Showing posts with label Erdogan. Show all posts
Showing posts with label Erdogan. Show all posts

Friday, 17 February 2023

Teroris Turki Dilindungi Indonesia


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Gempa di Turki telah menewaskan sangat banyak orang. Gempa Cianjur menewaskan sekitar 600 orang, gempa di Yogyakarta menewaskan 6.000 orang, korban gempa Turki jauh lebih banyak, lebih dari 35.000 orang.

         Bencana besar dengan korban besar telah membuat dunia prihatin dengan melakukan banyak penggalangan dana, baik oleh negara maupun oleh rakyat secara individu. Banyak instansi atau lembaga pendidikan yang bekerja sama dengan Turki di Indonesia yang memberikan banyak sumbangan ke Turki. Sayangnya, beberapa sekolah atau lembaga pendidikan di Indonesia dituduh teroris oleh pemerintah Erdogan Turki. Erdogan mengeluarkan surat untuk pemerintah Indonesia agar mencurigai beberapa lembaga pendidikan dalam mengumpulkan sumbangan. Turki mempropagandakan bahwa lembaga-lembaga pendidikan itu tidak akan menyalurkan sumbangannya ke Turki, tetapi akan menggunakannya untuk kegiatan terorisme.


Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan (CNN Indonesia)


         Tuduhan teroris dari Turki itu diakibatkan lembaga-lembaga pendidikan itu berafiliasi dengan orang besar, ulama Turki, Fethullah Gulen, yang dianggap Turki sebagai pemimpin kudeta di Turki dan merupakan orang penting dalam organisasi Feto yang dimusuhi Turki. Padahal, Fethullah Gulen sendiri membantah hal itu. Dia tidak ingin berpolitik, apalagi kudeta. Dia hanya ingin mengembangkan lembaga pendidikan dan sosial agar anak-anak Turki, anak-anak muslim, dan warga dunia ini hidup lebih berpandangan terbuka, toleran, mencintai ilmu pengetahuan, membenci korupsi, dan dapat hidup harmonis dengan lebih baik lagi. Karena pandangan Ulama Gulen ini banyak mendapatkan perhatian dan dukungan dari rakyat Turki, tampaknya Presiden Turki Erdogan merasa terancam. Kemudian, melakukan banyak tuduhan dan eksekusi terhadap guru-guru dan lembaga pendidikan di Turki yang terkait dengan Fethullah Gulen.


Fethullah Gulen (Foto: kompasiana.com)


         Sebenarnya, sudah sejak sekitar 6 atau 7 tahun lalu, Turki meminta Indonesia untuk menutup sekolah-sekolah yang terhubung dengan Gulen di Indonesia. Akan tetapi, pemerintah Indonesia sangatlah cerdas. Keinginan Turki tidaklah digubris. Sekolah-sekolah itu tetap ada sampai sekarang dan tetap boleh mengumpulkan sumbangan untuk saudara-saudaranya di Turki. Mereka yang belajar di sekolah-sekolah itu bukan hanya anak-anak Turki, melainkan pula anak-anak Indonesia, anak-anak Inggris, Australia, Amerika Serikat, dan lain sebagainya. Mereka baik-baik saja.

         Pengelola sekolah-sekolah itu sudah menegaskan, “Bos kami adalah pemerintah Indonesia dan bukan pemerintah Turki.”


Presiden Indonesia Jokowi (Foto: DW)


         Mereka patuh pada berbagai peraturan di Indonesia dan sangat menghormati Indonesia. Sekolah-sekolah itu mengajarkan perdamaian, kebaikan, dan mata pelajaran sebagaimana umumnya. Mereka yang bersekolah dan terdiri atas berbagai negara itu bahkan mampu lebih terbuka dengan perbedaan ras, agama, suku, dan lain sebagainya. Demikian pula sekolahnya, jika ada nonmuslim berprestasi, tetap diberikan beasiswa sebagaimana muslim lainnya yang berprestasi.

         Keputusan Indonesia sudah benar. Gejolak politik Turki atau kisruh di Turki, bukanlah urusan Indonesia. Itu urusan Turki. Indonesia tidak melihat bahwa Fethullah Gulen dan lembaga-lembaga pendidikannya di Indonesia sebagai teroris atau pengacau.

         Jadi, untuk apa ikut-ikutan keinginan Turki?

