Showing posts with label Hoax. Show all posts
Showing posts with label Hoax. Show all posts

Friday, 14 May 2021

Jangan Bela Palestina dengan Hoax

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Palestina telah berulang-ulang mendapatkan perlakuan buruk dan keji oleh pasukan Israel. Tentunya, penderitaan warga Palestina menumbuhkan rasa simpati dan empati manusia. Banyak kecaman kepada Israel dan dukungan kepada Palestina. Bentuk dukungannya bermacam-macam dan itu bagus. Banyak pemerintah dari berbagai negara dan warga dunia yang ingin menghentikan kekejaman Israel kepada Palestina, baik mendesak PBB atau menggalang solidaritas sesama manusia untuk menyelesaikan situasi.

            Berbagai dukungan itu sangat bagus dan bermanfaat. Akan tetapi, dukungan itu akan rusak jika ditambah-tambahi dengan hoax, ‘berita bohong’ atau ‘berita palsu’ yang jelas menyesatkan. Contohnya, banyak beredar video atau foto yang menggambarkan bahwa pasukan Turki telah datang ke Palestina untuk melawan Israel. Penayangan video atau postingan foto-foto tersebut jelas merupakan dukungan untuk Palestina dan menguatkan harapan para pendukung Palestina di seluruh dunia. Sayangnya, penayangan atau postingan tersebut adalah palsu, hoax, misleading, yang akhirnya menyesatkan.

Ketika saya melihat postingan-postingan itu, segera saja timbul banyak pertanyaan.

Semudah itukah Turki memasukkan angkatan perang ke Palestina?

Mengapa baru sekarang mengirimkan pasukan, bukankah kekejaman Israel sudah terjadi sejak dulu?

Bagaimana reaksi PBB?

Seberapa besar penolakan dan kecaman negara-negara pendukung Israel terhadap Turki?

Bagaimana pula reaksi Israel terhadap kedatangan pasukan Turki untuk melawan dirinya?

Masih banyak pertanyaan tentang hal itu dan tidak ada jawabannya karena itu adalah berita palsu.

Saya jadi teringat ketika Israel melarang helikopter Angkatan Udara Yordania yang mengangkut Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Retno Marsudi memasuki wilayah Palestina untuk melantik Konsul Kehormatan di Ramallah. Begitulah Israel, seorang menteri dari Indonesia saja mereka tahu dan melarangnya untuk masuk ke Palestina. Akibatnya, Yordania, Palestina, dan Indonesia pun mengubah rencana. Para pejabat Palestina, Menlu RI Retno Marsudi, Yordania, dan negara-negara lain yang diundang hadir pun akhirnya melangsungkan upacara pelantikan di Amman, Kedubes RI, di Yordania.

Coba perhatikan upacara pelantikan saja diketahui dan dicegah Israel untuk terlaksana di Palestina. Apalagi menggelar pasukan di Palestina, pasti jadi insiden internasional.

Sebetulnya sih, Israel welcome, mempersilahkan Retno Marsudi untuk masuk wilayah Palestina. Syaratnya adalah Retno Marsudi mau berkunjung ke Tel Aviv, Israel untuk bertemu dengan para pemimpin Israel. Akan tetapi, Menlu RI Retno  Marsudi menolak untuk bertemu dan berdialog langsung dengan Israel. Akibatnya, Israel marah dan melarang Retno Marsudi untuk masuk wilayah Palestina.

Soal video hoax pasukan Turki itu pun sudah diklarifikasi medcom.id bahwa video yang diklaim pasukan Turki tiba di Palestina itu adalah video pada 2018 ketika Turki memerangi pemberontak Kurdi bukan buat menyerang Israel.

Hoax itu, baik video, foto, maupun narasi sangat merugikan. Di Indonesia sudah banyak yang merasakannya. Pelaku dan pendukung hoax sudah banyak yang ditangkap. Harapannya juga palsu semua karena tidak nyata yang akhirnya rugi karena memang  PHP. Disangkanya untung, nyatanya rugi. Disangkanya menang, nyatanya kalah. Berharap Turki melawan pasukan Israel karena hoax, nyatanya cuma PHP karena memang tidak ada kenyataannya.

Sampai tulisan ini dibuat, nggak pertempuran antara Turki dengan Israel terkait konflik Israel dan Palestina baru-baru ini, iya kan?

Itu karena kebohongan.

Membela Palestina itu sebaiknya berdasarkan kenyataan, fakta, dan tidak perlu PHP atau tertipu hoax. Hal yang jelas itu adalah Presiden Turki Erdogan menggertak atau mengancam untuk menggelar pasukan dan mendesak dunia internasional untuk menghentikan kekerasan Israel kepada Palestina. Itu benar sebagaimana pemerintah Indonesia mendesak Dewan Keamanan PBB untuk bersikap tegas kepada Israel dan usulan DPR RI agar negara-negara yang tergabung dalam Oki untuk menggelar KTT dalam menyikapi kekerasan Israel.

Jangan membela palestina dengan hoax karena hanya harapan palsu, PHP, dan memang tidak ada kenyataannya. Rugi sendiri.

