Showing posts with label Huru-Hara. Show all posts
Showing posts with label Huru-Hara. Show all posts

Saturday, 6 September 2025

Orang Sunda Tidak Akan Merusakkan Daerahnya Sendiri

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Maaf tulisan ini mungkin akan terasa rasis, bahkan etnosentris. Akan tetapi, itulah yang terjadi belakangan ini.

            Berkaitan dengan demonstrasi di Bandung yang diwarnai huru-hara, perusakkan fasilitas umum, kematian, dan penjarahan, diikuti oleh gerakan cepat pihak kepolisian menangkapi para pelanggar hukum, ternyata para perusuh itu di antaranya bukan orang Bandung, sama sekali bukan orang Jawa Barat, malahan bukan orang Sunda. Hal itu membuat netizen Sunda marah-marah. Mereka jengkel bisa-bisanya bukan orang Sunda bikin kerusakan di tanah Sunda. Menurut mereka, orang Sunda asli tidak akan berbuat kehancuran seperti itu. Komentar-komentar seperti itu sangat banyak beredar pada video-video penangkapan perusuh yang disebarkan oleh pihak kepolisian melalui konferensi pers.

            Sejujurnya, saya setuju bahwa orang Sunda yang memegang nilai-nilai kesundaan tidak akan melakukan kerusakan, apalagi di tanahnya sendiri. Akan tetapi, saya tidak yakin bahwa orang Sunda masih taat pada nilai-nilai keluhuran leluhurnya yang punya keadaban tinggi. Pengaruh-pengaruh luar dan nilai-nilai luar mudah sekali masuk mendistorsi kebaikan ajaran Sunda. Saya juga tidak tahu bahwa orang-orang yang ditangkapi itu semuanya bukan orang Sunda.


Prabu Siliwangi (Foto: Pinterst)


            Hal yang patut diperhatikan adalah komentar-komentar kemarahan dari netizen Sunda itu sekaligus pula mengingatkan orang Sunda untuk kembali mengingat ajaran leluhurnya yang punya banyak solusi tanpa harus menggunakan kekerasan dan kekacauan. Banyak cara lain yang bisa digunakan untuk menyelesaikan masalah.

            Saya meyakini bahwa semua suku bangsa di Indonesia ini memiliki nilai-nilai kebaikan sangat tinggi yang dilekatkan Allah swt sejak dalam kandungan. Tak ada satu suku pun di Indonesia ini yang mengajarkan kejahatan dan kerusakan. Sudah kehendak Allah swt manusia diciptakan bersuku-suku dan berbangsa-bangsa untuk saling mengenal sehingga bisa bekerja sama membangun hidup dan kehidupan, bukan untuk melakukan kerusakan.

            Kalaulah ada kelompok-kelompok yang gemar kekusutan pikiran dan kekacauan perilaku, itu sudah dipastikan bukan berasal dari Allah swt. Itu berasal dari kesesatan.

            Kita harus kembali pada nilai kebaikan kita dan menyelesaikan masalah dengan kebaikan pula, bukan dengan huru-hara.

            Ilustrasi Prabu Siliwangi saya dapatkan dari Pinterest.

            Sampurasun.

Friday, 15 April 2022

Perusuh Jalanan Senilai Cacing Cau

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Saya tidak pernah benar-benar melihat “cacing cau”, cacing buah pisang, tetapi sedari kecil sering mendengar istilah ini. Istilah cacing cau selalu diarahkan kepada orang-orang tidak bernilai, mengganggu, remeh, bloon, tidak masuk hitungan, hanya digunakan ketika perlu untuk segera dibuang dan tak lagi diingat-ingat.

            Para cacing cau yang saya maksud adalah orang-orang yang ditipu dengan informasi palsu dan kajian-kajian tak berdasar yang kemudian bergerak seolah-olah pembela agama atau pembela rakyat. Padahal, mereka hanyalah manusia rendahan yang masih harus banyak belajar. Mereka adalah orang-orang yang hidup dalam ilusi, dalam khayalan, dalam lamunan, dan dalam kebohongan. Mereka seolah-olah pejuang besar yang akan menggapai masa depan yang gemilang. Padahal, mereka hanyalah angka-angka kebodohan yang digunakan untuk mendapatkan uang dari para bohir.

