Showing posts with label Perdamaian. Show all posts
Showing posts with label Perdamaian. Show all posts

Friday, 27 March 2026

Donald Trump Bisa Jadi Pahlawan Perdamaian Dunia


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Sesungguhnya, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump bisa menjadi pahlawan perdamaian dunia. Dia bisa membawa banyak kebaikan dan ketertiban di seluruh dunia. Dengan kekuatan ekonomi, politik, dan militer yang sangat kuat, ada banyak masalah yang bisa dia selesaikan dengan sangat baik. Dia bisa dikenal dan dikenang dunia sebagai sosok panutan yang luar biasa positif.


Donald Trump (Foto: CNN Indonesia)


            Gagasannya membentuk Board of Peace (BoP) jika dilaksanakan dengan konsisten, akan meniupkan angin sepoi perdamaian di Gaza yang bisa menenangkan di tengah kawasan penuh konflik. Setelah mengenal Presiden Indonesia Prabowo Subianto yang berani menyediakan pasukan perdamaian, Trump bisa mewujudkan Gaza yang indah sebagaimana yang digambarkan menantunya, Jared Kushner. Warga Gaza dapat hidup lebih tenang dan memiliki masa depan lebih jelas. Dunia akan melihat itu.


Prabowo Subianto (Foto: IDNFinancials.com)


            BoP mendapat banyak dukungan dari negara-negara Arab di kawasan itu, negara-negara Eropa pun sudah mulai menginginkan kemerdekaan terhadap Palestina. Indonesia bersedia menjadi penjaga perdamaian, Pakistan pun bersedia membangun kepolisian Palestina.

            Hambatan apa yang membuat Donald Trump sulit mewujudkan itu semua?

Kalaupun ada kritikan dan dukungan, pro dan kontra tentang BoP, sepanjang menggunakan data dan analisa yang cerdas, itu menyehatkan. Pro dan kontra yang sangat sengit pun akan membuat manusia menjadi tercerahkan. Itu bagus. Akan tetapi, tidak perlu mendengar makian atau nyinyiran yang biasanya berdasarkan hoaks. Para penyinyir pecinta hoaks itu hanya orang-orang yang kurang minum susu. Mereka juga termasuk kelompok orang yang harus masuk program makan bergizi gratis (MBG).

Seandainya, pasukan Indonesia yang saat itu sekitar satu atau dua bulan lagi menginjakkan kakinya di Gaza, situasi akan menjadi lain. Donald Trump mengendalikan Israel, Indonesia menumbuhkan kesamaan pengertian dengan Hamas yang sudah sejak lama merasa bersaudara, Gaza akan mulai terasa lebih indah. Dunia tidak perlu menyaksikan perang yang mempermalukan Amerika Serikat.


New Gaza (Foto: Midle East Eye)


Sayang seribu sayang Saudara-Saudara, Donald Trump memilih mendengarkan Israel. Akhirnya, dia menjadi Dewa Mabuk yang menyedihkan, bukan pahlawan perdamaian dunia. Elit dan rakyat AS harus belajar tentang hal ini. Negara kalian yang  kuat itu jangan dibiasakan menjadi boneka Israel, tak perlu bangga menjadi kaki tangan Israel, kalian rugi sendiri.

Apakah kalian tidak malu, presiden kalian meminta gencatan senjata dan diskusi berkali-kali, tetapi ditolak terus oleh Iran?

Iran yang sering diremehkan ternyata telah memposisikan Trump dan AS menjadi negara yang tampak kesulitan dalam menghadapi perang dengan Iran. Memalukan. Posisi yang seharusnya mulia sebagai pahlawan perdamaian dunia dalam waktu sebentar lagi berubah drastis menjadi pengacau keamanan dan kerusakan ekonomi dunia. Kalian memang rusak, harus mengubah ulang cara pandang dan sikap kalian terhadap dunia.

Nasi sudah menjadi bubur, tak bisa lagi kembali menjadi beras.

Meskipun demikian, selalu ada jalan untuk memperbaiki diri sepanjang kita mau memperbaikinya. Semoga Tuhan memberikan jalan untuk umat manusia agar dapat menciptakan kehidupan dunia menjadi lebih baik. Aamiin.

Foto Donald Trump saya dapatkan dari CNN Indonesia, Prabowo Subianto dari IDNFinancials com, dan New Gaza dari Midle East Eye.

Sampurasun.

Tuesday, 24 March 2026

Israel Takut pada Indonesia


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Perang antara Amerika Serikat (AS)-Israel melawan Iran sudah diketahui dimulai oleh Israel yang kemudian dibalas oleh Iran, lalu AS ikut-ikutan menyerang Iran untuk membantu Israel. Sesungguhnya, keinginan Israel untuk menyerang Iran sudah dimulai sejak AS dipimpin Presiden Barack Obama, tetapi saat itu Obama menolaknya dan lebih percaya pada penyelesaian secara diplomatis. Penyerangan Israel terhadap Iran mendapatkan momen yang tepat karena mendesak adalah saat Presiden AS Donald Trump berkuasa untuk yang kedua kali.

            Dalam suasana kebatinan Israel, penyerangan terhadap Iran adalah situasi yang sangat mendesak dan tepat terjadi saat Indonesia dipercaya dunia untuk menjadi pasukan perdamaian di Gaza versi Board of Peace (BoP), Dewan Perdamaian. Israel sesungguhnya takut kepada Indonesia. Mereka takut sekali jika Indonesia benar-benar menurunkan pasukannya di Gaza, Palestina.

            Indonesia adalah satu-satunya pasukan yang sulit ditolak Israel untuk menjaga perdamaian di Gaza. Israel tidak menemukan alasan yang tepat untuk menolak Indonesia. Berbeda terhadap Turki dan negara lainnya yang mudah sekali ditolak oleh Israel karena memiliki kedekatan spesial dengan Hamas yang dianggap teroris oleh Israel. Indonesia malahan dijadikan alat kampanye oleh Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu dalam menguatkan posisi politiknya di dalam negeri Israel. Foto Presiden Indonesia Prabowo Subianto terpampang di Tel Aviv sebagai pendukung Israel.


Billboard bergambar Prabowo di Tel Aviv (Foto: Tagar.co)


            Foto Prabowo bersama pemimpin lainnya di billboard Tel Aviv saya dapatkan dari Tagar co.

            Prabowo dianggap pelindung Israel karena pidatonya di depan para pemimpin dunia yang menjelaskan tentang keyakinannya terhadap konsep dan semangat “two state solution”, solusi dua negara. Dengan berapi-api Prabowo menjelaskan bahwa perdamaian bisa terjadi jika “Palestina diakui sebagai negara merdeka dan Israel dihormati serta dilindungi keamanannya sebagai sebuah negara berdaulat”. Sayangnya, Israel hanya membesarkan pendapat Prabowo soal perlindungannya terhadap Israel, sama dengan para penyebar hoaks di Indonesia yang memotong-motong kalimat Prabowo tanpa mengikutsertakan kalimat keharusan Palestina merdeka dengan tujuan menyesatkan masyarakat Indonesia.

