Showing posts with label Penjajahan. Show all posts
Showing posts with label Penjajahan. Show all posts

Wednesday, 19 May 2021

Antara Pahlawan dan Penjahat

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Konflik Israel dan Palestina memunculkan dua kubu pemikiran di tanah air Indonesia. Ada yang pro-Palestina dan ada yang pro-Israel. Mayoritas adalah yang pro-Palestina, sedangkan yang pro-Israel jumlahnya hanya beberapa gelintir orang, sebagaimana jumlah orang Israel yang juga sangat sedikit, dengan jumlah penduduk DKI Jakarta saja beda-beda tipis, sekitar sembilan juta orang. Dilihat dari opini yang beredar, para pendukung Israel ini miskin data, berpendapat hanya parsial, tidak utuh, dan menyandarkan pendapatnya dari sumber-sumber Israel. Mereka membenci Hamas yang dianggapnya penjahat dan teroris karena melawan Israel. Padahal, Hamas eksis itu disebabkan perilaku Israel yang banyak melakukan kejahatan kepada bangsa Palestina.

Jika Israel dari dulu mau secara beradab mengikuti program “two state solution”, ‘solusi dua negara merdeka’, yaitu di wilayah itu tercipta Negara Israel Merdeka dan Palestina Merdeka dengan hidup berdampingan, situasinya akan jauh berbeda, persoalan bisa diselesaikan dengan cara berdialog dan diskusi-diskusi yang jauh lebih elegan. Akan tetapi, zionis lebih memilih jalan premanisme, terorisme, dan kriminalisme yang mengakibatkan situasi semrawut hingga saat ini. Mereka memang kurang belajar dari sejarah mereka sendiri yang penuh masalah dan penuh kekacauan dari zaman ke zaman.

            Bagi zionis dan para pendukungnya, termasuk yang berada di Indonesia, Israel memiliki hak untuk melakukan kekerasan dan kekejaman terhadap bangsa Palestina dengan dalih bahwa Israel pun berhak hidup dan membela dirinya. Oleh sebab itu, bagi mereka, Hamas adalah penjahat yang harus dimusnahkan karena melawan Israel. Bagi Palestina dan para pendukungnya di seluruh dunia, Zionis Israel adalah penjahat karena menjajah Palestina. Hamas adalah pahlawan yang mengimbangi berbagai kejahatan yang dilakukan Israel terhadap rakyat Palestina.

            Sesungguhnya, perbedaan pendapat dan pemikiran ini selalu ada dalam setiap konflik yang terjadi antara para penjajah dengan bangsa yang dijajah. Tidak terlalu aneh.

            Di Indonesia, bagi Belanda, selaku penjajah, dan para pendukung penjajahan, Pangeran Diponegoro adalah perampok, penjahat, dan provokator yang menghasut para petani untuk memberontak terhadap Belanda. Akan tetapi, bagi Indonesia, Pangeran Diponegoro adalah pahlawan yang sangat dihormati hingga saat ini karena membela rakyat kecil, termasuk para petani.

            Haji Hasan  Arif dari Cimareme, Garut, adalah provokator, ekstrimis, dan penghasut karena memprovokasi para petani untuk tidak menyerahkan beras sebagai pajak kepada Belanda. Dia mengumpulkan para santri dari Garut, Ciamis, Tasikmalaya, Sumedang, Bandung, dan beberapa daerah lainnya di Jawa Barat untuk berperang  melawan Belanda. Bagi Belanda, selaku penjajah, dan para pendukungnya, Haji Hasan Arif adalah penjahat yang harus dibunuh karena melawan penjajahan. Akan tetapi, bagi Indonesia, khususnya rakyat Garut, Hasan Arif adalah pejuang, pahlawan karena melakukan perlawanan kepada Belanda.

            Omar Mochtar, bagi Italia adalah perampok, pembunuh, dan penjahat karena melakukan serangkaian serangan kepada pasukan Italia yang melakukan penjajahan pada Libya. Bagi rakyat Libya dan para pendukungnya, Omar Mochtar adalah pejuang, pahlawan, dan mujahid yang sangat dihormati. Ia sampai hari ini dikenal dengan gelarnya sebagai “Lion of The Desert”, ‘Singa Padang Pasir’.

            Hamas bagi Zionis Israel dan pendukungnya adalah penjahat karena melakukan perlawanan terhadap Israel yang menjajah Palestina. Bagi bangsa Palestina dan pendukungnya, saat  ini Hamas adalah pejuang dan pahlawan karena melakukan pembalasan atas kejahatan yang dilakukan Israel kepada bangsa Palestina.

            Berdasarkan fakta-fakta tersebut, sebutan pahlawan atau penjahat bergantung posisi kita. Jika kita mendukung penjajahan, mereka yang melawan penjajahan adalah penjahat. Sebaliknya, jika kita mendukung rakyat terjajah, mereka yang melawan penjajahan adalah pejuang dan pahlawan. Posisi kita menentukan pendapat kita.

            Secara konstitusi, rakyat Indonesia wajib mendukung rakyat terjajah dan harus anti terhadap penjajahan. Secara kemanusiaan yang berlaku universal, kita wajib mengakui bahwa semua manusia itu memiliki hak dasar yang sama untuk merdeka. Secara ketuhanan, kita harus memahami bahwa semua manusia itu memiliki kewajiban untuk hidup harmonis dan saling menyayangi.

Ingat bahwa  pendapat dan perilaku kita akan dimintai pertanggungjawaban di alam akhirat nanti.

Sampurasun.

Saturday, 15 May 2021

Palestina Jangan Bergantung pada Negara Lain

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya




Hidup itu jangan selalu bergantung pada orang lain. Boleh sekali-sekali, tetapi tidak untuk selamanya. Kita harus mampu mengandalkan potensi, kekuatan, dan kreativitas diri agar lebih punya harga diri dan sanggup untuk memutuskan segala hal untuk kebaikan diri kita sendiri. Jika kita selalu hidup bergantung kepada orang lain, selalu berharap belas kasihan orang lain, kekuasaan kita untuk berkuasa terhadap diri sendiri pun akan sangat rendah. Wibawa kita akan sangat minim.

            Demikian pula dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Suatu bangsa atau negara akan berwibawa jika mampu menggali potensi dirinya, kemudian mewujudkannya dalam kehidupan internasional. Kita bisa lihat Singapura, negara kecil segede pelok buah mangga itu mampu berwibawa karena dapat mengeksplorasi potensi dirinya, baik para elit maupun rakyatnya, kemudian menggunakannya dalam pergaulan internasional.

            Jika kita melihat kasus-kasus di Palestina terkait konfliknya dengan Israel, tampak sekali ketergantungannya kepada negara lain. Setiap terjadi konflik, Palestina, dunia Arab, negara berpenduduk mayoritas muslim, maupun para aktivis kemanusiaan kerap berteriak meminta bantuan dan pertanggungjawaban negara lain.

            Kok Arab Saudi diam saja?

            Bagaimana negara-negara muslim lainnya? Kok tenang-tenang saja?

            Turki seharusnya kirim pasukan perang melawan Israel ke Palestina!

            Indonesia sebagai negara berpenduduk muslim terbesar di dunia seharusnya lebih keras bersikap kepada Israel!

            Bagaimana pertanggungjawaban PBB?

