Showing posts with label Pajajaran. Show all posts
Showing posts with label Pajajaran. Show all posts

Thursday, 23 January 2020

Situasi Sunda dalam Uga Wangsit Siliwangi


oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Akhir-akhir ini kita dikejutkan oleh munculnya kerajaan-kerajaan baru di Indonesia. Ada yang memang benar-benar baru, ada pula yang mengaku merupakan kelanjutan dari kerajaan lama. Hal yang menarik adalah berita-berita yang beredar semakin menjurus ke arah  kerajaan-kerajaan yang bersuku Sunda. Hal ini bisa dilihat dari keresahan keluarga kerajaan “Sumedang Larang” dan “Galuh”. Kedua kerajaan ini sah dan diakui, baik oleh masyarakat maupun pemerintah Republik Indonesia. Keduanya cukup kaget dengan kehadiran “Sunda Empire” di Bandung dan “Kesultanan Selacau” di Tasikmalaya, Jawa Barat. Kerajaan-kerajaan ini mencoba beradu data, fakta, latar belakang, sumber ajaran, wilayah, situs-situs, tradisi, dan pusaka peninggalan leluhur. Meskipun pertentangannya tidak keras, tetapi perbedaan-perbedaan itu nyata ada dan menimbulkan kesemrawutan sejarah. Hal ini akan sangat berpengaruh, terutama kepada masyarakat awam.

            Terkait hal itu, segera saja saya teringat pada “Uga Wangsit Siliwangi”. Uga itu biasa diartikan sebagai ramalan, prediksi, ataupun “berita masa depan”.

            Dalam Uga Wangsit Siliwangi pada alinea keenam, sudah dijelaskan akan adanya mereka yang melakukan pengacauan sejarah dan data tentang Pajajaran. Berita-berita akhir-akhir ini seolah-olah sedang terjadi kekacauan kronologis sejarah itu.

            Coba perhatikan bagian akhir dari alinea keenam dalam Uga Wangsit Siliwangi tersebut.

            Dalam bahasa Sunda:

            “….Ti mimiti poé ieu, Pajajaran leungit ti alam hirup. Leungit dayeuhna, leungit nagarana. Pajajaran moal ninggalkeun tapak, jaba ti ngaran pikeun nu mapay. Sabab bukti anu kari, bakal réa nu malungkir! Tapi engké jaga bakal aya nu nyoba-nyoba, supaya anu laleungit kapanggih deui. Nya bisa, ngan mapayna kudu maké amparan. Tapi anu marapayna loba nu arieu-aing pang pinterna. Mudu arédan heula.”

            Dalam bahasa Indonesia:

            “….Sejak hari ini, Pajajaran hilang dari alam nyata. Hilang kotanya, hilang negaranya. Pajajaran tidak akan meninggalkan jejak, kecuali nama untuk mereka yang menelusurinya. Hal itu disebabkan bukti yang ada akan diingkari banyak pihak! Akan tetapi, nanti, suatu saat, akan ada yang mencoba-coba supaya yang hilang dapat ditemukan kembali. Memang bisa, hanya menelusurinya harus menggunakan dasar-dasar yang jelas. Namun, mereka yang menelusurinya banyak yang petantang-petenteng merasa diri paling pintar dan paling benar. Kalau berbicara, suka berlebihan. Mereka memang harus menjadi orang-orang brengsek dulu.”

            Begitulah yang tertulis dalam Uga Wangsit Siliwangi. Tak perlu heran dan aneh dengan banyaknya kisah yang sangat mungkin beradu dan bertolak belakang. Toh, dari ratusan tahun lalu sudah diprediksikan terjadi. Paling-paling kita cuma kesal dan merasa lucu.

            Meskipun demikian, suatu saat akan ada yang meluruskannya dengan benar. Dialah yang disebut-sebut sebagai “Budak Angon” yang dalam istilah Jawa disebut “Cah Angon”, ‘Anak Gembala’. Bukan hanya meluruskan sejarah, melainkan pula meluruskan kehidupan di Indonesia mencapai kejayaannya. Dalam berbagai ramalan dari Suku Jawa, Cah Angon ini disebut pula “Imam Mahdi” yang memiliki dua istana: satu di Mekah, satu di Pulau Jawa. Artinya, dia muslim yang mencintai Negara Indonesia.

            Sikapilah prediksi itu dengan tenang dan jangan terlalu terobsesi. Kalaulah memang itu harus terjadi dan sudah ada dalam rencana Allah swt, peristiwa itu bakal terjadi. Tidak perlu hidup bersandar pada ramalan. Kita hidup di alam nyata yang harus belajar, bekerja, berkarir, bersosialisasi, beribadat, dan berprestasi, baik di hadapan Allah swt maupun di hadapan manusia.

            Sampurasun.

Monday, 17 April 2017

Kisah Wayang Asli Indonesia, Bukan India

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Kisah-kisah wayang selama ini dikenal dunia berasal dari India. Mereka yang pertama kali mengatakan bahwa kisah-kisah wayang ini berasal dari India adalah orang-orang Belanda. Mereka mengatakan berasal dari India karena kisah-kisah itu banyak dipengaruhi bahasa Sansakerta. Mereka menduga bahasa Sansakerta berasal dari India, padahal kuat dugaan bahwa bahasa Sansakerta itu adalah berasal dari Indonesia dan merupakan bahasa tinggi yang berlaku di lingkungan orang-orang tinggi, para pejabat tinggi, dan terpelajar saat itu. Akan tetapi, bahasa Sansakerta musnah di Indonesia karena para penggunanya dihukum Allah swt pada bencana mahadahsyat yang menghancurkan Benua Sundaland menjadi kepulauan seperti sekarang ini. Untuk lebih jelasnya, baca tulisan saya yang lalu berjudul Matinya Bahasa Sansakerta.

            Berdasarkan konstruksi yang saya buat pada tulisan Matinya Bahasa Sansakerta, berarti pula kisah-kisah pewayangan ini berasal dari Indonesia yang kemudian menyebar ke India.

            Kalaulah kisah-kisah Ramayana, Mahabharata, atau yang lainnya benar dari India, siapa yang membawanya ke Indonesia?

            Orangnya harus terkenal karena kisah ini sangat populer di Indonesia dalam bentuk pewayangan. Akan tetapi, ternyata tidak diketahui.

            Kalaulah kisah-kisah itu berasal dari orang Indonesia yang pernah ke India, dia harus lama berada di India, kemudian sangat populer di Indonesia karena kisah-kisah ini sangat populer di Indonesia.

            Siapa orangnya?

