk kehidupan. Tidak perlu dimusnahkan habis-habisan sampai punah karena bisa mengakibatkan ketidakseimbangan alam yang kerusakannya belum kita ketahui. Hal yang perlu dilakukan adalah perang terhadap “penyalahgunaan” ganja. Mungkin ladang ganja yang memang dimaksudkan untuk menyediakan madat bagi para pecandu Narkoba memang harus dimusnahkan. Akan tetapi, jika ganja tumbuh sendiri tanpa direncanakan untuk bisnis Narkoba, biarkan saja meskipun harus tetap diawasi secara terkendali. Demikian pula kalau ada yang menanam ganja untuk memasak makanan atau untuk bahan obat, tidaklah bermasalah meskipun sebaiknya dikomunikasikan dengan aparat hukum. Bahkan, sangat perlu ada izin khusus bagi penanam ganja untuk keperluan memasak atau obat-obatan dengan pengawasan dan pengendalian super ketat.

PEMUSNAHAN LADANG GANJA. Foto: www.bbc.com

            Yang harus diperangi adalah “penyalahgunaan” dan bukan memerangi jenis barang atau tumbuhannya karena sangat mungkin memiliki manfaat yang tinggi jika digunakan sesuai dengan peruntukannya.


            Sampurasun.