Showing posts with label Dajjal Laknatullah. Show all posts
Showing posts with label Dajjal Laknatullah. Show all posts

Wednesday, 18 April 2012

Penipu & Tertipu

oleh Tom Finaldin

Bandung, Putera Sang Surya
Demokrasi itu sistem politik penuh dusta, curang, menjijikan, dan jauh dari kebaikan. Mereka yang masih mencintai dan melaksanakan demokrasi hanyalah para penipu dan tertipu. Para penipu tahu benar cara membohongi rakyat yang sedang hidup dalam kesusahan. Mereka akan mengelabui mata dan perasaan rakyat untuk memilihnya dengan menggunakan janji-janji kosong memuakkan serta menebar uang recehan yang nilainya tidak seberapa. Lihat saja slogan-slogan para penipu yang tertera dalam spanduk, baligo, poster, ataupun berbagai media lainnya. Seluruhnya tak memiliki makna, kerjaannya para tukang bahasa slogan. Kalimat-kalimatnya hampa, tidak memiliki ruh. Para penipu itu sesungguhnya hanya ingin menggali dan merampok uang serta energi rakyat untuk kepentingan diri dan kelompoknya. Mereka tahu benar bahwa rakyat masih terabui matanya dengan pengetahuan tak berdasar bahwa demokrasi itu adalah sistem politik yang terbaik. Mereka akan berupaya keras menggunakan sumber daya yang dimilikinya untuk melakukan penipuan terhadap rakyat. Hal itu disebabkan mereka sangat paham bahwa rakyat dari kelas bawah sampai kelas atas, termasuk akademisi masih bloon dengan menganggap bahwa demokrasi itu adalah sistem politik yang paling mulia.

           Kalau bukan penipu, mereka yang masih mencintai dan melaksanakan demokrasi adalah orang-orang yang tertipu. Tertipu dari apa? Tertipu dari pemahaman bahwa demokrasi itu adalah sistem politik yang terbaik. Mereka terus saja berputar-putar memusingkan diri mengikuti sistem politik Syetan Laknatullah ini, padahal sejarah dan ilmu pengetahuan, bahkan agama Islam menolak keras demokrasi.  

Ketertipuan orang-orang yang tertipu ini dinikmati terus karena kebodohan yang tertutup kegelapan ketololan. Mereka tahu dan merasakan benar bahwa demokrasi tidak bisa menyelesaikan masalah, malahan menumbuhkan masalah dan penderitaan baru, tetapi tak memiliki jalan lain untuk mengubah demokrasi karena tidak memiliki kepercayaan kepada diri sendiri bahwa Allah swt telah memberinya petunjuk untuk keluar dari kejahatan demokrasi menuju keadilan, keagungan, dan kemuliaan kehidupan.

           Pendeka kata, mereka yang mencintai dan melaksanakan demokrasi itu adalah kalau bukan penipu, pasti orang-orang yang tertipu. Apa ada jenis manusia lain di luar penipu dan tertipu? Pilih saja di antara keduanya, Saudara termasuk yang mana?

            Mungkin ada orang yang menyangka dirinya cerdas dengan mengamini dan mengagungkan demokrasi. Ia menganggap dirinya pintar dan hebat. Sesungguhnya, orang jenis ini adalah orang-orang yang benar-benar telah tertipu secara ganda. Pertama, ia tertipu dengan pemahaman bahwa demokrasi adalah sistem politik yang paling hebat. Kedua, ia tertipu mengira dirinya cerdas atau pintar, padahal sesungguhnya bego nggak ketulungan.

            Kalau saya, tidak mau jadi orang yang tertipu atau penipu. Saya ingin menjadi orang yang tercerahkan. Demokrasi itu mainannya Dajjal Laknatullah. Demi Allah swt.

Wednesday, 4 May 2011

Permusuhan Itu Sudah Ditakdirkan

Rata Penuholeh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya

Banyak orang bermimpi terjadinya perdamaian di antara manusia. Beragam cara dilakukan untuk membuat hidup manusia berada dalam keadaan damai. Itu adalah cita-cita yang mulia, tidak salah, dan mengupayakan untuk terciptanya kondisi seperti itu pun adalah bentuk kemuliaan pula. Akan tetapi, sayangnya, kondisi itu sampai kapan pun tidak akan pernah tercipta dengan nyata. Manusia tetap akan saling bermusuhan satu sama lainnya. Ada dua kelompok besar yang selalu akan bermusuhan, yaitu: kelompok kebaikan dan kelompok kejahatan. Pertarungan keduanya akan terus berlangsung sampai kiamat.

