Showing posts with label Turki. Show all posts
Showing posts with label Turki. Show all posts

Friday, 14 May 2021

Jangan Bela Palestina dengan Hoax

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Palestina telah berulang-ulang mendapatkan perlakuan buruk dan keji oleh pasukan Israel. Tentunya, penderitaan warga Palestina menumbuhkan rasa simpati dan empati manusia. Banyak kecaman kepada Israel dan dukungan kepada Palestina. Bentuk dukungannya bermacam-macam dan itu bagus. Banyak pemerintah dari berbagai negara dan warga dunia yang ingin menghentikan kekejaman Israel kepada Palestina, baik mendesak PBB atau menggalang solidaritas sesama manusia untuk menyelesaikan situasi.

            Berbagai dukungan itu sangat bagus dan bermanfaat. Akan tetapi, dukungan itu akan rusak jika ditambah-tambahi dengan hoax, ‘berita bohong’ atau ‘berita palsu’ yang jelas menyesatkan. Contohnya, banyak beredar video atau foto yang menggambarkan bahwa pasukan Turki telah datang ke Palestina untuk melawan Israel. Penayangan video atau postingan foto-foto tersebut jelas merupakan dukungan untuk Palestina dan menguatkan harapan para pendukung Palestina di seluruh dunia. Sayangnya, penayangan atau postingan tersebut adalah palsu, hoax, misleading, yang akhirnya menyesatkan.

Ketika saya melihat postingan-postingan itu, segera saja timbul banyak pertanyaan.

Semudah itukah Turki memasukkan angkatan perang ke Palestina?

Mengapa baru sekarang mengirimkan pasukan, bukankah kekejaman Israel sudah terjadi sejak dulu?

Bagaimana reaksi PBB?

Seberapa besar penolakan dan kecaman negara-negara pendukung Israel terhadap Turki?

Bagaimana pula reaksi Israel terhadap kedatangan pasukan Turki untuk melawan dirinya?

Masih banyak pertanyaan tentang hal itu dan tidak ada jawabannya karena itu adalah berita palsu.

Saya jadi teringat ketika Israel melarang helikopter Angkatan Udara Yordania yang mengangkut Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Retno Marsudi memasuki wilayah Palestina untuk melantik Konsul Kehormatan di Ramallah. Begitulah Israel, seorang menteri dari Indonesia saja mereka tahu dan melarangnya untuk masuk ke Palestina. Akibatnya, Yordania, Palestina, dan Indonesia pun mengubah rencana. Para pejabat Palestina, Menlu RI Retno Marsudi, Yordania, dan negara-negara lain yang diundang hadir pun akhirnya melangsungkan upacara pelantikan di Amman, Kedubes RI, di Yordania.

Coba perhatikan upacara pelantikan saja diketahui dan dicegah Israel untuk terlaksana di Palestina. Apalagi menggelar pasukan di Palestina, pasti jadi insiden internasional.

Sebetulnya sih, Israel welcome, mempersilahkan Retno Marsudi untuk masuk wilayah Palestina. Syaratnya adalah Retno Marsudi mau berkunjung ke Tel Aviv, Israel untuk bertemu dengan para pemimpin Israel. Akan tetapi, Menlu RI Retno  Marsudi menolak untuk bertemu dan berdialog langsung dengan Israel. Akibatnya, Israel marah dan melarang Retno Marsudi untuk masuk wilayah Palestina.

Soal video hoax pasukan Turki itu pun sudah diklarifikasi medcom.id bahwa video yang diklaim pasukan Turki tiba di Palestina itu adalah video pada 2018 ketika Turki memerangi pemberontak Kurdi bukan buat menyerang Israel.

Hoax itu, baik video, foto, maupun narasi sangat merugikan. Di Indonesia sudah banyak yang merasakannya. Pelaku dan pendukung hoax sudah banyak yang ditangkap. Harapannya juga palsu semua karena tidak nyata yang akhirnya rugi karena memang  PHP. Disangkanya untung, nyatanya rugi. Disangkanya menang, nyatanya kalah. Berharap Turki melawan pasukan Israel karena hoax, nyatanya cuma PHP karena memang tidak ada kenyataannya.

Sampai tulisan ini dibuat, nggak pertempuran antara Turki dengan Israel terkait konflik Israel dan Palestina baru-baru ini, iya kan?

Itu karena kebohongan.

Membela Palestina itu sebaiknya berdasarkan kenyataan, fakta, dan tidak perlu PHP atau tertipu hoax. Hal yang jelas itu adalah Presiden Turki Erdogan menggertak atau mengancam untuk menggelar pasukan dan mendesak dunia internasional untuk menghentikan kekerasan Israel kepada Palestina. Itu benar sebagaimana pemerintah Indonesia mendesak Dewan Keamanan PBB untuk bersikap tegas kepada Israel dan usulan DPR RI agar negara-negara yang tergabung dalam Oki untuk menggelar KTT dalam menyikapi kekerasan Israel.

Jangan membela palestina dengan hoax karena hanya harapan palsu, PHP, dan memang tidak ada kenyataannya. Rugi sendiri.

Sampurasun.

Wednesday, 18 December 2019

Uighur: Grup A Vs Grup B


oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Dalam beberapa tulisan yang lalu selalu saya jelaskan bahwa jika mendapatkan suatu informasi, harus dicek kebenarannya. Jangan langsung percaya.

            Siapa yang menyebarkan informasi itu?

            Dia bisa dipercaya tidak?

            Informasinya masuk akal tidak?

            Mengapa kita percaya dia?