         Indonesia punya hak menilai sendiri dan melindungi siapa pun yang berhak dilindungi di Indonesia tanpa harus mengikuti kehendak negara lain. Itu namanya mandiri dalam berpolitik dan berdaulat dalam mengambil keputusan.

         Foto Jokowi saya dapatkan dari DW dan foto Erdogan saya dapatkan dari CNN Indonesia. Foto Fethullah Gulen dari kompasiana com.

            Sampurasun.

Wednesday, 20 October 2021

Soal Jln. Ataturk Makin Lucu

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Usulan pemerintah Turki Recep Tayyip Erdogan agar Indonesia dapat mengabadikan nama Mustafa Kemal Ataturk menjadi nama jalan di Indonesia mendapat tentangan dari beberapa gelintir orang yang berpikiran sangat lucu. Mereka ini seperti sedang melawak.

            Mereka yang lucu itu adalah sedikit orang-orang Indonesia para pemuja Presiden Erdogan. Para pemuja ini menganggap Erdogan adalah pemimpin yang paling membela Islam, pemimpin utama pujaan umat Islam. Akan tetapi, pada saat yang sama para pemuja Erdogan ini membenci Mustafa Kemal Ataturk. Mereka menganggap bahwa Kemal adalah penjahat yang pasti masuk neraka karena meruntuhkan kekuatan terakhir kekhalifahan di Turki. Padahal, Erdogan yang mereka puja itu sangat menghormati Kemal sebagai “Bapak Turki”. Ataturk itu artinya Bapak Turki. Erdogan menjaga ketat patung Kemal dan kuburan Kemal serta menjadi daya tarik wisatawan yang datang berziarah dari seluruh dunia. Erdogan meneruskan cita-cita Kemal dan tidak mengembalikan Turki ke sistem kekhalifahan.

            Betapa tidak lucu?

            Para pemuja ini memuja Erdogan, tetapi membenci Kemal, padahal Erdogan yang mereka puja ini mengagungkan Kemal.

            Penghormatan kepada Kemal inilah yang membuat pemerintahan Turki Erdogan mengusulkan ada jalan yang menggunakan nama Kemal Ataturk untuk mempererat persahabatan antara Turki dengan Indonesia.  

            Hal yang lebih parah membuat pengen tertawa adalah mereka menyalahkan Presiden RI Jokowi. Kata mereka ini adalah ciri bahwa Jokowi tidak memihak Islam dan mengarahkan Indonesia menjadi negara sekuler.

            Apa hubungannya antara Jokowi dengan usulan Erdogan?

            Erdogan yang punya usul, kok Jokowi yang disalahkan?

            Mereka memang bagusnya menjadi pelawak saja. Sudah copot saja itu gelar ustadz, lalu jadi komedian saja sekalian.

            Hal yang tak kalah lucunya adalah mereka seolah-olah sangat paham tentang diri Kemal dibandingkan rakyat Turki sendiri. Kemal itu orang Turki, pemimpin Turki, pasti orang Turki yang lebih mengenal Kemal dibandingkan orang-orang Indonesia.

            Lucunya, segelintir orang Indonesia yang sok tahu ini menuduh Kemal adalah penjahat, padahal orang-orang Turki sangat menghormati dan menghargai Kemal.

            Kalau ditanya, siapa yang lebih mengenal Jenderal Sudirman?

            Orang Indonesia atau orang Turki?

            Pasti jawabannya orang Indonesia karena Sudirman adalah orang Indonesia dan pemimpin Indonesia.

            Mana mungkin orang Turki lebih mengenal Sudirman dibandingkan orang Indonesia?

            Sudahlah, kita tinggalkan saja orang-orang lucu itu.

            Begini sedikit penjelasan tentang Kemal yang saya tahu dari Presiden ke-1 RI Soekarno dalam bukunya “Dibawah Bendera Revolusi” yang sangat tebal itu. Saat itu Turki sedang dalam keadaan bahaya, sangat genting. Negeri itu diambang kehancuran. Dari luar mereka mendapatkan banyak ancaman serangan militer negara lain dan dari dalam negeri sendiri menghadapi banyak pemberontakan. Saking berantakan dan rusaknya Turki, negeri itu disebut “The Sick Man from Europe”, ‘Si Orang Sakit dari Eropa’. Untuk memperbaikinya, diperlukan upaya yang tepat dan sangat cepat karena hanya punya sedikit waktu, Turki bisa kapan saja runtuh. Upaya perbaikan itu sangat berjalan lambat dan kerap tidak sesuai dengan yang diharapkan untuk menyelamatkan Turki. Hal itu disebabkan segala keputusan negara harus mendapatkan pertimbangan dan persetujuan para ulama. Di sinilah masalahnya.

