Showing posts with label NU. Show all posts
Showing posts with label NU. Show all posts

Sunday, 4 September 2022

Ngerinya Penceramah Teroris

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Kata mereka, dia ulama. Kata saya, dia teroris.

            Kalau menyimak isi ceramahnya, ngeri-ngeri tidak sedap rasanya. Dia bilang bahwa Nahdlatul Ulama (NU) harus dihancurkan. Kalau NU hancur, Muhammadiyah akan mati dengan sendirinya. Kalau NU dan Muhammadiyah roboh, Pancasila akan kehilangan motivator dan akselerator.

            Kalimat sebegitu saja sudah mengerikan bagi saya.

Kalau Pancasila runtuh, Jawa Timur yang merupakan wilayah para kiyai, para wali, dan para guru NU dapat dikuasai hingga roboh. Kalau Jawa Timur runtuh, Pulau Jawa dapat dikuasai. Kalau Pulau Jawa sudah dikuasai, Indonesia pun menjadi sangat lemah.

Jika Indonesia dapat dikuasai, negara-negara sekitarnya akan lebih mudah dikendalikan dan seterusnya … dan seterusnya ….

Bagi saudara-saudaraku para nahdliyin dan muhammadiyin—istilah ini kalau salah, kasih tahu saya—jaga diri, jaga keyakinan, dan jaga akhlak kalian. Orang-orang seperti saya bersama kalian. Kalau kalian bisa menjaganya, Pancasila semakin kokoh. Kalau Pancasila kokoh, Jawa Timur semakin kuat, Pulau Jawa pun tetap tegak. Jika Pulau Jawa kuat, Indonesia tetap eksis dan semakin tegak. Jika Indonesia tetap tegak berdiri, negara-negara sekitarnya akan aman. Itu artinya, jika bisa menjaga diri, keyakinan, dan akhlak, kita telah menjaga 270 juta rakyat Indonesia dan ratusan juta rakyat lain yang merupakan rakyat negara tetangga kita. Jika rakyat negara tetangga kita terjaga, manusia lain pada berbagai belahan dunia ini ikut terjaga.

Bukankah dengan menjaga diri, keyakinan, dan akhlak artinya sama dengan menjaga ratusan juta bahkan mungkin miliaran manusia agar hidup aman?

Bukankah itu merupakan tindakan baik yang berpahala?

Insyaallah, dengan menjaga diri kita saja dari pikiran-pikiran jahat, kita telah menyelamatkan pula manusia lain. Kita akan kebanjiran pahala di akhirat kelak sebagai modal untuk menjadi penduduk surga. Aamiin.

Sampurasun.

Thursday, 12 May 2022

Mestinya PKS “Pede” Aja Pake Kader Sendiri Jangan Pake Gus Baha

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Dunia maya lumayan diributin lagi oleh pentolan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Mardani Ali Sera yang memposting Gus Baha dengan memasangkan logo PKS. Perilaku PKS ini membuat marah banyak warga Nahdlatul Ulama (NU) karena K.H. Ahmad Bahauddin yang dikenal dengan nama Gus Baha ini bukanlah kader PKS dan guru yang sangat dihormati di lingkungan NU.

            Penampilan Gus Baha itu katanya mirip-mirip Jokowi yang terkesan udik, kampungan, kayak tukang tahu, tukang tempe, atau tukang peuyeum. Terkadang, penampilan itu menjadi bahan bulian kaum intoleran yang sok pintar dan sok suci. Akan tetapi, bulian atas penampilan itu tidak berarti apa-apa dibandingkan ilmu, prestasi, rasa hormat, dan pengagungan umat kepada mereka. “Don’t judge a book by the cover”, jangan nilai buku dari sampulnya, tetapi baca isinya hingga habis. Jangan nilai orang dari penampilannya, tetapi perhatikan kualitasnya. Begitu juga kepada Gus Baha atau Jokowi meskipun kerap dianggap kampungan, mereka adalah orang-orang yang dikenal dunia. Adapun para penghinanya, bukanlah siapa-siapa dan tidak bernilai apa-apa, malah mengurus dirinya sendiri belum bisa.


Sumber Foto: Ayo Indonesia


            Memang ada juga warga NU yang tidak terlalu marah, lebih sabar, malah mengingatkan bahwa foto Gus Baha yang ditempeli logo PKS itu bagus. Hal itu menunjukkan bahwa Gus Baha bisa diterima di golongan mana saja.

            Bagi warga NU yang marah, saya bisa mengerti bahwa mereka bukanlah pemilih PKS. Jadi, penempelan logo PKS pada foto guru mereka dianggap sebagai pengklaiman, sebagai pencatutan untuk kepentingan politik PKS demi menambah elektabilitas menggaet suara dari warga NU. Ini terasa sebagai upaya politik dan bukan penghormatan kepada NU.

Hal itu disebabkan masih menimbulkan pertanyaan apakah PKS mau mengamalkan amaliyah NU seperti yang diajarkan Gus Baha kepada santri-santrinya kalau memang tulus menghormati Gus Baha?

Bisa jadi Gus Baha hanya dijadikan ikon untuk menggaet suara politik dari kalangan NU.

Apakah PKS meminta izin kepada Gus Baha untuk menempelkan logo PKS di foto Gus Baha?

Kalau tidak, itu berarti perbuatan yang tidak punya etika dan sangat tidak sopan, baik kepada Gus Baha sendiri maupun kepada warga NU.

PKS tampaknya sadar bahwa kekuatannya sangat kecil. Kemarin saja ketika Pilpres RI 2019 meskipun digabung dengan Gerindra, FPI, dan HTI untuk mengusung Prabowo menjadi presiden, tidak mampu mengalahkan Jokowi. Apalagi sekarang setelah Prabowo gabung Jokowi serta FPI dan HTI bubar, PKS sendirian dan kekuatannya tambah lemah. Jadi, wajar orang mengira bahwa pemasangan foto Gus Baha adalah untuk menggaet suara dari kaum NU.

Saran saya buat PKS, untuk menaikkan suara dan menguatkan elektabilitas, hendaknya gunakan kader sendiri yang katanya hebat-hebat itu. Pakai ulama sendiri, Pede saja. Kalau ternyata masih tidak disukai banyak rakyat Indonesia, belajarlah untuk menjadi orang-orang yang disukai dengan ilmu yang jelas memberikan pencerahan dan arah bagi masyarakat, bukan nyinyiran ataupun ujaran-ujaran kebencian yang bukan berasal dari jati diri bangsa Indonesia.

Meskipun demikian, kita harus menghormati juga PKS dengan sikap Mardani Ali Sera yang telah meminta maaf atas perilakunya, asal jangan diulangi lagi saja. Foto Gus Baha yang ditempeli logo PKS saya dapatkan dari Ayo Indonesia.

Hormati Gus Baha, jangan main catut seenaknya. Percayalah PKS pada diri PKS sendiri.

Begitu ya, PKS.

Sampurasun.

Saturday, 7 November 2020

Rizieq Pulang, Biasa Sajalah


oleh Tom Finadin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Kalau nggak salah, sebelumnya Rizieq Shihab sudah tujuh kali berencana pulang dari Arab ke Indonesia, tetapi tidak juga pulang. Pada November 2020 ini kembali mengutarakan niatnya untuk pulang ke Indonesia.

            Dalam menghadapi kepulangannya, sebaiknya bersikap biasa saja, tidak perlu berlebihan. Hal ini kan biasa terjadi setiap detik; ada orang yang pergi dan pulang dari dan ke Indonesia. Kalaulah disebut pemimpin Ormas, ya tetap biasa saja. Ormas di Indonesia itu banyak, misalnya, NU, Muhammadiyah, Persis, HMI, GMNI, Pemuda Pancasila, dsb.. Kalau ketuanya atau pemimpinnya pergi dan pulang Indonesia-luar negeri, biasa saja, tidak heboh. Begitu pula dengan kepulangan Rizieq ke Indonesia, biasa sajalah, jangan diheboh-hebohin.

            Bagi para pendukungnya, pecintanya, kalau menyambut, biasa saja bersikap, tidak perlu berlebihan, tenang saja. Demikian pula pihak-pihak yang ingin memenjarakan Rizieq, biasa saja bersikap. Ini negara hukum, segera proses dan konfirmasi ulang laporan-laporan kepada polisi tentang hal-hal yang diakibatkan ulah Rizieq dan belum diproses.

            Hadapi dan selesaikan kasus-kasus hukum yang tertunda. Tidak perlu bertingkah aneh-aneh, biasa saja. Kalau memang tidak bersalah, bebas. Kalau ternyata bersalah, ya harus menerima konsekwensinya untuk menjalani hukuman. Begitulah hidup sebagai manusia beradab pada zaman ini.