            Mereka sok gagah, sok pintar, sok melebihi para ahli, padahal di kepalanya cuma dongeng. Mereka merasa keren ketika digunakan para bajingan bodoh untuk bergerak di jalanan bikin huru-hara. Mereka tidak sadar bahwa sesungguhnya sedang digerakkan oleh petualang politik dan penjahat ekonomi untuk mengacaukan bangsa dan Negara Indonesia. Nilai mereka itu hanya angka per kepala yang dihitung oleh para pengaju proposal huru hara di Indonesia kepada para bohir kerusuhan. Mereka hanya angka yang kemudian dijadikan dasar hitungan untuk mendapatkan uang. Mereka sudah sangat bangga dikasih nasi bungkus dan uang recehan, tetapi gayanya seperti bakal calon pejabat.

            Mereka tidak tahu bahwa para Korlap dan para bohir duduk-duduk bersenang-senang menghitung uang besar, baik dari penjahat dalam negeri, maupun dari penjahat luar negeri sejumlah miliaran dollar Amerika Serikat untuk mengguncangkan Indonesia. Para penjahat ini tidak suka melihat Indonesia yang bisa bertahan seperti ini dan melangkah maju menggapai masa keemasannya nanti. Para penjahat ini menggunakan cara-cara yang sama ketika menghancurkan Libya, Irak, Afghanistan, Suriah, dan yang lain-lain, yaitu membiayai para perusuh dengan menggunakan isu agama, terutama prokhilafah. Coba baca sejarah, ada banyak Ormas bloon sok shaleh terlibat di sana. Ketika hancur lebur, negeri itu pun harus rusak, bahkan dikuasai asing, jauh dari kemakmuran, jatuh miskin.

Para prokhilafah itu ke mana?

Mereka terus saja bikin dusta karena cuma itu yang mereka bisa. Mereka pun tidak bisa mengelola negeri yang telah dihancurkan mereka karena mereka pada dasarnya tidak bisa apa-apa. Negeri yang rusak itu diserahkan pada kekacauan itu sendiri.

Para cacing cau tidak tahu hal ini. Mereka hanya bergerak seolah-olah orang cerdas dan beriman, pahlawan bangsa. Padahal, mereka hanya umpan yang dibenturkan dengan aparat dan negara untuk kemudian dikorbankan, lalu dilupakan.

Saya kasih tahu kalian yang nilainya hanya cacing cau. Jangankan manusia cacing cau seperti kalian, orang terkenal sehebat Ratna Sarumpaet saja ketika masuk penjara, tidak ada yang besuk, tidak ada lagi yang peduli, lalu perlahan namun pasti dilupakan orang.

Kalian apalagi yang nilainya hanya cacing cau.

Siapa yang peduli terhadap kalian jika kalian masuk penjara?

Siapa yang sedih jika kalian terluka atau bahkan mati ditembak polisi?

Siapa yang akan mengurus kalian jika cacat permanen karena bentrok dengan kelompok lain yang tidak suka dengan kalian?

            Yang akan merawat kalian adalah keluarga kalian. Yang susah karena perilaku kalian adalah keluarga kalian. Yang malu dan terhina bukan cuma kalian, melainkan pula keluarga kalian. Itu juga kalau kalian masih dicintai keluarga kalian. Jika tidak, kalian hanya akan berkumpul di penjara dengan para begal, copet, pemerkosa, pembunuh, perampok, dan kriminal lainnya.

            Para bajingan bodoh dan para bohir itu sama sekali tidak tidak peduli terhadap keselamatan dan masa depan kalian. Mereka sama sekali tidak mengenal kalian karena kalian hanya cacing cau. Kalian tidak masuk hitungan dalam konteks politik daerah dan nasional. Kalian hanya cacing cau yang ditipu, dikasih uang receh, dan digunakan untuk bikin kerusuhan. Kemudian, kalian ditinggal dan dilupakan dengan kejam, tak ada penghargaan untuk kalian karena kalian cuma cacing cau.   

            Sampurasun.

Saturday, 25 December 2021

Sebentar Lagi Bisa Saling Bunuh

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Makin mengerikan dan makin kacau persoalan Bahar bin Smith ini. Setelah banyak pihak yang akan mencarinya untuk membuat perhitungan dengannya serta ada yang mengajak berduel, pengikut Bahar pun bereaksi dengan mengancam akan membunuh orang-orang yang dianggap menantang Bahar. Mereka saling ancam lewat Youtube dan lewat WA. Saya berharap ini tidak terjadi, tetapi kalau mereka beneran ketemu di mana saja atau kapan saja, perkelahian hingga mati pun bisa terjadi tak terelakkan.

            Beginikah situasi yang sangat diharapkan?

