Showing posts with label Uga Wangsit Siliwangi. Show all posts
Showing posts with label Uga Wangsit Siliwangi. Show all posts

Thursday, 23 January 2020

Situasi Sunda dalam Uga Wangsit Siliwangi


oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Akhir-akhir ini kita dikejutkan oleh munculnya kerajaan-kerajaan baru di Indonesia. Ada yang memang benar-benar baru, ada pula yang mengaku merupakan kelanjutan dari kerajaan lama. Hal yang menarik adalah berita-berita yang beredar semakin menjurus ke arah  kerajaan-kerajaan yang bersuku Sunda. Hal ini bisa dilihat dari keresahan keluarga kerajaan “Sumedang Larang” dan “Galuh”. Kedua kerajaan ini sah dan diakui, baik oleh masyarakat maupun pemerintah Republik Indonesia. Keduanya cukup kaget dengan kehadiran “Sunda Empire” di Bandung dan “Kesultanan Selacau” di Tasikmalaya, Jawa Barat. Kerajaan-kerajaan ini mencoba beradu data, fakta, latar belakang, sumber ajaran, wilayah, situs-situs, tradisi, dan pusaka peninggalan leluhur. Meskipun pertentangannya tidak keras, tetapi perbedaan-perbedaan itu nyata ada dan menimbulkan kesemrawutan sejarah. Hal ini akan sangat berpengaruh, terutama kepada masyarakat awam.

            Terkait hal itu, segera saja saya teringat pada “Uga Wangsit Siliwangi”. Uga itu biasa diartikan sebagai ramalan, prediksi, ataupun “berita masa depan”.

            Dalam Uga Wangsit Siliwangi pada alinea keenam, sudah dijelaskan akan adanya mereka yang melakukan pengacauan sejarah dan data tentang Pajajaran. Berita-berita akhir-akhir ini seolah-olah sedang terjadi kekacauan kronologis sejarah itu.

            Coba perhatikan bagian akhir dari alinea keenam dalam Uga Wangsit Siliwangi tersebut.

            Dalam bahasa Sunda:

            “….Ti mimiti poé ieu, Pajajaran leungit ti alam hirup. Leungit dayeuhna, leungit nagarana. Pajajaran moal ninggalkeun tapak, jaba ti ngaran pikeun nu mapay. Sabab bukti anu kari, bakal réa nu malungkir! Tapi engké jaga bakal aya nu nyoba-nyoba, supaya anu laleungit kapanggih deui. Nya bisa, ngan mapayna kudu maké amparan. Tapi anu marapayna loba nu arieu-aing pang pinterna. Mudu arédan heula.”

            Dalam bahasa Indonesia:

            “….Sejak hari ini, Pajajaran hilang dari alam nyata. Hilang kotanya, hilang negaranya. Pajajaran tidak akan meninggalkan jejak, kecuali nama untuk mereka yang menelusurinya. Hal itu disebabkan bukti yang ada akan diingkari banyak pihak! Akan tetapi, nanti, suatu saat, akan ada yang mencoba-coba supaya yang hilang dapat ditemukan kembali. Memang bisa, hanya menelusurinya harus menggunakan dasar-dasar yang jelas. Namun, mereka yang menelusurinya banyak yang petantang-petenteng merasa diri paling pintar dan paling benar. Kalau berbicara, suka berlebihan. Mereka memang harus menjadi orang-orang brengsek dulu.”

            Begitulah yang tertulis dalam Uga Wangsit Siliwangi. Tak perlu heran dan aneh dengan banyaknya kisah yang sangat mungkin beradu dan bertolak belakang. Toh, dari ratusan tahun lalu sudah diprediksikan terjadi. Paling-paling kita cuma kesal dan merasa lucu.

            Meskipun demikian, suatu saat akan ada yang meluruskannya dengan benar. Dialah yang disebut-sebut sebagai “Budak Angon” yang dalam istilah Jawa disebut “Cah Angon”, ‘Anak Gembala’. Bukan hanya meluruskan sejarah, melainkan pula meluruskan kehidupan di Indonesia mencapai kejayaannya. Dalam berbagai ramalan dari Suku Jawa, Cah Angon ini disebut pula “Imam Mahdi” yang memiliki dua istana: satu di Mekah, satu di Pulau Jawa. Artinya, dia muslim yang mencintai Negara Indonesia.

            Sikapilah prediksi itu dengan tenang dan jangan terlalu terobsesi. Kalaulah memang itu harus terjadi dan sudah ada dalam rencana Allah swt, peristiwa itu bakal terjadi. Tidak perlu hidup bersandar pada ramalan. Kita hidup di alam nyata yang harus belajar, bekerja, berkarir, bersosialisasi, beribadat, dan berprestasi, baik di hadapan Allah swt maupun di hadapan manusia.