            Sebelum menurunkan pasukannya, Prabowo meminta kejelasan dan ketegasan Donald Trump untuk keselamatan prajuritnya dan jaminan terlaksananya tugas-tugas perdamaian dan pembangunan di Gaza. Prabowo sempat berdebat dengan Donald Trump soal Israel yang dianggap akan mengganggu upaya perdamaian di Gaza. Bagi Prabowo, Israel adalah masalah utama yang membuat kekacauan di Palestina. Setelah berdebat, Donald Trump memberikan jaminan bahwa Israel akan menjadi urusannya dan memastikan tidak akan membuat gangguan setelah pasukan Indonesia bertugas di Gaza.

            Prabowo menyatakan bahwa Donald Trump menepuk-nepuk dadanya sendiri saat menegaskan bertanggung jawab untuk mengendalikan Israel. Dengan demikian, Prabowo mendapatkan jaminan dari AS untuk menjalankan perdamaian di Gaza tanpa gangguan Israel.

            Tak heran jika Presiden AS Donald Trump memuji-muji Prabowo sebagai orang yang tegas dan cerdas, “Prabowo adalah orang yang tegas dan cerdas, tetapi cerdas adalah lebih baik. Aku tak ingin melawannya, tak ingin berkelahi dengannya.”

            Seperti itu kira-kira Trump memuji Prabowo.

            Situasi yang semakin hari semakin membuka jalan bagi pasukan Indonesia untuk berada di Gaza membuat Israel ketar-ketir karena tidak bisa lagi seenaknya membuat kerusakan di Palestina seperti yang sudah-sudah. Paling tidak, ada dua faktor yang membuat Israel ciut, yaitu pertama, Presiden AS Donald Trump akan menolak Israel untuk mengganggu perdamaian dan pembangunan di Gaza. Kedua, kesulitan untuk berhadapan dengan pasukan Indonesia.

            Pasukan perdamaian Indonesia tidak dimaksudkan untuk bertempur dan berkelahi dengan Israel, apalagi dengan Hamas atau kelompok-kelompok perlawanan lainnya. Indonesia hanya akan melindungi rakyat sipil, menjaga perdamaian, memastikan pembangunan, dan membangun situasi kondusif. Artinya, Indonesia hanya akan membawa suasana positif dan mengembangkan cinta di antara manusia. Itulah yang membuat Israel kebingungan dan ketar-ketir. Mereka tak punya alasan untuk menyerang, berkelahi, bahkan membunuh pasukan Indonesia. Mereka tak akan pernah bisa baku hantam dengan pasukan yang membawa perdamaian dan cinta. Mereka hanya mampu bertempur dengan pasukan-pasukan yang memang berniat untuk bertempur, sedangkan Indonesia tidak.

            Bagaimana caranya menyerang orang yang datang membawa cinta?

            Cinta untuk mereka juga agar dapat hidup damai?

            Itulah yang membuat Israel takut pada Indonesia. Karena kebingungan menghadapi situasi yang akan terjadi jika pasukan Indonesia benar-benar datang di Gaza, Israel mencoba mengalihkan isu pada ancaman nuklir oleh Iran. Ternyata, Israel berhasil mengelabui AS untuk memerangi Iran, kemudian situasi kembali kusut dan terjebak pada kondisi yang mereka gemari, yaitu berperang dan saling bunuh. Dengan demikian, pasukan Indonesia yang sudah siap dikirimkan ke Gaza untuk membangun perdamaian dan cinta menjadi tertahan entah sampai kapan. Sementara itu, Israel kembali pada hobinya sendiri, yaitu ribut dan saling bunuh. Situasi konflik itulah yang membuat mereka merasa aman dan terbebas dari rasa takut.

            Israel sudah merasakan bagaimana sulitnya bertengkar dengan Indonesia. Pasukan Indonesia sudah menjadi penjaga perdamaian antara Israel dan Libanon di Blue Line. Israel tahu benar pasukan Indonesia tak takut mati ketika hendak terjadi di pertempuran antara Israel dan Libanon. Prajurit Indonesia berdiri di tengah-tengah mereka dan menahan mereka agar tidak saling bunuh. Pasukan TNI menghalau keduanya untuk kembali ke wilayahnya masing-masing agar hari itu tidak terjadi perang. Itu berhasil.

            Pasukan Indonesia berhasil bernegosiasi dengan Israel agar mengembalikan anak usia 15 tahun ke keluarganya yang ditangkap Israel. Remaja itu ditangkap karena melempari pembatas wilayah Israel. Pasukan TNI berupaya meyakinkan Israel karena dia masih anak-anak dan akan mengembalikan pada keluarganya. Meskipun dibawah todongan senjata ke arah kepala pasukan TNI, negosiasi itu berhasil dan remaja itu pun dibebaskan.

            Kalaupun sempat terjadi perang dan tanpa sengaja pasukan Indonesia terluka karena senjata IDF, Israel menyerukan agar TNI segera berlindung karena mereka tak ingin bermasalah dengan TNI dan hanya ingin menyelesaikan urusannya dengan musuhnya di Libanon. Memang jika situasi sudah sangat memanas dan sulit dikendalikan, TNI hanya mencatat, lalu melaporkan ke atasannya sambil melindungi diri dari situasi yang sudah sangat kusut.

            Dengan pengalaman-pengalaman seperti itu, Israel akan sangat kesulitan mendapat alasan untuk berperang dengan TNI karena Indonesia tidak memiliki masalah langsung dengan Israel. Bahkan, Israel selalu berupaya keras dari waktu ke waktu untuk dapat berhubungan secara diplomatik dengan Indonesia. Akan tetapi, Indonesia tetap pada pendiriannya, tak ada hubungan dengan Israel jika Israel tidak mengakui kemerdekaan dan menghormati Palestina.

            Israel takut pada Indonesia karena Indonesia akan datang membawa perdamaian dan cinta. Di dunia ini cinta adalah power terkuat dan tidak bisa dikalahkan dengan cara apa pun.

            Sampurasun.

Monday, 16 February 2026

Prajurit TNI Tak Harus Mati di Palestina

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Tentara Nasional Indonesia (TNI) adalah pasukan resmi pertama yang akan masuk ke Gaza, Palestina dalam misi perdamaian dan pemulihan kondisi wilayah. Kalau saya bilang pasukan pertama, berarti siapa pun, akun apa pun, berita dari mana pun yang kemarin-kemarin sering mengisahkan tentara dari negara lain masuk ke Gaza untuk menolong rakyat Palestina dan mengalahkan Israel adalah bohong. Mereka memang suka berbohong dan sangat senang mendengarkan ceritera bohong.

            TNI memang pasukan yang diterima Israel untuk berada di Gaza, bahkan telah mulai disiapkan tempatnya di Rafah dan Khan Younis. Sebelumnya, memang pasukan Turki dan Qatar bersedia memasuki Gaza, tetapi ditolak Israel. Adapun Indonesia diterima Israel mungkin karena melihat pengalaman Indonesia dalam menjaga perdamaian di Kongo dan Libanon. Di samping itu, pidato Presiden RI Prabowo pun berulang-ulang mengatakan bahwa Negara Palestina harus berdiri dan Israel pun harus dijamin keamanannya. Pidato itu menegaskan bahwa Indonesia benar-benar memperjuangkan berdirinya dua negara merdeka di kawasan itu. Israel merasakan bahwa Indonesia lebih adil bersikap dan terjamin tidak akan melakukan kekerasan terhadap Israel dibandingkan Turki dan Qatar.