            Berita tentang Uighur, Xinjiang kembali mengemuka. Sebelumnya, memang sudah terjadi masalah di wilayah itu, bahkan sudah sejak dua ratus tahun yang lalu. Pemerintah Cina pun mencari jalan untuk menyelesaikannya, termasuk datang ke Indonesia dan berdiskusi dengan Ormas besar. Kali ini muncul lagi berita yang hampir sama. Kali ini sumber beritanya berasal dari media “Wall Street Journal” (WSJ), media barat. WSJ memberitakan adanya kekejian dan pelanggaran Ham terhadap muslim Uighur. Beritanya masuk ke Indonesia dan ditambah-tambahi semakin heboh karena menyeret tiga Ormas Islam besar, yaitu NU, Muhammadiyah, dan MUI yang dituduh mendapatkan suap agar diam menutupi kesadisan di Uighur oleh pemerintah Cina. Demikian pula di dunia, berita ini pun mendapatkan reaksi beragam.

            Manusia terbagi dua dalam menghadapi berita ini. Ada yang percaya dan ada yang tidak sekaligus membantah. Sebut saja mereka yang percaya adalah Grup A dan mereka yang tidak percaya adalah Grup B.

            Grup A bisa diwakili negara-negara Barat dan kapitalis, yaitu: Australia, Austria, Belgium, Kanada, Denmark, Estonia, Finland, France, Germany, Iceland, Ireland, Japan, Latvia, Lithuania, Luxemburg, The Netherlands, New Zealand, Norway, Spain, Sweden, Switzerland, dan UK (Inggris). Karena percaya, mereka pun melakukan protes ke Cina.

            Grup B bisa diwakili oleh Indonesia, NU, Muhammadiyah, MUI, Turki, dan Arab Saudi. Karena tidak percaya, mereka tidak melakukan protes, tetapi memberikan masukan kepada Cina untuk menyelesaikan masalah Uighur sambil menghormati Cina untuk mengambil kebijakannya sendiri dalam mengatasi masalah dalam negerinya.

            Siapa yang akan kita percayai? Grup A atau Grup B?

            Itu adalah pilihan kita. Akan tetapi, untuk mempercayai salah satu pihak, kita harus punya alasan jelas dan masuk akal pula.

            Mengapa kita harus percaya mereka?

            Ulah kabawa sakaba-kaba.

            Insyaallah, disambung lagi agar kita lebih paham rekam jejak WSJ dalam membuat berita yang mempengaruhi keadaan dunia.

            Sampurasun.

Monday, 10 July 2017

Vlog Jokowi Menggebuk

oleh Tom Finaldin

Bandung, Putera Sang Surya
Vlog Jokowi bersama Presiden Turki Recep Tayip Erdogan sangat menggebuk orang-orang Indonesia yang selama ini terlalu berlebihan mengagungkan Turki dan Erdogan. Orang-orang yang berlebihan ini selalu membanding-bandingkan kebijakan Turki dan sikap Erdogan dalam membela Islam dengan kebijakan Indonesia dan sikap para pemimpin Indonesia dalam membela Islam dan kaum muslimin. Orang-orang ini selalu saja menganggap Turki dan para pemimpin Turki lebih bagus dan lebih hebat dibandingkan Indonesia dan para pemimpin Indonesia. Bahkan, tak jarang mereka merendahkan para pemimpin Indonesia sebagai lebih lemah, lebih bodoh, dan lebih tidak berpihak terhadap Islam dibandingkan Turki. Malahan, hal yang lebih parah adalah mereka kerap menjelek-jelekkan Indonesia dan para pemimpin Indonesia serta membuat khayalan bahwa kebijakan dan sikap pemerintah Indonesia berlawanan atau berhadapan dengan kebijakan Turki dan Erdogan.

            Saya memandang orang-orang Indonesia yang berlebihan mengagungkan Turki dan Erdogan adalah orang-orang yang pikiran dan jiwanya masih terjebak dalam kejatuhan sistem kekhalifahan masa lalu. Mereka masih terjebak dalam nostalgia yang sebenarnya tidak akan pernah kembali lagi. Mereka pun terkurung dalam harapan-harapan kosong tentang terulangnya kekhalifahan Islam di Turki.

            Hal itu disebabkan memang Turki merupakan wilayah terakhir kekhalifahan Islam yang masih sempat berdiri kuat sampai diubah menjadi sekuler oleh Kemal Ataturk. Pengubahan sistem pemerintahan ini pun sesungguhnya disebabkan kecintaan Kemal Ataturk terhadap Islam. Ia tidak ingin kaum muslimin menjadi cengeng dan manja yang selalu harus dilindungi oleh pemerintah yang berkuasa. Ia ingin menjadikan orang-orang Islam kuat dan mampu menawarkan berbagai gagasannya dengan ilmu pengetahuan dan alasan yang jelas tanpa harus mendapatkan perlindungan dari pemerintah. Begitu kira-kira yang dipaparkan oleh Pemimpin Besar Revolusi Indonesia Soekarno.

            Orang-orang yang berlebihan mengagungkan Turki dan Erdogan adalah orang-orang yang berharap bahwa Turki mampu kembali menjadi negara kekhalifahan untuk mendorong dunia Islam dan berharap bahwa sosok Erdogan yang memang memiliki kecintaan terhadap Islam dan kaum muslimin menjadi lokomotif dalam mendorong sistem kekhalifahan Islam di dunia.

            Saya menyarankan untuk tidak perlu berlebihan mengagungkan Turki dan Erdogan, biasa saja. Sebagai saudara sesama muslim, memang kita harus saling mendukung dan menjaga untuk kejayaan Islam dan kaum muslimin sepanjang berada dalam koridor yang benar, bukan berada dalam kesamaan hawa nafsu negatif yang ujungnya hanya menginginkan kekuasaan politik dan ekonomi. Kita harus saling bahu-membahu mewujudkan Islam rahmatan lil alamin sehingga dunia ini hidup dalam keseimbangan yang harmonis.

            Sesungguhnya, Turki bangga dengan sistem pemerintahannya yang sekarang dan bukan bangga dengan sistem kekhalifahan. Mereka masih menjaga dan menghormati patung Kemal Ataturk yang mengubah sistem kekhalifahan menjadi sekuler.

