Showing posts with label Soekarno. Show all posts
Showing posts with label Soekarno. Show all posts

Sunday, 8 May 2022

Kalau Indonesia yang Harus Mendamaikan Perang, Bubarkan Saja PBB

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Manusia bisa bilang, ini kebetulan. Akan tetapi, dalam pandangan spiritual Islam, ini sudah menjadi takdir Allah swt bahwa Indonesia menjadi Presidensi G20 yang diikuti 19 negara maju dan akan maju ditambah 1 Unieropa di tengah-tengah kecamuk perang Rusia Vs Ukraina yang dibantu oleh Nato.

            Hal aneh yang terjadi adalah tiba-tiba Indonesia ditekan pihak Barat untuk menendang Rusia dari keanggotaan G20 dan pertemuan-pertemuan G20. Jika tidak, pihak Barat mengancam akan memboikot G20. Tentu saja, pihak Barat ini dikendalikan oleh Amerika Serikat (AS), padahal negara-negara Barat lain tampaknya setengah hati mengikuti keinginan AS dalam melawan Rusia. Hal ini tampak sekali dari negara-negara barat yang kikuk karena mereka masih bergantung pada Rusia, misalnya, soal kebutuhan gas dan minyak.

            Hal ini diperparah dengan semua mata dunia menuju pada panggung Jokowi, Indonesia, dan G20. Pihak Barat mendesak Indonesia bahwa G20 dijadikan ajang untuk menyelesaikan masalah perang Rusia Vs Ukraina, terutama untuk menghukum Rusia. Banyak ancaman Barat yang ditujukan pada Indonesia yang akan menyelenggarakan G20 di Bali. Ini aneh karena sesungguhnya G20 adalah organisasi dan pertemuan tingkat tinggi dunia yang sudah dibatasi Jokowi hanya untuk menyelesaikan masalah ekonomi dunia pascapandemi Covid-19. Temanya “Recovery Together, Stronger Together” artinya “pulih bersama dan lebih kuat bersama”. Pertemuan ini tidak untuk membicarakan masalah politik, militer, apalagi perang. Akan tetapi, keangkuhan Barat menekan Indonesia agar memasukan pula soal Rusia dan Ukraina ke pembicaraan di G20.

            Karena Indonesia adalah negara dengan politik luar negeri bebas dan aktif, bebas dari tekanan negara mana pun dan aktif mewujudkan perdamaian dunia, Jokowi tetap mengundang Presiden Rusia Vladimir Putin sekaligus Presiden Ukraina Volodimyr Zelensky untuk hadir di G20 di Bali. Indonesia tidak mengikuti kehendak AS dan Barat, tetapi tetap berupaya memberikan jalan keluar agar terjadi pertemuan positif antara Rusia dan Ukraina di Bali.

Meskipun demikian, hal ini masih membingungkan karena mau apa Ukraina di G20?

Mau ngomong apa dia?

Ukraina itu bukan anggota G20 yang pasti tidak memiliki hak bicara dalam berbagai sidang di Bali, kecuali diputuskan anggota G20 lain untuk bisa memiliki hak bicara dengan mengubah atau menyepakati terlebih dahulu tatatertib yang ada. Dengan demikian, Ukraina bisa memiliki hak bicara.

Kalau Jokowi, Indonesia, memfasilitasi upaya perdamaian antara Rusia dan Ukraina di G20, itu artinya agenda G20 meluas, bukan hanya bicara soal ekonomi, melainkan pula perdamaian. Dengan demikian, Bali, Indonesia menjadi tempat pertemuan untuk menyelesaikan perang dan mewujudkan perdamaian.

Hal itu bagus. Akan tetapi, sesungguhnya, tempat untuk membicarakan perang dan perdamaian adalah bukan di perhelatan G20, Bali, Indonesia, melainkan dalam sidang-sidang Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB). Hal itu disebabkan memang tempat untuk menyelesaikan perkara seperti itu adalah di PBB, bukan di G20, bukan di Indonesia, bukan di Bali, dan bukan pula oleh Jokowi.

Melihat kenyataan seperti itu, publik dunia wajar bertanya, selama ini PBB melakukan apa untuk menyelesaikan masalah konflik di Ukraina?

Kalau PBB tidak memiliki kemampuan menyelesaikan masalah itu, mengaku sajalah dengan terus terang bahwa PBB adalah organisasi yang lemah dalam mengorganisasikan dunia. Oleh sebab itu, PBB layak untuk dibubarkan.

Saya jadi teringat pidato “Pemimpin Besar Revolusi Presiden Pertama Indonesia Ir. Soekarno” di hadapan dunia yang menyatakan bahwa Indonesia keluar dari PBB. Soekarno menyerukan perlunya kesadaran dan kebersamaan untuk melakukan upaya “to build a world anew”, ‘membangun tatanan dunia baru’ yang lebih masuk akal dan menjamin perdamaian kehidupan dunia.

Kalau memang G20 Indonesia yang harus mendamaikan perang, bubarkan saja PBB. Organisasi itu sudah kelihatan sangat lemah dan tunduk pada kepentingan barat.

Sampurasun.

Wednesday, 20 October 2021

Soal Jln. Ataturk Makin Lucu

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Usulan pemerintah Turki Recep Tayyip Erdogan agar Indonesia dapat mengabadikan nama Mustafa Kemal Ataturk menjadi nama jalan di Indonesia mendapat tentangan dari beberapa gelintir orang yang berpikiran sangat lucu. Mereka ini seperti sedang melawak.

            Mereka yang lucu itu adalah sedikit orang-orang Indonesia para pemuja Presiden Erdogan. Para pemuja ini menganggap Erdogan adalah pemimpin yang paling membela Islam, pemimpin utama pujaan umat Islam. Akan tetapi, pada saat yang sama para pemuja Erdogan ini membenci Mustafa Kemal Ataturk. Mereka menganggap bahwa Kemal adalah penjahat yang pasti masuk neraka karena meruntuhkan kekuatan terakhir kekhalifahan di Turki. Padahal, Erdogan yang mereka puja itu sangat menghormati Kemal sebagai “Bapak Turki”. Ataturk itu artinya Bapak Turki. Erdogan menjaga ketat patung Kemal dan kuburan Kemal serta menjadi daya tarik wisatawan yang datang berziarah dari seluruh dunia. Erdogan meneruskan cita-cita Kemal dan tidak mengembalikan Turki ke sistem kekhalifahan.

            Betapa tidak lucu?

            Para pemuja ini memuja Erdogan, tetapi membenci Kemal, padahal Erdogan yang mereka puja ini mengagungkan Kemal.

            Penghormatan kepada Kemal inilah yang membuat pemerintahan Turki Erdogan mengusulkan ada jalan yang menggunakan nama Kemal Ataturk untuk mempererat persahabatan antara Turki dengan Indonesia.  