            Kalau ini terjadi, berarti kita hidup mundur ribuan tahun ke belakang ke masa jahililyah, kebodohan dan kesesatan. Adanya, demokrasi dan hukum itu adalah untuk mencegah terjadinya kekerasan dan pembunuhan fisik. Semua orang boleh bersaing mendapatkan yang diinginkannya, tetapi tidak dengan cara menggunakan kekerasan fisik. Berbeda dengan zaman dulu, keinginan dan kekuasaan itu diraih dengan cara kekerasan hingga pembunuhan.

            Kalaulah sekarang ada orang yang mengaku-aku habib, ulama, profesor, dosen, pejabat, pengusaha, atau siapa pun yang mengajak pada kekerasan fisik, dia berarti orang bodoh dan tolol yang hanya mementingkan dirinya sendiri dan tidak memikirkan nasib orang lain. Mereka menggerakkan dan mempengaruhi orang agar berkelahi untuk kepentingan dirinya sendiri. Orang lain dibiarkan melarat dan menderita, sementara dirinya sendiri berharap harta dan kedudukan untuk kesenangannya sendiri. Jangan bodoh dan jangan mudah ditipu.

            Jika saja terjadi perkelahian, bahkan saling bunuh gara-gara ceramah Bahar, urusannya akan menjadi panjang. Mereka sama-sama memiliki keluarga, teman, atau grup. Lalu, temannya menuntut balas, terjadi lagi kekerasan, kemudian dibalas lagi, kerusakan akan terus berlanjut. Ini berbahaya.

            Jika dihitung jumlah, pengikut Bahar ini sangat sedikit dibandingkan mereka yang tidak suka Bahar. Paling cuma beberapa ribu. Karena Bahar dianggap suka menghina Jokowi, pendukung Jokowi marah. Data survey terakhir, kepuasan rakyat terhadap Jokowi mencapai 82,3%. Artinya, bisa dikatakan jumlah anti-Bahar jauh lebih banyak, bisa mencapai angka 150 juta lebih. Pengikut Bahar bisa jadi bulan-bulanan.

Kalau huru-hara ini terjadi, akan ada banyak ibu kehilangan anaknya, istri yang menjadi janda, anak kehilangan ayahnya, ayah kehilangan anaknya, saudara kehilangan saudaranya karena mati berseteru. Banyak masa depan yang terganggu. Hal ini tidak perlu terjadi, baik kepada pendukung Bahar maupun kepada mereka yang anti-Bahar.

Orang boleh bilang saya terlalu mendramatisasi, tetapi sesungguhnya saya merasa ngeri.

Soalnya, saya pernah mendengar sendiri ada Ormas yang bajunya loreng-loreng bilang, “Kalau mereka masih begitu, kita akan karungin satu-satu. Kita pukulin di dalam karung.”

Mudah-mudahan hal ini tidak akan pernah terjadi. Semuanya bisa diselesaikan tanpa harus ada perkelahian.

Kuncinya ada di kepolisian. Polisi harus segera menjelaskan status Bahar. Kalau memang Bahar bersalah dan ada bukti yang cukup dalam pandangan kepolisian, segera tangkap Bahar supaya terjadi keamanan. Tinggal diteruskan ke kejaksaan dan dilanjutkan ke pengadilan, biar hakim yang lebih menentukan apakah benar bersalah atau tidak. Sebaliknya, jika polisi tidak memiliki bukti yang cukup bahwa Bahar telah melakukan pelanggaran hukum, segera umumkan kepada masyarakat luas bahwa tidak ada bukti dan alasan kuat untuk memenjarakan Bahar. Semua pihak harus menerima penjelasan kepolisian dan tidak perlu memaksakan kehendak kepada polisi, baik untuk memenjarakannya atau tidak. Biarkan polisi bekerja berdasarkan hukum.

Saya dengar polisi sedang mempelajari rupa-rupa laporan tentang Bahar. Itu bagus. Akan tetapi, jangan terlalu lama karena masyarakat sudah tegang dan sewaktu-waktu bisa meledak kapan saja. Kalau terlalu lama, dikhawatirkan ketegangan rakyat memuncak, tetapi kepolisian belum memberikan kejelasan, kekerasan bisa terjadi tiba-tiba. Kalau benar terjadi, orang-orang jelas akan menyalahkan kepolisian karena bertindak lambat. Polisi akan menjadi pihak yang dimintai pertanggungjawaban.

