Showing posts with label India. Show all posts
Showing posts with label India. Show all posts

Saturday, 7 May 2022

Amerika Serikat Tidak Akan Berhasil Menentang Sunatullah

 


oleh Tom Finaldin

Bandung, Putera Sang Surya

Setelah kejatuhan Unisoviet dan terdesaknya komunisme, Amerika Serikat (AS) seakan-akan menjadi penguasa tunggal di dunia dan merasa dirinya adalah yang paling berkuasa. Tampaknya, AS memang ingin memastikan bahwa dirinya benar-benar sebagai penguasa di muka Bumi dan selalu berupaya mengalahkan orang lain, negara lain, atau mengatur hidup orang lain sesuai dengan pandangannya. Mereka ingin sistem pergaulan dan politik dunia berada dalam kondisi unipolar, hanya satu penguasa, yaitu dirinya.

            Sayangnya, keinginan mereka itu sia-sia karena dunia tidak diciptakan untuk itu, tidak akan pernah dalam situasi yang benar-benar unipolar, kecuali semu atau hanya perasaan dirinya. Dalam kenyataannya unipolar itu tidak akan pernah terjadi karena itu menentang sunatullah, hukum Allah swt, kebiasaan Allah swt, sistem dan mekanisme Allah swt.

            Kita lihat sejarah manusia, minimal yang saya ingat. Kalau ada yang mau menambahkan, boleh saja silakan. Dulu, sebelum masa kerasulan Muhammad saw, dunia terbagi pada dua kekuatan besar, yaitu Romawi dan Persia. Ada dua kekuatan besar di muka Bumi, bipolar. Setelah memasuki masa kekhalifahan, terdapat beberapa kekuatan besar di Bumi, yaitu Kekhalifahan, Romawi, dan Mongolia, multipolar. Kemudian, pada masa berikutnya, muncul kekuatan barat Amerika Serikat dan kekuatan timur Unisoviet, kembali bipolar. Setelah Unisoviet jatuh dan Rusia seolah tersingkirkan, muncul kekuatan ekonomi dan teknologi Cina yang berseberangan dengan AS. Selalu begitu. Sekarang, Rusia muncul lagi dengan lebih mengejutkan dengan memamerkan kekuatan militer dan teknologi perangnya dalam perang di Ukraina. Sementara itu, kekuatan AS dan Eropa Barat tampak kaku, rikuh, dan tidak siap menghadapi kekuatan besar Rusia. Apalagi setelah ada keluhan dari prajurit Ukraina bahwa banyak senjata bantuan dari AS untuk Ukraina dalam melawan Rusia, tidak berfungsi dengan baik. Rusia tampak sekali menguasai pertempuran dengan keakuratan militernya.

            Dunia itu memang seperti itu, tidak pernah unipolar, tetapi selalu bipolar atau mulitipolar. Bahkan, akibat dari perang Rusia Vs Ukraina ini kemungkinan dunia akan terbagi ke dalam pakta-pakta baru, multipolar. Gabungan Indonesia-India-Cina bisa menjadi kekuatan baru yang bisa mengalahkan barat dengan kemampuan yang dimilikinya. Indonesia punya sumber daya alam, Cina punya teknologi, dan India punya militernya. Di samping itu, jumlah penduduk ketiga negara itu sangat banyak, Indonesia sekitar 270 juta jiwa, India sekitar 1,4 miliar, dan Cina hampir 2 miliar dapat menjadi pasar ekonomi raksasa mengalahkan AS dan Eropa Barat. 

            Sekali lagi, dunia tidak akan pernah bisa unipolar secara nyata, kecuali semu. Hal itu sebagaimana yang ditegaskan Allah swt sendiri dalam QS Al Baqarah 2 : 251.

            “… Dan kalau Allah tidak melindungi sebagian manusia dengan sebagian manusia yang lain, niscaya rusaklah Bumi ini. Akan tetapi, Allah mempunyai karunia (yang dilimpahkan-Nya) atas seluruh alam.”

            Di dalam kehidupan ini selalu ada kejahatan, kerakusan, dan keterlaluan. Ketika terjadi sikap-sikap negatif yang membahayakan kehidupan umat manusia dan segenap alam raya, Allah swt menggerakkan sekelompok manusia lainnya untuk melawan atau menahan kejahatan manusia lainnya agar Bumi, manusia, dan keseluruhan kehidupan ini tidak rusak. Allah swt adalah Sang Maha Pemberi Karunia dan menginginkan agar kehidupan dunia ini seimbang.