Sudah menjadi sejarah kehidupan bahwa tak akan pernah ada kata damai di antara kedua kelompok besar tersebut. Kisah permusuhan ini diawali sejak Nabi Adam as diciptakan. Saat Adam as tercipta sempurna, seluruh malaikat diperintahkan untuk bersujud kepadanya. Malaikat pun bersujud, kecuali Iblis. Iblis enggan bersujud karena kebodohan dan kesombongannya. Dia menganggap dirinya lebih mulia daripada Adam as karena diciptakan dari api, sedangkan Adam as diciptakan dari tanah. Dia bodoh karena menganggap api lebih mulia dibandingkan tanah. Dia sombong karena tidak mematuhi perintah Allah swt. Sejak saat itu terjadilah permusuhan antara kejahatan dan kebaikan, tak ada satu celah kecil pun yang dapat digunakan untuk berkompromi menyelesaikan masalah itu. Semua jalan telah tertutup rapat, permusuhan tanpa henti pun dimulai sampai dengan Allah swt mengumpulkan kejahatan dalam sebuah tempat yang bernama Neraka dan mengumpulkan kebaikan dalam sebuah tempat yang bernama Surga.

Setelah Allah swt menciptakan Adam as dan istrinya, Hawa, Allah swt memberikan tempat kepada keduanya di surga. Allah swt memberikan kesenangan dan kewenangan kepada keduanya untuk menguasai dan menikmati surga, kecuali sebuah pohon. Allah swt mewanti-wanti Adam as dan istrinya agar tidak mendekati pohon itu. Akan tetapi, Iblis menggoda keduanya sehingga bukan saja mendekati, melainkan pula memakan buah dari pohon itu. Buah pohon itu dikenal dengan nama buah khuldi.

Akibat pelanggaran yang dilakukan Adam as dan istrinya setelah digoda Iblis, Allah swt mengeluarkan keduanya dari kenikmatan surga. Di samping itu, Allah swt menegaskan bahwa di tempatnya yang baru, yaitu Bumi tempat kita sekarang ini tinggal, manusia akan bermusuhan satu sama lain. Itu adalah ketetapan dari Pemilik Ketetapan, Allah swt, sebagaimana dalam ayat berikut ini.

“...’Turunlah kamu! Sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain. Bagi kamu ada tempat tinggal dan kesenangan di Bumi sampai waktu yang ditentukan’.” (QS Al Baqarah : 36)

Berdasarkan ayat di atas, Allah swt telah menakdirkan bahwa manusia akan saling bermusuhan antara satu dan yang lainnya. Dengan demikian, jangan terlalu banyak berkhayal bahwa akan terjadi perdamaian yang hakiki di atas muka Bumi ini. Kenyataan yang terjadi adalah pertarungan antara manusia-manusia baik dan manusia-manusia jahat dengan hasil suatu saat manusia baik berkuasa dan manusia jahat berada di bawah tekanan. Pada saat yang lain manusia jahat berkuasa dan manusia baik tertindas. Demikian seterusnya sampai terjadinya kiamat. Selama Bumi masih berputar, kejadian itu terus berlangsung berulang-ulang. Akan tetapi, semuanya terhenti serta akan berada dalam keadaan konstan dan stabil setelah berada di alam akhirat dan selesainya seluruh perhitungan di pengadilan Allah swt. Kebaikan berada di surga, kejahatan berada di neraka. Demikian seterusnya, tak akan berubah lagi. Kekal abadi.