Mudah-mudahan tidak terjadi kekerasan dan semua baik-baik saja. Semua harus belajar dari pengalaman yang sudah-sudah agar lebih hati-hati berbicara dan bertindak sehingga tidak membuat marah orang lain yang menyebabkan pelanggaran terhadap hukum.

Sampurasun.

Saturday, 18 February 2017

Mahalnya Demokrasi

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Orang boleh bangga, KPU boleh gembira, dan para pecinta demokrasi boleh bersorak sorai karena partisipasi pemilih di DKI dalam pemilihan putaran pertama gubernur DKI Jakarta mengalami peningkatan yang cukup besar, yaitu mencapai 78% lebih. Para pengamat boleh mengatakan bahwa pelaksanaan Pilkada di TPS-TPS berlangsung aman dengan partisipasi masyarakat yang meningkat merupakan peningkatan kedewasaan masyarakat dalam berpolitik atau berdemokrasi.

            Akan tetapi, tahukah seberapa besar pengorbanan yang harus terjadi untuk memperoleh angka partisipasi 78% itu?

            Benar-benar sangat mahal!

            Bukan hanya uang yang harus dihambur-hamburkan sejak pembentukan tim sukses sampai dengan selesainya proses Pilkada yang harus dikeluarkan partai, calon gubernur, para pendukung, dan pemerintah, melainkan pula kerusakan pada tataran sosial dan stabilitas keamanan. Uang yang sangat besar jelas menggelontor sangat banyak. Entah berapa seluruhnya. Hal itu menandakan sangat mahalnya proses demokrasi. Di samping itu, kita harus membayar biaya pengorbanan berupa ketegangan dan polarisasi di tengah masyarakat. Tuduhan penghinaan kepada ulama dan penodaan terhadap agama oleh Ahok telah melahirkan hiruk pikuk kekacauan luar biasa. Demonstrasi jutaan manusia yang terbesar sepanjang sejarah manusia sejak Adam as sampai hari ini terjadi di Jakarta, Indonesia. Ada huru-hara dan pelanggaran di sana. Hoax dan fitnah meracuni pikiran masyarakat yang membuat pemerintah cukup letih memeranginya. Perdebatan-perdebatan sengit di tengah masyarakat pun terjadi. Ahok harus menjadi terdakwa di pengadilan yang sangat menyedot perhatian masyarakat. Banyak waktu terbuang hanya untuk memperhatikan hal itu dan memperdebatkannya. Rizieq Shihab harus dilaporkan dengan bertubi-tubi tuduhan oleh banyak orang sehingga menjadi tersangka. Tempat lahir dan tempat tinggal saya, Kota Bandung, yang biasanya sangat aman dan damai harus menjadi tempat konflik antara FPI dan GMBI. Demikian pula juru bicaranya,  Munarman, menjadi tersangka pula dalam kasus dugaan penghinaan kepada pecalang Bali. Di samping itu, Bachtiar Nasir harus bolak-balik diperiksa polisi tentang keuangan yayasan. Firza Husein harus disangka melakukan pelanggaran hukum. Puteri Presiden ke-1 RI Rachmawati bersama Sri Bintang Pamungkas pun diduga akan melakukan makar terhadap negara. Keresahan demi keresahan yang terwujud menjadi keluhan  muncul dari mantan presiden SBY. Pengadilan Ahok terus-terusan diwarnai demonstrasi pro dan kontra. Di kalangan umat Islam terjadi pula polarisasi yang sangat keras, tuduh-menuduh kafir, sesat, dan tentara syetan merajalela. Penggunaan bahasa-bahasa kotor dan tidak terdidik menjamur di media sosial. Keriuhan negatif pun terus berlanjut antara Antasari Azhar Vs SBY. Saya yakin masih sangat banyak hal negatif terjadi dalam perhelatan yang katanya pesta itu.

            Pesta itu seharusnya bergembira. Akan tetapi, pesta demokrasi banyak menjerumuskan orang menjadi tersangka pelanggar hukum. Itu pesta yang sangat aneh.

            Presiden Jokowi boleh mengatakan bahwa wajar jika dalam setiap Pilkada situasi “menghangat”. Kata menghangat itu sebenarnya hanya eufimisme dari kata “memanas”. Jokowi memang benar, tetapi biaya “menghangat” itu sangat mahal, baik secara materi maupun nonmateri

            Hal yang sangat membuat saya khawatir adalah kita menganggap segala sesuatu yang terjadi secara negatif itu adalah hal yang wajar atau lumrah dalam menghadapi masa pemilihan. Padahal, yang namanya hoax, kampanye hitam, fitnah, dan kedustaan adalah hal-hal yang busuk.

