Showing posts with label Tuhan. Show all posts
Showing posts with label Tuhan. Show all posts

Monday, 20 January 2025

Tuhan Selalu Datang Tak Terdeteksi

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Dalam ajaran Sunda Wiwitan, salah satu nama Tuhan adalah “Sang Hyang Raga Dewata”. Perilaku dan keadaannya sedikit dijelaskan dalam ajaran tersebut yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.  

            “Datang tanpa rupa, tanpa raga, tak terlihat, perkataan (senantiasa) benar. Rupa direka karena ada. Aku-lah yang menciptakan, tetapi tak terciptakan, Aku-lah yang bekerja, tetapi tidak dikerjakan, Aku-lah yang menggunakan, tetapi tidak digunakan.”

            Maksudnya adalah Dia kerap mendatangi ciptaan-Nya, apapun itu tanpa terdeteksi karena datang tanpa rupa, tanpa raga, dan tak terlihat oleh apapun ciptaan-Nya. Dia tentunya punya rupa, punya raga, punya wujud, tetapi tidak bisa dikenali oleh indera manusia. Dia tetap tersembunyi dan tidak bisa diamati karena wujud Dia adalah wujud pencipta, bukan ciptaan.

Seluruh wajah, seluruh rupa, seluruh bentuk yang ada di alam ini adalah hasil rekaan-Nya. Dia yang menciptakan berbagai rupa bentuk itu, tetapi tidak ada yang menciptakan Dia, tak ada yang mereka-reka Dia. Sang Hyang Raga Dewata adalah yang mengerjakan semuanya, tetapi tak ada seorang pun atau sesuatu pun yang membuat-Nya. Dia-lah yang menggunakan seluruh ciptaan-Nya untuk kepentingan-Nya sendiri dan terserah pada keinginan-Nya sendiri. Dia yang menguasai segala sesuatu, tetapi Dia tidak dikuasai oleh sesuatu pun.

Tak terdeteksi eksistensi-Nya, tetapi kekuasaan-Nya sangat meliputi segala sesuatu. Perkataan-Nya selalu benar, tidak pernah salah.

Sampurasun

Monday, 13 January 2025

Soal Nama Tuhan, Gimana Gue Aja

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Begitu kira-kira yang dikatakan Tuhan jika menggunakan bahasa slang. Soal nama Tuhan, ya terserah Tuhan sendiri. Mau menamai diri-Nya apa, terserah Dia. Mau menggunakan bahasa apapun, terserah Dia. Dia yang punya diri, Dia sendiri yang berhak menamai diri-Nya sendiri. Kita, manusia hanya perlu mengikuti-Nya, tidak perlu banyak berpikir tentang nama-Nya.

            Dia yang menciptakan alam semesta, termasuk manusia berikut bahasanya. Jadi, Dia berhak tanpa ada yang mampu menghalangi untuk menggunakan bahasa apa saja. Mau pake bahasa Sunda, Jawa, Minang, Batak, Ibrani, Suryani, Latin, Romawi, Arab, Sansakerta, Indonesia, Inggris, Spanyol, Italia, Belanda, Papua, Tetun, atau apapun, terserah Dia.

            Dia pun menggunakan bahasa Sunda untuk menamai diri-Nya sendiri. Dia dengan sangat tegas berbicara tentang diri-Nya dalam naskah “Sang Hyang Raga Dewata”.

 

            “Hanteu nu ngayuga Aing. Hanteu manggawe Aing. Aing ngaranan maneh, Sanghiyang Raga Dewata.”

 

            Artinya.

 

            “Tidak ada yang menjadikan Aku. Tidak ada yang menciptakan Aku. Aku menamai diri sendiri, Sang Hyang Raga Dewata.”

 

            Begitu Dia menamai diri-Nya dalam bahasa Sunda agar orang-orang Sunda mengenal dan memahami diri-Nya. Arti dari Sang Hyang Raga Dewata tentunya harus orang ahli Sastra Sunda yang menjelaskannya. Akan tetapi, saya mencoba meraba-raba artinya adalah “Sesembahan yang Berwujud Tuhan”.