            Sampurasun.

Sunday, 19 January 2020

Jaziratul Muluk


oleh Tom Finaldin

Bandung, Putera Sang Surya
Dulu nama Indonesia belum ada. Oleh sebab itu, orang-orang Arab yang datang ke Indonesia menyebutnya “Jaziratul Muluk”, ‘tanah yang banyak rajanya’. Memang tanah di Indonesia itu banyak rajanya. Hampir setiap pulau, dipenuhi banyak raja. Di Bandung ada Dalem Bandung, bergerak ke Sumedang ada Pangeran Kornel, diteruskan ke Kadipaten ada Pangeran Muhammad, dilanjutkan ke Majalengka ada Nyi Rambut Kasih, maju terus ke Kuningan ada lagi penguasa Kuningan, memutar ke Cirebon ada Sultan Sepuh dan Kanoman yang berasal dari Kesultanan Cirebon. Pendek kata, di Indonesia ini banyak ratu dan raja yang menguasai dan membagi-bagi pulau dalam kekuasaan yang berbeda-beda. Jaziratul Muluk.

            Saya sendiri kalau menulis soal budaya, suka mengatakan bahwa Indonesia adalah “tanah para bangsawan”. Hal itu disebabkan saking banyaknya kerajaan. Rakyat Indonesia ini banyak yang merupakan keturunan dari kerajaan-kerajaan yang ada. Jika menulis soal sejarah politik, saya suka menyebut Indonesia adalah “tanah seribu pahlawan”. Coba perhatikan saja dari Sabang sampai dengan Merauke, selalu dipenuhi nama-nama pahlawan yang berperan dalam kemerdekaan Indonesia.
            Berdasarkan latar belakang sejarah tersebut, tidaklah aneh jika saat ini banyak bermunculan kerajaan-kerajaan yang dirasakan asing oleh bangsa Indonesia generasi saat ini. Bahkan, banyak orang yang terkaget-kaget dan menyebutnya sebagai “kegilaan”.
            Sesungguhnya, tidak aneh juga jika banyak nama kerajaan yang muncul. Saya sendiri berkali-kali mengikuti kegiatan-kegiatan para keturunan raja-raja zaman dulu itu. Mereka biasanya memang membahas kondisi negara dan keprihatinan mereka atas berbagai ketimpangan yang terjadi. Bahkan, saya pernah menjadi pembicara yang menerangkan hal-ihwal Prabu Siliwangi di hadapan keturunan Kerajaan Sunda Pajajaran. Saya sendiri sempat kikuk karena seharusnya saya yang belajar dari mereka, bukan saya yang harus menerangkan kepada mereka. Saya mengenal banyak dari mereka dan menjadi Koodinator Humas Yayasan Pamanah Rasa Nusantara yang diketuai Dr. H. Gunawan Undang, Drs., M.Si.. Saya pernah ikut Konferensi Internasional Budaya Sunda, ikut kegiatan-kegiatan diskusi kesundaan, ikut juga silaturahmi raja-raja se-Nusantara, dan lain sebagainya.
            Hal tersebut menunjukkan bahwa para keturunan kerajaan-kerajaan tersebut masih ada dan tetap melestarikan eksistensi keluarganya. Tidak perlu heran dan merasa aneh dengan kemunculan mereka karena dari dulu juga sudah ada.
            Hal yang membuat saya merasa aneh adalah kemunculan mereka saat ini ke khayalak ramai seakan-akan bersamaan. Dimulai dengan Keraton Agung Sejagat, Sunda Earth Empire, Kesultanan Selacau, dan mungkin yang lain akan menyusul. Saya memang mendengar dari beberapa kerajaan yang mengaku memiliki perjanjian sewa menyewa tanah kekuasaan, perjanjian bisnis keuangan, perjanjian pergiliran kekuasaan, pencairan dana hutang dari bank-bank di dunia, dan sebagainya yang berakhir pada angka tahun 2021. Oleh sebab itu, di antara mereka ada yang memiliki keyakinan bahwa harus ada pergantian dan kegoncangan dunia pada tahun-tahun itu dan sekarang adalah tahun 2020. Di samping itu, ada pula berbagai ramalan yang beredar di kalangan kerajaan-kerajaan itu bahwa akan ada kegoncangan kemanusiaan dan politik luar biasa, baik di dalam negeri Indonesia maupun di seluruh dunia yang akan memunculkan sosok pemimpin baru yang mengamankan dan menyejahterakan dunia. Hal ini ada dalam berbagai ramalan, seperti, “Uga Wangsit Siliwangi, Sabdo Palon, Darmogandhul,” dan “Ronggowarsito”. Saya mempelajarinya banyak-banyak. Bahkan, isi ramalannya mirip-mirip dengan isi kisah-kisah zaman akhir yang biasanya beredar di kalangan umat Islam dengan adanya kemunculan “Imam Mahdi” setelah sebelumnya dunia dilanda bencana-bencana alam besar dan kegoncangan kemanusiaan. Bahkan, kisah-kisah zaman akhir ini saya pelajari dari enam buku: 4 buku karya Muhammad Isa Dawud, 1 buku karya penulis Iran Jaber Bolushi, dan 1 buku karya Wisnu Sasongko.
            Bagi saya, kemunculan kerajaan-kerajaan itu jika untuk membentuk kerajaan baru di dalam NKRI adalah termasuk tindakan makar. Oleh sebab itu, sebaiknya, mereka berada dalam yayasan atau organisasi yang dibina pemerintah dengan kegiatan seperti “think tank”, ‘wadah tempat berpikir’, yang menjadi “sparing partner”, ‘kawan debat’ pemerintah Republik Indonesia dalam mengelola negara dan masyarakat. Mereka bisa tukar pikiran dengan pemerintah atau memberikan kritikan keras kepada pemerintah sesuai dengan pemikiran para keturunan raja-raja itu sehingga berperan besar dalam pembangunan Republik Indonesia. Hal itu lebih baik dibandingkan mendirikan kerajaan di dalam sebuah negara.
            Sampurasun.