            Saya sangat khawatir dengan peringatan dari Allah swt bahwa “syetan telah menyesatkan mereka hingga menganggap perbuatan buruk mereka sebagai perbuatan baik”.

            Bagaimana jika ada orang yang mati tabrakan sepulang menyebarkan fitnah dan kampanye hitam?

            Dia mati dalam keadaan berdosa.

            Bagaimana kalau ada yang mati berkelahi gara-gara hoax?

            Mereka mati dalam keadaan tertipu.

            Bagaimana jika ada yang mati selepas baru saja “memperalat” agama untuk kepentingan jagoannya?

            Dia mati dalam keadaan tersesat dan menyesatkan orang lain.

            Di mana mereka nanti akan berakhir? Surga atau neraka?

            Saya khawatir mereka akan berada di neraka!

            Sungguh, hiruk pikuk, huru-hara, polarisasi, dan ketegangan di masyarakat itulah yang mendorong tingkat partisipasi publik dalam Pilkada DKI. Peningkatan partisipasi itu bukanlah karena “sistem politik demokrasi itu baik”, melainkan disebabkan mereka yang anti-Ahok ingin menjerumuskan Ahok ke penjara, sementara itu mereka yang pro-Ahok ingin Ahok menjadi gubernur lagi serta mereka yang tidak anti-Ahok ingin menunjukkan keyakinannya bahwa negeri ini harus tetap mampu berpikir rasional.

            Tanpa huru-hara, kemelut, dan berbagai ketegangan, saya tidak yakin partisipasi politik masyarakat akan meningkat signifikan. Hal ini bisa dilihat bahwa di daerah-daerah yang sepi huru-hara akibat Pilkada, partisipasi politik masyarakat dalam demokrasi dapat dikatakan “rendah”.

            Kegaduhan yang telah melibatkan puluhan juta manusia di Indonesia ini hanya mampu membuat partisipasi politik mencapai angka 78%, tidak sampai 90%, lebih-lebih 100%.

            Harus kegaduhan sebesar apa untuk mewujudkan partisipasi publik mencapai 100%?


Thursday, 20 November 2014

Indonesia Sebentar Lagi Hancur



oleh Tom Finaldin

Bandung, Putera Sang Surya

Kalau tak pintar menahan diri dan cerdas berlapang dada, Indonesia sebentar lagi benar-benar hancur. Saya sebenarnya tak suka jika negeri ini hancur berantakan sebagaimana yang disebutkan dalam berbagai ramalan, baik ramalan Sunda maupun Jawa. Meskipun demikian, ada banyak yang senang dengan berbagai kekisruhan yang terjadi di Indonesia. Mereka sangat senang dengan adanya bencana alam yang terus-menerus terjadi tanpa henti pada berbagai belahan tanah air Indonesia. Mereka tertawa-tawa dengan jungkir-baliknya hukum di Indonesia. Mereka pun bergembira dengan konfllik-konflik politik yang terjadi.

            Mereka yang selalu merasa senang ketika Indonesia mengalami kesulitan bukanlah orang-orang bodoh. Mereka itu pintar-pintar. Saya banyak kenal dengan mereka. Mereka pun bukan para penjahat atau pengacau. Mereka bahkan orang-orang yang mencintai Indonesia. Mereka merasa gembira dengan berbagai kekusutan yang terjadi di Indonesia disebabkan segala yang mereka prediksi berdasarkan ramalan-ramalan satu demi satu terbukti. Mereka malahan ingin segera melihat Indonesia berantakan karena setelah itu Indonesia akan semacam di-restart ulang untuk kemudian menemukan jati dirinya dalam kejayaan dan menjadi sinar bagi dunia.

            Memang kehancuran Indonesia itu sudah diramalkan terjadi dengan diawali ciri-ciri yang tegas dan terbukti, misalnya, bencana gempa bumi, gunung berapi meletus, banjir besar, perempuan hilang rasa malu, laki-laki mulai malas, nyawa tidak ada harganya, para pemimpin sering berkata bohong dan ingkar janji, hukum dijalankan dengan berbelit-belit, banyak anak muda menjadi pemimpin, orang jujur tersisihkan, banyak wabah penyakit, para elit bertengkar yang merembes ke tingkat grass root, dan lain sebagainya. Hal-hal itu sudah diramalkan sejak lama. 

Memang terbukti bukan?