            Menurut Soekarno, para ulama itu adalah mereka yang tinggal dan hidupnya di kuburan-kuburan. Hal itu membuat mereka tidak mengerti tentang situasi negara. Hal ini bagi Mustafa Kemal Ataturk sangat menghambat upaya penyelamatan Turki. Dalam suatu pertemuan dengan para ulama, Kemal sangat kesal sehingga naik ke atas meja dan berteriak lantang untuk menyelamatkan negara sambil memarahi para ulama itu. Kisah selanjutnya, Kemal memang mengambil alih kewenangan Turki. Hasilnya, Turki hingga sekarang bisa hidup dan terus ada dengan menggunakan sistem pemerintahan yang sangat berbeda dibandingkan sistem kekhalifahan masa lalu. Oleh sebab itu, tak heran jika Erdogan dan rakyat Turki menggelarinya sebagai Bapak Turki karena Kemal telah menyelamatkan Turki dari jurang kehancuran.

            Begitu Bro yang saya pahami dari tulisan Soekarno.

            Jadi, berpikir itu harus lurus serta ada data dan faktanya. Sumber informasinya juga harus jelas. Jangan bikin orang tertawa.

            Hayu ah.

            Sampurasun.

Friday, 14 May 2021

Jangan Bela Palestina dengan Hoax

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Palestina telah berulang-ulang mendapatkan perlakuan buruk dan keji oleh pasukan Israel. Tentunya, penderitaan warga Palestina menumbuhkan rasa simpati dan empati manusia. Banyak kecaman kepada Israel dan dukungan kepada Palestina. Bentuk dukungannya bermacam-macam dan itu bagus. Banyak pemerintah dari berbagai negara dan warga dunia yang ingin menghentikan kekejaman Israel kepada Palestina, baik mendesak PBB atau menggalang solidaritas sesama manusia untuk menyelesaikan situasi.

            Berbagai dukungan itu sangat bagus dan bermanfaat. Akan tetapi, dukungan itu akan rusak jika ditambah-tambahi dengan hoax, ‘berita bohong’ atau ‘berita palsu’ yang jelas menyesatkan. Contohnya, banyak beredar video atau foto yang menggambarkan bahwa pasukan Turki telah datang ke Palestina untuk melawan Israel. Penayangan video atau postingan foto-foto tersebut jelas merupakan dukungan untuk Palestina dan menguatkan harapan para pendukung Palestina di seluruh dunia. Sayangnya, penayangan atau postingan tersebut adalah palsu, hoax, misleading, yang akhirnya menyesatkan.

Ketika saya melihat postingan-postingan itu, segera saja timbul banyak pertanyaan.

Semudah itukah Turki memasukkan angkatan perang ke Palestina?

Mengapa baru sekarang mengirimkan pasukan, bukankah kekejaman Israel sudah terjadi sejak dulu?

Bagaimana reaksi PBB?

Seberapa besar penolakan dan kecaman negara-negara pendukung Israel terhadap Turki?

Bagaimana pula reaksi Israel terhadap kedatangan pasukan Turki untuk melawan dirinya?

Masih banyak pertanyaan tentang hal itu dan tidak ada jawabannya karena itu adalah berita palsu.

Saya jadi teringat ketika Israel melarang helikopter Angkatan Udara Yordania yang mengangkut Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Retno Marsudi memasuki wilayah Palestina untuk melantik Konsul Kehormatan di Ramallah. Begitulah Israel, seorang menteri dari Indonesia saja mereka tahu dan melarangnya untuk masuk ke Palestina. Akibatnya, Yordania, Palestina, dan Indonesia pun mengubah rencana. Para pejabat Palestina, Menlu RI Retno Marsudi, Yordania, dan negara-negara lain yang diundang hadir pun akhirnya melangsungkan upacara pelantikan di Amman, Kedubes RI, di Yordania.

Coba perhatikan upacara pelantikan saja diketahui dan dicegah Israel untuk terlaksana di Palestina. Apalagi menggelar pasukan di Palestina, pasti jadi insiden internasional.