Sampurasun.

Tuesday, 14 April 2020

Gagal Move On dari Jokowi


oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Banyak orang yang tak mampu melupakan Jokowi. Tampaknya, mereka tak bisa ke lain hati. Hanya Jokowi yang terbayang di pikirannya. Padahal, Pilpres RI sudah usai, tetapi Jokowi masih terus diomongin setiap hari dari pagi hingga pagi lagi. Sementara itu, orang-orang sudah move on dari Prabowo Subianto, saingan Jokowi di Pilpres RI April 2019 lalu. Perbincangan tentang Prabowo sudah sangat sedikit meskipun pasti ingat, tapi sudah sangat jauh berkurang.

            Untuk apa sih ngomongin Jokowi terus?

            Takut Jokowi jadi presiden lagi nanti?

            Tidak akan bisa kan cuma dua periode.

            Pengen Jokowi jatuh?

            Itu mah cuma mimpi.

            Pengen Jokowi mundur?

            Jokowi bukan tipe orang yang suka mundur sejak masih tukang kayu. Lagian, para pendukungnya tidak akan membiarkan Jokowi mundur.

            Kan sudah dibilangin kalaupun Jokowi tidak terus menjadi presiden, gantinya pasti Wapres RI Maruf Amin. Kalau juga tidak bisa, gantinya bisa Ketua MPR RI Bambang Soesatyo atau Ketua DPR RI Puan Maharani. Kalau mereka tidak bisa juga, pemimpin Indonesia dipegang triumvirat, tiga menteri, yaitu Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian, dan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto.

            Jokowi adalah Presiden RI yang sah di dalam negeri, di luar negeri, bahkan saingannya pun, Prabowo Subianto, membantu Jokowi dalam melaksanakan pemerintahan. Jadi, suka atau tidak, setuju atau tidak, mengakui atau tidak, Jokowi adalah Presiden RI.

            Lalu, buat apa terus-terusan ngomongin Jokowi?

            Nggak ada kerjaan pisan.

            Hal yang harus dilakukan sekarang oleh seluruh rakyat adalah membantu Jokowi sampai akhir jabatannya agar Indonesia bisa lebih baik lagi dan tetap bertahan dari berbagai macam bahaya. Bantuan itu bisa berupa dukungan atau kritikan, bukan buliyan, fitnahan, atau hoax.

            Kritikan itu perlu dan pasti bermanfaat. Misalnya, Jokowi itu salah melakukan …. Akibat kesalahan Jokowi adalah …. Seharusnya Jokowi melakukan …. Supaya rakyat dan negara menjadi ….

            Begitu cara mengkritik secara sederhana.

            Kalau buliyan, fitnahan, hoakan, sama sekali tidak bermanfaat dan tidak akan didengar karena tidak ada gunanya. Mereka inilah yang tidak bisa “move on” dari Jokowi. Mereka selalu ingat Jokowi. Sayangnya, tak ada manfaatnya, malah membahayakan dirinya sendiri. Kalau sampai melanggar UU ITE, tiba-tiba polisi datang ke rumahnya dan dijemput untuk tidur di kantor polisi, baru menyesal dan malu.

            Kalau ada yang masih ingat, dulu sebelum Pilpres RI April 2019 saya mengingatkan jika ingin menjatuhkan atau mengalahkan Jokowi, jangan ngomongin Jokowi terus. Sebaiknya, perbanyak menulis atau memposting berbagai hal tentang kehebatan Prabowo. Akan tetapi, orang-orang nggak mau menurut. Tulisan saya di blog saya itu dibaca lebih dari 200.000 orang. Mereka terus saja membicarakan Jokowi, baik yang jelek maupun yang bagus. Akibatnya, hampir seluruh orang Indonesia membicarakan Jokowi. Para pendukungnya membicarakan kehebatan Jokowi, mereka yang anti membicarakan hal yang jelek tentang  Jokowi. Intinya, hanya satu nama itu yang  muncul dan terekam di kepala banyak orang, Jokowi. Dengan demikian, orang lebih mudah mengingatnya.

            Hasilnya, Jokowi menang, bukan?

            Coba kalau nama itu tidak banyak dibicarakan, hasilnya mungkin akan berbeda. Nggak mau pada nurut sih.

            Kecewa kan jadinya?

            Hal yang sama terjadi pada Anies Baswedan, Gubernur DKI Jakarta saat ini. Ketika terjadi banjir yang menghebohkan Jakarta kemarin-kemarin itu, Anies dibanjiri hujatan, makian, bahkan gugatan ke pengadilan oleh warganya sendiri karena tidak mampu mengatasi banjir. Di samping itu, Anies pun mendapatkan dukungan penuh dari para pendukungnya.