            Tidak jelas. Gelap.

            Sebagaimana yang telah saya tulis bahwa berdasarkan peta yang dibuat Prof. Dr. Edi S. Ekadjati, dulu pada masa Indonesia masih berbentuk Sundaland, India itu hanyalah sebuah kadipaten dari kekuasaan Kerajaan Sunda, Indonesia. Pengaruh politik Kerajaan Sunda sangat besar pada wilayah-wilayah yang dikuasainya, termasuk India. Pengaruh itu di antaranya bahasa Sansakerta dan kisah-kisah pewayangan.

            Akan tetapi, ketika terjadi bencana besar yang menghancurkan Benua Sundaland berkeping-keping menjadi kepulauan seperti sekarang ini, para pengguna bahasa Sansakerta dan para penggemar kisah pewayangan itu pun ikut musnah, kecuali masih diingat oleh sedikit orang yang diselamatkan Allah swt dalam jumlah sedikit dan termasuk golongan lemah, terhina, tetapi masih beriman kepada Allah swt. Adapun daratan India meskipun ikut bergetar dan tertimpa bencana juga, kerusakannya tidak separah kehancuran Sundaland. Oleh sebab itu, bahasa Sansakerta dan kisah pewayangan itu masih bertahan di India.

            Orang-orang lemah dan beriman yang selamat inilah yang kemudian tetap melestarikan kisah-kisah itu karena isinya sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia. Isinya biasanya tentang sastra, pernikahan, agama, dan pengaturan negara. Mereka pun membangun kembali dunia yang telah hilang itu dari awal dalam bentuk kepulauan sambil tetap melestarikan kisah-kisah itu.

            Pada perkembangan berikutnya kisah-kisah ini disebut kakawin. Kawi adalah bahasa Sansakerta yang artinya “ia yang diberkati dengan kearifan”, “Yang Mahatahu”, “Yang Suci”. Akan tetapi, kemudian diartikan sebagai “penyair” (Partini Sardjono, 1986).

            Penulisan kakawin ini terus terjadi berabad-abad kemudian, berkembang, dan semakin populer. Hasil karya sastra kakawin yang paling populer dan paling tua adalah berasal dari Jawa Tengah, Indonesia yang berjudul Ramayana.

            Dr. Partini Sardjono Pr., S.S. saat pengukuhan penerimaan jabatan Guru Besar dalam Ilmu Sastra pada Fakultas Sastra, Universitas Padjadjaran, Bandung dalam pidatonya yang berjudul Peranan Sastra Nusantara Kuna dalam Alam Pembangunan Nasional (5 Juli 1986) mengatakan bahwa penulisan sastra kakawin berpindah dari Jawa Tengah ke Jawa Timur. Dari sinilah mulai lebih terang diketahui beberapa penulis kakawin berikut karya-karyanya. Arjunawiwaha ditulis oleh Mpu Kanwa (abad 11), Bharatayudha ditulis oleh Mpu Sedah yang kemudian diteruskan Mpu Panuluh (abad 12), Hari Wangca dan Ghatotkacasraya ditulis Mpu Panuluh (abad 12), Kresnayana ditulis Mpu Triguna (abad 13), Smaradahana ditulis Mpu Dharmaraja (abad 12), Sumasantaka ditulis Mpu Monaguna (abad 13), Bhomantaka (abad 13), Negarakrtagama ditulis Mpu Prapanca (abad 14), Sutasoma ditulis Mpu Tantular, dan Lubdhaka atau Siwaratrikalpa ditulis Mpu Tanakung (abad 15).

            Sayangnya, penulisan-penulisan karya sastra jenis ini mengalami kemunduran seiring dengan mundurnya kekuasaan Majapahit akibat konflik-konflik politik yang terjadi pada abad 16. Memang pada abad 16 ini di samping konflik politik yang sangat keras terjadi di Majapahit, juga mulai datangnya penjajahan Belanda pada 1602. Para ahli dan peneliti Belanda mengatakan bahwa kakawin itu merupakan kisah-kisah Hindu atau Budha dan berasal dari India. Dari sinilah tampaknya mulai kekeliruan itu. Hal itu menyebabkan orang-orang yang sudah mengikuti Islam Muhammad saw setelah sebelumnya menganut Islam berdasarkan nabi-nabi terdahulu menganggap bahwa kisah-kisah kakawin itu tidak penting karena menurut Belanda berasal dari Hindu, Budha, dan India. Adapun para wali dan penyebar ajaran Muhammad saw lebih banyak berceritera tentang Nabi Muhammad saw, keluarganya, para sahabat, serta para pejuang Islam.

            Tampaknya, konflik politik di Majapahit yang sangat keras, kehadiran penjajah Belanda, dan kisah-kisah Nabi Muhammad saw membuat karya sastra kakawin tidak lagi disukai, bahkan cenderung akan dimusnahkan karena ya itu tadi anggapan keliru mengenai kakawin berasal dari India dan merupakan alat untuk menyebarkan Hindu dan Budha. Hampir saja kisah-kisah ini benar-benar musnah jika para bangsawan dan rohaniwan Majapahit tidak menyingkir ke Pulau Bali.

            Di Bali para bangsawan Majapahit dan para rohaniwannya mendapat kehidupan yang lebih layak sehingga kisah-kisah kakawin ini masih lestari. Kemudian, penulisan karya sastra ini dilanjutkan oleh orang-orang Bali. Akibatnya, latar belakang hidup, pengalaman hidup, dan agama orang-orang Bali yang Hindu pun mempengaruhi isi kakawin. Jadi, kakawin ini sekarang benar-benar terpengaruhi agama Hindu. Dari sini tampaknya hubungan dengan India menjadi erat. Hal ini bisa dilihat dari ceritera asal India yang mengisahkan Dewa Krisna sedang berada di Bali.

            Berbeda dengan di Pajajaran, Sunda. Karena di Pajajaran tidak terjadi konflik-konflik keras seperti yang terjadi di Majapahit, para bangsawan dan rohaniwan Pajajaran tidak lari kabur ke pulau lain. Dengan demikian, karya-karya sastra kakawin tidak lari ke mana-mana, malahan masuk ke dalam berbagai kawih (tembang, lagu). Karena tidak lari ke mana-mana dan menerima dengan baik ajaran Muhammad saw setelah sebelumnya menganut Sunda Wiwitan, hasil karya sastra jenis ini mendapatkan pengaruh ajaran Islam sangat kuat sehingga justru digunakan menjadi alat untuk menyebarkan agama Islam. Hal ini bisa kita lihat dari setiap pagelaran wayang golek. Siapa pun dalangnya, dari ke generasi ke generasi, wayang golek selalu sarat dipenuhi oleh nasihat-nasihat Islami dan keluhuran budi pekerti Sunda yang memperkuat akhlakul karimah sebagaimana diajarkan Muhammad saw.

