Showing posts with label Singapura. Show all posts
Showing posts with label Singapura. Show all posts

Sunday, 22 May 2022

Abdul Somad Berhenti Cengeng, Baguslah

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Kalau mengikuti tulisan-tulisan saya yang lalu, pembaca akan tahu bahwa saya selalu mengatakan agar jangan malu-maluin kalau ditolak masuk rumah orang lain, jangan protes atau marah. Perilaku protes atau marah itu adalah bentuk dari kecengengan. Bagi saya, memalukan ketika akan bertamu ke rumah orang lain, lalu ditolak pemilik rumah, kemudian kita protes, marah, bahkan mengadu kepada orang lain. Kalau pemilik rumah tidak menyukai kita, seharusnya tinggalkan saja dengan tenang dan tetap berwibawa.

            Sikap inilah yang tidak saya sukai dari Abdul Somad. Ketika dia diperiksa di pelabuhan Singapura, dia mengupload bahwa dirinya ditempatkan di ruangan berukuran 1 X 2 meter, lalu dipisahkan dari keluarganya. Dia seolah-olah mengadu kepada pendukungnya dan semua orang, seluruh dunia melihatnya, termasuk Singapura. Menurut sumber lain sih ukuran ruangannya tidak sekecil itu, lebih besar dibandingkan yang diupload Abdul Somad yang dikenal dengan nama UAS ini. Itu perilaku cengeng.

            Perilakunya ini menimbulkan pemahaman yang salah di masyarakat yang kemudian menyalahkan Singapura. Padahal, Singapura adalah rumah orang lain, negara orang lain. Suka-suka mereka saja mau menolak siapa saja. Begitu hukum yang berlaku secara internasional. Singapura tidak salah dalam hal ini. Seperti kita juga berhak menolak atau mengusir siapa saja yang tidak kita sukai.

Mereka tidak suka, lalu kita bisa apa?

Dengan pemahaman rakyat yang salah dapat mengakibatkan hubungan yang jelek dengan Singapura, padahal ada puluhan bahkan mungkin ratusan ribu orang Indonesia yang bekerja di sana. Ada uang Singapura yang diinvestasikan sehingga membuka banyak lapangan kerja di Indonesia. Kalau hubungan menjadi buruk, kemungkinan kerja sama  yang positif bisa terganggu, bahkan berantakan. Itu merugikan semuanya.

Kalau ditolak masuk Singapura, tegar dan tunjukkan harga diri yang tinggi saja. Jangan pedulikan lagi mereka jika kita tidak mau mengikuti keinginan mereka. Kabar terakhir UAS menyatakan bahwa dia tidak peduli lagi disebut apa pun dan dituduh apa pun oleh Singapura. Dia akan tetap konsisten berdakwah. Nah, itu sikap yang sangat hebat, tidak cengeng, tetapi punya harga diri. Begitulah seharusnya.

Abdul Somad jangan lagi berharap masuk ke Singapura, apalagi dia telah mengatakan bahwa Singapura adalah negara kafir dan bisa tenggelam jika dikencingi oleh kita semua. Itu perkataan Somad yang pasti membuat sakit hati sekaligus marah Singapura. Mereka pasti tahu itu dan mencatatnya. Akibatnya, Somad mungkin akan ditolak selamanya, saya tidak tahu. Hal yang jelas adalah berani berbuat, harus berani pula bertanggung jawab.

Singapura memang cukup sensitif dalam hal ini. Negara ini bisa menolak atau mengusir orang biasa sekalipun. Pernah pemimpin tim sukses Ahok dulu ditolak masuk ke Singapura juga. Mungkin Singapura tidak ingin negaranya digunakan rapat-rapat politik negara lain. Orang yang tidak terkenal pun sangat mungkin mereka tolak. Itu hak mereka.