            Tidak masalah tentang dukungan atau hujatan, tetapi yang jelas nama Anies banyak sekali muncul pada berbagai media cetak, elektronik, maupun Medsos. Akibatnya, ketika pengamat politik M. Qodari membuat survey tentang orang yang tepat untuk menjadi presiden RI jika pemilihan dilakukan saat ini, Anies menduduki peringkat kedua setelah Prabowo. Itu artinya Anies Baswedan adalah orang yang tepat untuk menjadi presiden RI saat ini jika Prabowo tidak ikut pencalonan Pilpres lagi. Itu versi survey M. Qodari.

            Jika ingin Anies menjadi presiden pada 2024, teruslah menulis atau memposting tentang kehebatan Anies Baswedan dan jangan lagi membicarakan Jokowi agar memori di kepala masyarakat hanya ada satu nama yang muncul, yaitu Anies Baswedan. Kalau masih gagal move on dari Jokowi, memori masyarakat terpecah dan masih mengingat Jokowi. Akibatnya, masyarakat akan mengikuti calon yang didukung Jokowi untuk Pilpres RI 2024.

            Meskipun berkelakar, Jokowi telah menyebut satu nama untuk 2024, yaitu Sandiaga Uno. Anies itu dekat dengan PKS, sedangkan Sandiuno itu kader Gerindra. Mereka berdua pada dasarnya berbeda dan sangat mungkin untuk bersaing pada 2024 untuk mendapatkan kursi presiden.

            Hal yang juga patut diingat bahwa Anies menjadi peringkat kedua setelah Prabowo adalah disebabkan dengan perhitungan bahwa Prabowo tidak lagi mencalonkan. Kalau Prabowo mencalonkan lagi, ya Prabowo yang kemungkinan besar menjadi presiden berikutnya. Hal itu disebabkan Anies wajar mendapatkan perhatian yang besar karena nama dan wajahnya sering muncul pada berbagai media dan Medsos, baik hal yang bagus maupun yang jelek. Prabowo yang sudah sangat kurang tampil pada berbagai media dan Medsos ternyata masih nomor satu. Apalagi nanti kalau masa kampanye lagi, Prabowo pasti akan lebih sering tampil kembali. Di samping itu, kemungkinan besar para pendukung Jokowi menjadi pemilih Prabowo karena Prabowo adalah menteri-nya Jokowi dan dekat dengan Ketua PDIP Megawati Soekarnoputri.

            Hal lain yang tidak boleh dilupakan adalah Anies bisa menjadi posisi atas adalah disebabkan pula calon-calon presiden RI lain masih belum bergerak menampilkan diri sebagai calon presiden. Paling tidak, saya mendengar calon presiden selain Anies adalah ya itu tadi Sandiaga Uno, Ridwan Kamil, Ganjar Pranowo, dan Khofifah Indarparawansa.

            Coba move on dari Jokowi. Bantu saja dia dengan dukungan dan kritikan. Sekeras apa pun kritikan pasti bermanfaat. Sekeras apapun buliyan, hinaan, makian, fitnahan, atau hoakan sama sekali tidak bermanfaat. Itu hanya ledakan emosi mirip cewek cengeng yang cowoknya direbut saingannya.   

            Tulislah hal-hal yang hebat tentang Anies Baswedan kalau mau Anies nanti jadi presiden. Kalau mau yang lain, bukan Anies, ya tulis hal-hal yang hebat tentang jagoannya, jangan lupa move on dari Jokowi.

            Sampurasun.

Saturday, 11 April 2020

Hoax dan Pemerintah Berperan dalam Aksi Tolak Jenazah


oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Sungguh sangat menyedihkan kita menyaksikan jenazah-jenazah korban virus corona/Covid-19. Mereka banyak yang ditolak oleh warga untuk dimakamkan di wilayahnya. Hal yang membuat lebih sedih sekaligus mengesalkan adalah para tenaga kesehatan yang telah berjasa memberikan pengobatan dan perawatan terhadap pasien virus corona yang kemudian tertular dan meninggal pun ditolak.

            Lalu, mau dimakamkan di mana mereka?

            Mungkin orang-orang itu hanya bisa bilang, “Terserah di mana saja, asal bukan di tempat kami!”

            Itu jawaban manusia egois, tidak berperasaan, tidak berpengetahuan, tidak terdidik hatinya, dan tidak cerdas memberikan solusi. Mereka tahunya hanya protes sambil tidak punya jalan keluar yang baik.

            Saya melihatnya ada dua penyebab besar di balik aksi-aksi penolakan jenazah ini. Penyebab itu adalah “hoax” dan “kurangnya koordinasi dari pemerintah”.

            Pertama, hoax jelas merusakkan banyak hal. Banyak sekali hoax yang bertebaran tentang virus corona di Medsos. Hal itu membuat orang-orang panik luar biasa hingga mempercayai saja informasi yang beredar tanpa dicek kebenarannya. Sampai-sampai serangga kecil disebut bentuk virus corona saja dipercaya.

            Iya kan?

            Demikian pula tentang penyebaran virus corona dari jenazah pun dibuat narasi yang luar biasa dan tidak masuk akal sehingga menakutkan dan menyesatkan.

            Bolehlah kalau para dokter dan para ahli berbeda pendapat, tetapi jangan di Medsos!

