Showing posts with label Bahar bin Smith. Show all posts
Showing posts with label Bahar bin Smith. Show all posts

Wednesday, 24 May 2023

Har, Fiq, Zieq, Kapan Tes DNA?

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Judul itu bukan kata saya lho. Itu kata Gus Fuad Plered. Fotonya saya dapatkan dari Spotify.

            Saya mendengarnya seperti itu. Tampaknya, Gus Fuad Plered menantang Bahar bin Smith yang disebutnya “Har”, Ketua Rabithah Alawiyah Taufiq Assegaf yang dipanggilnya “Fiq”, dan Rizieq Shihab yang disebutnya “Zieq”. Har, Fiq, Zieq. Kalau salah, saya mohon maaf. Untuk tahu lebih benarnya, tanya saja Gus Fuad Plered, siapa yang dia panggil Har, Fiq, Zieq itu.

            Gus Fuad Plered sudah mendaftarkan dirinya untuk tes DNA. Menurutnya, biayanya sekitar dua belas juta rupiah.

            Di tengah-tengah keributan soal pengakuan keturunan Nabi Muhammad saw di kalangan para habib, Gus Fuad yang juga disebut-sebut sebagai keturunan Sunan Ampel yang tersambung kepada Nabi Muhammad saw melakukan tes DNA. Dia sendiri tampaknya tidak yakin dengan nasab dirinya meskipun tertulis dalam naskah kuno sebagai keturunan Sunan Ampel. Dia ingin mengonfirmasinya melalui jalur pengetahuan, tes DNA.

Gus Fuad Plered (Foto: Spotify)

            “Saya tidak pernah mengaku-aku sebagai sebagai keturunan Rasulullah, tetapi saya tes DNA,” katanya, “Saya tidak tahu apakah tersambung ke Rasulullah atau saya hanya keturunan Semar Noyogenggong, Petruk, Gareng.”

            Dia berjanji, tiga bulan ke depan setelah hasilnya tes DNA dirinya didapat, akan diumumkan ke publik supaya dirinya yakin dan orang lain juga lebih mengetahui tentang dirinya. Para pendukungnya tampaknya tidak peduli dengan hasilnya. Mau Gus Fuad itu keturunan Nabi Muhammad saw atau bukan, nggak masalah. Bagi mereka, tetap akan menghormati Gus Fuad sebagai kiyainya.

            Kalau tidak salah, Rizieq Shihab pernah mengatakan bahwa tes DNA sekarang itu tidak sulit karena ada rambut Rasulullah saw yang sampai sekarang dijaga. Bahar juga bersedia untuk tes DNA dengan syarat makam Nabi Muhammad saw dibongkar untuk diambil darahnya, kemudian dicocokkan dengan darah dirinya. Syarat yang sangat ngaco dan bodoh sekali untuk membongkar makam Nabi Muhammad saw. Lucu sekaligus ngeselin.

               Menurut saya sih, apa susahnya tes DNA?

            Hasilnya, tidak akan berpengaruh besar. Mau keturunan Nabi Muhammad saw atau bukan, orang akan melihat dirinya saat ini. Kalau dia bermanfaat bagi orang banyak, orang lain akan menghormati dan mencintainya. Akan tetapi, jika dia justru memanfaatkan orang lain, apalagi memanfaatkan agama untuk kepentingan dirinya yang rendah, orang lain akan menghinakannya. Allah swt juga.

            “Har, Fiq, Zieq, kapan tes DNA?” tantang Gus Fuad Plered.

            Sampurasun.

Thursday, 20 April 2023

Kalau Pake Pikiran Bahar, Cucu Nabi Muhammad saw Itu Tidak Ada

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Masih ingatkan tulisan saya yang lalu, Bahar bin Smith mengatakan bahwa keturunan wali songo itu tidak ada? Kalaupun ada, itu dari pihak perempuan yang artinya terputus?

            Ucapannya itu jelas menimbulkan kemarahan keturunan para wali di Indonesia. Mereka yang biasanya tenang dan adem bersama masyarakat, tiba-tiba marah dan menunjukkan berbagai bukti bahwa mereka adalah keturunan wali songo dan tidak terputus hanya karena berasal dari pihak ibu atau perempuan. Ada yang mengajak Bahar berkelahi, tes DNA, bahkan memakinya sebagai keturunan Nabi palsu. Jika keributan ini tidak berhenti, Bahar bisa masuk penjara lagi untuk yang ketiga kalinya setelah menganiaya bocah santri dan isi ceramahnya yang mengganggu banyak orang. Dia nggak kapok-kapok kayaknya, malah banyak yang meminta Bahar supaya dites kejiwaannya. Paling tidak, penjaga keturunan Kesultanan Banten sudah mulai berniat untuk membawanya ke ranah hukum.

            Meskipun demikian, ada sisi positifnya celoteh Bahar ini, yaitu mendorong terbukanya penelitian mengenai nasab atau garis keturunan Nabi Muhammad saw di Indonesia. K.H. Imaduddin Utsman Al Bantani sudah memulainya dan menegaskan bahwa mereka yang mengaku-ngaku keturunan Nabi saw belum terbukti secara ilmiah nasabnya, alias hanya mengaku-aku. Kalau mau mempelajari hasil penelitiannya, bisa pelajari sendiri. Tidak mungkin saya menulisnya di sini. Dia bahkan mengatakan bahwa Bani Alawiyin tempat keluarga Bahar tidak terhubung kepada Nabi Muhammad saw, alias terputus.

            Kalau ingin membantah hasil penelitian, bantah lagi dengan penelitian baru yang menggunakan metode-metode ilmiah yang berlaku di seluruh dunia, bukan dengan ceramah-ceramah kasar yang ujung-ujungnya mengkafir-kafirkan orang, menuduh dzalim, memastikan masuk neraka, dan lain sebagainya. Ceramah-ceramah seperti itu hanya membela diri dengan suara keras dan menunjukkan lemahnya ilmu yang dimiliki. Mereka hanya berlindung di balik kekasaran, ilmunya sendiri sangat rendah.

            Sekarang semakin banyak yang bersuara serta mengungkapkan data dan fakta-fakta yang ada. Dalam tulisan kali ini, saya hanya ingin ikut satu saja membantah juga pendapat bodoh Bahar yang mengatakan bahwa keturunan dari pihak ibu itu terputus. Dengan pendapatnya itu, Bahar mengungkapkan bahwa keturunan para wali songo itu tidak ada. Kalaupun ada, itu berasal dari pihak ibu, artinya terputus. Keturunan yang berlanjut itu adalah berasal dari pihak laki-laki atau ayah. Padahal, generasi keturunan wali songo banyak yang berasal dari pihak ayah. Kalaupun hanya dari pihak ibu, itu juga tidak terputus. Keturunan dari ayah dan dari ibu sama saja melanjutkan keturunan ke generasi-generasi berikutnya.