            Indonesia melihat adanya celah untuk melaksanakan politik bebas dan aktif di wilayah paling berbahaya di muka Bumi itu. Oleh sebab itu, segera menyiapkan TNI untuk ambil bagian mengamankan daerah saling bunuh setiap hari itu. Tinggal menunggu perintah dari Prabowo, TNI segera bergerak dan tidak akan menunggu waktu lama lagi.


Pasukan perdamaian Indonesia (Foto: detikNews - detikcom)


            Meskipun ada celah untuk berperan aktif secara positif di Gaza, celah itu tidak mudah, tetapi sempit, tajam, dan berbahaya. Prabowo harus memastikan bahwa sebelum TNI berangkat ke Gaza, pasukan Israel harus sudah pergi dari wilayah itu. Demikian pula pasukan “Harakat al Muqawama al Islamiyya” (Hamas), harus bisa bekerja sama dengan Indonesia agar tercipta situasi yang jauh lebih baik di Gaza. TNI berada di Gaza tidak untuk berperang dengan Israel, apalagi berperang atau mengintimidasi Hamas. Pasukan TNI yang berada di sana adalah zeni yang bergerak dalam perbaikan konstruksi dan perlindungan rakyat serta medis. Senjata yang dipergunakan TNI hanyalah untuk membela diri dan memastikan tugasnya berjalan lancar, bukan untuk menghancurkan musuh.

            TNI yang ditugaskan di Gaza adalah untuk menciptakan suasana positif dan bukan untuk bertempur. Oleh sebab itu, Israel harus pergi dan Hamas harus menahan diri. Jika mereka tidak mau menghormati pasukan Indonesia, Prabowo jangan sekali-sekali mengirimkan seorang prajurit TNI-pun ke Gaza. Anak-anak muda Indonesia yang dikirim ke Gaza bukan untuk mati, melainkan untuk menciptakan kehidupan.

Kalau Israel dan Hamas tidak mau diatur, biarkan saja mereka berperang saling bunuh dan hidup dalam keadaan tidak aman seterusnya, selama belum bosan. Itu artinya mereka tidak mau berdamai, tetapi ingin terus berkonflik, ingin saling membuktikan diri siapa yang terhebat di antara mereka. Israel merasa jumawa karena di belakang mereka ada Amerika Serikat (AS), sedangkan Hamas merasa kuat karena di belakang mereka ada Iran.

Kalau mereka tidak mau saling menahan diri, untuk apa kita berada di sana?  

            Kita bisa apa?

            Kalau situasi berlarut-larut tanpa ada penyelesaian, rakyat Gaza yang akan sangat menderita dan tidak punya masa depan. Rakyat hanyalah sejumlah angka yang selalu dihitung kesusahannya, padahal ada jalan damai yang bisa dicoba dijalankan.

            Prabowo tak harus mengirimkan tentara Indonesia untuk mati, tetapi untuk menciptakan suasana yang lebih hidup dan harmonis.

            Foto pasukan perdamaian Indonesia saya dapatkan dari detikNews – detikcom.

            Sampurasun.

Tuesday, 8 November 2022

Atas Nama Cucu Nabi Muhammad saw, Imam Hasan bin Ali, Jokowi Dianugerahi “Bapak Perdamaian Dunia”

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Nah, ini baru Arab asli, bukan hoax, atau ngaku-ngaku. Orang kelahiran Arab, pejabat tinggi di tanah Arab, dihormati di wilayah Arab, jauh-jauh datang ke Indonesia untuk memberikan penghargaan “Cucu Nabi Muhammad saw”, ‘Imam Hasan bin Ali’ kepada Presiden Jokowi. Orang Arab itu bernama Al Mahfouz bin Abdullah bin Bayyah. Dia adalah “Sekretaris Jenderal Abu Dhabi Peace Forum (ADPF)”. Dia menemui Jokowi di Istana Merdeka, Jakarta Pusat. Al Mahfouz menyerahkan penghargaan perdamaian internasional 2022 kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada Senin, 7 September 2022. Award itu bernama “Perdamaian Internasional Imam Hasan bin Ali 2022".  Dilihat dari namanya, penghargaan itu sangat bergengsi di dunia Islam karena menggunakan nama cucu Nabi Muhammad saw dan sangat dihormati di Uni Emirat Arab (UEA).


Jokowi ketika menerima penghargaan yang disampaikan Al Mahfouz bin Abdullah bin Bayyah  (Foto: Suara Surabaya)


            Foto Jokowi ketika menerima penghargaan yang disampaikan Al Mahfouz bin Abdullah bin Bayyah saya dapatkan dari Suara Surabaya.

            Semua orang tidak bisa memungkiri bahwa Jokowi adalah presiden dari Asia pertama yang berani menemui dua presiden yang sedang berperang. Jokowi menemui Presiden Ukraina Volodimyr Zelensky serta menemui pula Presiden Vladimir Putin yang sedang saling bunuh. Jokowi menengahi keduanya dan meminta untuk menghentikan perang karena dunia terkena imbas dari perang itu, misalnya, harga gas, harga BBM, harga minyak menjadi mahal; gandum dan bahan biji-bijian lainnya tidak bisa didistribusikan ke seluruh dunia; kelaparan mulai menimpa negara-negara miskin.

            Di dalam negeri sendiri, Jokowi berhasil menjadikan Indonesia sebagai empat negara terbaik dalam menangani Covid-19 dan menjadi contoh bagi negara lain. Di samping itu, Jokowi telah berhasil sejauh ini mempertahankan ekonomi Indonesia tidak jatuh ke jurang krisis seperti negara-negara lainnya. Rakyat Indonesia merasa hidup biasa-biasa saja, tidak terjatuh ke dalam jurang resesi. Bahkan, Indonesia pada hari ini telah menjadi negara ke-7 terkuat ekonominya di seluruh dunia. Di dunia ada sekitar 195 negara. Indonesia adalah ranking ke-7 dengan ekonomi terkuat di dunia. Urutan negara dengan ekonomi terkuat di dunia menurut International Monetary Fund (IMF) adalah Cina, Amerika Serikat, India, Jepang, Jerman, Rusia, Indonesia, Brazil, Inggris, Perancis, dan seterusnya.

            Mungkin ada berapa faktor lain lagi yang membuat UEA memberikan penghargaan Perdamaian Internasional Imam Hasan bin Ali 2022 kepada Jokowi. Akan tetapi, mereka masih belum memberikan penjelasan yang detail.

            Ada yang berpendapat bahwa penghargaan itu adalah prestasi Jokowi. Akan tetapi, ada pula yang merasa itu bukanlah prestasi Jokowi, melainkan prestasi rakyat Indonesia sehingga penghargaan itu adalah dirasakan sebagai penghargaan buat bangsa Indonesia. Jokowi hanya mewakili bangsa Indonesia.  Whatever lah. Pendapat dan perasaan itu semuanya baik.