WAYANG GOLEK. Foto: manuskripkesunyian.wordpress.com 

            Begitulah kira-kira konstruksinya jika kita melibatkan eksistensi Benua Sundaland dalam sejarah hidup Indonesia. Memang sudah seharusnya eksistensi Benua Sundaland berikut kehancurannya dimasukkan menjadi bagian dari kronologis sejarah Indonesia dari masa ke masa.

            Sesungguhnya, Allah swt yang lebih mengetahui segalanya.


            Sampurasun.

Wednesday, 22 March 2017

Belanda Merusakkan Silsilah Prabu Siliwangi

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Penjajahan Belanda memang sangat mengerikan di Indonesia ini. Bukan hanya sumber daya alam yang mereka ambil, bukan hanya ekonomi yang mereka rusakkan, melainkan hampir segalanya. Mereka merusakkan pendidikan, tradisi, budaya, termasuk silsilah keluarga para bangsawan di Indonesia. Salah satu silsilah yang dirusaknya adalah silsilah Prabu Siliwangi. Bukan hanya Belanda yang merusakkan hal itu, melainkan pula para penguasa pribumi Indonesia sendiri berperan serta dalam perusakan itu.

            Saleh Danasasmita (1991) dalam makalahnya yang berjudul Silihwangi sebagai Pangkal Silsilah Kebangsaan (Tradisi Naskah Abad XVIII dan XIX) menuliskan bahwa sejak tentara Belanda, Kapitan Adolf Winkler melakukan ekspedisi untuk mengunjungi reruntuhan Istana Prabu Siliwangi, nama Siliwangi mulai masuk dalam catatan Kumpeni Belanda. Daerah Bogor selalu dicatatnya dengan nama Pajajaran. Bahkan, Gunung Pangrango disebutnya Gunung Pajajaran. Demikian pula Abraham van Riebeeek dalam ekspedisinya pada 1703, 1704, dan 1709 selalu mencatat tentang de opgank van Pakowang atau rijsenden smallen toegank van Pakowang dan vreeselijke diepe gragt. Sejak permulaan abad 18, nama Pajajaran, nama Pakuan dengan jalan masuknya yang sempit mendaki dan diapit oleh parit yang dalam lagi mengerikan, serta nama Siliwangi sudah populer dalam lingkungan pejabat inti VOC di Batavia. Van Riebeeek bahkan “tergila-gila” oleh kota bekas Pakuan sehingga mendirikan rumah peristirahatan di sana yang dinamainya Somerhuijsje Batoe Toelis.

            Mudah dipahami bila kemudian tumbuh semacam anggapan dalam kalangan kompeni bahwa keturunan Siliwangi adalah golongan bangsawan setempat. Mereka pun melihat bahwa di Pulau Jawa terdapat lapisan atau tingkatan kebangsawanan seperti di Eropa. Oleh sebab itu, untuk penerbitan gelar, G.J. van Imhoff yang bangsawan intelek dan penganut aliran romantisme ajaran Rousseau pada 2 Maret 1745 mengadakan zegelordonantie yang menetapkan tarif untuk permohonan gelar kebangsawan yang terbagi atas empat tingkat, yaitu: Pangeran seharga 150 ringgit; Adipati dan Tumenggung seharga 125 ringgit; Aria seharga 100 ringgit; Ngabehi dan Demang seharga 75 ringgit.

            Akan tetapi, pada 25 Mei 1750 pengelompokan tarif diubah lebih murah menjadi: Pangeran seharga 125 ringgit; Raden, Adipati, Aria, dan Tumenggung seharga 80 ringgit; Ngabehi, Demang, dan Rangga seharga 60 ringgit.

            Dari sinilah tampaknya kekusutan dan kekalangkabutan silsilah Prabu Siliwangi. Setelah Belanda memperjualbelikan gelar kebangsawanan, lalu mengaitkannya pada silsilah Siliwangi, segalanya menjadi berantakan. Tak jelas lagi mana keturunan Prabu Siliwangi yang asli dan mana yang hasil pembelian gelar. Para penguasa pribumi pun memang membutuhkan hal itu untuk mendapatkan legitimasi sebagai keturunan Prabu Siliwangi sehingga mendapatkan hak untuk memerintah, menjadi penguasa, serta mengelola sebuah daerah. Gelar yang terkait dengan Prabu Siliwangi itu menjadi jaminan mutu agar kekuasaannya makin kukuh dan mendapat kepercayaan untuk memimpin.

            Pantas saja saat ini banyak sekali yang mengaku-aku sebagai keturunan Prabu Siliwangi dengan membawa kisah-kisah yang “ngaler-ngidul” nggak jelas ditambah bumbu memiliki harta karun pusaka yang entah ada di mana. Bisa jadi leluhur mereka itu sebenarnya bukan keturunan asli Prabu Siliwangi, melainkan karena “beli gelar” dari penjajah Belanda. Pantas saja kelakuannya aneh. Bilangnya keturunan Prabu Siliwangi, tetapi tidak berperilaku seperti berdarah Siliwangi. Kacau. Kasus ini mah mirip mereka yang ngaku-ngaku sarjana, tetapi sebetulnya hanya dapat dari “beli gelar dan ijazah palsu”. Pantas saja gelarnya sarjana, tetapi cara berpikir dan cara bersikapnya kayak anak lulusan SMP.

            Benar-benar kacau.

            Hati-hati kalau ada yang ngaku-aku keturunan Prabu Siliwangi, padahal tipu. Belum tentu benar. Hati-hati pula kalau ada yang ngaku-ngaku sarjana, padahal beli ijazah di percetakan, tipu juga itu mah.

            Sampurasun

Tuesday, 21 March 2017

Tanda Nabi Prabu Siliwangi as Hidup pada Zaman Sundaland

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Prabu Siliwangi adalah nabi yang hidup pada masa Indonesia masih berupa Benua Sundaland, bukan kepulauan seperti sekarang ini. Penjelasannya baca pada tulisan saya yang lalu berjudul Nabi Prabu Siliwangi Alaihissalam. Indonesia memang dulunya sebuah benua besar yang sangat hebat dan makmur tiada tara serta menjadi pusat awal seluruh peradaban dunia ini. Penjelasannya baca pada tulisan saya yang lalu berjudul Indonesia dalam Pandangan Allah swt.