Wali Songo (Foto: kompas.com)

            Menurut Habib Luthfi bin Yahya, pendapat terputusnya keturunan karena berasal dari jalur atau pihak ibu adalah pendapat orang-orang Arab bodoh, makanya disebut Arab Jahiliyah. Arab bodoh yang hidup dalam kebodohan. Kebodohan mereka itu karena selalu mengagungkan laki-laki dibandingkan perempuan. Bahkan, anak perempuan dikubur hingga mati itu salah satunya akibat dari  rasa malu karena tidak bisa diajak perang dan tidak dapat melanjutkan keturunan. Jadi, jelas pendapat itu berasal dari keangkuhan laki-laki yang menganggap kehidupan ini termasuk agama itu diperuntukkan bagi kaum laki-laki. Itu kebodohan yang akut.

            Nabi Muhammad saw sendiri sempat menjadi korban pelecehan, penghinaan, atau pembulian dengan disebut sebagai nabi yang tidak punya keturunan. Hal itu disebabkan keturunannya itu atau cucunya berasal dari anak perempuannya, Siti Fatimah ra. Jelas hal itu menjadi bahan bulian orang-orang Arab bahwa Muhammad saw keturunannya terputus karena berasal dari anak perempuannya, Fatimah ra. Hasan dan Husen adalah berasal dari Fatimah ra yang jelas perempuan dan berasal dari jalur ibu. Kalau mengikuti pendapat Bahar, terputuslah keturunan Nabi saw karena generasi setelahnya berasal dari Fatimah ra yang perempuan itu.

            Aneh bukan?

            Bahar mengaku-aku sebagai keturunan atau cucu Nabi saw, tetapi berpendapat bahwa jalur keturunan dari perempuan atau pihak ibu itu terputus, padahal keturunan Nabi saw itu berasal dari Hasan dan Husen yang merupakan anak dari perempuan, Fatimah ra?

            Kalau dari perempuan terputus, tidak perlu ngaku-ngaku keturunan Nabi saw, kan terputus, iya kan?

            Itu juga kalau memang benar Bahar adalah keturunan Nabi saw.

Ini cacat logika menurut saya.

Bulian atau ejekan orang-orang Arab bodoh itu membuat Nabi Muhammad saw sedih bukan main. Allah swt tahu kesedihan Nabi saw. Oleh sebab itu, Allah swt menurunkan QS Al Kautsar untuk menghibur Nabi Muhammad saw. Baca saja sendiri ayat dan artinya, pendek kok. Dalam surat itu Allah swt menegaskan bahwa Nabi saw sudah diberikan nikmat yang sangat besar dan garis keturunannya tidak terputus meskipun punya cucu dari Fatimah ra. Justru, orang-orang yang membuli Nabi Muhammad saw itulah yang keturunannya terputus.

Turunnya surat Al Kautsar itu merupakan penegasan Allah swt bahwa keturunan dari perempuan itu tidak membuat garis keturunan setelahnya terputus, tetap berlanjut. Jadi, keturunan Nabi saw tidak terputus dan terus berlanjut dari jalur anak perempuannya, Fatimah ra.

Zaman teknologi sekarang malah lebih mudah diterangkan. Manusia itu ada karena adanya pertemuan antara sperma laki-laki dan ovum atau sel telur dari perempuan. Tidak mungkin lahir manusia jika hanya ada sperma laki-laki kalau tanpa ada sel telur dari perempuan, kecuali untuk kasus tertentu misalnya kelahiran Nabi Isa as atau Yesus. Normalnya sih, laki-laki dan perempuan itu memiliki kontribusi yang sama untuk melahirkan seorang manusia. Anak-anaknya, ya anak mereka, bukan hanya anak atau keturunan dari pihak laki-laki atau ayahnya.

Dulu ketika saya masih SMA, sering bercanda tentang asal usul manusia. Asal manusia itu dari ibu, sedangkan ayah itu cuma usul. Kalau usul itu kan suka ngacung, kalau usulannya diterima oleh ibu, terjadilah pertemuan yang menghasilkan keturunan. Artinya, pihak ayah dan pihak ibu sama-sama punya jasa atas kelahiran anak-anaknya.

            Soal ucapan Bahar yang mengatakan keturunan para wali itu terputus adalah salah besar. Hal itu disebabkan keturunan para wali bukan hanya dari jalur ibu, melainkan pula dari jalur ayah. Kalaupun hanya dari jalur ibu, keturunan mereka juga tidak terputus sebagaimana yang ditegaskan Allah swt dan dijelaskan oleh ilmu pengetahuan.

            Kalau mau berguru atau menganggap seseorang itu guru, dari dulu sudah diberikan arahan bahwa guru itu harus pertama orang yang luas ilmunya, memiliki banyak sumber ilmu. Kedua, kalaupun ilmunya biasa-biasa saja, usianya harus yang sudah sepuh karena usianya yang sudah tua itu berarti sudah memiliki pengalaman hidup yang panjang. Dengan pengalaman hidupnya yang melewati suka, duka, asam, garam, manis, dan pahit itu akan memberikan banyak ilmu untuk generasi setelahnya. Ketiga, guru itu harus wara, bijaksana dan berhati-hati dalam berucap, berperilaku, dan memberikan pengajaran agar tidak merugikan dan mencelakakan murid-muridnya. Pilih guru yang baik dan mengajarkan untuk hidup lebih baik, bukan mengajarkan kerusakkan dan membuat kehidupan menjadi gelisah.

            Maaf kalau tulisan saya salah. Kalau ada yang berbeda pendapat dan harus ada yang dikoreksi, sampaikan saja. Kita bisa berdiskusi dengan baik tanpa harus bertengkar atau bermusuhan.

            Ilustrasi Wali Songo saya dapatkan dari kompas com.

            Sampurasun.

Sunday, 16 April 2023

Bahar bin Smith Tantang Keturunan Para Wali

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Seharusnya, pada bulan Ramadhan ini seluruh umat Islam lebih banyak menahan diri, menguasai diri, mengendalikan hawa nafsu, serta menebarkan kebaikan, menciptakan perdamaian, dan menyebarkan kasih sayang. Artinya, tak perlu diikuti atau dijadikan teladan mereka yang mengumbar hawa nafsu negatif, berbicara kotor, menyakiti hati orang lain, dan menciptakan permusuhan. Sayang sekali, Ramadhan yang mulia ini dikotori oleh hal-hal bernada provokatif negatif.