            Perbedaan pendapat ilmiah itu harus di ruang sidang khusus. Buat makalah hasil penelitian, lalu diuji dan diperdebatkan oleh sesama ahli sehingga ilmunya sah teruji serta dapat dipertanggungjawabkan. Kalau di Medsos, lalu dibaca orang-orang bodoh dan tolol soal kedokteran seperti saya ini, bisa menyesatkan dan mengacaukan.

            Hoax itu benar-benar mengacaukan dan pelakunya berdosa besar. Hoax itu bohong, sebagian orang mengatakan bahwa bohong itu dosa kecil. Iya kalau berbohongnya sama satu orang, misalnya, sama tukang bala-bala. Itu kecil karena yang ruginya sedikit hanya tukang bala-bala dan keluarganya. Akan tetapi, kalau berbohongnya kepada orang banyak, seluruh rakyat Indonesia, bahkan dunia, itu dosa teramat besar karena kerusakan yang ditimbulkannya sangat besar.

            Kedua, pemerintah pun memiliki andil dalam aksi-aksi penolakan jenazah ini. Hal itu disebabkan pemerintah kurang melakukan koordinasi, sosialisasi, dan pencerahan terhadap masyarakat soal jenazah, penularan virus, dan proses pemakamannya. Dari berbagai berita di televisi, masyarakat tiba-tiba dikejutkan oleh adanya ambulans dan pemberitahuan mendadak soal pemakaman korban virus di wilayahnya. Tentu saja itu membuat reaksi mendadak pula dari masyarakat.

            Pemerintah itu memiliki organisasi yang terstruktur dari pusat sampai daerah, memiliki ribuan ahli dan dokter yang berada di bawah menteri kesehatan, memiliki pula kewenangan dan sarana komunikasi dari pusat hingga daerah. Seharusnya itu digunakan untuk memberikan sosialisasi, koordinasi, dan pencerahan sehingga terjadi kesepahaman antara pemerintah dan masyarakat. Memang pemerintah harus lebih ekstra bekerja untuk berkomunikasi dengan masyarakat, apalagi jika berhadapan dengan orang-orang yang sudah digelapkan matanya oleh hoax sehingga kebenaran pun akan mereka tolak karena lebih percaya pada hoax, gemar hoax. Itu tantangan tersendiri bagi pemerintah dan jajarannya.


Kekuatan Jahat Syetan Hoax
Pemerintah ternyata cepat belajar dari kesalahannya yang terdahulu. Akhir-akhir ini pemerintah melakukan banyak upaya koordinasi dan komunikasi dengan masyarakat jika ada jenazah korban Covid-19 yang akan dimakamkan. Upayanya banyak menunjukkan keberhasilan, tetapi masih ada pula warga yang tetap menolak, padahal jenazah itu adalah perawat kesehatan dan masih warga setempat sendiri. Bahkan, jenazahnya sudah diurus dengan baik sesuai prosedur yang berlaku di dunia kesehatan. Setidaknya, itu yang saya perhatikan dari berbagai berita.

            Hoax itu benar-benar hasil karya syetan jahat.

            Pemerintah sudah mulai belajar dari kesalahannya meskipun masih ada kekurangannya dan harus terus belajar menyempurnakan upayanya. Akan tetapi, para penggemar hoax tidak berhenti hingga ditangkap polisi atau mati dalam keadaan berdosa karena telah menyebarkan “penipuan dan kebohongan” kepada orang banyak.

            Kalau sudah ditangkap, biasanya mereka mengaku “khilaf” dan sadar atas kesalahannya, lalu meminta maaf kepada masyarakat. Masih untung mereka bisa bertaubat di dalam penjara. Kalau tidak sempat taubat, keburu mati, bencana besar tanpa henti sudah pasti dideritanya secara abadi jika Allah swt tidak mengampuninya.

            Meskipun pada beberapa wilayah memang ada penolakan, masih ada juga warga yang sangat terbuka tangan dan hatinya menerima jenazah korban virus corona yang ditolak di wilayah lain untuk dimakamkan di wilayahnya. Bersyukurlah masih banyak orang yang baik hatinya, tercerdaskan pikirannya, dan berhati-hati dalam tindakannya.

            Semoga Allah swt selalu melindungi orang-orang baik yang bertindak dengan pikiran benar. Semoga Allah swt pun membuka pikiran orang-orang yang masih tertutup hatinya dan masih tertipu, bahkan menyebarkan hoax. Semoga Allah swt memberikan kita kekuatan dan perlindungan dalam masa wabah ini sehingga kita terselamatkan, baik di dunia maupun di akhirat.

            Sampurasun.

Wednesday, 25 March 2020

Hoax Menyiksa Petugas Kesehatan


oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Para pejuang di garis depan dalam memerangi wabah virus corona seharusnya mendapatkan apreasiasi dan perlindungan semua pihak. Akan tetapi, para pembuat dan penyebar hoax telah menyiksanya. Para pecinta hoax tidak akan mengerti mengapa mereka telah menyiksa para petugas kesehatan. Mereka memang sejak dulu disebut orang-orang “sumbu pendek” yang bertindak dan berbicara dengan pikiran yang pendek, empatinya buruk, dan otaknya sempit. Otaknya tidak akan sampai untuk memikirkan bahwa perilakunya telah menyiksa petugas kesehatan sekaligus menghambat penanggulangan wabah virus corona.

