Showing posts with label Arab. Show all posts
Showing posts with label Arab. Show all posts

Thursday, 20 April 2023

Kalau Pake Pikiran Bahar, Cucu Nabi Muhammad saw Itu Tidak Ada

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Masih ingatkan tulisan saya yang lalu, Bahar bin Smith mengatakan bahwa keturunan wali songo itu tidak ada? Kalaupun ada, itu dari pihak perempuan yang artinya terputus?

            Ucapannya itu jelas menimbulkan kemarahan keturunan para wali di Indonesia. Mereka yang biasanya tenang dan adem bersama masyarakat, tiba-tiba marah dan menunjukkan berbagai bukti bahwa mereka adalah keturunan wali songo dan tidak terputus hanya karena berasal dari pihak ibu atau perempuan. Ada yang mengajak Bahar berkelahi, tes DNA, bahkan memakinya sebagai keturunan Nabi palsu. Jika keributan ini tidak berhenti, Bahar bisa masuk penjara lagi untuk yang ketiga kalinya setelah menganiaya bocah santri dan isi ceramahnya yang mengganggu banyak orang. Dia nggak kapok-kapok kayaknya, malah banyak yang meminta Bahar supaya dites kejiwaannya. Paling tidak, penjaga keturunan Kesultanan Banten sudah mulai berniat untuk membawanya ke ranah hukum.

            Meskipun demikian, ada sisi positifnya celoteh Bahar ini, yaitu mendorong terbukanya penelitian mengenai nasab atau garis keturunan Nabi Muhammad saw di Indonesia. K.H. Imaduddin Utsman Al Bantani sudah memulainya dan menegaskan bahwa mereka yang mengaku-ngaku keturunan Nabi saw belum terbukti secara ilmiah nasabnya, alias hanya mengaku-aku. Kalau mau mempelajari hasil penelitiannya, bisa pelajari sendiri. Tidak mungkin saya menulisnya di sini. Dia bahkan mengatakan bahwa Bani Alawiyin tempat keluarga Bahar tidak terhubung kepada Nabi Muhammad saw, alias terputus.

            Kalau ingin membantah hasil penelitian, bantah lagi dengan penelitian baru yang menggunakan metode-metode ilmiah yang berlaku di seluruh dunia, bukan dengan ceramah-ceramah kasar yang ujung-ujungnya mengkafir-kafirkan orang, menuduh dzalim, memastikan masuk neraka, dan lain sebagainya. Ceramah-ceramah seperti itu hanya membela diri dengan suara keras dan menunjukkan lemahnya ilmu yang dimiliki. Mereka hanya berlindung di balik kekasaran, ilmunya sendiri sangat rendah.

            Sekarang semakin banyak yang bersuara serta mengungkapkan data dan fakta-fakta yang ada. Dalam tulisan kali ini, saya hanya ingin ikut satu saja membantah juga pendapat bodoh Bahar yang mengatakan bahwa keturunan dari pihak ibu itu terputus. Dengan pendapatnya itu, Bahar mengungkapkan bahwa keturunan para wali songo itu tidak ada. Kalaupun ada, itu berasal dari pihak ibu, artinya terputus. Keturunan yang berlanjut itu adalah berasal dari pihak laki-laki atau ayah. Padahal, generasi keturunan wali songo banyak yang berasal dari pihak ayah. Kalaupun hanya dari pihak ibu, itu juga tidak terputus. Keturunan dari ayah dan dari ibu sama saja melanjutkan keturunan ke generasi-generasi berikutnya.


Wali Songo (Foto: kompas.com)

            Menurut Habib Luthfi bin Yahya, pendapat terputusnya keturunan karena berasal dari jalur atau pihak ibu adalah pendapat orang-orang Arab bodoh, makanya disebut Arab Jahiliyah. Arab bodoh yang hidup dalam kebodohan. Kebodohan mereka itu karena selalu mengagungkan laki-laki dibandingkan perempuan. Bahkan, anak perempuan dikubur hingga mati itu salah satunya akibat dari  rasa malu karena tidak bisa diajak perang dan tidak dapat melanjutkan keturunan. Jadi, jelas pendapat itu berasal dari keangkuhan laki-laki yang menganggap kehidupan ini termasuk agama itu diperuntukkan bagi kaum laki-laki. Itu kebodohan yang akut.

            Nabi Muhammad saw sendiri sempat menjadi korban pelecehan, penghinaan, atau pembulian dengan disebut sebagai nabi yang tidak punya keturunan. Hal itu disebabkan keturunannya itu atau cucunya berasal dari anak perempuannya, Siti Fatimah ra. Jelas hal itu menjadi bahan bulian orang-orang Arab bahwa Muhammad saw keturunannya terputus karena berasal dari anak perempuannya, Fatimah ra. Hasan dan Husen adalah berasal dari Fatimah ra yang jelas perempuan dan berasal dari jalur ibu. Kalau mengikuti pendapat Bahar, terputuslah keturunan Nabi saw karena generasi setelahnya berasal dari Fatimah ra yang perempuan itu.

            Aneh bukan?

            Bahar mengaku-aku sebagai keturunan atau cucu Nabi saw, tetapi berpendapat bahwa jalur keturunan dari perempuan atau pihak ibu itu terputus, padahal keturunan Nabi saw itu berasal dari Hasan dan Husen yang merupakan anak dari perempuan, Fatimah ra?

            Kalau dari perempuan terputus, tidak perlu ngaku-ngaku keturunan Nabi saw, kan terputus, iya kan?

            Itu juga kalau memang benar Bahar adalah keturunan Nabi saw.

Ini cacat logika menurut saya.

Bulian atau ejekan orang-orang Arab bodoh itu membuat Nabi Muhammad saw sedih bukan main. Allah swt tahu kesedihan Nabi saw. Oleh sebab itu, Allah swt menurunkan QS Al Kautsar untuk menghibur Nabi Muhammad saw. Baca saja sendiri ayat dan artinya, pendek kok. Dalam surat itu Allah swt menegaskan bahwa Nabi saw sudah diberikan nikmat yang sangat besar dan garis keturunannya tidak terputus meskipun punya cucu dari Fatimah ra. Justru, orang-orang yang membuli Nabi Muhammad saw itulah yang keturunannya terputus.

Turunnya surat Al Kautsar itu merupakan penegasan Allah swt bahwa keturunan dari perempuan itu tidak membuat garis keturunan setelahnya terputus, tetap berlanjut. Jadi, keturunan Nabi saw tidak terputus dan terus berlanjut dari jalur anak perempuannya, Fatimah ra.

Zaman teknologi sekarang malah lebih mudah diterangkan. Manusia itu ada karena adanya pertemuan antara sperma laki-laki dan ovum atau sel telur dari perempuan. Tidak mungkin lahir manusia jika hanya ada sperma laki-laki kalau tanpa ada sel telur dari perempuan, kecuali untuk kasus tertentu misalnya kelahiran Nabi Isa as atau Yesus. Normalnya sih, laki-laki dan perempuan itu memiliki kontribusi yang sama untuk melahirkan seorang manusia. Anak-anaknya, ya anak mereka, bukan hanya anak atau keturunan dari pihak laki-laki atau ayahnya.

