Showing posts with label Agama. Show all posts
Showing posts with label Agama. Show all posts

Sunday, 28 August 2022

Jualan Agama

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Ini sudah memasuki tahun politik, sudah mulai lagi banyak orang yang menggunakan agama untuk tujuan politik dan ekonomi. Politik dan ekonomi adalah dua hal yang tidak terpisahkan. Kekuatan politik akan menghasilkan kekuatan ekonomi. Demikian pula kekuatan ekonomi membentuk kekuatan politik.

            Kita mungkin masih ingat ketika terjadi keriuhan kampanye Pilkada DKI dan Pilpres yang lalu. Sangat banyak beredar istilah keagamaan yang digunakan dalam politik, misalnya, “Partai Neraka, Partai Surga, Pemimpin Kafir, Pemimpin Zhalim, Pemimpin Calon Penghuni Surga, ulama kita, ulama kalian, ulama mereka, ulama su” yang diarahkan pada saingan politiknya. Lebih celaka lagi, umat terbelah dan menimbulkan kekisruhan, konflik, persekusi, dan pertengkaran. Padahal, itu terjadi di antara umat Islam sendiri. Itu adalah sebagian kecil yang terjadi. Kalau mau lebih detil, saya bisa menulisnya lebih panjang.

            Bagi saya, mereka yang melakukan hal itu adalah penghina dan penista agama yang sesungguhnya. Mereka menjatuhkan martabat Islam yang saya peluk menjadi barang dagangan murahan. Oleh sebab itu, saya dan orang-orang lain seperti saya merasa kesal dan marah. Kita harus mengembalikan pemahaman Islam pada rel yang benar, yaitu berdasarkan Al Quran dan Hadits Nabi saw. Siapa pun orangnya kalau berbicara tentang Islam, dasarnya harus yang dua itu. Kalau terjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama, kita bisa memilih mana pendapat yang benar menurut kita, tidak perlu ada pertengkaran.  

            Masih ingat nama Buni Yani?

            Dia adalah orang pertama yang menghebohkan dan dianggap memotong kata-kata Ahok di Kepulauan Seribu sehingga menimbulkan kegaduhan dan membuat Ahok atau Basuki Tjahaja Purnama masuk penjara. Buni Yani sendiri masuk penjara atas perilakunya.

            Pada akhirnya, Buni Yani mengatakan, "Jual agama itu paling gampang, maklum rakyatnya masih bego2 gampang ditipu."

            Saya menafsirkan kata-katanya itu adalah bahwa menggunakan agama untuk kepentingan politik di Indonesia adalah paling mudah karena rakyat Indonesia masih bego dan bodoh sehingga gampang ditipu. Bodoh soal politik dan bodoh soal agama. Itu kata-kata Buni Yani lho, bukan kata saya. Kalau marah, marahlah sama dia, bukan sama saya.

            Apa yang dikatakan Buni Yani sesungguhnya sudah mirip dengan yang dikatakan seorang pemikir muslim Ibnu Rusyd, yaitu, Jika ingin menguasai orang bodoh, bungkuslah sesuatu yang batil dengan agama.”

            Gambar Ibnu Rusyd saya dapatkan dari yahyasukardi on Twitter.

            Kita sudah menyaksikan bagaimana agama yang digunakan untuk politik ternyata merusakkan umat. Suriah, Libya, dan Irak adalah contoh ekstrim yang rusak akibat penggunaan agama untuk kepentingan politik. Demikian pula agama digunakan untuk kepentingan ekonomi, misalnya, mengumpulkan dana umat dengan alasan keagamaan dan sosial, tetapi kenyataannya digunakan untuk membiayai tiga istrinya dan hidup bermewah-mewah. Bahkan, dana milik ahli waris korban kecelakaan diduga digunakannya pula secara menyeleweng.

            Berhati-hatilah dengan para penjual agama itu dan kalau mampu, lawanlah agar martabat Islam dikembalikan pada tempat yang mulia sebagaimana seharusnya, yaitu menjadi rahmatan lil alamin yang menyenangkan, menyamankan, dan menyelamatkan seluruh alam semesta.

            Sampurasun.

Saturday, 21 May 2022

Memahami Penolakan Singapura terhadap Somad

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Memalukan, malu-maluin, “ngerakeun”, nggak punya etika. Sudah ditolak masuk rumah orang lain, malah protes, marah, kan memalukan. Saya dan kita semua punya aturan sendiri tentang siapa yang boleh masuk rumah dan tidak tidak boleh masuk rumah kita. Orang mau protes, boleh saja, tetapi memalukan. Rumah saya ya gimana saya saja.

            Paling saya bilang, “’Cageur maneh?’ Saya larang masuk rumah, maksa. Memangnya rumah nenek lu?”

            Sudah saya bilang kan Singapura itu rumah punya orang lain, rumah punya orang Singapura. Kalau memang kita orang Islam, seharusnya punya etika yang lebih baik tentang bertamu ke tempat orang lain.

            Ngaji aja terus-terusan, entah apa yang diajinya, adab dan etika saja tidak paham.

            Keluarga saya paham tentang siapa saja yang boleh dan tidak boleh masuk ke properti saya. Saya tidak pernah melarang istri atau anak saya untuk mempersilakan orang-orang baik ke rumah saya, mau itu memancing di empang, mau itu memanjat dan mengambil jambu di kebun, singkong, lengkeng, pisang, main play station, belajar kelompok, atau yang lainnya. Akan tetapi, saya melarang untuk mempersilakan masuk orang-orang yang tidak jelas atau punya rekam yang jelek, misalnya, bicaranya kasar, tidak sopan, apalagi kalau pernah mencuri di rumah orang lain. Saya tidak senang dan tidak tenang jika ada orang-orang yang tidak baik di rumah karena saya harus mengontrol mereka lagi ngapain dan selalu gelisah khawatir terjadi apa-apa.

            Nah, begitu pula dengan Singapura dan negara lain juga sebetulnya. Mereka punya aturan sendiri tentang siapa yang boleh masuk, yang harus ditolak, dan siapa yang harus diusir. Itu properti mereka, rumah mereka, hak mereka. Kita tidak punya hak apa pun.

            Kalau ada yang bilang Somad atau yang dikenal dengan Ustadz Abdul Somad (UAS) adalah orang yang mulia dan terhormat, memang siapa yang menghormati dia?

            Mereka yang menganggap Somad adalah orang mulia dan terhormat adalah para pendukungnya, tetapi tidak bagi Singapura. Dalam pandangan Singapura Somad adalah pengganggu yang membahayakan.