Saya juga mungkin orang yang dicatat mereka untuk ditolak masuk Singapura, saya tidak tahu. Mungkin mereka juga memperhatikan saya yang berkali-kali menulis kritikan terhadap Singapura dan dibaca seluruh dunia, statistiknya ada di blog. Saya mengkritik keras Singapura karena negara mereka seolah-olah adalah surga bagi para koruptor Indonesia. Para koruptor banyak yang berlarian kabur ke Singapura dan kelihatannya mereka nyaman di sana. Aparat penegak hukum kita tidak memiliki kekuasaan apa pun di Singapura, sementara itu Singapura pun tampaknya membiarkan mereka di negaranya. Singapura justru seolah-olah menikmati kehadiran para koruptor itu karena mereka jelas pasti mengeluarkan uangnya di sana dan menjadi pendapatan bagi Singapura. Tak tampak ada itikad baik Singapura untuk mempermudah penangkapan koruptor Indonesia oleh penegak hukum Indonesia.

Saya beneran tidak tahu, saya juga mungkin akan ditolak Singapura. Saya belum tahu karena kebetulan saja berkali-kali hendak ke Singapura selalu gagal. Beberapa kali teman-teman saya mengajak rapat di Singapura untuk keperluan bisnis, tetapi nggak pernah jadi. Pada tahun ini pun, 2022, rencananya ke Singapura bersama murid-murid saya, mahasiswa Prodi Hubungan Internasional, Fisip, Universitas Al Ghifari. Para mahasiswa sudah menitipkan uangnya kepada saya dengan cara menabung sejak 2020. Akan tetapi, karena situasi pandemi Covid-19, saya tidak yakin apakah bisa mengajak para mahasiswa untuk berkunjung ke Universitas Nasional Singapura atau tidak. Akibatnya, saya kembalikan uang mereka agar mereka pergunakan untuk hal lain sesuai dengan keperluan mereka. Jadi, saya beneran tidak tahu apakah akan ditolak atau diterima Singapura.

Kalaupun saya bersama rombongan mahasiswa Universitas Al Ghifari ditolak masuk Singapura, paling saya pulang lagi saja. Biarkan saja para mahasiswa dibimbing dosen lain selama di Singapura untuk study visit. Mereka menolak saya, biarkan saja, mungkin mereka tersinggung karena kritikan keras saya terhadap mereka. Berani berbuat, berani bertanggung jawab. Saya tidak akan protes. Paling pada periode berikutnya saya akan mengajak para mahasiswa untuk ke negara lain, misalnya, ke Vietnam mengunjungi Universitas Ho Chi Minh, Thailand, atau Malaysia. Tidak akan ke Singapura.

Buat apa ke Singapura?

Mereka tidak menyukai saya, buat apa memaksa mereka untuk menerima saya?

Malu-maluin saja.

Tegar saja.

Itu juga kalau memang ditolak. Kalau tidak, ya syukurlah.

Begitu juga dengan Abdul Somad, tidak perlu Curhat atau mengadu lagi di Medsos hingga menimbulkan kekecewaan dan kemarahan pendukungnya. Jangan berharap lagi untuk masuk Singapura, toh sudah ditolak. Kalau mau ulang tahun, di Indonesia saja, banyak yayasan yatim piatu dan yayasan orang jompo yang bisa dijadikan tempat untuk ulang tahun, seperti yang UAS ajarkan sendiri.

Sampurasun.

Saturday, 21 May 2022

Memahami Penolakan Singapura terhadap Somad

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Memalukan, malu-maluin, “ngerakeun”, nggak punya etika. Sudah ditolak masuk rumah orang lain, malah protes, marah, kan memalukan. Saya dan kita semua punya aturan sendiri tentang siapa yang boleh masuk rumah dan tidak tidak boleh masuk rumah kita. Orang mau protes, boleh saja, tetapi memalukan. Rumah saya ya gimana saya saja.

            Paling saya bilang, “’Cageur maneh?’ Saya larang masuk rumah, maksa. Memangnya rumah nenek lu?”

            Sudah saya bilang kan Singapura itu rumah punya orang lain, rumah punya orang Singapura. Kalau memang kita orang Islam, seharusnya punya etika yang lebih baik tentang bertamu ke tempat orang lain.

            Ngaji aja terus-terusan, entah apa yang diajinya, adab dan etika saja tidak paham.