            Rizieq sudah terbukti tidak bersalah dalam dua kasus, yaitu “chat pornografi” dan “penghinaan terhadap Pancasila”. Kedua hal itu sudah selesai dan dihentikan penyidikannya oleh Polri. Sisanya, hadapi dan selesaikan, misalnya, soal “campur racun”, soal tanah, dan soal tuduhan penghinaan agama yang dilaporkan oleh kelompok pemuda Katolik.

            Kalau sudah selesai dan dihadapi secara beradab, bareng membangun Indonesia.

            Kabarnya dia akan memimpin revolusi?

            Baguslah, bareng-bareng dengan pemerintah Jokowi memimpin revolusi mental, revolusi akhlak, atau revolusi lainnya yang mengisi kemerdekaan dengan beragam pembangunan, baik lahir maupun batin. Gotong royong jauh lebih baik dibandingkan gontok-gontokan. Kerja sama jauh lebih positif dibandingkan berkonflik. Menciptakan suasana sejuk jauh lebih baik dibandingkan menciptakan suasana panas dan emosional.

            Di hadapan kita ada banyak yang harus dihadapi bersama, seperti, Covid-19, kebodohan, keterbelakangan, kemiskinan, dan ketertinggalan teknologi yang harus dikejar. Bekerja bersama jauh lebih baik.

            Sampurasun.

Friday, 20 December 2019

Buka Dikit, … Bray


oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Biasanya, kalau mendapatkan informasi, berita, ataupun kisah, sikap kita biasa-biasa saja jika informasi itu tidak bermasalah. Kita hanya menyimak dan mendapatkan informasi baru yang tersimpan dalam memori di otak kita. Lain halnya jika informasi yang kita dapatkan itu sensitif, lalu bermasalah. Misalnya, soal para nabi, para pemimpin, atau peristiwa yang menguras emosi banyak orang. Banyak timbul pertanyaan terkait kebenaran informasi yang beredar.

            Wah, masa iya? Betulkah itu? Mengapa terjadi seperti itu? Kata siapa? Masa sih?

            Orang yang kritis pasti memiliki banyak pertanyaan. Berbeda dengan orang yang iya-iya saja, biasanya langsung percaya dan mengamini. Setiap orang berbeda-beda. Itu kenyataannya.

            Terkait isu etnis Uighur, Xinjiang, Cina, jelas banyak pertanyaan. Saya sendiri bertanya, sumber berita itu dari siapa. Ternyata, berita yang beredar, baik di media-media nasional maupun internasional, termasuk di media sosial, seluruhnya berawal dari media “Wall Street Journal” (WSJ).

            Jika kita potret rekam jejak dari WSJ, memang banyak mempengaruhi opini dunia dan mengarahkan pada perubahan politik suatu negara atau beberapa negara. Misalnya, dulu WSJ getol sekali memberitakan bahwa Irak di bawah kepemimpinan Sadam Husein memiliki, bahkan memproduksi senjata pemusnah massal, senjata biologi, kimia. Akibatnya, opini dunia tergiring yang membuat negara-negara Barat menyerang Irak. Jatuhlah Sadam Husein, Irak pun hancur. Hingga kini Irak masih sangat babak belur dan termasuk negara yang tidak aman untuk ditinggali. Padahal, sampai sekarang, tidak ditemukan bukti bahwa Irak memiliki senjata biologi, kimia yang bisa memusnahkan manusia itu. Isu yang digoreng WSJ tidak ada buktinya, tetapi Irak sudah hancur.

            Demikian pula di Afghanistan, WSJ pun ikut banyak memberitakan tentang ketimpangan-ketimpangan dan konflik-konflik antarkelompok perlawanan dengan isu-isu muslim serta krisis kemanusiaan. Hingga saat ini Afghanistan dalam keadaan tertinggal, miskin, bodoh, dan tidak aman.

            Di Suriah pun WSJ berperan dalam memanas-manasi situasi dengan memberitakan kekejaman pemerintah Bashar al Assad, gerakan politik Isis, serta timbulnya kelompok-kelompok pemberontak dengan segala gerakannya. Akibatnya, Suriah hancur. Allepo yang dulunya seperti Jakarta, berantakan, tidak jelas bentuknya.

            Buka dikit saja rekam jejak sumber berita itu, lalu … bray …, kita dapat menemukan pertimbangan lain terhadap mereka.

            Saya tidak mengatakan bahwa berita dari WSJ selalu bohong, ada informasi bermanfaat dari mereka. Meskipun demikan, kebohongan yang dibuat WSJ banyak merusakkan negara lain dengan sangat hebat.

            Sekarang WSJ “berkisah” soal Uighur dengan menyeret-nyeret NU, Muhammadiyah, dan MUI. Pengaruhnya di dalam negeri digoreng hingga mendiskreditkan Jokowi. Mungkin harapannya Negara Indonesia menjadi goncang.

            Maukah kita menjadi seperti Irak, Afghanistan, dan Suriah?

            Sebagian besar masyakarat Indonesia tidak menginginkannya. Hanya sebagian kecil, keciiil pisan, yang mungkin berharap Indonesia babak belur. Bagi yang sangat ingin seperti Irak, Afghanistan, dan Suriah, bahkan tidak bisa tidur karena ingin seperti itu, ganti kewarnanegaraan saja, kemudian nikmatilah, hidup bahagia di sana.

            Sampurasun.

Wednesday, 18 December 2019

Uighur: Grup A Vs Grup B


oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Dalam beberapa tulisan yang lalu selalu saya jelaskan bahwa jika mendapatkan suatu informasi, harus dicek kebenarannya. Jangan langsung percaya.

            Siapa yang menyebarkan informasi itu?

            Dia bisa dipercaya tidak?

            Informasinya masuk akal tidak?

            Mengapa kita percaya dia?

            Berita tentang Uighur, Xinjiang kembali mengemuka. Sebelumnya, memang sudah terjadi masalah di wilayah itu, bahkan sudah sejak dua ratus tahun yang lalu. Pemerintah Cina pun mencari jalan untuk menyelesaikannya, termasuk datang ke Indonesia dan berdiskusi dengan Ormas besar. Kali ini muncul lagi berita yang hampir sama. Kali ini sumber beritanya berasal dari media “Wall Street Journal” (WSJ), media barat. WSJ memberitakan adanya kekejian dan pelanggaran Ham terhadap muslim Uighur. Beritanya masuk ke Indonesia dan ditambah-tambahi semakin heboh karena menyeret tiga Ormas Islam besar, yaitu NU, Muhammadiyah, dan MUI yang dituduh mendapatkan suap agar diam menutupi kesadisan di Uighur oleh pemerintah Cina. Demikian pula di dunia, berita ini pun mendapatkan reaksi beragam.

            Manusia terbagi dua dalam menghadapi berita ini. Ada yang percaya dan ada yang tidak sekaligus membantah. Sebut saja mereka yang percaya adalah Grup A dan mereka yang tidak percaya adalah Grup B.

            Grup A bisa diwakili negara-negara Barat dan kapitalis, yaitu: Australia, Austria, Belgium, Kanada, Denmark, Estonia, Finland, France, Germany, Iceland, Ireland, Japan, Latvia, Lithuania, Luxemburg, The Netherlands, New Zealand, Norway, Spain, Sweden, Switzerland, dan UK (Inggris). Karena percaya, mereka pun melakukan protes ke Cina.

            Grup B bisa diwakili oleh Indonesia, NU, Muhammadiyah, MUI, Turki, dan Arab Saudi. Karena tidak percaya, mereka tidak melakukan protes, tetapi memberikan masukan kepada Cina untuk menyelesaikan masalah Uighur sambil menghormati Cina untuk mengambil kebijakannya sendiri dalam mengatasi masalah dalam negerinya.

            Siapa yang akan kita percayai? Grup A atau Grup B?

            Itu adalah pilihan kita. Akan tetapi, untuk mempercayai salah satu pihak, kita harus punya alasan jelas dan masuk akal pula.

            Mengapa kita harus percaya mereka?

            Ulah kabawa sakaba-kaba.

            Insyaallah, disambung lagi agar kita lebih paham rekam jejak WSJ dalam membuat berita yang mempengaruhi keadaan dunia.

            Sampurasun.

Friday, 13 December 2019

Habib Luthfi Tokoh Penyeimbang

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Nama Habib Luthfi bin Yahya mulai lebih dikenal luas seiring dengan dinamika politik di Indonesia, terutama sepanjang kampanye Pemilihan Presiden Indonesia April 2019. Sebelumnya memang sudah terkenal di kalangan Nahdlatul Ulama (NU). Akan tetapi, namanya terus dikenal lebih luas hingga hari ini.