            Jadi, untuk apa mengagungkan Turki sebagai negeri yang kuat untuk mewujudkan kembali kekhalifahan, sementara mereka sendiri betah dengan sistemnya yang sekarang dan bangga dengan Kemal Ataturk?

            Tentang ketegasan Turki dan Erdogan dalam bersikap terhadap Israel yang kerap dibanggakan orang itu, sesungguhnya jauh lebih tegas Indonesia dalam bersikap terhadap Israel. Indonesia mengharamkan dirinya untuk berhubungan dengan Israel sepanjang Israel melakukan penjajahan terhadap Palestina. Tak ada pintu hubungan diplomatik itu terjadi. Pintu tertutup rapat. Jika mau berhubungan, Israel harus mengetuk pintu Indonesia dengan membawa hadiah kado perdamaian dengan Palestina. Berbeda dengan Turki dan Erdogan yang kadang bersikap tegas, kadang lembut terhadap Israel. Bahkan, Turki dan Erdogan sering melakukan hubungan dengan Israel serta hubungan mereka naik dan turun. Indonesia dan Israel tidak naik dan tidak turun dalam berhubungan karena tidak ada hubungan sama sekali.

            Mana yang lebih tegas, Indonesia atau Turki?

            Mikir!

            Soal kehebatan para pemimpin Indonesia dalam membela Islam dan kaum muslimin, catatan sejarahnya panjang, tetapi sering dilupakan oleh rakyat Indonesia sendiri. Hal itu disebabkan kaum muslimin Indonesia masih berpandangan bahwa Islam berasal dari Arab. Di samping itu, segala hal berbau Arab dan Timur Tengah dianggap lebih Islami dan lebih baik. Itu pikiran sesat. Islam itu sesungguhnya berasal dari mana-mana karena Allah swt menurunkan para rasul untuk setiap umat dengan menggunakan bahasa umat itu masing-masing. Masih segar ingatan kita bahwa Jokowi mengkritik dunia yang selalu memperhatikan korban-korban teror yang dilakukan umat Islam, tetapi kerap mengesampingkan korban-korban teror nonmuslim terhadap kaum muslimin. Demikian pula dalam penanganan pengungsi Rohingya. Bahkan, Wapres Jusuf Kala pernah datang langsung ke Myanmar untuk membantu saudara-saudara sesama muslim. Indonesia pun membuat rumah sakit di Palestina, mengeluarkan banyak bantuan untuk kaum muslimin dunia yang sedang kesusahan. Susilo Bambang Yudhoyono pernah mengkritik keras media massa internasional yang membesar-besarkan teror yang dilakukan sebagian umat Islam, tetapi menutup mata terhadap teror-teror yang dilakukan nonmuslim. Menlu Ali Alatas melakukan lobi yang luar biasa hebat untuk mendamaikan kaum muslim Filipina dengan pemerintah Filipina dan itu berhasil. Menlu Retno Marsudi mendatangi pemerintah Palestina untuk menguatkan hubungan negara sesama muslim sambil menutup telinga dari kebohongan-kebohongan yang dilakukan Israel terhadap kunjungannya itu. Soeharto mendirikan masjid di Bosnia dan ingin datang langsung ke daerah konflik tempat kaum muslimin dibantai pihak Serbia. Sayangnya, keinginannya itu harus batal karena tidak ada satu kekuatan militer dunia pun yang mampu menjamin keselamatan Soeharto.

            Banyak sebenarnya kehebatan Indonesia dan para pemimpinnya dalam membela Islam dan kaum muslimin di seluruh dunia. Tulisan ini tak akan cukup untuk menuliskan jasa-jasa mereka. Sayangnya, pandangan kaum muslimin Indonesia masih terkurung dengan pikiran bahwa Arab dan Timur Tengah lebih Islami sama dengan Barat lebih pintar dibandingkan Timur dan Indonesia.  

            Paling tidak, vlog Jokowi bersama Erdogan telah menggebuk pikiran orang-orang bahwa Indonesia tidak seperti Turki atau lebih rendah daripada Turki dalam membela Islam dan kaum muslimin. Faktanya, Indonesia dan Turki bekerja sama saling mengisi untuk memperbaiki kehidupan kaum muslimin dan menciptakan perdamaian dunia.

            Luruskan pikiran kita tentang Islam, kaum muslimin, dan dunia. Tebarkan salam, cinta, dan kasih sayang agar dunia ini seimbang dan harmonis.


            Sampurasun.

Saturday, 29 April 2017

Bahaya Wikipedia

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Dari dulu saya sudah melihat bahaya yang ditimbulkan oleh Wikipedia yang disebut-sebut “Kamus Besar Dunia” itu. Niatnya sih, Wikipedia sangat bagus, yaitu memberikan banyak pengetahuan kepada masyarakat dengan cara berbagi. Wikipedia seolah-olah sebuah alat atau media untuk melawan kebiasaan dunia yang “pelit” berbagi pengetahuan. Para penggagas Wikipedia seakan-akan “memberontak” atas kepemilikan pengetahuan yang hanya beredar di kalangan terbatas. Wikipedia mendorong setiap orang dapat berbagi pengetahuan, mengoreksi pengetahuan, mengurangi isi artikel, atau menambah artikel tersebut.

            Wiki sendiri memiliki arti “setiap orang” atau “semua orang”. Artinya, “siapa pun” dapat berpartisipasi di dalam Wikipedia. Akan tetapi, justru inilah yang menjadi masalah. Karena melibatkan semua orang, kualitas ilmu pengetahuan yang ada di dalam Wikipedia menjadi diragukan. Semua orang bisa mengoreksi, menambah, atau mengurangi, bahkan bisa membuat sebuah tulisan.

            Semua orang itu siapa?

            Sejauh mana kualitas mereka?

            Hal yang paling sangat mengganggu adalah siapa yang bertanggung jawab atas tulisan-tulisan yang ada di Wikipedia?