            Dalam kehidupan sehari-hari pun begitu kan?

            Preman pasar, preman terminal, pengedar Narkoba, pemerkosa, penjahat, perampok pun adalah manusia terhormat di kalangan mereka sendiri. Akan tetapi, tidak di kalangan luar mereka. Bagi orang lain, mereka mungkin akan dianggap sampah. Itu kenyataannya.

            Kita tidak bisa memaksa orang lain menghormati seseorang atau sesuatu yang kita hormati.

            Singapura adalah negara yang punya pengalaman buruk soal agama. Negara kecil itu penduduknya beragama mayoritas Budha. Rakyat mereka pernah terkotak-kotak, bergesekan, berselisih soal agama. Mereka terpecah-pecah berdasarkan agamanya dan membahayakan persatuan di negara itu. Bahkan, kondisi itu cenderung menimbulkan konflik dan tawuran di antara penduduk yang berbeda agama. Mereka tidak senang dengan kondisi seperti itu. Oleh sebab itu, mereka mengatasinya dengan cara menghapuskan pelajaran agama di sekolah-sekolah, agama apa pun. Pelajaran agama hanya diperbolehkan diajarkan di tempat-tempat ibadat dan di rumah-rumah.

            Manusia yang berprestasi bagi mereka adalah bukan orang yang taat menjalankan agama, melainkan mampu menghasilkan keuntungan ekonomi yang maksimal. Agama tidak penting, uang sangat penting dan utama bagi mereka. Begitulah mereka dan kita harus menghormati mereka karena kita tidak memiliki hak untuk memaksa mereka agar berubah. Setiap manusia berhak atas keputusannya sendiri.

            Karena pernah punya pengalaman buruk dan rakyatnya hampir tercerai-berai  gara-gara perbedaan agama, mereka menolak siapa pun yang dianggap orang yang berpotensi mengganggu kehidupan mereka. Bukan hanya orang Islam yang mereka tolak, orang Kristen yang menghina Islam pun mereka tolak. Bahkan, para rahib, bhiksu atau pendeta Budha dari Myanmar yang memprovokasi umat agar melakukan pembunuhan kaum muslim Rohingya di Provinsi Rakhine, Myanmar pun ditolak karena meskipun Singapura beragama mayoritas Budha, hal itu akan membahayakan kehidupan rakyat Singapura.

            Begitulah pandangan mereka. Salah atau benar menurut kita, itu pendapat mereka. Negara itu punya pendapat sendiri. Kita punya pendapat sendiri. Setiap negara dan setiap orang harus menghormati perbedaan itu. Kalau tidak, konflik jadinya.

            Sampai sini paham, Bro, Sis, Dru … eh salah … Jang, Nyi, Ndho, Mang, Kang, Mas, Uda, Uni, Ceu, Neng, Mblo?

            Mudah-mudahan paham.

            Begitulah Ustadz Abdu Somad ditolak masuk rumah mereka karena pada dasarnya mereka ingin tenang dan damai sesuai dengan pandangan mereka sendiri. Abdul Somad bagi mereka adalah orang yang bisa menimbulkan segregasi, perpecahan, dan kerusakan bagi rakyat Singapura.

            Bagi pendukungnya, Somad adalah orang terhormat. Akan tetapi, Singapura tidak menghormatinya dan tidak memperbolehkan masuk ke pekarangan rumah mereka.

            Paham, ngertos, ngarti teu?

            Teu ngarti, ngacung.

            Sampurasun.

Tuesday, 8 February 2022

Koalisi Ulama Lucu

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Ada grup baru ulama yang bikin ketawa melaporkan Jenderal Dudung ke Pusat Polisi Militer TNI AD (Puspomad). Mereka lapor karena Dudung dianggap telah menistakan agama dengan pernyataannya, ‘Tuhan Kita Bukan Orang Arab’.

            Ayat apa yang dinista Dudung dengan kalimat itu?

            Ajaran yang mana?

            Tuhan kan memang bukan orang Arab, bukan orang Indonesia, bukan orang Amerika Serikat, bukan orang Eropa, bukan orang Israel, iya kan?

            Kalau kalimat ‘Tuhan bukan orang Arab’ dianggap salah, berarti yang benar yaitu ‘Tuhan adalah orang Arab’, begitukah?

            Bisa kan membedakan antara kalimat ‘Tuhan bukan orang Arab’ dengan kalimat ‘Tuhan adalah orang Arab’?

            Kalau tidak bisa, tanya anak-anak SMP. Mereka pasti tahu. Jangan ngelawak aja.

            Hal yang bikin ketawa yang kedua adalah mereka melaporkan Jenderal Dudung ke Puspomad. Saya kasih tahu ya, Puspomad itu adalah anak buah Dudung. Kok enggak mikir, melaporkan pejabat tinggi ke anak buahnya. Itu ibarat melaporkan kepala sekolah ke guru matematika, kan bodor.

            Bisa melakukan apa guru matematika terhadap kepala sekolah?

            Kalau mau melaporkan Dudung, ya ke atasannya dong, ke Panglima Andika Perkasa atau Presiden Jokowi.

            Dudung tahu bahwa dirinya dilaporkan kepada anak buahnya. Segera saja Dudung menginstruksikan Puspomad untuk menerima laporan itu, kemudian setiap orang yang tergabung dalam koalisi ulama itu harus difoto seorang-seorang agar dapat dicek siapa sebenarnya orang-orang itu.

            Nah, kelucuan ketiga yang bikin ketawa adalah tentang diri orang yang katanya ulama itu.

            Siapakah sih mereka itu?

            Kok berani-beraninya mengatakan diri sebagai grup ulama?

            Ulama mana? Apa prestasinya? Telah melakukan kebaikan apa kepada umat? Sehebat apa sih ilmunya?      

            Gampang banget menyatakan diri sebagai ulama, padahal kita enggak tahu ulama apaan sih mereka?

            Ulama-ulama hebat dari NU, ulama-ulama cerdas dari Muhammadiyah, ulama-ulama  tegas dari Persis tidak ada yang meributkan soal perkataan Jenderal Dudung. Mereka biasa-biasa saja. Padahal, yang namanya NU, Muhammadiyah, atau Persis itu organisasi besar yang umatnya jelas banyak, kiprahnya terlihat, jasanya bagi pendidikan dan sosial juga sudah ada sejak dulu.