            Berawal dari kekesalan dan kejengkelan Gus Fuad Plered, pemuka agama yang sangat dihormati kalangan nahdliyin yang menilai bahwa terlalu banyak orang yang mengaku habib, tetapi ceramahnya mengandung banyak kebencian, makian, arogan, kasar, dan menimbulkan perpecahan. Menurutnya, hanya satu-dua atau hanya sedikit habib yang berdakwah memberikan pencerahan dan pemahaman yang menyejukkan bagi umat. Oleh sebab itu, dia menegaskan bahwa para habib yang kasar-kasar dan tidak mencerahkan itu tidak perlu berdakwah lagi di Indonesia karena berbahaya bagi umat. Gus Fuad Plered yang diyakini sebagai keturunan Sunan Ampel itu beberapa kali mengkritik dan menyayangkan sikap, ucapan, dan perilaku Bahar bin Smith yang menurutnya tidak “mempribumi”, tidak sesuai dengan sikap asli bangsa Indonesia yang dikenal baik, lembut, dan tenang.


Gus Fuad Plered (Foto: Editor.id)


            Tampaknya kritikan Gus Fuad dibalas oleh Bahar bin Smith yang sudah dua kali masuk penjara ini gara-gara menganiaya santri dan ocehannya saat ceramah. Entah akan berapa kali lagi dia akan masuk penjara. Bahar menganggap Gus Fuad bodoh, bahkan mengatakan bahwa di Indonesia ini tidak ada keturunan Wali Songo, terputus. Kalau pun ada, itu berasal dari garis keturunan ibu.

Bahar bin Smith (Foto: Postingnews.id)

            Ucapan Bahar ini tentu saja membuat tersinggung dan marah keturunan para wali. Keturunan Sunan Gunung Djati yang nyambung ke Kesultanan Banten, Sultan Ageng Tirtayasa, Sultan Maulana Yusuf, Sultan Hasanudin, dan masih banyak lagi benar-benar angkat suara dan meminta Bahar mencabut pernyataannya, termasuk memohon maaf. Kalaupun ada bukti terputusnya keturunan para wali, harus dijelaskan secara ilmiah.

            Lebih jauh dari itu, K.H. Imaduddin Utsman Al Bantani yang jelas dari Banten, Pengasuh Pondok Pesantren Nahdlatul Ulum Cempaka, Kresek, Banten lebih mempopulerkan hasil penelitiannya. Kyai Imaduddin yang juga Ketua Fatwa Komisi MUI Banten dengan suara lantang menjelaskan bahwa orang-orang yang mengaku habib di Indonesia belum terbukti secara ilmiah merupakan keturunan Nabi Muhammad saw. Bahkan, menurutnya, Bani Alawiyin itu terputus hubungan darahnya dengan Nabi Muhammad saw. Bani Alawiyin yang biasa disebut Ba alawy ini termasuk di dalamnya Bahar Smith dan orang-orang yang serupa dengannya. Justru bani ini dianggap tidak terhubung dengan Rasulullah saw.  Tak heran, banyak kalangan yang ingin bukti ilmiah, termasuk tes DNA untuk lebih menguatkan keyakinan ada-tidaknya hubungan darah dengan Muhammad saw.


K.H. Imaduddin Utsman Al Bantani (Foto: Inews.id)


            Makin jauh, ada pemuka agama yang sangat marah, mengaitkan dengan  urusan politik bahwa keturunan Yaman tidak pantas untuk banyak gaya di Indonesia. Pribumi adalah pemilik hak yang sah untuk memimpin Indonesia.

            Sayyid Seif Alwy dengan suara menggelegar sangat marah berpidato dalam bahasa Sunda, “Saha nu ngomong keturunan Wali Songo euweuh? Kadieu siah! Dikepret bulak-balik ku aing ayeuna keneh! Gelut jeung aing! Moal eleh gelut aing mah! Rek saha wae digampleng ku aing! [Siapa yang bilang keturunan Wali Songo tidak ada? Ke sini! Saya kepret bolak-balik sekarang juga! Berantem sama gua sekarang! Tidak akan kalah berkelahi saya mah! Siapa pun akan gua tempeleng!]   Kalau ada di Indonesia, tetapi membenci Wali Songo dan menganggap keturunan Wali Songo tidak ada, minggat dari Indonesia!”  


Sayyid Seif Alwy (Foto: Portal Majalengka - Pikiran Rakyat.com)


            Coba kalau sudah begini, makin kacau jadinya, makin aneh. Menurut saya ini perkara yang diada-adakan dengan banyak kebodohan dan ketololan.

            Sejak saya kecil, ngaji, tidak ada guru ngaji, ustadz, atau kiyai yang ngaku-ngaku keturunan Nabi Muhammad saw, terus marah-marah minta dihormati. Tidak ada seorang pun yang teriak-teriak ‘saya cucu Nabi!’, tidak ada yang mengaku-ngaku keturunan Nabi saw, lalu mengemis untuk dimuliakan. Semua biasa saja hubungannya antara murid dengan guru. Kalaupun ada di antara guru-guru saya adalah keturunan Nabi Muhammad saw, bukan dianya sendiri yang bilang, melainkan orang-orang lain yang ngasih tahu saya bahwa dia adalah keturunan Rasulullah saw. Dianya sendiri, tidak pernah bicara soal itu dan bersikap biasa saja seperti orang normal lainnya. Rasa hormat saya dan murid lainnya itu bukan dipaksa, tetapi karena memang timbul dari hati karena keluhuran ilmunya, kemuliaan sikapnya, dan kasih sayang kepada murid-muridnya.

            K.H. Muchtar Adam, pendiri pesantren Babussalam tidak pernah meminta saya untuk memuliakannya, biasa saja. Saya menghormatinya karena memang keluhuran ilmunya yang menulis indeks Al Quran. Dulu sebelum ada internet, untuk memahami Al Quran, saya gunakan buku itu. Fungsinya mirip google, yaitu cari kata kunci yang diperlukan, maka ada runtunan ayat yang memuat kata itu di bukunya. Sekarang, bukunya sudah tidak diperlukan karena ada internet dan google. Setelah K.H. Muchtar Adam wafat, saya baru tahu bahwa cucunya adalah murid saya, mahasiswa saya. Biasa saja, saling menghormati secara normal.

            Keturunan Nabi saw yang sangat saya hormati karena ilmunya, saya kenal dari buku yang ditulisnya sendiri, Futh Al Ghaib, Penyingkap Kegaiban. Syekh Abdul Qadir Jaelani. Kalau membaca bukunya, seolah-olah Syekh ada di depan saya dan saya tunduk mendengarkan ajaran-ajarannya.