            AS dan siapa pun tidak perlu bermimpi untuk menjadi penguasa tunggal dunia karena itu tidaklah mungkin alias mustahil. Sang Pencipta Alam ini pun tidak pernah akan mengizinkan ada satu penguasa tunggal di muka Bumi ini. Oleh sebab itu, saling mengenal, saling belajar, saling mengisi, dan saling bekerja sama adalah lebih baik dalam mengarungi hidup ini daripada bercita-cita menjadi penguasa tunggal di muka Bumi, apalagi dengan menggunakan kekerasan dan pembunuhan atas manusia lainnya.

            Sampurasun.

Tuesday, 17 September 2019

Manusia Butuh Manusia


oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Manusia ditakdirkan untuk hidup saling membutuhkan. Sejak lahir pun manusia membutuhkan manusia lainnya, tidak bisa tidak, kecuali Nabi Adam as. Meskipun lahir tanpa ibu, Adam as tetap diciptakan dengan memiliki rasa keinginan untuk berhubungan dengan manusia lainnya. Oleh sebab itulah, diciptakan pasangannya, Hawa ra.

            Pada dasarnya manusia adalah makhluk yang bermasyarakat. Ia tidak akan memiliki keutamaan, kebangkitan, dan keluhuran jika hidup sendiri. Seseorang bisa disebut hebat, pandai, berhasil, kaya, shaleh, tinggi, bijak karena ada orang lain yang memiliki kekurangan dibandingkan dirinya. Tak ada manusia yang benar-benar bisa hidup sendiri di dunia ini, kecuali dalam fantasi semacam Tarzan atau Mowgli. Meskipun demikian, Tarzan dan Mowgli pun pada bagian kisahnya berhubungan juga dengan manusia lainnya.

            Pada zaman modern ini kebutuhan berinteraksi antarmanusia semakin tinggi. Kita makan beras berarti butuh petani beras. Butuh pakaian berarti butuh petani kapas, pemintal benang, penenun kain, dan penjahit. Butuh berkomunikasi jarak jauh berarti butuh Hp, televisi, laptop yang dibuat orang lain. Butuh memindahkan orang, barang, dan jasa, berarti butuh alat transportasi yang juga dibuat orang lain. Butuh mengatur kehidupan berbangsa dan bernegara, berarti butuh orang lain yang memiliki pengalaman dan ilmu tentang masyarakat, negara, hukum, dan segala yang terkait dengan hal itu. Pendek kata, semua manusia butuh manusia lainnya.

            Kebutuhan berhubungan dengan manusia lainnya ini tidak dibatasi oleh agama, letak geografis, budaya, atau adat. Bahkan, dengan orang tidak beragama pun kebutuhan untuk berhubungan itu selalu ada. Di dalam pergaulan internasional kebutuhan tanpa dibatasi sekat-sekat itu tampak sekali. Teknologi yang dibangun pihak Barat membutuhkan minyak untuk mengoperasikannya dari Asia Barat atau Timur Tengah. Segala barang yang diproduksi perlu bahan dan pasar dari Asia. Demikian pula untuk memenuhi kebutuhan spiritual, orang-orang banyak yang berdatangan ke Asia semisal ke India, Thailand, termasuk ke Indonesia.

            Untuk itu, kita harus memiliki sikap terbuka dan toleran dengan siapa saja. Sikap tertutup dan menolak untuk berhubungan hanya akan membuat kita tertinggal dan hidup dalam kegelapan. Berbagai ilmu, sifat dan perilaku, serta sumber daya alam tersebar di seluruh penjuru dunia. Oleh sebab itu, diperlukan hubungan yang baik di antara umat manusia agar dapat memenuhi berbagai kebutuhan, baik lahir maupun batin.

            Allah swt pun memang berkehendak agar seluruh manusia berhubungan satu sama lain untuk saling mengenal, saling belajar, dan saling tolong-menolong.

            Hal itu ditegaskan Allah swt dalam QS Al Hujurat ayat 13.

            ”Hai Manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal …."

            Jangan arogan, jangan merasa diri paling tinggi, paling hebat, dan paling benar karena kita sesungguhnya selalu membutuhkan orang lain. Oleh sebab itu, kita wajib menjalin interaksi yang baik dengan orang lain apa pun agama, ras, suku, dan adat mereka, bahkan sekalipun dengan mereka yang tidak beragama.