Bagi kita, semua ini adalah pilihan. Kita diberikan kebebasan untuk menjadi manusia baik atau manusia jahat. Jika memilih menjadi manusia baik, berarti berada di barisan para nabi dan malaikat. Jika memilih menjadi manusia jahat, berarti bermesra-mesraan dengan Iblis dan Dajal Laknatullah. Kebaikan berakhir surga, kejahatan berakhir neraka. Kejahatan dan kebaikan tidak pernah bisa bersatu, kecuali tersamarkan. Kejahatan sangat terbiasa mencari pengikut sekaligus mengalahkan kebaikan dengan berpura-pura menjadi baik. Dengan demikian, orang-orang baik akan tertipu menyangka dirinya telah berbuat baik, tetapi sesungguhnya sedang melakukan kejahatan.

Negeri kita, Indonesia, telah memantapkan dan memposisikan dirinya berada dalam kebaikan. Hal itu bisa sangat terlihat dari Pembukaan UUD 1945 alinea pertama.

Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.

Alinea tersebut menjelaskan bahwa setiap manusia dan setiap bangsa berhak merdeka. Itu adalah pernyataan kebaikan, bukan? Selanjutnya, Indonesia menyatakan permusuhan terhadap penjajahan. Pernyataan itu ditegaskan dengan bahwa penjajahan itu harus dihapuskan, ditiadakan, dihancurkan. Mengapa harus dihapuskan? Karena penjajahan itu tidak sesuai dengan perimanusiaan dan perikeadilan. Artinya, Indonesia adalah negara yang memposisikan dirinya sebagai pembela manusia dan pembela keadilan sekaligus bermusuhan dengan penjajah dan penjajahan.

Penjajahan yang bagaimana yang harus dihapuskan? Penjajahan dengan segala bentuknya, mulai yang paling kasar dengan fisik sampai yang paling lembut dan menipu, semisal, pinjaman hutang, hibah-hibah, dan kerjasama-kerjasama siluman yang membuat negara bertekuk lutut terhadap negara lain karena diharuskan mengikuti berbagai syarat penjajah.

Penjajahan di mana yang harus dihapuskan? Penjajahan di seluruh muka Bumi sepanjang waktu. Oleh sebab itu, politik luar negeri Indonesia harus selalu mengacu pada politik luar negeri yang bebas dan aktif. Bebas tekanan dari pihak mana pun dan aktif menggalang perdamaian dalam arti menghapus penjajahan.

Sudah menjadi kewajiban bangsa Indonesia untuk mengambil sikap bermusuhan dengan penjajahan. Artinya, memiliki jarak yang tegas terhadap negeri-negeri penjajah sepanjang zaman. Jika mampu dan pasti mampu, Indonesia harus memberikan tekanan besar kepada negeri-negeri penjajah untuk segera menghentikan kesewenang-wenangannya di muka Bumi ini. Jangan sampai kita menjadi sahabat erat negeri-negeri penjajah sehingga membiarkan mereka melakukan kejahatan kemanusiaan di atas muka Bumi ini.

Sampai hari ini penjajahan masih berlangsung. Sudah wajib hukumnya bagi kita untuk menghentikan penjajahan itu, bukannya menyetujui bahkan mendukung penjajahan. Jika kita mendukung dan atau membiarkan penjajah serta penjajahan, berarti sama dengan berkhianat terhadap Pembukaan UUD 1945. Lebih jauhnya, negeri ini digiring untuk berada dalam posisi kejahatan. Kejahatan itu jelas tempatnya di neraka jahanam. Para pemimpin yang asyik masyuk dengan negeri-negeri penjajah, bahkan sering menghiba-hiba kepada mereka dan mengikuti cara hidup mereka akan lebih dahulu masuk neraka. Benar-benar masuk neraka! Akan tetapi, mereka akan menderita dulu sebelum ajalnya tiba di muka Bumi ini jika tidak segera bertaubat menghentikan perilakunya yang rendah dan hina itu.

Jangan bermimpi akan terjadi perdamaian hakiki dan kita bisa mencari untung, cari selamat, cari aman, dengan cara plintat-plintut nggak ada harga diri karena itu mustahil terjadi, perselisihan dan permusuhan tidak akan pernah berhenti, sudah takdirnya begitu. Yang harus dilakukan adalah memperjelas posisi kita sebagai bangsa untuk selalu mengambil sikap bermusuhan terhadap kejahatan dan negeri-negeri yang gemar berbuat jahat. Di samping itu, kita harus bekerja sama dengan negeri-negeri yang anti-imperialisme maupun anti-neokolonialisme untuk menghentikan kejahatan di atas muka Bumi ini. Itu adalah amanat keramat, sakral, dan suci dari Pembukaan UUD 1945. Jangan berkhianat!