            Baiklah, saya ceriterakan bahwa para pendusta ini telah menyiksa para petugas kesehatan. Dalam siaran langsung ILC, “Indonesia Lawyers Club”, 24 Maret 2020, ada dokter yang mengisahkan bahwa dirinya mendapatkan Curhat dari perawat yang pulang ke tempat kost setelah bertugas merawat pasien corona. Perawat itu ditolak atau diminta untuk tidak kost di tempat itu lagi oleh pemilik kost. Ibu Kost keberatan karena ketakutan Sang Perawat dapat menyebarkan virus corona di tempatnya kost.

            Mengapa Si Ibu Kost ketakutan?

            Dia kemungkinan besar telah mendapatkan banyak informasi hoax tentang segala hal terkait virus corona. Padahal, menurut dokter, para petugas kesehatan itu selalu dicek kesehatannya. Jika negatif, mereka akan terus “gas poll” bekerja merawat pasien dan tentunya bisa pulang beristirahat. Jika positif, mereka akan menjadi pasien.

            Coba bayangkan, para perawat yang berjuang untuk manusia dan kemanusiaan itu ditolak untuk pulang ke tempatnya kost. Mereka seharusnya dibantu, dihadiahi, dan diberikan semangat, tetapi ternyata mendapatkan penolakan seolah-olah monster menakutkan yang akan membawa penyakit. Ini akibat hoax dengan informasi yang berlebihan tanpa pikir panjang.

            Ada lagi kisah dokter yang pulang karena orang tuanya sangat rindu kepadanya. Akan tetapi, pengurus warga setempat, seperti, RW dan RT keberatan dengan kepulangan dokter tersebut. Mereka ketakutan dokter tersebut menularkan virus corona di wilayahnya. Padahal, dokter itu pulang pasti sudah dicek kesehatannya. Jika buruk atau positif corona, mereka pasti sudah menjadi pasien serta dirawat dan diisolasi di rumah sakit.

            Kita tidak tahu berapa banyak perawat, dokter, atau petugas kesehatan lainnya yang mendapatkan perlakuan seperti ini. Mereka adalah pejuang yang harus diberikan dukungan dan semangat, bukan ditolak dan disakiti hatinya.

            Jika mereka tidak bisa pulang, hendak ke mana mereka setelah berhari-hari letih untuk merawat pasien?

            Mereka tersiksa karena masyarakat mendapatkan informasi hoax yang berlebihan sehingga ketakutan yang berlebihan pula.

            Para petugas kesehatan ini jika memang melaksanakan perintah Allah swt untuk menyelamatkan manusia dan kemanusiaan adalah para mujahid sejati. Kalaupun mereka harus mati karena berjuang, insyaallah syahid dan mendapatkan surga.

            Adapun para pecinta hoax hanyalah orang-orang gila yang pasti masuk neraka jika tidak menghentikan perbuatannya, lalu taubat sebenar-benarnya taubat.

            Sampurasun.

Tuesday, 24 March 2020

Hoax Covid-19 yang Merugikan Dirinya Sendiri


oleh Tom Finaldin

Bandung, Putera Sang Surya
Sebetulnya saya pengen ketawa, tetapi tidak pantas dalam suasana seperti ini menertawakan orang lain. Dia yang berbuat, dia sendiri yang rugi.

            Saya ini sering memperhatikan akun-akun pembuat dan penyebar hoax pada berbagai media sosial. Ketika hoax itu berhasil menipu banyak orang, mereka sendiri banyak yang merasa rugi, tetapi tetap saja tidak sadar. Para pecinta hoax ini beberapa waktu lalu, bahkan hingga hari ini menebar kisah-kisah, video, foto hoax yang mengerikan tentang Covid-19/virus corona secara berlebihan. Akhirnya, masyarakat takut, panik secara berlebihan pula. Orang-orang jadi tidak berani ke luar rumah, tidak berani belanja, memborong makanan untuk dua minggu, bahkan satu bulan ke depan. Ketika situasi mulai sepi, akun-akun penyebar hoax ini mulai mengeluh karena para pelanggan bisnisnya jadi jauh berkurang, bisnisnya menjadi sepi, penghasilannya makin menipis. Situasi itu bukannya menjadikan mereka sadar, malahan kembali menyalahkan pemerintah yang katanya harus menyediakan makanan untuk mereka.

            Sekarang ini masih bukan  “lockdown”/karantina wilayah, melainkan “social distancing”, ‘pembatasan interaksi manusia’. Artinya, pemerintah tidak akan memperlakukan masyarakat seperti dalam keadaan lockdown. Masyarakat masih bisa bebas bergerak, beraktivitas, tetapi dengan kehati-hatian dan kewaspadaan tinggi, tidak berlama-lama di luar, tidak beraktivitas yang tidak perlu, meminimalisasi interaksi dengan orang lain, menjaga kebersihan dan kesehatan, dll..