            Bagaimana wujudnya?

            Jangan dibayangkan dan jangan dipikirkan karena bayangan dan pikiran kita tentang wujud-Nya pasti salah total.

Ada banyak nama atau sesebutan untuk diri-Nya dalam bahasa Sunda. Insyaallah, jika bisa ditemukan, saya share lagi.

            Sampurasun.

Friday, 10 January 2025

Tuhan Sunda Paling Jujur

 

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Banyak hal dan pengetahuan tentang ketuhanan dalam ajaran yang diklaim sebagai Sunda Wiwitan. Pengetahuan itu bisa dipahami dan dijelaskan jika kita mau dengan tenang mempelajarinya.

Salah satu pengetahuan itu tercatat dalam naskah “Jatiraga”. Dalam naskah itu disebutkan bahwa “Sang Hyang Jatiniskala” adalah Tuhan yang tidak dapat dibayangkan dan tidak dapat dikonkritkan. Niskala sendiri bisa berarti kokoh, kuat, agung, perkasa, tetapi tak terbayangkan, jauh di luar imajinasi manusia.

Berikut teks dari Sunda Wiwitan tentang Sang Hyang Jatiniskala, tetapi saya tidak menemukan teks berbahasa Sunda, mungkin penulisnya langsung menerjemahkan sendiri ke dalam bahasa Indonesia.

“Sebab Aku adalah asli dan dari keaslian. Tidak perlu diubah dalam bentuk benda alam yang tidak asli dan tidak jujur sebab Aku adalah jujurnya dari kejujuran.”

Begitu teksnya. Sang Hyang Jatiniskala adalah zat paling asli. Dia tidak ingin wujudnya diwakilkan atau diilustrasikan dalam bentuk lain atau dalam bentuk benda-benda yang Dia ciptakan sendiri. Hal itu disebabkan Dia adalah pencipta yang wujudnya tidak terjangkau oleh manusia yang sehari-hari hanya melihat dan membayangkan wujud ciptaan-Nya. Dia adalah pencipta dan di luar diri-Nya adalah ciptaan-Nya. Ciptaan pasi berbeda dengan Sang Pencipta. Ciptaan tak akan mampu menjangkau wujud Pencipta. Dia adalah wujud paling jujur, paling asli karena di luar diri-Nya hanyalah emanasi atau pelimpahan bentuk dari diri-Nya.

Sampurasun.

Thursday, 9 January 2025

Tuhan Sunda = Sang Hyang Tunggal

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Dalam tulisan yang lalu saya sudah menjelaskan tentang salahnya orang yang berpendapat bahwa orang Sunda dulu menyembah patung, pohon, batu, gunung, jin, dan lain sebagainya. Orang Sunda tidak menyembah itu semua, tetapi menyembah Zat atau Sesuatu yang tunggal, tidak beranak, tidak punya teman, paling unggul dalam segala rupa hal. Sumber tulisan ini berasal dari tulisan-tulisan yang diklaim merupakan ajaran Sunda Wiwitan.

            Berikut ini ada pula tulisan tentang Tuhan yang disembah orang Sunda dengan nama “Sang Hyang Tunggal” beserta contoh sedikit hal yang Dia lakukan dalam hidup ini. Tentu saja, hal itu berupa penegasan bahwa Dia-lah pencipta segalanya. Tidak ada sesuatu yang  lain yang berperan sebagai pencipta di dunia ini. Hal ini dapat kita perhatikan dalam teks berbahasa Sunda berikut ini.

            "Utek, tongo, walang, taga, manusa, buta, detia, lukut, jukut, rungkun, kayu, keusik, karihkil, cadas, batu, cinyusu, talaga, sagara, Bumi, langit, jagat mahpar, angin leutik, angin puih, bentang rapang, bulan ngempray, sang herang ngenge nongtoreng, eta kabeh ciptaan Sang Hyang Tunggal, keur Inyanamah sarua kabeh oge taya bedana."

          Artinya.