            Sampurasun.

Saturday, 22 April 2017

Bahasa Sansakerta Tidak Dipahami Masyarakat India

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Pada tulisan yang lalu saya menduga keras bahwa bahasa Sansakerta adalah bahasa yang berasal dari Indonesia. Bahasa ini mati atau hampir mati disebabkan para penggunanya dihancurkan oleh Allah swt dalam bencana mahadahsyat yang menghancurkan Benua Sundaland yang megah hingga menjadi 17.000 serpihan-serpihan berbentuk kepulauan seperti sekarang ini yang bernama Indonesia.

            Dugaan keras saya itu sekarang semakin mengeras berlipat-lipat kali dan hampir menuju keyakinan yang pasti bahwa memang bahasa Sansakerta itu berasal dari Indonesia dan  bukan dari India. Saya tidak bermaksud merendahkan, menghina, atau mengecilkan para ahli, para doktor, para profesor, dan para peneliti yang dulu sampai sekarang masih berpendapat bahwa bahasa Sansakerta berasal dari India. Kita harus memahami bahwa ilmu pengetahuan itu berkembang dan terus berubah menjadi lebih baik apabila ditemukan bukti-bukti baru yang lebih akurat, tajam, dan terpercaya. Akan tetapi, akan menjadi sebuah kebodohan jika tetap mempertahankan pendapat lama, padahal pendapat lama itu sudah usang karena ditemukan bukti-bukti baru yang membantahnya. Hal ini berlaku bagi pengetahuan apa pun tanpa kecuali. Para ahli mengatakan bahwa bahasa Sansakerta berasal dari India disebabkan data-data dan fakta-fakta yang mereka temukan saat itu masih terbatas, sekarang kita menemukan kenyataan lain bahwa ternyata Indonesia dulunya adalah Benua Sundaland yang sangat megah, besar, maju, dan berteknologi tinggi. Sudah merupakan keharusan bagi para ahli mengikutsertakan eksistensi Benua Sundalad beserta kehidupannya dan kehancurannya sebagai bagian dari kronologis hidup bangsa Indonesia, kemudian merekonstruksi pemahaman-pemahaman sejarah ke arah yang lebih baik dan lebih benar.

            Keyakinan saya mengenai bahasa Sansakerta berasal dari Indonesia pun karena ada kenyataan lain yang berbeda, yaitu bahwa masyarakat India pun sejak dulu tidak menggunakan bahasa Sansakerta sebagai alat untuk berkomunikasi. Dr. Partini Sardjono dalam artikelnya Peranan Sastra Nusantara Kuna dalam Alam Pembangunan Nasional (1991) menjelaskan bahwa bahasa Sansakerta di India dulu pun hanya digunakan di kalangan terbatas, yaitu digunakan untuk ilmu pengetahuan, sastra, agama, dan di istana. Akan tetapi, tidak jelas digunakan dalam agama apa. Partini Sardjono tidak menyebutkan agama apa yang menggunakan bahasa Sansakerta di India. Adapun agama Budha sendiri di India menggunakan bahasa Pali. Orang-orang India sendiri untuk berkomunikasi menggunakan bahasanya daerahnya masing-masing. Bahasa Sansakerta sendiri disebut-sebut sebagai bahasa Dewa, yaitu Devanagari. bahasa kalangan tinggi yang memiliki kekuasaan tinggi, baik lahir maupun batin. Bahasa para Dewa di negara para Dewa. Adapun wilayah yang mendapat sebutan negara para Dewa adalah berada di Indonesia, Jawa Barat, yaitu Parahyangan, Para Hyang. Parahyangan artinya adalah tempat para Dewa bersemayam. Adapun Bali meskipun disebut Pulau Dewata bukanlah tempat yang dimaksud negara para dewa itu karena istilah itu baru muncul belakangan dan menggunakan bahasa Indonesia. 

            Adalah suatu hal yang tidak bisa dimengerti jika dikatakan bahwa bahasa Sansakerta berasal dari India, kemudian masuk ke Indonesia, tetapi di India sendiri tidak dipahami masyarakatnya secara umum. Di samping itu, tidak pernah ada kisah atau catatan sejarah bahwa antara kerajaan-kerajaan Indonesia dengan kerajaan-kerajaan India terjadi saling mempengaruhi secara akrab atau melalui konflik. Berbeda dengan Arab yang memiliki banyak kisah dan catatan sejarah yang akrab dengan Indonesia.