            Ini ada grup yang baru datang kemarin sore yang tidak jelas jasanya bagi bangsa dan negara sudah ngaku-ngaku koalisi ulama. Oleh sebab itu, tidak heran Jenderal Dudung meminta mereka diminta satu per satu untuk diselidiki siapa mereka itu. Dudung saja yang berasal dari keluarga santri tidak mengenal mereka, apalagi saya.

            Dulu saya tidak setuju dengan adanya sertifikasi pendakwah atau penceramah. Sekarang mah saya setuju banget bahwa pendakwah itu harus punya sertifikat supaya jelas kelimuannya, pengalamannya, prestasinya, karyanya, dan pengembangan dirinya; seperti saya dan teman-teman dosen lain yang harus memiliki Nomor Induk Dosen Nasional dan harus terus berkarya sekaligus mengembangkan diri sehingga jelas profesinya dan manfaatnya dalam mendidik generasi muda.

            Kalau tidak ada sertifikat, semua orang abal-abal juga bisa mengaku ulama dan bisa menipu serta menyesatkan orang seenaknya.

            Sampurasun.

Sunday, 30 January 2022

Pecah Belah Bangsa

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Indonesia ini seksi, selalu menggiurkan banyak orang. Oleh sebab itu, berbagai bangsa rebutan untuk mendapatkan sumber daya alam Indonesia sekaligus sumber daya manusia Indonesia. Sumber daya alam jelas melimpah, sumber daya manusia jelas bersedia untuk diberi upah murah meskipun melakukan pekerjaan kasar yang berat-berat. Dengan demikian, banyak kekuatan asing dari luar Indonesia, baik berupa negara ataupun swasta/perusahaan/perorangan yang berupaya membuat Indonesia tidak maju atau tidak berdaya. Ketika bangsa Indonesia berusaha memperbaiki dirinya, selalu saja diganggu dan diupayakan untuk terpecah belah, baik melalui jalan kesukuan ataupun keagamaan. Kekuatan asing ini selalu menggunakan orang-orang bodoh, orang-orang yang kalah dalam politik, mereka yang tidak sabaran mendapatkan keuntungan ekonomi, pihak-pihak yang ingin berkuasa secara instan, dan para pengkhayal yang ingin mengubah sistem negara sesuai dengan lamunan mereka sendiri yang tidak jelas itu. Selalu begitu.

Hal yang tidak boleh dilupakan adalah tidak ada sebuah negara pun yang menginginkan Indonesia maju, kaya raya, dan berkuasa di dunia. Mereka yang ingin Indonesia maju adalah rakyatnya sendiri yang tentunya waras dan bersedia untuk belajar keras dan bekerja keras. Adapun rakyat yang tidak waras adalah mereka yang tertipu oleh kekuatan asing dan merasa dirinya yang paling benar.

            Kalau mau dipelajari atau diteliti lebih dalam, silakan saja. Sejarah sudah mencatat kok. Sejak Indonesia berdiri saja, kesatuan Indonesia diganggu sehingga pada 1949 bentuknya menjadi Republik Indonesia Serikat (RIS).

            Siapa yang membuat Indonesia menjadi RIS?

            Tentu saja Belanda yang tidak ingin Indonesia benar-benar merdeka seutuhnya. Dengan RIS mereka berharap masih bisa mengontrol Indonesia. Untungnya, rakyat Indonesia cerdas dan kembali berjuang untuk kembali ke negara kesatuan dengan cara membubarkan RIS. Dari peristiwa inilah dimulainya istilah “NKRI Harga Mati”. Kini RIS bubar, hanya bertahan satu tahun, dan kembali menjadi NKRI pada 1950.

            Pemberontakan-pemberontakan di daerah pada masa kepresidenan Ir. Soekarno pun ada kekuatan asing di situ. Salah satu buktinya adalah pesawat pembom AS yang dipiloti CIA Alan Pope ditembak jatuh oleh Mayor Udara Dewanto. Amerika Serikat jelas bermain di situ.

Demikian pula, huru-hara G-30-S PKI, ada Inggris dan Amerika Serikat bikin kisruh suasana. Setelah Soekarno jatuh, banyak modal kapitalis masuk dan menguasai berbagai sumber daya Indonesia, termasuk Freeport yang hanya menyisakan sedikit keuntungan untuk Indonesia, hanya 9%. Adapun pihak asing mendapatkan 91%. Baru pada era Jokowi ini Indonesia mengambi alih saham terbesar PT Freeport menjadi 51% dan pihak asing diwajibkan membuat smelter bahan setengah jadi di Indonesia untuk mendapatkan nilai tambah bagi Indonesia dan membuka lapangan kerja bagi rakyat.

Kasus Gerakan Aceh Merdeka (GAM) ada banyak senjata buatan AS yang digunakan pihak GAM. Itu asing. Demikian juga dalam kasus Ambon Poso yang diawali dengan keinginan membuat Republik Maluku Selatan (RMS), ada Belanda dan Amerika Serikat yang ikut bikin runyam. Timor Timur lepas dari Indonesia menjadi Timor Leste, ada Australia yang ngotot untuk pemisahan itu.

Hal yang sama pun terjadi di Papua yang masih bergejolak. Di sana ada banyak senjata dari AS dan ada gerakan-gerakan aneh yang muncul oleh orang-orang Inggris dan Australia. Dalam diplomasi luar negeri, ada negara konyol tidak beken bernama Vanuatu yang masih merongrong Indonesia.

Pendeknya, Indonesia selalu diganggu karena tidak boleh maju, tidak boleh berpendidikan, dan tidak boleh makmur. Indonesia harus selalu berada dalam kekuasaan mereka.

Saat ini mereka menggunakan agama untuk membuat kusut Indonesia. Mereka menggunakan orang-orang bodoh yang bisa bicara ngawur seolah-olah dakwah untuk dijadikan ulama agar dapat membodohi orang-orang bodoh juga. Oleh sebab itu, tidak perlu heran jika ada orang yang disebut ulama, tetapi perilakunya jauh dari perilaku Nabi Muhammad saw. Mereka selalu berbicara kepada orang-orang bodoh karena orang pintar selalu tahu kebohongan dan kebodohan mereka.

Kekuatan asing itu menggunakan isu-isu agama di Indonesia karena melihat keberhasilan mereka yang telah memporak-porandakan Libya, Irak, Afghanistan, dan Suriah. Mungkin juga Yaman karena Houthi terus-menerus memerangi pemerintahnya yang dibantu Arab Saudi. Di negara-negara itu isu agama telah membelah mereka dan membuat mereka semakin terbelakang. Ketika negaranya terbelah, kekuatan asing semakin kuat dan rusaklah negara itu.

