Showing posts with label Demonstrasi. Show all posts
Showing posts with label Demonstrasi. Show all posts

Sunday, 14 September 2025

Sekarang Mau Dikemanain Uang DPR RI Yang Diprotes Itu?

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Setelah adanya demonstrasi dan penjarahan, bahkan kematian untuk memprotes kenaikan honor DPR RI, pemerintah memutuskan bahwa uang itu tidak jadi diberikan kepada anggota DPR.

            Lalu, mau dikemanakan uang itu sekarang?

            Mau dibagikan ke rakyat?

            Itu uang kecil sebenarnya untuk ukuran APBN.

            Coba kita hitung  sederhana, seorang anggota DPR mendapatkan uang Rp50 juta per bulan untuk penggantian perumahan. Itu terjadi selama dua belas bulan. Artinya, seorang anggota DPR RI mendapatkan Rp600 juta. Jumlah anggota DPR itu ada sekitar 500 orang. Jadi, mereka seluruhnya mendapatkan uang sejumlah sekitar Rp30 miliar. Pembaca bisa hitung sendiri lebih tepat soal ini. Saya hanya hitungan sederhana.

            Kalau uang yang Rp30 M itu dibagikan kepada rakyat Indonesia yang jumlahnya 285 juta jiwa, berapa setiap orang mendapatkan uang itu?

            Paling juga hanya Rp15 ribu atau Rp50 ribu per orang. Itu hanya cukup untuk beli kuota sehari atau satu bulan.


Uang Recehan (Foto: Kompasiana.com)


            Berhargakah uang sekecil itu jika dibandingkan dengan kematian tujuh orang akibat huru-hara, penjarahan rumah para pejabat, pembakaran fasilitas umum, dihukumnya para aparat yang berlebihan bertindak, ditangkapnya para perusuh yang membuat keadaan menjadi memalukan tidak aman?

            Itu hanya uang kecil!

            Kerusakan yang diakibatkannya jauh lebih parah.

            Seharusnya rakyat menuntut hal yang jauh lebih besar, seperti, disahkannya UU perampasan aset koruptor, pembubaran Ormas pemalak perusahaan yang mengakibatkan harga naik tinggi dan menimbulkan banyak PHK, pembasmian politik uang, atau hal besar lainnya.

            Justru dengan naiknya honor anggota DPR, rakyat harus punya tenaga dan kepedulian untuk menuntut kerja-kerja para wakil rakyat lebih keras lagi. Rakyat harus menekan lebih kuat agar anggota dewan benar-benar memperlihatkan kerjanya yang berpihak kepada rakyat. Hal yang lebih utama adalah tandai para wakil rakyat yang kerjanya fleksing tanpa ada kepedulian kepada rakyat dan jangan lagi dipilih pada masa pemilihan mendatang.

            Kita harus menuntut hal yang jauh lebih besar daripada sekedar menunjukkan rasa iri karena perbedaan penghasilan. Mereka punya penghasilan tinggi karena usaha mereka, kita punya penghasilan seperti sekarang ini karena upaya kita pada masa lalu kita.

            Ilustrasi uang recehan saya dapatkan dari Kompasiana com.

            Sampurasun

Saturday, 6 September 2025

Orang Sunda Tidak Akan Merusakkan Daerahnya Sendiri

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Maaf tulisan ini mungkin akan terasa rasis, bahkan etnosentris. Akan tetapi, itulah yang terjadi belakangan ini.

            Berkaitan dengan demonstrasi di Bandung yang diwarnai huru-hara, perusakkan fasilitas umum, kematian, dan penjarahan, diikuti oleh gerakan cepat pihak kepolisian menangkapi para pelanggar hukum, ternyata para perusuh itu di antaranya bukan orang Bandung, sama sekali bukan orang Jawa Barat, malahan bukan orang Sunda. Hal itu membuat netizen Sunda marah-marah. Mereka jengkel bisa-bisanya bukan orang Sunda bikin kerusakan di tanah Sunda. Menurut mereka, orang Sunda asli tidak akan berbuat kehancuran seperti itu. Komentar-komentar seperti itu sangat banyak beredar pada video-video penangkapan perusuh yang disebarkan oleh pihak kepolisian melalui konferensi pers.

            Sejujurnya, saya setuju bahwa orang Sunda yang memegang nilai-nilai kesundaan tidak akan melakukan kerusakan, apalagi di tanahnya sendiri. Akan tetapi, saya tidak yakin bahwa orang Sunda masih taat pada nilai-nilai keluhuran leluhurnya yang punya keadaban tinggi. Pengaruh-pengaruh luar dan nilai-nilai luar mudah sekali masuk mendistorsi kebaikan ajaran Sunda. Saya juga tidak tahu bahwa orang-orang yang ditangkapi itu semuanya bukan orang Sunda.


Prabu Siliwangi (Foto: Pinterst)


            Hal yang patut diperhatikan adalah komentar-komentar kemarahan dari netizen Sunda itu sekaligus pula mengingatkan orang Sunda untuk kembali mengingat ajaran leluhurnya yang punya banyak solusi tanpa harus menggunakan kekerasan dan kekacauan. Banyak cara lain yang bisa digunakan untuk menyelesaikan masalah.

            Saya meyakini bahwa semua suku bangsa di Indonesia ini memiliki nilai-nilai kebaikan sangat tinggi yang dilekatkan Allah swt sejak dalam kandungan. Tak ada satu suku pun di Indonesia ini yang mengajarkan kejahatan dan kerusakan. Sudah kehendak Allah swt manusia diciptakan bersuku-suku dan berbangsa-bangsa untuk saling mengenal sehingga bisa bekerja sama membangun hidup dan kehidupan, bukan untuk melakukan kerusakan.

            Kalaulah ada kelompok-kelompok yang gemar kekusutan pikiran dan kekacauan perilaku, itu sudah dipastikan bukan berasal dari Allah swt. Itu berasal dari kesesatan.

            Kita harus kembali pada nilai kebaikan kita dan menyelesaikan masalah dengan kebaikan pula, bukan dengan huru-hara.

            Ilustrasi Prabu Siliwangi saya dapatkan dari Pinterest.

            Sampurasun.

Sunday, 31 August 2025

Demo di Pemukiman dan Penjarahan Itu Kejahatan

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Kan tidak perlu diajarin lagi sebetulnya bahwa di pemukiman penduduk itu ada bayi, anak kecil, orang sakit, orang lanjut usia, orang yang tidak mengerti apa-apa, tempat tinggal yang seharusnya menenangkan, serta keluarga-keluarga kecil yang ingin hidup tenteram beraktivitas dan beribadat dengan tenang. Jika ada demonstrasi yang melibatkan massa banyak apalagi melakukan penjarahan, akan sangat mengganggu ketertiban dan kehidupan masyarakat, itu adalah kejahatan yang tidak boleh terjadi.