            Pada dasarnya saya menghormati semua guru, bahkan semua orang, siapa pun dia jika melakukan kebaikan dan kemuliaan. Tidak peduli dengan leluhurnya. Orang baik adalah orang mulia, keturunan siapa pun dia.

            Dulu itu tidak dikenal istilah habib yang minta dimuliakan, merengek minta dihormati. Istilah habib itu mulai merebak sejak Pilpres 2014 yang kemudian makin marak memasuki Pilpres 2019, semuanya terkait politik. Makin ke sini makin runyam, mengganggu ketenangan keturunan para wali sehingga mereka marah. Para wali itu jelas diakui sebagai keturunan Nabi Muhammad saw. Keturunan para wali sekarang sudah berada pada berbagai bidang kehidupan, ada yang tetap mengajarkan agama, ada yang jadi pengusaha, dokter, pejabat pemerintah, bahkan Jenderal Dudung pun termasuk keturunan Sunan Gunung Djati.

            Sekarang, tiba-tiba bermunculan keturunan para wali yang marah dan tersinggung karena dianggap garis darahnya terputus kepada Nabi Muhammad saw. Padahal, mereka dulu tenang-tenang saja hidup dengan masyarakat tanpa mengaku-aku sebagai keturunan wali dan Nabi Muhammad saw. Biasa saja hidup normal dengan masyarakat lainnya. Sekarang, gara-gara ucapan Bahar yang sudah dipenjara dan mungkin akan dipenjara lagi itu, seolah-olah terjadi rebutan siapa yang paling benar merupakan keturunan Nabi Muhammad saw. Lumayan memalukan menurut saya.

            Untuk apa membicarakan dan menyombongkan garis darah leluhur dengan angkuh?

            Hal yang paling penting kan adalah bagaimana mencerahkan, menenangkan, dan menebarkan manfaat di tengah masyarakat, iya kan?

            Iya toh pisan atuh.

            Memalukan sekali jika mengaku-aku sebagai keturunan Nabi saw, tetapi kerjaannya bikin kegaduhan dan membuat umat berhati keras, tumpul, bodoh, dan tersesat. Sangatlah mulia jika mampu menciptakan kondisi masyarakat yang bermanfaat bagi masyarakat lainnya karena manusia yang paling baik adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain.

            Ingat, ini Ramadhan, jangan picu kegaduhan. Malu-maluin saja.

            Lupa dengan manfaat Ramadhan yang penuh berkah dan ampunan?

            Kata Habib Jindan bin Novel, nanti di akhirat ada banyak orang yang berteriak-teriak kepada Nabi Muhammad saw bahwa mereka adalah cucu Nabi saw. Akan tetapi, Muhammad saw tidak mengakuinya. Orang-orang itu heran bahwa mereka adalah berasal dari darah daging Nabi saw, tetapi tidak diakui. Kata Nabi saw, benar kalian berasal dariku, tetapi bukan dari spermaku. Kalian berasal dari air kencingku.


Habib Jindan bin Novel (Foto: Twitter)


            Coba Habib Jindan bicara begitu. Artinya, dia marah terhadap orang-orang yang mengaku cucu Nabi saw, tetapi berperilaku memalukan Nabi Muhammad saw.

            Foto Bahar Smith saya dapatkan dari Postingnews id; Gus Fuad Plered dari Editor id; Kyai Imaduddin dari iNews id; Sayyid Seif Alwy dari Portal Majalengka – Pikiran Rakyat com; Habib Jindan bin Novel dari Twitter.

            Sampurasun.

Thursday, 6 January 2022

Bahar Nggak Harus Dipenjara Sebetulnya

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Bahar bin Smith sebetulnya tidak harus masuk penjara. Di dalam tatacara penanganan hukum di Indonesia sebetulnya ada yang disebut “restorative justice”. Bahasa awamnya adalah cara-cara “kekeluargaan” sehingga bisa diselesaikan tanpa harus masuk ke ruang pengadilan. Masalah bisa diselesaikan di luar pengadilan jika terjadi kesepahaman antara pelaku dengan orang yang merasa dirugikan, terutama terhadap kasus-kasus yang terkait UU ITE, seperti, fitnah, ujaran kebencian, dan kebohongan. Dengan demikian, tidak perlu ada pemenjaraan terhadap pelaku, tetapi yang tercipta adalah adanya kesadaran bersama. Cara-cara ini sangat dianjurkan oleh Kapolri Sigit Listyanto sehingga keharmonisan dapat lebih terjaga dan kearifan lokal masyarakat dapat lebih berkembang.

            Untuk dapat tercapai penyelesaian restorative justice, seluruh pihak harus saling memahami dan menahan diri agar terbuka dan tidak memperuncing masalah, apalagi meneruskan perilaku-perilaku yang merugikan orang lain dan melanggar hukum. Sayangnya, Bahar tidak mampu menahan dirinya, tidak terbuka untuk penyelesaian kekeluargaan, bahkan berulang-ulang bersikap arogan dan angkuh seolah-olah dirinya benar. Dia tetap melakukan penghinaan kepada presiden, pejabat negara, dan menantang aparat keamanan. Inilah yang menutup jalan bagi terlaksananya restorative justice. Jika saja sikap Bahar  melunak, tak perlu masuk penjara. Semua bisa saling memahami dan membuka jembatan untuk lebih baik dalam berkomunikasi. Akibatnya, cara-cara kekerasan dilakukan aparat keamanan, memasukannya ke penjara agar tidak lagi mengulangi perbuatan-perbuatan yang serupa.

            Saya heran apakah memang ini sikap Bahar yang asli atau memang dikompori oleh orang-orang sekitarnya?

            Mengapa tidak ada yang menasihatinya?

            Hal yang terjadi malah orang-orang sekitarnya dan pengikutnya mendukung perilaku-perilaku buruk itu. Bahkan, mencoba membolak-balikan fakta  bahwa Bahar itu mengkritik.

            Kritikan apa?

            Dia itu memaki, menghina, dan menyebarkan berita dusta.

            Apakah memang sengaja dikompori dan orang-orang sekitarnya mendapatkan keuntungan dari perilaku Bahar?

            Dengan melihat perilaku Bahar seperti itu, tak heran jika Habib Abdillah Toha mengusulkan agar Bahar dipasung di rumah sakit jiwa hingga sembuh. Artinya, dia menganggap Bahar memiliki gangguan kejiwaan. Sebelumnya, Politisi PSI Dede Uki menilai Bahar memiliki kelainan kejiwaan yang disebutnya “superiority complex”, yaitu merasa diri paling mulia, paling tinggi, dan paling berkuasa karena merasa cucu Nabi Muhammad saw. Padahal, silsilahnya ini harus diperiksa ulang karena Bahar yang masih sangat muda itu kata Gus Nuril mengaku keturunan Nabi saw yang ke-26, sementara itu Habib Luthfi bin Yahya saja yang usianya lebih tua adalah keturunan Nabi saw yang ke-40. Ini memang meragukan.