Sunday, 10 April 2011

Kemaksiatan Itu Ternyata Namanya Demokrasi

oleh Tom Finaldin

Bandung, Putera Sang Surya

Dulu, sekitar pertengahan 2001, beberapa bulan sebelum terjadi tragedi menara kembar WTC di Amerika Serikat, saya banyak membaca berbagai literatur yang membahas tentang Imam Mahdi dan Dajjal Laknatullah. Saat itu banyak hadits Nabi Muhammad yang tidak bisa saya pahami karena seluruhnya berbicara tentang masa depan yang tanda-tandanya sama sekali tidak jelas. Hal yang paling mudah saya lakukan adalah mengikuti pendapat para ahli agama yang tidak terlalu konsen terhadap Al Mahdi dan Dajjal. Perlu diingat bahwa hampir seluruh organisasi Islam di Indonesia ini sangat jarang membahas Al Mahdi dan Dajjal, termasuk tiga organisasi besar, yaitu: Muhammadiyah, Persis, dan NU. Hal itu bisa diperhatikan dari berbagai ceramah para ahli mereka yang sangat jarang atau hampir tidak membahas Al Mahdi dan Dajjal. Beberapa orang di antara mereka berpandangan bahwa hadits-hadits tentang Al Mahdi dan Dajjal itu bisa dibilang lemah karena tidak terdapat dalam sumber hadits penting yang berasal dari Bukhari Muslim. Memang, kebanyakan hadits-hadits itu bersumber dari Ibnu Majjah, An Nassai, dan lain sebagainya. Saya saat itu mulai pula menganggap lemah hadits-hadits itu, bahkan memandangnya sebagai dongengan yang dibuat-buat umat Islam yang dulunya beragama nasrani.

Akan tetapi, setelah terjadi penabrakan gedung menara kembar WTC di AS yang menghebohkan pada September 2001 itu, saya merasa aneh. Saya melihatnya seperti sebuah rekaman film. Saya seperti sudah mengetahui kejadian itu sebelum terjadi secara nyata. Hal itu disebabkan saya merasa pernah membaca kejadian itu beberapa bulan sebelumnya, yaitu sekitar Mei 2001. Kemudian, saya mencoba mengobrak-abrik perpustakaan pribadi saya mencari buku yang melukiskan peristiwa tersebut. Akhirnya, saya dapatkan. Bahkan, di buku itu sudah tertulis berbagai malapetaka di Irak yang kemudian terbukti beberapa tahun setelahnya. Sejak saat itu, saya mulai lagi mencoba memahami hadits-hadits yang dulu dianggap lemah, bahkan dianggap sebagai dongengan.

Dalam tulisan kali ini saya ingin berbagi dengan Saudara-saudara pembaca yang budiman mengenai hadits Nabi yang dulu sulit saya pahami. Ada dua hadits yang membuat saya tertarik, yaitu Rasulullah saw menyatakan bahwa Al Mahdi akan datang ketika Bumi ditimpa banyak bencana. Pernyataan selanjutnya adalah Al Mahdi akan datang membersihkan Bumi dan meliputinya dengan kebaikan sebagaimana Bumi telah tertutupi oleh kemaksiatan.

Pada 2001 saya sama sekali tidak bisa paham bahwa Al Mahdi akan datang ketika Bumi ditimpa banyak bencana. Bagaimana mungkin? Bencana apa? Saat itu sama sekali tidak ada tanda-tanda datangnya bencana di muka Bumi ini. Semua berjalan normal. Wajar toh jika saya kemudian mengikuti orang-orang yang ahli agama itu dengan menganggapnya sebagai hadits lemah. Akan tetapi, pada saat ini subhanallah, hadits itu bisa sangat mudah dipahami karena bencana demi bencana sudah menjadi tontonan banyak orang setiap hari di seluruh muka Bumi ini. Bencana-bencana yang terjadi saat ini membuktikan kebenaran hadits Nabi tersebut yang sekaligus pula menjadi petunjuk bagi kita tentang kehadiran Al Mahdi yang akan membersihkan Bumi dari segala kemaksiatan, kemudian memenuhinya dengan kebaikan dan keadilan.