            Kalimat-kalimat semacam itu sering terdengar. Hal itu menjadikan Palestina sebagai “anak teraniaya” yang harus selalu dilindungi orang lain. Padahal, di tanah itulah muncul kisah manusia paling perkasa sedunia “Syamun Al Ghazi” yang dikenal dunia lewat film dan  ceritera sebagai “Samson”.

            Sesungguhnya, kemerdekaan, kedaulatan, dan kekuasaan mengatur dirinya sendiri adalah bergantung pada dirinya sendiri. Kita bisa berkaca pada kemerdekaan Negara Indonesia yang mengalami penjajahan paling mengerikan di muka Bumi dalam waktu yang sangat panjang (C. Santin dalam Soekarno : 1963), lebih lama dibandingkan Palestina. Dalam hitungan saya dari beberapa literatur yang saya baca, bantuan dari luar negeri atau pihak asing untuk mencapai kemerdekaan Indonesia, paling hanya 10%; kemudian 10% dari momen dunia saat itu; persentase terbesarnya adalah 80% perjuangan bangsa Indonesia sendiri.

            Bantuan pihak asing yang diterima Indonesia bisa berupa dukungan kepada perjuangan dan kemerdekaan Indonesia di organisasi internasional, pendidikan para pemuda Indonesia, bantuan materi bagi orang-orang Indonesia yang menjalin hubungan dengan orang-orang di luar negeri, dan lain sebagainya. Momen dunia yang menguntungkan Indonesia adalah kekalahan Jepang setelah perang melawan pasukan multinasional (sekutu). Perjuangan rakyat Indonesia adalah penyumbang terbesar terhadap keberhasilan mendapatkan kemerdekaan Indonesia.

            Hal yang paling menguatkan perjuangan Indonesia adalah adanya rasa persatuan, senasib dan sepenanggungan, serta kesetiaan kepada komando revolusi. Saya teringat ajaran guru saya ketika SD soal “sapu lidi”. Sapu lidi itu kuat dan bermanfaat jika lidi-lidi yang terpisah itu diikat dan disatukan menjadi sapu lidi. Akan tetapi, jika diceraiberaikan menjadi lidi yang terpisah-pisah, akan lemah dan mudah dipatahkan. Begitulah perumpaan “persatuan Indonesia”. Oleh sebab itu, sampai saat ini pemerintah Indonesia dan rakyat Indonesia yang “waras otak” selalu memerangi setiap upaya beberapa gelintir orang yang dianggap mengancam persatuan dan kesatuan Republik Indonesia. Kalau Indonesia sampai tercerai-berai, lemahlah kemerdekaan negaranya.

            Begitu pula dengan Palestina saat ini. Saya kurang yakin jika kemerdekaan Palestina bisa dicapai jika hitungan persentasenya dibalik: 80% bantuan asing, 10% momen dunia, dan 10% perjuangannya sendiri. Sulit sekali menjadi berdaulat jika hitungannya seperti itu.

            Situasi dan kondisi di Palestina saat ini masih belum menunjukkan rasa persatuan yang utuh. Kelompok-kelompok perlawanan atau kalau diibaratkan sebagai lidi-lidi yang ada, masih tercerai berai, belum kuat seperti sapu lidi yang terikat kuat. Tak jarang di antara kelompok-kelompok itu terlibat perselisihan yang sebetulnya merugikan mereka sendiri. Israel dan para pendukung Israel memanfaatkan kelemahan Palestina itu untuk terus memperlemah Palestina dan memiliki celah untuk bersikap arogan terhadap Palestina.

            Bersatulah dulu dalam satu komando, insyaallah sekuat Syamun Al Ghazi atau Samson.

            Soal senjata?

            Penjajah Indonesia menggunakan senjata modern dan canggih, kita awalnya cuma pakai bambu runcing. Bisa menang kok.

            Sampurasun.

Friday, 14 May 2021

Indonesia Lebih Tegas Dibandingkan Turki Soal Israel

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Baru-baru ini selepas tindakan pengusiran paksa warga Palestina di Sheik Jarrah dan kekerasan terhadap warga Palestina di Masjijd Al Aqsa oleh Israel, beberapa gelintir orang Indonesia memposting tulisan atau pidato Presiden Turki Recep Tayip Erdogan yang isinya kecaman keras terhadap Israel. Kecaman Erdogan terhadap Israel memang keras dan itu bagus sebagai seorang kepala negara. Akan tetapi, banyak presiden dan pemimpin negara lain pun, baik yang penduduknya mayoritas muslim maupun nonmuslim melakukan kecaman serupa. Tidak terkecuali, Presiden RI Jokowi pun mengutuk keras soal tindakan brutal Israel. Jadi, bukan hanya Erdogan yang melakukan kecaman keras.

            Hal yang membuat saya tertarik adalah mereka yang memposting pidato Erdogan menambahinya dengan narasi-narasi berlebihan, cenderung mengecilkan peranan Indonesia terhadap sikap Israel, bahkan melakukan penghinaan yang tanpa bukti terhadap Indonesia. Seolah-olah Erdogan adalah segala-galanya, pemimpin utama umat Islam sedunia, dan Indonesia dituding sebagai negara lemah yang tidak peduli umat Islam. Digambarkan Erdogan adalah pahlawan sejati umat Islam dengan Turki yang penuh kemakmuran. Pokoknya Erdogan dan Turki adalah nomor wahid.

            Bagi saya, mereka ini orang-orang lucu. Mereka adalah orang-orang Indonesia yang memuja-muji Turki.

Kalaulah memang Erdogan adalah segala-galanya dan mampu mengatasi persoalan umat Islam sedunia dengan sukses, lalu Turki adalah negara penuh gemerlap cahaya keagungan dan kemakmuran, kenapa tidak pindah saja menjadi warga Negara Turki?

Mengapa mereka masih tinggal di Indonesia yang katanya lemah, dzalim, dan tidak peduli umat Islam itu?

Hijrah dong ke Turki, lalu nikmati kenyamanan di sana. Berbahagialah dengan nostalgia tentang “Sultan Mehmed II” atau yang lebih sering dikenal dengan nama “Al Fatih” itu.

Kalau masih tinggal di Indonesia, tetapi memuja Turki setinggi langit, itu aneh. Mereka memang orang-orang aneh.

Sudahlah, biarkan keanehan itu tetap aneh dan lucu.