            Hal yang lebih parah membuat pengen tertawa adalah mereka menyalahkan Presiden RI Jokowi. Kata mereka ini adalah ciri bahwa Jokowi tidak memihak Islam dan mengarahkan Indonesia menjadi negara sekuler.

            Apa hubungannya antara Jokowi dengan usulan Erdogan?

            Erdogan yang punya usul, kok Jokowi yang disalahkan?

            Mereka memang bagusnya menjadi pelawak saja. Sudah copot saja itu gelar ustadz, lalu jadi komedian saja sekalian.

            Hal yang tak kalah lucunya adalah mereka seolah-olah sangat paham tentang diri Kemal dibandingkan rakyat Turki sendiri. Kemal itu orang Turki, pemimpin Turki, pasti orang Turki yang lebih mengenal Kemal dibandingkan orang-orang Indonesia.

            Lucunya, segelintir orang Indonesia yang sok tahu ini menuduh Kemal adalah penjahat, padahal orang-orang Turki sangat menghormati dan menghargai Kemal.

            Kalau ditanya, siapa yang lebih mengenal Jenderal Sudirman?

            Orang Indonesia atau orang Turki?

            Pasti jawabannya orang Indonesia karena Sudirman adalah orang Indonesia dan pemimpin Indonesia.

            Mana mungkin orang Turki lebih mengenal Sudirman dibandingkan orang Indonesia?

            Sudahlah, kita tinggalkan saja orang-orang lucu itu.

            Begini sedikit penjelasan tentang Kemal yang saya tahu dari Presiden ke-1 RI Soekarno dalam bukunya “Dibawah Bendera Revolusi” yang sangat tebal itu. Saat itu Turki sedang dalam keadaan bahaya, sangat genting. Negeri itu diambang kehancuran. Dari luar mereka mendapatkan banyak ancaman serangan militer negara lain dan dari dalam negeri sendiri menghadapi banyak pemberontakan. Saking berantakan dan rusaknya Turki, negeri itu disebut “The Sick Man from Europe”, ‘Si Orang Sakit dari Eropa’. Untuk memperbaikinya, diperlukan upaya yang tepat dan sangat cepat karena hanya punya sedikit waktu, Turki bisa kapan saja runtuh. Upaya perbaikan itu sangat berjalan lambat dan kerap tidak sesuai dengan yang diharapkan untuk menyelamatkan Turki. Hal itu disebabkan segala keputusan negara harus mendapatkan pertimbangan dan persetujuan para ulama. Di sinilah masalahnya.

            Menurut Soekarno, para ulama itu adalah mereka yang tinggal dan hidupnya di kuburan-kuburan. Hal itu membuat mereka tidak mengerti tentang situasi negara. Hal ini bagi Mustafa Kemal Ataturk sangat menghambat upaya penyelamatan Turki. Dalam suatu pertemuan dengan para ulama, Kemal sangat kesal sehingga naik ke atas meja dan berteriak lantang untuk menyelamatkan negara sambil memarahi para ulama itu. Kisah selanjutnya, Kemal memang mengambil alih kewenangan Turki. Hasilnya, Turki hingga sekarang bisa hidup dan terus ada dengan menggunakan sistem pemerintahan yang sangat berbeda dibandingkan sistem kekhalifahan masa lalu. Oleh sebab itu, tak heran jika Erdogan dan rakyat Turki menggelarinya sebagai Bapak Turki karena Kemal telah menyelamatkan Turki dari jurang kehancuran.

            Begitu Bro yang saya pahami dari tulisan Soekarno.

            Jadi, berpikir itu harus lurus serta ada data dan faktanya. Sumber informasinya juga harus jelas. Jangan bikin orang tertawa.

            Hayu ah.

            Sampurasun.

Thursday, 5 August 2021

Prank Menasional

 

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Prank itu artinya lucu-lucuan, senda gurau, kelakar, bercandaan, tetapi ada juga arti lain, yaitu menipu dan mengibuli. Di dunia ini, termasuk di Indonesia istilah prank memang sering digunakan untuk hal-hal yang lucu, main-main, misalnya, prank pocong, prank manusia semak-semak, atau prank polisi-polisian. Meskipun main-main, di dalamnya memang mengandung penipuan, tidak sebenarnya.

            Tak heran jika sekarang-sekarang ini istilah prank dialamatkan pada orang yang berbohong dan menipu. Ada banyak prank yang terjadi di Indonesia ini sejak zaman Soekarno sampai dengan hari ini yang sifatnya nasional, diketahui oleh masyarakat senegara. Kalau ditulis semua, bisa puluhan, bahkan mungkin ratusan prank yang terjadi dan berskala nasional.

            Prank yang terjadi akhir-akhir ini dan diketahui masyarakat luas adalah prank keluarga Akidi Tio yang akan menyumbang 2 triliun untuk masyarakat Sumatera Selatan yang terdampak Covid-19. Akan tetapi, sampai hari ini uang 2 T itu tidak jelas pencairannya. Masyarakat menunggu dan tidak ada buktinya. Itu telah disebut prank.

            Ketika penyerahan secara simbolis bantuan 2 T itu, banyak orang yang kaget dan mendukung niat dari keluarga Akidi Tio. Dia memastikan niatnya itu di hadapan Kapolda Sumsel, Gubernur Sumsel, aparat kesehatan, dan diviralkan oleh Humas Polda Sumsel. Mereka yang hadir pada acara itu orang-orang penting. Tak heran banyak orang bergembira, termasuk saya karena ada orang baik yang ingin membantu orang-orang yang sedang kesusahan disaksikan pejabat penting. Akan tetapi, akhirnya dia harus berurusan dengan kepolisian karena tidak ada buktinya.

Hal itu pun membuat saya harus menghapus tulisan saya dari blog dan FB saya tentang kebaikan keluarga itu. Hal itu disebabkan tidak sesuai dengan kenyataan dan bisa menyesatkan.

Kepolisian sudah lebih sigap untuk lebih memastikan nasib keluarga Akidi Tio. Salah satunya karena mereka pun harus membersihkan nama baik kepolisian yang digunakan sebagai media untuk menerima bantuan dari keluarga Akidi Tio. Itu tindakan yang sangat bagus, tidak merasa malu untuk bersikap bahwa mereka pun merasa ditipu.

Prank yang juga menasional adalah prank Ratna Sarumpaet yang mengaku digebukin sekelompok pemuda sampai wajahnya bengkak-bengkak. Padahal tipu. Wajah bengkaknya itu adalah akibat dari proses operasi plastik. Banyak yang tertipu. Anggota DPR sekelas Fadli Zon ikut tertipu dan menyebarkan berita itu ke masyarakat luas. Demikian pula banyak petinggi lain yang dulu pendukung Capres Prabowo tertipu. Ratna Sarumpaet pun harus dipenjara untuk mempertanggungjawabkan prank-nya itu.