Di samping itu, saya pun tidak bisa mengerti bahwa Al Mahdi akan memenuhi Bumi ini dengan kebaikan setelah sebelumnya diliputi kemaksiatan. Saya tidak bisa mengerti jika Bumi ini bisa diliputi atau tertutupi oleh kemaksiatan. Bagaimana mungkin? Saya tidak bisa paham jika Bumi ini seluruhnya berada dalam kemaksiatan. Hal itu sangat mustahil terjadi. Bukankah setiap hari selalu ada pertarungan antara kemaksiatan dan kebaikan? Orang-orang baik, moralis, humanis, dan religius selalu berupaya keras melakukan perlawanan terhadap kejahatan dan kemaksiatan. Jadi, Bumi ini tidak akan pernah ditutupi seluruhnya oleh kemaksiatan karena selalu ada perlawanan. Demikian pemikiran saya saat itu. Dengan pemikiran seperti itu, wajar pula saya menganggap hadits tersebut lemah karena akal memustahilkannya terjadi.

Akan tetapi, saat ini saya benar-benar paham bahwa Bumi ini akan sungguh-sungguh diliputi awan gelap kemaksiatan. Pada saat ini pun sebenarnya Bumi sedang dalam proses percepatan ke arah kegelapan tersebut. Perlawanan dari orang-orang baik sama sekali tidak mempengaruhi bagi kejahatan dan kemaksiatan untuk menguasai seluruh muka Bumi. Sebentar lagi Bumi akan benar-benar gelap penuh kemaksiatan. Seluruhnya akan tunduk dan takluk pada kemaksiatan. Puncak kejahatan akan merajai seluruh muka Bumi ini. Hal itu disebabkan kaum moralis, orang-orang baik, humanis, religius, dan idealis telah tertipu serta tenggelam dalam kemaksiatan. Orang-orang akan menyangka berbuat kebaikan, padahal sesungguhnya sedang melakukan penguatan dan dukungan terhadap berkuasanya kemaksiatan di muka Bumi ini.

Pada saat itulah berlaku ketentuan Allah swt terhadap orang-orang yang menyangka dirinya telah berbuat kebaikan, padahal sesungguhnya melakukan keburukan.

“Katakanlah, ‘Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya? Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.’.” (QS Al Kahfi : 103-104).

Saudara-saudara sekalian, dulu saya tidak bisa mengerti kemaksiatan macam apa yang akan menguasai Bumi ini sehingga gelap gulita tak ada cahaya. Apakah semua orang menjadi pezinah, pembunuh, pemabuk, penjudi, koruptor, atau penipu? Kini saya mengerti bahwa maksud dari Rasulullah saw bahwa Bumi akan diliputi oleh kemaksiatan itu adalah kemaksiatan yang namanya demokrasi!

Coba perhatikan saat ini di berbagai belahan dunia telah digaungkan dan dikeramatkan itu yang namanya politik demokrasi. Bahkan, di Timur Tengah tengah digenjot dan dipaksa untuk mengikuti sistem politik demokrasi. Syetan Jin Iblis dan Syetan Manusia Dajjal tengah berdendang untuk mencapai kemenangannya. Dengan demokrasi, para penjahat kemanusiaan dan perampok kekayaan negara akan mudah menguasai hajat hidup orang banyak dan bersenang-senang di atas penderitaan orang lain. Dengan demokrasi, berarti terbuka lebar ribuan pintu kemaksiatan yang perwujudannya adalah korupsi, aksi tipu-tipu, jual-beli legislasi, kemunafikan, pertengkaran, konflik horizontal, tirani kehidupan, pembunuhan, penganiayaan, degradasi moral, kebebasan tak terbatas, perampokan hak rakyat, pelacuran, kriminalitas, berkurangnya rasa hormat serta persaudaraan, dan lain sebagainya.

