Showing posts with label Imam Mahdi. Show all posts
Showing posts with label Imam Mahdi. Show all posts

Tuesday, 19 May 2020

Zaman Akhir Vs Zaman Akhir Vs Zaman Akhir


oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Kisah-kisah zaman akhir ini selalu menarik perhatian orang, terutama orang-orang yang sedang tertindas, terancam, dan kebingungan tentang arah hidupnya. Suatu kaum yang sedang merasa tergeser, tersingkir, atau terhalang oleh kaum yang lain kerap menyandarkan hidupnya pada berbagai ramalan, prediksi, atau berita-berita masa depan.

            Dalam berita-berita itu kerap dikisahkan akan munculnya sosok pahlawan bagi kaumnya yang akan menyelamatkan kaumnya. Biasanya, sosok ini penuh dengan kekuatan, keimanan, dan keagungan. Dialah harapan umat untuk mengenyahkan segala kejahatan, kekejaman, kezaliman agar umatnya dapat sejahtera, berkuasa, dan penuh kemuliaan.

            Kisah ini beredar di antara umat manusia, di antara suku bangsa, dan di antara para pemeluk agama. Di lingkungan umat Islam diyakini adanya kehadiran Imam Mahdi dan Yesus as yang akan mengalahkan Dajal, Sang Raja Dusta, serta membawa kedamaian dan kemakmuran di muka Bumi di samping mengokohkan posisi politik kaum muslimin di dunia.

            Kisah zaman akhir ini bukan hanya dimiliki umat muslim, melainkan pula dimiliki umat Nasrani. Kaum kristiani percaya bahwa akan ada kebangkitan umat Kristen untuk memimpin dunia dan membimbing manusia keluar dari kegelapan. Beberapa sekte malah berani melakukan pembunuhan untuk terciptanya situasi zaman akhir yang sesuai dengan keyakinan mereka.

            Hal yang sama pun diyakini oleh umat Yahudi. Mereka sangat percaya bahwa diri mereka mirip Nabi Daud as yang menang bertarung melawan raksasa Goliath. Arab adalah yang dimaksud orang-orang Yahudi sebagai Goliath. Artinya, Yahudi adalah yang akan menguatkan Israel Raya dan memimpin dunia.

            Sesungguhnya, banyak hal yang bisa saya ungkapkan tentang kisah-kisah zaman akhir itu. Akan tetapi, terlalu panjang untuk ditulis di sini. Jika mau, saya bisa bikin buku berjilid-jilid soal zaman akhir ini dipandang dari tiga agama berbeda.

            Dalam tulisan kali ini saya ingin memberitahukan bahwa kisah-kisah zaman akhir itu dimiliki oleh kaum muslimin, kaum Nasrani, dan kaum Yahudi. Setiap kaum meyakini bahwa kaumnyalah yang akan menjadi pemimpin dunia. Orang Islam yakin bahwa orang Islam yang akan mengendalikan dunia pada masa akhir zaman. Orang Nasrani juga yakin bahwa merekalah yang akan benar-benar menguasai dunia. Demikian pula orang-orang Yahudi sangat kuat keyakinannya terhadap kehadiran Raja Yahudi yang ditunggu-tunggu untuk mengangkat kemuliaan Yahudi dan mengalahkan Goliath Arab.

            Hal yang sangat menarik adalah, baik kaum muslimin, Nasrani, maupun Yahudi sama-sama meyakini bahwa pada akhir zaman mereka akan terlibat perang besar di Yerusalem, tanah Palestina. Perbedaannya, setiap kelompok meyakini bahwa kelompoknyalah yang akan menang, sedangkan kelompok yang lainnya adalah para penjahat yang harus dikalahkan.