            Demonstrasi yang awalnya tulus dan murni dengan menyuarakan moralitas berubah menjadi gangguan menakutkan sekaligus menimbulkan kemarahan masyarakat. Isu-isu yang dibawa secara terpelajar untuk membela rakyat meluncur jatuh menjadi gerakan murahan yang mengganggu rakyat. Orang-orang menjadi takut sekaligus marah karena aktivitas rutinnya rusak. Tidak tenang pergi ke luar untuk bekerja, sekolah, pergi ke Puskesmas, belanja karena jalanan serasa dikuasai para pengacau.


Demonstrasi Rusuh Menimbulkan Kerusakan (Foto: Klik Solo News)


            Kalaupun ada orang-orang yang dianggap bersalah sehingga perlu didemo, tetap tidak boleh di rumahnya atau di pemukiman penduduk. Apalagi dengan melakukan penjarahan dan perusakkan terhadap milik orang lain.

            Kita ingin korupsi berhenti, tetapi melakukan penjarahan, perusakkan, dan perampokkan terhadap harta orang lain.

            Lalu, apa bedanya orang yang didemo dengan para pendemo?

            Sama-sama melakukan kejahatan.

            Itu juga kalau benar bahwa orang yang didemo itu adalah koruptor. Seseorang bisa disebut bersalah atau tidak harus melalui keputusan hakim, bukan oleh dugaan, fitnahan, kebencian, ataupun provokasi.

            Kalau ternyata yang didemo itu tidak bersalah, tetapi kalian telah melakukan kerusakan, itu adalah kejahatan. Kalian hanya perusuh.

            Jangan demo di pemukiman penduduk, jangan melakukan penjarahan, jangan mengganggu ketertiban. Tetap teguh pada moralitas dan isu-isu yang benar untuk membela rakyat dengan cara yang terpelajar.

            Kalau rusuh sehingga menimbulkan kerusakan, kesakitan, dan kematian, siapa yang akan mengurus kalian kalau bukan keluarga yang dibantu penduduk yang adalah tetangga kalian?

            Jika kerusakannya sangat parah, pemerintah pasti ikut campur dengan menggunakan uang rakyat. Semua jadi rugi.

            Sampurasun.

Saturday, 30 August 2025

Beda DPR RI dan Dedi Mulyadi

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Tampaknya rakyat marah besar karena Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) mendapatkan kenaikan penghasilan yang berupa penggantian perumahan. Jumlah yang mereka terima berdasarkan isu yang berkembang adalah tiga juta rupiah per hari. Sebetulnya sih, penghasilan mereka lebih dari itu karena mendapatkan honor-honor lain, saya tahu betul karena saya pernah menjadi asisten wakil rakyat selama empat tahun. Sebetulnya, rakyat tahu dan paham bahwa gaji pejabat tinggi itu pasti besar, tidak mungkin disamakan dengan orang-orang kebanyakan. Permasalahannya adalah rakyat tidak melihat kebanyakan anggota DPR itu menghasilkan kerja-kerja yang pro-rakyat meskipun ada juga yang benar-benar bekerja dengan sangat baik. Penghasilannya ditingkatkan, tetapi hasil kerjanya tidak dirasakan, bahkan tidak terlihat oleh rakyat.

            Saya jadi teringat kata-kata almarhum Gus Dur bahwa DPR RI itu mirip “Taman Kanak-Kanak”. Hal ini bisa dilihat ketika diumumkan penghasilan DPR RI meningkat, mereka berjoget ria mirip anak-anak TK yang dikasih permen, senangnya bukan main. Memang tidak semua joget-joget, ada juga yang diam, entah apa yang ada di dalam pikirannya. Ketika rakyat mengkritik perilaku tersebut, para anggota DPR itu ada yang melawan dan menghina rakyat dengan sebutan tolol atau perilaku lain yang membuat marah. Itulah awalnya kemarahan rakyat yang kemudian menjadi kerusuhan di berbagai daerah. Seharusnya, anggota DPR RI itu menjelaskan bahwa kenaikan penghasilan itu akan membantu mereka untuk lebih produktif, lebih berpihak pada rakyat, serta menjelaskan apa saja yang mereka kerjakan untuk membela rakyat.


Anggota DPR RI Berjoget Ria (Foto: Surabaya Pagi)


            Rakyat marah karena anggota DPR RI semakin banyak mendapatkan uang. Pada saat yang sama ada beberapa bagian rakyat yang sedang benar-benar kesusahan untuk membiayai hidup diri dan keluarganya.

            Sikap rakyat ini berbeda terhadap Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi. Rakyat sangat senang jika Dedi Mulyadi semakin kaya. Rakyat justru sangat menginginkan Dedi semakin banyak uang. Hal ini bisa dilihat dari komentar-komentar rakyat pada video di chanel-chandel milik Dedi Mulyadi. Pada ribuan komentar itu selalu saja terdapat komentar yang mendorong orang-orang untuk menambah subscriber, menonton video Dedi hingga habis, tidak memotong penayangan iklan, dan ajakan untuk membagikan video Dedi pada berbagai akun milik rakyat. Semua tahu hal itu akan menaikkan pendapatan uang buat Dedi. Sekarang saja dari akun Medsos-nya, Dedi sudah mendapatkan uang lebih dari Rp10,3 M per bulan. Rakyat tidak iri dan tidak marah. Malahan, senang luar biasa.

            Rakyat merasa senang karena tahu bahwa penghasilan Dedi itu akan kembali mengalir kepada rakyat yang sedang membutuhkan dan itu bisa dilihat secara langsung yang biasanya membuat emak-emak dan orang-orang berhati melo menangis haru. Tak ada kemarahan sama sekali dari rakyat jika Dedi mendapatkan banyak uang. Meskipun Dedi setiap hari berjoget, memeluk dan dipeluk perempuan kapan saja, mencium dan dicium perempuan mana saja, rakyat tidak marah, bahkan rakyat ikut berjoget-joget.


Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi Menembus Demionstran (Foto: Tribun Jabar)


            Rakyat yang biasa-biasa saja tak punya uang banyak hanya bisa membantu Dedi dengan mendukung tayangan-tayangan video Dedi. Rakyat yang punya uang banyak dan pengusaha besar membantu Dedi dengan uangnya yang juga sangat banyak. Hal ini bisa dilihat dari pengakuan Dedi sendiri ketika menyelamatkan gereja Katolik dari penyitaan yang dilakukan oleh pihak bank. Gereja itu harus disita bank karena persoalan tunggakan pinjaman yang menggunakan tanah gereja sebagai jaminan sejumlah  enam miliar rupiah yang kemudian membengkak menjadi enam belas miliar rupiah. Dedi menjelaskan bahwa untuk menyelamatkan gereja itu dibantu oleh teman-temannya dalam menyelesaikan tagihan bank. Teman-teman Dedi itu rakyat yang punya banyak uang.

            Rakyat marah karena DPR RI tidak jelas kerjanya dan banyak mempertontonkam kemewahan di hadapan rakyat tanpa dirasakan keberpihakannya kepada rakyat. Rakyat senang Dedi kaya raya karena melihat jelas keberpihakannya kepada rakyat, hasil kerjanya bisa ditonton langsung, dan banyak memberikan uang secara langsung kepada rakyat yang membutuhkan dalam jumlah yang sangat besar. Itu bedanya.