Prabowo yang sekarang telah menjadi Menhan pun sempat menjadi korban prank ketika masih menjadi Capres. Dia diberi informasi prank bahwa dirinya telah menang unggul menjadi presiden mengalahkan Jokowi. Dia sempat sujud. Padahal, tipu.

Presiden Soekarno pun pernah kena prank pada 1950. Saat itu ada orang yang mengaku sebagai Raja dan Ratu dari Suku Anak Dalam yang bisa merebut Irian Barat dari kekuasaan Belanda. Ternyata, Raja yang bernama Idrus itu adalah tukang becak dan Ratu yang bernama Markonah adalah pekerja seks komersial. Media-media memberitakannya. Mereka pun ditangkap.

Pada zaman Presiden Soeharto pun ada prank yang mendapat perhatian masyarakat. Saat itu sekitar 1970-an ada seorang perempuan hamil bernama Cut Zahara  Fona. Dia mengaku bahwa janin yang ada di dalam perutnya bisa bicara dan pandai mengaji. Wakil Presiden Adam Malik pun mendengarkan suara itu dari perutnya. Bahkan, ulama besar sekelas Buya Hamka ikut berkomentar tentang hal itu. Akan tetapi, setelah diteliti, ternyata di kain perempuan itu ada tape recorder yang menghasilkan suara mengaji. Saat itu tape recorder masih barang mewah.

Pada zaman Presiden Megawati juga ada prank. Saat itu Menteri Agama adalah Said Agil Al Munawar. Mereka mempercayai ada seorang ustadz yang mendapat bisikan bahwa di sekitar batu tulis di Bogor ada harta karun Prabu Siliwangi. Harta itu bisa membayar hutang-hutang negara. Setelah dilakukan penggalian ternyata zonk. Tak ada harta karun itu.

Pada zaman Presiden SBY, sekitar 2007, ada seorang yang bernama Joko Suprapto yang mengaku bisa mengubah air menjadi bahan bakar. Dimulailah proyek “Blue Energy” atau “Banyu Geni”. SBY sangat tertarik. Akan tetapi, akhirnya Joko mengaku bahwa dirinya berbohong dan meminta maaf.

Masih banyak prank lain yang berskala nasional. Akan tetapi, akan terlalu banyak jika ditulis di sini. Kita ambil hikmahnya saja. Kita harus mengakui bahwa kita adalah manusia yang lemah. Sehebat apa pun kita, sepintar apa pun kita, setinggi apa pun jabatan dan kehormatan kita, pada akhirnya kita harus sadar bahwa kita ini rentan dan ringkih. Jika Allah swt tidak melindungi dan memberikan petunjuk, kita akan hidup dalam ketertipuan.

Allah swt Maha Pelindung. Dia Sang Maha Pemberi Petunjuk.

Sampurasun.

Saturday, 15 May 2021

Palestina Jangan Bergantung pada Negara Lain

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya




Hidup itu jangan selalu bergantung pada orang lain. Boleh sekali-sekali, tetapi tidak untuk selamanya. Kita harus mampu mengandalkan potensi, kekuatan, dan kreativitas diri agar lebih punya harga diri dan sanggup untuk memutuskan segala hal untuk kebaikan diri kita sendiri. Jika kita selalu hidup bergantung kepada orang lain, selalu berharap belas kasihan orang lain, kekuasaan kita untuk berkuasa terhadap diri sendiri pun akan sangat rendah. Wibawa kita akan sangat minim.

            Demikian pula dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Suatu bangsa atau negara akan berwibawa jika mampu menggali potensi dirinya, kemudian mewujudkannya dalam kehidupan internasional. Kita bisa lihat Singapura, negara kecil segede pelok buah mangga itu mampu berwibawa karena dapat mengeksplorasi potensi dirinya, baik para elit maupun rakyatnya, kemudian menggunakannya dalam pergaulan internasional.

            Jika kita melihat kasus-kasus di Palestina terkait konfliknya dengan Israel, tampak sekali ketergantungannya kepada negara lain. Setiap terjadi konflik, Palestina, dunia Arab, negara berpenduduk mayoritas muslim, maupun para aktivis kemanusiaan kerap berteriak meminta bantuan dan pertanggungjawaban negara lain.

            Kok Arab Saudi diam saja?

            Bagaimana negara-negara muslim lainnya? Kok tenang-tenang saja?

            Turki seharusnya kirim pasukan perang melawan Israel ke Palestina!

            Indonesia sebagai negara berpenduduk muslim terbesar di dunia seharusnya lebih keras bersikap kepada Israel!

            Bagaimana pertanggungjawaban PBB?

            Kalimat-kalimat semacam itu sering terdengar. Hal itu menjadikan Palestina sebagai “anak teraniaya” yang harus selalu dilindungi orang lain. Padahal, di tanah itulah muncul kisah manusia paling perkasa sedunia “Syamun Al Ghazi” yang dikenal dunia lewat film dan  ceritera sebagai “Samson”.

            Sesungguhnya, kemerdekaan, kedaulatan, dan kekuasaan mengatur dirinya sendiri adalah bergantung pada dirinya sendiri. Kita bisa berkaca pada kemerdekaan Negara Indonesia yang mengalami penjajahan paling mengerikan di muka Bumi dalam waktu yang sangat panjang (C. Santin dalam Soekarno : 1963), lebih lama dibandingkan Palestina. Dalam hitungan saya dari beberapa literatur yang saya baca, bantuan dari luar negeri atau pihak asing untuk mencapai kemerdekaan Indonesia, paling hanya 10%; kemudian 10% dari momen dunia saat itu; persentase terbesarnya adalah 80% perjuangan bangsa Indonesia sendiri.

            Bantuan pihak asing yang diterima Indonesia bisa berupa dukungan kepada perjuangan dan kemerdekaan Indonesia di organisasi internasional, pendidikan para pemuda Indonesia, bantuan materi bagi orang-orang Indonesia yang menjalin hubungan dengan orang-orang di luar negeri, dan lain sebagainya. Momen dunia yang menguntungkan Indonesia adalah kekalahan Jepang setelah perang melawan pasukan multinasional (sekutu). Perjuangan rakyat Indonesia adalah penyumbang terbesar terhadap keberhasilan mendapatkan kemerdekaan Indonesia.

            Hal yang paling menguatkan perjuangan Indonesia adalah adanya rasa persatuan, senasib dan sepenanggungan, serta kesetiaan kepada komando revolusi. Saya teringat ajaran guru saya ketika SD soal “sapu lidi”. Sapu lidi itu kuat dan bermanfaat jika lidi-lidi yang terpisah itu diikat dan disatukan menjadi sapu lidi. Akan tetapi, jika diceraiberaikan menjadi lidi yang terpisah-pisah, akan lemah dan mudah dipatahkan. Begitulah perumpaan “persatuan Indonesia”. Oleh sebab itu, sampai saat ini pemerintah Indonesia dan rakyat Indonesia yang “waras otak” selalu memerangi setiap upaya beberapa gelintir orang yang dianggap mengancam persatuan dan kesatuan Republik Indonesia. Kalau Indonesia sampai tercerai-berai, lemahlah kemerdekaan negaranya.