Thursday, 20 November 2014

Indonesia Sebentar Lagi Hancur



oleh Tom Finaldin

Bandung, Putera Sang Surya

Kalau tak pintar menahan diri dan cerdas berlapang dada, Indonesia sebentar lagi benar-benar hancur. Saya sebenarnya tak suka jika negeri ini hancur berantakan sebagaimana yang disebutkan dalam berbagai ramalan, baik ramalan Sunda maupun Jawa. Meskipun demikian, ada banyak yang senang dengan berbagai kekisruhan yang terjadi di Indonesia. Mereka sangat senang dengan adanya bencana alam yang terus-menerus terjadi tanpa henti pada berbagai belahan tanah air Indonesia. Mereka tertawa-tawa dengan jungkir-baliknya hukum di Indonesia. Mereka pun bergembira dengan konfllik-konflik politik yang terjadi.

            Mereka yang selalu merasa senang ketika Indonesia mengalami kesulitan bukanlah orang-orang bodoh. Mereka itu pintar-pintar. Saya banyak kenal dengan mereka. Mereka pun bukan para penjahat atau pengacau. Mereka bahkan orang-orang yang mencintai Indonesia. Mereka merasa gembira dengan berbagai kekusutan yang terjadi di Indonesia disebabkan segala yang mereka prediksi berdasarkan ramalan-ramalan satu demi satu terbukti. Mereka malahan ingin segera melihat Indonesia berantakan karena setelah itu Indonesia akan semacam di-restart ulang untuk kemudian menemukan jati dirinya dalam kejayaan dan menjadi sinar bagi dunia.

            Memang kehancuran Indonesia itu sudah diramalkan terjadi dengan diawali ciri-ciri yang tegas dan terbukti, misalnya, bencana gempa bumi, gunung berapi meletus, banjir besar, perempuan hilang rasa malu, laki-laki mulai malas, nyawa tidak ada harganya, para pemimpin sering berkata bohong dan ingkar janji, hukum dijalankan dengan berbelit-belit, banyak anak muda menjadi pemimpin, orang jujur tersisihkan, banyak wabah penyakit, para elit bertengkar yang merembes ke tingkat grass root, dan lain sebagainya. Hal-hal itu sudah diramalkan sejak lama. 

Memang terbukti bukan?

Para pembaca bisa menelusuri berbagai artikel dalam blog ini yang sudah saya tulis sejak lama tentang ramalan-ramalan itu, baik Uga Wangsit Siliwangi, Darmagandul, Joyoboyo, maupun Ronggowarsito.

Sekarang semenjak Pilpres 2014, berbagai kejadian dan kekisruhan politik menguatkan bahwa ramalan tentang hancurnya Indonesia bakal terjadi. Harus diingat bahwa yang hancur adalah Negara Indonesia, bukan bangsa Indonesia. Indonesia sebagai bangsa malahan akan semakin kuat, tetapi sebagai state akan mengalami kerusakan parah. Kita bisa lihat bahwa hasil Pilpres 2014 menghasilkan dua kubu yang relatif seimbang dalam berbagai hal, baik jumlah maupun intelektual. Diakui ataupun tidak, kedua kubu itu terus berseteru dan setiap kubu mengklaim dirinya paling benar apapun alasannya. Seimbangnya kekuatan kedua kubu tersebut menimbulkan rasa percaya diri dari setiap kubu yang ujungnya dikhawatirkan akan memunculkan huru-hara.