Dalam tulisan lain akan dikupas bagaimana kebejatan demokrasi di negara mbah demokrasi, AS.
Jika merujuk pada hadits Nabi di atas bahwa Bumi akan diliputi kemaksiatan, artinya demokrasi akan menguasai dunia. Itu pasti. Demokrasi akan menang dengan beragam bentuknya, tersebar hampir merata di muka Bumi. Mari kita buktikan dengan memperhatikan kondisi dunia pada hari-hari selanjutnya. Kegelapan pun semakin pekat. Para kapitalis, pencoleng, pendusta, dan pemimpin rakus bersuka ria memakan harta-harta rakyat di berbagai negara. Orang-orang baik tertipu dalam posisinya. Orang-orang kecil yang sudah bingung akan tambah bingung.

Khusus di negeri ini, Indonesia yang kita cintai, kondisi kegelapan itu sedang dan terus menyempurnakan kegelapannya. Hal itu telah dilukiskan oleh Prabu Siliwangi ratusan tahun silam dalam bahasa Sunda berikut ini.

Buta-buta nu baruta. Mingkin hareup mingkin bedegong, ngaleuwihan kebo bulé. Arinyana teu nyaraho, jaman manusa dikawasaan ku sato!

Dalam bahasa Indonesia.

Raksasa-raksasa yang beringas semakin hari semakin bandel, sombong, pongah, brutal, dan sewenang-wenang melebihi kerbau bule. Mereka tidak sadar bahwa zaman manusia sudah dikuasai binatang!

Itu sudah takdir yang tidak bisa diubah-ubah lagi. Saat ini kegelapan kemaksiatan belum mencapai puncaknya. Namun, sebentar lagi kejahatan akan benar-benar berkuasa di seluruh muka Bumi ini. Penderitaan, keputusasaan, dan kebingungan akan menghinggapi banyak orang. Gelap, gelap sekali keadaannya.

Akan tetapi, kekuasaan Raja Kegelapan itu hanya akan bertahan sangat sebentar karena Al Mahdi akan segera datang menghapus seluruh kegelapan dan memenuhi Bumi ini dengan kebaikan hingga tak ada seorang pun yang dirugikan. Hal itu sesuai dengan teori dalam ilmu fisika, yaitu semakin besar tekanan, semakin besar pula perlawanan terhadap tekanan itu. Perhatikan balon. Jika balon itu ditekan dan terus ditekan, pada titik tertentu akan terjadi ledakan. Perhatikan pula air dalam pipa atau dalam alat suntik yang jika ditekan, air akan keluar sesuai dengan energi yang dikeluarkan penekan.

Renungkanlah nasihat Syekh Abdul Qadir Jaelani. Jika kemaksiatan, penderitaan, dan kejahatan itu diibaratkan malam, semakin malam akan semakin gelap dan semakin dingin. Semakin malam penderitaan itu semakin menyiksa. Kalau kita berdoa, tak akan dikabulkan karena bukan waktunya. Artinya, jika kita berdoa agar malam segera berakhir, tetapi berdoa pada pukul 10 malam, itu pasti tidak akan dikabulkan. Akan tetapi, doa itu tetap didengar dan mendapatkan pahala atas perilaku berdoanya walaupun tidak akan mengubah keadaan. Sehebat apapun kita berdoa agar cepat siang, Allah swt tak akan mengabulkannya. Demikian pula dalam kehidupan ini. Sehebat apa pun kita berdoa agar kemaksiatan, penderitaan, kehinaan, kebingungan, dan kejahatan ini hilang, tak akan dikabulkan. Hal itu disebabkan memang sedang waktunya kemenangan untuk kegelapan. Semakin gelap, semakin menderita, semakin menyakitkan.

Akan tetapi, Syekh Abdul Qadir Jaelani mengatakan bahwa semakin malam, semakin dingin, semakin gelap, itu artinya pertanda fajar segera tiba. Matahari sebentar lagi terbit. Pada waktu yang tepat Sang Surya kembali menyinari Bumi, kehangatan pun datang menyenangkan. Kegetiran malam pun sudah tak ada lagi. Kehangatan pagi terus berubah menjadi terang benderang sebagaimana Sang Surya menerangi Bumi dengan sinarnya yang terang dan bermanfaat bagi seluruh kehidupan ini.

Al Mahdi datang menghancurkan kemaksiatan. Bumi penuh keadilan. Demokrasi pun terbuang dalam sejarah memilukan. Hal itu disebabkan demokrasi merupakan pintu gerbang ribuan kemaksiatan di muka Bumi ini.