            Hal yang tidak baik, tetapi lucu bikin ketawa adalah mereka yang selalu berteriak-teriak bahwa Jokowi adalah pemimpin rezim anti-Islam.

            Mana mungkin seorang pemimpin yang anti-Islam mendapatkan penghargaan Perdamaian Internasional Hasan bin Ali 2022?

            Jokowi berhaji, masuk ke makam Nabi saw, masuk ke dalam bangunan Kabah, menetapkan Hari Santri Nasional, pesantren dikembangkan, masjid banyak. Saya sendiri sebagai umat Islam bisa umroh, kurban, bikin masjid bareng tetangga, bisa ibadat, mengadakan pengajian, maulidan, tahlilan, syukuran, menikah dengan syariat Islam, bagi waris sesuai syariat, zakat, infak, sedekah, shalat gerhana, dan hal lainnya sesuai aturan Islam.

            Di mana anti-Islamnya?

            Kata Cak Lontong, “Mikiiir ….!”

            Sampurasun.

Sunday, 8 May 2022

Kalau Indonesia yang Harus Mendamaikan Perang, Bubarkan Saja PBB

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Manusia bisa bilang, ini kebetulan. Akan tetapi, dalam pandangan spiritual Islam, ini sudah menjadi takdir Allah swt bahwa Indonesia menjadi Presidensi G20 yang diikuti 19 negara maju dan akan maju ditambah 1 Unieropa di tengah-tengah kecamuk perang Rusia Vs Ukraina yang dibantu oleh Nato.

            Hal aneh yang terjadi adalah tiba-tiba Indonesia ditekan pihak Barat untuk menendang Rusia dari keanggotaan G20 dan pertemuan-pertemuan G20. Jika tidak, pihak Barat mengancam akan memboikot G20. Tentu saja, pihak Barat ini dikendalikan oleh Amerika Serikat (AS), padahal negara-negara Barat lain tampaknya setengah hati mengikuti keinginan AS dalam melawan Rusia. Hal ini tampak sekali dari negara-negara barat yang kikuk karena mereka masih bergantung pada Rusia, misalnya, soal kebutuhan gas dan minyak.

            Hal ini diperparah dengan semua mata dunia menuju pada panggung Jokowi, Indonesia, dan G20. Pihak Barat mendesak Indonesia bahwa G20 dijadikan ajang untuk menyelesaikan masalah perang Rusia Vs Ukraina, terutama untuk menghukum Rusia. Banyak ancaman Barat yang ditujukan pada Indonesia yang akan menyelenggarakan G20 di Bali. Ini aneh karena sesungguhnya G20 adalah organisasi dan pertemuan tingkat tinggi dunia yang sudah dibatasi Jokowi hanya untuk menyelesaikan masalah ekonomi dunia pascapandemi Covid-19. Temanya “Recovery Together, Stronger Together” artinya “pulih bersama dan lebih kuat bersama”. Pertemuan ini tidak untuk membicarakan masalah politik, militer, apalagi perang. Akan tetapi, keangkuhan Barat menekan Indonesia agar memasukan pula soal Rusia dan Ukraina ke pembicaraan di G20.

            Karena Indonesia adalah negara dengan politik luar negeri bebas dan aktif, bebas dari tekanan negara mana pun dan aktif mewujudkan perdamaian dunia, Jokowi tetap mengundang Presiden Rusia Vladimir Putin sekaligus Presiden Ukraina Volodimyr Zelensky untuk hadir di G20 di Bali. Indonesia tidak mengikuti kehendak AS dan Barat, tetapi tetap berupaya memberikan jalan keluar agar terjadi pertemuan positif antara Rusia dan Ukraina di Bali.

Meskipun demikian, hal ini masih membingungkan karena mau apa Ukraina di G20?

Mau ngomong apa dia?

Ukraina itu bukan anggota G20 yang pasti tidak memiliki hak bicara dalam berbagai sidang di Bali, kecuali diputuskan anggota G20 lain untuk bisa memiliki hak bicara dengan mengubah atau menyepakati terlebih dahulu tatatertib yang ada. Dengan demikian, Ukraina bisa memiliki hak bicara.

Kalau Jokowi, Indonesia, memfasilitasi upaya perdamaian antara Rusia dan Ukraina di G20, itu artinya agenda G20 meluas, bukan hanya bicara soal ekonomi, melainkan pula perdamaian. Dengan demikian, Bali, Indonesia menjadi tempat pertemuan untuk menyelesaikan perang dan mewujudkan perdamaian.

Hal itu bagus. Akan tetapi, sesungguhnya, tempat untuk membicarakan perang dan perdamaian adalah bukan di perhelatan G20, Bali, Indonesia, melainkan dalam sidang-sidang Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB). Hal itu disebabkan memang tempat untuk menyelesaikan perkara seperti itu adalah di PBB, bukan di G20, bukan di Indonesia, bukan di Bali, dan bukan pula oleh Jokowi.

Melihat kenyataan seperti itu, publik dunia wajar bertanya, selama ini PBB melakukan apa untuk menyelesaikan masalah konflik di Ukraina?

Kalau PBB tidak memiliki kemampuan menyelesaikan masalah itu, mengaku sajalah dengan terus terang bahwa PBB adalah organisasi yang lemah dalam mengorganisasikan dunia. Oleh sebab itu, PBB layak untuk dibubarkan.

Saya jadi teringat pidato “Pemimpin Besar Revolusi Presiden Pertama Indonesia Ir. Soekarno” di hadapan dunia yang menyatakan bahwa Indonesia keluar dari PBB. Soekarno menyerukan perlunya kesadaran dan kebersamaan untuk melakukan upaya “to build a world anew”, ‘membangun tatanan dunia baru’ yang lebih masuk akal dan menjamin perdamaian kehidupan dunia.

Kalau memang G20 Indonesia yang harus mendamaikan perang, bubarkan saja PBB. Organisasi itu sudah kelihatan sangat lemah dan tunduk pada kepentingan barat.

Sampurasun.

Sunday, 10 September 2017

TPF Rakhine-Rohingya Harus Jujur

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Berita-berita tentang kejahatan kemanusiaan di Rakhine, Myanmar terhadap Rohingya beredar kalang kabut bercampur hoax. Kita harus ingat setiap kejadian yang di dalamnya kaum muslimin terllibat adalah berita paling seksi bagi media massa asing dan dapat menarik keuntungan materi yang sangat besar. Oleh sebab itu, sering sekali berita tentang kaum muslimin ditambah-tambahi, dikurangi, atau direkayasa demi kepentingan ekonomi dan politik. Oleh sebab itu, kerja dari Tim Pencari Fakta (TPF) yang dibentuk PBB dan diketuai oleh Marzuki Darusman harus jujur, utuh, lengkap, dan menyeluruh. TPF harus mengumpulkan fakta dan tidak boleh berpihak pada salah satu pihak, baik berpihak pada penguasa Myanmar maupun pada kaum muslim Rohingya. TPF harus netral dan tidak boleh terpengaruh oleh emosinya sendiri.