Untuk jatuh ke dalam situasi huru-hara mudah saja. Hal itu disebabkan keduanya mengatasnamakan kepentingan rakyat dan membela rakyat. Setiap kubu menuduh kubu lawannya sebagai arogan dan mementingkan kelompoknya serta ingin menunjukkan kekuasaan yang dimilikinya. Apabila situasi ini meruncing semakin tajam, akan membuat negara berjalan tidak mulus. Akan ada pihak yang merasa terzalimi dan teraniaya, kemudian mengerahkan seluruh sumber daya yang dimilikinya untuk memberikan perlawanan.

Huru-hara yang terjadi akan dimulai oleh para elit, bukan oleh rakyat. Para elitlah yang akan memulai pertarungan yang kemudian mengajak serta rakyat untuk berpihak padanya sehingga pertarungan meluas dan memperparah keadaan.

Ramalan tentang huru hara tersebut bisa kita lihat dari Uga Wangsit Siliwangi:

Dalam bahasa Sunda:

Ti dinya loba nu ribut, ti dapur laju salembur, ti lembur jadi sanagara! Nu barodo jaradi gélo marantuan nu garelut, dikokolotan ku budak buncireung! Matakna garelut? Marebutkeun warisan. Nu hawek hayang loba. Nu boga hak marénta bagianana. Ngan nu aréling caricing. Arinyana mah ngalalajoan. Tapi kabarérang.

Nu garelut laju rareureuh. Laju kakara arengeuh. Kabéh gé taya nu meunang bagian. Sabab warisan sakabéh béak, béakna ku nu nyarekel gadéan. Buta-buta laju nyarusup, nu garelut jadi kareueung, sarieuneun ditempuhkeun leungitna nagara. 

            Dalam bahasa Indonesia:

Mulai saat itu akan terjadi keributan, huru-hara, dari rumah menjadi sekampung, dari sekampung menjadi senegara! Orang-orang bodoh pada jadi gila ikut-ikutan membantu mereka yang sedang berkelahi yang dipimpin oleh Pemuda Buncit! Penyebabnya berkelahi? Memperebutkan warisan. Mereka yang serakah ingin mendapatkan lebih banyak lagi. Mereka yang memiliki hak meminta haknya diberikan. Mereka yang sadar berdiam diri. Mereka hanya menonton, tetapi tetap terimbas juga.

Mereka yang berkelahi akhirnya kelelahan. Mereka baru tersadar. Ternyata, semuanya tidak ada yang mendapatkan bagian. Hal itu disebabkan tanah dan kekayaan alam seluruhnya habis, habis oleh mereka yang memegang banyak uang. Para raksasa lalu menyusup curang ke berbagai kelompok. Mereka yang berkelahi jadi ketakutan sendiri, takut dipersalahkan atas kerusakan dan kehilangan tanah serta kekayaan negara.

            Kapan terjadinya keributan itu?

            Keributan itu akan terjadi setelah para elit yang berkuasa, baik elit ekonomi maupun politik semakin pongah, angkuh, brutal, dan sering membohongi rakyat atau mengelabui perasaan rakyat. Hal itu disebabkan mereka menginginkan dukungan rakyat untuk sependapat atau berpihak padanya.

            Mereka berkelahi disebabkan memperebutkan warisan.

            Apa itu warisan?

            Warisan itu berupa kekuasaan politik dan ekonomi yang berasal dari keserakahan atas penguasaan negara dan sumber daya alam Indonesia.

            Perebutan warisan itu terus berlanjut hingga melibatkan rakyat. Hal itu bisa diperhatikan bahwa kubu-kubu yang sekarang sedang berseteru sama-sama mengatasnamakan rakyat. Bahkan, parahnya ada yang memanas-manasi rakyat sehingga rakyat ikut terlibat secara emosional terhadap pertarungan di tingkat elit. Rakyat yang hanya mendapatkan informasi sepotong-sepotong dan tidak utuh itu pun benar-benar terpengaruhi sehingga betul-betul bergerak atas dasar hasutan pihak-pihak yang berseteru. Pihak-pihak yang menghasut ini saya pastikan bakal masuk neraka jika tidak segera sadar.

            Dalam ramalan tadi rakyat disebut sebagai orang bodoh yang jadi gila ikut berkelahi. Disebut rakyat bodoh karena bergerak atas dasar informasi yang tidak lengkap dari para penghasut. Rakyat menjadi gila karena benar-benar meyakini bahwa informasi samar dan sumir itu merupakan kebenaran dan perlu diperjuangkan. Perhatikan ramalan berikut:

Orang-orang bodoh pada jadi gila ikut-ikutan membantu mereka yang sedang berkelahi yang dipimpin oleh Pemuda Buncit! Penyebabnya berkelahi? Memperebutkan warisan, tanah. Mereka yang serakah ingin mendapatkan lebih banyak lagi. Mereka yang memiliki hak meminta haknya diberikan. Mereka yang sadar berdiam diri. Mereka hanya menonton, tetapi tetap terimbas juga.