            Sejauh mana kebenaran yang ditulis “semua orang” itu?

            Tak bisa dipastikan benar dan salahnya tulisan di Wikipedia karena tidak ada orang yang bertanggung jawab atas isinya.

            Meskipun di dalam Wikipedia diharuskan untuk menuliskan sumber-sumber pustaka sebuah isi artikel, tetap saja tidak ada yang bisa memastikan apakah isi artikel itu memang berdasarkan sumber-sumber pustaka yang ditulis itu ataukah sama sekali tidak ada hubungan antara isi artikel dengan sumber pustaka?

            Tidak jelas “siapa mengatakan apa”. Tidak jelas “apa dikatakan oleh siapa”. Itulah sesungguhnya yang merusakkan ilmu pengetahuan, informasi, atau berita. Oleh sebab itu, banyak sekali dosen di Indonesia yang tidak menerima karya ilmiah mahasiswa jika berdasarkan artikel-artikel dari Wikipedia. Isi Wikipedia bukanlah sumber kebenaran dan masih selalu harus diragukan.


Pemblokiran di Turki
Pemerintah Turki memblokir Wikipedia karena kemungkinan besar dianggap mengganggu ketenangan dan ketertiban negara. Apalagi jika terkait dengan peristiwa-peristiwa politik besar di Turki.

            Meskipun pemerintah Turki tidak menjelaskan secara detail alasan pemblokiran itu, saya bisa memahaminya. Karena Wikipedia membebaskan semua orang untuk menulis apa pun, termasuk menambah, mengurangi, dan mengoreksi isinya, kerap dijadikan alat untuk membiaskan informasi tentang sejarah, profil seseorang, harga diri sebuah bangsa, menyudutkan kelompok tertentu, melakukan fitnah-fitnah tanpa bukti yang jelas, dan menyebarkan “hoax” yang dibungkus mirip-mirip bahasa ilmiah, padahal bukan.


Indonesia Harus Mempertimbangkan Wikipedia
Indonesia pun seharusnya mempertimbangkan pemblokiran Wikipedia karena situs ini bisa sangat menyesatkan dan memberikan informasi palsu. Apalagi Indonesia sedang diganggu oleh hoax dan ujaran kebencian, pemblokiran Wikipedia harus sudah menjadi perhatian serius.

            Saya membaca tulisan-tulisan di Wikipedia, baik yang berbahasa Indonesia maupun berbahasa Inggris yang menyudutkan Indonesia sebagai negara, maupun sebagai bangsa. Beberapa tema yang tidak benar tentang Indonesia yang menyebar secara cepat di Wikipedia biasanya berisi tentang pelanggaran Ham, intoleransi, sejarah, kekerasan, politik, hukum, dan profil seseorang, baik itu pejabat, pengusaha, ataupun orang biasa. Isinya banyak yang kacau, dusta, dan terkadang memprovokasi dengan bahasa mirip ilmiah, padahal tidak sama sekali.

            Kalau yang berbahasa Indonesia, mungkin kita bisa lihat. Akan tetapi, yang menggunakan bahasa Inggris, tidak semua orang mengerti. Hal tu sangat membahayakan.

            Saya pernah berdebat soal ini dengan orang asing. Baca tulisan saya yang lalu berjudul Menghajar Kontributor Wikipedia. Dia menulis banyak hal buruk tentang Indonesia dengan penuh kebohongan dalam bahasa Inggris. Saya katakan dia menulis kebohongan di Wikipedia karena saya tahu “kebenarannya”. Saya lebih tahu daripada dia karena saya orang Indonesia.

            Saya lebih menghargai para penulis Indonesia yang menulis dengan menggunakan blog pribadi dengan identitas asli yang jelas. Blog pribadi seperti itu menandakan bahwa dia seorang yang berani bertanggung jawab karena jika salah menulis atau menimbulkan gangguan kepada pihak lain, baik itu kelompok maupun individu, dapat berurusan dengan aparat hukum.

            Sebenarnya, Indonesia harus bersyukur karena memiliki undang-undang yang membatasi kebebasan berbicara, tidak terlalu bebas sehingga melukai orang lain, memfitnah, atau melakukan provokasi dengan kebohongan. Permasalahannya adalah masyarakat harus berpartisipasi aktif melaporkan berbagai hoax dan ujaran kebencian di internet serta kesungguhan polisi untuk menangani kasus-kasus tersebut.

            Dengan memiliki blog pribadi untuk mencurahkan gagasan dan  pikiran-pikirannya atau berbagi ilmu pengetahuan, setiap orang bisa mempertimbangkan ulang untuk melakukan kebohongan karena bisa berurusan dengan hukum. Blog pribadi lebih bertanggung jawab dibandingkan Wikipedia karena di dalam Wikipedia tidak diketahui siapa identitas penulisnya, siapa yang mengoreksi, menambah, atau menguranginya.


Wikipedia Wajib Introspeksi Diri
Jika Wikipedia ingin tetap eksis dipercaya oleh dunia sebagai “Kamus Dunia”, harus melakukan banyak hal untuk lebih memastikan isi artikelnya sebagai kebenaran dan ilmu pengetahuan yang bermanfaat bagi manusia dan kemanusiaan. Wikipedia harus mencari cara agar tidak dijadikan media kebohongan, kepalsuan, pembiasan informasi, bahkan provokasi yang tidak bertanggung jawab. Minimalnya, Wikipedia wajib menyertakan nama penulis dan asal negara penulis, termasuk mereka yang terlibat dalam artikel di dalamnya, seperti, orang yang melakukan koreksi, melakukan penambahan isi artikel, ataupun melakukan pengurangan isi artikel. Dengan demikian, ada orang atau pihak yang bertanggung jawab tentang isi tulisan tersebut. Hal itu pun dapat menjadikan pertimbangan masyarakat apakah akan mempercayai artikel tersebut atau tidak. Dengan adanya identitas mereka yang terlibat dalam artikel, dunia bisa mendapatkan informasi apakah para penulis itu memiliki kapasitas yang dapat dipercaya atau tidak.

