Showing posts with label Dunia. Show all posts
Showing posts with label Dunia. Show all posts

Sunday, 27 October 2024

Dunia Berharap Jokowi Kendalikan Prabowo

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Ada banyak media, akademisi, politisi, bahkan pejabat negara-negara asing yang menyoroti Presiden RI Prabowo Subianto, baik profilnya, kebijakan-kebijakannya, dan kemungkinan-kemungkinan gerakannya pada masa depan. Mereka, pihak asing, mengenal Prabowo sebagai orang yang sangat ambisius, tegas, garang, tangguh, mencintai rakyatnya, dan menjaga kedaulatan negaranya dengan harta dan nyawanya. Hal ini membuat mereka khawatir karena akan mempengaruhi hubungan antarnegara selama kepemimpinan Prabowo. Ada getaran ketakutan dari suara, pendapat, dan pandangan mereka terhadap Prabowo Subianto.

            Mereka memandang Prabowo belum memiliki kemampuan diplomasi yang baik dalam berhadapan dengan dunia yang akan berakibat Prabowo hanya mementingkan Negara Indonesia dan merugikan negara-negara yang ingin mendapatkan keuntungan dari Indonesia. Oleh sebab itu, ada harapan dari mereka bahwa Jokowi dapat memberikan “pencerahan” kepada Pabowo dalam berdiplomasi dengan dunia luar.


Prabowo & Jokowi (Foto: News)

            Ini sangat lucu sebenarnya. Mereka sendiri sudah sangat kesulitan menghadapi Jokowi yang berani menantang, bahkan “berkelahi” langsung dengan Uni Eropa. Program hilirisasi Jokowi sudah bisa membangkrutkan banyak negara yang selama ini mengambil kekayaan alam Indonesia dengan tidak adil. Akan tetapi, tiba-tiba mereka berharap Jokowi dapat mengendalikan Prabowo karena akan lebih kuat dan keras dalam berhubungan dengan dunia luar. Prabowo tidak akan membiarkan alam Indonesia terkuras hanya untuk menguntungkan negara lain tanpa rakyatnya mendapatkan keuntungan juga. Mereka memandang Jokowi masih “bisa diajak bicara” dalam arti tidak terlalu sangar.

            Mereka keliru sebenarnya. Jokowi memang mulai keras terhadap dunia luar agar rakyat Indonesia mendapatkan keuntungan dari setiap hubungan internasional, tetapi Prabowo akan lebih keras lagi dalam membela rakyatnya sendiri. Dunia harus menerima hal ini sebagai kenyataan. Rakyat Indonesia harus bersiap pula menghadapi reaksi asing akibat dari banyak kebijakan Prabowo Subianto. Ini memerlukan wawasan, pengetahuan yang luas, dan mental baja.

            Apapun yang terjadi, kenyataan menunjukkan bahwa kekuatan Prabowo yang didorong dukungan Jokowi akan membuat kekuatan baru di kancah pergaulan internasional. Rakyat Indonesia dan dunia luar harus mulai membiasakan diri dengan perubahan ini.

            Tidak harus bertarung dengan mereka karena membutuhkan biaya tinggi, sebaiknya bekerja sama dan menumbuhkan saling pengertian jauh lebih baik.

            Foto Jokowi dan Prabowo saya dapatkan dari News.

            Sampurasun.

Tuesday, 27 July 2021

Ujian Melalui Covid-19

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Banyak yang mengatakan bahwa pandemi Covid-19 adalah hukuman dari Allah swt. Ada juga yang mengatakan bahwa pandemi ini adalah ujian dari Allah swt. Hukuman atau ujian bergantung pada kondisi orang masing-masing. Kalau hukuman, artinya sanksi bagi perilaku buruk manusia sebelumnya. Kalau ujian, berarti tes agar manusia meningkat menjadi lebih baik dibandingkan sebelumnya.

            Banyak sudah orang yang berceramah tentang hukuman ini, mulai ceramah yang menenangkan, mencerahkan, hingga ceramah yang penuh maki-maki ditambah kebencian politik dengan kata-kata kasar dan membangkitkan permusuhan.

            Ada yang berceramah bahwa pandemi ini adalah hukuman bagi penguasa, bagi Jokowi, bagi pendukungnya, dan bagi para buzzer.

Akibatnya, pendukung Jokowi bereaksi melakukan balasan dengan penuh penghinaan, “Katanya Covid-19 adalah azab bagi Jokowi, tapi kenyataannya yang mati malah para Kadrun! Dasar Kadrun nggak punya otak! Pergi Lu dari Indonesia! Pindah ke gurun pasir!”

Muncul lagi deh Cebong Vs Kadrun, padahal Pilpres sudah lama selesai.

Coba kalau sudah begitu, bagaimana?

Orang-orang malah bertengkar, makin bermusuhan. Seharusnya kan isi ceramah itu memberikan pencerahan dan pemahaman agar pikiran dan perilaku manusia bisa menjadi lebih baik, lebih menumbuhkan perdamaian, dan lebih ikhlas bergotong royong untuk memecahkan masalah bersama.

Ya sudahlah, mereka yang berceramah, menulis, atau menganalisa soal Covid-19 adalah hukuman itu sudah sangat banyak dengan rupa-rupa tujuan, ada yang tulus ada juga yang aneh.

Kalau saya mah semalam teringat QS Al Baqarah, 2 : 155 yang isinya seperti ini:

“Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.”

Begitu kata Allah swt. Dia memastikan bahwa akan memberikan ujian bagi kita yang berupa ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Itu Allah swt sendiri yang melakukannya.

Covid-19 jelas sedang merajalela di seluruh dunia. Kalau Allah swt mau, bisa menghentikannya dalam sekejap. Akan tetapi, Allah swt membiarkannya menyebar di antara manusia di seluruh dunia. Covid-19 jelas menimbulkan ketakutan, kesakitan, dan kematian. Kemudian, manusia berupaya melawannya dengan lockdown, PSBB, PPKM, atau istilah lain, bergantung negaranya. Upaya manusia itu menimbulkan risiko kekurangan harta  dan kelaparan yang tidak bisa dihindari. Untuk mengurangi risiko itu manusia menjalankan Bansos serta mengatur jarak dan waktu interaksi di antara manusia agar pandemi bisa segera berakhir, tetapi ekonomi tetap jalan meskipun harus jauh berkurang dibandingkan sebelumnya. Oleh sebab itu, manusia berupaya menciptakan vaksin agar terjadi kekebalan terhadap virus corona. Begitulah yang terjadi.

Kalau merujuk ke QS Al Baqarah, 2 : 155, kunci untuk menghadapi ujian ini adalah kesabaran.

“ … Sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.”

Orang-orang yang sabar akan sukses melewati pandemi ini dengan kegembiraan luar biasa. Sabar itu bukan berarti diam, tetapi tetap mengikuti proses ini dengan tenang, berupaya berperilaku baik, bekerja sama dengan orang lain, mengembangkan pengetahuan untuk melawan virus, bersikap ilmiah, serta yang terutama adalah tetap beriman kepada Allah swt dan yakin bahwa pertolongan Allah swt segera tiba.

