Showing posts with label Ahok. Show all posts
Showing posts with label Ahok. Show all posts

Sunday, 22 May 2022

Abdul Somad Berhenti Cengeng, Baguslah

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Kalau mengikuti tulisan-tulisan saya yang lalu, pembaca akan tahu bahwa saya selalu mengatakan agar jangan malu-maluin kalau ditolak masuk rumah orang lain, jangan protes atau marah. Perilaku protes atau marah itu adalah bentuk dari kecengengan. Bagi saya, memalukan ketika akan bertamu ke rumah orang lain, lalu ditolak pemilik rumah, kemudian kita protes, marah, bahkan mengadu kepada orang lain. Kalau pemilik rumah tidak menyukai kita, seharusnya tinggalkan saja dengan tenang dan tetap berwibawa.

            Sikap inilah yang tidak saya sukai dari Abdul Somad. Ketika dia diperiksa di pelabuhan Singapura, dia mengupload bahwa dirinya ditempatkan di ruangan berukuran 1 X 2 meter, lalu dipisahkan dari keluarganya. Dia seolah-olah mengadu kepada pendukungnya dan semua orang, seluruh dunia melihatnya, termasuk Singapura. Menurut sumber lain sih ukuran ruangannya tidak sekecil itu, lebih besar dibandingkan yang diupload Abdul Somad yang dikenal dengan nama UAS ini. Itu perilaku cengeng.

            Perilakunya ini menimbulkan pemahaman yang salah di masyarakat yang kemudian menyalahkan Singapura. Padahal, Singapura adalah rumah orang lain, negara orang lain. Suka-suka mereka saja mau menolak siapa saja. Begitu hukum yang berlaku secara internasional. Singapura tidak salah dalam hal ini. Seperti kita juga berhak menolak atau mengusir siapa saja yang tidak kita sukai.

Mereka tidak suka, lalu kita bisa apa?

Dengan pemahaman rakyat yang salah dapat mengakibatkan hubungan yang jelek dengan Singapura, padahal ada puluhan bahkan mungkin ratusan ribu orang Indonesia yang bekerja di sana. Ada uang Singapura yang diinvestasikan sehingga membuka banyak lapangan kerja di Indonesia. Kalau hubungan menjadi buruk, kemungkinan kerja sama  yang positif bisa terganggu, bahkan berantakan. Itu merugikan semuanya.

Kalau ditolak masuk Singapura, tegar dan tunjukkan harga diri yang tinggi saja. Jangan pedulikan lagi mereka jika kita tidak mau mengikuti keinginan mereka. Kabar terakhir UAS menyatakan bahwa dia tidak peduli lagi disebut apa pun dan dituduh apa pun oleh Singapura. Dia akan tetap konsisten berdakwah. Nah, itu sikap yang sangat hebat, tidak cengeng, tetapi punya harga diri. Begitulah seharusnya.

Abdul Somad jangan lagi berharap masuk ke Singapura, apalagi dia telah mengatakan bahwa Singapura adalah negara kafir dan bisa tenggelam jika dikencingi oleh kita semua. Itu perkataan Somad yang pasti membuat sakit hati sekaligus marah Singapura. Mereka pasti tahu itu dan mencatatnya. Akibatnya, Somad mungkin akan ditolak selamanya, saya tidak tahu. Hal yang jelas adalah berani berbuat, harus berani pula bertanggung jawab.

Singapura memang cukup sensitif dalam hal ini. Negara ini bisa menolak atau mengusir orang biasa sekalipun. Pernah pemimpin tim sukses Ahok dulu ditolak masuk ke Singapura juga. Mungkin Singapura tidak ingin negaranya digunakan rapat-rapat politik negara lain. Orang yang tidak terkenal pun sangat mungkin mereka tolak. Itu hak mereka.

Saya juga mungkin orang yang dicatat mereka untuk ditolak masuk Singapura, saya tidak tahu. Mungkin mereka juga memperhatikan saya yang berkali-kali menulis kritikan terhadap Singapura dan dibaca seluruh dunia, statistiknya ada di blog. Saya mengkritik keras Singapura karena negara mereka seolah-olah adalah surga bagi para koruptor Indonesia. Para koruptor banyak yang berlarian kabur ke Singapura dan kelihatannya mereka nyaman di sana. Aparat penegak hukum kita tidak memiliki kekuasaan apa pun di Singapura, sementara itu Singapura pun tampaknya membiarkan mereka di negaranya. Singapura justru seolah-olah menikmati kehadiran para koruptor itu karena mereka jelas pasti mengeluarkan uangnya di sana dan menjadi pendapatan bagi Singapura. Tak tampak ada itikad baik Singapura untuk mempermudah penangkapan koruptor Indonesia oleh penegak hukum Indonesia.

Saya beneran tidak tahu, saya juga mungkin akan ditolak Singapura. Saya belum tahu karena kebetulan saja berkali-kali hendak ke Singapura selalu gagal. Beberapa kali teman-teman saya mengajak rapat di Singapura untuk keperluan bisnis, tetapi nggak pernah jadi. Pada tahun ini pun, 2022, rencananya ke Singapura bersama murid-murid saya, mahasiswa Prodi Hubungan Internasional, Fisip, Universitas Al Ghifari. Para mahasiswa sudah menitipkan uangnya kepada saya dengan cara menabung sejak 2020. Akan tetapi, karena situasi pandemi Covid-19, saya tidak yakin apakah bisa mengajak para mahasiswa untuk berkunjung ke Universitas Nasional Singapura atau tidak. Akibatnya, saya kembalikan uang mereka agar mereka pergunakan untuk hal lain sesuai dengan keperluan mereka. Jadi, saya beneran tidak tahu apakah akan ditolak atau diterima Singapura.