            Begitu pula dengan Palestina saat ini. Saya kurang yakin jika kemerdekaan Palestina bisa dicapai jika hitungan persentasenya dibalik: 80% bantuan asing, 10% momen dunia, dan 10% perjuangannya sendiri. Sulit sekali menjadi berdaulat jika hitungannya seperti itu.

            Situasi dan kondisi di Palestina saat ini masih belum menunjukkan rasa persatuan yang utuh. Kelompok-kelompok perlawanan atau kalau diibaratkan sebagai lidi-lidi yang ada, masih tercerai berai, belum kuat seperti sapu lidi yang terikat kuat. Tak jarang di antara kelompok-kelompok itu terlibat perselisihan yang sebetulnya merugikan mereka sendiri. Israel dan para pendukung Israel memanfaatkan kelemahan Palestina itu untuk terus memperlemah Palestina dan memiliki celah untuk bersikap arogan terhadap Palestina.

            Bersatulah dulu dalam satu komando, insyaallah sekuat Syamun Al Ghazi atau Samson.

            Soal senjata?

            Penjajah Indonesia menggunakan senjata modern dan canggih, kita awalnya cuma pakai bambu runcing. Bisa menang kok.

            Sampurasun.

Saturday, 28 December 2019

Indonesia, Ummatan Wasathan


oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Pembahasan mengenai “ummatan wasathan” sudah dilakukan banyak orang. Ummatan wasathan diartikan sebagai “umat penengah, umat pertengahan, umat yang adil,  dan umat paling utama”. Banyak orang menulis pemahaman ini dari berbagai sudut pandang. Ada yang melihat dari sisi ibadat, akhlak, ketuhanan, kemanusiaan, ekonomi, dan spiritual.

            Kalimat ummatan wasathan sendiri ada dalam QS Al Baqarah, 2 : 143.

            “Dan demikian pula Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) ‘ummat pertengahan’ agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu ….”

            Begitu hasil terjemahan Dr. Ahmad Hatta, M.A..

            Jika kita memperhatikan Indonesia dan hubungannya dengan negara-negara asing, Allah swt sudah menggiring Indonesia menjadi ummatan wasathan. Tampaknya, Allah swt memberikan ilham kepada para founding fathers untuk berada di tengah-tengah dunia. Hal itu bisa dilihat dari politik luar negeri Indonesia yang “bebas dan aktif”, ‘bebas dari tekanan negara mana pun dan aktif mendamaikan dunia’. Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia tidak mau ditarik-tarik oleh dua kekuatan besar dunia, yaitu kapitalis dan komunis. Indonesia berada di tengah-tengah keduanya. Sejarah menunjukkan bahwa Indonesia adalah penggagas gerakan nonblok yang utama. Tidak berpihak pada blok kapitalis dan tidak berpihak pada blok komunis, tetapi aktif meningkatkan harga diri bangsa-bangsa terjajah sekaligus aktif dalam perdamaian dunia. Monumennya ada di Bandung, Jawa Barat. Ada Gedung Merdeka, Jln. Asia Afrika, Hotel Homman, Jln. Hofman, Braga, Dasasila Bandung, dan sebagainya.

            Dasar pemikiran untuk bertindak bagi bangsa Indonesia, tentu saja Pembukaan UUD 1945 yang di dalamnya memuat Pancasila. Jadi, dasar tindakan kita bukanlah ideologi kapitalis maupun komunis, melainkan Pancasila.

            Sampai sekarang pun Indonesia tetap di tengah-tengah. Indonesia bisa bersahabat dengan negara-negara kapitalis, bisa bersahabat pula dengan negara-negara komunis. Kedutaan Besar mereka ada di Jakarta. Jika duta besarnya ada di Jakarta, berarti mereka sahabat. Dengan Israel tidak bersahabat, duta besarnya tidak ada di Jakarta, duta besar Indonesia pun tidak ada di Tel Aviv. Meskipun demikian, Indonesia tidak segan-segan bersuara di tingkat internasional jika ada perilaku internasional yang dipandang melanggar nilai-nilai yang kita anut secara universal.

            Itu dilihat dari segi nilai-nilai, dasar pemikiran, dan dasar bernegara. Dalam praktiknya,  untuk menjadi ummatan wasathan, sulitnya luar biasa. Hal itu bisa dilihat dari seluruh presiden di Indonesia sejak Soekarno hingga saat ini. Setiap presiden mempunyai kecenderungan/kemiringan sendiri. Terkadang miring ke kapitalis, terkadang pula ke komunis. Akan tetapi, mereka tidak pernah hendak menjadikan Indonesia sebagai kapitalis ataupun komunis. Mereka miring-miring saja karena kondisi dan situasi memaksa mereka untuk melakukan itu demi keselamatan Indonesia sendiri. Bedanya, ada yang miringnya sedikit, ada yang banyak sekali, tetapi pada dasarnya selalu kembali ke tengah. Kesulitan itu karena Indonesia sendiri masih memiliki banyak kelemahan.

            Dalam dunia olah raga, kita mengenal istilah “wasit” yang artinya sama, yaitu “pihak yang harus berada di tengah”, tidak pro ke kanan dan tidak pro ke kiri. Dia harus adil, berada di tengah. Oleh sebab itu, wasit diberi kekuasaan yang besar untuk memberikan “hukuman” kepada mereka yang melanggar aturan. Itulah bedanya dengan Indonesia. Dalam posisi, pikiran, dan jiwa Indonesia berada di tengah dunia, ‘wasathan’, tetapi tidak memiliki kekuasaan yang besar untuk bertindak sebagai wasit, ‘penengah’. Hal itu disebabkan Indonesia masih lemah secara ekonomi, militer, pendidikan, dan teknologi.

            Allah swt menggiring kita ke posisi ummatan wasathan, tinggal kitanya yang harus meningkatkan kualitas diri, keluarga, dan masyarakat dengan berbagai hal yang positif sehingga bermanfaat bagi manusia. Jika kita menjadi manusia-manusia yang berkualitas unggul, otomatis, insyaallah, kita menjadi ummatan wasathan yang sangat dihormati dan berpengaruh di dunia. Dengan itulah, kita akan mempersembahkan amal baik kita ke hadapan Allah swt di akhirat kelak karena telah berperan serta dalam perdamaian dunia dan keadilan manusia dengan kekuatan yang luar biasa, “rahmatan lil alamin”.

            Sampurasun.

Friday, 16 August 2019

Kesadaran Ketuhanan dalam Kemerdekaan


oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Banyak orang yang tidak mengerti dan menuduh tanpa ilmu pengetahuan bahwa kemerdekaan Indonesia tidak memiliki dasar keagamaannya. Pendapat mereka sangat dangkal dan penuh dengan dugaan yang tak terbukti benar.