Kalau tidak sabaran, berarti gagal menghadapi ujian Allah swt. Tidak ada kabar gembira bagi orang-orang yang tidak sabar.

Kalau pengen lebih jelas, bisa tanya tentang arti sabar kepada ustadz-ustadz yang mencerahkan, bukan ustadz yang suka menimbulkan kemarahan dan kebencian.

Begitu ya. Kalau yang saya tulis ini benar, berarti itu dari Allah swt. Kalau salah, berarti saya yang bodoh.

Begitu, Bro.

Sampurasun.

Saturday, 29 May 2021

Oleh-oleh Dashi ke-5

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Pada Jumat, 28 Mei 2021, saya diminta Himpunan Mahasiswa Hubungan Internasional (Himhi), Fisip, Unfari, untuk menjadi pemateri dalam acara Dashi dengan judul “Perubahan Konfigurasi Politik Global karena Pandemi Covid-19”. Dashi itu singkatan yang kepanjangannya adalah “Diskusi Asyik Seputar Hubungan Internasional”. Itu adalah ajang mahasiswa Himhi untuk berdiskusi dengan menyenangkan tentang segala hal berkaitan dengan hubungan antarnegara. Saya sendiri berharap bahwa bukan hanya saya atau dosen sruktural yang menjadi pemateri atau pengantar diskusi, melainkan pula seluruh dosen yang berada di lingkungan Prodi HI, Fisip, Unfari, untuk bergiliran berpartisipasi karena di samping mendapatkan pengetahuan, juga mendorong keakraban antara dosen dengan mahasiswa. Saya sendiri memposisikan diri sebagai teman mereka, tidak merasa lebih pintar, tetapi berharap ada pemahaman baru yang menambah ilmu pengetahuan bagi saya dari diskusi dengan mahasiswa.

            Tulisan ini hanya ingin berbagi sedikit oleh-oleh singkat pengetahuan dari acara Dashi ke-5 tersebut. Materi saya mulai dengan arti konfigurasi, politik, dan pandemi Covid-19. Konfigurasi itu artinya bentuk, wujud, atau format. Politik artinya segala hal yang berkaitan dengan kekuasaan. Pandemi ya berarti segala hal yang berkaitan dengan wabah Covid-19.




            Dalam materi yang saya paparkan memang saya tidak melihat adanya perubahan format politik hubungan antarnegara yang disebabkan oleh Pandemi Covid-19. Dunia tetap anarkis, tidak ada ketertiban dan tak ada satu pun negara yang patuh kepada negara lainnya. Semua masih seperti biasa, mementingkan dirinya masing-masing. Hubungan yang terjadi ya disebabkan oleh kepentingannya sendiri-sendiri. Kalaupun ada konflik, perselisihan, bahkan perang, bukan disebabkan oleh pandemi. Pertengkaran itu memang sudah ada sebelum pandemi, misalnya, Amerika Serikat berseteru dengan Cina karena memang sudah perang dagang sebelumnya. Konflik di Suriah juga sudah terjadi bertahun-tahun sebelum pandemi. Israel Vs Palestina apalagi sudah terjadi secara rutin, tak ada kaitan dengan pandemi. Hal yang saya lihat justru adanya saling bantu di antara negara-negara untuk melawan Covid-19 yang dianggap masalah bersama. Mereka saling tukar informasi dan berupaya berbagi vaksin untuk rakyatnya meskipun dilakukan dengan cara bisnis.

            Di samping itu, ada persaingan sehat di antara negara-negara yang mampu memproduksi vaksin untuk berlomba menghasilkan vaksin terbaik dan murah, Indonesia pun termasuk dalam persaingan itu dengan mencoba memproduksi Vaksin Merah Putih atau Vaksin Gotong Royong. Itu persaingan sehat yang akan memunculkan ilmu baru dalam bidang kesehatan.

            Kalaupun ada pertikaian politik yang disebabkan pandemi Covid-19, justru terjadi di dalam negeri masing-masing. Pihak oposisi biasanya menggunakan penurunan kesehatan, penurunan ekonomi, dan kelemahan sosial sebagai amunisi, peluru untuk menembak pemerintah yang sedang berkuasa. Mereka menyalahkan pemerintah atas berbagai penurunan dan kelemahan itu, padahal berbagai penurunan itu diakibatkan oleh Covid-19. Dalam kehidupan perebutan politik, itu biasa digunakan pihak oposisi agar rakyat tidak percaya kepada pemerintah, kemudian pihak oposisi mendapatkan keuntungan yang akhirnya berharap untuk menggulingkan pemerintah yang sah, lalu kekuasaan jatuh ke tangan pihak oposisi. Jadi, peningkatan perseteruan politik justru terjadi di dalam negeri.

            Bisa saja Pandemi Covid-19 ini mengakibatkan konflik antarnegara, bahkan kehidupan dunia jika ketersediaan vaksin tidak merata. Negara yang mampu memproduksi vaksin sendiri dan yang mampu membeli vaksin menggunakan vaksin sebagai alat untuk menekan negara lainnya yang tidak memiliki kemampuan untuk memproduksi dan tidak memiliki kemampuan untuk membelinya. Negara yang kuat berupaya menekuk dan menguasai negara lemah dengan vaksin yang dimilikinya. Kondisi ini jika berlarut-larut akan membuat perubahan konfigurasi politik dunia. Akan tetapi, situasi seperti ini sampai saat tulisan ini dibuat, tidak terjadi. Bahkan, organisasi-organisasi dunia menyerukan negara-negara yang maju untuk berbagi vaksin pada negara-negara lemah dan miskin.

            Karena memang perubahan konfigurasi politik global yang disebabkan pandemi Covid-19 sulit dibuktikan keberadaannya, diskusi dalam Dashi tersebut bergeser ke situasi sosial dalam negeri di Indonesia dan ke arah kualitas vaksin berdasarkan pemahaman yang mahasiswa dapat dari berbagai Medsos yang mereka miliki. Hal itu terutama dalam hal kepercayaan masyarakat terhadap program vaksinasi yang dilakukan pemerintah. Dari diskusi tersebut, mayoritas mahasiswa percaya terhadap vaksin yang disediakan pemerintah karena dianggap lebih valid di samping mereka sendiri mendapatkan banyak pemahaman tentang vaksin di lingkungannya masing-masing. Saya sendiri menjelaskan bahwa saya sudah divaksin dua kali dan biasa-biasa saja, malahan lebih percaya diri meskipun tetap harus menjaga protokol kesehatan.

            Demikian oleh-oleh pengetahuan yang bisa saya bagi dari Diskusi Asyik Hubungan Internasional yang digelar Himpunan Mahasiswa HI, Fisip, Unfari.

            Mau ikutan diskusi?

            Boleh.

            Ikutan saja kuliah dengan menjadi mahasiswa Universitas Al-Ghifari.

            Sampurasun.