            Foto DPR RI berjoget saya dapatkan dari Surabaya Pagi, sedangkan Dedi Mulyadi merangsek menembus kerumunan demonstran dari Tribun Jabar.

            Sampurasun

Monday, 2 January 2023

Pemerintah Itu Bukan Musuh Buruh

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Semua orang, siapa saja, boleh mengkritik saya, sekeras apa pun soal ini. Saya betul-betul tidak mengerti mengapa seolah-olah buruh atau karyawan itu selalu berseberangan, berhadapan, atau tampak bermusuhan dengan pemerintah. Ujung dari banyak protes atau demonstrasi buruh itu adalah “turunkan Jokowi”  atau paling tidak, menyalahkan pemerintah. Padahal, soal buruh itu soal ekonomi. Akan tetapi, akhirnya menjadi politik. Itu adalah keanehan.

            Sebetulnya, soal buruh atau karyawan itu bukan urusan pemerintah, melainkan urusan antara buruh atau karyawan dengan pengusaha. Segala persoalan itu seharusnya diselesaikan antara buruh dengan pengusaha. Jika mereka bisa menyelesaikan masalahnya, lalu mendapatkan kesepakatan, selesailah urusannya. Tidak perlu pemerintah turun tangan. Jadi, kalaupun mau berhadapan, buruh itu seharusnya berhadapan dengan pengusaha, bukan dengan pemerintah.

            Kehadiran pemerintah dalam urusan buruh dengan pengusaha adalah karena antara buruh dan pengusaha memiliki banyak masalah yang tidak dapat diselesaikan sendiri. Pemerintah menjadi penengah agar kepentingan buruh terakomodasi dan kepentingan pengusaha pun terlayani. Di samping itu, pemerintah berkepentingan agar berbagai perusahaan berkembang sebagai salah satu penopang perputaran ekonomi negara. Jika pemerintah hanya mementingkan pengusaha, buruh akan terdesak dan rakyat dirugikan yang akhirnya menimbulkan gangguan ekonomi karena rakyat tidak mau lagi bekerja di tempat yang merugikan. Sebaliknya, jika pemerintah hanya mementingkan buruh, pengusaha akan merasa berat untuk mengembangkan usahanya. Akibatnya, perusahaan bisa tutup, semua rugi. Hal ini pernah terjadi pada awal 1998. Ketika pemerintahan Soeharto jatuh, para buruh ikut-ikutan demo seperti mahasiswa yang akibatnya dirasakan berat oleh pengusaha. Oleh sebab itu, banyak pengusaha yang memindahkan perusahaannya ke tempat lain, lebih tepatnya ke negara lain, seperti, Vietnam dan Thailand. Hal itu jelas merugikan buruh sendiri karena kehilangan pekerjaan, pengusaha juga harus mulai dari awal berusaha di negara yang berbeda, dan pemerintah juga mengalami goncangan sosial dan ekonomi.

            Penetapan Perppu Cipta Kerja yang dilakukan Presiden Jokowi adalah salah satu upaya untuk mengatasi permasalahan yang terjadi antara buruh dengan pengusaha di samping untuk menghadapi goncangan ekonomi yang berasal dari pengaruh negara-negara lain di dunia ini. Akan tetapi, Perppu ini mendapatkan penolakan yang luar biasa dari buruh, padahal Perppu itu seperti yang tadi saya sebutkan agar kepentingan pengusaha terpenuhi dan kepentingan buruh pun terlayani. Jika merasa kurang adil, seharusnya jangan menyerang pemerintah, tetapi selesaikan masalahnya antara buruh dengan pengusaha. Pemerintah itu hanya hadir jika terjadi masalah antara pengusaha dan buruh. Jangan libatkan pemerintah jika memang bisa menyelesaikan sendiri. Kalau tidak bisa, pemerintah pasti ikut campur.

            Buktinya, memang tidak bisa menyelesaikan sendiri, bukan?

            Ketika Perppu Cipta Kerja ditetapkan Presiden Jokowi, para buruh yang merasa tidak adil menyalahkan pemerintah dan menganggap pemerintah tidak proburuh atau tidak prorakyat. Sebaliknya, mereka yang setuju dengan Perppu balik menyerang mereka yang tidak setuju dengan banyak kata-kata sindiran, misalnya, “jangan jadi buruh kalau merasa rugi, jadi pengusaha saja. Dasar tidak bisa bersyukur, sudah punya kerja, banyak protes, padahal yang lain belum punya kerja. Cobalah jadi pengusaha, jadi majikan, berat tahu!”

            Begitulah yang terjadi. Maaf kalau saya salah, boleh kritik saya.

Balik lagi, saya hanya tidak mengerti kenapa harus menyerang pemerintah yang berupaya menengahi kepentingan buruh dan pengusaha?

Selesaikan sendiri antara buruh dan pengusaha, jangan libatkan pemerintah kalau memang bisa. Kalau tidak bisa, pemerintah harus ikut campur untuk mengurus rakyatnya. Buruh dan pengusaha adalah sama-sama rakyat yang harus diurus, diatur, dan dilindungi oleh pemerintah.

Sampurasun.

Saturday, 3 September 2022

Teriakan Presiden Jokowi K*nt*l!

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Demonstrasi boleh, protes boleh, tetapi harus tetap cerdas dan mencerahkan. Apalagi mahasiswa yang harus menunjukkan intelektualitasnya di hadapan masyarakat banyak karena diharapkan mereka akan menggantikan posisi para orang tua yang sekarang menduduki jabatan penting di Indonesia.

            Kalau cuma bisa berkata kasar, kotor, dan menjijikkan, apa gunanya dia ngaji, sekolah, dan kuliah?

            Berteriak k*nt*l saja sudah menjijikan, viral lagi, ditulis dan tayang pada berbagai media sosial dan mainstream. Apalagi disematkan kepada Presiden Jokowi yang dipilih mayoritas rakyat Indonesia dan diharapkan lagi menjabat hingga tiga periode. Ini beneran bukan perilaku mahasiswa.

            Namanya Yunus Pasau. Dia mahasiswa Universitas Negeri Gorontalo (UNG). Ketua Hima Prodi Ilmu Komunikasi. Berasal dari Pohuwato, Sulawesi Utara. Foto Yunus Pasau saya dapatkan dari Kendalku-Pikiran Rakyat.


Yunus Pasau (Foto: Kendalku-Pikiran Rakyat)


            Dia berdemo dengan teriakan “teu nyakola” di Simpang Lima Gorontalo memprotes kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM). Dia seperti cerdas, tetapi tolol dan bodohnya bukan main.

            Saya penasaran, apakah dia mahasiswa penerima beasiswa atau bukan. Kalau dia penerima beasiswa, lebih kurang ajar benar dia. Kuliahnya dibantu uang rakyat yang disalurkan negara untuk dia, tetapi perilakunya tidak mencerminkan harapan rakyat. Rakyat berharap bahwa uangnya yang disalurkan untuk beasiswa mahasiswa adalah agar mahasiswa itu menjadi orang yang baik, bermanfaat, dan mampu memberikan manfaat bagi dirinya dan orang lain. Kalau dia mengkhianati keinginan rakyat, dia bisa termasuk koruptor.