            Sekarang ini Wikipedia menyerahkan segalanya pada masyarakat dunia dan melepaskan diri dari tanggung jawab itu. Siapa pun boleh menulis, boleh mengoreksi, boleh menambah, boleh mengurangi.

            Jadi, siapa yang bertanggung jawab atas isi artikel dalam Wikipedia?


            Sampurasun.

Sunday, 22 January 2017

Ulama Cengeng

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya

Pernah mendengar ada yang mengkritik keras ulama?

            Kalau belum ada, saya mau geer saja bahwa saya adalah orang kedua yang mengkritik ulama dengan kata-kata yang merendahkan setelah Pemimpin Besar Revolusi Indonesia Ir. Soekarno. Bedanya, Soekarno menggunakan kata “merintih”, saya menggunakan kata “cengeng”.

            Dulu Soekarno mengkritik keras orang-orang Islam, termasuk ulama yang selalu menginginkan bahwa dasar Negara Indonesia adalah Islam. Mereka selalu mempengaruhi Soekarno dan membuat orasi untuk tidak memisahkan Islam dari negara.

            Kepada mereka, Soekarno mengkritik keras, “Aku tidak suka orang-orang Islam yang selalu ‘merintih’ janganlah Islam dipisahkan dari negara. Janganlah Islam-nya dipisahkan dari negara. Aku lebih suka orang-orang Islam yang dapat menjawab tantangannya zaman. Banjirilah itu kursi-kursi parlemen jika engkau benar-benar rakyat Islam!”

            Tampaknya, Soekarno mendapatkan inspirasi dari Kemal Ataturk yang telah membuat Turki menjadi negara sekuler. Kemal Ataturk menurut Soekarno secara sengaja memisahkan Islam dari negara dengan maksud baik kepada orang-orang Islam sendiri.

            Kemal Ataturk berkata, “Aku pisahkan Islam dari negara agar Islam menjadi kuat!”

            Kemal mengatakan hal seperti itu karena melihat bahwa Turki menjadi lemah sehingga disebut sebagai Si Orang Sakit dari Eropa disebabkan terlalu bergantungnya negara pada peranan ulama yang tidak mengerti kondisi negara. Kemal merasa kesal terhadap kebiasaan negara yang selalu harus meminta persetujuan ulama untuk menyelamatkan Turki yang sedang berada di ambang kehancuran. Sementara itu, ulama yang kerap dimintai “restu” dan “titahnya” adalah mereka yang tinggal di pinggir-pinggir kuburan dan tempat-tempat sepi.

            Kisah itu saya dapatkan dari Dibawah Bendera Revolusi yang ditulis oleh Soekarno sendiri. Saya sudah dua kali khatam membaca buku tebal itu.

            Soekarno tidak ekstrim seperti Kemal Ataturk yang membuat Turki menjadi negara sekuler. Soekarno hanya mengkritik orang Islam dan ulama agar mampu berjuang dan bertarung merebut kursi parlemen sehingga dapat menggunakannya untuk mewujudkan cita-cita Islam mereka. Dalam kata lain, Soekarno mempersilakan kekuatan Islam untuk menguasai negara dengan cara memenuhi kursi parlemen. Hal itu pun mendorong kekuatan Islam untuk menunjukkan benar-benar keislamannya sehingga dapat dipercaya oleh rakyat untuk mengelola negara.

            Hingga saat ini pintu yang dibukakan Soekarno untuk memasuki medan juang dalam “mengislamkan” negara sudah terbuka lebar. Semua kekuatan Islam memperoleh hak untuk memasuki parlemen. Akan tetapi, ternyata mereka yang kerap “merintih” untuk mendapatkan kondisi negara dalam keadaan Islam seperti yang mereka pikirkan tidak pernah juga terwujud.

            Pintu sudah dibuka, medan juang sudah dimasuki, hak mendapatkan kekuasaan telah diperoleh, tetapi keinginan untuk menyatukan Islam dengan negara tidak juga terwujud. Pasti ada yang salah di dalam diri orang-orang yang suka “merintih” itu. Mereka tidak mampu memenuhi kursi parlemen dengan baik dan sempurna.

            Apa masalahnya?

            Pikirkan saja sendiri.


Cengeng

Saya melihat bahwa akhir-akhir ini banyak “ulama cengeng” yang mengemis dan meminta-minta rasa hormat dari orang lain. Dari beberapa demonstrasi yang diklaim sebagai gerakan umat Islam, padahal hanya sekelompok kecil umat Islam, kalau tidak salah, banyak spanduk atau baligo atau poster yang “cengeng” bertuliskan semacam Hormati Ulama, Muliakan Ulama, Jangan Hina Ulama, atau Jangan Kriminalisasi Ulama.

            Tulisan-tulisan macam apa itu?

            Memalukan!

            Tulisan-tulisan cengeng itu tidak perlu ada. Ulama akan selalu dihormati jika benar-benar memberikan bimbingan, arahan, pencerahan, kesejukan, pemecahan masalah, dan kedamaian  pada hati orang banyak. Oleh sebab itu, ulama tidak perlu tulisan-tulisan cengeng semacam itu. Lakukanlah kewajibannya sebagai wakil Allah swt dan penerus Nabi Muhammad saw di muka Bumi ini dalam menebarkan kasih dan kedamaian sesuai dengan yang diinginkan oleh Allah swt. Rasa hormat orang banyak itu akan datang dengan sendirinya jika orang-orang yang dianggap ulama itu melakukan kewajibannya dengan baik.