Saturday, 21 November 2020

Belajar dari Snouck Hurgronje

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Nama Snouck Hurgronje tidak lepas dari sejarah Aceh. Tokoh ini selalu menarik untuk dikaji sehingga setiap membaca tentang dirinya dari berbagai buku, artikel, dan bahkan mendengar dari diskusi-diskusi terbatas selalu ada informasi baru berkaitan dengan sepak terjangnya dalam menaklukan Aceh.

            Aceh dapat dikatakan sebagai wilayah terkuat di Indonesia ini dalam melawan penjajah Belanda. Ketika raja-raja dan sultan-sultan di seluruh wilayah Indonesia ini sudah tunduk pada keinginan Belanda, Aceh masih tegak berdiri melakukan perlawanan.

            Snouck Hurgronje adalah tokoh pemikir yang selalu mendapat perhatian Belanda. Hasil pemikirannya kadang digunakan, kadang tidak oleh Belanda dalam menyusun strategi mengatur wilayah jajahan di Indonesia.

            Dalam menundukkan Aceh, Belanda selalu melakukan dua cara, yaitu negosiasi dan kekerasan terhadap kesultanan Aceh. Akan tetapi, Belanda tidak pernah berhasil. Snouck Hurgronje berpendapat bahwa untuk mengalahkan Aceh, tidak bisa dilakukan dengan negosiasi, tetapi dengan kekerasan penuh. Kekerasan itu jangan dilakukan terhadap kesultanan, tetapi harus diarahkan terhadap para ulama. Hal itu disebabkan perlawanan rakyat Aceh adalah di bawah kendali para ulama. Jadi, ulama yang harus dibasmi.

            Pendapat Snouck Hurgronje tidak dipercayai oleh Belanda. Penjajah Belanda tetap melakukan negosiasi dan kekerasan terbatas terhadap kesultanan. Sementara itu, perlawanan tetap keras dari para ulama dan pengikutnya.

            Sebagai seorang pemikir, Snouck Hurgronje selalu memiliki rasa penasaran terhadap Islam. Oleh sebab itu, ia berpura-pura menjadi orang Islam, mengucapkan syahadat, melakukan ritual islami, dan tinggal di Jedah, Arab Saudi, hingga berhasil menginjakkan kakinya di Masjidil Haram, Mekah. Ia pun dihormati dan diberi gelar, seperti, mufti dan syekh.

            Hubungan dengan kaum muslimin pun semakin dekat. Bahkan, kata-katanya dianggap sebagai ajaran Islam.

            Kalimat yang diucapkan Snouck Hurgronje dan sangat berpengaruh bagi rakyat muslim Aceh adalah, “Dunia ini ibarat anjing. Anjing itu najis. Oleh sebab itu, umat Islam tidak boleh mendekati dunia karena dunia itu najis!”

            Seperti itulah yang diajarkan Snouck Hurgronje. Entah dari mana kalimat itu berasal. Akan tetapi, kalimat itu mempengaruhi kaum muslimin Aceh. Akibatnya, rakyat Aceh terlalu banyak tinggal di masjid-masijd, terfokus pada ibadat-ibadat ritual, seperti, berbagai macam shalat, dzikir, doa-doa, dan kegiatan-kegiatan keagamaan lainnya. Sementara itu, ibadat yang sifatnya umum, seperti, bekerja, belajar, berlatih, bersosialisasi, dan berpolitik, jauh menurun, sangat berkurang.

            Hal ini terjadi bertahun-tahun dan terus-menerus. Ini pula yang membuat Aceh menjadi lemah. Pengetahuan, pengalaman, keterampilan, dan fisik orang-orang Aceh melemah. Hal ini mudah dipahami karena orang-orang Aceh perhatiannya terpusat pada kegiatan ritual, sedangkan sosial-politik-teknologi jauh berkurang.

            Pada saat itulah Belanda mendapatkan kesempatan emas untuk menaklukan Aceh. Belanda melakukan serangan. Rakyat Aceh pun melawan, tetapi situasinya sudah jauh lebih lemah dibandingkan dulu. Perlawanan heroik Cut Nyak Dien dan Cut Meutia pun harus menemui kekalahan. Akhirnya, Belanda mendeklarasikan kemenangannya pada 1903. Cut Nyak Dien meninggal di Sumedang, Jawa Barat, pada 1908.

            Pelajaran apa yang bisa kita ambil dari persitiwa bersejaran itu?

            Pelajarannya adalah jangan menghinakan dunia. Kehidupan dunia adalah ladang bagi kehidupan akhirat. Pencarian kehidupan dunia adalah modal untuk akhirat. Ibadat umum dan ilmu dunia harus seimbang dengan ibadat khusus dan ilmu akhirat, tidak boleh berat sebelah karena begitulah seharusnya. Pengetahuan dan keterampilan duniawi harus pula berimbang dengan pemahaman akhirat. Begitulah yang diajarkan Allah swt.

            Perhatikan firman Allah swt dalam QS Al Jumuah, 62 : 10:

 

            “Apabila shalat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di Bumi, carilah karunia Allah, dan ingatlah Allah banyak-banyak agar kamu beruntung.”

            Perhatikan dengan baik ayat itu. Jika ibadat ritual telah dilaksanakan, bertebaranlah di muka Bumi, beraktivitaslah dengan manusia lainnya. Kita harus mencari karunia Allah swt sebanyak-banyaknya. Karunia itu bisa berupa uang, harta-benda, ilmu pengetahuan, dan lain sebagainya. Kita harus punya uang agar bisa membangun masjid, pesantren, lembaga pendidikan, berangkat haji dan umroh, berkurban, dsb.. Kita harus punya uang agar bisa bayar pajak sehingga bisa membangun jalan, jembatan, Puskesmas, rumah sakit, membiayai TNI, Polri, ASN, gedung-gedung megah, lembaga-lembaga positif untuk masyarakat, dan lain sebagainya.

            Kalau tidak punya uang, kita akan selalu menjadi pengemis dan berharap bantuan dari orang lain atau pemerintah.

            Kita harus belajar banyak ilmu pengetahuan sehingga di antara kita ada yang bisa menjadi dokter, tentara, polisi, ahli ekonomi, ahli masyarakat, ahli ilmu jiwa, arsitektur, pembuat mobil, motor, pesawat terbang, ahli sejarah, arkeologi, ahli bahasa, ahli ilmu politik, ahli kelautan, dan lain sebagainya. Dengan berbagai pengetahuan itulah kita bisa berkembang dan maju sebagai umat-umat yang bermanfaat bagi manusia dan dipertimbangkan kekuatannya oleh pihak-pihak lain. Dengan manfaat yang kita berikan kepada sesama manusia itulah, kita bisa mempersembahkan hasil karya kita kepada Allah swt untuk dihitung sebagai amal kebaikan dan bukti syukur kita yang telah diberikan otak dan fisik yang baik oleh Allah swt.

            Jangan tinggalkan dunia. Jadikan dunia sebagai ladang untuk hasil di akhirat.