            Apalagi setelah didatangi Danrem Surya Kencana Jenderal Ahmad Fauzi, Bahar bersikap tidak sopan, padahal TNI mendatanginya untuk mengingatkannya agar lebih terjadi ketertiban dan ketenangan di daerah kekuasaannya. Para netizen menyebut Bahar sebagai Megalomania. Ini adalah gangguan kejiwaan yang merasa diri lebih berkuasa, selalu benar, paling cerdas, dan tidak mau mendengarkan nasihat orang lain. Penyakit Megalomania ini bisa dilihat dari cara berpikir orang-orang yang ngawur dan tidak tersusun dengan baik sehingga tidak bisa membedakan mana kenyataan dan mana khayalan.

            Kalau memang Bahar tidak mampu mengendalikan dirinya seperti yang diakui dirinya sendiri bahwa dia temperamental dan orang-orang di sekitarnya tidak mampu mengendalikannya dengan berbagai nasihat yang baik, Bahar memang harus dikendalikan negara dengan menggunakan para dokter ahli jiwa yang dapat memberikannya obat dan bimbingan untuk mengatasi berbagai kelainan dalam jiwanya.

            Kalau dirawat di rumah sakit jiwa, jangan selalu membayangkan orang gila di jalanan yang kumal dan gembel itu. Banyak kok pejabat, orang kaya, masyarakat yang berobat ke rumah sakit jiwa untuk memperbaiki kejiwaannya. Misalnya, mereka yang kalah dalam Pilkada, Pileg, atau Pilkades sudah memesan duluan kamar di rumah sakit jiwa untuk memulihkan tekanan, stres, atau depresi akibat kekalahannya. Banyak juga masyarakat yang memasukan anak-anaknya ke rumah sakit jiwa karena kecanduan game online yang merusakkan perilakunya sendiri.

            Mudah-mudahan, Bahar atau siapa pun dapat lebih baik lagi hidup bersama dengan masyarakat secara baik selepas menjalani hukumannya. Dengan demikian, tercipta kehidupan yang lebih harmonis serta dapat bersama-sama membangun diri dan masyarakat untuk lebih maju dan berkembang.

            Sampurasun.

Tuesday, 4 January 2022

Rasanya Polisi Nge-Prank Deh

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Soal Bahar bin Smith ini bikin saya kaget, tetapi juga pengen ketawa. Ini polisi memang agak mengherankan dari awal. Banyak yang mereka tutupi soal Bahar ini. Mereka memang bekerja keras, tetapi tidak jelas apa yang sebenarnya mereka selidiki dan sidik. Orang-orang, TNI, termasuk saya banyak membicarakan soal penghinaan atau ujaran kebencian Bahar kepada Kasad Jenderal Dudung Abdurahman. Bahar, teman-temannya, termasuk para pengacaranya pun banyak berbicara tentang hal itu. Saya juga coba memahami kasus “Tuhan bukan orang Arab” dan kalimat pelintiran Bahar dari segi bahasa. Maklum, saya kan lulusan bahasa Indonesia dari Universitas Padjadjaran, Bandung. Semua energi tersedot ke arah masalah itu. Polisi mendiamkan berita dan diskursus soal ujaran kebencian itu.

            Tak tahunya, ketika Bahar ditahan Polda Jabar, polisi menjelaskan bahwa kasus Bahar adalah soal penyebaran berita bohong. Kaget saya.

            Berita bohong yang mana?

            Saya pikir soal kebohongan Bahar yang bilang dalam ceramahnya  bahwa TNI tidak ada di bencana Semeru, padahal TNI adalah yang pertama datang dan sampai sekarang pun masih ada di Semeru. Eh, ternyata yang dikerjakan polisi itu adalah dugaan penyebaran berita bohong soal kasus penembakan di jalan tol km 50 itu.

            Gusti, yang itu?

            Itu mah kasus lama. Jadi, salah kalau ada orang yang bilang bahwa polisi secepat kilat mengurus soal Bahar, padahal kasusnya baru saja terjadi. Berbeda dengan kasus lain yang diurus atau ditanggapi polisi tidak cepat alias dalam waktu lama. Kasus di jalan tol itu kan kasus yang lama, baru diurus sekarang karena ada beberapa hal yang harus dipersiapkan.

            Hal itulah yang membuat saya pengen tertawa.

            Saya tidak tahu Bahar berbohong apa pada ceramah 11 Desember 2021 di Margaasih, Kabupaten Bandung karena saya tidak menontonnya. Akan tetapi, ada beberapa sumber yang menjelaskan bahwa dalam ceramahnya Bahar mengatakan bahwa enam FPI yang mati di tol km 50 itu dicabuti kuku-kukunya, lalu kemaluannya dibakar, dan ada beberapa kalimat lainnya. Karena kebohongan itulah Bahar ditahan. Jadi, bukan soal ujaran kebencian kepada Dudung.

            Karena kebohongan itu, Bahar terancam lima tahun penjara. Hal itu bisa menjadi tambah panjang jika ditambah kasus ujaran kebencian kepada Dudung, penghinaan kepada presiden, ancaman kekerasan, dan lain sebagainya. Banyak sekali tabungan kasus yang dapat menjerat Bahar pada masa depan.

            Bahar pernah sesumbar bahwa dirinya pantang meminta maaf dan lebih suka membusuk dalam penjara. Selain itu, dia menantang Jokowi dan polisi untuk menangkapnya. Itulah yang membuat saya sangat ragu bahwa dia adalah seorang ulama.

            Tidakkah dia tahu bahwa Imam Al Ghazali pernah memberikan nasihat agar berhati-hati berbicara?

            Tidakkah dia paham bahwa ketika kita berbicara dan masa itu adalah dalam masa kabul doa, kata-kata kita itu bisa menjadi kenyataan?

            Jika kita berbicara hal yang baik, kebaikan itu menjadi kenyataan. Sebaliknya, jika kita berbicara buruk, keburukan itu bisa menjadi kenyataan. Hal itu disebabkan ketika kita mengatakan hal-hal itu, mau kebaikan atau keburukan, sedang berada dalam masa kabul doa. Begitulah yang diajarkan Imam Al Ghazali.

            Karena kita tidak tahu kapan masa kabul doa itu, berbicaralah hal-hal yang baik sehingga kebaikan itu menjadi kenyataan bagi kita. Hindari berbicara buruk sehingga keburukan itu tidak terjadi kepada kita.