            Siapa bilang kemerdekaan Indonesia tidak berdasarkan nilai-nilai keagamaan?

            Jika kita baca Pembukaan UUD 1945 alinea ketiga, kita akan mendapatkan kalimat seperti ini:

            Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.

            Paragraf ini disusun oleh orang-orang yang beragama dan memiliki ilmu yang mumpuni dalam hal ketuhanan dan hubungan vertikal antara manusia dengan Tuhan-nya. Para pendiri bangsa Indonesia sangat memahami bahwa kemerdekaan yang diraih bangsa Indonesia tak lepas dari hubungan antara Allah swt dengan rakyat Indonesia.

            Pada hakikatnya, kemerdekaan Indonesia adalah atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa. Secara syariat, yang tampak lahir adalah hasil perjuangan rakyat Indonesia, baik fisik maupun batin yang di dalam dirinya ada semangat dengan didorongkan oleh keinginan luhur.

            Kalimat ini pasti keluar dan dibuat oleh orang yang sangat mengerti ilmu tasawuf. Dalam ilmu tasawuf, hakikat dan syariat itu adalah dua hal yang saling terikat dan tidak bisa dipisahkan untuk mencapai tujuan tertentu. Hakikatnya, atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa; syariatnya, dengan didorongkan oleh keinginan luhur. Contoh mudahnya adalah pada hakikatnya yang menyembuhkan orang sakit adalah Allah swt; syariatnya, pergi ke dokter dan minum obat.

            Kalau ingin memahami hakikat dan syariat lebih jauh, coba tanya kepada para ahli tasawuf; tanyakan juga tentang alinea ketiga dalam Pembukaan UUD 1945, insyaallah para ahli tasawuf itu akan memberikan penjelasan yang sangat terang benderang. Jadi, dasar keagamaan kemerdekaan Indonesia sangat jelas.

            Belum lagi jika dibahas bahwa kemerdekaan itu merupakan fitrah manusia yang pada dasarnya memiliki hak untuk bebas bergerak, beraktivitas, dan beribadat dengan tujuan kembali kepada Allah swt sebagaimana yang diinginkan Allah swt dalam keadaan fitrah.

            Perlu pula diingat bahwa kemerdekaan yang merupakan anugerah Allah swt ini bukanlah tujuan akhir dari sebuah perjuangan, melainkan sebagaimana yang dikatakan Pemimpin Besar Revolusi Indonesia Soekarno, “Kemerdekaan adalah jembatan emas menuju Indonesia jaya yang makmur, aman, sentosa.”

            Dengan diraihnya “jembatan emas” ini, perlu disyukuri bersama, tetapi tidak cukup bersyukur, perlu pula diisi oleh berbagai aktivitas positif, baik lahir maupun batin agar jembatan emas itu lebih bermanfaat untuk kita seberangi menuju Indonesia maju, adil, dan makmur.

            Sampurasun.

Tuesday, 16 July 2019

Kecewa Sama Prabowo, Bikin Partai Sendiri Saja


oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Setelah Jokowi dan Prabowo melakukan rekonsiliasi (13 Juli 2019), ternyata banyak pendukung Prabowo yang kecewa. Mereka ingin rekonsiliasi tidak terjadi, tetapi kenyataannya terjadi. Hal itu disebabkan agenda-agenda mereka runtuh secara tiba-tiba dengan adanya pengakuan dan pernyataan resmi yang diberikan Prabowo kepada Jokowi sebagai pemenang Pilpres 2019.

            Koalisi Adil Makmur memang sudah dibubarkan.  Partai-partai pengusung Prabowo-Sandi kembali dan dikembalikan ke kedaulatannya masing-masing, tidak lagi terikat pada koalisi. Mereka bergerak bebas sekehendak mereka. Ada yang sudah memastikan dirinya menjadi oposisi yang bertindak sebagai “pengingat” Jokowi dan penyeimbang kekuasaannya, yaitu PKS. Selebihnya, sampai tulisan ini dibuat masih belum jelas sikapnya, entah bergabung Jokowi, entah berada di luar pemerintahan. Para pendukung Prabowo yang kelimpungan dan tampak lebih kecewa adalah kelompok-kelompok yang bukan partai. Mereka kehilangan “tunggangan”, baik Prabowo maupun partai-partai pendukung untuk memuluskan agenda-agenda sendiri yang tampak berbeda dengan apa yang menjadi ide Prabowo sendiri.

            Prabowo-Sandi memiliki agenda-agenda yang menurut beberapa pengamat “beririsan” dengan agenda-agenda Jokowi-Maruf Amin. Artinya, keinginan Jokowi-Amin mirip dengan keinginan Prabowo-Sandi dalam memajukan dan membuat Indonesia adil makmur.

            Oleh karena itu, wajar jika Prabowo ketika rekonsiliasi menyatakan siap membantu pemerintahan Jokowi-Amin. Kesiapan Prabowo membantu pemerintah itu bisa dengan memperkuat dan bergabung Jokowi atau mendorong dengan cara memberikan pengawasan dan kritik-kritik konstruktif dari luar pemerintahan. Bagi Prabowo, keutuhan dan keselamatan NKRI jauh lebih penting dibandingkan kepentingan-kepentingan politik sesaat, sebagaimana dalam surat yang ditulisnya sendiri kepada Amien Rais, pentolan PAN.

            Hal itulah yang membuat pendukung Prabowo-Sandi nonpartai kecewa. Partai seperti PKS juga sebetulnya seperti sedikit kecewa, tetapi mereka masih bisa berkiprah dalam politik secara resmi melalui lembaga legislatif DPR. Adapun pendukung nonpartai seperti kehilangan arah dan pegangan karena agenda-agenda politik mereka “melayang tak lagi bertenaga”.

            Berkaca dari pengalaman tersebut, sebaiknya pendukung Prabowo-Sandi nonpartai jangan lagi menggunakan siapa pun dan apa pun sebagai kendaraan politik. Jika ingin memperjuangkan agendanya sendiri, buat saja partai sendiri. Dengan demikian, mereka bisa menguji kemampuan dirinya untuk terjun langsung dalam persaingan politik. Jika berhasil, mereka memiliki kekuatan semakin besar. Jika gagal, mereka lebih menyadari berbagai kesulitan dan tantangan yang harus dihadapi dalam berpartai.

            Presiden pertama RI Ir. Soekarno pernah berkata, “Aku tidak suka orang Islam yang merintih-rintih, ‘janganlah Islam dipisahkan dari negara’. Aku lebih suka orang Islam yang berani menjawab tantangan zaman. Penuhilah kursi-kursi parlemen itu jika engkau benar-benar rakyat Islam!”

Sampurasun.