            Agar TPF dapat bekerja optimal dan maksimal, Indonesia dan dunia harus mendorong tim ini bekerja dengan sangat baik dan mendorong pemerintah Myanmar agar memberikan akses yang penuh untuk diselidiki. Dengan gambaran fakta yang jujur dan utuh, akan dapat dilakukan analisis yang tepat untuk menyelesaikan konflik yang terjadi sehingga semua pihak dapat diuntungkan, baik dunia, kaum Rohingya, maupun pemerintah dan seluruh warga Myanmar.

            Sekarang ini terjadi saling tuduh antara pemerintah Myanmar dan dunia internasional yang semuanya belum tentu benar. Myanmar belum tentu benar dengan pengakuannya, dunia termasuk Indonesia juga belum tentu benar dengan tuduhannya. Di sinilah celah timbulnya hoax-hoax yang akan memperkeruh suasana, apalagi dengan adanya kelompok-kelompok Islam yang berniat pergi ke Myanmar untuk membela dan berperang bagi Rohingya. Situasi bisa menjadi tambah rumit.

            Semua harus membuka diri bagi kerja-kerja TPF agar seluruh dunia melihat fakta yang terjadi dengan lebih utuh. Dengan demikian, penyelesaian terhadap krisis kemanusiaan tersebut bisa diatasi dengan cara yang saksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya, bukan lebih cepat, lebih baik, bukan pula lanjutkan. Begitu yang ditulis dalam teks Proklamasi RI.

            Berita atau ceritera yang beredar saat ini belum tentu benar karena tampak sekali setiap orang sudah berpihak, baik kepada Myanmar maupun kepada kaum Rohingya sehingga yang membela Myanmar menyalahkan Rohingya dan yang membela Rohingya menyalahkan Myanmar.

            Hal pertama yang harus dilakukan adalah jelas menghentikan kekerasan terhadap siapa pun dan oleh siapa pun. Akan tetapi, penghentian kekerasan saja sama sekali tidak cukup. Diperlukan upaya lanjutan agar situasi lebih kondusif secara permanen, yaitu Myanmar dapat mengelola negaranya dengan lebih baik dan damai serta kaum muslim Rohingya dapat berperan serta secara positif dalam pembangunan di Myanmar sebagai warga negara yang sah. Di samping itu, setiap kejahatan oleh siapa pun terhadap siapa pun harus dimusuhi bersama, baik oleh kaum muslim Rohingya maupun oleh pemerintah Myanmar. Untuk itulah, diperlukan Tim Pencari Fakta yang jujur dan memiliki akses yang luas agar mendapatkan fakta-fakta yang dapat dijadikan dasar untuk menganalisis situasi sehingga krisis kemanusiaan dan “kesusahan” di Myanmar bisa diatasi.


            Sampurasun

Tuesday, 18 July 2017

Mendamaikan Dunia

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Setiap manusia waras dan sehat otak pasti menginginkan perdamaian. Hanya para anak buah syetan dan Iblis yang tidak menginginkan perdamaian di antara manusia di dunia ini. Mayoritas manusia menginginkan perdamaian, ketenangan, keharmonisan, dan ketertiban. Dunia ingin perdamaian, tetapi manusia tetap berada dalam konflik, baik itu konflik politik maupun konflik ekonomi. Hal itu jelas menunjukkan bahwa manusia kehilangan arah dan kehilangan cara untuk memperbaiki kehidupan dalam menata pergaulan di antara hubungan manusia.

            Sesungguhnya, jalan perdamaian itu bukan ada di langit atau dalam angan-angan setiap ahli pikir, melainkan ada di dalam diri manusia sendiri. Permasalahannya adalah apakah manusia mampu dan mau menggunakan dirinya sendiri untuk terciptanya perdamaian atau tidak.

            Saya memiliki teori tentang perdamaian ini. Apabila kita ingin dunia damai, setiap negara harus terlebih dahulu membuat negaranya sendiri aman dan damai. Jika setiap negara damai di dalam negerinya sendiri, perdamaian itu akan mendorong perdamaian manusia di dunia. Jika di dalam setiap negara tidak ada kedamaian, pengaruh konflik di negara itu akan mendorong konflik dunia. Jika setiap negara damai, mereka akan berinteraksi secara damai pula. Negara yang kalut akan melakukan interaksi dengan negara lain secara kalut pula.

            Untuk menciptakan negara yang aman dan damai, setiap wilayah atau setiap provinsi di negara itu harus berada dalam keadaan damai pula. Untuk mendapatkan provinsi yang aman, setiap kota di provinsi tersebut harus aman dan damai pula. Agar setiap kota aman dan damai, masyarakat di kota itu harus berada dalam kehidupan yang tertib, aman, dan damai. Agar kehidupan masyarakat damai, hubungan bertetangga pun harus aman dan damai. Kehidupan bertetangga yang damai didahului oleh terbentuknya keluarga-keluarga yang damai. Untuk menjadi keluarga yang damai, setiap orang di dalam keluarga tersebut harus berdamai dengan dirinya dan selalu menciptakan hubungan yang baik dan aman di dalam keluarga tersebut. Jadi, kunci perdamaian dunia adalah adanya keinginan dan perubahan yang baik dalam setiap diri manusia untuk berperan serta dalam mewujudkan kehidupan yang harmonis.

            Begitu bro.

            Tidak susah kan?

            Sesungguhnya tidak sulit. Hal yang membuat sulit adalah kebiasaan kita yang sering menyalahkan orang lain sebagai pengganggu perdamaian, tetapi kita sendiri tidak berupaya mengoreksi diri dan tidak membuat diri kita menjadi orang yang lebih baik.

            Jika setiap orang berperilaku baik di dalam keluarganya, ia akan menjadi tetangga yang baik sehingga menciptakan situasi yang menyenangkan dan penuh kedamaian. Tentang kehidupan bertetangga yang baik, ada pengalaman hebat yang kemudian menjadi ajaran Islam. Pengalaman itu tentunya pengalaman Nabi Muhammad saw sendiri.

            Nabi Muhammad saw pernah dinasihati Malaikat Jibril berulang-ulang dan terus-menerus tanpa henti tentang kehidupan bertetangga. Perilaku Jibril itu mengherankan Nabi Muhammad saw. Dia merasa aneh mengapa Jibril sangat memperhatikan tetangga seolah-olah merupakan hal yang sangat penting sehingga terus saja bicara berulang-ulang kepada Nabi Muhammad saw.

            Kata Nabi, “Tak henti-hentinya Jibril memberikan nasihat kepadaku tentang tetangga sehingga aku menduga bahwa ia akan memberikan warisan kepadanya.” (Bukhari, Muslim, Abu Daud, Ibnu Majah, dan Tirmidzi)

            Saking pentingnya soal tetangga ini, Jibril bersikap seolah-olah akan mewariskan harta benda yang sangat banyak kepada tetangga Nabi Muhammad saw sendiri. Jibril mewanti-wanti Nabi Muhammad saw soal tetangganya, ini hingga membuat heran Nabi sendiri.