            Lebih baik membusuk dalam penjara!

            Kalau itu terucap dalam masa kabul doa, ya … nikmatilah.

            Allah swt Mahakasih, Maha Pengampun. Dia sangat sayang kepada seluruh ciptaan-Nya.

            Sampurasun.

Monday, 3 January 2022

Bahar Kacaukan Pikiran Umat

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Bahar bin Smith telah mengacaukan pikiran umat karena mengubah-ubah kalimat yang disampaikan oleh Jenderal Dudung Abdurachman menjadi sangat jauh artinya. Tulisan saya ini didasarkan pada laporan Habib Husin Alwi kepada pihak kepolisian yang melaporkan bahwa Bahar sudah memprovokasi umat dengan memelintir kalimat Dudung.

            Sudah saya tulis dalam tulisan yang lalu berjudul “Tuhan Bukan Orang Arab” bahwa saya menonton video Dudung dalam podcast Deddy Corbuzier itu selama satu jam sembilan menit. Saya ulangi lagi sedikit tulisan saya itu. Dudung menjelaskan bahwa dirinya setiap selesai shalat selalu berdoa dengan menggunakan bahasa Indonesia.

            Dia bilang, “Tuhan kan bukan orang Arab.”

            Maksudnya, berdoa dengan bahasa apa pun Tuhan pasti tahu, pasti mengerti, pasti paham. Tidak harus selalu menggunakan bahasa Arab. Tuhan kan memahami seluruh bahasa karena Dia sendiri yang menciptakan bahasa itu. Pernyataan Dudung justru menunjukkan bahwa Tuhan adalah Sang Penguasa terhadap segala sesuatu, termasuk bahasa. Sesederhana itu untuk memahami kalimat Dudung.

            Masih ingat kan tulisan saya yang itu?

            Mengapa sekarang jadi ribut, padahal saya mendengarnya biasa-biasa saja?

            Dalam laporan Husin Alwi dijelaskan bahwa Bahar mengubah atau memelintir kalimat Dudung menjadi, Saya tidak mau berdoa dengan bahasa Arab karena Tuhan bukan orang Arab. Ya, berarti kan menyamakan dengan makhluk.”

            Itulah yang menjadi masalahnya. Bahar mengubah-ubah kalimat Dudung menjadi berbeda jauh artinya. Kalau memang benar demikian terungkap di pengadilan, Bahar telah menyesatkan umat, mengacaukan pikiran umat, dan membuat umat menjadi terpecah belah.

            Semua orang boleh menonton, bisa memperhatikan, dan bisa menilai dari kalimat-kalimat itu. Tidak ada yang perlu ditutupi karena memang sudah dan terus beredar hingga hari ini video-videonya.

            Mudah kan membedakan arti dari kedua kalimat tersebut?

            “Tuhan kita kan bukan orang Arab.” Ini kalimat Dudung yang saya dengar.

            Bedakan dengan kalimat berikut.

Saya tidak mau berdoa dengan bahasa Arab karena Tuhan bukan orang Arab. Ya, berarti kan menyamakan dengan makhluk.” Ini kalimat Bahar yang dilaporkan Husin Alwi ke polisi.

Kalau memang Dudung berkata seperti yang dikatakan Bahar, jelas Dudung salah. Akan tetapi, saya menonton sendiri dan mendengar sendiri, Dudung tidak bicara seperti itu.

Kalaulah terungkap dan terbukti di pengadilan, berarti Bahar adalah penipu dan pengacau.

Sungguh, Allah swt tidak bersama penipu, pengacau, orang angkuh, arogan, dan pembuat gaduh. Sesungguhnya, Allah swt ada bersama orang-orang yang hancur hatinya.

Nabi Musa as bertanya kepada Allah swt, “Wahai Tuhan, di mana aku mencari-Mu?”

Allah swt menjawab, “Carilah Aku di sisi orang-orang yang hancur hatinya. Sesungguhnya, Aku dekat dengan mereka setiap hari (sejarak) satu ba (sekitar dua lengan). Jikalau tidak demikian, mereka pasti roboh (binasa).”

Kisah ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hambal.

Bantulah mereka yang sedang kesusahan hidup, kesulitan menjalani hidup karena Allah swt bersama mereka. Allah swt bersama orang-orang itu dan tidak bersama para penipu angkuh yang teriak-teriak di jalanan sambil menyesatkan orang lain.

Sampurasun.

Saturday, 1 January 2022

TNI Jangan Ikut Campur

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Saya bisa memahami kemarahan dan kekesalan para prajurit TNI AD yang merasa dihina pemimpinnya, Jenderal Dudung Abdurachman. Akan tetapi, kita semua harus menahan diri, bersabar, dan mengikuti aturan yang berlaku. Jika melakukan sesuatu yang di luar jalur, pasti terjadi kesalahan. Bukan hanya TNI yang harus sabar, melainkan masyarakat juga harus bersabar.

            Kejadian Kamis, 30 Desember 2021, sungguh keliru. TNI melakukan kesalahan yang tidak perlu. TNI penguasa setempat mendatangi rumah Bahar bin Smith, lalu menyampaikan nasihat dan pesan agar Bahar tidak lagi berceramah dengan kasar dan menghina orang lain. Di samping itu, ada sedikit ancaman memang dari TNI yang saya perhatikan bahwa jika tidak memenuhi panggilan kepolisian, Bahar akan dijemput langsung.  

            Maksud TNI sebetulnya bagus, tetapi itu berada di luar batas kewenangannya dan mengagetkan banyak orang. Akibatnya, terjadi perdebatan antara Bahar dan TNI. Harus saya akui bahwa kali ini Bahar menang karena TNI offside, kelebihan tindakan. Kini Bahar berada di atas angin dan memperluas fenomena seolah-olah TNI menakut-nakuti rakyat. Akibatnya, TNI harus pergi dari kediaman Bahar karena memang tidak bisa apa-apa.

            Seharusnya, TNI lebih tenang karena kasus ujaran kebencian Bahar sudah ditangani kepolisian dan polisi memang sudah memanggil Bahar untuk datang pada Senin, 3 Januari 2022, tiga hari dari kejadian perdebatan itu, untuk diperiksa kasusnya. Tinggal tunggu saja pemeriksaan itu. Kalau pun Bahar tidak datang, masih urusan polisi juga untuk kembali memanggilnya. Kalau sudah tidak datang lagi, polisi dapat menjemputnya. Bukan TNI yang menjemputnya.