          “Cacing-cacing, tungau, belalang, taga, manusia, raksasa, jin, lumut, rumput, semak-semak, kayu, kerikil, cadas, batu, mata air, danau, lautan, Bumi, langit, seluruh dunia, angin kecil, angin topan, bintang bertaburan, Bulan bercahaya, Matahari bersinar terik. Itu semua ciptaan Sang Hyang Tunggal (Tuhan Yang Maha Esa). Bagi-Nya semua itu tidak ada bedanya.”

            Ini merupakan bahwa Sang Hyang Tunggal adalah pencipta segalanya. Pencipta itu bernama Sang Hyang Tunggal yang dalam bahasa Indonesia dan tercantum dalam Pancasila Sila Pertama adalah Tuhan Yang Maha Esa. Tuhan dengan nama itulah yang disembah orang Sunda dari dulu hingga saat ini.

            Bagi-Nya, seluruh ciptaan tidak ada bedanya. Dia bisa mengadakan, menghilangkan, memuliakan, menghinakan, menyenangkan, menjijikan, ataupun menghancurkannya. Segalanya bagi Dia tidak berarti apa pun karena Dia berjalan dengan kehendak-Nya sendiri.

            Sampurasun.

Sunday, 8 December 2024

Sesembahan Orang Sunda

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera sang Surya

Karena banyak orang yang sok tahu tentang Islam dan Sunda Wiwitan, lalu menyesatkan banyak orang dengan kata-kata mereka dan tulisan mereka, saya jadi memaksakan diri untuk memeriksa catatan saya sekitar tujuh atau sepuluh tahun lalu. Saya pernah membaca dan merekam beberapa naskah tentang Sunda Wiwitan. Saya pastikan orang yang mengatakan bahwa orang Sunda pada zaman dahulu adalah penyembah pohon, batu, gunung, jin, atau patung, orang itu sudah pasti bodoh, sok tahu, dan berbicara, berpendapat, atau menulis hanya berdasarkan dugaan atau sangkaan belaka, tanpa ilmu. Celakanya, dugaan atau sangkaan itu dianggap sebagai kebenaran yang menghasilkan pemahaman dan perilaku yang salah. Orang Sunda sesungguhnya dari dulu sampai hari ini menyembah hanya satu hal, tidak berubah. Dulu menyembah “itu”, sekarang pun tetap menyembah “itu”. Perhatikan kalimat dari Sunda Wiwitan berikut ini.

            “Hyang tunggal anu Maha Luhung; satemenna tujuan utama manusa sembah Hyang; henteu boga anak henteu boga dulur; boga baraya jeung batur ogé henteu di jagat jeung ieu alam; anu pangunggulna dina sagala rupa hal; hung, tah éta téh nu ngagem bebeneran sajati, ahung.”

            Artinya.

            “Tuhan Tunggal Yang Mahaagung. Sesungguhnya, Dia-lah yang sebenarnya tujuan penyembahan manusia, tidak punya anak dan tidak punya saudara, punya kerabat dan teman juga tidak di seluruh jagat dan seluruh alam ini. Dia yang paling unggul dalam segala rupa hal. Hung! Itulah agama pegangan kebenaran yang sejati. Ahung!”

            Nah, Zat itulah yang disembah orang Sunda dari dulu sampai hari ini, tidak berubah. Sesuatu dengan kriteria itulah yang disembah orang Sunda hingga detik ini.

            Sekarang paham?

            Jadi, berhenti mendengarkan orang-orang bodoh dan sok tahu yang tidak punya pengetahuan. Berhati-hati dalam berpendapat, beropini, atau berfatwa jika belum memahami dengan benar apa yang sedang dibicarakan.

            Sampurasun.

Tuesday, 8 February 2022

Koalisi Ulama Lucu

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Ada grup baru ulama yang bikin ketawa melaporkan Jenderal Dudung ke Pusat Polisi Militer TNI AD (Puspomad). Mereka lapor karena Dudung dianggap telah menistakan agama dengan pernyataannya, ‘Tuhan Kita Bukan Orang Arab’.