            Hal yang paling masuk akal adalah berdasarkan peta yang dibuat oleh Prof. Dr. Edi S. Ekadjati bahwa pada masa lalu India itu hanyalah sebuah kadipaten dari Kerajaan Sunda yang jelas berada di Sundaland. Sebagai sebuah wilayah kaadipatian dari kekuasaan Kerajaan Sunda, India jelas mendapatkan pengaruh yang sangat besar dari Sundaland dalam hal bahasa, agama, politik, ekonomi, dan sosial. Agama dan bahasa dari Sundaland berpengaruh besar dan masuk menyebar ke India. Oleh sebab itulah, bahasa Sansakerta masuk dari Indonesia ke kalangan istana, rohaniwan, dan intelektual India. Akan tetapi, karena Sundaland dihukum Allah swt melalui bencana besar yang membuatnya menjadi kepulauan, para pengguna bahasa Sansakerta di Indonesia pun ikut musnah, kecuali sedikit yang diingat oleh orang-orang lemah, tetapi masih beriman. Baca tulisan saya yang lalu berjudul Indonesia dalam Pandangan Allah swt. Adapun India meskipun mendapatkan juga bencana besar, menurut para ahli, kerusakannya tidak separah Benua Sundaland. Itulah yang menyebabkan bahwa bahasa Sansakerta di Indonesia hanya tinggal beberapa kata yang digunakan untuk nama gedung dan atau spirit lembaga-lembaga yang terkait dengan pemerintahan. Adapun di India para pengguna bahasa Sansakerta tidak semusnah seperti yang terjadi kepada para pengguna bahasa Sansakerta di Indonesia.


            Sampurasun.

Monday, 17 April 2017

Kisah Wayang Asli Indonesia, Bukan India

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Kisah-kisah wayang selama ini dikenal dunia berasal dari India. Mereka yang pertama kali mengatakan bahwa kisah-kisah wayang ini berasal dari India adalah orang-orang Belanda. Mereka mengatakan berasal dari India karena kisah-kisah itu banyak dipengaruhi bahasa Sansakerta. Mereka menduga bahasa Sansakerta berasal dari India, padahal kuat dugaan bahwa bahasa Sansakerta itu adalah berasal dari Indonesia dan merupakan bahasa tinggi yang berlaku di lingkungan orang-orang tinggi, para pejabat tinggi, dan terpelajar saat itu. Akan tetapi, bahasa Sansakerta musnah di Indonesia karena para penggunanya dihukum Allah swt pada bencana mahadahsyat yang menghancurkan Benua Sundaland menjadi kepulauan seperti sekarang ini. Untuk lebih jelasnya, baca tulisan saya yang lalu berjudul Matinya Bahasa Sansakerta.

            Berdasarkan konstruksi yang saya buat pada tulisan Matinya Bahasa Sansakerta, berarti pula kisah-kisah pewayangan ini berasal dari Indonesia yang kemudian menyebar ke India.

            Kalaulah kisah-kisah Ramayana, Mahabharata, atau yang lainnya benar dari India, siapa yang membawanya ke Indonesia?

            Orangnya harus terkenal karena kisah ini sangat populer di Indonesia dalam bentuk pewayangan. Akan tetapi, ternyata tidak diketahui.

            Kalaulah kisah-kisah itu berasal dari orang Indonesia yang pernah ke India, dia harus lama berada di India, kemudian sangat populer di Indonesia karena kisah-kisah ini sangat populer di Indonesia.

            Siapa orangnya?

            Tidak jelas. Gelap.

            Sebagaimana yang telah saya tulis bahwa berdasarkan peta yang dibuat Prof. Dr. Edi S. Ekadjati, dulu pada masa Indonesia masih berbentuk Sundaland, India itu hanyalah sebuah kadipaten dari kekuasaan Kerajaan Sunda, Indonesia. Pengaruh politik Kerajaan Sunda sangat besar pada wilayah-wilayah yang dikuasainya, termasuk India. Pengaruh itu di antaranya bahasa Sansakerta dan kisah-kisah pewayangan.