            Hal yang dilarang itu adalah kita diperbudak oleh dunia sehingga kita selalu dipusingkan duniawi dan melupakan akhirat. Kehidupan dunia tidak boleh digunakan untuk berbangga-bangga dan melecehkan orang lain, apalagi sampai bermaksiat kepada Allah swt. Pandangan kita harus selalu untuk kehidupan akhirat, tetapi jangan melupakan dunia.

            Seimbangkan dunia dan akhirat dalam kehidupan kita. Contohlah Aceh yang sangat perkasa dan tidak bisa ditaklukan Belanda karena kecerdasan para ulamanya yang mampu menyeimbangkan ibadat ritual dengan ibadat umum. Akan tetapi, ketika terlalu fokus pada ibadat ritual, dunianya pun lemah dan sejarah menunjukkan Aceh pun dapat dikuasai Belanda.

            Kalau ada yang mau diskusi soal ini, boleh. Kalau ada yang memberikan masukan dan koreksi pun boleh, bahkan membantah pun bagus, asal dengan niat yang baik dan bahasa yang baik.

            Sampurasun.

Sunday, 10 September 2017

TPF Rakhine-Rohingya Harus Jujur

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Berita-berita tentang kejahatan kemanusiaan di Rakhine, Myanmar terhadap Rohingya beredar kalang kabut bercampur hoax. Kita harus ingat setiap kejadian yang di dalamnya kaum muslimin terllibat adalah berita paling seksi bagi media massa asing dan dapat menarik keuntungan materi yang sangat besar. Oleh sebab itu, sering sekali berita tentang kaum muslimin ditambah-tambahi, dikurangi, atau direkayasa demi kepentingan ekonomi dan politik. Oleh sebab itu, kerja dari Tim Pencari Fakta (TPF) yang dibentuk PBB dan diketuai oleh Marzuki Darusman harus jujur, utuh, lengkap, dan menyeluruh. TPF harus mengumpulkan fakta dan tidak boleh berpihak pada salah satu pihak, baik berpihak pada penguasa Myanmar maupun pada kaum muslim Rohingya. TPF harus netral dan tidak boleh terpengaruh oleh emosinya sendiri.

            Agar TPF dapat bekerja optimal dan maksimal, Indonesia dan dunia harus mendorong tim ini bekerja dengan sangat baik dan mendorong pemerintah Myanmar agar memberikan akses yang penuh untuk diselidiki. Dengan gambaran fakta yang jujur dan utuh, akan dapat dilakukan analisis yang tepat untuk menyelesaikan konflik yang terjadi sehingga semua pihak dapat diuntungkan, baik dunia, kaum Rohingya, maupun pemerintah dan seluruh warga Myanmar.

            Sekarang ini terjadi saling tuduh antara pemerintah Myanmar dan dunia internasional yang semuanya belum tentu benar. Myanmar belum tentu benar dengan pengakuannya, dunia termasuk Indonesia juga belum tentu benar dengan tuduhannya. Di sinilah celah timbulnya hoax-hoax yang akan memperkeruh suasana, apalagi dengan adanya kelompok-kelompok Islam yang berniat pergi ke Myanmar untuk membela dan berperang bagi Rohingya. Situasi bisa menjadi tambah rumit.

            Semua harus membuka diri bagi kerja-kerja TPF agar seluruh dunia melihat fakta yang terjadi dengan lebih utuh. Dengan demikian, penyelesaian terhadap krisis kemanusiaan tersebut bisa diatasi dengan cara yang saksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya, bukan lebih cepat, lebih baik, bukan pula lanjutkan. Begitu yang ditulis dalam teks Proklamasi RI.

            Berita atau ceritera yang beredar saat ini belum tentu benar karena tampak sekali setiap orang sudah berpihak, baik kepada Myanmar maupun kepada kaum Rohingya sehingga yang membela Myanmar menyalahkan Rohingya dan yang membela Rohingya menyalahkan Myanmar.

            Hal pertama yang harus dilakukan adalah jelas menghentikan kekerasan terhadap siapa pun dan oleh siapa pun. Akan tetapi, penghentian kekerasan saja sama sekali tidak cukup. Diperlukan upaya lanjutan agar situasi lebih kondusif secara permanen, yaitu Myanmar dapat mengelola negaranya dengan lebih baik dan damai serta kaum muslim Rohingya dapat berperan serta secara positif dalam pembangunan di Myanmar sebagai warga negara yang sah. Di samping itu, setiap kejahatan oleh siapa pun terhadap siapa pun harus dimusuhi bersama, baik oleh kaum muslim Rohingya maupun oleh pemerintah Myanmar. Untuk itulah, diperlukan Tim Pencari Fakta yang jujur dan memiliki akses yang luas agar mendapatkan fakta-fakta yang dapat dijadikan dasar untuk menganalisis situasi sehingga krisis kemanusiaan dan “kesusahan” di Myanmar bisa diatasi.


            Sampurasun

Thursday, 20 July 2017

Mereka Tetangga Kita

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Sebagaimana tulisan yang lalu berjudul Mendamaikan Dunia, perdamaian dunia sesungguhnya harus dimulai dari kehidupan bertetangga yang baik. Hak dan kewajiban kita dalam bertetangga secara minimal ada di tulisan saya yang lalu itu, masih di blog ini juga.

            Siapa saja tetangga kita itu sebenarnya?

            Aisyah ra, perempuan cantik dan cerdas yang dinikahi Muhammad saw ketika usianya masih sembilan tahun itu menjelaskan bahwa tetangga kita adalah enam puluh rumah yang berada di sekitar rumah kita. Sejumlah itulah tetangga kita. Dengan merekalah hak dan kewajiban bertetangga harus dibangun agar tercipta kehidupan yang lebih menyenangkan, harmonis, tenang, tenteram, dan damai.

            Adapun jenis-jenis tetangga, diterangkan langsung oleh Nabi Muhammad saw.

            Kata Muhammad saw, “Tetangga itu ada tiga macam, yaitu: tetangga yang hanya memiliki satu hak, yakni orang musyrik. Ia hanya memiliki hak tetangga. Tetangga yang memiliki dua hak, yaitu seorang muslim. Ia memiliki hak tetangga dan hak Islam. Selain itu, tetangga yang memiliki tiga hak, yaitu tetangga, muslim, memiliki hubungan kerabat. Ia memiliki hak tetangga, hak Islam, dan hak silaturrahim.” (Thabrani)

            Tetangga yang berbeda agama dengan kita ataupun mengaku tidak beragama alias ateis termasuk dalam kategori tetangga musyrik. Bagi Islam, siapa pun yang tidak mengakui Allah swt sebagai Tuhan dan tidak mengakui Muhammad saw sebagai nabi, dia adalah musyrik. Orang ateis yang tidak percaya Tuhan dan tidak beragama pun sebenarnya musyrik karena dia memiliki Tuhan. Bedanya, Tuhan mereka adalah benda ataupun makhluk hidup. Hal itu disebabkan arti kata Tuhan adalah sesuatu yang dipentingkan di atas segalanya. Jika mereka mementingkan uang, uanglah Tuhan mereka. Jika mereka mementingkan seks, sekslah Tuhan mereka. Demikian pula jika mereka mementingkan hal lain, hal lain itulah yang menjadi Tuhan mereka. Bagi Islam, Allah swt adalah sesuatu yang dipentingkan di atas segalanya. Tak ada yang lebih penting dibandingkan Allah swt.