Jika negaranya kuat seperti Iran atau Arab Saudi, kekuatan asing tidak bisa masuk karena rakyat dan negaranya solid dan kuat. Adapun negara lainnya rusak karena selalu berkhayal tentang kekhalifahan yang sudah runtuh itu sehingga terjadi pembunuhan di antara mereka sendiri.

Mereka berusaha mati-matian membuat Indonesia rusak melalui isu agama sehingga melahirkan intoleransi, radikalisme, dan terorisme. Hal itu terjadi karena mereka berhasil menipu sebagian orang-orang Indonesia. Mereka punya banyak uang, senjata, dan organisasi untuk melakukannya. Beruntunglah Allah swt selalu menjaga Indonesia sehingga tetap utuh hingga hari ini, bahkan semakin kuat dan semakin mampu mengatur negara lain karena kita memiliki banyak sumber daya yang diperlukan orang lain. Hasilnya, insyaallah dalam beberapa tahun lagi, apalagi 2045 akan lebih terasa karena ada bonus demografi dengan syarat kita sama-sama bergotong royong untuk mencapainya. Kalau kitanya selalu tertipu dan bertengkar di antara kita sendiri, kita tetap sengsara dan orang asing yang untung.

Cek perasaan kalian. Kalau di dalam diri kalian ada istilah atau keyakinan “ulama kami, ulama kalian; ulamaku, ulamamu; kaum sini, kaum sana; aku masuk surga, kamu masuk neraka; kalian adalah musuhku”, berarti kalian sudah tertipu. Kalian sibuk memikirkan saudara kalian sendiri untuk jatuh, bukannya bekerja bersama sebagai saudara untuk mencapai kemajuan bersama. Kalian sudah jauh tersesat dan itu diperhatikan oleh pihak-pihak asing yang ingin segera menerkam Indonesia dan menikmati kelezatan Indonesia. Mereka punya banyak uang, banyak teknologi, banyak senjata, mudah sekali menguasai Indonesia yang masih miskin, bodoh, dan kurang senjata.

Kuncinya ada di kebersamaan. Semua orang Indonesia matanya harus mengarah ke satu tujuan yang sama, tujuan nasional Indonesia. Tujuan Indonesia itu hanya satu kalimat kok, yaitu “Mewujudkan Manusia Indonesia Seutuhnya yang Makmur Lahir dan Makmur Batin Berdasarkan Pancasila”.

Pengen maju?

Bareng dalam kebersamaan dan tolak perpecahan walaupun itu menggunakan isu-isu murahan yang katanya ajaran agama, padahal ngarang sendiri tidak jelas sumbernya.

Hayu ah.

Sampurasun

Saturday, 18 September 2021

Maaf Jenderal, Anda Salah

 


 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Masih ingat dengan nama Letnan Jenderal Dudung Abdurachman yang menjadi benteng negara dalam membubarkan Front Pembela Islam (FPI)?

            Para mantan FPI seharusnya kenal dengan wajah Jenderal Dudung. Orang-orang di luar FPI pun banyak yang hapal benar dengan wajah Dudung karena menurut Mahfud M.D., 92% rakyat Indonesia setuju FPI dibubarkan.


Letnan Jenderal Dudung Abdurachman (Foto: CNN Indonesia)


               Akhir-akhir ini Dudung menjadi sorotan publik karena ucapannya yang dinilai salah. 

            Pada 14 September 2021 dia sempat mengatakan, “… semua agama benar di mata Tuhan ….”

            Kalimatnya itu tentu saja mendapatkan kecaman dan kritik keras dari para pemuka Agama Islam, seperti, dari Muhammadiyah, MUI, kiyai NU, dan Ormas lainnya, termasuk mantan FPI. Ada yang mengkritiknya sangat keras, ada yang berusaha memperbaikinya, ada juga yang menuntut Dudung untuk membuat permohonan maaf kepada umat Islam.

            Buat saya, ada tiga hal yang menyebabkan Dudung berkata seperti itu. Pertama, dia kurang wawasan dalam memahami agamanya. Kedua, kurang penjelasan terhadap maksud yang dikatakannya. Ketiga, Dudung terlalu nasionalis.

            Pertama, tidak enak sebetulnya kalau mengatakan Dudung kurang memahami Islam. Dia itu keturunan Sunan Gunung Djati (SGD). Dalam beberapa literatur, SGD juga terhubung kepada Nabi Muhammad saw. Artinya, Dudung pantas kalau disebut habib, tetapi tidak menggunakan gelar itu. Di samping itu, Dudung adalah jebolan pesantren dan mewakafkan tanah miliknya untuk pesantren.

Akan tetapi, mau bagaimana lagi menilai seseorang yang mengatakan bahwa semua agama itu benar di mata Tuhan kalau bukan karena kurang paham terhadap Islam?

Ini persoalan akidah. Dalam Islam kalau berbicara itu harus jelas dalilnya, baik yang berupa ayat Al Quran, hadits, ataupun dalil akal. Secara naqli, tidak ada yang dapat menjadi dasar pemikiran untuk mengatakan bahwa semua agama itu benar di mata Tuhan. Bahkan, di dalam kitab-kitab suci agama lain pun, seperti, Injil, Taurat, Weda, Tripitaka, atau yang lainnya, tidak akan ada kalimat seperti itu. Secara aqli pun, tidak masuk akal.

Bagaimana mungkin semua agama benar di mata Tuhan, kalau Tuhan-nya sama?

Misalnya, agama yang satu tidak membolehkan berzina, tetapi agama yang lainnya membolehkan berzina. Kalau Tuhan-nya sama, tidak mungkin ada agama berbeda dengan ajaran yang berbeda. Kalau Tuhan-nya berbeda, ya nggak apa-apa, baru masuk akal. Kan Tuhan-nya juga beda.

Kalau yang dimaksud Dudung Tuhan-nya sama, tidak perlu marah, tidak perlu maki-maki, tidak perlu menuntut ke pengadilan karena penghinaan agama. Sebagai sesama muslim, harus saling mengingatkan, bukan saling menghardik. Dudung perlu diingatkan dengan menggunakan QS Ali Imran ayat 19 yang pada awal ayatnya berbunyi “Innaddiina indallaahil Islaam”. Cari terjemahannya sendiri. Mudah-mudahan Dudung lebih paham, menyadari kesalahannya, kemudian bertaubat. Tidak perlu diperpanjang, toh pada akhirnya urusan itu kembali kepada Allah swt.