            Sekarang pada tulisan ini saya ingin berbagi bahwa ada tanda atau bukti bahwa memang Nabi Prabu Siliwangi as adalah tokoh yang pernah hidup di dunia ini dan berada pada masa Sundaland. Tulisan ini sengaja saya buat untuk mengajak berdiskusi mereka yang menganggap bahwa Prabu Siliwangi hanyalah tokoh sastra dan tidak pernah benar-benar hidup dan mereka yang percaya Prabu Siliwangi adalah memang tokoh sejarah, tetapi sering kalang kabut menyangka bahwa Prabu Siliwangi adalah Raja Sunda pada masa-masa lebih ke sini yang tak jelas raja yang mana, kadang Sri Baduga Maharaja, kadang Lingga Buana Wisesa, kadang Niskala Wastukancana, kadang raja yang lain. Berdiskusi itu baik untuk kesehatan dan bermanfaat untuk mendapatkan kebenaran. Jangan membiasakan diri angkuh merasa paling benar sendiri, padahal hanya sok tahu tanpa ada landasan bukti dan pemikiran yang jelas. Yang penting “gue paling bener”, yang lain “salah”. Perilaku angkuh seperti itu sudah seharusnya dibuang agar semua orang bisa memberikan masukan bermanfaat sehingga mendapatkan kebenaran yang benar-benar benar.

            Sebagaimana hasil penelitian paling mutakhir, Indonesia dulunya adalah benua yang besar, Benua Sundaland, tetapi hancur berkeping-keping oleh bencana alam yang sangat dahsyat dalam waktu teramat singkat. Air laut meluap hingga menenggelamkan gunung-gunung yang tinggi. Tekanan air laut itu menyebabkan tanah dan batu bergerak sehingga menimbulkan gempa tektonik sekaligus memicu gempa vulkanik yang mengakibatkan gunung-gunung berapi meletus secara bersamaan. Bencana maha mengerikan yang belum pernah terjadi lagi sepanjang sejarah manusia itu mengubur seluruh kekayaan, kemakmuran, kemajuan teknologi, kepesatan spiritualisme, dan peradaban yang teramat tinggi. Kebesaran Benua Sundaland yang mengagumkan itu pun harus hancur dan hilang sama sekali dari muka Bumi.

            Allah swt mengabadikan kehancuran itu dalam Al Quran sebagai akibat dari kemurkaan-Nya kepada manusia-manusia Indonesia yang teramat zalim.

“… Kami jadikan mereka bahan pembicaraan dan Kami hancurkan mereka sehancur-hancurnya. Sungguh pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi setiap orang yang sabar dan bersyukur.” (QS 34 : 19)

Meskipun demikian, Allah swt masih memberikan kesempatan kepada manusia untuk mempelajari kehebatan penduduk Benua Sundaland masa lalu dengan berbagai karya luar biasanya. Allah swt sengaja membukakan sedikit demi sedikit bangunan-bangunan megah yang berteknologi tinggi dan bernilai spiritual luar biasa yang berupa candi, barang-barang, pusaka, dan istana-istana mewah yang telah terkubur ratusan ribu tahun. Sangat banyak candi dan istana yang belum tergali di perut Bumi Indonesia ini. Bahkan, banyak yang hanya baru muncul ujung istananya. Jika digali, akan tampak istana megah luar biasa karya menakjubkan.

Salah satu istana yang dihancurkan Allah swt dan kemudian ditampakkan lagi itu adalah milik Nabi Prabu Siliwangi as. Tampaknya, orang Indonesia ini selepas masa kenabian Prabu Siliwangi as, Nabi Sulaeman as, Nabi Daud as, dan nabi-nabi lainnya yang tidak semua dicatat Al Quran, telah melakukan penyelewengan perilaku serta penyalahgunaan tempat ibadat dan istana-istana suci menjadi tempat pemujaan Iblis dan syetan laknatullah.

“Dan sungguh, Iblis telah dapat meyakinkan terhadap mereka kebenaran sangkaannya, lalu mereka mengikutinya, kecuali sebagian dari orang-orang Mukmin.” (QS 34 : 20)

Oleh sebab itu, Allah swt menghancurkannya sekalipun itu tempat suci. Tempat suci akan tidak suci lagi jika digunakan untuk kemaksiatan dan kekotoran perilaku serta keyakinan yang salah. Masjidil Aqsha, yaitu “Candi Borobudur” dikubur Allah swt dalam lumpur gara-gara dijadikan tempat pemujaan syetan dan baru ditemukan pada masa kolonial Belanda. Penjelasan tentang ini baca pada tulisan saya yang lalu berjudul Bukan Al Aqsha Yang Itu, Melainkan The Real Al Aqsha.

“….. Maka (lihatlah) bagaimana dahsyatnya akibat kemurkaan-Ku.” (QS 34 : 45)

Demikian pula, istana Nabi Prabu Siliwangi as baru ditemukan kembali di Bogor  oleh anak buah Letnan Tanuwijaya, orang Sumedang, yang menjadi prajurit Belanda. Sersan Scipio, tentara Belanda, mencatatnya ketika dalam ekspedisinya bersama pasukannya mengunjungi daerah Batu Tulis di Bogor pada 1 September 1687. Dalam catatannya, Scipio menulis bahwa istana itu sudah berupa puing-puing dan dikelilingi hutan tua. Puing-puing itu dicatatnya sebagai peninggalan Kerajaan Pakuan atau Pajajaran. Ia pun menjelaskan bahwa dua hari sebelumnya di tempat tersebut seorang anggota ekspedisinya menderita patah leher karena diterkam harimau.

Pada 23 September 1687 G.J. Joanes Camphuijs menulis laporan kepada atasannya di Amsterdam yang di antaranya berbunyi, “Dat hetseve paleijsen specialijek de veherven zitplaets van den javaense. Coning Padzia Dziarum nu gog gedulzig door een groot getal tijgers bewaakt en bewaart wort.”

Artinya, istana tersebut dan terutama tempat duduk yang ditinggalkan kepunyaan Raja “Jawa” Pajajaran sekarang masih dikerumuni dan dijaga serta dirawat oleh sejumlah besar harimau.

Laporan tentang harimau ini berasal dari penduduk Kedung Halang dan Parung Angsana yang mengiringi Scipio dalam ekspedisinya. Mungkin mereka itulah sumber isu bahwa prajurit Pajajaran “berubah wujud menjadi harimau”.