            Apa pun keyakinan dan agama mereka, jika termasuk di dalam jumlah enam puluh rumah di sekitar kita, mereka memiliki hak tetangga yang harus kita penuhi. Hak-hak mereka secara minimal ada dalam tulisan saya yang lalu berjudul Mendamaikan Dunia. Pelajari saja. Kita berkewajiban memenuhi hak-hak mereka sebagai tetangga mereka.

            Tetangga jenis kedua adalah tetangga yang sama-sama beragama Islam dengan kita. Mereka memiliki dua hak yang wajib kita penuhi, yaitu hak sebagai tetangga dan hak sebagai muslim atau hak Islam.

            Apa saja hak muslim terhadap muslim lainnya?

            Banyak dan bisa dipelajari pada berbagai ayat Al Quran dan hadits. Cari saja.

            Tetangga jenis ketiga adalah tetangga yang memiliki tiga hak. Mereka adalah tetangga yang sama-sama beragama Islam dan memiliki hubungan keluarga atau hubungan darah dengan kita. Hak mereka yang wajib kita penuhi adalah hak sebagai tetangga, hak sebagai sesama Islam, dan hak sebagai saudara sedarah yang harus selalu diikat dalam hubungan silaturahmi.

            Merekalah tetangga kita. Kita berkewajiban memenuhi hak-hak mereka. Begitulah Islam mengajarkan bagaimana caranya agar dunia ini hidup dalam keadaan seimbang dan damai. Kitalah sesungguhnya sinar dan cahaya Illahi bagi dunia ini. Kita seharusnya secepatnya sadar bahwa selama ini kita menutup cahaya Allah swt yang ada dalam dada kita sehingga lingkungan di sekitar kita selalu gelap, bahkan diri kita pun selalu dalam keadaan gelap. Hal itu disebabkan kita tidak pernah atau belum seutuhnya membuka cahaya hati kita untuk lingkungan sekitar kita. Jika setiap muslim membuka hatinya dan pikirannnya untuk menerangi tetangga di sekitarnya, dunia akan aman, tenang, damai, dan harmonis. Itulah rahmatan lil alamin.


            Sampurasun.

Tuesday, 18 July 2017

Mendamaikan Dunia

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Setiap manusia waras dan sehat otak pasti menginginkan perdamaian. Hanya para anak buah syetan dan Iblis yang tidak menginginkan perdamaian di antara manusia di dunia ini. Mayoritas manusia menginginkan perdamaian, ketenangan, keharmonisan, dan ketertiban. Dunia ingin perdamaian, tetapi manusia tetap berada dalam konflik, baik itu konflik politik maupun konflik ekonomi. Hal itu jelas menunjukkan bahwa manusia kehilangan arah dan kehilangan cara untuk memperbaiki kehidupan dalam menata pergaulan di antara hubungan manusia.

            Sesungguhnya, jalan perdamaian itu bukan ada di langit atau dalam angan-angan setiap ahli pikir, melainkan ada di dalam diri manusia sendiri. Permasalahannya adalah apakah manusia mampu dan mau menggunakan dirinya sendiri untuk terciptanya perdamaian atau tidak.

            Saya memiliki teori tentang perdamaian ini. Apabila kita ingin dunia damai, setiap negara harus terlebih dahulu membuat negaranya sendiri aman dan damai. Jika setiap negara damai di dalam negerinya sendiri, perdamaian itu akan mendorong perdamaian manusia di dunia. Jika di dalam setiap negara tidak ada kedamaian, pengaruh konflik di negara itu akan mendorong konflik dunia. Jika setiap negara damai, mereka akan berinteraksi secara damai pula. Negara yang kalut akan melakukan interaksi dengan negara lain secara kalut pula.

            Untuk menciptakan negara yang aman dan damai, setiap wilayah atau setiap provinsi di negara itu harus berada dalam keadaan damai pula. Untuk mendapatkan provinsi yang aman, setiap kota di provinsi tersebut harus aman dan damai pula. Agar setiap kota aman dan damai, masyarakat di kota itu harus berada dalam kehidupan yang tertib, aman, dan damai. Agar kehidupan masyarakat damai, hubungan bertetangga pun harus aman dan damai. Kehidupan bertetangga yang damai didahului oleh terbentuknya keluarga-keluarga yang damai. Untuk menjadi keluarga yang damai, setiap orang di dalam keluarga tersebut harus berdamai dengan dirinya dan selalu menciptakan hubungan yang baik dan aman di dalam keluarga tersebut. Jadi, kunci perdamaian dunia adalah adanya keinginan dan perubahan yang baik dalam setiap diri manusia untuk berperan serta dalam mewujudkan kehidupan yang harmonis.

            Begitu bro.

            Tidak susah kan?

            Sesungguhnya tidak sulit. Hal yang membuat sulit adalah kebiasaan kita yang sering menyalahkan orang lain sebagai pengganggu perdamaian, tetapi kita sendiri tidak berupaya mengoreksi diri dan tidak membuat diri kita menjadi orang yang lebih baik.

            Jika setiap orang berperilaku baik di dalam keluarganya, ia akan menjadi tetangga yang baik sehingga menciptakan situasi yang menyenangkan dan penuh kedamaian. Tentang kehidupan bertetangga yang baik, ada pengalaman hebat yang kemudian menjadi ajaran Islam. Pengalaman itu tentunya pengalaman Nabi Muhammad saw sendiri.

            Nabi Muhammad saw pernah dinasihati Malaikat Jibril berulang-ulang dan terus-menerus tanpa henti tentang kehidupan bertetangga. Perilaku Jibril itu mengherankan Nabi Muhammad saw. Dia merasa aneh mengapa Jibril sangat memperhatikan tetangga seolah-olah merupakan hal yang sangat penting sehingga terus saja bicara berulang-ulang kepada Nabi Muhammad saw.

            Kata Nabi, “Tak henti-hentinya Jibril memberikan nasihat kepadaku tentang tetangga sehingga aku menduga bahwa ia akan memberikan warisan kepadanya.” (Bukhari, Muslim, Abu Daud, Ibnu Majah, dan Tirmidzi)

            Saking pentingnya soal tetangga ini, Jibril bersikap seolah-olah akan mewariskan harta benda yang sangat banyak kepada tetangga Nabi Muhammad saw sendiri. Jibril mewanti-wanti Nabi Muhammad saw soal tetangganya, ini hingga membuat heran Nabi sendiri.