Kedua, Dudung kurang menjelaskan kalimatnya. Kalau Tuhan yang dimaksud Dudung itu adalah Allah swt, jelas salah. Hal itu disebabkan tidak mungkin Allah swt menurunkan dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, atau banyak agama berbeda dengan perbedaan ajaran, kewajiban, dan larangan. Akan tetapi, kalau Tuhan-nya beda, tidak ada masalah. Tuhannya kan masing-masing, ajarannya juga pasti masing-masing. Ya sudah, masing-masing saja. Sayangnya, Dudung tidak menjelaskan kalimat itu dengan benar, jadi wajar jika ada banyak kritikan dan protes kepadanya.

Ketiga, Dudung terlalu nasionalis. Sikap patriotik dan nasionalis itu hebat. Akan tetapi, kalau berlebihan juga bisa jadi salah. Maksud Dudung mengatakan bahwa semua agama benar di mata Tuhan adalah supaya tidak ada perpecahan di antara para prajuritnya. Dia ingin para prajurit tetap bersatu meskipun berbeda agama. Dia tidak ingin ada fanatisme berlebihan di kalangan prajurit yang membuat ketegangan di antara sesama prajurit. Itu bagus, sangat bagus malahan, sayangnya karena keinginan dan semangatnya terlalu tinggi, dia keseleo lidah.  

Adalah hal yang sangat baik dapat memenej anak buah yang berbeda agama untuk bersatu dalam persaudaraan. Akan tetapi, tidak perlu juga jika harus mengatakan bahwa semua agama benar di mata Tuhan. Itu akan menjadi polemik (sudah terjadi) dan harus dipertanggungjawabkan pula di hadapan Allah swt.

Saya juga punya banyak murid yang berbeda agamanya. Saya pun berusaha agar di antara mereka tidak berkonflik soal agama. Akan tetapi, saya tidak pernah mengatakan bahwa semua agama adalah sama di mata Tuhan. Saya memilih untuk berusaha bersikap adil kepada mereka sehingga mereka paham bahwa perbedaan agama itu bukanlah masalah di antara kami.

Ada seorang murid Kristen datang dan bertanya kepada saya, “Pak, boleh saya tahan atau saya jabel laptop punya teman saya?”

“Memang kenapa?”

“Dia punya hutang sama saya dan sudah lama nggak dibayar-bayar.”

Kebetulan, yang punya hutang beragama Islam.

“Itu mah terserah kalian. Bukan urusan saya. Kalian bersepakat saja baik-baik. Kalian kan sudah pada gede, masa urusan begitu saya harus ikutan.”

Meskipun yang berhutang itu agamanya sama dengan saya, kan saya tidak mungkin membelanya mati-matian karena kesamaan agama. Urusan hutang piutang itu ya jadi urusan mereka, nggak ada kaitannya dengan kesamaan agama.

Nah, kan perilaku semacam itu pun bisa mempersatukan di antara anak buah atau orang-orang yang di bawah kita. Artinya, semua diperlakukan sama, tidak perlu mengatakan bahwa semua agama adalah benar di mata Tuhan.

Maaf Jenderal, sebagai sesama muslim, sebagai sesama orang Sunda, dan sebagai sesama orang Indonesia, saya mengingatkan bahwa kita semua harus saling mengingatkan supaya tetap berada di jalan yang benar, sebagaimana yang Allah swt ajarkan di dalam QS Al Ashr.

Sampurasun.

Thursday, 26 August 2021

Keadilan bagi Setiap Pemeluk Agama

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Penghinaan dan caci maki terhadap agama atau keyakinan sudah terjadi sejak dulu, sejak agama itu sendiri ada. Hal ini dapat memicu perselisihan, pertengkaran, dan kerusakan di antara manusia.

Beruntung Indonesia memiliki undang-undang atau aturan yang membuat penghina agama dinyatakan sebagai pengacau atau penjahat yang merusak keharmonisan berbangsa dan bernegara. Pelakunya bisa dijerat hukum dan masuk penjara. Aturannya ada, tinggal dilaksanakan saja. Sayangnya, masyarakat masih merasa bahwa pemerintah belum melaksanakan aturan ini dengan baik. Banyak masyarakat yang merasa tidak adil karena ada penghina agama tertentu yang ditangkap, tetapi penghina agama lainnya tidak. Ini dipandang tidak adil.

Berbeda dengan di dunia barat, Amerika Serikat misalnya, tidak ada aturan atau undang-undang yang bisa menghukum para penghina agama. Hal itu disebabkan setiap orang bebas berbicara dan berpendapat yang kebebasan itu tidak peduli menyakiti orang lain atau tidak. Tidak aneh jika di sana para penghina agama tidak ditangkap karena memang undang-undang untuk menjeratnya juga tidak ada.

Semestinya, jika ada penghina agama dan terbukti hinaannya itu secara aturan, diproses hukum saja. Agama apa pun.  Meskipun demikian, jika ada orang yang dianggap penghina agama, tetapi tidak terbukti secara aturan, harus dijelaskan bahwa dia memang tidak menghina agama. Hal ini disebabkan bisa terjadi orang dituduh menghina agama, padahal tidak. Tuduhan itu kerap hanya berdasarkan kebencian dan bukan fakta.

Keadilan bagi setiap pemeluk agama sangat diperlukan sehingga masyarakat seluruhnya merasa terlindungi dan diperlakukan adil. Pemeluk agama apa pun.

Umat Islam apalagi sangat dilarang keras untuk menghina dan mencaci agama orang lain. Larangan keras itu bukan datang dari negara, para sahabat Nabi, atau Rasulullah saw, melainkan dari Allah swt langsung.

Perhatikan perintah Allah swt dalam QS Al Anam, 6 : 108.

“Janganlah kamu memaki sesembahan yang mereka sembah selain Allah karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa dasar pengetahuan. Demikianlah, Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian, kepada Tuhan, tempat kembali mereka, lalu Dia akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan.”

Ayat itu sudah jelas bahwa umat Islam dilarang menghina agama lain karena pemeluk agama lain akan berbalik menghina Islam dengan sangat keras. Akibatnya, terjadi ketidakharmonisan kehidupan dan yang paling penting adalah syiar Islam jadi terganggu.