Tiga tahun kemudian Kapiten Adolf Winkler diperintahkan memimpin ekspedisi khusus untuk membuat peta lokasi bekas Pakuan. Pada Kamis, 25 Juni 1690 Winkler beserta rombongannya tiba di lokasi bekas keraton. Ia menemukan een accurate steene vloering off weg (sebuah lantai atau jalan berbatu yang sangat rapi). Jalan itu menuju ke bekas paseban tua dan di situ ia melihat ada tujuh batang pohon beringin. Dari penduduk Parung Angsana yang mengiringinya, Winkler mendapat penjelasan bahwa yang dilihat mereka itu adalah peninggalan Prabu Siliwangi. Hal-hal itu tertulis dalam makalah Siliwangi sebagai Pangkal Silsilah Kebangsaan (Tradisi Naskah Abad XVIII dan XIX) yang disusun oleh Saleh Danasasmita pada 1991.

Jalan masuk ke wilayah itu di samping sempit, juga mendaki. Jalan masuk itu pun diapit oleh parit yang sangat dalam dan mengerikan. Allah swt memang tampaknya benar-benar murka sehingga jalan menuju ke sana pun benar-benar sulit dan mengerikan.

Reruntuhan puing Istana Prabu Siliwangi as menguatkan tanda bahwa memang Prabu Siliwangi as adalah seorang nabi yang mengajarkan Islam dengan nama agama Sunda Wiwitan pada masa Benua Sundaland. Akan tetapi, sepeninggalnya, banyak orang yang meninggalkan agama Sunda Wiwitan sampai-sampai memuja Iblis dan syetan sehingga Allah swt murka dan menghancurkannya sekaligus menenggelamkannya ke dalam perut Bumi untuk menghancurkan kesombongan dan keangkuhan manusia.

Hari itu kejahatan dan pengingkaran manusia dibalas oleh Allah swt dengan sangat dahsyat. Allah swt berbuat sekehendak diri-Nya sendiri.

Raja pada Hari Pembalasan (QS Al Fatihah : 3).
          
          Sampurasun.

Sunday, 12 March 2017

Para Ahli Harus Meluaskan Pandangan

oleh Tom Finaldin

Bandung, Putera Sang Surya
Para ahli sejarah, arkeolog, antropolog, dan lain sebagainya yang keilmuannya menyangkut manusia dan kemanusiaan harus meluaskan pandangannya karena di samping ilmu pengetahuan itu selalu berkembang, juga telah ditemukan kenyataan-kenyataan baru yang jelas bisa menggugurkan pengetahuan lama. Salah satu contoh para ahli harus lebih meluaskan pandangan adalah soal sejarah tentang Nabi Prabu Siliwangi as yang selama ini banyak diteliti dan terus diteliti tak henti-henti dan selalu berakhir dengan menimbulkan banyak pertanyaan yang tidak tuntas dijawab. Hal itu disebabkan terbatasnya sumber-sumber informasi serta terbatasnya jangkauan pemahaman kita mengenai sejarah dan sosok Prabu Siliwangi as sendiri.

            Salah seorang pangeran dari Kerajaan Islam Cirebon, yaitu Pangeran Wangsakerta mendapatkan perintah dari Sultan Sepuh untuk menelusuri eksistensi Prabu Siliwangi as. Hal itu disebabkan nama Prabu Siliwangi as selalu harum di masyarakat, terutama masyarakat Sunda. Sosok Prabu Siliwangi sangat dirindukan dan dibanggakan.

            Dalam penelitiannya, Pangeran Wangsakerta kesulitan mendapatkan hasil yang benar mengenai Prabu Siliwangi. Hal itu disebabkan dia menelusurinya dengan menggunakan data-data dari carita pantun, pengalaman-pengalaman Belanda, serta syair-syair lain yang semuanya tampak bernilai sastra dan bukan sejarah. Oleh sebab itu, ia menyimpulkan bahwa nama Siliwangi sebagai raja Sunda tidak tercatat dalam pustaka-pustaka sejarah. Hanyalah orang-orang Jawa Barat yang menggunakan sebutan Prabu Siliwangi (Saleh Danasasmita: 1991).

            Memang dalam kenyataannya di kalangan masyarakat Sunda sendiri pun tidak memiliki kejelasan yang pasti tentang raja yang mana yang bernama Prabu Siliwangi. Nama Prabu Siliwangi kerap dijadikan sesebutan untuk raja Sunda yang mana saja yang dianggap masyarakat sebagai raja yang adil, baik hati, dan mampu memberikan keamanan dan kemakmuran bagi rakyatnya. Ada banyak raja yang disebut Prabu Siliwangi, misalnya, Sri Baduga Maharaja, Lingga Buana Wisesa, dan Niskala Wastu Kancana.

            Tampaknya sesebutan itu merupakan penghargaan masyarakat kepada rajanya yang dipandang telah mampu menjalankan amanah atau ajaran dari Nabi Prabu Siliwangi as yang pernah hidup dulu ketika Indonesia masih berupa Benua Sundaland dan bukan kepulauan seperti sekarang ini.

            Hasil penelitian para ahli yang ada sekarang seluruhnya tidak meraih atau tidak menelaah kehidupan pada masa Indonesia masih berupa Benua Sundaland karena pengetahuan mengenai Benua Sundaland sendiri baru dipahami sekarang-sekarang ini. Para ahli hanya menggunakan sumber-sumber informasi pada masa Indonesia sudah berupa kepulauan seperti sekarang ini. Dengan demikian, sumber informasi yang digunakan sangatlah terbatas dan terkadang mengalami kebuntuan.

            Ketika pemahaman baru muncul, yaitu Indonesia dulunya adalah sebuah benua yang sangat besar, otomatis pengetahuan tentang sejarah Indonesia, manusia Indonesia, bahkan hubungan antarmanusia di dunia ini pun seharusnya berubah pula. Kita tidak bisa lagi menerima begitu saja pemahaman-pemahaman lama yang tidak mengikutsertakan eksisnya Benua Sundaland. Apabila masih bertahan pada pemahaman lama, tanpa Benua Sundaland, kita akan terjebak seperti terjebaknya orang yang memahami bahwa “pelangi adalah jalan para puteri dari kahyangan untuk melakukan berbagai urusan di Bumi”. Soal pelangi adalah jalan yang menghubungkan kahyangan dengan Bumi, adalah pengetahuan lama yang sudah usang karena ada pengetahuan baru yang menggantikannya, yaitu “pelangi tercipta karena sinar Matahari yang menembus butiran air di langit sehingga menimbulkan spektrum rupa-rupa warna”.