            Jasanya dalam dinamika politik Indonesia akhir-akhir ini adalah menyeimbangkan kesadaran politik masyarakat ke rel yang sebenarnya. Ketika banyak orang yang diakui atau mengakui dirinya sebagai “habib” dalam pengertian “keturunan Nabi Muhammad saw” dengan lantang menegaskan adalah pendukung pasangan Prabowo-Sandi (02), Habib Luthfi tampil dengan ketenangannya.

            Dalam berbagai pernyataannya Habib Luthfi lebih banyak menyuarakan nasihat-nasihatnya dan ketegasannya tentang perlunya menjaga kerukunan, ketertiban, dan kedamaian di Indonesia. Bahkan, dia sempat meminta aparat keamanan untuk tegas terhadap orang-orang yang melakukan huru-hara di Indonesia.

            Pada akhir menjelang hari-H pemilihan presiden, Habib Luthfi hadir pada beberapa stasiun televisi bersama dengan Jokowi. Keakraban Habib Luthfi dengan Jokowi tentu saja ditafsirkan langsung oleh masyarakat bahwa Habib Luthfi bin Yahya adalah pendukung pasangan Jokowi-Maruf Amin (01). Hal itu pun membuat masyarakat pendukung Jokowi-Maruf Amin lebih tenang untuk memastikan pilihannya kepada pasangan 01. Mereka tidak merasa kebingungan lagi karena sempat beberapa hari, bahkan beberapa minggu seolah-olah seluruh habib adalah pendukung 02. Karena orang yang bergelar habib banyak dihormati masyarakat, kemungkinan masyarakat berpikir untuk memilih 02 lebih besar. Tampilnya Habib Luthfi bin Yahya bersama Jokowi, menguatkan kesadaran masyarakat bahwa “tidak seluruh habib” memilih Prabowo-Sandi (02). Para habib pun ternyata memiliki pendapat, pemikiran, dan keinginan yang berbeda.

            Fenomena tersebut menyeimbangkan kesadaran masyarakat bahwa memilih pemimpin atau presiden tetaplah berdasarkan latar belakang, pengalaman, daya tarik personal, program kerja, visi-misi, dan lain sebagainya. Masyarakat semakin sadar bahwa memilih presiden itu bukan atas dasar dukungan orang-orang yang mengaku atau diakui sebagai habib. Buktinya, para habib pun berbeda pilihan. Artinya, masyarakat pun boleh berbeda pilihan sebagaimana para habib yang juga ternyata boleh berbeda pilihan.

            Sebetulnya, banyak habib lain yang juga satu sikap dengan Habib Luthfi bin Yahya, tetapi saya melihatnya Habib Luthfi lebih banyak tampil pada berbagai media, terutama di media sosial. Hal itu tak lepas dari kerja-kerja para pendukungnya yang kerap memposting Habib Luthfi di akun-akun Medsos mereka.

            Sekarang Habib Luthfi bin Yahya menjadi anggota Wantimpres. Artinya, Habib Luthfi memiliki alat yang lebih kuat untuk memberikan banyak masukan, kritikan, sekaligus nasihat kepada Presiden Jokowi. Nasihat-nasihatnya bisa disampaikannya sendiri secara langsung, bisa pula bareng-bareng anggota Wantimpres lainnya. Nasihat-nasihatnya bisa disampaikan kapan saja, baik diminta atau tidak diminta oleh Presiden. Nasihat-nasihatnya, insyaallah berharga. Meskipun demikian, nasihat itu ya nasihat, bukan perintah untuk Presiden. Artinya, Presiden bisa menggunakan nasihat-nasihat dari Wantimpres ataupun tidak menggunakannya karena Presiden pun memiliki pertimbangan sendiri. Akan tetapi, bagaimana pun Habib Luthfi bin Yahya adalah salah seorang terbaik di Indonesia bersama dengan delapan orang lainnya yang dipercaya untuk memberikan nasihat kepada Presiden Jokowi secara resmi.

            Sampurasun.

Thursday, 12 December 2019

Tiga Paham Khilafah dan Satu Monas


oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Masalah khilafah ini tidak pernah berhenti sejak keruntuhannya dulu di Turki dan masih ada orang yang berharap untuk ada lagi meskipun banyak juga yang menganggapnya hanya sebagai masa lalu. Kita tidak bisa melarang orang untuk berharap sekaligus tidak bisa memaksa orang yang sama sekali tidak merasa tertarik. Yang berharap, tetapi tidak kesampaian, paling-paling patah hati. Yang tidak tertarik, bisa tiba-tiba jatuh cinta. Semua kemungkinan itu selalu ada.

            Lumayan menarik “talk show” yang pernah digelar oleh “Kompas TV”. Ternyata, ada dua pemahaman berbeda tentang khilafah, dari NU dan FPI. Bagi Nahdlatul Ulama (NU), Indonesia dalam bingkai NKRI ini sudah merupakan kekhalifahan, khalifahnya adalah presiden. Selesai. Sangat sederhana.

            Berbeda dengan Front Pembela Islam (FPI) yang dengan tegas menyatakan, “Kita berbeda dengan HTI!”

            Dalam pemahaman FPI, khilafah yang didorong FPI ini melingkupi negara-negara Islam di seluruh dunia untuk bersatu menyelesaikan permasalahan-permasalahan umat. Misalnya, mendorong Organisasi Konferensi Islam (OKI) untuk bersama-sama membentuk kerja sama yang lebih rinci menyelesaikan masalah umat Islam di seluruh dunia. Di samping itu, FPI tetap setia pada Pancasila dan NKRI meskipun menggunakan embel-embel syariah.

            Persoalan FPI kan hanya pada sangat diperlukannya tercantum kata Pancasila di dalam AD/ART-nya. Kalau itu tercantum, permasalahan bisa lebih mudah diatasi.

            Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) memang tidak diajak dalam bincang-bincang tersebut, padahal getol menyuarakan khilafah. Oleh sebab itu, kita sulit memahami khilafah yang dimaksud oleh HTI.

             Apakah khilafah periode Khulafaur Rasyidin, Umayyah, Abbasiyah, atau Utsmaniyah?

            Apakah konsep khilafah hasil pemikiran HTI sendiri?

            HTI memang tidak jelas mengusung konsep yang mana dan bagaimana.

            Jika mengikuti pendapat NU dan FPI, bedanya tinggal sedikit lagi. Kalau perbedaannya diselesaikan, selesai sudah. Semua bisa sama-sama bergandeng tangan untuk menghindari fitnah, provokasi, dan membangun umat ke arah yang lebih positif. Biarkan saja terjadi diskursus dan gesekan-gesekan, itu biasa, kalem aja. Meski panas, hasilnya, insyaallah positif.

            Kita mesti bangga dan bersyukur karena memiliki Monumen Nasional (Monas). Monas itu berbentuk alu dan lumpang. Orang Sunda bilang halu dan jubleg untuk melembutkan/menghaluskan beras menjadi tepung. Halu itu berupa tiang yang menjulang tinggi yang di atasnya ada emas 18 karat. Adapun jubleg itu bagian bawahnya yang lebar. Presiden ke-1 RI Ir. Soekarno cerdas membuat Monas. Monumen itu melambangkan bahwa halu itu adalah pemerintah yang harus membina masyarakat agar menjadi lembut, halus, dan sepaham. Pembinaannya harus teratur, kapan tenang dan kapan keras sesuai dengan kondisi masyarakat. Beras yang tidak bisa diatur biasanya terlempar ke luar jubleg dan menjadi sampah karena sudah kotor. Adapun beras yang masih mau berada dalam jubleg dan ditumbuk, ditutu, ‘dibina” oleh pemerintah, lambat laun akan menjadi halus, sepaham, dan lebih bermanfaat untuk melangkah ke fungsi selanjutnya. Sepintas beras menjadi halus adalah disebabkan oleh terus-menerusnya ditumbuk, itu benar, tetapi sebenarnya kehalusan itu sebagian besar diakibatkan oleh gesekan yang terjadi di antara beras itu sendiri.

            Artinya, gesekan yang sekarang terjadi di masyarakat pada dasarnya positif jika memiliki cita-cita yang positif minimal untuk bangsa dan negara, maksimalnya untuk kehidupan manusia di seluruh dunia. Jika tidak memiliki cita-cita yang positif, gesekan itu tidak bermanfaat sama sekali, bahkan akan terlempar keluar dari jubleg dan berakhir menjadi sampah.

            So, jangan khawatir dengan gesekan di masyarakat. Sepanjang positif dan saling berkorban untuk kebaikan bersama, hasilnya akan positif. Insyaallah.