Sebetulnya sih, Israel welcome, mempersilahkan Retno Marsudi untuk masuk wilayah Palestina. Syaratnya adalah Retno Marsudi mau berkunjung ke Tel Aviv, Israel untuk bertemu dengan para pemimpin Israel. Akan tetapi, Menlu RI Retno  Marsudi menolak untuk bertemu dan berdialog langsung dengan Israel. Akibatnya, Israel marah dan melarang Retno Marsudi untuk masuk wilayah Palestina.

Soal video hoax pasukan Turki itu pun sudah diklarifikasi medcom.id bahwa video yang diklaim pasukan Turki tiba di Palestina itu adalah video pada 2018 ketika Turki memerangi pemberontak Kurdi bukan buat menyerang Israel.

Hoax itu, baik video, foto, maupun narasi sangat merugikan. Di Indonesia sudah banyak yang merasakannya. Pelaku dan pendukung hoax sudah banyak yang ditangkap. Harapannya juga palsu semua karena tidak nyata yang akhirnya rugi karena memang  PHP. Disangkanya untung, nyatanya rugi. Disangkanya menang, nyatanya kalah. Berharap Turki melawan pasukan Israel karena hoax, nyatanya cuma PHP karena memang tidak ada kenyataannya.

Sampai tulisan ini dibuat, nggak pertempuran antara Turki dengan Israel terkait konflik Israel dan Palestina baru-baru ini, iya kan?

Itu karena kebohongan.

Membela Palestina itu sebaiknya berdasarkan kenyataan, fakta, dan tidak perlu PHP atau tertipu hoax. Hal yang jelas itu adalah Presiden Turki Erdogan menggertak atau mengancam untuk menggelar pasukan dan mendesak dunia internasional untuk menghentikan kekerasan Israel kepada Palestina. Itu benar sebagaimana pemerintah Indonesia mendesak Dewan Keamanan PBB untuk bersikap tegas kepada Israel dan usulan DPR RI agar negara-negara yang tergabung dalam Oki untuk menggelar KTT dalam menyikapi kekerasan Israel.

Jangan membela palestina dengan hoax karena hanya harapan palsu, PHP, dan memang tidak ada kenyataannya. Rugi sendiri.

Sampurasun.

Indonesia Lebih Tegas Dibandingkan Turki Soal Israel

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Baru-baru ini selepas tindakan pengusiran paksa warga Palestina di Sheik Jarrah dan kekerasan terhadap warga Palestina di Masjijd Al Aqsa oleh Israel, beberapa gelintir orang Indonesia memposting tulisan atau pidato Presiden Turki Recep Tayip Erdogan yang isinya kecaman keras terhadap Israel. Kecaman Erdogan terhadap Israel memang keras dan itu bagus sebagai seorang kepala negara. Akan tetapi, banyak presiden dan pemimpin negara lain pun, baik yang penduduknya mayoritas muslim maupun nonmuslim melakukan kecaman serupa. Tidak terkecuali, Presiden RI Jokowi pun mengutuk keras soal tindakan brutal Israel. Jadi, bukan hanya Erdogan yang melakukan kecaman keras.

            Hal yang membuat saya tertarik adalah mereka yang memposting pidato Erdogan menambahinya dengan narasi-narasi berlebihan, cenderung mengecilkan peranan Indonesia terhadap sikap Israel, bahkan melakukan penghinaan yang tanpa bukti terhadap Indonesia. Seolah-olah Erdogan adalah segala-galanya, pemimpin utama umat Islam sedunia, dan Indonesia dituding sebagai negara lemah yang tidak peduli umat Islam. Digambarkan Erdogan adalah pahlawan sejati umat Islam dengan Turki yang penuh kemakmuran. Pokoknya Erdogan dan Turki adalah nomor wahid.

            Bagi saya, mereka ini orang-orang lucu. Mereka adalah orang-orang Indonesia yang memuja-muji Turki.

Kalaulah memang Erdogan adalah segala-galanya dan mampu mengatasi persoalan umat Islam sedunia dengan sukses, lalu Turki adalah negara penuh gemerlap cahaya keagungan dan kemakmuran, kenapa tidak pindah saja menjadi warga Negara Turki?

Mengapa mereka masih tinggal di Indonesia yang katanya lemah, dzalim, dan tidak peduli umat Islam itu?

Hijrah dong ke Turki, lalu nikmati kenyamanan di sana. Berbahagialah dengan nostalgia tentang “Sultan Mehmed II” atau yang lebih sering dikenal dengan nama “Al Fatih” itu.