Kalaupun saya bersama rombongan mahasiswa Universitas Al Ghifari ditolak masuk Singapura, paling saya pulang lagi saja. Biarkan saja para mahasiswa dibimbing dosen lain selama di Singapura untuk study visit. Mereka menolak saya, biarkan saja, mungkin mereka tersinggung karena kritikan keras saya terhadap mereka. Berani berbuat, berani bertanggung jawab. Saya tidak akan protes. Paling pada periode berikutnya saya akan mengajak para mahasiswa untuk ke negara lain, misalnya, ke Vietnam mengunjungi Universitas Ho Chi Minh, Thailand, atau Malaysia. Tidak akan ke Singapura.

Buat apa ke Singapura?

Mereka tidak menyukai saya, buat apa memaksa mereka untuk menerima saya?

Malu-maluin saja.

Tegar saja.

Itu juga kalau memang ditolak. Kalau tidak, ya syukurlah.

Begitu juga dengan Abdul Somad, tidak perlu Curhat atau mengadu lagi di Medsos hingga menimbulkan kekecewaan dan kemarahan pendukungnya. Jangan berharap lagi untuk masuk Singapura, toh sudah ditolak. Kalau mau ulang tahun, di Indonesia saja, banyak yayasan yatim piatu dan yayasan orang jompo yang bisa dijadikan tempat untuk ulang tahun, seperti yang UAS ajarkan sendiri.

Sampurasun.

Saturday, 5 February 2022

Edy Mulyadi Terjerat Ahok

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Beneran parah netizen pendukung Ahok. Luar biasa gila mereka. Semua orang yang mereka anggap telah menjerumuskan Ahok ke dalam penjara, dikuliti, dibongkar rahasianya, dibeberkan masa lalunya. Kemudian, disebarluaskan sebagai korban kutukan atau karma Ahok. Mereka pun bertepuk tangan. Beneran kacau nih orang-orang. Mereka mempermalukan para musuh Ahok.

            Edy Mulyadi telah membuat marah orang-orang Kalimantan karena menyebut Kalimantan yang dijadikan tempat pindah Ibu Kota Negara (IKN) Indonesia sebagai tempat “jin buang anak”. Akibat kata-katanya itu, Edy kini harus berurusan dengan hukum dan masuk penjara. Netizen Ahokers menelisik pribadi Edy. Ternyata, Edy dulunya adalah Sekjen Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) MUI. Edy punya peran besar dalam menggerakan aksi massa 212 di Monas, Jakarta, dulu. Artinya, dia sangat bertanggung jawab atas dihukumnya Ahok. Di samping itu, profil siapa sebenarnya Edy pun diulas, termasuk sebagai Caleg gagal dari PKS.

            Hal itu dalam pandangan para Ahokers, telah terbukti satu lagi kutukan dan karma Ahok. Mereka pun mewanti-wanti bagi siapa pun yang telah berperan serta menghancurkan karir Ahok dulu untuk bertobat dan meminta ampun kepada Ahok agar tidak terkena kutukan Ahok.

            Orang boleh percaya atau tidak percaya atas kutukan itu, tetapi para pendukung Ahok terus berupaya meyakinkan masyarakat bahwa karma Ahok itu ada dan memang terjadi. Saya pun menulis tentang hal ini untuk ketiga kalinya yang disertai nama-nama orang yang telah terkapar karena terkait dengan perilakunya dulu menjatuhkan Ahok.

            Sebagaimana yang sudah-sudah, hal yang saya yakini adalah “segala kejadian yang menimpa kita hari ini adalah akibat perilaku kita masa lalu dan perilaku kita hari ini menentukan keadaan kita pada masa depan”. Soal pengertian karma, terserahlah, mau ngambil pandangan dari aliran kepercayaan, Hindu, Budha, atau yang lainnya. Saya sebagai orang Islam sangat percaya bahwa segala perilaku kita itu menimbulkan akibat yang negatif dan positif terhadap diri kita sendiri bergantung dari positif atau negatifnya perilaku kita. Begitu pula tentang konsep keberadaan surga dan neraka sebagai akibat dari positif atau negatifnya tingkah laku kita, baik lahir maupun batin.

            Sampurasun.

Tuesday, 18 January 2022

Ahok Calon Kepala Otorita Ibu Kota Negara Nusantara

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Kalau mendengar nama Ahok atau Basuki Tjahaya Purnama, saya suka pengen ketawa sekaligus sedih. Nama Ahok itu selalu tidak terpisah dari DKI Jakarta, orang tahu hal itu. Ahok sekarang itu namanya disebut menjadi salah satu calon Kepala Otorita Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara. Ibu Kota Negara Kesatuan Republik Indonesia yang baru itu sudah disetujui oleh Presiden RI Jokowi bernama “Nusantara” yang letaknya di Kalimantan Timur. Kalau sekarang kan namanya Jakarta, yang baru namanya Nusantara.

            Para pendukung Ahok ini tampaknya rajin mencatat siapa saja orang-orang yang dianggap telah menjerumuskan Ahok ke penjara. Setiap ada yang mendapatkan masalah atau meninggal, selalu dikaitkan dengan kutukan Ahok atau karma Ahok. Saya pernah menulis dengan judul “Kutukan Ahok” yang di dalamnya ada banyak nama orang yang terjungkal bernasib malang hingga meninggal. Mereka itu dianggap musuh-musuh Ahok. Sebetulnya, daftar nama itu masih sedikit, ada banyak orang yang bisa dicatat yang mengalami hal menyedihkan.

            Baru-baru ini mencuat lagi nama-nama orang yang terjungkir dan dianggap terkena kutukan Ahok. Mantan Gubernur Jambi Zumi Zola ditangkap KPK, mantan Bupati Lampung Selatan Zainudin Hasan dihukum 12 tahun gara-gara korupsi, mantan Ketua BPK Harry Azhari Azis yang juga kader Partai Golkar meninggal dunia. Berita paling anyar malah mengagetkan masih muda usia Bupati Panajam Paser Utara Abdul Gafur Masud bersama bendaharanya Nur Afifah ditangkap KPK karena jelas korupsi. Mereka berdua adalah kader Partai Demokrat.