            Bolehlah orang-orang diingatkan untuk selalu menghormati ulama, memuliakan ulama, dan mematuhi ulama jika berada di kelas TK, SD, SMP, SMA, pengajian-pengajian, atau majelis-majelis taklim. Hal itu bukanlah merupakan “kecengengan”, melainkan suatu upaya membentuk pribadi dan kehidupan sosial yang lebih baik dalam arti kita harus selalu menghormati dan memuliakan orang yang memiliki ilmu lebih tinggi dibandingkan kita. Dengan rasa hormat kita kepada mereka, yaitu ulama sama artinya dengan memberikan ketenangan dan keluasan berpikir bagi para ulama untuk memberikan arahan dan bimbingan yang baik kepada kita.

            Akan tetapi, jika teriakan-teriakan Hormati Ulama, Muliakan Ulama, Jangan Hina Ulama, atau Jangan Kriminalisasi Ulama itu hanya untuk menghalangi orang untuk memberikan kritikan kepada para ulama yang dianggap tidak baik atau menghambat penegakkan hukum kepada orang-orang yang disebut ulama itu, itulah yang saya sebut ulama cengeng. Dalam kata lain, ulama cengeng adalah mereka yang meminta orang-orang untuk menghormati dan memuliakan dirinya hanya untuk menyembunyikan kesalahan diri dan melindungi diri dari masalah-masalah yang menimpanya. Orang-orang seperti ini justru telah merusakkan nama baik ulama itu sendiri. Hal itu disebabkan banyak ulama yang sampai hari ini tetap dihormati dan dimuliakan orang karena memang dirinya adalah orang terhormat dan mulia, bukan sebagai orang yang gemar bikin onar. Ulama yang benar-benar sangat takut kepada Allah swt tidak memerlukan spanduk, baligo, maupun poster untuk meminta rasa hormat dan kemuliaan dari orang banyak. Mereka tidak memerlukan itu karena mereka hanya ingin cinta dari Allah swt. Rasa hormat orang banyak itu akan datang dengan sendirinya karena perilaku dan ilmunya yang sangat terpuji. Kata-katanya mencerahkan dan memberikan kedalaman ilmu, bukan provokasi.  

            Adapula orang-orang yang inginnya disebut ulama dan ingin selalu dihormati dengan cara mengajak orang bernostalgia ke masa lalu. Orang-orang diingatkan terhadap jasa para ulama dalam membentuk Negara Indonesia. Mereka berharap bahwa masyarakat sekarang tidak meminggirkan ulama karena ulama sangat besar jasanya bagi Indonesia.

            Bagi orang-orang semacam ini, saya perlu mengingatkan kata-kata dari Ali bin Abi Thalib ra, “Bukan pemuda namanya yang selalu berkata ‘Ini bapakku’. Pemuda adalah yang mampu mengatakan ‘Inilah aku’.”

            Begitu kira-kira yang dikatakan Ali ra. Meskipun tidak tepat benar redaksinya, tetapi maknanya memang seperti itu.

            Bolehlah ucapan Ali ra digunakan untuk mengingatkan kita sebagai kaum muslimin, terutama ulama. Ulama tidak boleh terus-terusan membangga-banggakan ulama masa lalu, tetapi tunjukkanlah diri ulama masa kini.

            Benar sekali ulama masa lalu banyak jasanya. Pendustalah yang mengingkari peranan ulama dalam membangun dan mendirikan Indonesia. Akan tetapi, itu kan masa lalu.

            Bagaimana dengan ulama masa kini?

            Ulama masa lalu telah menunjukkan prestasinya. Mereka memiliki prestasi sendiri, jasa sendiri, pahala sendiri, dan keagungan sendiri di hadapan Allah swt.

            Ulama sekarang harus memiliki prestasi sendiri, jasa sendiri, dan keagungan sendiri di hadapan Allah swt.

            Setiap umat memiliki masa dan nilai tersendiri di hadapan Allah swt. Ulama masa lalu jelas banyak sekali jasanya, terlalu banyak karya positifnya. Ulama sekarang pun seharusnya tidak selalu menyandarkan diri pada jasa-jasa para pendahulunya, melainkan menunjukkan dirinya sendiri, prestasinya sendiri, kiprahnya sendiri, dan nilainya sendiri, baik di hadapan Allah swt maupun di hadapan seluruh manusia.

            Ulama yang selalu mengingat-ingatkan orang atas jasa ulama terdahulu yang hanya bertujuan untuk mendapatkan rasa hormat dari orang banyak, akan mudah sekali jatuh menjadi “ulama cengeng”.  

            Ulama masa lalu telah besar jasanya membuat Indonesia merdeka dan tetap berdiri kokoh. Ulama sekarang harus memiliki jasa yang juga besar dalam mengisi kemerdekaan dengan berbagai hal positif dan mendorong rakyat untuk membangun dalam rangka meratakan jalan agar umat dapat menapaki jalan yang baik untuk mencapai Allah swt dengan suci dan bersih.


Berani Melakukan Otokritik

Kalaulah ulama itu merupakan strata atau lapisan sosial tersendiri di dalam masyarakat kita, hendaklah memiliki kemampuan untuk melakukan otokritik untuk menyehatkan lapisan sosialnya sendiri. Tidak perlu malu atau sungkan untuk mengakui bahwa di antara orang-orang yang disebut ulama itu tidak semuanya baik. Kita semua manusia yang memiliki celah untuk melakukan kesalahan dan taubat adalah obatnya. Tak perlu ragu untuk membenahi diri karena kenyataan sudah menunjukkan bahwa ada beberapa oknum ahli agama yang melakukan hal tidak terpuji.

            Bukankah beberapa kali kita menyaksikan ada orang yang disebut ahli agama, tetapi melakukan pelecehan seksual kepada santriwatinya?

            Cara untuk membenahi diri para ulama bisa dengan cara yang lembut semisal melakukan “saling menasihati” di antara para ulama atau dengan cara yang keras semisal menjauhkan atau memisahkan diri dari orang-orang yang inginnya disebut ulama, tetapi tidak menunjukkan pribadi sebagai ulama yang sesungguhnya. Bisa pula dengan hal lainnya sesuai dengan keilmuan para ulama yang terhormat.