            Nasihat Jibril tentang tetangga ini ada sembilan hal yang penting, yaitu:

1. Jika ia minta pertolongan, tolonglah dia
2. Jika ia sakit, jenguklah dia
3. Jika ia meninggal, uruslah jenazahnya
4. Jika ia memohon pinjaman, pinjamilah dia
5. Jika ia mendapatkan kesenangan, ucapkanlah selamat kepadanya
6. Jika ia tertimpa musibah, sabarkanlah
7. Janganlah rumah mereka engkau tutup dengan bangunanmu sehingga mereka terhalang mendapatkan udara, kecuali dengan izinnya
8. Janganlah mengganggu mereka dengan bau masakanmu, kecuali kalau kauberi mereka ala kadarnya
9. Jika engkau membeli buah-buahan, hadiahilah mereka. Kalau hal itu tidak engkau lakukan, bawalah masuk ke dalam rumah dengan cara rahasia dan janganlah anakmu membawanya keluar yang menyebabkan anak tetangga itu menginginkannya.

            Tentang poin yang kesembilan, Nabi Muhammad saw mengajari kita, “Jika engkau memasak sayur, perbanyaklah kuahnya. Lalu, lihatlah keluarga tetanggamu, berikanlah sebagiannya kepada mereka dengan cara yang baik.” (Muslim)

            Bayangkan Saudara, jika kita menjadi tetangga yang baik dan tetangga kita pun berbuat baik kepada kita, kehidupan yang baik akan terjadi di sekitar kita. Itu artinya, kita sudah menciptakan perdamaian di lingkungan terdekat kita. Jika kehidupan masyarakat sudah baik dan harmonis, negara pun akan damai. Jika setiap negara damai, dunia pun akan damai pula.

            Mudah, bukan?

            Tidak perlu banyak teori untuk menciptakan perdamaian. Jadikanlah diri kita orang baik bagi tetangga kita sehingga tetangga kita pun akan menjadi orang baik terhadap kita.

            Bagaimana jika tetangga kita itu tidak baik terhadap kita dan terhadap tetangganya sendiri?

            Kata Nabi Muhammad saw, “Mulailah dari diri sendiri, mulai dari hal yang paling kecil, dan mulai lakukan saat ini juga.”

            Menjadi tetangga yang baik bagi tetangga kita akan mewujudkan perdamaian dunia. Insyaallah.


            Sampurasun

Friday, 24 March 2017

Prabu Siliwangi di Mata Anak Muda

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Sosok Nabi Prabu Siliwangi as memang unik. Ia sangat terkenal, terutama di masyarakat Sunda. Anak muda Sunda dapat dikatakan seluruhnya mengenal Prabu Siliwangi. Rata-rata anak muda Sunda menganggap Prabu Siliwangi adalah bagian dari dirinya atau dirinya yang merupakan bagian dari diri Prabu Siliwangi. Apabila ada anak muda Sunda yang belum mengenal sosok Prabu Siliwangi, hanya dengan mendengar satu atau dua dongeng Prabu Siliwangi, dengan cepat dirinya segera terintegrasi dengan sosok Prabu Sililwangi.

            Meskipun dalam sosok Prabu Siliwangi masih banyak hal yang misterius, anak-anak muda Sunda tetap menghormatinya sebagai leluhur, panduan bersikap, serta teladan dalam menjalankan pemerintahan. Sambil terus mencari informasi yang benar dan lengkap mengenai Prabu Siliwangi, anak-anak muda Sunda tak pernah melepaskan nama Prabu Siliwangi dari jiwanya.

            Pada masyarakat Sunda sosok Prabu Siliwangi berada dalam dua dimensi, yaitu dimensi sejarah dan dimensi sastra. Dalam dua dimensi itu Prabu Siliwangi tidak pernah menjadi tokoh yang buruk atau lemah. Prabu Siliwangi selalu berada di atas angin, selalu positif, serta selalu menang dan selalu menjadi rujukan dalam memecahkan masalah.

            Karna Yudibrata melakukan penelitian tentang hal ini dengan menggunakan metode campuran kualitatif dan kuantitatif. Hal itu dapat dilihat dari bentuk pertanyaan-pertanyaan yang digunakannya kepada anak-anak muda, yaitu sebagian bersifat tertutup, sebagian lagi bersifat terbuka. Hasilnya disusun menjadi makalah berjudul Pandangan Masyarakat Umum tentang Silihwangi Khususnya dalam Perspektif Kaum Muda (Cermin yang Agung dan Samar) (1991). Berikut hasil penelitiannya.


Prabu Siliwangi sebagai Tokoh Sejarah
Sebagai tokoh sejarah, anak-anak muda mengenal Prabu Siliwangi dari namanya yang besar dan mashyur. Nama Siliwangi merupakan salah satu ukuran keberhasilan Padjadjaran yang melambangkan kejayaan dan nilai terbaik tatar Sunda pada masa yang lampau.

            Adapun sifat-sifat perilaku personal Siliwangi menurut persepsi kaum muda adalah bersih dan keras hati, jujur dan berbudi luhur, berperasaan halus, tabah dan pantang mundur, perwira dan ksatria, adil, arif dan bijaksana, berwibawa, berhati mulia dan rendah hati.

            Sifat-sifat perilaku sosialnya adalah kasih sayang (heman) kepada sesama manusia, tidak berkuasa secara semena-mena, menghormati hak orang lain, pelindung dan pengayom yang lemah, berdedikasi tinggi dan rela berkorban untuk kepentingan kesejahteraan rakyat, serta cinta tanah air.

            Sifat-sifat perilaku kultural Siliwangi menurut persepsi kaum muda adalah pembawa kejayaan dan kebesaran serta ketinggian martabat hidup dan kehidupan di Padjadjaran, pembawa gagasan/ide baru dalam bidang pemerintahan, pertahanan, keamanan, pertanian, ilmu perang, kerajinan, sistem kepercayaan dan upacara religius, santun bahasa dan kesenian, serta penggalang persatuan raja-raja atau bupati-bupati setatar Sunda.


Prabu Siliwangi sebagai Tokoh Sastra (folklore)
Tokoh Prabu Siliwangi lebih dikenal melalui kisah-kisah rakyat dan dongeng-dongeng kepahlawanan dibandingkan melalui sejarah. Catatan dongeng-dongeng Prabu Siliwangi jumlahnya jauh berlipat-lipat dibandingkan catatan sejarah. Hal itu mudah dipahami karena rakyat lebih menyukai dongeng-dongeng heroik penuh kesaktian dan penaklukan terhadap pihak-pihak jahat dibandingkan memahami sejarah yang benar-benar hidup dan ada secara nyata.

            Sebagai tokoh sastra, perilaku personal Prabu Siliwangi adalah putera raja di Bumi yang tampan tiada tara,  sakti (dapat menghilang, tilem, ngahiang), luar biasa, petualang ulung, pertapa, anggun dan agung.

            Perilaku sosial sebagai seorang raja diraja adalah suami yang gagah perkasa penakluk puluhan puteri cantik, kebal, penakluk/pemenang dalam berbagai sayembara, toleran terhadap pemeluk agama lain/baru, pahlawan yang memindahkan ibukota kerajaan, pembuka hubungan internasional melalui Pelabuhan Sunda Kelapa.