            Ayat apa yang dinista Dudung dengan kalimat itu?

            Ajaran yang mana?

            Tuhan kan memang bukan orang Arab, bukan orang Indonesia, bukan orang Amerika Serikat, bukan orang Eropa, bukan orang Israel, iya kan?

            Kalau kalimat ‘Tuhan bukan orang Arab’ dianggap salah, berarti yang benar yaitu ‘Tuhan adalah orang Arab’, begitukah?

            Bisa kan membedakan antara kalimat ‘Tuhan bukan orang Arab’ dengan kalimat ‘Tuhan adalah orang Arab’?

            Kalau tidak bisa, tanya anak-anak SMP. Mereka pasti tahu. Jangan ngelawak aja.

            Hal yang bikin ketawa yang kedua adalah mereka melaporkan Jenderal Dudung ke Puspomad. Saya kasih tahu ya, Puspomad itu adalah anak buah Dudung. Kok enggak mikir, melaporkan pejabat tinggi ke anak buahnya. Itu ibarat melaporkan kepala sekolah ke guru matematika, kan bodor.

            Bisa melakukan apa guru matematika terhadap kepala sekolah?

            Kalau mau melaporkan Dudung, ya ke atasannya dong, ke Panglima Andika Perkasa atau Presiden Jokowi.

            Dudung tahu bahwa dirinya dilaporkan kepada anak buahnya. Segera saja Dudung menginstruksikan Puspomad untuk menerima laporan itu, kemudian setiap orang yang tergabung dalam koalisi ulama itu harus difoto seorang-seorang agar dapat dicek siapa sebenarnya orang-orang itu.

            Nah, kelucuan ketiga yang bikin ketawa adalah tentang diri orang yang katanya ulama itu.

            Siapakah sih mereka itu?

            Kok berani-beraninya mengatakan diri sebagai grup ulama?

            Ulama mana? Apa prestasinya? Telah melakukan kebaikan apa kepada umat? Sehebat apa sih ilmunya?      

            Gampang banget menyatakan diri sebagai ulama, padahal kita enggak tahu ulama apaan sih mereka?

            Ulama-ulama hebat dari NU, ulama-ulama cerdas dari Muhammadiyah, ulama-ulama  tegas dari Persis tidak ada yang meributkan soal perkataan Jenderal Dudung. Mereka biasa-biasa saja. Padahal, yang namanya NU, Muhammadiyah, atau Persis itu organisasi besar yang umatnya jelas banyak, kiprahnya terlihat, jasanya bagi pendidikan dan sosial juga sudah ada sejak dulu.

            Ini ada grup yang baru datang kemarin sore yang tidak jelas jasanya bagi bangsa dan negara sudah ngaku-ngaku koalisi ulama. Oleh sebab itu, tidak heran Jenderal Dudung meminta mereka diminta satu per satu untuk diselidiki siapa mereka itu. Dudung saja yang berasal dari keluarga santri tidak mengenal mereka, apalagi saya.

            Dulu saya tidak setuju dengan adanya sertifikasi pendakwah atau penceramah. Sekarang mah saya setuju banget bahwa pendakwah itu harus punya sertifikat supaya jelas kelimuannya, pengalamannya, prestasinya, karyanya, dan pengembangan dirinya; seperti saya dan teman-teman dosen lain yang harus memiliki Nomor Induk Dosen Nasional dan harus terus berkarya sekaligus mengembangkan diri sehingga jelas profesinya dan manfaatnya dalam mendidik generasi muda.

            Kalau tidak ada sertifikat, semua orang abal-abal juga bisa mengaku ulama dan bisa menipu serta menyesatkan orang seenaknya.

            Sampurasun.

Monday, 3 January 2022

Bahar Kacaukan Pikiran Umat

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Bahar bin Smith telah mengacaukan pikiran umat karena mengubah-ubah kalimat yang disampaikan oleh Jenderal Dudung Abdurachman menjadi sangat jauh artinya. Tulisan saya ini didasarkan pada laporan Habib Husin Alwi kepada pihak kepolisian yang melaporkan bahwa Bahar sudah memprovokasi umat dengan memelintir kalimat Dudung.