            Orang yang masih percaya bahwa pelangi adalah jalan tol dari kahyangan menuju Bumi adalah orang yang ketinggalan zaman. Begitu pula orang yang masih percaya dengan berbagai pengetahuan yang tidak melibatkan eksistensi Benua Sundaland adalah orang yang ketinggalan zaman atau orang kolot yang bertahan pada kekolotannya.

            Para ahli harus meluaskan pandangannnya. Pendapat Pangeran Wangsakerta pada abad XVII tentang Prabu Siliwangi tersebut wajib mendapatkan kritikan keras karena tidak mengikutsertakan eksistensi Benua Sundaland. Dengan hadirnya pemahaman baru, kita dapat lebih jauh menjangkau berbagai pengetahuan baru. Bahkan, saya sendiri meyakini bahwa Prabu Siliwangi as adalah Nabi Allah swt. Hal itu disebabkan dilihat dari ajaran Sunda Wiwitan yang berintikan tauhid  dalam bahasa Sunda dan setiap ajaran tauhid harus memiliki nabi. Satu-satunya orang yang diyakini tidak memiliki noda cela sepanjang hidupnya dalam keyakinan orang Sunda hanyalah Prabu Siliwangi, tidak ada sosok lain. Oleh sebab itu, Prabu Siliwangi adalah nabi yang hidup jauh sebelum Nabi Muhammad saw lahir karena tak ada nabi setelah Muhammad saw. Di samping itu, Allah swt dalam QS Saba menjelaskan bahwa tak ada nabi yang diutus ke Indonesia dan tak ada kitab yang diwajibkan dibaca pascabencana besar yang membuat Benua Sundaland menjadi archipelago seperti saat ini.

            Setelah bencana mahadahsyat itu, orang-orang beriman Indonesia yang selamat hanyalah hidup dengan menggunakan ajaran dari para nabi terdahulu yang diutus dalam masa Sundaland. Ajaran-ajaran itulah yang kita sebut sekarang ini sebagai kearifan lokal, local wisdom.

            Baru setelah Muhammad saw menjadi nabi, Indonesia pun didakwahi secara langsung oleh Nabi Muhammad saw dan para sahabatnya. Tak ada nabi yang diutus ke Indonesia pascabencana besar, kecuali Muhammad saw. Begitu yang diberitakan Allah swt dalam QS Saba. Untuk lebih jelasnya, para pembaca bisa pelajari tulisan saya yang lalu yang berjudul Indonesia dalam Pandangan Allah swt dan Nabi Prabu Siliwangi Alaihissalam.


            Sampurasun.

Thursday, 9 March 2017

Islamisasi dengan Kekerasan

oleh Tom Finaldin

Bandung, Putera Sang Surya
Pada tulisan yang lalu saya mencoba memahami cikal bakal Islam Nusantara yang dapat dilihat dari konflik yang terjadi dalam dongeng Kian Santang Vs Prabu Siliwangi serta Prabu Brawijaya Vs Sabdo Palon Noyo Genggong. Kian Santang dan Prabu Brawijaya merupakan tokoh yang mendapatkan pengaruh Arab yang keras. Adapun Prabu Siliwangi dan Sabdo Palon Noyo Genggong adalah tokoh yang menginginkan Islam dijalankan dalam watak Nusantara. Islam Nusantara ini harus rela tenggelam sementara untuk memberikan Islam Arab menyelesaikan tugasnya. Akan tetapi, pada zaman sekarang ini Islam Arab harus mundur karena Islam Nusantara memiliki tugas yang lebih nyata, yaitu menghentikan kekerasan serta menyebarkan cinta kasih dan perdamaian.

            Pada tulisan kali ini pun saya mengajak pembaca untuk mengetahui bagaimana Islam disebarkan dengan jalan kekerasan yang terjadi di Indonesia. Kisah ini merupakan dongeng dan bukan sejarah. Hal itu disebabkan kisah ini pun mengambil tokoh Prabu Siliwangi yang sesungguhnya adalah Nabi Allah swt yang diutus pada masa Indonesia masih berupa Benua Sundaland, bukan kepulauan seperti sekarang ini. Tokoh Prabu Siliwangi memang sangat unik karena selalu ditarik ke dalam berbagai latar ceritera yang berbeda-beda dan dalam waktu yang berbeda pula. Sosok Prabu Siliwangi kerap dijadikan tokoh sentral dalam berbagai latar ceritera masa lalu yang sangat jauh, masa lalu yang lebih ke sini, masa sekarang, bahkan masa depan. Pada kisah-kisah masa lalu tokoh Prabu Siliwangi dijadikan tokoh sentral pada masa sebelum Nabi Muhammad saw lahir, tetapi hadir pula ketika Nabi Muhammad saw masih kecil. Pada masa Muhammad saw sudah menjadi nabi pun, Prabu Siliwangi masih menjadi tokoh utama ceritera. Setelah zaman kenabian selesai pun, Prabu Siliwangi selalu ada. Pada zaman penjajahan kompeni, Prabu Siliwangi memainkan perannya. Bahkan, Prabu Siliwangi pun selalu dijadikan pemeran utama kisah-kisah yang bervisi ke masa depan. Ia memang pribadi yang unik dibawa-bawa kesana-kemari dan dari waktu ke waktu.

            Dalam tulisan kali ini, saya mencoba menganalisa kisah Prabu Siliwangi Vs Sunan Gunung Jati yang ada dalam makalah berjudul Tokoh Siliwangi Menurut Tradisi Keraton Cirebon (Diangkat dari Kitab Pustaka Nagara Kertabhumi, Purwaka Caruban Nagari dan Babad Cirebon) yang ditulis P.S. Sulendraningrat, Ramaguru Pengguron Caruban, Krapyak, Kaparabonan (1991). Kalau dalam tulisan dongeng yang lalu, Prabu Siliwangi kabur karena dikejar anaknya, Kian Santang, sekarang dalam dongeng ini Prabu Siliwangi menghilang karena tidak mau didatangi cucunya sendiri, yaitu Sunan Gunung Jati.

            Beda ya?

            Tidak apa-apalah, ini kan hanya dongeng. Akan tetapi, dongeng ini dapat menjadi petunjuk mengenai fenomena yang terjadi dalam tubuh pemerintahan masa lalu serta suasana kebatinan masyarakat pada saat itu.