Para pembaca bisa menelusuri berbagai artikel dalam blog ini yang sudah saya tulis sejak lama tentang ramalan-ramalan itu, baik Uga Wangsit Siliwangi, Darmagandul, Joyoboyo, maupun Ronggowarsito.

Sekarang semenjak Pilpres 2014, berbagai kejadian dan kekisruhan politik menguatkan bahwa ramalan tentang hancurnya Indonesia bakal terjadi. Harus diingat bahwa yang hancur adalah Negara Indonesia, bukan bangsa Indonesia. Indonesia sebagai bangsa malahan akan semakin kuat, tetapi sebagai state akan mengalami kerusakan parah. Kita bisa lihat bahwa hasil Pilpres 2014 menghasilkan dua kubu yang relatif seimbang dalam berbagai hal, baik jumlah maupun intelektual. Diakui ataupun tidak, kedua kubu itu terus berseteru dan setiap kubu mengklaim dirinya paling benar apapun alasannya. Seimbangnya kekuatan kedua kubu tersebut menimbulkan rasa percaya diri dari setiap kubu yang ujungnya dikhawatirkan akan memunculkan huru-hara.

Untuk jatuh ke dalam situasi huru-hara mudah saja. Hal itu disebabkan keduanya mengatasnamakan kepentingan rakyat dan membela rakyat. Setiap kubu menuduh kubu lawannya sebagai arogan dan mementingkan kelompoknya serta ingin menunjukkan kekuasaan yang dimilikinya. Apabila situasi ini meruncing semakin tajam, akan membuat negara berjalan tidak mulus. Akan ada pihak yang merasa terzalimi dan teraniaya, kemudian mengerahkan seluruh sumber daya yang dimilikinya untuk memberikan perlawanan.

Huru-hara yang terjadi akan dimulai oleh para elit, bukan oleh rakyat. Para elitlah yang akan memulai pertarungan yang kemudian mengajak serta rakyat untuk berpihak padanya sehingga pertarungan meluas dan memperparah keadaan.

Ramalan tentang huru hara tersebut bisa kita lihat dari Uga Wangsit Siliwangi:

Dalam bahasa Sunda:

Ti dinya loba nu ribut, ti dapur laju salembur, ti lembur jadi sanagara! Nu barodo jaradi gélo marantuan nu garelut, dikokolotan ku budak buncireung! Matakna garelut? Marebutkeun warisan. Nu hawek hayang loba. Nu boga hak marénta bagianana. Ngan nu aréling caricing. Arinyana mah ngalalajoan. Tapi kabarérang.

Nu garelut laju rareureuh. Laju kakara arengeuh. Kabéh gé taya nu meunang bagian. Sabab warisan sakabéh béak, béakna ku nu nyarekel gadéan. Buta-buta laju nyarusup, nu garelut jadi kareueung, sarieuneun ditempuhkeun leungitna nagara. 

            Dalam bahasa Indonesia:

Mulai saat itu akan terjadi keributan, huru-hara, dari rumah menjadi sekampung, dari sekampung menjadi senegara! Orang-orang bodoh pada jadi gila ikut-ikutan membantu mereka yang sedang berkelahi yang dipimpin oleh Pemuda Buncit! Penyebabnya berkelahi? Memperebutkan warisan. Mereka yang serakah ingin mendapatkan lebih banyak lagi. Mereka yang memiliki hak meminta haknya diberikan. Mereka yang sadar berdiam diri. Mereka hanya menonton, tetapi tetap terimbas juga.

Mereka yang berkelahi akhirnya kelelahan. Mereka baru tersadar. Ternyata, semuanya tidak ada yang mendapatkan bagian. Hal itu disebabkan tanah dan kekayaan alam seluruhnya habis, habis oleh mereka yang memegang banyak uang. Para raksasa lalu menyusup curang ke berbagai kelompok. Mereka yang berkelahi jadi ketakutan sendiri, takut dipersalahkan atas kerusakan dan kehilangan tanah serta kekayaan negara.

            Kapan terjadinya keributan itu?

            Keributan itu akan terjadi setelah para elit yang berkuasa, baik elit ekonomi maupun politik semakin pongah, angkuh, brutal, dan sering membohongi rakyat atau mengelabui perasaan rakyat. Hal itu disebabkan mereka menginginkan dukungan rakyat untuk sependapat atau berpihak padanya.

            Mereka berkelahi disebabkan memperebutkan warisan.

            Apa itu warisan?

            Warisan itu berupa kekuasaan politik dan ekonomi yang berasal dari keserakahan atas penguasaan negara dan sumber daya alam Indonesia.