Dulu ketika saya masih SMA, sering bercanda tentang asal usul manusia. Asal manusia itu dari ibu, sedangkan ayah itu cuma usul. Kalau usul itu kan suka ngacung, kalau usulannya diterima oleh ibu, terjadilah pertemuan yang menghasilkan keturunan. Artinya, pihak ayah dan pihak ibu sama-sama punya jasa atas kelahiran anak-anaknya.

            Soal ucapan Bahar yang mengatakan keturunan para wali itu terputus adalah salah besar. Hal itu disebabkan keturunan para wali bukan hanya dari jalur ibu, melainkan pula dari jalur ayah. Kalaupun hanya dari jalur ibu, keturunan mereka juga tidak terputus sebagaimana yang ditegaskan Allah swt dan dijelaskan oleh ilmu pengetahuan.

            Kalau mau berguru atau menganggap seseorang itu guru, dari dulu sudah diberikan arahan bahwa guru itu harus pertama orang yang luas ilmunya, memiliki banyak sumber ilmu. Kedua, kalaupun ilmunya biasa-biasa saja, usianya harus yang sudah sepuh karena usianya yang sudah tua itu berarti sudah memiliki pengalaman hidup yang panjang. Dengan pengalaman hidupnya yang melewati suka, duka, asam, garam, manis, dan pahit itu akan memberikan banyak ilmu untuk generasi setelahnya. Ketiga, guru itu harus wara, bijaksana dan berhati-hati dalam berucap, berperilaku, dan memberikan pengajaran agar tidak merugikan dan mencelakakan murid-muridnya. Pilih guru yang baik dan mengajarkan untuk hidup lebih baik, bukan mengajarkan kerusakkan dan membuat kehidupan menjadi gelisah.

            Maaf kalau tulisan saya salah. Kalau ada yang berbeda pendapat dan harus ada yang dikoreksi, sampaikan saja. Kita bisa berdiskusi dengan baik tanpa harus bertengkar atau bermusuhan.

            Ilustrasi Wali Songo saya dapatkan dari kompas com.

            Sampurasun.

Tuesday, 10 May 2022

Nato Kelihatan Hebat Karena Musuhnya Hanya Orang-Orang Arab Bodoh

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Nato adalah kependekan dari “North Atlantic Treaty Organization” yang dalam bahasa Indonesia adalah “Pakta Pertahanan Atlantik Utara”. Amerika Serikat adalah yang terkuat dalam pakta ini yang kemudian semakin kuat karena digabungkan dengan 27 negara Eropa dan 1 Eurasia.

            Nato dipandang hebat selama ini dalam mengalahkan berbagai kemelut di kawasan Timur Tengah atau wilayah yang disebut Arab. Nato berjaya dan perkasa menghancurkan negara, menjatuhkan pemerintahan, dan membuat compang-camping kekuasaan di wilayah Arab. Tentu saja itu mudah dipahami karena mereka melawan orang-orang Arab bodoh yang lemah, mudah diadu domba, gampang dibuat bertengkar, gampang ditipu dan diperselisihkan atas dasar agama. Kawasan ini dibuat bergaduh atas dasar perbedaan suni dan syiah, perbedaan madzhab, atau keyakinan-keyakinan aneh lainnya.  Kalau orang-orang Arab itu pintar, mereka tetap bersatu dan tidak membiarkan wilayahnya menjadi kalang kabut gara-gara perbedaan keagamaan itu. Bodoh mereka itu. Indonesia jangan ikut-ikutan bodoh.

            Memang tidak semua bodoh, sangat banyak yang shaleh, bijak, pintar, dan cerdas. Akan tetapi, mereka tidak cukup kuat secara fisik untuk mengalahkan orang-orang bodoh yang telah tertipu itu sehingga membuat negaranya berantakan dan tertinggal. Tidak akan ada orang pintar jika sekolahan telah sepi dan perguruan tinggi menjadi institusi radikal yang di perpustakaannya bukan ada buku melainkan senjata-senjata untuk membunuh. Oleh sebab itu, dengan sedih orang-orang Arab yang shaleh dan cerdas itu mengingatkan saudara-saudaranya di seluruh dunia untuk menjaga negaranya masing-masing dari kehancuran seperti yang dialami negara mereka. Di Indonesia banyak orang yang berasal dari wilayah Arab yang telah berantakan itu berceramah dan mewanti-wanti bangsa Indonesia untuk menjaga negaranya dari kerusakan dan persengketaan yang disebabkan perbedaan pandangan keagamaan.

            Karena manusia-manusia Arab yang bodoh, tetapi sok suci, dan merasa paling berhak masuk surga inilah membuat wilayahnya lemah sehingga mudah dibabat habis oleh Nato. Bukan Nato yang hebat, melainkan orang-orang Arabnya yang bodoh dan lemah.

            Hari ini bisa kita saksikan bahwa Nato tidak sehebat yang dipikirkan ketika berhadapan dengan Rusia. Rusia memiliki senjata yang hebat, akurat, prajurit yang disiplin, tujuan yang jelas, dan kekuatan yang sulit ditandingi. Nato kelihatan kelimpungan dan tampak takut. Nato tidak berani bertindak terhadap Rusia seperti terhadap negara-negara di kawasan Timur Tengah. Nato banyak berhitung dan hanya teriak keras di media sosial ditambah beraninya hanya mengirimkan senjata ke Ukraina untuk mengalahkan Rusia tanpa berani berhadapan langsung. Ketika berhadapan dengan negara cerdas dan kuat, Nato pun seperti orang-orang sibuk tidak karuan.


Sumber Foto: Twitter


            Celakanya, ternyata senjata-senjata dari Amerika Serikat (AS) dan Inggris yang dikirimkan untuk membantu Ukraina banyak yang tidak berfungsi dengan baik, mudah rusak, dan berbiaya mahal. Ada senjata yang hanya untuk satu kali tembak biayanya mencapai 1,4 M. Senjata-senjata itu tidak gratis, Ukraina harus membayarnya.

            Foto sebagian kecil kerusakan di Ukraina saya dapatkan dari Twitter.

            Menurut saya, sudahlah, Nato tidak usah belagu dan selalu tampak paling hebat. Tidak perlu lagi membuat perang semakin parah dengan memanas-manasi Ukraina supaya terus perang, memberi harapan palsu dengan dongeng kemenangan, membantu dengan senjata pembunuh untuk mengalahkan Rusia, jangan bikin Rusia semakin marah, serta membuat kisah-kisah bohong di media sosial. Itu semua tidak membantu menyelesaikan masalah. Sebaiknya, redakan ketegangan, duduk bersama, bicarakan akar masalah perselisihan, serta cari titik temu antara Rusia, Ukraina, dan Nato. Jujurlah untuk seluruh nilai-nilai kemanusiaan demi mencapai “win win solution” tanpa menumpahkan darah.

            Sampurasun.