             Lagian, berpikiran bahwa lockodown itu “enak” adalah salah. Seolah-olah bahagia karena tidak perlu bekerja, tetapi tetap mendapat makanan.

            Memangnya dengan lockdown pemerintah akan memberikan makanan yang enak-enak dengan jumlah banyak seperti dalam hajatan?

            Kita tidak tahu setiap hari, setiap orang akan mendapatkan jatah berapa untuk makan kalau sampai lockdown.

            Apa saja makanannya?

            Mungkin paling-paling untuk sekedar hidup supaya tidak pada mati kelaparan. Belum lagi aktivitas yang sangat dibatasi dan pasti mencekam, tidak bisa kerja, tidak bisa sekolah, tidak bisa main, tidak bisa beribadat secara massal, dll..

            Perlu diingat bahwa di luar negeri pun, baik pemerintahnya maupun masyarakatnya tidak ada yang betah dengan kondisi lockdown. Mereka ingin kembali pada aktivitas normal. Di Cina saja yang sudah mulai pulih, pemerintahnya sedikit-sedikit, bertahap mulai membuka kota-kota yang tadinya diterapkan karantina wilayah.

            Jangan bikin hoax sehingga membuat orang lain ketakutan dan merasa terancam karena ketika orang panik, kita pun ikut rugi. Beraktivitaslah seperti biasa dengan kehati-hatian yang tinggi; kalau bisa, bekerja dari rumah; kurangi aktivitas yang tidak perlu; jangan lupa cuci tangan pakai deterjen; perhatikan kebersihan dan kesehatan; tetap konsisten beribadat.

            Sampurasun.

Saturday, 21 March 2020

Pro-Kontra Social Distancing

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Dalam mengatasi penyebaran virus corona, pemerintah dan lembaga-lembaga dunia menjalankan cara “social distancing”, ‘pembatasan interaksi masyarakat’. Hal ini ada dalam berbagai kampanye dan seruan-seruan pemerintah, baik pusat maupun daerah.

            Dalam kenyataannya, praktik social distancing ini tidak diikuti oleh seluruh masyarakat Indonesia. Jalanan masih tetap ramai, terminal tetap sibuk, pasar tetap beroperasi, bahkan terjadi saling mengunjungi di antara sanak saudara dan kerabat untuk mengisi waktu program 14 hari “aktivitas di dalam rumah”. Ini kenyataan. Orang-orang masih hilir mudik.

            Dalam pengamatan saya, ada beberapa penyebab dari hal seperti ini. Pertama, masyarakat melihat kenyataan yang berbeda antara yang ditayangkan di televisi, seruan pemerintah, serta kehebohan di Medsos. Masyarakat banyak yang menilai ternyata kenyataannya tidak seheboh yang di televisi, apalagi yang berseliweran di Medsos. Masyarakat menilai bahwa lingkungannya tenang-tenang saja, biasa-biasa saja. Ketika mereka keluar rumah, situasi tetap normal. Di masjid-masjid kampung jumatan dan shalat berjamaah tetap berjalan, kerja bakti jalan terus, warung-warung tetap berjualan malahan tetap menjadi tempat nongkrong penduduk. Masyarakat menilai kehebohan hanya terjadi di DKI Jakarta dan daerah sekitarnya, itu pun tidak di seluruh wilayahnya.

            Kedua, perlawanan terhadap hoax. Masyarakat sudah kesal dan marah oleh berbagai hoax yang mulai sangat dikenal selama kampanye Pilpres 2019. Ketika terjadi penyebaran virus corona pun, hoax sangat mengganggu masyarakat karena menebar ketakutan dan ketidakamanan. Masyarakat seolah-olah memperlihatkan diri bahwa dirinya sama sekali tidak terpengaruh hoax. Segala hoax itu tidak benar dan masyarakat menampilkan dirinya sebagai “penantang hoax” untuk mengalahkan hoax.

            Ketiga, politik. Isu corona yang seharusnya merupakan isu kesehatan dan kemanusiaan, telah dipolitisir oleh berbagai pihak untuk menjatuhkan pemerintah yang sah saat ini. Berbagai tudingan, ejekan, dan cacian diarahkan pada pemerintah yang sah dalam hal ini Presiden Jokowi. Banyak status atau komen-komen negatif yang menyuarakan agar Jokowi mundur karena dianggap tidak becus  menangani penyebaran virus serta tidak melakukan penanganan sesuai selera mereka yang anti-Jokowi. Apalagi Jokowi menyatakan tidak berpikir untuk melakukan “lockdown” karena cost-nya terlalu besar dan tidak diperlukan.

            Bahkan, ada postingan, “Semoga seluruh antek-antek Jokowi kena virus corona.”

            Luar biasa!