Kalau masih tinggal di Indonesia, tetapi memuja Turki setinggi langit, itu aneh. Mereka memang orang-orang aneh.

Sudahlah, biarkan keanehan itu tetap aneh dan lucu.

Apabila dilihat dari sisi hubungan internasional, terutama dalam hal diplomatik, sikap Indonesia jauh lebih tegas dibandingkan Turki. Sejak Indonesia merdeka, Israel selalu bersikap baik kepada Indonesia, terutama terhadap para presiden terpilih Indonesia. Israel selalu mengucapkan selamat kepada presiden RI terpilih. Itu terjadi sejak zaman Ir. Soekarno. Mereka melakukan itu dengan harapan dapat membuka hubungan diplomatik dengan Indonesia. Akan tetapi, tidak seorang presiden Indonesia pun yang menanggapi keinginan Israel itu. Membuka hubungan diplomatik dengan Israel adalah sama dengan menyatakan persahabatan dengan Israel, setiap negara yang memiliki hubungan diplomatik dengan Indonesia berarti sahabat Indonesia.   Penolakan Indonesia untuk membuka hubungan diplomatik dengan Israel sama artinya dengan menolak bersahabat dengan Israel. Pernah memang Indonesia seakan-akan hendak membuka hubungan persahabatan dengan Israel ketika masa pemerintahan Presiden Abdurahman Wahid atau yang kerap disapa Gus Dur. Akan tetapi, rakyat Indonesia menolaknya dan Gus Dur menggunakan penolakan rakyat itu sebagai alasan kepada Israel untuk tidak membuka hubungan diplomatik dengan Israel. Tak mau bersahabat dengan Israel. Kejadian akhir-akhir ini Indonesia ditawari bantuan sejumlah uang yang sangat fantastis oleh Amerika Serikat agar mau membuka hubungan persahabatan dengan Israel. Akan tetapi, tidak perlu Presiden Jokowi yang menjawab rayuan Amerika Serikat itu, cukup Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi yang menegaskan bahwa Indonesia “tidak memiliki rencana untuk membuka hubungan diplomatik dengan Israel”. Penolakan yang sangat tegas. Padahal, negara-negara Arab sudah banyak yang berhubungan dengan Israel atas mediasi yang dilakukan Amerika Serikat dengan menggunakan sejumlah kucuran dana yang sangat besar kepada negara-negara di kawasan itu.

Indonesia tidak tertarik dengan tawaran itu meskipun dengan rayuan bertumpuk-tumpuk uang karena di samping sentimen keagamaan mayoritas rakyat Indonesia, juga ada amanat dari Pembukaan UUD 1945:

“Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.”

Pelaksanaan amanat Pembukaan UUD 1945 itu saat ini ditafsirkan dengan harus melakukan penolakan berhubungan dengan Israel karena Israel adalah bangsa yang sedang melakukan penjajahan terhadap Palestina. Indonesia tidak bersedia melakukan persahabatan dengan penjajah.

Berbeda dengan Turki. Negeri yang kerap dipuja-puja sebagai negeri pembela umat ini sejatinya sudah sangat lama berhubungan diplomatik dengan Israel. Artinya, mereka bersahabat dengan Israel meskipun hubungan ini kerap mengalami “up and down”, kadang naik, kadang turun; kadang baik, kadang bermusuhan; pernah terjadi pengusiran duta besarnya, tetapi pada kali lain, berhubungan lagi.

Mengapa Turki dan Israel memiliki hubungan diplomatik?

Hal itu disebabkan keduanya memiliki keuntungan dari hubungan itu. Bahkan, pada Desember 2020, banyak media yang menyoroti perdagangan antara Turki dan Israel mengalami pertumbuhan yang disebutnya “meroket”. Keduanya mendapatkan keuntungan ekonomi yang luar biasa.

Tindakan membuka atau menutup hubungan diplomatik dengan Israel adalah pilihan bebas setiap negara. Akan tetapi, dilihat dari hal ini Indonesia jauh lebih tegas dibandingkan Turki dalam bersikap terhadap Israel. Indonesia tidak mau secara resmi sedikit pun berhubungan dengan Israel, sedangkan Turki sudah sejak lama berhubungan dengan Israel dan pasti punya keuntungan dari hubungan itu.

Kalau tidak ada untungnya, buat apa berhubungan, iya enggak?