            Sudah saya tulis dalam tulisan yang lalu berjudul “Tuhan Bukan Orang Arab” bahwa saya menonton video Dudung dalam podcast Deddy Corbuzier itu selama satu jam sembilan menit. Saya ulangi lagi sedikit tulisan saya itu. Dudung menjelaskan bahwa dirinya setiap selesai shalat selalu berdoa dengan menggunakan bahasa Indonesia.

            Dia bilang, “Tuhan kan bukan orang Arab.”

            Maksudnya, berdoa dengan bahasa apa pun Tuhan pasti tahu, pasti mengerti, pasti paham. Tidak harus selalu menggunakan bahasa Arab. Tuhan kan memahami seluruh bahasa karena Dia sendiri yang menciptakan bahasa itu. Pernyataan Dudung justru menunjukkan bahwa Tuhan adalah Sang Penguasa terhadap segala sesuatu, termasuk bahasa. Sesederhana itu untuk memahami kalimat Dudung.

            Masih ingat kan tulisan saya yang itu?

            Mengapa sekarang jadi ribut, padahal saya mendengarnya biasa-biasa saja?

            Dalam laporan Husin Alwi dijelaskan bahwa Bahar mengubah atau memelintir kalimat Dudung menjadi, Saya tidak mau berdoa dengan bahasa Arab karena Tuhan bukan orang Arab. Ya, berarti kan menyamakan dengan makhluk.”

            Itulah yang menjadi masalahnya. Bahar mengubah-ubah kalimat Dudung menjadi berbeda jauh artinya. Kalau memang benar demikian terungkap di pengadilan, Bahar telah menyesatkan umat, mengacaukan pikiran umat, dan membuat umat menjadi terpecah belah.

            Semua orang boleh menonton, bisa memperhatikan, dan bisa menilai dari kalimat-kalimat itu. Tidak ada yang perlu ditutupi karena memang sudah dan terus beredar hingga hari ini video-videonya.

            Mudah kan membedakan arti dari kedua kalimat tersebut?

            “Tuhan kita kan bukan orang Arab.” Ini kalimat Dudung yang saya dengar.

            Bedakan dengan kalimat berikut.

Saya tidak mau berdoa dengan bahasa Arab karena Tuhan bukan orang Arab. Ya, berarti kan menyamakan dengan makhluk.” Ini kalimat Bahar yang dilaporkan Husin Alwi ke polisi.

Kalau memang Dudung berkata seperti yang dikatakan Bahar, jelas Dudung salah. Akan tetapi, saya menonton sendiri dan mendengar sendiri, Dudung tidak bicara seperti itu.

Kalaulah terungkap dan terbukti di pengadilan, berarti Bahar adalah penipu dan pengacau.

Sungguh, Allah swt tidak bersama penipu, pengacau, orang angkuh, arogan, dan pembuat gaduh. Sesungguhnya, Allah swt ada bersama orang-orang yang hancur hatinya.

Nabi Musa as bertanya kepada Allah swt, “Wahai Tuhan, di mana aku mencari-Mu?”

Allah swt menjawab, “Carilah Aku di sisi orang-orang yang hancur hatinya. Sesungguhnya, Aku dekat dengan mereka setiap hari (sejarak) satu ba (sekitar dua lengan). Jikalau tidak demikian, mereka pasti roboh (binasa).”

Kisah ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hambal.

Bantulah mereka yang sedang kesusahan hidup, kesulitan menjalani hidup karena Allah swt bersama mereka. Allah swt bersama orang-orang itu dan tidak bersama para penipu angkuh yang teriak-teriak di jalanan sambil menyesatkan orang lain.

Sampurasun.

Sunday, 5 December 2021

Tuhan Bukan Orang Arab

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Judul itu adalah pernyataan Kasad Jenderal Dudung Abdurachman ketika diwawancara di podcast Deddy Corbuzier. Tayangan video itu sekitar satu jam sembilan menit. Saya mendengarnya biasa saja dari awal hingga akhir, tidak ada yang aneh.