            Saya menulis hal seperti ini karena menginginkan bahwa ulama tetap berada dalam posisi terhormat dan mulia di tengah masyarakat serta tidak tercoreng oleh mereka yang ingin disebut ulama, tetapi mencederai nama baik ulama dengan menciptakan kebingungan dan kegaduhan di tengah masyarakat. Jujur saja, sebagai orang Islam, saya dan masyarakat muslim lainnya membutuhkan arahan dan bimbingan para ulama yang benar-benar ulama agar dapat menapaki jalan yang lurus untuk mencapai keridhoan Allah swt dan bukan kebisingan yang penuh provokasi.

            Apabila para ulama tidak bersegera membenahi diri, ada lapisan sosial masyarakat lain yang berpotensi mengambil alih peranan para ulama. Perlahan namun pasti, saat ini pun mereka sudah melakukannya. Mereka adalah para motivator, trainer softskill, akademisi, dan psikolog yang sangat memahami kebutuhan masyarakat. Sangat sering mereka menggunakan ayat-ayat Al Quran dan hadits-hadits Nabi Muhammad saw dalam menjawab dan menyelesaikan banyak keresahan dan kebutuhan masyarakat. Masyarakat pun tampaknya mendapatkan jawaban yang memuaskan dan mulai bergantung kepada mereka. Adapun para ahli agama mulai terbatasi hanya sebagai pembaca doa. Sungguh, saya tidak ingin ini terus terjadi. Saya malah berharap para ulama dan para motivator, trainer, akademisi, dan psikolog dapat saling mengisi sehingga memperkaya masyarakat kita dengan penuh kebaikan dan percaya diri.

            Bukankah para motivator, trainer softskill, akademisi, dan psikolog mampu memahami Al Quran dan hadits Nabi Muhammad saw karena mereka adalah juga para murid dari para ulama yang saleh?

Monday, 30 November 2015

Nu Gelo jeung Nu Burung Pasea


oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya

Nu gelo jeung nu burung pasea itu bahasa Sunda. Artinya, orang gila dan orang sinting berantem.

Kalimat itu untuk menggambarkan situasi yang semakin kusut samut di Timur Tengah, tepatnya kekacauan dan perang yang terjadi di Suriah. Semakin hari semakin nggak karuan situasi dan informasinya.

Biarlah urusan Setya Novanto vs Sudirman Said berjalan sebagaimana seharusnya. Sudah banyak orang-orang pintar yang mengawal, mengawasi, dan mendorong perseteruan yang bisa membuat Indonesia diperas Freeport itu untuk lebih terbuka dan terselesaikan sehingga yang benar harus disebut benar dan yang salah harus dipermalukan.

Sekarang mari kita lihat kegilaan yang melibatkan Isis itu. Ketika jet tempur rusia membela Presiden Suriah Bashar al Assad dan menembaki musuh-musuhnya. Pesawat tempur Turki menembak jet tempur Rusia itu. Karuan saja Presiden Rusia Vladimir Putin berang. Ia menyatakan bahwa jet tempur miliknya masih berada satu kilometer di luar wilayah Turki dalam arti masih berada di wilayah udara Suriah. Akan tetapi, Turki ngotot bahwa jet tempur Rusia memasuki wilayah udaranya dan sudah diperingatkan, tetapi bandel sehingga ditembak jatuh. Copilot Rusia membantah pernah mendapat peringatan itu. Situasi pun menjadi tidak jelas dan memanas.

Putin segera menuding bahwa Turki dan Nato adalah pihak-pihak yang mendapat keuntungan dari Isis. Minyak milik Isis dibeli oleh Turki dan Nato. Bahkan, rakyat Rusia menuding pula Qatar dan Arab Saudi mendukung Isis. Lebih jauh lagi, rakyat Rusia berteriak bahwa siapa pun yang memusuhi Presiden Suriah Bashar al Assad adalah pendukung terorisme.

Indonesia memusuhi Bashar al Assad?

Kalau ya, berarti Indonesia adalah pendukung teroris menurut rakyat Rusia.

Kalau saya pribadi memang memusuhi keyakinan Bashar al Assad. Bukan orangnya, tetapi keyakinannya.

Kabarnya dia punya agama yang aneh, nyeleneh dari Islam. Dengar-dengar dia punya keyakinan bahwa Allah swt itu satu, tetapi mewujud dalam tiga citra, yaitu satu, berada dalam diri Nabi Muhammad saw; kedua, berada dalam wujud Malaikat Jibril; ketiga, berwujud dalam diri Bashar al Assad. Dulu mewujud dalam diri ayah Bashar al Assad. Setelah ayahnya meninggal, mewujud dalam dirinya hari ini.

Ibnu Taimiyah mengatakan bahwa keyakinan seperti itu adalah lebih najis daripada anjing.

Setujuuuuu!

Kalau memang benar begitu keyakinan Bashar al Assad, saya malah mengatakannya sebagai lebih najis daripada tahi anjing buduk!

Kalau saya disebut sebagai teroris karena memusuhi keyakinan anjing buduk itu, biarin aja.

Kalau kata orang Rusia saya disebut memuja teroris, emangnya gue pikirin?

Kembali pada soal jet tempur. Setelah Putin menuding keras bahwa Turki dan Nato menikmati minyak Isis, Mendagri Turki balik menuding bahwa jet tempur Rusia bukannya menembakki Isis, melainkan menembaki pemberontak Suriah yang merasa diperlakukan kejam oleh Bashar al Assad. Di samping itu, gank Nato pun segera menyatakan diri berada bersama Turki.