            Diceriterakan bahwa di Keraton Pajajaran Prabu Siliwangi, semua isterinya, dan para selir hendak berangkat menengok Sang Putera, yaitu Pangeran Cakrabuwana dan Sang Cucu, yaitu Sunan Gunung Jati di Cirebon. Cirebon pada masa itu merupakan pusat pendidikan Islam di seluruh Nusantara. Semua orang Pajajaran sudah bersiap-siap hendak berangkat. Akan tetapi, tiba-tiba dari arah angkasa turun ahli agama yang bernama Ki Buyut Talibarat. Dengan tiba-tiba, Ki Buyut Talibarat sudah berada di hadapan Prabu Siliwangi.

            Sang Prabu berkata, “Eyang Talibarat, selamat datang. Datangnya tergesa-gesa seperti ada perkara yang penting.”

            Berkata Ki  Buyut Talibarat, “Hai Sang Prabu, apa yang dikehendaki dengan takluk kepada Sang Cucu, hendak memeluk agama Islam, agama orang yang bosok bolong (busuk berlubang), amoh ajur (remuk rapuh). Sejak dahulu hingga sekarang mongmonganku para leluhur yang menganut agama Dewa Mulia. Ialah Sastrajendra Ayuningrat yang dipustiamalkan.

            Apakah Sang Prabu silau kepada Putera Cucu?

            Nanti keraton ini kutanami pusaka lidi lelaki supaya keraton tidak tertampak dan Sang Prabu haraplah ngahyang hari ini juga karena Sang Putera dan Sang Cucu sebentar lagi datang.”

            Ki Buyut Talibarat mengingatkan Prabu Siliwangi bahwa pada waktu yang bersamaan dengan keberangkatan Pajajaran ke Cirebon, anak kandungnya, yaitu Pangeran Cakrabuwana dan cucunya, yaitu Sunan Gunung Jati sebenarnya sudah mendekat ke Pajajaran dan hendak mengislamkan Prabu Siliwangi.

            Memang keberangkatan Prabu Siliwangi ke Cirebon di samping rindu kepada anak dan cucunya juga ingin bertemu langsung tanpa harus mendapatkan berita dari orang lain. Hal itu disebabkan Prabu Siliwangi sebenarnya sudah sejak lama mengutus Tumenggung Jayabaya bersama enam puluh pasukan untuk melihat keadaan anak cucunya di Cirebon. Akan tetapi, Tumenggung Jayabaya dan pasukannya tidak kembali lagi, bahkan sudah masuk Islam.

            Hal itu mengakibatkan tanda tanya besar dalam diri Prabu Siliwangi tentang bagaimana gerangan Tumenggung Jayabaya dan seluruh pasukannya bisa tunduk dan masuk Islam di bawah kekuasaan anaknya, Cakrabuwana, dan cucunya, Sunan Gunung Jati.

            Hal yang membuat saya tertarik adalah kata-kata dari Ki Buyut Talibarat, “Hai Sang Prabu, apa yang dikehendaki dengan takluk kepada Sang Cucu, hendak memeluk agama Islam, agama orang yang bosok bolong (busuk berlubang), amoh ajur (remuk rapuh)….”

            Perhatikan, dia mengatakan bahwa agama Islam adalah agama orang yang bosok bolong (busuk berlubang), amoh ajur (remuk rapuh). Ki Buyut Talibarat tidak mengatakan bahwa Islam adalah agama yang bosok bolong (busuk berlubang), amoh ajur (remuk rapuh), melainkan agama orang yang bosok bolong (busuk berlubang), amoh ajur (remuk rapuh). Artinya, dia tidak menyerang dan tidak mengejek agama Islam, tetapi menyerang dan mengejek orang Islam. Salah satu hinaannya ini disebabkan orang Islam suka angkuh merasa benar sendiri dan kerap memaksa orang lain untuk meninggalkan agamanya agar segera masuk Islam saat itu juga. Hal ini ada dalam kisah selanjutnya.

            Karena Prabu Siliwangi pun merasa dan melihat sendiri keangkuhan orang Islam, segera mengikuti saran Ki Buyut Talibarat. Prabu Siliwangi segera menanami keraton dengan pusaka lidi lelaki/lidi bujenggi. Segera saja para isteri dan para selir dibawa ngahyang, lalu lenyap tanpa bekas. Keraton terlihat menjadi hutan besar. Akan tetapi, seluruh famili dan para Putera Sentana tidak dibawa. Mereka tertinggal di keraton Pajajaran pada 1482 Masehi.

            Tidak lama kemudian, datanglah Sunan Gunung Jati dan Ki Kuwu Cirebon. Mereka mengetahui bahwa Sang Prabu sudah tidak ada dalam keraton. Akan tetapi, Sunan Gunung Jati dan Ki Kuwu Cirebon masih dapat melihat keraton tetap ada di tempat dan tidak tertipu oleh ajian menghilang. Mereka pun masuk ke dalam keraton, lalu menangkapi penghuninya yang sebagian sudah bubar. Raja Sengara tertangkap. Para sentana dan para eyang segera diislamkan. Ada yang tertangkap di angkasa, ada pula yang tertangkap di dalam Bumi.

            Adapun Arya Kebo Kamale meskipun sudah tertangkap, tetap tidak mau masuk Islam. Ia berjanji akan masuk Islam nanti pada akhir zaman. Oleh sebab itu, ia disuruh kemit/jaga di Cirebon.

            Ki Patih Argatala dan seluruh bawahannya bersembunyi di pegunungan. Akan tetapi, Sunan Gunung Jati dapat melihat mereka.

            Sunan Gunung Jati pun berteriak, “Ki Patih Argatala dan seluruh bawahannya seperti siluman, tidak bercampur dengan manusia!”

            Ki Patih pun sujud, lalu tobat. Akan tetapi, ia memohon untuk masuk Islam nanti saja setelah akhir zaman. Sunan Gunung Jati mengampuninya. Akan tetapi, Ki Patih disuruh berkumpul juga untuk jaga di Cirebon.

            Sunan Gunung Jati lalu mendekati Dipati Siput (Panglima Besar Tentara Pajajaran Prabu Siliwangi) dan para bawahannya yang bersembunyi di hutan.

            Sunan Gunung Jati berkata, “Dipati Siput dan para bawahannya yang bersembunyi berlaku seperti hewan bersembunyi di hutan.”

            Tiba-tiba Dipati Siput menjadi macan putih. Para bawahannya menjadi macan loreng. Dipati Siput lalu bersujud tobat. Akan tetapi, ia pun sama memohon untuk nanti saja memeluk Islam pada akhir zaman.

            Sunan Gunung Jati segera berkata, “Barang siapa yang takut agama, tidak diperbolehkan campur dengan manusia, sebagai hewan atau siluman.”

            Meskipun demikian, Dipati Siput dan para bawahannya diterima pengabdiannya dan diperintahkan untuk jaga di Cirebon.