            Hal ini pula yang menjelaskan bahwa kekisruhan, kekalutan, kejahatan, kekejian, pembunuhan, ketidakadilan, kesengsaraan, pertengkaran, konflik di Yerusalem, Palestina tidak kunjung usai. Mereka selalu terlibat saling bunuh, saling culik, saling rusak, dan saling serang. Mereka tidak pernah bisa berhenti karena salah satunya adalah keyakinan terhadap kisah-kisah zaman akhir yang  memberitakan bahwa merekalah yang akan menjadi pemenang pertarungan di kawasan itu.

            Orang Islam yakin akan menang, Nasrani juga percaya mereka yang menjadi pemenangnya, Yahudi pun demikian pula sangat yakin akan menguasai dunia.

            Lalu, pertanyaannya sampai kapan kegoncangan dan saling bunuh itu akan berhenti?

            Jawaban orang Islam pastinya jika orang Islam berkuasa. Jawaban Nasrani juga begitu, jika Nasrani memegang kendali. Jawaban Yahudi apalagi, situasi akan terkendali jika Raja Yahudi yang mereka tunggu sudah hadir di muka Bumi.

            Semua saling klaim.

            Lalu, siapa yang paling benar?

            Setiap pemeluk agama akan mengklaim dirinya adalah yang paling benar. Ketika para pemeluk agama itu sedang saling klaim, di tanah Yerusalem, Palestina, terus terjadi pembunuhan-pembunuhan, kekerasan, banjir darah, penggusuran, penganiayaan yang korbannya adalah para pemeluk agama dari setiap pihak yang bertikai.

            Jadi, begitulah keyakinan tentang kisah zaman akhir versi muslim melawan zaman akhir versi Nasrani melawan zaman akhir versi Yahudi.

            Jadi, harus bagaimana atuh?




            Saya sebagai muslim, berharap bahwa kaum muslimin lebih dewasa, lebih rasional, dan lebih bijak dalam menyebarkan rahmat bagi semesta alam.

            Bagaimana caranya?

            Entar dululah. Sedikit-sedikit dulu menerangkannya, bisi pusing.

            BTW, bagi lulusan SMP/MTs yang mau meneruskan sekolah, bisa ke “MA Mawaddi di Kompleks Pondok Pesantren As Saadah, Desa Kamasan, Kecamatan Banjaran, Kabupaten Bandung”.

            Bagi lulusan MA/SMK/SMA yang mau meneruskan kuliah ke “Universitas Al-Ghifari”, klik http://pmb.unfari.ac.id , banyak beasiswanya lho.

            Sampurasun

Thursday, 23 January 2020

Situasi Sunda dalam Uga Wangsit Siliwangi


oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Akhir-akhir ini kita dikejutkan oleh munculnya kerajaan-kerajaan baru di Indonesia. Ada yang memang benar-benar baru, ada pula yang mengaku merupakan kelanjutan dari kerajaan lama. Hal yang menarik adalah berita-berita yang beredar semakin menjurus ke arah  kerajaan-kerajaan yang bersuku Sunda. Hal ini bisa dilihat dari keresahan keluarga kerajaan “Sumedang Larang” dan “Galuh”. Kedua kerajaan ini sah dan diakui, baik oleh masyarakat maupun pemerintah Republik Indonesia. Keduanya cukup kaget dengan kehadiran “Sunda Empire” di Bandung dan “Kesultanan Selacau” di Tasikmalaya, Jawa Barat. Kerajaan-kerajaan ini mencoba beradu data, fakta, latar belakang, sumber ajaran, wilayah, situs-situs, tradisi, dan pusaka peninggalan leluhur. Meskipun pertentangannya tidak keras, tetapi perbedaan-perbedaan itu nyata ada dan menimbulkan kesemrawutan sejarah. Hal ini akan sangat berpengaruh, terutama kepada masyarakat awam.

            Terkait hal itu, segera saja saya teringat pada “Uga Wangsit Siliwangi”. Uga itu biasa diartikan sebagai ramalan, prediksi, ataupun “berita masa depan”.

            Dalam Uga Wangsit Siliwangi pada alinea keenam, sudah dijelaskan akan adanya mereka yang melakukan pengacauan sejarah dan data tentang Pajajaran. Berita-berita akhir-akhir ini seolah-olah sedang terjadi kekacauan kronologis sejarah itu.