Monday, 21 February 2022

Dasar Keturunan Arab Yaman Kurang Ajar

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Sebetulnya, malas menulis dan mengomentari orang-orang kurang ajar seperti mereka ini. Saya sebenarnya lebih suka menulis atau mengomentari hal-hal positif dan berpandangan ke depan. Orang lain sudah bikin pesawat ke luar angkasa, bikin teori-teori yang bisa memecahkan masalah manusia di dunia, ini mah ngomongin ecek-ecek yang bolak-balik ke situ-situ lagi, enggak maju-maju. Dari dulu sampai sekarang, mungkin sampai mau mati pun ngomongnya itu lagi itu lagi, enggak ada yang lain.

            Kapan mau maju? Kapan mau mulia? Kapan mau berkuasa di dunia?

            Ngimpi!

            Orang-orang seperti itu selalu mempertahankan kebodohan orang lain agar dirinya dipandang selalu lebih mulia, lebih pintar, dan lebih suci. Padahal, dia menghambat kemajuan dan kecerdasan orang lain. Sekuat tenaga mereka bertahan agar orang lain tetap berada di bawah pengaruhnya karena ingin mendapatkan keuntungan pelayanan, penghormatan, juga materi dari orang lain yang mudah mereka tipu. Bahkan, untuk mempertahankan kondisi itu, tanpa malu dan tanpa adab, mereka berbicara kotor murahan dan sama sekali tidak berpendidikan.

            Coba perhatikan kata-kata keturunan Arab ini, Si Habib Fahmi Alkatiri dalam akun milliknya, Fkadrun Alkatiri @FahmiHerbal. Dia menghina bangsa Indonesia, sebagai pribumi, tuan rumah, padahal dia makan dan hidup di Indonesia. Mungkin dia tukang obat juga karena ada foto obat-obatan di akunnya dan menggunakan kata herbal untuk namanya.


Fahmi Herbal (Foto: Rakyat Priangan)


            Perhatikan kata-kata kotornya.

            “Lo tuan rumah? Kont*l. Muka mesum pengecut. Tanpa kami kalian masih hidup nomaden. Menyembah pohon dan batu.”

            Perhatikan coba, bagaimana kurang ajarnya dia.

“Ganteng kan Gw. Nggak pesek kayak lo. Sesak nafas. Makanya belajar cari bapak yg bener. Masa china vangke berak di kebon jd bapak lo.”

Dia tidak berhenti menghina.

“Tamu? Lo aja tinggal dalam hutan. Gelantungan. Kami yg ajarkan kalian berpakaian. Bercelana. Beragama. Dulu kalian tu Babi.”

Manusia yang kayak begini mau diikutin hanya karena dia keturunan Arab?

“Hai anjing! Ngga ada kami kau masih tinggal dalam goa. Ngerti njing.”

Dia pun mulai nyasar-nyasar memojokkan NU.

“Gw denger uang kas NU ada 14 trilyun di sebuah bank Pemerintah.”

Kata-katanya ini tentu saja  mendapatkan reaksi keras dari masyarakat. Dia dihujat habis, dibuli, dimaki-maki, dan diusir dari Indonesia. Oleh sebab itu, dia segera meminta maaf sambil terus menutup akunnya.

Seperti saya bilang, saya malas menulis tentang manusia-manusia semacam Si Fahmi ini. Dia sudah meminta maaf dan menutup akun, tetapi teman-teman sejenisnya masih banyak yang membelanya dan petantang petenteng terus-terusan bikin muak. Saya harus menulis untuk menyadarkan orang agar tidak tertipu sekaligus menghajar dia dan teman-temannya. Selain itu pun, saya harus menemani para habib yang baik dan merasa kesal terhadap perilaku keturunan Arab semacam itu.

Manusia-manusia brengsek seperti itu memang tidak punya otak. Mereka tidak berpikir apalagi merasa kasihan kepada para habib lain yang baik-baik dan keturunan Arab  lain yang juga hidup normal seperti yang lainnya. Jumlah para habib di Indonesia ini sekitar 1,5 juta orang. Mayoritas mereka baik-baik saja. Mereka yang ahli agama mengajarkan agama; yang bukan ahli agama menekuni profesi mereka masing-masing. Gara-gara mereka, para habib dan keturunan Arab lain yang baik-baik itu jadi kena getahnya. Mereka mendapatkan juga hujatan, bulian, kata-kata pengusiran dari masyarakat, padahal tidak melakukan apa-apa.

Kelakuan tolol seperti Si Fahmi ini mendapatkan reaksi keras dari Habib Kribo Zen Assegaf. Dengan gayanya seperti orang slebor, Habib Zen Assegaf marah-marah. Lihat saja videonya sendiri langsung. Perhatikan kemarahannya.

“Arab-arab seperti ini akan ada sampai nanti 2024. Makan hidup di Indonesia, tetapi berbicara kurang ajar. Biadab. Tidak ada dalam ajaran Islam yang menghinakan manusia. Saya lihat dia itu Dajjal. Menghina cina berarti menghina Tuhan.

            Arab sebelum Muhammad saw itu primitif, bodoh, tidak berkebudayaan. Ada Nabi Muhammad pun susah diajak bener. Indonesia sudah beradab ketika Arab jahiliyah, sudah punya Borobodur, Prambanan.

            Fahmi itu Anjing dia kurang ajar. Dia bukan habib. Bikin kisruh.

            Arab itu sampai sekarang Islamnya itu cuma merk. Karena ada Kabah saja, mereka Islam. Kalau tidak, mereka masih tetap jahiliyah. Lama-lama saya malu jadi keturunan Arab.

Untung saja, orang Indonesia baik-baik. Kalau di Afrika sudah di-‘smack down’. Anda bisa enak di Indonesia. Di Yaman sampai hari ini masih banyak yang tinggal di gunung-gunung.

            Tangkap ni orang.

            Saya minta maaf kepada orang Indonesia atas perilaku Arab yang satu ini.”

            Habib Zen Assegaf yang jelas keturunan Arab saja harus meminta maaf atas perilaku Si Fahmi meskipun sambil marah-marah.

            Ya sudah, kita maafkan Fahmi Alkatiri, tunjukkan bahwa orang Indonesia itu beradab dan pemaaf. Fahmi pun tampaknya tidak terdengar lagi, mudah-mudahan sadar dengan baik. Akan tetapi, Arab-arab kurang ajar yang lain harus segera berhenti. Saya ingatkan bahwa semakin hari semakin banyak orang yang ingin mengusir mereka untuk kembali ke tanah leluhurnya di Arab atau di Yaman. Kalau merasa sebagai orang Indonesia, berbuatlah baik kepada masyarakat sekitar, hidup normal seperti yang lain. Kalau merasa lebih tinggi dan menganggap rendah bangsa Indonesia, saya sarankan segera pergi dari Indonesia dan pulang ke tanah leluhur yang selalu kalian banggakan itu.