            Sampurasun.

Tuesday, 3 December 2019

Masalah Ilmu Jangan Jadi Kasus Hukum


oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Adalah berbahaya sekali jika masalah ilmu dibawa-bawa menjadi kasus hukum. Ini bisa menjadi kebiasaan buruk di tengah masyarakat. Kalau masalah perbedaan pengetahuan, ilmu, atau perbedaan pemahaman, diselesaikannya harus dengan penelitian atau perdebatan dan diskusi. Jika masalah ilmu pengetahuan dibawa menjadi kasus hukum, bahayanya adalah ilmu pengetahuan menjadi mandek atau mati tidak berkembang dan akan terjadi pemaksaan pemahaman keyakinan oleh satu kelompok sementara yang lain dianggap salah sebelum adanya penelitian atau diskursus (saling tukar pengetahuan).

            Kasus yang sekarang sedang ramai diperbincangkan adalah soal isi ceramah Gus Muwafiq yang dianggap menghina Nabi Muhammad saw karena mengisahkan bahwa Nabi Muhammad saw lahir biasa-biasa saja seperti anak lainnya, diurus oleh kakeknya, dan sempat “rembes” atau “umbelan” (ingusan). Potongan isi ceramahnya ini dilaporkan pada pihak kepolisian sebagai penghinaan. Padahal, pendukungnya dari kalangan NU menyatakan bahwa apa yang disampaikan Gus Muwafiq ada dasarnya, memiliki sumbernya, dan ada bukunya. Sementara itu, mereka yang melaporkannya sebagai penghinaan mengakui bahwa tidak menemukan sumber yang menjadi dasar isi ceramah Gus Muwafiq, sebagaimana yang disampaikan perwakilan FPI dalam acara talk show di tvOne. Bahkan, mereka yang tidak menyukai Gus Muwafiq memiliki sumber kisah kelahiran Nabi Muhammad yang penuh sinar yang cahayanya sampai ke kekuasaan Romawi di Syam. Jadi, masa kecil Nabi Muhammad saw dianggap tidak mungkin seperti yang diceramahkan Gus Muwafiq. Oleh sebab itu, mereka menganggapnya sebagai penghinaan.

            Jika diperhatikan, masalahnya kan hanya ada di perbedaan informasi atau pengetahuan tentang kelahiran dan masa kecil Nabi Muhammad saw. Dalam pandangan Gus Muwafiq kelahiran dan masa kecil Nabi saw biasa-biasa saja seperti anak lainnya berdasarkan sumber yang dimilikinya. Sementara itu, pihak lain tidak memiliki sumber itu atau memiliki sumber kisah lain yang penuh keajaiban. Penyelesaian masalah seperti itu kan tidak pas jika dibawa ke pengadilan sebagai kasus penistaan agama. Penyelesaiannya harus dibuktikan dengan matan, sanad, perawi, tarikh, dan atau Al Quran tentang kebenaran peristiwa tersebut.

            Kalau ada perbedaan yang bertolak belakang, adu saja, uji saja kebenarannya dengan menggunakan berbagai metode sejarah yang ada secara ilmiah. Cari sumber sekunder hingga sumber primernya.

            Sumber mana yang paling benar?

            Mana yang benar-benar nyata sejarah dan  mana yang hanya dongeng akan lebih jelas setelah ada penelitian.

            Berani?

            Harus berani atuh demi ilmu pengetahuan. Demi kebenaran tentang Nabi Muhammad saw.

            Kalaupun dipaksakan untuk masuk ke pengadilan, bisa dipastikan bahwa Gus Muwafiq dan pendukungnya akan membawa sumber-sumber bacaan kisah tersebut. Demikian pula pihak penggugat akan diminta alasan dan atau sumber bacaan lain yang menjadi dasar bahwa Gus Muwafiq telah melakukan penghinaan dalam arti masa kecil Nabi saw tidak seperti yang dikisahkan Gus Muwafiq. Tetap saja ilmu pengetahuan yang diperdebatkan nantinya. Sayangnya, hakim yang memutuskannya, bukan ahli agama.

            Akan menjadi sesuatu yang aneh jika permasalahan perbedaan pengetahuan diserahkan keputusannya kepada majelis hakim yang sama sekali bukan dikategorikan sebagai ahli agama. Jika hakim memutuskan Gus Muwafiq bersalah, isi ceramah dan sumber-sumber bacaannya pun secara tidak langsung dianggap salah. Jika hakim memutuskan Gus Muwafiq tidak bersalah, pihak penggugat beserta sumber ilmu pengetahuannya salah dan harus mengakui kebenaran Gus Muwafiq.

            Mau seperti itu?

            Berbeda jika benar dan salah itu melalui proses penelitian dan pengkajian ilmiah yang dipandu oleh para ahli ilmu. Benar dan salah pun berdasarkan ilmu terkait agama, bukan berdasarkan ilmu hukum positif. Hasilnya lebih bisa dipahami secara keilmuan bukan berdasarkan hukum.

            Sampurasun.

Sunday, 1 December 2019

Seandainya Indonesia Khilafah Hari Ini


oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Saya ini sebetulnya oke-oke saja mau sistem politik apa pun asal ada “kesepakatan”. Mau kerajaan, presidensial, parlementer, republik, kekaisaran, ataupun kekhalifahan, it’s ok. Akan tetapi, sistem yang pasti saya tolak adalah sistem kerasulan karena kerasulan sudah selesai ditutup oleh Muhammad saw. Tak ada lagi nabi setelah beliau. Sistem yang berlaku sekarang di Indonesia adalah berdasarkan “kesepakatan” para pendiri bangsa waktu itu. Mereka yang tidak mau tunduk pada kesepakatan sudah dikalahkan secara politik dan militer. Jadilah sistem politik kita seperti sekarang ini.

            Kalau mau mengganti sistem politik sekarang, batalkan dulu kesepakatan lama, lalu buat kesepakatan baru. Mari berandai-andai, kita sepakat untuk mengganti sistem politik dengan sistem kekhalifahan pada hari ini atau minggu ini atau bulan ini atau tahun ini.

            Kalau kita sepakat mengganti dengan sistem kekhalifahan, memang siapa orang yang akan menjadi khalifah di Indonesia sebagai pemimpin 267 juta rakyat ini?

            Sehebat apa sih dia?

            Kalau kita tanya ke NU, mungkin jawabannya orang yang paling tepat untuk menjadi khalifah adalah Maruf Amin, Said Aqil Siradj, atau Habib Luthfi. Kalau kita tanya ke Muhammadiyah, mungkin jawabannya adalah Khalifah Haedar Nashir, Syafii Maarif, Amien Rais, atau Din Syamsudin. Kalau kita tanya ke Persis, mungkin jawabannya adalah Aceng Zakaria atau Yusril Ihza Mahendra. Kalau kita tanya ke FPI jawabannya mungkin Rizieq Shihab. Kalau kita tanya ke HTI, mungkin jawabannya Khalifah Ismail Yusanto.

            Akan berbeda pula jika kita tanya ke kelompok-kelompok nasionalis dan ke kelompok nonmuslim. Jawabannya akan sangat beragam dan memunculkan banyak nama.

            Jadi, siapa atuh orang yang pantas menjadi khalifah jika Indonesia menggunakan sistem kekhalifahan saat ini?

            Dengan banyaknya kelompok dan banyaknya aspirasi, kita akan menggunakan sistem pemilihan untuk memunculkan seorang khalifah. Itu artinya kita harus menggunakan cara-cara demokrasi karena pemilihan umum adalah salah satu ciri demokrasi.

            Balik lagi ke pemilihan bukan?

            Kalau tidak mau menggunakan pemilihan, kita akan terjebak pada pertarungan fisik yang bisa menghancurkan segalanya dan jatuh menjadi bangsa yang sangat terbelakang dan sangat miskin. Setiap kelompok menganggap pemimpinnya yang  paling pantas untuk menjadi khalifah.

            Kalau sudah semrawut dan saling bunuh, siapa yang rugi? Siapa yang untung?

            Kita yang rugi. Orang asing yang untung.

            Sampurasun.

Saturday, 9 November 2019

Semua Bisa Klaim Paling Kaffah


oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Semua organisasi, komunitas, kelompok, grup, boleh dan bisa mengklaim diri sebagai manusia-manusia paling kaffah dalam menjalankan ajaran Islam. Semua tidak dilarang menganggap dirinya paling benar, paling menyeluruh dalam menjalankan Islam, paling total, atau setidaknya paling paham tentang “memasuki Islam secara kaffah”.

            Akan tetapi, benarkah klaimnya itu? Benarkah anggapan dirinya itu? Benarkah cara-cara yang dilakukannya itu?