Sunday, 21 May 2017

Kesalahan Kristen Diikuti oleh Umat Islam

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Kerusakan ajaran Kristen telah menghancurkan seluruh daratan Eropa pada masa lalu. Perang, pembunuhan, pemerkosaan, perampokan, penganiayaan, dan berbagai kekejian kemanusiaan benar-benar merusakkan kehidupan manusia. Orang-orang Eropa saling bunuh satu sama lain yang membuat suasana kehidupan panas membara bagai ketel yang penuh minyak mendidih panas sekali.

            Pemimpin Besar Revolusi Indonesia Soekarno menggambarkan kekacauan Eropa pada masa lalu yang seperti drakula penghisap darah dan pertarungan makhluk-makhluk buas itu salah satunya disebabkan rusaknya ajaran Kristen oleh para pendeta dan kesepakatan kaum gereja. Para pendeta dan gereja telah membuat ajaran-ajaran sendiri yang menyimpang dari ajaran Kristen sebenarnya. Mereka berkolaborasi dengan para penguasa Eropa untuk meraih kepentingan politik dan ekonomi. Akibatnya, di antara umat Kristen sendiri terjadi pertarungan dan pembunuhan besar-besaran.

            Orang-orang sudah hampir tidak tahu lagi tentang ajaran Kristen yang sebenarnya. Pendapat-pendapat pendeta dan gereja lebih kuat pengaruhnya di  masyarakat Eropa dibandingkan ajaran injil sendiri.

            Kalau saya tulis lebih panjang pendapat Pemimpin Besar Revolusi Indonesia Soekarno tentang rusaknya ajaran Kristen oleh orang-orang Kristen sendiri yang menyebabkan kekalutan dalam ajaran Kristen yang menimbulkan banyak sekte dan menyebabkan berbagai perang-perang besar, saya yakin ada banyak orang Kristen di Indonesia dan di dunia ini merasa tersinggung. Bahkan, kalau Soekarno hidup pada masa ini sebagai rakyat, bisa mendapatkan “ancaman” tuduhan sebagai “penoda agama Kristen”. Padahal, itu adalah kenyataan. Oleh sebab itu, saya tidak sampai hati menuliskan pendapat Soekarno secara gamblang tentang kerusakan christendom karena sangat keras, tajam, dan menukik. Kalau mau tahu aslinya pendapat Soekarno tentang hal ini, pelajari saja dalam bukunya, Dibawah Bendera Revolusi.

            Sayangnya, karena umat Islam kurang baca dan kurang mempelajari riwayat dunia, kesalahan orang-orang Kristen itu pun diikuti oleh umat Islam. Saat ini banyak sekali dongeng-dongeng yang sangat laku di kalangan kaum muslimin. Hadits-hadits palsu pun banyak diproduksi untuk mendukung kepentingan politik dan ekonomi kalangan tertentu yang haus kekuasaan dan haus harta benda. Perang-perang dan konflik-konflik di Timur Tengah banyak disebabkan oleh dongeng-dongeng khayalan tentang Islam dan hadits-hadits palsu, terutama tentang jihad, kesyahidan, surga, neraka, zaman akhir, dan ramalan kekuasaan pada masa depan. Di samping itu, hal yang sangat menjijikkan adalah memutarbalikkan pemahaman ayat-ayat Al Quran sekehendak hati mereka sendiri tanpa melalui proses analisa mendalam yang jujur dan serius. Mereka menafsirkan ayat Al Quran bukan untuk memberikan pencerahan kepada umat, bukan untuk mendidik masyarakat, melainkan untuk menipu masyarakat agar masyarakat tergiring pada agenda-agenda rendah mereka. Oleh sebab itu, terjadilah perkawinan antara ulama terbelakang, kaum agama yang serakah dengan para politisi kacangan yang tak mampu menampilkan program dan potensi kebaikan. Lebih parah lagi jika perkawinan haram ini didukung oleh senjata-senjata pembunuh yang melibatkan kekuatan militer besar. Perang-perang besar dan berbagai pembunuhan pun terjadi sebagaimana yang terjadi di Eropa masa lalu.

            Hal yang bisa kita lihat adalah adanya kesamaan penyebab dari berbagai konflik, perang, dan pembunuhan di dunia ini, yaitu mengaburkan pemahaman agama dari ajaran yang sebenarnya, membuat ajaran-ajaran baru yang menyandarkan pada agamanya, memutarbalikkan fakta, dan mengupayakan pengadaan senjata untuk mendukung agenda-agenda politik dan ekonomi para petualang busuk.

            Orang-orang Eropa sangat lama tenggelam dalam kegelapan dan pertikaian. Mereka baru berhenti sejak terjadinya perjanjian Westphalia yang menghentikan perluasan-perluasan kekuasaan bangsa tertentu atas bangsa lainnya dan adanya keharusan menghormati batas-batas teritorial bangsa lainnya.

            Sekarang, bagaimana caranya umat Islam menghentikan konflik di antara umat Islam sendiri?

            Jawabannya adalah sangat mudah, yaitu kembali kepada Al Quran dengan meninggalkan dongeng-dongeng tak masuk akal, hadits-hadits palsu, serta pendapat para ulama terbelakang.

            Hal yang sulit dilakukan adalah mengakui diri telah melakukan kesalahan, meminta maaf, dan menurunkan egoisme diri.

            Apabila tujuan umat Islam hanya satu, yaitu mengabdikan diri kepada Allah swt tanpa mempertuhankan kekuasaan politik dan ekonomi, umat Islam pasti bersatu dan sama-sama membuat dunia ini dalam keadaan damai, tertib, teratur, harmonis, penuh cinta, dan penuh kemakmuran.


            Sampurasun.

Saturday, 20 May 2017

Sistem Khilafah = Sistem Monarki

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Saya akhir-akhir ini agak sering tertawa jika memperhatikan pendapat-pendapat ulama terbelakang. Mereka tidak siap dengan perkembangan baru, tidak siap dengan pemahaman baru, tidak siap menyingkirkan pemahaman-pemahaman lama walaupun sudah terbukti salah. Lucunya, mereka mencari-cari alasan, dalil-dalil yang lemah untuk mempertahankan pendapat-pendapatnya yang salah. Karuan saja karena yang dipertahankan adalah ilmu yang sudah salah, upaya mempertahankannya pun jadi benar-benar salah. Lucunya, mereka tidak peduli ditertawakan orang lain karena kesalahannya, mereka memilih untuk tetap bertahan dalam kesalahannya.