            Coba perhatikan bagian akhir dari alinea keenam dalam Uga Wangsit Siliwangi tersebut.

            Dalam bahasa Sunda:

            “….Ti mimiti poé ieu, Pajajaran leungit ti alam hirup. Leungit dayeuhna, leungit nagarana. Pajajaran moal ninggalkeun tapak, jaba ti ngaran pikeun nu mapay. Sabab bukti anu kari, bakal réa nu malungkir! Tapi engké jaga bakal aya nu nyoba-nyoba, supaya anu laleungit kapanggih deui. Nya bisa, ngan mapayna kudu maké amparan. Tapi anu marapayna loba nu arieu-aing pang pinterna. Mudu arédan heula.”

            Dalam bahasa Indonesia:

            “….Sejak hari ini, Pajajaran hilang dari alam nyata. Hilang kotanya, hilang negaranya. Pajajaran tidak akan meninggalkan jejak, kecuali nama untuk mereka yang menelusurinya. Hal itu disebabkan bukti yang ada akan diingkari banyak pihak! Akan tetapi, nanti, suatu saat, akan ada yang mencoba-coba supaya yang hilang dapat ditemukan kembali. Memang bisa, hanya menelusurinya harus menggunakan dasar-dasar yang jelas. Namun, mereka yang menelusurinya banyak yang petantang-petenteng merasa diri paling pintar dan paling benar. Kalau berbicara, suka berlebihan. Mereka memang harus menjadi orang-orang brengsek dulu.”

            Begitulah yang tertulis dalam Uga Wangsit Siliwangi. Tak perlu heran dan aneh dengan banyaknya kisah yang sangat mungkin beradu dan bertolak belakang. Toh, dari ratusan tahun lalu sudah diprediksikan terjadi. Paling-paling kita cuma kesal dan merasa lucu.

            Meskipun demikian, suatu saat akan ada yang meluruskannya dengan benar. Dialah yang disebut-sebut sebagai “Budak Angon” yang dalam istilah Jawa disebut “Cah Angon”, ‘Anak Gembala’. Bukan hanya meluruskan sejarah, melainkan pula meluruskan kehidupan di Indonesia mencapai kejayaannya. Dalam berbagai ramalan dari Suku Jawa, Cah Angon ini disebut pula “Imam Mahdi” yang memiliki dua istana: satu di Mekah, satu di Pulau Jawa. Artinya, dia muslim yang mencintai Negara Indonesia.

            Sikapilah prediksi itu dengan tenang dan jangan terlalu terobsesi. Kalaulah memang itu harus terjadi dan sudah ada dalam rencana Allah swt, peristiwa itu bakal terjadi. Tidak perlu hidup bersandar pada ramalan. Kita hidup di alam nyata yang harus belajar, bekerja, berkarir, bersosialisasi, beribadat, dan berprestasi, baik di hadapan Allah swt maupun di hadapan manusia.

            Sampurasun.