Anehnya, Presiden Amerika Serikat Barack Obama justru mengeluarkan pernyataan yang mendukung Turki, tetapi dengan kalimat yang bertolak belakang dengan yang disampaikan Turki. Barack Obama mengatakan bahwa Turki berhak melindungi wilayah udaranya sendiri dari pesawat asing. Selain itu,  jet tempur Rusia seharusnya bukan menembaki Isis, tetapi mestinya menembaki pemberontak Rusia.

Jadi bingung saya. Kata Turki harusnya Rusia menembaki Isis, bukan pemberontak Suriah, tetapi kata Obama seharusnya menembaki pemberontak Suriah, bukan Isis.

Mana yang benar?

Obama atau Mendagri Turki?

Padahal dua-duanya dalam satu pihak yang sama.

Mungkin wartawan pembawa beritanya yang menerjemahkannya secara salah.

Akan tetapi, kalaupun salah menerjemahkan, pertanyaannya tetap sama, “Mana yang benar?”

Mungkin saya yang salah mendengar, tetapi pertanyaannya sama saja, “Mana yang benar?”

Di sinilah saya mulai mengatakan bahwa yang terlibat perang di sana itu ibarat nu gelo jeung nu burung pasea, ‘orang gila sama orang sinting berantem’.

Presiden Turki Recep Tayip Erdogan  malah balik menuding sekutu Rusia dengan pernyataan aneh. Dia dengan keras mengatakan bahwa Bashar al Assad adalah pendukung utama Isis.

Wow makin kacrut nih situasi. Nggak ada yang bisa dipercaya.

Mau tidak kacrut gimana?

Amerika Serikat menurunkan beberapa tentaranya di Suriah untuk melatih pemberontak Suriah. Beritanya banyak diunggah di Youtube. Akan tetapi, kata Obama seharusnya pemberontak itulah yang ditembaki oleh jet tempur Rusia, bukan Isis.

Aneh, ya?

Kata Erdogan, Bashar al Assad adalah pendukung Isis, padahal Isis ingin menjatuhkan Bashar al Assad.

Aneh, ya?

Putin semakin berani menuding bahwa pesawat tempur Turki menembak jatuh jet tempur Rusia karena Turki melindungi minyak Isis dari gempuran Rusia. Sementara itu, Nato selalu berada bersiap membela Turki. Berarti kan Nato melindungi Turki yang menikmati Isis. Artinya, Nato melindungi Isis.

Lieur!

Biarlah nu gelo jeung nu burung pasea karena sudah begitu keadaannya, pada nggak bisa dipercaya!

Yang saya khawatir adalah akan menjadi nu gelo jeung nu burung ditambah nu koplok pasea. Koplok itu bahasa Sunda yang maknanya adalah seseorang yang bodoh, over acting, pengen dipuji, ikut sibuk, tetapi kerap merugikan dirinya sendiri.

Nah, kalau Indonesia ikut-ikutan dalam perseteruan mereka, Indonesia telah menempatkan dirinya dalam situasi koplok. Jadilah Indonesia sebagai Nagara Koplok.

Dalam situasi semrawut yang tidak ada yang bisa dipercaya, Indonesia haruslah tetap berpegang pada politik luar negeri “Bebas dan Aktif. Bebas dari tekanan pihak mana pun, bebas untuk tidak berpihak, dan bebas untuk melindungi diri sendiri. Aktif berperan menciptakan perdamaian dunia dengan cara Indonesia, bukan cara bangsa asing. Bukan ikut-ikutan menciptakan perdamaian dengan cara asing mengirimkan pasukan untuk ikut berkelahi dan menangkapi siapa saja di dalam negeri atas dasar informasi asing yang sumir.

Jangan jadi bangsa yang koplok!

Memangnya Indonesia mau percaya sama siapa?

Barack Obama?

Recep Tayip Erdogan?

Vladimir Putin?

Bashar al Assad?

Dalam situasi yang nggak puguh seperti ini, hal yang paling baik dilakukan adalah waspada dan siaga melindungi diri. Mau tidak mau Indonesia harus selalu curiga kepada siapa pun orang asing yang masuk ke dalam Negara Indonesia untuk urusan apa pun. Hal itu disebabkan siapa tahu memang benar tuduhan Presiden Rusia Vladimir Putin bahwa Isis itu dibiayai oleh Turki dan Nato melalui pembelian-pembelian minyak Isis. Dengan demikian, sangat mungkin setiap warga Turki dan warga negara yang tergabung dalam Nato bikin ulah macam-macam menimbulkan aksi teror dengan mengatasnamakan Isis di Indonesia sehingga Indonesia terseret dalam pertarungan nu gelo jeung nu burung.

Kita tidak pernah tahu, bukan?

Kalau toh Putin salah, apa dasar Indonesia untuk tidak percaya terhadap tudingan Putin?

Apa pula dasar Indonesia jika mempercayai kata-kata Presiden Rusia Vladimir Putin?

Mau percaya atau tidak, harus punya alasan yang jelas dan harus berdasarkan pada kepentingan nasional Indonesia!

Yang jelas adalah Dajjal sedang bekerja bersama pasukan syetannya untuk mengacaukan hidup manusia. Mereka tidak senang melihat manusia hidup harmonis. Siapa pun yang tidak menginginkan hidup harmonis adalah syetan. Pasukan Dajjal itu syetan. Syetan itu minal jinnati wannas, ‘terdiri atas jenis jin dan manusia’.

Ciri-ciri syetan itu kata Allah swt adalah suka menakut-nakuti manusia dengan kemiskinan, membuat manusia sibuk mencari kekayaan, gemar berbohong, suka mengadudomba, pengecut, gemar bersembunyi, tetapi lemah mudah digertak serta mudah dikalahkan, dan lain sebagainya, cari sendiri di dalam Al Quran, masih banyak cirinya.

Sepanjang tetap berpegang pada Pancasila dan Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, insyaallah kita akan tetap selamat di dunia dan di akhirat. Amin.

Yang paling penting: Jangan Koplok!