            Orang-orang menyebutnya sebagai “karma Ahok mengerikan”.

            Sekarang santer Ahok dicalonkan memimpin IKN Nusantara. Sementara itu, Anies Baswedan harus berhenti sebagai gubernur bulan Oktober tahun ini. Kalau memang Ahok telah dipastikan menjadi pemimpin IKN Nusantara, berarti dia terdepak dari ibu kota lama, tetapi bersinar terang di ibu kota baru. Sementara itu, Anies Baswedan belum diketahui mau ngapain setelah berhenti sebagai gubernur. Untuk nyapres saja masih sulit tampaknya karena harus ngumpulin suara partai hingga 20%.

            Kalau memang Ahok jadi, tetapi Anies justru berhenti, orang-orang akan bilang lagi bahwa ini adalah kutukan Ahok atau karma Ahok.

            Saya sendiri enggan ngomongin karma. Akan tetapi, hal yang saya yakini adalah “keadaan kita hari ini adalah akibat perilaku kita pada masa lalu dan perilaku kita pada masa sekarang ini menentukan keadaan kita pada masa depan”.

            Oh iya, ada yang lucu soal nama ibu kota negara baru itu. Namanya sudah disetujui presiden, yaitu Nusantara, tetapi Fadli Zon tidak setuju. Dia ingin nama ibu kota baru itu adalah “Jokowi”. Saya tidak tahu apakah dia itu sedang mengejek atau memang ngefans sama Jokowi. Akan tetapi, saya yakin Jokowi bukan orang seperti itu yang gila hormat. Kalau Jokowi mau, pakai saja nama istrinya “Iriana”. Sudah betul itu namanya Nusantara, jangan aneh-aneh.

            Hal yang lebih lucu adalah Partai Keadilan Sejahtera (PKS) tidak setuju dengan nama Nusantara. Akan tetapi, anehnya mereka tidak mengusulkan nama untuk mengganti nama Nusantara. Menurut saya, agak lebih baik Fadli Zon dibandingkan PKS. Fadli memberikan usulan nama baru, PKS mah tidak.

            Saya usul saja buat PKS. Kalau tidak suka nama Nusantara karena bahasa asli pribumi, tetapi nggak punya ide buat nama baru, usulkan saja namanya supaya ada suara-suara arabnya, yaitu “Al Nusantaraiyah”.

Hayu ah. Jangan bikin ketawa terus atuh. Berpolitiklah yang cerdas dan membangun, jangan ngomongin yang ecek remeh, bikin lucu, dan buat orang tertawa.

Sampurasun

Friday, 17 December 2021

Kutukan Ahok

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Gara-gara diperingati saja setiap tahun atau dibikin reunian, padahal nggak punya sekolahannya dan kampusnya, tanggal yang angkanya sama ditulis di dada Wiro Sableng, 212, jadi mengingatkan orang terus kepada Ahok atau Basuki Tjahaja Purnama. Malah, sekarang diplesetin bahwa tanggal “2 Desember” itu dijadikan “Hari Ahok Nasional”.

            Ada kata-kata Ahok yang fenomenal ketika dibacakan vonis hakim kepadanya pada tahun 2017, “Percayalah, sebagai penutup, kalau Anda menzalimi saya, yang Anda lawan adalah Tuhan Yang Mahakuasa, Maha Esa. Saya akan buktikan satu per satu dipermalukan. Terima kasih.”

            Setiap ada musibah atau kematian yang menimpa orang-orang yang dianggap menjerumuskan Ahok ke penjara, selalu dikait-kaitkan dengan sumpah Ahok, karma Ahok, atau kutukan Ahok. Saya pun menulis judul dengan kalimat “kutukan Ahok”.

            Berita akhir-akhir ini mendeskripsikan tentang meninggalnya Haji Lulung politisi yang sangat membenci dan menghujat Ahok, terutama soal kesulitan Ahok dalam menertibkan pasar yang dikuasai para preman. Lulung merasa dirugikan oleh Ahok sebagai penguasa preman pasar. Kematian Lulung dikaitkan orang sebagai akibat dari kutukan Ahok yang kalimatnya sudah saya tulis tadi.

            Segera saja orang-orang mengingat orang-orang yang menjerumuskan Ahok ke penjara dan sedang menuai kutukan Ahok. Berikut beberapa orang itu. Rizieq Shihab kabur ke Arab karena chat mesum dengan Firza Husein, lalu balik ke Indonesia dan masuk penjara. Bahar bin Smith masuk penjara dan diserukan untuk dimasukan kembali ke penjara karena masih kurang ajar dan kasar. Sugik Nur juga masuk penjara karena ocehannya yang juga kasar. Ahmad Dhani masuk penjara juga karena urusan kata-kata kotor juga. Buni Yani yang menghebohkan QS Al Maidah : 51 juga dibui. Jonru masuk penjara gara-gara tulisannya. Aa Gym mengalami kisruh dalam rumah tangganya. SBY juga sedang selalu kesulitan dan tidak lagi dianggap. K.H.. Maruf Amin yang dulu bersama MUI juga dianggap tidak bisa bekerja dengan baik sebagai Wapres dan menjadi bahan bulian. MUI sendiri sekarang dianggap sarang teoris dan tidak lagi dijadikan rujukan banyak orang dalam berfatwa. Tengku Zulkarnaen meninggal. Soni Erata yang dikenal sebagai Ustadz Maher, meninggal. Arifin Ilham juga meninggal. Munarman menangis terisak-isak di pengadilan karena tuduhan terkait terorisme.

            Itu sederet nama orang-orang yang dikenal banyak orang dianggap sebagai terkena kutukan Ahok. Entah apa yang sekarang sedang terjadi terhadap orang-orang yang tidak terkenal, tetapi ikut menjerumuskan Ahok ke penjara. Riuhnya orang yang membicarakan hal ini mudah sekali dilihat pada berbagai Medsos. Saya hanya merangkumnya.