Sunday, 10 April 2011

Kemaksiatan Itu Ternyata Namanya Demokrasi

oleh Tom Finaldin

Bandung, Putera Sang Surya

Dulu, sekitar pertengahan 2001, beberapa bulan sebelum terjadi tragedi menara kembar WTC di Amerika Serikat, saya banyak membaca berbagai literatur yang membahas tentang Imam Mahdi dan Dajjal Laknatullah. Saat itu banyak hadits Nabi Muhammad yang tidak bisa saya pahami karena seluruhnya berbicara tentang masa depan yang tanda-tandanya sama sekali tidak jelas. Hal yang paling mudah saya lakukan adalah mengikuti pendapat para ahli agama yang tidak terlalu konsen terhadap Al Mahdi dan Dajjal. Perlu diingat bahwa hampir seluruh organisasi Islam di Indonesia ini sangat jarang membahas Al Mahdi dan Dajjal, termasuk tiga organisasi besar, yaitu: Muhammadiyah, Persis, dan NU. Hal itu bisa diperhatikan dari berbagai ceramah para ahli mereka yang sangat jarang atau hampir tidak membahas Al Mahdi dan Dajjal. Beberapa orang di antara mereka berpandangan bahwa hadits-hadits tentang Al Mahdi dan Dajjal itu bisa dibilang lemah karena tidak terdapat dalam sumber hadits penting yang berasal dari Bukhari Muslim. Memang, kebanyakan hadits-hadits itu bersumber dari Ibnu Majjah, An Nassai, dan lain sebagainya. Saya saat itu mulai pula menganggap lemah hadits-hadits itu, bahkan memandangnya sebagai dongengan yang dibuat-buat umat Islam yang dulunya beragama nasrani.

Akan tetapi, setelah terjadi penabrakan gedung menara kembar WTC di AS yang menghebohkan pada September 2001 itu, saya merasa aneh. Saya melihatnya seperti sebuah rekaman film. Saya seperti sudah mengetahui kejadian itu sebelum terjadi secara nyata. Hal itu disebabkan saya merasa pernah membaca kejadian itu beberapa bulan sebelumnya, yaitu sekitar Mei 2001. Kemudian, saya mencoba mengobrak-abrik perpustakaan pribadi saya mencari buku yang melukiskan peristiwa tersebut. Akhirnya, saya dapatkan. Bahkan, di buku itu sudah tertulis berbagai malapetaka di Irak yang kemudian terbukti beberapa tahun setelahnya. Sejak saat itu, saya mulai lagi mencoba memahami hadits-hadits yang dulu dianggap lemah, bahkan dianggap sebagai dongengan.

Dalam tulisan kali ini saya ingin berbagi dengan Saudara-saudara pembaca yang budiman mengenai hadits Nabi yang dulu sulit saya pahami. Ada dua hadits yang membuat saya tertarik, yaitu Rasulullah saw menyatakan bahwa Al Mahdi akan datang ketika Bumi ditimpa banyak bencana. Pernyataan selanjutnya adalah Al Mahdi akan datang membersihkan Bumi dan meliputinya dengan kebaikan sebagaimana Bumi telah tertutupi oleh kemaksiatan.

Pada 2001 saya sama sekali tidak bisa paham bahwa Al Mahdi akan datang ketika Bumi ditimpa banyak bencana. Bagaimana mungkin? Bencana apa? Saat itu sama sekali tidak ada tanda-tanda datangnya bencana di muka Bumi ini. Semua berjalan normal. Wajar toh jika saya kemudian mengikuti orang-orang yang ahli agama itu dengan menganggapnya sebagai hadits lemah. Akan tetapi, pada saat ini subhanallah, hadits itu bisa sangat mudah dipahami karena bencana demi bencana sudah menjadi tontonan banyak orang setiap hari di seluruh muka Bumi ini. Bencana-bencana yang terjadi saat ini membuktikan kebenaran hadits Nabi tersebut yang sekaligus pula menjadi petunjuk bagi kita tentang kehadiran Al Mahdi yang akan membersihkan Bumi dari segala kemaksiatan, kemudian memenuhinya dengan kebaikan dan keadilan.

Di samping itu, saya pun tidak bisa mengerti bahwa Al Mahdi akan memenuhi Bumi ini dengan kebaikan setelah sebelumnya diliputi kemaksiatan. Saya tidak bisa mengerti jika Bumi ini bisa diliputi atau tertutupi oleh kemaksiatan. Bagaimana mungkin? Saya tidak bisa paham jika Bumi ini seluruhnya berada dalam kemaksiatan. Hal itu sangat mustahil terjadi. Bukankah setiap hari selalu ada pertarungan antara kemaksiatan dan kebaikan? Orang-orang baik, moralis, humanis, dan religius selalu berupaya keras melakukan perlawanan terhadap kejahatan dan kemaksiatan. Jadi, Bumi ini tidak akan pernah ditutupi seluruhnya oleh kemaksiatan karena selalu ada perlawanan. Demikian pemikiran saya saat itu. Dengan pemikiran seperti itu, wajar pula saya menganggap hadits tersebut lemah karena akal memustahilkannya terjadi.