Khusus di negeri kita, Indonesia tercinta, ada pesan leluhur dari Kitab Musarar Jayabaya, yaitu:

Banyak hal yang luar biasa. Hujan salah waktu. Banyak gempa dan gerhana. Nyawa tidak berharga. Tanah Jawa berantakan. Kemudian, Raja Kara Murka Kutila musnah. Kemudian, kelak akan datang Tunjung Putih Semune Pudak Kasungsang. Lahir di Bumi Mekah. Menjadi raja di dunia, bergelar Ratu Amisan, redalah kesengsaraan di Bumi, nakhoda ikut ke dalam persidangan. Raja keturunan waliyullah. Berkedaton dua di Mekah dan Tanah Jawa. Letaknya dekat dengan Gunung Perahu, sebelah barat tempuran. Dicintai pasukannya. Memang raja yang terkenal sedunia.

Setelah anomali iklim, bencana alam, bencana kemanusiaan, bencana politik, bencana ekonomi, dan bencana-bencana lainnya sempurna menghancurkan negeri ini, maka Raja Kara Murka Kutila pun musnah. Raja Kara Murka itu artinya para pemimpin yang saling jegal, saling menjatuhkan. Kutila itu artinya demokrasi atau reformasi. Maksudnya adalah zaman atau era para pemimpin saling jegal sebagai ciri khas demokrasi yang menyuarakan reformasi itu akan musnah, hilang, hancur. Kemudian, tampil pemimpin baru yang memiliki sifat nasionalis-religius, sebagaimana yang disampaikan Jayabaya tadi, berkedaton dua di Mekah dan Tanah Jawa, ‘punya dua istana, yaitu satu di Mekah dan satu lagi di Indonesia’. Maksudnya, pemimpin yang taat menjalankan ajaran Islam serta sangat mencintai rakyat dan tanah airnya. Pemimpin ini akrab di telinga masyarakat Indonesia dengan sebutan Ratu Adil.

Mengapa demokrasi hancur? Penyebabnya adalah perilaku para elit sendiri, sebagaimana yang disebutkan oleh Prabu Siliwangi, yaitu:

Jayana buta-buta, hanteu pati lila; tapi, bongan kacarida teuing nyangsara ka somah anu pada ngarep-ngarep caringin reuntas di alun-alun. Buta bakal jaradi wadal, wadal pamolahna sorangan.

Artinya:

Kekuasaan raksasa-raksasa buta itu tidak terlalu lama, tetapi selama berkuasa itu keterlaluan sekali menindas rakyat susah yang sedang berharap datangnya mukjizat, pohon beringin tumbang di alun-alun. Raksasa-raksasa itu akan menjadi tumbal, tumbal kejahatannya sendiri.

Para elit yang pongah itu akan hancur karena tindakannya sendiri. Mereka akan terbelalak saat kejatuhannya yang tiba-tiba. Mereka tidak percaya bisa terjerembab seperti itu.

Demikianlah. Kembali pada judul tulisan ini. Saya baru paham sekarang bahwa yang dimaksud kemaksiatan yang meliputi Bumi ini adalah sistem politik demokrasi. Saya sangat senang karena demokrasi akan hancur dan dihancurkan oleh Imam Mahdi yang akan memenuhi Bumi dengan kebaikan. Kebenaran akan menang. Kejahatan dan kemaksiatan di muka Bumi ini akan musnah. Demikian pula di negeri ini, demokrasi akan jatuh merana. Situasi akan berubah cepat dalam kepemimpinan Ratu Adil yang akan membuang demokrasi dalam sampah perpolitikan.

Sekarang tinggal keputusan kita sendiri. Akankah posisi kita berada dalam barisan Imam Mahdi dan Ratu Adil atau menjadi musuhnya atau mungkin hanya menjadi penonton?

Ingat, setiap keputusan dan tindakan kita akan menimbulkan akibat terhadap diri kita sendiri, baik di dunia ini maupun di akhirat. Kita harus memilih untuk kebaikan diri kita sendiri. Saat kita memilih posisi, Allah swt memperhatikan apa yang terjadi dalam jiwa kita dan dengan itulah Allah swt menentukan kualitas setiap jiwa di sisi-Nya.