Dengan banyaknya lawan Ahok yang terjungkal, ada pihak yang memohon dan memelas kepada Ahok untuk menghentikan kutukannya. Ahok sendiri kaget, kemudian ikut mendoakan Haji Lulung yang dulu pernah menghujatnya sebagai psikopat.

Riuhnya orang yang mengaitkan kehancuran yang diderita lawan-lawan Ahok itu menimbulkan banyak reaksi dari banyak orang. Ada yang memang sangat meyakini bahwa itu adalah kutukan Ahok sambil mengetawakan lawan-lawan Ahok lainnya untuk berhati-hati karena giliran terjungkalnya akan segera tiba dan itu harus ditebus dengan bertaubat atas kesalahan-kesalahannya kepada Ahok. Ada juga yang tidak meyakininya, misalnya Ade Armando. Menurut Ade, kematian dan kasus hukum yang menimpa orang-orang itu tidak ada kaitannya dengan kutukan Ahok. Orang mati itu adalah takdir, orang dipenjara itu karena perbuatan mereka yang melanggar hukum. Ade Armando mengajak untuk menggunakan akal sehat dibandingkan dengan mengaitkannya dengan sumpah Ahok. Akan tetapi, sangat banyak yang meyakini bahwa rasa sakit hati Ahok didengar Tuhan dan mereka yang menyakitinya kini sedang mendapatkan hukuman Tuhan.

Bagi saya sendiri, tetap pada keyakinan saya bahwa apa yang terjadi pada diri kita hari ini adalah diakibatkan oleh perilaku kita pada masa lalu serta perilaku kita hari ini sangat menentukan apa yang akan terjadi pada masa depan kita. Jika baik, akan panen kebaikan. Sebaliknya, jika buruk, akan panen keburukan.

Dari berbagai kejadian ini, menimbulkan banyak pertanyaan.

Ahok itu kan Kristen, tidak beriman, bagaimana mungkin doanya didengar Tuhan?

Kalau tidak didengar Tuhan, kenapa doanya dikabulkan?

Umat bingung, Bro and Sis.

Nah, di sinilah para ustadz dan para intelektual Islam harus menggali lagi lebih jauh dan lebih dalam ajaran Islam karena umat membutuhkan jawaban. Oleh sebab itu, Nabi Muhammad saw mengajarkan agar kita selalu belajar sejak buaian hingga liang lahat. Belajar tanpa henti. Kalau sudah merasa tahu segalanya, dia berarti sombong dan bodoh.

Saya sendiri terpicu untuk mencari tahu dan punya sedikit pemahaman tentang doa-doa nonmuslim di hadapan Allah swt menurut beberapa hadits tentunya, tetapi dijelaskannya harus sangat hati-hati dan memerlukan penjelasan yang sangat luas dengan hati yang jernih. Saya kasih arah saja ya, Allah swt itu menciptakan seluruh ciptaannya dengan kasih sayang dan cinta. Dah, sampai situ aja dulu. Kepanjangan kalau ditulis di sini mah. Saya malah menunggu komentar, pendapat, atau pengajaran dari para pembaca sekalian soal doa-doa ini agar saya mendapatkan lebih banyak pengetahuan dan bisa lebih bijak.

Gitu, Bro, Sis.

Sampurasun.

Friday, 22 October 2021

Menghitung Anies

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Nyanyi lagunya Krisdayanti, yuk.

 

“Menghitung hari

Detik demi detik

Masa kunanti apa ‘kan ada

Jalan cerita kisah yang panjang

Menghitung hariii ….”

 

            Sekarang mari kita ganti kata “hari” dengan kata “Anies”.

 

“Menghitung Anies

Detik demi detik

Masa kunanti apa ‘kan ada

Jalan cerita kisah yang panjang

Menghitung Aniiies ….”

           

            Enak nyanyinya?

            Merdu kan?

            Kalian yang nyanyi, ya pasti merdu atuh.

            Jabatan Anies Baswedan sebagai gubernur DKI Jakarta berakhir pada 16 Oktober 2022. Selanjutnya, kepemimpinan Jakarta akan dipegang pelaksana tugas (Plt) hingga 2024.

            Setelah berhenti menjadi gubernur, Anies harus berhitung dan banyak berpikir. Dia bisa ikutan menjadi calon dalam pemilihan presiden, ikutan lagi menjadi gubernur DKI Jakarta untuk periode kedua, atau selesai dalam berpolitik karena sudah mentok nggak bisa ke sana dan ke sini.

            Kalau untuk ikut menjadi calon presiden (Capres), dia harus didukung partai dengan minimal kekuatan 20%. Sampai hari ini dia belum punya kekuatan itu. Hal itu disebabkan 82% partai adalah kekuatan politik pemerintahan Jokowi. Sisanya, 18% ada di PKS dan Partai Demokrat. Masih sangat kurang untuk menjadi syarat ikutan nyapres. Itu juga kalau memang PKS dan Demokrat nyalonin Anies. Kenyataannya, hingga hari ini kedua partai itu belum terbuka menyatakan akan mencalonkan Anies. Partai Demokrat malah sudah mengusung calonnya sendiri, yaitu Agus Harimurto Yudhoyono (AHY), Ketua Partai Demokrat. PKS juga dengar-dengar punya calon sendiri yang kalau saya nggak salah dengar, namanya Dr. Salim. Memang belum terlalu terkenal, tetapi kalau memang dicalonkan, PKS akan berjuang untuk memperkenalkan sosok calonnya itu.

            Lalu, bagaimana nasib Gubernur Seiman Santun Anies Baswedan itu yang dulu pendukungnya melarang jenazah untuk disholatkan di masjid karena memilih Ahok?

            Dia harus bekerja keras untuk mendapatkan dukungan dari partai. Terjal memang, tetapi harus dilalui jika benar berniat menjadi calon presiden.