Akan tetapi, saat ini saya benar-benar paham bahwa Bumi ini akan sungguh-sungguh diliputi awan gelap kemaksiatan. Pada saat ini pun sebenarnya Bumi sedang dalam proses percepatan ke arah kegelapan tersebut. Perlawanan dari orang-orang baik sama sekali tidak mempengaruhi bagi kejahatan dan kemaksiatan untuk menguasai seluruh muka Bumi. Sebentar lagi Bumi akan benar-benar gelap penuh kemaksiatan. Seluruhnya akan tunduk dan takluk pada kemaksiatan. Puncak kejahatan akan merajai seluruh muka Bumi ini. Hal itu disebabkan kaum moralis, orang-orang baik, humanis, religius, dan idealis telah tertipu serta tenggelam dalam kemaksiatan. Orang-orang akan menyangka berbuat kebaikan, padahal sesungguhnya sedang melakukan penguatan dan dukungan terhadap berkuasanya kemaksiatan di muka Bumi ini.

Pada saat itulah berlaku ketentuan Allah swt terhadap orang-orang yang menyangka dirinya telah berbuat kebaikan, padahal sesungguhnya melakukan keburukan.

“Katakanlah, ‘Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya? Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.’.” (QS Al Kahfi : 103-104).

Saudara-saudara sekalian, dulu saya tidak bisa mengerti kemaksiatan macam apa yang akan menguasai Bumi ini sehingga gelap gulita tak ada cahaya. Apakah semua orang menjadi pezinah, pembunuh, pemabuk, penjudi, koruptor, atau penipu? Kini saya mengerti bahwa maksud dari Rasulullah saw bahwa Bumi akan diliputi oleh kemaksiatan itu adalah kemaksiatan yang namanya demokrasi!

Coba perhatikan saat ini di berbagai belahan dunia telah digaungkan dan dikeramatkan itu yang namanya politik demokrasi. Bahkan, di Timur Tengah tengah digenjot dan dipaksa untuk mengikuti sistem politik demokrasi. Syetan Jin Iblis dan Syetan Manusia Dajjal tengah berdendang untuk mencapai kemenangannya. Dengan demokrasi, para penjahat kemanusiaan dan perampok kekayaan negara akan mudah menguasai hajat hidup orang banyak dan bersenang-senang di atas penderitaan orang lain. Dengan demokrasi, berarti terbuka lebar ribuan pintu kemaksiatan yang perwujudannya adalah korupsi, aksi tipu-tipu, jual-beli legislasi, kemunafikan, pertengkaran, konflik horizontal, tirani kehidupan, pembunuhan, penganiayaan, degradasi moral, kebebasan tak terbatas, perampokan hak rakyat, pelacuran, kriminalitas, berkurangnya rasa hormat serta persaudaraan, dan lain sebagainya.

Dalam tulisan lain akan dikupas bagaimana kebejatan demokrasi di negara mbah demokrasi, AS.
Jika merujuk pada hadits Nabi di atas bahwa Bumi akan diliputi kemaksiatan, artinya demokrasi akan menguasai dunia. Itu pasti. Demokrasi akan menang dengan beragam bentuknya, tersebar hampir merata di muka Bumi. Mari kita buktikan dengan memperhatikan kondisi dunia pada hari-hari selanjutnya. Kegelapan pun semakin pekat. Para kapitalis, pencoleng, pendusta, dan pemimpin rakus bersuka ria memakan harta-harta rakyat di berbagai negara. Orang-orang baik tertipu dalam posisinya. Orang-orang kecil yang sudah bingung akan tambah bingung.