            Akan tetapi, ketika terjadi bencana besar yang menghancurkan Benua Sundaland berkeping-keping menjadi kepulauan seperti sekarang ini, para pengguna bahasa Sansakerta dan para penggemar kisah pewayangan itu pun ikut musnah, kecuali masih diingat oleh sedikit orang yang diselamatkan Allah swt dalam jumlah sedikit dan termasuk golongan lemah, terhina, tetapi masih beriman kepada Allah swt. Adapun daratan India meskipun ikut bergetar dan tertimpa bencana juga, kerusakannya tidak separah kehancuran Sundaland. Oleh sebab itu, bahasa Sansakerta dan kisah pewayangan itu masih bertahan di India.

            Orang-orang lemah dan beriman yang selamat inilah yang kemudian tetap melestarikan kisah-kisah itu karena isinya sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia. Isinya biasanya tentang sastra, pernikahan, agama, dan pengaturan negara. Mereka pun membangun kembali dunia yang telah hilang itu dari awal dalam bentuk kepulauan sambil tetap melestarikan kisah-kisah itu.

            Pada perkembangan berikutnya kisah-kisah ini disebut kakawin. Kawi adalah bahasa Sansakerta yang artinya “ia yang diberkati dengan kearifan”, “Yang Mahatahu”, “Yang Suci”. Akan tetapi, kemudian diartikan sebagai “penyair” (Partini Sardjono, 1986).

            Penulisan kakawin ini terus terjadi berabad-abad kemudian, berkembang, dan semakin populer. Hasil karya sastra kakawin yang paling populer dan paling tua adalah berasal dari Jawa Tengah, Indonesia yang berjudul Ramayana.

            Dr. Partini Sardjono Pr., S.S. saat pengukuhan penerimaan jabatan Guru Besar dalam Ilmu Sastra pada Fakultas Sastra, Universitas Padjadjaran, Bandung dalam pidatonya yang berjudul Peranan Sastra Nusantara Kuna dalam Alam Pembangunan Nasional (5 Juli 1986) mengatakan bahwa penulisan sastra kakawin berpindah dari Jawa Tengah ke Jawa Timur. Dari sinilah mulai lebih terang diketahui beberapa penulis kakawin berikut karya-karyanya. Arjunawiwaha ditulis oleh Mpu Kanwa (abad 11), Bharatayudha ditulis oleh Mpu Sedah yang kemudian diteruskan Mpu Panuluh (abad 12), Hari Wangca dan Ghatotkacasraya ditulis Mpu Panuluh (abad 12), Kresnayana ditulis Mpu Triguna (abad 13), Smaradahana ditulis Mpu Dharmaraja (abad 12), Sumasantaka ditulis Mpu Monaguna (abad 13), Bhomantaka (abad 13), Negarakrtagama ditulis Mpu Prapanca (abad 14), Sutasoma ditulis Mpu Tantular, dan Lubdhaka atau Siwaratrikalpa ditulis Mpu Tanakung (abad 15).

            Sayangnya, penulisan-penulisan karya sastra jenis ini mengalami kemunduran seiring dengan mundurnya kekuasaan Majapahit akibat konflik-konflik politik yang terjadi pada abad 16. Memang pada abad 16 ini di samping konflik politik yang sangat keras terjadi di Majapahit, juga mulai datangnya penjajahan Belanda pada 1602. Para ahli dan peneliti Belanda mengatakan bahwa kakawin itu merupakan kisah-kisah Hindu atau Budha dan berasal dari India. Dari sinilah tampaknya mulai kekeliruan itu. Hal itu menyebabkan orang-orang yang sudah mengikuti Islam Muhammad saw setelah sebelumnya menganut Islam berdasarkan nabi-nabi terdahulu menganggap bahwa kisah-kisah kakawin itu tidak penting karena menurut Belanda berasal dari Hindu, Budha, dan India. Adapun para wali dan penyebar ajaran Muhammad saw lebih banyak berceritera tentang Nabi Muhammad saw, keluarganya, para sahabat, serta para pejuang Islam.

            Tampaknya, konflik politik di Majapahit yang sangat keras, kehadiran penjajah Belanda, dan kisah-kisah Nabi Muhammad saw membuat karya sastra kakawin tidak lagi disukai, bahkan cenderung akan dimusnahkan karena ya itu tadi anggapan keliru mengenai kakawin berasal dari India dan merupakan alat untuk menyebarkan Hindu dan Budha. Hampir saja kisah-kisah ini benar-benar musnah jika para bangsawan dan rohaniwan Majapahit tidak menyingkir ke Pulau Bali.