            Kalau merasa terlalu berat untuk nyapres, ya nyagub lagi aja ikut pemilihan gubernur DKI Jakarta untuk periode kedua. Kalau buat nyagub, dukungan partai sepertinya aman buat Anies. Jika dilihat dari kasus interpelasi tentang rencana pelaksanaan balap mobil Formula E yang dianggap telah merusakkan kawasan Monas dan telah mengeluarkan uang rakyat hampir satu triliun tanpa jelas kapan pelaksanaan dan tempat balapnya itu, ada tujuh partai yang membentengi Anies dari serangan interpelasi PDIP dan PSI. Artinya, ada banyak partai yang tampaknya bersedia untuk menjadi kendaraan Anies jika nyagub lagi di DKI.

            Meskipun aman untuk ikutan nyagub lagi, belum tentu terpilih lagi karena akan muncul calon-calon gubernur baru, misalnya, Riza Patria yang sekarang menjadi wakil gubernur dari Gerindra itu bisa ikutan menjadi calon gubernur, begitu juga dengan orang lain. Lawan berat Anies yang sudah mendapatkan banyak dukungan adalah Gibran Rakabuming Raka yang sekarang masih menjadi walikota Solo dan anak dari Presiden RI Jokowi. Gibran sudah mendapatkan dukungan terbuka dari PKB dan PAN. Dia sendiri adalah kader PDIP. Belum lagi Gerindra sudah bersilaturahmi kepada Gibran. Enam menteri, Kapolri, Gubernur Jateng Ganjar, dan mantan Wagub DKI Ahok sudah mendatangi Gibran. Penyanyi kondang balada Iwan Fals pun mendukung jika Gibran melanjutkan karir politiknya ke tingkat yang lebih tinggi.

            Tantangan buat Anies memang sangat berat. Nyapres terjal, nyagub juga sangat berat karena dia nganggur dulu dari jabatan publik tahun 2022 dan harus menunggu selama dua tahun hingga pemilihan serentak pada 2024.

            Kalau Anies tidak berhasil melanjutkan karir politiknya, saya sarankan Anies kembali pada habitatnya yang lama, menjadi pengajar seperti saya saja. Banyak hal yang bisa diajarkan oleh Anies kepada generasi muda lewat sekolahan atau kuliahan.

            Mari menyanyi lagi.

            “Menghitung Anies

            Detik demi detik ….”

            Udah ah, bosen.

            Sampurasun.

Monday, 20 April 2020

Tidak Shaum Ramadhan

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Kaget dengan usul tidak puasa saat Ramadhan?

            Biasa saja ah. Kan banyak orang Islam yang tidak perlu puasa ketika Ramadhan. Bahkan, saya juga pernah melarang isteri untuk puasa karena sedang hamil dan kondisinya luar biasa lemah. Dia kesal ingin tubuhnya segar bugar dan beraktivitas seperti biasa.

            Saya bilang, “Jangan puasa.”

            Setelah menghentikan puasanya, isteri saya kembali bugar. Itu kenyataan. Artinya, ada orang-orang yang tidak usah puasa dan menggantinya dengan puasa pada bulan lain atau membayar fidyah. Ketentuannya sudah ada.

            Beberapa waktu ini kita dikejutkan oleh adanya usul untuk tidak melakukan shaum atau puasa pada bulan Ramadhan karena situasi berada dalam keadaan dilanda pandemi Covid-19. Pertama kali mengetahuinya, saya langsung merasa lucu, pengen ketawa.

           Kan memang sudah ada aturannya, siapa yang tidak perlu puasa dan siapa yang tetap wajib puasa?

            Tidak ada usulan pun, keadaannya sudah seperti itu. Kalaupun ada usulan, ya biarin saja. Dia yang punya usul tidak mengerti tentang hal itu. Cuekin saja.

            Usulan itu menjadi viral karena warganet juga yang membuatnya menjadi terkenal melalui Medsos. Demikian pula media main stream ikut semakin menghebohkannya.

            Yang mengajukan usul untuk tidak puasa pada Ramadhan itu namanya “Rudi Valinka” melalui akun twitter-nya.

            Siapa sih Rudi Valinka itu?

            Ahli syariat Islam, fikih, atau ahli kesehatan?

            Dia kan bukan siapa-siapa.

            Terus, mengapa harus dihebohkan?

            Dia diviralkan karena disebut-sebut sebagai “relawan Jokowi” dan penulis “A Man Called Ahok”. Artinya, ada dimensi politis di sana. Orang-orang menyeret Jokowi dan Ahok pada diri Rudi Valinka. Padahal, Jokowi dan Ahok tidak ada urusannya dengan usulan Rudi Valinka.

            Ingat, Pilpres 2019 sudah usai. Tidak ada gunanya menjatuhkan Jokowi dan Ahok juga sudah dihukum.

            Hey, wake up!

            Sadar!

            Jangan biarkan Rudi Valinka menjadi semakin terkenal. Diemin saja.

            Masih banyak yang harus dipikirkan dan dikerjakan dibandingkan hal-hal yang ecek-ecek seperti itu. Misalnya, kita harus mengurus keluarga kita, terutama mempersiapkan anak-anak kita, baik anak kandung maupun anak didik supaya lebih hebat dibandingkan kita.

            Rudi Valinka itu saya duga nyontek usulan dari politisi Aljazair, namanya  “Noureddine Boukrouh”. Dia memang sebelumnya mengusulkan menunda puasa Ramadhan di Aljazair untuk menghadapi penyebaran virus corona. Katanya, orang yang berpuasa rentan untuk sakit. Padahal, dia cuma politisi, bukan dokter dan bukan ahli syariat Islam. Usulannya itu membuat publik Aljazair heboh. Itu menguntungkan bagi dia dari sisi popularitas. Makanya, seharusnya diemin saja, aturannya sudah ada kok tentang siapa yang wajib berpuasa dan tidak perlu berpuasa. Pegang saja aturan itu, beres semuanya.