            Kalau dia mahasiswa saya, sudah saya coret namanya dan saya usulkan ke pihak rektorat agar rektor menghentikan biaya kuliahnya yang berasal dari negara, bahkan saya usul agar dipecat saja dari statusnya sebagai mahasiswa. Pada program studi yang saya pimpin memang ada lima hal yang wajib dilaksanakan oleh mahasiswa Hubungan Internasional, Fisip, Universitas Al Ghifari, khususnya penerima beasiswa. Salah satu kewajiban dari yang lima itu adalah “menjaga etika yang baik” mulai etika kepada orangtua, teman, dosen, lembaga pendidikan, dan terhadap sesama manusia.  Jika beretika buruk, saya ajukan untuk dicabut beasiswanya sehingga negara tidak perlu lagi mengeluarkan uang untuk melanjutkan kuliahnya.

            Hal yang diteriakkan Yunus Pasau bukanlah pendapat, bukan pula kritikan, melainkan kata-kata kotor dan menjijikan yang tidak memiliki tempat untuk diperdebatkan. Kalau kritikan meskipun keras, kita bisa paham dan bisa terima. Misalnya, saya dikritik “bodoh tidak bisa bekerja”, “tolol mengurus mahasiswa”, “kuliah aja tinggi-tinggi, tetapi kerja nggak becus”, “shalat terus-terusan, tetapi korupsi”, saya sih biasa-biasa saja asal ada buktinya, saya terima dan menjadi vitamin bagi diri saya. Kalau enggak ada buktinya, itu fitnah, siap-siap saja saya masukan ke penjara.

            Kini sudah banyak yang usul agar perusahaan-perusahaan di Indonesia tidak menerima Yunus Pasau untuk bekerja di perusahaannya. Dia pun tidak perlu melamar menjadi ASN karena pemimpin negara saja sudah dihinanya dengan kata-kata menjijikan. Sekali lagi, kalau kritikan cerdas, bagus. Kalau menjijikan, jijik menyaksikannya.

            Sudah seharusnya Yunus Pasau mendapatkan sanksi dari orangtuanya, lingkungannya, guru ngajinya, dosen-dosennya, dan Rektor UNG. Kalau tidak, Mas Menteri Nadiem harus melakukan tindakan pada UNG. Kalau tidak, ini membuktikan hal yang telah dijelaskan oleh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) bahwa radikalisme itu mendapatkan binaan dari orangtua, guru, dan Medsos. Kalau tidak ada sanksi atau tindakan terhadap Yunus Pasau, bisa jadi memang dia diajari ajaran radikal dan kotor oleh gurunya, dosennya, orangtuanya, perguruan tingginya, dan lingkungannya.

            Kita lihat nanti apa tindakan yang dikenakan terhadap Yunus Pasau mahasiswa yang memalukan ini.

            Sampurasun.

Saturday, 16 April 2022

Selamatkan Mereka, Bro!


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Para mahasiswa ini memang unik. Mereka menyuarakan tuntutan yang sebenarnya sudah mudah sekali dijelaskan dan diselesaikan. Akan tetapi, ada foto-foto menarik yang bikin semakin seru dan menggelikan. Ada banyak mahasiswi yang berpose dengan beragam tulisan. Salah satunya menulis “Lebih Baik 3 Istri Daripada 3 Periode”. Foto itu saya dapatkan dari TIMES Indonesia.




            Entah mereka hanya bercanda atau memang poster mereka juga adalah tuntutan untuk dijadikan istri kedua, ketiga, atau keempat. Saya tidak tahu. Mungkin mereka telah mencoba berulang-ulang untuk menjajagi hubungan dengan pria-pria yang sebaya dengan mereka, tetapi tidak mendapatkan kenyamanan, ketenangan, dan pengasuhan yang baik. Berantem melulu. Mungkin juga mereka malah yang banyak ngasih jajan ke cowoknya karena pacarnya sulit sekali diandalkan dalam hal keuangan. Jadinya, mereka membayangkan untuk menjadi pasangan dari pria-pria yang sudah mapan dengan keuangan dan mampu menjadi imam yang lebih baik dibandingkan pacarnya yang sama-sama ingusan. Tidak tahulah.

            Saya jadi teringat pertanyaan seorang pengusaha kepada saya yang belum pernah bisa saya jawab sampai hari ini.

            Dia bertanya, “Kang, kenapa Akang tidak mau poligami, padahal banyak perempuan yang cinta sama Akang dan mau jadi istri Akang?

Kalau tidak Akang nikahi, Akang mungkin berdosa karena mungkin saja karena Akang tidak mau, mereka akhirnya dinikahi oleh para pengedar Narkoba, penjahat, dan orang-orang yang tidak bertanggung jawab.”

            Saya kaget, merenung.

            Dia meneruskan kata-katanya, “Saya yakin Akang orang terpelajar, bertanggung jawab, baik, dan mampu untuk membina keluarga yang baik.

Kalau mereka dinikahi orang-orang buruk, bagaimana anak-anak mereka nanti?

Pasti anak-anaknya dididik dengan buruk dan menjadi keluarga buruk yang menumbuhkan orang-orang lemah dan buruk. Kalau dinikahi sama Akang, akan tumbuh keluarga-keluarga yang baik, berprestasi, dan shaleh-shaleh.”

Begitu kata dia dan sampai hari ini saya tidak bisa menjawab kata-kata dia. Bingung. Kata-katanya memang benar, kalau dinikahi orang-orang buruk, akan tumbuh keluarga yang buruk, padahal kita bisa menyelamatkannya. Akan tetapi, jujur saya pusing menjawabnya dan menanggapinya.

Jawaban yang paling mudah adalah, “Kita serahkan saja kepada Allah swt.”

Jawaban seperti itu sebenarnya sangat saya tidak sukai karena meminggirkan pikiran kita yang telah dianugerahkan Allah swt. Seharusnya, kita bisa menemukan solusinya. Akan tetapi, karena pusing, jawaban saya seperti itu.

Ketika dalam demonstrasi 11 April 2022, ada beberapa mahasiswi yang mengangkat poster tinggi-tinggi semacam itu, bisa jadi memang mereka harus diselamatkan. Kalau tidak dinikahi oleh orang-orang baik yang Pancasilais dan pecinta NKRI, mereka bisa jatuh ke pelukan para intoleran, radikalis, dan teroris. Artinya, orang-orang baik menelantarkan mereka dan membiarkan mereka membentuk keluarga-keluarga bajingan bodoh cacing cau. Keluarga ini akan menjadi pengacau ketertiban dan keharmonisan hidup bangsa dan Negara Indonesia. Coba kalau dinikahi oleh orang-orang baik, insyaallah akan terbentuk keluarga-keluarga yang baik dan menjadi pilar keharmonisan hidup dalam berbangsa dan bernegara di Indonesia ini.