            Nasihat Jibril tentang tetangga ini ada sembilan hal yang penting, yaitu:

1. Jika ia minta pertolongan, tolonglah dia
2. Jika ia sakit, jenguklah dia
3. Jika ia meninggal, uruslah jenazahnya
4. Jika ia memohon pinjaman, pinjamilah dia
5. Jika ia mendapatkan kesenangan, ucapkanlah selamat kepadanya
6. Jika ia tertimpa musibah, sabarkanlah
7. Janganlah rumah mereka engkau tutup dengan bangunanmu sehingga mereka terhalang mendapatkan udara, kecuali dengan izinnya
8. Janganlah mengganggu mereka dengan bau masakanmu, kecuali kalau kauberi mereka ala kadarnya
9. Jika engkau membeli buah-buahan, hadiahilah mereka. Kalau hal itu tidak engkau lakukan, bawalah masuk ke dalam rumah dengan cara rahasia dan janganlah anakmu membawanya keluar yang menyebabkan anak tetangga itu menginginkannya.

            Tentang poin yang kesembilan, Nabi Muhammad saw mengajari kita, “Jika engkau memasak sayur, perbanyaklah kuahnya. Lalu, lihatlah keluarga tetanggamu, berikanlah sebagiannya kepada mereka dengan cara yang baik.” (Muslim)

            Bayangkan Saudara, jika kita menjadi tetangga yang baik dan tetangga kita pun berbuat baik kepada kita, kehidupan yang baik akan terjadi di sekitar kita. Itu artinya, kita sudah menciptakan perdamaian di lingkungan terdekat kita. Jika kehidupan masyarakat sudah baik dan harmonis, negara pun akan damai. Jika setiap negara damai, dunia pun akan damai pula.

            Mudah, bukan?

            Tidak perlu banyak teori untuk menciptakan perdamaian. Jadikanlah diri kita orang baik bagi tetangga kita sehingga tetangga kita pun akan menjadi orang baik terhadap kita.

            Bagaimana jika tetangga kita itu tidak baik terhadap kita dan terhadap tetangganya sendiri?

            Kata Nabi Muhammad saw, “Mulailah dari diri sendiri, mulai dari hal yang paling kecil, dan mulai lakukan saat ini juga.”

            Menjadi tetangga yang baik bagi tetangga kita akan mewujudkan perdamaian dunia. Insyaallah.


            Sampurasun

Sunday, 21 May 2017

Kesalahan Kristen Diikuti oleh Umat Islam

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Kerusakan ajaran Kristen telah menghancurkan seluruh daratan Eropa pada masa lalu. Perang, pembunuhan, pemerkosaan, perampokan, penganiayaan, dan berbagai kekejian kemanusiaan benar-benar merusakkan kehidupan manusia. Orang-orang Eropa saling bunuh satu sama lain yang membuat suasana kehidupan panas membara bagai ketel yang penuh minyak mendidih panas sekali.

            Pemimpin Besar Revolusi Indonesia Soekarno menggambarkan kekacauan Eropa pada masa lalu yang seperti drakula penghisap darah dan pertarungan makhluk-makhluk buas itu salah satunya disebabkan rusaknya ajaran Kristen oleh para pendeta dan kesepakatan kaum gereja. Para pendeta dan gereja telah membuat ajaran-ajaran sendiri yang menyimpang dari ajaran Kristen sebenarnya. Mereka berkolaborasi dengan para penguasa Eropa untuk meraih kepentingan politik dan ekonomi. Akibatnya, di antara umat Kristen sendiri terjadi pertarungan dan pembunuhan besar-besaran.

            Orang-orang sudah hampir tidak tahu lagi tentang ajaran Kristen yang sebenarnya. Pendapat-pendapat pendeta dan gereja lebih kuat pengaruhnya di  masyarakat Eropa dibandingkan ajaran injil sendiri.

            Kalau saya tulis lebih panjang pendapat Pemimpin Besar Revolusi Indonesia Soekarno tentang rusaknya ajaran Kristen oleh orang-orang Kristen sendiri yang menyebabkan kekalutan dalam ajaran Kristen yang menimbulkan banyak sekte dan menyebabkan berbagai perang-perang besar, saya yakin ada banyak orang Kristen di Indonesia dan di dunia ini merasa tersinggung. Bahkan, kalau Soekarno hidup pada masa ini sebagai rakyat, bisa mendapatkan “ancaman” tuduhan sebagai “penoda agama Kristen”. Padahal, itu adalah kenyataan. Oleh sebab itu, saya tidak sampai hati menuliskan pendapat Soekarno secara gamblang tentang kerusakan christendom karena sangat keras, tajam, dan menukik. Kalau mau tahu aslinya pendapat Soekarno tentang hal ini, pelajari saja dalam bukunya, Dibawah Bendera Revolusi.

            Sayangnya, karena umat Islam kurang baca dan kurang mempelajari riwayat dunia, kesalahan orang-orang Kristen itu pun diikuti oleh umat Islam. Saat ini banyak sekali dongeng-dongeng yang sangat laku di kalangan kaum muslimin. Hadits-hadits palsu pun banyak diproduksi untuk mendukung kepentingan politik dan ekonomi kalangan tertentu yang haus kekuasaan dan haus harta benda. Perang-perang dan konflik-konflik di Timur Tengah banyak disebabkan oleh dongeng-dongeng khayalan tentang Islam dan hadits-hadits palsu, terutama tentang jihad, kesyahidan, surga, neraka, zaman akhir, dan ramalan kekuasaan pada masa depan. Di samping itu, hal yang sangat menjijikkan adalah memutarbalikkan pemahaman ayat-ayat Al Quran sekehendak hati mereka sendiri tanpa melalui proses analisa mendalam yang jujur dan serius. Mereka menafsirkan ayat Al Quran bukan untuk memberikan pencerahan kepada umat, bukan untuk mendidik masyarakat, melainkan untuk menipu masyarakat agar masyarakat tergiring pada agenda-agenda rendah mereka. Oleh sebab itu, terjadilah perkawinan antara ulama terbelakang, kaum agama yang serakah dengan para politisi kacangan yang tak mampu menampilkan program dan potensi kebaikan. Lebih parah lagi jika perkawinan haram ini didukung oleh senjata-senjata pembunuh yang melibatkan kekuatan militer besar. Perang-perang besar dan berbagai pembunuhan pun terjadi sebagaimana yang terjadi di Eropa masa lalu.

            Hal yang bisa kita lihat adalah adanya kesamaan penyebab dari berbagai konflik, perang, dan pembunuhan di dunia ini, yaitu mengaburkan pemahaman agama dari ajaran yang sebenarnya, membuat ajaran-ajaran baru yang menyandarkan pada agamanya, memutarbalikkan fakta, dan mengupayakan pengadaan senjata untuk mendukung agenda-agenda politik dan ekonomi para petualang busuk.

            Orang-orang Eropa sangat lama tenggelam dalam kegelapan dan pertikaian. Mereka baru berhenti sejak terjadinya perjanjian Westphalia yang menghentikan perluasan-perluasan kekuasaan bangsa tertentu atas bangsa lainnya dan adanya keharusan menghormati batas-batas teritorial bangsa lainnya.