Khusus di negeri ini, Indonesia yang kita cintai, kondisi kegelapan itu sedang dan terus menyempurnakan kegelapannya. Hal itu telah dilukiskan oleh Prabu Siliwangi ratusan tahun silam dalam bahasa Sunda berikut ini.

Buta-buta nu baruta. Mingkin hareup mingkin bedegong, ngaleuwihan kebo bulé. Arinyana teu nyaraho, jaman manusa dikawasaan ku sato!

Dalam bahasa Indonesia.

Raksasa-raksasa yang beringas semakin hari semakin bandel, sombong, pongah, brutal, dan sewenang-wenang melebihi kerbau bule. Mereka tidak sadar bahwa zaman manusia sudah dikuasai binatang!

Itu sudah takdir yang tidak bisa diubah-ubah lagi. Saat ini kegelapan kemaksiatan belum mencapai puncaknya. Namun, sebentar lagi kejahatan akan benar-benar berkuasa di seluruh muka Bumi ini. Penderitaan, keputusasaan, dan kebingungan akan menghinggapi banyak orang. Gelap, gelap sekali keadaannya.

Akan tetapi, kekuasaan Raja Kegelapan itu hanya akan bertahan sangat sebentar karena Al Mahdi akan segera datang menghapus seluruh kegelapan dan memenuhi Bumi ini dengan kebaikan hingga tak ada seorang pun yang dirugikan. Hal itu sesuai dengan teori dalam ilmu fisika, yaitu semakin besar tekanan, semakin besar pula perlawanan terhadap tekanan itu. Perhatikan balon. Jika balon itu ditekan dan terus ditekan, pada titik tertentu akan terjadi ledakan. Perhatikan pula air dalam pipa atau dalam alat suntik yang jika ditekan, air akan keluar sesuai dengan energi yang dikeluarkan penekan.

Renungkanlah nasihat Syekh Abdul Qadir Jaelani. Jika kemaksiatan, penderitaan, dan kejahatan itu diibaratkan malam, semakin malam akan semakin gelap dan semakin dingin. Semakin malam penderitaan itu semakin menyiksa. Kalau kita berdoa, tak akan dikabulkan karena bukan waktunya. Artinya, jika kita berdoa agar malam segera berakhir, tetapi berdoa pada pukul 10 malam, itu pasti tidak akan dikabulkan. Akan tetapi, doa itu tetap didengar dan mendapatkan pahala atas perilaku berdoanya walaupun tidak akan mengubah keadaan. Sehebat apapun kita berdoa agar cepat siang, Allah swt tak akan mengabulkannya. Demikian pula dalam kehidupan ini. Sehebat apa pun kita berdoa agar kemaksiatan, penderitaan, kehinaan, kebingungan, dan kejahatan ini hilang, tak akan dikabulkan. Hal itu disebabkan memang sedang waktunya kemenangan untuk kegelapan. Semakin gelap, semakin menderita, semakin menyakitkan.

Akan tetapi, Syekh Abdul Qadir Jaelani mengatakan bahwa semakin malam, semakin dingin, semakin gelap, itu artinya pertanda fajar segera tiba. Matahari sebentar lagi terbit. Pada waktu yang tepat Sang Surya kembali menyinari Bumi, kehangatan pun datang menyenangkan. Kegetiran malam pun sudah tak ada lagi. Kehangatan pagi terus berubah menjadi terang benderang sebagaimana Sang Surya menerangi Bumi dengan sinarnya yang terang dan bermanfaat bagi seluruh kehidupan ini.

Al Mahdi datang menghancurkan kemaksiatan. Bumi penuh keadilan. Demokrasi pun terbuang dalam sejarah memilukan. Hal itu disebabkan demokrasi merupakan pintu gerbang ribuan kemaksiatan di muka Bumi ini.