            Tuhan memang bukan orang Arab kan?

            Tuhan memang bukan orang, bukan manusia, dan bukan Arab.

            Apanya yang aneh?

            Hal yang aneh justru banyak yang meributkan pernyataan itu dengan memutarbalikkan fakta dan membahasnya hingga menjadi kacau tidak karuan. Mereka yang meributkan pernyataan itu justru telah membuat “misleading information”, ‘informasi menyesatkan’. Banyak orang yang katanya ustadz, ulama menambah kekacauan informasi sehingga timbul tuduhan bahwa Dudung telah menyamakan Tuhan dengan orang. Dudung dianggap penista agama. Padahal, di dalam kalimat Dudung itu ada kata “bukan” yang artinya Tuhan tidak sama dengan orang. Tidak ada dasar yang bisa membuat suatu kesimpulan bahwa Dudung telah menyamakan Tuhan dengan orang.

            Orang-orang itu cuma bikin ribut saja. Mereka gemar sekali menyesatkan pikiran orang lain dan membiarkan orang lain dalam kebodohan.

            Begini yang saya perhatikan dalam podcast itu. Dudung menjelaskan bahwa dirinya setiap selesai shalat selalu berdoa dengan menggunakan bahasa Indonesia.

            Dia bilang, “Tuhan kan bukan orang Arab.”

            Maksudnya, berdoa dengan bahasa apa pun Tuhan pasti tahu, pasti mengerti, pasti paham. Tidak harus selalu menggunakan bahasa Arab. Tuhan kan memahami seluruh bahasa karena Dia sendiri yang menciptakan bahasa itu. Pernyataan Dudung justru menunjukkan bahwa Tuhan adalah Sang Penguasa terhadap segala sesuatu, termasuk bahasa. Sesederhana itu untuk memahami kalimat Dudung.

            Kalimat-kalimat ini bukan hanya dari Dudung yang saya dengar, melainkan dari banyak orang. Banyak ustadz, kyai, ulama, profesor yang mengaku bahwa lebih suka menggunakan bahasa Sunda atau bahasa Indonesia ketika berdoa karena lebih terasa di hati. Saya yakin di antara para pembaca pun sering dan banyak yang berdoa dengan menggunakan bahasanya sendiri dibandingkan menggunakan bahasa Arab. Itu biasa, normal, wajar karena itu persoalan hati dan pemahaman terhadap bahasa untuk menyampaikan keinginan kita kepada Tuhan dengan lebih baik.

            Memang banyak doa yang diajarkan Allah swt dan Nabi Muhammad saw dengan menggunakan bahasa Arab, banyak yang hapal, banyak yang paham, banyak yang sering mengucapkannya. Akan tetapi, keinginan manusia itu banyak dan sangat banyak yang tidak diajarkan dalam bahasa Arab.

            Contohnya, seorang sais atau kusir delman berdoa, “Ya Allah, Ya Tuhanku, sehatkanlah kudaku, kuatkanlah aku, bahagiankanlah para penumpangku agar aku tetap mendapatkan rezeki untuk keluargaku.”

            Bagi orang Arab atau orang yang fasih berbahasa Arab, tidak akan kesulitan berdoa seperti itu dalam bahasa Arab. Akan tetapi, bagi orang yang tidak ahli berbahasa Arab, pasti sangat kesulitan.

            Bahasa apa yang akan digunakan untuk doa-doa seperti itu?

            Pastinya adalah bahasa yang dia mengerti. Tuhan pun akan mengerti bahasa dia karena memahami seluruh bahasa.

            Saya sendiri berdoa di depan Kabah di Mekah sambil memegang tembok Kabah memakai baju batik dan ikat kepala Sunda dengan mengunakan tiga bahasa, yaitu bahasa Sunda, Indonesia, dan Arab. Allah swt pasti mengerti doa-doa yang saya sampaikan karena Allah swt Mahatahu Segala Bahasa.