Apabila dilihat dari sisi hubungan internasional, terutama dalam hal diplomatik, sikap Indonesia jauh lebih tegas dibandingkan Turki. Sejak Indonesia merdeka, Israel selalu bersikap baik kepada Indonesia, terutama terhadap para presiden terpilih Indonesia. Israel selalu mengucapkan selamat kepada presiden RI terpilih. Itu terjadi sejak zaman Ir. Soekarno. Mereka melakukan itu dengan harapan dapat membuka hubungan diplomatik dengan Indonesia. Akan tetapi, tidak seorang presiden Indonesia pun yang menanggapi keinginan Israel itu. Membuka hubungan diplomatik dengan Israel adalah sama dengan menyatakan persahabatan dengan Israel, setiap negara yang memiliki hubungan diplomatik dengan Indonesia berarti sahabat Indonesia.   Penolakan Indonesia untuk membuka hubungan diplomatik dengan Israel sama artinya dengan menolak bersahabat dengan Israel. Pernah memang Indonesia seakan-akan hendak membuka hubungan persahabatan dengan Israel ketika masa pemerintahan Presiden Abdurahman Wahid atau yang kerap disapa Gus Dur. Akan tetapi, rakyat Indonesia menolaknya dan Gus Dur menggunakan penolakan rakyat itu sebagai alasan kepada Israel untuk tidak membuka hubungan diplomatik dengan Israel. Tak mau bersahabat dengan Israel. Kejadian akhir-akhir ini Indonesia ditawari bantuan sejumlah uang yang sangat fantastis oleh Amerika Serikat agar mau membuka hubungan persahabatan dengan Israel. Akan tetapi, tidak perlu Presiden Jokowi yang menjawab rayuan Amerika Serikat itu, cukup Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi yang menegaskan bahwa Indonesia “tidak memiliki rencana untuk membuka hubungan diplomatik dengan Israel”. Penolakan yang sangat tegas. Padahal, negara-negara Arab sudah banyak yang berhubungan dengan Israel atas mediasi yang dilakukan Amerika Serikat dengan menggunakan sejumlah kucuran dana yang sangat besar kepada negara-negara di kawasan itu.

Indonesia tidak tertarik dengan tawaran itu meskipun dengan rayuan bertumpuk-tumpuk uang karena di samping sentimen keagamaan mayoritas rakyat Indonesia, juga ada amanat dari Pembukaan UUD 1945:

“Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.”

Pelaksanaan amanat Pembukaan UUD 1945 itu saat ini ditafsirkan dengan harus melakukan penolakan berhubungan dengan Israel karena Israel adalah bangsa yang sedang melakukan penjajahan terhadap Palestina. Indonesia tidak bersedia melakukan persahabatan dengan penjajah.

Berbeda dengan Turki. Negeri yang kerap dipuja-puja sebagai negeri pembela umat ini sejatinya sudah sangat lama berhubungan diplomatik dengan Israel. Artinya, mereka bersahabat dengan Israel meskipun hubungan ini kerap mengalami “up and down”, kadang naik, kadang turun; kadang baik, kadang bermusuhan; pernah terjadi pengusiran duta besarnya, tetapi pada kali lain, berhubungan lagi.

Mengapa Turki dan Israel memiliki hubungan diplomatik?

Hal itu disebabkan keduanya memiliki keuntungan dari hubungan itu. Bahkan, pada Desember 2020, banyak media yang menyoroti perdagangan antara Turki dan Israel mengalami pertumbuhan yang disebutnya “meroket”. Keduanya mendapatkan keuntungan ekonomi yang luar biasa.

Tindakan membuka atau menutup hubungan diplomatik dengan Israel adalah pilihan bebas setiap negara. Akan tetapi, dilihat dari hal ini Indonesia jauh lebih tegas dibandingkan Turki dalam bersikap terhadap Israel. Indonesia tidak mau secara resmi sedikit pun berhubungan dengan Israel, sedangkan Turki sudah sejak lama berhubungan dengan Israel dan pasti punya keuntungan dari hubungan itu.

Kalau tidak ada untungnya, buat apa berhubungan, iya enggak?

Bagi Indonesia, tidak peduli mau untung atau tidak, hal yang sangat jelas adalah tidak mau berhubungan dengan Israel sepanjang Israel masih melakukan penjajahan terhadap Palestina. Jika Israel bersedia menghentikan penjajahannya terhadap Palestina, tak ada alasan bagi Indonesia untuk menolak membuka hubungan diplomatik dengan Israel.

Siapa yang lebih tegas bersikap terhadap Israel?

Negara yang menolak berhubungan atau negara yang bersedia untuk berhubungan?

Hayo, gampang kan menjawabnya?

Sampurasun.

Monday, 1 February 2021

Pola Hubungan dalam Paternalisme dan Integrasi

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Terdapat hubungan antarkelompok masyarakat dalam bentuk paternalisme dan integrasi.

 

Paternalisme

Hubungan ini berupa dominasi atau penguasaan yang dilakukan kelompok ras pendatang terhadap pribumi. Hubungan ini terjadi apabila kelompok pendatang secara politik lebih kuat daripada penduduk pribumi yang ditandai dengan adanya koloni di tanah jajahan.

            Dalam hubungan antarkelompok terdapat tiga macam masyarakat, yaitu: Pertama, adanya masyarakat metropolitan yang berasal dari daerah para pendatang. Kedua, masyarakat kolonial yang terdiri atas para pendatang dan sebagian masyarakat pribumi. Ketiga, masyarakat pribumi yang dijajah.

 

Integrasi

Hubungan ini berupa adanya pengakuan perbedaan ras di dalam masyarakat, tak ada kekhususan perhatian terhadap perbedaan tersebut. Perbedaan ras hanya pada bidang tertentu, sedangkan urusan pekerjaan dan status sosial tidak bergantung pada perbedaan itu. Jenis pekerjaan dan status sosial hanya bisa dicapai oleh usaha setiap orang dan bukan berdasarkan ras seseorang.

            Demikian penjelasan pola hubungan berdasarkan paternalisme dan integrasi.

            Sampurasun

 

Sumber Pustaka:

Wijayanti, Fitria; Rahmawati, Farida; Irawan, Hanif; Sosiologi: untuk SMA/MA Kelas XI Semester 1: Peminatan Ilmu-Ilmu Sosial

Maryati, Kun; Suryawati, Juju; 2014, Sosiologi: untuk SMA dan MA Kelas XI Kurikulum 2013: Kelompok Peminatan Ilmu-Ilmu Sosial, Penerbit Erlangga: Jakarta

Thursday, 29 August 2019

Bahaya Rasisme


oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Sebetulnya, bahaya rasisme sudah dirasakan umat manusia dari zaman ke zaman. Oleh sebab itu, manusia yang waras otak selalu menentang sikap dan keyakinan yang rasis.

            Sikap rasis jelas menimbulkan ketidakadilan dalam kehidupan manusia. Sekelompok manusia merasa lebih tinggi dibandingkan manusia lainnya atas dasar perbedaan ras. Kelompok yang lain merasa lebih rendah dibandingkan yang lebih tinggi. Apabila kondisi keyakinan ini terus-menerus terjadi, manusia menjadi semakin yakin bahwa memang ada ras yang lebih tinggi atau lebih rendah di dalam dunia ini. Itu sebuah kebodohan dan kita sudah mengalaminya. Puncaknya, karena rasisme tidak sesuai dengan fitrah manusia, terjadilah kemarahan, kekesalan, pemberontakan, pembunuhan, penganiayaan, dan perang di antara manusia.

            Ras manusia yang merasa diri lebih tinggi merasa berhak untuk menguasai dan mengatur sekehendak mereka atas ras manusia lain yang dianggap lebih rendah. Demikian pula dalam menikmati karunia sumber daya alam. Kekuasaan ekonomi hanya berpusat pada ras-ras yang dianggap tinggi. Adapun ras rendah dianggap penonton yang hanya boleh menikmati kehidupan ini dalam batas-batas yang diatur oleh ras yang lebih tinggi.