            Kalaulah memang benar, benar menurut versi siapa? Menurut organisasi yang mana?

            Kalau ditanya pada NU, mungkin jawabannya adalah kaffah menurut cara dan versi NU. Kalau ditanya pada Muhammadiyah, jawabannya mungkin menurut cara dan versi Muhammadiyah. Kaffah dalam cara dan versi Persis mungkin berbeda dengan NU dan Muhammadiyah. Demikian pula jika ditanyakan pada organisasi-organisasi yang muncul belakangan ini, seperti, FPI atau HTI yang telah dibubarkan, mereka punya pemahaman dan cara sendiri. Hal yang sama akan terjadi jika ditanyakan pada Isis, Al Qaeda, Ash Shabab, atau Boko Haram, mereka punya pemahaman sendiri juga.

            Kalau pemahaman Islam Kaffah itu sama, kenapa tidak bersatu dalam satu organisasi saja untuk memperjuangkan yang sama?

            Kenyataannya, mereka tetap pada organisasinya masing-masing karena memiliki keyakinan bahwa apa yang dilakukan organisasinya adalah paling tepat dan cocok dengan diri mereka.

            Jadi, Islam Kaffah menurut cara dan versi siapa yang benar?

            Untuk menemukan pandangan Islam Kaffah yang paling benar, ada tiga cara, yaitu pertama, berdebat hingga lelah dengan menggunakan ilmu pengetahuan dan akal, bukan dengan emosi rendahan. Kedua, menunggu Allah swt memberitakan kebenaran dengan cara-Nya sendiri di dunia ini. Ketiga, membiarkan semuanya sebagaimana adanya, lalu menyerahkannya kepada Allah swt agar diberitahukan kebenaran-Nya di akhirat nanti di pengadilan Illahi, siapa yang benar dan salah, siapa yang masuk surga dan neraka, bergantung nanti setelah kiamat.

            Berhati-hatilah menganggap diri paling benar sambil menunjuk yang lain adalah salah karena pengetahuan itu berkembang, para ahli ilmu terus meneliti, dan bacaan pun bisa bertambah. Bisa jadi apa yang kita anggap benar hari ini, ternyata salah pada hari lainnya.

            Bukankah sudah banyak contohnya?

            Mereka yang dulunya bergabung Isis atau melakukan aksi-aksi melawan negara yang sah, justru berbalik menjadi warga negara yang sangat baik. Bahkan, bekerja sama dengan pemerintah untuk menyadarkan saudara-saudaranya agar melaksanakan Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika dalam koridor NKRI. Keyakinan bisa berubah.

            Sering-seringlah membaca Surat Al Fatihah karena di sana ada doa “Tunjukkanlah kami ke jalan yang lurus (benar)”. Semoga Allah swt mengantarkan kita ke jalan yang lurus itu.

            Bersikaplah bijak. Jangan mengklaim diri paling benar dan pasti masuk surga, kemudian menyalahkan orang lain sebagai calon penghuni neraka. Hal itu akan menyebabkan kita mudah mengafirkan orang lain. Itulah takfiri. Sikap itu akan mengacaukan perkembangan kehidupan dan ilmu pengetahuan kaum muslimin.

            Sampurasun.

Sunday, 5 March 2017

Cikal Bakal Islam Nusantara

oleh Tom Finaldin

Bandung, Putera Sang Surya
Sesungguhnya, tidak ada yang namanya Islam Nusantara, Islam Arab, Islam Timur Tengah, Islam Fundamentalis, Islam Fanatik, Islam Garis Keras, Islam Radikal, Islam Moderat, ataupun Islam-Islam lainnya. Saya juga ketika masih SMA pernah dikata-katai sebagai “Islam Tanjung Priok”.
            Saya jawab saja, “Saya bukan Islam Tanjung Priok. Saya Islam Soekarno-Hatta.”
            Saya jawab seperti itu karena saya tinggal dengan orangtua saya di seputaran Jl. Soekarno-Hatta, Bandung. Tanjung Priok itu nama tempat. Jl. Soekarno-Hatta juga nama tempat. Saya tidak tinggal di Tanjung Priok, Jakarta, tetapi di Jl. Soekarno-Hatta, Bandung. Jadi, kalau mau ngata-ngatai saya, sebaiknya sebut saja saya adalah Islam Soekarno-Hatta.
            Sesungguhnya, Islam is Islam.  Islam adalah Islam. Islam ya Islam. Tidak ada yang lain.
            Secara wahyu dan ajaran, Islam memang tidak ada dua, tiga, atau empat karena memiliki kitab yang sama, nabi-nabi yang juga sama, dan Tuhan Yang Sama. Meskipun demikian, kita tidak bisa mengingkari bahwa dalam kenyataan terjadi nuansa praktik-praktik islami di dunia ini. Setiap negara, setiap kaum, setiap suku, ataupun setiap komunitas memiliki ciri khas tersendiri dalam melaksanakan ajaran Islam. Hal itu disebabkan memang manusia diciptakan Allah swt berbangsa-bangsa dan bersuku-suku. Setiap bangsa dan suku itu memiliki karakter dan sifat yang berlainan. Ajaran Islam yang kemudian bersentuhan dengan setiap karakter dan sifat yang ada dalam lingkungan manusia tertentu menimbulkan nuansa yang khas pula yang tampak jelas terlihat dan terwujud dalam kehidupan sehari-hari.
            Sepanjang tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam yang utama, nuansa-nuansa yang tampak berbeda itu tidaklah harus menjadi masalah. Bahkan, seharusnya memperkaya pengetahuan Islam kita. Kita tidak boleh memaksakan suatu karakter tertentu terhadap karakter lain yang sesungguhnya sudah diciptakan secara berbeda. Salah total jika kita harus menyeragamkan seluruh manusia dengan karakter Arab hanya karena Nabi Muhammad saw adalah orang Arab.
            Nabi Muhammad saw sendiri tidak pernah berniat menyeragamkan seluruh manusia, tetapi justru menyempurnakan tingkah laku manusia yang berbeda itu agar lebih baik, “Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak.”
            Artinya, pada setiap bangsa, suku, kaum, dan komunitas sudah memiliki akhlak-akhlak yang baik dan Nabi Muhammad saw datang untuk menyempurnakan akhlak itu agar terarah menuju pada pengabdian kepada Allah swt.
            Apa itu Islam Nusantara?
            Memang definisi ataupun pengertian Islam Nusantara sendiri masih belum jelas sampai sekarang. Akan tetapi, minimal pendapat Said Agil Siradj, tokoh NU, dapat dijadikan pijakan kecil untuk memahami Islam Nusantara.
            Dia bilang, “Islam Nusantara adalah Islam yang merangkul budaya Nusantara. Islam Arab adalah Islam yang keras.”
            Ada baiknya pemahaman itu diperjelas dengan menggunakan berbagai penelitian sangat mendalam sehingga semakin terang dan semakin bisa dipahami dengan mudah sekaligus menepis pendapat-pendapat mereka yang menolak pemahaman Islam Nusantara.