            Huru-hara itu dikendalikan oleh Pemuda Buncit.

            Siapa dia?

            Dia adalah provokator utama. Disebut buncit karena dia punya banyak uang, kekuasaan yang besar, dan serakah tak peduli halal atau haram, tak peduli banyak nyawa melayang asal dia bisa senang.

            Kita bisa lihat bukan saat ini mereka yang sudah punya kekuasaan terus berjuang hingga kekuasaannya semakin besar?

            Kita juga bisa menyaksikan bukan bagaimana mereka menguatkan kekuasaannya dengan berupaya keras mengokohkan kekuasaan teman-temannya?

            Kita juga bisa lihat bahwa aturan-aturan bernegara sepertinya pabeulit dina cacadan, ‘berbelit-belit’ dan berputar-putar dalam berbagai penafsiran yang berbeda-beda, iya kan?

            Prabu Siliwangi sudah mewanti-wanti bahwa hukum bernegara kita itu akan berbelit-belit dan sulit sekali untuk diaplikasikan. Padahal, dia mengatakan itu ribuan tahun yang lalu.

            Jika yang berseteru dan bertempur rebutan warisan itu berhenti, mereka merasakan kelelahan luar biasa. Di samping itu, akan terbuka lebarlah kondisi warisan yang mereka perebutkan itu. Artinya, terbukalah dengan terang bahwa kekuasaan politik, ekonomi, dan sumber daya alam Indonesia itu sudah dikendalikan oleh orang lain, yaitu orang-orang kaya yang punya banyak uang dan kekuasaan. Mereka yang berkelahi itu sebenarnya tidak mendapatkan apa-apa, kecuali sedikit, apalagi rakyat yang biasanya paling menderita.

            Setelah sadar dan terbuka semuanya, atas izin Allah swt, para elit pun merasa malu. Mereka mulai berlepas tangan dan menyusup ke ketiak orang-orang lain, para penguasa baru, untuk mendapatkan perlindungan. Mereka ketakutan disalahkan telah menggadaikan asset bangsa ini kepada para pemilik modal besar, entah asing, entah dalam negeri, sebagaimana prediksi Prabu Silwangi:

Mereka yang berkelahi akhirnya kelelahan. Mereka baru tersadar. Ternyata, semuanya tidak ada yang mendapatkan bagian. Hal itu disebabkan tanah dan kekayaan alam seluruhnya habis, habis oleh mereka yang memegang banyak uang. Para raksasa lalu menyusup curang ke berbagai kelompok. Mereka yang berkelahi jadi ketakutan sendiri, takut dipersalahkan atas kerusakan dan kehilangan tanah serta kekayaan negara.

            Tanda-tandanya sudah jelas bukan?

Bukankah sedikit demi sedikit kita menyadari bahwa sudah sangat banyak harta kekayaan Negara Indonesia hanya dimiliki dan dikendalikan segelintir orang, bahkan dinikmati pihak asing, bukan oleh rakyat sebagai pemiliki sah negeri ini?

Pada masa depan akan lebih terbuka lagi semuanya sekaligus siapa saja orang-orang yang telah menggadaikan bangsa ini untuk kepentingan para kapitalis.
        
        Huru-hara ini mudah dipahami penyebabnya, yaitu karena kita menggunakan sistem politik kampungan hina dina yang bernama demokrasi. Sistem politik demokrasi itu sudah terbukti nyata membuat kerusakan di muka Bumi dan menjadi ibu lahirnya berbagai kecurangan dan kerusuhan di antara umat manusia. Demokrasi memang tabiatnya merusakkan banyak hal.
           
          Prabu Siliwangi sudah mengingatkan akibat-akibat dari dilaksanakannya sistem politik kotor yang namanya demokrasi ini. Perhatikan:

            Dalam bahasa Sunda: 

Mingkin hareup mingkin hareup, loba buta nu baruta, naritah deui nyembah berhala. Laju bubuntut salah nu ngatur, panarat pabeulit dina cacadan; da nu ngawalukuna lain jalma tukang tani. Nya karuhan: taraté hépé sawaréh, kembang kapas hapa buahna; buah paré loba nu teu asup kana aseupan……………………….. Da bonganan, nu ngebonna tukang barohong; nu tanina ngan wungkul jangji; nu palinter loba teuing, ngan pinterna kabalinger.

