Tuesday, 24 March 2026

Israel Takut pada Indonesia


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Perang antara Amerika Serikat (AS)-Israel melawan Iran sudah diketahui dimulai oleh Israel yang kemudian dibalas oleh Iran, lalu AS ikut-ikutan menyerang Iran untuk membantu Israel. Sesungguhnya, keinginan Israel untuk menyerang Iran sudah dimulai sejak AS dipimpin Presiden Barack Obama, tetapi saat itu Obama menolaknya dan lebih percaya pada penyelesaian secara diplomatis. Penyerangan Israel terhadap Iran mendapatkan momen yang tepat karena mendesak adalah saat Presiden AS Donald Trump berkuasa untuk yang kedua kali.

            Dalam suasana kebatinan Israel, penyerangan terhadap Iran adalah situasi yang sangat mendesak dan tepat terjadi saat Indonesia dipercaya dunia untuk menjadi pasukan perdamaian di Gaza versi Board of Peace (BoP), Dewan Perdamaian. Israel sesungguhnya takut kepada Indonesia. Mereka takut sekali jika Indonesia benar-benar menurunkan pasukannya di Gaza, Palestina.

            Indonesia adalah satu-satunya pasukan yang sulit ditolak Israel untuk menjaga perdamaian di Gaza. Israel tidak menemukan alasan yang tepat untuk menolak Indonesia. Berbeda terhadap Turki dan negara lainnya yang mudah sekali ditolak oleh Israel karena memiliki kedekatan spesial dengan Hamas yang dianggap teroris oleh Israel. Indonesia malahan dijadikan alat kampanye oleh Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu dalam menguatkan posisi politiknya di dalam negeri Israel. Foto Presiden Indonesia Prabowo Subianto terpampang di Tel Aviv sebagai pendukung Israel.


Billboard bergambar Prabowo di Tel Aviv (Foto: Tagar.co)


            Foto Prabowo bersama pemimpin lainnya di billboard Tel Aviv saya dapatkan dari Tagar co.

            Prabowo dianggap pelindung Israel karena pidatonya di depan para pemimpin dunia yang menjelaskan tentang keyakinannya terhadap konsep dan semangat “two state solution”, solusi dua negara. Dengan berapi-api Prabowo menjelaskan bahwa perdamaian bisa terjadi jika “Palestina diakui sebagai negara merdeka dan Israel dihormati serta dilindungi keamanannya sebagai sebuah negara berdaulat”. Sayangnya, Israel hanya membesarkan pendapat Prabowo soal perlindungannya terhadap Israel, sama dengan para penyebar hoaks di Indonesia yang memotong-motong kalimat Prabowo tanpa mengikutsertakan kalimat keharusan Palestina merdeka dengan tujuan menyesatkan masyarakat Indonesia.

            Sebelum menurunkan pasukannya, Prabowo meminta kejelasan dan ketegasan Donald Trump untuk keselamatan prajuritnya dan jaminan terlaksananya tugas-tugas perdamaian dan pembangunan di Gaza. Prabowo sempat berdebat dengan Donald Trump soal Israel yang dianggap akan mengganggu upaya perdamaian di Gaza. Bagi Prabowo, Israel adalah masalah utama yang membuat kekacauan di Palestina. Setelah berdebat, Donald Trump memberikan jaminan bahwa Israel akan menjadi urusannya dan memastikan tidak akan membuat gangguan setelah pasukan Indonesia bertugas di Gaza.

            Prabowo menyatakan bahwa Donald Trump menepuk-nepuk dadanya sendiri saat menegaskan bertanggung jawab untuk mengendalikan Israel. Dengan demikian, Prabowo mendapatkan jaminan dari AS untuk menjalankan perdamaian di Gaza tanpa gangguan Israel.

            Tak heran jika Presiden AS Donald Trump memuji-muji Prabowo sebagai orang yang tegas dan cerdas, “Prabowo adalah orang yang tegas dan cerdas, tetapi cerdas adalah lebih baik. Aku tak ingin melawannya, tak ingin berkelahi dengannya.”

            Seperti itu kira-kira Trump memuji Prabowo.

            Situasi yang semakin hari semakin membuka jalan bagi pasukan Indonesia untuk berada di Gaza membuat Israel ketar-ketir karena tidak bisa lagi seenaknya membuat kerusakan di Palestina seperti yang sudah-sudah. Paling tidak, ada dua faktor yang membuat Israel ciut, yaitu pertama, Presiden AS Donald Trump akan menolak Israel untuk mengganggu perdamaian dan pembangunan di Gaza. Kedua, kesulitan untuk berhadapan dengan pasukan Indonesia.