Beda Arab Beda Indonesia
Kita tidak bisa mengingkari kenyataan bahwa Arab dan Indonesia memiliki perbedaan watak. Jauh sebelum Muhammad saw menjadi nabi, orang Arab itu berwatak sangat keras. Mereka hidup dalam suasana penuh heroisme, berbangga-bangga atas keturunan dan silsilah keluarga, menjunjung tinggi kepahlawanan, bersedia menumpahkan darah saling bunuh untuk kehormatan kaum dan keluarga, hubungan di antara kaum adalah dengan perjuangan dan pembelaan harga diri, kedigjayaan dan keterampilan berkelahi main pedang merupakan kebanggaan yang dijunjung tinggi. Meskipun demikian, mereka sangat menghormati perjanjian karena jika terjadi pelanggaran, perang pun tidak akan bisa dihindari. Jika terjadi perang, kemusnahan suatu kaum atau suatu keluarga sangat mungkin terjadi. Hal itu disebabkan pihak yang kalah biasanya harta-hartanya dirampas dan kaum perempuannya dibagi-bagikan kepada pihak-pihak yang menang. Perempuan dan harta dipandang sama, yaitu sebagai rampasan perang.
            Ketika Muhammad saw menjadi nabi, mereka yang berwatak keras itu dipersatukan dalam satu panji, yaitu Islam. Sedikit demi sedikit, setahap demi setahap, kebiasaan buruk mereka dihilangkan dan kebiasaan baik mereka semakin disempurnakan. Meskipun demikian, watak yang keras dan penuh perjuangan itu tidak dihapus karena memang sudah diciptakan demikian. Kekerasan watak itu tetap ada, tetapi diarahkan untuk hal-hal yang baik, semisal, keberanian membela kebenaran, semangat berkorban untuk membela kehormatan Islam, dan keinginan kuat untuk menegakkan keadilan.
            Adapun Indonesia, jauh sebelum ajaran Nabi Muhammad saw datang, berada dalam situasi yang berbeda. Indonesia tidak seperti Arab yang penuh dengan heroisme atas dasar kebanggaan keluarga. Indonesia berada dalam situasi yang jauh lebih lembut dan tenang. Di Indonesia sudah tercipta rasa-rasa saling tenggang rasa, tepo seliro, sambung rasa, gotong royong, bahkan silih asih, silih asuh, silih asah. Membuat orang lain tidak tersakiti, baik oleh lisan maupun perbuatan merupakan ajaran yang tumbuh pada mayoritas setiap suku bangsa di Indonesia. Menjaga lingkungan untuk tetap tenang dan stabil adalah ciri khas rakyat Indonesia.
            Ketika ajaran Muhammad saw hadir di Indonesia, watak-watak tenang dan lembut itu semakin disempurnakan. Orang-orang Indonesia ini merasa nyaman dengan Islam yang dijalankan dengan watak yang tenang dan lembut sebagaimana karakternya yang memang diciptakan Allah swt seperti itu. Oleh sebab itu, siapa pun pihak yang ingin mengubah watak dan sifat asli bangsa Indonesia selalu akan mendapatkan kesulitan, perlawanan, serta berakhir menjadi kelompok-kelompok kecil yang kerap membuat resah.
            Islam yang dijalankan dengan wataknya sendiri inilah yang tampaknya disebut Islam Nusantara yang membedakannya dengan Islam Arab. Islam-nya tetap sama. Perbedaannya adalah dalam watak dan sifat manusia yang menjalankannya.
            Islam Arab yang penuh kekerasan diberikan ruang untuk hidup dalam ajaran Islam. Demikian pula Islam yang penuh kelembutan diberikan ruang untuk berkembang dalam ajaran Islam. Permasalahannya adalah kapan kita harus seperti Arab dan kapan harus kembali menjadi diri sendiri. Tambahan pula bagi orang Arab, kapan harus seperti orang Indonesia dan kapan harus menjadi diri mereka sendiri. Kekerasan dan kelembutan memang ada dalam ajaran Islam. Kedua hal itu seharusnya saling mengisi dan bersinergi dalam rangka mengabdikan diri kepada Allah swt serta memuliakan Islam dan kaum muslimin.

Bibit Islam Nusantara
Bibit Islam Nusantara tampaknya sudah bersemai di Indonesia ini sejak lama. Saya melihatnya dari folklore, ‘kisa-kisah rakyat’, yang berkembang dan bertahan di Sunda dan di Jawa. Di Sunda ada kisah konflik antara Kian Santang dan Prabu Siliwangi. Di Jawa ada konflik antara Prabu Brawijaya dan Sabdo Palon Noyo Genggong. Kedua kisah ini hanya dongeng dan bukan sejarah karena Si Pembuat Ceritera menggunakan tokoh-tokoh yang sama yang kemudian dihidupkan dalam latar ceritera yang berbeda dan dalam waktu yang berlainan pula (sudah jangan dipikirkan kalimat ini, bisa pusing). Meskipun demikian, para pujangga atau pembuat ceritera ini adalah orang-orang hebat. Mereka membuat ceritera berdasarkan fenomena yang terjadi saat itu, lalu memasukkannya ke dalam suasana spiritual mereka, kemudian mengeluarkannya lagi menjadi sebuah prediksi masa depan dengan kemampuan mereka yang tinggi dalam nganjang ka mangsa datang, ‘melihat masa depan’. Penglihatan mereka itu terbukti benar dan kita rasakan saat ini. Mari kita lihat bagaimana kisah-kisah yang menjadi bibit Islam Nusantara.

Kian Santang dan Prabu Siliwangi
Prabu Siliwangi as sebenarnya nabi yang hidup pada masa Indonesia masih berbentuk Benua Sundaland dan bukan kepulauan seperti sekarang ini. Akan tetapi, dalam dongeng berikut sosok Prabu Siliwangi as ditarik menjadi tokoh ceritera masa kini untuk mewakili ajaran Sunda. Maksudnya, ajaran Sunda dihidupkan dalam rupa tokoh Prabu Siliwangi pada masa Si Pembuat Ceritera hidup.
            Kisahnya panjang, tetapi potongan pendek dari kisah itulah yang sangat terkenal. Dalam dongeng itu, dikisahkan bahwa Prabu Siliwangi yang telah memeluk agama Islam kembali ke agamanya yang dulu, yaitu Sunda Wiwitan. Perlu dipahami bahwa Sunda Wiwitan adalah ajaran Islam pra-Muhammad saw. Karena Prabu Siliwangi kembali pada agamanya yang dulu, anak kandungnya sendiri, yaitu Kian Santang Sang Penyebar Islam berniat memeranginya. Prabu Siliwangi pun kabur dan tilem, ‘hilang’, ke dalam hutan. Ada yang menyebut ke Hutan Sancang di Garut, adapula yang menyebut ke Hutan Salak. Tidak masalah ke hutan yang mana, pokoknya ke dalam hutan.
            Prabu Siliwangi tidak melawan anaknya sendiri. Ia memilih untuk tilem atau hilang dari pandangan mata manusia. Namun, ia akan kembali mengunjungi keturunannya di mana saja dalam wujud yang tidak tampak oleh mata. Yang dimaksud keturunannya ini bukan hanya orang Sunda, melainkan pula seluruh penduduk Benua Sundaland yang pernah berada di wilayah kekuasannya, sekarang bernama Indonesia dan sekitarnya. Hal itu bisa dilihat dalam Uga Wangsit Siliwangi.
            Prabu Siliwangi berkata kepada warga Pajajaran yang ikut mundur sebelum menghilang, “Perjalanan kita hanya sampai hari ini meskipun kalian semua setia kepadaku! Aku tidak boleh membawa-bawa kalian pada masalah ini, ikut-ikutan hidup sengsara, ikut kumal sambil kelaparan. Kalian harus memilih untuk hidup selanjutnya supaya nanti bisa hidup makmur dan kaya raya, bisa mendirikan lagi Pajajaran! Bukan Pajajaran seperti yang sekarang ini, melainkan Pajajaran yang berdirinya dibangkitkan oleh perkembangan zaman! Pilih! Aku tidak akan menghalang-halangi sebab bagiku, tidak pantas menjadi raja yang seluruh rakyatnya selalu lapar dan sengsara.
            ….
            Seluruh keturunan kalian akan aku kunjungi, tetapi hanya pada waktu yang diperlukan. Aku akan datang lagi menolong yang membutuhkan pertolongan, membantu yang kesusahan, tetapi hanya kepada mereka yang baik tingkah lakunya. Jika aku datang, tidak akan terlihat. Kalau aku berbicara, tidak akan terdengar. Memang aku akan datang. Akan tetapi, hanya kepada mereka yang baik hatinya, mereka yang memahami terhadap satu tujuan, mereka yang mengerti pada keharuman sejati, mereka yang memiliki empati tinggi dan tertata rapi pikirannya, serta yang baik tingkah lakunya. Kalau aku datang, tidak akan berupa dan tidak akan bersuara, tetapi memberi ciri dengan wewangian.  Sejak hari ini, Pajajaran hilang dari alam nyata. Hilang kotanya, hilang negaranya. Pajajaran tidak akan meninggalkan jejak, kecuali nama untuk mereka yang menelusurinya.”
            Kapan Prabu Silwangi mengunjungi keturunannya itu?
            Kita akan cari tahu waktunya dari kisah Sabdo Palon Noyo Genggong.