            Di Bali para bangsawan Majapahit dan para rohaniwannya mendapat kehidupan yang lebih layak sehingga kisah-kisah kakawin ini masih lestari. Kemudian, penulisan karya sastra ini dilanjutkan oleh orang-orang Bali. Akibatnya, latar belakang hidup, pengalaman hidup, dan agama orang-orang Bali yang Hindu pun mempengaruhi isi kakawin. Jadi, kakawin ini sekarang benar-benar terpengaruhi agama Hindu. Dari sini tampaknya hubungan dengan India menjadi erat. Hal ini bisa dilihat dari ceritera asal India yang mengisahkan Dewa Krisna sedang berada di Bali.

            Berbeda dengan di Pajajaran, Sunda. Karena di Pajajaran tidak terjadi konflik-konflik keras seperti yang terjadi di Majapahit, para bangsawan dan rohaniwan Pajajaran tidak lari kabur ke pulau lain. Dengan demikian, karya-karya sastra kakawin tidak lari ke mana-mana, malahan masuk ke dalam berbagai kawih (tembang, lagu). Karena tidak lari ke mana-mana dan menerima dengan baik ajaran Muhammad saw setelah sebelumnya menganut Sunda Wiwitan, hasil karya sastra jenis ini mendapatkan pengaruh ajaran Islam sangat kuat sehingga justru digunakan menjadi alat untuk menyebarkan agama Islam. Hal ini bisa kita lihat dari setiap pagelaran wayang golek. Siapa pun dalangnya, dari ke generasi ke generasi, wayang golek selalu sarat dipenuhi oleh nasihat-nasihat Islami dan keluhuran budi pekerti Sunda yang memperkuat akhlakul karimah sebagaimana diajarkan Muhammad saw.

WAYANG GOLEK. Foto: manuskripkesunyian.wordpress.com 

            Begitulah kira-kira konstruksinya jika kita melibatkan eksistensi Benua Sundaland dalam sejarah hidup Indonesia. Memang sudah seharusnya eksistensi Benua Sundaland berikut kehancurannya dimasukkan menjadi bagian dari kronologis sejarah Indonesia dari masa ke masa.

            Sesungguhnya, Allah swt yang lebih mengetahui segalanya.


            Sampurasun.

Saturday, 15 April 2017

Matinya Bahasa Sansakerta

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Dalam hal bahasa, yang disebut sebuah bahasa mati itu bukan berarti musnah dan hilang tanpa bekas, melainkan bahasa itu sudah tidak efektif lagi digunakan untuk berkomunikasi. Demikian pula dengan bahasa Sansakerta yang pernah ada di Indonesia, mati. Bahasa ini sekarang hanya digunakan untuk nama-nama gedung, organisasi yang berkaitan dengan pemerintah, atau semangat-semangat keprajuritan seperti Jales Veva Jaya Mahe, ‘Di Laut Kita Jaya’ yang merupakan spirit Angkatan Laut Indonesia.

            Para ahli banyak yang mengatakan bahwa bahasa Sansakerta berasal dari India karena huruf dan penggunaannya masih banyak di India. Akan tetapi, para ahli tidak mengetahui kapan bahasa ini masuk ke Indonesia, apakah melalui perkawinan, hubungan ekonomi, sosial, atau hubungan militer. Tidak jelas. Kalaupun benar bahasa Sansakerta berasal dari India, harus ada kisah dongeng ataupun catatan sejarah tentang keakraban maupun konflik antara kerajaan-kerajaan di Indonesia dengan kerajaan-kerajaan di India. Kenyataannya, tidak ada. Kalaupun ada, tidak diketahui masyarakat dan hanya terdiri atas satu atau dua paragraf pengantar dari folklore yang berisi kisah tentang kerajaan di Indonesia. Demikian pula kematian bahasa Sansakerta di Indonesia, tidak diketahui dengan baik. Seolah-olah ada sejarah yang putus dan hilang terkubur.

            Tampaknya, memang bahasa itu terkubur karena para penggunanya terkubur akibat bencana mahadahsyat yang menghancurkan Benua Sundaland menjadi 17.000 pulau bernama Indonesia. Eksistensi bahasa Sansakerta di Indonesia tampak pada peninggalan prasasti batu tulis dan naskah-naskah kuno. Isinya biasanya tentang hal-hal terhormat dan mulia. Artinya, bahasa itu digunakan di kalangan terhormat, kaum bangsawan, dan orang-orang berkedudukan tinggi.