            Sekarang, bagaimana caranya umat Islam menghentikan konflik di antara umat Islam sendiri?

            Jawabannya adalah sangat mudah, yaitu kembali kepada Al Quran dengan meninggalkan dongeng-dongeng tak masuk akal, hadits-hadits palsu, serta pendapat para ulama terbelakang.

            Hal yang sulit dilakukan adalah mengakui diri telah melakukan kesalahan, meminta maaf, dan menurunkan egoisme diri.

            Apabila tujuan umat Islam hanya satu, yaitu mengabdikan diri kepada Allah swt tanpa mempertuhankan kekuasaan politik dan ekonomi, umat Islam pasti bersatu dan sama-sama membuat dunia ini dalam keadaan damai, tertib, teratur, harmonis, penuh cinta, dan penuh kemakmuran.


            Sampurasun.

Friday, 12 May 2017

Umat Terpilih

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Saling klaim sebagai umat terpilih ini sudah terjadi dari zaman ke zaman. Orang Islam menganggap dirinya umat terpilih, Kristen juga sama, Yahudi pun demikian, agama Budha, Hindu, Konghucu, dan agama-agama lainnya pun sama mengakui sebagai umat terpilih. Satu-satunya, keyakinan dan ramalan yang tidak mengklaim dirinya sebagai umat terpilih adalah orang-orang Papua. Mereka justru dalam berbagai ramalan dan kisahnya selalu “menunggu” orang luar atau orang asing yang mencintai mereka untuk mengadakan perbaikan dan menumbuhkan kemakmuran bagi mereka.

            Bagi orang-orang yang suka mengklaim dirinya sebagai “umat terpilih”, saya meragukan tujuan mereka dijadikan sebagai umat terpilih.

            Tuhan memilih mereka itu untuk apa?

            Apa yang harus mereka lakukan sebagai umat terpilih?

            Pada tahu nggak sih?

            Ngomong saja kampanye sebagai umat terpilih, tetapi tidak mengerti dipilih untuk apa. Kacau.

            Pasti tidak pada tahu kan?

            Jujur saja tidak tahu, jangan sok tahu kalian.

            Saya yakin banyak yang sok tahu karena ternyata kehidupan dunia selalu kacau, semrawut, tidak harmonis, dan penuh pertikaian. Kebanyakan dari mereka menganggap bahwa mereka terpilih untuk menguasai dunia, mengatur hidup manusia, mengendalikan orang lain, menjadi orang paling kaya, menjadi umat paling cerdas, menjadi umat paling bergaya di seluruh muka Bumi.

            Begitulah yang saya tahu dari para pengklaim sebagai umat terpilih itu. Agama apa pun mereka dan bangsa apa pun mereka.

            Semua dugaan itu salah total. Demi Allah swt, salah total. Hal itu disebabkan tidak ada satu pun umat, baik itu agama, bangsa, maupun ras yang ingin hidup diatur oleh orang lain, tak ada sekelompok manusia pun yang ingin dikendalikan oleh pihak lain. Tak heran jika banyak terjadi perang, penjajahan, hoax, penggelapan sejarah, penipuan, dan propaganda sesat. Penjajahan adalah berawal dari merasa diri sebagai umat terpilih, tetapi ternyata salah dan gagal total. Perang dan teror juga sama berawal dari merasa diri sebagai umat terpilih, tetapi gagal juga.

            Lantas, kalian ini dipilih untuk menjadi apa dan untuk melakukan apa?

            Mari kita kembali kepada Sifat Tuhan Yang Menciptakan Seluruh Alam Semesta. Tuhan itu Mahakasih, Mahacinta, dan Maha Penyeimbang. Ketika Bumi dan langit diciptakan, Tuhan menciptakannya dengan penuh cinta. Ketika Tuhan menciptakan seluruh isi Bumi, isi langit, dan isi yang berada di antara langit dan Bumi adalah dengan rasa kasih sayang. Tuhan selalu menyeimbangkan ciptaan-Nya hingga rencana-Nya sendiri selesai sebagaimana yang diinginkan-Nya dari awal mula penciptaan hingga akhir kehancuran seluruh ciptaan-Nya.

            Dengan memahami sifat Tuhan seperti itu, sesungguhnya Tuhan memilih umat-umat terpilih untuk menjadi wakil-Nya di muka Bumi dalam rangka menebarkan cinta, kasih sayang, perdamaian, ketertiban, keharmonisan, dan keseimbangan hidup alam semesta. Itulah yang saya pahami sebagai “Umat Terpilih”. Sangat tidak mungkin Tuhan menjadikan suatu umat sebagai terpilih jika hanya untuk melakukan kerusakan dan kekacauan dalam hidup manusia.

            Dengan demikian, sesungguhnya sangat bagus jika setiap umat beragama, apa pun agamanya, apa pun rasnya, merasa diri sebagai “umat terpilih” untuk melakukan berbagai perbaikan di muka Bumi, menebarkan cinta, kasih sayang, menciptakan keharmonisan, dan menjaga keseimbangan hidup alam semesta. Tak perlu saling klaim bahwa dirinya adalah “sebenar-benarnya umat terpilih”. Buktikan saja bahwa kalian adalah benar-benar umat terpilih dalam berbagi dengan sesama manusia dan menyebarkan banyak kebaikan di muka Bumi.

            Jika kalian tidak melakukan hal-hal baik itu, berarti kalian adalah “umat terpilih untuk menjadi pengacau di muka Bumi”. Cinta, kasih sayang, perdamaian, keseimbangan, dan keharmonisan itu bukan hanya slogan di mimbar-mimbar ceramah, melainkan harus terbukti secara nyata di dalam hidup sehari-hari. Hal yang paling kecil adalah murah senyum dan membuang paku di jalan adalah bukti dari perbuatan baik.

            Pernahkah kita melakukan perbuatan kecil yang baik itu?

            Kalau belum, malulah kita karena berbuat baik yang kecil saja belum bisa, apalagi perbuatan baik yang lebih besar.

            Kalau kalian hanya baru punya slogan dan tidak memiliki cara yang benar di dalam kitab suci agama kalian, ikuti saja saran Nabi Muhammad saw, “Sering-seringlah berbicara dengan nuranimu sendiri.”

            Tanyakan pada hati yang terdalam cara-cara terbaik untuk melakukan kebaikan dalam sepanjang hidup kita. Insyaallah, petunjuk itu akan datang pada kita.


            Sampurasun.

Sunday, 23 April 2017

Nasionalisme Barat Vs Nasionalisme Timur

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Terdapat banyak pemahaman atau pengertian mengenai nasionalisme dari para ahli, seperti, Ernest Renan, Karl Kautsky, Karl Radek, dan Otto Bauer. Pemimpin Besar Revolusi Indonesia Soekarno memiliki pengertian sendiri yang singkat, namun penuh makna tentang nasionalisme.