Soal agama siapa yang paling benar, ayat itu pun sudah menjelaskan bahwa Allah swt memang membuat setiap umat menganggap baik apa yang dilakukannya. Kemudian, pada saatnya nanti semua manusia akan kembali kepada Tuhan-nya serta dikabarkan dan dijelaskan segala hal yang dilakukan umat-umat itu, mana yang benar dan mana yang salah. Jadi, umat Islam tidak perlu melakukan cacian dan hinaan kepada agama lain, serahkan saja penjelasan yang nyata itu kepada Allah swt. Nanti juga penjelasan-Nya akan tiba.

            Sebetulnya, setiap pemeluk agama wajar jika berupaya menjaga umatnya untuk tidak berpindah ke agama lainnya. Salah satu caranya adalah menunjukkan kelemahan-kelemahan agama lain. Akan tetapi, itu jangan dilakukan di ruang publik atau di tempat umum yang bisa diketahui oleh pemeluk agama lain karena akan menimbulkan masalah di masyarakat. Lakukanlah hal itu di tempat tertutup, di tempat intern khusus pemeluk agamanya sendiri. Kalau disebarluaskan, di-upload, di-share hingga menjadi viral, bakal bermasalah di tengah masyarakat dan bermasalah pula dengan hukum, khususnya di Indonesia.

            Ayatnya sudah jelas, undang-undangnya ada. Hal yang harus kita lakukan di dunia ini adalah menjaga kehidupan agar tetap harmonis dan berjalan dengan baik. Soal benar dan salah, surga dan neraka, biarlah Allah swt yang akan menjelaskannya sesuai dengan kehendak-Nya sendiri.

            Sampurasun.




Wednesday, 20 January 2021

Faktor-Faktor Yang Memengaruhi Kebutuhan

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Kebutuhan setiap manusia, setiap kelompok manusia terkadang berbeda. Bahkan, sering berbeda. Kebutuhan anak kecil berbeda dengan orang dewasa. Kebutuhan guru berbeda dengan kebutuhan pedagang bakso. Kebutuhan presiden berbeda dengan kebutuhan dokter.

            Berikut ini beberapa faktor yang menyebabkan adanya perbedaan kebutuhan untuk setiap individu.

 

Lingkungan

Lingkungan merupakan faktor yang mendorong perbedaan kebutuhan manusia. Lingkungan tertentu menyebabkan kebutuhan tertentu pula. Misalnya, orang yang hidup di daerah dingin membutuhkan pakaian yang tebal dan makanan yang berkalori tinggi. Hal itu disebabkan mereka membutuhkan berbagai hal yang membuat tubuh mereka hangat. Akan tetapi, terbalik dengan mereka yang hidup di daerah panas. Mereka memilih pakaian yang tipis dan menghindari makanan berkalori tinggi agar tubuh mereka menjadi lebih sejuk dan tidak kepanasan.

 

Agama

Agama merupakan faktor yang mendorong pula perbedaan kebutuhan di antara manusia sesuai dengan keyakinannya. Orang Islam membutuhkan Al Quran, sajadah, tasbih, hewan qurban, biaya ke Mekah, dan lain sebagainya. Orang Hindu membutuhkan bunga-bunga dan alat-alat lainnya untuk beribadat, tetapi tidak membutuhkan daging sapi untuk dimakan karena mereka tidak ingin mengonsumsinya.

 

Adat Istiadat

Adat istiadat pun sangat memengaruhi perbedaan kebutuhan. Orang Sunda membutuhkan banyak bunga, pakaian adat, dan alat seni untuk menyelenggarakan upacara adat. Demikian pula orang Jawa, Batak, Bugis, dan lain sebagainya membutuhkan barang-barang tertentu untuk melakukan upacara adat yang berbeda dengan suku-suku lainnya.

 

Peradaban

Peradaban membuat kebutuhan manusia semakin berkembang, beragam, dan berbeda. Dulu alat-alat masak manusia cukup dengan kayu bakar, daun pisang, dan alat-alat sederhana lainnya. Sekarang manusia menggunakan alat-alat masak yang menggunakan energi listrik dan gas. Demikian pula dengan komunikasi, dulu orang berkomunikasi dengan menggunakan kertas surat atau telepon rumah. Sekarang, manusia menggunakan Hp dan internet.

            Demikian penjelasan tentang faktor-faktor yang memengaruhi kebutuhan manusia.

            Sampurasun.

 

 

Sumber Pustaka

Novasari, Yunita; Jawangga, Yan Hanif; Setiadi, Inung Oni; Hastyorini, Irim Rismi (editor); Ekonomi untuk SMA/MA Kelas X Semester I: Peminatan Ilmu-ilmu Sosial, PT Penerbit Intan Pariwara

S., Alam, 2013, Ekonomi untuk SMA dan MA Kelas X Kurikulum 2013: Kelompok Peminatan Ilmu Pengetahuan Sosial, Penerbit Erlangga: Jakarta

Saturday, 14 September 2019

Berbeda Pendapat dengan Habibie


oleh Tom Finaldin



Bandung, Putera Sang Surya
Bacharuddin Jusuf Habibie, Presiden ke-3 RI adalah orang cerdas, baik, banyak jasanya, luas manfaatnya bagi orang lain. Semoga Allah swt memberikan tempat yang sangat baik di sisi-Nya. Meskipun demikian, dia sama dengan kita, manusia yang punya kelebihan dan kekurangan. Oleh sebab itu, dalam beberapa hal mungkin banyak yang tidak sependapat dengan Habibie. Itu wajar. Tidak sepaham, berbeda pendapat, bukan berarti harus menjadi musuh.

            Saya pun punya pendapat berbeda dengan Habibie. Dulu ketika referendum/penentuan pendapat rakyat dilaksanakan di Timor Timur, Habibie terlalu cepat mengabulkan dilaksanakannya referendum. Akibatnya,  Timor Timur lepas dari NKRI dan menjadi negara sendiri dengan nama Timor Leste. Dia terlalu cepat karena Indonesia tidak mempersiapkan diri untuk menjadi pemenang referendum, sedangkan mereka yang ingin berpisah dari NKRI bekerja sangat keras dengan dibantu pihak asing.

            Perbedaan paham tersebut tidak mengurangi rasa hormat saya kepada Presiden Habibie. Berbeda ya berbeda saja. Biasa saja.