            Saya pernah menantang keyakinan bahwa sistem khilafah itu ajaran Islam. Saya berpendapat bahwa sistem khilafah itu sama sekali bukan ajaran Islam. Saya menantang siapa pun yang dapat menunjukkan ayat Al Quran yang berupa perintah untuk mendirikan sistem khilafah. Ayat itu tidak pernah akan ditemukan. Memang kenyataannya juga seperti itu. Sekarang, para pendukung kekhalifahan sudah tahu bahwa sistem khilafah sama sekali tidak ada dalam Al Quran. Mereka saat ini mengakuinya. Itu adalah kemajuan buat mereka. Satu poin kebenaran sudah didapat, yaitu “tidak ada ajaran sistem khilafah dalam Al Quran”. Saya harus bertepuk tangan atas pengakuan mereka itu. Saya menghormati mereka.

            Meskipun demikian, mereka masih tidak rela untuk mengakui bahwa pendapat mereka adalah salah. Mereka mencoba mulai mengaburkan pemahaman antara arti khilafah secara bahasa dengan arti sistem khilafah secara politik. Dengan demikian, pendapat-pendapat ulama terdahulu yang mewajibkan adanya khilafah diputar-putar artinya dengan kewajiban mendirikan sistem khilafah. Khilafah itu jelas wajib ada dalam sistem pemerintahan mana pun di belahan dunia mana pun karena arti khilafah adalah pengganti atau pewaris kepemimpinan. Kalau presiden sudah selesai masa tugasnya, harus ada penggantinya. Demikian juga, raja, kaisar, perdana menteri, selalu harus ada penggantinya. Itu hal yang harus ada di mana-mana. Akan tetapi, tidak dengan sistem khilafah karena sistem khilafah itu merupakan suatu sistem tersendiri yang meliputi tatanan kenegaraan tertentu, sistem politik tertentu. Beda jauh antara khilafah dengan sistem khilafah. Akan tetapi, banyak pendukung sistem khilafah sering membuat kabur pemahaman ini. Mereka masih ingin memaksakan kehendak untuk mendirikan sistem khilafah dengan mengaburkan pemahaman-pemahaman yang sebenarnya.

            Saya dulu pernah menulis bahwa HOS Tjokroaminoto mengajari Pemimpin Besar Revolusi Indonesia Soekarno tentang kekhalifahan yang membuat Soekarno berpendapat bahwa kerusakan sistem politik umat Islam adalah dimulai dari Dinasti Muawiyah. Muawiyah adalah orang yang paling bertanggung jawab atas pengubahan sistem kekhalifahan dari yang asalnya melalui proses pemilihan diganti dengan sistem pewarisan kekuasaan dari ayah kepada anak. Para pendukung sistem khilafah saat ini mencoba membela Muawiyah dan membantah pendapat Soekarno. Mereka mengatakan bahwa memang benar Muawiyah mengalihkan kekuasaannya dari ayah kepada anak sama dengan sistem politik monarki. Akan tetapi, mereka berkilah bahwa para khalifah itu berbeda dengan raja. Para khalifah itu taat kepada aturan yang berlaku, sedangkan raja tidak seperti itu. Menurut mereka, raja itu mutlak kekuasaannya dan tidak patuh kepada aturan karena raja sendirilah yang berkuasa atas aturan-aturan kerajaan.

            Nah, di sinilah sebabnya saya mengatakan bahwa mereka itu adalah para ulama terbelakang. Mereka kurang belajar. Ingin mendirikan negara, tetapi tidak paham berbagai sistem politik. Mereka pikir raja itu selalu mutlak kekuasaannya dan tidak patuh kepada aturan karena raja itu sendirilah yang merupakan peraturan di dalam kerajaannya.

            Saya kasih tahu ya, pelajaran soal itu adalah pelajaran paling awal di Fakultas Ilmu-Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip). Sistem politik monarki atau sistem kerajaan itu ada dua, yaitu monarki absolut dan monarki konstitusional. Monarki absolut adalah ya seperti yang mereka bilang bahwa raja adalah negara, raja adalah hukum, raja adalah penguasa peraturan sehingga raja bertindak sekehendak diri raja sendiri dan tidak perlu taat pada aturan. Akan tetapi, berbeda dengan monarki konstitusional atau sistem kerajaan konstitusi. Dalam sistem ini raja tidak berkuasa secara mutlak karena ada konstitusi yang harus dipatuhi. Raja pun sama harus patuh pada aturan yang berlaku di negaranya. Sistem monarki absolut sekarang sudah bangkrut dan tidak ada lagi. Akan tetapi, sistem politik monarki konstitusional masih ada, misalnya, Inggris dan Belanda.

            Jadi, sudahlah sistem khilafah itu hanya sebuah sistem politik biasa, tidak suci dan tidak sakral, biasa saja. Orang boleh sepakat dengan sistem itu dan boleh tidak sepakat, tidak ada hubungannya dengan surga dan neraka.

            Sistem khilafah yang dikritik keras oleh Soekarno adalah sistem khilafah yang pergantian kepemimpinannya sama dengan sistem monarki, baik absolut maupun konstitusional. Hal yang disoroti oleh Soekarno adalah anak yang menjadi pemimpin karena menggantikan ayahnya, berkuasa di dalam sistem pemerintahan khilafah sehingga menimbulkan kerusakan. Berbeda dengan sistem monarki konstitusional sekarang yang meskipun dipimpin oleh seorang raja atau ratu, tetapi ada badan lain yang menjalankan pemerintahan, misalnya, perdana menteri yang dipilih untuk menyelenggarakan negara. Adapun raja atau ratu lebih berperan sebagai simbol negara dan alat pemersatu rakyat.

            Begitu kira-kira. Jadi, sistem khilafah itu sama dengan sistem monarki dalam hal pergantian kekuasaan. Dalam penyelenggaraannya, pasti ada perbedaan secara teknis.

            Begitu ya. Banyak-banyaklah belajar dan hati-hati sebelum berpendapat supaya tidak terbelakang.

            Jangan memutarbalikkan pemahaman ayat Al Quran, jangan kebanyakan percaya dongeng-dongeng, jangan membuat kabur pikiran masyarakat, jangan menjadikan Mekah sebagai tempat kabur lari dari tanggung jawab. Ketika ada masalah, kabur ke Mekah alasannya ibadat. Padahal, ibadat ke Mekah itu bisa ditunda untuk menyelesaikan masalah yang lebih penting. Shalat saja bisa dijama.  

            Puasa Ramadhan saja bisa diganti, masa ke Mekah tidak bisa ditunda?

            Begitu ya, jangan sekali-sekali memperalat Mekah sebagai alasan untuk tidak bertanggung jawab atas perbuatan buruk yang dilakukan. Hadapi saja semua masalah dengan baik.

            Masa orang lain didorong untuk berjihad mengorbankan harta dan nyawa?

            Giliran dirinya harus berjihad berhadapan dengan masalah, malah kabur dengan alasan ibadat. Itu mah mujahid terbelakang yang pengecut.


            Sampurasun.