Bapak-bapak yang ganteng dan mapan, apakah tidak terpikirkan untuk menyelamatkan mereka dan menjadi suami yang baik bagi mereka dengan penuh kasih sayang?

Cobalah untuk berpikir dan bertindaklah cepat agar tidak membiarkan mereka tumbuh dalam asuhan para intoleran, radikalis, dan teroris.

Kalau sudah yakin, segera selamatkan mereka, saya hanya bisa mengucapkan, “Selamat bertengkar dengan istri di rumah masing-masing.”

Ceuk saya ge lieur kalau saya dihadapkan pada masalah seperti ini mah.

Hayu ah, wilujeng parasea sareng istrina masing-masing.

Sampurasun.

Tuesday, 12 April 2022

Seandainya Dia Mahasiswi Saya

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Sudahlah, sekarang jangan terlalu serius lagi soal demonstrasi 11 April 2022 yang baru lalu karena sudah jelas tuntutan demo tidak lagi menarik minat rakyat, malah telah melahirkan bintang baru, “Ade Armando”, yang menempati posisi teratas dari semua berita yang ada di Indonesia ini mengalahkan berita-berita lainnya. Ade Armando pun sedang dirawat, ditengok para sahabatnya, dan menyatakan akan makin  garang di media sosial setelah sembuh total. Polisi menangkapi para penganiayanya. Di samping itu, Walikota Solo Gibran Rakabuming Raka yang juga putera sulung Presiden RI Jokowidodo menegaskan akan ikutan juga demonstrasi menolak presiden tiga periode yang digelar oleh Bem Solo Raya. Sudahlah, makin terang isu-isu yang kemarin dimainkan itu sama sekali tidak berpengaruh pada stabilitas negara.

            Sekarang kita ngobrol saja yang ringan-ringan. Ada beberapa aksi mahasiswi yang bikin menggelitik ketika demonstrasi terjadi. Saya mendapatkan foto-foto mereka dari Malang Posco Media. Ada mahasiswi yang mengacungkan poster bertuliskan “Lebih Baik Bercinta 3 Ronde daripada Harus 3 Periode”. Aksi itu membuat saya mengingat kembali diri saya ketika seusia mereka.


Sumber Foto: Malang Posco Media

            Mengapa sih teman-teman saya dulu tidak ada beraksi seperti itu?

            Soalnya, asyik kayaknya. Dia pastinya sehat, subur, penuh semangat, aktif, menyenangkan, dan menggairahkan.

            Bagaimana tidak menyenangkan?

            Bercinta tiga ronde itu susah. Kalau bisa, kan menyenangkan.

            Ya, nggak?

            Seandainya, dia mahasiswi saya, akan saya panggil. Saya berani bayar dia untuk berkonsultasi. Saya ini senang belajar kepada murid-murid saya. Sekarang pun saya memberikan uang dan hal lainnya untuk mahasiswi saya yang mau menjadi “speaking partner” dalam berbahasa Inggris. Saya berani bayar mahasiswi saya untuk menjadi teman dalam menggunakan bahasa Inggris. Saya belajar dari dia karena dia adalah tutor bahasa Inggris di tempat lain.

            Apa salahnya saya belajar dari murid sendiri?

            Kalau saya panggil mahasiswi yang bilang dirinya ingin bercinta tiga ronde itu, saya akan belajar dari dia bagaimana hidup sehat, makanan apa saja yang dimakannya agar bisa seperti dia, pola hidupnya bagaimana, olah raganya apa saja, ritual apa saja yang dia lakukan, doa-doa apa saja yang dia sampaikan hingga bisa menggairahkan seperti itu. Wajar dong belajar hidup sehat dan penuh semangat. Asyik pisan kayaknya.

            Para pria jangan berbohong bahwa dirinya sebenarnya ingin mampu bercinta kalau bisa, sepuluh ronde. Akan tetapi, kenyataannya, banyak perempuan yang mengeluh bahwa suaminya jangankan tiga ronde, setengah ronde saja sudah melehoy. Kacau. Kasihan para istri itu. Pria itu banyak yang egois, gayanya saja yang perkasa, malah sampai ingin beristri lebih dari satu, padahal satu istri saja, baru setengah ronde, “tewas”. Akhirnya, lari ke obat-obat kuat perkasa yang dijual di jalan-jalan itu.

            Cobalah belajar kepada orang-orang yang lebih sehat agar keluarga semakin bahagia. Banyak berdoa agar tubuh makin stabil metabolismenya. Meskipun tidak ada hubungannya antara bercinta tiga ronde dengan presiden tiga periode, poster mahasiswi itu menjadi hiburan tersendiri dalam suasana demonstrasi. Dia kreatif, menghibur, tanpa kehilangan rasa hormat terhadap dirinya sendiri.

            Kalau dia mahasiswi saya, akan saya tanya apakah sudah punya pacar atau belum. Kalau sudah punya pacar, saya akan nasihati pacarnya agar hidup lebih sehat dan lebih berkualitas daripada dia. Soalnya, kalau sudah menikah nanti, suaminya bakal kewalahan. Bercinta tiga ronde itu bisa bikin “noroktok tuur”. Ripuh.

            Hormati perempuan, bahagiakan mereka. Kalau perlu, belajar bagaimana membahagiakan perempuan dari orang lain yang lebih berbahagia daripada kita. Apalagi jika punya niat beristri lebih dari satu atau sudah beristri lebih dari satu. Jangan egois, hormati dan sayangi perempuan.

            Sampurasun.

Udah Mah Bajingan, Bodoh Lagi, Bodor Pisan

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Ini teh Bulan Suci Ramadhan, harus banyak berbicara dan berperilaku yang baik-baik, termasuk menulis hal yang baik-baik. Akan tetapi, terpaksa kudu bicara kasar sedikit, mudah-mudahan Allah swt mengampuni, karena muncul para bajingan tengik yang bikin huru-hara, bikin kerusuhan, bergaya kayak pemilik surga, tetapi kurang ajar keterlaluan sampai bikin macet jalan tol dan membakar pos polisi. Saking bajingannya, mereka menganiaya Ade Armando yang sudah berusia lebih dari 60 tahun, main keroyokan lagi. Malu-maluin. Soal ujaran Ade Armando yang dianggap menista agama, itu ada salurannya melalui jalur hukum. Perilaku mengeroyok orang tua itu adalah perilaku bajingan yang bikin orang jadi bodoh, hidup pada zaman purba.

            Sudah saya bilang kan, tuntutan mahasiswa itu sudah tenggelam dan menguap entah ke mana karena mahasiswa membiarkan para bajingan itu ikut berada dalam aksi mahasiswa. Rakyat kini lebih tertarik pada berita Ade Armando dibandingkan pada isu yang dibawa mahasiswa. Lain kali, mahasiswa cek en ricek dulu kelompok mana saja yang akan ikut berpartisipasi dalam demo mahasiswa. Jadi, bisa mencegah para bajingan untuk merusakkan demonstrasi yang sebetulnya bisa menjadi kegiatan cerdas itu.

