Showing posts with label Kesultanan Selacau. Show all posts
Showing posts with label Kesultanan Selacau. Show all posts

Saturday, 25 January 2020

Catat Tanggalnya, Lihat Buktinya


oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Kemunculan “Sunda Empire” mengalahkan kehebohan “Keraton Agung Sejagat, Kesultanan Selacau,” dan “Kelompok Negara Rakyat Nusantara”. Pernyataan-pernyataan dari Sunda Empire yang berapi-api penuh keyakinan menguasai pemerintahan-pemerintahan di muka Bumi ini membuat daya tarik luar biasa. Hal itu ditambah lagi dikabarkan mereka memiliki hubungan dengan Jack Ma dan Bill Gates, orang-orang kaya dan berpengaruh di dunia.

            Sebenarnya, kita tinggal menonton saja perjalanan Sunda Empire dalam mengumpulkan negara-negara di dunia dalam kekuasaannya. Toh, tanggal pastinya sudah mereka kemukakan sendiri. Mereka mengklaim bahwa negara-negara terkemuka di dunia ini harus mendaftar ulang karena masa pemerintahan dunia sudah habis, sudah selesai. Negara-negara itu harus datang ke Bandung untuk registrasi ulang mulai 15 Agustus s.d. 24 Oktober 2020. Jika negara-negara itu tidak melakukan her registrasi, seluruh bantuan keuangan kemanusiaan akan dikunci dan dihentikan oleh pihak Sunda Empire. Artinya, kemungkinan negara-negara itu akan goncang dan bangkrut. Jangan lupa pula bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) harus ikut daftar ulang.

            Tanggal pastinya sudah mereka sebutkan dan ancamannya pun sudah mereka jelaskan. Kita tinggal menonton saja menyaksikan perjalanan kisah yang mereka paparkan itu.

            Semua, seluruh penduduk dunia, boleh berpendapat apa saja. Boleh setuju, boleh tidak.  Boleh menganggap Sunda Empire benar, boleh menganggap Sunda Empire mengada-ada. Sebelum tanggal pasti itu tiba¸ berbagai pendapat sangat mungkin terjadi berseliweran. Itu wajar. Akan tetapi, semua akan lebih tampak jelas saat tiba 15 Agustus s.d. 24 Oktober 2020 di Bandung.

            Sementara menunggu tanggal itu tiba, kita tetap saja harus beraktivitas sebagaimana biasanya. Jangan terlalu terobsesi. Biasa saja. Tenang saja.

            Catat tanggalnya, lihat buktinya.

            Sampurasun.

Thursday, 23 January 2020

Situasi Sunda dalam Uga Wangsit Siliwangi


oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Akhir-akhir ini kita dikejutkan oleh munculnya kerajaan-kerajaan baru di Indonesia. Ada yang memang benar-benar baru, ada pula yang mengaku merupakan kelanjutan dari kerajaan lama. Hal yang menarik adalah berita-berita yang beredar semakin menjurus ke arah  kerajaan-kerajaan yang bersuku Sunda. Hal ini bisa dilihat dari keresahan keluarga kerajaan “Sumedang Larang” dan “Galuh”. Kedua kerajaan ini sah dan diakui, baik oleh masyarakat maupun pemerintah Republik Indonesia. Keduanya cukup kaget dengan kehadiran “Sunda Empire” di Bandung dan “Kesultanan Selacau” di Tasikmalaya, Jawa Barat. Kerajaan-kerajaan ini mencoba beradu data, fakta, latar belakang, sumber ajaran, wilayah, situs-situs, tradisi, dan pusaka peninggalan leluhur. Meskipun pertentangannya tidak keras, tetapi perbedaan-perbedaan itu nyata ada dan menimbulkan kesemrawutan sejarah. Hal ini akan sangat berpengaruh, terutama kepada masyarakat awam.

            Terkait hal itu, segera saja saya teringat pada “Uga Wangsit Siliwangi”. Uga itu biasa diartikan sebagai ramalan, prediksi, ataupun “berita masa depan”.

            Dalam Uga Wangsit Siliwangi pada alinea keenam, sudah dijelaskan akan adanya mereka yang melakukan pengacauan sejarah dan data tentang Pajajaran. Berita-berita akhir-akhir ini seolah-olah sedang terjadi kekacauan kronologis sejarah itu.

            Coba perhatikan bagian akhir dari alinea keenam dalam Uga Wangsit Siliwangi tersebut.