            Perebutan warisan itu terus berlanjut hingga melibatkan rakyat. Hal itu bisa diperhatikan bahwa kubu-kubu yang sekarang sedang berseteru sama-sama mengatasnamakan rakyat. Bahkan, parahnya ada yang memanas-manasi rakyat sehingga rakyat ikut terlibat secara emosional terhadap pertarungan di tingkat elit. Rakyat yang hanya mendapatkan informasi sepotong-sepotong dan tidak utuh itu pun benar-benar terpengaruhi sehingga betul-betul bergerak atas dasar hasutan pihak-pihak yang berseteru. Pihak-pihak yang menghasut ini saya pastikan bakal masuk neraka jika tidak segera sadar.

            Dalam ramalan tadi rakyat disebut sebagai orang bodoh yang jadi gila ikut berkelahi. Disebut rakyat bodoh karena bergerak atas dasar informasi yang tidak lengkap dari para penghasut. Rakyat menjadi gila karena benar-benar meyakini bahwa informasi samar dan sumir itu merupakan kebenaran dan perlu diperjuangkan. Perhatikan ramalan berikut:

Orang-orang bodoh pada jadi gila ikut-ikutan membantu mereka yang sedang berkelahi yang dipimpin oleh Pemuda Buncit! Penyebabnya berkelahi? Memperebutkan warisan, tanah. Mereka yang serakah ingin mendapatkan lebih banyak lagi. Mereka yang memiliki hak meminta haknya diberikan. Mereka yang sadar berdiam diri. Mereka hanya menonton, tetapi tetap terimbas juga.

            Huru-hara itu dikendalikan oleh Pemuda Buncit.

            Siapa dia?

            Dia adalah provokator utama. Disebut buncit karena dia punya banyak uang, kekuasaan yang besar, dan serakah tak peduli halal atau haram, tak peduli banyak nyawa melayang asal dia bisa senang.

            Kita bisa lihat bukan saat ini mereka yang sudah punya kekuasaan terus berjuang hingga kekuasaannya semakin besar?

            Kita juga bisa menyaksikan bukan bagaimana mereka menguatkan kekuasaannya dengan berupaya keras mengokohkan kekuasaan teman-temannya?

            Kita juga bisa lihat bahwa aturan-aturan bernegara sepertinya pabeulit dina cacadan, ‘berbelit-belit’ dan berputar-putar dalam berbagai penafsiran yang berbeda-beda, iya kan?

            Prabu Siliwangi sudah mewanti-wanti bahwa hukum bernegara kita itu akan berbelit-belit dan sulit sekali untuk diaplikasikan. Padahal, dia mengatakan itu ribuan tahun yang lalu.

            Jika yang berseteru dan bertempur rebutan warisan itu berhenti, mereka merasakan kelelahan luar biasa. Di samping itu, akan terbuka lebarlah kondisi warisan yang mereka perebutkan itu. Artinya, terbukalah dengan terang bahwa kekuasaan politik, ekonomi, dan sumber daya alam Indonesia itu sudah dikendalikan oleh orang lain, yaitu orang-orang kaya yang punya banyak uang dan kekuasaan. Mereka yang berkelahi itu sebenarnya tidak mendapatkan apa-apa, kecuali sedikit, apalagi rakyat yang biasanya paling menderita.

            Setelah sadar dan terbuka semuanya, atas izin Allah swt, para elit pun merasa malu. Mereka mulai berlepas tangan dan menyusup ke ketiak orang-orang lain, para penguasa baru, untuk mendapatkan perlindungan. Mereka ketakutan disalahkan telah menggadaikan asset bangsa ini kepada para pemilik modal besar, entah asing, entah dalam negeri, sebagaimana prediksi Prabu Silwangi:

Mereka yang berkelahi akhirnya kelelahan. Mereka baru tersadar. Ternyata, semuanya tidak ada yang mendapatkan bagian. Hal itu disebabkan tanah dan kekayaan alam seluruhnya habis, habis oleh mereka yang memegang banyak uang. Para raksasa lalu menyusup curang ke berbagai kelompok. Mereka yang berkelahi jadi ketakutan sendiri, takut dipersalahkan atas kerusakan dan kehilangan tanah serta kekayaan negara.

            Tanda-tandanya sudah jelas bukan?

Bukankah sedikit demi sedikit kita menyadari bahwa sudah sangat banyak harta kekayaan Negara Indonesia hanya dimiliki dan dikendalikan segelintir orang, bahkan dinikmati pihak asing, bukan oleh rakyat sebagai pemiliki sah negeri ini?