Dalam bahasa Indonesia:

Makin lama makin lama, banyak raksasa yang jahat. Mereka menyuruh menyembah lagi berhala. Pergaulan anak muda salah jalan. Kesalahan pergaulan itu diakibatkan oleh salahnya aturan dari pemerintah. Undang-undang dan hukum hanya ada di mulut dan dalam diskusi-diskusi kosong tanpa bisa ditegakkan dengan benar. Hal itu disebabkan para pejabatnya bukan ahlinya, buah padi banyak yang tidak masuk ke dapur rakyat. ........................ Salah sendiri mempercayakan kebun kepada orang yang gemar berdusta, petaninya suka mengumbar janji palsu, orang-orang pintar terlalu banyak, tetapi pinternya keblinger.

            Raksasa yang jahat itu adalah para elit, baik politik maupun ekonomi yang suka menipu, berbohong, ingkar janji, mengumbar fitnah, memanas-manasi situasi, dan serakah.

Berhala yang harus disembah adalah berhala demokrasi. Mereka terus memuja dan menyembah demokrasi. Menurut mereka, sistem demokrasi adalah yang terbaik, padahal terburuk dari yang pernah ada. Plato pun yang filsuf barat mencela demokrasi. Mereka selalu menolak tanpa pengetahuan jika demokrasi disebut buruk. Mereka mengagungkan demokrasi dan menganggap diri cerdas, maju, brilian karena telah menggunakan sistem politik sampah yang disebut demokrasi.

Undang-undang dan hukum sering sekali terdistorsi oleh kekuatan kekuasaan dan uang sehingga sering mengalami penyimpangan. Tak aneh jika banyak penegak hukum yang malah melanggar hukum.

Para pejabat dalam sistem demokrasi kerap didasari pada kepentingan politik atau pragmatis, bukan integritas dan kecakapan. Hal itu disebabkan dalam sistem demokrasi selalu ada kepentingan yang bermain di belakang layar yang harus dilayani oleh penguasa karena kekuasaan yang didapatkan dalam sistem demokrasi selalu harus bermitra dengan pemegang uang banyak dan orang-orang yang punya pengaruh kuat untuk mempengaruhi rakyat agar memilih dirinya. Akibatnya, cita-cita besar untuk mewujudkan kemakmuran rakyat pun terpaksa harus terhambat karena berbagai kepentingan yang melilitnya. Akhirnya, rakyat-rakyat juga yang rugi. Negara juga yang sengsara. Oleh sebab itu, Prabu Siliwangi menyindir:

Salah sendiri mempercayakan kebun kepada orang yang gemar berdusta, petaninya suka mengumbar janji palsu, orang-orang pintar terlalu banyak, tetapi pinternya keblinger.

Sekali lagi, saya tidak suka kalau ramalan huru-hara ini terjadi. Akan tetapi, jika semua pihak tak mampu kembali kepada jati diri yang suci dan murni, yaitu Pancasila, ramalan itu memang inevitable, ‘tak bisa dihindari’.

Silakan berdemokrasi dan nikmati huru-hara.

Tuesday, 26 October 2010

Jalan Sudah Buntu

oleh Tom Finaldin

Bandung, Putera Sang Surya

Negeri ini sudah sampai di penghujung kebingungan. Segala daya dan upaya yang dilakukan sudah tak lagi mampu menyelesaikan berbagai persoalan. Penderitaan dan kesulitan pemilik sah negeri ini tak terpecahkan, bahkan semakin hari semakin parah. Pemerintah dan kalangan tertentu bolehlah mengatakan ada perbaikan-perbaikan, tetapi dalam kenyataannya, kelaparan, kesulitan ekonomi, kejahatan, kerusakan moral, penyakit, bencana, dan berbagai ketimpangan lainnya muncul lebih mencolok. Ironisnya, ketika sebagian besar rakyat negeri ini dalam kesusahan, sebagian kecil lainnya mengalami kemakmuran.

Dengan sistem politik demokrasi, sebetulnya kita menjatuhkan diri dalam jurang kesengsaraan berkepanjangan. Kita dulu menyangka bahwa sistem ini sangat menolong kita untuk mengatasi berbagai permasalahan, bahkan menjadi bangsa maju yang disegani dunia. Namun, apa yang terjadi? Ternyata, negeri ini semakin dililit kesulitan. Semakin hari semakin banyak bencana, huru-hara, kriminalitas, dan penurunan kesejahteraan. Hal itu disebabkan politik demokrasi mengandung berbagai cacat bawaan berupa virus mematikan. Demokrasi menjatuhkan moral dan kepribadian bangsa sehingga menimbulkan banyak kesusahan. Kesusahan dan penderitaan yang harus ditanggung rakyat itu tak bisa dilawan oleh rakyat karena rakyat dan seluruh elemen bangsa ini terikat dan terbelenggu oleh sistem demokrasi yang sebetulnya sangat jauh dari kepribadian bangsa serta tuntunan Allah swt. Ketika penderitaan itu menimbulkan kemarahan yang terpendam, alam pun menangkap gelombang itu dan memuntahkan kemarahan tersebut dengan caranya sendiri. Hakikatnya, Allah swt tidak suka dengan sistem politik dusta ini dan menunjukkan akibat-akibatnya kepada kita dengan maksud agar kita mengerti untuk segera meninggalkannya dan kembali kepada jati diri bangsa yang sesungguhnya.