Prabu Brawijaya dan Sabdo Palon Noyogenggong
Kisah Jawa ini pun memiliki beberapa kesamaan dengan kisah Sunda sebelumnya, yaitu Prabu Brawijaya dikejar anak kandungnya sendiri yang sudah beragama Islam. Prabu Brawijaya dipaksa anaknya untuk menerima Islam. Sang Prabu pun kabur, lalu disusul oleh Sunan Kalijaga. Sunan Kalijaga menyusulnya untuk mencari solusi yang terbaik agar terjadi perdamaian antara Prabu Brawijaya dengan anaknya yang berasal dari istrinya yang berdarah Cina. Sunan Kalijaga pun dapat menyusulnya. Kemudian, terjadi pertemuan di daerah Banyuwangi sekarang.
            Ingatlah kepada kisah lama yang ditulis di dalam buku babad tentang Negara Mojopahit. Waktu itu Sang Prabu Brawijaya mengadakan pertemuan dengan Sunan Kalijaga didampingi oleh punakawannya yang bernama Sabdo Palon Noyo Genggong.
            Prabu Brawijaya berkata lemah lembut kepada punakawannya, “Sabdo Palon, sekarang saya sudah menjadi Islam. Bagaimanakah kamu? Lebih baik ikut Islam sekali, sebuah agama yang suci dan baik.”
            Sabdo Palon menjawab kasar, “Hamba tak mau masuk Islam Sang Prabu sebab saya ini raja serta pembesar Dang Hyang setanah Jawa! Saya ini yang membantu anak cucu serta para raja di tanah Jawa. Sudah digaris kita harus berpisah.
            Berpisah dengan Sang Prabu kembali ke asal mula saya. Namun, Sang Prabu, kami mohon dicatat. Kelak setelah 500 tahun, saya akan mengajarkan budi pekerti lagi. Saya sebar ke seluruh tanah Jawa.
            Bila ada yang tidak mau memakai, akan saya hancurkan! Mereka akan saya jadikan makanan jin setan dan lain-lainnya. Belum legalah hati saya bila belum saya hancur leburkan! Saya akan membuat tanda akan datangnya kata-kata saya ini, yaitu bila kelak Gunung Merapi meletus dan memuntahkan laharnya.
            Letusan Gunung Merapi ini adalah letusan yang terbesar sepanjang sejarah. Letusan ini menimbulkan rupa-rupa penderitaan. Di samping itu, terdapat pula bencana lain, seperti, gempa bumi di mana-mana, gunung-gunung berapi banyak yang meletus, banjir bak lautan lepas, ketidakadilan ekonomi,  banyak penyakit, kerusakan dalam bidang peternakan, dan banyak keresahan diderita manusia.
            Demikianlah kata-kata Sabda Palon yang segera menghilang tiba-tiba. Dirinya tidak tampak lagi. Ia kembali ke alamnya. Prabu Brawijaya tertegun sejenak. Sama sekali tidak dapat berbicara. Hatinya kecewa sekali dan merasa salah. Namun, bagaimana lagi, segala itu sudah menjadi kodrat yang tidak mungkin diubahnya lagi.

Menguatnya Islam Arab
Di dalam kedua kisah itu, yaitu Kian Santang dan Prabu Siliwangi serta Prabu Brawijaya dan Sabdo Palon Noyo genggong, tampak jelas Islam Arab mengambil alih pengaruh di Nusantara ini sehingga mengakibatkan bibit-bibit Islam Nusantara “tengelam sementara”. Islam berjiwa Arab ini sangat cepat meluas pengaruhnya dari atas sampai bawah, dari penguasa sampai dengan rakyat kecil.
            Kian Santang adalah perwakilan tokoh Islam Arab karena merupakan tokoh yang ngalanglang ka tanah Arab, ‘berkelana ke tanah Arab’. Dia kembali lagi ke tanah Sunda dengan ajaran Islam sekaligus perilaku Arab. Adapun Prabu Siliwangi merupakan tokoh yang nerus Bumi, ‘melesak ke dalam Bumi’, dalam arti tokoh yang sangat kuat dengan kepribadian Sunda.
            Prabu Brawijaya adalah tokoh yang terpengaruh Islam Arab atas ultimatum anaknya sendiri. Adapun Sabdo Palon Noyo Genggong adalah tokoh spiritual pengajar budi pekerti Jawa.
            Jadi, jelas sekali, baik Kian Santang maupun Prabu Brawijaya telah menerima Islam Arab dalam hidupnya. Adapun Prabu Siliwangi dan Sabdo Palon Noyo Genggong memilih untuk tetap dalam akhlaknya yang membuat mereka merasa aman, nyaman, dan benar.
            Prabu Siliwangi dan Sabdo Palon Noyo Genggong tampaknya mewakili Islam Nusantara yang sementara waktu harus menahan diri menunggu takdir untuk kembali tampil dan menyeimbangkan segalanya. Meskipun mereka berdua tampak tidak menerima Islam, sesungguhnya bukan Islam yang mereka tolak, melainkan Islam yang dijalankan dalam perilaku Arab. Mereka menginginkan Islam yang dijalankan dengan watak Nusantara. Hal itu bisa dilihat bahwa Prabu Siliwangi dan Sabdo Palon Noyo Genggong sama sekali tidak menolak keesaan Tuhan, tidak mengingkari Allah swt, tidak memusuhi Nabi Muhammad saw, tidak menyangkal ayat-ayat Al Quran, serta tidak ingin memerangi dan membinasakan orang-orang Islam.
            Kritikan dan ejekan beberapa Raja Sunda selalu ditujukan kepada orang Islam dan bukan kepada Islam. Maharaja Sri Baduga pernah melontarkan ejekan bahwa orang Islam adalah orang-orang yang serakah terhadap agama. Dia memilih untuk hidup tenang dan bahagia hati daripada bertingkah seperti orang-orang Islam.
            Tidak ada keterangan yang jelas mengenai ”serakah terhadap agama”. Akan tetapi, saya mencoba merasakannya sebagai orang Sunda. Yang dimaksud “serakah terhadap agama” itu mirip yang terjadi hari ini juga, yaitu sikap berlebihan orang Islam terhadap agamanya. Karena merasa yakin berdasarkan hati, akal, dan ilmu pengetahuan bahwa Islam adalah agama yang benar dan tidak pernah salah, orang Islam mudah sekali melecehkan serta merendahkan agama orang lain dan para pengikutnya. Bahkan, hal yang lebih parah adalah kerap merendahkan pula sesama orang Islam hanya disebabkan berbeda Ormas. Memang benar Islam itu agama yang benar dan tidak akan bisa dikalahkan secara hati, akal, dan ilmu pengetahuan, tetapi mempertontonkan kebenaran keyakinan secara arogan sambil merendahkan orang lain adalah sikap yang berlebihan.
            Itulah yang saya rasakan dari kalimat Sri Baduga Maharaja bahwa orang Islam, “orang yang serakah terhadap agama.”
            Memang begitu kan kenyataannya?
            Sedikit-sedikit bilang kafir, sesat, bidah, neraka, murtad, dan lain sebagainya. Tentunya, tidak semua orang Islam seperti itu. Banyak pula yang mampu menjaga diri dan hatinya untuk tidak melukai orang lain, baik fisik maupun psikis.
            Perilaku arogan seperti ini pun sesungguhnya terjadi pula pada zaman Nabi Muhammad saw. Oleh sebab itu, Nabi Muhammad saw berulang-ulang mengingatkan sahabat-sahabatnya. Contohnya, ketika Islam semakin menguat di Madinah, banyak sekali para pemimpin nonmuslim yang melakukan diplomasi kepada Nabi Muhammad saw. Para penyembah berhala, penguasa dan pendeta Kristen, tokoh-tokoh Yahudi, dan para pemimpin Majusi berduyun-duyun bergantian menemui Nabi Muhammad saw. Para sahabat Nabi Muhammad saw sering melecehkan tamu-tamu Nabi saw karena agama dan perilaku buruk orang-orang kafir itu. Para sahabat tak jarang menertawakan keyakinan orang-orang nonmuslim yang jelas-jelas salah dalam pandangan Islam. Para sahabat memandang rendah keyakinan nonmuslim dan pribadi para pemimpinnya yang juga memang tidak masuk akal.
            Melihat para sahabatnya berperilaku tidak sopan seperti itu, Nabi Muhammad saw selalu mengingatkan, “Jika ada orang mulia di antara mereka datang kepadaku, perlakukanlah sebagaimana mereka orang mulia di antara kaumnya.”
            Artinya, tamu itu harus dihormati. Para pemimpin itu tetap harus dihormati meskipun berbeda keyakinan dan agama karena mereka adalah orang yang terhormat di dalam kaumnya.
            Memang para sahabat kadang berlebihan dan sangat keterlaluan. Bahkan, sampai dengan melakukan pembunuhan terhadap tamu Nabi Muhammad saw. Para sahabat tahu bahwa Nabi Muhammad saw itu adalah orang yang sangat lembut dan baik. Oleh sebab itu, Nabi Muhammad saw selalu memperhatikan dan memberikan banyak kebutuhan orang-orang kafir yang datang kepadanya. Nabi Muhammad saw tidak pernah berkeras hati dalam menghadapi tamunya. Nabi Muhammad saw sangat dikenal kedermawanannya melebihi angin. Angin itu sangat dermawan, memberikan kehidupan oksigen pada semua makhluk hidup tanpa diminta dan tanpa meminta balasan. Nabi Muhammad saw lebih dermawan daripada angin. Oleh sebab itu, para sahabat kadang kesal karena merasa Nabi Muhammad saw selalu menguntungkan para tamunya yang jelas-jelas kafir itu. Apalagi jika tamunya itu diketahui pada masa lalunya pernah melakukan kejahatan, penganiayaan, dan pengusiran terhadap orang Islam. Para sahabat kadang-kadang berbohong dengan mengatakan bahwa Nabi Muhammad saw sedang tidak ada di tempat, padahal Nabi ada di rumahnya.
            Bahkan, para sahabat berbohong dengan mengatakan bahwa Nabi Muhammad saw baru bisa ditemui malam hari. Selama tamunya menunggu malam, para sahabat mengajaknya berbincang-bincang, lalu mengajaknya berjalan-jalan. Ketika sampai di tempat sepi, para sahabat pun memancung tamu Nabi Muhammad saw tersebut.
            Mereka memegang kepalanya sambil berteriak kepada temannya, “Cepat penggallah leher kepala musuh Allah ini!”
            Itu kenyataan.
            Mau bagaimana lagi?
            Itu watak mereka.
            Tak heran jika Nabi Muhammad saw menasihati, “Orang Islam itu adalah orang yang mampu menjaga dirinya untuk tidak menyakiti orang lain.”
            Kembali ke soal Prabu Siliwangi as. Kian Santang memang tokoh pemberani dan gemar menantang risiko meskipun berakibat kematian. Kisah yang sangat terkenal adalah ketika mengkhitan beberapa orang Garut, Jawa Barat, tetapi terjadi kesalahan prosedur sehingga mengakibatkan orang yang disunat mati. Dia terlalu berani. Ia pun memiliki pandangan cukup radikal bahwa menurutnya untuk membuat suatu masyarakat menjadi muslim, haruslah mengalahkan terlebih dahulu penguasanya. Ketika penguasanya jatuh ke tangan kaum muslim, masyarakat pun akan menjadi muslim. Kian Santang memang cukup terpengaruh oleh watak Islam Arab. Adapun Prabu Siliwangi lebih menyukai jalan yang lebih soft dan lembut.
            Karena watak Islam Arab yang keras itulah, Prabu Siliwangi mengalah untuk tilem ke dalam hutan dan akan kembali lagi pada waktu yang tepat. Di samping itu, Prabu Siliwangi menyadari bahwa memang ini saatnya untuk agama selam, ‘Islam’, dalam arti watak Arab berkuasa. Hal itu disebabkan memang Islam Arab sangat dibutuhkan untuk menghalangi penjajahan bangsa-bangsa penjajah  merusakkan tanah air Indonesia. Watak-watak keras Arab sangat diperlukan untuk kemerdekaan Indonesia. Ajaran-ajaran kebanggaan diri, perang, keberanian, kepahlawanan memang sangat dibutuhkan untuk perjuangan Indonesia dalam mengusir penjajahan. Untuk menghentikan penjajahan, memang diperlukan watak-watak keras dan pemberani. Oleh sebab itu, kalimat-kalimat jihad fisabilillah dan hadiah surga meluas di mana-mana. Kisah-kisah kepahlawanan dari tanah Arab, Turki, dan zaman kekhalifahan merangsek masuk ke dalam jiwa dan otak kaum muslimin untuk menjadi pemberani melawan penjajahan. Islam Arab memang berpengaruh besar dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.
            Sabdo Palon Noyo Genggong pun menyadari hal yang sama bahwa sudah ada garis untuk berpisah dengan Prabu Brawijaya. Ia pun memahami bahwa Islam Arab sangat diperlukan untuk perjuangan melawan kompeni. Meskipun demikian, di kalangan orang Jawa ada ejekan bagi orang Islam sebagai orang yang kearab-araban. Ejekan mereka itu disebabkan banyaknya nama-nama bayi yang berbahasa Arab, berpakaian ala Arab, berperilaku bagai Arab, berbicara seperti orang Arab, semakih bergaya Arab dianggapnya semakin soleh dan dekat dengan Nabi saw. Padahal, Islam sendiri tidak mutlak-mutlakan mengajarkan hal seperti itu.
            Sabdo Palon Noyo Genggong membiarkan Islam Arab berada di tanah Jawa sampai Gunung Merapi meletus dahsyat untuk kemudian kembali mengajarkan budi pekerti.