            Sungguh, Indonesia sama sekali tidak membutuhkan kalian. Indonesia baik-baik saja tanpa kalian. Malahan, kalian bikin runyam Indonesia. Sebaiknya kalian pulang, tanah leluhur kalian sedang membutuhkan kalian. Yaman sedang kelaparan dan ketakutan karena dihajar, ditembaki, dan dibombardir Arab Saudi. Yaman dan Arab Saudi sedang saling bunuh. Pulanglah ke sana. Tolonglah rakyat di tanah leluhur kalian. Mereka lebih membutuhkan kalian dibandingkan kami, rakyat Indonesia. Dakwahi dan ceramahi mereka dengan pidato kalian yang “paling benar, paling pasti masuk surga” itu.  Kami bosan dan muak pengen muntah dengan ceramah kalian. Kami punya cara sendiri untuk masuk surga. Di dunia saja kami sudah tinggal di surga Indonesia. Insyaallah, kami pun akan masuk surga di akhirat kelak. Kami punya cara sendiri dan bukan cara seperti kalian.

            Yaman dan Arab Saudi lebih membutuhkan kalian. Pergilah.

            Kalau mau hidup di sini, di Indonesia, ikuti dan hormati cara hidup kami.

            Sampurasun.

Sunday, 5 December 2021

Tuhan Bukan Orang Arab

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Judul itu adalah pernyataan Kasad Jenderal Dudung Abdurachman ketika diwawancara di podcast Deddy Corbuzier. Tayangan video itu sekitar satu jam sembilan menit. Saya mendengarnya biasa saja dari awal hingga akhir, tidak ada yang aneh.

            Tuhan memang bukan orang Arab kan?

            Tuhan memang bukan orang, bukan manusia, dan bukan Arab.

            Apanya yang aneh?

            Hal yang aneh justru banyak yang meributkan pernyataan itu dengan memutarbalikkan fakta dan membahasnya hingga menjadi kacau tidak karuan. Mereka yang meributkan pernyataan itu justru telah membuat “misleading information”, ‘informasi menyesatkan’. Banyak orang yang katanya ustadz, ulama menambah kekacauan informasi sehingga timbul tuduhan bahwa Dudung telah menyamakan Tuhan dengan orang. Dudung dianggap penista agama. Padahal, di dalam kalimat Dudung itu ada kata “bukan” yang artinya Tuhan tidak sama dengan orang. Tidak ada dasar yang bisa membuat suatu kesimpulan bahwa Dudung telah menyamakan Tuhan dengan orang.

            Orang-orang itu cuma bikin ribut saja. Mereka gemar sekali menyesatkan pikiran orang lain dan membiarkan orang lain dalam kebodohan.

            Begini yang saya perhatikan dalam podcast itu. Dudung menjelaskan bahwa dirinya setiap selesai shalat selalu berdoa dengan menggunakan bahasa Indonesia.

            Dia bilang, “Tuhan kan bukan orang Arab.”

            Maksudnya, berdoa dengan bahasa apa pun Tuhan pasti tahu, pasti mengerti, pasti paham. Tidak harus selalu menggunakan bahasa Arab. Tuhan kan memahami seluruh bahasa karena Dia sendiri yang menciptakan bahasa itu. Pernyataan Dudung justru menunjukkan bahwa Tuhan adalah Sang Penguasa terhadap segala sesuatu, termasuk bahasa. Sesederhana itu untuk memahami kalimat Dudung.

            Kalimat-kalimat ini bukan hanya dari Dudung yang saya dengar, melainkan dari banyak orang. Banyak ustadz, kyai, ulama, profesor yang mengaku bahwa lebih suka menggunakan bahasa Sunda atau bahasa Indonesia ketika berdoa karena lebih terasa di hati. Saya yakin di antara para pembaca pun sering dan banyak yang berdoa dengan menggunakan bahasanya sendiri dibandingkan menggunakan bahasa Arab. Itu biasa, normal, wajar karena itu persoalan hati dan pemahaman terhadap bahasa untuk menyampaikan keinginan kita kepada Tuhan dengan lebih baik.

            Memang banyak doa yang diajarkan Allah swt dan Nabi Muhammad saw dengan menggunakan bahasa Arab, banyak yang hapal, banyak yang paham, banyak yang sering mengucapkannya. Akan tetapi, keinginan manusia itu banyak dan sangat banyak yang tidak diajarkan dalam bahasa Arab.

            Contohnya, seorang sais atau kusir delman berdoa, “Ya Allah, Ya Tuhanku, sehatkanlah kudaku, kuatkanlah aku, bahagiankanlah para penumpangku agar aku tetap mendapatkan rezeki untuk keluargaku.”

            Bagi orang Arab atau orang yang fasih berbahasa Arab, tidak akan kesulitan berdoa seperti itu dalam bahasa Arab. Akan tetapi, bagi orang yang tidak ahli berbahasa Arab, pasti sangat kesulitan.

            Bahasa apa yang akan digunakan untuk doa-doa seperti itu?

            Pastinya adalah bahasa yang dia mengerti. Tuhan pun akan mengerti bahasa dia karena memahami seluruh bahasa.

            Saya sendiri berdoa di depan Kabah di Mekah sambil memegang tembok Kabah memakai baju batik dan ikat kepala Sunda dengan mengunakan tiga bahasa, yaitu bahasa Sunda, Indonesia, dan Arab. Allah swt pasti mengerti doa-doa yang saya sampaikan karena Allah swt Mahatahu Segala Bahasa.







            
Jadi, Tuhan itu bukan orang dan bukan Arab karena orang dan Arab itu adalah makhluk, ‘ciptaan’. Adapun Tuhan adalah khalik, ‘pencipta’.

            Jangan bikin sesuatu yang biasa dan nggak penting menjadi heboh nggak karuan, apalagi menyesatkan dan menumbuhkan kebencian.

            Begitu, ya.

            Sampurasun.

Friday, 3 December 2021

Pertarungan Antarhabib

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Istilah “habib” ini semakin populer sejak pemilihan presiden pada 2019 lalu. Banyak pendukung Prabowo yang mengaku habib mengumpulkan dan mempengaruhi massa untuk memilih Prabowo. Suara keras para habib ini mendorong para habib lain yang berada di sisi Jokowi. Mereka mendukung Jokowi dan mempengaruhi massa untuk mendukung dan membela Jokowi. Baik para habib pendukung Prabowo maupun pendukung Jokowi sama-sama berdoa untuk kemenangan jagoannya masing-masing agar menjadi presiden.

            Hasilnya, kenyataannya, dukungan dan doa para habib pendukung Jokowi adalah yang dikabulkan Allah swt. Buktinya, Jokowi yang menjadi presiden, adapun Prabowo dihormati Jokowi dengan menjadikannya sebagai menteri pertahanan. Itu kenyataan yang tidak bisa dibantah.