            Tak lama kemudian, Sunan Gunung Jati memasuki lagi Keraton Pajajaran, mendekati para pembesar dan para kerabat yang sudah mengikuti secara patuh terhadap Islam.

            Sunan Gunung Jati memanggil Rama Paman/Raja Sengara dan berkata, “Rama seyogyanya mengosongkan Keraton Pajajaran."

            Raja Sengara menjawab, “Namun, Rama Dalem Cakrabuwana sudah bermukim di Cirebon.”

            Sunan Gunung Jati menimpali, “Iya betul Rama Uwa sudah bermukim di Cirebon, tetapi Rama Raja Sengara jangan diam di keraton karena Eyang Prabu tidak mau Islam. Semoga Sang Rama mau bermukim di lain tempat karena Keraton Pajajaran sudah pasti menjadi hutan. Hanya ini balai tempat duduk Sang Rama Prabu dan lampu Kerajaan Pajajaran saya mohon supaya dibawa ke Cirebon dan alat-alat, pedang, keris, tumbak, dan lain-lain.”

            Raja Sengara mematuhi permintaan Sang Putera.

            Saudara Pembaca yang budiman dan baik hati. Kita cut dulu sampai di sana kisahnya, nanti kita sambung lagi.

            Hal yang dapat kita perhatikan dari kisah tersebut adalah sebuah konflik antara Islam Arab dengan mereka yang berkeinginan Islam dilaksanakan dengan watak Nusantara. Islam Arab adalah Islam yang dipengaruhi watak keras dan penuh perjuangan. Adapun Islam Nusantara adalah Islam yang dipengaruhi watak tenang, soft, dan lembut.

            Di dalam kisah tersebut tampak bagaimana Prabu Siliwangi sebagai seorang ayah bagi Pangeran Cakrabuwana dan sebagai seorang kakek bagi Sunan Gunung Jati merindukan anak dan cucunya yang sudah terpisah selama dua puluh tahun karena anak dan cucunya itu belajar Islam di Cirebon. Akan tetapi, Sang Cucu, yaitu Sunan Gunung Jati malah datang dengan melakukan penaklukan kepada kakeknya sendiri, Prabu Siliwangi, dengan alasan untuk menyebarkan Islam dan mengislamkan Pajajaran. Ada dua watak yang bertolak belakang dalam kisah ini, yaitu watak keras dan watak lembut.

            Sang Kakek, Prabu Siliwangi, yang masih memegang agama Sunda Wiwitan yang tak lain adalah ajaran Islam pra-Muhammad saw harus mengalah pada Islam berwatak keras yang tampak dari tindakan yang dilakukan cucunya sendiri, yaitu Sunan Gunung Jati. Prabu Siliwangi mengalah dan tidak mau bertempur dengan cucunya sendiri. Ia membiarkan Islam berwatak keras untuk menyebar karena memang diperlukan bagi perjalanan Indonesia dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Akan tetapi, Prabu Siliwangi akan datang lagi mengunjungi keturunannya di mana saja pada saat yang tepat. Hal ini sebagaimana yang terdapat dalam Uga Wangsit Siliwangi.

            “Seluruh keturunan kalian akan aku kunjungi, tetapi hanya pada waktu yang diperlukan. Aku akan datang lagi menolong yang membutuhkan pertolongan, membantu yang kesusahan, tetapi hanya kepada mereka yang baik tingkah lakunya. Jika aku datang, tidak akan terlihat. Kalau aku berbicara, tidak akan terdengar. Memang aku akan datang. Akan tetapi, hanya kepada mereka yang baik hatinya, mereka yang memahami terhadap satu tujuan, mereka yang mengerti pada keharuman sejati, mereka yang memiliki empati tinggi dan tertata rapi pikirannya, serta yang baik tingkah lakunya. Kalau aku datang, tidak akan berupa dan tidak akan bersuara, tetapi memberi ciri dengan wewangian.  Sejak hari ini, Pajajaran hilang dari alam nyata. Hilang kotanya, hilang negaranya. Pajajaran tidak akan meninggalkan jejak, kecuali nama untuk mereka yang menelusurinya.”

            Kapan Prabu Siliwangi mengunjungi lagi keturunannya?

            Dia akan datang ketika orang sudah menyadari bahwa zaman kekerasan sudah seharusnya diakhiri. Dia memberikan dorongan agar orang kembali pada kelembutan dan menjalankan ajaran Islam dengan lembut, penuh kasih sayang, dan memberikan jalan keluar bagi terciptanya perdamaian di seluruh dunia.

            Watak keras Sunan Gunung Jati dapat ditelusuri dari garis darahnya sendiri. Sunan Gunung Jati adalah anak dari Puteri Prabu Siliwangi yang bernama Ratu Mas Rarasantang. Ayahnya adalah Sultan Mesir Maulana Syarif Abdullah. Jadi, Sunan Gunung Jati adalah putera dari pasangan Puteri Pajajaran-Sultan Mesir, yaitu pasangan Ratu Mas Rarasantang-Sultan Mesir Maulana Syarif Abdullah. Jika kita berbicara tentang Mesir, secara geografi dan demografi dekat sekali ke Timur Tengah dan Arab. Wilayah-wilayah itu banyak diisi oleh orang-orang yang berwatak keras hingga hari ini.

            Segala yang terjadi dalam dongeng itu biarlah menjadi dongeng sejarah karena itu terjadi disebabkan adanya konflik-konflik politik yang berkecamuk saat itu. Kini metode kekerasan itu sangat tidak diperlukan karena tidak ada lagi situasi yang memaksa untuk melakukan hal itu. Penyebaran Islam melalui jalan kekerasan hanya akan menghasilkan Islam dalam arti ”patuh dan takluk”, bukan “iman dan yakin”. Saat ini yang sangat diperlukan adalah penyebaran Islam dengan cara yang lembut sebagaimana yang diinginkan Nabi Prabu Siliwangi as, yaitu melalui pemahaman, pengetahuan, akhlak yang baik yang akan menumbuhkan keimanan dan keyakinan yang berujung pada pernyataan keimanan dan keislaman dalam dua kalimat syahadat.

            Indonesia memiliki sangat banyak pengalaman dan pelajaran untuk itu semua. Kita tinggal menggalinya, lalu menyebarkannya pada dunia hingga menjadi jawaban atas karut marutnya dunia “sebelah sana” yang masih tenggelam dalam “kemarahan, kebencian, fitnah, huru-hara, perebutan, dan pertikaian”.

            Sampurasun.