            Penjajahan adalah contoh nyata dari bahaya rasis yang sudah terjadi. Dalam buku-buku karya Harun Yahya, dijelaskan bahwa penjajahan itu terjadi disebabkan teori evolusi  yang diperkenalkan oleh Charles Darwin. Sebagaimana yang kita ketahui bahwa para pendukung teori ini tetap yakin bahwa manusia berasal dari kera/monyet yang mengalami perubahan bertahap untuk menjadi manusia. Dalam pendapat mereka, monyet yang sudah sempurna menjadi manusia adalah orang-orang kulit putih Eropa. Oleh sebab itu, mereka merasa berhak untuk menjajah monyet-monyet yang belum sempurna menjadi manusia. Orang-orang berkulit hitam atau kulilt berwarna lainnya dianggap belum menjadi manusia, masih setengah monyet. Mereka menganggap harus dan wajar menjajah karena mereka manusia dan negeri yang dijajah itu didiami makhluk setengah binatang. Indonesia pun dianggap negeri yang dipenuhi manusia setengah monyet. Oleh sebab itu, layak untuk dijajah.

            Akan tetapi, para ahli yang jujur mengatakan bahwa rasisme adalah kedok dari para imperialis untuk menguasai sektor-sektor ekonomi yang dimiliki oleh bangsa lainnya. Itu kenyataannya.

            Indonesia pun sempat mengalami tekanan rasis yang luar biasa sehingga rakyatnya percaya bahwa dirinya adalah manusia kelas rendahan yang hidupnya harus dituntun oleh para penjajah. Oleh sebab itu, Pemimpin Besar Revolusi Indonesia Ir. Soekarno mengatakan bahwa bangsa Indonesia adalah 100% rakyat kelas kambing. Hal itu pulalah yang membuat sulit Soekarno untuk membangkitkan semangat perlawanan rakyat terhadap penjajahan. Bahkan, Soekarno dianggap rakyatnya sendiri sebagai pembuat onar karena melawan keyakinan rakyat selama itu yang sudah sangat percaya bahwa dirinya manusia rendahan yang harus selalu dicokok hidungnya dan dituntun oleh orang lain untuk sekedar ikut hidup.

            Begitulah sedikit contoh dari bahaya sikap rasis, membuat ras tertentu merasa lebih hebat dan tinggi serta membuat ras lainnya merasa lebih rendah. Akibatnya, kehidupan menjadi tidak adil dan tidak seimbang. Lebih jauhnya, menentang fitrah manusia hingga menimbulkan perang-perang yang berisi pembunuhan dan penganiayaan di antara manusia.

            Masih banyak bahaya rasisme lainnya. Pokoknya, bersikap rasis itu menentang fitrah manusia dan berbahaya bagi keseimbangan hidup manusia.

            Sampurasun.   

Saturday, 17 August 2019

Nikmat Tuhan Mana Lagi Yang Kamu Dustakan?


oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Pernahkah kita berpikir mengapa kita bisa makan, jalan-jalan, sekolah, beribadat, saling mengunjungi, berkumpul, tertawa-tawa, dan melakukan kegiatan sehari-hari lainnya dengan tenang?

            Saya yakin banyak sekali orang yang sangat jarang memikirkan hal itu, bahkan tidak pernah memikirkannya sama sekali.

            Dulu, sebelum Indonesia merdeka, orangtua kita sangat sulit untuk melakukan hal-hal itu dengan tenang. Makan susah, jenis makanannya pun berbeda antara rakyat dengan penguasa, hanya orang tertentu yang bisa sekolah, ibadat dibatasi, baca Al Quran hanya boleh bahasa Arab tanpa boleh diterjemahkan, berkumpul dicurigai lalu ditangkapin, tertawa-tawa juga dibatasi malah orangtua kita ditertawakan penjajah. Semua diatur penjajah. Jangankan makan atau jalan-jalan, untuk sekedar buang air besar (BAB) saja, tegangnya bukan main. Saya pernah mendapat ceritera dari nenek-nenek yang ketika masa mudanya kalau be a be, tempatnya di sungai. Pasukan Belanda suka patroli di sungai itu. Kalau lihat perempuan be a be di sungai, penjajah itu suka menembaki air sungai di tempat perempuan itu jongkok. Akibatnya, perempuan itu ketakutan dan lari pontang-panting. Sementara itu, pasukan Belanda tertawa-tawa senang. Bagi mereka, membuat perempuan ketakutan dan tidak selesai be a be, adalah hiburan. Bayangkan, bagaimana terhinanya kita.

            Sekarang, kesulitan-kesulitan dan hinaan itu sudah tidak ada lagi. Kita sudah merdeka.

            Mengapa tidak ada lagi perilaku jahat semacam itu?

            Pernahkah kita berpikir bahwa selama siang dan malam ada prajurit TNI yang menjaga perbatasan negara kita dengan negara lain agar tidak ada pasukan asing yang mengganggu kedaulatan Negara Indonesia?

            Pernahkah kita berpikir bahwa ada yang selalu meronda di atas langit Indonesia untuk menjaga wilayah udara Indonesia dari pesawat-pesawat asing yang tidak diizinkan masuk?

            Pernahkah kita berpikir bahwa prajurit kita menjaga wilayah kita dengan cara memperhatikan radar agar tak ada yang macam-macam dengan Indonesia?

            Pernahkah kita berpikir bahwa ada yang selalu berlayar di laut dengan bertaruh nyawa untuk menjaga batas-batas wilayah laut Indonesia agar tidak dicuri dan diambil alih oleh negara lain?

            Tahukah kita bahwa Presiden RI bersama TNI membentuk pasukan super khusus dengan kemampuan tempur luar biasa dari tiga matra (AD, AU, AL) dalam jumlah kecil (470 orang) untuk bertarung di dalam dan di luar negeri demi menjaga kedaulatan Negara Indonesia?

            Untuk apa mereka melakukan semua itu?

            Mereka berusaha keras menjaga rakyat Indonesia agar tidak lagi dijajah orang lain, tidak lagi dipermainkan orang lain, tidak lagi dihina orang lain. Mereka bekerja untuk memastikan rakyat Indonesia bisa makan, sekolah, bekerja, jalan-jalan, berkumpul, berorganisasi, beribadat dengan tenang, bergembira, tanpa ditertawakan bangsa lain, dan hidup diatur dengan hukum-hukum yang disepakati oleh bangsanya sendiri, bukan dipaksakan oleh bangsa lain dengan sekehendak hati mereka.

            Itulah sebagian dari nikmatnya kemerdekaan.

            So, nikmat Tuhan mana lagi yang kamu dustakan?

            Sampurasun.

Friday, 28 April 2017

Hoax Vs Pengadilan Jujur

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Hoax dan hate speech sebetulnya sudah sejak lama menyerang Indonesia. Para penjajah Indonesia yang berkulit putih dan berasal dari wilayah barat itu selalu menggunakan hoax dan ujaran kebencian untuk mengecilkan dan merendahkan Indonesia. Para penjajahlah yang tercatat pertama kali melakukan banyak hoax dan ujaran kebencian kepada bangsa Indonesia untuk tetap melestarikan penghinaan dan melanggengkan kekuasaannya di Indonesia. Mereka berharap bahwa rakyat Indonesia dan dunia tetap memandang rendah terhadap rakyat Indonesia. Rakyat diharapkan mengakui bahwa dirinya adalah lemah, bodoh, dan terbelakang. Pada saat yang sama pun mereka mengharapkan bahwa dunia memandang Indonesia memang terbelakang sehingga pantas untuk dijajah dan dikendalikan oleh mereka.