            Hal ini menunjukkan bahwa di antara para habib terjadi perbedaan pendapat, perbedaan pandangan, perbedaan piikiran, dan perbedaan pilihan. Jadi, masyarakat yang tidak merasa sebagai habib, jangan takut dan tidak perlu merasa berdosa jika berbeda pandangan atau pendapat dengan para habib. Toh, di antara mereka sendiri berbeda, tidak satu suara. Bisa kita ingat habib pendukung Prabowo saat itu ada Rizieq Shihab dan Bahar bin Smith; habib pendukung Jokowi ada Quraish Shihab, Alwi Shihab, dan Habib Luthfi bin Yahya. Itu kenyataannya, mereka berbeda posisi. Jadi, tenang saja. Biasa saja, berbeda pendapat itu normal. Hal yang salah itu adalah melakukan kebohongan, fitnah, ujaran kebencian, dan provokasi yang membahayakan nyawa.

            Perbedaan pendapat dan pikiran di antara para habib ini sekarang semakin mengeras dan mengarah pada pertarungan. Hal ini dapat dilihat setelah bebasnya Bahar bin Smith dari penjara Gunung Sindur. Saya sangat berharap bahwa Bahar bin Smith bisa berubah sikap dan cara lebih baik lagi sehingga bisa menjadi penerang umatnya. Sayangnya, beberapa saat setelah keluar dari penjara Bahar bin Smith berceramah sangat kasar dengan mengancam dan menantang para habib, para kiyai, dan para ulama yang membiarkan Rizieq Shihab masuk penjara. Dia akan mendatangi mereka karena menganggap mereka adalah pengkhianat. Ancaman dan tantangan ini tentu saja dijawab dengan tantangan lagi oleh Habib Kribo Zen Assegaf. Dia memang berambut kribo. Habib ini memiliki jiwa petarung. Habib Kribo ini merasa sangat malu bahwa para habib derajatnya diturunkan oleh perilaku Bahar sehingga banyak rakyat Indonesia yang melakukan penghinaan kepada para habib. Dia mengatakan tidak takut Bahar dan akan melawan Bahar. Dia pun merasa sangat malu karena baik dirinya maupun Bahar adalah pendatang yang telah diterima dengan baik sebagai keturunan Arab oleh bangsa Indonesia untuk hidup dengan baik di Indonesia. Jadi, menurutnya sangat buruk jika membuat kekacauan di Indonesia.

            Sungguh, mereka mulai bertarung. Jika ini diteruskan dan semakin meruncing, akan ada habib-habib lain yang ikut masuk dalam pertarungan ini.

            Bagus tidak situasi seperti ini?

            Bagi sebagian orang mungkin perseteruan ini jelek, tetapi bagi sebagian lain mungkin bagus.

            Bagi saya pribadi, pertarungan itu bagus jika sebatas pertarungan pemahaman, pikiran, dan pendapat. Biarkan para habib itu mengeluarkan ilmunya masing-masing dan kita sebagai masyarakat bisa menilainya, mana yang berdasarkan Al Quran dan hadits-hadits shahih serta mana yang hanya mengandalkan pikiran dan emosinya sendiri. Kita akan mendapatkan ilmu yang bermanfaat dari perdebatan itu sekaligus menentukan sikap. Akan tetapi, pertarungan akan berubah menjadi malapetaka jika sudah menjadi pertarungan fisik, kampungan itu namanya.

            Hal yang harus diperhatikan adalah hindari ucapan dan perilaku yang melanggar hukum, baik hukum pidana maupun perdata. Tak perlu lagi ada yang masuk penjara atau ada yang mati gara-gara perbedaan pemahaman dan pilihan.

            Sampurasun.

Friday, 21 May 2021

Pentingnya Pasukan Perdamaian di Al Quds

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Dalam menyikapi konflik yang terjadi antara Israel dan Palestina yang menimbulkan perang dan menimbulkan kerusakan terhadap kemanusiaan, Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Retno Marsudi hadir dalam Sidang Majelis Umum (SMU) Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Kamis, 20 Mei 2021. Sengaja dia datang untuk mendesak PBB mengambil tiga aksi penting untuk menghentikan perang dan kekerasan yang terjadi. Setelah Menlu RI Retno menyampaikan desakannya, kita tahu bahwa besoknya, pukul 02.00 dini hari disepakati gencatan senjata antara Israel dan Hamas untuk menghentikan “sementara” penggunaan senjata dan aksi-aksi militer di kedua belah pihak.

            Dari tiga aksi penting yang diusulkan Retno Marsudi dalam SMU PBB tersebut, dalam tulisan kali ini saya ingin beropini tentang satu usulan aksi tersebut. Hal itu adalah desakan Retno agar hadirnya “kekuatan internasional” di “Al Quds” untuk mengawasi dan memastikan keselamatan rakyat Palestina serta menjamin perlindungan status “Kompleks Al-Haram Al-Sharif” yang dianggap sebagai tempat suci bagi tiga agama, yaitu Islam, Kristen, dan Yahudi.

            Selama ini, kompleks tersebut diklaim, dikelola, dan dikuasai Israel. Pasukan Israel adalah yang berkuasa di tempat tersebut. Hal itu menimbulkan kerawanan konflik yang bisa kapan saja terjadi mengingat masih besarnya kebencian di antara mayoritas warga Palestina dan Israel. Perang yang terjadi di antara mereka baru-baru ini pun diklaim Israel dan pendukungnya gara-gara warga Palestina yang melempari pasukan Israel dengan batu-batu di kawasan Al Quds. Padahal, pelemparan itu pun sebenarnya diakibatkan oleh perilaku Israel sebelumnya terhadap warga Palestina yang kerap melakukan penggusuran, pengusiran, dan penindasan lainnya. Dengan demikian, di tempat itu bisa dikatakan mudah sekali terjadi bentrokan.

            Usulan Menlu RI Retno Marsudi adalah sangat masuk akal untuk menjaga rakyat dan keamanan di kawasan tersebut. Pasukan perdamaian internasional diharapkan dapat lebih netral bersikap dan lebih bijak mengambil tindakan. Kalaulah masih timbul kecurigaan atau kekhawatiran, baik dari pihak Palestina atau Israel terhadap kenetralan pasukan perdamaian di luar kalangan mereka, Indonesia bisa menawarkan diri menjadi pasukan perdamaian pertama di kawasan itu sebagai pihak yang bertanggung jawab atas usulan tersebut. Artinya, kekhawatiran bisa timbul dari pihak Palestina jika pasukan perdamaian berasal dari negara-negara barat karena dianggap pro-Israel atau Israel bisa khawatir jika pasukan perdamaian berasal dari negara-negara Arab yang dianggap membenci mereka. Indonesia bisa menjembatani berbagai kekhawatiran itu mengingat “politik luar negeri bebas dan aktif” yang mengharuskan dirinya bebas dari tekanan negara mana pun dan mewajibkan dirinya untuk selalu aktif menciptakan perdamaian dunia. Di samping itu, Indonesia pun sedang dalam keadaan terus berupaya adil untuk mengelola bangsanya yang majemuk, beragam agama, suku, dan ras. Tambahan pula bahwa Indonesia itu dalam hal militer cenderung bersikap “defensive”, ‘pertahanan diri’, setiap orang Indonesia tidak pernah ingin untuk menyerang negara lain dan tidak ingin menjajah negara lain.

