oleh
Tom Finaldin
Bandung,
Putera Sang Surya
Hoaks beredar di mana-mana,
baik di dunia maya maupun di dunia nyata. Parahnya, orang-orang Indonesia
banyak yang mudah terkena hoaks karena kemampuan berpikirnya yang lemah dan
kurang terlatih untuk meneliti atau mempelajari sesuatu sebelum menentukan hal
itu benar atau tidak. Hal itu ditambah oleh budaya “kumaha nu dibendo”, mengikuti
apa kata pemimpin. Bahayanya adalah jika orang yang dianggap pemimpin itu
justru penyebar hoaks. Dengan demikian, kita dikendalikan oleh banyak kebohongan
di sekitar hidup kita.
Banyak yang kebingungan dan bertanya tentang suatu
informasi, apakah benar atau hoaks. Ketika dijelaskan bagaimana caranya
mendeteksi suatu informasi itu benar atau tidak, masih belum mengerti juga.
Saya terbiasa memeriksa suatu berita itu dengan menggunakan etika jurnalistik, teknik
Imam Bukhari, dan triangulasi. Setelah saya jelaskan juga teknik itu, masih
banyak yang tidak paham bagaimana cara menggunakannya. Hal yang lebih
menggelikan adalah mereka tetap percaya hoaks, padahal tidak punya bukti juga
bahwa berita itu adalah benar. Jika sudah saya jelaskan, mayoritas memang
banyak yang mengerti, paham, dan tercerahkan, tetapi masih ada juga yang sulit
untuk memahaminya.
Hal ini kemungkinan otak mereka kurang mampu memahami
disebabkan kurang makanan bergizi sejak kecil hingga sekarang. Mereka kurang fokus
dan tidak terlatih untuk memahami sesuatu dengan baik. Tidak perlu malu untuk
mengakui bahwa diri kurang makanan bergizi dan kurang susu karena ini masalah
bangsa, bukan masalah perorangan. Mungkin mereka hanya sempat rutin minum susu saat
bayi dari ibunya yang kurang bergizi juga.
Hal ini bisa kita lihat tandanya bahwa rata-rata kecerdasan
atau IQ orang Indonesia menurut “World
Population Review (2025)” hanya sekitar 78,49. Berbeda dengan rata-rata IQ orang
Iran menurut “International IQ Test
(2026)” adalah 104,8, ranking 4 di dunia. Tak heran jika dalam keadaan
tertekan Iran masih bisa cerdas mengalahkan AS-Israel dalam perang. Perlu
dipahami bahwa itu angka rata-rata, kebanyakan, artinya ada juga orang
Indonesia yang sangat cerdas, misalnya, Presiden Habibie dan beberapa lapisan
masyarakat lainnya.
Rendahnya IQ itu disebabkan kurang gizi atau stunting.
Tidak perlu malu kalau kita kurang gizi. Oleh sebab itu, mumpung ada program
MBG, segera dimanfaatkan. Kalaupun kita sudah bukan anak-anak lagi, tak ada
salahnya untuk memakan makanan bergizi, terutama susu. Rajin-rajinlah minum
susu supaya tidak mudah percaya hoaks atau menyebarkan hoaks.
Kalau belum punya uang untuk beli susu, minta saja. Saya
juga suka minta kok sama kenalan-kenalan saya yang bekerja sebagai guru dan
menjadi wali kelas. Kalau ada siswa mereka yang tidak masuk kelas dan rumahnya
jauh dari sekolah dan jauh dari teman-temannya, saya minta bagian makan bergizi
gratis (MBG). Kenalan-kenalan guru saya itu kalau ada siswanya yang tidak
sekolah, bagian MBG-nya suka dikasihkan ke rumahnya langsung kalau dekat
sekolah atau dititipkan ke teman-temannya kalau rumahnya dekat. Kalau tidak
bisa diberikan karena jauh, suka saya minta. Daripada terbuang, kan nggak
apa-apa kalau saya minta.
Tidak melanggar hukum kan?
Kalau tidak punya kenalan guru, coba datangi dapur MBG
terdekat, siapa tahu ada sisa. Jangan memaksa. Kalau ada sisa, minta saja,
mudah-mudahan dikasih. Nggak apa-apa kok. Minta saja, minimal susu, pasti
bermanfaat.
Sebaiknya, Prabowo perluas lagi programnya menjadi “minum
susu untuk rakyat”. Jangan hanya untuk masyarakat miskin, semua saja karena di
Indonesia itu kalau ada pembagian apa pun, orang kaya jadi ngaku-ngaku miskin.
Daripada jadi dosa, sudah saja semua dikasih susu. Kalau bisa, setiap hari.
Kalau tidak, setiap ada koruptor yang ditangkap saja rakyat dikasih susu. Uangnya
adalah hasil rampasan dari para koruptor itu.
Setelah bisa minum susu, tingkatkan ke makan ikan. Dengan
demikian, otak kita menjadi lebih loncer berpikir. Kalau soal ikan, saya bisa setiap
hari makan ikan karena punya kolam ikan yang bisa menampung seribu ekor ikan. Biasakan
minum susu, lalu ikan. Jangan gunakan uang untuk alkohol serta makanan dan minuman
haram lainnya.
Rajin-rajinlah minum susu dan makan ikan supaya cerdas
dan tidak mudah menjadi korban hoaks.
Hidup susu, ayo makan ikan!


No comments:
Post a Comment