            Di samping bajingan, mereka itu bodoh. Saking bodohnya, mereka mengupload video ketika Ade Armando dianiaya dengan bangga seperti sebuah perayaan kemenangan. Mirip PKI dulu yang memasukkan para jenderal ke dalam sumur sambil bergembira. Padahal, dengan mengupload video dan melakukan penganiayaan di tempat umum yang bisa terekam kamera CCTV, mempermudah mereka dikenali oleh masyarakat dan pihak kepolisian. Kini mereka pun terancam hukuman pidana.

            Bodoh kan?

            Kayak yang bangga, tetapi merugikan dirinya sendiri sehingga mudah dikenali polisi. Kini polisi sudah menangkap dua dari enam orang penganiaya Ade Armando. Yang empat lagi diharapkan menyerahkan diri. Kalau tidak, akan ditangkap secara paksa.

            Orang-orang bodoh lainnya dengan bangga mengupload video-video kerusuhan, penganiayaan, huru-hara, dan lain sebagainya. Hal itu menunjukkan bahwa mereka itu bodoh dan hanya tahu tentang huru-hara tanpa mengenal upaya mencari jalan keluar memecahkan masalah dan memberikan banyak solusi untuk kebaikan bersama. Di kepala mereka sebagian besar hanya berisi tentang kekacauan.

            Polisi sudah mengenali mereka dan bertekad menggusurnya masuk ruang sidang pengadilan untuk mendapatkan hukuman dari hakim.

            Karena para bajingan itu sangat bodoh, mengira dirinya pejuang dan telah menang, padahal terancam puasa di penjara, lebaran di penjara, disiksa napi lainnya di dalam penjara, dan meringkuk di tahanan meninggalkan keluarga dalam waktu yang lama, membuat diri mereka seperti pelawak. Udah mah bajingan, bodoh lagi nge-upload aksi bajingan mereka hingga mudah ditangkap polisi.

            Beginilah yang tidak saya suka, generasi muda kita yang sebetulnya harus menjadi generasi cerdas, ikut-ikutan terpengaruh jadi bajingan bodoh yang lucu itu. Kita diminta dunia menyelesaikan masalah krisis dunia, di dalam negeri kita malah menonton para bajingan bodoh yang lucu itu.

            Jangan jadi bajingan, jangan jadi bodoh. Kalau melucu, jadilah komedian yang cerdas dan bukan lucu karena kebodohan kalian sendiri.

            Sampurasun.

Monday, 11 April 2022

Tuntutan Mahasiswa Tidak Penting Lagi, Tertutupi Babak Belurnya Ade Armando

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Selepas aksi demonstrasi 11 April 2022, hanya beberapa jam sejak itu, tuntutan mahasiswa sudah tidak penting lagi, tidak lagi menjadi perhatian rakyat, menguap, dan seolah-olah terlupakan. Coba saja perhatikan dunia maya dan media elektronik, sudah melupakannya. Justru berbagai media, termasuk media sosial saat ini dipenuhi oleh berita tentang penganiayaan yang dialami oleh dosen UI dan pegiat media sosial Ade Armando.

            Sejujurnya, bagi saya pribadi, tuntutan mahasiswa itu sama sekali tidak penting karena jawabannya sudah ada sejak lama dan upaya pemecahan masalahnya sedang berjalan diupayakan. Tuntutan tentang penolakan presiden tiga periode, Jokowi sudah menjelaskannya lebih dari lima kali seingat saya, BBM naik harga karena pasokan dunia berkurang gara-gara perang Rusia-Ukraina, daya beli masyarakat untuk minyak goreng dikuatkan untuk masyarakat lemah dengan bantuan tunai Rp300.000,-. Demikian pula, tuntutan lainnya mudah sekali dijelaskan. Ini bisa didiskusikan kasus per kasus.

            Lalu, apa?

            Seperti demonstrasi yang lalu-lalu, tidak ada hasilnya.

            Malah, semakin mencoreng nama baik mahasiswa. Oleh sebab itu, saya menulis pada tulisan yang lalu bahwa mahasiswa jangan malu-maluin, pelajari dulu dengan benar dan cermat isu yang akan didemonstrasikan. Sekarang, para penyusup dan penumpang gelap membuat narasi dan video bahwa mahasiswa adalah pelaku penganiayaan terhadap Ade Armando. Cek saja sendiri di FB, grup WA, youtube, twitter, dan lain sebagainya, justru penganiayaan ini yang menjdi viral. Sementara itu, tuntutan mahasiswa menguap entah ke mana.

            Saya berulang-ulang menyaksikan penganiayaan itu dari berbagai kanal.

            Awalnya, saya senang mellihat mahasiswa mengalihkan sasaran demo dari istana ke gedung DPR RI. Hal itu disebabkan memang para wakil rakyatlah yang seharusnya menjadi sasaran tepat demontrasi berdasarkan tuntutan mahasiswa sesuai dengan azas “trias politica” yang membagi kekuasaan negara ke dalam tiga: eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Itu pertanda mahasiswa mulai cerdas.

Pada saat demonstrasi pun tertib, terpelajar. Setelah ditemui oleh perwakilan dari DPR RI, mahasiswa pun perlahan membubarkan diri. Cerdas sekali. Bagi mahasiswa, demonstrasi itu sudah selesai.

Akan tetapi, sayangnya, para penumpang gelap, perusuh, dan para penjahat ini kecewa dengan sikap mahasiswa yang mulai membubarkan diri. Mulailah mereka melakukan aksi-aksi anarkis dengan melemparkan batu, botol, berteriak-teriak kasar menyatukan kalimat Allahu Akbar dengan makian anjing, memacetkan jalan tol, malahan membakar pos polisi. Cek saja sendiri, viral kok. Termasuk pula melakukan penganiayaan brutal kepada Ade Armando, padahal ini Bulan Suci Ramadhan.

Ade Armando itu datang untuk mendukung mahasiswa karena dia menentang perpanjangan masa jabatan presiden dan penundaan Pemilu. Jadi, tidak mungkin mahasiswa menganiaya dia. Lagian peristiwa itu terjadi ketika mahasiswa mulai selesai dengan demonstrasinya. Artinya, yang tersisa di depan Gedung DPR RI Senayan adalah massa yang tidak dikenal. Awal kejadiannya, Ade Armando dimaki emak-emak yang dari suara dan bahasanya bukanlah mahasiswa, lalu terdengar ucapan provokasi penista agama! pukul Ade Armando! bunuh Ade Armando! Dari wajah-wajah dan usia para pelakunya, mereka bukanlah mahasiswa. Mereka orang-orang yang tidak punya otak dan berpikir kampungan. Seorang terpelajar tidak mungkin melakukan itu. Ini tahun 2022 yang menyandarkan situasi pada aturan hukum dan bukan kebuasan, bukan tahun 40-an yang menyandarkan situasi pada perkelahian dan adu otot.