            Sekarang pun saya punya pendapat yang berbeda dengan Habibie. Selepas BJ Habibie wafat, tiba-tiba viral isi pidatonya di Kairo, Mesir. Awalnya, saya tidak percaya Habibie berpidato seperti itu. Saya anggap sebagaimana postingan yang lalu-lalu, dibuat oleh orang iseng yang kerjaannya bikin ramai di dunia maya. Akan tetapi, setelah di televisi ada orang yang mengaku menyaksikan pidato itu, saya agak percaya meskipun tidak percaya sepenuhnya karena tidak mendengar langsung dan tidak melihat rekaman/video saat pidato itu terjadi.

            Saya anggap saja pidato itu memang terjadi dengan isi seperti itu. Ada yang menggelitik dari isi pidato itu, terutama pada bagian ketika dia mengatakan bahwa jika harus memilih antara teknologi dan ilmu agama, akan memilih ilmu agama. Kata-katanya itu jelas menyiratkan bahwa ada ilmu duniawi dan ilmu agama. Di situlah perbedaannya dengan saya.

            Bagi saya, tidak ada yang namanya ilmu agama dan ilmu duniawi. Semua ilmu itu sumbernya dari Zat Yang Satu, yaitu Allah swt. Teknologi membuat pesawat terbang juga dari Allah swt. Ilmu arsitektur juga dari Allah swt. Ilmu kedokteran, ekonomi, sosiologi, politik, pemerintahan, kebijakan publik semuanya dari Allah swt.

            Kalau bukan dari Allah swt, dari siapa atuh?

            Seorang ahli teknologi yang mampu membuat pesawat terbang jika dia membuatnya dengan niat “lillahi taala” untuk kebaikan manusia akan memperoleh pahala yang teramat besar dari Allah swt. Bayangkan saja pada masa lalu orang untuk pergi ibadat ke Mekah itu bisa berbulan-bulan dengan menggunakan perahu layar, begitu juga dengan perahu mesin, masih berbulan-bulan juga. Akan tetapi, sekarang dengan teknologi pesawat terbang, pergi berhaji ke Mekah bisa hanya hitungan jam. Jauh lebih cepat, lebih hemat, dan lebih sehat.

            Bukankah itu tindakan berpahala yang dapat menyebabkan pembuat pesawat terbang masuk surga dan dicintai Allah swt?

            Begitu juga dengan ilmu arsitek. Dengan ilmu itu, kita bisa membuat masjid yang besar, bertingkat, mewah, dan indah. Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mampu membuat bangunan masjid yang indah, mewah, dan futuristik.

            Bukankah itu tindakah yang baik, berpahala?

            Kalau tidak menguasai ilmu arsitek, bagaimana mungkin umat bisa memiliki bangunan megah dan tinggi untuk beribadat di Mekah dan Madinah?

            Apalagi ilmu kedokteran yang sangat dekat dengan masyarakat, sangat penting bagi dakwah. Kalau ustadz, mubaligh, dai, para habib sakit, ilmu kedokteran sangat berguna dalam mempercepat dan menjadi jaminan kesehatan dibandingkan para dukun.

            Kalau ilmu kedokteran dianggap rendah dibandingkan duduk bersila di dalam masjid mendengarkan ceramah, jangan ke dokter atuh kalau sakit. Apalagi penyakit jantung. Dengarin aja ceramah terus, siapa tahu sembuh.

            Itu semua adalah teknologi yang juga dari Allah swt. Tak ada pemisahan antara ilmu dunia dengan ilmu agama. Teknologi pun jika diawali dengan niat yang benar, proses yang benar, dan hasil yang benar, itu bagian dari agama. Semua ilmu dari Allah swt.

            Kalaupun mau dipisahkan, paling juga “ilmu khusus” dan “ilmu umum”. Ilmu khusus adalah ilmu yang mempelajari dan mengajarkan tentang ibadat-ibadat ritual. Ilmu umum adalah ilmu yang mempelajari dan mengajarkan berbagai ilmu untuk kepentingan hubungan sosial, ekonomi, politik, teknologi, sastra, dan lain sebagainya. Ilmu khusus dan ilmu umum berasal dari Zat Yang Satu Yang Sama, Allah swt. Ilmu khusus dan ilmu umum adalah bagian dari agama.

            Boleh berbeda pendapat?

            Boleh atuh. Yang tidak boleh itu bermusuhan.

            Sampurasun.

Wednesday, 21 August 2019


Berdebat Apa Agama Terbaik

oleh Tom Finaldin



Bandung, Tom Finaldin
Setiap pemeluk agama apa pun akan menganggap agamanya adalah terbaik dan menganggap agama lainnya lebih lemah dibandingkan agama yang dianutnya. Buktinya, mereka tetap berada dalam agamanya masing-masing dan bangga dengan agamanya. Jika ada pemeluk agama lain yang berbeda dengan dirinya menunjukkan kelemahan agama yang dianutnya, mereka akan tersinggung. Mereka mencoba mengerahkan ilmunya untuk menunjukkan kehebatan agamanya. Kalau tidak bisa, mereka akan menghina agama pemeluk agama lain yang dianggap menghinanya. Bahkan, bisa berujung kekerasan fisik. Di Amerika Serikat panitia perlombaan menggambar Nabi Muhammad saw ditembaki orang. Di Perancis dan Italia ada teror bom dengan alasan di negeri itu banyak yang menghina Allah swt dan Nabi Muhammad saw. Di India apalagi ada masjid besar yang diruntuhkan massa karena dianggap tanah itu merupakan kelahiran dewa tertentu. Masih banyak kasus yang lain.  Itu kenyataannya. Tidak bisa dibantah.

            Dengan pemahaman seperti itu, di Indonesia ada larangan untuk menghina agama lain. Hal itu dimaksudkan untuk menjaga ketenteraman dan menumbuhkan kerukunan.

            Apabila ada yang ingin menunjukkan bahwa agamanya yang terbaik di hadapan agama lainnya, boleh saja. Akan tetapi, jangan di tempat umum. Berdebatlah di ruangan tertutup, misalnya, di kelas, aula, ruang rapat, dan tidak boleh menggunakan pengeras suara ke luar ruangan. Setiap pemuka agama sepakat untuk berdebat secara keilmuan dan sama-sama berjanji untuk tidak saling sakit hati, tidak beralih ke pertarungan fisik, dan tidak saling menuntut secara hukum. Berdebatlah secara akademis. Semua perdebatan hanya ada di dalam ruangan. Begitu ke luar dari pintu ruangan, perdebatan harus berakhir, semua harus kembali rukun.