            Keluarga saya paham tentang siapa saja yang boleh dan tidak boleh masuk ke properti saya. Saya tidak pernah melarang istri atau anak saya untuk mempersilakan orang-orang baik ke rumah saya, mau itu memancing di empang, mau itu memanjat dan mengambil jambu di kebun, singkong, lengkeng, pisang, main play station, belajar kelompok, atau yang lainnya. Akan tetapi, saya melarang untuk mempersilakan masuk orang-orang yang tidak jelas atau punya rekam yang jelek, misalnya, bicaranya kasar, tidak sopan, apalagi kalau pernah mencuri di rumah orang lain. Saya tidak senang dan tidak tenang jika ada orang-orang yang tidak baik di rumah karena saya harus mengontrol mereka lagi ngapain dan selalu gelisah khawatir terjadi apa-apa.

            Nah, begitu pula dengan Singapura dan negara lain juga sebetulnya. Mereka punya aturan sendiri tentang siapa yang boleh masuk, yang harus ditolak, dan siapa yang harus diusir. Itu properti mereka, rumah mereka, hak mereka. Kita tidak punya hak apa pun.

            Kalau ada yang bilang Somad atau yang dikenal dengan Ustadz Abdul Somad (UAS) adalah orang yang mulia dan terhormat, memang siapa yang menghormati dia?

            Mereka yang menganggap Somad adalah orang mulia dan terhormat adalah para pendukungnya, tetapi tidak bagi Singapura. Dalam pandangan Singapura Somad adalah pengganggu yang membahayakan.

            Dalam kehidupan sehari-hari pun begitu kan?

            Preman pasar, preman terminal, pengedar Narkoba, pemerkosa, penjahat, perampok pun adalah manusia terhormat di kalangan mereka sendiri. Akan tetapi, tidak di kalangan luar mereka. Bagi orang lain, mereka mungkin akan dianggap sampah. Itu kenyataannya.

            Kita tidak bisa memaksa orang lain menghormati seseorang atau sesuatu yang kita hormati.

            Singapura adalah negara yang punya pengalaman buruk soal agama. Negara kecil itu penduduknya beragama mayoritas Budha. Rakyat mereka pernah terkotak-kotak, bergesekan, berselisih soal agama. Mereka terpecah-pecah berdasarkan agamanya dan membahayakan persatuan di negara itu. Bahkan, kondisi itu cenderung menimbulkan konflik dan tawuran di antara penduduk yang berbeda agama. Mereka tidak senang dengan kondisi seperti itu. Oleh sebab itu, mereka mengatasinya dengan cara menghapuskan pelajaran agama di sekolah-sekolah, agama apa pun. Pelajaran agama hanya diperbolehkan diajarkan di tempat-tempat ibadat dan di rumah-rumah.

            Manusia yang berprestasi bagi mereka adalah bukan orang yang taat menjalankan agama, melainkan mampu menghasilkan keuntungan ekonomi yang maksimal. Agama tidak penting, uang sangat penting dan utama bagi mereka. Begitulah mereka dan kita harus menghormati mereka karena kita tidak memiliki hak untuk memaksa mereka agar berubah. Setiap manusia berhak atas keputusannya sendiri.

            Karena pernah punya pengalaman buruk dan rakyatnya hampir tercerai-berai  gara-gara perbedaan agama, mereka menolak siapa pun yang dianggap orang yang berpotensi mengganggu kehidupan mereka. Bukan hanya orang Islam yang mereka tolak, orang Kristen yang menghina Islam pun mereka tolak. Bahkan, para rahib, bhiksu atau pendeta Budha dari Myanmar yang memprovokasi umat agar melakukan pembunuhan kaum muslim Rohingya di Provinsi Rakhine, Myanmar pun ditolak karena meskipun Singapura beragama mayoritas Budha, hal itu akan membahayakan kehidupan rakyat Singapura.

            Begitulah pandangan mereka. Salah atau benar menurut kita, itu pendapat mereka. Negara itu punya pendapat sendiri. Kita punya pendapat sendiri. Setiap negara dan setiap orang harus menghormati perbedaan itu. Kalau tidak, konflik jadinya.

            Sampai sini paham, Bro, Sis, Dru … eh salah … Jang, Nyi, Ndho, Mang, Kang, Mas, Uda, Uni, Ceu, Neng, Mblo?

            Mudah-mudahan paham.