            Dalam kondisi “physicall distancing” ini, anggap saja kita seperti ulat jelek menakutkan yang sedang berada dalam kempompong, tidak bisa kesana-kemari. Diam di tempat sambil membina dan mempersiapkan diri hingga waktunya tiba keluar dari kepompong dan menjadi kupu-kupu yang indah menawan hati. Banyak introspeksi diri, mendekatkan diri pada Illahi. Apalagi jika sudah masuk Ramadhan, lebih banyak kesempatan dan anugerah untuk memperbaiki diri. Mari kita sama-sama manfaatkan kesempatan itu.

            Kalau Allah swt mengangkat wabah Covid-19 dari Indonesia pada akhir Ramadhan ini, berarti kita memiliki “tiga kemenangan”. Ingat, kita sering menyebut “Idul Fitri” sebagai “Hari  Kemenangan” disebabkan sejarahnya kita memiliki “dua kemenangan”, yaitu “menang menyelesaikan puasa sebulan penuh” dan “menang mengusir penjajah” dengan Proklamasi 17 Agustus 1945 yang bertepatan dengan “Jumat, 9 Ramadhan 1364”. Jika wabah ini diangkat Allah swt pada Ramadhan, kita punya tiga kemenangan karena ditambah satu kemenangan, yaitu “menang dengan kesabaran menghadapi ujian berupa wabah penyakit”.

            Hayu ah, mari, daripada ngomongin usulan Si Rudi Valinka yang bukan ahli syariat Islam dan bukan pula ahli kesehatan, lebih baik persiapkan diri hingga selepas wabah ini kita menjadi pribadi-pribadi yang lebih baik lagi. Bagi yang ingin membina dan mempersiapkan diri dan atau keluarga untuk menjadi lebih baik lagi bersama kami, klik http://pmb.unfari.ac.id




           Sampurasun.

Tuesday, 14 January 2020

Anies Dituntut Mundur, Santuy Aja Kaleee


oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Demonstrasi hari ini (14-01-2020) menyuarakan aspirasi agar Gubernur DKI Anies Baswedan mundur sebagai gubernur. Keinginan para pendemo ini disebabkan Anies dianggap tidak bisa bekerja sebagai gubernur, salah satunya tidak mengantisipasi bencana banjir, padahal Jakarta adalah langganan banjir. Dia malah mengerjakan hal-hal lain yang dianggap tidak penting oleh masyarakat.

            Tuntutan mundur ini tidak perlu ditanggapi terlalu sewot, baik oleh Anies sendiri maupun oleh para pendukungnya. Biasa saja, santuy aja. Ini negara demokrasi, setiap orang boleh bicara, boleh menilai, boleh mengkritik. Yang tidak boleh itu berbohong, hoax, menghina, dan memaki-maki. Tuntutan mundur itu harus dihadapi dengan tenang.

            Bukankah ada ulama yang katanya berharap Jakarta dipimpin oleh orang yang lemah lembut, baik hati, dan santun?

            Anies harus menghadapi rakyatnya dengan lemah lembut, baik hati, dan santun. Jawab saja kritikan itu dengan kerja keras, bukti nyata, dan kepedulian yang tinggi kepada warganya. Jangan sebaliknya, menghadapi rakyat dengan cara menyalahkan orang lain, baik anak buahnya, kepala daerah lain, atau bahkan pemerintah pusat. Apalagi jika menganggap warganya yang protes sebagai musuh. Salah besar itu. Baik kepada pendukung ataupun bukan pendukung, Anies harus bersikap sama karena warga DKI Jakarta itu adalah warganya juga. Seluruh warga DKI Jakarta itu adalah tanggung jawabnya, baik di dunia maupun di akhirat nanti.

            Demikian pula dengan gugatan 250 warga DKI yang menuntut ganti rugi sejumlah 423 miliar rupiah itu, hadapi saja dengan cara-cara hukum, bukan menghadapinya dengan mengerahkan massa tandingan yang pro-Anies. Hadapi saja dengan tenang dan laksanakan keputusan yang sudah diambil hakim setelah melalui proses persidangan.

            Kalau ada yang selalu mengincar kesalahan Anies Baswedan, itu wajar. Itulah risiko seorang gubernur yang sejak sekarang sudah dielu-elukan sebagai calon presiden RI 2024. Ada banyak orang yang ingin menggantikan Jokowi dan mereka ingin menang. Salah satu caranya adalah menggambarkan Anies sebagai orang yang lemah, tidak bisa bekerja, terpilih sebagai gubernur hasil kasus Sara, dan lain sebagainya.

            Dalam percakapan orang Sunda ada bahasa “beuki luhur naek tatangkalan, beuki gede angin ngagelebug”, ‘semakin tinggi naik pohon, semakin kencang angin bertiup menggoncangkan’.

            Begitu, kan?

            Respon masyarakat terhadap dirinya akibat banjir besar ini harus menjadi pelajaran bagi Anies agar lebih baik bekerja, lebih dekat dengan masyarakat, terampil berkoordinasi dengan pemerintah pusat dan daerah lain, serta berani mengambil tanggung jawab pekerjaan tanpa harus menyalahkan orang lain.

            Contoh juga tim Jokowi yang selalu memerangi hoax yang menyerang Jokowi dengan melaporkannya pada pihak kepolisian. Upaya mereka tampak berhasil. Sangat banyak yang ditangkap, kemudian menyatakan diri bersalah dan menyesal. Jika ada hoax yang menyerang Anies, segera laporkan pada pihak berwajib supaya kebenaran tampak lebih nyata.

            Dituntut mundur itu biasa saja. Jokowi dituntut mundur, Ahok dituntut mundur, Menhan RI Prabowo dituntut mundur, Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo dituntut mundur, Susi Pudjiastuti juga pernah dituntut mundur, bahkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump pun setiap hari sampai sekarang dituntut mundur dan didorong untuk di-impeach, ‘dipecat’.

            Masa Anies dituntut mundur sewot?

            Biasa saja, kalem aja.

            Sampurasun.