Pada masa depan akan lebih terbuka lagi semuanya sekaligus siapa saja orang-orang yang telah menggadaikan bangsa ini untuk kepentingan para kapitalis.
        
        Huru-hara ini mudah dipahami penyebabnya, yaitu karena kita menggunakan sistem politik kampungan hina dina yang bernama demokrasi. Sistem politik demokrasi itu sudah terbukti nyata membuat kerusakan di muka Bumi dan menjadi ibu lahirnya berbagai kecurangan dan kerusuhan di antara umat manusia. Demokrasi memang tabiatnya merusakkan banyak hal.
           
          Prabu Siliwangi sudah mengingatkan akibat-akibat dari dilaksanakannya sistem politik kotor yang namanya demokrasi ini. Perhatikan:

            Dalam bahasa Sunda: 

Mingkin hareup mingkin hareup, loba buta nu baruta, naritah deui nyembah berhala. Laju bubuntut salah nu ngatur, panarat pabeulit dina cacadan; da nu ngawalukuna lain jalma tukang tani. Nya karuhan: taraté hépé sawaréh, kembang kapas hapa buahna; buah paré loba nu teu asup kana aseupan……………………….. Da bonganan, nu ngebonna tukang barohong; nu tanina ngan wungkul jangji; nu palinter loba teuing, ngan pinterna kabalinger.

Dalam bahasa Indonesia:

Makin lama makin lama, banyak raksasa yang jahat. Mereka menyuruh menyembah lagi berhala. Pergaulan anak muda salah jalan. Kesalahan pergaulan itu diakibatkan oleh salahnya aturan dari pemerintah. Undang-undang dan hukum hanya ada di mulut dan dalam diskusi-diskusi kosong tanpa bisa ditegakkan dengan benar. Hal itu disebabkan para pejabatnya bukan ahlinya, buah padi banyak yang tidak masuk ke dapur rakyat. ........................ Salah sendiri mempercayakan kebun kepada orang yang gemar berdusta, petaninya suka mengumbar janji palsu, orang-orang pintar terlalu banyak, tetapi pinternya keblinger.

            Raksasa yang jahat itu adalah para elit, baik politik maupun ekonomi yang suka menipu, berbohong, ingkar janji, mengumbar fitnah, memanas-manasi situasi, dan serakah.

Berhala yang harus disembah adalah berhala demokrasi. Mereka terus memuja dan menyembah demokrasi. Menurut mereka, sistem demokrasi adalah yang terbaik, padahal terburuk dari yang pernah ada. Plato pun yang filsuf barat mencela demokrasi. Mereka selalu menolak tanpa pengetahuan jika demokrasi disebut buruk. Mereka mengagungkan demokrasi dan menganggap diri cerdas, maju, brilian karena telah menggunakan sistem politik sampah yang disebut demokrasi.

Undang-undang dan hukum sering sekali terdistorsi oleh kekuatan kekuasaan dan uang sehingga sering mengalami penyimpangan. Tak aneh jika banyak penegak hukum yang malah melanggar hukum.

Para pejabat dalam sistem demokrasi kerap didasari pada kepentingan politik atau pragmatis, bukan integritas dan kecakapan. Hal itu disebabkan dalam sistem demokrasi selalu ada kepentingan yang bermain di belakang layar yang harus dilayani oleh penguasa karena kekuasaan yang didapatkan dalam sistem demokrasi selalu harus bermitra dengan pemegang uang banyak dan orang-orang yang punya pengaruh kuat untuk mempengaruhi rakyat agar memilih dirinya. Akibatnya, cita-cita besar untuk mewujudkan kemakmuran rakyat pun terpaksa harus terhambat karena berbagai kepentingan yang melilitnya. Akhirnya, rakyat-rakyat juga yang rugi. Negara juga yang sengsara. Oleh sebab itu, Prabu Siliwangi menyindir:

Salah sendiri mempercayakan kebun kepada orang yang gemar berdusta, petaninya suka mengumbar janji palsu, orang-orang pintar terlalu banyak, tetapi pinternya keblinger.

Sekali lagi, saya tidak suka kalau ramalan huru-hara ini terjadi. Akan tetapi, jika semua pihak tak mampu kembali kepada jati diri yang suci dan murni, yaitu Pancasila, ramalan itu memang inevitable, ‘tak bisa dihindari’.

Silakan berdemokrasi dan nikmati huru-hara.