            Begitulah Ustadz Abdu Somad ditolak masuk rumah mereka karena pada dasarnya mereka ingin tenang dan damai sesuai dengan pandangan mereka sendiri. Abdul Somad bagi mereka adalah orang yang bisa menimbulkan segregasi, perpecahan, dan kerusakan bagi rakyat Singapura.

            Bagi pendukungnya, Somad adalah orang terhormat. Akan tetapi, Singapura tidak menghormatinya dan tidak memperbolehkan masuk ke pekarangan rumah mereka.

            Paham, ngertos, ngarti teu?

            Teu ngarti, ngacung.

            Sampurasun.

Thursday, 19 May 2022

Singapura Itu Rumah Milik Orang Lain

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Penolakan Singapura terhadap Abdul Somad yang dikenal dengan panggilan UAS, jadi berita viral, lumayan seru, padahal bukan hal yang penting. Kejadian seperti itu mah biasa di negara mana-mana juga. Ada orang yang diperbolehkan masuk, ada yang ditolak, biasa saja, di seluruh dunia terjadi hal seperti itu.

            Cara memahaminya sederhana saja. Kita punya rumah, lalu ada orang datang ke rumah kita, terserah kita mau menerima, mempersilakan masuk, membiarkannya di luar, atau mengusirnya. Itu hak kita. Alasan kita bisa bermacam-macam, terserah kita saja. Alasannya mau kita kasih tahu atau tidak, itu terserah kita. Hal itu disebabkan kita yang punya rumah, kita yang berkuasa.

            Kalau dia ngotot masuk rumah kita meskipun sudah diusir, kita boleh melakukan hal yang lebih tegas kepadanya karena kita mulai menganggapnya bahaya. Kita juga bisa meneriakinya sebagai maling supaya tetangga berdatangan mengusir atau memukuli orang itu. Bahkan, kita bisa lapor polisi supaya orang itu ditangkap. Kita berhak merasa tidak aman dengan orang itu.

            Mudah kan memahaminya?

            Mudah atuh masa enggak.

            Singapura adalah rumah bagi warga Singapura. Terserah mereka mau menerima atau menolak siapa saja. Itu rumah dan negara mereka. Indonesia juga begitu, milik rakyat Indonesia. Terserah kita mau menerima siapa, menolak siapa, atau mengusir siapa.

            Kalau kita ditolak di rumah orang, jangan maksa, malu-maluin saja. Pergilah dengan percaya diri sebagai manusia yang waras, berwibawa, dan punya harga diri. Kalau maksa-maksa terus, berarti sudah tidak waras, tidak punya wibawa, dan tidak punya harga diri.

Kalau ditolak cinta, tenanglah, masih banyak cinta yang bisa kita datangi. Kalau ngotot pengen Si Doi terus, berusalah untuk melakukan hal-hal yang disukai dia dan menyenangkan dia. Kalau pengen ke Singapura, berusalah berperilaku seperti yang disukai Singapura.

Paham, Bro, Sis, Drun?

Sampurasun.

Wednesday, 26 January 2022

Singapura Tak Lagi Jadi Surga Koruptor

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Orde baru atau zamannya Presiden Soeharto dijatuhkan oleh gerakan reformasi karena di dalam pemerintahannya terjadi pembungkaman suara-suara kritis dan teror terhadap aktivis. Di samping itu, masa itu adalah masa maraknya perilaku korupsi, kolusi, dan nepotisme yang disingkat KKN.

            Ketika orde baru jatuh, muncul orde reformasi pada 1998 yang berupaya memburu para koruptor dan penjahat negara. Upaya perburuan para koruptor beserta uang hasil korupsinya itu mendapatkan halangan atau batu sandungan yang sangat besar dan menyulitkan hingga saat ini. Hal itu disebabkan para koruptor mendapatkan surga yang indah, yaitu Negara Singapura. Para koruptor berlarian ke Singapura bersama uang-uangnya, sementara pemerintah Indonesia kesulitan menangkap mereka karena Singapura bukanlah wilayah hukum Indonesia dan tidak mempunyai perjanjian ekstradisi dengan Indonesia. Para koruptor nyaman di Singapura sambil merancang langkah-langkah berikutnya untuk menghindari dan melawan hukum Indonesia.