Thursday, 2 January 2020

Risiko Banjir Jakarta Jadi Sorotan

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Sebenarnya, banjir itu musibah yang sudah beberapa kali terjadi, bukan hanya di Jakarta, di tempat-tempat lain pun terjadi. Akan tetapi, banjir kali ini, yang mulai terasa 1 Januari 2020, mendapatkan perhatian luar biasa. Hal itu disebabkan ada beberapa hal yang membuatnya menjadi objek perhatian yang lebih tinggi.

            Pertama, DKI Jakarta sendiri sudah menjadi pusat perhatian karena merupakan ibu kota RI. Sudah selayaknya, ibu kota sebuah negara itu lebih teratur, lebih sehat, lebih modern, lebih makmur, dan lebih membanggakan karena Jakarta adalah etalase Indonesia. Isi suatu toko diwakili pertama kali oleh etalase dan isinya yang berada di depan toko. Demikian pula Indonesia, Jakarta dianggap mewakili wajah Indonesia keseluruhan.

            Kedua, Gubernur Anies Baswedan adalah sosok yang juga mendapatkan perhatian serius. Dia adalah mantan menteri Presiden Jokowi. Dia pun pesaing Ahok dalam Pilkada DKI yang lalu. Ahok kalah, masuk penjara, bebas, lalu menjadi Komisaris Utama Pertamina. Anies menang dengan berbagai program dan janji yang serasa angin surga, terutama ketidaksetujuannya dengan tindakan penggusuran sebagaimana yang dilakukan gubernur sebelumnya, Ahok. Anies akan menyelesaikan permasalahan sungai di Jakarta dengan program “naturalisasi”. Selain itu pun Anies mendapatkan dukungan luar biasa dari grup 212 yang jelas berperan sangat besar dalam kejatuhan Ahok. Hal yang tidak kalah pentingnya adalah Anies dielu-elukan sebagai calon presiden RI pada 2024. Di samping itu, tentunya banyak hal lain yang menjadikan Anies sebagai sosok pusat perhatian.

            Berbagai hal seperti itulah yang menjadikan Jakarta dan Anies memiliki risiko sebagai pusat perhatian. Orang-orang akan menilai Anies Baswedan dari berbagai sisi, baik pribadinya, perilakunya, sikap bicaranya, maupun hasil kerjanya. Orang akan bertanya dan menyelidikinya. Dia akan menjadi objek pujian sekaligus juga kritikan, bahkan mungkin pula cacian, makian, dan hinaan. Itu merupakan risiko yang harus ditanggung seorang pemimpin. Orang pun akan menilai sehebat apa mental Anies dalam menangani berbagai masalah, berbagai kritikan, berbagai makian dan hinaan. Masyarakat akan menyaksikan dan memutuskan masing-masing apakah Anies bertanggung jawab atas program-program kerjanya atau malah melemparkan tanggung jawab kepada orang lain dan mencari kambing hitam. Selama memimpin Jakarta dan malang melintang dalam dunia politik, bahkan mungkin setelahnya, malah setelah meninggal pun, Anies harus menerima risiko itu. Dia bisa baik atau buruk di mata masyarakat bergantung dari dirinya sendiri.

            Jangan lupa pula, para pendukungnya pun akan dinilai oleh masyarakat yang lebih luas, terutama cara menunjukkan dukungannya kepada Anies Baswedan, apakah logis, emosional, terstruktur, atau malah semrawut.

            Itulah risiko dari segala permasalahan Jakarta yang harus ditanggung. Kalau tidak mau dikritik dan dinilai, jangan berani berada di panggung politik.

            Sampurasun.

Wednesday, 1 January 2020

Banjir, Sisa Pilkada DKI


oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Banjir besar yang melanda DKI Jakarta kali ini yang mulai terasa subuh, 1 Januari 2020, disebut-sebut sebagai banjir terbesar sejak tiga belas tahun terakhir, sejak 2007. Banyak rumah terendam, kendaraan hanyut, bahkan memakan korban jiwa.

            Ketika banjir terjadi, segera saja orang mengingat mantan Gubernur DKI Basuki Tjahaya Purnama (Ahok) yang getol sekali menangani banjir sekaligus diomelin dan dinyinyiri soal banjir. Orang-orang mulai membandingkan masa kepemimpinan Ahok dengan Anies Baswedan. Kemudian, perbedaan keduanya mulai jelas dilihat dari programnya, yaitu antara “normalisasi sungai” dan “naturalisasi sungai”.

            Normalisasi sungai secara sederhana diartikan sebagai membuat normal sungai dengan cara memperlebar sungai sebagaimana awalnya, melakukan betonisasi, dan meluruskan aliran sungai agar lancar ke laut.

            Adapun naturalisasi secara sederhana dipahami sebagai membuat sungai dikembalikan ke kondisi alamnya, tetap berkelok-kelok, di pinggir-pinggir sungai menjadi tempat hidup kehidupan, sungainya sendiri menjadi tempat yang sehat bagi kehidupan air seperti ikan-ikan.

            Normalisasi gencar dilakukan Ahok sehingga titik-titik banjir semakin kecil, berkurang, dan terus berkurang. Adapun naturalisasi adalah program Anies Baswedan yang menurut Ahli Tatakota Yayat Supriatna tidak dilakukan dengan optimal.

            Ketika terjadi banjir besar, orang menyalahkan Anies karena selama dua tahun Anies dianggap kurang melakukan sesuatu yang nyata untuk mengatasi banjir. Akan tetapi, Anies menjelaskan dengan kesan “mengkritik” pemerintah pusat yang belum selesai mengelola hulu sungai.