Khusus di negeri kita, Indonesia tercinta, ada pesan leluhur dari Kitab Musarar Jayabaya, yaitu:

Banyak hal yang luar biasa. Hujan salah waktu. Banyak gempa dan gerhana. Nyawa tidak berharga. Tanah Jawa berantakan. Kemudian, Raja Kara Murka Kutila musnah. Kemudian, kelak akan datang Tunjung Putih Semune Pudak Kasungsang. Lahir di Bumi Mekah. Menjadi raja di dunia, bergelar Ratu Amisan, redalah kesengsaraan di Bumi, nakhoda ikut ke dalam persidangan. Raja keturunan waliyullah. Berkedaton dua di Mekah dan Tanah Jawa. Letaknya dekat dengan Gunung Perahu, sebelah barat tempuran. Dicintai pasukannya. Memang raja yang terkenal sedunia.

Setelah anomali iklim, bencana alam, bencana kemanusiaan, bencana politik, bencana ekonomi, dan bencana-bencana lainnya sempurna menghancurkan negeri ini, maka Raja Kara Murka Kutila pun musnah. Raja Kara Murka itu artinya para pemimpin yang saling jegal, saling menjatuhkan. Kutila itu artinya demokrasi atau reformasi. Maksudnya adalah zaman atau era para pemimpin saling jegal sebagai ciri khas demokrasi yang menyuarakan reformasi itu akan musnah, hilang, hancur. Kemudian, tampil pemimpin baru yang memiliki sifat nasionalis-religius, sebagaimana yang disampaikan Jayabaya tadi, berkedaton dua di Mekah dan Tanah Jawa, ‘punya dua istana, yaitu satu di Mekah dan satu lagi di Indonesia’. Maksudnya, pemimpin yang taat menjalankan ajaran Islam serta sangat mencintai rakyat dan tanah airnya. Pemimpin ini akrab di telinga masyarakat Indonesia dengan sebutan Ratu Adil.

Mengapa demokrasi hancur? Penyebabnya adalah perilaku para elit sendiri, sebagaimana yang disebutkan oleh Prabu Siliwangi, yaitu:

Jayana buta-buta, hanteu pati lila; tapi, bongan kacarida teuing nyangsara ka somah anu pada ngarep-ngarep caringin reuntas di alun-alun. Buta bakal jaradi wadal, wadal pamolahna sorangan.

Artinya:

Kekuasaan raksasa-raksasa buta itu tidak terlalu lama, tetapi selama berkuasa itu keterlaluan sekali menindas rakyat susah yang sedang berharap datangnya mukjizat, pohon beringin tumbang di alun-alun. Raksasa-raksasa itu akan menjadi tumbal, tumbal kejahatannya sendiri.

Para elit yang pongah itu akan hancur karena tindakannya sendiri. Mereka akan terbelalak saat kejatuhannya yang tiba-tiba. Mereka tidak percaya bisa terjerembab seperti itu.

Demikianlah. Kembali pada judul tulisan ini. Saya baru paham sekarang bahwa yang dimaksud kemaksiatan yang meliputi Bumi ini adalah sistem politik demokrasi. Saya sangat senang karena demokrasi akan hancur dan dihancurkan oleh Imam Mahdi yang akan memenuhi Bumi dengan kebaikan. Kebenaran akan menang. Kejahatan dan kemaksiatan di muka Bumi ini akan musnah. Demikian pula di negeri ini, demokrasi akan jatuh merana. Situasi akan berubah cepat dalam kepemimpinan Ratu Adil yang akan membuang demokrasi dalam sampah perpolitikan.

Sekarang tinggal keputusan kita sendiri. Akankah posisi kita berada dalam barisan Imam Mahdi dan Ratu Adil atau menjadi musuhnya atau mungkin hanya menjadi penonton?

Ingat, setiap keputusan dan tindakan kita akan menimbulkan akibat terhadap diri kita sendiri, baik di dunia ini maupun di akhirat. Kita harus memilih untuk kebaikan diri kita sendiri. Saat kita memilih posisi, Allah swt memperhatikan apa yang terjadi dalam jiwa kita dan dengan itulah Allah swt menentukan kualitas setiap jiwa di sisi-Nya.