Ade Armando itu adalah seorang dosen senior berusia lebih dari 60 tahun yang dari mulutnya keluar banyak ilmu pengetahuan dan melahirkan banyak sarjana yang sudah dan sedang berkarya di lembaga pemerintahan dan lembaga swasta. Soal perbedaan pendapat, itu hal yang wajar. Saya juga pernah saling adu argumen dengan Ade Armando dulu tentang LGBT. Dia membela LGBT dan menyatakan bahwa LGBT itu ada yang sudah jadi sejak dilahirkan bahkan sejak dalam kandungan menurut banyak penelitian. Adapun saya tidak percaya penelitian itu karena penelitinya sendiri adalah para homoseks. Bagi saya, LGBT adalah orang-orang berpenyakit yang harus dirawat dan disembuhkan. Perbedaan pendapat itu biasa, tidak perlu harus dilakukan dengan pemukulan. Kalaupun ada yang menganggap dia telah melakukan penistaan agama, serahkan saja kepada kepolisian. Jika polisi mendapatkan cukup bukti yang kuat, nasibnya tidak akan berbeda dengan M. Kace, Ferdinand Hutahaean, atau Saifudin Ibrahim, jadi buronan kemudian dijatuhi hukuman. Jika belum punya bukti yang kuat, polisi pasti kesulitan untuk menggusurnya ke pengadilan karena bakal kalah di hadapan hakim dan itu mempermalukan pihak kepolisian.

Memang kalian siapa punya kewenangan menghukum dan menyatakan bersalah orang lain tanpa proses pengadilan?

Sekolah hukum juga enggak kalian itu.

Kalian hanya orang-orang bar-bar tak punya otak, tak punya hati, dan tak punya pengetahuan yang menganggap diri sebagai orang-orang yang sudah dipastikan masuk surga.

. Memangnya kalian pernah ketemu dengan Malaikat Ridwan dan sudah lihat daftar nama siapa saja yang masuk surga?

Bisa-bisa kalian namanya sudah ada di tangan Malaikat Malik sebagai calon penghuni neraka.

Beberapa saat lagi setelah saya menulis ini, sudah pasti ada perkembangan tentang kasus Ade Armando. Polisi sudah bergerak sangat cepat dan menangkap beberapa pelaku penganiayaan. Dari sana polisi akan mendapatkan banyak informasi tentang pelaku lainnya, para mentornya, dan organisasi asal mereka. Itu jelas telah merupakan pelanggaran hukum.

Kegembiraan para perusuh di grup-grup media sosial hanya akan berlangsung sesaat karena akan menyaksikan banyak penangkapan yang dilakukan pihak kepolisian. Sayangnya, berita ini akan semakin viral. Padahal, sesungguhnya yang diharapkan viral itu adalah tindak lanjut dan perkembangan dari tuntutan mahasiswa. Sayang sekali, daya kreativitas mahasiswa yang positif tertutupi kasus penganiayaan Ade Armando.

Sekali lagi, jangan bermimpi untuk bisa hebat seperti mahasiswa angkatan 1998. Angkatan saya itu telah berhasil menghentikan legalitas perjudian, menghentikan pembasmian etnis muslim Bosnia, dan meruntuhkan Soeharto. Satu yang tersisa hingga hari ini, yaitu membebaskan Rohingya dari kekejaman militer Myanmar. Palestina juga. Mahasiswa sekarang tidak mungkin seperti mahasiswa angkatan lalu karena situasinya berbeda, masalahnya berbeda, zamannya juga berbeda. Jadi, gerakannya tidak boleh sama dengan mahasiswa angkatan lama, harus ada terobosan baru untuk membangun dan menyelamatkan bangsa dan negara yang kita cintai ini.

Perhatikan berita hari-hari berikutnya, bukan isu tuntutan mahasiswa yang marak, melainkan kasus Ade Armando.

Sampurasun.

Sunday, 10 April 2022

Apalagi Yang Kalian Ragukan?

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Kalau saya menyukai seorang perempuan, lalu dianya juga mau sama saya, bersedia menjadi istri saya, orangtuanya setuju, semua keluarganya setuju, kerabat-kerabat jauhnya pun menyukai saya, mengapa saya harus ragu atas cinta dia kepada saya?

            Mengapa saya harus gelisah dan cemas?

            Mengapa saya harus meminta dan ngotot tentang kepastian perasaan bidadari itu kepada saya?

            Malah, jika saya meragukan dia dan selalu menanyakan perasaan dia, saya mungkin akan tidak disukai dan dianggap mengganggu mereka. Ujungnya, cinta itu bisa bubar dan pernikahan pun batal.

            Kalau kalian, para demonstran, yang tidak ingin Jokowi menjadi presiden untuk tiga periode, lalu Jokowinya sudah menyatakan memang tidak ingin bersedia lagi menjadi presiden tiga periode, kemudian menyuruh para menteri dan aparatnya untuk menyelenggarakan Pemilu pada 14 Februari 2024, Ketua DPR RI Puan Maharani juga memastikan bahwa Pemilihan Presiden RI itu dilaksanakan 2024, Partai Demokrasi  Indonesia Perjuangan (PDIP) pun, selaku partai pemenang dan penguasa, mengawal bahwa Pemilu harus terjadi 2024, apalagi yang kalian ragukan?

            Mengapa kalian harus gelisah dan cemas?

            Mengapa kalian harus meminta dan ngotot tentang kepastian Pemilu pada 2024 itu?

            Malah, jika kalian terus-terusan ngotot secara tidak masuk akal, bahkan melakukan demonstrasi yang disertai makian dan kebohongan pada Bulan Suci Ramadhan, kalian bisa benar-benar dianggap penganggu ketenangan dan tidak akan disukai rakyat. Ujungnya, Jokowi bisa benar-benar menjadi presiden untuk periode yang ketiga. Itu bisa terjadi disebabkan kebodohan dan perilaku kalian yang mengesalkan.

            Paling tidak, rakyat pada bagian timur Indonesia sudah menunjukkan kemarahan itu kepada pihak-pihak yang dianggap mengganggu dan menghina Jokowi. Kemarahan mereka tampak memuncak karena baru pada kepemimpinan Jokowi mereka merasakan kemajuan dan pembangunan besar-besaran yang sebelumnya tidak tersentuh pembangunan yang bisa dirasakan sangat cepat. Mereka sangat diuntungkan Jokowi. Bahkan, dari pernyataan-pernyataan mereka, tampaknya mereka siap mati untuk Jokowi. Mereka ingin Jokowi menjadi presiden seumur hidup.

            Hati-hati, bisa terjadi konflik horizontal. Jaga persatuan dan persaudaraan. Jangan mau dibenturkan oleh sekelompok petualang politik yang rela menebar uang recehan untuk membuat huru-hara di Indonesia.

            Meskipun demikian, memang pernikahan yang tampaknya sudah pasti dan Pemilu yang kelihatannya sudah dipastikan itu bisa berubah. Bagi saya meskipun sudah ada kepastian, baik soal pernikahan maupun Pemilu, itu baru 90% pasti. Ada angka 10% yang tersisa dan itu milik Allah swt, Sang Maha Perencana. Angka 10% itu bisa memastikan semuanya sesuai rencana atau mengubah total dan mengganti keseluruhan rencana dengan situasi dan keadaan yang baru karena itu milik Allah swt yang Mahakuat.