            
Jadi, Tuhan itu bukan orang dan bukan Arab karena orang dan Arab itu adalah makhluk, ‘ciptaan’. Adapun Tuhan adalah khalik, ‘pencipta’.

            Jangan bikin sesuatu yang biasa dan nggak penting menjadi heboh nggak karuan, apalagi menyesatkan dan menumbuhkan kebencian.

            Begitu, ya.

            Sampurasun.

Tuesday, 21 September 2021

Hentikan Polemik Soal Jenderal Dudung

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Ternyata, polemik pernyataan Panglima Kostrad Letnan Jenderal Dudung Abdurachman tidak berhenti, terus digoreng dan di-blow up yang justru makin tidak karuan, kacau balau, sama sekali tidak mendidik, bahkan menyesatkan. Mereka yang terus adu bacot nggak jelas itu terdiri atas dua pihak, yaitu: para Kadrun dan para buzzer. Maaf saya menggunakan dua istilah itu karena memang kenyataannya merekalah yang seolah-olah merasa diri paling pintar tentang segala hal.

            Jenderal Dudung memang pernah mengatakan bahwa “semua agama benar di mata Tuhan”. Kalimatnya ini menjadi perdebatan. Perdebatan itu sebenarnya akan mengasyikkan jika menggunakan standar-standar pengetahuan yang jelas, baik pengetahuan keagamaan, maupun standar ilmiah. Sayangnya, para Kadrun dan buzzer itu tidak menggunakannya meskipun mereka sama-sama mengatakan dirinya menggunakan akal sehat.

            Para Kadrun menggunakan emosinya, rasa sakit hati, atau kebenciannya sampai-sampai pernyataan Jenderal Dudung dianggap sebagai kebangkitan “neokomunis” atau tanda bangkitnya PKI. Ada juga yang mengatakan bahwa Dudung adalah penjilat istana Jokowi. Sementara itu, para buzzer menggunakan pikirannya saja dengan menganggap bahwa akal pikirannya adalah yang paling benar sehingga menganggap pernyataan Dudung adalah benar untuk konteks kebangsaan dalam rangka menguatkan NKRI. Padahal, kemampuan akal dan pikiran manusia itu terbatas. Oleh sebab itu, Allah swt menurunkan para nabi berikut ajarannya untuk memandu akal agar tetap berada dalam koridor wahyu Illahi.

            Pernyataan Dudung tentang semua agama benar di mata Tuhan memang menjadi persoalan akidah. Untuk menilainya, dalam Islam harus bersandar pada dalil naqli yang berupa panduan tertulis dalam Al Quran dan hadits. Kemudian, ada dalil aqli dengan menggunakan akal secara baik dan seimbang. Jika mau berdiskusi ataupun berdebat dengan menggunakan dalil-dalil itu, akan sangat mudah dipahami dan diselesaikan. Tinggal kitanya mau mengikuti dalil atau mengikuti hawa nafsu. Setelah kebenaran tampak jelas, biarkan Allah swt yang memutuskan tindakan-Nya terhadap persoalan itu. Allah swt bisa memutuskannya dan mempertegas tindakannya di dunia atau di akhirat, terserah Dia sendiri.

            Perdebatan menjadi sangat semrawut karena meluas menjadi isu kebangkitan komunis dan penguatan NKRI. Padahal, sama sekali enggak ada hubungannya dengan pernyataan Jenderal Dudung. Para Kadrun dan para buzzer itu adu pintar hingga menyesatkan dirinya sendiri dan orang lain.

            Hentikan segera perdebatan yang tidak ada artinya itu hingga meluas ke isu-isu lain yang tidak ada hubungannya. Kalau mau didiskusikan atau diperdebatkan, fokuslah ke kalimat Dudung, lalu analisislah dengan menggunakan kaidah-kaidah ilmiah dengan dasar yang jelas. Jangan ngecapruk hingga menyesatkan orang lain, kasihan orang lain jadi ikut salah berpikir dan bertindak.

            Bagaimana dengan pendapat saya sendiri?

            Baca saja tulisan saya yang lalu tentang pernyataan itu.

            Sampurasun.