            Para penjajah dan bangsa penjajah yang senang menjajah orang lain menggunakan kekuatan pers untuk mendiskreditkan Indonesia. Hal itu terus berlangsung dan tidak pernah berhenti meskipun Indonesia telah merdeka, hoax dan ujaran kebencian itu selalu ada. Bahkan, terus terjadi hingga hari ini.

            Pemimpin Besar Revolusi Indonesia Soekarno pernah mengatakan hal tersebut ketika diwawancarai Cindy Adams, “Mengapa pers asing suka merendahkan aku? Mengapa mereka mengatakan aku silly, foolish, sick man? Hahaha ….”

            Bukan hanya kepada Soekarno pers asing menyerang dengan menggunakan hoax dan ujaran kebencian, melainkan pula terhadap para pejuang Indonesia lainnya. Jadi, pers asing tidak perlu dijadikan ukuran bagi kita. Bahkan, kita, bangsa Indonesia, tidak perlu heboh dengan menjadikan pers asing sebagai rujukan untuk kita berbuat ini atau berbuat itu. Kita tidak perlu berupaya menampilkan “sesuatu” hanya agar tidak ditulis secara buruk oleh pers asing. Percuma kita melakukan hal yang positif karena mereka dari dulu juga sebagian besar gemar melakukan hoax dan ujaran kebencian terhadap Indonesia. Jangankan kita dalam keadaan buruk, dalam keadaan baik saja “dijelek-jelekin”. Jangan terpengaruh oleh pers asing. Kalau kita bisa dimain-mainkan oleh pers asing, berarti kita masih terjajah dan selalu takut dipandang jelek oleh bangsa lain. Kita ya kita saja. Kita bergerak dan membangun untuk kita sendiri. Persetan dengan mereka.

            Ada catatan buruk dari Soekarno tentang pers asing tersebut. Soekarno memaparkan bagaimana pers asing ‘menjelek-jelekkan” Indonesia tanpa ada bukti dan memang dinyatakan tidak ada bukti oleh pengadilan Belanda.

            “Datanglah penggeledahan-penggeledahan di rumah beberapa saudara kita.

            Penggeledahan yang oleh pers kaum sana begitu digegerkan dan begitu ‘dikocakkan’ dengan ceritera bahwa Saudara Mohammad Hatta ketika itu kabur ke luar negeri Belanda, tiap-tiap pengurus ‘Perhimpunan Indonesia’ ketika itu bersenjata revolver, dan dalam sebuah piano terdapat bom beberapa butir!

            Tidak lama sesudahnya, empat saudara kita ditangkap, dimasukkan dalam tahanan. Mereka disangka berhubungan dengan Moskow, diperkirakan menjadi anggota suatu perhimpunan rahasia dan terlarang, serta membuat rancangan pemberontakan di Indonesia yang sangat kejam.

            Selagi sebagian rakyat Indonesia tengah menjalankan puasa, selagi majelis-majelis kehakiman di Indonesia tutup berhubung dengan ‘bulan perdamaian’ ini, dituntutlah saudara-saudara itu di muka hakim, dijatuhi dakwaan memuat tulisan-tulisan dalam Indonesia Merdeka nomor Maret-April ’27 yang menghasut pada kekerasan senjata adanya.

            Di manakah tinggalnya dakwaan bahwa saudara-saudara itu berhubungan dengan Moskow?

            Di manakah tinggalnya dakwaan saudara-saudara itu menjadi anggota suatu perhimpunan rahasia dan terlarang?

            Di manakah tinggalnya dakwaan bahwa saudara-saudara itu membuat rancangan pemberontakan di Indonesia …?

            Tidak, tidak sedikit pun dari sangkaan-sangkaan itu dapat dibuat dakwaan di muka hakim.

            Tidak sedikit pun dari sangkaan-sangkaan itu dapat dibuat senjata untuk menghukum saudara-saudara kita!

            Perkara menggoncangkan yang tadinya begitu digegerkan yang tadinya begitu dikocak-kocakkan, ternyata mengeret menjadi persdelict yang kecil, mengeret menjadi perkara opruiing, mengeret menjadi perkara artikel 131 yang begitu lembek dan begitu lemah alasan pendakwaannya sehingga majelis yang memeriksanya menjatuhkan putusan bebas di atas saudara-saudara itu adanya!”

            Dari penuturan Soekarno tersebut, kita sudah melihat adanya kenyataan bahwa hoax dan ujaran kebencian digunakan pers barat, pers asing untuk menggerakkan masyarakat barat dan Indonesia yang pro-penjajahan agar tetap memandang Indonesia sebagai bangsa yang masih harus dikendalikan dan dijajah. Pers dan mereka yang pro-penjajahan pun berharap dapat mempengaruhi keputusan hakim agar Mohammad Hatta dan teman-temannya dihukum dengan sangat berat. Mereka membangun opini dan kisah bahwa Mohammad Hatta dan teman-temannya memiliki senjata revolver, menyiapkan bom, mengikuti organisasi terlarang, dan berhubungan erat dengan Moskow. Akan tetapi, semua hasutan, hoax, dan ujaran kebencian itu sama sekali tidak terbukti serta tidak mampu mempengaruhi keputusan hakim. Karena tidak terbukti melakukan segala hal yang dituduhkan kepada para pejuang Indonesia itu, majelis hakim memutuskan bahwa mereka tidak bersalah dan divonis bebas.

            Kita pun bisa mellihat bahwa betapa kuatnya dan berwibawanya pengadilan saat itu yang tidak mempedulikan hoax, ujaran kebencian, dan opini yang menggoncangkan dan menggegerkan, baik di Belanda maupun di Indonesia yang menyerang pribadi para tokoh Indonesia itu. Majelis hakim tetap menjaga kehormatan dirinya untuk memutuskan sesuai dengan keyakinan majelis hakim sendiri. Tidak ada kekuasaan yang mampu mempengaruhi hakim, baik itu kekuasaan pemerintah kolonial, kekuasaan pers, maupun kekuatan opini massa.

            Itu majelis hakim pada masa penjajahan Belanda. Mereka begitu mempertahankan wibawa hakim dan pengadilan yang ingin tetap jujur dan bersih dari pengaruh siapa pun.

            Kita kini sudah merdeka. Sudah seharusnya majelis hakim pada masa kini pun bebas untuk memutuskan sesuatu perkara agar harga diri dan kemuliaan hakim, pengadilan, dan hukum dapat dijaga dengan sangat bersih dan kuat.

            Sangatlah memalukan jika majelis hakim di Indonesia pada masa kemerdekaan ini “tidak merdeka” dalam memutuskan perkara disebabkan adanya tekanan dari sana-sini. Kalau memutuskan perkara bukan atas dasar keputusan dan keyakinan yang tepat, melainkan berdasarkan tekanan dari pemerintah, pers, maupun massa, majelis hakim pada masa merdeka ini sebenarnya “belum merdeka” dan kualitasnya masih jauh dari hakim-hakim pada zaman penjajahan dulu.


            Sampurasun.

Monday, 24 April 2017

Kaum Islam Wajib Menerima Kaum Nasionalis

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Ini peringatan bagi gerakan kaum Islam!