            Politisasi atas isu virus ini mudah sekali dibaca oleh para pendukung Jokowi. Mereka pun melawan politisasi ini dengan beraktivitas secara normal dan tidak menginginkan lockdown karena menurut mereka bisa menimbulkan efek buruk yang luar biasa besar, baik secara politik, sosial, maupun ekonomi.

            Paling tidak, itu yang saya bisa lihat dari tidak meratanya kepatuhan terhadap upaya social distancing yang terjadi di Indonesia. Meskipun demikian, tak seorang pun yang tidak setuju atas pencegahan dan penanggulangan penyebaran virus corona. Semuanya setuju. Perbedaannya hanya ada dalam pengalaman hidup yang berlainan, kekesalan dan kemarahan terhadap hoax, serta adanya pertarungan politik.

            Sampurasun.

Monday, 16 March 2020

Ini Hari


oleh Tom Finaldin

Hari ini adalah mulai diberlakukannya peraturan-peraturan terkait pencegahan virus corona di lingkungan pendidikan. Berbagai tingkatan pendidikan tidak diperbolehkan untuk melakukan kegiatan pendidikan, termasuk mengerahkan massa dan rapat-rapat.

            Sejak pagi sudah ada keanehan. Anak saya yang masih SD pergi bersekolah dengan menggunakan masker. Katanya disuruh gurunya lewat WA. Padahal, kan sudah dilarang melaksanakan pendidikan.

            Di seputaran Banjaran ada lagi keanehan, anak-anak berseragam sekolah SMP, mungkin juga SMA tampak di pinggir jalan. Saya segera menduga anak-anak ini tidak memberitahukan kepada orangtuanya bahwa seharusnya mereka di rumah. Mereka cuma modus pergi sekolah hanya untuk mendapatkan uang saku. Kalau tidak sekolah, mereka nggak punya uang. Di samping itu, ada anak-anak usia sekolah bergerombol berjalan. Mereka tidak menggunakan seragam, tetapi menuju tanah lapang untuk sepak bola.

            Setiba di SMP-MA Mawaddi, Banjaran, sekolahan sepi, beberapa guru berada di kantor. Saya membaca beberapa lembar bacaan di sana, lalu pergi lagi.

            Di perjalanan semua tampak biasa saja, tak ada bedanya. Terminal tetap ramai, pasar apalagi, kemacetan pun sudah biasa. Tidak ada pengurangan aktivitas. Tak ada yang menggunakan masker. Ada sih, tetapi masker yang bukan standar, warna-warni, gaya.

            Apa kabar “Stay at Home”?

            Masyarakat sepertinya tahu itu, tetapi cuek saja.

            Sesampainya di Fisip, Universitas Al-Ghifari, masih banyak mahasiswa yang di sana. Mungkin mereka baru tahu bahwa seharusnya mereka berada di rumah dan mengerjakan UTS di rumah masing-masing. Akan tetapi, hingga sore mahasiswa masih ada, pada ngobrol, nongkrong, sebagian beres-beres berkas ujian.

            Saya tanya mereka, “Nggak cepet pulang? Nggak takut corona?”

            Mereka cuma ketawa-ketawa kecil dikiranya saya bercanda. Padahal, cuma mencoba akrab.

            Beberapa menggunakan masker standar, tetapi ada yang hanya mulutnya ditutup masker, hidungnya tidak. Selebihnya, seperti biasa saja, tidak bermasker.

            Agak kaget ketika saya mendengar ada sekelompok, seorang dari mereka yang bilang ke teman-temannya, “Jangan lupa ya, besok kita ke sini lagi.”

            What?

            Apa kabar “Stay at Home”?

            Tidak mungkin juga saya mengusir mereka, apalagi dengan bahasa kasar. Saya tidak tahu besok lusa dan besok-besoknya lagi, apakah menjadi lebih sepi atau tambah ramai.

            Orang Indonesia itu memang seperti itu. Dari dulu juga seperti itu. Ketika ada virus flu burung, flu babi, anthraks, atau sars, bahkan HIV, sepertinya “hare-hare”, cuek saja. Berbeda dengan orang Amerika Serikat. Ketika beberapa tahun lalu awal dikenal virus flu burung, Kota New York sepi bagai Kota Hantu selama tiga hari. Penduduknya kabur dari New York ke kota-kota lain.

            Orang Indonesia memang seperti itu. Perlu pendekatan sosial lain dalam menyosialisasikan hal-hal seperti pencegahan penyebaran virus. Mungkin juga mereka sudah “bête” dengan berita corona yang dibumbui banyak sekali hoax. Saya sendiri mencatat dari berita televisi, tidak kurang dari 123 kasus hoax tentang corona yang ditangkap dan ditangani polisi.

            Orang Indonesia itu berbeda dengan bangsa lain, maka cara sosialisasinya pun harus berbeda. Cara bangsa lain belum tentu ampuh untuk bangsa Indonesia, begitu juga sebaliknya.

            Bukankah manusia itu diciptakan bersuku-suku dan berbangsa-bangsa?

            Pastinya ada banyak perbedaan yang memerlukan cara berbeda pula dalam menanganinya.

            Sampurasun.