            Dari sini mulai terasa isu-isu sisa Pilkada DKI masih jadi peluru untuk saling menyerang. Padahal, Pilkada sudah lama usai. Sebaiknya, mulai bekerja dan introspeksi diri. Akui saja memang naturalisasi tidak seindah yang dibayangkan, selama dua tahun ini tidak jelas, karena tetap saja harus melakukan “relokasi” yang dalam bahasa kasarnya ‘penggusuran’. Sementara itu,  tim Anies Baswedan saat kampanye seolah-olah memusuhi kebijakan Ahok terkait penggusuran rumah warga. Akibatnya, warga percaya bahwa Anies tidak akan melakukan penggusuran. Padahal, kenyataannya, baik normalisasi maupun naturalisasi membutuhkan tindakan relokasi atau bahasa halusnya “pemindahan rumah warga”. Karena normalisasi dan naturalisasi tidak optimal selama dua tahun terakhir, banjir besar pun harus dialami warga.

            Sungguh, sekarang rakyat tidak perlu lagi retorika soal normalisasi, naturalisasi, ataupun pengelolaan hulu sungai. Hal yang sangat diperlukan sekarang adalah pemerintah bekerja sesuai dengan tugas dan tanggung jawabnya secara maksimal. Pemerintah DKI segera pilih mau normalisasi, naturalisasi, atau digabungkan, tetapi yang jelas dan sangat penting adalah segera dikerjakan dengan nyata. Pemerintah pusat, Provinsi Jawa Barat, dan Kabupaten Bogor lebih serius lagi soal pengelolaan di hulu dan tugas-tugasnya sendiri. Rakyat pun harus sama-sama bekerja dan rela jika memang harus pindah rumah untuk kebaikan bersama dan kejelasan soal masa depannya sendiri. Semua harus bergotong royong. Itulah yang diinginkan Pancasila.

            Demikian pula para ahli agama, tokoh masyarakat, akademisi, termasuk para netizen harus ikut mendorong kebersamaan, bukan malah manas-manasin situasi dan tetap memecah belah masyarakat.

            Pilkada DKI sudah usai, Bro, Lur, Beb, Bray. Jangan saling salahkan, introspeksi diri, perbaiki kinerja, berkorban bersama-sama, bahu-membahu. Itulah Pancasila.

            Pancasila itu kalau diperas menjadi Trisila. Trisila kalau diperas lagi menjadi Ekasila. Ekasila itulah yang disebut “Gotong Royong”.

            Begitu, Bro, Lur, Beb, Bray.

            Sampurasun.

Musibah, Teguran, Peringatan, Hukuman


oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Kata-kata seperti judul tulisan ini sangat akrab di telinga kita. Biasanya, disampaikan oleh para penceramah agar kita berhati-hati atas segala tingkah laku kita yang bisa mengakibatkan musibah. Musibah itu tidak jarang dipahami sebagai bersumber dari teguran, peringatan, atau hukuman Allah swt.

            Pernah nonton film “Titanic” yang dibintangi Leonardo DiCaprio?

            Film ini sudah diputar berulang-ulang pada berbagai stasiun televisi di Indonesia. Fokusnya adalah pada cinta, kesetiaan, dan kegetiran yang diakibatkannya.

            Sebenarnya, Titanic itu memang pernah ada. Titanic adalah kapal pesiar yang diklaim paling hebat, paling modern, paling kuat, paling luar biasa. Pemiliknya, para pembuatnya, awak kapal sangat membanggakannya, sombongnya luar biasa. Demikian pula para penumpangnya yang juga dipenuhi oleh orang-orang kaya yang sangat sombong. Para penumpangnya pun diwawancarai oleh berbagai stasiun televisi (masih hitam putih, belum berwarna), kemudian disebarkan beritanya ke seluruh dunia. Titanic diklaim sebagai kapal pesiar antitenggelam. Kapal ini  dipastikan tidak pernah akan bisa tenggelam.

            Allah swt mengirimkan musibah buat kapal itu. Lalu, tenggelamlah dan kisahnya tidak berhenti hingga hari ini untuk menjadi pelajaran bagi umat manusia.

            Di Jepang pun pada tahun-tahun yang lalu pernah ada profesor yang membuat jalan aspal, jalan raya yang super hebat. Ia pun mengumumkan melalui radio bahwa jalan yang dibuatnya antigempa. Gempa sebesar apapun tidak akan membuat jalan itu rusak.

            Allah swt pun membuat gempa di Jepang. Jalan itu pun retak-retak. Adapun Sang Profesor yang sesumbar dan memastikan bahwa jalan itu antigempa ditemukan tewas bunuh diri di hotel saking malunya.

            Apa yang bisa kita ambil manfaatnya dari hal seperti itu?

            Jangan sombong dan memastikan sesuatu sesuai hawa nafsu kita karena pemilik kepastian adalah dan hanyalah Allah swt.

            Berkaitan dengan banjir besar di Jakarta hari ini, 1 Januari 2020 dan tampaknya akan berlanjut beberapa waktu ke depan, kita semua bisa introspeksi diri.

            Mungkinkah di antara kita ada yang pernah sombong atau memastikan sesuatu ketika masa kampanye dulu bahwa jika Anies Baswedan menjadi gubernur, segala masalah di Jakarta akan diselesaikan sempurna?

            Mungkin ada yang sesumbar bahwa Anies bakal begini, pasti begitu, … bla … bla … bla …?

            Sekarang, Allah swt memberikan musibah. Bisa jadi disebabkan hal yang sama dengan Titanic dan Profesor Jepang itu.

            Saya tidak menuduh karena tidak tahu. Akan tetapi, siapa tahu ada yang memang berlaku sombong, memastikan sesuatu, dan berlebihan. Oleh sebab itu, tidak ada salahnya kita semua introspeksi diri, siapa tahu kita telah berlebihan dan mengundang musibah Allah swt menimpa kita.

            Mau pendukung Anies, Ahok, Jokowi, Prabowo, atau siapa pun, mari kita sama-sama introspeksi diri, lalu berdoa agar kedamaian dan ketenangan terwujud di Indonesia sehingga bencana pada berbagai daerah pun bisa  berhenti atas izin Allah swt.

            Jangan sombong, jangan memastikan sesuatu, katakanlah, “Insyaallah.”

            Sampurasun.