            Apabila kita melihat peta kekuasaan Kerajaan Sunda yang dibuat oleh Prof. Dr. Edi S. Ekadjati, ternyata India itu dulunya hanya sebuah kadipaten dari Kerajaan Sunda. Artinya, India adalah bawahan dari Kerajaan Sunda. Hal itu menunjukkan bahwa Kerajaan Sunda pada masa Sundaland memberikan pengaruh yang besar pada India, termasuk dalam hal bahasa. Dengan demikian, saya memiliki dugaan bahwa bahasa Sansakerta bukanlah berasal dari India, melainkan sebaliknya, berasal dari Indonesia yang menyebar ke India.

            Dengan melihat berbagai peninggalan, bahasa Sansakerta dapatlah dikatakan sebagai bahasa tinggi di kalangan orang-orang tinggi. Artinya, tidak semua penduduk Sundaland menggunakan bahasa Sansakerta. Kalangan masyarakat pinggiran, miskin, dan lemah menggunakan bahasa yang lain. Fenomena ini bisa kita lihat pada masa kini juga, yaitu bahasa Indonesia yang digunakan di kalangan orang terhormat, mulia, dan terpelajar. Adapun masyarakat yang masih jauh di pedalaman, apalagi terisolasi dan kuat memegang adat istiadat, sama sekali tidak mampu berbahasa Indonesia. Jangankan berbahasa Indonesia, mendengar saja pun mungkin belum pernah. Mereka hanya menggunakan bahasa mereka sendiri.

            Jika kita memperhatikan Al Quran surat Saba, bencana mahadahsyat yang datang bebarengan antara banjir laut pasang melahap gunung, gempa tektonik, dan gempa vulkanik pada 8.000 tahun sebelum Masehi adalah ditujukan untuk orang-orang kaya yang sombong, para penguasa yang angkuh, dan orang-orang mulia yang sudah menjadi kafir melupakan ajaran para nabi terdahulu. Orang-orang inilah yang terkubur dan tenggelam dengan segala kekuasaan dan kekayaannya. Orang-orang tinggi dan terhormat inilah sebagai pengguna bahasa Sansakerta yang musnah dari muka Bumi. Jadi, kematian bahasa Sansakerta disebabkan oleh kematian para penggunanya. Pengguna bahasa Sansakerta di Indonesia sebagian besar musnah dan hanya diingat oleh beberapa orang saja yang diselamatkan Allah swt dari bencana itu. Adapun orang-orang pinggiran, lemah, dan miskin, tetapi masih tetap memegang ajaran nabi terdahulu selamat dari bencana itu dan memulai hidup baru dalam kondisi wilayahnya yang telah berubah menjadi kepulauan.

            Daratan India sebenarnya mengalami goncangan teramat hebat ketika terjadi bencana itu. Akan tetapi, menurut catatan para peneliti, wilayah yang paling parah mengalami kehancuran adalah Benua Sundaland. Memang hasilnya bisa kita lihat saat ini bahwa benua yang satu berubah drastis menjadi 17.000 pulau bernama Indonesia. Karena kerusakan daratan India tidak separah kehancuran Benua Sundaland, masih sangat banyak pengguna bahasa Sansakerta beserta berbagai tulisan dan ajarannya yang tidak musnah dan tetap hidup di India. Tampaknya, inilah yang menyebabkan orang-orang berpendapat bahwa bahasa Sansakerta berasal dari India. Akan tetapi, saya melihat hal lain. Hal itu adalah wilayah asal bahasa Sansakerta, yaitu Benua Sundaland yang kini bernama Indonesia hancur lebur berkeping-keping dan mengubur serta menenggelamkan para pengguna bahasa Sansakerta sampai hampir habis dan masih diingat oleh hanya beberapa gelintir orang yang diselamatkan Allah swt. Dari beberapa gelintir orang inilah bahasa Sansakerta bisa bertahan beberapa kata dan beberapa kalimat di Indonesia. Adapun di India, bahasa Sansakerta yang asalnya dari Indonesia tetap masih hidup dan digunakan karena wilayahnya tidak hancur parah seperti Sundaland.

            Wallahu alam

            Begitu Saudara.

            Ada yang berbeda pendapat?

            Boleh. Bahkan, harus.

            Saya bisa salah. Bisa pula benar.

            Kita harus saling meluruskan agar didapat kebenaran yang lebih nyata dan tepat. Tak perlu malu jika salah dan jangan belagu jika benar.


            Salam damai. Sampurasun.