            Mungkin TNI dapat membantu kepolisian jika isu-isu yang beredar membahayakan terjadi. Memang ada isu yang beredar bahwa akan ada pengerahan massa untuk mengawal Bahar ketika diperiksa polisi. Jika itu terjadi dan polisi memerlukannya, TNI bisa dengan sigap mengamankan situasi seperti ketika menurunkan dan merobek baliho Rizieq Shihab karena Satpol PP sangat memerlukan tambahan kekuatan. Hal ini memang pernah terjadi ketika Rizieq dipanggil Polda Jabar, mengerahkan massa sehingga terjadi bentrokan dengan Ormas anti-Rizieq, anak buah Kang Dedi Mulyadi mantan Bupati Purwakarta itu. Beruntung, polisi  bisa mengamankan situasi dan bentrokan bisa diredam. Dalam situasi seperti itu, kemungkinan TNI diperlukan kalau polisi memerlukan bantuan itu juga. Kalau tidak perlu, ya TNI tidak perlu ikut campur.

            Meskipun TNI telah melakukan kesalahan, minimal ada pesan yang tersampaikan kepada Bahar dan para pengikutnya, yaitu TNI selalu memperhatikan mereka di mana saja dan tidak segan-segan melakukan tindakan yang sangat tegas jika situasi mengharuskan TNI turun tangan. Jangan macam-macam dengan TNI AD. Begitu kira-kira pesan yang pasti tersampaikan.

            Oh iya, buat mereka yang sedang terlibat ancam-mengancam duel, adu fisik gara-gara Bahar, segera hentikan, polisi sudah menanganinya, tinggal kita lihat saja seserius apa polisi menanganinya. Sudah tidak perlu lagi saling ancam untuk saling bunuh. Hukum sedang dijalankan.

            Lagian, duelnya juga nggak jadi-jadi. Berantemnya cuma di Medsos. Ketika sudah disepakati tempat dan waktunya untuk ketemu duel, nggak ketemu juga. Yang satu bilangnya sudah nungguin, musuhnya bilang sudah ngontak lewat Hp buat memastikan, tetapi nggak diangkat, nggak dibalas pesannya. “Pasalingsingan” terus. Akhirnya, mereka balik lagi saling serang di Youtube.

            “Gua tungguin duel luh, nggak nongol-nongol, pengecut luh!”

            “Apa? Gua pastiin lewat telepon, kamu nggak angkat teleponnya. Ditanya lewat WA, nggak ngejawab-jawab. Dasar Pansos luh!”

            “Kapan kamu nelepon? Kapan kirim WA? Nomor Gua ganti tahu!”

            “Bacot Lu!”

            Wah, moal baleg-baleg, kitu jeung kitu we terus. Kucing-kucingan.

            Padahal mah tinggal ngomong, “Mun eudeuk, eudeuk. Mun moal, urang rek dicalana deui!”

            Sudahlah. Sekarang sedang ditangani polisi.

“Dicalana deui we kabeh, tong dituluykeun! Moal baleg!”

            Sampurasun.

Thursday, 30 December 2021

Kapan Orang Sunda Menyembah Pohon?


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Banyak yang marah kepada Bahar bin Smith. Banyak yang tersinggung dan menganggap rasis, merendahkan bangsa Indonesia dan meninggikan Arab. Perilaku memuja suatu bangsa dan merendahkan suatu bangsa atas dasar kesukuan dan kelahirannya memang tindakan rasis. Banyak sekali yang ingin melaporkan Bahar atas dugaan menghina bangsa Indonesia itu. Akan tetapi, sampai sekarang belum ada yang melaporkannya atas dugaan penghinaan rasis yang jelas berbau Sara itu. Baru Habib Husein Shihab yang melaporkannya ke polisi, tetapi bukan tentang rasisme, melainkan dugaan provokasi yang bisa membahayakan masyarakat dan stabilitas kehidupan. Di samping itu, ada pula relawan Jokowi yang melaporkannya atas dugaan penghinaan Bahar kepada Presiden.

Kalimat ini yang diucapkan Bahar dan menyinggung perasaan banyak orang, “Kalau tidak ada para ulama, para habaib yang datang dari Arab ke Indonesia, Si Dudung masih nyembah pohon.”

            Dari kalimat itu, banyak orang menyimpulkan bahwa Bahar mengagungkan Arab dan merendahkan bangsa Indonesia. Yang Bahar maksud Si Dudung itu adalah Kasad TNI Jenderal Dudung Abdurachman.

            Kalau orang lain mau melaporkan karena merasa tersinggung, terserahlah. Itu akan diurus kepolisian. Kalau memang ada tindakan pelanggaran hukumnya, harus diteruskan ke pengadilan. Kalau tidak ada, ya tidak akan diproses. Akan tetapi, bagi saya, lebih suka didiskusikan saja atau diperdebatkan dengan cara yang baik agar didapat pengetahuan baru dan tidak lagi salah berpikir.

            Sejarah mencatat bahwa bangsa Arab adalah bangsa yang bejat dan jahiliyah. Oleh sebab itu, Nabi Muhammad saw diturunkan untuk menghentikan kerusakan Arab. Nabi saw tidak diturunkan di Indonesia karena bangsa Indonesia itu bangsa yang sudah baik dan islami. Begitu kira-kira yang dikatakan oleh Habib Kribo Zen Assegaf.

            Dudung adalah orang Sunda, saya juga orang Sunda. Jadi, wajar jika ada anggapan bahwa berdasarkan kata-kata Bahar, orang Sunda dulu menyembah pohon. Wajar pula jika orang Sunda banyak yang marah.

            Pertanyaan saya, kapan orang Sunda menyembah pohon seperti yang dikatakan Bahar?

            Ada yang punya bukti bahwa orang Sunda pernah menyembah pohon?

            Ada yang punya data berupa foto, lukisan, atau ajaran dalam pemujaan terhadap pohon?

            Kalau tidak punya, kenapa atuh sok tahu mengatakan bahwa orang Sunda pernah menyembah pohon?

            Makanya, sebelum berbicara dan bertindak itu harus “iqra” dulu. Itu kan perintah Allah swt, ayat yang paling pertama. Kalau tidak iqra dulu, ya bodohlah jadinya.

            Dari dulu juga orang Sunda tidak pernah menyembah pohon. Orang Sunda itu sudah “monotheisme”, ‘bertuhan satu’. Oleh sebab itu, sangat mudah menerima Islam karena konsep ketuhanannya sama. Orang banyak yang mengatakan bahwa orang Sunda dulu itu agamanya adalah “Sunda Wiwitan”.

            Saya kasih tahu ya, saya pernah baca suatu naskah tentang ajaran Sunda Wiwitan yang didasarkan pada catatan “Prabu Munding Laya bin Gajah Agung bin Cakrabuana bin Aji Putih, Raja Sumedang Larang”. Orang Sumedang harus bantu saya kalau saya salah menerjemahkan. Kalau data ini salah, kasih tahu saya data yang benarnya dari keturunan Raja Sumedang Larang. Saya berterima kasih untuk itu kalau memang ada. Jauh sebelum para habib dan orang Arab datang, orang Sunda sudah menyembah Tuhan Yang Satu.