Akan tetapi, kita ternyata tidak juga mau mengerti dan enggan meninggalkannya, terutama mereka yang telah mengecap manisnya demokrasi sambil tetap membohongi rakyat untuk tetap berada dalam hipnotis kedustaannya. Orang-orang jahat ini akan sangat dirugikan jika negeri ini kembali pada jati dirinya.

Meskipun demikian, mereka menyaksikan sendiri bahwa sistem politik demokrasi ini telah menunjukkan tabiatnya yang merusak. Dulu ketika berlangsung pemilihan eksekutif secara tidak langsung, telah terjadi berbagai kerusakan, di antaranya, money politics, oligarki, dan panen uang yang dituai anggota DPRD saat masa-masa pertanggungjawaban eksekutif yang ujungnya adalah tetapnya kondisi rakyat dalam kesulitan, sementara para penguasa berpesta pora. Oleh sebab itu, diubahlah menjadi pemilihan langsung oleh rakyat untuk menekan praktik-praktik buruk akibat pemilihan tidak langsung tersebut. Hal yang paling mengemuka adalah dengan dilangsungkannya pemilihan langsung oleh rakyat, para Caleg dan calon eksekutif itu tidak memiliki uang yang cukup untuk menyuap rakyat agar memilihnya karena jumlah rakyat sangat banyak, berbeda dengan pemilihan tidak langsung yang dengan uang sedikit saja bisa menyuap anggota DPR yang jumlahnya sangat sedikit itu. Akan tetapi, setelah dilaksanakan pemilihan langsung, kita semua menyaksikan bahwa ternyata rakyat tetap bisa dibeli, huru-hara semakin meluas, kriminalitas menjadi-jadi, serta kerusakan fisik dan mental semakin kentara. Setelah kerusakan akibat pemilihan langsung itu jelas terasa, elit-elit politik mencari cara untuk menyelesaikannya. Cara yang sekarang mulai keras diwacanakan oleh Ketua DPR RI Marzuki Alie dan Ketua Partai Demokrat Anas Urbaningum adalah kembali ke sistem pemilihan tidak langsung. Harapannya adalah tidak lagi terjadi keburukan-keburukan akibat pemilihan langsung.

Jika diperhatikan, para elit itu ternyata cuma menjalankan politik “setrikaan baju” yang bolak-balik tidak jelas ujung pangkalnya. Dulu kita menggunakan pemilihan tidak langsung dan berakhir buruk, lalu diganti dengan pemilihan langsung. Setelah pemilihan langsung pun buruk, kita diajak lagi ke sistem pemilihan tidak langsung yang buruk itu. Jadi, ternyata para politisi itu tidak memiliki jalan lain untuk memperbaiki kondisi negeri. Mereka malahan banyak yang melihat keuntungan besar dari pemilihan tidak langsung. Tentu saja, keuntungan itu bukan untuk rakyat, melainkan untuk para politisi sendiri. Di samping itu, dengan kembali ke sistem pemilihan tidak langsung, berarti merestui tindakan-tindakan korup dan kemaksiatan yang terjadi akibat dari pemilihan tidak langsung. Inilah yang saya sebut jalan sudah buntu. Pemilihan tidak langsung diganti pemilihan langsung diganti lagi pemilihan tidak langsung. Nggak punya cara lain lagi.


Mereka tak lagi mampu berpikir dari jeratan sistem politik demokrasi yang jelas-jelas rendah, kampungan, dan hina ini. Mereka tetap mengeramatkan demokrasi yang sebetulnya merendahkan derajat manusia dan kemanusiaan. Akibatnya, mereka bolak-balik nggak karu-karuan. Mereka tidak memiliki cara lain karena sudah terbius dan menjerumuskan diri sebagai penyembah berhala demokrasi.

Mereka pikir dengan kembali pada pemilihan tidak langsung akan menjadikan negeri ini lebih baik. Itu adalah kesesatan yang nyata. Mereka pikir dengan sistem pemilihan tidak langsung akan berhenti dari huru-hara, money politics, dan seabrek kejahatan lain akibat sistem pemilihan langsung? Sungguh pikiran yang keliru dan teramat bodoh, tolol sangat memilukan.