            Pasukan perdamaian Indonesia tidak dimaksudkan untuk bertempur dan berkelahi dengan Israel, apalagi dengan Hamas atau kelompok-kelompok perlawanan lainnya. Indonesia hanya akan melindungi rakyat sipil, menjaga perdamaian, memastikan pembangunan, dan membangun situasi kondusif. Artinya, Indonesia hanya akan membawa suasana positif dan mengembangkan cinta di antara manusia. Itulah yang membuat Israel kebingungan dan ketar-ketir. Mereka tak punya alasan untuk menyerang, berkelahi, bahkan membunuh pasukan Indonesia. Mereka tak akan pernah bisa baku hantam dengan pasukan yang membawa perdamaian dan cinta. Mereka hanya mampu bertempur dengan pasukan-pasukan yang memang berniat untuk bertempur, sedangkan Indonesia tidak.

            Bagaimana caranya menyerang orang yang datang membawa cinta?

            Cinta untuk mereka juga agar dapat hidup damai?

            Itulah yang membuat Israel takut pada Indonesia. Karena kebingungan menghadapi situasi yang akan terjadi jika pasukan Indonesia benar-benar datang di Gaza, Israel mencoba mengalihkan isu pada ancaman nuklir oleh Iran. Ternyata, Israel berhasil mengelabui AS untuk memerangi Iran, kemudian situasi kembali kusut dan terjebak pada kondisi yang mereka gemari, yaitu berperang dan saling bunuh. Dengan demikian, pasukan Indonesia yang sudah siap dikirimkan ke Gaza untuk membangun perdamaian dan cinta menjadi tertahan entah sampai kapan. Sementara itu, Israel kembali pada hobinya sendiri, yaitu ribut dan saling bunuh. Situasi konflik itulah yang membuat mereka merasa aman dan terbebas dari rasa takut.

            Israel sudah merasakan bagaimana sulitnya bertengkar dengan Indonesia. Pasukan Indonesia sudah menjadi penjaga perdamaian antara Israel dan Libanon di Blue Line. Israel tahu benar pasukan Indonesia tak takut mati ketika hendak terjadi di pertempuran antara Israel dan Libanon. Prajurit Indonesia berdiri di tengah-tengah mereka dan menahan mereka agar tidak saling bunuh. Pasukan TNI menghalau keduanya untuk kembali ke wilayahnya masing-masing agar hari itu tidak terjadi perang. Itu berhasil.

            Pasukan Indonesia berhasil bernegosiasi dengan Israel agar mengembalikan anak usia 15 tahun ke keluarganya yang ditangkap Israel. Remaja itu ditangkap karena melempari pembatas wilayah Israel. Pasukan TNI berupaya meyakinkan Israel karena dia masih anak-anak dan akan mengembalikan pada keluarganya. Meskipun dibawah todongan senjata ke arah kepala pasukan TNI, negosiasi itu berhasil dan remaja itu pun dibebaskan.

            Kalaupun sempat terjadi perang dan tanpa sengaja pasukan Indonesia terluka karena senjata IDF, Israel menyerukan agar TNI segera berlindung karena mereka tak ingin bermasalah dengan TNI dan hanya ingin menyelesaikan urusannya dengan musuhnya di Libanon. Memang jika situasi sudah sangat memanas dan sulit dikendalikan, TNI hanya mencatat, lalu melaporkan ke atasannya sambil melindungi diri dari situasi yang sudah sangat kusut.

            Dengan pengalaman-pengalaman seperti itu, Israel akan sangat kesulitan mendapat alasan untuk berperang dengan TNI karena Indonesia tidak memiliki masalah langsung dengan Israel. Bahkan, Israel selalu berupaya keras dari waktu ke waktu untuk dapat berhubungan secara diplomatik dengan Indonesia. Akan tetapi, Indonesia tetap pada pendiriannya, tak ada hubungan dengan Israel jika Israel tidak mengakui kemerdekaan dan menghormati Palestina.

            Israel takut pada Indonesia karena Indonesia akan datang membawa perdamaian dan cinta. Di dunia ini cinta adalah power terkuat dan tidak bisa dikalahkan dengan cara apa pun.

            Sampurasun.

No comments:

Post a Comment