            Akan tetapi, mulai tahun ini, 2022, para koruptor tidak lagi dapat menjadikan Singapura sebagai surga karena sudah sepakat menandatangani perjanjian ekstradisi. Indonesia bisa meminta Singapura untuk menyerahkan para koruptor yang bersembunyi untuk ditangkap dan diadili di Indonesia. Demikian pula sebaliknya, Singapura dapat meminta Indonesia untuk menangkap dan menyerahkan koruptor Singapura yang bersembunyi di Indonesia. Kini kedua negara sudah sangat paham bahwa keterbukaan dan perang melawan koruptor harus dilakukan bersama-sama.

            Kita harus angkat dua jempol buat Indonesia dan Singapura untuk bersama-sama memerangi tindakan korupsi sehinngga kemajuan negara dapat lebih cepat lagi dapat dirasakan rakyat. Saya sangat percaya pendapat Menteri Keuangan RI Sri Mulyani bahwa ada dua hal yang menghambat Indonesia mencapai kemakmurannya, yaitu korupsi dan pendidikan yang buruk. Jika korupsi dapat terus diberantas hingga minimal, langkah untuk menjadi negara yang sukses dengan rakyat yang bahagia dapat lebih mudah untuk dicapai. Indonesia-Singapura harus terus bersahabat memakmurkan negaranya masing-masing.

            Sampurasun

Monday, 13 January 2020

Biasakan Hidup dalam Anarki


oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Anarki sendiri memiliki pengertian suatu “kehidupan yang tidak ada pemerintahan”. Orangnya sendiri disebut anarkis.

            Dalam suatu kehidupan yang memiliki sistem pemerintahan, tentu saja kita tidak boleh anarkis. Kita wajib patuh pada pemerintahan di mana saja kita hidup. Jika kita tidak setuju pada sistem pemerintahan di tempat kita hidup, kita bisa pindah ke tempat lain yang memiliki sistem pemerintahan yang kita setujui. Bisa pula kita membentuk sistem pemerintahan sendiri di tempat yang belum ada sistem pemerintahan apa pun. Selama kita hidup di tempat yang sudah ada sistem pemerintahan, harus patuh pada sistem yang ada. Jika berupaya mengganti sistem pemerintahan dengan cara radikal, kita akan dianggap musuh sistem karena akan menimbulkan suasana anarki. Kalaupun mau mengubah, bisa dilakukan dengan cara “gradual”, bertahap, mengalir sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

            Sistem kehidupan yang sampai sekarang tidak memiliki sistem pemerintahan adalah hubungan internasional. Tidak ada suatu sistem tertentu yang dapat memerintah seluruh dunia. Setiap negara tidak pernah bersedia diatur oleh negara lain. Hal itu disebabkan setiap negara memiliki kepentingannya masing-masing dan memiliki ego masing-masing pula. Tak ada satu pun negara yang mau didikte negara lain. Indonesia tidak mau didikte Cina, Amerika Serikat, Eropa, atau negara mana pun. Demikian pula negara lain, tidak ada yang mau didikte Indonesia. Singapura, misalnya, meskipun itu negara kecil dan mudah dikalahkan dengan mengerahkan orang-orang Garut saja untuk menyerang, tidak akan pernah mau patuh pada Indonesia. Hal yang sama pun Indonesia tidak dapat petantang-petenteng terhadap Myanmar yang telah melakukan genosida pada Rohingya di Provinsi Rakhine. Meskipun Indonesia adalah negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar sedunia, tidak dapat mengatur atau mendikte Myanmar. Kalaupun ada sebuah negara mendikte negara lain, bisa timbul konflik besar dan bencana kemanusiaan.

            Kita harus membiasakan diri dan memahami bahwa pergaulan dunia ini adalah anarki, tidak berpemerintahan. Dengan demikian, hal yang terbaik dilakukan dalam pergaulan internasional adalah membangun kesepahaman dan saling pengertian dengan menggunakan nilai-nilai yang universal berlaku di seluruh dunia. Meskipun demikian, setiap negara harus tetap meningkatkan kekuatan militernya untuk bersiap-siap menghadapi perang yang bisa terjadi kapan saja. Hal itu disebabkan kita tidak pernah tahu bahwa setiap negara akan selamanya saling menghormati. Sangat mungkin mereka sekarang diam, tetapi pada waktu yang lain berulah untuk menguasai kita. Contoh nyata adalah perilaku yang ditampakkan Cina terhadap Indonesia yang mencoba menguasai Laut Natuna Utara. Meskipun banyak terjadi kerja sama yang baik dengan Indonesia, Cina mencoba mendesakkan keinginannya untuk berkuasa. Mereka bertingkah seperti itu karena merasa kekuatan militernya sangat kuat dan mampu meluaskan wilayah sekehendaknya.