            Intinya, untuk membuat situasi lebih terkendali, diperlukan pasukan perdamaian internasional yang lebih netral, lebih adil, dan lebih biijak. Syaratnya, pasukan ini harus mendapat mandat dari PBB, Israel bersedia mundur dari Kompleks Al-Haram Al-Sharif, dan Palestina harus menghormati kehadiran pasukan perdamaian tersebut.

            Sampurasun.

Wednesday, 13 January 2021

Syekh Ali Jaber yang Saya Tahu

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Syekh Ali Jaber tidak mengenal saya karena saya hanya melihat dan mendengarnya melalui televisi dan tayangan Youtube. Meskipun hanya memperhatikan dari jauh, banyak hal yang saya pahami dari diri Syekh Ali Jaber.

Pertama kali saya melihatnya di televisi, isi ceramahnya biasa saja. Banyak penceramah Indonesia yang berceramah seperti itu, bahkan lebih hebat. Saya hanya berpikir bahwa orang Indonesia itu pengennya selalu yang “kearab-araban”. Orang Arab biasanya dipandang lebih hebat agamanya, padahal tidak. Soal agama itu adalah soal ilmu dan akhlak, bukan soal tempat kelahiran. Jadi, Syekh Ali Jaber bagi saya, biasa-biasa saja. Tidak ada istimewanya.

Seiring perjalanan waktu, tanpa sengaja saya melihat Syekh Ali Jaber mencium tangan remaja dan anak-anak Indonesia yang hapal Al Quran. Bahkan, bukan hanya tangan, kaki remaja dan anak Indonesia pun dia cium. Syekh bersedia menurunkan kepalanya dengan badannya bertumpu pada lututnya untuk mencium kaki penghapal Al Quran. Saya tidak tahu apa yang ada di dalam pikiran dan hati Ali Jaber. Saya hanya melihatnya dia memuliakan para penghapal Al Quran dan bersedia merendahkan hatinya untuk mencium kaki penghapal Al Quran. Sikap itu tampak bukan sikap dibuat-buat seperti akting Sinetron, melainkan sikap yang tulus yang tampak dari mata dan gerak tubuhnya. Luar biasa ini orang. Istimewa sekali.

Sejak saat itu saya mengagumi Syekh. Sikap seperti itu pasti lahir dari hati yang penuh hormat, penuh kemuliaan, dan kelembutan.

Sejak itu pula saya lebih lama memperhatikan ceramah-ceramah Syekh, baik di televisi maupun di Youtube. Kalimat-kalimatnya luar biasa menenangkan yang pastinya berasal dari llmu pengetahuan yang dalam. Beliau mengajarkan untuk memuliakan dan menghormati orang lain. Diingatkannya pula untuk tidak mudah menghakimi orang lain. Bahkan, nasihatnya yang saya perhatikan ketika beliau menjadi tamu bersama Gus Miftah di Podcast Deddy Corbuzier sungguh luar biasa mengagumkan. Syekh menjelaskan bahwa kita tidak boleh menghakimi dan merendahkan perempuan yang tidak berhijab karena kita tidak tahu mungkin saja perempuan itu punya shalat dua rakaat yang membuat Allah swt memasukkannya ke dalam surga. Kita tidak pernah tahu bagaimana sebenarnya hubungan perempuan itu dengan Allah swt. Pandangan dan pendapat seperti itu pasti keluar dari mulut orang yang sangat berhati-hati bersikap dalam hidup serta memiliki ilmu pengetahuan yang dalam. Dalam beberapa kali ceramahnya, Syekh mengingatkan saya pada tulisan-tulisan “Syekh Abdulqadir Jaelani” tentang “Penyingkap Kegaiban” yang dipenuhi nasihat untuk selalu bergantung penuh dan percaya penuh kepada Allah swt sehingga segala yang terjadi kepada kita di dunia ini hanya peristiwa biasa yang tidak berpengaruh apa pun kepada kita. Mau kita kaya ataupun miskin, mudah ataupun sulit, tidak mempengaruhi kita karena kita hidup dalam kendali Allah swt, bersama Allah swt.

Kini Syekh Ali Jaber telah berpulang kepada Pemilik-nya, Allah swt, “mulih ka jati, mulang ka asal”.

“Innaalillaahi waa innaa ilaihi roojiuun”

Allah swt Mahatahu, Mahakasih kepada hamba-Nya. Syekh menjadikan Indonesia tanah yang dicintainya sebagai ladangnya untuk beramal shaleh.

Sampurasun

Saturday, 7 November 2020

Rizieq Pulang, Biasa Sajalah


oleh Tom Finadin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Kalau nggak salah, sebelumnya Rizieq Shihab sudah tujuh kali berencana pulang dari Arab ke Indonesia, tetapi tidak juga pulang. Pada November 2020 ini kembali mengutarakan niatnya untuk pulang ke Indonesia.

            Dalam menghadapi kepulangannya, sebaiknya bersikap biasa saja, tidak perlu berlebihan. Hal ini kan biasa terjadi setiap detik; ada orang yang pergi dan pulang dari dan ke Indonesia. Kalaulah disebut pemimpin Ormas, ya tetap biasa saja. Ormas di Indonesia itu banyak, misalnya, NU, Muhammadiyah, Persis, HMI, GMNI, Pemuda Pancasila, dsb.. Kalau ketuanya atau pemimpinnya pergi dan pulang Indonesia-luar negeri, biasa saja, tidak heboh. Begitu pula dengan kepulangan Rizieq ke Indonesia, biasa sajalah, jangan diheboh-hebohin.

            Bagi para pendukungnya, pecintanya, kalau menyambut, biasa saja bersikap, tidak perlu berlebihan, tenang saja. Demikian pula pihak-pihak yang ingin memenjarakan Rizieq, biasa saja bersikap. Ini negara hukum, segera proses dan konfirmasi ulang laporan-laporan kepada polisi tentang hal-hal yang diakibatkan ulah Rizieq dan belum diproses.

            Hadapi dan selesaikan kasus-kasus hukum yang tertunda. Tidak perlu bertingkah aneh-aneh, biasa saja. Kalau memang tidak bersalah, bebas. Kalau ternyata bersalah, ya harus menerima konsekwensinya untuk menjalani hukuman. Begitulah hidup sebagai manusia beradab pada zaman ini.

            Rizieq sudah terbukti tidak bersalah dalam dua kasus, yaitu “chat pornografi” dan “penghinaan terhadap Pancasila”. Kedua hal itu sudah selesai dan dihentikan penyidikannya oleh Polri. Sisanya, hadapi dan selesaikan, misalnya, soal “campur racun”, soal tanah, dan soal tuduhan penghinaan agama yang dilaporkan oleh kelompok pemuda Katolik.

            Kalau sudah selesai dan dihadapi secara beradab, bareng membangun Indonesia.

            Kabarnya dia akan memimpin revolusi?