            Dalam bahasa Sunda:

            “….Ti mimiti poé ieu, Pajajaran leungit ti alam hirup. Leungit dayeuhna, leungit nagarana. Pajajaran moal ninggalkeun tapak, jaba ti ngaran pikeun nu mapay. Sabab bukti anu kari, bakal réa nu malungkir! Tapi engké jaga bakal aya nu nyoba-nyoba, supaya anu laleungit kapanggih deui. Nya bisa, ngan mapayna kudu maké amparan. Tapi anu marapayna loba nu arieu-aing pang pinterna. Mudu arédan heula.”

            Dalam bahasa Indonesia:

            “….Sejak hari ini, Pajajaran hilang dari alam nyata. Hilang kotanya, hilang negaranya. Pajajaran tidak akan meninggalkan jejak, kecuali nama untuk mereka yang menelusurinya. Hal itu disebabkan bukti yang ada akan diingkari banyak pihak! Akan tetapi, nanti, suatu saat, akan ada yang mencoba-coba supaya yang hilang dapat ditemukan kembali. Memang bisa, hanya menelusurinya harus menggunakan dasar-dasar yang jelas. Namun, mereka yang menelusurinya banyak yang petantang-petenteng merasa diri paling pintar dan paling benar. Kalau berbicara, suka berlebihan. Mereka memang harus menjadi orang-orang brengsek dulu.”

            Begitulah yang tertulis dalam Uga Wangsit Siliwangi. Tak perlu heran dan aneh dengan banyaknya kisah yang sangat mungkin beradu dan bertolak belakang. Toh, dari ratusan tahun lalu sudah diprediksikan terjadi. Paling-paling kita cuma kesal dan merasa lucu.

            Meskipun demikian, suatu saat akan ada yang meluruskannya dengan benar. Dialah yang disebut-sebut sebagai “Budak Angon” yang dalam istilah Jawa disebut “Cah Angon”, ‘Anak Gembala’. Bukan hanya meluruskan sejarah, melainkan pula meluruskan kehidupan di Indonesia mencapai kejayaannya. Dalam berbagai ramalan dari Suku Jawa, Cah Angon ini disebut pula “Imam Mahdi” yang memiliki dua istana: satu di Mekah, satu di Pulau Jawa. Artinya, dia muslim yang mencintai Negara Indonesia.

            Sikapilah prediksi itu dengan tenang dan jangan terlalu terobsesi. Kalaulah memang itu harus terjadi dan sudah ada dalam rencana Allah swt, peristiwa itu bakal terjadi. Tidak perlu hidup bersandar pada ramalan. Kita hidup di alam nyata yang harus belajar, bekerja, berkarir, bersosialisasi, beribadat, dan berprestasi, baik di hadapan Allah swt maupun di hadapan manusia.

            Sampurasun.

Sunday, 19 January 2020

Jaziratul Muluk


oleh Tom Finaldin

Bandung, Putera Sang Surya
Dulu nama Indonesia belum ada. Oleh sebab itu, orang-orang Arab yang datang ke Indonesia menyebutnya “Jaziratul Muluk”, ‘tanah yang banyak rajanya’. Memang tanah di Indonesia itu banyak rajanya. Hampir setiap pulau, dipenuhi banyak raja. Di Bandung ada Dalem Bandung, bergerak ke Sumedang ada Pangeran Kornel, diteruskan ke Kadipaten ada Pangeran Muhammad, dilanjutkan ke Majalengka ada Nyi Rambut Kasih, maju terus ke Kuningan ada lagi penguasa Kuningan, memutar ke Cirebon ada Sultan Sepuh dan Kanoman yang berasal dari Kesultanan Cirebon. Pendek kata, di Indonesia ini banyak ratu dan raja yang menguasai dan membagi-bagi pulau dalam kekuasaan yang berbeda-beda. Jaziratul Muluk.