            Kata Soekarno, “Nasionalisme adalah suatu itikad, suatu keinsyafan rakyat bahwa rakyat adalah satu golongan, satu ‘bangsa’! … rasa nasionalistis itu menimbulkan suatu rasa percaya terhadap diri sendiri, rasa yang perlu sekali untuk mempertahankan diri di dalam perjuangan menempuh keadaan-keadaan yang mau mengalahkan kita.”

            Di dalam mengajarkan nasionalisme kepada bangsa Indonesia, Soekarno mendapat ganjalan dari teman-temannya sendiri, misalnya, H. Agus Salim yang mengkhawatirkan Soekarno terjebak dalam paham nasionalisme yang chauvinistis, rasa nasionalisme yang berlebihan sehingga merusakkan kehidupan manusia. Atas nama nasionalisme, bangsa Perancis menyerang negeri-negeri lain dan menghina para pemimpinnya. Napoleon menghina raja-raja yang berdekatan dengan negerinya, lalu menindas rakyatnya. Jerman memaksa anak-anak laki-laki ingusan untuk berperang agar bisa menaklukan dunia. Italia mempersenjatai anak-anak laki-laki dan perempuan ingusan agar bisa menjajah negeri lain. Eropa merendahkan derajat bangsa di luar mereka.

SOEKARNO. Foto: baeksoo11.blogspot.co.id

            Untuk memberikan pemahaman yang lebih jelas, Soekarno membagi dua pemahaman tentang nasionalisme, yaitu nasionalisme barat dan nasionalisme timur.

            Begini pemahaman nasionalisme barat atau nasionalisme Eropa yang diajarkan Soekarno, “Nasionalisme Eropa ialah suatu nasionalisme yang bersifat serang-menyerang, suatu nasionalisme yang mengejar keperluan sendiri, suatu nasionalisme perdagangan yang untung atau rugi. Nasionalisme semacam itu akhirnya pasti kalah, pasti binasa.”

            Memanglah benar sekali Soekarno mengajarkan hal semacam itu karena sejarah mencatat bahwa di dunia barat atau Eropa pada masa lalu saling menjajah, saling menguasai, saling bunuh, dan saling rampok. Kebanggaan atas dasar nasionalisme telah mengobarkan permusuhan dan perang-perang besar. Kebanggaan atas dasar ras, agama, dan kesukuan telah menumpahkan banyak darah, menyebarkan teror, perkosaan, perampokan, penjajahan, dan berbagai kesadisan lainnya.

            Pada masa ini pun sebenarnya nasionalisme barat itu tetap seperti itu. Bedanya mereka sudah berpengalaman bahwa jika melakukan perang atau konfrontasi langsung, kerugian yang akan mereka derita teramat besar atau bahkan mereka bisa kalah sama sekali secara memalukan seperti masa lalu. Seluruh penjajahan sudah selesai, kecuali di Palestina. Itu artinya mereka memiliki catatan sejarah memalukan dalam arti kalah dan terusir dari sebuah negara jajahan. Saat ini nasionalisme barat yang penuh dengan kesombongan itu disalurkan melalui pasukan-pasukan gabungan dari berbagai negara untuk melakukan penyerangan pada negara yang lebih lemah dan memiliki celah untuk difitnah agar dapat dirampok kekayaan manusia dan alamnya sekaligus. Sering pula mereka menyewa atau bekerja sama dengan penduduk lokal suatu negara untuk melakukan pemberontakan atau huru hara agar terjadi ketidakamanan dan kekacauan sehingga mereka bisa masuk untuk merampok sumber daya manusia dan sumber daya alamnya sekaligus. Kita bisa lihat konflik-konflik yang terjadi saat ini di seluruh dunia, selalu ada pihak barat di dalam berbagai kekacauan itu. Libya, Irak, Suriah, Isis, semenanjung Korea, dan lain sebagainya selalu ada pihak barat yang terlibat di sana. Kalaupun tidak langsung secara fisik, pikiran dan isme-isme barat berperan sangat besar dalam kekacauan itu. Hal itu disebabkan memang pada dasarnya nasionalisme barat itu seperti yang diajarkan Soekarno, yaitu bersifat serang-menyerang.

            Adapun nasionalisme timur berbeda sangat jauh dibandingkan nasionalisme barat.

            Kata Soekarno, “Hanya nasionalisme ketimuran sejatilah yang pantas dipeluk oleh nasionalis timur sejati. … Nasionalis sejati yang cintanya pada tanah air itu bersendi pada pengetahuan atas susunan ekonomi dunia dan riwayat serta bukan semata-mata timbul dari kesombongan bangsa belaka—nasionalis yang bukan chauvinis, tidak boleh tidak, haruslah menolak segala paham pengecualian yang sempit budi, Nasionalis sejati haruslah nasionalismenya itu bukan semata-mata suatu copie atau tiruan dari nasionalisme barat, tetapi timbul dari rasa cinta terhadap manusia dan kemanusiaan. Nasionalisme yang menerima rasa nasionalismenya sebagai suatu bakti pasti terhindar dari segala paham kekecilan dan kesempitan. Baginya, rasa cinta bangsa itu lebar dan luas, yaitu dengan memberi tempat pada golongan-golongan lain bagaikan lebar dan luasnya udara yang memberi tempat pada segenap sesuatu yang perlu untuk hidupnya segala hal yang hidup.”

             Dari ajaran Soekarno tersebut, kita bisa memahami bahwa nasionalisme timur adalah harus tumbuh dari perasaan cinta tanah air untuk memberikan tempat hidup pada segala hal yang hidup dan sedermawan udara yang selalu memberikan kehidupan tanpa membeda-bedakan manusia untuk mewujudkan rasa cinta terhadap manusia dan kemanusiaan.

            Soekarno pun lebih menjelaskan, “Nasionalisme kita adalah nasionalisme yang membuat kita menjadi ‘perkakasnya Tuhan’ dan membuat kita ‘hidup dalam ruh’ seperti yang saban-saban dikhutbahkan oleh Bipin Chandra Pal, pemimpin India yang besar itu. Dengan nasionalisme yang demikian ini, kita insyaf dengan seinsyaf-insyafnya bahwa negeri kita dan rakyat kita adalah bagian dari negeri Asia dan rakyat Asia juga bagian dari dunia dan penduduk dunia …. Kita, kaum pergerakan nasional Indonesia bukan saja merasa menjadi abdi atau hamba dari tumpah darah kita, melainkan kita juga merasa menjadi abdi dan hamba Asia, abdi dan hamba semua kaum yang sengsara, abdi dan hamba dunia.”

            Banyak sebenarnya ajaran Soekarno soal nasionalisme. Akan tetapi, hal itu sudah lumaya cukup untuk kita agar kita memahami bahwa rasa cinta kepada Indonesia itu merupakan dasar-dasar kita untuk mencintai Asia dan dunia. Dalam kata lain, kita harus menjadikan diri kita sebagai alat bagi Allah swt dalam rangka mencintai manusia dan mencintai kemanusiaan demi terwujudnya keadilan dan kedamaian bagi seluruh manusia di seluruh dunia. Syaratnya, jelas bahwa sebelum berjuang untuk Asia dan dunia, kita harus mewujudkan terlebih dahulu keadilan dan perdamaian di Indonesia.


            Sampurasun.