            Baguslah, bareng-bareng dengan pemerintah Jokowi memimpin revolusi mental, revolusi akhlak, atau revolusi lainnya yang mengisi kemerdekaan dengan beragam pembangunan, baik lahir maupun batin. Gotong royong jauh lebih baik dibandingkan gontok-gontokan. Kerja sama jauh lebih positif dibandingkan berkonflik. Menciptakan suasana sejuk jauh lebih baik dibandingkan menciptakan suasana panas dan emosional.

            Di hadapan kita ada banyak yang harus dihadapi bersama, seperti, Covid-19, kebodohan, keterbelakangan, kemiskinan, dan ketertinggalan teknologi yang harus dikejar. Bekerja bersama jauh lebih baik.

            Sampurasun.

Tuesday, 19 May 2020

Zaman Akhir Vs Zaman Akhir Vs Zaman Akhir


oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Kisah-kisah zaman akhir ini selalu menarik perhatian orang, terutama orang-orang yang sedang tertindas, terancam, dan kebingungan tentang arah hidupnya. Suatu kaum yang sedang merasa tergeser, tersingkir, atau terhalang oleh kaum yang lain kerap menyandarkan hidupnya pada berbagai ramalan, prediksi, atau berita-berita masa depan.

            Dalam berita-berita itu kerap dikisahkan akan munculnya sosok pahlawan bagi kaumnya yang akan menyelamatkan kaumnya. Biasanya, sosok ini penuh dengan kekuatan, keimanan, dan keagungan. Dialah harapan umat untuk mengenyahkan segala kejahatan, kekejaman, kezaliman agar umatnya dapat sejahtera, berkuasa, dan penuh kemuliaan.

            Kisah ini beredar di antara umat manusia, di antara suku bangsa, dan di antara para pemeluk agama. Di lingkungan umat Islam diyakini adanya kehadiran Imam Mahdi dan Yesus as yang akan mengalahkan Dajal, Sang Raja Dusta, serta membawa kedamaian dan kemakmuran di muka Bumi di samping mengokohkan posisi politik kaum muslimin di dunia.

            Kisah zaman akhir ini bukan hanya dimiliki umat muslim, melainkan pula dimiliki umat Nasrani. Kaum kristiani percaya bahwa akan ada kebangkitan umat Kristen untuk memimpin dunia dan membimbing manusia keluar dari kegelapan. Beberapa sekte malah berani melakukan pembunuhan untuk terciptanya situasi zaman akhir yang sesuai dengan keyakinan mereka.

            Hal yang sama pun diyakini oleh umat Yahudi. Mereka sangat percaya bahwa diri mereka mirip Nabi Daud as yang menang bertarung melawan raksasa Goliath. Arab adalah yang dimaksud orang-orang Yahudi sebagai Goliath. Artinya, Yahudi adalah yang akan menguatkan Israel Raya dan memimpin dunia.

            Sesungguhnya, banyak hal yang bisa saya ungkapkan tentang kisah-kisah zaman akhir itu. Akan tetapi, terlalu panjang untuk ditulis di sini. Jika mau, saya bisa bikin buku berjilid-jilid soal zaman akhir ini dipandang dari tiga agama berbeda.

            Dalam tulisan kali ini saya ingin memberitahukan bahwa kisah-kisah zaman akhir itu dimiliki oleh kaum muslimin, kaum Nasrani, dan kaum Yahudi. Setiap kaum meyakini bahwa kaumnyalah yang akan menjadi pemimpin dunia. Orang Islam yakin bahwa orang Islam yang akan mengendalikan dunia pada masa akhir zaman. Orang Nasrani juga yakin bahwa merekalah yang akan benar-benar menguasai dunia. Demikian pula orang-orang Yahudi sangat kuat keyakinannya terhadap kehadiran Raja Yahudi yang ditunggu-tunggu untuk mengangkat kemuliaan Yahudi dan mengalahkan Goliath Arab.

            Hal yang sangat menarik adalah, baik kaum muslimin, Nasrani, maupun Yahudi sama-sama meyakini bahwa pada akhir zaman mereka akan terlibat perang besar di Yerusalem, tanah Palestina. Perbedaannya, setiap kelompok meyakini bahwa kelompoknyalah yang akan menang, sedangkan kelompok yang lainnya adalah para penjahat yang harus dikalahkan.

            Hal ini pula yang menjelaskan bahwa kekisruhan, kekalutan, kejahatan, kekejian, pembunuhan, ketidakadilan, kesengsaraan, pertengkaran, konflik di Yerusalem, Palestina tidak kunjung usai. Mereka selalu terlibat saling bunuh, saling culik, saling rusak, dan saling serang. Mereka tidak pernah bisa berhenti karena salah satunya adalah keyakinan terhadap kisah-kisah zaman akhir yang  memberitakan bahwa merekalah yang akan menjadi pemenang pertarungan di kawasan itu.

            Orang Islam yakin akan menang, Nasrani juga percaya mereka yang menjadi pemenangnya, Yahudi pun demikian pula sangat yakin akan menguasai dunia.

            Lalu, pertanyaannya sampai kapan kegoncangan dan saling bunuh itu akan berhenti?

            Jawaban orang Islam pastinya jika orang Islam berkuasa. Jawaban Nasrani juga begitu, jika Nasrani memegang kendali. Jawaban Yahudi apalagi, situasi akan terkendali jika Raja Yahudi yang mereka tunggu sudah hadir di muka Bumi.

            Semua saling klaim.

            Lalu, siapa yang paling benar?

            Setiap pemeluk agama akan mengklaim dirinya adalah yang paling benar. Ketika para pemeluk agama itu sedang saling klaim, di tanah Yerusalem, Palestina, terus terjadi pembunuhan-pembunuhan, kekerasan, banjir darah, penggusuran, penganiayaan yang korbannya adalah para pemeluk agama dari setiap pihak yang bertikai.

            Jadi, begitulah keyakinan tentang kisah zaman akhir versi muslim melawan zaman akhir versi Nasrani melawan zaman akhir versi Yahudi.

            Jadi, harus bagaimana atuh?




            Saya sebagai muslim, berharap bahwa kaum muslimin lebih dewasa, lebih rasional, dan lebih bijak dalam menyebarkan rahmat bagi semesta alam.

            Bagaimana caranya?

            Entar dululah. Sedikit-sedikit dulu menerangkannya, bisi pusing.

            BTW, bagi lulusan SMP/MTs yang mau meneruskan sekolah, bisa ke “MA Mawaddi di Kompleks Pondok Pesantren As Saadah, Desa Kamasan, Kecamatan Banjaran, Kabupaten Bandung”.

            Bagi lulusan MA/SMK/SMA yang mau meneruskan kuliah ke “Universitas Al-Ghifari”, klik http://pmb.unfari.ac.id , banyak beasiswanya lho.

            Sampurasun

Monday, 24 April 2017

Kaum Nasionalis Wajib Menerima Kaum Islam

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Ini adalah peringatan bagi kaum nasionalis!