            Dalam sistem pergaulan yang anarki ini kita harus paham dan terbiasa bahwa kita wajib tetap menjaga kerja sama yang positif, tetapi tetap meningkatkan kewaspadaan dengan terus meningkatkan kekuatan militer karena tak ada satu pun kekuasaan dunia yang dapat mengatur dan mendamaikan seluruh negara di muka Bumi ini.

            Sampurasun.

Monday, 25 April 2016

Indonesia Harus Menekan Singapura

oleh Tom Finaldin

Bandung, Putera Sang Surya

Negara sebesar Indonesia sepertinya mati kutu menghadapi negara kutu sekecil Singapura dalam hal mengembalikan para penjahat korup ke Indonesia.

            Apa susahnya sih?

            Saya hanya berpikir sederhana sebagai orang yang sederhana. Selama ini alasan Singapura tidak menjalankan perjanjian ekstradisi yang pernah disepakati dengan Indonesia hanyalah “dibuat-buat” dan diupayakan oleh orang-orang Indonesia juga agar rakyat “mengerti atau memahami” sulitnya Singapura mengembalikan para koruptor ke Indonesia. Alasannya memang bisa macam-macam. Terakhir, alasan Singapura tidak mengembalikan para pencuri itu adalah arti koruptor di Indonesia tidak sama dengan arti koruptor di Singapura. Maksudnya, Singapura tidak akan mengembalikan para koruptor karena apa yang disebut perilaku korup di Indonesia tidak sama dengan di Singapura.

            Ini alasan yang aneh. Saya merasakan Singapura mulai mengintervensi kedaulatan hukum Indonesia. Urusan hukum Indonesia terhadap para koruptor ya urusan Indonesia, tak perlu campur tangan negara lain. Apa yang kita sebut korup ya urusan kita. Kalau Indonesia memaklumi alasan aneh Singapura itu, sesungguhnya kita membiarkan orang lain merendahkan kedaulatan hukum Indonesia. Itu sangat tidak baik. Singapura itu suka aneh-aneh memang. Dulu mereka mau mengembalikan koruptor asal diberi tempat untuk latihan militer. Itu kan alasan aneh juga.

            Apa pun alasannya, sesungguhnya Singapura itu berupaya melindungi para koruptor karena para koruptor itu banyak uang dan bisa banyak belanja di sana. Itu adalah keuntungan buat Singapura. Apalagi kalau para koruptor itu berinvestasi di sana, Singapura semakin mendapatkan keuntungan yang besar. Paling tidak, ada sekitar 800 triliun investasi orang Indonesia di Singapura. Artinya, Indonesia berperan besar memberikan kehidupan pada Singapura.

            Di samping mendapatkan keuntungan dari investasi orang-orang Indonesia, Singapura pun banyak mendapatkan keuntungan dari hal lainnya, misalnya, reklamasi dan peluasan pantai. Tanah-tanah atau pasir-pasir yang digunakan mereka untuk reklamasi dan peluasan pantai pun berasal dari Indonesia. Belum lagi dari sektor pariwisata dan kunjungan lainnya, mereka mendapatkan untung besar.

            Sesungguhnya, jika mau lebih serius memerangi korupsi dan menangkap koruptor di Singapura, Indonesia bisa memperhitungkan kelemahan dan kekuatan kita melawan Singapura.

            Kita harus memahami siapa yang memiliki tingkat ketergantungan yang lebih tinggi, Indonesia terhadap Singapura ataukah Singapura terhadap Indonesia?

            Kalaulah ternyata Singapura lebih bergantung kepada Indonesia, itu artinya kita sangat mudah untuk menekan Singapura agar mengembalikan para koruptor. Sangat aneh jika sudah paham bahwa Singapura bergantung kepada Indonesia, tetapi Indonesia tidak berbuat banyak untuk menekan Singapura.