            Jangan berdebat di ruang umum, jangan di media sosial karena perdebatan akan berujung saling hina, saling maki, jauh dari ilmu pengetahuan, yang ada hanya kata-kata kotor murahan dan tidak berpendidikan. Lebih jauh lagi bisa menimbulkan kasus hukum karena perdebatan menjadi tidak terkendali dan tidak ilmiah.

            Boleh berdebat, tetapi harus tertata, teratur, ilmiah. Jangan takut berdebat. Justru melalui perdebatan, kita bisa belajar banyak.

            Untuk apa takut berdebat jika kita memang yakin agama kita adalah yang terbaik?

            Berdebatlah dengan baik karena tidak ada toleransi dalam agama. Toleransi bukanlah dalam hal agama, melainkan dalam hal hubungan antarumat beragama, hubungan sesama manusia, interaksi masyarakat.

            Itu pun jika ingin berdebat. Kalaupun tidak ingin berdebat, ya nggak apa-apa juga. Saya hanya mengingatkan bagi mereka yang ingin berdebat, gunakan ruangan tertutup, terbatas, dan tidak perlu menggunakan pengeras suara. Jangan di ruang umum atau fasilitas yang bisa diakses siapa saja.

            Sampurasun.

Thursday, 6 July 2017

Jangan Menganggap Diri Suci

oleh Tom Finaldin

Bandung, Putera Sang Surya
Banyak sekali orang yang menganggap dirinya suci melebihi orang lain. Mereka menganggap bahwa dirinya yang paling pandai, paling beriman, paling harus dipatuhi, dan paling harus didengar. Bahkan, mereka mempengaruhi orang lain agar orang lain menganggap dirinya paling suci, tempat segala masalah dan pertanyaan mendapatkan solusi dan pemecahan. Lebih jauh lagi, mereka dengan mudah menyalahkan orang lain dan merendahkan orang lain yang memiliki pandangan atau ilmu yang berbeda dibandingkan dirinya. Di dalam lingkungan setiap agama, selalu ada orang-orang seperti ini. Mereka tampil sebagai para pemuka agama yang sok berkuasa dan sok tahu.

            Sungguh, orang-orang ini sangat tidak bijak dan cenderung menyesatkan orang lain karena membuat manusia memusatkan perhatian kepada dirinya. Sementara itu, mereka hanya baru belajar agama sedikit saja. Segala hal yang tidak disetujuinya dianggap melanggar agama. Hal yang paling berbahaya adalah memprovokasi orang lain untuk membenci orang-orang yang tidak disetujuinya. Padahal, bisa saja tidak ada agama yang dilanggar orang lain, tetapi hanya harga dirinya saja merasa terusik. Sungguh, mereka telah membajak agama untuk kepentingan diri dan kelompoknya.

            Allah swt menyuruh kita untuk mempelajari orang-orang seperti ini agar kita tidak terjebak hidup seperti mereka.

            “Tidakkah engkau memperhatikan orang-orang yang menganggap dirinya suci? Sebenarnya, Allah yang menyucikan siapa yang Dia kehendaki dan mereka tidak dizalimi sedikit pun.” (QS An Nisa 4 : 49)

            Jelas sekali bahwa ada banyak orang yang menganggap diri mereka suci. Allah swt sendiri yang mengatakan hal itu. Sebenarnya, Allah swt yang menyucikan orang-orang yang dipilih-Nya sendiri. Seseorang atau sekelompok orang yang menganggap diri mereka suci sama sekali tidak diperhitungkan Allah swt sebagai sebuah kebaikan. Bahkan, anggapan mereka itu justru menyesatkan mereka sendiri dan orang-orang yang mematuhi serta bersikap sama seperti mereka.

            Nabi Muhammad saw pun pernah mengingatkan hal seperti bahwa siapa pun orang yang telah menganggap dirinya terbebas dari godaan syetan, sesungguhnya orang itu telah tersesat. Syetan tak pernah berhenti menggoda. Tak ada manusia yang luput dari godaan syetan karena itulah niat dan janji Iblis beserta seluruh syetan dari jenis jin dan manusia, yaitu menyesatkan kehidupan manusia supaya tidak harmonis, tidak bahagia, dan tidak menemukan jalan menuju Allah swt.

            Orang-orang yang benar-benar suci adalah orang-orang yang disucikan sendiri oleh Allah swt. Orang-orang ini tidak memerlukan perhatian dan anggapan orang lain bahwa dirinya suci. Bahkan, orang-orang ini akan merasa resah jika dianggap suci karena anggapan itu justru akan berpotensi mengotori hatinya. Dia selalu takut terhadap Allah swt dan selalu merasa dirinya penuh kesalahan sehingga setiap saat dia memohon ampunan kepada Allah swt. Mereka merasa tak ada tempat yang aman dari pengawasan Allah swt. Mereka merasakan benar bagaimana Allah swt memperhatikan mereka sehingga mereka berbicara dengan hati-hati dan bijaksana. Demikian pula sikap dan tingkah laku mereka, hati-hati, sadar, tidak ceroboh, bermakna, berkualitas, arif, dan bijaksana.

            Berbeda jauh dengan orang-orang yang sudah menganggap dirinya suci, bahkan mengira bahwa syetan sudah tidak mampu menggodanya lagi. Mereka kerap berbicara seenaknya karena telah menganggap dirinya paling benar dan paling pintar. Mereka berbicara dan berpendapat sembrono dan tidak hati-hati. Akibatnya, mereka bisa terjebak dalam kedustaan yang mereka bikin-bikin sendiri pula.

            Hal ini telah diingatkan Allah swt.

            “Perhatikanlah, betapa mereka mengada-adakan kebohongan terhadap Allah! Cukuplah perbuatan itu menjadi dosa (bagi mereka).” (QS An Nisa 4 : 50)

            Perbuatan menganggap diri suci, paling benar, dan sudah tidak lagi bisa digoda syetan adalah perilaku penuh dosa. Sebaiknya, katakan saja diri kita ini sedang belajar berbuat baik agar diri kita menjadi suci. Kita akan menjadi suci atau tidak hanya Allah swt yang tahu. Kalaupun ada yang menganggap diri kita sebagai orang suci, kembalikanlah pujian itu kepada Allah swt dengan ucapan hamdalah, kemudian diikuti istighfar agar hati kita tidak terlena dan terbuai pujian manusia karena itu bisa membuat hati kita kotor dan tidak bernilai positif di hadapan Allah swt.


            Sampurasun