Bagi Indonesia, tidak peduli mau untung atau tidak, hal yang sangat jelas adalah tidak mau berhubungan dengan Israel sepanjang Israel masih melakukan penjajahan terhadap Palestina. Jika Israel bersedia menghentikan penjajahannya terhadap Palestina, tak ada alasan bagi Indonesia untuk menolak membuka hubungan diplomatik dengan Israel.

Siapa yang lebih tegas bersikap terhadap Israel?

Negara yang menolak berhubungan atau negara yang bersedia untuk berhubungan?

Hayo, gampang kan menjawabnya?

Sampurasun.

Monday, 10 July 2017

Vlog Jokowi Menggebuk

oleh Tom Finaldin

Bandung, Putera Sang Surya
Vlog Jokowi bersama Presiden Turki Recep Tayip Erdogan sangat menggebuk orang-orang Indonesia yang selama ini terlalu berlebihan mengagungkan Turki dan Erdogan. Orang-orang yang berlebihan ini selalu membanding-bandingkan kebijakan Turki dan sikap Erdogan dalam membela Islam dengan kebijakan Indonesia dan sikap para pemimpin Indonesia dalam membela Islam dan kaum muslimin. Orang-orang ini selalu saja menganggap Turki dan para pemimpin Turki lebih bagus dan lebih hebat dibandingkan Indonesia dan para pemimpin Indonesia. Bahkan, tak jarang mereka merendahkan para pemimpin Indonesia sebagai lebih lemah, lebih bodoh, dan lebih tidak berpihak terhadap Islam dibandingkan Turki. Malahan, hal yang lebih parah adalah mereka kerap menjelek-jelekkan Indonesia dan para pemimpin Indonesia serta membuat khayalan bahwa kebijakan dan sikap pemerintah Indonesia berlawanan atau berhadapan dengan kebijakan Turki dan Erdogan.

            Saya memandang orang-orang Indonesia yang berlebihan mengagungkan Turki dan Erdogan adalah orang-orang yang pikiran dan jiwanya masih terjebak dalam kejatuhan sistem kekhalifahan masa lalu. Mereka masih terjebak dalam nostalgia yang sebenarnya tidak akan pernah kembali lagi. Mereka pun terkurung dalam harapan-harapan kosong tentang terulangnya kekhalifahan Islam di Turki.

            Hal itu disebabkan memang Turki merupakan wilayah terakhir kekhalifahan Islam yang masih sempat berdiri kuat sampai diubah menjadi sekuler oleh Kemal Ataturk. Pengubahan sistem pemerintahan ini pun sesungguhnya disebabkan kecintaan Kemal Ataturk terhadap Islam. Ia tidak ingin kaum muslimin menjadi cengeng dan manja yang selalu harus dilindungi oleh pemerintah yang berkuasa. Ia ingin menjadikan orang-orang Islam kuat dan mampu menawarkan berbagai gagasannya dengan ilmu pengetahuan dan alasan yang jelas tanpa harus mendapatkan perlindungan dari pemerintah. Begitu kira-kira yang dipaparkan oleh Pemimpin Besar Revolusi Indonesia Soekarno.

            Orang-orang yang berlebihan mengagungkan Turki dan Erdogan adalah orang-orang yang berharap bahwa Turki mampu kembali menjadi negara kekhalifahan untuk mendorong dunia Islam dan berharap bahwa sosok Erdogan yang memang memiliki kecintaan terhadap Islam dan kaum muslimin menjadi lokomotif dalam mendorong sistem kekhalifahan Islam di dunia.

            Saya menyarankan untuk tidak perlu berlebihan mengagungkan Turki dan Erdogan, biasa saja. Sebagai saudara sesama muslim, memang kita harus saling mendukung dan menjaga untuk kejayaan Islam dan kaum muslimin sepanjang berada dalam koridor yang benar, bukan berada dalam kesamaan hawa nafsu negatif yang ujungnya hanya menginginkan kekuasaan politik dan ekonomi. Kita harus saling bahu-membahu mewujudkan Islam rahmatan lil alamin sehingga dunia ini hidup dalam keseimbangan yang harmonis.

            Sesungguhnya, Turki bangga dengan sistem pemerintahannya yang sekarang dan bukan bangga dengan sistem kekhalifahan. Mereka masih menjaga dan menghormati patung Kemal Ataturk yang mengubah sistem kekhalifahan menjadi sekuler.