            Perilaku kultural Prabu Siliwangi sebagai seorang maharaja yang legendaris adalah penyebab lahirnya berbagai sasakala (asal mula sesuatu) dan seuweu siwi (putera puteri, anak cucu) Padjadjaran, lambang kebesaran dan keharuman negara yang menyebabkan lahirnya kehidupan masyarakat yang gemah ripah loh jinawi, sepi paling towong rampog, penggalang kekuatan sosial sekaligus pengayom yang binekas, penabur nilai-nilai kemanusiaan yang luhur dan pencetus berbagai ide vital.


Citra Siliwangi
Citra yang ada dalam diri Prabu Siliwangi menurut seluruh responden sebagai sasaran survey, nilai kata Siliwangi selalu baik, tidak pernah berkonotasi jelek. Siliwangi adalah pemersatu kerajaan-kerajaan di wilayah tatar Sunda. Siliwangi berperan sebagai pembangkit semangat pengabdian yang tanpa pamrih, penggugah semangat kepahlawanan (patriotisme) yang menyala-nyala, sumber ilham dan inspirasi bagi berbagai kegiatan kreatif, peletak dasar-dasar ketahanan negara, pemberi kenangan manis pada seuweu siwi Padjadjaran terhadap suatu masa keemasan yang gilang gemilang, serta pemberi corak khas dan identitas tersendiri pada rakyat Jawa Barat masa lalu dan masa kini.

            Secara umum masyarakat memahami bahwa Prabu Siliwangi pernah lahir, berada, jumeneng raja di Bumi Pertiwi Tatar Sunda. Prabu Siliwangi adalah raja yang agung.


Prabu Siliwangi sebagai Nabi

Di dalam penelusuran yang saya lakukan sendiri yang kemudian saya sandingkan dengan Al Quran, ternyata Prabu Siliwangi adalah nabi yang dipercaya Allah swt untuk mengajarkan Islam pra-Muhammad saw. Dia adalah salah satu nabi dari ribuan nabi kepercayaan Allah swt yang tidak dicatat dalam Al Quran, namun ajarannya tetap ada yang bermuara pada keesaan Allah swt. Nama ajarannya dikenal dengan Sunda Wiwitan. Konsep-konsep yang ada di dalamnya merupakan landasan ajaran Islam yang dibawa Muhammad saw. Ajaran-ajaran budi pekerti dan tingkah laku yang  ada di dalamnya merupakan fondasi bagi pengajaran akhlaqul karimah yang dicontohkan oleh Muhammad saw. Untuk lebih jelasnya, baca tulisan saya yang lalu berjudul Nabi Prabu Siliwangi Alaihissalam.

Teladan bagi Kepemimpinan Dunia
Berdasarkan penelitian Karna Yudibrata (1991) yang saya kutip sebagian tadi sebagai hasil dari survey di kalangan anak muda, Prabu Siliwangi adalah sosok pemimpin pemerintahan yang sangat paripurna. Dia seharusnya dijadikan model seluruh pemimpin di dunia ini dalam menjalankan pemerintahan, dalam melakukan interaksi internasional, dalam menata kehidupan keluarga, dan dalam mengabdikan diri kepada Allah swt. Perilaku pribadi, sosial, dan kultur Prabu Siliwangi jika dapat dimanifestasikan dalam setiap diri manusia, terutama pemimpin pemerintahan di mana saja akan menghasilkan kehidupan yang bahagia lahir dan batin serta menciptakan perdamaian yang seimbang dan harmonis karena tujuan hidupnya hanya satu, yaitu bahagia.

            Siapa pun yang ingin dikunjungi Prabu Siliwangi, contohlah cara hidupnya. Banyaklah bersalawat kepada Nabi Muhammad saw. Mereka berdua sama-sama Nabi Allah swt.

            Sampurasun

Friday, 26 August 2016

Dunia Tidak Akan Damai Jika Masih Diurus Mereka

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya

Dunia sampai hari ini harus diakui masih dikuasai oleh dua pemikiran besar yang memiliki kekuatan nyata dalam politik, ekonomi, dan militer. Kedua kekuatan ini adalah kekuatan kapitalis dan komunis. Belum ada pemikiran lain yang setara dengan kapitalis dan komunis dalam mengendalikan dunia. Itulah sebabnya dunia harus bersabar menderita dan terus menderita hingga ada pemikiran lain yang membuat kapitalis dan komunis tersingkir.

            Kapitalis dan komunis dari dulu sama sekali tidak membuat damai. Mereka selalu rebutan benda, kekuasaan, uang, sumber daya alam, dan kehormatan. Kedua pemikiran itu pun sebenarnya memang lahir dari persengketaan soal benda dan uang. Dengan demikian, apa pun yang dilakukan mereka selalu soal benda dan uang. Tak heran jika mereka terus bersaing memengaruhi dunia agar kelompok merekalah yang menang.

            Negara Indonesia pun sempat mengalami masa-masa teramat kelam akibat dari pertarungan antara kapitalis dan komunis ini. Masa-masa kelam itu memuncak dengan terjadinya G-30-S atau Gestok. Abu dari kekelaman masa-masa itu terbawa hingga hari ini dan menjadi gangguan bagi perkembangan bangsa Indonesia.

            Perang-perang dan pembantaian di dunia yang terjadi sekarang ini pun masih melibatkan pertarungan antara kapitalis dan komunis. Adapun orang-orang Islam yang berada di Timur Tengah sekarang ini sedang bertikai dan saling bunuh, hanyalah pion-pion catur yang mendapat pengaruh dari kapitalis dan komunis. Kaum muslim yang sedang berperang itu seolah-olah sedang berada pada jalan yang benar dengan tujuan mendirikan daulah Islam, padahal jika dilihat lebih jauh, tetap saja yang terjadi sesungguhnya adalah pertarungan antara kapitalis dan komunis dalam arti rebutan benda, uang, dan sumber daya alam.

            Dalam berbagai pemberitaan yang beredar pihak AS dan Rusia sepertinya bersungguh-sungguh untuk mengatasi kisruh yang terjadi di Timur Tengah, terutama di Suriah. Sebenarnya, sulit sekali bisa diyakini bahwa mereka mampu mengatasi konflik atau huru-hara yang terjadi. Hal itu disebabkan mereka mengupayakan perdamaian dengan menyertakan niat untuk mendapatkan keuntungan dari perang yang terjadi dan dari perdamaian yang terjadi. Perang atau damai tetap harus menghasilkan keuntungan bagi mereka. Di samping itu pun, kita bisa melihat dengan jelas bahwa kondisi negeri-negeri yang mereka terlibat di dalamnya tidak pernah selesai dari konflik dan selalu berada dalam bahaya. Kita lihat Irak, Libya, Afghanistan, Somalia, dan lain sebagainya yang tidak pernah sepi dari pertempuran dan pembunuhan. Padahal, jika dilihat dari kekuatan militer untuk “menenangkan” suatu kawasan, sangatlah mudah mereka lakukan. Akan tetapi, kenyataannya “ketenangan” itu tidak pernah terjadi. Katanya “Polisi Dunia”, tetapi tidak mampu menciptakan keamanan. Hal itu disebabkan mereka datang hanya untuk mendapatkan keuntungan dengan kedok “perdamaian dan ketertiban”. Itu semua hanyalah kedok dan akal bulus karena perdamaian dan ketertiban itu tidak pernah terjadi.

