Friday, 27 March 2026

Mintalah MBG agar Tak Kena Hoaks

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Hoaks beredar di mana-mana, baik di dunia maya maupun di dunia nyata. Parahnya, orang-orang Indonesia banyak yang mudah terkena hoaks karena kemampuan berpikirnya yang lemah dan kurang terlatih untuk meneliti atau mempelajari sesuatu sebelum menentukan hal itu benar atau tidak. Hal itu ditambah oleh budaya “kumaha nu dibendo”, mengikuti apa kata pemimpin. Bahayanya adalah jika orang yang dianggap pemimpin itu justru penyebar hoaks. Dengan demikian, kita dikendalikan oleh banyak kebohongan di sekitar hidup kita.

            Banyak yang kebingungan dan bertanya tentang suatu informasi, apakah benar atau hoaks. Ketika dijelaskan bagaimana caranya mendeteksi suatu informasi itu benar atau tidak, masih belum mengerti juga. Saya terbiasa memeriksa suatu berita itu dengan menggunakan etika jurnalistik, teknik Imam Bukhari, dan triangulasi. Setelah saya jelaskan juga teknik itu, masih banyak yang tidak paham bagaimana cara menggunakannya. Hal yang lebih menggelikan adalah mereka tetap percaya hoaks, padahal tidak punya bukti juga bahwa berita itu adalah benar. Jika sudah saya jelaskan, mayoritas memang banyak yang mengerti, paham, dan tercerahkan, tetapi masih ada juga yang sulit untuk memahaminya.

            Hal ini kemungkinan otak mereka kurang mampu memahami disebabkan kurang makanan bergizi sejak kecil hingga sekarang. Mereka kurang fokus dan tidak terlatih untuk memahami sesuatu dengan baik. Tidak perlu malu untuk mengakui bahwa diri kurang makanan bergizi dan kurang susu karena ini masalah bangsa, bukan masalah perorangan. Mungkin mereka hanya sempat rutin minum susu saat bayi dari ibunya yang kurang bergizi juga.

            Hal ini bisa kita lihat tandanya bahwa rata-rata kecerdasan atau IQ orang Indonesia menurut “World Population Review (2025)” hanya sekitar 78,49. Berbeda dengan rata-rata IQ orang Iran menurut “International IQ Test (2026)” adalah 104,8, ranking 4 di dunia. Tak heran jika dalam keadaan tertekan Iran masih bisa cerdas mengalahkan AS-Israel dalam perang. Perlu dipahami bahwa itu angka rata-rata, kebanyakan, artinya ada juga orang Indonesia yang sangat cerdas, misalnya, Presiden Habibie dan beberapa lapisan masyarakat lainnya.

            Rendahnya IQ itu disebabkan kurang gizi atau stunting. Tidak perlu malu kalau kita kurang gizi. Oleh sebab itu, mumpung ada program MBG, segera dimanfaatkan. Kalaupun kita sudah bukan anak-anak lagi, tak ada salahnya untuk memakan makanan bergizi, terutama susu. Rajin-rajinlah minum susu supaya tidak mudah percaya hoaks atau menyebarkan hoaks.

            Kalau belum punya uang untuk beli susu, minta saja. Saya juga suka minta kok sama kenalan-kenalan saya yang bekerja sebagai guru dan menjadi wali kelas. Kalau ada siswa mereka yang tidak masuk kelas dan rumahnya jauh dari sekolah dan jauh dari teman-temannya, saya minta bagian makan bergizi gratis (MBG). Kenalan-kenalan guru saya itu kalau ada siswanya yang tidak sekolah, bagian MBG-nya suka dikasihkan ke rumahnya langsung kalau dekat sekolah atau dititipkan ke teman-temannya kalau rumahnya dekat. Kalau tidak bisa diberikan karena jauh, suka saya minta. Daripada terbuang, kan nggak apa-apa kalau saya minta.

            Tidak melanggar hukum kan?

            Kalau tidak punya kenalan guru, coba datangi dapur MBG terdekat, siapa tahu ada sisa. Jangan memaksa. Kalau ada sisa, minta saja, mudah-mudahan dikasih. Nggak apa-apa kok. Minta saja, minimal susu, pasti bermanfaat.

            Sebaiknya, Prabowo perluas lagi programnya menjadi “minum susu untuk rakyat”. Jangan hanya untuk masyarakat miskin, semua saja karena di Indonesia itu kalau ada pembagian apa pun, orang kaya jadi ngaku-ngaku miskin. Daripada jadi dosa, sudah saja semua dikasih susu. Kalau bisa, setiap hari. Kalau tidak, setiap ada koruptor yang ditangkap saja rakyat dikasih susu. Uangnya adalah hasil rampasan dari para koruptor itu.

            Setelah bisa minum susu, tingkatkan ke makan ikan. Dengan demikian, otak kita menjadi lebih loncer berpikir. Kalau soal ikan, saya bisa setiap hari makan ikan karena punya kolam ikan yang bisa menampung seribu ekor ikan. Biasakan minum susu, lalu ikan. Jangan gunakan uang untuk alkohol serta makanan dan minuman haram lainnya.






           Rajin-rajinlah minum susu dan makan ikan supaya cerdas dan tidak mudah menjadi korban hoaks.

            Hidup susu, ayo makan ikan!

            Sampurasun.

No comments:

Post a Comment