Wednesday, 15 January 2020

Kok BMKG Yang Disalahin?


oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Banjir besar pada awal tahun 2020 yang terjadi di Indonesia, khususnya DKI Jakarta menimbulkan polemik luar biasa. Hal itu sebenarnya biasa saja jika yang diperdebatkan adalah ilmu pengetahuan, kebijakan, atau pengalaman. Akan tetapi, menjadi aneh dan menyesatkan jika melakukan fitnah, penyesatan, dan menutupi kenyataan.

            Kemarin-kemarin sudah saling menyalahkan, tidak mau koreksi diri, introspeksi diri, selalu menganggap diri paling benar, dan orang lain yang salah. Sekarang ditambah lagi pihak yang disalahkan, yaitu Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

            Menurut mereka, BMKG telah memberikan informasi yang salah. Selepas banjir besar pada awal tahun 2020, BMKG memberikan informasi bahwa akan terjadi lagi hujan besar yang berpotensi banjir besar. Dalam kenyataannya, hujan besar itu tidak terjadi dan cuaca sangat cerah. Saya saja yang tinggal di Bandung, cerah sekali, bahkan panas. Saya memanfaatkan cuaca itu untuk menembok jalan depan rumah supaya kuat dan bersih.

            Hal inilah yang menurut mereka, BMKG telah salah. Mungkin menurut mereka, seharusnya sekarang cuaca sedang terjadi hujan lebat dan banjir di mana-mana sesuai informasi BMKG. Inilah yang saya sebut aneh dan ngaco berat.

            Hal yang terjadi sebenarnya menurut urutan pemberitaan yang benar adalah BMKG menginformasikan bahwa akan terjadi hujan besar yang berpotensi banjir besar. Berdasarkan informasi dari BMKG itu, Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC)-BPPT segera bekerja sama dengan TNI Angkatan Udara (AU) memodifikasi cuaca. Mereka menjatuhkan hujan di atas laut sehingga awan yang berat itu tidak sampai ke darat. Menurut pengakuan mereka, curah hujan telah berhasil dikurangi sebanyak 50%. Oleh sebab itu, cuaca cerah dan hujan besar tidak terjadi. Begitu kejadiannya. Jadi, bukan BMKG yang salah informasi. BMKG tepat, lalu diantisipasi oleh Balai Besar (TMC)-BPPT yang bekerja sama dengan TNI AU, bencana susulan pun tidak terjadi.

            Begitulah seharusnya para pemimpin bergerak. Mereka bekerja sama sehingga bencana yang sudah diperkirakan sebelumnya, tidak terjadi. Sebaliknya, pemimpin yang tidak bergerak dan tidak mengantisipasi bencana, padahal sudah diinformasikan sebelumnya adalah pemimpin yang tidak waspada dan hanya asyik dengan dirinya sendiri. Kita tidak bisa berharap banyak pada pemimpin model ini karena dia hanya sibuk dengan pikirannya sendiri.

            Saya tidak mengerti orang-orang yang ngaco berpikir itu, bagaimana cara berpikirnya sehingga menyalahkan BMKG?

            Pertama, mereka bisa merupakan orang-orang yang kurang informasi, lalu segera berbicara atau menulis sesuatu dengan ilmu yang dangkal. Orang-orang seperti ini bisa dimaklumi karena kurang informasi. Akan tetapi, mereka harus segera mengakui kesalahannya, lalu memperbaiki pernyataannya. Saya juga terkadang seperti itu. Akan tetapi, ketika tersadar, saya memperbaikinya. Hal ini sebagaimana yang saya lakukan ketika membuat “ralat” atas kekurangan pada tulisan sebelumnya. Saya tidak mau menyesatkan orang lain dan tidak mau juga berada dalam informasi sesat.

            Kalau saya menyesatkan orang lain sekaligus menyesatkan diri sendiri, bagaimana saya bisa mempertanggungjawabkan kata-kata saya di hadapan Allah swt nanti?

            Ngeri rasanya kalau tidak bisa menjawab pertanyaan Allah swt, kelak.

            Jangankan di akhirat, di dunia saja saya sudah bisa tersiksa dan dipermalukan kalau salah, lalu tidak memperbaiki diri.

            Kedua, mereka yang ngaco ini terbiasa dididik dengan hati yang julit, penuh kebencian, gembira dengan berita hoax, memperbanyak prasangka, menganggap sangkaan adalah kebenaran, dan dibiasakan berbicara kasar.

            Ketiga, mereka yang tidak mau bertanggung jawab atas kesalahan yang diperbuatnya. Mereka ini selalu menyalahkan orang lain dan tidak memiliki kemampuan untuk menghisab diri, mengoreksi diri, dan introspeksi diri. Mereka selalu ingin tampak paling benar dan orang lain salah.

            Orang-orang seperti inilah yang menyesatkan orang lain dan kerap membuat orang lain ikut tersesat dalam pola pikir yang sesat. Akan tetapi, jika mereka memperbaiki diri, semuanya akan baik-baik saja. Insyaallah.

            Sampurasun.