            Jadi, tenang sajalah. Tetaplah berbuat baik, apalagi pada Bulan Suci Ramadhan. Kalaupun kalian menginginkan segalanya sesuai dengan rencana dan keinginan kalian, berdoalah kepada Allah swt karena 10% itu adalah milik-Nya. Hanya dia yang bisa mengubah dan membolak-balikkan keadaan atau merestui keinginan kalian. Kita tidak bisa tahu.

            Sampurasun.

Friday, 8 April 2022

Mahasiswa Jangan Malu-Maluin

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Beredar kabar Senin, 11 April 2022, akan ada demonstrasi besar-besaran oleh Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (Bem SI) entah di mana saja. Bisa hanya di Jakarta, bisa juga serentak pada beberapa kota lainnya.

            Sebetulnya, demonstrasi itu boleh dan berhak dilakukan siapa saja di Indonesia ini. Akan tetapi, adanya demonstrasi itu menunjukkan ada kegagalan komunikasi antara rakyat dengan para wakil rakyat. Seharusnya, mereka yang berteriak-teriak itu adalah para wakil rakyat, ada DPR RI, DPD RI, DPRD, dan MPRI RI. Para wakil rakyat itulah yang seharusnya setiap saat menyuarakan aspirasi rakyat dan mendesak pemerintah untuk selalu berpihak kepada rakyat sesuai dengan perundang-undangan yang ada. Para wakil rakyat itu adalah orang-orang yang dibayar dan digaji untuk mengawasi dan mengontrol pemerintahan. Artinya, jika banyak demonstrasi, berarti ada ketidaknyambungan antara rakyat dengan wakilnya. Rakyat atau mahasiswa lebih memilih berdemonstrasi daripada menitipkan keinginannya kepada para wakil rakyat.

            Untuk apa menggaji dan membayar wakil rakyat jika mahasiswa atau rakyat masih harus turun ke jalan?

            Para wakil rakyatlah yang wajib berteriak mendesak pemerintah itu. Sayang uang jika harus menggaji wakil rakyat, tetapi tidak mampu mewakili rakyat.

            Soal demonstrasi yang digelar Bem SI, mahasiswa khususnya Bem SI harus waspada agar menjaga dirinya untuk tetap murni sebagai gerakan mahasiswa, bukan terkesan pesanan atau ditunggangi pihak lain yang ingin membuat rusuh situasi yang mempermalukan mahasiswa sendiri. Kalau saya, gampang saja melihatnya. Jika tuntutan mahasiswa adalah menginginkan Jokowi mundur dari kepresidenan dan menginginkan tegaknya sistem kekhalifahan, itu jelas bukan aspirasi akademis. Itu hanya senilai dengan teriakan emak-emak yang sakit hati, morang-maring, mobat-mabit, nggak karuan karena kebodohannya.

            Untungnya, tuntutan Bem SI tidak ada yang seperti itu. Paling tidak, itu yang saya perhatikan dari penuturan koordinator Bem SI Kaharudin dalam berita yang dilansir Kompas. Ada enam tuntutan Bem SI, yaitu mendesak presiden untuk menolak penundaan pemilu dan masa jabatan tiga periode; menunda dan mengkaji ulang UU IKN; menstabilkan harga dan menjaga ketersediaan bahan pokok di masyarakat; mengusut mafia minyak goreng dan mengevaluasi kinerja menterinya; penyelesaian konflik agraria; menuntaskan janji-janji kampanye sebagai presiden dan wakil presiden.

            Dari keenam tuntutan itu, tidak ada tuntutan Jokowi mundur dan tegaknya sistem kekhalifahan. Mahasiswa lumayan cerdas. Jadi, kalau ada poster, iklan, ajakan, atau provokasi untuk berdemonstrasi menurunkan Jokowi dan menegakkan kekhalifahan, itu bukan dari mahasiswa, melainkan dari emak-emak yang sakit hati dan tidak mau menerima kegagalan dan kekalahan dirinya. Meskipun mereka katanya laki-laki dengan daster putih dan berjubah ditambah janggut, bagi saya mereka sama saja dengan emak-emak yang sakit hati mobat-mabit itu.

            Daripada ngikutin emak-emak itu, mendingan konsentrasi menjalankan ibadat Ramadhan dengan baik agar mendapatkan pahala yang banyak, baik, dan mengantarkan kita menjadi orang yang lebih baik lagi. Dengan demikian, kita akan menciptakan diri dan lingkungan kita sebagai tempat yang lebih baik dalam hidup ini.

            Saya hanya titip pesan kepada para mahasiswa agar jangan malu-maluin. Kalian harus mempelajari segala sesuatunya dengan baik sebelum berdemonstrasi, apalagi ada kaitannya dengan undang-undang. Jangan seperti demonstrasi RUU Omnibuslaw kemarin-kemarin itu. Ternyata, mahasiswa tidak baca dulu undang-undangnya. Penafsirannya juga salah. Itu malu-maluin. Ketika dihadapkan kepada para pembuat undang-undangnya, tidak jelas dalil dan hujahnya. Ditayangin lagi di televisi. Malu-maluin. Nggak ada hasilnya demonstrasi itu, cuma bikin nama baik mahasiswa yang jadi negatif.

            Apa coba hasilnya demo kemarin itu? Tidak ada, kan?

            Kalau ada, kasih tahu saya.

            Di samping itu, jangan suka mengklaim jumlah massa besar kalau hanya sedikit. Bilangnya tujuh juta padahal hanya lima ribu. Bilangnya seribu, padahal hanya dua ratus. Jangan begitu, memalukan.

            Saya suka dengan semangat mahasiswa. Paling tidak, semangat yang dikatakan Kaharudin bahwa mahasiswa berdiri tegak sebagai oposisi, sebagai pengawas, dan pengontrol kebijakan pemerintah. Akan tetapi, sesungguhnya itu adalah pekerjaannya para wakil rakyat karena digaji untuk itu. Mahasiswa secara moral sangat baik memposisikan dirinya seperti itu. Akan tetapi, tugas utama mahasiswa itu adalah kuliah dengan baik karena mereka adalah pelajar. Selesaikan kuliah hingga tuntas, jangan sampai tidak selesai. Malu-maluin. Demonstrasi berteriak memajukan rakyat, tetapi dirinya sendiri nggak maju-maju, bahkan gagal kuliah. Malu-maluin. Apalagi yang mendapatkan beasiswa dari negara, kuliahnya wajib selesai. Kalau tidak selesai kuliahnya, tetapi sudah menggunakan dan memakan uang beasiswa, memalukan sekali jika terus-terusan demonstrasi.

            Hidup mahasiswa!

            Saya juga mau jadi mahasiswa lagi da. Lagi ngumpulin tenaga buat kuliah lagi.

            Sampurasun