            Perhatikan.

            “Dina Agama Sunda Wiwitan, aya anu unina kieu, ‘Nya inyana anu muhung di ayana, aya tanpa rupa, aya tanpa waruga, hanteu ka ambeu-ambeu acan, tapi wasa maha kawasa di sagala karep inyana’.”

            Artinya.

            “Dalam Agama Sunda Wiwitan (Mula-Mula), ada ajaran seperti ini, ‘Dia-lah Yang Mahaagung dalam keberadaan-Nya, ada tanpa kelihatan rupa-Nya, ada tanpa kelihatan wujud-Nya, tidak tercium keberadaan-Nya, tetapi berkuasa yang kemahakuasaan-Nya adalah sesuai dengan kehendak-Nya’.”

            Ada lagi.

            “Hyang tunggal anu Maha Luhung; satemenna tujuan utama manusa sembah Hyang; henteu boga anak henteu boga dulur; boga baraya jeung batur ogé henteu di jagat jeung ieu alam; anu pangunggulna dina sagala rupa hal; hung, tah éta téh nu ngagem bebeneran sajati, ahung.”

            Artinya.

            “Tuhan Tunggal Yang Mahaagung. Sesungguhnya, Dia-lah yang sebenarnya tujuan penyembahan manusia, tidak punya anak dan tidak punya saudara, punya kerabat dan teman juga tidak di seluruh jagat dan seluruh alam ini. Dia yang paling unggul dalam segala rupa hal. Hung! Itulah agama pegangan kebenaran yang sejati. Ahung!”

            Ada lagi.

            "Utek, tongo, walang, taga, manusa, buta, detia, lukut, jukut, rungkun, kayu, keusik, karihkil, cadas, batu, cinyusu, talaga, sagara, Bumi, langit, jagat mahpar, angin leutik, angin puih, bentang rapang, bulan ngempray, sang herang ngenge nongtoreng, eta kabeh ciptaan Sang Hyang Tunggal, keur Inyanamah sarua kabeh oge taya bedana."

            Artinya.

            “Cacing-cacing, tungau, belalang, taga, manusia, raksasa, jin, lumut, rumput, semak-semak, kayu, kerikil, cadas, batu, mata air, danau, lautan, Bumi, langit, seluruh dunia, angin kecil, angin topan, bintang bertaburan, Bulan bercahaya, Matahari bersinar terik. Itu semua ciptaan Sang Hyang Tunggal (Tuhan Yang Maha Esa). Bagi-Nya semua itu tidak ada bedanya.”

            Itu ajaran orang Sunda sebelum orang-orang Arab datang. Sudah islami dari dulu, tetapi tidak menggunakan bahasa Arab, melainkan bahasa Sunda. Jadi, menyebut Tuhan Yang Maha Esa itu bukan dengan istilah “Allah swt”, melainkan istilah lain, istilah Sunda.

            Dalam naskah “Jatiraga” dituliskan bahwa “Sang Hyang Jatiniskala” benar-benar bersifat “niskala”, tidak dapat terbayangkan, tidak dapat dikonkritkan.

            “Sebab Aku adalah asli dan dari keaslian. Tidak perlu diubah dalam bentuk benda alam yang tidak asli dan tidak jujur sebab Aku adalah jujurnya dari kejujuran.”

            Dalam naskah itu Allah swt disebut Sang Hyang Jatiniskala, ‘Tuhan Yang Tidak Dapat Dibayangkan’.

Pernyataan “diri” yang juga sama tegasnya ada dalam naskah “Sang Hyang Raga Dewata”.

            “Hanteu nu ngayuga Aing. Hanteu manggawe Aing. Aing ngaranan maneh, Sanghiyang Raga Dewata.”

            Artinya.

            “Tidak ada yang menjadikan Aku. Tidak ada yang menciptakan Aku. Aku menamai diri sendiri, Sang Hyang Raga Dewata.”

            Dalam naskah itu, Allah swt disebut Sang Hyang Raga Dewata, ‘Tuhan dengan Raga Tuhan’. Jadi, beda dengan raga ciptaan-Nya.

Sifat-sifat Sang Hyang Raga Dewata pun dijelaskan sebagai berikut.

            “Datang tanpa rupa, tanpa raga, tak terlihat, perkataan (senantiasa) benar. Rupa direka karena ada. Aku-lah yang menciptakan, tetapi tak terciptakan, Aku-lah yang bekerja, tetapi tidak dikerjakan, Aku-lah yang menggunakan, tetapi tidak digunakan.”

            Begitulah sifat-sifat Sang Hyang Tunggal, tak ada bedanya dengan konsep ketuhanan dalam Islam yang saya yakini sekarang.

            Balik lagi ke pertanyaan awal, sejak kapan orang Sunda menyembah pohon?

            Jawabannya, tidak pernah!

            Sebelum orang-orang Arab itu datang, orang Sunda sudah bertauhid karena ada nabi bersuku bangsa Sunda yang diutus Allah swt. Perhatikan QS Ibrahim 14 : 4.

“Kami tidak mengutus seorang rasul pun melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. Maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Dialah Tuhan Yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.”

Ada berapa bahasa dan kaum di dunia ini?

Sejumlah itulah rasul yang diutus Allah swt. Untuk orang Sunda, ya rasul yang berbahasa Sunda.

Perhatikan lagi QS Yunus 10 : 47.

“Tiap-tiap umat mempunyai rasul, maka apabila telah datang rasul mereka, diberikanlah keputusan antara mereka dengan adil dan mereka (sedikit pun) tidak dianiaya.”

Ada berapa umat di seluruh dunia?

Sejumlah itulah rasul diutus Allah swt. Untuk umat Sunda, ya orang Sunda-lah.

Banyak sekali naskah dan ayat yang menguatkan hal itu. Saking banyaknya, saya bisa bikin sebuah buku untuk menerangkannya. Akan tetapi, sebagian kecil ini pun rasanya cukup kalau memang ingin mengerti.

Jadi, orang Sunda tidak pernah menyembah pohon. Bahar bin Smith dan orang-orang sejenisnya itu salah besar. Mereka sok tahu, bodoh, karena tidak iqra dulu sebelum ngomong.

Eh, kalau ada data yang lain kasih tahu saya ya, mau nambahin yang menguatkan atau data yang berbeda. Jadi, diskusinya jadi enak. Kalau mau itu juga.

Sampurasun.