            Dalam sejarah pergerakannya kaum Islam sering sekali merendahkan kaum nasionalis. Hal itu disebabkan kaum Islam memiliki sifat universal yang tidak terbatas pada batas-batas teritorial negara, suku, maupun ras. Islam selalu memikirkan persaudaraan dan kejayaan umat Islam di seluruh dunia serta memperjuangkan nilai-nilai Islam ke seluruh dunia. Sementara itu, kaum nasionalis hanya mementingkan negaranya, tanah airnya, yang dibatas oleh batas-batas teritorial. Oleh sebab itu, kaum Islam memandang kerdil pada kaum nasionalis.

            Di samping itu, kaum Islam kerap memandang kaum nasionalis sebagai orang-orang yang tidak teratur hidupnya, tidak tertata tindakannya, dan jauh dari nilai-nilai ketuhanan. Bahkan, tak jarang kaum Islam melihat kaum nasionalis yang sering bergerombol sambil mabuk-mabukkan, merendahkan perempuan, dan kerap bertindak seperti preman.

            Sesungguhnya, nilai-nilai yang diperjuangkan kaum nasionalis adalah memiliki banyak kesamaan dengan kaum Islam, yaitu kemerdekaan, kebebasan, keadilan, kemanusiaan, dan kebencian pada penjajahan, kebencian pada kejahatan, kemunkaran, kemiskinan, dan perlakuan sewenang-wenang. Di samping itu, jika kaum Islam melihat kaum nasionalis banyak yang belum melakukan perilaku Islami, padahal beragama Islam, seharusnya kaum Islam menjadikan kaum nasionalis itu sebagai “ladang pahala” dan bukan sebagai musuh yang berseberangan. Kaum Islam dengan bijak bisa mendekati kaum nasionalis agar dapat hidup lebih tertata lagi dengan lebih baik.

            Kaum Islam harus ingat bahwa semangat nasionalisme adalah semangat kemerdekaan, keadilan, dan kebencian terhadap segala bentuk kejahatan manusia terhadap manusia lainnya. Oleh sebab itu, semangat nasionalisme sebenarnya merupakan modal dasar yang sangat besar bagi terwujudnya bangunan Islam yang rahmatan lil alamin di seluruh dunia.

            Pemimpin Besar Revolusi Indonesia Soekarno mengingatkan hal ini.

            “Bukankah seperti yang sudah saya terangkan, Islam yang sejati mewajibkan pemeluknya mencintai dan bekerja untuk negeri yang ia diami, mencintai dan bekerja untuk rakyat di lingkungan ia hidup selama negeri dan rakyat itu masuk Darul Islam?

            Seyid Djamaluddin El Afghani di mana-mana telah mengkhutbahkan nasionalisme dan patriotisme yang oleh musuhnya lantas saja disebutkan ‘fanatisme’. Di mana-mana Pendekar Pan-Islamisme ini mengkhutbahkan kehormatan pada diri sendiri, mengkhutbahkan rasa luhur diri, mengkhutbahkan rasa kehormatan bangsa. Oleh musuhnya, lantas saja dinamakan ‘chauvinisme’. Di mana-mana, terutama di Mesir, Seyid Djamaluddin menanam benih nasionalisme itu. Seyid Djamaluddin-lah yang menjadi ‘Bapak Nasionalisme Mesir di dalam segala bagian-bagiannya’.

            Bukan Seyid Djamaluddin sajalah yang menjadi penanam benih nasionalisme dan cinta bangsa, Arabi Pasha, Mustafa Kamil, Mohammad Farid Bey, Ali Pasha, Ahmad Bey Agayeff, Mohammad Ali, dan Shaukat Ali … semuanya adalah panglima Islam yang mengajarkan cinta bangsa, semuanya adalah propagandis nasionalisme di negerinya masing-masing!

            Hendaklah pemimpin-pemimpin itu menjadi teladan bagi Islamis-islamis yang ‘fanatik’ dan sempit budi yang tidak suka mengetahui terhadap wajibnya merapatkan diri dengan gerakan bangsanya yang nasionalistis.

            Hendaklah Islamis-islamis yang demikian itu ingat bahwa pergerakannya yang antikafir itu, pastilah menimbulkan rasa nasionalisme oleh karena golongan-golongan yang disebutkan kafir itu adalah kebanyakan dari lain bangsa, bukan bangsa Indonesia!

            Islamisme yang memusuhi pergerakan nasional yang layak, bukanlah Islamisme yang sejati. Islamisme yang demikian adalah Islamisme yang ‘kolot’, Islamisme yang tak mengerti aliran zaman!”

            Sudah tidak perlu lagi ada saling mencurigai dan saling mengejek antara gerakan Islam dengan gerakan nasionalisme karena memiliki banyak kesamaan nilai yang harus diperjuangkan. Musuh nasionalis yang kafir itu jelas merupakan pula musuh umat Islam. Gerakan nasionalis dan gerakan Islam di Indonesia harus bersama-sama dalam mewujudkan tujuan pembangunan nasional Indonesia, yaitu mewujudkan manusia Indonesia seutuhnya yang makmur lahir dan makmur batin.

            Jangan lupa bahwa di dalam tubuh kaum Islam pun, terdapat orang-orang yang sesungguhnya menghalangi kemajuan Islam. Mereka bekerja sama dengan musuh-musuh Islam untuk membuat rusak nama baik Islam dan menciptakan sekat-sekat yang menghalangi umat Islam untuk bersatu dan dan berkarya bagi bangsanya dalam rangka mengabdikan diri kepada Allah swt.

            Tak boleh dilupakan pula bahwa kaum nasionalis yang kerap bertindak dengan gaya premanisme hanyalah segelintir orang yang tidak tahu tujuan hidupnya. Teramat banyak sesungguhnya kaum nasionalisme yang berperilaku sangat beradab, penuh kesantunan, idealis, bahkan selalu melaksanakan kewajibannya untuk beribadat kepada Allah swt selaku muslim. Perilaku tidak teratur sebagian orang-orang nasionalis tidak harus membuat kaum Islam menggeneralisir bahwa orang-orang nasionalis adalah preman. Orang-orang nasionalis yang paham tujuan hidupnya dan taat menjalankan agamanya adalah jauh lebih berharga dan lebih mulia dibandingkan orang-orang yang tak tertata perilakunya yang kadang-kadang harus berurusan dengan pihak kepolisian.

            Patut pula diingat bahwa penjajahan dalam bentuk “halus’ saat ini masih berlangsung. Soekarno mengatakannya sebagai neokolonialisme, neoimperialisme, dan neoliberalisme. Penjajahan halus sebagai perwujudan dari nafsu-nafsu barat itulah yang justru harus diperangi oleh kaum nasionalisme dan kaum Islam karena sumbernya berasal dari luar negara Indonesia yang digerakkan orang-orang kafir yang pernah menjadi bangsa-bangsa penjajah di muka Bumi.

            Apabila kaum Islam selalu memandang “buruk” kaum nasionalis, apalagi belum-belum sudah memvonis kaum nasionalis sebagai calon penghuni neraka, bangsa Indonesia akan menjadi lemah. Kaum Islam yang berpandangan seperti itu, kata Soekarno, adalah kaum Islam yang “sempit budi dan ketinggalan zaman”, selama-lamanya kaum Islam seperti itu tetap hina dan mesum serta ketinggalan zaman seribu tahun.