            Harus ada kekuatan pemikiran lain yang mampu mengatasi pemikiran mereka. Sebetulnya, Presiden RI ke-1 Ir. Soekarno sudah merancangnya dengan to build a world anew, ‘membangun kembali tatadunia baru’. Pemikiran yang dibawa Soekarno adalah Pancasila dengan mengedepankan kesamaan dan kebersamaan. Seharusnya, pemerintah dan bangsa Indonesia saat ini mampu menawarkan pemikiran yang lebih baik berdasarkan Pancasila untuk menciptakan perdamaian dunia. Kita sebenarnya memiliki pengalaman segudang penuh dalam menyelesaikan berbagai konflik dan pengalaman itu dapat ditawarkan dalam bentuk konsep, proposal, atau gagasan ilmiah yang lebih detail dan rinci. Kita memang memiliki cara yang lebih bermutu dibandingkan AS dan Rusia dalam menciptakan perdamaian dunia. Hal itu disebabkan setiap menyelesaikan masalah, dalam pandangan saya, selama ini Indonesia lebih mengedepankan persatuan, pride dan dignity, tanggung jawab terhadap sejarah, dan gotong royong tanpa mengambil keuntungan sepihak sebagai hasil dari proses penyelesaian konflik yang terjadi. Ambon, Papua, Kalimantan, dan Aceh dapat diselesaikan dengan lebih baik dan meminimalisasi pertumpahan darah. Bahkan, Papua dan Aceh diberi kesempatan besar agar mampu berdiri dengan lebih kokoh dan lebih menikmati sumber daya alamnya dengan pembangunan dan pendidikan yang lebih baik. Mereka tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari wilayah Indonesia lainnya serta tidak menjadi wilayah “jajahan” yang dikeruk untuk keuntungan sepihak. Kalau ada yang berniat curang terhadap mereka, seluruh warga Indonesia dari wilayah lain yang sadar akan melakukan penentangan terhadap kecurangan itu. Itulah yang disebut dengan senasib sepenanggungan.

            Konflik Aceh yang sangat terkenal di dunia berhasil diselesaikan dengan lebih baik meskipun harus terlebih dahulu mendapatkan “campur tangan Allah swt”. Aceh bisa selesai dan tetap dalam pangkuan NKRI karena ada “intervensi langsung dari Allah swt”. Intervensi itu berupa peringatan dari Allah swt yang terwujud dalam bencana “tsunami yang teramat dahysat”. Tanpa tsunami yang datang dari sisi Allah swt secara langsung, saya ragu Aceh bisa lebih tenang seperti hari ini. Mungkin jika tidak ada tsunami, Aceh masih bertikai dengan pemerintah pusat RI. Tsunami yang terjadi benar-benar membuat sulit konflik berkembang terus. Hal itu disebabkan pihak-pihak yang bertikai akan mendapatkan kecaman yang keras dan kehilangan dukungan karena terus melakukan huru-hara di tengah-tengah orang-orang yang sedang menderita dan menyita perhatian dunia. Mau tidak mau Aceh harus berdamai dengan RI dan tetap berada dalam NKRI. Itulah yang namanya Allah swt Maha Berkehendak.

            Indonesia harus mampu menawarkan gagasan yang lebih baik untuk perdamaian dunia berdasarkan pengalaman hidup dan dasar negara Pancasila. Syarat yang paling utama adalah harus terlepas dulu dari ketergantungan pada kapitalis maupun komunis. Jika masih ada ketergantungan itu, jalan untuk memberikan sumbangsih bagi perdamaian dunia masih sangat panjang dan berliku.

            Saya pribadi memiliki keyakinan jika dunia ini diselesaikan dengan berdasarkan pada pengalaman Indonesia menyelesaikan konflik yang dilandasi semangat Pancasila, perdamaian pun akan lebih cepat tercipta. Hal itu disebabkan Pancasila mengajarkan bahwa perdamaian dan persamaan itu harus diwujudkan agar keadilan dapat tercipta dalam rangka mengabdikan diri pada Allah swt. Jadi, bukan menciptakan perdamaian untuk mendapatkan keuntungan sepihak, melainkan untuk kepentingan bersama seluruh umat manusia.

            Sesungguhnya, kapitalis pun ingin berdamai asal …. Nah, kata asal ini yang membuat perdamaian sulit sekali tercipta karena merupakan persayaratan yang harus dipenuhi musuhnya yang belum tentu disetujui. Demikian pula komunis, perdamaian boleh terjadi asal …. Nah, mereka pun memiliki kata asal yang berupa syarat yang membuat segalanya tetap runyam.

            Berbeda dengan Pancasila yang mengharuskan terjadinya perdamaian tanpa ada kata asal …. Pancasila mewajibkan kita untuk saling menghormati dan menghargai dalam menikmati dan memiliki materi sebagai sarana untuk mengabdikan diri kepada Allah swt.

            Dunia tidak akan pernah mengalami perdamaian yang hakiki dan akan terus dalam pertikaian dan permusuhan karena setiap pihak ingin memiliki keuntungan rendah dari pertikaian dan penyelesaian yang terjadi. Pancasila pun tetap tidak akan mampu berbicara banyak di dunia internasional jika bangsa Indonesia masih terikat pada kapitalis atau komunis. Kalau sudah benar-benar terlepas dari kendali kapitalis atau komunis, Indonesia bisa berteriak keras pada dunia untuk segera berhenti dari pertengkaran dengan mengikuti keluhuran budi nusantara dalam menyelesaikan masalah dibandingkan terus-terusan rebutan benda dan uang dengan cara saling bunuh, saling tuduh, saling tuding lewat media-media massa.

            Indonesia memiliki tanda-tanda kekuatan itu.

            Bukankah kita sudah tidak takut membuat kapal para pencuri ikan tenggelam?

            Siapa yang kita takuti?

            Bukankah kita sudah tidak takut untuk menghukum mati para penjahat besar Narkoba meskipun kita dikecam negara-negara lain?

            Siapa yang kita takuti?

            Bukankah kita sudah tidak takut untuk mengklaim kedaulatan wilayah NKRI, baik di darat, di laut, maupun di udara?

            Siapa yang kita takuti?

            Bukankah kita sudah tidak takut menghentikan pesawat terbang asing yang melintasi wilayah udara Indonesia tanpa izin?

            Siapa yang kita takuti?

            Bukankah kita sudah merasa terhina jika ada WNI mendapat perlakuan buruk di negara lain dan mulai memberikan perlawanan terhadap pihak-pihak yang merugikan itu?

            Siapa yang kita takuti?


            Untuk memberikan gagasan mengenai perdamaian dunia, kita sudah memiliki modal yang cukup untuk tegak berdiri. Yang masih harus dilakukan oleh kita semua adalah meningkatkan rasa pede, ‘percaya diri’, bahwa kita mampu memberikan solusi yang teramat baik bagi dunia.