Friday, 19 May 2017

Susahnya Merajut Kebersamaan

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Sejak putusan vonis hakim yang dijatuhkan pada Ahok atau Basuki Tjahaya Purnama, suasana kebatinan Indonesia makin kusut dan sulit sekali diperbaiki. Hal itu disebabkan ada peristiwa yang menodai perasaan dan logika yang bersih. Ini sangat sulit diredam karena perasaan-perasaan yang ternoda dan logika-logika yang ternoda ini tidak bisa dihentikan, bahkan akan terus ada. Berbeda dengan perilaku kriminal atau terorisme yang bisa diselesaikan melalui jalur hukum dan jalur “pembasmian” secara fisik. Perasaan dan logika tidak bisa diredam dengan cara itu. Perasaan dan logika hanya bisa diredam dengan cara memberikan pengertian dan pemahaman yang lurus serta masuk akal.

            Mereka yang ternoda perasaannya tidak habis pikir mengapa orang “sebaik” Ahok yang bekerja keras untuk rakyat, memberikan berbagai solusi untuk pembangunan, tidak melakukan korupsi, tegas dan teguh dalam menjalankan program, memiliki cita-cita yang tinggi untuk memakmurkan rakyat, memiliki komitmen yang kuat untuk pembangunan, harus dijatuhi hukuman yang menghinakan. Mereka tidak bisa mengerti mengapa “kekuasaan” hukum justru membuat orang baik terjatuh. Sementara itu, orang-orang yang kerap berteriak-teriak kasar, tidak jelas bukti manfaatnya bagi masyarakat dan bagi pembangunan, bahkan diduga akan melakukan makar terhadap negara, seolah-olah lebih didengar oleh hakim hanya karena memiliki massa yang seolah-olah banyak, padahal hanya sedikit itu. Kira-kira seperti itulah yang ada di pikiran mereka yang merasa terganggu dan ternoda perasaannya meskipun sebenarnya Ahok bukanlah manusia “sangat baik” dan tidak pernah salah karena memang ada yang harus diperbaiki dalam diri Ahok, yaitu soal “etika”.

            Etika memang harus diperbaiki, tetapi hukum tidak berkaitan sama sekali dengan etika tersebut. Jangan karena etikanya kurang baik, hukuman yang dijatuhkan adalah karena “penodaan agama”.

            Saya sendiri merasa “ternoda” dan “terperkosa” logika dan pikiran. Orang-orang seperti saya ini tidak ada hubungannya dengan Ahok karena bukan soal individu atau orangnya yang dipikirkan, tetapi jalan logikanya harus benar, jelas, dan tidak merusakkan tatanan berpikir yang jernih.

            Berkali-kali saya menulis hal ini dan tidak pernah ada yang mau membantah saya atau berdebat dengan saya. Tampaknya semua orang pengecut berdebat dengan saya.

            Ahok itu divonis telah melakukan penodaan agama atau ayat Al Quran.

            Ayat yang mana yang telah dinodai oleh Ahok?

            QS Al Maidah : 51?

            Memangnya, apa sebenarnya isinya QS Al Maidah : 51 itu?

            Saya sudah berulang-ulang menjelaskan bahwa ayat itu bukan pelarangan untuk memilih pemimpin beragama Kristen atau Yahudi dalam segala situasi. Ayat itu berupa larangan untuk menjadikan Kristen dan Yahudi sebagai pelindung atau kepercayaan atau pemimpin ketika terjadi perang yang melibatkan kaum Kristen dan Yahudi menjadi pengkhianat perdamaian dengan kaum muslimin. Hal itu bisa dibuktikan dari asbabun nuzul, sejarah Nabi Muhammad saw yang ilmiah, dan kehidupan sehari-hari manusia.

            MUI tidak pernah mempermasalahkan menteri beragama Kristen, manajer badminton beragama Kristen, RW beragama Kristen, pemimpin paduan suara beragama Kristen, ketua koperasi beragama Kristen, hakim pemimpin sidang beragama Kristen, tetapi mengapa Ahok tidak boleh dipilih hanya karena agamanya Kristen?

            Kenyataan seperti itu sudah memperkosa logika dan pikiran.

            Apalagi jika kita sudah memahami dengan benar pemahaman yang benar mengenai kandungan QS Al Maidah : 51 sesuai dengan ilmu pengetahuan dan bukan hawa nafsu, Ahok sama sekali tidak menodai QS Al Maidah : 51 dan tidak menodai pemahaman yang benar mengenai QS Al Maidah : 51. Akan tetapi, Ahok memang benar-benar menodai pemahaman yang salah mengenai QS Al Maidah : 51. Pemahaman-pemahaman yang salah itulah yang diserang dan dinodai Ahok. Jadi, jika Ahok dinyatakan bersalah, artinya hakim seolah-olah menilai bahwa pemahaman yang salah itu adalah pemahaman yang benar.

            Hal itu benar-benar membuat pikiran dan logika saya terperkosa. Saya merasa kekuasaan hukum sedang menjajah pikiran dan logika manusia.

            Kalaulah etika Ahok yang disalahkan, boleh-boleh saja karena memang salah sesuai nilai etika masa kini. Akan tetapi, seharusnya bukan karena etika itu, Ahok divonis sebagai penghina atau penoda agama. Ahok adalah penoda pemahaman yang salah mengenai QS Al Maidah : 51. Itulah jalan pikiran saya.

            Koreksi saya jika saya salah. Debat saya jika kalian adalah orang-orang yang benar. Saya senang dikoreksi dan didebat secara ilmu pengetahuan. Saya juga senang jika saya disalahkan berdasarkan ilmu pengetahuan sehingga saya bisa memperbaiki diri. Akan tetapi, saya tidak akan menerima hal apa pun yang melanggar logika dan jalan pikiran yang benar.

            Dengan banyaknya perasaan dan logika yang merasa ternoda, jangan harap situasi akan cepat stabil. Kalaupun mereda, hanya akan sementara untuk kemudian muncul lagi dan lagi.

            Saya tidak begitu peduli soal Ahok bebas atau tetap di dalam penjara, saya hanya ingin mengerti dengan benar persoalan ini sesuai dengan jalan pikiran dan logika yang benar. Hal itu disebabkan jika kasus-kasus yang tidak masuk akal seperti ini terus-terusan ada, bangsa Indonesia tidak akan pernah melangkah maju lebih jauh lagi karena akan terus-terusan mempersoalkan hal-hal yang tidak masuk akal semacam ini dan tidak pernah akan berhenti.

            Cita-citanya sih bagus bahwa Indonesia akan menjadi super power pada masa depan, tetapi sungguh cita-cita itu hanya sebuah khayalan jika hal-hal yang tidak masuk akal dan hanya memuaskan hawa nafsu terus-terusan menghambat konsentrasi rakyat.

            Jadi, siapa yang salah kalau kata Pemimpin Besar Revolusi Indonesia Soekarno umat Islam akan tetap hina, mesum, dan tertinggal seribu tahun karena persoalan-persoalan tidak masuk akal?

            Siapa yang salah?

            Kalian!


            Sampurasun.