Islam Nusantara Menguat
Merapi telah meletus dahsyat dan mengguncangkan perhatian seluruh dunia. Bencana gempa Bumi dan banjir bak lautan lepas kerap terjadi. Ketimpangan ekonomi masih terjadi.  Perilaku manusia makin tidak terkendali, baik mulutnya maupun tingkah lakunya.
            Prabu Siliwangi dan Sabdo Palon Noyo Genggong sesungguhnya telah kembali dan hidup di masyarakat. Prabu Silliwangi dengan Sunda Wiwitan serta Sabdo Palon Noyo Genggong dengan budi pekerti kembali mempengaruhi hidup bangsa Indonesia. Kedua tokoh itu mewakili nilai-nilai luhur bangsa Indonesia yang dirindukan kembali hidup sebagai jati diri bangsa.
            Tidak merasakah kita bahwa pengaruh mereka berdua sangat kuat dan semakin kuat terhadap diri kita?
            Penjajahan sudah selesai, kecuali di Palestina. Islam Arab dengan kekerasan wataknya telah sempurna berkontribusi bagi kemerdekaan Indonesia. Sekarang watak itu harus disimpan dulu agar bisa kembali pada watak asli bangsa yang lembut, penuh nilai luhur, tenggang rasa, sambung rasa, silih asih-silih asuh-silih asah, gotong royong, tepo seliro, dan lain sebagainya. Kita sudah merdeka. Ruang untuk kembali tenang sudah sangat terbuka lebar.
            Pancasila tidak lagi dipertentangkan dengan Islam, bahkan menjadi bagian dari semangat perjuangan Islam. Bhineka Tunggal Ika adalah jati diri bangsa yang terus diperjuangkan. Pembukaan UUD 1945 merupakan perwujudan dasar budi perkerti bangsa untuk mencapai tujuan nasional bangsa Indonesia. Toleransi menjadi sarana untuk saling membiarkan orang lain bebas menjalankan keyakinannya masing-masing. Soal benar dan salah keyakinan itu adalah urusan nanti di akhirat dalam pengadilan Illahi bukan di dunia ini.
            Itulah cikal bakal Islam Nusantara, yaitu Islam yang dijalankan oleh watak dan karakter bangsa Indonesia yang penuh nilai-nilai keluhuran diri hasil dari olah rasa.
            Bagi mereka yang masih menggunakan Islam berwatak Arab, padahal situasinya sudah berbeda, Sabdo Palon Noyo Genggong memberikan ancaman, “Bila ada yang tidak mau memakai (budi pekerti), akan saya hancurkan! Mereka akan saya jadikan makanan jin setan dan lain-lainnya. Belum legalah hati saya bila belum saya hancur leburkan!”
            Hal ini juga terbukti bahwa dengan semakin menguatnya kerinduan bangsa pada jati dirinya sendiri, siapa pun akan dilibas dan pasti dikalahkan, baik itu mereka yang kearab-araban maupun kebarat-baratan.
            Mereka yang masih belum kembali pada nilai-nilai luhur bangsa anugerah Allah swt, akan tersudut, terpojok, serta selalu berada kegelisahan dan kecemasan. Bahkan, bisa-bisa dianggap pengganggu atau perusak suasana oleh masyarakat.
            Kini saatnya meminggirkan Islam Arab dan kembali pada Islam Nusantara. Bahkan, orang-orang Arab pun sudah menyadari bahwa sekarang masanya bukan masa kekerasan dan perang, melainkan masa kelembutan, perdamaian, berbagi, dan saling mengisi. Kehadiran Raja Arab Salman di Indonesia dengan berbagai pernyataannya tentang Indonesia menunjukkan bahwa dia dan Arab ingin belajar dari Indonesia mengenai toleransi, keramahan, persaudaraan, perdamaian, kebebasan berbicara yang terukur, serta kebebasan menyampaikan aspirasi. Islam Nusantara tampaknya semakin hari semakin dapat menjadi jawaban dalam memecahkan setiap keresahan dunia saat ini. Syaratnya, kitanya dulu yang telah banyak diberi anugerah oleh Allah swt ini mampu saling melindungi, saling berbagi, saling menyayangi, dan saling menghormati di antara sesama bangsa sendiri. Jika kitanya masih tersesat, jangan harap bisa berkontribusi bagi semesta alam. Perbaiki diri saja dulu, baru berbuat bagi orang lain.
            Sampurasun.