            Sampurasun.

Tuesday, 11 April 2017

Harta Karun Zaman Yang Hilang

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Seringnya, dalam membaca sejarah berdasarkan penggalian-penggalian situs purbakala, banyak sekali tulisan yang menyatakan penemuan-penemuan barang berharga dari kejayaan masa lampau di dunia ini, khususnya di Indonesia. Akan tetapi, selalu saja ada harta atau peninggalan yang hilang dari hasil penemuan para peneliti itu. Harta yang hilang itu seiring dengan zaman yang hilang, yaitu emas, permata, berlian, mutiara, dan barang berharga lainnya yang masih memiliki nilai tinggi pada masa ini. Kita terlalu sering mendapatkan tulisan sejarah hasil penggalian yang menemukan peninggalan barang-barang berbahan batu, kuningan, perunggu, dan logam murah lainnya. Akan tetapi, teramat jarang, bahkan mungkin hampir tidak pernah kita mendapatkan hasil penggalian peninggalan masa lalu yang berupa perhiasan terbuat dari emas, permata, berlian, mutiara, dan barang lain yang masih memiliki nilai tinggi. Kita hanya disuguhi berbagai penemuan barang-barang yang kurang berharga atau sulit sekali dijual pada masyarakat umum, sedangkan emas, permata, berlian, dan mutiara hilang, raib sama sekali.

            Apabila kita melihat kejayaan kekayaan masa lalu di seluruh dunia ini, keadaannya begitu memesonakan, gilang gemilang, berlimpah ruah. Demikian pula di Indonesia ini. Dengan kenyataan bahwa banyak istana, candi, keraton, bangunan megah yang masih terkubur dan baru terbuka sedikit akibat bencana mahadahsyat masa lalu, tentunya banyak pula terdapat barang-barang berharga seperti emas, permata, berlian, dan mutiara yang juga ikut terkubur. Akan tetapi, anehnya, barang-barang itu tidak pernah diberitakan ada dan selalu tidak pernah tertulis, hilang begitu saja.

            Apabila kita pelajari Al Quran Surat Saba, kekayaan Indonesia itu sangat luar biasa. Allah swt mengatakan bahwa Kota Mekah saja kekayaannya tidak sampai 10% dari kekayaan yang dianugerahkan Allah swt kepada Indonesia. Kota Mekah yang kita anggap kaya itu sesungguhnya sangat sedikit, sedangkan Indonesia berlimpah ruah. Baca tulisan saya yang berjudul Indonesia dalam Pandangan Allah swt.

            Di dalam QS Saba pun diterangkan bahwa Allah swt menghancurkan Benua Sundaland berkeping-keping hingga menjadi kepulauan bernama Indonesia ini ketika penduduknya sedang melakukan kezaliman dan bencana hukuman itu datang tiba-tiba tanpa disadari manusia. Artinya, bencana itu datang ketika penduduk Indonesia ini bisa jadi sedang berpesta pora, bersenang-senang dalam maksiat, duduk-duduk dalam kemegahan istana, hilir mudik di pasar-pasar, berbangga-bangga dalam kemewahan, bergembira dalam pemujaan-pemujaan penuh kemusyrikan, dan lain sebagainya. Itu artinya, orang-orang saat itu sedang menggunakan berbagai perhiasan dunia dengan membawa sejumlah materi, belum lagi kekayaan yang tersimpan dalam gudang-gudang dan lemari-lemari harta di rumah mereka. Ketika bencana itu datang dalam satu hari yang mengerikan, langsung mengubur manusia, gedung megah, tempat pemujaan syetan, berikut harta kekayaan luar biasa yang terdiri atas emas, permata, mutiara, berlian, dan sebagainya.

            Sudah pasti emas, permata, mutiara, berlian, dan perhiasan berharga lainnya itu ada pada masa kemegahan Sundaland. Hal itu bisa dilihat dari pengalaman Columbus ketika wara-wiri mencari dana ekspedisi ke Indonesia. Columbus berusaha keras mengumpulkan dana ekspedisi itu dari berbagai bangsawan, raja, dan pengusaha di negerinya. Awalnya, ia dilecehkan, ditertawakan, dan sama sekali tidak dipercaya. Banyak bangsawan dan orang kaya yang menganggap sinting Columbus. Akan tetapi, ketika Columbus memperlihatkan emas, permata, berlian, dan mutiara sisa peninggalan Benua Sundaland dari orang-orang Sundaland/Indonesia yang leluhurnya berlarian menyelamatkan diri ke Eropa, raja, bangsawan, dan para pengusaha itu pun tertarik, kemudian membiayai perjalanan Columbus ke Indonesia. Artinya, emas, permata, berlian, dan mutiara itu sudah ada dan sangat banyak digunakan orang-orang Indonesia saat itu.

            Niatnya Columbus memang ke Indonesia yang saat itu masih dikenal dengan nama Indische atau Hindia, tetapi tersesat ke Benua Amerika. Di benua itu ia melihat orang-orang yang cirinya sama dengan yang diberitakan dari orang-orang Sundaland masa lalu. Kemudian, ia menyebut orang-orang yang ditemuinya itu dengan sebutan Indians (orang-orang Indonesia) karena menyangka sudah sampai di Indonesia, padahal tidak. Ia hanya menemukan orang-orang Indonesia atau Asia Tenggara yang melarikan diri dari bencana ke Benua Amerika. Orang-orang itu dikenal sekarang dengan nama Indian.

            Perburuan harta karun pun semakin banyak dilakukan orang-orang Eropa untuk mencari harta terpendam di peradaban yang hilang itu. Penjajahan di Asia salah satunya didorong oleh perburuan harta karun itu. Oleh sebab itu, pihak kolonial sangat rajin melakukan ekspedisi berbiaya mahal untuk mencari harta karun itu. Tak heran jika para penjajah menemukan berbagai situs bersejarah di Asia, khususnya di Indonesia. Berbagai candi dan istana yang terkubur pun dimunculkan kembali ke permukaan Bumi setelah ribuan tahun menghilang.

            Pernahkah terpikirkan oleh kita untuk apa para penjajah memunculkan situs-situs itu?

            Untuk penelitian dan pendidikan?

            Untuk mencerdaskan rakyat Indonesia?

            Untuk memberikan kesadaran pada rakyat jajahan?

            Tidak mungkin!

            Hal yang paling mungkin adalah untuk mencari harta karun dan mendapatkan manfaat ekonomi ketika situs-situs terbuka ke hadapan publik.

CANDI BOROBUDUR. Foto: www.slideshare.net
CANDI CANGKUANG. Foto: www.nasionalisme.co

CANDI PRAMBANAN. Foto: wisatapriangan.co.id
            Pernahkah terpikirkan oleh kita dari mana uang para penjajah ketika membangun gedung-gedung pemerintahan yang kokoh dan kuat bertahan ribuan tahun?

            Bukan hanya gedung pemerintahan yang sangat kuat dan kokoh, rumah-rumah pribadi pun teramat kokoh.

            Dari mana mereka mendapatkan uang?

            Tanam paksa, upah buruh rendah, dan sewa tanah murah memang salah satunya. Akan tetapi, kemungkinan besar ada banyak harta karun yang telah ditemukan dan masih memiliki nilai jual tinggi pada masa sekarang ini, seperti, emas, permata, berlian, dan mutiara.