Buntunya jalan tersebut menunjukkan kepada kita semua bahwa Allah swt sudah tidak menghendaki lagi sistem yang nista ini dilanjutkan. Kita semestinya kembali pada jati diri yang sejak dulu dilekatkan Allah swt kepada kita. Jika kita terus berlanjut seperti ini, akan terjadi kekalutan dan kesemrawutan melebihi yang sudah-sudah.

Akan tetapi, sudah menjadi keharusan bahwa negeri ini akan menemukan dirinya dalam keadaan yang sangat menderita. Hal itu disebabkan kita menggunakan jalan yang salah. Artinya, tulisan atau peringatan ini tak akan mengubah sedikit pun perjalanan bangsa ini, kecuali memberikan peringatan bahwa kita sudah mengambil jalan yang salah dan akan menerima akibatnya dengan kesedihan melebihi yang sudah-sudah, baik itu bencana alam maupun bencana sosial-politik-ekonomi.

Ada pesan yang disampaikan oleh Prabu Siliwangi mengenai kekalutan dan kebingungan yang akan terjadi dan atas izin Allah swt, pasti terjadi, tak bisa diubah-ubah. Jika kita berhati bersih dan berpikiran luas, akan mampu menangkap apa yang dipesankan oleh Sang Prabu mengenai bagian dari masa depan negeri ini.

Dalam bahasa Sunda:

Jayana buta-buta, hanteu pati lila; tapi, bongan kacarida teuing nyangsara ka somah anu pada ngarep-ngarep caringin reuntas di alun-alun. Buta bakal jaradi wadal, wadal pamolahna sorangan. Iraha mangsana? Engké, mun geus témbong budak angon! Ti dinya loba nu ribut, ti dapur laju salembur, ti lembur jadi sanagara! Nu barodo jaradi gélo marantuan nu garelut, dikokolotan ku budak buncireung! Matakna garelut? Marebutkeun warisan. Nu hawek hayang loba. Nu boga hak marénta bagianana. Ngan nu aréling caricing. Arinyana mah ngalalajoan. Tapi kabarérang.

Nu garelut laju rareureuh. Laju kakara arengeuh. Kabéh gé taya nu meunang bagian. Sabab warisan sakabéh béak, béakna ku nu nyarekel gadéan. Buta-buta laju nyarusup, nu garelut jadi kareueung, sarieuneun ditempuhkeun leungitna nagara.

Dalam bahasa Indonesia:

Kekuasaan raksasa-raksasa buta itu tidak terlalu lama, tetapi selama berkuasa itu keterlaluan sekali menindas rakyat susah yang sedang berharap datangnya mukjizat, Raksasa-raksasa itu akan menjadi tumbal, tumbal kejahatannya sendiri. Kapan waktunya? Nanti kalau sudah tampak Anak Gembala! Mulai saat itu akan terjadi keributan, huru-hara, dari rumah menjadi sekampung, dari sekampung menjadi senegara! Orang-orang bodoh pada jadi gila ikut-ikutan membantu mereka yang sedang berkelahi yang dipimpin oleh Pemuda Buncit! Penyebabnya berkelahi? Memperebutkan warisan, tanah. Mereka yang serakah ingin mendapatkan lebih banyak lagi. Mereka yang memiliki hak meminta haknya diberikan. Mereka yang sadar berdiam diri. Mereka hanya menonton, tetapi tetap terimbas juga.

Mereka yang berkelahi akhirnya kelelahan. Mereka baru tersadar. Ternyata, semuanya tidak ada yang mendapatkan bagian. Hal itu disebabkan tanah dan kekayaan alam seluruhnya habis, habis oleh mereka yang memegang banyak uang. Para raksasa lalu menyusup curang ke berbagai kelompok. Mereka yang berkelahi jadi ketakutan sendiri, takut dipersalahkan atas kerusakan dan kehilangan tanah dan kekayaan negara.

Sudah jelas sistem politik demokrasi ini adalah salah dan jahat, tetapi orang-orang tidak mau mendengarkan karena bodoh. Oleh sebab itu, negeri ini akan menerima akibatnya yang berupa berbagai bencana. Pada tulisan lain, bencana-bencana alam yang telah, sedang, dan akan terjadi menurut Uga Wangsit Siliwangi akan dipaparkan lagi.

Segera jauhi apa pun yang berhubungan dengan demokrasi. Dekatkan diri kepada Allah swt. Mudah-mudahan Allah swt akan melindungi kita dari ganasnya kejahatan dan tekanan pada masa depan akibat dari ketololan yang dijalankan dalam pemerintahan kita sendiri saat ini. Amin.