            Dari dulu hingga sekarang kaum nasionalis memiliki banyak kecurigaan terhadap kaum Islam. Kaum nasionalis mencurigai kaum Islam akan menyeret Indonesia ke arah politik Arab dan Timur Tengah. Kaum nasionalis sering menganggap berbeda tujuan dengan kaum Islam karena kaum Islam lebih mencintai ke-universal-an dibandingkan mencintai tanah airnya sendiri. Kaum Islam dipandang lebih menyukai dan menganggungkan segala hal yang berbau Arab dan Timur Tengah, baik dari segi pemikiran, perilaku, maupun politik. Kaum nasionalis sangat tidak menyukai kaum Islam yang dipandang akan membuat Indonesia sebagai wilayah bagian dari kekuatan Arab dan Timur Tengah. Kecurigaan ini terus terjadi sejak dahulu hingga saat ini. Bedanya, sekarang kaum nasionalis “lebih pandai” menutupi kecurigaannya kepada kaum Islam untuk menghindari konflik. Meskipun demikian, kecurigaan itu tidak pernah berhenti.

            Saya pernah diundang untuk mendengarkan pidato kampanye calon kepala daerah di ruangan tertutup. Pasangan calon eksekutif tersebut berasal dari kelompok nasionalis, sedangkan saingannya berasal dari kelompok Islam.

            Sang Calon Wakil berkata dalam pidatonya, “Kita benar-benar sedang berhadapan dengan orang-orang yang berbeda dengan kita.”

            Dia membedakan antara kelompok nasionalis dengan kelompok Islam. Kelompok Islam dianggap memiliki tujuan yang sangat jauh berbeda dibandingkan dengan kelompok nasionalis meskipun dirinya sendiri beragama Islam.

            Untuk orang-orang nasionalis semacam ini, hendaknya mengingat nasihat keras dari Pemimpin Besar Revolusi Indonesia Soekarno.

            “Adakah keberatan kaum nasionalis buat bekerja sama dengan kaum Islam oleh karena Islam itu melebihi kebangsaan dan melebihi batas negeri yang sifatnya ialah supernasional superteritorial?

            Adakah internationaliteit Islam merupakan suatu rintangan buat geraknya nasionalisme, buat geraknya kebangsaan?

            Banyak nasionalis di antara kita yang lupa bahwa pergerakan nasionalisme dan Islamisme di Indonesia ini—ya, di seluruh Asia—adalah sama asalnya, dua-duanya berasal dari nafsu melawan barat sehingga sebenarnya bukan lawan, melainkan kawanlah adanya.

            Betapa luhurnyalah sikap nasionalis Prof. T.I. Vaswani, seorang yang bukan Islam, menulis, ‘Jikalau Islam menderita sakit, maka ruh kemerdekaan timur tentulah sakit juga sebab makin sangatnya negeri-negeri muslim kehilangan kemerdekaan, makin sangat pula imperialisme Eropa mencekek ruh Asia. Tetapi, saya percaya pada Asia sediakala. Saya percaya bahwa ruhnya masih akan menang. Islam adalah internasional dan jikalau Islam merdeka, maka nasionalisme kita itu diperkuat oleh segenap kekuatan itikad internasional itu.’

            Bukan itu saja. Banyak nasionalis kita yang lupa bahwa orang Islam di mana pun adanya, di seluruh “Darul Islam”, menurut agamanya, wajib bekerja untuk keselamatan orang negeri yang ditempatinya. Nasionalis-nasionalis itu lupa bahwa orang Islam yang sungguh-sungguh menjalankan keislamannya, baik orang Arab maupun orang India, baik orang Mesir maupun orang mana pun, jikalau berdiam di Indonesia, wajib pula bekerja untuk keselamatan Indonesia itu.

            ‘Di mana orang Islam bertempat, bagaimanapun jauhnya dari negeri tempat kelahirannya, di dalam negeri yang baru itu, ia menjadi satu bahagian dari rakyat Islam. Di mana orang Islam bertempat, di situlah ia harus mencintai dan bekerja untuk keperluan negeri itu dan rakyatnya.’

            Inilah nasionalisme Islam! Sempit budi dan sempit pikiranlah nasionalis yang memusuhi Islamisme serupa ini. Sempit budi dan sempit pikiranlah ia oleh karena ia memusuhi suatu azas yang walaupun internasional dan interrasial, mewajibkan segenap pemeluknya yang ada di Indonesia, bangsa apa pun mereka, mencintai dan bekerja untuk keperluan Indonesia dan rakyat Indonesia juga adanya.”

            Kaum nasionalis harus menghentikan kecurigaan yang berlebihan kepada kaum Islam karena sangat banyak kaum Islam yang mencintai Indonesia dengan batas-batas teritorialnya. Bahkan, kaum Islam yang mencintai kedaulatan Indonesia jumlahnya adalah mayoritas dibandingkan dengan mereka yang selalu “menyeret-nyeret” Indonesia untuk menjadi salah satu bagian dari Arab dan Timur Tengah. Memang ada beberapa gelintir orang Islam yang kerap berkehendak mengekor Arab dan Timur Tengah, tetapi tidak perlu membuat kaum nasionalis Indonesia menggeneralisasi bahwa setiap gerakan kaum Islam adalah seperti beberapa gelintir orang itu. Kaum Islam yang mayoritas adalah jauh lebih berharga dibandingkan sekelompok kecil orang yang kerap melakukan aksi-aksi aneh itu.

            Kaum nasionalis harus bergandengan tangan dengan kaum Islam untuk menghadapi nafsu-nafsu barat. Memang penjajahan sudah berhenti di Indonesia. Akan tetapi, harus diingat bahwa penjajahan yang berhenti adalah penjajahan fisik. Penjajahan dalam bentuk yang lebih samar malah terjadi semakin hebat, misalnya, penjajahan dalam hal ekonomi, politik, hukum, budaya, teknologi, pendidikan, dan berbagai pemikiran-pemikiran barat yang dipaksakan masuk ke dalam jiwa dan otak rakyat Indonesia.

            Jangan pula dilupakan bahwa dalam tubuh kaum nasionalis pun tidak semuanya mencintai Indonesia. Beberapa di antara mereka malah menjadi kaki tangan barat untuk “mengganggu” Indonesia agar situasi berada dalam kebingungan dan kekacauan.

            Penjajahan masih berlangsung dalam bentuk yang “halus”. Kaum nasionalis yang setia pada tanah air harus bersatu dengan kaum muslim yang peduli pada keadilan kemanusiaan untuk mewujudkan tujuan pembangunan nasional Indonesia, yaitu mewujudkan manusia Indonesia seutuhnya yang makmur lahir dan makmur batin. Persatuan antara kaum nasionalis dan kaum Islam pun akan mampu membangun benteng dan perlawanan teramat dahsyat terhadap nafsu-nafsu barat yang pada dasarnya memiliki sifat saling serang-menyerang dan gemar menguasai orang lain.

            Apabila kaum nasionalis masih memandang “buruk” kaum Islam, kata Soekarno, mereka adalah nasionalis yang “sempit budi dan sempit pikiran”. Kalimat “sempit budi dan sempit pikiran” itu bahasa Soekarno yang kasar pada masa lalu. Pada masa sekarang ini “sempit budi dan sempit pikiran” adalah sama dengan “bloon”.


            Sampurasun