            Ada harta dan zaman yang hilang serta tidak pernah diketahui publik. Kita sering sekali disuguhi dengan pemahaman adanya zaman batu dan zaman besi. Akan tetapi, zaman batu-batu mulia dan perhiasan berharga yang masih bernilai tinggi saat ini hilang sama sekali dan tidak pernah masuk dalam catatan.


Beberapa Kemungkinan
Terdapat beberapa kemungkinan tentang hilangnya harta karun dan zaman batu mulia ini. Pertama, masyarakat sendiri yang melakukan penggalian dan pengambilan harta-harta itu sedikit demi sedikit dan menganggapnya sebagai rezeki karena memang rezeki. Hal ini sering sekali terjadi sejak dulu sampai sekarang, bahkan jika harta-harta bernilai tinggi sulit ditemukan, masyarakat mengambil bahan-bahan bangunan dari situs-situs itu untuk rumah mereka sendiri. Kedua, harta karun itu ditutupi keberadaannya oleh para peneliti. Ketika mereka melakukan penggalian dan penelitian, batu, perunggu, dan keramik mungkin segera diumumkan sebagai penemuan sejarah. Akan tetapi, jika menemukan emas, permata, berlian, mutiara, dan barang berharga yang nilainya masih tinggi saat ini, segera masuk ke saku pribadi dan ditutupi dari publik. Godaan emas, permata, berlian, dan mutiara itu sangat tinggi. Bayangkan saja jika kita sedang melakukan penggalian, lalu menemukan sebuah kendi yang penuh perhiasan emas. Ada koin emas, kalung emas, gelang emas, manik-manik emas, dan lain sebagainya yang terbuat dari emas hingga puluhan kilo.

            Mau diapain itu emas?

            Diserahkan pada pemerintah?

            Tidak mungkin.

            Pasti dijual ke penadah atau di pasar gelap.

            Iya toh?

            Kalau sudah begitu, ada zaman yang hilang, yaitu zaman emas dan ada harta yang hilang, yaitu batu mulia, serta ada nilai pendidikan yang hilang, yaitu sejarah.

            Ketiga, diklaim kepemilikannya oleh penguasa, terutama penjajah.

            Jika tidak ada perhatian yang serius, kehilangan harta karun, sejarah, dan jati diri bangsa akan terus terjadi.


Menyelamatkan Harta Karun
Untuk menyelamatkan harta karun, hal pertama yang harus dilakukan adalah kesadaran bahwa bangsa Indonesia ini adalah bangsa terkaya di dunia ketika masih dalam masa Benua Sundaland. Buktinya, mudah kok. Di seluruh tanah air Indonesia ini masih terkubur selama ribuan tahun kemegahan dan kekayaan masa lalu. Kita masih melihat ada candi-candi yang tiba-tiba muncul dari dalam tanah. Ada bangunan istana yang tiba-tiba hadir disebabkan hujan besar dan erosi. Ada barang-barang mewah rumah tangga yang tiba-tiba tercangkul masyarakat. Hal-hal seperti ini sangat sering terjadi di Indonesia. Sayangnya, kita kurang menghargainya karena terlalu sibuk dengan hal-hal lain, padahal jika digali secara serius dengan pengawasan ketat, hasilnya bisa luar biasa sekaligus menambah aset bangsa dalam bidang pariwisata dan pendidikan.

ISTANA RATU BOKO. Foto: indoturs.com
            Kita tidak perlu lagi mengulang-ulang kebiasaan kampungan yang khawatir tentang derajat kesukuan. Pada masa Orde Baru terasa sekali bahwa ada semacam pertahanan diri dari “suku Jawa” agar tetap menjadi suku yang paling tinggi dan paling hebat di Indonesia. Oleh sebab itu, jika ditemukan situs-situs baru, baik di Sunda, Sumatera, Sulawesi, atau lainnya, sering tidak diakui dan sering dilecehkan, bahkan dianggap tidak perlu ditindaklanjuti. Hal itu disebabkan jika situs-situs itu terbuka, lalu memunculkan sejarah baru di luar Jawa, dikhawatirkan akan memunculkan penilaian bahwa suku lain yang bukan suku Jawa memiliki peninggalan kecerdasan dan kehebatan melebihi suku Jawa. Perasaan-perasaan kampungan seperti itu sudah tidak boleh ada lagi sekarang. Kita adalah Indonesia. Sesungguhnya, jika kita menemukan apa pun di suku mana pun di Indonesia ini adalah milik kita bersama, Indonesia, bukan milik suku tertentu. Sikap kesukuan yang menghalangi penemuan-penemuan sejarah adalah sikap kampungan yang sesungguhnya menghalangi kemajuan bangsa Indonesia. Kehebatan dan kecerdasan suatu suku di Indonesia sesungguhnya mendorong kebanggaan kita sebagai bangsa Indonesia, bukan meruntuhkan wibawa suku tertentu.

            Hal yang teramat penting dilakukan adalah pemerintah sudah seharusnya menghargai setiap penemuan dengan nilai yang berlaku saat ini. Agar nilai sejarah tidak hilang, harta tidak hilang, jati diri bangsa tidak hilang, setiap penemuan sejarah harus dihargai dengan uang sesuai dengan nilainya saat ini. Jika ada masyarakat atau peneliti yang menemukan emas, permata, berlian, mutiara, atau barang lainnya, hendaknya dibeli oleh pemerintah dengan harga saat ini. Pemerintah wajib membelinya karena barang itu adalah seharusnya milik penemunya. Pemerintah tidak boleh merampas barang dari orang yang telah menemukannya. Apabila tidak ada keinginan pemerintah untuk membeli barang-barang mulia itu, pencurian dan penjualan di pasar gelap akan terus terjadi. Kita, sebagai bangsa, akan hanya mati dan buntu pada pemahaman zaman batu, zaman perunggu, atau paling tinggi zaman kuningan. Padahal, kehebatan kita jauh di atas itu sebenarnya.

            Selama ini, kita tidak menghargai penemuan-penemuan itu dengan seharusnya. Kita memandang rendah terhadap hal itu. Padahal, jika digali secara serius, kita akan menemukan harta karun yang banyak dan memunculkan situs-situs baru yang megah luar biasa bernilai sejarah dan pendidikan. Contohnya, situs Gunung Padang, Cianjur, Jawa Barat yang megah dan luas itu jika serius dikelola dengan baik, akan ditemukan peninggalan sejarah luar biasa, harta karun yang banyak, dan hadirnya lokasi pariwisata baru yang mendunia. Situs Gunung Padang ini bukan hanya terkenal di Indonesia, melainkan pula di Eropa. Bahkan, banyak orang Eropa yang datang ke Gunung Padang karena meyakini bahwa leluhur mereka berasal dari tempat itu.

GUNUNG PADANG. Foto: terungkaplagi.blogspot.co.id
            Ada harta karun yang banyak di Indonesia. Kita hanya harus serius. Indonesia kaya bukan hanya disebabkan sumber daya alam, melainkan pula ada banyak harta terpendam yang belum bisa kita hitung jumlahnya. Persoalannya kita harus serius. Kerja kerja kerja.


            Sampurasun.