            Saya sendiri kalau menulis soal budaya, suka mengatakan bahwa Indonesia adalah “tanah para bangsawan”. Hal itu disebabkan saking banyaknya kerajaan. Rakyat Indonesia ini banyak yang merupakan keturunan dari kerajaan-kerajaan yang ada. Jika menulis soal sejarah politik, saya suka menyebut Indonesia adalah “tanah seribu pahlawan”. Coba perhatikan saja dari Sabang sampai dengan Merauke, selalu dipenuhi nama-nama pahlawan yang berperan dalam kemerdekaan Indonesia.
            Berdasarkan latar belakang sejarah tersebut, tidaklah aneh jika saat ini banyak bermunculan kerajaan-kerajaan yang dirasakan asing oleh bangsa Indonesia generasi saat ini. Bahkan, banyak orang yang terkaget-kaget dan menyebutnya sebagai “kegilaan”.
            Sesungguhnya, tidak aneh juga jika banyak nama kerajaan yang muncul. Saya sendiri berkali-kali mengikuti kegiatan-kegiatan para keturunan raja-raja zaman dulu itu. Mereka biasanya memang membahas kondisi negara dan keprihatinan mereka atas berbagai ketimpangan yang terjadi. Bahkan, saya pernah menjadi pembicara yang menerangkan hal-ihwal Prabu Siliwangi di hadapan keturunan Kerajaan Sunda Pajajaran. Saya sendiri sempat kikuk karena seharusnya saya yang belajar dari mereka, bukan saya yang harus menerangkan kepada mereka. Saya mengenal banyak dari mereka dan menjadi Koodinator Humas Yayasan Pamanah Rasa Nusantara yang diketuai Dr. H. Gunawan Undang, Drs., M.Si.. Saya pernah ikut Konferensi Internasional Budaya Sunda, ikut kegiatan-kegiatan diskusi kesundaan, ikut juga silaturahmi raja-raja se-Nusantara, dan lain sebagainya.
            Hal tersebut menunjukkan bahwa para keturunan kerajaan-kerajaan tersebut masih ada dan tetap melestarikan eksistensi keluarganya. Tidak perlu heran dan merasa aneh dengan kemunculan mereka karena dari dulu juga sudah ada.
            Hal yang membuat saya merasa aneh adalah kemunculan mereka saat ini ke khayalak ramai seakan-akan bersamaan. Dimulai dengan Keraton Agung Sejagat, Sunda Earth Empire, Kesultanan Selacau, dan mungkin yang lain akan menyusul. Saya memang mendengar dari beberapa kerajaan yang mengaku memiliki perjanjian sewa menyewa tanah kekuasaan, perjanjian bisnis keuangan, perjanjian pergiliran kekuasaan, pencairan dana hutang dari bank-bank di dunia, dan sebagainya yang berakhir pada angka tahun 2021. Oleh sebab itu, di antara mereka ada yang memiliki keyakinan bahwa harus ada pergantian dan kegoncangan dunia pada tahun-tahun itu dan sekarang adalah tahun 2020. Di samping itu, ada pula berbagai ramalan yang beredar di kalangan kerajaan-kerajaan itu bahwa akan ada kegoncangan kemanusiaan dan politik luar biasa, baik di dalam negeri Indonesia maupun di seluruh dunia yang akan memunculkan sosok pemimpin baru yang mengamankan dan menyejahterakan dunia. Hal ini ada dalam berbagai ramalan, seperti, “Uga Wangsit Siliwangi, Sabdo Palon, Darmogandhul,” dan “Ronggowarsito”. Saya mempelajarinya banyak-banyak. Bahkan, isi ramalannya mirip-mirip dengan isi kisah-kisah zaman akhir yang biasanya beredar di kalangan umat Islam dengan adanya kemunculan “Imam Mahdi” setelah sebelumnya dunia dilanda bencana-bencana alam besar dan kegoncangan kemanusiaan. Bahkan, kisah-kisah zaman akhir ini saya pelajari dari enam buku: 4 buku karya Muhammad Isa Dawud, 1 buku karya penulis Iran Jaber Bolushi, dan 1 buku karya Wisnu Sasongko.
            Bagi saya, kemunculan kerajaan-kerajaan itu jika untuk membentuk kerajaan baru di dalam NKRI adalah termasuk tindakan makar. Oleh sebab itu, sebaiknya, mereka berada dalam yayasan atau organisasi yang dibina pemerintah dengan kegiatan seperti “think tank”, ‘wadah tempat berpikir’, yang menjadi “sparing partner”, ‘kawan debat’ pemerintah Republik Indonesia dalam mengelola negara dan masyarakat. Mereka bisa tukar pikiran dengan pemerintah atau memberikan kritikan keras kepada pemerintah sesuai dengan pemikiran para keturunan raja-raja itu sehingga berperan besar dalam pembangunan Republik Indonesia. Hal itu lebih baik dibandingkan mendirikan kerajaan di dalam sebuah negara.
            Sampurasun.