            Jadi, untuk apa mengagungkan Turki sebagai negeri yang kuat untuk mewujudkan kembali kekhalifahan, sementara mereka sendiri betah dengan sistemnya yang sekarang dan bangga dengan Kemal Ataturk?

            Tentang ketegasan Turki dan Erdogan dalam bersikap terhadap Israel yang kerap dibanggakan orang itu, sesungguhnya jauh lebih tegas Indonesia dalam bersikap terhadap Israel. Indonesia mengharamkan dirinya untuk berhubungan dengan Israel sepanjang Israel melakukan penjajahan terhadap Palestina. Tak ada pintu hubungan diplomatik itu terjadi. Pintu tertutup rapat. Jika mau berhubungan, Israel harus mengetuk pintu Indonesia dengan membawa hadiah kado perdamaian dengan Palestina. Berbeda dengan Turki dan Erdogan yang kadang bersikap tegas, kadang lembut terhadap Israel. Bahkan, Turki dan Erdogan sering melakukan hubungan dengan Israel serta hubungan mereka naik dan turun. Indonesia dan Israel tidak naik dan tidak turun dalam berhubungan karena tidak ada hubungan sama sekali.

            Mana yang lebih tegas, Indonesia atau Turki?

            Mikir!

            Soal kehebatan para pemimpin Indonesia dalam membela Islam dan kaum muslimin, catatan sejarahnya panjang, tetapi sering dilupakan oleh rakyat Indonesia sendiri. Hal itu disebabkan kaum muslimin Indonesia masih berpandangan bahwa Islam berasal dari Arab. Di samping itu, segala hal berbau Arab dan Timur Tengah dianggap lebih Islami dan lebih baik. Itu pikiran sesat. Islam itu sesungguhnya berasal dari mana-mana karena Allah swt menurunkan para rasul untuk setiap umat dengan menggunakan bahasa umat itu masing-masing. Masih segar ingatan kita bahwa Jokowi mengkritik dunia yang selalu memperhatikan korban-korban teror yang dilakukan umat Islam, tetapi kerap mengesampingkan korban-korban teror nonmuslim terhadap kaum muslimin. Demikian pula dalam penanganan pengungsi Rohingya. Bahkan, Wapres Jusuf Kala pernah datang langsung ke Myanmar untuk membantu saudara-saudara sesama muslim. Indonesia pun membuat rumah sakit di Palestina, mengeluarkan banyak bantuan untuk kaum muslimin dunia yang sedang kesusahan. Susilo Bambang Yudhoyono pernah mengkritik keras media massa internasional yang membesar-besarkan teror yang dilakukan sebagian umat Islam, tetapi menutup mata terhadap teror-teror yang dilakukan nonmuslim. Menlu Ali Alatas melakukan lobi yang luar biasa hebat untuk mendamaikan kaum muslim Filipina dengan pemerintah Filipina dan itu berhasil. Menlu Retno Marsudi mendatangi pemerintah Palestina untuk menguatkan hubungan negara sesama muslim sambil menutup telinga dari kebohongan-kebohongan yang dilakukan Israel terhadap kunjungannya itu. Soeharto mendirikan masjid di Bosnia dan ingin datang langsung ke daerah konflik tempat kaum muslimin dibantai pihak Serbia. Sayangnya, keinginannya itu harus batal karena tidak ada satu kekuatan militer dunia pun yang mampu menjamin keselamatan Soeharto.

            Banyak sebenarnya kehebatan Indonesia dan para pemimpinnya dalam membela Islam dan kaum muslimin di seluruh dunia. Tulisan ini tak akan cukup untuk menuliskan jasa-jasa mereka. Sayangnya, pandangan kaum muslimin Indonesia masih terkurung dengan pikiran bahwa Arab dan Timur Tengah lebih Islami sama dengan Barat lebih pintar dibandingkan Timur dan Indonesia.  

            Paling tidak, vlog Jokowi bersama Erdogan telah menggebuk pikiran orang-orang bahwa Indonesia tidak seperti Turki atau lebih rendah daripada Turki dalam membela Islam dan kaum muslimin. Faktanya, Indonesia dan Turki bekerja sama saling mengisi untuk memperbaiki kehidupan kaum muslimin dan menciptakan perdamaian dunia.

            Luruskan pikiran kita tentang Islam, kaum muslimin, dan dunia. Tebarkan salam, cinta, dan kasih sayang agar dunia ini seimbang dan harmonis.


            Sampurasun.