            Kalaulah ternyata Indonesia yang lebih banyak bergantung hidup pada Singapura, coba identifikasi dalam hal apa saja kita bergantung pada mereka, lalu lepaskan ketergantungan itu.

            Bukankah kita ingin mandiri?

            Lagian, sebesar apa sih Indonesia bergantung pada Singapura?

            Soal apa sih?

            Pelabuhan Singapura lebih bagus dan lebih besar?

            Kita kan bisa membuat yang lebih bagus.

            Rumah sakitnya lebih bagus?

            Yang saya dengar sih tidak begitu. Secara keilmuan, para dokter di Indonesia malah banyak yang lebih bagus. Bedanya hanya dalam hal pelayanan. Pelayanan mereka memang lebih menyenangkan, baik dokter, perawat, maupun sarana dan prasarananya.

            Lalu, apalagi yang membuat kita sulit menekan Singapura?

            Saya sangat khawatir bahwa kita tidak bisa menekan Singapura karena ada segelintir pejabat Indonesia yang “tidak mau” membuat tekanan itu karena punya banyak kepentingan pribadi di sana. Sebagai bangsa, sebenarnya tidak perlu seperti itu.

            Kita sebenarnya bisa melakukan tekanan, misalnya, moratorium terhadap investasi orang Indonesia di Singapura, moratorium TKI, moratorium kunjungan wisata, kesehatan, pendidikan, dan bisnis-bisnis lainnya dengan Singapura. Moratorium itu harus dilakukan sepanjang Singapura tidak mau serius mengembalikan para koruptor ke Indonesia. Di samping itu, kita pun bisa melakukan tekanan-tekanan lainnya. Jika kita berani, Singapura akan mengalami kerugian yang tidak sedikit. Kita bisa melihat langkah Menteri Susi Pudjiastuti yang memberlakukan moratorium hasil penangkapan ikan yang mampu meningkatkan pendapatan ikan dalam negeri dan membuat rugi perusahaan asing, khususnya Cina. Dalam hal ini pun, kita tidak perlu ragu membuat Singapura rugi jika mereka “memelihara” para pencuri uang Indonesia untuk kepentingan negerinya.

            Mengapa kita tidak berani melakukan tekanan yang bisa membuat Singapura rugi?

            Takut?

            Kalaulah memerangi korupsi adalah bagian dari jihad dan memang begitulah seharusnya, ingat kata-kata Allah swt, “Jika kamu merasakan sakit, sesungguhnya mereka juga merasakan sakit.”

            Maksudnya, kalau mau serius berjihad menekan Singapura agar mengembalikan para pencuri itu, kita akan mendapatkan kerugian. Akan tetapi, Singapura pun akan merasakan kerugian yang sama, bahkan lebih rugi dibandingkan Indonesia.

            Masalahnya, siapa yang lebih kuat berkorban untuk kepentingan negerinya sendiri, Indonesia atau Singapura?

            Pengorbanan memang harus dilakukan, seperti yang sering diulang-ulang oleh Pemimpin Besar Revolusi Indonesia Ir. Soekarno, “No sacrifice is wasted.”

            Tak ada pengorbanan yang sia-sia. Hasil yang kita dapatkan adalah sebesar pengorbanan yang kita berikan.

            Pemerintah harus menekan Singapura. Di samping itu, elemen-elemen bangsa yang lain beserta masyarakat jangan terus-terusan pula jadi agen iklan gratis bagi Singapura. Sangat sering media-media di Indonesia, baik cetak maupun elektronik memuja-muji keindahan dan situasi di Singapura, padahal Singapura memakan uang-uang Indonesia yang dibelanjakan para koruptor di sana. Rakyat pun demikian, sangat banyak yang mengiklankan Singapura secara dari mulut ke mulut yang entah benar, entah tidak, padahal dibayar juga enggak sama Singapura.

            Pemerintah dan rakyat seluruhnya harus menekan Singapura dan berhenti jadi agen promosi gratis bagi Singapura. Kita punya keinginan agar Singapura menghormati Indonesia dengan mengembalikan para pencuri kotor itu.

            Begitu seharusnya.